 | About Me | |
Beberapa Dramawan Indonesia
1. Motinggo Busye Montinggo Busye sebenarnya bernama asli Bustami Djalid. Lahir di Kupangkota, Bandar Lampung pada 21 November 1937 dan meninggal di Jakarta pada 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun. Ia adalah seorang sutradara dan seniman Indonesia. Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi'ah Ja'kub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur, Agam dan ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman. Setelah menikah, mereka berdua pergi merantau ke Bandar Lampung. Disana ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota, sedangkan ibunya mengajar agama dan Bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukittinggi hingga ia menamatkan SMA disana. Motinggo kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tidak tamat). Motinggo merupakan nama pena Bustami yang berasal dari Bahasa Minang: mantiko. Kata tersebut memilki makna antara sifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun mantiko dalam diri Motinggo bukanlah berkonotasi negatif. Untuk itu dia menambahkan kata bungo (bunga) dibelakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Busye. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, sesuai Adat Minangkabau, Motinggo juga memilki nama dewasa (gelar) yaitu Saidi Maharajo. Awal karier Motinggo dalam dunia tulis menulis, dimulai ketika perwira Jepang Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabat Motinggo untuk mencurahkan ide-idenya. Selain itu, persentuhannya dengan buku-buku sastra Balai Pustaka, telah menumbuhkan minatnya untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, "Nasehat buat Anakku", mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain Bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan kongres di Washington, D. C.. Pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia. Selain terlibat dalam dunia sastra dan drama, Motinggo juga menyukai melukis. Pada tahun 1954, sebuah pameran lukisan di Padang pernah menampilkan 15 lukisan karya Motinggo. Beberapa Karya Montinggo Busye: • Malam Jahanam (novel, 1962) • Badai Sampai Sore (drama, 1962) • Tidak Menyerah (novel, 1963) • Hari Ini Tak Ada Cinta (novel, 1963) • Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963) • Dosa Kita Semua (novel, 1963) • Tiada Belas Kasihan (novel, 1963) • Nyonya dan Nyonya (drama, 1963) • Sejuta Matahari (novel, 1963) • Nasehat buat Anakku (kumpulan cerpen, 1963) • Malam Pengantin di Bukit Kera (drama, 1963) • Buang Tonjam (legenda, 1963) • Ahim-Ha (legenda, 1963) • Batu Serampok (legenda, 1963) • Penerobosan di Bawah Laut (novel, 1964) • Titian Dosa di Atasnya (novel, 1964) • Cross Mama (novel, 1966) • Tante Maryati (novel, 1967) • Sri Ayati (novel, 1968) • Retno Lestari (novel, 1968) • Dia Musuh Keluarga (novel, 1968) • Sanu, Infita Kembar (novel, 1985) • Madu Prahara (novel, 1985) • Dosa Kita Semua (novel, 1986) • Aura Para Aulia: Puisi-Puisi Islami (1990) • Dua Tengkorak Kepala (1999).
2. Iwan Simatupang Iwan Simatupang lahir 18 Januari 1928 di Sibolga, Sumatera Utara dan meninggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Ia pernah mengikuti kuliah di Fakultas Kedokteran di Surabaya, memperdalam antropologi dan drama di Belanda, serta belajar filsafat di Paris.
Karya-karya Iwan Simatupang Esai • Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air Penghargaan • Memperoleh hadiah kedua majalah Sastra tahun 1963 • SEA Write Award Tahun 1978 Naskah Drama • Ziarah • Bulan Bujur Sangka (1960) • RT NOL/RW NOL (1966) • Petang di Taman (1966) Novel • Merahnya Merah (1968) • Ziarah (1969) • Kering (1972) • Koong (1975) Kumpulan cerpen • Tonggak Lurus dengan Langit (1982).
3. Ken Zuraida Ken Zuraida dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah, 15 Mei 1954; umur 57 tahun) adalah aktris, sutradara dan produser teater Indonesia. Ia juga terkenal sebagai istri dramawan legendaris Indonesia, W.S. Rendra. Sejak masih sangat kecil akrab dengan lingkungan yang alamiah sekaligus dididik oleh keluarga yang sangat menguasai pendidikan kebudayaan. Ia tumbuh dengan kepekaan naluriah amat kuat dan kecerdasan kebudayaan lingkungan yang berlapis-lapis. Ini antara lain karena selalu bergerak di antara lingkungan elitis dan lapisan di bawahnya, antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, dimana ia menghayati masa remajanya di kota Bandung. Pendidikan Pernah kuliah di Unpad, Bandung (1973) dan Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1974) Karier Ia terlibat di Bengkel Teater Rendra sejak 1974 hingga sekarang. Kegiatannya dari daerah ke daerah lain selama lebih 30 tahun itu sampai ke hampir sebagian besar kota di dunia. Selain mengorganisir keseharian Bengkel Teater Rendra ia juga memraktikan metode-metode latihan yang selama ini digali Rendra bersama Bengkelnya. Pengalaman Pentas • Tahun 1960-an teater kanak-kanak di lingkungan terbatas • Sejak 1975 berpentas sebagai Setyawati dalam Kisah Perjuangan Suku Naga produksi Bengkel Teater di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Selanjutnya dalam drama “Egmont” di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki di tahun yang sama. • Tahun 1985 menangani artistik panggung di pentas baca sajak Rendra di gedung besar beberapa kota. • Tahun 1986 artistik direktor pentas Panembahan Reso. • Costume dan Set Designer's Rendra's adaptasi Hamlet 1990, TIM Jakarta • Tahun 1987 mengubah suasana gereja St. Ann di New York untuk pentas “Selamatan Anak Cucu Sulaeman”, lalu di Tokyo, Hiroshima, pentas berikutnya di kota besar di Indonesia dan th 1998 di Kwachon, Korea Selatan. • Koreografer dan penari "Nocturno", di Malang dan Bandung 1994 • Produser bersama Rendra, dan Agus.S.Sarjono, Internasional Puisi Indonesia tur ke Belanda, Jerman, Austria, Palestina, Maroko, Malaysia, Makasar, Bandung dan Solo, 2002 • Menulis Wayang Plastik Drama Akarawa, penampilan di sekolah umum di Sumatera dan Jawa • Membaca puisi Brigitte Oleschinski TIM Jakarta, 2003 • Sejak itu menangani pentas “Oidipus Sang Raja” serta pentas-pentas di luar negeri hingga “Sobrat”, 2005, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta. • Tenaga ahli artistik di beberapa pentas di Eropa, juga Asia. • Sebagai pemain Nenek berusia 678 tahun dalam pentas berdua dengan Rendra “Kereta Kencana” memperoleh pujian di kota-kota besar Indonesia hingga Kuala Lumpur Malaysia. • Menerjemahkan drama dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk beberapa pentas grup drama di Indonesia. • Menulis Monolog dan memainkannya sendiri pada festival Monolong di Taman Ismail Marzuki, 2005. • Beberapa bulan menyutradarai Pementasan Teater Nyai Ontosoroh pada tahun 2006, tapi tidak jadi tayang karena penyutradaraan kemudian digantikan oleh Wawan Sofwan pada tahun 200
4. Max Arifin Max Arifin lahir dengan nama Mohammad Arifin di Sumbawa Besar, 18 Agustus 1936, meninggal dunia di Rumah sakit Sido Waras, Bangsal, Kabupaten Mojokerto, 1 Maret 2007 adalah seorang tokoh teater Indonesia. Semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Lombok. Pendidikan Max menempuh pendidikan SD dan SMPnya di Sumbawa Besar, kemudian melanjutkan ke SMA di Yogyakarta. Setamatnya dari SMA ia melanjutkan ke Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lalu pindah ke IKIP Mataram mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris. Pekerjaan Sejak di bangku SMA ia sudah aktif dalam bidang seni sastra dan teater. Di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat ia bekerja pada Bidang Kesenian, diserahi seksi drama dan sastra (tradisional dan modern). Selama masa tugasnya itu ia pernah tiga kali mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud. Ia juga banyak menulis naskah drama, cerpen, dan puisi dan memimpin serta menyutradarai kelompok Teater Gugus Depan Mataram. Pada saat yang sama ia aktif membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram. Ia juga banyak mengikuti berbagai pertemuan dan seminar yang berkaitan dengan kesenian dan teater. Ia merangkap pula sebagai redaktur budaya di harian Suara Nusa [sekarang Lombok Post) dan koresponden majalah Tempo untuk Lombok 1975-1979. Ia pernah menjadi juri pada beberapa festival teater di Jawa Timur dan di tingkat nasional (2000) dan se-Jawa Timur (2004), dan Jember (2004). Ia pernah membawa berbagai makalah dan menjadi nara sumber untuk teater dan kebudayaan umumnya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Mojokerto, Jember. Pada tahun 2004 dan 2005 ia menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya. Bibliografi • Teater, sebuah Pengantar, diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores, 1990 • Putri Mandalika (naskah drama) tiga kali dipentaskan secara kolosal di pantai Seger, Kuta, Lombok Selatan, 1988-1990 • Matinya Demung Sandubaya, pernah dibawakan/dipentaskan oleh Kontingen NTB pada Festival Teater di Solo dan dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Suara Nusa di Mataram • Badai Sepanjang Malam, naskah drama dalam kumpulan drama remaja, Gramedia, Jakarta 1988. Diikutkan sebagai naskah yang dipilih oleh Taman Budaya Jatim dalam Festival Teater Remaja 2003. • Teknik Penyutradaraan (stensilan FKIP Unram, Mataram) • Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB, 1990. • Balada Sahdi Sahdia (naskah drama), 1992. • Tumbal Kemerdekaan (naskah drama), 1987. • Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB 1985. Karya Terjemahan • Pemberontak (The Rebel) oleh Albert Camus, penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta, 2000. • Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) oleh Gabriel Garcia Marquez, penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003 dan sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos, 1997. • The Shifting Point - Teater, Film dan Opera oleh Peter Brook, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Jakarta 2002. • Menuju Teater Miskin (Towards a Poor Theatre) oleh Jerzy Grotowski, MSPI, Jakarta, 2002. • Teori-teori Drama Brecht, oleh Hans Egon Holthusen, Dewan Kesenian Surabaya. • Seribu Burung Bangau (Thousand Cranes), oleh Yasunari Kawabata, Nusa Indah, Flores 1978 dan penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta 2001. • Orang Aneh (The Stranger) oleh Albert Camus, penerbit Nusa Indah, Flores 1980, dan penerbit Mahatari, Yogyakarta • Pengembaraan (Walkabout) oleh James van Marshall, penerbit Nusa Indah, Flores, 1978 dan sebagai cerita bersambung di harian Kompas 1976. • Nyanyian Laut (The Sound of Waves) oleh Yukio Mishima, cerita bersambung di harian Kompas 1976 dan penerbit Mahatari, Yogyakarta. • Kecantikan dan Kesedihan (The Beauty and Sadness) oleh Yasunari Kawabata, cerita bersambung di harian Kompas, 1983, dan penerbit Mahatari, Yogyakarta. • Antonin artaud,Ledakan dan Bom (Antonin Artaud, Blows and Bombs), oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud, Dewan Kesenian Jakarta, 2006 • My life in art (Hidupku dalam seni) oleh Konstantin Stanislavsky, Pustakakayutangan, Malang, 2006 • Pertaruhan mewujudkan tulisan, wawancara dengan penulis pria,Writing at risk (Jason Weiss), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta • Pertaruhan Mewujudkan tulisan, wawancara dengan penulis wanita, Women writers at work, George Plimpton, Penerbit jalasutra, Yogyakarta Naskah yang Belum Terbit • Suara yang lain (The Other Voice) oleh Octavio Paz • Masalah-masalah Seni (The Problems of Art) oleh Susanne K. Langer • Gema Surga (An Echo of Heaven) oleh Kenzaburo Oe, penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta. • Kemelut (The Blind Owl) oleh Sadeq Hedayat, dimuat sebagai cerita bersambung di harian Surabaya Post. • Surat-surat Negro (The Fire Next Time) oleh James Baldwin • Teater dan kembarannya (Theatre and its Double) oleh Antonin Artaud • Teater Politik (Political Theatre) oleh David Goodman • Kapal Orang-orang Bodoh ( The Ship of Fool) karya Christiana Perri Rossi • Suatu Salah Paham, terjemahan naskah drama dari Teater l karya Samuel Beckett • Oedipus Sang Raja, saduran bebas dari skenario film oleh Pier Paulo Pasolini • Sasmita-Larasmara, saduran bebas dari Antigone karya Sophokles • Mawar dalam Taman, drama terjemahan dari The Rose in the Cloister oleh Margaret Luce, 1985 • Menerjemahkan beberapa puisi dan cerpen dari Timur Tengah
5. Norbertus Riantiarno Ia dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949; umur 62 tahun, atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno.
Teater Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968. Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling produktif di Indonesia saat ini. [1] Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan televisi. Film layar lebar perdana karyanya, CEMENG 2005 (The Last Primadona), 1995, diproduksi oleh Dewan Film Nasional Indonesia.[1] Nano sendiri menulis sebagian besar karya panggungnya, antara lain: • ''Rumah Kertas'' • J.J Atawa Jian Juhro • ''Maaf. Maaf. Maaf'' • ''Kontes'' 1980 • Trilogi ''Opera Kecoa'' (''Bom Waktu'', ''Opera Kecoa'' • Opera Julini) • Konglomerat Burisrawa • Pialang Segitiga Emas • Suksesi • Opera Primadona • Sampek Engtay • Banci Gugat • Opera Ular Putih • RSJ atau Rumah Sakit Jiwa • Cinta Yang Serakah • Semar Gugat • Opera Sembelit • Presiden Burung-Burung • Republik Bagong • Tanda Cinta
Selain drama-drama di atas, Teater Koma di bawah pimpinan Nano juga pernah memanggungkan karya-karya penulis kelas dunia, antara lain; • Woyzeck karya Georg Buchner • The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht • The Good Person of Shechzwan karya Bertolt Brecht • The Comedy of Errors karya William Shakespeare • Romeo Juliet karya William Shakespeare • Women in Parliament karya Aristophanes • Animal Farm karya George Orwell • The Crucible karya Arthur Miller • Orang Kaya Baru dan Tartuffe atau Republik Togog karya Moliere • The Marriage of Figaro karya Beaumarchaise Kepenulisan Nano banyak menulis skenario film dan televisi. Karya skenarionya, ''Jakarta Jakarta'', meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia di Ujung Pandang, 1978. Karya sinetronnya, ''Karina'' meraih Piala Vidia pada Festival Film Indonesia di Jakarta, 1987. [1] Menulis novel ''Cermin Merah'', ''Cermin Bening'' dan ''Cermin Cinta'', diterbitkan oleh Grasindo, 2004, 2005 dan 2006. ''Ranjang Bayi'' dan 18 Fiksi, kumpulan cerita pendek, diterbitkan Kompas, 2005. Roman ''Primadona'', diterbitkan Gramedia 2006. Nano ikut mendirikan majalah Zaman, 1979, dan bekerja sebagai redaktur (1979-1985). Ia ikut pula mendirikan majalah Matra, 1986, dan bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. [2] Pada tahun 2001, pensiun sebagai wartawan. Kini berkiprah hanya sebagai seniman dan pekerja teater, serta pengajar di program pasca-sarjana pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Surakarta. Aktivitas di tingkat nasional dan internasional Pada tahun 1975, ia berkeliling Indonesia mengamati teater rakyat dan kesenian tradisi. Juga berkeliling Jepang atas undangan Japan Foundation pada 1987 dan 1997. Pada 1978, Nano mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS, selama 6 bulan. Pada 1987 ia diundang sebagai peserta pada International Word Festival, 1987 di Autralia National University, Canberra, Australia. Di tahun berikutnya ia diundang ke New Order Seminar, 1988, di tempat yang sama di Australia. Dan di tahun 1996, menjadi partisipan aktif pada Session 340, Salzburg Seminar di Austria. Membacakan makalah Teater Modern Indonesia di Universitas Cornell, Ithaca, AS, 1990. Berbicara mengenai Teater Modern Indonesia di kampus-kampus universitas di Sydney, Monash-Melbourne, Adelaide, dan Perth, 1992. Pernah pula mengunjungi negara-negara Skandinavia, Inggris, Prancis, Belanda, Italia, Afrika Utara, Turki, Yunani, Spanyol, Jerman dan Tiongkok, 1986-1999. Pernah menjabat sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1985-1990). Anggota Komite Artistik Seni Pentas untuk Kias (Kesenian Indonesia di Amerika Serikat), 1991-1992. Dan anggota Board of Artistic Art Summit Indonesia, 2004. Juga konseptor dari Jakarta Performing Art Market/Pastojak (Pasar Tontonan Jakarta I), 1997, yang diselenggarakan selama satu bulan penuh di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Menulis dan menyutradarai 4 pentas multi media kolosal, yaitu: ''Rama-Shinta'' 1994, ''Opera Mahabharata'' 1996, ''Opera Anoman'' 1998 dan ''Bende Ancol'' 1999. Larangan Pentas Nano pernah menghadapi interogasi, pencekalan dan pelarangan, kecurigaan serta ancaman bom, ketika ia akan mementaskan pertunjukannya, tapi semua itu dihadapi sebagai sebuah dinamika perjalanan hidup. Beberapa karyanya bersama Teater Koma, batal pentas karena masalah perizinan dengan pihak yang berwajib. Antara lain: Maaf.Maaf.Maaf. (1978), Sampek Engtay (1989) di Medan, Sumatera Utara, Suksesi, dan Opera Kecoa (1990), keduanya di Jakarta. Akibat pelarangan itu, rencana pementasan Opera Kecoa di empat kota di Jepang (Tokyo, Osaka, Fukuoka, Hiroshima), 1991, urung digelar pula karena alasan yang serupa. Tapi Opera Kecoa, pada Juli-Agustus 1992, dipanggungkan oleh Belvoir Theatre, salah satu grup teater garda depan di Sydney, Australia. Penghargaan Meraih lima hadiah sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (1972-1973-1974-1975 dan 1998). [3] Juga merebut hadiah Sayembara Naskah Drama Anak-anak dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978, judul Jujur Itu ... Novelnya, Ranjang Bayi meraih hadiah Sayembara Novelet majalah ''Femina'', dan novel Percintaan Senja, memenangkan Sayembara Novel Majalah ''Kartini''. Pada 1993, dianugerahi Hadiah Seni, Piagam Kesenian dan Kebudayaan dari Departemen P&K, atas nama Pemerintah Republik Indonesia. Pada 1999 meraih penghargaan dari Forum Film Bandung untuk serial film televisi berjudul ''Kupu-kupu Ungu'' sebagai Penulis Skenario Terpuji 1999. Forum yang sama mematok film televisi karyanya (berkisah tentang pembauran), ''Cinta Terhalang Tembok'', sebagai Film Miniseri Televisi Terbaik, 2002. Pada 1993, dianugerahi Hadiah Seni, Piagam Kesenian dan Kebudayaan dari Departemen P&K, atas nama Pemerintah Republik Indonesia. Pada 1998, menerima Penghargaan Sastra 1998 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Dan sekaligus meraih Sea Write Award 1998 dari Raja Thailand, di Bangkok, untuk karyanya ''Semar Gugat''. [3] Sejak 1997, menjabat Wakil Presiden PEN Indonesia. Pada 1999, menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pariwisata Seni & Budaya, sebagai Seniman dan Budayawan Berprestasi. Karya pentasnya Sampek Engtay, 2004, masuk MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai karya pentas yang telah digelar selama 80 kali selama 16 tahun dan dengan 8 pemain serta 4 pemusik yang sama. Kerja Seni di Luar Negeri Menyutradarai Sampek Engtay di Singapura, 2001, dengan pekerja dan para pemain dari Singapura. Salah satu pendiri Asia Art Net, AAN, 1998, sebuah organisasi seni pertunjukan yang beranggotakan sutradara-sutradara Asia. Menjabat sebagai artistic founder dan evaluator dari Lembaga Pendidikan Seni Pertunjukan PPAS, Practice Performing Arts School di Singapura. Karya-Karyanya • Trilogi Opera Kecoa: Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini, (drama) - Maha Tari, Yogyakarta • Percintaan Senjat, novel. - Majalah Kartini • Cermin Merah, novel - Grasindo (2004) • Opera Primadona, drama - Pustaka Kartini • Semar Gugat, drama - Pustaka Bentang • Cinta Yang Serakah, drama - Pustaka Bentang • Opera Ikan Asin, drama - Pustaka Jaya • Teguh Karya dan Teater Populer - Sinar Harapan • Menyentuh Teater: Tanya Jawab Seputar Teater Kita, panduan teater bagi para pekerja seni pertunjukan - Sampurna (2003) • Konglomerat Burisrawa, drama - Teater Koma • Sampek Engtay, drama - Pustaka Jaya • Suksesi, drama - Teater Koma • Republik Bagong, drama - Galang Press • Time Bomb and Cockroach Opera, drama, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris - Lontar • Opera Sembelit, drama - Balai Pustaka • Cermin Bening, novel – Grasindo (2005) • Maaf. Maaf. Maaf. Politik Cinta Dasamuka, drama - Gramedia (2005) • Fiksi di Ranjang Bayi, kumpulan cerpen dan novelet - Kompas (2005) • Primadona, roman - Gramedia (2005) • Cermin Cinta, novel - Grasindo (2006)
6. Akhudiat Ia juga dikenal dengan nama Diat (lahir di Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946; umur 65 tahun), adalah seorang penulis Indonesia, terutama menulis drama atau naskah lakon/skenario, juga menulis cerita pendek, puisi, buku umum (non-fiksi).[1]Akhudiat juga menerjemahkan beberapa karya drama atau tentang drama dari bahasa Inggris. Pendidikan dan Karir Menempuh pendidikan Sekolah Rakyat(SR) Rogojampi, Banyuwangi, lulus tahun 1958, lalu melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) IV Jember, lulus tahun 1962, kemudian melanjutkan sekolah di PGAA Malang sambil mengajar di beberapa SMP/SMA, serta madrasah tsanawiyah/aliyah.[2] Selepas itu, Diat belajar di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) III Yogyakarta, lulus tahun 1965.[2] Tahun 1972—1973, kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) namun tidak tamat.[2] Sejak tahun 1970 diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Pusat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.[2] Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bagian Kemahasiswaan, Kantor Pusat IAIN Sunan Ampel Surabaya, pensiun tahun 2002.[2] Setelah pensiun, sejak tahun 2002 hingga sekarang, ia menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Akhudiat menjabat sebagai Komite Sastra dan Teater di Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972—1982.[2]Pada tahun yang sama (1972—1982), juga sebagai sutradara dan penulis naskah teater di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Ia menjadi anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) sejak tahun 1999 hingga sekarang.[2]Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS) sejak tahun 2000 hingga sekarang.[2] Karya dan Proses Kreatif Pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro pada 1965, juga berguru di kelompok teater Arifien C. Noer. Di bidang teater, Akhudiat juga mementaskan drama selain berperan sebagai aktor. Tulisan pertama Akhudiat adalah tentang Markeso, seorang aktor tunggal “Ludruk Garingan”, dimuat di Surabaya Post tahun 1970. Drama Indonesia sampai tahun 1970an, biasa menggunakan panggung prosenium, yakni konsep panggung yang mengangankan bingkai gambar dua dimensi yang tampak depan, samping, dan satu fokus utama, di mana gambar atau adegan itu meniru alam atau dunia di luar panggung, sehingga adegan di panggung dibuat dalam latar seperti suasana di dalam rumah dengan segala perlengkapan perabotannya, atau adegan hutan, jalan, pantai, taman, dengan layar scenery dan para pelaku duduk-duduk atau jejer wayang dalam melakoni nasibnya.[2] Menurut Diat, panggung indah dan rapi yang sudah berlangsung sejak era Stamboel atau Opera Melayu, dan masih bisa dilihat turunannya pada panggung Srimulat, Ketoprak, atau Ludruk, tersebut kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”.[2] Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “panggung kosong”. Konsep panggung kosong tersebut adalah konsep yang menganggap dunia panggung sebagai dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain.[2] Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Dengan konsep tersebut, drama bisa dimainkan di mana pun, baik di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja.[2] Karena itu, beberapa lakon awal Akhudiat dijuluki “teater jalanan.” Dengan pikiran “teater jalanan”, Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta.[2] Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.[2] Grafito yang ditulis tahun 1972 ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci. Pada tahun 1973, puisinya berjudul Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen, mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.[2] Karya dramanya, Jaka Tarub dan Rumah Tak Beratap, memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974. Cerpen Diat, “New York Sesudah Tengah Malam”, yang pertama kali dimuat di Majalah Horison, Oktober 1984, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan judul New York After Midninght, diterbitkan dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika.[2] Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia, USA, 1990-1991.[2] Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001.[2] Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November 1, Spring 2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York. Karya dramanya, Jaka Tarub, termasuk salah satu karya yang dimuat dalam kompilasi seratus tahun drama Indonesia dalam buku Antologi Drama Indonesia Jilid 3, 1946-1968.[1] Termasuk karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul sama, dimuat dalam The Lontar Anthology of Indonesian Drama 3: New Directions 1965-1998.[4] Menurut Cobina Gillit, editor The Lontar anthology of Indonesian Drama Vol. 3, karya Akhudiat tersebut dipilih sebagai representasi karya drama yang mengadaptasi cerita rakyat, yang merupakan jenis karya dominan di Jakarta, khususnya pada awal 1970an. Tahun 1975 ia mengikuti Iowa International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.[1] Keluarga Akhudiat menikah dengan Mulyani pada 4 November 1974, mempunyai 3 anak: Ayesha (lahir pada 1975), Andre Muhammad (lahir pada 1976), dan Yasmin Fitrida (lahir pada 1978). Bersama keluarganya, Akhudiat sekarang tinggal di Surabaya. Hasil Karya Karya Asli • Gerbong-Gerbong Tua Pasar Senen (antologi puisi dan prosa, 1971)[1] • Grafito (drama 1972)[1] • Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (drama, 1974)[1] • Jaka Tarub (drama, 1974)[1] • Bui (drama, 1975)[1] • Re (drama, 1977, drama-drama ini merupakan pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta)[1] • Putih dan Hitam (drama, 1978)[1] • Suminten dan Kang Lajim (drama anak, 1982)[1] • Mencari Air dalam Air (kumpulan puisi, 1983)[1] • Cerita Pendek dari Surabaya (antologi cerpen, 1991; ed. Suripan Sadi Hutomo) • Bermula dari Tambi (antologi cerpen, 2000)[1] • Memo Putih (antologi puisi, 2000)[1] • Menyambung yang Patah(skenario film sinetron, 1984)[3] • Endang Baru (skenario film sinetron, 1984)[3] Karya Terjemahan • Fred karya Sherwood Anderson yang kemudian diubah berjudul Kematian di dalam Hutan • Sumur karya Agusto Cespedes • Model karya Bernard Malamud • Apotek karya Anton Chekov • Kisah Pohon Abu karya Peter Handke • Benang Laba-laba karya Ryonusuke Akutagawa • Raja Ubu karya Alfred Jarry • Jalan Tembakau karya Erskine Caldwell • Katastrof dari New Yorker, drama absurd karya Samuel Beckett.
7. Achdiat Karta Mihardja Dilahirkan di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911 – meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010 pada umur 99 tahun, yang lebih dikenal dengan nama pena singkatnya Achdiat K. Mihardja, adalah seorang sastrawan dan penulis Indonesia. Berpendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Ia pernah bekerja sebagai guru di perguruan Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1956-1961), dan sejak 1961 hingga pensiun dosen kesusastraan Indonesia pada Australian National University, Canberra, Australia. Achdiat juga pernah menjadi redaktur harian Bintang Timur dan majalah Gelombang Zaman (Garut), Spektra, Pujangga Baru, Konfrontasi, dan Indonesia. Di samping itu, ia pernah menjadi Ketua PEN Club Indonesia, Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia, anggota BMKN, angggota Partai Sosialis Indonesia, dan wakil Indonesia dalam Kongres Internasional PEN Club di Lausanne, Swiss (1951). Kumpulan cerpennya, Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Penghargaan Sastra BMKN tahun 1957 dan novelnya, Atheis (1949) memperoleh Penghargaan Tahunan Pemerintah RI tahun 1969 (R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjumandjaja mengangkatnya pula ke layar lebar pada tahun 1974 dengan judul yang sama, yaitu Atheis. Kehidupan Pribadi Achdiat K. Mihardja adalah kakek dari Jamie Aditya, presenter, aktor, dan penyanyi Indonesia yang kerap dikenal dari acara musik MTV. Salah satu putrinya, Natalie Widyanti, menikah dengan seorang berkebangsaan Australia saat Achdiat sedang mengajar di Canberra, dan Jamie adalah anak ketiga dari pasangan tersebut. [2] Karya Sastra • Polemik Kebudayaan (editor, 1948) • Atheis (novel, 1949) - diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama tahun 1974 • Bentrokan Dalam Asrama (drama, 1952) • Keretakan dan Ketegangan (kumpulan cerpen, 1956) • Kesan dan Kenangan (1960) • Debu Cinta Berterbangan (novel, Singapura, 1973) • Belitan Nasib (kumpulan cerpen, 1975) • Pembunuhan dan Anjing Hitam (kumpulan cerpen, 1975) • Pak Dullah in Extrimis (drama, 1977) • Si Kabayan, Manusia Lucu (1997). • Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang • Manifesto Khalifatullah (novel, 2006). Beberapa buku studi mengenai karya Achdiat juga telah diterbitkan, antara lain oleh Boen S. Oemarjati yang menerbitkan Roman Atheis: Sebuah Pembicaraan (1962) dan Subagio Sastrowardoyo yang menulis artikel "Pendekatan kepada Roman Atheis" dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983). Achdiat Karta Mihardja meninggal dunia pada tanggal 8 Juli 2010 di Canberra, Australia, karena serangan stroke.
8. Yapi Panda Abdiel Tambayong (Japi Tambajong) Lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1945; umur 66 tahun) adalah salah satu sastrawan Indonesia. Masa Kecil Ia mengalami masa kecil dan remaja di Semarang dan Solo. Remy memiliki sejumlah nama samaran seperti "Dova Zila", "Alif Danya Munsyi", "Juliana C. Panda", "Jubal Anak Perang Imanuel", dsb di balik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, film, dsb dan juga menguasai sejumlah bahasa. Karier Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling. Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi. Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi. Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi. Karya • Orexas. • Gali Lobang Gila Lobang. • Siau Ling • Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa), 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002. • Kerudung Merah Kirmizi, 2002 • Kembang Jepun, 2003 • Parijs van Java, 2003 • Menunggu Matahari Melbourne 2004 • Sam Po Kong, 2004? • Puisi Mbeling 2005 • Rumahku di Atas Bukit • 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing • Drama Musikalisasi Tarragon "Born To Win" • Novel Pangeran Diponegoro • 9 OKTOBER 1740 ,Oktober 2005 Filmografi • Pesta (1991) • Tutur Tinular IV (1992) • Capres (Calo Presiden) (2009)
9. WS. Rendra (Willibrordus Surendra Bawana Rendra) Dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.
Masa Kecil Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya. Pendidikan • TK Marsudirini, Yayasan Kanisius. • SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955. • Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta - Tidak tamat. • mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967). Rendra sebagai Sastrawan Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. "Kaki Palsu" adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri. Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternyapun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektar yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari. Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat secara asri, sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli, juga ditanami baru oleh Rendra sendiri serta pemberian teman-temannya. Puluhan jenis pohon antara lain, jati, mahoni, ebony, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol, tanjung, singkong dan lain-lain. Penelitian tentang karya Rendra Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977. Penghargaan • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) • Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956) • Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) • Hadiah Akademi Jakarta (1975) • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) • Penghargaan Adam Malik (1989) • The S.E.A. Write Award (1996) • Penghargaan Achmad Bakri (2006). Kontroversi Pernikahan, Masuk Islam dan Julukan Burung Merak Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti. Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Mikriam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981. Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, "Yang Muda Yang Bercinta" ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Ia menerbitkan buku drama untuk remaja berjudul "Seni Drama Untuk Remaja" dengan nama Wahyu Sulaiman. Tetapi di dalam berkarya ia menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja sejak 1975. Beberapa Karya Drama • Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) • Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) - 1967 • SEKDA (1977) • Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali) • Mastodon dan Burung Kondor (1972) • Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali • Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama) • Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex") • Lysistrata (terjemahan) • Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles, • Antigone (terjemahan dari karya Sophokles, • Kasidah Barzanji (dimainkan 2 kali) • Lingkaran Kapur Putih • Panembahan Reso (1986) • Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali) • Shalawat Barzanji • Sobrat Kumpulan Sajak/Puisi • Ballada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak) • Blues untuk Bonnie • Empat Kumpulan Sajak • Sajak-sajak Sepatu Tua • Mencari Bapak • Perjalanan Bu Aminah • Nyanyian Orang Urakan • Pamphleten van een Dichter • Potret Pembangunan Dalam Puisi • Disebabkan Oleh Angin • Orang Orang Rangkasbitung • Rendra: Ballads and Blues Poem • State of Emergency
10. I Gusti Ngurah Putu Wijaya Dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 67 tahun adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia penulis drama, cerpen, esai, novel dan juga skenario film dan sinetron.
Riwayat Putu Wijaya adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi. Putu menulis sejak SMP. Tulisan pertamanya sebuah cerita pendek berjudul "Etsa" dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Pertama kali main drama ketika di SMA, memainkan drama sendiri dan menyutradarai dengan kelompok yang didirikannya sendiri di Yogyakarta. Ikut Bengkel Teater 1967-1969. Kemudian bergabung dengan Teater Kecil di Jakarta. Sempat main satu kali dalam pementasan Teater Populer. Selanjutnya dengan Teater Mandiri yang didirikan pada tahun 1971, dengan konsep "Bertolak dari Yang Ada. [2] Putu Wijaya sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron. Sebagai seorang dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Cerita pendek karangannya kerap mengisi kolom pada Harian Kompas dan Sinar Harapan. Novel-novel karyanya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Sebagai penulis skenario, ia telah dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai seorang penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan adalah Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali. Pendidikan • SR, Tabanan (1956) • SMP Negeri, Tabanan (1959) • SMA-A, Singaraja (1962) • Fakultas Hukum UGM (1969) • ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta • LPPM, Jakarta (1981) • International Writing Programme, Iowa, AS (1974) Karya dan Karier Teater • Pimpinan Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang) Penulis Skenario Film Antara lain : • Perawan Desa (memperoleh Piala Citra FFI 1980) • Kembang Kertas (memperoleh Piala Citra FFI 1985) • Ramadhan dan Ramona • Dokter Karmila • Bayang-Bayang Kelabu • Anak-Anak Bangsa • Wolter Monginsidi • Sepasang Merpati • Telegram Penulis skenario sinetron Antara lain : • Keluarga Rahmat • Pas • None • Warung Tegal • Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995) • Jari-Jari Cinta • Balada Dangdut • Dendam • Cerpen Metropolitan • Plot • Klop • Melangkah di Atas Awan (penyutradaraan) • Nostalgia • Api Cinta Antonio Blanco • Tiada Kata Berpisah • Intrik • Pantang Menyerah • Sejuta Makna dalam Kata • Nona-Noni Karya drama • Dalam Cahaya Bulan (1966) • Lautan Bernyanyi (1967) • Bila Malam Bertambah Malam (1970) • Invalid (1974) • Tak Sampai Tiga Bulan (1974) • Anu (1974) • Aduh (1975) • Dag-Dig-Dug (1976) • Gerr (1986) • Edan • Hum-Pim-Pah • Dor • Blong • Ayo • Awas • Los • Aum • Zat • Tai • Front • Aib • Wah • Hah • Jepret • Aeng • Aut • Dar-Dir-Dor Karya Novel • Bila Malam Bertambah Malam (1971) • Telegram (1972) • Stasiun (1977) • Pabrik (1976) • Keok (1978) • Aduh • Bali • Dag-dig-dug • Edan • Gres • Lho (1982) • Merdeka • Nyali • Byar Pet (Pustaka Firdaus, 1995) • Kroco (Pustaka Firdaus, 1995) • Dar Der Dor (Grasindo, 1996) • Aus (Grasindo, 1996) • Sobat (1981) • Tiba-Tiba Malam (1977) • Pol (1987) • Putri • Terror (1991) • Merdeka (1994) • Perang (1992) • Lima (1992) • Nol (1992) • Dang Dut (1992) • Cas-Cis-Cus (1995) Karya cerpen • Karyanya yang berupa cerpen terkumpul dalam kumpulan cerpen Bom (1978) • Es (1980) • Gres (1982) • Klop • Bor • Protes (1994) • Darah (1995) • Yel (1995) • Blok (1994) • Zig Zag (1996) • Tidak (1999) Karya Novelet: • MS (1977) • Tak Cukup Sedih (1977) • Ratu (1977) • Sah (1977) Karya esai Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada. Penghargaan yang Telah Diterima • Pemenang penulisan lakon Depsos (Yogyakarta) • Pemenang penulisan puisi Suluh Indonesia Bali • Pemenang penulisan novel IKAPI • Pemenang penulisan drama BPTNI • Pemenang penulisan drama Safari • Pemenang penulisan cerita film Deppen (1977) • Tiga buah Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992) • Tiga kali pemenang sayembara penulisan novel DKJ • Empat kali pemenang sayembara penulisan lakon DKJ • Pemenang penulisan esei DKJ • Dua kali pemenang penulisan novel Femina • Dua kali pemenang penulisan cerpen Femina • Pemenang penulisan cerpen Kartini • Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel) • Pemenang sinetron komedi FSI (1995) • SEA Write Award 1980 di Bangkok • Pemenang penulisan esei Kompas • Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991) • Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang (1991-1992) • Anugerah Seni dari Gubernur Bali (1993) • Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Presiden RI (2004) Kegiatan Lainnya • Wartawan majalah Ekspres (1969) • Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980) • Wartawan majalah Tempo (1971-1979) • Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985) • Dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)
11. Pramoedya Ananta Toer Lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Masa Kecil Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Pasca Kemerdekaan Indonesia Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno. Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Penahanan dan Masa Setelahnya Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan. • 13 Oktober 1965 - Juli 1969 • Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan • Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru • November - 21 Desember 1979 di Magelang Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir Kontroversi Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya. Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis. Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya. Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya. Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran. Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'. Masa Tua Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an. Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan. Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah. Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Berpulang Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Sint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes. Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya. Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00. Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram. Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya. Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun. Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram. Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat. Penghargaan • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988 • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989 • Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995 • Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995 • UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996 • Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999 • Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999 • Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999 • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000 • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000 • The Norwegian Authors Union, 2004 • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004 Lain-lain • Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978 • Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982 • Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982 • Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987 • Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988 • International PEN English Center Award, Inggris, 1992 • International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999 Bibliografi Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan. • Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947 • Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi • Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal oleh pemerintah karena muatan komunisme) • Keluarga Gerilya (1950) • Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen • Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen • Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951) • Bukan Pasarmalam (1951) • Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947 • Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen • Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953 • Gulat di Jakarta (1953) • Midah Si Manis Bergigi Emas (1954) • Korupsi (1954) • Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit • Cerita Dari Jakarta (1957) • Cerita Calon Arang (1957) • Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958) • Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 • Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 • Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 • Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 • Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 • Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963) • Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit • Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981 • Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981 • Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981) • Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia • Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985 • Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985 • Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987 • Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988 • Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995 • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995 • Arus Balik (1995) • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997) • Arok Dedes (1999) • Mangir (2000) • Larasati (2000) • Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) Buku tentang Pramoedya dan Karyanya • Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung) • Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya) • Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama) • Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia) • Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka).
12. Butet Kartaredjasa Bahasa Jawa: Buthèt Kartaredjasa; lahir di Jogjakarta, 21 November 1961; umur 50 tahun) adalah seorang pemeran teater dan pelawak asal Indonesia. Pada tahun 1996, Butet mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis, yang kemudian diikuti dengan mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif jender. Butet adalah anak dari Bagong Kussudiardjo, koreografer dan pelukis senior Indonesia. Ia merupakan saudara kandung dari Djaduk Ferianto. Karier Teater Butet pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Selain itu, Butet merupakan aktor yang biasa memerankan pentas secara Monolog. Aksinya yang sangat terkenal adalah dengan menirukan suara mantan presiden RI, Soeharto dalam setiap pementasannya. Televisi Ia pernah memerankan tokoh SBY (Si Butet Yogja) dalam Republik Mimpi di TV One yang merupakan pameo dari presiden RI, SBY. Selain itu ia juga memerankan beberapa film layar lebar seperti Maskot dan Banyu Biru. Selain itu ia juga tampil dalam beberapa iklan televisi, dan sinetron. Sejak 2010 bersama aktor Slamet Rahardjo, Butet bermain dalam program mingguan "Sentilan-Sentilun" di MetroTV. Karier lainnya Tahun 2011 bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto, Butet menggagas program INDONESIA KITA, sebuah forum pergelaran seni untuk meyakini kembali proses ke-Indonesia-an melalui jalan kesenian dan kebudayaan. Sekarang Butet tercatat sebagai Ketua Yayasan Bagong Kussudiardja. Filmografi • Petualangan Sherina (2000) • Banyu Biru (2005) • Koper (2006) • Maskot (2006) • Anak-Anak Borobudur (2007) • Drupadi (2008) • Jagad X Code (2009) • Tiga Doa Tiga Cinta (2009) • Capres (Calo Presiden) (2009) • Seleb Kota Jogja (SKJ) (2010) • Golden Goal (2011) Pentas Monolog • Racun Tembakau (1986) • Lidah Pingsan (1997) • Lidah (Masih) Pingsan (1998) • Benggol Maling (1998) • Raja Rimba Jadi Pawang (1999) • Iblis Nganggur (1999) • Guru Ngambeg (2000) • Mayat Terhormat (2003) • Matinya Toekang Kritik (2006) • Sarimin (2007) • Presiden Guyonan (2008) • Kucing (2010) Program Indonesia Kita Program Indonesia Kita adalah pertunjukan berseri pada 2011 yang digagas oleh Butet Kertaradjasa. Ia mengaku program ini dirancang untuk menjadi sebuah forum di mana isu-isu kreatif seperti status Yogya dan pluralisme Indonesia dapat diperdebatkan melalui karya seni.[1] Berikut adalah daftar judul pertunjukan dalam serial Indonesia Kita:[2] • Laskar Dagelan (Maret 2011) • Beta Maluku (Mei 2011) • Kartolo Mbalelo (Juli 2011) • Mak Jogi (Juli 2011) • Kutukan Kudungga (Oktober 2011) Buku • Presiden Guyonan (2008)
13. Justina Ayu Utami Lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968; umur 43 tahun) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung. Karier dan kegiatan • Wartawan lepas Matra • Wartawan Forum Keadilan • Wartawan D&R • Anggota Sidang Redaksi Kalam • Kurator Teater Utan Kayu • Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen • Peneliti di Institut Studi Arus Informasi Karya • Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998 • Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001 • Kumpulan Esai "Si Parasit Lajang", GagasMedia, Jakarta, 2003 • Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008 Penghargaan • Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 • Prince Claus Award 2000
14. Agus Noor Menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos. Laman ini menjadi taman pertemuan bagi pikiran dan gagasan, seputar karya-karya Agus Noor. Pertukaran seputar gagasan penciptaan dan proses kreatif tentulah akan lebih menyenangkan dan mencerahkan. Karya-karya Agus Noor yang berupa cerpen juga banyak terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Ripin (Cerpen Kompas Pilihan, 2007), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika), 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Pena Kencana), dll. Menerima penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan sertifikat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen. Dua draf novelnya masih ia simpan. Ia sangat yakin, bahwa di dunia ini ada tiga Agus Noor, yang serupa dan persis sama. Makanya, bila suatu hari Anda berjumpa dengan seseorang yang mengaku Agus Noor atau mirip Agus Noor, boleh jadi itu bukan Agus Noor yang sebenarnya. Mungkin itu kembarannya.
 KELAS 4C
SALAH DUGA Oleh: Mira Sari (2009112196) Pelaku: Ali, Fauzan, Yunita, Robiah, Bahri, Pak Sukri. Situasi : Adegan terjadi pagi hari di ruangan kelas, Yunita sedang membaca buku pelajaran sebelum guru mereka datang. Yunita dan teman – temannya harus sudah siap untuk memaparkan hasil pekerjan mereka didepan kelas. Robiah : (masuk ke kelas) Hei..! ta (memanggil Yunita) giliran kelompok kitakan maju diskusi hari ini, udah siap tampil belum? (sambil tersenyum bercanda). Yunita : Insyaallah, kemana Ali ya?, kok, belum datang ya, bentar lagi pak Sukri (guru mereka) masuk nichh!! Tiba – tiba Robiah melihat Ali yang baru datang. Robiah : Itu Ali (menunjuk kearah Ali yang baru datang sambil membawa makalah mereka yang telah di fotocopynya untuk di bagikan saat diskusi). Yunita : (berkata kepada Ali). Syukurlah kamu sudah datang li, kami kira kamu nggak masuk hari ini. Ali : Iya, aku tadi hampir nggak masuk soalnya dari semalam aku diare terus. Perutku sakit dari semalam. Baru sembuh tadi pagi. Robiah : Ha ha ha….(menertawakan Ali) emangnya makan apa kamu sampai sakit perut?. Yunita : Kamu pasti makan yang nggak halal ya..(sambil tersenyum menunjukkan bahwa ia hanya bercanda). Ali : Aku juga heran kenapa aku sakit perut sampai diare terus – terusan , Cuma…(mengingat kejadian sebelumnya). Robiah : Cuma apa ? Ali : Aku ingat sekarang, aku semalam kerumahnya Fauzan, saat di rumahnya aku di beri kue oleh Fauzan. Robiah : Terus kenapa ?. Ali : Aku rasa Fauzan memberiku makanan yang sudah basi atau Fauzan sudah memasukkan sesuatu di makanan itu. Yunita : Maksud kamu…(heran). Ali : Apalagi, kalau bukan Fauzan itu mau meracuni aku. Yunita : Astagfirullah, Ali kamu nggak boleh shuuzdon seperti itu, kamu kalau bicara itu hati – hati jangan menuduh orang lain nanti didengar orangnya. Tanpa mereka sadari, Fauzan yang baru datang mendengarkan semua pembicaraan mereka dari balik pintu. Ketika Fauzan mendengar perkataan Ali yang menuduhnya meracuni, tiba – tiba Fauzan masuk ke dalam kelas dengan kemarahannya Fauzan langsung menghampiri Ali. Fauzan : Ali.. apa maksud kamu bicara seperti itu?. Kenapa kamu bilang aku meracunimu (sambil membentak dan marah kepada Ali). Ali : Iya, memang benar kamu ingin meracuni aku bukan. Tiba – tiba Fauzan langsung mendorong Ali dan memukul Ali sampai ia terjatuh. Yunita : Sudah….sudah… hentikan !! Saat itu perkelahian mereka dilihat oleh teman sekelas mereka yaitu Bahri, lalu Bahri melaporkan kejadian itu ke guru mereka yang baru sampai di kantor. Bahri : Assalammualaikum, pak….pak….(tergesa – gesa ) di kelas ada teman yang sedang berkelahi. Pak Sukri : Apa..? (dengan nada yang agak marah). Siapa yang berkelahi? Bahri : Fauzan dan Ali, pak. Pak Sukri : Ada – ada saja murid ini pagi – pagi sudah berkelahi. Kemudian Bahri dan Pak Sukri berjalan menuju ruangan kelas mereka. Pak Sukri : (masuk ke kelas) ada apa ini? Tiba – tiba murid yang ada di kelas terdiam semua. Yunita dan Robiah : Fauzan dan Ali berkelahi pak, Fauzan memukul Ali sampai ia terjatuh. Pak Sukri : Fauzan kenapa kamu memukul Ali ? Fauzan : Tanya saja pak sama dia (menunjuk kearah Ali). Pak Sukri : Ali jelaskan ini semua! Mengapa kalian berkelahi ? Ali : Aku nggak tau pak, aku nggak salah pak. Ali tidak mau mengakui kesalahannya, sehinggga membuat Fauzan semakin marah. Fauzan : Ali, jelaskan kalau kamu itu memang salah dan pantas kamu itu untuk di hajar , jangan kamu beraninya bicara dibelakang aku, menuduh aku seperti itu. Pak Sukri : Coba kalian bicara kepada Bapak, siapa saja yang ada di kelas sebelum terjadinya perkelahian ini (berbicara kepada muridnya). Yunita : Pak (mengangkat tangannya bermaksud ingin mengatakan sesuatu). Pak Sukri : Ya ada apa? Yunita : Begini pak, Ali tadi menuduh Fauzan meracuninya saat Ali makan kue di rumahnya Fauzan semalam, sepulang dari rumahnya Fauzan Ali bilang ia sakit perut dan diare terus. Sehingga Ali menyimpulkan bahwa Fauzan meracuni Ali. Begitulah pak yang aku tau dari ceritanya Ali tadi. Pak Sukri : Fauzan apa benar kamu ingin meracuni Ali. Fauzan : Demi Allah pak, aku tidak pernah ada niat untuk meracuni orang lain apa lagi Ali temanku sendiri pak. Aku tidak mau dituduh meracuni seperti perkataan Ali tadi. Pak Sukri : Ali kenapa kamu menuduh Fauzan meracunimu, coba kamu ingat – ingat lagi kenapa kamu sampai sakit perut dan diare terus. Tiba – tiba Ali teringat sesuatu. Ali : Pak…pak… aku ingat sesuatu sepulang aku dari rumahnya Fauzan aku membeli kacang kulit sebanyak 5 bungkus pak, aku makan sebagai cemilanku nonton tv (sambil tersipu kemaluan karena sudah menuduh Fauzan). Lalu semua teman – teman sekelas mereka tertawa saat mendengar perkataan Ali. Kemudian pak Sukri mendamaikan Ali dan Fauzan. Pak Sukri : Ali, Fauzan sekarang kalian bermaafanlah. Ali : Fauzan maafkan aku ya, aku sudah menuduhmu meracuni aku. Fauzan : Ya aku juga minta maaf karena emosi aku sudah memukulmu. Yunita : Makanya Ali, kalau bicara itu jangan sembarangan, berpikirlah dulu sebelum kamu bicara (menasehati Ali). Robiah : Ya betul, seperti kata pepatah ini ya berpikirlah dahulu sebelum bertindak, buat kalian berdua ini ya (melihat ke arah Ali dan Fauzan), betul tidak (menurutkan gaya Aa’Gym berceramah). Karena lelucon dari Robiah sehingga membuat teman – teman dikelas mereka tertawa semua. Akhirnya Ali dan Fauzan berdamai, saling bermaafan dan mereka berteman kembali.
WANITA DAN PERSAHABATAN Oleh: Mellisa Triseptiyanti (2009 112254) Pelaku: • Restu • Abdul • Dinda • Ades • Dodi • Rio • Adit Kisah ini menceritakan para pemuda yang berstatus sebagai santri yang tinggal dikamar yang namanya F3, mereka adalah sahabat yang selalu kompak dan setia kawan. Pada suatu ketika mereka bercanda ria dan bergurau satu sama lain. Pada suatu hari si-restu jatuh cinta pada seorang wanita yang bernama dinda dia sangat ngebet sekali pada si cewek akan tetatapi si-restu tertutup tidak terbuka. Tapi akhirnya teman-teman kamarnya curiga karna restu sering ngelamun dan tersenyum sendiri dan terjadilah guyonan dari teman- teman kamarnya. Dan restu pun bercerita karna dirayu oleh teman-temannya, namun tanpa disangka-sangka diantara teman restu ada juga yang suka kepada dinda. Dan dia marah mendengar penjelasan restu, dia adalah abdul karim anak saudagar Bawang. Terjadilah permusuhan diantara mereka berdua dan akhirnya mereka memilih persahabatan dari pada bermusuhan gara-gara wanita.
Pada suatu hari asrama daerah “F” kamar F3 terdengar perbincangan diselai canda tawa.
Rio : eh... tau nggak sekarang tanggal berapa? Adit : ada apa loe tanya-tanya tanggal mang ada yang penting yah..? Rio : hehehe... nggak da apa-apa sih, cuma uang jajan gue dah tipis.
Nyahut abdul...
Abdul : sekarang tanggal 21 april ya...makanya jangan boros jadi orang tu, trus kalau udah gini kamu pasti mau pinjam uang lagi ya kan ma aku... Rio : He...he..kok tau.. Ades : yah..gimana nggak tau, wong itu sudah jadi teradisi kamu kalau kirimanya habis pinjam ke si abdul. Rio : ya kan nggak apa-apa, ntar gue deh kalo udah ada kiriman, lagian si abdul kan uang jajannya banyak.
Lalu adit yang tadinya tidur bangun ikutan menyahut...
Adit : yah kalau abdul itu kan anaknya juragan bawang jadi santai aja kan dull..tinggal minta aja ma bokap lo tuh. Abdul : yah makasih ocehannya..
Dan beberapa hari kemudian di sekolah...
Brukk.....(restu tidak sengaja menabrak seorang gadis yang gadis itu ternyata adalah dinda) Dinda : eh kamu itu kalau jalan liat-liat napa sih..nggak punya mata yah..
Dan si Restu hanya bengong melihat dinda lagi marah pada dirinya... Dinda : hei kak...kok jadi bengong sih, mang ada yang aneh yah... Restu : oh maaf ya aku nggak sengaja, soalnya aku tadi buru-buru mau ke toilet, sekali maaf ya…. Dinda : makanya lain kali kalo jalan liat-liat, jadinya nggak nabrak…..ya udah aku maafin.. Restu : eh,ngmomong-ngomong kamu anak baru ya...kok aku baru liat kamu disekolah? Dinda : oh... aku anak baru kak disini pindahan dari SMANSA Jombang. Restu : oh kamu anak pindahan ya disini, kenalin aku Restu anak XII bahasa, kamu masuk dikelas mana? Dinda : oh.. aku masuk di kelas X ips….kak maaf yah tadi marah-marah abiz kakak sih pake acara nabrak- nabrak segala.sorry yah kak Restu : nggak apa kok, oh ya nama kamu siapa? Dinda : namaku Dinda kak Restu : nama yang cantik sama dengan orangnya cantik juga... Dinda : yeah..kalau bikin buat orang GR kakak pinter..biasa aja kak nggak usah berlebihan. Restu : kalau emang kenyataanya cantik gimana? Dinda : aduh...kok jadi panjang gombalnya, kak udah dulu ya…. soalnya dinda mau masuk kelas nggak enak kalau dilihat anak-anak yang lain. Restu : ya sudah..GOOD LUCK yah... Dinda : Assalamualaikum… Restu : Walaikumsalam…. Dan mereka masuk kedalam kelas masing-masing hingga bel pulang berdering menandakan KBM telah selesai.. Restu : (tersenyum sendiri dalam kamarnya) Didalam hati restu mengatakan “seandainya aku bisa punya pacar seperti dinda alangkah indahnya dunia ini” Dibalik semua itu ternyata ada dua pasang mata yang sedang mengintip.. Dodi : eh...des restu kenapa yah dari kemarin- kemarin dia jarang makan, cuma tersenyum sendiri trus ngelamun? Ades : mungkin dia kerasukan jin kali’atau belajar ekting teater? Dodi : hah jaman sekarang masih percaya yang begituan, enggak lah mungkin dia lagi jatuh cinta kali’. Masak sih orang teater bisa jatuh cinta? Ades : ya iyalah…. kan wong teater juga manusia, biar nggak penasaran kita Tanya aja yuk... Dodi : duarrr...ayo kenapa ini kok ngelamun sendirian sambil senyun-senyum? Restu : ah.. kamu ngagetin aku aja, nggak ada apa-apa kok.. Ades : masak sih…beneran nggk ada apa-apa???? Restu : iya beneran nggak ada apa-apa. Dodi : tapi kenapa kamu tersenyum sendirian?? lagi jatuh cinta yah..... Restu : kamu tu sok tau ya...tapi kalo emang iya kenapa ayo?? Ades : yah nggak papa, tapi raja teater sekolah kita ini jatuh cinta sama siapa yah dod?? Dodi : sama siapa yah... Restu : eh.. kok jadi kalian sih yang ribet .. Ades : Tu,..cerita dong ma kita, kali aja kita bisa bantu kamu? Restu : tapi janji yah jangan sampe yang lain tau, soalnya aku paling anti ma gossip apalagi kalau sampe ketahuan ma virda si-Ratu Gosip sekolah kita ... Dodi : ya deh.!!.kita janji nggak bakal anak-anak yang lain tau,e mang siapa sih yang udah buat kamu kayak gini…….. Restu : dia itu anak baru sekolah kita itu lho..Si Dinda itu... Ades : oh..a nak pindahan itu.. Restu : yah betul, tapi aku malu kalo ngomong langsung ma dia…. Dodi : malu..masak sih anak teater yang udah jadi juara nasional malu, emang kamu bisa malu juga yah tu..(dodi dan ades tertawa) Restu : ya kalo dipanggung itu mah beda pren, tapi kalo yang ini masalah hati….. Ades : ya sudah aku doain aja yah.. semoga sukses Dan diketika malam hari didalam kamar terdapat 7 anak, ada yang lagi copy paste tugas pr temanya, ada juga yang lagi baca komik.. Dodi : hei teman-teman…..semua pada tau nggak sih, ada gosip baru. Abdul : gosip baru apa?? Ades : si-Raja teater sekolah kita lagi jatuh cinta tuh.. Adit : wah ama siapa tuh... Dodi : denger-denger sih.........ama anak baru Abdul : anak baru yang mana? Ades : itu tu….anak yang baru pindah ke sekolah kita…. Abdul : what !!! dinda?? (wajah abdul berubah jadi marah sambil mendekati restu) eh..kamu itu nggak tau terima kasih yah..udah aku baik-baikin jadi teman eh malah mau ngambil orang yang aku sukai.... Restu : lho mang kamu apanya dia….. kok jadi sewot gitu… Abdul : memang aku bukan siapa-siapanya, dia tapi aku lebih dulu P_D_K_T ama tuh anak...enak aja kamu mau ambil dari aku…. Restu : trus mau kamu apa??mau rebut, ayo...(dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajah Abdul) Tanpa banyak bicara si-Abdul telah menerkam pipi restu dan begitu juga sebaliknya tapi perkelahian itu dapat dihentikan oleh teman-temannya dengan dipisahkan. Adit : lho kok jadi ribut sih...masa’ cuma gara-gara cewek kalian jadi kayak gini. Gila kalian berdua ya....cewek tu banyak tau nggak, jangan jadi orang bodoh cuma gara-gara satu cewek kalian ribut, kalian tu udah kelas XII seharusnya bisa belajar dewasa. Ya udah ayo damai, trus lupain cewek itu. sekarang yang harus kalian ingat adalah belajar dan belajar... agar kalian lulus ujian nantinya.
Restu dan Abdul akhirnya berdamai dan bersahabat kembali.
THE END
ARTI PERSAHABATAN
Nama : Lia Heryani (2009 112 092)
Udara pagi yang menyegarkan, burung-burung berkicauan suasana sekolah yang begitu cerah.
(Naena,Tina dan Akash)
Naena :Tina kau lihat awan beringin itu indah sekali Tina :wah…..sungguh pagi yang cerah,Naena kau tahu tidak aku Merasakan betapa indahnya dunia ini. Naena :iya…..Tin aku juga merasakan keindahan alam ini tiada yang bisa Menandinginya, pepohonan yang menghijau bunga-bunga bermekaran. Tina :seandainya aku punya sayap seperti burung-burung, aku pasti bisa lebih luas melihat keindahan alam ini sungguh sempurna Akash :lho…..kok pada nyantai duduk-duduk di sini bukanya sudah jam masuk kelas nih . Naena :wah….gawat nih kalau aku sampai terlambat ,tina cepat sedikit nanti kita terlambat lagi Tina :iya..sabar dong aku sudah capek nih Akash :woi….tidak usah masuk kelas hari ini ibu gurunya juga tidak masuk, He…he…. Naena :kenapa ,tidak bilang dari tadi kalau ibu gurunya tidak masuk ,aku dan tina sudah buru-buru Tina :pantasan saja kau terlalu santai dari tadi Akash :iya…dong makanya tanya dulu jangan langsung maen nyelonong saja ya…sudahlah lebih baik kita pergi kesuatu tempat yang lebih indah Tina :emaaaaaang mau pergi kemana? Naena :iya kita mau pergi kemana Akash :ikuti saja aku ,kita akan melihat pemandangan yang sangat indah Tina :asyik….aku sangat setuju, aku mau melihat pemandangan yang lebih luas lagi , benar tidak naena. Naena :iya…tin ,akash masih jauh tidak dari tadi kok belum nyampai juga Akash :sabar dong bentar lagi sampai nih Tina :wah……begitu indah pemandangan ini daun-daun padi menghijau,burung-burung berkicauan ,desir angin yang begitu kencang rasa menusuk-nusuk kulit Naena :oh…………jadi ini tempatnya, aku kirain kemana Akash :naena di sawah ini kita bisa melihat keindahan alam yang bisa kita rasakan dengan kita sering pergi ke sawah kita bisa tahu betapa alam ini begitu indah. Tina :iya….naena ,akash benar dengan pergi ke sawah kita bisa tenang,bisa menghirup udara segar dengan daun-daun yang menghijau
Naena :tina aku juga merasakan lebih tenang kalau ke tempat sejuk seperti ini Akash :makanya hidup itu jangan hanya mau yang mewah-mewah saja coba kita perhatikan dengan tempat yang semacam ini kita bisa buat diri kita lebih tenang dari pada di kota yang udaranya sudah banyak polusinya, kita tidak bisa menghirup udara yang sejuk lagi. Naena :aku merasa kita tidak akan pernah berpisah Tina :iya….benar naena kita tidak akan pernah berpisah tetap akan jadi sahabat di sini kita saling berbagi susah,senang maupun bahagia Akash :tina,naena sampai kapanpun kita jangan pernah berpisah ya..aku takut kehilangan kalian Naena :akash kita berjanji jangan sampai berpisah Tina :kenapa hari ini ada yang berbeda dengan diriku setiap kali aku merasa sedih ,kalau aku melihat alam ini rasanya aku mau lebih lama lagi melihat alam ini yang begitu indah Naena :tina kok bicara seperti itu tidak baik tau..kita harus bersyukur dengan apa yang telah diberikan kepada kita Tina :naena kepala aku pusing banget terasa ada di awan-awan Naena :tina kita pulang saja ya nanti kamu pingsan lagi Tina :tidak mau aku masih tetap mau di sini Akash :tina kita pulang dulu , besok kita lanjutkan lagi aku takut nanti ada apa- apa dengan dirimu Tina :iya……aku mau pulang tapi antar aku dulu ke rumah ,aku takut Akash :tina tenang saja pasti kita antar kok sampai rumah Naena :ayo…cepat akash kita antar tina pulang Akash :iya….naena sabar dong jangan terburu-buru Tina :akash,naena trima kasih ya sudah mengatarkan aku sampai rumah, besok kita ke sana lagi Naena :tina pasti besok kita pergi ke sana lagi Akash :tin jangan lupa ya minum obatnya biar cepat sembuh ,aku dan naena akan terus bersamamu dan mendoakan dirimu Naena :tina, aku dan akash pulang dulu ya besok kami akan kerumahmu Tina :iya naena aku juga akan pergi untuk berobat
Suasana yang hening dengan kesunyian hati yang merasuk tubuh Akash dan Naena pergi ke rumah sakit
Naena :hai…..tin bagaimana dengan keadaanmu sekarang apa sudah mulai membaik Tina :iya….alhamdullah sudah mulai membaik Akash :emang ada penyakit apa tina sampai-sampai di bawa ke rumah sakit segala Tina :tidak akass, tidak ada apa-apa kok aku baik-baik saja, oyah….jadi tidak hari ini kita pergi ke tempat kemarin Naena :tina bukanya kamu belum sembuh nanti kamu pingsan lagi Akash :iya…. Benar lain kali saja ya kita pergi ke sana Naena :tina apa benar kata dokter kamu menderita penyakit kanker otak Tina :tidak ada apa-apa naena dengan diriku dasar dokter saja yang bohong Akash :tina jangan bohong dong jujur saja bohong itu dosa lho Tina :Naena dan Akash jangan sedih ya harus tetap semangat walaupun nanti aku tidak bersama kalian lagi, sekarang aku baik-baik saja kok ,aku ingin melihat dunia ini lebih lama lagi jadi jangan takut ya Akash :kok bicara kayak gitu,tina kita tidak boleh mudah putus asa Tina :tidak aku baik-baik saja,bentar lagi pulang kok Naena :tina kamu belum boleh pulang wajah kamu saja masih pucat Tina :Naena mungkin hidupku tidak lama lagi,aku merasakan hal itu akan datang sekarang,Naena dan akash aku mnta maaf atas semua kesalahanku selama ini tetap abadi selamanya Naena :tina……..tina……tina jangan pergi aku sayang tina aku cinta tina tina kau tega meninggalkan kami semua tina……….tina…bangun bangun tina kamu tidak boleh pergi tina Akash :Naena jangan ,menangis kita tetap bersama sampai kapanpun yang pernah kita janjikan kemarin Naena :tina…..tina jangan pergi oh…….Tuhan tolong kembalikan tina kagi kami sangat menyayanginya Tuhan Akash :Naena jangan menangis terus tina sudah pergi jangan ditangisi lagi beri dia ketenangan dan kedamaian Naena :tina……tina aku sayang tina aku tidak mau kehilangan dirimu jangan ada yang pergi Akash :sudahlah naena ini sudah takdir tuhan ,kita harus yakin mungkin itu yang terbaik bagi tina karena Allah memberikan yang terbaik pada umatnya ,kita berdoa saja moga tina ditrima disisi Allah Naena :iya…akash kita doakan saja tina teman kami yang terbaik telah meninggalkan kami semoga dia diberi ketanangan,amin.
ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN Oleh: Elsa Oktamala (2009 112 122)
Pelaku • Chika : • Tio : • Dela : • Ibu guru Meta : • Elsa :
Drama ini menceritakan tentang cinta dan persahabatan antara Cika, Tio dan Dela. Cika, Tio dan Dela adalah sahabat karib sejak kecil sampai dengan sekarang mereka bersahabat
BABAK I Pagi itu Cika, Dela dan Tio berangkat ke sekolah. Dela : Pagi semua….? Cika : Pagi….. Tio : Pagi juga…..! Dela : Gimana hari ini, kita ada tugas gak? Cika : Kayaknya sih, gak ada. Tio : Oya, pagi ini pelajaran apa kita? Dela : Yaa ampuun…Sahabatku, hari gini masih gak tau pelajaran. Cika : Kenapa temanku? Udah lupa ya kalau pelajaran Bahasa Indonesia “Ibu Meta”? Tio : Iya temanku, aku bukannya gak tau atau lupa tapi gak inget…hahahaha. Cika : Ya’ela Tio…Tio, masih saja mau ngelak kalau lupa tuh ngomong aja lupa. Dela : Iya Cika, emang Tio ini ngomong lupa aja gak mau. Tio : Iya…iya temanku. Aku emang lupa tapi aku tadi mau bikin kalian sebel. Tapi kalian tetap teman terbaikku kok. Cika : Yang bener…? Tio : Iya Cika, kalian berdua tuh teman sekaligus sahabat terbaikku. Dela : Masa’ sih? Tio : Ya udah kalau gak percaya. Cika : Iya Tio, kami percaya kok.
BABAK II Jam pulang pun telah berbunyi. Cika, Dela dan Tio siap-siap mau pulang ke rumah mereka masing-masing. Cika : Duh, kenapa pikiranku sekarang bingung banget nih. (sambil memasukkan buku ke dalam tas) Dela : Kenapa, Cik? Tapi jujur, sekarang pikiranku juga bingung. Ibu Guru Meta : Kenapa anak-anakku? Bingung kenapa? Cerita dong sama Ibu. Cika : Gimana ya, Bu, Cika juga bingung? Dela : Iya Bu, Dela juga gak tau bingung ini kenapa? Ibu Guru Meta : Iya anak-anakku. Gini, kalau kalian percaya sama Ibu, kalian cerita sama Ibu. Dela : Aduh Ibu, Cika, maaf ya, aku duluan pulang karna di depan udah ada Bapakku yang jemput. Ibu Guru Meta : Oh…, Udah ada yang jemput. Iya, hati-hati aja di jalan. Cika : Iya, Del. Gak apa-apa, hati-hati aja di jalan. Dela : Iya Bu, udah ada yang jemput, jadi Dela duluan ya… (sambil pergi keluar) Ibu Guru Meta : Nah, sekarang jadi apa Cika yang sedang kamu bingungkan? Cika : Ya udah Bu, sekarang Cika mau cerita sama Ibu. Ibu Guru Meta : Ya, apa Cika? Ceritalah sekarang. Cika : Gini Bu, Ibu kan tau Cika berteman udah lama sama Tio, tapi yang buat Cika bingung perasaan apa ada dalam diri ini? Apakah perasaan cinta yang ada ini, Bu? Ibu Guru Meta : Ya, tapi kamu bisa membedakan perasaan cinta dan perasaan persahabatan. Cika : Iya Bu, Cika bisa membedakannya. Ibu Guru Meta : Jadi perasaan apa yang bisa buat kamu bingung kayak gini. Cika : Dulu perasaan Cika sama Tio sahabat, tapi kini udah berubah perasaan itu berubah menjadi cinta karena perhatian Tio dan kebersamaan kami selama ini. Ibu Guru Meta : Oh, jadi perasaan sahabat jadi cinta nihh? Cika : Iya, Bu. Tapi yang bikin bingung, Dela juga suka sama Tio padahal kami sejak kecil udah bersahabat. Ibu Guru Meta : Emang Dela tau sama perasaan kamu ini? Cika : Tidak tau, karena Cika baru cerita sama Ibu seorang. Ibu Guru Meta : Ya udah, sekarang Cika yakinkan dulu perasaan Cika kalau emang bener itu perasaan cinta, kamu ungkapkan perasaan itu sama Tio. Cika : Tapi Dela gimana, Bu? Dela kan juga sahabat Cika dan Tio. Ibu Guru Meta : Iya, nanti kamu ajak jalan Dela sama Tio. Disanalah kamu ungkapkan perasaan kamu sama Tio. Cika : Tapi Bu, gimana dengan perasaan Dela. Ibu Guru Meta : Ya udah, entar Ibu yang bilang sama Della. Cika : Oh ya udah kalau gitu. Makasih ya Bu atas sarannya. Ibu Guru Meta : Iya Nak, sama-sama. Sekarang Ibu mau pulang. Cika : Iya baik, hati-hati di jalan Cika juga mau pulang. (sambil Cika mengambil tas) Ibu Guru Meta : Iya Nak, makasih (sambil berjalan pulang)
Keesokkan harinya Ibu Guru Meta dan Dela lagi duduk-duduk di halaman sekolah. Ibu Guru Meta : Siang Del….? Dela : Siang juga, Bu…. Ibu Guru Meta : Ngapain kamu siang-siang kayak gini duduk sendirian? Cika mana ? Dela : Bu, Dela lagi pengen sendiri aja. Cika kayaknya tadi ke kantin, Bu. Ibu Guru Meta : Kenapa pengen sendiri ? Emang masalah apa yang buat Dela jadi pengen sendiri ? Dela : Inilah Bu, Dela bingungkan? Ibu Guru Meta : Iya, apa cerita dong sama Ibu. Ibu pengen cerita-cerita sama anak Ibu tapi itu juga kalau Dela mau cerita sama Ibu. Dela : Ya udah Bu, Dela akan cerita sama Ibu yang buat Dela bingung kayak gini. Ibu Guru Meta : Iya, apa ? Ceritalah sekarang, jam istrirahat juga masih lama. Dela : Gini Bu, jujur sudah lama sekali Dela memendam perasaan ini. Ibu Guru Meta : Perasaan apa, Nak? Dela : Perasaan cinta sama Tio, Bu. Sudah lama Dela memendam perasaan ini dari Dela SMP sampai dengan SMA. Jadi Bu, Dela udah gak tahan lagi memendam perasaan ini. Ibu Guru Meta : Ya ampun, Nak. Jadi perasaan cinta ya… Dela : Iya, Bu. Tapi yang jadi masalahnya, Dela sejak kecil udah berteman sama Tio. Karena itulah yang membuat Dela bingung kayak gini. Ibu Guru Meta : Ya udah, sekarang Dela ungkapkan saja perasaan cinta Dela ke Tio. Dela : Tapi, Bu…. Ibu Guru Meta : Tapi apa ? Dela : Gimana dengan Cika ? Karena Cika juga teman Dela sama Tio. Ibu Guru Meta : Iya, Ibu tau. Sekarang Dela gini aja, Dela ajak pergi Tio sama Cika ke suatu tempat, disanalah Dela ungkapkan perasaan sama Tio. Dela : Di depan Cika juga, Bu ? Ibu Guru Meta : Iya, di depan Cika juga supaya gak ada perselisihan antara Cika dan kamu. Dela : Iya Bu, kalau begitu makasih ya atas sarannya. Dan Bu, pikiran Dela sekarang udah agak mendingan setelah cerita sama Ibu. Ibu Guru Meta : Iya, sama-sama Nak. Ibu juga senang kalau anak Ibu mau cerita sama Ibu. Dela : Ya udah Bu, sekarang Dela mau masuk kelas karena lonceng masuk sudah berbunyi. Ibu Guru Meta : Iya, Nak. Selamat belajar aja. Dela : Iya Bu, makasih ya. (Sambil berlari menuju ke kelas)
BABAK III Bel pulang pun telah berbunyi. Dela, Cika, Tio dan siswa-siswa yang lain juga siap-siap untuk beranjak pulang. Dela : Tio, mau pulang yaa… ? Tio : Iya, emang kenapa Del ? Dela : Kita pulang bareng yuk ? Cika : Iya, kita pulang ya ? karena udah lama kita gak pulang bareng. Tio : Iya udah, yuk kalau begitu! Dela : Ehm….gimana kalau hari Minggu nanti kita jalan? Kan udah lama gak jalan bareng. Cika : Iya Del, setuju banget. Itu ide yang bagus banget karena aku udah bete banget di rumah. Dela : Gimana Tio, mau gak? Tio : Ehm….gimana ya ? entar kita liat aja nanti.
Akhirnya Dela dan Cika sampai di kosan mereka. Dela : Tio kami duluan ya ? Tio : Iya, Del. Dela : Hati-hati di jalan ya… Tio : Iya, makasih ya Del. (Sambil berjalan pulang)
Hari minggu pun tiba pagi-pagi suara dering handphone Dela berbunyi (riinggg……riiiingggggg…..riiiiiiiiiinngggg) Dela : Hallo ! Assalamu’alaikum. Tio : Wa’alaikumsalam. Dela : Ada apa Tio? Tio : Gimana dengan rencana mau jalan hari ini? Boleh gak aku mau ngajakin teman. Dela : Entar dulu, aku tanya sama Cika dulu. Tio : Ya udah, kamu tanya aja dulu. Dela : Gimana Cik, boleh gak Tio ngajak teman? Cika : Iya udah, gak papa. Asal Tio mau aja. Dela : Hallo… Tio : Hallo juga. Dela : Iya Io, gak papa. Tio : Ya udah, jam berapa emangnya kita mau jalan? Dela : Gimana kalau jam 2 aja ya? Tio : Iya jam 2 aja, tapi dimana tempatnya? Dela : Gimana kalau di tempat biasa? Tio : Ya udah kalau begitu. Dela : Iya, asalamu’alaikum. Tio : Wa’alaikumsalam. (Sambil mereka berdua mengakhiri handphone mereka)
Sampailah Cika dan Dela ke tempat yang mereka janjikan (restoran tempat mereka makan). Dela : Dimana Cik, Ti? Cika : Dimana ya, aku juga gak tau dia dimana. Dela : Lihat Cik, disana! Benar bukan itu Tio? Cika : Iya, benar itu Tio. (Mereka sambil berjalan menuju arah Tio) Dela : Hai, Io. Tio : Hai juga. Cika : Kalian udah lama datang? Tio : Lumayan, sepuluh menit yang lalu. Dela : Oh, maaf ya udah nunggu.
Tio : Oh, gak papa, cuma bentar juga. Ini kenalin. (Sambil menuju ke arah cewek yang mau dikenalkannya) Dela : (Sambil mengacungkan tangannya ke Elsa ) Elsa : Elsa (sambil mengacungkan tangannya ke Dela) Cika : Cika (sambil mengacungkan tangannya ke arah Elsa) Elsa : Elsa (sambil mengacungkan tangannya ke arah Cika) Tio : Kalian mau pesan apa? Cika : Kalian emang udah pesan? Elsa : Iya, mbak. Barusan. Dela : Kalian pesan apa? Tio : Biasa, kesukaanku, sup buah dan bakso. Dela : Ya udah. Oke, kita pesan sama aja kayak mereka. Cika : Ya udah, kamu yang pesan !
Sambil menunggu pesanan…. Dela : Teman-teman semua disini, Dela mau cerita tentang perasaanku selama ini. Tio : Emang perasaan apa yang mau kamu ceritakan? Tio : Jujur, sejak kita berteman aku sudah sayang sama kamu Tio. Tapi aku gak berani mengungkapkan perasaan ini sampai sekarang. Ya aku baru bisa mengungkapkan perasaan ini sekarang. Cika : Iya Tio, jujur aku juga mempunyai perasaan sama kayak Dela. Tapi akau masih memikirkan persahabatan kita sejak kecil. Dela : Apa-apaan ini? Cika….?! Cika : Emang kenapa? Apa aku salah? Dela : Iya boleh, tapi kamu kan tau aku mempunyai perasaan cinta sama Tio. Cika : Iya tau, tapi aku juga mau ngungkapin perasaanku. Jadi apa bedanya aku sama kamu? Kalau kamu punya perasaan, aku juga punya perasaan sama Tio. Dela : Iya, emang gak salah. Tapi kamu tau kalau aku udah lama mempunyai perasaan ini. Cika : Ya udah Del, disini kita udah ungkapin perasaan kita masing-masing. Tuh juga keputusannya di tangan Tio. Dela : Ya udah Io, semua ini kami serahkan sama kamu. Tio : Emang sekarang kalian ini sadar? Cika : Sadar. Dela : Sadar banget malah. Tio : Jujur di satu sisi aku senang banget kalau dua cewek suka sama aku. Di sisi lain aku tidak dapat memungkiri kalau dua sahabat yang sudah aku anggap saudara aku sendiri bisa suka sama aku. Dela, aku jujur, aku juga sayang banget sama kalian berdua, tapi rasa sayang itu hanya sebagai sahabat dan rasa cinta aku pun cukup pada satu cewek. Cika : Emang siapa cewek itu, sampai kamu suka sama dia? Dela : Dan apa kelebihan cewek itu? Tio : Dia gak ada kelebihan. Cewek itu adalah cewek yang ada di hadapan kalian. (Mata Cika dan Dela melihat kearah Elsa namun Elsa membalas dengan senyuman) Cika : Maksud kamu Elsa? Tio : Iya, dia emang cewek aku. Dia cewek yang sangat baik dan pengertian. Karena itulah aku suka sama dia. Dela : Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu sudah punya cewek? Tio : Aku pengen kasih tau kalian tapi gak ada waktu yang tepat. Niat aku sih tadi, pas kalian kayak kecapekan dan kepanasan, jadi kusuruh pesan minuman dan makanan dulu. Cika : Sejak kapan kamu kenal sama Elsa? Tio : Sejak kita libur akhir semester tadi. Aku diajak Bapak dan Ibu ke rumah nenek, disanalah aku bisa kenal rasa sayang dan cinta kepada Elsa. Dan aku mohon sama kalian berdua walaupun aku tidak bisa menerima perasaan cinta itu, tapi kalian tetap sahabat terbaikku yang sangat aku sayangi. Cika : Banyak orang tidak bisa terima jika cintanya ditolak. Tapi bukankah cinta tak mungkin dipaksa? Namun bagiku Tio tak mendapat cintamu, tak membuat aku jauh darimu. Tapi aku akan tetap menjadi sahabat terbaikmu walaupun ada rasa cemburu mengganggu hati kecilku. Dela : Aku harus bisa menerima keputusanmu, walaupun terasa berat. Bukankah kebahagiaan kita adalah melihat orang yang kita cintai hidup bahagia, baik bersama kita atau dengan orang lain. Tio : Tapi kalian berdua tetap sahabatku yang baik dan menyenangkan. Dela : Iya Tio, walaupun kamu tidak bisa menerima perasaanku tetapi kamu tetap sahabat terbaikku. Cika : Jadi sekarang kita tetap sahabat seperti dulu lagikan?
Merekapun dikagetkan oleh pelayan restoran. Tio : Ya udah, sekarang kita gak usah pikirin lagi apa yang kita bahas tadi. Sebaiknya kita makan-makan aja. Dela : Ayo kita makan-makan !
Mereka sekarang menjadi 4 sahabat Elsa juga telah menjadi anggota teman mereka. Hampir setiap akhir pekan, mereka menghabiskan waktu bersama, ke puncak, makan-makan dan karaoke. Hidup dengan tali persahabatan yang hangat dan bagi Tio maupun Elsa tetap menjadi kekasih yang paling dia cintai dan disayanginya.
PENGORBANAN SANG SUAMI Oleh: Dwi Seftarinah (2009 112 090)
Pagi yang berkabut, Aini mempersiapkan sarapan pagi di halaman belakang rumahnya untuk sang suami yang sedang asyik membaca koran. Aini : Ayah ini sarapannya (sambil menuangkan teh hangat) Agung : Iya, bu letakkan saja di sana, nanti ayah sarapan Aini : Ayah, tidak terasa hampir 3 tahun ya kita menikah Agung : Iya bu Aini : Ayah....!! (sambil berkata kesal) Agung : Kenapa bu Aini : Ayah selalu tidak repleks kalau ibu bilang seperti itu Agung : Tidak repleks bagaimana (sambil minum secangkir teh) Aini : Ya, kitakan sudah hampir 3 tahun menikah tapi kenapa kita belum mendapatkan keturunan, ibu kan sudah ingin sekali punya anak. Ibu bosan setiap kali ayah bekerja ibu selalu sendirian, belum lagi kalau ayah pergi keluar kota bahkan keluar negri, ibu bosan ayah dengan keadaan seperti ini (dengan nada kesal) Agung : Mungkin Allah belum memberikan kepercayaan kepada kita, sabar ya bu Aini : Selalu begitu jawabannya Agung : Ya sudah, ayah mau pergi kerja, ibu hati-hati di rumah ya.... Aini : Ya... (sambil menyiapkan pakaian buat sang suami) Agung : Ayah pergi ya, assalamu’alaikum..... Aini : Wa’alaikum salam (siang harinya sang istri pergi bertemu teman-teman arisannya) selamat siang ibu-ibu.. Rani : Siang Aini, apa kabar...?? duduk-duduk Aini : Iya terima kasih. Kabar saya baik-baik saja. (di sana kebanyak teman-teman Aini membawa anak-anaknya yang lucu) Aini : (merenung sambil berpikir) sungguh bahagia mereka yang mempunyai malikat-malaikat kecil yang amat lucu (dengan sengaja Aini sesekali membelai anak dari seorang temannya sambil mengajaknya bercanda). (tak lama kemudian acara arisan selesai Aini pun beranjak pulang) Aini : Ibu-ibu pulang ya, kalau ada acara seperti ini calling-calling saya ya... ha..ha..ha...(sambil tertawa) (sesampainya di rumah Aini merenung dan terbesit kecurigaan terhadap sang suami) Aini : Jangan-jangan, suami ku mandul, sebab itu mungkin aku tidak bisa mendapatkan seorang anak selama ini, (sejak saat itu, Aini menjadi emosian dan mudah marah apalagi jika menyangkut masalah anak) Agung : Asalamu’alaikum,,, ibu ayah pulang Aini : Ya... Agung : Ibu kenapa ya, tidak seperti biasanya ibu seperti itu (Agung pun bertanya) ibu kenapa...?? kenapa akhir-akhir ini ibu berubah menjadi emosional Aini : Kenapa..?? ayah tanyakan saja kepada diri ayah, apa yang terjadi dengan ayah, ibu cape ayah hidup seperti ini, (nada kesal). Ayah ibu sudah lelah menjalani ini semua, ibu tidak bisa hidup selalu sendirian, hasrat ibu ingin mempunyai anak sangat besar, tapi sejauh ini ibu lihat ayah tidak bisa memberikan apa yang ibu mau. Agung : Ibu, kita harus bersabar, lebih bersabar dalam hidup ini, kita tidak bisa mendahului kehendak Allah, jika kita telah diberikan kepercayaan Insya allah kita akan mendapatkannya (dengan berkata lemah lembut dan sabar Agung menjelaskan) Aini : Sabar-sabar, ibu sudah cukup sabar ayah, tapi kali ini ibu tak dapat lagi bersabar, ibu mau... ibu mau kita bercerai (dengan ketus) Agung : Astagfirullaahal’Azhiim.. ibu, ibu sadar apa yang ibu ucapkan, memang perceraian adalah hal yang dihalalkan Allah SWT, tapi tak dapat dipungkiri perceraian juga adalah hal yang amat dibenci Allah SWT. Nauzubillah minzaliik ... coba kita selesaikan masalah ini dengan musyawarah, mungkin ada jalan keluarnya, sebenarnya apa yang mendasari ibu ingin bercerai (tetap dengan sabar) Aini : Jawabannya singkat dan jelas, ayah itu mandul Agung : (tersentak dan terdiam) Astagfirullaahal’Azhiim.. ibu percayalah kita belum saja diberi keturunan (menjelaskan dengan sabar) Aini : Sudahlah ibu lelah...... Suatu malam Agung shalat tahajud dan berkeluh kesah di dalam buku hariannya tentang apa yang dialaminya akhir-akhir ini. Agung : Ya Allah, tabahkan hamba-Mu ini dalam menerima ujianmu... (setelah berdo’a, Agung pun menuliskan keluh kesahnya dalam sebuah buku hariannya yang sejak lama ia miliki dan buku itu selalu Agung bawa kemana-mana) ternyata Aini pun tak kunjung berubah dengan penjelasan Agung, dia tetap bersih keras ingin bercerai. Agung : Ibu, hari ini ayah libur kerja , kita jalan ya...?? Aini : (acuh tak memperdulikan kata-kata Agung) aku harus bercerai dari Agung, aku sudah tak ingin lagi bersamanya, aku tak kunjung mendapatkan anak, laki-laki macam apa dia itu,,,(menggerutuh) Agung : Ibu mau tidak..?? Aini : Tidak ibu capek ibu mau di rumah saja (sibuk memasak) tiba-tiba.... ”aduh...aw..aduh..perut aku sakit”, (menangis dan berteriak) Agung : Ibu..ibu... kenapa, apa yang sakit, ayo kita periksakan ke rumah sakit (cemas) ”Tiba dirumah sakit” Dokter berbicara pada Agung yang menanyakan kondisi sang istri. Agung : Dok ada apa dengan istri saya..?? Dokter : Istri bapak...istri bapak...mengalami kerusakan pada salah satu ginjalnya, dan harus segera dioperasi, sebab jika tidak akan berakibat fatal terhadap istri bapak.. Aini : (Aini yang mendengarpun terkejut) apa Dok... tidak mungkin, ini bisa terjadi.... Agung : Sabar bu, ibu jangan terlalu cemas, nanti bisa berpengaruh bagi kesehatan ibu Aini : Lalu kapan Dok saya bisa operasi Dokter : Pengoperasian dilakukan bila ada donor ginjal yang cocok dengan ibu, tepatnya kapan juga saya kurang tahu, sebab pendonoran ginjal di Rumah Sakit ini terbatas Agung : Lalu bagaiman kami bisa menemukan pendonor itu... Dokter : Biasanya pasien akan memasang iklan dikoran atau pendonor dari orang yang sudah meninggal itupun jika keluarga pendonor mengizinkan jika salah satu organ tubuh keluarga mereka diambil Aini : Astaga, apa yang harus aku lakukan... Dokter : Kami akan berusaha agar pengoperasian secepatnya dapat dilakukan Agung : Terima kasih Dokter atas kerja samanya (bersalaman dan meninggalkan ruangan) Aini : (merenung) Agung : (mempersiapkan keperluannya untuk bekerja sesekali menatap istrinya) ibu, ayah hari ini mau berangkat keluar kota selama 4 hari, ayah harap ibu dapat menjaga kesehatan ibu, nanti ayah akan menyuruh saudara ayah untuk menemani ibu, agar ibu tetap bisa beristirahat (pergi ke kamar) Aini : Ya.... (acuh) suami macam apa dia itu, istri sedang sakit dia malah pergi untuk bekerja, sama sekali tidak memperdulikan aku. Agung : Ibu, ayah pergi (sambil mencium tangan ayah) Selang beberapa saat, kring....kring....kring.....telpon berbunyi.... Aini : Asalamu’alaikum,,hallo...siapa ini ? Dokter : Walaikumsalam,, hallo ibu Aini, ini saya Dokter Herman, saya ingin memberitahukan bahwa Rumah Sakit telah mendapatkan pendonor ginjal untuk ibu, ibu bisa datang besok dan menjalani rawat inap guna persiapan operasi Aini : Benarkah...Alhamdulillah,,,,ya Allah, baik Dokter, saya akan kesana besok... Hari itupun tiba, pengoperasian dilakukan, Aini tidak ditemani sang suami ketika pengoperasian karena Agung lagi diluar kota. Agung : Ibu, ayah pulang..., ibu apa kabar, bagaimana keadaan ibu, semakin membaik kah..? Aini : Tentu saja, (tetap dengan ketus) Ternyata teguran yang diberikan Allah untuk Aini tidak membuat ia sadar akan perilaku buruknya terhadap suaminya itu amatlah salah, mlah ia semakin bersikeras untuk bercerai. Aini : Ayah, ibu pikir setelah keadaan ibu membaik, perceraian kita segera dilakukan ibu tidak mau menunda-nundanya lagi Agung : Ibu tak bisakah ibu tidak memikirkan percerain itu dulu, yang terpenting saat ini adalah kesehatan ibu, janganlah ibu membebani pikiran ibu dengan masalah yang seperti itu Aini : Tidak, pokoknya ibu ingin bercerai dan kita berpisah, ibu tidak mau tinggal dengan seorang laki-laki yang tak mampu memberikan ibu seorang anak Lagi-lagi Aini membuat hati Agung sakit Agung : Ya, nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Besok ayah akan pergi lagi, kali ini ayah keluar negeri, ayah harap ibu tetep bersabar dan jangan lupa berdoa (dengan nada halus) Aini : Selalu seperti itu, ditunda terus, apa susahnya mengajukan gugatan cerai setelah itu selesai, ayah mau pergi kesana-kesini terserah ayah..... Ibu sudah tidak mau perduli lagi (dengan nada suara ketus) Agung : Ibu, apa yang ibu katakan itu tak mudah untuk dilakukan (sambil mendekati Aini) ayah tau ayah mempunyai banyak kekurangan, sehingga ayah tak mampu memberikan kebahagiaan untuk ibu. ayah minta maaf (dengan raut wajah sedih) Aini : Sudah.. sudah.. lebih baik ayah siapkan pakaian ayah untuk berangkat besok. Agung : (mengambil koper dan merapikan pakaiannya) (Pagi hari yang cerah Aini turut mengantarkan kepergiaan Agung, Agung yang amat berat meninggalkan ini karena masalahnya dengan Aini tak kunjung usai, terpaksa pergi dengan raut wajah yang sedih, harus ia tinggalkan demi kepergiannya) Agung : Ibu jaga kesehatan dengan baik, jangan dipikirkan apapun yang dapat membuat kesahatan ibu menurun. Ayah mencintaimu, demi Allah ayah akan melakukan apapun untuk ibu jika perceraiaan membuat ibu bahagia ayah akan lakukan, tapi tunggu sampai ayah kembali. Aini : (hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca) Melepas kepergiaan Agung Agung : (Mengecup kening Aini) ibu, ayah pergi Assalamualaikum.... Ingatlah pesan- pesan ayah ibu, bersabarlah.... Aini : Kepergian ini dapat aku jadikan senjata untuk mempercepat perceraian aku dengan Agung, aku tak bisa menahannya lagi, ucapan tadi mungkin hanya alasan Agung saja untuk menunda-nunda perceraian ini (sambil membereskan kamar yang berantakan) Terlihat diantara lipatan pakaian Agung buku hitam, yang tebal, dibukalah oleh Aini satu persatu halam buku tersebut. Aini tidak menyangka membaca pengakuan Agung ” Kupasrahkan istriku menghina dan memaki diriku, hal itu kulakukan bukan karena aku lelaki yang lemah, melainkan aku ingin melindunginya, agar ia tidak bersedih dengan keadaan yang sesungguhnya ”. Sebenarnya pusat permasalahan kenapa sampai saat ini kami tak kunjung punya anak adalah istriku. Istrikulah yang mandul, keterangan ini aku dapat saat aku memeriksakan kesehatanku untuk mendonorkan ginjalku beberapa waktu lalu untuk istriku (Aini). Sungguh tak bisa aku membayangkan jika Aini mengetahui semua ini, aku sangat mencintainya, aku tak ingin setetes air pun jatuh dipipinya, aku akan merasa bersalah jika hal itu terjadi, maaf kan aku Aini, aku telah membohongimu... Aini : (menangis terseduh-seduh) Agung : (diperjalanan Agung merasa cemas dan merasa ada sesuatu yang akan terjadi) Kenapa aku ingin pulang ya... apakah ada sesuatu yang terjadi pada Aini (langsung mencari buku hariannya), dimana buku harianku...?? apakah aku lupa membawanya Astagfirullaahal’Azhiim... bagaiman ajika Aini membacanya.. aku harus pulang sekarang.. jika Aini membacanya ia akan sangat sedih. (menelpon) Hallo... selamat pagi Pak Adit, maaf jika saya menggangu, ini ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Adit : Ada apa..?? Agung : Pak dapatkah pemberangkatan hari ini dibatalkan (dengan nada cemas) Adit : Tidak bisa pak, hari ini ada metting yang harus dilaksanakan, saya harap bapak dapat bersikap profesional dalam bekerja. Agung : Tapi pak....ini sangat penting, istri saya sedang sakit. Adit : Ini juga tak kalah penting pak Agung... jika bapak tak dapat bersikap profesional saya akan mengambil keputusan yang tegas, ingat pak ini bisnis besar. Agung : Terserah bapak, apapun keputusan bapak terhadap saya, saya terima yang jelas hari ini saya membatalkan kepergian saya, terima kasih (menutup telpon) dan pulang kerumah Aini : (menangis tak kunjung henti) ya Allah... apa yang sebenarnya aku lakukan terhadap suamiku, orang yang telah mengorbankan hidupnya untuk menyembuh kan aku dengan mendonorkan satu ginjalnya untuk aku, telah aku caci maki sebagai lelaki mandul yang kenyataannya sangat berbeda, wanita macam apa aku ini, aku sungguh tak tahu malu, aku meminta cerai dengan alasan yang sangat memalukan, memalukan diriku sendiri.... a....a....a......((berteriak). Aku bukanlah wanita yang baik untuk Agung, cinta Agung terlalu suci untuk wanita seperti aku ini, aku..... aku....harus mempercepat perceraian ini, jika Agung tak mengugatku, yang akan mengugat cerainya.... yah... hanya itu yang bisa membuat Agung lepas dari wanita macam aku ini. Agung : Itukah yang menurut ibu, membuat ayah bahagia (tiba-tiba datang) Aini : Ayah.....!!!! Agung : Ibu tolong hentikan semua ini, ibu ingin ayah semakin menderita. Ibu, ayah lakukan ini karena ayah sangat mencintai ibu... demi Allah, ayah harap ibu tak meragukannya. Aini : Ayah.. ibu malu dengan ayah.. ibu malu dengan Allah, ibu sudah tak sanggup lagi menahan malu ini Agung: Ibu apa guna suami jika tidak dapat menutupi kekurangan istrinya, dan apa Allah senang dengan keputusan ibu, Allah tak menyukai hambanya yang mudah berputus asa, ayah yakin, Allah memberikan kepercayaan pada ibu untuk kembali memulai hidup yang baru. Oleh sebab itu ayah pun yakin ibu dapat berubah, percayalah Aini : Setulus itukah cinta ayah pada ibu.... Agung : Lebih dari itu Aini : Ibu bodoh, kenapa ibu tak sadar dari awal kalau ibu mempunyai seorang suami seperti malaikat....(berpelukan) he...he...he... Awal kehidupan baru pun dialami Agung dan Aini 3 bulan berlalu, 4 bulan berlalu, tiba ke 2 bulan berikutnya.. Aini : Ayah, kepala ibu pusing, perut ibu juga mual Agung : Pusing, mual, benarkah...?? Aini : Ayah sepertinya senang sekali Agung : Taukah ibu itu gejala apa... Aini : Gejala mau sakit lah Agung : Bukan, itu kan hal yang biasanya dilakukan di alami orang yang sedang hamil Aini : (tersenyum) ayah ini... ayah kan sudah tau kalau ibu tak mungkin mengalaminya Agung : Kita buktikan, ayo kita pergi kerumah sakit Aini : Ya... baiklah (diperiksa dokter) Agung : Bagaimana Dokter keadaan istri saya Dokter : Baik, tak ada yang mengkhawatirkan dan saya rasa ibu Aini kelelahan saja Agung : Oh.... (dengan nada lesu) Dokter : Tapi, jangan lupa memberikan asupan gizi yang baik agar bayi yang dikandung ibu Aini tetap sehat Agung : (terkejut) apa..? kandungan...? maksud dokter...? Dokter : Apakah bapak tidak tahu kalau istri bapak hamil Agung : Subhanallah.... Alhamdulillah... ya Allah.... (menangis haru) Aini : Apa...? saya hamil, Alhamdulillah.... Allahu akbar... (menangis haru) terima kasih ya Allah..., terima kasih dokter...., ayah... Agung : Terima kasih dokter.. Dokter : Ya..sama-sama. Agung : Kami pulang dok, terima kasih informasinya. Dokter : (mengangguk) Agung : Benarkan bu, Allah tak akan pernah tidur, Allah telah mendengar Do’a kita selama ini, ini adalah anugerah yang luar biasa, suatu hal yang tak mungkin kita bayangkan sekarang terjadi, dan ini nyata... Aini : Iya... ayah... mungkin ini berkat kesabaran ayah..., dan hikmah dari kejadian dulu Agung : Sudah tak usah diingat lagi... nanti kandungan ibu terganggu Aini : Tertawa.. (sembilan bulan berlalu, hari yang dinantikan pun tiba) Ayah... tolong persiapkan semuakeperluan untuk bersalin, telpon kan juga ibu agar segera datang kerumah sakit Agung : Ya, bu... untuk menantikan lahirnya anak kita Aini : (mengelus perutnya) sabar ya nak... sebentar lagi kamu akan melihat dunia ini... ibu sayang kamu nak... Agung : Anak ku sayang, sebentar lagi kamu akan melihat wajah ibu dan ayahmu ini, sabar ya sayang... (mencium perut Aini) Aini : Sudah...sudah... (Aini memasuki ruang operasi) Agung : (tegang, takut) ya, Allah... semoga tidak terjadi apa-apa terhadap istri dan anakku… lancarkanlah ya Allah operasinya Aini : (menjerit kesakitan) (selang beberapa menit... terdengar suara bayi) Agung : Ha... anakku... anakku... sudah lahir, Alhamdulillah... (dokter keluar dari ruang operasi). Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya, mereka baik-baik saja kan... Dokter : Anak bapak, Alhamdulillah baik, sekarang sedang dibersihkan oleh perawat Agung : Alhamdulillah,,,, istri saya bagaimana keadaannya dokter..? Dokter : Maaf pak Agung, istri bapak tak dapat kami selamatkan. ia mengalami pendarahan yang luar biasa Agung : Apa dokter... maksud dokter..? istri saya... istri saya meninggal Dokter : Benar, pak. saya mohon maaf tidak dapat menyelamatkan istri bapak. Agung : Tidak.... itu tidak mungkin.... Inalillahi wainailaihi rojiun... Ya Allah mengapa engkau ambil Aini, ya Allah engkau tau betapa aku mencintainya, kenapa engkau ambil dia ya Allah... Mama : Sabar toh ndok... jangan menangis terlalu berlebihan, kasihan Aini, nanti dia sedih disana... cepat kau lihat jasadnya, anakmu biar ibu yang urus Agung : Ya, bu.. (sambil menangis) SELESAI
Persahabatan dan Cinta Oleh : RISKA UMIL (2009 112 103)
Pelaku : 1. Rizka 2. Didi 3. Lili 4. Dokter
Sore yang begitu sejuk, disebuah halaman rumah ada dua orang cewek yang sedang asyik ngobrol…kemudian datanglah seorang cowok yang tidak di undang.
Didi : Hai lagi apa ni kalian..???? ( duduk diantara dua cewek atdi ) Rizka : ehhhh,,,, kamu kok kesini…( dengan wajah yang sedikit agak kesal ) Didi : emmmm,,,emang kenapa gak boleh ap ?????? Lili : ehhh…sidah-sudah berantem terus Didi : iya ni rizka,, bukannya senang gw datang,,eh malah marah-marah Rizka : ( cemberut ) Lili : oya di,ngapain kamu datang kemari ???? Didi : gak kebetulan gw lewat depan rumah kamu,, ya sekalian aja gw mampir ( sambil ngambil makanan yang di makan rizka Lili : ohhhhh,,,kirain ada apa!!!!!!!!!!! Rizka : yok li kita masuk ( sambil beranjak dari tempat duduknya ) Lili : bentar dong riz,,kan didi baru datang, gak enak jugakan Didi : iya ,,ni orang,,kayaknya gak senang deh ngeliat gw deekat-dekat lili Rizka : emang gw pikirin ( langsung pergi,masuk kerumah ) Dengan udara yang sejuk didi dan lili duduk berdua dihalaman rumah lili Didi : li……????? ( sambil garut-garut kepala ) Lili : iya ada apa di?????? Didi : gak apa-apa kok!!!! Lili : ohhhhhhhhh…. Didi : li,,,,, boleh gak !!!!!!!!!( memegang tangan lili ) Lili : boleh ap di???? Didi : li,,,,sebenarnya gw sayang, gw suka sama kamu… Lili : apa???????????? ( melepas pegangan tangan didi ) Didi : gw sayang, gw cinta li!!!!!!!!!!!!!!! Lili : kok bisa kamu cinta sama gw di,,kamu kan tahu kita udah sahabatan dari dulu Didi : tapi…!!!!!!!!! Gw sayang sama kamu li sejak dulu…gw juga gk tau tiba-tiba persaan itu datang dengan sendirinya…( berusaha menjelaskan ) Dari jauh terlihat wajah rizka yang sedang erdiri dari kejauhan dan mendengar semua yang di katakan didi kepada lili………………………. Lili : di,,,kamu gak boleh cinta sama gw????? Didi : emang kenapa li…????( bingung dengan ucapan lili ) Lili : pokoknya gak boleh!!!!!!!! ( sambil nangis ) Didi : iya,,,kenapa li,,gw gak ngerti maksud kamu???? Lili : di,,,sebenarnya gw juga sayang sama kamu,,gw cinta,,tapi………….??????????????? Didi : ( bingung ) tapi kenapa li………. Lili : kamu tahu rizka kan Didi : ( semakin tak mengerti ) Lili : rizka………. Didi : iya,,, emang kenapa dengan rizka ??? Lili : rrizka suka sama kamu di,, di sayang sama kamu di… Didi : apa??????? Rizka suka sama gw,,,gimana ceritanya (didi bingung ) Rizka yang dari tadi berdiri dan mendengarkan semua pembicaraan didi dan lili menangis.. Lili : iya, dia uda lama suka sama kamu,,dari semenjak kita ketemu,,dia uda menyimpan perasaan Didi : kenapa kamu baru bilang sekarang li Lili : ( terdiam sejenak ) rizka gak mau kamu tahu kalau dia sayang sama kamu di.. Didi : emang kenapa ( didi bingung ),,,li gw sukanya sama kamu,,gw gak suka sama rizka,, rizka uda gw anggap sebagai adik gw li !!! Lili : tapi……?????? ( dengan wajah yang bingung ) Didi : li,,,, dari dulu gw uda memendam perasaan sama kamu Lili : ya,,, gw tahu,,gw juga suka sama kamu di, tapi gimana dengan rizka di,dia pasti kecewa kalau tahu k amu suka sama gw… Didi : ya udah ntar kita bicarakan masalah ini dengan rizk Tiba –tiba terdengar langkah kaki rizka lari,,lili dan didi melihat rizka berlari………. Lili : rizka…………..( terkejut ) Lili dan didi langsung mengejar dan berusaha untuk menghentikan langkah rizka Lili : rizz………… Rizka : kalian jahat ( sambil menangis ) Lili : riz,,gw bisa jelasin ni semua sama kamu,,jangan salah paham dulu riz.. Didi : iya riz kita bias jelasin ni Rizka : gk ada yang perlu di jelasin lagi,, semuanya sudah jelas ( dengan suara yang keras dan langsung berlari menuju mobil ) Lili-didi : riz….tunggu…….rizka Dengan kemarahan dan kekecewaanya rizka merasa di permainkan oleh kedua sahabatnya ituTanpa sadar rizka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi dan tampak dari belakang mobil lili dan didi mengiringi mobil rizka….. Lili : cepat di……kejar rizka ( dengan wajah yang cemas takut terjadi sesuatu terhadap rizka ) Didi : ya…..ni udha cepat li.. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang menabrak sebuah truk dengan muatan batu bara.. Braaaaaaaaaakkkkkkkkkkk………………………. Lili : di,,ada apa di depan ramai-ramai itu ( lili cemas terjadi sesuatu pada rizka ) Terhenti mobil yang dikendarai lili dan didi tanpa sadar didepannya ada mobil tabrakan dan lili langsung turun dari mobil untuk melihat Lili : rizka…………….( terkejut dan menangis Didi : rizka…………. Lili : riz…(langsung memeluk rizka) Didi : ( terkejut ) Lili : riz…maafin gw…bangun riz….bangun riz.. kamu harus kuat riz Lili langsung menyuruh didi mengangkat rizka dan segera membawa kerumah sakit Lili : rizka..mafin gw riz,,gw gk mau kamu tinggalin….please riz bangun,,,,,,,,,,,,, Setiba dirumah sakit rizka langsung di bawa masuk ke ruang UGD dan langsung ditanagni para medis. Lili : rizka….( berdoa dan berrdoa ) Didi : sabar li,,tenang..rizka pasti selamat kok..( berusaha menenangkan lili ) Keluar dokter yang menangani rizka dari ruangan Lili : dok,,, gimana dengan teman saya ( mendesak ) Dokter : maaf mbak ( dengan nada suara yang lirih dan wajah yang sedih ) Lili : maksudnya apa dok, teman gw selamat kan dok.????? Dokter : rizka tidak bias di selamatkan ……dia sudah meninggal………. Lili : apa……………??????????????????? ( langsung masuk ruang tempat rizka di rawat ) Didi : apa rizka gk bisa di selamatkan dok Dokter : tidak bias mas, ALLAH berkehendak lain, nyawanya tidak tertolong lagi. Didi : makasih dok…( masuk menyusul lili ) Lili : rizka, Bangun riz, Bangun riz. Maafin gw. Gw gk bermaksud ngecewai kamu,,gw gk mau kamu tinggalin riz. Riz bangun! Didi : li,,, sudahlah … Mungkin Allah berkehendak nlain,,Allah sayang dengan rizka,,kita doakan saja semoga rizka di terima di sisNYA( memeluk lili dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit ).
NASKAH DRAMA BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH Alkisah disebuah desa hiduplah satu keluarga yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih, yang dalam hidupnya Bawang Putih penuh dengan siksaan dan hinaan serta omelan, hingga suatu ketika si Bawang Merah memanggil Bawang Putih dengan penuh amarah. Bawang Merah: Putih… Putih…!! kesini kamu. Kamu… harus membersihkan ruang tamu ini sampai bersih, jangan sampai ada debu-debu yang masih menempel. (sambil berkacak pinggang). Ingat ya! (menjitak kepala Bawang Putih) kalau sampai aku datang ruangan ini tidak bersih tahu sendiri nanti akibatnya! (mencebir dan membuang muka). Bawang Putih : Baik, Bawang Merah! (merunduk dan pergi mangambil sapu). Ibu & B. Putih : Lho, kok sepi. Bawang Putih kemana ya, kok ngak kelihatan! (sambil melihat kanan kiri) Putih… Putih… Putih…! kemana ya anak itu dipanggil-panggil gak nyaut! Bapak & B. Putih: Ada apa sih bu…! (dengan perasaan tanda tanya). Ibu & B. Merah : Eh…! Bapak, lho kapan Bapak yang datang kok Ibu nggak dengar Bapak ngetok-ngetok pintu. (sambil memegang tangannya). Bapak dan B. Putih : E… tadi bu, memang Bapak sengaja nggak ngetok-ngetok pintu, soalnya bapak dengar Ibu berteriak-teriak memanggil-manggil Bawang Putih, Emangnya si Bawang Putih kemana bu? Dan kenapa dia? (dengan penuh keheranan). Ibu & B. Merah : Oh tidak ada apa-apa pak (sambil mengelus-ngelus tangan suami) Ibu takut Bawang Putih kenapa-napa, e tak tahunya lagi istirahat dikamarnya, pak. (sambil merebah kepundaknya). Bapak & B. Putih : Terima kasih ya bu, Bapak bangga sekali punya istri sebaik Ibu, dan saya sayang sekali sama Ibu juga anak kita berdua (mengelus rambut istri) kalau begitu Bapak berangkat berdagang lagi ya bu, paling disana saya 1 minggu. Ibu jaga diri baik-baik ya dan juga anak kita baik-baik, oh ya ini ada sedikit uang buat belanja (sambil menyodorkan uang). Baiklah bu Bapak berangkat dulu ya. (mengulurkan tangannya). Ibu B. Merah : Iya pak (sambil mencium tangan Bapak) hati-hati dijalan, da…! Hem… dasar suami bodoh, kamu kira saya betul-betul mencintai kamu apa! Tidak ya, saya hanya mencintai uang dan rumah kamu ini… ha… ha… ha… (sambil menepuk-nepuk uang). Putih… putih…putih… kesini kamu! (berkacak pinggang). Bawang Putih : Ya… ya… bu, ada apa bu? Ibu B. Putih : Kemana aja sih kamu ha… kaman aja? (sambil menarik dan mendorong Putih) dipanggil-panggil dari tai nggak ada jawaban, kamu tuli ya… (sambil membuang muka). Bawang Putih : Baik bu…! (dengan nada ketakutan). Ibu B. Merah : Ya bagus, (sambil mengangguk-ngangguk kepala) sekarang kamu cuci baju itu sampai bersih mengerti? Ingat Bawang Putih, sebelum Ibu datang cucian ini dan lantai ini sudah harus bersih! Dengar….! (nada keras membentak). Maka berangkatlah Bawang Putih ke sungai untuk mencuci baju itu, sambil menangis Bawang Putih Berkata! Bawang Putih : Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Ibu tiriku, berikanlah kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Ya Allah bukakanlah pintu hati Ibu tiriku dan saudara tiriku agar dia mau menyayangiku. (sambil menangis) Pengawal I : Maaf tuan, e… lihat disana tuan, sepertinya ada seorang wanita. (sambil menunjuk). Pengawal II : Ya benar tuan, sepertinya lagi mencuci pakaian tuan! (dengan penuh semangat). Pangeran : Iya, betul-betul, tapi… sama siapa ya dia? Apa dia sendirian pengawal? (dengan penuh keheranan dan melihat kearah wanita itu, sambil berfikir) pengawal coba kalian lihat kesana…! (sambil menunjuk). Pengawal I & II : Baik tuan…! (sambil mengangguk). Pengawal I : Tuan, ternyata perempuan itu sendirian…! Pengawal II : Perempuan itu cantik tuan dan kelihatannya orang baik-baik! Pangeran : (Sambil mengangguk-ngangguk) Mari pengawal kita kesana…! (sambil menunjuk). Pengawal I & II : Baik tuan…! Pangeran : E… e… nona! (dengan gugup dan malu). Kalau boleh saya tahu nama nona siapa? Dan nona berasal dari mana? Dan kenapa pula sendirian di sungai yang sangat sepi ini…? Bawang Putih : Maaf… tuan…! (sambil menjinjing rok dan mau berlari pergi). Pangeran : Jangan… jangan… nona, jangan lari, saya bermaksud baik, saya lihat nona sendirian, jadi saya memberanikan diri menghampiri nona! (dengan senyuman). Bawang Putih : Nama saya Bawang Putih tuan, saya berasal dari desa seberang, e… tapi maaf tuan, saya tidak bisa berlama-lama disini, saya takut dimarahi Ibu saya tuan…! Pangeran : Tunggu… tunggu…! tunggu nona…! (sambil berteriak) mari pengawal kita ikuti Bawang putih itu, dimana sebenarnya rumahnya! Kemudian berangkatlah Pangeran dan 2 pengawalnya untuk menuju rumah Bawang Putih, Pangeran merasa dialah wanita yang selalu diidam-idamkan, kemudian si Pangeran bergegas pergi ke rumah si Bawang Putih. Ibu Bawang Merah : Anakku coba lihat disana, siapa itu yang datang? (dengan penuh keheranan). Bawang Merah : Iya bu, sepertinya yang datang Pangeran. Aduh betapa gagahnya dan gangteng Pangeran itu. (dengan senyuman). Ibu Bawang Merah : Tenang sayang, Ibu tahu kedatangan Pangeran itu ingin mencari permaisuri. (sambil memegang pundaknya). Bawang Merah : Benarkah itu bu? Tolong saya bu, saya mau menjadi permaisuri Pangeran itu bu. (berloncat kegirangan). Pangeran : Permisi…, permisi…! Ibu Bawang Merah : Tuan…! (dengan terkejut) E… ada apa gerangan tuan datang kegubuk kami ini, apa tuan mau mempersunting anak kami, yang cantik dan manis ini tuan? (sambil memegang dagu Bawang Merah). Pangeran : Tidak…! (dengan lantang) Saya kesini hanya untuk melamar anak ibu si Bawang Putih untuk menjadi permaisuriku. (dengan penuh senyuman). Bawang Merah : Kenapa sih Pangeran lebih suka Bawang Putih dari pada saya, padahal Pangeran Bawang Putih orangnya licik sekali dan suka mempermainkan lelaki, tidak seperti saya yang baik, patuh dan setia. (sambil senyum gembira). Lagian Pangeran Bawang Putih itu orangnya jelek tidak seperti saya cantik, manis, dan menarik, ia kan Pangeran? Pangeran : E… iya-ya betul, kamu juga cantik, manis dan menarik nona, tapi sayang hati saya sudah terpikat sama si Bawang Putih, saya mohon tolong panggilkan Bawang Putih segera…! Bawang Merah : Huuuh…! Bawang Putih, Bawang Putih lagi, emangnya nggak ada orang lain selain Bawang Putih, huuuh… sebel…!! (sambil menghentakkan kaki). Putih…! Puith…!! Bawang Putih : Iya, mbak…!!! Bawang Merah : Kesini kamu lihat ini ada Pangeran mau mempersunting kamu menjadi istrinya. (dengan mimik yang sinis penuh kebencian). Pangeran : Bawang Putih, maukah kamu menjadi permaisuriku? (memberikan senyuman). Bawang Putih : (Merunduk penuh senyuman dan malu-malu, berarti dia mau). Ibu Bawang Merah : Maaf tuan, itu berarti tandanya Bawang Putih setuju menjadi permaisuri tuan! Pangeran : Mari kesini Bawang Putih, ikutlah kamu keistanamu kamu akan aku persunting menjadi permaisuriku! (mengulurkan tangan dan menggandeng Bawang Putih pergi). Bawang Putih : Ibu…! (menghampiri Ibu dan memeluknya). Bawang Merah…! (menghampiri Bawang Merah dan memeluknya). Pangeran : Baiklah bu, saya akan membawa Bawang Putih ke istanaku dan akan aku jadikan permaisuriku. (dengan senang hati). Kalau begitu kami berangkat dulu bu, permisi…! (berjalan keluar rumah). Ibu Bawang Merah : Ya tuan…! Maka berangkatlah Pangeran dan Bawang Putih beserta pengawalnya untuk menuju istana kerajaan dan dijadikanlah Bawang Putih sebagai permaisuri, samapai akhirnya Pangeran dan Bawang Putih bahagia selamanya “Kejahatan tidak bisa mengalahkan kebaikan, dan manusia memang mahluk paling sempurna di muka bumi, namun karna kesempurnaan itu kadang mereka lalai pada apa yang membuat mereka menjadi sempurna”. SELESAI
KELAS 4D
TAK TERGANTIKAN Oleh: Novi Mega Desriana (2009 112 132)
Tokoh-tokoh • Daus • Abi • Novi • Ari • Diki • Tio, dan • Anton.
Di sebuah asrama daerah di Palembang, kamar A3 terdengar perbincangan diselai canda-tawa. Tio : eh… tau gak sekarang tanggal berapa? Anton : ada apa loe tanya-tanya tanggal mang ada yang penting kah…? Tio : he…(3x) gak ada apa-apa sih cuma uang jajan gue dah nipis, nyaris ludes.
Nyahut Abi… Abi : sekarang tanggal 21 april yo… makanya jadi orang itu jangan boros! Terus kalo udah gini kamu pasti mau pinjam uang lagi yah sama aku…??? Tio : he… he… he… kok tau! Ari : yah… giman gak tau, wong itu udah jadi tradisi kamu kalo kiriman uangnya abis pinjam ke Abi… Tio : yah kan gak papa gue ganti entar kalo udah dikirim uang. Lagian Abi uang jajannya banyak.
Lalu Anton yang tadinya tidur, bangun ikutan menyahut… Anton : yah kalo Abi itu jan anaknya juragan bawang jadi santai aja kan bi… tinggal minta aja ma bokap loe tuh. Abi : yah makasi ocehannya…
Dan beberapa hari kemudian disekolah… Bruk….(Daus tidak sengaja menabrak seorang gadis, yang ternyata gadis itu adalah Novi). Novi : eh kamu itu kalo jalan liat-liat napa sih… gak punya mata yah.
Dan si Daus hanya bengong melihat Novi lagi marah-marah pada dirinya… Novi : hei kak… kok jadi bengong sih. Mang ada yang kucu kah?? Daus : O o o, sorry yah aku gak sengaja. Soalnya aku tadi terburu-buru ke toilet. Maaf yah… maaf. Novi : makanya kalo jalan liat-liat napa jangan ngelamun terus ntar kesambet setan lo…kak. Ya sudah saya maafkan! Daus : eh BTW kamu itu anak mana sih… kok aku baru sekarang liat kamu disekolah? Novi : oh… aku anak baru kak disini pindahan dari SMANSA Bangka. Daus : oh kamu anak baru yah disini, kenalin aku Daus anak kls XII bahasa, kamu masuk kls mana? Novi : aku masuk dikls X Ips. Kak maaf yah tadi marah-marah, abis kakak sih pake acara nabrak-nabrak segala. Sorry yah kak Daus : yah gak papa. Oh ya… nama kamu siapa? Novi : nama aku Dinda kak. Daus : nama yang cantik, sama dengan orangnya cantik juga… Novi : yeah… kalo buat orang GR kakak pinter… Biasa aja dah kak, gak usah berlebihan. Daus : kalo emang kenyataannya cantik gimana? Novi : aduh… kok jadi panjang gombalnya kak cukup yah soalnya Novi mau masuk kelas, gak enak kalo diliat anak-anak yang lain. Daus : ya udah… GOOD LUCK yah! Novi : Assalamualaikum Daus : Walaikumsalam
Dan mereka masuk kedalam kelas masing-masing hingga bel pulang berdering menandakan KBM telah selesai. Daus : (tersenyum sendiri dalam kamarnya) Didalam hati restu mengatakan “seandainya aku bisa punya pacar seperti Novi, alangkah indahnya dunia ini”. Dibalik semua itu ternyata ada dua pasang mata yang sedang mengintip. Diki :eh… si Daus kenapa yah dari kemarin-kemarinnya dia jarang makan, hanya tersenyum sendiri dan ngelamun??? Ari : mungkin dia kerasukan jin kali atau belajar acting teater??? Diki : hah… zaman sekarang masuh percaya begituan, gak lah. Mungkin dia lagi jatuh cinta kali’. Masak sih orang teater bias jatuh cinta??? Ari :iya lah kan orang teater juga manusia. Biar gak penasaran kita tanyakan yukk… Diki : Duarrrr… ayo kenapa ini kok melamun sendirian sambil senyum-senyum?? Daus : ah kamu ini ngaget-ngagetin aku aja, gak ada apa-apa kok. Ari : masak sih… Daus : iya… gak ada apa-apa. Diki : tapi kenapa kamu senyum-senyum sendiri?? Lagi jatuh cinta yaa.. Daus : kami ini kalo disuruh neliti orang pintar sekali, Kalo emang iya kenapa ayoo…?? Ari : ya gak apa-apa, tapi raja teater sekolah kita ini jatuh cinta sama siapa ya dik? Diki : sama siapa ya…??? Daus : eh,,, kok jadi wawancara nih. Ari : Daus cerita kenapa sih sama kami, barang kali kami bisa Bantu kamu. Daus : tapi janji ya jangan gosipin aku, soalnya aku paling anti sama gossip apalagi kalo sampai kedengaran Mimi si ratu gossip sekolah kita itu. Diki : yah! Kita janji gak kan gosipin kamu disekolah, emang cewe yang kamu cintai itu siapa sih?? Daus : dia itu anak baru sekolah kita itu loh, si Novi. Ari : ooo… anak pindahan. Daus : yah.. betul. Tapi aku malu gimana ngungkapin perasaan ini?? Diki : malu… masak sih anak teater yang sudah jadi juara nasional ini malu. Emang kamu bias malu juga yah.. (diki dan ari tertawa..) Daus : yah dipanggung itu gampang pren tapi kalo masal hati ke hati itu buat aku sangat berat rasanya. Berat bangettt… Ari : ya sudah aku doain aja yah semoga sukses.
Dan ketika malam hari didalam kamar terdapat 7 anak, ada yang lagi copy paste tugas pr temannya, juga ada yang lagi baca komik… Diki : hei teman-teman smua pada tau gak neh ada berita baru Abi : berita baru apa? Ari : si-raja teater sekolah kita lagi jatuh cinta tuh… Anton : wah ama siapa tuh…? Diki : denger-denger sih… ama anak baru. Abi : anak baru, siapa? Ari : Novi itu loh… Abi : apa!!! Novi???(wajah abi berubah jadi marah) Abi : eh… kamu itu gak tau terima kasih yah… udah aku baik-baikin jadi temen eh malah ngelunjak, mau ngambil orang yang aku sukai! Daus : lho emang kamu apanya, kok jadi sewot gitu??? Abi : emang aku bukan siapa-siapanya tapi aku lebih dulu PDKT ama tuh anak… Enak aja kamu ini… Daus : terus kamu mau apa??? Mau carrok yah…(dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajah Abi) Tanpa banyak bicara si Abi telah menerkam pipi Daus dan begitupun sebaliknya, tapi perkelahian itu dapat dihentikan oleh teman-temannya dengan dipisahkan. Anton : lho kok jadi gini, bertengkar gara-gara perempuan. Smua jadi gelap mata! Gila apa… perempuan itu banyak jangan jadi orang bodoh dengan bertengkar. Kalian in sudah kelas XII seharusnya bias belajar dewasa. Ya sudah ayo berdamai. Dan lupakanlah perempuan itu, sekarang yang harus kalian lakukan adalah belajar… Agar kalian lulus ujian nantinya. Daus dan Abi akhirnya berdamau dan bersahabat kembali.
SALAH PAHAM Oleh: Iin Nispatika (2009 112 157)
SINOPSIS
Cerita ini mengisahkan kehidupan sehari-hari anak-anak sekolah di sebuah Sekolah Menengah Atas yang dikenal sebagai SMA Suka Nuduh Prabumulih dengan berbagai tungkah laku dan sikap. Siswa-siswi di sekolah ini ada yang lugu serta bodoh, ada juga yang kerjanya hanya syirik dan suka mengurusi pekerjaan temannya saja. Ada juga seorang wali murid yang bodoh serta kepala sekolah yang mudah dipengaruhi siswa-siswi yang kerjanya Cuma syirik sama temannya sendiri. Tetapi dibalik semua itu terdapat siswi yang mengalami perselisihan dengan temannyaadalah Izun dan Idunyang berselisih dengan Melati dan Mawar. Dua bersaudara (Izun dan Indun) dituduh oleh temannya (Melati dan Mawar) menghisab sabu-sabu, padahal mereka hanya mengkonsumsi susu bubuk yang mereka bawa dari rumah karena ibunya tidak masak air panas yang disebabkan oleh tidak ada minyak tanah yang sebagai bahan kompor di rumah mereka. Karena kejadian itu dua bersaudara tersebut mendapat masalah, sehingga orang tuanya dipanggil oleh kepala sekolah mereka. Setelah masalah sabu-sabu ini, Mawar dan Melati pun telah berdamai dengan Izun dan Indun. Selesai masalah, Izun pun dituduh oleh cece shesil bahwa ia sudah berhutang dengan cece shesil sebanyaknRp. 100.000,- tetapi ternyata bukan Izun yang berhutang dengan cece shesil melainkan Izun tetangganyaIzun. Akhirnya cece shesil pun menyadari kalau dirinya itu telah menyadari bahwa dirinya itu telah salah orang dan ia pun meminta maaf. Dan akhirnya kesalah pahaman itu pun berakhir dan Izun, Indun serta ibunya pun pulang dengan perasaan yang lega karena semua kesalah pahaman yang terjadi talah selesai.
PROFIL TOKOH Ibu Mirna : Seorang ibu yang menyayngi anaknya yang lugu tetapi bodoh serta mudah percaya dengan pembicaraan orang lain. (Protagonis) Izun : Saudara kembarnya indun yang lucu, lugu, dan bodoh (protagonis) Indun : Saudara kembarnya izun pintar lucu, dan lugu. (protagonis) Mawar : Teman sekelasnya izun dan indun, seorang gadis yang kerjaanya hanya mengurusi kerjaan temannya saja dan berteman akrab dengan melati (antagonis) Melati : Seorang gadis yang kerjaanya hanya mengurusi pekerjaan temannya saja, sama saja dengan mawar dan berteman akrab dengan mawar (antagonis) Cece Shesil : Seorang penagih hutang yang salah paham terhadap izun, seorang wanita kira-kira 25 tahun yang suka asal tuduh. Kepala sekolah : Seorang KEPSEK yang mudah percaya akan perkataan muridnya. (Ibu Barda) Di pagi hari yang begitu cerah, terdengarlah suara ribut-ribut di kediaman ibu Mirna yang sederhana. Cerita ini diawali dari dialog antara ibu Mirna dan kedua anaknya Izun dan Indun..
Ibu Mirna : Nak.... nak... nak....., coba kalian berdua ke sini sebentar, ibu hari ini tidak masak air. Jadi, hari ini kalian berdua tidak bisa minum susu hari. (dengan suara bernada agak keras) Indun dan Izun : Aahhh.... ibu ni......!!! kami tidak bisa kalau tidak minum susu. (kesal dan merasa kecewa) Ibu Mirna : Mau bagaimana lagi nak, kalian itu sudah mau berangkat, nanti terlambat kalau mau menunggu ibu masak air dulu. Lagian minyak tanah kita sudah habis karena minyak tanah sekarang ini sudah mahal. (sambil memegang jerigen minyak lampu) Izun : Aiii ibu.... saya sudah bodoh seperti ini, tidak minum susu pula, bagaiman saya bisa pintar. (sambil memasang wajah cemberut) Ibu Mirna : (Dengan nada tinggi) memangnya susu bisa membuat kamu jadi pinter....???, kalau kamu tidak belajar percuma saja tidak akan bisa jadi pintar. Sudahlah.... ibu mau mencuci pakaian dulu,uang jajan yang kemarin masih ada kan? (sambil pergi meninggalkan kedua anaknya). Indun : aii.... sudahlah kak, ibu yang seperti itu tidak bisa diharapkan. Izun : Eh... dik, bagaimana kalau kita ke sekolah membawa susu bubuk saja(sambil menunjuk ke arah susu bubuk yang terletak itu), terus kita masukan ke dalam plastik, oke..!!! ayo.... let’s go..... Indun : Iya.. kak ya... kadang-kadang kakak ini pintar juga ya..., kak ambil plastik itu sama sendok!!! Sambil menunjuk ke arah plastik dan sendok) saya yang buka bungkus susunya. Cepat sebelum ibu ke sini, kak sendoknya yang besar jadi cepat ngambil susunya (dengan suara yang agak keras). Izun : Ya...awww... dik sini bantui kakak, kakak tidak terangkat (sambil mengangkat skop pasir). Indun : Alangka bodoh kakka ini.. itu tuuntuk sendok pasir, sendok yang itu aja na...!!.(sambil menunjuk ke arah sendok). Gruntang.......... (bunyi sekop yang dilepas oleh Izun)
Ibu Mirna : Suara apa itu jatuh..?? (sambil kebingungan) Indun dan Izun : Meong...., meong..... Ibu Mirna : Ohhh,,,, hanya suara kucing. Indun : Ayo kak cepat kita pergi..!! (sambil mengajak kakaknya)
Setelah itu Indun dan Izun pun bergegas pergi ke sekolah mereka yaitu SMA Suka Nunduh. Sesampainy di sekolah Izun dan Indun merasa aman, karena ibunya tidak tahu kalau susu yamg hari itu ia belidibawa ke sekolah. Tiba jam istirahatb Izun dan Indun berniat untuk memakan susu yang mereka bawa dari rumah tadi.
Teng.... teng... teng......(suara bell istirahat)
Izun : Ayo dik, kita makan susu!! (sambil mengajak adiknya) Indun : Ayo kak, tapi makannya di sini saja ya..malu sama teman-teman yang lain.
Mereka pun segera memakan susu yang mereka bawa dari rumah tadi tetapi karena susu tersebut tidak dicampur dengan air jadi mereka memakannya dengan cara dihisab sehingga membuat mawar dan melati yang sedang lewat di depan kelas mereka curiga terhadap kedua anak kembar itu. Melati : Laaa...laaa...laa.. ups..ap ya yang mereka lakukan? (sambil mengintip dengan rasa penasaran). Mawar : oh baby.. baby.. woi ti, apa yang lagi kamu lihat? Melati : Nah.. kebenaran, sini maw.. eh.. maksudnya war, cuba kamu lihat apa yang lagi mereka kerjakan (sambil menunjuk ke arah Izun dan Indun). Mawar : Ih, mungkin menghisab sabu-sabu, kalau seperti ini tidak boleh kita biarkan. Bagaimana kalau kita kasih tahu sama bu Barda saja yuk..(sambilmengajak melati). Melati : ok, siapa takut! Ayo kita ke kantor kepala sekolah. (sambil menarik tangan Melati).
Sesampainya di kantor kepala sekolah.
Tok.. tok.. tok... (suara pintu yang diketuk oleh Mawar)
Mawar dan Melati : Assalamu’alaikum, permisi bu.. Ibu Barda : Walaikum salam, ya.. silahkan masuk nak,, ada apa ya... ada yang bisa ibu bantu..?? Mawar : Begini bu, kami melihat Izun dan Indun sedang menghisab sabu-sabu di kelas bu..(mencoba untuk meyakinkan ibu Barda). Melati : Benar bu, saya juga melihatnya. Ibu Barda : Alah.. ya ngak mungkin mereka menghisap sabu-sabu di kelas, mereka kan anak-anak yang lugu (mencoba untuk menyangkal) Melati : Bu, mereka itu hanya pura-pura saja lugu didepan kita tapi nyatanya seperti ini bu. (menjelaskan) Ibu Barda : Ya sudah, ibu percaya dengan kalian... tunggu ya nak, ibu akan membuat surat untuk orang tua mereka, tolong kalian yang memberikannya. Melati dan Mawar : beres bu. Ibu Barda : ini suratnya. (sambil memberikan surat kepada melati). Sekarang mereka lagi dimana..?? Melati : Mungkin masih di kelas bu, mari bu kalau ibu mau melihatnya sendiri (sambil mengajak ibu Barda ke kelas). Ibu Barsda : Ayo, ibu juga masih penasaran..!!(sambil mengikuti Melati dan Mawar).
Mereka pun segera mengajak ibu Barda menuju ke Kelas. Setibanya di kelas ternyata Izun dan Indun masih menghisap susu bubuk yang mereka bawa dari rumah tadi, dan bu Barda teerkejut dengan apa yang mereka lakukan.
Mawar : itu bu mereka (sambil menunjuk ke arah Izun dan Indun). Ibu Barda : oh ternyat benar apa yang kalian katakan, kalau begitu cepat kalian berikan surat ini kepada orang tua mereka.
Mawar dan Melati pun langsung menuju ke rumah Izun dan Indun. Sesampainya di rumah Izun dan Indun.
Tok..tok..tok... (suara pintu yang diketuk melati)
Mawar dan Melati : Assalamu’alaiku, permisi bu. Ibu Mirna : Walaikum salam, ada apa nak...?? pagi-pagi ke rumah Izun?? (dengan wajah yang bingung). Melati : Ini bu, ada letter dari kepala sekolah. (smbil memberikan surat kepada ibu marni). Ibu Mirna : Ai, ada apa lagi kalian berdua ini, leter..leter.... apa leter minyak tanah, kalau saya ini tidak menjual minyak tanah, di rumah saya saja tidak ada minyak tanah. Mawar : ihh ibu ni katrok sekali, masa’ latter saja tidak tahu. Sini bu saya kasih tau kalau letter itu surat bu, belajar tidak ibu belajar bahasa Inggris..?? Ibu Mirna : Oh jadi letter itu surat, bilang nak dari tadi. Jangan berbahasa-bahasa seperti ini. Jadi, dari siapa surat ini?? Melati : Aduh ibu ini, tidak hany katrok saja tapi budek juga, tadi kan sudah saya bilang kalau surat ini dari kepala sekolah. Ibu Mirna : Surat untuk apa? Melati : Surat ini untuk Izun dan Indun yang ketahuan menghisap sabu-sabu dalam kelas ( mencoba untuk menjelaskan). Ibu Mirna : Ya allah titak mungkin anak saya menghisap sabu-sabu, dapat dari mana ia uang sedangkan tadi pagi saja tidak saya beri uang. Mawar : Nah, bu. Tidak saya urusi mereka dapat uang dari mana, yang penting kata kepala sekolah tadi ibu besok di suruh datang ke sekolah. Ibu Mirna : Ya sudahlah kalu begitu, besok ibu akan datang ke sekolah kalian.(dengan rasa terpaksa) Melati : Ya sudah bu, kalau begitu kamib permisi dulu. assalamu’alaikum. (Mawar dan Melati pun meninggalkan rumah ibu Marni) Ibu Mirna : Wa’alaikum salam.
Setelah Melati dan Mawar meninggalkan rumah mereka pun langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Di lain tempatnya, tepatnya di SMA Suka Nuduh terdengarlah bell pulang sekolah dan semua siswa pun pulang tak terkecuali Izundan Indun pun langsung pulang ke rumah mereka. Sesampainya di rumah.... Tok...tok..tok...(suara pintu yang di ketuk oleh Izun)
Izun dan Indun : Assalamu’alaikum.. Ibu Mirna : Walaikum salam, coba nak kalian berdua itu ke sini dulu. Izun : Mau apa bu? Kami ini baru pulang. Ibu Mirna : Kalian ini menyusahkan ibu saja, dari mana kalian dapat untuk menghisap-hisap itu? (dengan nada yang tinggi). Indun : Apa lagi yang ibu bicarakan ini, menghisap-hisap apa kami tidak mengerti. Ibu Mirna : Kalian jangan pura-pura tidak tahu,tadi teman kalian berdua datang ke rumah memberikan surat ini dari kepala sekolah. Katanya kalian berdua ketahuan menghisap sabu-sabu di kelas. (dengan nada tinggi, ibu sambil munjuk ke arah Izun dan Indun) Izun dan Indun : Tidak ah bu,(dengan wajah kebingungan). Ibu Mirna :Benar ap tidak? (emosinya agak meredah) Izun : Bu, kami tadi pagi mencuri susu bubuk ibu di belakang, terus kami memakannya di sekolah tapi secara diam-diam karena malu bu, masa’ tidak pakai air (mencoba untuk menjelaskan). Ibu Mirna : Oh seperti itu ceritanya. Keesokan harinya ibu Mirna pergi ke SMA Suka Nuduh dengan kedua anaknya, sesampainya di sekolah. Tok...tok..tok... (suara pintu yang di ketuk ibu Mirna) Ibu Mirna : Assalamu’alaikum, saya orang tua dari Izun dan Indun. Ada apa bu saya dipanggil ke sini? Ibu Barda : Walaikum salam, jadi begini bu kemarin saya mendapatkan informasi dari anak-anak murid saya bahwa anak ibu menghisap sabu-sabu di kelas. Ibu Mirna : Bu, kalau menurut penjelasan anak saya, mereka tidak menghisap sabu-sabu tetapi mereka menghisap susu bubuk yang mereka dari rumah.
Diluar kantorkepala sekolah dan dua anak yang sedang berjalan-jalan sambil bercerita dan pada saat itu ibu Barda langsung memanggil mereka. Ibu Barda : Nah kebetulan, nak ke sini nak. Tolong panggilkan Indun dan Izun, kan kalian juga yang melaporkan mereka menghisap sabu-sabu di kelas. Mawar dan Melati : Baik bu.
Mawar dan Melati pun segera menuju ke kelas untuk memanggil Izun dan Indun. Sesampainya di ruang kepala sekolah.. Izun dan Indun : Permisi bu,, Ibu Barda : Ya, silahkan masuk. Ibu Mirna : Nah ini anaknya, sekarang coba kalian jelaskan dengan kepala sekolah kalian. Izun : Bu, kemarin itu kami tidak menghisap sabu-sabu, tapi makan susu bubuk. Indun : iya bu benar apa yang dibicarakan oleh kakak saya ini, memang Melati dan Mawar saja yang bisa menjaga mulut, tidak bisa melihat orang senang sedikit. Ibu Barda : oh jadi seperti itu cerita yang sebenarnya, sekarangb semuanya sudah jelas dan saya ingin minta maaf kepada ibu Mirna, Izun dan Indun karena sudah berprasangka buruk terhadap kalian. Izun dan Indun : ia bu. Ibu Barda : Dan kalian, melati, mawar cepat minta maaf kepada Izun dan Indun. Mawar dan Melati : I...i ...i... iya bu, Mawar : Maafin saya ya zun, dun. Melati : Iya dun, zun maafin saya juga ya. Izun dan Indun : Iya sama-sama
Dan semua pun berdamai... Ibu Mirna : Ya sudah kalau seperti itu saya dan anak-anak saya permisi dulu bu. Bu Barda : Oh silahkan bu.
Setelah itu ibu Mirna dan kedua anaknya segera pulang, sesampainya dirumah ada seorang perempuan yang telah lama menunggu dirumah. Cece Shesil : Nah, akhirna datang juga orang rumah ini, kebetulan juga ada ibunya. Ibu Mirna : Ah, mau apa lagi kamu ini pura-pura kenal sama saya. Cece Shesil : Sabar bu, jangan marah-marah dulu. Saya kesini Cuma ingin menagih hutang sama anak ibu yang satu ini. (sambil menunjuk kearah Izun). Ibu mirna : Astagfirullah... apa lagimasalah anaknsaya ini baru saja selesai masalah yang tadi, sudah ada masalah yang baru. Izun, benarkah kamu punya hutang sama bibi ini? Izun : Tidak bu, hutang apaan bi? Perasaan saya tidak pernah berhutang sama bibi. Cece shesil : Hai dik, jangan pakai perasaan sekarang ini pakai kenyataan,ini lihat catatannya! Izun : Hei bi, ini bukan nama saya, lihat dulu bik ini isun bukan izun. Nah kalau saya ini izun bu. Cece shesil : Tadi kata tetangga disini rumah. Izun : Nah, kalau masalah itu maafkan saja soalnya orang kita susah membedakan “z” dan “s”, jadi harap maklum saja. Cece shesil : Tidak, perasaan saya orangnya seperti kamu ini lah, kecil-kecilnya, keriting-keritingnya tidak salah lagi. Izun : Bi, seperti kata bibi tadi jangan pakai perasaan, pakai saja kenyataan, biar seperti ini saya imut. Kalau isun tetangga sebelah ini memang suka berhutang, ia memang mirip dengan saya tapi ia tidak imut seperti saya. Cece shesil : Ooohh ya sudah kalau seperti itu maafkan saja ya, soalnya saya tidak terlalu jelas melihat dia. Izun : Iya, sama-sama. Cece shesil : Ya maafin saya. Ini ada sedikit uang untuk kamu sebagai rasa bersalah saya. Ibu Mirna : (Sambil merampas uang)sini saya saja yang memegang uangnya. Kamum belum pantas menerimanya, lagian ibu mau membeli minyak tanah. Indun : (dalam hati) ibu ini mata duitan. Kita masuk saja kak, saya sudah lapar. Cece Shesil : Kalau seperti itu saya permisi dulu ya bu, saya ingin menagih isun. Ibu Mirna : Ya sudah hati-hati saja.
Akhirnya semua masalah dan kesalah pahaman yang dihadapi ibu Mirna dan kedua anaknya selesai dan akhirnya mereka menjadi lega, serta kehidupan mereka pun menjadi bahagia.
PENGKHIANAT Oleh: Sri Mujiarti (2009 112 126) Disebuah rumah mewah. Pada suatu pagi Monica terkejut ketika membuka brangkas tempat ia menyimpan perhiasan. Benda berharga itu sekarang sudah tidak ada lagi, padahal besok ia harus mengunjungi pesta pernikahan temannya yang terbilang mewah. Seperti biasa ia harus mengenakan perhiasan emas itu. Tanpa banyak buang waktu, Monica langsung melaporkan kejadian itu kepada ibundanya Nyonya Farida. Pada saat itu nyonya Farida sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Monica : “Mama… perhiasan aku hilang !” Nyonya Farida : “Dimana kamu menyimpan perhiasan itu?” Monica : “Aku menyimpannya di brangkas dalam kamar ma.” Nyonya Farida : “(berteriak memanggil bibi). Bi…bibi .. . !” Bibi datang dengan perasaan takut memberi hormat kepada majikannya Nyonya Farida. Bi Ina : “Ya nyonya.” Nyonya Farida : “Bi, apakah kamu tadi amalam melihat ada orang yang masuk ke rumah ini?” Bi Ina : “ Tidak nyonya.” Nyonya Farida : “Lalu, siapa yang mengambilnya?” (Diam sejenak, kemudian menoleh kearah bi Ina). “ Bi, tolong panggilkan pak Udin dan Pak Kadir). Pak Udin adalah seorang supir yang dipercaya dalam keluarga itu, sedangkan Pak Kadir adalah penjaga rumah baru di dalam keluarga itu. Beberapa menit kemudian Pak Udin dan Pak Kadir datang. Pak Udin dan Pak Kadir: (bersama-sama bicara). “Ada apa nyonya?” Nyonya Farida : “Apakah diantara kalian ada yang melihat orang yang masuk atau mencurigakan di rumah ini?” Pak Kadir : “Tidak nyonya.” Nyonya Farida : “ ya sudah, kalau diantara kalian tidak ada yang mengetahui, silahkan kembali bekerja. Dan kamu Pak Udin saya ingin bicara kepadamu.” Pak Udin : “Ada apa nyonya?” Nyonya Farida : “ Pak saya sangat mempercayai kamu, saya perintahkan kamu untuk menyelidiki siapa yang mengambil perhiasan itu.” Pak Udin : (memberi hormat)“ Baik nyonya.” Pak Udin mulai melaksanakan tugasnya. Ia menanyai beberapa orang disekitar rumah itu yang mungkin mengetahui kejadian tersebut, termasuk tukang kebun yang juga bekerja di rumah itu. Pak Udin : ( sedikit gembira). “jadi kau mengetahui ada orang yang masuk kekamar Nona Monica?” Tukang Kebun : “ Ya, aku melihat ada seorang yang masuk ke dalam kamar nona Monica, tapi saya tidak mengetahui pasti ciri-cii orangnya. Karena pada saat itu ada seorang dari belakang yang membius saya, sehingga saya jatuh pingsan. Sebelum kejadian itu saya melihat ada seorang pria yang berbicara akrab dengan Pak Kadir didepan pintung gerbang, keliatannya sangat mencurigakan. Pak Udin : “ehm, ya sudah kita jangan berburuk sangka dulu, lebih baik kita selidiki terlebih dahulu benar atau tidaknya. Apakah kamu ingat ciri-ciri orang yang mencurigakan itu?” Tukang kebun : “ Ya, saya ingat pak. Orang tersebut berkulit hitam, tinggi, dan berkumis tebal.” Tiba-tiba selangbeberapa jam kemudian ada seseorang yang sangat mencurigakan sedang mengawasi mwah milik Nyonya Farida itu sambil membawa sesuatu. Dan secara kebetulan tukang kebun melihat orang itu, dan melaporkannya kepada pak Udin. Tukang Kebun : (dengan nafas terengah-engah). “Itu pak di depan ada orang yang mencurigakan yang mirip dengan yang saya lihat kemarin.” Pak Udin : “ Ah, yang benar kamu?”. Dimana kamu lihat?”. Tukang Kebun : “ Di depan gerbang, seperti dia sedang menunggu orang.”
Tanpa piker panjang lagi mereka bergegas ke depan pintu gerbang rumah. Dan trnyata mereka melihat pak Kadir sedang asyik ngobrol dengan orang tersebut. Pak Udin : “ Pak Kadir sedang bicara dengan siapa pak?”. Pak Kadir : “ Ini ada orang yang yang cari alamat rumah.”
Tiba-tiba nyonya Farida bersama anaknya Monica dengan mengendarai mobil mewahnya. Nyonya Farida : (bergegas turun dari mobil). “ hey, sedang apa kalian disini?. Bukannya bekerja malah asyik ngobrol. (menatap Pak Kadir). Ini siapa pak?”. Pak Kadir : “ ini orang mau cari alamat nyonya.” Monica yang masih berada di dalam mobil langsung turun dari mobil. Monica : “ kenapa ma ribut-ribut disini, malu kan dilihat orang?”. (menatap sinis orang asing itu). Ini siapa?”. Pak Kadir : “ ini orang mau cari alamat non.” Monica : (Melihat ke tangan orang asing itu). Ma, itukan plastik yang ada di dalam kotak perhiasan aku ma. Kamu pencurinya ya?”. Orang asing : “tdak saya tidak mencuri. Sumpah!” Monica : (sambil marah-marah). Ini jelas punya saya. Pencuri mana ada yang mau ngaku,penjara penuh.” Pak Kadir kenal sama orang ini?” Pak Kadir : “ tidak non, saya tidak kenal, sumpah!” Nyonya Farida : “ Sudah, lebih baik kamu ikut saya ke kantor polisi biar lebih jelas.” Orang asing : (sambil menunduk malu) jangan nyonya, saya hanya disuruh. Nyonya Farida : “ siapa yang menyuruh kamu?” Orang asing : (menunduk dengan muka memelas). Dia … (menunjuk ke arah pak Kadir) Nyonya Farida : “ sudah, kalian berdua saya bawa ke kantor polisi. Akhirnya Pak Kadir dan orang asing itu di bawak ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan keduanya ditetapka polisi menjadi terjangka.
PENDEKAR HATI Oleh: Ricca Febriyanti (2009 112 121) Profil Tokoh: Ira: emosional, angkuh, dan memiliki rasa penyesalan. Karen: baik, sabar, mudah terpengaruh, dan memiliki rasa penyesalan. Yandri: ambisius, emosional, sombong, dan memiliki rasa penyesalan. Kakek Dolah: pemarah, keras kepala, dan ingin menang sendiri. Nenek Dolah: patuh kepada suami, sabar, dan ikhlas.
Sore itu kembali suara bentakan menggelegar di sepanjang gang sempit ini, kakek Dolah rupanya sudah mulai sembuh dari sakitnya selama beberapa hari. Mudah sekali menandainya…..suaranya yang keras dan dahsyat kerap terdengar sampai ujung gang, tandanya si kakek sudah kembali sehat sedia kala. Apalagi tempat kost kami yang hanya dibatasi tembok tipis, dengan pagar tembok pendek yang membatasi rumah si kakek dan rumah kost kami. Tentunya suara sekeras itu akan mudah tertelan telinga. Siapa yang terkena sasaran bentakan sekarang, siapa lagi kalau bukan nenek Dolah yang sabar. Sungguh istri yang ikhlas dan patuh pada suami aneh seperti kakek Dolah. Pada sore itu…..
Ira : celaka…!!! Bakalan gak bisa belajar padahal sebentar lagi ujian semester… aduh gawat nih… (buku yang dipegangnya terjatuh) Karen yang terbengong-bengong disebelah ira, agak terkejut juga mendengar kakek Dolah..!!! Ira : maklumlah ren..!!! memang kamu baru tiga hari tinggal di sini. Karen : aku gak tahu kalau disini ada orang yang berteriak-teriak seperti kakek Dolah. Ira : seharusnya dia memang pantas disimpan dipanti atau hutan saja agar tidak menganggu kita. Sementara suara kakek Dolah masih menggelegar turun naik telinga. Karen : apa hak kamu ira…??? Mengatur orang yang sudah tua itu, padahal kan masih ada istrinya yang mengurusinya, lagian… kayaknya cerita-cerita tentang kakek Dolah itu yang terdengar ditelinga sejak aku tinggal disini, memang agak berlebihan deh…!!! Ira yang tadinya diam, kini tiba-tiba terkejut setelah mendengar Karen berkata begitu, dengan tajam ira bicara… Ira : kamu belum tahu ya…! Aku gak akan menerangkan bagaimana kita dibego-begoin oleh si kakek gila itu… padahal kita kan tidak punya salah apa-apa. Setelah bicara begitu, ira pun pergi… tidak hanya Karen dan ira yang mengeluh tentang sikap dan perilaku kakek Dolah tetapi anak-anak dan tetangga yang lain pun mengeluh…. Yandri : kita gak bisa tinggal diam lagi sekarang..!! harus ada yang bicara sama orang tua itu kalau pak RT tidak mau bertindak juga, salah satu dari kita harus ada yang bertindak. Jangan gara-gara kakek tua itu, nilai ujian kita jadi pada ambles…!!! Karen : bisakah kita bersabar sedikit teman-teman..!! mungkin kita bisa bicara lebih sabar, jangan terlalu emosional begitu… Yandri : eh… lho anak baru..!!! jangan sok ngatur kayak begitu sama kami deh lho.. diam aja sana..!! kami sudah lama tinggal disini dibandingkan lho.. Ira : gue kira.. lho anak yang punya otak yan..!! gak salah kalau telinga lho dipakai buat dengerin pendapat gue yan.. Brakk…. Kkk meja teras itu tiba-tiba terguling ditabrak si yandri. Kakek Dolah : dasar brandalan…!!! Ribut-ribut jam segini apa kalian gak punya otak, bisa pada diam kagak…. Dasar kalian pemuda penongkrong kagak ada yang diharapkan dari anak seperti kalian ini… Demikian kerasnya perkataan kakek Dolah kepada anak-anak kost sehingga orang-orang berjalan didepan rumah tersebut berhenti karena mendengar perkataan si kakek Dolah. Ira : lho diam saja.. jangan ngomong apa-apa dan jangan dijawab perkataan kakek itu. Karen : oh…gak bisa ren…!! Ini sudah keterlaluan banget. Gue mesti bicara dengan kakek itu…(sambil membentak) Kakek Dolah : dasar gak pernah diurus orang tua.. gimana cara orang tua kalian ngajarin sopan santun. Ira : hei orang tua jompo..!! kamu Cuma bisanya emosi doank… diajarin kasar sama orang tuamu ya… kita ini anak yang paling sopan yang pernah ketemu orang aneh seperti kamu.. Yandri : benar sekali ra..!! dasar kakek-kakek… bisanya cuma marah-marah saja.. Karen : iya yan.. !! Anak-anak yang lainnya melongok tidak menyangka si Karen anak baru yang tadinya mati-matian membela orang tua aneh itu, kini berbalik menyerangnya. Cuma sayang, mereka belum tahu akibat fatalnya… Ira : aduh Karen, kakek Dolah ini dulunya pendekar, dia masih memelihara ilmu hitamnya hingga sekarang… Kakek Dolah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak… Kakek Dolah : ha…ha…ha… (berteriak sambil mengambil kayu ingin memukul orang-orang disekitarnya). Tidak lama kemudian, kakek Dolah meringis kesakitan sambil memegang dadanya… Kakek Dolah : aduh… aduh… tolong….. Kakek merintih-rintih kesakitan dan tumbang bagai pohon jatuh. Anak-anak itu tampak terpaku beberapa saat sebelum menyadari bahwa si kakek terkena serangan jantung. Segera saja anak-anak itu melesat, Ada yang ke rumah nenek Dolah, lalu ada yang ke wartel menelpon rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, semua menunggu dan akhirnya dokter pun keluar dari UGD… Yandri : bagaimana dokter keadaan kakek sekarang…??? Dokter : sekarang kakek masih belum sadar.. sebaiknya kalian berdoa, mudah-mudahan semuanya baik-baik saja, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Yandri : terima kasih dokter…!!! Penyesalan ketiga anak itu belum bisa dibayarkan oleh mereka. Dengan bergantian anak-anak itu menemani nenek Dolah dirumah sakit. Mereka bergadang dan belajar dirumah sakit. Saat selesai ujian semester… Ira : alhamdulilah… akhirnya ujian semester selesai juga…!! Karen : iya ra..!! semuanya berjalan dengan lancar.. Yandri : benar sekali.. tapi masih ada satu hal yang lebih penting lagi.. Ira : apa itu yan..?? Yandri : tentu saja... kakek Dolah..!! kita harus segera mengunjunginya agar mengetahui keadaan dia saat ini.. Karen : ayo kita ke rumah sakit sekarang juga..!! Ira : iya.. aku lupa..!! ayo kita kesana.. Yandri : baik lah.. Siang hari yang terik itu, anak-anak kost sudah sampai di rumah sakit dan masuk di kamar kakek yang hanya mendapati nenek Dolah yang sedang tertunduk lesu dengan air mata yang meleleh.. anak-anak sudah tahu kalau ini masalah kenangan yang sejak kemarin menjadi beban mereka. Yandri : assalamualaikum nek..!! Nenek Dolah : walaikumsalam nak..!! Ira : kenapa nenek menangis.. ada apa nek..?? Nenek Dolah : anak-anak nenek mau bilang terima kasih sudah bantu nenek merawat kakek. Ada salam serta permohonan maaf dan terima kasih dari kakek untuk anak-anak. Karen : nek..!! sekarang kakek dipindahkan ke kamar mana? Nenek Dolah : kakek ada di kamar jenazah nak.. Mereka tertunduk dan meneteskan air mata.. rumah sakit memang tempat yang paling tidak enak bagi siapa saja yang datang, terlebih lagi pada saat itu bagi anak-anak kost ini.
Tikus – Tikus Nakal Oleh : Anggi Afrino (2009112123)
Suasana di depan sekolah pada suatu siang sepulang sekolah. Terlihat seorang anak sekolah bernama Deri membeli beberapa kantung kacang dari sebuah warung. Ia segera pulang ke rumahnya. Suasana rumah Deri. Deri membuka sepatu dan kaus kakinya. Ia meletakkannya begitu saja di belakang pintu rumahnya. Ia lalu segera pergi ke kamarnya. Ibunya melihat tindakan Deri. Ibu : (marah) “Deri, sepatumu jangan diletakkan sembarangan. Kan, sudah ibu sediakan rak khusus untuk menyimpan sepatu.” Deri : (menyeka keringat di keningnya) “Deri kan capek, Bu. Hari ini rasa nya gerah banget. Lagian, kan ada Bi Surti.” Ibu : “Bi Surti pulang kampung selama tiga hari. Lagian, kenapa kamu menanyakan Bi Surti? Deri : “Biasanya kan Bi Surti yang suka membereskan sepatuku.” Ibu : (kesal) “Untuk hal seperti ini, Ibu rasa kamu bisa me ngerjakannya sendiri.” Deri : (segera mengambil sepatu dan kaus kakinya yang ber serakan) “Aahh… Ibu.” Deri segera masuk ke kamarnya. Suasana berganti menjadi kamar Deri. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur kecil, kipas angin, meja belajar, dan sebuah tempat sampah. Deri merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia melemparkan tasnya ke samping bawah meja belajarnya. Ia belum mengganti baju seragamnya. Lalu, ia menyalakan kipas angin. Deri : (sambil membaca buku yang diambilnya dari meja belajar) “Ahh… begini kan lebih enak….” Deri membuka bungkus kacang yang ia beli tadi. Ia membuka satu per satu dan melemparkan begitu saja kulit-kulit kacang ke bawah tempat tidurnya. Suasana malam. Deri tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara aneh. Ciiitttt… cit… cittt…. Deri ketakutan. Dari kolong tempat tidurnya, keluar seekor tikus. Deri kaget. Ia paling takut pada tikus. Tidak berapa lama kemudian, beberapa ekor tikus keluar dari kolong tempat tidurnya. Deri mengambil sapu ijuk. Deri : (mencoba mengusir tikus-tikus) “Ukhhh… mengganggu saja!” (memukul seekor tikus) Beberapa tikus malah menghampiri Deri. Deri : (ketakutan dan menjerit-jerit) “Ibu, Ibu tolongin Deri!” Ibu : (membuka pintu kamar Deri) “Ada apa kok kamu teriak-teriak?” Deri : (wajahnya pucat) “Ibu, banyak si Jerry!” Ibu : “Jerry, siapa itu Jerry?” Deri : (menunjuk ke bawah tempat tidurnya) “Maksud Deri banyak tikus kecil.” Ibu : (kebingungan) “Di mana?” Deri : “Itu di bawah tempat tidur Deri! Deri takut. Deri tidak mau tidur di kamar Deri.” Ibu : “Ya sudah, malam ini kamu tidur bersama kakakmu saja.” Suasana pagi hari. Ibu masuk ke kamar Deri. Ia kaget melihat sampah-sampah berserakan di bawah tempat tidur Deri. Ibu : (berteriak, mukanya cemberut) “Derii…sini!” Deri : (memakai seragam sekolah) “Ya ada apa, Bu?” Ibu : “Lihat!” (menunjuk ke sampah yang berserakan) “Kamu jorok sekali. Pantas banyak tikus di kamarmu.” Deri : (malu dan tertunduk) “Habis bagaimana dong?” Ibu : “Lho kok, malah tanya. Mulai sekarang kamu harus menjaga kebersihan kamarmu. Kamu jangan membuang sampah sembarangan lagi. Kan, sudah ibu sediakan tempat sampah di kamarmu (menunjuk ke tempat sampah). Apa perlu Ibu membuatkan plang peringatan di sini?” Deri : “Ibu bisa saja. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan lagi. Deri kapok sama si Jerry-Jerry nakal.” Ibu : (tersenyum) “Ya sudah, sekarang kamu pergi sekolah. Pulang sekolah nanti, kamu harus membersihkan kamar mu.” Deri : “Baik, Bu!” Sejak saat itu, Deri selalu menjaga kebersihan kamar nya.
Cahaya Di Alam Rohani Diadaptasi dari cerpen Cahaya Di Alam Rohani Karya Wibi A.R. Oleh : Nurul Fitriana (2009112128)
Kisah hidup seseorang bervariasi, Rasa pahit dan manisnya hidup akan dirasakan oleh semua insan. Semua itu akan dilalui setiap insan berbeda-beda. Ada yang sabar, pu tus asa, tabah dan kecewa juga dilalui. Agar semua rasa itu dapat sesuai dengan keinginan seseorang yang diharapkan maka ketulusan dan keikhlasan sebagai modal dasar / pondasi kehidupan. Tuhan akan memberikan teguran kepada umatnya baik itu secara langsung maupun tidak secara langsung. Teguran pada umatnya sebagai peringatan agar terjadi perubahan moral / sikap seseorang dari yang kurang baik untuk lebih baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Drama berikut ini dapat kita jadikan teladan kehidupan jika hidup itu tidak selanya indah, dan sedih, karena kebahagiaan dan kesedihan itu hanya sesaat dan disaat kita bahagia maupun sedih haruslah ingat pada Sang PENCIPTA. Agar kebahagiaan dan kesedihan itu tidak semu.
Sony : Aduh , mengapa sih semua pakaian tidak ada yang cocok untuk aku pakai buat malam tahun baru !!!.... Hp Sony berdering kencang ……. Inoy : Halooo Lambretta Suharti,,, Dengan ledekan canda Inoy pada Sony…. Dengan rasa menggebu-gebu sinis Sony menjawab Sony : Ehhhh,,… nama aku Sony tahu ”.. protes Sony… Inoy : Becanda lagi Son, ohhh ya kamu jadi ikut pesta enggak pergi ke Rumahnya Wisna ? Kalau jadi jangan lupa jemput aku ye !! Sony : Aku sih mau banget tapi, enggak ada ada baju yang cocok buat ku… Ujar Sony dengan nada lembut….Oyaaaaa Noy mau gak kamu nemenin aku ke butik…. Sony berharap Inoy mau menemeninnya. Sony : Oke dehhh,,,, no problemmm…Kita ketemuaan dimana ? Inoy : Di Plaza Senayan,, Sony : “Okeeeee dehhhh jam 2 siang yaaahh “.. Setelah mendapat kepastiaan dari Inoy lah ,Sony langsung menutup Hpnya…Sony segera berbenah diri bersolek layaknya seorang wanita. Kemudiaan Sony menuju keluar rumah menuju garasi. Sebuah BMW seri 3 merah menyala bertengger di garasi rumahnya. Dengan laju kencang Sony mengendarai mobilnya. Setiba di Plaza Senayan Inoy sudah menunggunya …. Sony : Terima kasih Tuhan, (Ujar Sony dalam hati). Ternyata Inoy sudah menunggunya di pintu parker.. Inoy : Son, kamu dimana sih, Aku dilantai dasar, dengan nada agak kesal Inoy bertanya pada Sony. Sony : Aku di lantai tiga. Ya udah aku akan meluncur ketampat kamu.
Di eskalator mereka saling melihat dan melambaikan tangan. Dengan raut wajah gembira Inoy melemparkan senyum pada Sony karena apapun yang diminta Inoy dituruti Sony. Sony dan Inoy bersahabat, mereka berdua berfisik laki-laki namun mereka berperilaku layaknya seorang wanita. Inoy : Kinclong bener muka luh Son. ( Dengan nada tinggi Inoy meledek Sony). Sony : Ya dong bo !!! Inikan malam tahun baru, aku kan harus terlihat caem dan imoet githuu, Noy !” ( Sahut Sony dengan nada agak sedikit kesal ) Sony dan Inoy kemudian berjalan menuju ke butik pakaian yang bermerek. Keeduanya suka bercanda dan saling meledek atu sama lain,terkadang keduanya juga jahil menggoda kaum pria yang ganteng dan macho. Sony dan Inoy sama-sama lebih menyukai sejenis dari pada lawan jenis. Setiba di Butik Sony langsung memilih baju yang dengan keinginannya. Pujian Inoy : Semua mata undangan pasti tertuju padamu boo !! Sony hanya membalas pujian Inoy dengan senyum manaj. Sony : Ehhh, Inoy, silahkan kamu pilih sendiri baju yang kamu suka, entar biar aku yang bayar. Inoy : “Oke dehh bo! ( Dengan senang hati Inoy memilih baju kesukaaannya) Inoy sangat terkejut, ketika melihat baju Sony harganya Rp.3.7000.000,-. Setelah Inoy total harga Rp.5.700.000,-. Setelah mereka selasai berbelanja, Sony langsung mengantarkan Inoy pulang kekosannya. dan merekapun membuat janji untuk pergi ke pesta acara tahun baru. Dengan memakai baju baru. Kebiasaan Sony untuk berdandan dan bersolek membuat Ayahnya sering menasehati untuk agar Sony berubah menjadi pria sejati. Keinginan sang Ayah sebatas harapan yang belum terwujud entah kapan waktunya. Layaknya seorang pria menyukai mainan seperti mobil-mobilan, Sony malah berbalik arah lebih cenderung menyukai mainan wanita seperti : boneka. Bulan puasa tiba, malam harinya umatmuslim sunah untuk menjalankan ibadah shalat tarawih. Shalat tarwih ini bias dilaksanakan di masjid dan bias juga di rumah. Malam itu Sony sebagai anak bungsu satu-satunya dari tiga bersaudara, Saat shalat tarawih dimulai Ayah Sony sempat menyuruh Sony untuk menjadi imam. Tapi Sony menolak keinginan sang Ayah. Sony : Ayah, aku bingung harus pakai sarung atau mukenah ? Ayah : Tentu saja kamu pakai sarung Son, ( Dengan tegas sang Ayah menjawab dan Ayah Sony hanya bias menggelengkan kepala melihat kelakuan sang anak. Sony sering dimanja oleh kedua orang tuanya dan Sony juga sering mendapat perlakuan yang berlebihan dari ketiga kakaknya. Hari bahagia yang dinantikan oleh Sony dan sahabat-sabatnya kini sudah diambang mata. Malam tahun baru beryepatan pada malam minggu, tepat pukul 7 Sony dan Inoy siap meluncur ke romah Wisna. Dengan pakaian yang mewah dan baru mereka bergegas mengendarai mobil BMWmerah. Inoy : Son di rumah Wisna ada berondong gak ya ! (Tanya Inoy saat di dalam mobil Sony). Sony : Gak tau Noy, Terserah ahh yang penting aku happy malam tahun baru ini” ( Dengan cueknya Sony menjawab). Saat berada di dalam mobilnya Sony sempat terlintas tiba-tiba dipikiran Sony tentang kesedihan akan hidup di dunia hanyalah sementara, yang ada dalam pikirannya hanyalah hura-hura, bersenang-senang dan berfoya-foya. Tapi entah mengapa kali ini Sony dibayangi rasa takut dan terselip di baneknya untuk berubah menjadi lelaki sejati. Sony : “ Eh Noy, pernah enggak sih kamu kamu berpikir untuk berubah menjadi lelaki sejati ? (Tanya Sony pada Inoy dengan rasa menyesal akan sefatnya selama ini). Inoy : “Kamu Tanya apaan sih Son ?” ( Dengan rasa santai Inoy menjawab). Sony : “ Noy, kayaknya aku sudah bosen hidup seperti ini, aku sering bertengkar dengan Ayah hnyan karena aku ini lelaki pesolek. Ayah mengingikan aku untuk berubah menjadi lelaki sejati seperti lelaki yang lain. Harapan Ayah pada ku sangat besar noy. Aku kan anak bungsu satu-satunya cowok.( Sony berusaha menjelaskan pada Inoy). Inoy : “Maksud luh apaan sih Son ? Aku jadi enggak ngerti. (Dengan rasa bingung Inoy sejenak merenungkan ucapan Sony). Sony : Begini ya Noy, kalau menurut aku kita termasuk orang yang aneh, Karena kita kan cowok kenapa kita harus menyukai sesame lelaki. Kita ini bias dikatakan orang normal banci. Kalau dengar kata itu rasanya aku malu banget. (Dengan rasa menyesal yang teramat sangat dalam. Inoy : “ Ahhh sudahdeh Son, kebih baik kita jalankan saja hidup in, enggak usah mikir yang macam-macam. Yang penting jalankan saja hidup ini seperti air mengalir. Sony :” Betul Noy, tapi hidup itu harus ada tujuannya, aku pernah mencoba menjadi laki-laki eh malah jadi ledekan laki-laki normal. “Ya Allah berilah aku hidayah”, (Keluh Sony da;am hati sambil meneteskan air mata). Inoy : Ternyata kamu juga bias menangis Son !, (Ledek Ioy pada Sony dengan nada lembut). Sony : Aku juga manusia Noy, yang punya perasaan dan pemikiran. Meskipun kita serang dikatakan orang lain banci, dari ucapan ledekan orang lain akan aku jadikan motivasi untuk berubah yang lebih baik, (Sony berusaha menyadarkan Inoy jika selama ini mereka salah langkah mengenai kodrat). Inoy : “ Ngapain juga kita pusing mikirin semua ini, yah kita terima saja takdir bahawa kita jenis manusia baru.( Inoy tetap bersihkukuh akan pendapatnya dan tidak terbujuk akan bujukan Sony). Harus bagaiaman lagi aku menjelaskan semua ini pada Inoy, kalau akhirnya Inoy tidak sama sekali mendengarkan perkataan ku.(Ujar Sony dalam hati). Sony : Enggak bias Noy, suatu saat kita harus berubah. Aku pernah dengar ceramah agama, jika surga itu untuk kaum laki-laki dan perempuan. Aku belum pernah dengar surga itu untuk banci atauwari, seperti kita ini. Jadi jujur Noy kita ini golongan yang enggak jelas..Aku harus berubah meskipun hinaan dan ledekan harus diterima dengan lapang dada.(Bujukan Sony untuk meyakinkan Inoy). Inoy : “Kalu begitu kamu operasi plastic saja Son untuk jadi perempuan”. Sony : Kalau aku operasi plastik berarti kamu menyalahi kodrat dong , Aku kan dilahirkan sebagai laki-laki mengapa aku harus operasi kelamin.Gini ya Son, seandainya operasi plastik terus operasi ku berhasil, tapi karakter, jakun dan suara ku gimana ?.Kata ustadz yang mengajar ngaji di rumahku , melakukan perubahan diri seperti: bonding,operasi itu sudah dikategorikan sebaagai manusia yang tidak tahu terima kasih akan nikmat yang telah Tuhan pada umatnya atau tidak bersyukur.
Sony masih mengingat pesan yang disampaikan pak ustadz dan pesan itu disampaikannya pada Inoy. Meskipun ada sedikit keanehan pada diri Sony tetapi dia masih tetap ingat akan kodraynya. Inoy : Son, apakah kamu mau jadi lelaki sejati yang ganteng dan macho seperti lelaki pada umumnya. (Tegas Inoy bertanya pada Sony) Sony : “Insya Allah aku bersedia menjadi lelaki sejati seperti keinginana dan harapan keluargaku. Yang penting niat dihatiku sudah bulat meskipun belum sekarang. (ujar Sony dengan yakin). Inoy : Tapi Son banyak teman kita yang menjadi lelaki sejati terus menikah dan punya anak, Tapi toh dia masih nyari lelaki. (Inoy masih tetap mempertahankan pendapatnya untuk tetap mengajak Sony jadi banci). Sony : Biarkan saja mereka begitu, yang penting aku bukan tipe manusia seperti itu dan aku sudah punya niat hanya pelakasaannya saja belum tau kapan waktu yang tepat .
Tak tarasa Sony dan Inoy sudah tiba di depan rumah Wisna, Wah ramai sekali. ujar Inoy dengan rasa kagum. Sony bergegas memakirka BMW merahnya di dekat pagar trotoar. Setelah memakirkan mobilnya mereka langsung masuk menuju kerumah Wisna. Sony dan Inoy bertemu dengan semua undangan pesta akhir tahun., namun juga ada lelaki pesolek. Pokoknya semua manusia berkumpul di rumah mewah milik Wisna. Datanglah sang pelayan dengan mambawa minuman berkadar alkohol mengelilingi para undangan dannya menawarkan satu persatu minuman tersebut. Sony dan Inoy tidak ketinggalan mengambil pula segelas wine putih. Inoy : Son pakai ini yah ! (Inoy memasukkan sebutir pil kedalam gelas minuman Sony). Sony : Kamu mau mabuk juga Noy. Entar aja agak malaman dikit . (Ujar Sony membujuk Inoy). Inoy dan Sony mengaduk kedua pil tersebut agar larut pada minuman beralkhohol tersebut. Setelah pil itu larut kemudian Sony meneguk minuman beralkhol itu hingga tidak ada sedikitpun sisa air nampak di gelas. Bebeda dengan Inoy, ia hanya minum sedikit karena asyik merayu cowok ganteng.
Tiba-tiba terjadi suatu insiden yang tidak diinginkan. Sony terjatuh, mulutnya keluar cairan. Para tamu undangan menjerit histeris. Para tamu undangan burusaha menolong Sony, Wisna pemilik rumaha berusaha memanggil ambulance. Tidak lama kemudian ambulance datang. Sony dilarikan ke rumak sakit. Sony nampak terbaring lemah saat di trolly bed.
Saat terkapar tak berdaya Sony merasakan tubuhnya sangat melayang di udara. Sony melihat jasadnya sendiri sedang melayang di udara, Saat tidak sadarkan diri Sony melihat semua kejadian yang menyeramkan dan menakutkan. Kejadiaan yang aneh-aneh yang selama ini belum ia ketahui sekarang dapat ia ketahui secara langsung meskipun semua kejadiaan tidak bias di jelaskan dengan akal logika. Kebimbangan dan ketakutan menghampiri Sony. Sony berusaha memanggil Ayah, Ibu dan Kakaknya dengan berteriak sekuat mungkin akan tetapi usaha Sony sia-sia. Karena tak seorangpun anggota keluarganya yang mendengar teriakan Sony.
Peristiwa demi peristiwa terlihat dalam pandangan Sony. Semua kejadian itu nampak jelas seprti dunia fana atau nyata. Sony diperlihatkan Tuhan dengan hal-hala yang berbau mistis, seperti siksaan alam kubur, Sony melihat sahabnya yang bernama Somanto meraung-raung dengan wajah jelek dan kusam, sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyaki Aids.laki-laki. Semua jenis laki-laki dilahapnya. Baik itu dari bangsa Asia, Arab, Eropa, Arab dan Amerika. Sony sempat bertanya pada Susi. Di alam lain Sony bercakap-cakap dengan sahabatnya yang bernama Susanto alias Susi dan Seorang wanita cantik dan pria tampan. Dialog Sony merupakan perbedaan amal kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh seseorang semasa hidup di dunia.
Sony : “Susi, kenapa kamu jadi begini ?” (Tanya Sony dengan rasa kasihan pada Susi) Susi : “ Aku sengsara, aku terhina, aku enggaknyangka kalau akhir kematian jadi seperti : Semasa aku hidup aku eng Ak pernah berpikir ada kehidupan lain setelah kematian, tapi sekarang semua sudah terlambat, hanya penyesalan yang bisa aku rasakan dan dosa akan tobat sudah jauh untuk ku mohon ampun. (Ujar Susi dengan pilu dan terluka.) Sony : “Ohhh, kasihan sekali kamu Sus “!. (Ujar Sony dengan rasa haru). Susi : Semasa hidup di dunia aku selalu pesta pora, berfoya-foya dan tidak mengenal Tuhan. Mungkin enggak ya Tuhan masih mengampuni dosa-dosa ku. (Rasa menyesal Sony sudah sia-sia bagai nasi sudah menjadi bubur). Mendengar keluh kesah dan rintihan Susi yak berdaya, seakan tubuhnya lunglai. Dan lemas, Saat sekaratpun Sony diperlihatkan Tuhan sosok sepasang sseorang wanita cantik dan pria tampan, keduanya terlihat bercahaya, sungguh wangi semerbak bau mereka dan terpancar cahaya dari tubuh-tubuh mereka. Sony : “Apakah kalian ini malaikat” (Ujar Sony dengan rasa bingung dan bimbang saat bertanya pada kedua orang yang tampan dan cantik tersebut). Sipermpuan cantik dan Silelaki tampan : Bukan, kami juga manusia biasa, sama seperti kamu juga. Dulu semasa hidup kami tidak pernah meninggalkan perintah Tuhan. Bahkan kami dulu sangat senang menjalankan perintah Tuhan, dengan hati yang tulus, sabar dan ikhlas. Sony : “Kebaikan dan amalan apa yang kalian perbuat selama hidup di dunia ?” (Tanya Sony dengan ingin tahu dan terkesima). Siperempuan cantik dan Silelaki tampan : Semasa hidup dulu kami sering baramal jariyah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, kami yakin kelak Tuhan akan membalasa semua kebaikan di akhirat yang tak ternilai harganya. Alhamdulillah , sekarang kami menuai hasil benik kebaikan yang kami semai semasa hidup di dunia mendapatkan kebahagiaan yang setimpal dari Tuhan. Siwanita cantik : “Apakah kamu baru saja meninggal dunia ?”(Tanya siwanita itu dengan rasa penasaran). Sony : Oh ya mungkin, karena saya sendiri tidak tahu. Apakah saya sudah meninggal atau belum. Siwanita cantik : “Kok bias enggak tahu”. Sony : Kayaknya saya belum dikubur ? (sahut Sony dengan santai). Siwanita cantik : Apa kamu belum ketemu dengan malaikat Mungkar dan Nakir? (Dengan rasa bangga siwanita itu menjawab). Saat mereka belum selesai bicaranya, tiba-tiba tubuh Sony tertarik oleh kekuatan yang dahsyat. Kedua mata nya melihat sebuah cahaya yang Maha Dahsyat dan Maha Menyilaukan, bahkan Sony tidak mampu menatap cahaya itu lama-lama. Harapan Sony ingin selaki menggapai Cahaya Yang Maha Dahsyat. Semasa hidupnya ia tidak pernah melihat cahay yang maha dahsyat. Itu. Sony merasakan tubuhnya tersedot kekuatan yang entah datangnya dri mana. Sony dibawa cahaya putih menuju alam yang selama ditingalinya. Dunia. Para tim medis ICU berusaha dan ahkirnya mesin detak jantung kembali normal kembali. Mesin detak jantung mulai normal kembali, artinya kehidupan Sony mulai kembali. Kegembiraanpun menghampiri keluarga Sony. Ibu Sony : Akhirnya kamu sadar juga nak,! (Ujar sang Ibu sambil tersenyum riang). Sony menatap sang Ayah yang hanya memandang biasa saja, tanpa ada rasa sedih, sesal dan tanpa ada harapan apapun. Ayah Sony hanya perlahan-lahan menatap wajah Sony dan memanggilnya. Setelah dekat sanh Ayah, Sony langsung memuluk eray Ayahnya dengan kerinduaan seperti sudah lama tidak bertemu dan rasa penyesalan juga menghampiri Sony. Ayah Sony juga membalas erat pelukan anaknya. Sony : Ayak ma’afkan kesaalahan Sony. Insya Allah Sony akan memenuhi keinginan dan harapan Ayah. Sony ingin menjadi lelaki sejati, seperti Ayah. Dengan rasa penyesalan Sony mengharapkan do’a dari ayahnya. Ayah Sony : Kamu serius Sony, (Ujar sang Ayah dengan penuh kebahagiaan). Sony : Insya Allah, Sony dilahirkan sebagai laki-laki dan harus jadi laki-lakai sejati, Betulkah Ayah ?.(Ujar Sony dengan meyakikan Ayahnya.) Ayah : Betul Nak.! ( Sang Ayah kagum akan perubahan anaknya setelah sekian lama 20 tahun kata-kata berubah berubah belum terucapkan dari mulut Sony, Akhirnya Sony mengucapakan kata-kata indah untuk berubah. Yang selama ini Sony dikenal cengeng sekarang sudah menunjukkan rasa perubahan. Sony mendapatkan cahaya hidayah di Alam yang lain. Selama ini Sony dikenal pesolek, kemayu namun akhirnya menyadari bahwa semua takdir dapat dirubah dengan niat yang kuat dan terus berharap kepada sang pemberi takdir. Tak terasa setetas air mata menetes di pipi Sony. DENGAN CEPAT Sony menghapusnya.
PERMINTAAN MAAF Oleh: Zamil (2009.112.197)
Elis adalah siswi yang menulis majalah dinding di sekolah kami di setiap dua kali seminggu. Dia mengambil sebuah script dari setiap kelas. Ketika ia mengambil dari delapan kelas ada karikatur naskah tentang bapak Trisno guru dari "Karate". Dalam terakhir mendengarkan pulang dari sekolah mereka, Bella, Elis, Cipin, Cupin, adalah berjalan bersama-sama tiba-tiba. Pak Trisno: "Siapa ... Siapa yang menggambar seperti ini!" Bella: (Kosong) "Apa yang terjadi dengan Pak Trisno?" Pak Trisno: "!! Siapa ... Siapa yang menggambar" (Dengan ekspresi yang sangat marah) Bella: (dengan berbisik kepada Elis) Eh ... sebenarnya pembuat karikatur adalah aku ". Elis: "Dia ... Jangan main-main dengan guru ini." Bella: ". Siapa yang salah, dia selalu menghina saya" Elis: "Jangan seperti itu dia adalah guru Anda Anda tidak dapat melakukan seperti itu." Bella: "Aku tidak peduli tentang hal itu. aku bisa balas dendam hinaan-nya. " Elis: "Tapi, Anda harus hati-hati! Jika ia marah ia tampak seperti monyet. " Bella: "Aku tahu. Saya tahu saya takut juga, tapi saya harus sabar untuk membuat menikmati perasaan saya. " Elis: "Ya tahu bahwa Anda membuat menikmati tapi di masa depan Anda mengajukan masalah yang." Bella: "Omong-omong ada cara tetapi dalam setiap masalah." Elis: "OK! Kita bisa dia itu. " Besok pagi. Mereka ia sebuah majalah lantai rusak. Cipin: "(dengan lari ke Elis dan Bella)" Apakah berbahaya ". Elis: (heran depan) "Apa yang terjadi?" Cipin: "Majalah. Majalah dinding! " Bella: "Majalah dinding rusak." Elis: "Ini pasti." Cipin: "Ya. Sekarang, rusak semua. " Bella: "Siapa yang melakukan semua?" Cipin: "Insya Allah Pak Trisno!" Elis: "Ya Tuhan saya Pak Trisno (dengan wajah sedih) Bella: "Jadi, sekarang adalah kesalahan saya (dengan Wajah ah) Tet ... ... ... ... ... .. Tet ... ... ... ... ... tet ... ... ... .... Elis: "Bel, ketika kita meminta maaf kepada Pak trisno." Bella: "Mm ... saya tidak tahu. Bagaimana?? " Elis: "OK. Besok jam istirahat kita meminta maaf kepada Pak Trisno. " Bella: "Saya takut teman saya (dengan ekspresi takut) Elis: "Sudahlah. Ada aku. " Bella: "Anda adalah teman kapal saya" (sambil tersenyum) Elis: "Terima kasih." Bella: "Anda dipersilahkan (dengan senang) Cipin: "Dia ... datang pada pulang." Elis dan Bella: "Ayo (dengan berjalan-jalan bersama-sama) Besok Mail: "Cupin pagi, baik" (dengan berjalan-jalan menuju Cupin) Cupin: "Selamat pagi." Mail: "Bagaimana kabarmu sahabatku?" Cupin: "Aku terima kasih baik-baik saja dan kau??" Mail: "Saya sangat berterima kasih." Cupin: "Apa yang kamu lakukan sekarang?" Mail: ". Saya belajar, karena besok ada pemeriksaan" Cupin: "Ohh ... apa ujian?" Mail: "Matematika." Cupin: "Matematika sangat sulit." Mail: "Oh .. Ya. " Elis dan Bella: "ayo." Elis: "Mail, Cupin! Apa yang kamu lakukan?'' Mail: "Oh ... aku belajar sekarang." Bella: "Apa belajar?" Mail: "Matematika." Elis: "Apakah ada pemeriksaan." Mail: "Ya, nanti." Bella: ". Elis, Cupin, Mail datang pada pergi ke kantin" E, C, M: "Ayo." Dalam istirahat Elis, Cipin, Cupin, Mail menemani Bella untuk meminta maaf kepada Pak Trisno di kantor. Teman: "Assalamualaikum." Pak Trisno: "Waalaikum salam. Silahkan duduk. Apa yang terjadi? " Bella: "Pak, saya meminta maaf " Pak Trisno: "Mengapa kamu bertanya minta maaf dengan saya?" Bella: "Karena kemarin membuat dari karikatur adalah saya." Pak Trisno: "Oh .. Bella. Mengapa Anda melakukan itu? " Bella: ". Karena saya membantu Anda dan Anda selalu menghina saya" Bella: ". Ya, Pak saya sangat-sangat menyesal" Elis: "Silakan memberi kertas ke Bella, Pak" (dengan hmmm) Pak Trisno: "OK! Saya memberi maaf bagi Anda, tapi jangan terulang lagi. " Elis: "OK! menghina Bella jika Bella tidak akan lakukan kemarin. " Pak Trisno: "Ok. Anda bisa datang buruk ke kelas. " Teman: "Terima kasih Pak, Assalamualaikum." Dan Pak Trisno terakhir dapat memberikan maaf kepada Bella dan jangan anda semua lakukan seperti Bella, ini merusak Anda dan sebelum itu saya dengan kelompok saya meminta maaf kepada Pak Trisno dan teman saya adalah ada beberapa kesalahan dan yang terakhir saya katakana.
Reuni Oleh: SA’IDAH (2009 112 146) Terdengar telepon genggam berbunyi, Adit buru-buru mengambilnya dari tas yang sedang disandangnya:
Adit : ‘ Halo … ? Ass…? Novi : ‘ Betul ini Adit? Adit : ‘Ia, saya sendiri.” Novi : ‘ ini Novi, Kamu dimana ??? Adit : “ saya mau ke Bantul.’ Novi : Bantul mana yaa??? Adit : yogya… Novi : ‘ Lho, Bukannya Pak Firman sudah kita utus bertugas disana ?? Adit : Bukan urusan kerja, Aku berziarah. Novi : Ya Ampun …!!! Berziarah??? Sambungan telpon terputus, Adit berusah menghubungi . tapi tidak bisa.. Ibu : Adit,,,?? Adit : ya bu…?? Ibu : ibu dapat telepon dari saudara dibantul,. Dia mengatakan kuburan kakek tidak lama lagi bakal runtuh pondasinya. Ibu ingin salah satu dari kalian untuk menengok kuburan kakek kalian. Kemal dan saudara-saudaranya, beserta cucu ibu diminta untuk melihat kuburan kakaek . Saudara 1 : kita harus berusaha memenuhi keinginan ibu. Saudara2 : aku sich setuju azz, lagi pula ibu kan sudah tua, siapa tau ini adalah permintaan terakhir ibu..!! Adit : Huzzzhh… kamu jangan asal bicara !! Cucu1 : lalu sekarang ??? Saudara1 : yaa kebantul… Saudara 2 : lantas siapa yang akan ke bantul??? Adit : ya… tentu saja aku, sekaligus aku mengawasi proyek pekerjaan aku Disana, Ibu : jangan suruh orang lain nak… harus kamu sendiri yang melihat Makam kakek mu.. Adit : Baik bu’
Sesampainya disana,,,, Tn.Purnomo: betul yang ini ma’?? Ny purnomo: rasa- rasanya ya..(melihat Adit tersenyum) anda juga menziarahi Makam ini?? Adit : emm,,, iya.. Tn purnomo: betul ini kuburan Ki Purwosutedjo? Ny purnomo: Atmowilogo?? Adit : Betul, saya sering dengar nama itu… Ny Purnomo: Maaf anda ini siapa ya? Adit : Saya Cucunya’ Ny purnomo: Cucunya??? Adit : iya… Ny purnomo: Cucu dari Ibu Atau Bapak?? Adit : Dari ibu.. Ny purnomo: Kolau boleh tau nama ibumu siapa? Adit : “Westi” Ny purnomo: Jadi kamu putranya Mbakyu Westi tooch… Tn Purnomo: ya…ya saya ingat sekarang Adit ya… Adit kan?? Ny Purnomo: tante ini adalah saudara sepupu ibumu nak” Adit : ibu pasti senang kol saya cerita saya ketemu om dan tante disini.. Adit menarik Nafas Panjang… Adit : iya… iya kenapa pak?? Penjaga kuburan: perkenalkan Nama saya Atmojo, Juru kunci kuburan disini… Ny purnomo: Jadi..?? Atmojo : Benar saya Atmojo miring, memeng begitulah saudara_2 memanggil saya. Saya memang pernah miring, alaias tidak waras nak, tapi atas Gusti Allah akhirnya saya bisah sembuh , sekali lagi saya minta maaf kalau saya keliru , tapi kalau tidak salah saya mendengar Nak mas ini Putra MbakYu Westi”? Adit : ya…. Senang bias bertemu Om, tante dan bahkan pak Atmojo Atmojo : Ucap Syukur pada Gusti Allah, Saya bias bertemu dengan Putra Mbakyu Westi, Kalau Nak mas pulang Nanti Ke Jakarta, sampaikan salam hormat saya kepada Ibunda “ Adit tergugu melamun, namun tetep Mengangguk Pelan, dan puang ke Jakarta dengan Hati legah… Telepon bordering….. Adit : Ass, ibu ?? Ibu : bagaimana perjalanan mu nak?? Adit : Baik .. Ibu : keadaan Makam kakek mu? Adit : sudah saya perbaiki, ibu disinis saya bertemu dengan Sepupu ibu, Dan Pak Atmojo.. Ibu : Siapa sepupu ibu? Adit : Om Purnomo, dan Tante Purnoma… Ibu : bagai mana keadaan mereka semua?? Adit : Baik bu..? Ibu hanya bisa senyum dan senang karena amanat yang iya sampaikan untuk anak Sudah dilaksanakan.
Kejadian Tak Terduga Oleh: Yayuk Bandiya (2009 112 144)
SINOPSIS Pagi yang cerah, memulai aktifitas pagi, pergi ke sekolah tiba-tiba lonceng pun berbunyi dan anak-anak pun mulai masuk ke kelas masing-masing, dan bagi yang mengikuti prakter olahraga kumpul di lapangan dan mulai melakukan pemanasan yaitu melakukan gerakan rool on (kaki angkat ke atas menyentuh lantai. tiba-tiba ada seorang siswa memanggil gurunya mengatakan kalau dia tidak bisa dan gurunya mendekat membantunya untuk melakukan gerakan tersebut. Tapi bantuan gurunya tadi membawa musibah bagi anak tersebut dia merasakan matanya sakit. kalau terkena panas matanya berbayang-bayang. Setelah beberapa hari kemudian dia ke Dokter untuk memeriksa matanya di Dokter spesialis mata, setelah di periksa ternya matanya mengalami kebutaan untuk selamanya, padahal orang tuanya sudah meminta Dokter untuk melakukan segala cara agar anaknya tidak buta, tapi apa usaha tersebut sia-sia anaknya masi tetap tidak bisa melihat.
Propil Tokoh : Ibu Bety : Ibu guru yang baik hati Fahriza : Siswa yang bernasib malang Ety : Sahabat fahriza yang baik hati Ibu Dewy : Ibu guru yang baik hati Ibu Saya : Seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang dan sabar Bule Marni : Tante yang baik hati Bapak : Bapak yang emosian karena tidak rela melihat anaknya buta seumur hidup Suster : Suster yang baik Dokter : Dokter yang baik Kawan Ibu : Tetangga yang baik Ibu Bety : pagi anak-anak, kita mulai praktek olahraganya ya Siswa : iya bug Ibu Bety : swiap semua untuk melakukan pemanasan “1,2,3 dan seterusnya. Ya sekarang kita mulai gerakan inti yaitu rool on (kaki di angkat ke atas menyentuh lantai) Fahriza : ibu idak nyampek (bug Bety pun segera ke barisan dan bug Betty pun memaksa kaki ku sampai menyentuh lantai hingga kedua lututku terkena mata) Ibu Bety : ya udah kalau udah selesai silahkan kalian semua istirahat
Semua siswa pun istirahat dan saya ngobrol ama teman-teman di kantin
Fahriza : kenapa ya ti, aku sesudah olahraga mata ku terasa sakit Ety : mungkin tadi tuh ca kepanasan pas ikut olahraga Fahriza : tidak, pas aku ikut olahraga kaki aku tuh nyampek, tapi ibu Bety tuh maksunya mau bantu, tapi terlalu kuat dorongannya sampe lutut aku terkena mata
Keesokan paginya berlalu demi berlalu, saya memulai aktifitas sekolah kembali
Ibu Dewi : pagi semanya Siswa : pagi bug Ibu Dewi : ya, sudah siap belajarnya kita mulai ya.? Ibu absen dulu…….. Siswa : Iya bug Ibu Dewi : Ya sudah sekarang “kita maju kedepan membaca satu persatuibu panggil menurut absenya Fahriza utami Fahriza : Iya bug. (saya pun mulai membaca wacana di dalam buku tapi berulang-ulang kali seperti tidak bias di baca) Ibu Dewi : kenapa nak…? Murid : ngak bias baca kali bug Fahriza : enak aja bisa aku ni baca ye………….. Murid : hu….hu….hu…(bersorak rame-rame) Ibu Dewy :sudah diam… tidak boleh kalau teman salah tu di ejek,
Bel pun berbunyi, saya pun pulang erumah tidak tau jalan yang saya lewati ada selokan yang lumayan besar
Fahriza : Gubrak (akupun terjatuh ke dalam god) Ety : kenapa ca.? kemana mata kamu tuh…(aty pun bergegas berlari menuju ruang guru) bug….bug….fahriza masuk god bug…(ibu dewy dan ety menuju tempat kejadian) Ibu Dewy : kenapa nak bisa jatuh ke selokan..? Fahriza : ngak tau bug IbuDewi : ya sudah ibu bantu (ibu dewipun mengantar ke rumahnya…….tok to tok…….) Assalamuaalaikum Wr. Wb. Ibu Saya : wa’alaikumWr. Wb. (sambil membuka pintu rumah) ya allah anakku kamu kenapa begini……. Fahriza : ngak tau bug, kalau ada god tadi tuh…….. Ibu Saya : makasi ya bug suda mau nganterin anak ku. Ibu Dewi : ya sama-sama, permisi pamit pulang ya bug! Ibu Saya : ya sekali lagi makasi banyak ya bug ( sambil mengantar ibu dewi keluar rumah) Fahriza : ibuk…oh ibuk………. Ibu Saya : kenapa ca. Fahriza :di mana baju tuh Ibu Saya : sudah mandi (sambil mengambilkan baju) Fahriza : sudah buk…..minta uang! Ibu Saya : lah kamu kan sakit tidurla istirahat yang banyak supaya cepat sembuh Fahriza : Yan anti aku mau beli makanan dulu Ibu Saya :ini nah uang tukarkan dahulu sama bule marni mu Fahriza : iya (sambil menuju rumah bule marni) Bule…….oi ule……di suruh ibu tukar uang. Bule marni :ini nah (bule ngasih uangnya kea rah kiri tapi saya menyambutnya dari arah kanan) “ini nah uangnya ca” Fahriza : lek makasi ya….aku pulang dulu ya Bule Marni : bareng aja bule mau kerumah kamu juga Fahriza : ya cepatlah (bule dan akupun sama-sama menuju ke rumah aku) Bule Marni : mar lagi apa kamu tuh.? Ibu Saya : ngak ada lagi, mu siapin ica makan kalau ngak disuruh dak galak makan Bule Marni : ini mar, aku mau bicara kenapa anakku tadi tuh, aku kasi uang ke kiri tapi tangannya ke arah kanan. Coba kamu Tanya dulu Ibu Saya : ca oh ica….kamu kenapa kata bule tadi………….? Fahriza : kenapa lagi buk, aku mau makan suda tu aku mau istirahat Ibu Saya : ke sini dulu, ibu mau nanya mata mu kenapa.? Aku dengar banyak yang aneh, bule juga cerita waktu mu tukar uang tadi…bule kasi ke mana kamu ambilnya di mana. Fahriza : ngak bug, kenapa ibu…(berpikir panjang) tapi waktu itu aku ikut pelajaran olahraga, nah mata aku terkena lutut jadi sakit. Nah setelah kejadian itu kalau aku terkena matahari kelihatan aku berbayamg-bayang Ibu Saya : ya sudah, coba kamu cari uang logam ama uang kertas yang ibu jatuhkan ke bawah, kalau mata mu ngak kenapa-napa! Ety : ko lama banget kamu cari uangnya….”ini nah uangya” (sambil mengambil uang di lantai dan memberkanya pada ic) Ibu Saya : berarti matamu memang sakit, aku kasi tau sama bapak mu dulu kalau begitu Bapak : Assalamu’ alaikum Wr Wb .. Ibu : Wassalamualaikum ( ibu sambil salaman sama bapak dan mengantar kan bapak ke kamar mandi ) Bapak : Ibu ( sambil menuju kekamar mandi ) Ibu : Pak , makanlah sudah di siapkan makanan nya di meja makan . Bapak : iya ( selesai makan bapak menuju ruang tamu bersama ibu ) Ibu : pak ada yang mau ibu omongin Bapak : emang apa yang mau jbu omongin Ibu : Begini pak , sepertinya mata fahriza ne sudah parah. Tadi siang sama kemarin banyak yang ngadu dan pas ibu tes memang bener tapi bapak jangan marah dulu ya sama ibu . Bapak : gimana sih ibu ini anak sakit aja gak tau . pasti ibu tuh terlalu sibuk sama kerjaan .sudah bapak bilang berenti aja kerjanya tapi ibu masih aja , kalau udah gini mau gimana lagi . Ibu : sudah lah pak kita gak usah saling salah kan lagi sekarang . Bapak : ya sudah suruh ica siap-siap sekarang kita ke rumah sakit sekarang , gak usah banyak bicara lagi ( sambil menggendong dan menuju rumah sakit ) Ibu : sus ( sambil mengambil formulir rumah sakit dan mengisinya ) suster : tunggu ya buk nanti di panggil karena Dokternya belum ada dan masih banyak yang praktek. Bapak : gimana sih sus kok lama sekali sih , kalau ditanya jawabnya nanti dipanggil , kalau seperti ini bisa-bisa mati beneran di rumah sakit ini ( sambil marah ) bisa cepet gak sih sus . bisa-bisa saya hancurkan rumah sakit ini dan kalian semua bisa dipecat dan gak usah macem-macem dulu urusin dulu anak saya . Suster : iya pak maaf, “ silahkan masuk pak Dokternya sudah dating” ( menuju ruangan ) Dokter : ( diperiksa mata ) anak bapak suka main sama kucing ya karena matanya infeksi bulu kucing dan ditambah ada luka benturan , kalau tidak segera dirawat dan ditangani secara khusus bisa disebabkan kebutaan seumur hidup. Bapak : Dok, apa pun yang akan saya lakukan asal anak saya bisa sembuh tapi dok saya tidak suka dokter mengatakan kalau anak saya buta seumur hidup. Emangnya Dokter Tuhan (sambil menepak meja Dokter dan mengendonngendong anaknya keluar dari ruang pemeriksaan Dokter : Maaf pak, tapi anak bapak memang sudah parah. Mungkin keajaiban diataslah yang bisa menyembuhkannya Bapak : iya mau kalian jadikan kelinci percobaan praktek dokter disini,kalau anak saya dirawat inap di rumah sakit ini. Tidak ada seorang dokter memvonis pasiennya tidak akan bisa sembuh, kecil kemungkinan bisa melihat lagi, memang kalian semua tuhan yang bisa menentukan (sambil mengendong anaknya keluar dari rumah sakit) sampai ibupun ketinggalkan) Fahriza : pak aku mau makan bakso Bapak : iya (membeli bakso dan ketika makan anaknya harus di suapi karena tidak bisa menyuap sendiri) Ibu : Ya allah bapak kenapa jadi begini……..? Bapak : ini akibat kesibukan ibu sampai anak sendiri ngak ke urus, anakku ini lahir tidak cacat … napa besarnya cacat. Aku ngak bisa terima apapun akan aku lakukan asal anak gadis ku bisa sembuh. Kawan Ibu : mar ………..bukan………..(sambil berpelukan) Ibu : iya….(sambil cerita dan bertanya) dokter spesialis matadi Palembang yang bagus..? Kawan Ibu : ada mar kemaren keponakan ku tuna netra Ibu : dimana alamatny…? Kawan Ibu : di Rs. A.K Gani Palembang enak dating ke tempat prakteknya langsung di samping IP Ibu : Oh……makasi ya…..duluan aku………..(di ruangan praktek Dokter spesialis mata) Bapak : jadi gimana dok..? Dokter : begini pak, Mata anak bapak harus di tangani serius. Bapak : terserah dok, yang penting anak saya bisa sembuh Dokter : baiklah pak, mungkin untuk sementara anak bapak harus memakai kaca mata… Bapak : kalo bisa jangan sampai memakai kaca mata Dokter : ya kita usahakan pak…. Mungkin dengan mengkonsumsi beberapa vitamin dan makanan yang dapat memperbaiki mata anak bapak…………. Dan rajin kontrol kesini Bapak : ya pak kalo begitu terimakasih dok…………
Pencui Berhati Emas Oleh: Ira Puspita Sari (2009 112 122) SINOPSIS: Cerita inu mengisahkan tentang tiga orang pencuri yang baik hati, karena pencuri ini bukan sembarang pencuri, pencuri ini bukan pencuri yang keras dan kejam.Pencuri ini adalah pencuri yang baik hati, yang tidak tega mengambil satu-satunya barang berharga milik orang yang dicurinya tersebut. Inilah ceritanya !!! Saksikan ceritanya di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa) !!!...
PROFIL TOKOH Dodot : Seorang bos pencuri yang baik hati. Didi : Seorang anak bua pencuri yang berani. Maman : Anak bua pencuri yang sangat penakut. Anwar : Si pemilik rumah yang baik dan sabar. Andi : Keponakan Anwar yang masih sekolah SD, anak kecil yang polos dan jujur. Ahmad : Tetangga Anwar yang kaya, tetapi sombong. Wawan : Adik dari Anwar. Alur !!! Pada suatu malam Anwar dan Wawan sedang nonton bareng diruang tamu. Mereka berdua kakak beradik yang akrab, yang sama-sama mempunyai kegemaran nonton bola. Malam itu sekitar pukul 12.00, Anwar dan Wawan sedang asyik nonton bola.
Anwar : Ya,..ayo sedikit lagi, kamu pasti bisa. Yaaaa,….GOLLLLLLLL……..!!!(Sambil berteriak dan mengangkat kedua tangannaya, tim kesebelasan Anwar mencetak GOL pertamanya). Wawan : Aduh, sialan...padahal sedikit lagi Gol. (Wawan kecewa dengan kesebelasannya). Anwar : Tim mu pasti kalah, wan. (siKakak mengejek adiknya yang sedang kesal). Wawan : Hufft, payah. Kalau begitu aku tidur saja, kak. Tim ku pasti kalah lagi, selalu dan selalu begitu. (Wawan pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kekamar). Anwar : Ya sudah kamu tidur duluan saja, aku masih mau menonton sampai babak terakhir (teriak Anwar dari ruang tamu). Wawan : Kalau begitu aku tidur duluan ya, kak. Jangan lupa jendelanya dan pintu dikunci.
Anwar pun nonton televisi sendirian, malam semakin larut Anwar jadi ikut ngantuk apalagi dia hanya sendiri. Anwar pun bergegas tidur, tapi ada satu hal yang dia lupa yaitu mengunci pintu belakang rumahnya. Pencuri pun masuk lewat pintu belakang.
Maman : Wah…!! Bos lihat ada orangnya. Dodot : Hey bodoh, dasar banci jangan penakut, cepat cari barang-barang berharga yang ada dirumah ini. Didi : Tunggu aku dulu bos…!!! Dodot : Ada apa kamu ini…??? Didi : Aku mau minta izin dulu sama pemilik rumahnya. Maman : Wah,..Jangan Didi, bahaya nanati dia teriak. Didi : Pak,..pak…bangun pak. Anwar : Memangnya kalian bertiga ini siapa??? Didi : Kami pencuri, pak!!! Anwar : Oh,…pencuri, kalau begitu tutup jendelanya banyak angin yang masuk. Didi : Iya, pak. Saya tutup jendelanya.
Setelah sekitar setengah jam mencari barang-barang dirumah Anwar, rupanya para pencuri itu tidak menemukan satupun barang berharga dirumah Anwar. Anwarpun terbangun dari tidurnya. Anwar : Wah,..wah,..wah,..ternyata kalian maling sungguhan. Saya kira saya hanya bermimpi. Didi : Kan kami sudah bilang dari tadi. Anwar : Saya kira, mimpi. Apa yang ingin kalian ambil dari rumah ini??? Didi : maaf ya, pak! Saya ikat dulu bapak. Anwar : Ohhh,…(Anwar hanya terdiam dan pasrah tak mampu berbuat apa-apa). Dodot : Pak, coba panggil semua orang yang berada dirumah ini.
Akhirnya Anwar pun memanggil Wawan dan Andi, karena dirumah itu hanya ada adik dan keponakannya saja. Anwar, Wawan, dan Andi, mereka bertiga diikat oleh para pencuri itu.
Dodot : Hey,..serahkan uang kalian. Anwar : Uuuu…uuang ya, pak. Coba lihat dibelakang televisi. Maman : Mana?? Tidak ada, kamu bohong !!! Andy : Om,..!!Kata ibu guru Andy, bohong itu dosa. Anwar : Hey, diam Andy. (Anwar membisikkan ketelinga Andy, sambil menarik baju belakang Andy). Andy : Pak pencuri uangnya ada dibawah kasur. Anwar : Aduh bodoh, kenapa diberitahu. Dan uang Anwar pun ditemukan pencuri, namun pencuri itu tidak mengambilnya. Anwar : Jangan diambil uang saya, pak. Hanya uang itu yang saya punya, pak. Didi : Kalau ung itu yang kamu punya terus mau apa??? Wawan : Bagaimana kami mau membayar kredit motor dan biaya sekolah, kalau uang itu kalian ambil. (Wawan bermaksud menjelaskan). Dodot : Iya, sudah kembalikan saja uang mereka. (Dodot menjelaskan kepada kedua anak buahnya). Anwar : Terima Kasih, pak. Kalau kalian mau, kalian boleh ambil televisi saya. (Anwar bicara pada Dodot, dengan nada gemetar). Dodot : Man, cepat ambil televisinya. Lalu kita bergegas pergi dari sini. Maman : Beres bos !!! (Maman dan Didi segera mengambil televisi itu).
Setelah para pencuri itu mengambil televisi Anwar, pencuri itu lalu berfikir bagaimana Anwar bisa menonton, kalau televisinya mereka ambil. Itukan televisi satu-satunya kepunyaan Anwar. Akhirnya mereka pun mengembalikan televisi itu.
Anwar : Loh,..!! Kenapa kalian kembali lagi??? Apa televisi itu kurang ????... Dodot : Kami tidak tega mengambil televisi ini. (Teriak Dodot dengan lantang). Didi : Iya, pak. Kami mau mengembalikan televisi ini. Bagaimana bapak mau menonton bola, kalau televisinya kami ambil. Anwar : Kalian ini kalau mau maling, maling saja. Dasar maling yang aneh !!!
Anwar terheran-heran dengan tingkah laku ketiga pencuri itu, yang mencuri tapi hasil curiannya dikembalikan lagi. Akhirnya setelah mengembalikan televisi, datanglah Ahmad seorang yang kaya raya, tetangga sebelah rumah Anwar. Ahmad selalu kesepian dirumahnya, maka dari itu dia sering pergi kerumah Anwar untuk menonton televisi sembari bercerita.
Anwar : Hey mad rupanya ada kamu disini, ayo masuk. Ahmad : Terima Kasih Anwar. (Ahmad pun masuk kerumah Anwar). Anwar : Aku tahu, pasti kamu kesepian dirumah. Makanya kamu kesinikan. (Anwar berkata sambil menghidupkan televisinya). Ahmad : Benar sekali kata-katamu, war. Aku merasa bosan dan kesepian dirumah.(sambil menyandarkan badannya ke kursi). Anwar : Oh,..begitu…!!! Ahmad : Oh, iya war. Laki-laki ini siapa…??? (menunjuk kearah Dodot dengan kebingungan). Anwar : Hmmmm,…(Anwar pun ikut binggung mau menjawab apa). Dodot : Saya Dodot, pak. Saya seorang pencuri. (Jelasnya). Ahmad : Loh, kok pencuri…..??? Baru kali ini saya dengar pencuri ngaku didepan saya dan diam disini saja. (Ahmad tersenyum sambil kebingungan). Anwar : Dia gak mau mencuri disini, mad. Dia maunya mencuri dirumahmu, mad. Rumah orang kaya gitu…!!! (seru Anwar sambil tertawa, seraya mengejek Ahmad). Ahmad : Ohh, boleh-boleh saja, dirumah saya ada televisi TOSHIBA layar datar 41 in, ambil saja. (bermaksud main-main kepada Dodot). Dodot : Baiklah dengan senang hati, saya akan mengambil televisi Pak Ahmad. (Dodot pun beranjak dari tempat duduknya, dan menuju kerumah Ahmad untuk mengambil televisi itu).
Setelah menyuruh pencuri itu mengambil televisi si Ahmad. Akhirnya Ahmad sadar, bahwa perkataannya tadi ditanggapi serius oleh si Dodot. Kemudian Ahmad pun bergegas kembali ke rumahnya, menyusul si Dodot. Setibanya dirumah, Ahmad langsung melihat ke arah ruang keluarga.
Ahmad : Astafirulloh’, mana televisi kesayanganku….!!! Kemana larinya Dodot si pencuri itu ? Aku kehilangan jejaknya. (Ahmad berlari dari rumahnya, menuju kerumah Anwar sambil menjerit-jerit). Tolong,..tolong…Televisi ku hilang…!!! Anwar : Ada apa, mad…??? (Anwar kebingungan). Ahmad : Wah Anwar, rupanya yang tadi pencuri itu, ternyata memang benar pencuri, yah…??? (Ahmad berkata sambil memegang kedua bahun Anwar). Anwar : Iya mad, tenang-tenang. Memangnya ada apa, mad…??? Ahmad : Ada apa, ada apa… Wah,..bener-bener gila kamu, war…!!! Televisi ku hilang, war. Rupanya Dodot itu benar-benar pencuri. Anwar : Kamu itu yang gila, kan sudah aku bilang bahwa dia itu pencuri. Eh,..malah kamu suruh ambil televisi dirumahmu. Aneh kamu, mad !!! Ahmad : Kalau begitu akan ku kejar mereka. (Anwar pun berlari sambil berteriak). MALING,…MALING….MALIIINGGG,……….. Akhirnya televisi Anwar tidak jadi dicuri, tetapi Ahmad lah yang kehilangan televisinya. Pencuri tersebut mencuri televisi milik Ahmad, seorang yang kaya raya. Pencuri itu tidak tega untuk mencuri barang milik Anwar yang hanya barang satu-satunya. Anwar pun menjuluki pencuri itu dengan nama, “PENCURI BERHATI EMAS”. *SELESAI* 
 | DFC 2011 | Mar 12, '11 10:44 AM for everyone |
DFC 2011, PRA LAUNCHING KARYA CALON PROFESOR BIDANG OLAHRAGA PALEMBANG – Di tengah kisruh revormasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang kini tengah santer didengungkan di penjuru negeri, para pekerja seni ternyata sama sekali tak mau kalah oleh kondisi tersebut. Terbukti dari kegiatan positif bertajuk Dramatic Futsal Competition (DFC) 2011 yang dihelat oleh CV Dramata Kreasi Media (Sindikat Dramata) bekerjasama dengan teater Lawas Palembang di Futsal One Jl A Yani (samping kampus utama Bina Darma) Plaju Minggu (6/3) dan Selasa (8/3) pukul 08.00—14.00 wib. Helatan akbar ini diusung dalam rangka pra-peluncuran buku Psikologi Olahraga dan Kepelatihan karya Dr Sukirno salah satu staf pengajar Program Studi Pendidikan Olahraga Unsri dan hari jadi teater Lawas yang kedua. Event ini merupakan pembuktian bahwa kesenian dan olahraga merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan. Bagaimana tidak? Helatan olahraga yang kini kian digandrungi oleh kaum muda di kota Palembang, diusung oleh komunitas seni (teater) yang notabenenya adalah para pekerja seni. Tidak main-main, event yang digawangi Hanna Ariyani (ketua pelaksana) ini telah menggaet 40 tim futsal dari kalangan pelajar dan mahasiswa di kota pempek. “Event kali ini kita adakan sebagai jembatan atau kegiatan pra-peluncuran karya calon professor di bidang olahraga yang belum ada di Palembang. Kita memang sengaja memadukan dengan sentuhan kesenian, sekaligus kita melihat sejauh mana segmentasi olahraga di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ternyata lebih dari dugaan kita sebelumnya, kaum akademisi sangat antusias dan merespon positif dengan kegiatan ini,” ujar Hanna saat dikonfirmasi wartawan koran ini disela-sela technical meeting, kemarin (5/3). Hanna melanjutkan, dalam event DFC 2011 kali ini, peserta akan memperebutkan hadiah utama berupa tropi bergilir Sukirno Cup 2011, uang pembinaan, piagam, dan beberapa merchandise lainya. Tentu hal ini merupakan terobosan yang boleh jadi belum pernah digarap oleh komunitas seni di Palembang, selain itu event ini juga merupakan bentuk kesiapan generasi muda Palembang dalam menyongsong SEA Games XXVI yang akan dihelat di Sumsel 11 November mendatang. Sementara itu, Suharno S Pd sebagai Direktur Umum CV Dramata Kreasi Media mengatakan bahwa peluncuran buku Psikologi Olahraga dan Kepelatihan karya Dr Sukirno memang sengaja belum dilaunching pada kegiatan DFC 2011, pasalnya peluncuran buku tersebut akan digarap secara lebih khusus, akhir Maret, karena pertimbangan prestise dan kualitas karya tulis seorang calon professor. “Kita mau melihat dulu sejauh mana respon pasar dan pertimbangan momentum untuk peluncuran buku calon professor ini. Kita sudah siapkan garapan acara yang lebih wah pada akhir Maret mendatang,” tutup dia. (*) Hasil Pertandingan :
Juara I dan Juara II : DON FC vs Persejati FC skor 5—2 Juara I : DON FC Juara II : Persejati FC
Juara III dan harapan : Agrema FC 7—3 Satria FC Juara III : Agrema FC Harapan : Satria FC
Pemain terbaik : Gali Raksiwi dari DON FC Kiper terbaik : Slamet Hariyadi (Persejati FC) Top skore : M Fajrin (DON FC)
Dramatic Futsal Competition (DFC) 2011 Event perlombaan futsal antar pelajar dan mahasiswa sekota Palembang yang dihelat oleh Sindikat Dramata bekerjasama dengan Teater Lawas Palembang yang bertajuk Dramatic Futsal Competition (DFC) 2011 bisa dikatakan sukses besar. Bayangkan saja, dalam event yang dihelat di Futsal One (Samping kampus utama Bina Darma) Plaju Palembang pada Minggu (6/3) dan Selasa (8/3) ini, mampu menggaet 46 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa Palembang. Kegiatan yang diusung dalam rangka Pra-Peluncuran buku Psikologi Olahraga dan Kepelatihan dan ulang tahun Teater Lawas Universitas PGRI Palembang ini sekaligus membuktikan bahwa teater bukan hanya mampu diterapkan di atas panggung pertunjukkan saja, tetapi juga di bidang olahraga.(*)
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Dedi Damhudi |
BAB I
HAKIKAT DAN SEJARAH DRAMA/TEATER
1. Pengertian Drama/Teater
Sebagai suatu genre sastra, drama mempunyai kekhususan dibandingkan dengan genre sastra lain, layaknya piuisi dan fiksi. Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan kepada bentuk karya yang bereaksi langsung secara kongkret. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis oleh pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajenatif oleh pembacanya, melainkan juga harus dilanjutkan pada sebuah pementasan secara visual di atas panggung pertunjukkan. Kekhususan drama inilah yang menjadikan drama sebagai genre sastra yang berorientasi pada seni pertunjukkan dibanding genre sastra lain. Untuk itulah, drama dapat dianggap sebagai suatu karya yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukkan. Untuk lebih jelas, berikut akan digambarkan secara singkat hubungan teater dan drama sebagai satu kesatuan yang utuh.
Teater berasal dari kata Yunani, theatron (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya.
Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Harymawan (dalam Santosa, 2008:1) membatasi teater sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”. Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton.
Namun, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno draomai yang berarti bertindak atau berbuat. Kata lain dari drama yakni drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM).
Hubungan kata teater dan drama bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Santosa, 2008:1).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah teater berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan drama berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika drama adalah lakon dan teater adalah pertunjukan maka drama merupakan bagian atau salah satu unsur dari teater. Jika digambarkan maka peta kedudukan teater dan drama adalah sebagai berikut.
Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut akting. Istilah akting diambil dari kata Yunani dran yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut aktor dan pemain wanita disebut aktris (Harymawan dalam Santosa, 2008:2). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater.
Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa sandi berarti rahasia, dan wara atau warah yang berarti, pengajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara sandiwara berarti pengajaran yang dilakukan dengan perlambang (Harymawan dalam Santosa, 2008:3).
Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, dalam Santosa, 2008:4). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater.
Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Menurut Harymawan (dalam Santosa, 2008:4) tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan.
M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan.
M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan bagi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan.
M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan.
M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut.
Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.
2. Sejarah Drama di Dunia
2.1 Drama Klasik
Yang disebut drama klasik adalah drama yang hidup pada zaman Yunani dan Romawi. Pada masa kejayaan kebudayaan Yunani maupun Romawi banyak sekali karya drama yang bersifat abadi, terkenal sampai kini.
1. Zaman Yunani.
Asal mula drama adalah Kulrus Dyonisius. Pada waktu itu drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada Dewa Domba/Lembu. Sebelum pementasan drama, dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang disebut “tragedi”. Dalam perkembangannya, Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang, berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Komedi sebagai lawan dari kata tragedi, pada zaman Yunani Kuno merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir penderitaan hidup manusia. Ada 3 tokoh Yunani yang terkenal, yaitu: Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Menurut Plato, keindahan bersifat relatif. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi itu menurut Plato bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan. Karya Plato yang terkenal adalah The Republic.
Aristoteles juga tokoh Yunani yang terkenal. Ia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik, tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebijakan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya itu mempunyai watak yang menentu.
Sophocles adalah tokoh drama terbesar zaman Yunani. Tiga karya yang merupakan tragedi, bersifat abadi, dan temanya Relevan sampai saat ini. Dramanya itu adalah: “Oedipus Sang Raja”, “Oedipus di Kolonus”, dan “Antigone”. Tragedi tentang nasib manusia yang mengenaskan.
Tokoh Lain yang dipandang tokoh pemula drama Yunani adalah Aeschylus, dengan karya-karyanya: “Agamenon”, “The Choephori”, “The Eumides”. Euripides yang hidup antara 485-306 SM, merupakan tokoh tragedi, seperti halnya Aeschylus. Karya-karya Euripides adalah: Electra, Medea, Hippolytus, The Troyan Woman dan Iphigenia in Aulis.
Jika Aeschylus, Sophocles, dan Euripides merupakan tokoh strategi, maka dalam hal komedi ini mengenal tokoh Aristophanes. Karya-karyanya adalah : The Frogs, The Waps, dan The Clouds.
Bentuk Stragedi Klasik, dengan ciri-ciri tragedi Yunani adalah sebagai berikut :
1) Lakon tidak selalu diakhiri dengan kematian tokoh utama atau tokoh protagonis.
2) Lamanya Lakon kurang dari satu jam.
3) Koor sebagai selingan dan pengiring sangat berperan (berupa nyanyian rakyat atau pujian).
4) Tujuan pementasan sebagai Katarsis atau penyuci jiwa melalui kasih dan rasa takut.
5) Lakon biasanya terdiri atas 3-5 bagian, yang diselingi Koor (stasima). Kelompok Koor biasanya keluar paling akhir (exodus).
6) Menggunakan Prolog yang cukup panjang.
Bentuk pentas pada zaman Yunani berupa pentas terbuka yang berada di ketinggian. Dikelilingi tempat duduk penonton yang melingkari bukit, tempat pentas berada di tengah-tengah. Drama Yunani merupakan ekspresi religius dalam upacara yang bersifat religius pula.
Bentuk Komedi, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1) Komedi tidak mengikuti satire individu maupun satire politis.
2) Peranan aktor dalam komedi tidak begitu menonjol;
3) Kisah lakon dititikberatkan pada kisah cinta, yaitu pengejaran gadis oleh pria yang cintanya ditolak orang tua/famili sang gadis.
4) Tidak digunakan Stock character, yang biasanya memberikan kejutan.
5) Lakon menunjukan ciri kebijaksanaan, karena pengarangnya melarat dan menderita, tetapi kadang-kadang juga berisi sindiran dan sikap yang pasrah.
2. Zaman Romawi
Terdapat tiga tokoh drama Romawi Kuno, Yaitu: Plutus, Terence atau Publius Terence Afer, dan Lucius Senece. Teater Romawi mengambil alih gaya teater Yunani. Mula-mula bersifat religius, lama-kelamaan bersifat mencari uang (show biz). Bentuk pentas lebih megah dari zaman Yunani.
2.2 Teater Abad Pertengahan
Pengaruh Gereja Khatolik atas drama sangat besar pada zaman Pertengahan ini. Dalam pementasan ada nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan Koor. Kemudian ada pelanggan “Pasio” seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini.
Ciri-ciri khas theater abad Pertengahan, adalah sebagai berikut :
1) Pentas Kereta.
2) Dekor bersifat sederhana dan simbolik.
3) Pementasan simultan bersifat berbeda dengan pementasan simultan drama modern.
2.3 Zaman Italia
Istilah yang populer dalam zaman Italia adalah Comedia Del’arie yang bersumber dari komedi Yunani. Tokoh-tokohnya antara lain: Date, dengan karya-karyanya: The Divina Comedy Torquato Tasso dengan karyanya drama-drama liturgis dan pastoral dan Niccolo Machiavelli dengan karya-karyanya Mandrake.
Ciri-ciri drama pada zaman ini, adalah sebagai berikut :
1) Improvitoris atau tanpa naskah.
2) Gayanya dapat dibandingkan dengan gaya jazz, melodi ditentukan dulu, baru kemudian pemain berimprovisasi (bandingkan teater tradisional di Indonesia).
3) Cerita berdasarkan dongeng dan fantasi dan tidak berusaha mendekati kenyataan.
4) Gejala akting pantomime, gila-gilaan, adegan dan urutan tidak diperhatikan.
2.4 Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Teater-teater didirikan sendiri atas prakarsa sang ratu. Shakespeare, tokoh drama abadi adalah tokoh yang hidup pada zaman Elizabeth.
Ciri-ciri naskah zaman Elizabeth, adalah:
1) Naskah Puitis.
2) Dialognya panjang-panjang.
3) Penyusunan naskah lebih bebas, tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
4) Lakon bersifat simultan, berganda dan rangkap.
5) Campuran antara drama dengan humor.
2.5 Perancis : Molere dan Neoklasikisme
Tokoh-tokoh drama di Prancis antara lain Pierre Corneile (1606-1684, dengan karya-karya: Melite, Le Cid), Jean Racine (1639-1699, dengan karya: Phedra).
2.6 Jerman: Zaman Romantik
Tokoh-tokoh antara lain: Gotthold Ephrairn Lessing (1729-1781, dengan karya Emilla Galott, Miss Sara Sampson, dan Nathan der Weise), Wolfg Von Goethe (1749-1832, dengan karya: Faust, yang difilmkan menjadi Faust and the Devil), Christhoper Frederich von Schiller (1759-1805, dengan karya: The Robbers, Love and Intrigue, Wallenstein, dan beberapa adaptasi dan Shakespeare).
2.7 Drama Modern
1) Norwegia : Ibsen
Tokoh paling terkemuka dalam perkembangan drama di Norwegia adalah Henrik Ibsen (1828-1906). Karya Ibsen yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di Indonesia adalah “Nova”, saduran dari terjemahan Armyn Pane “Ratna”. Karya-karya Ibsen adalah Love’s Comedy, The Pretenders, Brand dan Peer Gynt (drama puitis), A Doll House, An Emeyn of the people, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmersholm.
2) Swedia : August Strinberg
Tokoh drama paling terkenal di swedia adalah Strindberg (1849-1912). Karya-karya drama yang bersifat historis dari Strindberg di antaranya adalah Saga of the Folkum dan The Pretenders, Miss Julia dan The Father adalah drama naturalis. Drama penting yang bersifat ekspresionitis adalah A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
3) Inggris : Bernard Shaw dan Drama Modern.
Tokoh drama modern Inggris yang terpenting (setelah Shakespeare) adalah George Bernard Shaw (1856-1950). Ia dipandang sebagai penulis lakon terbesar dan penulis terbesar pada abad Modern.
4) Irlandia : Yeats sampai O’Casey
Tokoh penting drama Irlandia Modern adalah William Butler Yeats yang merupakan pemimpin kelompok sandiwara terkemuka di Irlandia dan Sean O’Casey (1884) dengan karyanya: The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Start, The Silver Tassie, Withim the Gates, dan The Start Turns Red. Tokoh lainya adalah John Millington Synge (1871-1909) dengan karya-karya: Riders to the Sea, dan The Playboy of the Western World. Synge merupakan pelopor teater Irlandia yang mengangkat dunia teater menjadi penting disana.
5) Perancis : dari Zola sampai Sartre
Dua tokoh drama terkemuka di Prancis adalah Emile Zola (1840-1902) dan Jean Paul Sartre (1905).
6) Jerman dan Eropa Tengah : dari Hauptman sampai Brecht
Banyak sekali sumbangan Jerman terhadap drama modern Tokoh seperti Hebble dan temannya telah mempelopori a1iran Realisme. Pengarang Naturalis yang terkenal adalah Gerhart Huptman (1862-1945) dan Aflhur Schnitzler (1862-19310).
7) Italia : dari Goldoni sampai Pirandillo
Setalah zaman resenaissance, karya-karya drama banyak berupa opera disamping comedia dell’arte. Tokoh drama Italia antara lain Goldoni (1707-1793) dengan karya Mistress of the Inn. Gabrille D’Annunzio (1863-1938) dan Luigi Pirandello (1867-1936).
8) Spanyol : dari Benavente ke Lorca
Bagi Spanyol, abad XX dipandang sebagai abad kebangkitan dromatic spirit. Tokohnya antara lain: Jacinto Benavente (1866-1954) yang pernah mendapat hadiah Nobel 1922. Sezaman dengan Benavente adalah Gregorio Martinez Sierra (1881-1947) dengan karyanya The Cradle Song. Pengarang paling penting pada zaman modern di Spanyol adalah penyair dan penulis drama Federico Garcia Lorco (1889-1936).
9) Rusia : dari Pushkin ke Andreyev
Tzarina Katerin Agung dipandang sebagai pengembangan drama di Rusia. Pengarang pertama yang dipandang serius adalah Alexander Pushkin (1799-1837) dengan karyanya Boris Godunov, sebuah tragedi historis.
10) Amerika : Golfrey sampai Miller
Pengarang drama yang penting di Amerika adalah Thomas Godfrey, dengan karyanya The Princes of Parthic (1767).
Sejak adanya Broadway sebagai pusat teater, perkembangan teater di Amerika sangat pesat. Tokoh-tokohnya antara lain Eugne Gladstone O’Neill (1888-1953). Tokoh drama lainya Maxwell Anderson (188-1959). Dengan karyanya: Elizabeth the Queen, Mary of Scotland, dan Anne of Thousand Days. Juga Winterset, What Price Glory, Both Your houses dan High Tor. Thornton Wulder (1897- .....) dengan karyanya Our Town, The Skin of Our Theeth, dan The Matchmake,: Elmer Rice (1892-....), karyanya: Street Scene (mendapat hadiah Pulitzer), The Adding Machine, dan Dream Girl.
Beberapa pengarang lain diantaranya Clifford Odets (yang dikenal dengan protes sosialnya, (Tennesse Williams dan Arthur Miller, Odets (1906-…..). antara lain mengarang: Waiting-for Lefty, Golden Boy, Awake and Sing, The country Girl, dan The Flowering Peach. Pengikut Odets sebagai pengarang protes sosial adalah: Lilian Heilman Saroyan (1905-….). Yang dikenal sebagai pengarang masa kini di antaranya adalah Tennesse Williams (1914-.….) Arthur Miller (1915-….) dan William Inge.
Pengarang lainnya adalah: Robert Anderson (karyanya: Tea and Shympathy, All Summer Long, an Silent Night, Lonely Night). William Gibson (Karyanya: Two for the Seesaw dan The Miracle Worker). Brooks Atkinson (karyanya: The New York Times). Drama Komedi musikal juga berkembang di Amerika, misalnya: A Trip to Chinatown (oleh Charles Hoyt), Forty Five Minutes from Broadway (oleh George M. Cohan), Of There I Song karya George S.
3. Perkembangan Teater di Indonesia
3.1 Teater Tradisional
Teater yang berkembang dikalangan rakyat disebut teater tradisional, sebagai lawan dari teater modern dan kontemporer. Teater tradisional tanpa naskah (bersifat improvisasi). Sifatnya supel, artinya dipentaskan disembarang tampat. Jenis ini masih hidup dan berkembang didearah – daerah di seluruh Indonesia . Yang disebut teater tradisional itu, oleh Kasim Ahmad diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu sebagai berikut (1981: 113-131).
3.1.1 Teater Rakyat
Sifat teater rakyat seperti halnya teater tradisional, yaitu improvisasi sederhana, spontan dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Contoh – contoh teater rakyat adalah sebagai berikut.
1) Makyong dan Mendu di daerah Riau dan Kalimantan Barat.
2) Randai dan Bakaba di Sumatera Barat.
3) Mamanda dan Berpandung di Kalimantan Selatan.
4) Arja, Topeng Prembon, dan Cepung di Bali.
5) Ubrug, Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Tarling, dan Ketuk Tilu dari Jawa Barat.
6) Ketroprak, Srandul, Jemblung, Gataloco di Jawa Tengah.
7) Kentrung, Ludruk, Ketroprak, Topeng Dalang, Reyong, dan Jemblung di Jawa Timur (Reyong yang biasanya hanya tarian itu ternyata sering berteater juga).
8) Cekepung di Lombok.
9) Dermuluk disematera Selatan dan Sinlirik di Sulawesi Selatan.
10) Lenong, Blantek, dan Topeng Betawi di Jakarta dan sebagainya.
11) Randai di Sumatera Barat.
3.2 Teater Klasik
Sifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur, dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung pertunjukan yang memandai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat (penontonnya). Lahirnya jenis teater ini dari pusat kerjaan. Sifat feodalistik tampak dalam jenis teater ini. Contoh – contohnya: Wayang Kulit, Wayang Orang, dan Wayang Golek. Ceritanya statis, tetapi memilki daya tarik berkat kreativitas dalang atau pelaku teater tersebut dalam menghidupakan lakon.
3.3 Teater Transisi
Teater transisi merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penajiannya sudah dipengaruhi oleh teater Barat. Jenis teater seperti Komidi Stambul, Sandiwara Dardanela, Sandiwara Srimulat, dan sebagainya merupakan contoh teater transisi. Dalam Srimulat sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan Ludruk atau Ketoprak, tetapi jenis ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor, dan property lain menggunakan teknik Barat.
3.3.1 Abdul Muluk
Grup teater ini merupakan awal grup teater yang meninggalakan ciri – ciri tradisional, misalnya sebagai berikut.
1) Tidak lagi bersifat improvisasi, tetapi naskah sudah mulai membagi peran.
2) Tidak lagi mengandalkan segi tari dan lagu.
3) Struktur lakonnya tidak lagi statis, tetapi disesuaikan dengan perkembangan lakon atau cerita sastra.
3.3.2 Komedi Stambul
Lahir pada tahun 1891 dan didirikan oleh August Mahieu. Menampilkan lagu-lagu Melayu, maka komedi stambul disebut pula opera Melayu. Cerita yang ditunjukan sudah merupakan cerita yang bervariasi, seperti: “ 1001 Malam”, “ Nyai Dasima”, “Oey Tam Bah Sia”, “ Si Conat”, “Halmet”, “Saudager Venesia”, “Penganten Di Sorga”, “De Roos Van Serang”, “Annie Van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan sebagainya.
3.3.3 Dardanella
Didirikan oleh Willy Klimanoff yang kemudian mengganti namanya dengan A. Piedro. Tanggal 21 juni 1926 didirikan The Malay Opera Dardanella. Dalam teater ini, tidak lagi ada nyanyian. Lakon – lakon diambil dari Indische Roman. Pemain yang masih dikenal hingga kini, misalnya: Tan Ceng Bok, Devi Ja, Fifi Young, Pak Kuncung, dan sebagainya. Cerita yang dipentaskan dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
1) Cerita dari kisah 1001 Malam (missal:”Ali Baba”, “Aladin”, “Nur Cahaya”, “Abu Hasan”, “Nur Tuhan”, dan sebagainya),
2) Cerita dari film popular saat itu (missal:”The Merry Widow”, “The Three Musketeer”, “Zorro”, “The Son Of Zorro”, “Two Lovers”, “Dougles Fairbank”, dn sebagainya),
3) Cerita lama yang terkenal (misal: “Roses Of Zorro”, “Vera”, “Graff de Monte Cristo”),
4) Cerita yang tergolong Indische Roman (misal: “De Ross van Serang”, “Perantaian 99”, “Annie van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan sebagainya).
3.3.4 Maya
Timbulnya teater Maya dipengaruhi oleh saudagar-saudagar Cina yang gemar akan teater. Maya dipimpin oleh Usmar Ismail. Bersama itu, muncul pula Cahaya Timur yang dipimpin Anjar Asmara. Berkat pengaruh pendidikan barat, banyak karya asli yang dihasilkan. Maya banyak mementaskan karya-karya pengarang Indonesia . Hal ini juga berkat kemajuan dokumentasi Pusat Kebudayaan Jepang di Indonesia saat itu (Keimin Bunka Sidosho). Di samping hal tersebut, tampaknya peran sutradara sudah sangat penting. Naskah – naskah mengambil dari bumi Indonesia , meskipun masih meneladan pentas dunia Barat.
3.3.5 Cine Drama Institut
Lahir di Yogya tahun 1948 dan merupakan embrio bagi ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film) dengan pusatnya di Yogyakarta . Banyak tokoh Yogyakarta yang mengembangkan teater seperti Kirdjomuljo, Rendra, Soebagio Sastrowardojo, Dokter Hoejoeng, Harymawan, Sri Moertono, dan sebagainya. Pantas dicatat pula, bahwa di Bogor juga bangkit kegiatan teater sekitar tahun 1950-an dengan teaternya bernama Teater Bogor. Di Surabaya juga muncul binatang Surabaya Film Co, sedangkan di Jakarta muncul Akademi Teater Nasional Indonesia (1955) yang seperti halnya ASDRAFI banyak melahirkan tokoh-tokoh teater masa kini. Kemudian muncul pula studi Grup Drama Yogya Pimpinan Rendra, Federasi Teater Kota Bogor pimpinan Taufiq Ismail, Himpunan Seniman Budayawan Islam pimpinan Junan Helmy Nasution dan Taeter Muslim di Yogya Dipimpin oleh Muhamad Diponogoro.
3.4 Zaman Kemajuan Dunia Teater
Sejak tahun 1968, yaitu Rendra pulang dari Amerika dan mendirikan Bengkel Teater di Yogya, maka mulailah zaman kemajuan dunia teater. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai ajang kreativitas para seniman (termasuk juga dramawan), kiranya menambah kemajuan dunia teater. Jika Yogya adalah tempat penggembelang para calon dramawan, maka Jakarta adalah tempat di mana mereka berlaga. Tidak bisa dipungkiri, dalam hal demikian, peranan Taman Ismail Marzuki tidak sedikit. Banyak dramawan diwisuda melalui pementasan rutin disana.
1) Bengkel Teater Rendra
Grup teater ini didirikan Rendra dikampung ketanggunan Yogyakarta , pada tahun 1968. Pementasan – pementasan drama yang melakukan selalu mendapatkan sambutan hangat dari penonton. Pementasannya seolah menjadi peta teater ditanah air. Ia seorang dramawan besar. Kebesarannya terbukti dengan penghargaan dari pemerintah berupa anugerah seni tahun 1975. ia juga mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta, kesenian Jakarta , Karena lima tahun berturut-turut telah membina drama. Kelebihan – kelebihan teater Rendra yang sulit dimiliki teater lainya, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Popularitas Rendra, ia sebagai sutradara yang baik, penyiar, aktor, dan juga penyusun naskah drama.
b. Penyutradaraan yang baik. Sebagai sutradara, Rendra dipandang sebagai salah seorang dari beberapa gelintir sutradara terbaik negeri ini.
c. Daya kreativitas Rendra cukup tinggi ia tidak menggunakan konsep yang statis dalam penyutradaraan. Pada setiap pementasan ada unsur baru.
d. Rendra adalah aktor yang baik. Dalam setiap pementasan, Rendra selalu ikut main dan bahkan menjadi pelaku utama.
e. Memilih naskah yang bermutu. Rendra sendiri pandai menerjemahkan naskah drama dari bahasa asing, maka ia dapat memilih naskah yang bermutu.
2) Teater Populer
Nama besar lain dalam dunia penyutradaraan teater, adalah Teguh Karya, dengna kelompoknya yang bernama Teater Populer HI, karena secara rutin berpentas di Hotel Indonesia, kemudian disebut Teater Populer saja. Kubunya menghasilkan nama-nama besar dalam dunia Teater dan film. Pemborong-pemborong piala citra, banyak dihasilkan dari kelompok teater popular ini. Kita kenal: Slamet Rahardjo, El Malik, Christine Hakim, N. Riantiarno, Sayanglah bahwa akhir-akhir ini teaternya teguh Karya lebih berorientasi ke film, sehingga pementasan teaternya yang sring dijadikan tolok ukur peta kemajuan teater Indonesia tidak depat kita lihat.
3) Teater Kecil
Pada masa kejayaannya, di Indonesia pernah terdapat tiga grup teater yang besar, yaitu: Bengkel Teater, Teater Populer, dan Teater kecil. Teater Kecil dipimpin oleh Arifin C. Noer. Melebihin kedua tokoh lainnya, Arifin adalah penulis naskah yang produktif. Naskahnya dipandang memiliki warna Indonesia . Penulis dari cirebon ini, sering memasukan unsur kesenian daerahnya keadalam teater yang ditulis/ dipentaskannya.
4) Teater Koma
Teater berwibawa yang akhir-akhir ini belum terjun kedunia film dalam arti sepenuhnya adalah Teater Koma yang dipimpin oleh Nano Riantiarno. Ia adalah penulis naskah drama yang kuat, dan sutradara yang potensial setelah surutnya generasi Teguh Karya, Arifin, dan “Opera Ikan Asin” dan “Opera Kecoa”, yang berbicara tentang rakyat jelatan.
5) Teater Mandiri
Hampir seluruh pementasan Teater Mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Widjaya. Darmawan dari Bali yang juga sarjana hokum dari Universitas Gadjah Mada, serta bekas anak buah Rendra ini termasuk penulis drama ulung. Drama-dramanya yang akhir-akhir ini banyak kali ditulis dan dipentaskan mendapat warna kuat dari “Menunggu Godot” yang pernah dipentaskan bersama Rendra di Bengkel Teater, yaitu kisah penantian terhadap datangnya suatu kebahagiaan yang selalu tercipta.
6) Bengkel Muda Surabaya
Grup teater pimpinan Akudiat dari Surabaya ini terkenal karena rombongan kentrungnya. Drama kentrung Akudiat tersebut hanyalah dalam arti adanya iringan kentrung dalam pementasannya. Lakonya menggingatkan kita pada bentuk Seniaman Sintingnya Majuki.
7) Teater Lain
Disamping teater – teater yang sudah disebutkan didepan, banyak teater lainya yang disebut tangguh dan menyemarakkan dunia drama di Indonesia akhir-akhir ini, antara lain: Teater Keliling (pimpinan Rudolf Puspa dan Derry Sirna); Teater Dinasti (pimpinan Emha Ainun Najib); Study Teater Bandung (pimpinan Suyatna Anirun); Teater Padang (pimpinan Wirsan Hadi); Teater Dewan Keseniana Ujung padang (pimpinan Rahmat Age), dan sebagainya.
8) Kecendrungan Mutakhir
Ada beberapa kecendrungan Mutakhir drama di Indonesia , yaitu: Drama Eksperimental seperti karya Rendra berikut ini.
a. Drama Non-Konvensional, seperti karya Akhdiat dan Putu Widjaya.
b. Drama Absurd, seperti karya-karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Noer.
c. Eksistensialisme, seperti karya-karya Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, dan Putu Widjaya.
d. Kehidupan Gelandangan, seperti karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Noer.
e. Teater Lingkungan dan Warna Daerah, seperti karyaAkhudiat yang memadukan teater modern denga kentrung (Bengkel Muda Surabaya); Wirsan Hadi yang mengetegahkan ciri dari teater tradisional Minangkabau; Teater Jeprik Yogya yang memasukkan tarian ketropak dan gamelan Jawa Dalam teater lingkungan yang diekspresikan.
f. Kritik sosial, baik yang keras (seperti karya-karya Rendra). Ataupun yang halus (seperti karya-karya N. Riantiano akhir-akhir ini.)
Berikut beberapa tokoh drama Indonesia yang memiliki muatan kritik sosial dalam setiap karyanya baik kritik sosial yang keras maupun halus:
1) W. S. Rendra
Sudah sejak sebelum studi di American Academy of Dramatical Art (AADA), rendra sudah menunjukan potensinya yang besar dalam dunia teater (drama). Sepulangnya dari Amerika Serikat pada tahun 1967, potensinya dalam bidang teater lebih mantap Sekitar tahun 1968 didirikanya “Bengkel Teater” yang secara berturut-turut dan terus-menerus menghasilkan drama-drama bermutu.
2) Arifin C. Noer
Dari Arifin C. Noer kita memperoleh dua lakon yang mewakili ciri-ciri kemutakhiran, yaitu “Mega-mega” dan “Kapai-kapai”. Kedua drama ini berbicara tentang orang-orang terpencil, tersisa, atau orang papa. Akan tetapi keduanya juga berbicara tentang harapan. Bahwa dia dalam kehidupan yang papa, manusia selalu mempunyai harapan, yang datangnya dari kekuasaan di atas manusia.
3) Iwan Simatupang
Puncak absurditas kehidupan dan filsafat eksistensialisme dalam drama kiranya dapat kita hayati lewat drama Iwan Simatupang yang berjudul “ Taman ”. Tokoh-tokoh dalam drama “ Taman ” adalah manusia – manusia yang mencoba menyadari eksistensimya. Justru dengan kesadaran itu, mereka merasa bahwa kehidupan ini absurd. OT dan LSB menunjukan perdebatan konyol untuk membuktikan bahwa orang itu memiliki eksistensi yang berbeda. Demikian juga perjumpaan antara PB dengan wanita telah menghasilkan konflik karena mereka masing-masing menyadari eksistensinya.
4) Putu Widjaya
Putu Widjaya banyak mengadakan eksperimen dengan tokoh-tokoh drama yang tidak menunjukan identitas individual. Drama-dramanya disamping dengan tokoh-tokoh yang non-konvensional juga menunjukan sifat abstrak (sukar dipahami). Judul-judul dramanya begitu singkat. Misalnya: “Bom”, “Tai”, “Aduh”, “Sssst”, “Gress”, dan sebagainya. Drama-drama pintu oleh Goenawan Moehammad dinyatakan sebagai drama yang tumbuh dari penggalaman yang konkrit, artinya dalam menulis lakon-lakon itu, Putu membekali dirinya dengan pengalaman.
5) Akhudiat (Parodi dan Kentrung)
Warna daerah dihidupkan kembali lewat tangan Akhudiat dalam dramanya “Joko Tarub”. Sifat kedaerahan Joko tarub diberi bumbu penyedap supaya cocok dengan selerah masa kini. Atavisme yang muncul diberi warna baru, sehingga terjadi dekontruksionisme terhadap tokoh-tokohnya. Joko tarub dan Nawang Wulan tidak seperti yang digambarkan dalam mitos-mitos lama di jawa. Kecendrungan semacam itu kiranya banyak muncul pada dekade terakhir perkembangan drama di Indonesia.
6) Riantiarno: Penampilan Kehidupan Kumuh
Di depan penulis sering kali menyebut-nyebut nama Riantiarno sebagai dermawan besar saat ini. Ia banyak menyebutkan kehidupan kumuh. Bukan kehidupan orang gelandangan seperti karya-karya Arifin C. Noer, akan tetapi kehidupan rakyat jembel dengan problemanya dan Riantiarno mencoba menjawab problem ini. Tanpa malu-malu (dan ini dapat disebut kebangkitan teater Indonesia modern), Nano melukiskan kehidupan homoseksual dikota metropolitan antara Roima dengan Yulimi.
g. Kritik Sosial
Baik karya Rendra, Arifin, Putu, maupun Riantiarno sebenarnya menampilkan kritik sosial. Hanya saja cara mereka menyampaikan kritik itu berbeda-beda. Akan tetapi cara memandang realitas adalah sama. Mereka berpandangan bahwa dalam masyarakat masih ada kepincangan. Ketidakadilan, penghisapan manusia atas manusia penyelewengan dari mereka yang harusnya menegakkan hukum dan keadilan, dan sebagainya. Dengan menggunakan gaya , simbol, dan bahasa mereka yang khas, mereka mengiginkan agar kita semua menjadi sadar akan kekurangan-kekurangan itu, dan kalau dapat berusaha turut memperbaikinya. Bukankah karya seni merupakan kekuatan moral?
h. Eksperimen Sendiri
Jika tadinya para drawaman senantiasa berkiblat berkiblat ke barat, maka pada periode mutakhir ini mereka mencoba mengadakan eksperimen sendiri. Meskipun bentuk eksperimennya masih kurang berani karena takut dicap kembali kesifat tradisional, akan tetapi kita harus mengakui bahwa bentuk-bentuk eksperimen itu menunjukan kreativitas mereka.
Eksperimen yang cendrung berkembang adalah perpaduan antara teater modern dengan teater tradisional (seperti yang dikemukakan Akhudiat), dan juga bentuk teater abstrak. Sebenarnya hal ini perlu koreksi lagi. Sebelum mengadakan eksperimen dan membuat yang abstrak, perlu dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan membuat bentuk drama yang biasa.
i. Ali Shahab
Teater September dibawah pimpinan Ali Shahab menunjukan suatu kecendrungan dari dalam dunia teater, yaitu masuknya unsur teknologi mutakhir dalam penggarapan drama, khususnya drama televise. Cerita yang hidup dikalangan rakyat digarap secara lebih modern, dengan teknik pemotretan yang cukup mutakhir, mengahsilkan suatu tontonan drama yang menarik. Dalam hal ini, teater September memadukan unsur dramaturgi dengan teknologi bidang elektronik. Dengan eksperimen-eksperimennya, Ali Shahab mencoba menjadikan teater sebagai tontonan yang memikat, menarik dan enak ditonton, bukannya tontonan yang sarat dengan filsafat dan pikiran muluk-muluk.
j. Kecendrungan Lain
Di berbagai kota, banyak darmawan muda yang masih memiliki idealisme tinggi meneruskan kegiatan berteater meskipun secara financial tidak menjanjikan perbaikan nasib di surakarta, kehidupan taman Budaya Surakarta (TBS) dimotori oleh dramawan –dramawan musa seperti Hanindrawan, Sosiawan Leak, dan dramawan-dramawan muda dari 9 fakultas di UNS, serta dari perguruan tinggi lain di Surakarta.
BAB II
KEAKTORAN
1. Keaktoran
1.1 Persiapan Seorang Aktor
Karya seni sang aktor diciptakan melalui tubuhnya sendiri, suaranya sendiri, dan jiwanya sendiri. Hasilnya berupa peragaan cerita yang ditampilkan di depan penonton. Seorang aktor yang baik adalah seorang seniman yang mampu memanfaatkan potensi dirinya. Potensi itu dapat dirinci menjadi: potensi tubuh, potensi driya, potensi akal, potensi hati, potensi imajinasi, potensi vokal, dan potensi jiwa. Kemapuan memanfaatkan potensi diri itu tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dengan giat berlatih.
1.1.1 Pemilihan Peran
Pemilihan aktor-aktris biasanya disebut casting, yaitu sebagai berikut:
1) Casting by Ability: pemilihan peran berdasar kecakapan atau kemahiran yang sama atau mendekati peran yang dibawakan. Kecerdasan seseorang memegang peranan penting dalam membawakan peran yang sulit dan dialognya panjang. Tokoh utama suatu lakon di samping persyaratan fisik dan psikologi juga dituntut memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, sehingga daya hafal dan daya tanggap yang cukup cepat.
2) Casting to Type: pemilihan pemeran berdasarkan atas kecocokan fisik sipemaian. Tokoh tua dibawkan oleh orang tua, tokoh pedagang dibawakan oleh orang yang berjiwa dagang, dan sebagainya.
3) Anty type Casting: pemilihan pemeran bertentangan dengan watak dan ciri fisik yang dibawakan. Sering pula disebut educational casting karena bermaksud mendidik seseiorang memerankan watak dan tokoh yang berlawanan dengan wataknya sendiri dan ciri fisiknya sendiri.
4) Casting to emotional temperament: pemilihan pemeran berdasarkan observasi kehisupan pribadi calon pemeran. Meraka yang memiliki banyak kecocokan denga peran yang dibawakan dalam hal emosi dan temperamennya, akan terpilih membawakan tokoh itu. Pengalaman masa lalu dalam hal emosi akan memudahkan pemeran tersebut dalam menghayati dan menampilkan dirinya sesuai dengan tuntutan cerita. Temperamen yang cocok akan membantu proses penghayatan diri peran yang dibawakan.
5) Therapeutic Casting: pemilihan pemeran dengan maksud untuk penyembuhan terhadap ketidakseimbangan psikologis dalam diri seseorang. Biasanya watak dan temperamen pemeran bertentangan dengan tokoh yang dibawakan. Misalnya, orang yang selalu ragu-ragu, harus berperan sebagai orang yang tegas, cepat memutuskan sesuatu. Seorang yang curang, memerankan tokoh yang jujur atau penjahat berperan sebagi polisi. Jika kelaianan jiwa cukup serius, maka bimbingan khusus sutradara akan membantu proses therapeutic itu.
Untuk dapat memilih pemeran dengan tepat, maka hendaknya pelatih drama membuat daftar yang berisi inventarisasi watak pelaku yang harus dibawakan, baik secara psikologis maupun sosiologis. Watak pelaku harus dirumuskan secara jelas. Sebab hanya dengan begitu, dapat dipilih pemeran lakon dengan lebih cepat. Dalam pementasan, aktor-aktris harus ber-Akting.
2. Teknik Berperan
Berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Sejauh mana ketrampilan seorang aktor dalam berperan ditentukan oleh kemampuannya meninggalkan egonya sendiri dan memasuki serta mengekspresikan tokoh lain yang dibawakan.
Dalam berperan harus diperhatikan adanya hal-hal berikut ini:
1. Kreasi yang di lakukan oleh aktor atau aktris.
2. Peran yang dibawakan harus bersifat alamiah dan wajar.
3. Peran yang dibawakan harus sesuai dengan tipe, gaya, jiwa, dan tujuan dari pementasan.
4. Peran yang dibawakan harus sesuai dengan periode tertentu dan watak yang harus direpresentasikan.
Untuk berperan secara natural dan realisitis, diperlukan penghayatan untuk mendalam tentang tokoh yang diperankan itu. Dalam kaitan itu, gaya, tipe, dan jiwa permainan menentukan corak penghayatan peran.
2.1 Teknik Berperan Menurut Rendra
Rendra menyebutkan bahwa dalam pementasan ada empat sumber gaya yaitu:
a. Aktor bintang
Aktor bintang menjadi sumber gaya artinya kesuksesan pementasan ditentukan oleh pemain-pemain kuat yng mengandalkan kecantikan, kemasyhuran, ketampanan atau kecantikan atau gaya tarik seksualnya. Jika yang dijadikan sumber gaya adalah aktor bukan bintang, maka kecakapan berperan diandalkan untuk memikat penonton.
b. Sutradara
Sutradara sebagai sumber gaya artinya dengan kemampuan sutradara diharapakan pementasan akan berhasil. Penonton mengharap pertunjukkan drama yang bermutu. Dalam hal ini, penonoton mempercayakan nama sutradara sebagai jaminan mutu drama.
c. Lingkungan
Lingkungan sebagai sumber gaya artinya lingkungan pementasan dapat memungkinkan suksesnya pementasan. Jika kita mementaskan drama “Ken Arok dan Ken Dedes”, maka kehidupan pentas oleh dekorasi dan tata pentas yang menggambarkan secara nyata kerajaan Singasari dapat menjadi modal kesuksesan drama tersebut.
d. Penulis
Penulis sebagai sumber gaya berarti di tangan penulis yang hebat akan lahir naskah yang hebat pula yang mempunyai kemungkinan sukses jika dipentaskan. Di dalam berperan, imajinasi sangat penting karena dalam berperan, seorang aktor berpura-pura menjadi orang lain. Menghadirkan kepura-puraan menjadi realitas membutuhkan daya imajinasi. Aktor harus menghayati setiap situasi yang diperankan dan mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh itu sebagai jiwanya sendiri, sehingga penonton yakin yang ada dipentas bukan diri sang aktor tetapi diri tokoh yang diperankan. Untuk mengembangkan pribadi, diperlukan daya kreativitas (kemampuan untuk mencipta) dan sikap fleksibel (dapat menyesuaikan diri dimana saja berada).
2.2 Teknik Berperan Menurut Edward A. Wright
Menurut Edward A. Wright ada lima syarat yang harus dimiliki oleh seorang calon aktor, yaitu sebagai berikut:
a. Sensitif
Mudah memahami aktor yang akan diperankan.
b. Sensibel
Sadar akan yang baik dan yang buruk.
c. Kualitas personal yang memadai
d. Daya imajinasi yang kuat
e. Stamina fisik dan mental yang baik.
Kelima hal tersebut harus disertai lima macam daya kepekaan yaitu sebagai berikut:
a. Kepekaan (mudah mengerti) akan ekpresi mimik. Kepekaan terhadap suasana pentas.
b. Kepekaan terhadap penonton.
c. Kepekaan terhadap suasana dan ketepatan proporsi peran yang dibawakan (tidak lebih dan tidak kurang) (Wright: 131).
Imajinasi dapat dikembangkan dengan kreasi-kreasi aktor yang sering tidak direncanakan sutradara. Pembawaan peran harus tepat agar penonton ikut terlibat dalam suasana pentas. Dalam suatu drama tidak boleh suatu masalah diterangkan secara panjang lebar sedang masalah lain tidak mendapat bagian.
2.3 Teknik Berperan Menurut Oscar Broket
Oscar Brocket menyebutkan tujuh langkah dalam latihan berakting yaitu sebagai berikut;
1. Latihan Tubuh
Maksudnya adalah latihan ekspresi secara fisik. Kita berusaha agar fisik kita agar dapat bergerak secara fleksibel, disiplin dan ekspresif. Artinya, gerak-gerik kita dapat luwes, tetapi berdisiplin terhadap peran kita, dan ekspresif sesuai watak dan perasaan aktor yang di bawakan. Di beberapa teater biasanya sering diberikan latihan dasar Akting, berupa menari, balet, senam, bahkan ada yang merasa latihan silat itu dapat juga melatih kelenturan, kedisiplinan , dan daya ekspresi jasmaniah.
2. Latihan Suara
Latihan suara ini dapat di artikan latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring (vokal), dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Yang harus mendapatkan pelatihan seksama, adalah suara itu hendaklah jelas, nyaring, mudah ditangkap, komunikatif,dan ucapkan sesuai daerah artikulasinya.
3. Observasi dan Imajinasi
Untuk menampilkan watak tokoh yang diperankan, aktor secara sungguh-sungguh harus berusaha memahami bagaimana memanifestasikannya secara eksterna. Aktor mulai dengan belajar mengobservasikan (memahami) setiap watak, tingkah laku dan motivasi orang-orang yang dijumpainya. Kekuatan imanjinasi berfungsi untuk mengisi dimensi kejiwaan dalam Akting, setelah diadakan observasi tersebut. Akting bukan sekedar meniru apa yang diperoleh lewat observasi, tetapi harus menghidupkannya, memberi nilai estetis.
4. Latihan Konsentrasi
Konsentrasi diarahkan untuk melatih aktor dalam kemampuan membenamkan dirinya sendiri kedalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan dan ke dalam lakon itu. Konsentrasi haru spula diekspresikan melalui ucapan, gesture, meovement, dan intonasi ucapannya.
5. Latihan Teknik
Latihan teknik di sini adalah latihan masuk, memberi isi, memberi tekanan, mengembangkan permainan, penonjolan, ritme, timing yang tepat, dan hal lain yang telah dibicarakan dalam penyutradaraan. Pengaturan tempat di pentas sesuai dengan karakteristik dan masing-masing bagian pentas itu, juga merupakan unsur teknis yang harus menadapatkan perhatian dalam latihan. keseimbangan di dalam pentas merupakan dress stage (pakain yang dipakai di panggung). Pergeseran aktor lain di sisi berikutnya, sehingga terjadi keseimbangan, hal itu berhubungan dengan latihan blocking, dan crossing. Aktor juga harus berusaha mengambil posisi sedemikian rupa, sehingga ekspresi wajahnhya dan gerak-gerik yang mengandung makna dapat dihayati oleh penonton. Hal kecil yang perlu mendapat perhatian juga adalah teknik jalan, teknik loncat, makan, duduk, mempersilahkan minuum dan sebagainya harus disesuaikan dengan pribadi yang dibawakan dalam cerita.
6. Latihan Sistem Akting
Aktor harus berlatih Akting, baik dalam hal eksternal maupun internal melalui pendekatan metode, maupun teknik.
7. Latihan untuk Memperlancar Skill dan Latihan
Dalam latihan ini peranan imajinasi sangatlah penting. Dengan imajinasi, semua latihan yang bersifat seperti menghafal, menjadi lancar dan tampak seperti kejadian sebenarnya.
Whitting menyatakan, bahwa dalam latihan Akting ini ada dua pendekatan yaitu pendekatan kreaktif dan pendekatan teknis. Pendekatan kreatif ini sama dengan pendekatan metode yang dikemukakan oleh Wright, tadi (Whitting: 1960:197). Latihan teknis meliputi penonjolan, latihan tubuh, latihan suara, latihan penggunaan pentas secara tepat, latihan penyingkatan dan eliminasi.
2.4 Constantin Stanislavsky
Tokoh yang dikenal sebagai pelopor pendekatan metode atau pendekatan kreatif yang mementingkan latihan sukma, memberikan pedoman untuk mempersiapkan seorang aktor (Stanislavsky, 1980). 15 tahap latihan yang harus dilalui:
a. Berperan (Akting) adalah Suatu Seni
Dalam berperan, aktor harus menyadari bahwa berperan merupakan ekspresi seni. Berperan adalah seni, maka harus memenuhi aturan aliran seni yang diikuti, harus menurut aturan seni teater, dan dimainkan dalam penghayatan total antara jasmani dan rohani. Keseimbangan yang dituntut dan dengan begitu over Akting dan segala yang over harus ditinggalkan.
b. Motivasi
Motivasi merupakan faktor “dalam” yang harus dimiliki oleh seorang aktor. Motivasi yang harus dimiliki yaitu motivasi estetis, dimana dirinya mengabdi pada pentas, bukan demi publisitas dirinya, semua gerak perbuatan itu selalu mempunyai motivasi, yaitu motivasi dari gerakan sebelumnya dan motivasi untuk gerakan berikutnya.
c. Imajinasi
Kepekaan imajinasi untuk aktor perlu dilatih. Dengan imajinasi perasaan dan pengalaman emosional mudah terukir dan tertanam dengan kuat dalam ingatan visual kita dan dapat dibayangkan setiap saat.
d. Pemusatan Pikiran (Konsentrasi)
Pusat perhatian aktor bukan ditempat penonton, tetapi pada lakon yang dibawakan. Objek-objek perhatian, harus dipilah-pilah, ada yang merupakan titik cahaya dalam lingkaran perhatian. Reaksi emosi dan imajinasi dapat membantu proses konsentrasi ini.
e. Mengendurkan Urat
Urat kita harus fleksibel serta siap diperintah melakukan gerakan dan Akting sesuai dengan peranannya. Gerakan lentur, fleksibel, indah tetapi rapi dan menawan, dapat dicapai melalui berbagai latihan fisik seperti yang dijelaskan didepan.
f. Satuan dan Sasaran
Ikatan organik dialur lakon, satuan lakon yang merupakan garis besar alur yang memaparkan juga perkembangan konflik, harus dihayati secara baik, untuk kemudian diuraiakan dalam detail. Kemudian ditentukan sasaran akting sang aktor yang seharusnya.
1. Ditujukan kepada lawan main.
2. Merupakan sasaran pribadi yang analog dengan watak yang kita gambarkan.
3. kreatif dan artistik.
4. harus benar sehingga meyakinkan.
5. Menarik dan mengharukan kita
6. Jelas dan tipikal.
7. Harus punya nilai dan isi yang dapat berhubungan dengan sosok dalam dari permainan kita.
8. Harus aktif, mendorong untuk maju.
g. Keyakinan dan Rasa Kebenaran
Yang kita perlukan adalah kebenaran yang dipindahkan menjadi sebuah padanan puitis berkat imajinasi kreatif. Semua tindakan harus mempunyai makna dan dengan begitu ada gerak yakin.
h. Ingatan Emosi
Untuk dapat disampaikan semua emosi dengan baik, aktor harus berusaha untuk menghayati kembali apa yang pernah dirasakan dalam kehidupan nyata, sesuai dengan perasaan yang dikehendaki. Jika sulit menghadirkan kembali emosi yang dikehendaki maka dengan bantuan suara yang berkesan atas peristiwa dulu, kiranya emosi yang sama akan hadir. Misalanya, seorang gadis yang pernah patah hati, sangat terkesan akan lagu “seruling senja”. Jika kedukaan yang sama sulit ditampilkan, maka dengan bantuan lagu “seruling senja” niscahaya emosi tersebut akan lebih mudah ditampilkan. Demikian pula gambar, pemandangan alam, melalui surat, suasana tertentu orang akan mampu merekonstruksi suasana batinnya.
Indera pencium, pengecap, dan penyentuh juga bermanfaat untuk mempenggaruhi ingatan emosi, seperti halnya indera pendengar dan penglihat. Aktor harus menggunakan perasaanya sendiri, sehingga jiwanya sendiri bergetar hidup, manusiawi, hal-hal yang dapat meyakinkan penonton. Ingatan emosi dapat diolah melalui kreativitas batin, menjadi bentuk perwujutan Akting yang penuh penjiwaan.
i. Komunikasi atau Hubungan Batin
Aktor harus menghidupkan komunikasi dengan diri sendiri, dengan aktor lain, dan juga secara batin dengan penonton. Komunikasi langsung adalah dengan diri sendiri dan aktor lain, sedang komunikasi tidak langsung adalah dengan penonton. Aktor juga harus berkomunikasi dengan objek imajiner atau yang tidak hadir secra nyata (misalnya waktu berdoa secara keras).
j. Adaptasi
Penyesuaian diri itu dapat dilakukan dengan sadar dan dapat dengan tidak sadar. Sumber penyesuaian diri adalah alam bawah sadar, yang datang jika ilham datang. Di panggung penyesuaian diri ini bersifat terus-menerus, sebab aktor berkomunikasi dan menjadi orang lain terus menerus. Adapun adaptasi mekanis dan motoris melalui latihan dan penuh kesadaran.
k. Kekuatan Motif Dalam
Kekuatan inner motive harus mendapat latihan dalam diri aktor modalnya adalah kemauan. Kemauan harus dipadu dengan dua unsur penggerak lain, yaitu pikiran dan perasaan. Pikiran, emosi, dan perasaan ynag merupakan inner motivation harus dibangkitkan secara alamiah yang juga dimanfaatkan untuk membangkitkan unsur-unsur kreatif yang lain.
l. Garis yang Tak Terputus-putus
Garis batin tidak boleh terputus, karena garis itulah yang memberikan nyawa dan gerak pada drama yang dipertunjukkan. Sekuen satu dengan sekuen lain harus merupakan suatu yang berkesinambungan, dan selalu menampilkan pusat perhatian.
m. Keadaan Kreatif Batiniah
Dalam menghayati watak peran dan melaksanakan tugas Akting selama pementasan berlangsung diperlukan keadaan batin yang kreatif, artinya selalu mengisi kekosongan yang ada dengan suatu tindakan yang beralasan (penuh keyakinan).
n. Sasaran yang Paling Utama
Aktor harus mampu menangkap dan mengekspresikan sasaran utam dari dialog da perbuatan yang dilakukan dalam setting yang dibawakan. Hendaknya aktor mampu mengendalikan tiga ciri penting dalam proses kreatif, yaitu: (1) pemahaman atau genggaman batin, (2) garis gerak yang lurus, dan (3) sasaran utama. Aktor harus mengerti apa tujuan kehadirannya di pentas, apa tugas utamanya terhadap lakon dan tidak melebihi porsi yang ditentukan, menuju titik sasaran yang mantap, ringan, wajar dan jelas.
o. Diambang Pintu Bawah Sadar
Dalam semua aktivitas kreatif, semua yang maya ini, diberi sentuhan kenyataan. Jika aktor terbenam luluh dalam dunianya di pentas, terlibat sepenuhnya (encounter) dengan dunia maya yang dihayati sebagai realitas baru maka ia akan terlebih memikat penonton. Dengan cara meluluhkan diri dalam peran, semua yang diucapkan dan diperbuat akan meyakinkan penonton.
2.5 Richard Boleslavsky
Richard Boleslavsky tokoh yang dikenal sebagai murid Stanislavsky mengembangkan teori Stanislavsky. Buku karangannya sangat terkenal dengan judul Enam Pelajaran Pertama Bagi Calon Aktor yaitu;
1. Pelajaran Pertama : Konsentrasi
Konsentrasi bertujuan agar aktor dapat mengubah diri menjadi orang lain, yaitu peran yang dibawakan. Untuk mampu berkonsentrasi, aktor harus berlatih memusatkan perhatian, mulai dari lingkaran yang besar, menyempit, kemudian membesar lagi. Kendatipun latihan dilakukan di tempat yang ramai oleh suara hiruk pikuk orang jika konsentrasi kuat lakon akan tetap berjalan. Latihan konsentrasi ini juga dapat dilaksanakan melalui latihan fisik (seperti yoga), latihan intelek atau kebudayaan (misalnya menghayai musik, puisi, seni lukis), dan latihan sukma (melatih kepekaan sukma menanggapi segala macam situasi).
2. Pelajaran Kedua: Ingatan Emosi
The transfer of emotion adalah merupakan cara yang efektif untuk menghayati suasana emosi peran secara hidup, wajar dan nyata. Jika pelaku harus bersedih, dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan mengahdirkan emosi yang serupa, maka kadar kesedihanitu takarannya tidak akan berlebihan, sehingga tidak terjadi over Akting.
3. Pelajaran Ketiga: Laku Dramatis
Berlaku dramatis artinya bertingkah laku dan berbicara bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai pemeran. Untuk itu memang diperlukan penghayatan terhadap tokoh itu secara mendalam, sehingga dapat diadakan adaptasi.
4. Pelajaran Keempat: Pembangunan Watak
Aktor harus membangun wataknya, sehingga sesuai dengan tuntutan lakon. Pembangunan watak iu didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian mengidentifikasikannya, dan menghidupkan watak itu seperti halnya wataknya sendiri.
5. Pelajaran Kelima: Observasi
Observasi untuk tokoh yang sama dengan peran yang dibawakan. Untuk memerankan tokoh pengemis dengan baik, perlu mengadakan observasi terhadap pengemis dengan ciri fisik, psikis, dan sosial yang sesuai. Latihan observasi dapat juga dilakukan dengan jalan melakukan sesuatu yang pernah dilihat dengan pura-pura. Misalnya: adegan membuka pintu (pintu tidak ada).
6. Pelajaran Keenam: Irama
Sentuhan terakhir dalam sebuah latihan drama adalah pengaturan irama perminan ini. Sedangkan irama permainan untuk setiap aktor, diwujudkan dalam panjang pendek, keras lemah, tinggi rendahnya dialog, serta variasi gerakan, sehubungan dengan timing, penonjolan bagaian, pemberian isi, progresi dan pemberian variasi pentas.
BAB V/BAB III
SENI PERAN
Drama merupakan potret suka-duka, pahit-manis, hitam-putih kehidupan manusia, dalam kaitannya terhadap seni peran (akting), aktor merupakan ujung tombak dari sebuah pementasa drama. Itu kenapa, Nano Riantiarno berpendapat, hakikat seni peran adalah meyakinkan (Riantiarno, 2003:45). Jika aktor mampu meyakinkan penonton, bahwa apa yang diperankannya di atas panggung adalah tiruan dari kehidupan sebenarnya, maka sang aktor dapat dikatakan seorang aktor yang berhasil.
Untuk mencapai keberhasilan dalam berakting, seorang aktor tentulah harus melakukan tahap latihan panjang dan terarah. Kejernihan akting seorang aktor tak cukup dilihat dari sisi dialog yang ia ujarkan di atas panggung, tetapi juga gerak yang baik pula. Semua latihan yang ditempuh haruslah memiliki dasar yang jelas (teori) dan bakat.
1. Unsur-Unsur Akting
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa kemapanan akting seorang aktor tidak hanya dilihat dari kemampuannya mengolah dialog saja, melainkan caranya memaksimalkan potensi diri. Potensi itu dapat dibagi sebagai berikut: potensi tubuh, akal, hati, imajenasi, vocal, dan jiwa. Kemampuannya memanfaatkan diri tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus melalui proses latihan yang giat dan telaten.
Berdasarkan konsepsi keaktoran, jika seseorang ingin menjadi seorang aktor yang baik, maka ia harus mampu mengenal dan memerhatikan unsur-unsur akting yang meliputi: (1) tubuh,(2) suara, (3) jiwa, dan (4) sukma. Berikut penjelasan dari keempat unsur tersebut:
1.1 Tubuh
Dalam dunia seni peran, tubuh adalah bagian terpenting selain dialog. Setiap anggota tubuh seorang aktor dapat dijadikan senjata aktor dalam berakting. Dalam drama konvensional yang didominasi oleh bahasa verbal, gerakan tubuh mampu memberikan nuansa lebih dalam pengungkapan maksud dari bahasa verbal yang hendak disampaikan aktor. Selain itu, tubuh dapat mengisyaratkan suasana emosional dan latar peristiwa lebih tegas dari bahasa verbal.
Bahasa geerakan tubuh (bahasa tubuh), terkadang lebih jujur dari bahasa verbal yang digunakan aktor. Oleh karenanya, seorang aktor harus mampu mengolah fungsi tubuhnya sendiri dengan melakukan beberapa tahapan. Tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk memaksimalkan tubuh seorang aktor di atas panggung antara lain sebagai berikut.
1) Relaksasi
Realaksasi adalah hal pertama yang haru dilakukan dengan cara menerima keberadaan dirinya. Relaksasi bukan berarti berada dalam keadaan pasif (santai) tetapi keadaan dimana semua kekangan yang ada di tubuh terlepas.
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh aktor adalah kebutuhan untuk relaksasi. Baik itu di dalam kelas, dalam latihan, di atas panggung, maupun paska produksi. Relaksasi adalah hal yang sangat penting bagi semua performer. Relaksasi bukanlah keadaan menta dan fisik yang tidak aktif, melainkan keadaan potensi yang cukup aktif dan positif. Ini memungkinkan seorang aktor untuk mengekspresikan dirinya saat masih didalam kontrol faktor-faktor lain yang bekerja melawan cara pemeranan karakter yang baik. Jadi, relaksasi adalah hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan utama dari seorang performer.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang aktor atas sebuah karakter, cenderung dapat merusak relaksasi. Aktor pemula biasanya tidak dapat dengan mudah merespons sebuah perintah untuk relak, hal ini disebabkan berkaitan dengan aspek-aspek fisik kepekaan dan emosi akting ketika berada dihadapan penonton. Dengan kata lain, dalam keadaan rileks, aktor akan menunggu dengan tenang dan sadar dalam mengambil tempat dan melakukan akting. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.
2) Ekspresi
Kemampuan Ekspresi merupakan pelajaran pertama untuk seorang aktor, dimana ia berusaha untuk mengenal dirinya sendiri. Si aktor akan berusaha meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya, agar mencapai kepekaan respons terhadap segala sesuatu. Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh yang seimbang) seorang aktor harus terpusat pada pikirannya.
Kita menggunakan cara-cara non linguistik ini untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara. Tangisan, infleksi nada, gesture, adalah cara-cara berkomunikasi yang lebih universal dari pada bahasa yang kita mengerti. Bahkan cukup universal untuk disampaikan kepada binatang sekalipun.
3) Gesture
Gesture adalah impuls (rangsangan), perasaan atau reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam; ketetapan tubuh, gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar dalam bentuk kata-kata atau bunyi).
4) Gestikulasi
Bahasa tubuh adalah media komunikasi antar manusia yang menggunakan isyarat tubuh, postur, posisi dan perangkat inderanya. Dalam media ini, kita akan memahami bahasa universal tubuh manusia dalam aksi maupun reaksi di kehidupan sehari-hari.
5) Mimik
Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara berkesinambungan.
Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor. Meskipun bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.
6) Olah Tubuh
Warming-Up atau pemanasan sebaiknya menjadi dasar dalam pelajaran acting. Melatih kelenturan tubuh, memulai dari organ yang paling atas, hingga yang paling bawah. Latihan ini ditempuh untuk mencapai kesiapan secara fisik, sebelum menghadapi latihan-latihan lainnya.
Olah tubuh bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan pada balet, namun kalau di Indonesia sangat mungkin berangkat dari pencak silat atau tari daerahnya masing-masing seperti kebanyakan aktor cirebon dengan masres (sejenis teater tradisional cirebon) yang banyak menguasai tari topengnya, juga tentu di Bali, Sunda dan banyak tempat yang berangkat dari tradisinya dan kemudian dikembangkan pada tujuan pemeranan.
Bowskill daalam bukunya menyatakan “Stage and Stage Craft”, yang katanya Apa yang kau lakukan dengan kedua tanganku. Pertanyaan tersebut dilanjutkannya pula dengan Apa yang harus aku lakukan dengan kedua kakiku. Banyak aktor pemula selalu gagal dalam menampilkan segi kesempurnaan Artistik, karena pada waktu puncak klimaks selalu diserang oleh kekakuan, mengalami ketegangan urat.
Kekejangan ini memberikan pengaruh buruk pada emosi bagi pemeran yang sedang menghayati perannya, apabila hal ini menimpa organ suara maka seorang yang mampunyai suara baik menjadi parau bahkan bisa kehilangan suara, jika kekejangan itu menyerang kaki maka orang itu berjalan seakan lumpuh, jika menimpa tangannya akan menjadi kaku.
Untuk mengendurkan ketegangan urat ada bermacam cara latihan, dengan melalui latihan gerak, senam, tari-tari. Hingga gerakkan dapat tercipta dengan gerakan artistic, dan dapat lahir dari inter akting (gerakan dalam).
Olah tubuh sebaiknya dilakukan sau jam setengah setiap hari, dalam dua tahun terus menerus, untuk memperoleh aktor yang enak dipandang mata, subjeknya: Senam irama; Tari Klasik, Main anggar, berbagai jenis latihan bernapas, latihan menempatkan suara diksi, bernyanyi, pantomim, tata rias.
1.2 Suara
Penguasaan suara dalam seni acting pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang pemain (aktor). Pengertian ‘penguasaan diti secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan.
1) Pernapasan Diafragma
Otot-otot akan berkembang dan menegang ketika kita menghisap napas, hanya bagian inilah yang tegang. Kemudian otot-otot samping bagian punggung pun ikut pula mengembang lalu mengempis saat napas dihembuskan kembali.
Posisi diafragma adalah diantara rongga dada dan rongga perut. Pernapasan melalui diafragma inilah yang dirasakan paling menguntukan dalam berolah vocal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernapasandan peralatan suara dan juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara. Keuntungan lain yang diperoleh adalah pada saat ita menahan napas otot-otot diafragma tersebut tegang, ketegangan otot ini justru melindungi bagian lemah badan kita yakni ulu hati. Pernapasan ini sangat baik dalam usaha menghimpun “tanaga dalam” yang mengolah vibrasi, karena pernapasan diafragma akan memudahkan kita dalam mengendalikan dan mengatur penggunaan pernapasan.
Berlatih pernapasan banyak ragam dan caranya. Latihan pernapasan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari cabang-cabang beladiri seperti pencak silat, karate, atau berenang sekalipun. Namun ada beberapa catatan penting yang harus dilakukan untuk tujuan pernapasan dalam pemeranan (acting), yaitu:
Latihan 1.
· Berbaring rata di lantai dan bernapaslah pada posisi tersebut, rasakan tubuh betul-betul rileks.
· Berbaring dilantai, rasakan daya beratnya, pusatkan pikiran kea rah telapak kaki kita, ke ujung-ujung jari, rasakan seluruh pergelangan kaki terlepas. Bayangkan seluruh nadi terisi udara, engsel-engsel lututpun terisi udara biarkanlah tulang paha kita rileks sehingga daging dan otot-otot menjadi satu dengan tulang-tulang. Bayangkan sendi-sendi pinggang dan tuang paha berisi udara sehingga seluruh tubuh tidak lagi memberatkan kaki. Biarkan otot punggung dan perut kita meleleh seperti air, biarkan punggung rileks dan tidak usah memaksakan tulang punggung menjadi rata, biarkan otot-otot seluruh tubuh dan kepala sampai rahang di samping telinga kita rileks hingga gigi kita tidak terkunci juga lidah tidaklah lengket pada bagian atas mulut, rahang menjadi seperti jatuh demikian juga dengan lidah yang tidak saling menyentuh. Biarkan wajah kita terasa berat pada tulang tulang wajah, biarkan pipi, bibir, pelupuk mata seluruhnya rileks.
· Rasakan tubuh kita di lantai melorot rileks tariklah napas secara penuh untuk merasakan sensasi-sensasi yang terjadi pada tubuh kita saat di lantai akibat pernapasan yang alami itu. Ulangi itu terus menerus dengan intens.
Latihan 2
· Waspadai bahwa ditengah kediaman tubuh kita yang rileks itu akan tidak terelakan sebuah kondisi yang mudah untuk jatuh apabila napas keluar dan masuk dari tubuh, rileks bukan berarti tidak ada control terhadap tubuh namun control sering kali membuat kita justru menjadi tegang, jadi pernapasan yang berlangsung alami adalah citra dari rileks itu sendiri.
· Tariklah napas secara mendalam tanpa paksaan, simpanlah tangan di pundak untuk merasakan dorongan napas pada diafragma.
· Pada saat udara masuk ke dalam tubuh dan terhisap oleh mulut atau hidung, masuk ke pusat dan keluar kembali, senantiasa merasakan kehangatan udara di dalam tubuh dan dinginnya udara yang kita hisap tersebut.
· Pada saat merasakan udara yang masuk kedalam tubuh ksenantiasa melakukan penghayatan pada udara tersebut, rasakan rasa lega yang mendalam di dalam tubuh lalu hayatilah udara turun keperut dengan emosi yang selalu terjaga (konsentrasi).
· Ulangi dorongan kausalitas tersebut dengan latihan yang intensif, emosi terjaga, selalu merasakan bahwa saat latihan kita adalah bagian alam semesta ini.
· Hal yang paling penting adalah menghindari ketegangan-ketegangan, biarkan seluruhnya bergerak secara alami dan teratur
2) Olah Vokal
Vokal (Suara) dan Speech (ucapan) amatlah penting di dalam sebuah pementasan sebuah drama, menurut MAURIZE ZOLOTOV merupakan bagian dari isyarat ataupun symbol, menurutnya ada kalimat Emosional untuk menyatakan perasaan dan ada pula kata-kata yang dapat digunakan sebagai senjata mencapai kekuatan.
Menurut Henning Nelms tentang speech ada lima :
a. Menyalurkan kata-kata drama kepada penonton.
b. Memberi arti-arti khusus pada kata-kata tertentu melalui odulasi suara.
c. Memuat informasi tentang sifat dan perasaaan – pemeranan missal : Tentang umur, kedudukan sosial, jabatan, kegembiraan, putus asa, kemarahan.
d. Mengendalikan perasaan penonton.
e. Melengkapi variasi.
Adapun tahap latihan vocal dapat ditransformasikan sebagai berikut:
Tahap Pertama
Pada tahap pertama pada latihan olah vokal , hisap lah udara sebanyak-banyaknya lalu tahan, kemudian hembuskan sambil mengeluarkan suara. Ini dilakukan berulang-berulang.
Tahap Kedua
Hisap udara melalui melalui dada salurkan ke Rongga dada hisap udara melalui perut, lalu tahan salurkan ke rongga Dada, keluarkan melalui mulut. Sebaliknya dapat dilakukan dengan sebaliknya, apabila tahap sudah dapat dilakukan bisa dilakukan dengan memainkan variasi pernapasan.
Tahap ketiga
Pada tahap ini lakukan laatihan dengan menahan napas sambil berjalan, berlari ini dilakukan berulang kali.
Tahap keempat
Bernapas di dalam air, dengan menahan beberapa saat lalu di hembuskan dengan melalui teriakan.
3) Latihan Olah Vokal Melalui Latihan Speech (Ucapan)
a. Diksi
Ucapan, lafal, menentukan suara yang harus dipergunakan. Diksi, lagu (gaya) berata, memberi kualitas kejelasan suara dari sebuah kata yang diucapkan. Latih aga dapat membedakan dengan jelas membedakan antara huruf-huruf p dengan b, t dengan d, k dengan g. Cobalah :
1. p----- p----- p------
pp---- pp---- pp-----
ppp-- ppp-- ppp----
pppp- pppp- pppp—
ppppp bbbbb ppppp
2. b----- b----- b------
bb---- bb---- bb-----
bbb-- bbb-- bbb----
bbbb- bbbb- bbbb—
bbbbb ppppp bbbbb
(tanda garis hubung merupakan ketukan jarak)
Ulang-ulangilah latihan ini. Akan sangat efektif bila dilakukan secara rutin tiap pagi atau sore. Tidak usah lama. Cukup barang sepuluh atau lima belas menit saja.
Coba pula pada huruf-huruf yang lain dengan cara yang sama, hingga semua dapat jelas terbedakan. Gerakan bibir merupakan sesuatu yang amat penting bagi pengucapan yang jelas. Untuk memperoleh hal itu maka gerazkan bibir sebanyak mungkin. Aktifkan gerakan bibir.
b. Tekanan
Tekanan dicapai dengan kontras. Suatu kata dapat diberi tekanan dengan mengubah tempo dan volumenya. Tempo sangatlah penting artinya. Tempo yang terlalu cepat hanya memberi kesan suara ribut. Saja. Kehilangan kandungan makna yang akan disampaikan Kebiasaan bicara cepat itu bisa dihilangkan dengan berlatih membiasakan ucapan-ucapan lambat. Mula – mula mengucapkan serentetan kata atau atau kalimat hanya dengan gerakan bibir saja, lambat tanpa bersuara. Sesudah itu dengan bersuara. Demikian berulang-ulang dilakukan.
Kata dapat diberi tekanan dengan merendahkan volume. Misalnya mengucapkan kata dengan lemah dalam saaatu kalimat yang nyaring. Belajarlah memberi tekanan pada suatu kata dengan memberi sedikit jeda sebelum dan sesudahnya.
Perubahan dalam pikiran dapat diperlihatkan dengan jeda atau dengan perubahan tiba-tia pada nada serta volumenya.
c. Bentuk Ucapan
Suatu ucapan Panjang atau pendek umumnya membangun klimaks, maka dari permulaan dibangunlah : (1) volume, (2) intensitas emosi, (3) variasi, (4) jarak, kecepatan.
Membangun satu unsure dari keempat unsure di atas secara teknis amatlah sulit. Biasanya baik membangun dengan satu unsure, lalu beralih pada yang lain, atau membangun dalam dua atau tiga unsure sekaligus.
d. Memuncak
Bila dua pemain atau lebih harus bersama-sama membangun satu reka-rekaan yang disebut topping, memuncak, dipergunakan, maka tiap pemain berkata pada saatu titik tinggi dalam volume, jarak, dan sebagainya dari kata terakhir pemain sebelumnya. Ini mungkin efektif. Tapi menuntut latihan, sebab pembangunan cenderung untuk meninggi begitu cepat hingga ucapan ketiga. Maka satu penanjakan agi sudah tidak mungkin.
4) Pengucapan
Untuk dapat berartikulasi dengan baik, dibutuhkan kelenturan alat-alat pengucapan. Artikulasi yang baik, akan dapat dicapai dengan menempatkan posisi yang wajar tetapi dengan penggunaan tenaga efektif dan terkontrol. Alat-alat tersebut antara lain:
a. Bibir
Sangat berperan dalam membentuk huruf-huruf hiduo dan huruf M-B-P. Latihan dengan membentuk mulut dengan ruang gerak yang maksimal, otot bibir berulang membentuk bunyi U-A-U-I-U-A-O-E. Pada saat menyuarakan huruf u bibir dibentuk mengkerucut tarik semaksimal mungkin kedepan. Pada bentuk O, bibir membuat bulatan dan jangan lupa tarik bibir kearah depan tetap diperhatikan. Pada bunyi A, bibir seolah pada posisi menguap membentuk lonjong maksimal. Pada bentuk bunyi I, bibir seolah ditarik pipi ke samping sehingga mulut nampak pipih. Lakukan latihan ini berulang-ulang mulai dengan tempo membentuk lambing-lambang bunyi, percepatan temponya semakin cepat dan cepat lagi. Lakukan latihan dengan menyuarakan gabungan huruf mati dengan huruf diatas, menjadi MU-BA-PU-MI-BU-PA-MO-BE berulang-ulang dari lambat ke sedang dan cepat. Lakukan dengan diiringi latihan dan pernapasan.
b. Lidah
Lidah sangat berperan dalam membentuk bunyi huruf-huruf mati seperti C-D-L-N-R-S-T dan lainnya. Lidah yang lincah akan dapat menentukan pembentukan lafal yang baik, tepat dan jelas. Latihan-latihan dimaksud untuk mencapai tingkat kelenturan sehingga lidah tidak saja lemas dan lincah tetapi juga mempunyai kemampuan seseorang yang mengalami kesulitan dalam membentuk bunyi R dan T. Latihan lidah:
· Menjulurkan dan menaril lidah berulang-ulang.
· Menjulurkan dan menarik ke atas => bawah, samping kanan => kiri dan kemudian menjulurkannya untuk membuat gerakan berupa lingkaran.
· Tempelkan ujung pada gigi seriates lalu dorong lidah keluar, tempelkan ujung lidah pada gigi serri bawah lalu doronglah lidah keluar, lakukan berulang-ulang.
· Tutup mulut lalu bunyikan Bberrrrrrrrrrrrrrr, Trerrrrrrrrrrrr.
c. Rahang
Rahang membantu pembentukan rongga mulut. Lakukan latihan-latihan seperti ini:
· Tutup dan buka mulut selebar mungkin, berulang-ulang.
· Doronglah rahang bawah ke muka lalu buka ke bawah lalu tarik kea rah dalam/ leher lalu tutup mulut, rahang rapat, dorong ke muka kembali dan lakukan seterusnya berulang-ulang semakin cepat.
· Gerakan rahang bawah ke kanan dan kiri.
· Buat lingkaran dengan rahang arah bergantian ke kanan dan ke kiri.
· Ucapkan dalam satu helaan napas hitung berapa pengulangan bunyi: wawawawawawawawa, yayayayayayayayayaya
d. Langit-langit
Terdiri dari langit-langit keras dan langit-langit lunak, merupakan bagian penting dalam pembentukan suara maupun pengucapan. Selain itu, langit-langit berperan juga sebagai dinding resonator pada rongga mulut. Latihan:
· Tutup mulut berbuatlah seakan-akan anda sedang berkumur, buka rahang bawah tetapi bibir tetap rapat, tekan langit-langit ke atas dank ke bawah pula.
· Tutup mulut dalam keadaan rapat, kemudian lakukan seolah anda mengucapkan bunyi M, B, K, N, NG, D, dan lainnya. Saat melakukan ini dapat dirasakan langit-langit bergerak ke atas dan ke bawah.Setelah seluruhnya peralatan pernapasan dan peralatan pengucapan kita latih dengan baik, barulah kita mencoba dengan membaca dialog. Bacalah dengan volume yang sedang dan rasakann pula dorongan napas diafragma, arahkan pembentukan suara ke resonator yang dirasakan paling tepat. Misalnya ke rongga resonator dada, mulut atau hidung.
5) Pembentukan Suara
Napas yang keluar melalui Trachea sesampainya pada larynx akan menggetarkan pita suara, dank arena getaran itu timbulah suara. Namun demikian suara tersebut baru akan terdengar baik bilamana terlah beresonansi pada salah satu resonator, baik rongga mulut, rongga hidung atau rongga dada. Misalnya, kalau bentuk rongga mulut bulat maka suara yang diproduksinya akan bulat pula, tetapi kalau rongga mulut ditarik melebar kesamping maka suara yang diproduksi akan terdengar ‘cempreng’. Seorang aktor harus lebih menekankan pemberian karakter pada suaranya. Mengolah texture dan warna suara yang sesuai dengan peran yang dimainkannya.
Seorang aktor juga harus bisa mengolah beberapa warna vokal sesuai tuntutan scenario, seperti:
· Menaikkan dan menurunkan volume suara.
· Meninggikan dan merendahkan frekwensi nada bicara.
· Mengatur atau mengolah tempo pengucapan.
· Mengatur atau mengolah warna dan texture suara.
Latihan 1:
· Tariklah napas dan keluarkan seperti angina.
· Tariklah napas dan keluarkan seperti suara angina itu sendiri, rasakan efek napas tersebut pada langit-langit atas mulut, lidah dan pembentukannya.
· Tariklah napas dan keluarkan dengan suara seperti seolah sedang berbisik, rasakan bagaimana kandungan napas dan suara yang keluar.
· Tariklah napas dan keluarkan dengan teks dan seolah suara itu menyerupai angina.
· Seluruh latihan ini dilakukan secara alami dan intens.
Latihan 2 :
· Tariklah napas dan keluarkan seperti suara binatang berkaki empat (bayangkan harimau, ajah, anjing, kucing dan lain sebainya).
· Tariklah napas dan keluarkan seperti suara jenis unggas (bayangkan menjadi burung, ayam, bebek, dan lain sebagainya).
· Seluruh latihan ini dilakukan secara alami dan intens.
Latihan 3 :
· Cobalah kata-kata apa saja dari mulut.
· Cobalah berdialog improvisasi aa saja keluar dari mulut.
· Cobalah baca beberapa teks lakukan dengan alami dan bertahap lewat vibrasi yang volumenya di tambah.
· Lakukan observasi suara manusia dan tirulah laku perannya (how old I am: rasakan sensasi-sensasi usia yang ditiru pada teknik suara).
· Cobalah acting dengan teks.
· Hindari ketegangan-ketegangan.
Berikut ini catatan-catatan yang dibuat oleh Frans Marajinen dari “Institut des Arts Spectaculaires” (INSAS) di Brussell selama kursus yang diadakan oleh Jerzy Grotowsky dan sahabatnya, Ryszard Cieslak, pada tahun 1966.
Dengan membandingkan latihan-latihan tahun 1959-1962, memang ada perubahan yang dapat dicatat yakni dalam orientasi dan objek latihan yang merupakan hasil kerja beberapa tahun sebelumnya.
Dalam pengantarnya, Grotowsky menjelaskan bahwa hubungan antar penonton dan aktor adalah penting. Dengan dasar pemikiran ini, dia memulai pelajaranya dengan semboyan: “Inti teater adalah aktor, perbuatan-perbuatannya, dan apa yang dapat ia capai”. Skema pelajarannya dan pelbagai macam latihan adalah didasari atas pengalaman secara metodik menuju kepada teknik-teknik aktor dan kehadirannya secara fisik di atas panggung.
6) Latihan-latihan Vokal
Untuk memulainya, Grotowski membuat beberapa tanda tentang sikap yang disesuaikan dengan kerja seseorang. Ia minta keterangan yang mutlak kepada siapa saja yang hadir dalam ruangan, baik aktor maupun penonton. Ketawa haruslah ditahan pada bagian permulaan latihan nampak seperti permainan sirkus. Mereka yang tidak biasa dengan metode tersebut hendaknya menerima impresi ini, tapi secepatnya orang akan memahami apabila ia telah menghadiri beberapa latihan dan melihat hasil yang dicapai. Penonton dalam hal ini adalah mereka yang tidak ambil bagian aktif dalam latihan, dan mereka harus “tidak terlihat dan tidak terdengar” oleh murid-murid.
a. Stimulasi atas Suara
Setiap aktor memilih teks dan ia bebas untuk membacanya, menyanyikannya atau bahkan dengan teks itu ia boleh berteriak.
Latihan ini dilakukan secara serempak. Sementara itu Grotowski berjalan keliling diantara mereka, sekali-sekali meraba dada, punggung, kepala atau perut si murid ketika ketika ia sedang membaca. Tidak satu bagianpun yang terlewat dari perhatian Grotowski.
Setelah latihan ini selesai, dia menununjuk empat orang. Yang lain kembali ketempat duduknya masing-masing untuk melihat perkembangan teman-temannya. Mereka tidak boleh bersuara.
Grotowski menempatkan satu orang di tengah-tengah. Aktor membaca semuanya dengan suara yang secara berangsur-angsur ditambah volumenya. Kata-kata disuarakan kembali dengan mantap, langit-langit seakan-akan tengkorak bagian depanlah yang sedang berbicara. Kepala jangan terkulai kebelakang sehingga menyebabkan laring tertutup. Melalui echo langit-langit menjadi kawann berdialog yang akan mengambil bentuk pertanyaan maupun jawaban (selama latihan Grotowski memimpin murid-muridnya dengan aba-aba tangan, mengelilingi ruangan). Selanjutnya, dimulailah percakapan dengan tembok, juga secara improvisasi. Di sinilah bukti bahwa echo adalah jawaban. Seluruh badan merespons terhadap echo . Suara asli masuk dan keluar melalui dada.
Kemudian suara ditempatkan di perut. Dalam acara ini percakapan dilangsungkan dengan lantai. Kedudukan badan: “seperti seekor sapi gemuk”.
Grotowski menekankan bahwa selama latihan pikiran harus dikosongkan. Murid-murid membaca teks tanpa berpikir dan tanpa pause. Grotowski akan menyetop setiap kali ia melihat ada murid sedang berpikir dalam latihan. Suara latihan diperlihatkan, secara berurutan:
· Suara kepala (menghadap kelangit-langit).
· Suara Mulut (seakan berbicara pada udara di hadapannya)
· Suara occipital (menghadap langit-langit tepat di atas aktor).
· Suara dada (diproyeksi di depan aktor)
· Suara perut (menghadap kelantai)
Suara keluar dari kedua belah bahu(menghadap langit-langit tepat diatas aktor); the small of the back (menghadap ke dinding di samping aktor); bagian lumbar (menghadap kelantai, dinding dan ruang disampingnya)
Grotowski tidak membiarkan aktor beristirahat sebentarpun. Ketika aktor sedang membaca, ia berkeliling membaca stimulasi dan “mremas” bagian tertentu badan murid, sehingga melepaskan impuls-impuls yang terbawa oleh suara.
Ritme latihan sangan cepat. Seluruh tubuh harus diikutsertakan walau hanya untuk latihan vokal saja. Suatu latihan relaxation terdiri dari improvisasi percakapan dengan tembok, sepenuhnya bebas dari tensi. Murid harus secara tetap menyadari bahwa echo harus selalu ditangkap.
1.3 Jiwa
Proses pertama transformasi atau penjiwaan terhdap peran, adalah memberi focus kepada energi yang sudah dimiliki oleh si aktor. Dia harus mengendalikan dirinya menuju satu tujuan tertentu. Usaha memfokuskan energi itu adalah usaha menyerahkan diri sepenuhnya kepada aksi dramatis sesuai tuntutan naskah, dimana ia mampu menentukan pilihan-pilihan aksi selaras dengan keyakinannya terhadap tokohnya.
Seorang aktor harus punya pusat perhatian (konsentrasi) dan bahwa pusat ini seyogyanya tidak berada di tengah tempat latihan. Makin menarik pusat perhatian, makin sanggup ia memusatkan perhatian.
Jelas sekali sebelum anda sanggup menetapkan titik perhatian yang sedang dan yang jauh, terlebih dahulu anda harus belajar bagaimana caranya memandang dan melihat benda-benda di area set.
Aktor yang berada di area set, menghayati suatu kehidupa yang sejati atau imajiner. Kehidupan abstrak ini perhatian dalam diri kita. Tapi ia tidak mudah untuk dimanfaatkan, karena ia sangat rapuh. Seorang aktor harus juga seorang pengamat, bukan saja dalam memainkan peran di atas pentas atau sebuah film, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keseluruhan dirinya ia harus memusatkan pikirannya pada segala yang menarik perhatiannya . Ia harus memandang sebuah objek, bukan lain, tapi betul-betul dengan mata yang tajam. Jika tidak, maka seluruh metode kreatifnya akan ternyata mengembang dan tidak punya hubungan dengan kehidupan. Umumnya orang tidak tahu bagaimana caranya mengamati tarikna wajah, sorotan mata seseorang dan nada suara untuk dapat memahami pikiran lawan bicara mereka. Mereka tidak bisa secara aktif memahami kebenaran kehidupan secara kompleks dan juga tidak sanggup mendengar kan sedemikian rupa, hingga mereka dapat memahami apa yang mereka dengar.
Jika mereka dapat melakukan ini, kehidupan ini akan jauh lebih baik, lebih mudah dan kerja kreatif mereka akan lebih kaya, lebih halus dan lebih dalam.
Tapi kita tidak bisa memaksakan pada seseorang sesuatu yang tidak dimilikinya, hanya daya yang dimilikinya saja yang bisa ia kembangkan.
Bagaimana cara untuk mencapai ini? Pertama, aktor harus belajar melihat, menyimak dan mendengarkan sesuatu yang indah. Kebiasaan itu akan mencerdaskan jiwa mereka dan melahirkan perasaan yang akan meninggalkan jejak-jejak yang dalam pada ingatan emosi mereka.
Ambil sekuntum bunga kecil atau selembar kelopak bunga dan cobalah utarakan dengan katapkata tentang seluk beluk, tekstur, warna dan sifat-sifatnya secara detail. Setelah melalui proses kreatif ini, lalu anda mulai menelaah bahan emosional yang hidup yang paling diperlukan dan dijadikan landasan bagi kreativitas selanjutnya.
Kesan-kesan yang diperoleh dari hubungan langsung dan pribadi dengan orang lainnya. Hubungan ini dapat diperoleh hanya kontak batin. Begitu banyak pengalaman batin ini yang tidak bisa dilihat secara inderawi oleh mata, hanya terbayang dalam tarikan wajah, mata, suara dan cara kita bicara dan menggerakan tangan. Tapi sungguhpun begitu, bukanlah hal yang mudah untuk menangkap apa yang terkandung dalam diri orang lain, Karena biasanya orang tidak selalu membukakan pintu hatinya dan membiarkan kita melihat mereka dan baimana mereka sebenarnya. Makna-makna seperti itu melekat pada pola perilaku yang mengenali dan mampu memanfaatkan aspek perilaku ini secaraefektif. Seorang aktor dituntut untuk dapat memerankan setiap kegiatan disetiap situasi. Tiap karakterpun harus terindividualisasikan dengan hal yang berkenaan pada perilaku. Sebagai tambahan, tiap karakter yang diperankan seharusnya mempunyai perilaku yang umum seperti yang ada di tengah masyarakat.
Perilaku luar sebuah rancangan harus ditempatkan semata-mata melalui bagian luar karakternyasaja dari harus memiliki arti yang mendalam.
Terakhir, aktor harus bisa mengontrol kecenderungan bahasa non – verbalnya yang mungkin saja tidak cocok dengan karakter yang diperankannya.
1) Observasi dan Empati
Observasi atau mengamati berarti tanggap akan hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan. Tentang masyarakat, tempat, objek dan segala situasi yang menambah kedalaman tingkat kepekaan seorang aktor. Ketika mengamati orang-orang aktor seharusnya membuat catatan-catatan ini bisa menjadi dasar karakter yang akan ditemukannyadimasa dating. Ini dapat membantu saat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah karakter lengkap dalam sebuah struktur permainan.
Sekali sebuah karakter mendarah daging dalam diri sang aktor, hubungan langsunga dapat terjadi antara aktor dan penonton. Penonton merasakan apa yang diperankan oleh sang aktor. Sebagai contoh, saat seorang teman kehilangan seseorang yang dicintainya, respons empatinya adalah kita ikut merasakan penderitaannya.
Kekuatan suskes dari pengamatan (observasi) adalah gabungan antara empati dan perhatian intelektual. Ini artinya seorang aktor harus mengembangkan sesitifitas pada indera: melihat, menyentuh, mencium, mendengar, dan merasakan.
Mengenal dan mengingat suatu perasan dalam aktifitas keseharian adalah sangat penting. Untuk mengamati secara benar seseorang harus dapat meraksan dan mengkatagorikan inderanya. Jadi, indera (senses), perasaan (feelings), dan pengamatan (observation) bergabung menjadi suatu mata rantai sebagai alat pembentuk sebuah karakter. Seorang aktor harus menggunakan kekuatan observasi untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
a. Untuk mempelajari karakter manusia dalam berjalan, gesture, berbicara dan duduk yang nantinya dapat ditiru saat berada di atas panggung.U
b. Untuk menstimulasi kreatifitas imajinasi.
c. Untuk menggabungkan beberapa kualita yang dapat dipelajari saat mengamati bintang. Keanggunan seekor kucing adalah salah satu contoh dari karakter binatang.
2) Aksi dan Emosi
Emosi adalah segala aktivitas yang mengekspresikan kondisi disini dan sekarang dari organisme manusia dan ditujukan ke arah duniannya di luar. “Emosi timbul secara otomatis” dan terikat dengan aksi yang dihasilkan dari konfrontasi manusia dengan dunianya. Aktor tidak menciptakan emosi karena emosi akan muncul dengan sendririnya lantaran keterlibatannya dalam memainkan peran sesuai dengan naskah.
3) Motivasi
Pengertian :Peran apapun yang anda mainkan harus memiliki tujuan dan motivasi. Dalamus keadaan bagaimanapun adalah mustahil untuk melakukan sesuatu yang secara langsung diarahkan untuk mencetuskan suatu perasaan demi perasaan itu sendiri. Kalau hal ini tidak diindahkan, maka anda tidk akan memperoleh apapun. Hanya kedangkalan saja. Jika kita memilih suatu tindakan atau perbuatan jangan menggunakan perasaan dan bathin anda. Jangan mencoba memperlihatkan aksi cemburu atau menyatakan cinta, semata hanya untuk kepentingan perasaan itu aja. Semua perasaan itu adalah akibat dari sesuatu yang terjadi sebelumnya. Cobalah ingat kejadian sebelumnya itu dalam-dalam dan hasilnya akan datang sendiri. Penggambaran nafsu yang palsu, yang menggunakan gerakan-gerakan konvensional, semuanya ini merupakan kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi.
Tips:
Anda harus mampu bermain sesuai dengan pengkhayatan anda sendiri terhadap tokoh, penggambaran artistic dari realita dunia actual kedalam dunia imajinasi. Untuk memperoleh hubungan antara aktor dan tokoh yang digambarkan, anda harus mendekatkan pada sumber-sumber yang dekat dengan perasaan dan batin kita sendiri. Jika hal ini bisa dicapai, maka kita akan merasakan dorongan dan rangsangan dari dalam.
Dorongan ini akan mengutarakan dirinya sendiri dalam aksi si tokoh imajiner yang telah ditempatkan di tengah-tengah permainan lakon. Mainkanlah dan anda akan menciptakan kehidupan baru. Kita akan dibawa kedunia bawah-sadar, menyadari hal-hal dalam permainannya yang sebelumnya tidak disadari sama sekali. Ini merupakan rangsangan “dunia bawah-sadar yang kreatif ”yang paling pokok adalah anda telah memainkan dunia bawah sadar kreatif melalui teknik yang disadari. Setelah ini bisa disatukan dalam pikiran dan imajinasi, barulah anda bisa menciptakan dunia baru dan mulai memainkannya dengan penuh motivasi dan rasa kebenaran artistic. Dibalik kata-kata, kita memasukan pikiran kita dalam karakter toloh kehidupannya. Lalu kita filter melalui diri kita sediri seluruh bahan yang kita peroleh dari pengarang dn sutradara. Bahan ini menjadi bagian dari diri kita, baik dalam pengertian spiritual dan fisik, emosi kita jujur dan sebagai hasil kita memperoleh aktivitas yang betul-betul produktif, semuanya berjalin dengan implikasi sebuah lakon.
4) Imajinasi
Imajinasi adalah suatu cara bagi seorang aktor untuk mendekati pikiran dan perasaan karakte yang akan dimainkan sehingga dia dapat menempatkan dirinya dalam situasi si karakter. Metode ini merupakan proses imajinasi dimana di aktor melakukan identifikasi dengan karakter tokohnya. Di setiap identifikasi dengan karakter tokohnya, si aktor harus melihat pengalaman hidupnya dan pengalaman hidup yang paling relevan untuk ditransver ke pengalaman hidup yang dimiliki si karakter. Si aktor harus mampu menyelidiki asal mula dirinya sendiri untuk dapat tulus dan jujur pada realita eksistensi dirinya yang baru. Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi, sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada, yan tidak pernah ada. Tapi siapa tahu, suatu hari kesemuanya itu mungkin ada. Bagi seorang aktor, proses kreatif ini dipimpin oleh imajinasinya.
Pertama, anda memaksa imajinasi anda, padahal sebetulnya anda harus membujukny. Lalu, anda coba merenung tanpa suatu objek yang menarik bagimu. Kesalahan yang ketiga adalah pikiran anda pasif. Dalam imajinasi, aktifitas yang intens sangatlah penting. Awalnya datang gerakan dari dalam, kemudian gerakan luar.
Sebelum sutradara memberikan pengarahan dan latihan, anda harus memiliki catatan mengenai gambaran tokoh dan tempat yang akan dijadikan area latihan. Lalu anda harus memiliki suatu gasi gambaran yang batin yang kuat. Imaji-imaji bain ini akan menciptakan suasana yang sesuai dan mencetuskan emosi, sambil menjaga supaya kita tetap berada dalam batas-batas lakon itu.
1.4 Sukma
Cipta, karsa ( kehendak ) dan pakarti ( tindakan ) selalu aktif selama orang itu masih hidup. Pakarti bisa berupa tindakan fisik maupun non fisik, pakarti non fisik misalnya seseorang bisa membantu memecahkan atau menyelesaikan masalah orang lain dengan memberinya nasehat, nasehat itu berasal dari cipta atau rasa yang muncul dari dalam. Sangatlah diharapkan seseorang itu hanya menghasilkan cipta yang baik sehingga dia juga mempunyai karsa dan pakarti/tumindak yang baik, dan yang berguna untuk diri sendiri atau syukur -syukur pada orang lain.
Untuk bisa mempraktekkan tersebut di atas, orang itu harus selalu sabar, konsestrasikan cipta untuk sabar, orang itu bisa makarti dengan baik apabila kehendak dari jiwa dan panca indera serasi lahir dan batin. Ingatlah bahwa jiwa dan raga selalu dipengaruhi oleh kekuatan api, angin, tanah dan air.
1) Untuk memelihara kesehatan raga, antara lain bisa dilakukan :
a. Minumlah segelas air dingin dipagi hari, siang dan malam sebelum tidur, air segar ini bagus untuk syarat dan bagian-bagian tubuh yang lain yang telah melaksanakan makarti.
b. Jagalah tubuh selalu bersih dan sehat, mandilah secara teratur di negeri tropis sehari dua kali.
c. Jangan merokok terlalu banyak.
d. Konsumsilah lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan dan sedikit daging, perlu diketahui daging yang berasal dari binatang yang disembilah dan memasuki raga itu bisa berpengaruh kurang baik, maka itu menjadi vegetarian (tidak makan daging) adalah langkah yang positif.
e. Kendalikanlah kehendak atau nafsu, bersikaplah sabar, narima dan eling. Janganlah terlalu banyak bersenggama, seminggu sekali atau dua kali sudah cukup.
2) Berlatihlah supaya cipta menjadi lebih kuat, pusatkan cipta kontrol panca indera. Tenangkan badan (hening) dengan cipta yang jernih dan tentram ( hening ) Bila cipta bisa dipusatkan dan difokuskan kearah satu sasaran itu bagus, artinya cipta mulai mempunyai kekuatan sehingga bisa dipakai untuk mengatur satu kehendak.
3) Buatlah satu titik atau biru ditembok atau dinding ( . ) duduklah bersila dilantai menghadap ke tembok, pandanglah titik itu tanpa berkedip untuk beberapa saat, konsentrasikan cipta, kontrol panca indera, cipta dan pikiran jernih ditujukan kepada titik tersebut. Jangan memikirkan yang lain, jarak mata dari titik tersebut kira-kira tujuh puluh lima sentimeter, letak titik tersebut sejajar dengan mata, lakukan itu dengan santai.
4) Lakukan latihan pernapasan dua kali sehari, pada pagi hari sebelum mandi demikian juga pada sore hari sebelum mandi tarik napas dengan tenang dalam posisi yang enak.
5) Lakuakan olah raga ringan ( senam ) secara teratur supaya badan tetap sehat, sehingga mampu mendukung latihan olah napas dan konsentrasi.
6) Hisaplah kedalam badan Sari Trimurti pada hari sebelum matahari terbit dimana udara masih bersih, lakukan sebagai berikut :
Tarik Napas
Tahan Napas
Keluarkan Napas
Jumlah
10 detik
10 detik
10 detik 30 detik
Minggu I : 3 kali
15 detik
10 detik
15 detik 40 detik
Minggu II : 3 kali
20 detik
10 detik
20 detik 50 detik
Minggu III : 3 kali
26 detik
8 detik
26 detik 60 detik
Minggu IV : 3 kali
7) Untuk memperkuat otak tariklah napas dengan lobang hidung sebelah kiri dengan cara menutup hidung sebelah kiri dengan cara menutup lobang hidung sebelah kanan dengan jari, lalu tahan napas selanjutnya keluarkan napas melalui lobang hidung sebelah kanan, dengan menutup lobang hidung sebelah kiri dengan jari.
Tarik Napas
Tahan Napas
Keluarkan Napas
Jumlah
4 detik
8 detik
4 detik 16 detik
Minggu I : 7 kali
10 detik
7 detik
10 detik 27 detik
Minggu II : 7 kali
10 detik
10 detik
10 detik 30 detik
Minggu III & IV : 7 kali
20 detik
20 detik
20 detik 60 detik
Minggu V : 7 kali
2. Teknik-Teknik Akting
1) Muncul
Seorang aktor Pemeran Muncul pertama kali bahasa inggris di sebut dengan teknik of entrance, yaitu teknik seorang pemain untuk pertama kalinya tampil di atas pentas dalam satu sandiwara satu babak atau satu adegan. Barang kali kemunculannya tatkala pemain-pemain yang lain sudah berada duluan di atas pentas dalam satu adegan, barang kali ia muncul tepat waktu layar di buka, barang kali juga ia munculo pertama kali seorang diri diatas pentas seorang iri seorang diri di atas pentas sebagai pembuka.
Tekinik muncul ini penting karena ia lakukan dalam keadaan kesan ( Imprese) menerbitkan ke inginan tahuan penonton kepada sang pemain, bagaiman ia melakukan aktifitas penonton akan lebih dapat menikmati dalam bermain.
Ketika di dalam naskah “Panembahan Reso“ ( W.S Rendra ). Ada adegan pesta pora di Istana, jaga baya terburu-buru dating menghadap Raja membawa surat Panji- Tumbal.
Jagabaya : Yang mulia, hamba menghadap untuk mempersembahkan surat.
Raja Tua : Reso bawa dia kemari.
Reso : baik,yang mulia. Mari kamu ! bicara
Jagabaya : Hamba memimpin pasukan pengawal istana hari ini. Seorang pasukan menggebu dengan kuda. Ia datang dari Tegal Wurung membawa surat panji tumbal untuk Sri baginda, sedang ia sendiri selesai bicara langsung melompat ke punggung kuda, dan setelah mohon maaf karena ia sendiri di buru oleh urusan maha gawat lalu melaju di telan debu.
Raja Tua : bawa kemari surat itu.
Muncul Jagabaya membawa surat Panji Tumbal ayang diserahkan kepada raja tua, supaya l;ebih memberi pendalaman watak permainan maka peranan tersebut harus dapat menyesuaikan alur irama permainan yang sedang berjalan.
Jagabaya : ( Melangkah beberapa langkah menuju arah ke-arah Raja Tua, dengan tergesa-gesa).
Jagabaya : yang mulia, hamba menghadap
Untuk mempersenbahklan surat
(menunggu beberapa saat reaksi Raja Tua ) Didalam naskah “ OIDIPUS REX “ (Sopholes) adanya adegan Ratu Jocosta yang keluar dari istana denga tergesa-gesa untuk memisah pertengkaran oidpus dengan creon sambil berseru :
Jocosta : Bencana ! Bencana ! kenapa para pangeran bersenketa, sedang negara dalam bencana.
Akan lebih megesankan lagi apabila pemeran jocosta muncul, dengan setengah berlari sambil berseru
Jocosta : Bencan ! Bencana !
( lalu berhenti sekejap dua kejap sambil memandang tajam pada oidipus dan creon sanbil maju ke tengah-tengah di antara oidipus dan creon sambil mengucapkan sisa kalimat ) klenapa para pangeran bersengketa, sedang negara dalam bencan.
2) Teknik Memberi Isi
Sebuah kalimat akan tersa mempunyai kesan apabila di beri isi atupun tekanan, dalam istilah bahasa inggris di namakan:the technique of phrasing. Pada kalimat “Gayanya itu“. Bisa mengandung bermacam-macam pengertian, jika di ucapkan dengan cara tertentu, dapat menjadi dari orang yang mengucapkan.
Ada tiga macam cara memberikan tekanan pada isi kalimat.
a. Tekanan Dinamik
Tekanan dinamik yakni keras (penguatan) dalam pengucapan, dalam berbicara. Biasanya aktor akan menekan kata-kata yang dianggap penting. Misal:
- Aku memakai celana. (Bukan rok)
- Dasar lelaki tua sialan. (Bukan wanita)
- Anak malang. (Bukan Bapak)
b. Tekanan Nada
Tekanan nada adalah tinggi rendahnya pengucapan dalam suatu kata yang lebih mencerminkan isi perasaan dari seorang aktor di atas panggung. Misal:
- Mungkin (Bisa berarti kebingungan, berkilah, bahkan kemarahan tergantung dari cara pengucapannya).
- Busyet (bisa berarti pujian atau cacian).
c. Tekanan Tempo
Tekan lambat dan cepat nya mengucapkan sebuah kata dalam kalimat, sepperti juga halnya tekanaan tempo sangat berarti apabila ia di pergunakan untuk menjelaskan isi pikiran. Di dalam suasan sedih tempo pengucapan akan LAMBAT. Pada suasana genbira tempo pengucapan akan cepat.
- Saya muak sekali mendengar kata-katanya. (tempo di gunakan dengan lambat)
- Senang benar saya menerima suratnya. (tempo di gunakan dengan cepat)
Teknik me,beri Isi yang lainnya dengan mempergunakan anggota badan dan badan. Pengguna angguta badan – dan badan ini bisa menjadi gerak, air muka, dan sikap. Yang di maksud Gerak; ialah gerakan anggouta badan, pernyataan perasaan dan oikiran melalui gerakan jari, genggaman telapak tangan, lambayan tangan, bahu dan lain sebagainya. Dari kleseluruhan semua anggouta badan, telapakj tangan. jari-jarilah yang piling pokok di gunakan.
3) Teknik Pengembangan
Teknik pengembangan dapat di capai dengan menggunakan melalui pengucapan dan jasmani.
Teknik pengembangan dapat dilakukan melalui teknik pengucapan:
a. Menaikkan volume suara.
b. Menaikkan tinggi suara.
c. Menaikkan kecepatan tempo suara.
d. Mengurangi volume tinggi nada, kecepatan tempo suara.
e. Menaikkan tempo suara dalam berdialog, dari nada rendah terus naik ke nada tinggi.
f. Tempo kaliamat dapat di cepatkan.
g. Mengurangi volume tinggi kecepatan tempo suara, apabila terjadi anti klimak.
Selain itu, teknik pengembangan juga dapat dilakukan melalui teknik jasmani yakni dengan cara sebagai berikut.
a. Menaikkan tingkat posisi Posisi jasmani. Kepala menunduk menjadi tengadah. Tangan terkulai menjadi teracung. Sikap berbaring menjadi duduk. Duduk menjadi jongkok, jongkok menjadi berdiri.
b. Dengan cara berpaling. Memalingkan kepala, tubuh (torso) serta badan.
c. Dengan cara berpindah tempat.
d. Berpindah dari kiri ke kanan, dari belakang ke depan, dari bawah ke atas.
e. Dengan melakukan gerakan anggota badan. Tanpa melakukan perobahan tempat, pemeranan dapat melakukan pegembangan dengan melalui melambaikan tangan, mengembangkan jari, mengepal tinju, menghentakan kaki, mengagguk-anggukan kepala. Dll.”Jangan lagi menyebut nama Indadid, saripah. Ia sudah sirna dari masa lajang u. Lima purnama yang lalu di Bukit Selasih, dia mengguna-gunaai suntil iparku. Dan sudah berulang egkau lupa. Lain kali janganlah lupa, kau adalah istriku (Kalimat ini walaupun oleh si pemeran mengucapkan sambil duduk, dapat di lakukan dengan beberapa gerakan).
f. Dengan air muka. Perobahan-perobahan air muka dapat mencerminkan perkembangan emosi si pemeran
4) Tekhnik Membina Puncak
Puncak ialah ujung tanjakan pengembangan, perkembangan adegan-adegan yang memuncak (klimak).
Dibawah ini 4 (empat) cara membina puncak.
a. Menahan Intensitas Emosi
Emosi baru dapat di capai pada tingkat puncak dalam memainkan adegan kejengkelan dan Kemarahan sang pemain harus dapat menahan, demikian pula dengan kegembiraannya yang tidak terlalu tinggi.
b. Menahan Reaksi Terhadap Perkembangan Alur
“Rang Garda seorang mucikari, dia tahu sedang dikejar-kejar oleh Matt Dilon. Dari kota-kekota lain. Ia menyembunyikan diri, tetapi mat dilon selalu menguntitnya. Akhirnya dikota lama Matt Dilon memergokinya di sebuah warung puja sera. Ia tidak bisa menghindar lagi, sekarang ia menghadapi sangseng yang ia takuti, yang selama beberapa purnama selalu merongrong hidupnya. Pemeranan yang memainkan Rang Garda harus menahan kegugupannyaa sebelum klimak di kota lama.
c. Teknik Bermain Bersama
d. Dengan Penempatan pemain
5) Timing
Yang dimaksud dengan timing adalah ketepatan hubungan gerakan jasmani yang berlangsung sekejab dengan kata atau kalimat yang diucapkan.
6) Teknik Penonjolan
Upaya memilah bagian mana yang perlu ditonjolkan senjata teknisnya adalah suara pengucapan dan jasmani nya.
7) Takaran Peran dalam Pemeranan
Sebagai seorang pemain haruslah mempunyai kejelian dalam memillih atau menapsiran pada warna naskah.
8) Tempo Permainan
Merupakan cepat atau lambatnya permainan.
9) Irama Permainan
Merupakan gelombang yang naik turun, longgar kencangnya gerakan, atau suara-suara yang terjadi dengan teratur.
10) Menciptakan Peran
Melalui pendekatan imajinatif (spontan daan otomatis) dan terperinci (mengumpulkan keterangan-keterangan)
Caranya adalah:
a. Kumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus di lakukan oleh peran yang bersaangkutan.
b. Kumpulkanlah watak sifat sang peran, lalu hubungkan dengan tindakan-tinddakan pokok yang harus di kerjakan, lalu yang mana yang harus ditonjolkan.
c. Carilah pada naskah Ucapan-ucapan yang meskipun tersirat dapat ditimbulkan maksudnya.
d. Carilah pada naskah hal-hal yang mana sifat sifat tersebut untuk dapat kesempatan di tonjolkan.
e. Ciptakanlah gerakan-gerakan air muka, sikap dan langkah yang bisa menyatkan watak-watak yang termaksud di atas.
f. Ciptakanlah timing yang tepat agar gerakan tersebut sinkron.
g. Dimana diperhitungkan Teknik pengucapan untuk memberikan tekanan daaan penonjolan pada watak tersebut.
h. Rancangkanlah garis permainan yang sedemikian rupa, sehingga gambaran tiap perincian watak dapat menurun sesuai dengan aturrannya dan pada tindakan yang terkuat hubungan pula pada atak yang terkuat pula.
11) Respons
Respons sangat penting (yang datangnya dr rasa spontan, yan lahir dari jiwa terdalam ier akting).
Pertama, respons dengan tanggapan-tanggapan cerita
Kedua, respons pada tanggapan lingkungan
Ketiga, tanggapan kepada teman-teman bermain.
12) Proses Ber-Akting
Langkah-langkah dalam Akting dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Latihan Akting
Latihan Akting dapat membentuk aktor sebagai impersonator, interpretator, komentator, dan sebagai personality actor. Aktor sebagai impersenator artinya aktor menyerahkan diri sepenuhnya sebagai memasuki peran yang dibawakan. Setiap peran dianggap sebagai dirinya sendiri. Dalam interpretator dan komentator, aktor tidak sepenuhnya memasuki peran yang dibawakan. Identitas dirinya masih tetap tampak. Sedangkan personality actor kita dapatkan dalam film atau televisi.
b. Gaya Estetis
Kita harus memainkan permainan sesuai gaya, oleh sebab itu aktor harus dilatih untuk memasuki gaya permainan sesuai dengan gaya drama tersebut. Sebagai contoh, dalam drama Yunani kuno digunakan gaya formal; dalam drama-drama Shakespeare digunakan gaya romantik; teater abad ke XIX menggunakan gaya deklamatoris; teater modern menggunakan gaya realistis; dan sebagainya. Gaya serius, gaya tragedis, dan bayolan merupakan gaya yang harus diekpresikan secara tepat oleh aktor atau aktris.
c. Pendekatan Untuk Peranannya
Ada dua pendekatan dalam menghayati peran yaitu metode dan teknik. Metode berhubungan dengan latihan sukma atau latihan “unsur dalam”. Dalam pendekatan teknis, yang dipentingkan adalah teknik bermain yang berhubungan dengan faktor luar (fisik). Penampilan fisik dan permainan di pentas mengutamakan kombinasi permainan fisik dan emosi.
d. Bidang Akting
Ada tiga yang harus digarap dalam latihan Akting, yaitu: teknik (fisik), mental (intelektual), dan emosi (spiritual). Bidang Akting yang bersifat teknis misalnya meliputi latihan pernafasan, latihan vokal, dan latihan proyeksi (penonjolan). Latihan mental berupa latihan watak, dengan dimulai menganalisis watak dari segala sudut (fisik, psikis, sosial); memahami pikiran, feeling (perasaan/simpati), action, dan berhubungan dengan permainan dan peranan yang lain. Emosi harus dilatih dalam drama aktor harus menghadirkan emosinya sesuai dengan tuntutan lakon.
e. Enam Pertanyaan bagi Seorang Aktor
Enam pertanyaan yang berkenaan dengan Akting. Dalam latihan Akting diperlukan disiplin, skiil, sifat fleksibilitas, kepatuhan, ketepatan, kerapian, dan kemampuan ber-Akting sesuai dengan tuntutan lakon.
Enam pertanyaan itu adalah:
1. Apakah aktor telah membawakan suara, gerak tubuh dan kepribadian sesuai dengan tuntutan dan kepribadian dalam perannya sesuai dengan tuntutan dan sebagai seorang individu?
Tubuh aktor harus terkoordinasikan seara baik. Movement (gerakan) harus dilaksanakan secara anggun, gesture harus mampu memberikan reinforcement (penguatan) bagi suaranya. Semua itu dilakukan oleh aktor secara jelas, logis, menarik, bertujuan dan benar. Seorang aktor tidak perlu meniru aktor lain, melainkan harus berusaha menciptakan kreasi sendiri.
2. Apakah Akting-nya jernih?
Sejak muncul pertama di pentas, Akting pemain hendaknya terarah dan tidak berlebihan. Pengaruh musik harus dihayati secara seksama dan ekspresinya tampak dari mimik pemain. Sangat sulit mengekspresikan suatu Akting yang segar, jernih, dan dengan kesungguhan hati, pada setiap penampilan, terlebih sesudah suatu adegan yang panjang.
3. Apakah orangnya dikendalikan?
Setiap aktor harus berusaha mengendalikan Akting-nya dalam arti semua geraknya beralasan dan tidak berlebihan. Semua tindakan Akting pemain harus disetai emotion touch, untuk mengendalikan Akting yang dilakukan. Dalam hal Akting, pemain memberi porsi terlalu besar sesuatu yang harusnya kecil, sebaliknya dalam Akting yang kering, semua tanpa penjelasan Akting yang besar lebih memberikan sugesti kepada penonton dari pada perbuatan biasa. Aktor yang baik tidak pernah menumpahkan semua emosinya kepada penonton.
4. Apakah orang tersebut mudah?
Penonton haruslah secara total tidak sadar akan semua usaha aktor atau aktris dipentas dalam latihan. Semua yang diekspresikan harus bersifat natural (tidak dibuat-buat). Penampilan yang sempurna, tetapi cukup mempesona penonton karena seolah-olah semua penampilan aktor itu tanpa dilatih, tanpa dihapalkan. Hal tersebut dapat dicapai, bila aktor telah bermain baik sebagai seorang seniman pentas.
5. Apakah aktingnya menyakinkan?
Semua penampilan aktor tersebut harus benar dan penuh motivasi. Cara meyakinkan penonton juga dapat dari kostum dan make up. kostum akan menghidupkan peran yang dibawakan mendekati kenyataan. Meka up yang kurang meyakinkan dapat diperhidupkan dengan penyinaran. yang penting adalah faktor psikologis, artinya penjiwaan kepada peran yang benar-benar menyakinkan penonton.
6. Apakah fisik dan mentalnya cukup siap menghadapi keseluruhan pentas?
Pemain adalah bagian dari tim. Berarti dengan dan bersama-sama tim. Ia tidak boleh main lebih atau kurang dari dari perannya, sebab jika terjadi demikian kekompakan tim akan terganggu salah seorang aktor yang menonjol yang ingin menguasai pentas, akibat porsi orang lain banyak dilonggar.
BAB IV PENYUTRADARAAN
1. Penyutradaraan
Dalam sebuah pementasan drama, perfilman atau lain halnya yang berhubungan dengan suatu pementasan pasti ada yang namanya sutradara. Sutradara mempunyai tugas mengkoordinasikan segala anasir pementasan, sejak latihan dimulai sampai dengan pementasan selesai. Sutradara mempunyai tugas sentral yang berat dalam sebuah pementasan tidak hanya akting para pemain yang diurusnya, tetapi juga kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. Musik yang bagaimana yang dibutuhkan, pentas seperti apa yang harus diatur, penyinaran, tata rias, kostum, dan sebagainya, semuanya diatur atas persetujuan sutradara. Oleh karena itu sutradara harus menguasai semuanya.
Penyutradaraan berhubungan dengan kerja sejak perencanaan pementasan, sampai pementasan berakhir. Dalam drama tradisional dan wayang sutradara “dalang”. Tugas sutradara drama modern melatih, mengkoordinasikan aktor/aktris, juga memimpin urusan unsur pentas seperti penata lampu, penata pentas, penata musik, penata rias, penata pakaian, dekorator, dan petugas lainnya. Harymawan menyatakan bahwa sutradara adalah karyawan teater yang bertugas mengkoordinasikan segala anasir teater, dengan paham, kecakapan, serta daya imajinasi yang inteligen guna menghasilkan pertunjukan yang berhasil.
1.1 Sejarah Timbulnya Sutradara
Dalam drama tradisional, kurang lebih dua abad yang lalu, belum ada sutradara. Dalam drama tradisional di Indonesia, masing-masing aktor bermain improvisasi. Yang ada hanyalah manajer dan produser. Dalam perkembangan kedudukan sutradara, beberapa kejadian penting dapat dicatat, yaitu sebagai berikut.
1. Pada saat Saxe Meiningen mendirikan rombongan teater di Berlin, pada tahun 1874-1890.. Saat itu dipentaskan 2591 drama di wilayah Jerman. Kemudian mengadakan tour ke seluruh Eropa. Dengan peristiwa itu, dirasa kebutuhan akan adanya sutradara yang mengkoordinasikan pementasan-pementasan..
2. Gurdon Craig (1872), putra Ellen Terry mempelopori penyutradaraan sehingga namanya sangat terkenal. Sampai kini, nam Craig dipuja sebagai sutradara genius. Dia dinyatakan sebagai sutradara yang memaksakan gagasannya kepada aktor/aktris. Melalui dirinya diperkenalkan seniman teater baru yang disebut sutradara. 3. Constantin Stanilavsky (1863-1938) merupakan sutradara Rusia yang terbesar. Ia mendirikan “Moscow Art Theater”. Dengan penyutradaraannya, dihilangkan sistem bintang, dan ia merupakan pelopor penyutradaraan yang mementingkan sukma.
1.2 Tugas Sutradara
Sebelum membahas lebih jauh tentang tugas-tugasnya, maka sutradara harus mengerti hal-hal yang berhubungan dengan pementasannya, misalnya:
1. Arti pementasann dan mengapa kontruksi pementassan harus disusun rapi.
2. Mengerti sikap karakter dan juga peranannya di dalam pementasan.
3. Mengerti bagaimana scene yang dibutuhkan, kostum, dan peralatan lampu yang sesuai.
4. Mengerti latar belakang pengarang naskah, periode pementasan, gambaran lingkungan dan juga gambarab audience yang akan menyaksikan.
5. Mampu menyadar kata dan ungkapan yang usang, sehingga dipahami penonton.
6. Mampu menghadirkan lakon sesuai dengan waktu dan tempat pementasan, sehingga suasana hakiki dapat dihayati.
7. Mampu menghadirkan image visual atau image kunci dengan dekorasi yang menggambarkan suasana yang sesuai.
Menurut Fran K. Whitting ada tiga macam tugas utama dari seorang sutradara, yaitu: merencanakan produksi pementasan, memimpin latihan aktor, dan aktris, dan mengorganisasi produksi. Dalam hal in, sutradara bertindak sebagai artis, guru dan eksekutif.
a. Merencanakan Produksi
Sutradara haruslah mampu menangkap pesan dan tema naskah tersebut, nada dan suasana drama secara menyeluruh juga harus dipahami. Untuk menjadi seorang sutradara, seorang harus mempersiapkan diri melalui latihan yang cukup serius, memahami akting dan memahami cara melatih akting dan memahami seluk beluk perwatakan sebagai dimensi dalam diri seorang peran.
Untuk memimpin pementasan drama besar, sebaiknya seorang calon sutradara mulai dengan berlatih memimpin drama yang sederhana, dengan latar belakang waktu masa kini yang tidak membutuhkan berbagai persiapan rumit. Mempersiapkan calon aktor secara seksama dapat dilakukan sebelum casting ditentukan, sutradara harus mempertimbangkan secara masak dan dewasa, dari berbagai segi tentang penunjukkan aktor atau aktris. Di samping menyesuaikan dengan karakternya, baik secara psikologis, sosiologis maupun fisiologis, maka faktor kecerdasan, kemudian latihan dan faktor kepribadian calon pemimpin harus mendapat perhatian.
Untuk suatu naskah tertentu, sutradara dengan kondisi pemain yang dipilih, dapat memperkirakan beberapa kali latihan yang dibutuhkan. Dengan demikian,dapat dibuat time-schedule yang terperinci. Jika waktu pementasan sudah ditentukan, maka time-schedule ini dapat lebih bersifat pasti.
b. Memimpin Latihan
Periode latihan dapat dibagi menjadi empat periode besar, yaitu:
1. Latihan pembacaan teks drama
2. Latihan blocking (pengelompokkan)
3. Latihan action atau latihan kerja teater.
4. Pengulangan dan pelancaran terhadap semua yang telah dilatih.
Latihan untuk aktor ini, berhubungan dengan pembinaan akting, blocking, crossing pemain, penyesuaian dengan teknis pentas, pemyesuaian dengan teknis pentas, dengan musik, sound system. Pembinaan aktor juga menyangkut teknik muncul, teknik menekankan isi. Teknik progresi dan teknik membina puncak.
1. Teori Rendra
Rendra mengemukakan sebelas langkah dalam menciptakan peran, yaitu
a. Mengumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh sang peran dalam drama itu.
b. Mengumpulkan sifat-sifat watak sang peran, kemudian dicoba dihubungkan dengan tindakan-tindakan pokok yang harus dikerjakannya, kemudian ditinjau, manakah yang harus ditonjolkan sebagai alasan untuk tindakan tersebut.
c. Mencari dalam naskah, pada bagian mana sifat-sifat pemeran itu harus ditonjolkan.
d. Mencari dalam naskah, ucapan-ucapan yang hanya memiliki makna tersirat untuk diberi tekanan lebih jelas, hingga maknanya lebih tersembul keluar.
e. Menciptakan gerakan-gerakan air muka, sikap, dan langkah yang dapat mengekspresikan watak tersebut di atas.
f. Menciptakan timing atau aturan ketepatan waktu yang sempurna, agar gerakan-gerakan dan air muka sesuai dengan ucapan yang dinyatakan.
g. Memperhitungkan teknik, yaitu penonjolan terhadap ucapan serta penekanannya, pada watak-watak sanga peran itu.
h. Merancang garis permainan yang sedemikian rupa, sehingga gambaran tiap perincian watak-watak itu, diasjikan dalam tangga menuju puncak, dan tindakan yang terkuat dihubungkan dengan watak yang terkuat pula.
i. Mengusahakanagar perencanaan tersebut tidak berbenturan dengan rencana (konsep) penyutradaraan.
j. Menetapkan bussiness dan blocking yang sudah ditetapkan bagi sang peran dan diusahakan dihapaagar menjadi kebiasaan oleh sang peran.
k. Menghayati dan menghidupkan peran dengan imajnasi dengan jalan pemusatan perhatian pada pikiran dan perasaan peran yang dibawakan.
BAB V
TATA RIAS DAN TATA KOSTUM
1. Tata Rias
2.1 Sejarah Tata Rias
Rias wajah bukan merupakan hal yan gbaru untuk dikenal atau dipergunakan. Sejak ribuan tahun yang lalu rias wajah sudah dikenal dan ditrapkan oleh kaum wanita khususnya, dimana setiap negara dan bangsa mempunyai ciri-ciri dan tanda-tanda ataupun standard tertentu akan arti ”cantik”. Warna-warni untuk rias wajah yang dikenal sejak zaman dulu adalah warna putih, merah dan hitam, yang diambil dari daun-daunan, kulit pohon yang ditumbuk, atau batu-batuan berwarna yagn dihaluskan dan dikenakan pada wajah. Nenek moyang kita mengenal cengkeh yang dibakar untuk menghitamkan alis, bubuk beras dan telur untuk bedak. Semua digunakan untuk mempercantik diri diambil dari alam sekelilingnya.
Perkembangn zaman, manusia mulai mengenal listrik, mengenal film baik hitam putih maupun berwarna. Sesuai perkembangan zaman berkembang pula teknologi seingga warna-warni di dalam dunia rias merias juga makin meningkat, karena segala macam warna dapat diserap oleh film berwarna. Sejalan dengna itu produk kosmetik makin banyak.
2.2 Pengertian Rias Wajah
Tata rias wajah adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang seni mempercantik diri sendiri atau orang lain dengan menggunakan kosmetik dengan cara menutupi atau menyamarkan bagian-bagian yang kurang semprna pada wajah maupun bagian-bagian yang sempurna atau cantik pada wajah dengan warna yang terang.
2.3 Tujuan Merias Wajah
Tujuan emrias wajah adalah untuk mempercantik diri pada umumnya, khususnya wajah agar kelihatan segar dan cantik.
Berdasarkan jenis rias, tata rias dapat diklasifikasikan menjadi 8 jenis, rias, yaitu sebagai berikut ;
1) Rias Jenis : Rias yang mengubah peran, misalnya peran laki-laki diubah menjadi peran wanita.
2) Rias Bangsa : Rias yang mengubah kebangsaan seseorang, misalnya orang muda berperan sebagai orang tua atau sebaliknya.
3) Rias Usia : Rias yang mengubah usia seseorang, misalnya orang muda berperan sebagai orang tua atau sebaliknya.
4) Rias Tokoh : Rias yang membentuk tokoh tertentu yang sudah memiliki ciri fisik yang harus ditiru. Misalnya seseoran gpemuda bisa berperan sebagai superman.
5) Rias Watak : Rias sesuai dengna watak peran. Misalnya tokoh sombong, pelacur, penjahat, dan lain-lain.
6) Rias Temporal : Rias dibedakan karena waktu tertentu. Misalnya rias sehabis mandi, bangun tidur pesta, sekolah, dan sebagainya.
7) Rias Aksen : Rias yang hanya memberi tekanan kepada pelaku yang mempuyai analisis sama dengan tokoh yang dibawakan.
8) Rias Lokal : Rias yang ditentukan oleh tempat atau hal yang menimpa pesan saat itu. Misalnya rias dipenjara, petani, dipasar, dan sebagainya.
2.4 Prinsip-prinsip Tata Rias Wajah
Untuk menentukan rias wajah pertama kali kita perlu mengoreksi bentuk wajah dan bagian-bagian wajah seperti mata, hidung, bibir dan bentuk alis, untuk melakukan suatu koreksi dipergunakan warna gelap dan warna terang.
1) Warna gelap /shading merupaka n warna bayangan memeri kesan menyamarkan, mengurangi, mencekungkan atau mengecilkan warna tersebut, adalah warna kecoklatan dan semua warna yagn dicampur dengan warna hitam.
2) Warna terang /tint. Memberi kesan menonjolkan, mengembungkan, meninggikan dan melebarkan warna tersebut adalah warna putih, silver dan lain-lain yang terang.
Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan tata rias wajah :
1) Kosmetik Pilihlah kosmeteik yagn tepat da bermutu baik untuk mempercantik wajah anda
2) Pembersih kulit wajah
Sebelum melakukan rias wajah kulit muka harus dalam keadaan bersih.
3) Pemilihan alas bedak
Pilihlah alas bedak yang sesuai dengan warna kulit anda.
4) Pemilihan bedak
Pilihlah bedak yang warnanya dilihat dari foundation (dasar bedak) yang digunakan, kalau dasar bedak warna gelap maka bedak dipilih warna yang setingkat lebih muda dari warna dasar bedak.
5) Pemilihan rias mata, perona bibir dan pipi
Pililah rias mata, perona bibir dan pipi yang sesuai atau serasi dengan busana,
6) Jenis kulit
Misalnya untuk kulit kering sebaliknya digunakan kosmetik yang mengandung minyak dan sebaliknya
7) Usia Faktor usia juga harus diperhatikan dalam tata rias wajah korektif ini sesuaikan gaya tata rias dengan wajah.
8) Waktu dan suasana
Sesuaikan tata rias wajah dengan keadaan, waktu, apakah untuk siang atau malam hari. Pakailah tata rias sederhana pada siang hari dan yang lebih tebal pada malam hari.
Berdasarkan sifatnya, tata rias diklasifikasikan menjadi 5, yaitu :
1) Base (dasar)
Rias dasar ini harus dipakai. Biasnaya pemain pria karena tergesa-gesa dengan memakai base.
2) Foundation
Jenis alat rias ini dapat berwujud stick atau pasta.
3) Lines
Lines ini berguna untuk memberikan batas anatomi wajah.
4) Rouge
Rouge untuk menghidupkan bagian pipi dekat mata, tulang pipi, dagu dan kelopak
5) Clean sing (cream)
Cream pembersih ini harus ada karena secara efektif menghilangkan semu arias kita.
2. Tata Kostum / Pakaian
Seperti halnya rias, tata pakaian membantu aktor membawakan peranannya sesuaid engan tuntutan lakin. Jika rias dan kostum ini agak asing ada dalam jumlah cukup banyak, diperlukan latihan penyesuaian diri dengan rias dan kostum.
Berdasarkan tujuan pemberiankostum pada aktor dan aktris, tata pakaian dapat dirumuskan bertujuan untuk hal-hal berikut :
1) Membantu mengidentifikasi periode saat lakon itu dilaksanakan dengan kostum kita dapat menentukan / mengelompokkan apa yang cocok untuk orang tua / muda.
2) Membantu mengidividualisasikan pemain.
3) Menunjukkan asal-usul dan strategi sosial orang tersebut dengan kostum kita dapat melihat asal usul seseorang, misal adat palembang, jawa dan lain-lain.
4) Kostum juga akan menunjukkan waktu sesuai dengan zaman / trend yang sedang berlangsung.
5) Kostum juga mengeskpresikan usia orang itu.
6) Kostum juga mengekpresikan gaya permainan.
7) Kostum, bagaimanapun rumitnya juga harus membangtu gerak-gerik aktor dipentas dan membantu aktor mengekspresikan wataknya.
Berdasarkan sifat dan fungsinya, pakaian ada yang digunakan sebagai berikut :
1) Pakaian dasar/foundation
Pakaiand asar ini entah kelihatan atau tidak merupakan bagian kostum yang berikan silvet (latar belakang) pada kostum.
2) Pakaian kaki (sepatu)
Style dari sepatu disamping memberikan efek visual pada penonton, juga mempengaruhi gaya jalan dari actor
3) Pakaian tubuh (body)
Pakaian tubuh disesuaikan dengan kebutuhan lakon, dan mempertimbangkan usia watak, status sosial, keadaa emosi, dan sebagainya.
4) Pakaian kepala
Pakaian kepala ini dapat berupa mahkota, topi, kopia gaya rambut, sanggul, wig, topeng, dan sebagainya.
5) Kostum pelengkap (aksesoris)
Kostum pelengkap ini dimaksudkan untuk memberik efek dekoratif, efek watak, atau tujuan lainyang belum dicapai dalam kostum yagn lain.
Berdasarkan tipe pakaian tata pakaian dapat diklasifikasikan sbb :
1) Kostum histories
Kostum yagn disesuaikan dengan periode-periode spesifik dalam sejarah
2) Kostum modern
Kostum yang dipakai oleh masyarakat masa kini
3) Kostum nasional
Kostum dari dearah-daerah atau tempat spesifik
4) Kostum tradisional
Kostum yang disesuaikan dengan karakter spesifik secara simbolis.
Untuk dapat menyediakan kostum yang sesuai dan tepat bagi aktor, maka kostum harus ;
1) Mempelajari watak peran
2) Usaha riset priode sejalan dan pakaian nasional yang dibawakan sebagai contoh : untuk memberikan kostum pada film November 1928, teguh karya dan asistennya engadakan riset yang mendalam tentang pakaian,bentuk pistol, ikat kepala, bedil, sanggul, seragam militer. Pakaian lurah, dan sebagainya. Dari periode itu kostum berfungsi untuk memberikan latar belakang fisik dan psikis.
BAB VI
TATA CAHAYA DAN TATA SUARA
1. Tata Cahaya/Lampu
Yang dimaksud tata lampu adalah pengaturan cahaya di panggung. Karena itu, tata lampu erat hubungannya dengan tata panggung. Yang mengatur seluk-beluk pencahayaan di panggung adalah penata lampu. Penata lampu biasanya menggunakan alat yang biasa disebut spot light.
1.2 Tujuan Tata Lampu
Lampu dapat memberikan pengaruh psikologis, dan juga dapat berfungsi sebagai ilistrasi (hiasan) atau penunjuk waktu (pagi, sore) dan suasana pentas. Secara lebih jelas tujuan tata lampu dapat dinyatakan sebagai berikut :
1) Penerangan terhadap pentas dan aktor. Dengan fungsi ini, pentas dengan segala isinya dapat terlihat jelas oleh penonton. Penerangan juga dapat mengandung arti penyinar. Artinya menyoroti bagian-bagian yang ditonjolkan, sehingga lebih tampak jelas, sesuai dengan tuntutan dramatik lakon.
2) Memberikan efek alamiah dari waktu, seperti jam, musim, cuaca, dan suasana.
3) Membantu melukis dekor (scenery) dalam menambah nilai warna hingga terdapat efek sinar dan bayangan.
4) Melambangkan maksud dengan memperkuat kejiwaannya. Dalam hal ini, efek tata warna sangat penting kedudukannya.
5) Tata lampu juga dapat mengekspresikan mood dan atmosphere dari lakon, guna mengungkapkan gaya dan tema lakon itu.
6) Tata lampu juga mampu memberikan variasi-variasi, sehingga adegan-adegan tidak statis.
Lampu yang digunakan hendaknya berwarna-warni, agar mampu memberikan efek psikologis dan variasi. Disamping itu juga harus ada pengaturan derajat ketajaman sinar (voltase). Juru lampu harus membuat alat tata lampu ini semudah mungkin, sepraktis mungkin, dan juga harus disertai perencanaan tata lampu yang mendetail untuk suatu lakon yang disiapkan (lighting plot). Skakelar untuk setiap warna dan jemis sinar, diberi tanda khusus, dan dibedakan letaknya secara baik. Dalam teater arena dan teater modern, peranan lampu ini sangat penting, dan diharapkan mampu menganti dekorasi.
1.3 Jenis-jenis Lampu
Berdasarkan fungsi dari tata sinar, maka lampu dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :
1) Lampu primer, yaitu sumber sinar yang langsung menerangi benda-benda atau obyek lainnya, dan mengakibatkan menimbulkan bayangan.
2) Lampu skunder, yaitu lampu yang bertugas menetralisir bayangan yang timbul oleh lampu primer. Penempatannya sedemikian rupa, sehingga bayangan yang menggangu visualisasi terhadap lakon, dapat dinetralkan. Jenis lampu skunder ini juga dipertimbangkan fungsi lainnya, yaitu unutk menghidupkan panggung beserta dekorasinya.
3) Lampu untuk latar belakang, yaitu lampu khusus untuk menerangi cyclorama. Untuk pentas, biasanya digunakan 3 ways lighting system, sedangkan untuk akhir pentas, digunakan ways lighting system.
Perlu diperhatikan tata lampu untuk memperhidup lighting. Oleh sebab itu, lampu primer harus disusun sebaik mungkin, sehingga fungsi menghidupkan akting dapat dicapai.
Untuk sekedar mengerti apa ayng harus disiapkan sehubungan dengan lampu ini, perlu diketahui bahwa alat tata sinar ada 3 macam. Dalam teater sederhana (sekolah) sebaiknya alat ini dimiliki semaksimal dapat diusahakan.
1) Strip light, yaitu penataan lampu yang berderet. Deretan lampu ini dapat diberi sekat (copartment system) dan dapat juga tanpa sekat (open system). Deretan lampu disusun dalam kotak khusus yang mampu memancarkan sinar dengan terarah. Biasanya ditempatkan di lantai atau di atas pentas. Footlight, adalah strip light yang diletakkan di lantai depan pentas, sedangkan borderlight diletakkan di atas pentas, digantungkan di belakang border (pembatas).
2) Spot light, yaitu lampu dengan sinar yang kuat, dan berguna untuk memberikan sinar pada suatu titik atau bidang tertentu. Dalam spotlight, sinar-sinar yang kuat dikumpulakn dalam kotak metal dan dipantulakn oleh sinar reflektor dipancarkan melalui lubang bundar ke titik sasaran.
3) Food light, yaitu sumber sinar yang memiliki kekuatan besar, tapi tidak menggunakan lensa seperti spotlight. Keluar masuk, drop, dan clclorama. Dapat juga diletakkan di atas pentas, untuk menerangi pentas dan backdrop.
2. Tata Suara
Yang dimaksud tata suara bukan hanya pengaturan pengeras suara (sound system), melainkan juga musik pengirin. Musik pengiring diperlukan agar suasana yang digambarkan terasa lebih meyakinkan dan lebih mantap bagi para penonton. Musik pengiring dimainkan dibelakang layar agar tidak terlihat penonton. Kalau terlihat, permainan drama kurang baik, karena ada semacam persaingan antara pemain musik dan pemain drama di panggung.Tugas mengatur tata suara ini dapat didobel oleh juru musik. Akan tetapi jika dibutuhkan sound effect yang cukup banyak, harus ada petugas tersendiri. Suara yang mengiringi suatu adegan atau sebelum/sesudah adegan, bahkan mungkin juga mengakhiri adegan atau mengakhiri pertunjukan adalah sesuatu yang harus disiapkan secara matang dan menyuarakannya harus tepat waktu (tidak terlambat atau terlalu cepat).
Peran suara ini benar-benar menentukan jika menjadi pelengkap adegan yang ikut diucapkan dalam dialog para pelakunya. Suara-suara yang memberi efek itu, misalnya suara tangis, suara anjing melolong, suara marga satwa, suara air terjun, dan sebagainya. Suara-suara itu akan meyakinkan penonton terhadap adegan yang sedang ditonton. Baik musik maupun sound effect hanya berperan untuk memberi efek psikologis dan menghidupkan adegan. Sebab itu, juru musik dan juru suara harus mementingkan lakon lebih dari terbuai atas musik atau suaranya. Musik dan suara itu mengabadi pada lakon. Disuarakan tepat pada waktunya, dan cepat diperkecil volumenya, lamat-lamat, untuk menghilangkan secara bertahap jika dialog sudah berjalan. Musik dan suara yang melebihi porsi akan menggangu, bahkan dapat menggagalkan lakon.
Secara teknis sumber listrik untuk lampu, sound dan musik ini hendaknya dibedakan. Demikian pula, jika diberikan pengeras untuk musik dan sound, hendaknya dibedakan dengan pengerassuara untuk pentas. Jika salah satu terganggu tidak akan menggangu seluruhnya. Dan jika disuruh memilih, maka pengeras untuk pentas, unutk dialog aktor merupakan pengeras yang paling vital tidak boleh tertanggu.
2.1 Tata Musik
Peranan musik dalam pertunjukan drama sangatllah penting. Musik dapat menjadi bagian lakon, tetapi yang terbanyak adalah sebagai ilustrasi, baik sebagai pembuka seluruh lakon, pembuka adegan, memberi efek pada lakon, maupun sebagai penutup lakon. Tata suara berfungsi memberikan efek suara yang diperlukan lakon, seperti suara ketepak kaki kuda, tangis, bunyi tembakan, bunyi kereta api, mobil, burung berkicau, dan sebagainya. Untuk memberikan efek tertentu, musik sering digabung dengan suara (sound effect). Misalnya dalam memberi efek terkejut, panik, tegang, sedih, gembira meluap-luap, perkelahian, musik berbaur dengan sound efect sangat menghidupkan adegan. Musik disamping sering harus digunakna bersama sound effect, juga dengan komponen pentas yang lain. Misalnya untuk menggambarkan suasana hujan angin dengan suasana kalut, musik dibantu oleh bunyi hujan, bunyi guruh dan petir, serta kilat yang diperoleh dari tata lampu.
Fungsi yang diharapkan dari tata musik dirumuskan sebagai berikut :
1) Memberikan ilustrasi yang memperindah. Karya drama merupakan karya seni. Maka perlu ada penghiasnya. Kalau tanpa hiasan rasanya cemplang. Hiasan pada awal dapat memikat penonton, dan membawa ke arah perhatian pada pentas. Hiasan pasa akhir lakon sekaligus mempersilahkan penonton pulang.
2) Memberikan latar belakang. Latar belakang ini dapat berarti latar belakang kebudayaan, latar belakang sosial, atau keagamaan. Dapat juga latar belakang karakter. Begitu mendengar gamelan Jawa, maka kita langsung terkesan bahwa adegan ini berlatar belakang Jawa. Musik hingar bingar yang mengikuti selera masa kini, dapat memberi latar belakang adegan kaum muda. Latar belakang Kristiani atau Muslim dapat diberikan dengan musik khas dari agama tersebut. Latar belakang watak kasar atau halus dapat diberikan melalui musik dengan nada dan irama yang spesifik.
3) Memberikan warna psikologis. Untuk menggambarkan warna psikologis peran, musik sangatlah besar manfaatnya. Peran yang sedih, kacau, terkejut, gembira, semua dapat diberikan tekanan dengan musik yang sesuai. Dalam wayang dan ketoprak adegan perang tidak pernah hidup tanpa iringan gamelan yang cocok. Demikian pula adegan cekcok dalam drama, membutuhkan iringan musik yang sesuai. Ada kalanya terjadi adegan tanpa dialog. Pada saat ini musik memegang peran yang sangat penting untuk memberikan warna psikologis pada pemain. Warna psikologis yang didukung oleh musik dapat warna individual, terlebih adalah warna psikologis dari adegan.
4) Memberi tekanan kepada nada dasar drama. Nada dasar drama harus dipahami oleh penonton. Dengan musik yang sesuai yang dapat mengungkap jiwa dari drama itu, penonton akan terhanyut ikut terlibat dalam dalam suasana batin yang pokok dari drama tersebut.
5) Membantu dalam penanjakan lakon, penonjolan, dan progresi. Di samping itu juga membantu pemberian isi serta meningkatkan irama permainan. Semua ini berhubungan dengan alur dramatik yang menanjak menuju titik klimaks. Dalam wayang dapat disimak, bahwa jenis iringan gamelan semakin malam semakin berirama keras, karena untuk keperluan meningkatkan tempo permainan dan menanjakkan konflik.
6) Memberi tekanan pada keadaan yang mendesak. Misalnya mendengar berita tidak disangka-sangka, dengan musik yang cocok, tanggapan perasaan peran dapat lebih nyata daripada dengan ucapan.
7) Memberikan selingan. Variasi di pentas sangat perlu. Semua itu agar penonton tidak lelah dan bosan.
2.2 Ilustrasi dan Efek Suara
Di pentas dipasang pengeras suara dengan microphone yang cukup memadai. Peran microphone ini sangat penting, sebab jika lakon drama ada pada dialog. Jika microphone tidak cukup dan tidak kuat kepekaannya (sensitif), maka kegagalan akan terjadi karena dialog tidak dapat didengar penonton. Pengeras suara sebaiknya menyewa yang cukup sensitif dengan daya watt out put yang besar, selain itu dipasang microphone yang memadai sehingga dialog akan dapat didengar penonton.
BAB VII
TATA PANGGUNG DAN DEKORASI
1. Tata Panggung
Sebenarnya, orang yang amat berkepentingan dengan medan untuk bermain adalah sang sutradar dan aktor. Dan pada hakikatnya, pada saat sang sutradara menjalankan tugsanya, ia sedang melukiskan peristiwa-peristiwa sosial yang amat penting. Panggung perlu pula diketahui calon aktor yang tidak boleh tidak pada saatnya nanti bakal berhubungan dengan sang sutradara. Bahkan mungkin suatu etika aktor itu sendiri harus menyutradarai pementasan sebuah senario.
Banyak seniman drama atau seniman film yang tidak puas hanya jadi pemain. Mereka mempunyai ambisi untuk mengekspresikan konsepnya tentang akting. Karena itu pemain-pemain ini juga tampil sebagai sutradara. Misalnya Orson elles, W.S. Rendra.
1.1 Arah dalam Panggung
Daerah penonton yang terlihat oleh penonton disebut ruang permainan, playing space, atau tempat para pemain berakting. Kecuali bagian depan, tempat bermain ini pada saat pementasan ditutup dengan dinding yang dapa dipindah-pindah, atau ditutup slide wing, sayang samping, terbuat dari papan atau kerangka logam berlapis kain. Di balik dindingwing disebut ibackstagei, balik panggung, belakang panggung. Di balik panggung inilah para pekerja pentas berada. Antara lain souffler, pembisik bagi aktor bila aktor lupa teks dialognya. Para pemain sering pula menunggu giliran tampil dengan dudukdi kursi yang tersedia di balik panggung atau di ruang rias, ruang make up.
1.2 Wilayah Panggung
Henning Nelms membagi panggung menjadi enam daerah. Garis batas pemisah ini tentu saja tidak akan kita temukan. Ia bersifat maya. Kita anggap sebagai ada, dan sangat berguna pada saat-saat latihan.
Tiap wilayah, daerah, atau petak dalam pentas mempunyai kualitas tertentu. Pengambilan posisi seorang pemain pada suatu petak, juga blocking. Pengelompokan atau grouping beberapa pemain pada kotak tertentu akan mengungkapkan kandungan perasaan yang berbeda, sesuai dengan watak pelaku.
1.3 Watak Petak
Calon aktor harus menghafal benar petak-petak ini hingga tidak perlu mengingat setiap akan melakukan perpindahan tempat.
2. Tata Pentas dan Dekorasi
2.1 Macam-macam Pentas
Ada beberapa jenis pentas dan teater modern, yaitu sebagai berikut:
1) Pentas konvensional
2) Pentas arena
3) Revolving
4) Elevator Lift
Dalam pentas diperlukan latar belakang suasana yang mendukung keadaan di pentas. Latar belakang itu harus bermakna. Latar belakang lazim disebut scenery, yaitu latar belakang dimana pentas diadakan untuk mempertunjukkan lakon. Scenery meliputi segala macam hiasan dan lukisan yang melingkupi daerah permainan. Menurut struktur settingnya, ada dua scenery, yaitu Drop dan wing setting, Box setting.
Dalam rop and wing setting dan box setting, terdapat beberapa catatan,
1) Jika kedua sisi pentas terbuka, sehingga pemain keluar masuk melalui wing, setting yang demikian disebut drop and wing setting, sedangkan jika sisi lain tertutup, sehingga pemain masuk keluar melalui opening khusus, disebut box setting.
2) Terminator, yaitu wing paling depan, yang bersifat statis, tak dapat diputar dan biasanya diberi gambar isi cerita. Teaser dan terminator merupakan bingkai kedua untuk memperkeciol panggang yang ada.
3) Drapery, berguna untuk menghias pentas.
Ada hubungan antara scenery dan dekorasi. Fungsi dekorasi adalah untuk memberikan latar belakang. Dekorasi dapat berwujud scenery, tetapi sering hanya melatar belakangi. Berdasarkan tempat mewujudkannya, ada dua macam dekor, yaitu:
1) Interior setting, jika lakon dipentaskan di dalam rumah
2) Exterior setting, jika lakon dipentaskan terjadi pada alam terbuka
Klasifikasi dekor didasarkan atas aliran-aliran kesenian yang dianut oleh penulis drama, atau sutradara, atau dekorator (bila dia diberi wewenang).
1) Naturalisme.
2) Realisme.
3) Impresionisme.
4) Ekspresionisme.
5) Simbiolisme.
Ada beberapa tugas scenery, yang erat hubungannya dengan dekor yang dipasang, yaitu:
1) Scenery harus mampu membantu aktor. John Dolman menyatakan bahwa bagi aktor scenery harus mampu menjadi hal-hal berikut ini.
a. Tempat berlindung.
b. Dekorasi.
c. Sugesti terhadap mood.
d. Sugesti terhadap tempat kejadian.
e. Pelukisan tempat kejadian.
2) Scenery harus mampu menghindarkan kekacauan.
3) Scenery harus mampu melengkapi elemen dekorasi.
4) Scenery dan setting mamapu mengungkapkan atmosphere (suasana) dan mempengaruhi mood.
5) Scenery mampu memberi kesan terhadap wakktu dan tempat permainan.
Perlengkapan pentas dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
1) Set props.
2) Hand props.
3) Trum props.
4) Effects.
2.2 Komposisi Pentas
Komposisi pentas harus memberikan pandangan yang indah, hangat, dan menarik. Adapun aspek motif meliputi hal-hal berikut.
1) Kewajaran. Komposisi pentas tampak wajar.
2) Menceritakan kisah. Komposisi pentas tidak boleh sembarangan. Tetapi harus membantu mengungkapkan cerita.
3) Menggambarkan emosi. Komposisi pentas yang acak-acakan akan membantu suasana emosi para pemainnya.
4) Mengidentifikasikan perwatakan. Watak secara sosiologis akan didukung oleh komposisi pentas yang tepat.
BAB VIII
MANAJEMEN TEATER
1. Manajemen Produksi
1.1 Produser
Pruduser adalah orang yang membiayai segala keperluan dalam pementasan darama. Setiap kali pementasan drama, produser merupakan factor yang paling utama, apakah pementasan drama dapat dilaksanakan atau tidak. Dalam pementasan drama tidak sedikit biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, dengan adanya produser maka biaya tersebut akan ditanggung sepenuhnya oleh produser.
Walaupun demikian, unsur-unsur pementasan drama yang lain juga merupakan factor yang penting juga dalam pementasan drama. Dengan kata lain baik produsen maupun unsur yang lain adalah suatu yang tak dapat dipisahkan antara satu sama lain.
1.2 Pemain
Pemain adalah orang yang memeragakan cerita. Berapa pemain yang dibutuhkan, tergantung berapa banyak tokoh yang ada dalam naskah drama yang akan dipentaskan itu. Sebab, setiap tokoh akan diperankan seorang pemain.
Agar berhasil memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalam sebuah naskah drama, maka pemain juga harus dipilih secara tepat. Jika drama itu pemainnya campuran, untuk menentukan pemain tentu lebih mudah daripada tidak campuran. Yang dimaksud tidak campuran adalah para pemain terdiri dari anak-anak, remaja dan orang tua. Juga, pemain laki-laki dan perempuan sebab. Sebab pemain-pemainnya campuran, untuk memainkan tokoh ayah tentu lebih baik dipilih pemain orang tua saja. Sebaliknya, pemain anak-anak pemerannya adalah anak-anak.
Demikian pula tokoh remaja putra atau putri juga lebih baik diperankan oleh remaja putra atau remaja putri. Dengan demikian, keadaan fisik pemain sudah mirip atau mendekati tokoh yang diperankan. Seorang pemain harus benar-benar bisa Seperti tokoh yang diperankan. Untuk itu, ia harus menguasai dan mampu memerankan watak, tingkah dan busana atau hal lain yang mendukung peranannya.
Dalam upaya memilih pemain drama yang tepat, cara berikut ini dapat diterapkan.
1) Pertama-tama naskah drama yang sudah dipilih itu harus dibaca berulang-ulang agar semuanya dapat dipahami. Dan dialog para tokoh (dan penjelasan lain) dapat diketahui watak tiap-tiap tokoh dalam naskah drama itu.
2) Setelah diketahui watak tiap-tiap tokoh, lalu dipilih pemain yang cocok dan mampu memerankan masing-masing tokoh.
3) Selain pertimbangan watak, perlu dipertimbangkan perbandingan usia dan perkiraan perawakan (postur).
4) Kemampuan pemain menjadi pertimbangan penting pula.
5) Sebaiknya dipilih pemain yang “cerdas”. Artinya, dalam waktu tidak terlalu lama berlatihnya, dia sudah bisa memainkan tokoh seperti yang dikehendaki naskah. Kemampuan bermain drama dapat dipelajari. Yang berminat dapat mempelajarinya lewat berbagai buku tentang cara bermain drama. Bahkan bagi pemain serius dapat mendalaminya lewat sekolah. Di Yogyakaria ada sekolah khusus tentang drama, yaitu Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi). Di akademi ini diajarkan, antara lain cara-cara berakting, atau lebih luasnya cara-cara bermain drama. Di Jakarta, sekolah khusus yang mengajari cana bermain drama ialah Institut Kesenian Jakarta (IKI ) di Taman lsmail Marzuki (TIM).
1.3 Penonton
Penonton termasuk unsur penting dalam pementasan drama. Bagaimanapun sempurnanya persiapan, kalau tak ada penonton rasanya drama tak akan dimainkan. Jadi, segala unsur drama yang telah disebutkan sebelumnya pada akhirnya akan bermuara kepada kepuasan penonton. Persis seperti juru masak di restoran. Aneka bahan dipilih, bermacam bumbu digunakan, berbagai teknik pengolahan diterapkan, semua itu untuk pelanggan agar pelanggan mau datang, membeli, dan menikmatinya. Kalau masakan enak dan harganya cocok biasanya pelanggan puas dan akan datang lagi pada waktu lain. Pelanggan semakin banyak sehingga pengusaha rumah makan itu memetik keuntungan besar, usahanya sukses.
Demikian pula pertunjukan drama. Kesuksesannya bisa diukur dan hanyak-sedikitny penonton. Kalau penontonnya , (dan kebanyakan merasa puas), pertunjukan drama itu dapat dikatakan sukses besar.
Siapakah penonton? Penonton adalah orang-orang yang mau datang ke tempat pertunjukan. Biasanya mereka mau meninggalkan rumah dan kesibukannya untuk menonton drama karena merasa yakin hahwa lakon dan pemainnya bagus. Kalau sudah yakin benar mereka akan datang menonton meskipun harus mengeluarkan uang untuk membayar harga tanda masuk. Memang, tidak semua penonton wajim membeli tiket. Banyak pula penonton drama gratis. Meskipun demikian, penonton tetap berharap agar drama yang ditontonnya bisa menyenangkan hati mereka.
2. Manajemen Artistik
2.1 Naskah
Bila hendak mengadakan pertunjukan, yang dibutuhkan pertama-tama adalah naskah drama. Naskah drama adalah karangan yang berisi cerita tau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh, dan keadaan, panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang juga dilengkaapi penjelasan tentang tata busana, tata lampu, dan tata suara (musik pengiring).
Naskah drama bentuk dan usunannya berbeda dengan naskah cerita pendek atau novel. Naskah cerita pendek atau novel berisi cerita lengkap dan langsung tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebaliknya, naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung. Penentuan ceritanya diganti dengan dialog para tokoh. Jadi, naskah drama itu mengutamakan ucapan-ucapan atau pembicaraan para tokoh. Dari pemhicaraan para tokoh itu penonton dapat menangkap dan mengerti seluruh ceritanya. Pemain drama dibagi dalam babak demi babak. Setiap babak mengisahkan peristiwa tertentu. Peristiwa itu terjadi di tempat tertentu, dalam waktu tertentu, dan suasana tertentu pula. Misalnya drama itu terdiri dan tiga babak, berarti babak I, babak II dan babak III. Tiap-tiap babak menggambarkan peristiwa yang berbeda. Begitu pula tempat, waktu dan suasananyapun berbeda. Dengan pembagian seperti itu, penonton memperoleh gambaran yang jelas bahwa setiap peristiwa berlangsung di tempau. waktu, dan suasana yang berbeda.
Untuk memudahkan para pemain drama, naskah ditulis selengkap-lengkapnya, bukan saja berisi percakapan, melainkan juga disertai keterangan atau petunjuk. Petunjuk itu misalnya gerakan-gerakan yang dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda peralatan yang diperlukan, dan keadaan panggung setiap babak. Juga tentang bagaimana dialog diucapkan, apakah dengan suara lantang, lemah atau dengan berteriak. Pendek kata, naskah drama itu benar-benar sudah lengkap dan sudah siap dimainkan di panggung.
2.2 Sutradara
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan drama. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan pementasan drama, ia tentu harus membuat perencanaan dan melaksanakannya. Sutradara layaknya seorang panglima yang merancang pertempuran dan berjanji harus menang. Seorang panglima yang baik adalah juga seorang prajurit yang baik. Demikian pula seorang sutradara yang dengan sendirinya haruslah seorang aktor yang baik. Dengan demikian dia tidak hanya pandai mengarahkan, tetapi juga piawai melakukannya. Tugas sutradar sangat banyak dan beban tauggung jawabnya cukup berat. Sutradara harus memilih naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, memilih pemain melatih pemain, bekerja dengan staf, dan mengkoordinasikan setiap bagian. Semua itu harus dilakukan dengan cermat. Bila pementasan drama berjalan lancar menarik, dan memuaskan penonton, sutradara adalah orang pertama yang berhak mendapatkan acungan jempol. Sebaliknya, bila terjadi ketidak lancaran yang menyebabkan ketidak puasan penonton, sutradara pasti menjadi sasaran makian.
Bagi seorang sutradara, yang mula-mula dilakukan adalah memilih naskah (atau menulis naskah sendiri kalau mau, mampu dan ada waktu). Naskah itu lalu dibaca berulang-ulang, direnungkan, ditafsir-tafsirkan sampai akhirnya mendapatkan kesimpulan bagaimana watak tokoh-tokohnya, tata riasnya sulit atau tidak, pengaturan panggungnya mampu dikerjalan atau tidak, dan seterusnya. Meski sebenarnya, urusan tata rias, tata panggung, tata suara, dan tata lampu dapat diserahkan kepada orang lain.
Selanjutnya, sutradara memilih para pemain, dasar pertimbangannya, pemain itu diperkirakan cocok dengan tokoh dalam cerita baik postur, watak, maupun kemampuan berakting. Para pemain terpilih kemudian diberi penjelasan tentang lakon drama yang akan dipentaskan, watak para tokoh dan hal-hal lain berkaitan dengan drama yang akan dipentaskan. Kalau perlu, dilanjutkan diskusi dengan pemain.
Tugas sutradara selanjutnya adalah melatih, membimbing, mengarahkan para pemain agar dapat memrtsnksn tokoh dalam cerita. Ini bukan perkara mudah sebab, . harus mampu menafsirkan watak dan lagak tokoh cerita secara tepat kemudian memindahkan watak dan lagak itu kepada pemain yang dipilihnya. Seorang sutradara tidak boleh bekerja sambil lalu. Ia harus bersemangat tinggi dan sungguh-sungguh melatih para pemain. Sikap disiplin dan tegas harus ditunjukkannya. Ia tidak boleh segan menegur, mencela, atau menyalahban pemain yang memang salah mengucapkan dialog atau berakting. Jika perlu, dengan tegas menindak pemain yang tidak disiplin. semua itu demi keberhasilan pementasan drama.
Dalam pelatihan sutradara memberikan perintah, aba-aba, pentunjuk, dan saran kepada pemain. Setiap pemaih harus tunuk kepadanya. Semua kata-katanya harus dijalankan. Sutradara harus “tega” menyuruh pemain mengulang-ulang dialog dan aktingnya sampai benar-benar sesuai dengan tokoh yang diperankannya.
Sutradara juga menujuk tugas khusus, yaitu penata rias, penata busana, penata panggung, penata lampu dan penata suara. Sutradara harus menjalin komunikasi yang baik dnegan meraka, terutama memberi pengarahan tentang apa yang harus dilakukan para petugas. Selain itu sutradara juga mengkoordinasikan kerja pada petugas agar semuanya berjalan dengan lancar dan serasi. Semua itu memang menjadi tanggung jawab sutradara.
2.3 Tata Busana
Tata busana adalah pengaturan pakaian pemain baik bamhan, model, maupun cara mengenakannya. Tata busana sebenarnya mempunyai hubungan yang erat sekali dengan tata rias. Karena itu, tugas mengatur pakaian pemain sering dirangkap penata rias. Akan tetapi, sering pula terjadi tugas penata rias dipisahkan dengan tuga mengatur pakaian. Artinya, penata rias hanya khusus menata wajah, sedangkan mengatur pakaian atau busana penata busana dengan pertimbangan untuk mempermudah dan mempercepat kerja. Meskipun demikian, penata rias dan penata busana harus bekerja sama saling memahami, saling menyesuaikan, dan saling membantu agar hasil akhirnya memuaskan.
2.4 Tata Rias
Yang dimaksud dengan tata rias adalah cara mendandani pemain. Orang yang mengerjakan tata rias disebut penata rias. Tugasnya merias wajah pemain. Alat-alat rias bermacam ragam dan banyak tersedia di toko. Tentu saja ada yang mahal dan ada yang murah. Untuk merias pemain drama, tidak perlu menggunakan alat rias yang mahal. Apalagi sulit didapat. Sebaiknya mempergunakan alat rias yang sederhana, murah, dan mudah didapat. Kalau perlu, sebagian dibuat sendiri. Alat-alat rias itu, misalnya bedak, pemerah bibir, bubuk hitam dan arang, pensil alis gelung palsu, kumis palsu, dan lem.
Seorang penata rias harus memiliki rasa seni yang tinggi. Karena tugasnya merias wajah, ia harus tahu apakah. hasil riasannya sudah cukup bagus. Apa. sudah sesuai dengan tokoh yang akan diperankan? Misalnya, merias pemain yang akan memerankan nenek tua. Setelah merias, ia perlu memeriksa kembali dan mengamati dengan teliti apakah pemain yang diriasnya sudah benar-benar tampak seperti nenek tua. Selain harus mempunyai rasa seni, penata rias harus terampil dan cekatan. Mengapa? Pemain yang harus dirias adakalanya cukup banyak. Kalau kerja penata rias lambat bisa jadi pementasan drama akan terlambat. Apalagi kalau terlambatnya cukup lama, bisa merusak keseluruhan rencana pementasan drama. Karena itu, penata rias harus terampil dan cekatan, dan mampu mengatur waktu sehingga setiap pemain yang akan naik panggung sudah dirias dengan baik.
2.5 Tata Suara
Yang dimaksud penata suara bukan hanya pengaturan pengeras suara (sound system), melainkan juga musik pengiring. Musik pengiring diperlukan agar suasana yang digambarkan lebih meyakinkan dan lebih mantap bagi pera penonton. Sebagai contoh, adegan ketika seorang anak sedang melamun dikamar belajar menjelang tengah malam yang sepi, mengenang orang tuanya yang jauh. Adegan itu menggambarkan suasana sedi. Kalau diiringi oleh musik yang sesuai, tentu kesedihan itu akan lebih terasa dan lebih mengharukan.
Penataan musik pengiring tidak bisa diserahkan kepada sembarangarang. Sebab, penata musik harus pintar menafsirkan musik pengiring yang cocok. Karena itu, penata musik harus mempunyai perasaan yang halus dan tajam, berjiaw seni, memahami musik, dan mengerti lagu-lagu.
Peralatan apa yang diperlukan untuk musik pengiring ?. Tidak ditentukan secara baku. Apa saja bisa digunakan asal cocok. Mungkin hanya sebuah biola, mungkin sebuah organ. mungkin seruling, gitar, dan tambur. Mungkin pula lebih lengkap lagi. Adakalanya, musik pengiring itu sudah direkam dalam pita kaset dan seorang penata suara tinggal mengoperasikan rekaman itu.
Musik pengiring dimainkan di balik layar agar tak terlihat penonton. Kalau terlihat, permainan drama kurang baik. Karena ada persaingan antara pemain musik dengan pemain drama di panggung.
Akan tetapi, kekerasan suara itu harus diatur. Kalau terlalu keras, bisa menutup suara dialog yang diucapkan para pemain. Akibatnya, penonton tidak bisa mendengarkan dialog dengin baik sehingga tak akan dapat mengerti lakon drama yang dtontonnya. Sebaliknya, bila suara musik pengiring terlalu lemah dan suara dialog terlalu keras, musik pengiring pengiring itu akan tenggelam. Karena itu keras lemahnya suara dialog dan musik pengiring harus diselaraskan. Itu semua menjadi tugas penata suara.
2.6 Tata Panggung
Yang dimaksud panggung adalah pentas atau arena untuk drama. Biasanya letakny didepan tempat duduk penonton dan lebih tinggi daripada kursi penonton. Tujuannya, agar penonton yang duduk di kursi paling belakang masih bisa melihat apa yang ada di panggung.
Tata panggung adalah keadaan panggung yang dibutuhkan untuk permainan drama. Misainya, panggung harus menggambarkan keadaan ruang tamu. Supaya panggung seperti ruang tamu, tentu panggung diisi peralatan seperti meja, kursi, hiasan dinding. dan lain-lain. Semua peralatan itu diatur sedemikian rupa sehingga seperti ruang tamu. Petugas yang menata itu disebut penata panggung.
Penata panggung tugasnya hanya menuruti apa yang diminta naskah. Meskipun demikian, secara kreatif ia boleh menambah atau mengurangi, atau mengubah letak perabot asal perubahan itu menambah baiknya keadaan panggung. Berkaitan dengan itu, penata panggung sebaiknya dipilih orang-orang yang mengerti keindahan dan tahu komposisi yang haik, meletakkan barang-barang di panggung tidak sembaranan. Sehab, mengatur barang-harang ada seninya. Barang-barang itu perlu diatur sebaik-baiknya supaya tampak serasi. Demikian pula jarak antara barang satu dan yang lain. Ini dimaksud komposisi. Komposisi yang tepat akan menimbulkan keindahan dan keindahan menimbulkan rasa senag.
2.7 Tata Lampu
Yang dimaksud tata lampu adalah pengaturan cahaya di panggung. Karena itu, tata lampu erat hubungannya dengan tata panggung. Kalau panggung menggambarkan ruangan rumah orang miskin di daerah terpencil, berdinding anyaman bambu dan di situ tertempel lampu minyak, maka lampu minyak itu tidak termasuk tata lampu. Lampu minyak itu menjadi bagian dari tata panggung meskipun menyala dan memancarkan cahaya.
Supaya panggung menjadi terang harus diberi cahaya lampu listrik dari arah depan, bawah, samnping kiri, atau samping kanan. Lampu listrik itu harus disembunyikan agar tak terlihat penonton.
Pengaruran cahaya di panggung memang harus disesuaikan dengan keadaan panggung yang digambarkan. Di rumah orang miskin, di rumah orang kaya semuanya memerlukan penyesuaian. Demikian pula dengan waktu terjadinya. apahah pagi, siang, atau alam. Cahaya waktu pagi tentu tak seterang siang hari. Bila suatu peristiwa terjadi pada malain hari, harus diingat pula di mana terjadinya peristiwa itu. Di ruang diskusi cahaya tentu lehih terang daripada di luar rumah.
Yang mengatur seluk-beluk pencahayaan di panggung ialah penata lampu. Penata lampu biasanya menggunakan alat yang disebut spot light, yang semacam kotak besar berlensa yang berisi lampu ratusan watt. Bila dinyalakan, sinarnya terang sekali memancarkan ke satu arah. Penata lampu lalu menyorotkan dari jarak jauh (biasanya dari belakang penonton) ke panggung. Lensa dapat diatur untuk menerangi seluruh atau sebagian panggung. Bila dikehendaki, cahaya dapat dibuat menjadi redup. Warna cahaya juga dapat diubah sesuai kebutuhan.
Karena tata lampu selalu berhubungan degnan listrik, sebaiknya penata lampu mengerti teknik kelistrikan. Sebaba adakalanya lampu harus tiba-tiba dimatikan sejenak lalu dihidupkan kembali. Ada kemungkinan tiba-tiba ada gangguan listrik, misalnya terjadi hubungan arus pendek sehingga lampu mati semua. Untuk menghadapi hal seperti itu penata lampu yang tidak memahami teknik kelistrikan, tentu akan bingung. Akibatnya, pencahayaan di panggung kacau dan pertunjukan drama gagal total.
DAFTAR PUSTAKA
Azhari, Muhammad.2009.Manajemen Teater Perencanaan dan Pementasan Drama/Teater di Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah. Palembang. Penerbit Unsri
Dahana, Radhar P. 2001. Homo Theatricus. Magelang: Indonesia.
Dewan Kesenian Jakarta. 1980. Pertemuan Teater ’80.
Hamzah, A.A. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: CV Rosda.
Hasanuddin. 1996. Drama, Karya dalam Dua Dimensi. Bandung: Angkasa.
Iman Sholeh dan Rik Rik El Saptaria. 2005. Modul Workshop Keaktoran
Festamasio 3. Jogjakarta: Teater Gajah Mada UGM.
Riantiarno, N. 2003. Menyentuh Teater, Tanya Jawab Seputar Teater Kita. Jakarta: MU: 3 Books.
Waluyo, Herman J. 2002. Drama, Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: PT Hanindita Widya Graha.
Wilson, Edwin. 1976. The Theatre Experience. New York: The City University of New York.
 SEJARAH PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA (PSSI)
Sekilas Tentang PSSI
Perkembangan sepakbola di tanah air akhir-akhir ini memang tengah meroket, olahraga rakyat ini memang selalu digandrungi oleh semua lapisan masyarakat. Buktinya, beberapa tahun terakhir kompetisi sepakbola selalu menghiasi media massa, baik cetak maupun elektronik dan ini menjadi konsumsi masyarakat setiap harinya. Berkenaan dengan itu, ada baiknya jika kita melihat lebih jauh sejarah singkat dari wadah yang menaungi kiblat olahraga dunia ini. Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia (PSSI) merupakan organisasi yang menjadi muara dari kemeriahan sepakbola di Indonesia. Sebenarnya PSSI sudah dibentuk jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Soekarno, PSSI lahir pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di zaman penjajahan Belanda, kelahiran PSSI sebenarnya merupakan samaran dari organisasi pemuda untuk melakukan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat-saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir karena dibidani politisi bangsa baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia melalui kegiatan olahraga khususnya sepakbola.
Awal Mula Berdirinya PSSI
Pada awalnya PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil sekaligus aktifis pergerakan pemuda bernama Soeratin Sosrosoegondo. Soeratin menyelesaikan studinya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927. Sekembalinya di tanah air pada tahun 1928, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda yakni Sizten en Lausada yang berpusat di Yogyakarta. Sebagai lulusan sekolah teknik tinggi Jerman, Soeratin menjadi satu-satunya orang Indonesia yang berposisi dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi besar itu. Namun karena didorong jiwa nasionalisme yang tinggi Soeratin pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.
Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan kepemudaan. Sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, Soeratin menyadari sepenuhnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda. Untuk melaksanakan cita – cita tersebut, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh-tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan. Selanjutnya di lakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan beberapa tokoh pemuda lainya. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).
Tak sampai disitu saja, pada tanggal 19 April 1930 berkumpullah wakil-wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB), Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) E.A Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga Kapten Kes.IVBM) Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan tersebut, lahirlah organisasi yang diberi nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Nama organisasi induk sepakbola nusantara yang semula Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia ini, disempurnakan menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada kongres PSSI di Solo tahun 1950. Pada kongres kali ini juga ditetapkan Ir. Soeratin Sosrosoegondo sebagai Ketua Umum PSSI pertama.
Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dan jajarannya segera menyusun program kerja yang pada dasarnya menentang berbagai kebijakan dari pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan stridij program yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut Steden Tournooi dimulai pada tahun 1931 di Surakarta . Melihat geliat pergerakan yang dilakukan PSSI, akhirnya mampu menggugah Susuhunan Paku Buwono X. Melihat kenyataan semakin banyaknya kegiatan pesepakbola yang diikuti masyarakat di jalan-jalan, alun-alun dan tempat-tempat diadakannya Kompetisi I perserikatan. Paku Buwono X pun akhirnya mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI pada masa itu. Stadion ini sendiri diresmikan Oktober 1933 oleh Paku Buwono X.
Tak puas dengan gerakan yang telah dilakukan, lebih jauh Soeratin pun mendorong pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia) yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga pada 15-22 Oktober 1938 di Solo. Dengan kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian kokoh, akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI. Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria Winner Sport Club pada tahun 1936.
Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi / Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena beliau menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut Gentelemen's Agreement yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda). Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut. Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942. Masuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).
Tahun 1948, pesta olahraga bernama Pekan Olahraga Nasional (PON) diadakan pertama kali di Solo. Di kala itu saja, sudah 12 cabang olahraga yang dipertandingkan. Sejalan dengan olahraga permainan, khususnya sepak bola, yang makin populer di masyarakat, maka kebutuhan akan berbagai kelengkapan olahraga pun meningkat. Di tahun 1960-1970-an, pemuda Jakarta mengenal toko olahraga Siong Fu yang khusus menjual sepatu bola. Produk dari toko sepatu di Pasar Senen ini jadi andalan sebelum sepatu impor menyerbu Indonesia. Selain Pasar Senen, toko olahraga di Pasar Baru juga menyediakan peralatan sepakbola.
Meski persepakbolaan Indonesia lahir dari tangan-tangan pribumi, namun pengaruh bangsa Belanda tidak sepenuhnya hilang. Hal ini terlihat dari istilah-istilah yang digunakan pada dunia sepakbola Indonesia seperti henbal, trekbal (bola kembali), kopbal (sundul bola), losbal (lepas bola), dan tendangan penalty (12 pas). Istilah beken itu kemudian memudar manakala demam bola Inggris dimulai sehingga istilah-istilah tersebut berganti dengan istilah persepakbolaan Inggris. Sementara itu, hingga 1950 masih terdapat pemain indo di beberapa klub Jakarta. Sebut saja Vander Vin di klub UMS; Van den Berg, Hercules, Niezen, dan Pesch dari klub BBSA. Pemain indo mulai luntur di tahun 1960-an.
Perkembangan PSSI
Pasca kepemimpinan Soeratin, ajang sepakbola nasional sebenarnya terus mengalami berkembang. Meskipun disisi lain perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia ini mengalami pasang surut dari sisi kualitas pemain, kompetisi dan organisasinya. Akan tetapi olahraga yang dapat diterima semua lapisan masyarakat ini tetap bertahan. PSSI sebagai induk dari sepakbola nasional ini memang telah berupaya membina timnas dengan baik, menghabiskan dana milyaran rupiah, walaupun hasil yang diperoleh masih kurang menggembirakan. Hal ini disebabkan karena sudut pandang yang keliru. Untuk mengangkat prestasi Timnas, tidak cukup hanya membina Timnas itu sendiri, melainkan juga dua sektor penting lainnya yaitu kompetisi dan organisasi, sementara tanpa disadari kompetisi nasional kita telah jauh tertinggal. Padahal di era sebelum tahun 70-an, banyak pemain Indonesia yang bisa bersaing di tingkat internasional sebut saja era Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro dan belakangan era Ronny Pattinasarani.
Pada perkembangannya, PSSI terus melakukan perbaikan dan maneuver pada kompetisi dan pertandingan yang dinaunginya. Kompetisi yang diselenggarakan oleh PSSI di dalam negeri ini terdiri dari :
1) Divisi utama yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir. 2) Divisi satu yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir. 3) Divisi dua yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.
4) Divisi tiga yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus amatir. 5) Kelompok umur yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain: 6) Dibawah usia 15 tahun (U-15) 7) Dibawah usia 17 tahun (U-170 8) Dibawah Usia 19 tahun (U-19) 9) Dibawah usia 23 tahun (U-23) 10) Sepakbola Wanita 11) Futsal.
Bukan hanya kesebelas kompetisi itu saja, PSSI pun mewadahi pertandingan-pertandingan yang terdiri dari pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak perkumpulan atau klub sepakbola, pengurus cabang, pengurus daerah yang dituangkan dalam kalender kegiatan tahunan PSSI sesuai dengan program yang disusun oleh PSSI. Pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak ketiga yang mendapat izin dari PSSI. Pertandingan dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan pekan Olah Raga Nasional (PON). Pertandingan-pertandingan lainnya yang mengikutsertakan peserta dari luar negeri atau atas undangan dari luar negeri dengan ijin PSSI. Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat daerah-daerah di seluruh Indonesia . Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi olahraga dari rakyat dan untuk rakyat.
Tidak hanya berdiri sendiri dan berkecimpung di ranah nasional saja, PSSI juga telah ikut serta dalam kegiatan sepakbola tingkat dunia dengan diresmikannya PSSI menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat kongres FIFA di Helsinki, Finlandia. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor terbentuknya AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan. Lebih dari itu PSSI tahun 1953 memantapkan posisinya sebagai organisasi yang berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, no 18. Berarti PSSI adalah satu-satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara sejak 8 tahun setelah Indonesia merdeka.
Melihat perkembangan yang dialami PSSI, wajar jika di era 2011 ini kursi kepemimpinan PSSI menjadi rebutan. Bahkan secara tidak langsung, PSSI adalah salah satu organisasi olahraga yang sangat berpotensi sebagai kekuatan politik para politisi, itu kenapa sepakbola Indonesia sering kali dipolitisir sedemikian rupa.

 LAKON J P R E T Karya Putu Wijaya Juni l986 pementasan harus seizin pengarang SEBELUM PERTUNJUKAN DIMULAI SUDAH TERDENGAR MUSIK ATAU GAMELAN YANG NANTINYA JUGA AKAN MENGAKHIRI PERTUNJUKAN. ROMBONGAN MUSIK ATAU GAMELAN ITU LANGSUNG MEMAINKAN SATU LAGU - KALAU ADA PENYANYI, PENYANYI MENYANYIKAN LAGU - SETIAP KALI TERJADI KERIBUTAN PANJANG DI ATAS PANGGUNG. TEPAT PADA WAKTUNTA KEMUDIAN LAMPU PADAM. PARA PEMAIN MENGAMBL POSISI DI TENGAH LANTAI PERTUNJUKAN. MEREKA DALAM POSISI MEMBUAT SEBUAH POTRET BERSAMA. MASING-MASING BERUSAHA UNTUK MENUNJUKKAN IDENTITASNYA. PROPERTI POKOK YANG MEREKA PERGUNAKAN DI TANGAN MASING MASING. MEREKA MEMANDANG KE ARAH PENONTON DENGAN KELU. BUNYI YANG TAJAM, LIRIH, MENUSUK DISERTAI OLEH CAHAYA MISTERIUS YANG MELUMURI POTRET ITU. SEMENTA¬RA BAGIAN PANGGUNG LAIN GELAP. BERDIRI PALING TENGAH ADALAH PERAN UTAMA. CAHAYA YANG SURAM, MAKIN TERANG MAKIN TERANG. SUARA TIMPANI. SUARA DRUM MAKIN KERAS MAKIN KERAS. MEMUNCAK. SEBAGAI KLIMAKSNYA TIBA TIBA JATUH SEBUAH BENDA ANEH DARI ATAS KE DEPAN. ORANG ORANG ITU. SEMUANYA TERKEJUT, BERSERAK LARI MENYELAMATKAN DIRI. TINGGAL PEMERAN UTAMA YANG MELIHAT KEJADIAN ITU. IA MENGHAMPIRI BENDA TERSEBUT DENGAN HATI HATI. DUA ORANG PENONTON DARI KIRI KANAN MUNCUL MENONTON. PERAN UTAMA MENCOBA MENGANGKAT BENDA ITU. MESKIPUN AMAT BESAR, IA BERHASIL MENJUNJUNG DENGAN KEDUA TANGANNYA. IA MELIHAT KE SEKELILING MENCARI TEMPAT UNTUK MEMBUANG BARANG ITU. RUPANYA BARANG IU TERLALU BERAT. PERAN UTAMA JATUH. IA BERUSAHA UNTUK BERTAHAN, TETAPI TAK BERHASIL. BARANG ITU AKHIRNYA MENINDIHNYA. KINI IA BERUSAHA UNTUK MELEPASKAN DIRI, TAPI SIA SIA. IA TERJEPIT OLEH BENDA ITU. TERDENGAR SUARA LONCENG BERTALU TALU. PERAN UTAMA MENYERAH. KEDUA PENONTON PERGI KE SAMPING DAN BERSERU. SEDANGKAN PERAN UTAMA MULAI MENCOBA LAGI MENGGERAK GERAKKAN TANGAN SERTA KAKINYA UNTUK KELUAR DARI JEPITAN BARANG ITU. PERAN UTAMA MENGENAKAN SEBUAH TOPENG PUTIH YANG RATA, TAK BERMATA, TANPA HIDUNG TANPA MULUT. PENONTON Sudah, cukups, jangan dikerjain lagi ! ( Penonton ini kalau bicara pada beberapa kata tertentu ada suara s seakan-akan ia berbicara dalam bahasa asing ) PENONTON Jangan diulang ulang lagi, dia mau terus sekarang mencari yang lain ! PENONTON Tinggalkans dulu, dia sudah habis ! PENONTON Beri dia kesempatan bernafas, jangan dihajar terus. PENONTON Sekarangs ! Tinggalkan dia sekarang juga ! PENONTON Kalau tidak, dia bisa mati ! PENONTON Masak peran utama mati ? Nggak lucu dongs ! PENONTON Sudah ! Cukup ! Cukup ! PERAN UTAMA UNTUK TERAKHIR KALINYA MENCOBA MENGGERAKKAN TUBUHNYA UNTUK MELUPUTKAN DIRI. KAKI DAN TANGANNYA BERGETAR, BENDA ITU IKUT BERGETAR. PERAN UTAMA ( mengaduh panjang ) Aaaaaaaaaaaaaaaaaak! PENONTON Cukup, cukup ! SENTAKAN KERAS. PERAN UTAMA BERHENTI BERGETAR. PENONTON YANG SATU MEMERIKSA. PENONTON Sudah, jangan, jangan ! PENONTON Cukup ! Dia sudah habis. PENONTON YANG SATU MENGHAMPIRI. KEDUANYA MEMERIKSA. KEDUANYA BERPANDANG PANDANGAN DENGAN KECEWA. WARTAWAN MUNCUL MEMOTRET KORBAN ITU. PENONTON ( kepada Wartawan ) Eeeeee jangan, jangan ! PENONTON ( memberi isyarat ) Jangan ! ( Wartawan mundur ) Ini kesalahan tolong jangan diganggu dulu. Ya. ( marah menendang barang itu ) Bangsat ! Kenapa dibunuh. Kasih kesempatan kek sebentar. ( menendang barang itu lagi ) Apa, sih, apa sih ini, tiba tiba jatuh saja dari atas sana kalau orang lagi seneng. ( mau menendang lagi, tapi kemudian tak jadi, menoleh pada Peran Utama ) Kamu juga yang tolol ! Begini saja udah keok. Sudah tahu ada yang nggak nggak malah dipikul pikul. Mau ngetop ya ! ( menghentakkan kakinya ) Huh ! PENONTON Jadi bagaimana sekarang ? PENONTON Ya buat apa semua ini kalau dia mati. Kita cari yang lebih ampuh saja sebelum keburu malam. Kitakan perlu hiburan, buat apa nonton orang mati begini. Nggak ada seninya. PENONTON Belum tentu. PENONTON Paling banter disuruh ikut ngubur. Ntar banyak yang nangis lagi, seperti film India saja. Kitasudah bayar mahal kan, masak disuruh ikut nangis. Rugi dong ! PENONTON Kali karena mati dia jadi lebih hebat. PENONTON Apa ? WARTAWAN Mungkin justru karena dia mati, dia tambah hebat. PENONTON Ah masak ?! TIBA TIBA TERDENGAR SUARA SIRINE. PEMAIN-PEMAIN BERMUNCULAN MAU MEMBANTU MENGANGKAT BENDA BESAR ITU, MENYELAMATKAN PERAN UTAMA. PENONTON Itu dia ! Para pemainnya. Cepat, cepetan ! PENONTON Kok baru datang. Selalu begini. Kalau udah rampung baru muncul. Buat apa dong, sudah mati begitu ! PENONTON Stttt. Kita minggir dulu ! PEMAIN Tenang ! Perhatikan baik-baik, jangan salah angkat nanti ambrol semua ! PARA PEMAIN DENGAN GESIT MENGANALISA SITUASI DAN KEMUDIAN MENCOBA MEMINDAHKAN BARANG BESAR YANG MENJEPIT ITU. ADA YANG MENCOBA UNTUK MERAWAT PERAN UTAMA. PENONTON ( mengejek ) Alah, alah, nggak ada gunanya, nggak ada, pakai aksi aksi begitu ! PENONTON Sttttt ! Ayo minggir ! ( dia sendiri minggir kesamping ) Ayo jangan mengganggu . PENONTON ( mendekat ) Buat apa, buat apa, heeee, lihat, dia sudah koit gitu ! ( menarik salah satu membawanyake dekat Peran Utama yang tergeletak ) Periksa dulu dong masih hidup kagak ?! Jangan asal gedebakgedebuk ! PEMAIN Yang tidak berkepentingan minggirrrrrr ! PENONTON ( memanggil kawannya ) Ayo kasi mereka kesempatan cepetan ! PENONTON Heee, dikasih tahu kok bandel. Mati itu, sudah mati ! PEMAIN Yang tidak berkepentingan keluaarrr ! PENONTON Goblok ! PEMAIN Kamu siapa ? Penonton kan ?! PENONTON O ya ! ( menunjukkan karcisnya ) Ini karcis beli di loket bukan undangan gratis. PEMAIN ( memeriksa karcis, lalu mengembalikan ) Maaf, tempat Anda di situ ( menunjuk penonton ) di sini hanya untuk pemain. Silakan ! PENONTON ( ketawa ) Ngusir ini ? PEMAIN ( keras ) Silakan ! ( kepada kawannya ) Tolong antarkan ke kursinya ! SESEORANG CEPAT MUNCUL MEMPERSILAKAN PENONTON MENGIKUTINYA. PENONTON Lho, ini kok seperti maksa. PEMAIN Cepat ! PENONTON ( protes ) Lho ! PENONTON YANG SATU CEPAT BERLARI MENGHAMPIRI KAWANNYA DAN MENARIK NYA. PENONTON ITU TIDAK SUDI, PEMAIN DAN PENONTON YANG LAIN MEMAKSA NYA MINGGIR. PENONTON Lho, lho ini apa apaan, ini sudah memaksa namanya ! PENONTON Sudah, sudah, ssttttt ! PENONTON ITU SETENGAH DISERET KELUAR. MASIH TERDENGAR SUARA PERTENGKARAN DI LUAR KARENA IA PROTES. PEMAIN Sekali lagi yang tidak berkepentingan silakan minggir. Berikan kami kesempatan untuk memulai. ( melihat jam tangannya ) Ini sudah terlambat sekali. ( suara protes Penonton yang dibawa keluar sudah padam, para Pemain yang membawa ke luar sudah masuk kembali dan menempati posisinya untuk mengangkat barang itu ) Terimakasih. Perhatiannnn semua, satu, dua ! Mulai ! TERDENGAR SUARA GENDERANG BERTALU TALU. SEMUA PEMAIN MENGANGKAT BERAMAI RAMAI BARANG ITU, SEHINGGA PEMAIN UTAMA TIDAK TERJEPIT LAGI. PEMAIN Tahan ! SEMUA BERTAHAN MENJUNJUNG BEBAN ITU PEMAIN NENEK MENDEKATI PEMA IN UTAMA DAN MEMERIKSA. IA MELEPAS TOPENG PEMAIN UTAMA. LALU MELAMBAI-LAMBAIKAN TOPENG ITU, PERAN UTAMA TAMPAK TUA DAN BREWOKAN MUKANYA LAYU, CAPEK DAN SEDIH. IA MENCOBA BICARA TAPI TAK MAMPU. PARA WARTAWAN MENGABADIKAN. TOPENG YANG BARU SAJA DILEPASKAN ITU DILAMBAI-LAMBAIKAN NENEK DENGAN TONGKATNYA NENEK ( setelah memeriksa ) Ya, benar, dia sudah mati. ( menggugat ) Berapa banyak lagi orang akan mati untuk menebus hutang hutang ini ? Siapa lagi yang akan terbunuh untuk membebaskan kita dari perangkap yang buas ini ? Setiap kali aku senang karena ada yang muda dan pintar seperti ini, tiba tiba saja mampus tidak karuan. Aku bingung bagaimana melanjutkan semua ini. Makin lama makin pilihan orang orang yang mati. ( mencoba membangunkannya lagi, ta¬pi sia sia ) Tidak, kamu tidak mati. Peran utama tak bisa mati. Kamu masih hidup, kamu terus hidup, kamu mati untuk hidup abadi di dalam jiwaku . (mengangkat Peran Utama ) Lihat, dia belum mati, dia masih hidup. Dia tidak pernah mati ! ORANG ORANG YANG MEMEGANGI BENDA ITU SUDAH TIDAK KUAT LAGI MEMIKUL. MEREKA BERLUTUT. BENDA ITU MAKIN RENDAH, SEHINGGA HAMPIR SAJA MENGENAI KEPALA NENEK YANG MEMEGANGI PERAN UTAMA. NENEK MENDUSIN LALU MENDONGKRAKNYA DENGAN TONGKAT YANG BERISI TOPENG PUTIH ITU. NENEK Oit, jangan macam-macam ya. Berhenti di situ saja ! ( pada Pemain Utama ) Kamu sudah berjuang sampai titik darah yang penghabisan, dengan gagah berani. Dia tidak perlu lagi mengangkat apa apa. Dengan semangat yang ditinggalkannya, mereka akan sanggup mengangkat nasib buruk. (kepada Pemain lain ) Ayo angkat lagi ! Sekarang giliran kamu ! ( sambil melepaskan tongkatnya ). SUARA GENDERANG BERTALU TALU, TETAPI BEBAN ITU MAKIN TURUN, MAKIN TURUN TERUS. ORANG ORANG YANG MENGANGKATNYA TAK BERDAYA. NENEK Sekarang giliran yang lain untuk mencangkul. Kamu mati untuk hidup di dalam jiwa kami untuk membabat habis raksasa supaya kita bebas dari ketakutan. Merdeka dan lepas dari segala kutukan Hidup mandiri dan berbahagia, gemah ripah loh jinawi seperti di dalam pewayangan. Aduh ! DENGAN BERDENTAM BENDA ITU JATUH LAGI DAN MENJEPIT SEMUA ORANG. TERMASUK NENEK. WAKTU ITU PENONTON MASUK LAGI. PARA WARTAWAN BERAKSI LAGI. PENONTON Eeeee, lagi, lagi. Ini belum siap ! PENONTON Lihat, sudah tak bilangin. Habis, bandel, sih. PENONTON Tapi mungkin ini perlu. PENONTON Perlu apaan. kalau sudah begini, mati semua termasuk figuran figurannya apanya yang perlu. Apa yang bias diharap kecuali dikubur. Kita penggali kubur memang nya ? Tak usah ya ! PENONTON Mungkin ini semua semacam tugu peringatan, begitu. Seperti naik mobil begitu, tiba tiba ada gambar je rangkong di tikungan supaya sopirnya hati hati. Lha ini semua kan bisa semacam itu juga. Ya kan ? PENONTON Ya kalau gambar jerangkong, kalau ini jerangkongnya sendiri, mau apa lhu ?! SALAH SATU PEMAIN TIBA TIBA KELUAR DARI HIMPITAN BARANG ITU. PEMAIN Ini masih juga di sini, kenapa sih ?! Mengganggu saja! Ayo pergi. PENONTON Lho ente bukannya sudah mati ? PEMAIN Orang belum selesai sudah kasih komentar, ya pasti kelirunya, dong. Ayo minggir. PENONTON Tuh lihat, bener nggak ?! Ayo ( ngasih isyarat pergi) PENONTON O jadi pura pura ini, bilangin dong, jadi kita ngerti dikit. Habis kurang informasi sih ! Sialan, dibohongin melulu, mentang mentang penonton. PEMAIN Cepat ! TERDENGAR SUARA GEMURUH. ENTAKAN KAKI RAKSASA. KEDUA PENONTON ITU TERSURUK JATUH OLEH GETARAN ENTAKAN KAKI. PEMAIN Makanya jangan dekat, sudah disediakan tempat di situ, kok malah cari kerjaan ke mari. PENONTON Habis kamu tolol begitu, bagaimana tidak penasaran kita. Masak ngangkat begituan saja kagak bisa. Tidak perlu mati semua begitu kalau pakai otak dikit. Su¬dah tahu berat, ya tak usah dipikul, lari kek, apa salahnya lari demi keselamatan. PENONTON Atau ukur dulu barangnya dan cari akal ! PEMAIN Sudah ! PENONTON Sudah apa, belum begitu ! PEMAIN Lho kok ngotot. PENONTON Habis kalau dikasih tahu, mesti bilang udah-udah, semuanya belum siap. PEMAIN Belum siap apa ? PENONTON Kalau sudah siap, baramg beginian saja diangkat banyak orang begitu masak kagak bisa. Kita pakai sebebelah kaki saja bisa ( mencoba mengangkat tapi tak bisa ) PEMAIN Coba ! PENONTON Ah tapi ini kan bukan tugas kami, nanti kalau dibantu malah manja, itu tidak mendidik. Kok malah Penonton yang harusnya dihibur yang disuruh mengangkat. ( mendekati temannya ) bagaimana sih ?! PENONTON ( berbisik ) Berat ya ? PENONTON Busyet berat juga. ( teriak ) Ayo angkat lagi ! PEMAIN Beban ini kalau tidak diangkat memang ringan, tapi begitu dicoba dia langsung berat. Seperti melawan PENONTON Ah masak, jangan ngarang. PENONTON Beban kok melawan, memangnya manusia. PEMAIN Kalian tidak paham. PENONTON Tidak paham ? Tidak paham apa ? Kami datang kemari karena paham. Kalau tidak paham kami tidak akan di sini nonton. PENONTON Kumat lagi ini, kita selalu dihina dianggap tidak paham. PENONTON Biasa, kalau sudah gagal, kita yang disalahkan, tapi kalau dikasih tahu, ngeyel. PENONTON Goblok. Udah potret saja biar mampus. SATU WARTAWAN HENDAK MEMOTRET. PENONTON Eeee ini ada lagi, kalau orang lagi marah omongannya jangan didengar. Tahu ?! Minggir ! PEMAIN ( yang terjepit ) Aduh ! PENONTON Nah rasain lhu. Kalau kerja tanpa perhitungan memang akan terus begitu. Pakai otak sedikit jangan mulut melulu dilepas. Otot-otot doang tidak bakal cukup, mesti pakai ini ! ( mengeluarkan buku dari sakunya, tapi keliru keluar uang ) PENONTON Duit ? PENONTON ( memperbaiki kekeliruannya, cepat memasukkan uangnya, mengeluarkan buku ) Maksudku harus pakai ilmu, pakai otak ! Paham ! ( matanya memandang ke arah kawannya). PENONTON Ke situ dong. PENONTON Ya memang ke situ, ngapain ke kamu ! Paham SALAH SATU PEMAIN KELUAR LAGI DARI BAWAH BEBAN. PEMAIN Sudahlah, dari dulu penonton selalu lebih pintar kelihatannya. Sebab kamu di luar sana. Coba di sini, mengalami sendiri, baru tahu rasa. PENONTON Lho, lho nantang ini. Boleh coba ! (mau coba lagi) PENONTON Sudah sudah, kasi kesempatan dulu mereka ! PENONTON Gue lebih pinter karena memang gue lebih pinter. Coba masak begituan saja sudah koit semua. Gue sebelah jari saja bisa ngangkat barang begituan. PEMAIN Coba deh, coba ! PENONTON Tapi kan pemainnya lhu. Tidak etis dong kalau gue ikut campur. Lagipula teman gue ini bilang kasih lhu kesempatan. Ya gua kasih. ( kepada temannya ) Ya, nggak ?! PENONTON Tapi kalau kamu mau coba, boleh juga deh, siapa tahu barangkali bisa menolong. PENONTON Sssttttt diam lhu ! Kita kan penonton ! ( berbalik pada pemain ) Oke, oke dah, teruskan sekarang biar kita jadi penonton yang baik saja. PEMAIN ( kepada penonton yang sebenarnya ) Begitulah. Selamanya begitu. Penonton selalu merasa dirinya genius. Bukan Anda ( memberi isyarat ) Mereka itu ! PENONTON Heee, jangan mengadu domba ! PENONTON Sesama penonton harus bersatu, kalau memang pemain pemain ini goblok kita rebus saja kepalanya satu per satu. PENONTON SSttt, jangan terlalu kasar ! PENONTON Biar ! Hee, kamu penonton bukan? Kok memihak ke situ dari tadi. Aku jadi curiga. PEMAIN Pertunjukan ini tidak dapat dilanjutkan kalau saudara saudara tetap saja ribut. ( kepada kawannya ) Sudah, lhu masuk ( menunjuk ke beban ) jangan petantang-petenteng lhu Suarly, bini lhu kan kagak nonton malam ini. PENONTON Lho, kok enak, gue ba PENONTON Stttt ( menarik kawannya dan berbisik ) PEMAIN Terimakasih. Para penonton sekalian. Seperti yang Anda saksikan di sini, sudah terjadi hal hal yang sama sekali tidak enak. Pelaku Utama belum sempat banyak berkutik, sudah buru buru mati. Bahkan disusul kemudian oleh peran peran pembantu. Jelas kaliber mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat lakon ini. Jelas para penonton tak akan sempat berkeplok tangan menyaksikan peran utama muncul sebagai anak muda membebaskan dan menyelamatkan cerita sehingga memuaskan hati hadirin sekalian. Puas sebab betapa pun berat hidup ini, toh akhirnya manusia akan menang menaklukkan nasibnya. Tetapi nyatanya, lihat, semua sudah keok dalam satu gebrakan. Anda sekalian pasti kecewa, sebagaimana kedua beliau yang tadi marah marah di sini. Ternyata harapan dan kenyataan masih selalu bermusuhan. Kalau mau jujur inilah bayangan kita yang sebenarnya. Di masa masa yang lalu kita selalu mencoba menampik bayangan ini, tetapi sekarang, sudah tiba masanya untuk menerima bulat bulat, bahwa kita ternyata begini. Ini pas foto kita yang sesungguhnya. Anjing, memang ! Tai anjing ! Kita harus belajar menerima wajah kita memangbukan saja tidak indah, tetapi juga tai anjing seperti ini. ( kepada Wartawan yang memotret ) Terima kasih tapi jangan pakai lampu blitz. WARTAWAN MENGABADIKAN. PENONTON Tunggu, nanti dulu ! Belum tentu ! Coba lihat ! PENONTON MASUK LAGI DAN MENUNJUKKAN MAJALAH DAN KORAN. PENONTON Lihat, ternyata karena semuanya mati, seluruh dunia sekarang memusatkan perhatiannya kepada kita. PENONTON Bantuan mengalir. Soladiritas menggebu gebu. PENONTON Seluruh dunia berlomba lomba, jor joran mengirimkan sandang pangan dan uang. Bukan hanya mulut, tapi tangan dan kocek mereka terbuka. Seluruh keperluan kita yang tak terjangkau di masa lalu jadi kenyataan. Kita untung ! PENONTON Bencana dan kematian ini ternyata membawa berkah. PENONTON Syukur mereka semua mati. Kalau tidak, kapan kita dibanjiri bantuan seperti ini ?! Kalau perlu bunuh beberapa orang lagi, supaya mengundang bantu an lebih banyak ! ( ketawa ) Nggak, main-main kok. PENONTON Walhasil kematian ini adalah karya mereka yang besar, kalau tidak bisa dikatakan yang terbesar ! PEMAIN O ya ? Masak ? Jadi betul juga ?! PENONTON Nih baca sendiri kalau tak percaya ! ( melemparkanmajalah dan segalanya itu ) Bukan hanya Tempo, Kom pas, Sinar Harapan, Jakarta Times, Merdeka, Pelita, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Jawa Post, Berita Buana, Bali Post dan Pos Kota, tetapi juga Sarinah, Kartini, Femina, Pertiwi, Jakarta- Jakarta, Matra, Xtra, News Week, Time, National Lampoon dan Play Boy, bicara tentang kita dengan berapi api. Mereka yang dulu bisu seribu bahasa dan tidak tahu di mana letak kita di atas peta bumi sekarang berlomba memberikan bantuan. Apa itu bukan terobosan ? PENONTON Sebagai penonton kami menganggap itu sangat konkrit. Seperti orang main bola sodok. Kelihatannya ngawur karena kita memukul ke dinding, padahal itu yang namanya efek, langsung pantulannya membentot sasaran ke dalam liangnya. PEMAIN O ya ? PENONTON ( menirukan ) O ya ? Habis bagaimana, kalau tidak ya, memble ! PEMAIN ( mengubah lagu suaranya ) O ya ? ( lembut ) PENONTON Ya ! PEMAIN Kalau begitu berarti betul. Kematian bukan akhir segalanya, tetapi awal dari kebahagian. Pemain Utama sudah betul kalau begitu mati sejak awal, karena kalau dia masih hidup justru akan bikin pekerjaan tidak rampung rampung terus. Tanpa pemain utama keadaan kita justru lebih baik. PENONTON Begitu ! TERDENGAR SUARA BANTUAN DATANG. PENONTON Nah lhu, lihat, bantuan mulai datang ! BALA-BANTUAN DATANG. SEJUMLAH ORANG BESAR-BESAR DENGAN DENGAN BUSANA SEDEMIKIAN RUPA SELURUH TUBUHNYA PENUH DENGAN BUNTALAN KAIN, DIBEBAT SEAKAN-AKAN MASING-MASING ADALAH SEBUAH PAKET RAKSASA. SERADAK-SERUDUK SEPERTI ROBOT. SEMUANYA MEROKOK DENGAN ASAP MENGEBUL-NGEBUL. KEMUDIAN BERJAJAR MENONTONKAN KEHADIRANNYA. WARTAWAN BERAKSI. PEMAIN Wah banyak sekali ! PENONTON Tuh lihat beneran nggak ! PENONTON Ini kata orang Jawa mbati ! PENONTON Terimakasih, thank you, thank you. Welcome, anggap dirumah sendiri saja. ( kepada Pemain ) Lhu ngomong dong kok diam saja ! PENONTON Do you speak English, maksud saya you speak Indonesia ? No ? Yes ? Yes or No ? PALING BELAKANG ADA YANG MEMBAWA GEROBAK. JUGA DIBUNTAL-BUNTAL. PENONTON Wah, wah ini apa lagi. Kok gerobak, untuk apa ? PENONTON Ssttt, ini bukan gerobak, ini simbol dari kekuatan untuk membuang bencana itu, tolol ! PENONTON ( kepada Pemain ) Lho kamu kok diam saja. Kasih selamat dong ! Memangnya kami yang main ! PEMAIN Silakan, silakan bapak-bapak, kami sudah menunggu. Terimakasih atas bantuan ini. Kami tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali mencatat bahwa ini adalah bukti bahwa manusia memang masih tetap memiliki rasa solidaritas terhadap manusia lain. Kepada semua pihak dari seluruh dunia yang telah memberikan sumbangannya baik secara pribadi maupun melalui panitia-panitia dana atau saluran resmi, kami mengucapkan terimakasih banyak. Kami sangat terharu. Khusus kepada para penyanyi pop yang sudah ikut memberikan sumbangan, trims. PENONTON Sambutannya jangan begitu. Mereka sudah tahu. Cepat manfaatkan dengan tepat. Itu sambutan yang mereka inginkan. PEMAIN Kalau begitu Anda sekalian silakan ( kepada Penonton ) kembali, silakan cepat saja menempati kursi, kita lanjutkan sekarang. PENONTON KEMBALI KE SAMPING SAMBIL MENGGERUTU. SATU KE KANAN SATUNYA KE KIRI. PENONTON Memang payah kalau pemainnya goblok. PENONTON Ssssstttt ! PEMAIN Saudara-saudara Bala Bantuan semua. Dengan singkat inilah medannya. Inilah persoalan kami. Saya percaya kalian semua datang dari negeri yang sudah berkembang, pasti dapat membaca situasi. Dan silakan membantu kami untuk menghadapi bencana ini. Silakan. BANTUAN ( semua Bantuan bicara dengan rokok di mulutnyajadi suaranya lain ) Betul ! Mana kamar kecilnya ada yang mencret karena tidak cocok udaranya. Disini terlalu panas. PEMAIN Anda bicara dalam bahasa apa ? PENONTON CEPAT MUNCUL DAN MENCOPOT ROKOK DARI MULUT BANTUAN DAN MENGOPER KE TANGANNYA. BANTUAN ( setelah rokok di tangan ) Maaf, mana kamar kecil nya. Di sini udara panas sekali, banyak yang mencret ini. PEMAIN O itu-itu di situ ! BALA BANTUAN HENDAK BERGERAK KE SITU BERAMAI-RAMAI. PEMAIN Apa semua mencret ? BANTUAN Ya. PEMAIN Anda juga ? BANTUAN Saya pemimpinnya. Pemimpin tidak boleh ikut mencret. Apa di sini lain ? PEMAIN Pemain Utama kami sudah mati. Itu ( menunjuk ). BANTUAN Kalau mati bukan Pemain Utama namanya. Selain kamar kecil, Anda punya apa lagi di sini ? PEMAIN Masalah-masalah besar. BANTUAN Ya selain itu. Kolam renang ada ? PEMAIN O, tidak. Yang ada hanya rawa-rawa . BANTUAN Itu juga bagus. PEMAIN Tapi itu kubangan kerbau bukan untuk mandi. BANTUAN Apa itu kerbau ? PEMAIN Waduh, ini bagaimana ? PENONTON ( cepat datang ) Bilang saja ada, ada, kan bisa di buat, cuma kolam renang, apa sih. ( kepada Bantuan ) Maaf, apa tadi, kolam renang ? Ada kok. BANTUAN Bagus. Ada apa lagi ? PEMAIN Lho kok seperti di restoran. PENONTON Sstttt. Bagaimana tuan ? BANTUAN Selain kolam renang apa juga ada steambath ? PENONTON Apa ? BANTUAN Itu lho ( memijat-mijat dengan tangannya ). PENONTON Lho untuk apa, kok ngawur ? PENONTON LAIN CEPAT MUNCUL. PENONTON Saya mengerti. Tuan ini nanti kan harus bekerja keras. Setelah bekerja dia akan memerlukan hiburan. Biasa di negerinya begitu. Wajar sekali. Ya kan ? Ini standar internasional. BANTUAN Ada atau tidak ? PENONTON Ada kok ada. Hotel bintang lima juga banyak. Beres. BANTUAN Betul ? PENONTON Jangan khawatir. ( mengejapkan mata dan memukul tanda TST ) Pokoknya sip. BANTUAN Kalau sudah makmur kenapa minta bantuan lagi ? PENONTON Apa ? PENONTON Nah lhu, makanya jangan sok bilang ada. Dia ini mancing, kelihatannya bodoh tapi bukan main. BANTUAN Kami datang untuk membantu, kalau tidak ada yang perlu dibantu di sini kami akan pergi ke tempat lain yang betul-betul perlu bantuan. PENONTON Nah lhu, kamu sih ! BANTUAN ( kepada pemain ) Sini ! ( Pemain mendekat ) Siapa mafia-mafia gombal itu ? PEMAIN ( mengangguk, lalu menoleh kepada Penonton ) Sudah saya bilang penonton minggir dulu, jangan mengacau saja ! Pergi ! PENONTON Maaf ini kesalahan tek ( ditarik oleh kawannya keluar ) PEMAIN Maaf. Inilah persoalan kami. ( menunjuk ke seluruh panggung ) Bukan hanya persoalan kami tapi persoalan umat manusia. BANTUAN Kecil ! Ini soal rutin saja, satu menit juga beres. PEMAIN ( yang tertindih ) Aduhh, cepetan hampir pecah ini aduh ! PEMAIN Lihat ! Memang kecil buat Anda, tapi bagi kami sakit. BANTUAN Rasa sakit itu penting supaya cepat dewasa. PEMAIN ( kepada kawan-kawannya ) Dengar semua ! Rasa sakit itu penting ! BANTUAN Kesakitan membuat manusia jadi sakti. PEMAIN Mereka memang sakti, sudah diijak-injak begini belum juga mati. BANTUAN Begitulah. Ngomong-ngomong, tadi, betul di sini banyak beginian ? ( memijat-minjat memberi isyarat rumah pijat ) PEMAIN Panti pijat ? BANTUAN Sttttttt ! BALA BANTUAN MASUK KEMBALI BERAME-RAME SETELAH MELEPAS HAJATNYA DI KAMAR KECIL. BANTUAN ( meniup sempritan mengumpulkan Bala Bantuan ) Sekarang waktunya untuk bekerja. Lihat, manusia lain sedang terjepit, mereka mengaduh minta pertolongan, kita tinggalkan dulu segala perbedaan dan sengketa kita dan menolong sesama umat manusia. Bebas kan saudara-saudara kita yang malang itu sekarang juga, ayo ! ( Bantuan bersorak ) Ayo jangan cuma bersorak, mereka perlu dibantu, jangan malas ! ( dia sendiri pergi hendak ke luar sambil melemparkan sempritannya pada Pemain ). Pimpin mereka ! PENONTON Lho mau ke mana ? BANTUAN Itunya ( memberi isyarat memijit ) mana , situkan ? ( terus saja pergi ) PENONTON He tunggu, tunggu ! ( mengejar ) PEMAIN (kepada bantuan yang lain) Ayo ! BANTUAN Sebentar, sebentar, ini susah ! PEMAIN Ayo ! ( meniup sempritan ) BALA BANTUAN BERSORAK DAN MENCOBA UNTUK MENOLONG. MEREKA MENCOBA MENGANGKAT ATAU MENARIK BENDA YANG MENGHIMPIT ITU, AKAN TETAPI GAGAL. AKHIRNYA HANYA DICOBA DIGANJAL SAJA SEHINGGA ORANG ORANG YANG TERTINDIH ITU BISA DIKELUARKAN. SEMUA DILAKUKAN DENGAN SERADAK-SERUDUK. BANTUAN ( kepada Pemain ) Gua kan udah bilang sejak pagi pagi, ini sulit. Kalau sudah jatuh, terus saja jatuh nggak bisa diapa apain lagi. Gue udah bilang kok, jadi kerjaan sekarang. PEMAIN Tidak apa ini justru yang dicari. BANTUAN Kok bisa berantakan begini. Latihannya bagaimanasih ? BANTUAN Kali belum makan semua sebelum main. PENONTON Jangan ngomong doang, bereskan dulu, biar rampung ! BANTUAN Punya mulut kok nggak boleh ngomong, memang pajangan aja apa ?! BANTUAN Untuk ngisep rokok aja kali. Tapi mana rokoknya ? BANTUAN Jangan kata rokok, ditegur saja kagak. Lebih baik kita pulang saja. Di situ sambutannya lebih baik. Disitu dulu ada uang makan, di sini apa ? Garing ! PEMAIN Lho, lho ? PENONTON CEPAT TURUN TANGAN MEMBANTU. PENONTON He kerja yang betul ! Itu angkat di situ. Di situ. Buang dulu rokoknya. Angkat. PENONTON Kalau tidak bisa diangkat didorong saja ke belakang. PENONTON Jangan didorong, diangkat goblok! PEMAIN Sudah, sudah ini merokok, dulu ! ( membagikan rokok kepada semua Bantuan ) Merokok dulu. PENONTON Angkat-angkat nanti saja merokok, jangan kasih rokok dong, belum kerja ! PEMAIN Merokok saja dulu, tidak apa, masih banyak waktu kok ! PENONTON Ya, merokok saja. PENONTON Lho, lho . PENONTON Ssst . Kasi geretan ! BANTUAN Na begitu doang. PENONTON Mainkan saja, mainkan. ( sambil menyalakan rokok mereka ) Taktik, taktik, biasa ! Memang miskin, tapi taktik nomor satu ! PEMAIN Gila ! Kalau kalian terus ikut campur, aku minggir saja jadi penonton. Terserah ! PEMAIN NGAMBEK PERGI TAPI TAK ADA YANG MENGHIRAUKAN. PEMAIN Gila nggak ada yang menghiraukan ! BANTUAN Kalau sudah merokok biar disuruh mati juga mau. BANTUAN Tapi habis merokok ingin ngopi. PENONTON Nah mulai sekarang. PENONTON Maaf kami tidak menyediakan kopi, tapi kalau mau nanti minta saja di warung Mimi di depan, sekalian dengan makan malam. Tapi sekarang angkat dulu ini biar rampung. BANTUAN Beres Bos ! Ayo angkat cak ! BANTUAN Satu, dua, yakkkkkkk. PERLAHAN-LAHAN BEBAN ITU TERANGKAT, PENONTON PERGI. PENONTON Bagus, terus ! PENONTON Pemainnya mana sih, sialan. Heeee ! ( mencari pemain ) PENONTON Heeeeee, ke mana sih ? ( mencari ) PERLAHAN-LAHAN BEBAN ITU TERANGKAT. BANTUAN KEMUDIAN MENGUMPULKAN MEREKA YANG TELAH TERTINDIH, TAMPAK SEPERTI MENGUMPULKAN SAMPAH SAMPAH. SATU ORANG MENYAPU. YANG LAIN MENCOBA MEMERIKSA APA YANG BISA DIRAMPAS DARI ORANG ORANG YANG ITU. MEREKA MELEPAS SEPATU, JAM ATAU MEMERIKSA SAKU SAKU DAN MENGAMBIL ISINYA. ADA JUGA YANG MENEMUKAN MAKANAN LALU MEMAKANNYA. DUA ORANG YANG TADI KELUAR MUNCUL DENGAN GEROBAK SAMPAH. MEREKA NYARIS MEMASUKKAN ORANG ORANG ITU KE DALAM GEROBAK. WARTAWAN BERAKSI. PEMAIN MELONCAT MASUK. PEMAIN ( mencegah Wartawan ) Stop, stop tunggu dulu, ini belum, belum. ( kepada Bantuan ) Tunggu dulu ! Jangan dimasukkan gerobak semua. BANTUAN Apaan lagi ? Kan sudah mati semua ! PEMAIN Siapa bilang ! BANTUAN Kena betot macam begitu bagaimana nggak mati, kok lucu ! Nih lihat ! ( mengangkat satu dan melepaskannya, ternyata rubuh ) Nih satu lagi kalau nggak percaya. ( mengangkat satu pemain lagi, tampaknya bisa berdiri tapi ketika ditiup sedikit langsung roboh ) Percaya ? BANTUAN Kalau belum mampus, palingan udah setengah modar, kagak bakalan bisa ngapain ngapain lagi. Buat apa ngabis ngabisin waktu, sodok aja sekalian biar koit. BANTUAN Jadi gimana nih ? Oke ? PEMAIN ( bingung ) Sebentar. Sabar. Ini harus dipikir dulu. Bagaimana, ya ?! Baiknya bagaimana? BANTUAN Ya udah baiknya buang aja ganti yang baru daripada ngerongrong terus ! PEMAIN Memangnya motor ! BANTUAN Lho dibilangin kok ? BANTUAN Kalau tidak diberesin sekarang, ntar jadi penyakit ini ! Percaya deh ! PEMAIN Soalnya, nanti bagaimana komentar mereka mereka disitu. Bagaimana kalau kita dituduh WARTAWAN BERSIAP MENDEKAT. PENONTON CEPAT BETINDAK. PENONTON Goblok ! Cepat buang, nanti ketahuan ! Cepat, sekar¬ang sekarang, kalau tidak sekarang, ketahuan nanti berabe, ayo cepetan ! ( kepada Wartawan ) Tunggu ! Cepetan ! Buang ! Ada wartawan tuh, galak-galak ! PENONTON Jangan digertak nanti gugup. PEMAIN Dibuang bagaimana, ke mana, ini kan manusia bukan sampah kok enak saja ?! PENONTON Cepat ! Aduh, mereka datang itu, mereka datang, cepat sembunyikan ! PENONTON Betul, cepat cepat ! PEMAIN ( bingung ) Aduh bagaimana ini ? PENONTON ( muncul ) Cepat masukkan, cepat. Kamu juga goblok ! PENONTON YANG LAIN CEPAT BERTINDAK DAN MEMASUKKAN PEMAIN-PEMAIN ITU KE DALAM GEROBAK. BANTUAN Lho ini siapa lagi ini ? PENONTON Masukkan tolol ! PENONTON KEDUANYA DENGAN SUSAH PAYAH MEMASUKKAN PEMAIN-PEMAIN ITU KE DALAM GEROBAK. BALA BANTUAN AKHIRNYA TERPAKSA IKUT. BANTUAN ( kepada pemain ) Masukkan tidak ? PEMAIN Katanya masukkan. Ayo masukkan ! PENONTON Goblok jangan berunding terus, Melayu juga ! Bantu cepat ! SEMUA KEMUDIAN MEMASUKKAN MANUSIA MANUSIA ITU KE DALAM GEROBAK. ¬JUSTRU KETIKA MEREKA BERUSAHA UNTUK MEMASUKKAN DENGAN KASAR PARA WARTAWAN DATANG MENYERBU DAN LANGSUNG MEMBERONDONG DENGAN JEPRETAN KAMERA MEREKA. TEMPAT ITU DISEMPROT DENGAN LAMPU SOROT. KEDUA PENONTON LANGSUNG MENUTUPI MUKANYA DENGAN SESUATU HINGGA TERLINDUNG, LALU PERLAHAN LAHAN MENGHILANG KEPINGGIR. PARA PEMAIN DAN BALA BANTUAN SEPERTI BENGONG. MEREKA TAK BERBUAT APA APA SEHINGGA PARA WARTAWAN BEBAS MENGABADIKAN MEREKA. NYAMUK PERS ITU TAK PUAS HANYA MEMOTRET DARI JAUH, MEREKA JUGA MENDEKAT DAN KEMUDIAN SEDIKIT MENGATUR SUASANA AGAR MENDAPATKAN DOKUMENTASI YANG BAGUS. PENONTON MENCOBA MENOLONG DARI LUAR. PENONTON (sambil melemparkan kain) Tutupi, cepat tutupi ! PENONTON (berlari sambil menutupi salah satu) Jangan mau dipotret. (sambil berlari kembali keluar ) Awas tutupi ! PENONTON Sembunyikan. Bawa pergi cepat ! PENONTON Jelaskan ini kecelakaan ! PENONTON Aduh, jangan mau dikerjain ! PENONTON Goblok, jangan nengok ke kiri. PENONTON Lihat ke kanan ke situ, jangan ketawa ( lari masuk dan membelokkan arah seseorang yang dipotre¬t) Sembunyikan goblok ! PENONTON Kacau, jangan bego ! Sembunyikan ! PENONTON Tutup, tutup ! PENONTON Dasar Melayu, goblok ! PENONTON Otak udang ! PENONTON Tutupi, tutupi bisa dengar nggak ! PEMAIN DAN BANTUAN BANTUAN BINGUNG TAK TAHU APA YANG HARUS DIPERBUATNYA, SEMENTARA WARTAWAN TERUS MEMOTRET. KARENA KEBINGUNGAN PEMAIN DAN PARA BANTUAN JUSTRU DENGAN TAK SENGAJA MENGELUARKAN ORANG ORANG YANG TADINYA DIMASUKKAN KE DALAM GEROBAK ITU. ADA JUGA YANG MENARIK GEROBAK SEHINGGA SALAH SATU HAMPIR SAJA TERLINDAS. PENONTON Awas ada yang mau tergilas ! PENONTON Udah masukkan saja semua cepat terus tutupi. PENONTON Jangan dimasukkan, bagaimana sih ! Keluarkan, taruh di luar ! PENONTON Kenapa taruh di luar ? Masukkan dong ! PENONTON Taruh di luar goblok, biar seperti kecelakaan, biar seperti bencana alam. Di luar ! Goblok ! Kamu sih ! PENONTON Bagaimana sih, jangan taruh di luar, cepat masukkan¬, tutupi. Tutup pakai kain itu ! Tutup ! Jangan memberi kesan buruk pada mata orang luar. Boleh rombengan, tapi jangan sampa kelihatan ! PENONTON Gila, keluarkan ! Bagaimana sih ?! Sudah terlanjur tak bisa ditutup lagi, lebih baik fair saja, justru akan dihargai ! ( kepada kawannya ) Kamu gila ! PENONTON YANG SATU CEPAT MENGHAMPIRI KAWANNYA DAN MEREKA MULAI BERTENGKAR. PENONTON Mau bunuh mereka ya ? Ayo keluarkan ! Biar seperti kecelakaan ! Keluarkan ! PENONTON Nggak bisa, harus dimasukkan, tidak akan ada yang percaya itu kecelakaan, semua orang pintar. Itu akal kuno ! Ayo masukkan ! ( hendak pergi membantu ) PENONTON Stop ! ( menahan kawannya dan menarik, lalu mereka bertengkar ). PEMAIN DAN PARA BALA BANTUAN KEBINGUNGAN. PEMAIN MENCOBA MENUTUPI KETIKA PARA WARTAWAN MENGABADIKAN PARA KORBAN ITU DENGAN JATUH BANGUN. PARA BALA BANTUAN MELAKUKAN KEGIATAN YANG TIDAK TERKOORDI¬NIR. ADA YANG MENCOBA MEMASUKKAN ADA YANG MENCOBA MENGELUARKAN. SALAH SEORANG - PEMAIN - MENYERET SALAH SATU KORBAN KE DEKAT PENON ON. PEMAIN Jadi mau diapakan ini sekarang ? PENONTON Gila ! Masukkan ! ( mencoba menolong ) PENONTON Sttttt! ( menarik cepat karena para wartawan datang menjepret ) PARA WARTAWAN MUNCUL RAMAI-RAMAI MENJEPRET. KEBETULAN TATKALA SALAH SATU PENONTON MASIH MEMEGANG KORBAN. PENONTON YANG LAIN CEPAT MELEPASKAN PEGANGAN KAWANNYA ITU DAN MENCOBA MENYERET KAWANNYA SAMBIL MENUTUPI MUKA KAWANNYA DAN MUKANYA SENDIRI. PARA WARTAWAN TERUS MENJEPRET. TANGAN KORBAN SEDEMIKIAN RUPA, BAHKAN SEPERTI MEMEGANGI PENONTON. PENONTON YANG LAIN TERPAKSA BERTINDAK KASAR, MENENDANG TANGAN ITU LALU BERHASIL MEMBEBASKAN KAWANNYA. MEREKA BERDUA LARI. TAPI LARINYA SALAH. CEPAT BERBALIK LAGI DAN LARI. TAPI UAMG RECEHNYA BERJATUHAN. IA CEPAT BERBALIK MAU MENGAMBIL, TETAPI DISENTAKKAN KAWANNYA. BEBERAPA BALA BANTUAN DALAM KEBINGUNGANNYA KEMUDIAN MEMUNGGUT UANG KECIL ITU. PARA WARTAWAN MENJAUH SEDIKIT, MENUNGGU KESEMPATAN. PEMAIN Jadi bagaimana sekarang ini ? ( kepada penonton ) Kalau sudah begini mesti ditinggal. Jangan ditinggal, dong ! Kok ?! BANTUAN Bagaimana Bos, masukkan atau keluarkan ? PEMAIN Itulah. BANTUAN Lho yang punya hajat kan di situ. PEMAIN Kalau sudah begini kita semua bertanggungjawab. BANTUAN Lho kita kan cuma membantu. PEMAIN Betul. Tapi mereka semua itu tak peduli. TIBA-TIBA PARA PEMAIN YANG BERADA DI DALAM GEROBAK BERJATUHAN. KORBAN-KORBAN ITU BERGERAK SENDIRI MENJATUHKAN DIRINYA, TETA PI SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA KELIHATAN TERJATUH. MEREKA BERTUMPAHAN SEHINGGA TAMPAK AMAT MENYEDIHKAN. BANTUAN Astaga, lihat ! PEMAIN ( mendusin ) Cepat ambil, cepat tutupi ! PARA WARTAWAN MUNCUL LAGI HENDAK MENJEPRET. BALA BANTUAN BERUSAHA MEMUNGGUT PARA KORBAN ITU. TAPI NYATANYA MEREKA TAK MAMPU KARENA KORBAN-KORBAN ITU DIAM-DIAM MENGGASAK MEREKA, SEHINGGA BALA BANTU AN TAK BERDAYA. BAHKAN BANYAK DI ANTARANYA JATUH TERTENDANG, TERTIN DIH - MEREKA MARAH DAN MEMBENTOT KORBAN. YANG KEMUDIAN MUNCUL ADALAH SUASANA KEKERASAN MEMBETOT KORBAN DAN PARA KORBAN YANG TAK DIACUHKAN. WARTAWAN RAMAI MENJEPRET. PEMAIN Ini namanya curang ! ( kepada Penonton ) Bagaimana ini sekarang, Pak, tolong ! SALAH SATU KORBAN TERPENTAL KE DEKAT PEMAIN , LANGSUNG MEMBETOT PEMAIN YANG MINTA TOLONG. PEMAIN JATUH. PARA KORBAN MENGUMPULKAN DIRINYA DI TELAPAK KAKI BALA BANTUAN SEHINGGA MEREKA TAMPAK TERINJAK. PARA WARTAWAN MENJEPRET LALU PERGI. BANTUAN KEBINGUNGAN MELIHAT PARA KORBAN ITU MENYUSUP KE BAWAH KAKI MEREKA. BANTUAN Kenapa mereka ini ? PEMAIN BERUSAHA MENYELAMATKAN DIRINYA KE ARAH PENONTON DI LUAR TEMPAT PEMENTASAN. BANTUAN Tolongggggg ! PIMPINAN BANTUAN MUNCUL. BANTUAN Tolong Bos ! BANTUAN Goblok ! Baru ditinggal sebentar kok jadi begini. Ini ada apa semua sampai begini. Mana pemainnya tadi ? BANTUAN Dari tadi kami main sendiri Bos. BANTUAN Pemain, mana pemain ? PENONTON ( dari arah penonton ) Ngumpet di sini ! BANTUAN Hee, ngapain lhu di situ. Sini ! Kok enak-enak di situ, ohh, kelakuan ! Pantesan berantakan. Sini Cepetan ! PENONTON MUNCUL. PENONTON Jadi bagaimana ini selanjutnya ? ( menunjuk para Pemain yang bergeletakan ) PENONTON Lihat hidup lagi ! PARA PEMAIN YANG BERGELETAKAN ITU BERGERAK. BANTUAN Pegang ! PEMAIN-PEMAIN ITU TIBA-TIBA BANGKIT DAN BERSERAKAN KE MANA-MANA. ADA YANG PERGI KE ARAH PENONTON. BALA BANTUAN SIBUK MENGHALANGINYA TAPI TAK BERDAYA. KEDUA PENONTON SIBUK MEMBANTU TAPI MEREKA JUGA TAK BERDAYA. TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN TEMPAT ITU SEPI. TINGGAL PENONTON. BAHKAN GEROBAK PUN SUDAH LENYAP, ENTAH SIAPA TADI YANG MENYERET. PENONTON Lho ini bagaimana ? Malah kita yang jadi tontonan sekarang ? PENONTON Habis daripada brengsek terus. Lebih baik kita sendiri yang bertindak ! PENONTON Bertindak ngapain ? PENONTON Ya apa saja yang seharusnya. Yang tepat, jitu. Yang jenius begitu ! PENONTON Misalnya apa ? PENONTON Misalnya, semacam. . . . semacam. . . . . ah ngapain, ngapain kita yang mesti bertindak. Kita kan penonton. Tugas dan hak kita tinggal di situ menjadi saksi ! PENONTON Nah, ya kan ! Makanya ! PENONTON Mengapa penonton yang mesti bertindak ?! Meskipun kami bisa, bisa, itu perlu dicatat. Ya ngak ? PENONTON Betul ! PENONTON Atau katakanlah misalnya kami tidak bisa. Tapi ini misal. Namun itu kan hak kami. Adalah hak kami untuk duduk di situ bersorak-sorak dan mengatakan kamu tolol, goblok, kampungan, kerbau dan tai sekali pun, meskipun kami sendiri tidak bisa. Karena kami memang sudah membayar untuk itu. Dan itu, sekali lagi adalah hak kami ! PENONTON Bahkan justru kalau kami tidak hidup memberikan reaksi yang spontan, kami akan jadi penonton busuk. PENONTON Walhasil, kalau kami kembali ke situ kembali dan bersorak, tai, tai, tai, bangsat, kentut, dan sebagainya itu karena kami berusaha menjalankan fungsi kami dengan baik. Karena sudah waktunya setiap orang di dalam masa-masa ini harus bertindak profesional. Ya nggak ? PENONTON Mana wartawan ? Kalau sudah ada yang penting-penting begini tak kelihatan batang hidungnya. PENONTON Biasa, Semua juga mau cari makan ! Ayo ! ( hendakpergi ) PENONTON ( melihat uang receh yang dijatuhkannya ) Lho ini uang kita yang tadi kececer ya ? ( memunggut ) PENONTON Udah cepetan ! ( ikut memunggut ) WAKTU ITU MUNCUL PARA WARTAWAN DAN MENJEPRET. PENONTON Sialan ! ( buru-buru lari sambil menutup mukanya, tapi uang yang tadi dipungutnya tercecer ) PENONTON YANG SATU LAGU LANGSUNG JONGKOK DAN MENYEMBUNYIKAN MUKANYA, SAMPAI TEMANNYA TADI MUNCUL KEMBALI, MENENDANG PANTATNYA DAN MENARIKNYA PERGI. PENONTON Curang, curang ! PEMAIN-PEMAIN MUNCUL LAGI DARI SEGALA ARAH DAN BERKUMPUL. PEMAIN UTAMA DI TENGAH. PERAN UTAMA Saya peran utama. Meskipun saya mati, tetapi tidak berarti riwayat saya tamat. Seperti sebuah sajak, peran utama selalu lahir kembali berkali-kali lewat interpretasi para pembaca. Perbuatan saya, segala kegagahan dan getah saya tinggal di situ, terus bekerja dengan sendirinya melanjutkan rencana-rencana yang belum rampung, sampai tuntas buku sejarah yang hendak ditulis, supaya para penonton di situ, di situ, bahkan yang di luar situ yang tidak berhasil mendapat karcis, semuanya puas. Kami, semua tokoh-tokoh, para pelaku yang sudah tersingkir ini belum minggir. Kami tetap di sini untuk mengangkat beban sejarah ini bersama kalian ! Mana beban yang telah menggencet kita itu, mana ? PEMAIN Beban, mana bebannya. Kita perlu beban sekarang ! SATU WARTAWAN MAJU KE DEPAN HENDAK MEMBUAT DOKUMENTASI. PERAN UTAMA Sebentar, sebentar. Ini siapa ? PEMAIN Menilik peralatannya wartawan. PEMAIN Bukan panitia, barangkali ? PERAN UTAMA Maaf Pak, tidak akan ada hasilnya. Kami ini semua sudah mati, tidak akan mempan dipotret. Lebih baik menghemat film untuk keperluan lain. WARTAWAN MENGURUNGKAN NIATNYA. PEMAIN UTAMA Terimakasih atas pengertian. PEMAIN Bebannnn ! Mana bebannya ! PEMAIN Bawa ke mari bebannya sekarang ! PEMAIN Kalau kita sudah siap, bebannya selalu nggak ada. Kalau kita absen, bebannya bertubi-tubi, bagaimana tidak kacau, seperti main kucing-kucingan. PEMAIN UTAMA Agaknya kita akan kehilangan beban, seperti yang sudah-sudah lagi. PEMAIN Lalu bagaimana sekarang ? PERAN UTAMA Sekali lagi saya berseru, mana beban yang tadi menghimpit itu, tunjukkan biar kami selesaikan sekarang. Kami akan membuktikan tidak ada yang sia-sia. Semua pengorbanan, kematian, semua itu adalah fondasi dari monumen yang sedang kita tegakkan. ( salah seorang pemain mau bicara ) Tunggu sebentar ! PEMAIN Tapi tak ada yang menghiraukan seruan kita. PERAN UTAMA Tak perlu ada yang menghiraukan. Bahwa kita sudah berseru dengan suara lantang, lalu menunggu, itu adalah bagian dari proses. PEMAIN Atau barangkali, karena gertak kita, beban itu dengan sendirinya keder. PERAN UTAMA Betul. Kalian mulai mengerti sekarang persoalan nya. Mana wartawan ? Sekarang kami perlu diabadi kan ! SEORANG WARTAWAN CEPAT-CEPAT MAU MENGABADIKAN TAPI KEMUDIAN DITARIK OLEH KAWAN-KAWANNYA. PERAN UTAMA Lho, ini perlu kalian jpret. Ketidak hadiran kami tidak berarti ketidaksertaan kami. Ini sangat penting untuk dapat memahami gerak-gerik zaman ini. Bahwa . . . . . . TIBA-TIBA MUNCUL KEMBALI BALA BANTUAN. BANTUAN Kalian memanggil kami ? PEMAIN Lho bukan. BANTUAN Tadi kan panggil-panggil. PEMAIN Kami minta beban, bukan kalian. Kami tidak perlu bantuan, justru kami akan membantu. PERAN UTAMA Sebentar. Biar. Kalian ini mau membantu ? BANTUAN Ya. Apa yang perlu dibantu ? PERAN UTAMA Bantu kami mencari beban. BANTUAN Beban apa ? PEMAIN Beban yang tadi itu goblok ! PEMAIN UTAMA Sebentar. Beban yang dulu pernah membunuh kami. BANTUAN ( kepada kawannya ) Rasanya kita pernah menggarap orang ini, ya ?! PEMAIN UTAMA Ya memang. Kali yang dulu itu. Cuma sekarang ini lain. BANTUAN Kelihatannya sama kok. Ya nggak ?! BANTUAN Ya kali. BANTUAN Sama gitu. Kamu lagi ! PEMAIN Memang sama, tapi berbeda. BANTUAN Bedanya apa ? PEMAIN Itulah persoalannya. PEMAIN UTAMA Bedanya. Kami sudah mati. Kami tidak ada lagi di situ. BANTUAN Di situ ? ( bingung ) Di mana ? PEMAIN Kami semua sudah mati. PEMAIN Kami tidak punya peranan lagi. PEMAIN UTAMA Tapi meskipun kami tidak punya peranan, tetapi kami sekarang justru lebih menentukan. PEMAIN O ya ? Masak ?! PEMAIN UTAMA Bahkan sekaranglah justru kita sangat menentukan. PEMAIN Kok bisa. Kita kan sudah mati ? PEMAIN UTAMA Dengar nggak tadi apa kata penonton ? Dengar nggak ! Ya nggak ?! PEMAIN Apa katanya ? BANTUAN Temannya sendiri tanya, ya ! BANTUAN ( memegang ) Aku yakin, orang ini sudah pernah kita garap dulu . PEMAIN ( yang dipegang, menepiskan tangannya ) Apaan sih ! PEMAIN UTAMA Dengar, katanya, justru kematian kita memperjelaskan segala peranan kita yang justru waktu kita masih hidup, tidak jelas. Karena…. PEMAIN Karena ? PERAN UTAMA Karena rupanya orang sudah terbiasa dengan darah. Baru kalau segala sesuatu dipoles oleh darah orang mau memperhatikan. Baru kalau segala sesuatu diperhatikan dia akan punya arti. Jadi baru kalau segala perbuatan kami berdarah akan mampu mengangkat beban yang. . . mana sih bebannya, mana bebannya, ngomong melulu nanti terlambat kita. Jadi dulu, meskipun usaha kita selangit, gigih dan benar-benar hebat, dasar tak ada publikasi yang betul, akhirnya tampak sebagai kegagalan besar. Padahal semuanya itu sebenarnya tonggak sejarah. Dan sekarang PEMAIN Sekarang ? PEMAIN UTAMA Sekarang sebaliknya. Kita siap apa saja, tapi bebannya kok mana ya ? Mana bebannya ? Lucu !Kita siap tapi bebannya hilang begitu saja. Belum digarap sudah amblas. PEMAIN Atau kita yang salah lihat ? Keblinger ! PEMAIN UTAMA ( latah mengulang saja ) Atau kita yang salah lihat atau keblinger - ( cepat menyadari ) kamu sialan ! Kalau tidak ada beban lagi, berarti kita sudah berhasil memikul beban itu ! Ini yang perlu dicatat , wartawan, mana wartawan ?! KEDUA PENONTON ITU MUNCUL LAGI. PEMAIN UTAMA Wartawan ! Ke mari ente ! PENONTON Wartawan ndasmu ! Itu ngumpet semua di situ ! PEMAIN UTAMA Maaf kirain wartawan. PENONTON Ayo dong, mainkan kameranya lagi. Itu kok ngumpet saja di situ. Malah ikut nonton. PENONTON Saksikan. Tanpa peran utama, semuanya justru beres. Jadi kesimpulannya. Bagaimana, ngomong dong ! PEMAIN UTAMA Kesimpulannya, peran utama tetap menentukan. PENONTON Lho ? PENONTON Bagaimana ? PEMAIN UTAMA Mati atau hidup, semuanya tergantung dari peran utama, semuanya tergantung dari saya PENONTON Salah, bukan begitu ! PENONTON Tanpa peran utama segala persoalan juga akan beres. PEMAIN UTAMA Tidak, tanpa peran utama tidak ada yang bisa beres. PENONTON Kamu ngawur ! PENONTON Dasar goblok, ya tetap saja muncul aslinya. PEMAIN Siapa yang goblok ? PENONTON Kamu semua ! PEMAIN Kami memang goblok waktu masih hidup dulu, tapi sekarang sesudah merasakan mati, kami sudah pintar. Ya kan ? (kepada bantuan ) BANTUAN Nggak tahu ! BANTUAN Sssttt kita jadi pendengar saja ! PEMAIN Kami sudah moksa. Masak ada orang goblok sesudah moksa. PEMAIN UTAMA Kalian kan cuma bisa nonton yang kasat mata. Tidak paham apa yang sebenarnya terjadi di sini. BANTUAN Apa yang sebenarnya terjadi ? PEMAIN UTAMA Nah, tidak tahu, kan ! PEMAIN Di sini. Di sini. Di atas injakan kaki di sini. Bukan di situ dari kursi di situ. PENONTON Apa sih ? PENONTON Coba apa yang tidak kami tahu ? PEMAIN Banyak. PEMAIN Semua. Ya kan ? PEMAIN UTAMA Kalian sudah salah melihat. Karena melihatnya dari situ. Coba melihat dari sini dan memakai baju kami bukan baju klimis seperti itu. Coba buka baju sebentar ! PENONTON Buka ? PEMAIN Ya, buka ! PENONTON Bagaimana ? ( kepada kawannya ) PENONTON ( tertawa ) Coba kita lihat saja, apa maunya (membuka baju ). PENONTON ( ikut membuka ) Wah bisa terbuka nih rahasia semuanya. PERAN UTAMA Sudah ? PEMAIN Sudah kok, tuh bajunya di situ. Sekarang mereka pemain seperti kita-kita orang. PENONTON Sudah kan, apalagi ?! PERAN UTAMA Sekarang sesudah bukan penonton lagi, tetapi pemain seperti kami, apa yang kalian lihat ? PENONTON Sama saja kan ?! PENONTON Kalau hanya tempat berpijak diganti dan baju ditanggalkan, ya tetap saja begitu ! PEMAIN Begitu bagaimana, begitu bagaimana ? PENONTON Ya bahwa segalanya memang tidak semudah itu. PEMAIN Semudah apa ? PENONTON Semudah yang dikatakan orang-orang itu ( menunjuk penonton ). Mereka kelihatan pintar karena mereka menonton. PENONTON Coba di sini seperti kita. Terlibat secara phisik, bukan hanya kasih komentar-komentar. PENONTON Pasti sama saja. Seperti kita orang PENONTON Tidak bisa berbuat apa-apa. PENONTON Seperti kita. PENONTON Goblok. PENONTON Seperti kita. PEMAIN Lho kok malah ngata-ngatain. PEMAIN UTAMA Jadi begitu rupanya ya ?! PENONTON Ya dong. PEMAIN UTAMA Jadi kita goblok ? PENONTON Apa boleh buat, rupanya memang ya. PEMAIN UTAMA Kita tidak bisa berbuat apa-apa ? PENONTON Persis ! PEMAIN Kita ? PENONTON Kamu ! PENONTON Yang satu ini jelek-jelek otaknya jalan juga. PENONTON Dasar ! Jangan kira karena kami menonton, kami tak sanggup. Itu karena kami tidak mau saja. PENONTON Buat apa mau, itu kan bukan urusan kami, tapi urusan kamu. BANTUAN Tak salah lagi ini memang orang yang dulu itu. BANTUAN Kalau dibiarkan terus kapan habisnya ini. PERAN UTAMA Ngomong saja kamu. Ayo buktikan. Apa kamu sanggup memikul beban itu ? BANTUAN Habiskan saja dah biar rampung. BANTUAN Ya, ya, kita juga perlu isirahat. TIBA-TIBA BANTUAN MEMUKUL PEMAIN UTAMA. PENONTON Lho, lho ada apa ini ? BANTUAN Minggir yang tak ada kepentingan. ( memukul sampai Peran Utama roboh ) BANTUAN Sudah mati kok masih bertingkah. BANTUAN Masak kita disuruh mengurus orang ini terus-terusan. Kalau memang sudah mati, ya biar mati saja. Bikin kerjaan saja. ( memukul Peran Utama ketika masih mencoba bangun ) PARA WARTAWAN MENGABADIKAN. PEMAIN Ini curang. PEMAIN Sstttt ! PENONTON Kalian ini kok mengganggu terus, kenapa sih ? PENONTON Kalau tidak disuruh jangan mengacau dong. BANTUAN LANGSUNG MEMUKUL PENONTON. BANTUAN Pakai baju kamu dan kembali ke situ ! BANTUAN Ayo cepat. Mulut saja yang panjang. Diam ! ( mau mukul lagi ) PENONTON Lho kami BANTUAN Betot saja! PARA PEMAIN LANGSUNG MENANGKAP PENONTON DAN MEMBAWANYA KELUAR. BANTUAN Bagus. Bereskan dia ! ( menunjuk Peran Utama ). PARA BANTUAN MENAIKKAN PERAN UTAMA KE DALAM GEROBAK. BANTUAN Ini pelajaran untuk siapa saja. Kalau sudah mati ya sudah jangan coba main-main lagi. Serahkan dengan rela kepada yang masih hidup. Itu di situ siapa lagi yang mau coba-coba unjuk gigi. Ke mari semua ! SEMUA PEMAIN MUNCUL. BANTUAN Sudah dapat honor semua kan ? BANTUAN Perkara ada yang dapat besar ada yang kecil, itu resiko kerjaan. BANTUAN Juga perkara cukup atau tidak, itu bukan urusan kami. BANTUAN Kok diam saja. Sudah dapat honor nggak ? BANTUAN Sudah belum ? BANTUAN Diam berarti belum dong. BANTUAN Padahal sudah ! BANTUAN Kalau begitu bohong. Betot saja ! SEMUA MENGANCAM HENDAK MEMBETOT. PEMAIN ( serentak ) Sudah, sudah ! BANTUAN Bagus ! BANTUAN Masuk semua ke dalam gerobak ! BANTUAN Cepat ! SEMUA BEREBUTAN NAIK GEROBAK. YANG PALING GENDUT DIPEGANG. BANTUAN Kamu tidak usah, nanti keretanya jebol. Kamu pegang kemudi dan tarik ke situ. SEMUA SUDAH NAIK KE GEROBAK. BANTUAN Mati semua ! SEMUANYA BENGONG. BANTUAN Berbaring, tolol ! SEMUANYA BERBARING DALAM KERETA. BANTUAN Nah, kamu tarik sekarang, bawa ke luar sana. Ini semua sudah selesai tugasnya. Boleh pulang ! PEMAIN BERUSAHA MENARIK KERETA TAPI TAK BISA. BANTUAN Begitu saja nggak bisa. PEMAIN Habis berat, penuh begitu. BANTUAN Ngomong lagi ! BANTUAN Orang mati tidak boleh ngomong, kalau kerja boleh ! BANTUAN Ayo kamu saja. BANTUAN Kami tidak suka ngomong, kami orang lapangan. Kerja. Itu makanan kami. Seperti ini. ( langsung menarik kereta, tapi gagal ). WARTAWAN MENGABADIKAN. BANTUAN ( menendangi kereta supaya orang-orang keluar ) Ayo turun, turun dulu ! SALAH SATU BANTUAN NAIK DAN MENENDANGI PARA PEMAIN SUPAYA TURUN. PARA WARTAWAN BERAKSI. ADA YANG IKUT NAIK DAN MENGABADIKAN DARI ATAS GEROBAK. BANTUAN ( setelah para Pemain turun ) Ayo dorong dan bawa keluar. Bikin susah saja. BANTUAN Waktu hidup gagal, setelah mati bikin susah ! SEMUA MENDORONG SUPAYA GEROBAK ITU BERGERAK. SEORANG WARTAWAN TETAP BERADA DALAM GEROBAK DAN MEMOTRET. BANTUAN He itu siapa di atas ? Turun ! PENONTON Wartawan itu, wartawan ! BANTUAN O ya. Terus saja. Terus saja. ( menoleh kepada Penonton ) Awas jangan coba-coba dekat-dekat lagi. Mengacau saja ! GEROBAK BERHASIL DIBAWA KELUAR. BANTUAN Sekarang beres semua. BANTUAN Boleh istirahat ? BANTUAN Dengan sendirinya. Pekerjaan kita sudah rampung. Lihat sendiri sudah bersih. BANTUAN Boleh diumumkan ? BANTUAN Rasanya boleh. Boleh nggak ? BANTUAN Sudah. Umumkan saja. BANTUAN Para penonton sekalian, pertunjukan ini sudah sudah selesai. Tak usah menungu lagi, pulang saja sekarang, tidak ada apa-apa lagi. Paling banter Cuma tinggal membereskan panggung untuk pertunjukkan besok malam. Silakan pulang. BANTUAN Terimakasih banyak. Ayo, kita sendiri boleh pulang juga, kan ! PENONTON ( muncul ) Sebentar ! Jangan buru-buru ! BANTUAN Oit. Ini lagi ! Ini lagi ! PENONTON Sabar. Jangan lupa kami beli karcis mahal. Kami tak mau pulang begitu saja. Harus ada gongnya. PENONTON Kalian kan sudah berhasil membersihkan. Mengapa tidak diteruskan. Sedikit lagi, sedikit lagi kok. Sayang kalau tidak diteruskan. BANTUAN ( kepada kawannya ) Apa sih maunya orang ini ? BANTUAN ( menjawab ) Dan siapa sebetulnya dia ? BANTUAN Kok nguber terus seperti laler. BANTUAN Dan kata-katanya bikin kita mencret. BANTUAN ( kepada Penonton ) Mau apa lagi ini, terus-terang saja. PENONTON Bola sudah di kaki mengapa tidak ditendang ? BANTUAN Bola apa ? Mana ? PENONTON Peran Utama sudah mati dan pasti tidak akan berani lagi kembali. Tetapi dunia terus berputar dan cerita baru mengganti yang sudah selesai. Hidup ini kan cerita silat yang tak ada habis-habisnya. Sambung dong. PENONTON Mainkan. Tinggal tanggal kan baju saja. Siapa ini (mencolek baju Bantuan ) Masak Peran Utama pakai baju beginian ! BANTUAN Kami bukan Pemain. Kami Bantuan, kami cuma orang luar. PENONTON Kalau pemain mati, orang luar yang banyak membantu yang harus jadi ganti . Apa salahnya kalian yang sesekarang jadi pemain. Ya kan ?! PENONTON Sudah. Coba ganti baju kalian dulu, nanti kan rasanya lain ! BANTUAN Ganti ? PENONTON Ya ganti sama ini. ( melemparkan baju ) Mana lagi. PENONTON ( melempar ) Nih. Pakai ini. ( kepada para pemain yang sudah mati ) Heee di situ, yang sudah mati, lempar ke sini kostum kalian, jangan dibawa mati, biar dipakai bapak-bapak ini. PENONTON Cepat, cepat ! DARI SAMPING BEKAS-BEKAS PEMAIN MELEMPARKAN KOSTUMNYA. SALAH SATU BANTUAN MULAI MEMEGANGI PAKAIAN ITU. YANG LAIN MULAI MENCOBA MEM BUKA PAKAIANNYA TAPI TAK BERHASIL, LALU MEMAKAIKAN SAJA. BANTUAN Tunggu dulu ! PENONTON Goblok !Jangan main tunggu-tungguan nanti kesempatan ini hilang. Ingat kesempatan hanya datang satu kali. Now or never ! PENONTON Ya sudah, kalau tidak mau terserah. Biar tahu rasa sendiri ! ( pergi ) PENONTON Payah juga. Kalau orang pinter mikir boleh deh, tapi kalau sudah bodoh pakai aksi mikir lagi, bakalan makan batu terus, Payah dah ! KEDUA PENONTON PERGI SAMBIL MENGGERUTU. BANTUAN Kayaknya bener juga. Kalau tidak ada lagi pemain, mengapa bukan kita saja yang main. Kan terpaksa, bukan karena kita serakah ? BANTUAN Diam ! Biar jauh dulu dia. BANTUAN Nanti kesempatannnya hilang. BANTUAN Gombal ! Biar dia pergi dulu. Nanti terlalu kelihatan kita mau. BANTUAN Tapi kan memang mau. BANTUAN Memang. Tapi tak usah dia tahu, ntar gede bacotnya. Biar jauh dulu. PENONTON ( dari luar ) Kami sudah jauh. BANTUAN Mereka sudah jauh. BANTUAN Nah sekarang boleh ganti ! BEBERAPA ORANG MULAI MENERKAM PAKAIAN-PAKAIAN ITU UNTUK LANGSUNG DIPAKAI. PENONTON ( dari luar ) Jangan dirangkap, lepas dulu seragam gombal itu. PENONTON Tak apa, rangkap saja ! Kan hangat ! SEMUA BERPANDANG-PANDANGAN. BANTUAN Ayo pakai semua ! SEMUA MENCOBA BERGANTI RUPA DENGAN MEMAKAI PAKAIAN PEMAIN MENUTUP SERAGAM BALA BANTUANNYA. PARA WARTAWAN MENGABADIKAN. PENONTON MEMBERIKAN KOMENTAR DARI JAUH. PENONTON Memang ada yang tidak pas betul. Ada yang rasanya kaku, tapi itu biasa. PENONTON Namanya juga baru. Nanti dengan sendirinya akan luwes. PENONTON Hanya harus diingat, pakaian itu menuntut tata cara menurut coraknya. Jadi segala aksi harus disesuaikan dengan kostum baru ini. PENONTON Tidak boleh lagi hanya menunggu panggilan. Sebagai pemain harus aktip. BANTUAN Tapi boleh merokok kan ? PENONTON Boleh. Tapi minimal harga rokoknya jangan seperti Tukang Becak. PENONTON Apalagi yang memakai pakaian Pemain Utama seperti yang pakai merah-merah itu. Peran utama harus tegas, berani, bisa memimpin dan rela berkorban. BANTUAN Tapi boleh merokok kan ? PENONTON Ada dua pilihan. Kalau merokok, merokok terus tidak boleh putus, supaya kelihatan berbobot, atau tidak sama sekali, supaya kelihatan bersih. BANTUAN Dan punya pacar. Masak Peran Utama tidak punya pacar ?! PENONTON Itu soal kecil. BANTUAN Lho ini sangat menentukan. Kalau tidak ada itu tidak akan rame. BANTUAN Betul. Pemain utama harus lengkap peralatannya masak dikalahkan oleh kroco-kroco ini. PENONTON Kamu mau apa sih ? BANTUAN Pokoknya harus menangan terus. PENONTON Biasanya memang. Tapi kadang-kadang banyak juga sekarang Peran Utama yang mati atau tidak bahagia seperti yang baru kita alami ini. BANTUAN Tapi itu perkecualian. Biasanya Peran Utama ya harus jagoan. Kalau tidak, mengapa mesti disebut Peran Utama ? BANTUAN Tidak akan ada yang mau jadi Peran Utama kalau jaminannya kurang. BANTUAN Kalau toh dia kalah, kekalahannya terhormat. BANTUAN Dan kalau mati, kematiannya agung. PENONTON Kalau begitu gue juga mau jadi peranan utama. BANTUAN Silakan, kalau memang berminat. PENONTON Hus kamu jangan main-main. PENONTON Habis jaminannya menarik begitu. BANTUAN Betul ? Silakan. ( mengulurkan pakaian ) PENONTON Ah nggak. Tidak ! Nggak-nggak betul, dia cuma main main. Silakan, silakan terus. ( menarik temannya ) Gombal kamu, hampir saja ! PENONTON Kan cuma memancing, biar cepetan dikit. ( menoleh kepada Bantuan yang mengulurkan pakaian ) Enak juga kelihatannya jadi Peran Utama. BANTUAN Ini, jangan malu-malu. PENONTON ( menarik kawannya ) Gila kamu ! BANTUAN ( memegang pakaian Peran UTama ) Bener, bener ini Kalau ada yang tertarik, kali punya bakat begitu, boleh mainkan ini. Coba siapa, siapa ? Nggak ada ? Kalau tidak ada ya saya nanti yang pakai, jangan nyesel di belakang. Kalau pakai ini pasti banyak kena potret. Pasti diincernya sama bapak-bapak itu ( menunjuk para wartawan ). Ayo siapa ? Bener ini ? Oke, saya pakai. BANTUAN MEMAKAI PAKAIAN PERAN UTAMA. YANG LAIN JADI PEMAIN. PERAN UTAMA Pakai beginian kok biasa-biasa saja rasanya, ya. PEMAIN Belum, belum lagi. Sebentar lagi. PERAN UTAMA Kalian rasanya bigimana ? PEMAIN Ya lebih mantap begitu ? PERAN UTAMA Sudah bisa ngomong Inggris ? PEMAIN No. PERAN UTAMA Good. Kamu merasa bagaimana ? PEMAIN Rasanya berani begitu, mau bikin apa tidak takut takut lagi seperti dulu. Malah kepingin memerintah. Pingin ngemplangin orang. Enak ini. PERAN UTAMA Kamu juga ? PEMAIN Rasanya dunia kok jadi sempit. PEMAIN Dan orang lain tolol-tolol semua ! PERAN UTAMA Jadi benar-benar sudah ada perubahan. Cepat sekali. Itu kamu kenapa ? PEMAIN Sebagai pemain jalan kita juga harus lain, mimik muka ada kepribadian begitu dan kata-kata pilihan supaya kelihatan wibawa. Ya kan ! PERAN UTAMA Bagus. Mana wartawan kok yang begini tidak dipotret. Ini kan kemajuan positip. Kalau ada orang sekarat baru dirubung. PEMAIN Wartawan, mana wartawan ? PEMAIN Mungkin amplopnya kurang tebel. PEMAIN Payah juga. Zaman sekarang semua orang cari makan. PENONTON Awas ! TERDENGAR SUARA GEMURUH. BEBAN ITU MUNCUL LAGI. NONGOL SEDIKIT DARI ATAS SEPERTI MAU JATUH. PERAN UTAMA Ada apa sih ? Suara apa itu ? PEMAIN Kok seperti bleduk. PERAN UTAMA Kalau kita sedang untung memang ada saja yang iri. PENONTON Siap dong siap. PEMAIN Siap apaan ? PERAN UTAMA Ada apa sih ? PEMAIN Kok siap. PERAN UTAMA Tapi ada apa ya, rasanya lain, kayak kepala diteken dari atas begitu. Merasa nggak ? PEMAIN Ya, ya, seperti diinjek. PEMAIN UTAMA Apa ini ya ? PENONTON Bahaya mulai datang kok masih saja berunding, dasar tukang balok. Kita mesti ikut nih kalau begini rusak acaranya. PERAN UTAMA Bahaya apa ? Mana ? Kamu jangan menakut-nakuti. PENONTON Itu ( menunjuk ke atas ) ! Apa itu serem sekali. PENONTON Nggak usah dikasih tahu. Biar tahu sendiri. Nggak nggak ada apa-apa kok. Terus saja, terus saja ngobrol sampai ambrol ( mengambil pakaian ) apa boleh buat mesti turun tangan kalau begini ( melemparkan pakaian ke temannya ) pakai ! PERAN UTAMA Tak ada apa-apa kok ribut. Kalau mau ikut, pakai saja tidak usah pakai ribut-ribut. Kasih dia. PEMAIN Boleh saja. ( memberi pakaian ) tapi kalau dating belakangan jangan mau jadi pemain utama. PEMAIN Yang masih kosong lowongan pemain pembantu. PEMAIN Yang baru muncul sekali langsung mati. ( ketawa ) PENONTON ( menggerundel ) Ketawa saja terus nanti mulut kamu robek sendiri. PENONTON Sebetulnya saya tidak mau ikut tapi PERAN UTAMA Ah jangan basa-basi begitu pakai saja. PEMAIN ( melihat ke atas ) Tapi Yang Mulia, mungkin dia betul , coba lihat yang di atas itu seperti bergerak. Yang di samping itu juga. PERAN UTAMA Ini dia sudah mulai kena perangkap. Nggak ada apa-apa kok. Kamu lihat apa ? PEMAIN Saya lihat seperti ada raksasa, tapi mungkin saya salah, sebab kurang tidur. PEMAIN Mungkin betul dia lihat. Tapi itu semuanya cuma harapannya yang tidak nyata. PENONTON Terus saja. Ambil semua. Kalau sudah keok baru tahu. PERAN UTAMA Apa ? PENONTON O nggak, dia bilang, memang tidak ada apa-apa di situ ( menunjuk ) aduh bergerak lagi. PERAN UTAMA Musuh itu kita ciptakan sendiri. Karena itu dia selalu ada. Musuh adalah partner kita yang membantu kita seperti bayangan. Dia sisi gelap dari segala sesuatu. Makin terang kita, makin gelap dia. Yang harus kita lakukan adalah menerima kehadirannya sebagai harmoni, sebab tanpa dia kita tidak lengkap. Tetapi yang harus kita cegah adalah jangan sampai ita percaya kepadanya. Paham ? PEMAIN Itu baru kata-kata seorang Pemain Utama. PEMAIN UTAMA Paham ? PENONTON Coba sekali lagi ! PARA WARTAWAN MUNCUL UNTUK MENGABADIKAN. PERAN UTAMA Musuh kita adalah kawan kita yang baik. Di sanalah kita bisa mengaca dengan jujur, siapa kita sebenarnya. Musuh kita adalah bayangan kita, untuk tempat mengukur siapa sebenarnya kita. Musuh kita bukanlah lawan yang harus kita benci, karena setiap kali mulai merasakan benci, dia akan setapak lagi maju mengalahkan kita. Walhasil, musuh kita memang selalu ada, tetapi tenaganya ada di tangan kita sendiri. Jadi kalau misalnya musuh kita sedang mengintai di sana ( menunjuk ke atas - beban mulai turun ) PEMAIN Astaga sudah mulai begerak PENONTON Rasain PERAN UTAMA Atau di sana ( menunjuk ke samping - juga dinding bergerak ) atau di situ ( latar belakang bergerak juga ) PENONTON Lebih baik minggir, minggir PENONTON Katanya tadi harus ikut PENONTON Minggir kamu ! ( menarik ) KEDUA PENONTON MINGGIR. PERAN UTAMA ( tertawa ) Memang menjadi Pemain itu tidak mudah. Silakan keluar saja. Kelihatannya memang enak dari luar karena pakaian ini, tetapi kalau sudah ada disini baru tahu bagaimana sumuknya, penuh dengan masalah, lho ( baru menyadari ) kok bergerak beneran ini ? Tolong ! PERAN UTAMA Awas ! Lariii ! DENGAN SUARA GEMURUH BEBAN DARI ATAS DAN SAMPING MULAI BERAKSI. PARA WARTAWAN MENGABADIKAN. SEMUA KETAKUTAN. PENONTON MUNCUL MEMEGANGI PERAN UTAMA YANG MAU LARI. PENONTON Jangan lari, jangan ! PENONTON Tunjukkan pamormu ! PENONTON Kamu Peran Utama sekarang kamu harus menunjukkan nyali. PERAN UTAMA Lepas ! Lepas ! Tolong! Tolongggggggg ! PENONTON Pegang terus ! PENONTON Peran utama tidak boleh minta tolong, goblok ! PENONTON Tolongggg ! PENONTON Gebuk saja sedikit. ( langsung menggebuk ) Diam! PERAN UTAMA Aduhhhh ! PENONTON Jangan digebuk ! PENONTON Habis masak peran utama minta tolong, memalukan ! ( menggebuk lagi ) Diam ! PERAN UTAMA Ampunnnn, kapok, kapok. Tobatttt. PENONTON Kurangajar, peran kok minta ampun, memalukan ! ( mau menggebuk lagi tapi tangannya dipegang oleh penonton yang lain ) PENONTON ( langsung menampar kawannya ) Eling, eling, peran utama kok ditampar, nanti rusak mukanya. PENONTON Habis kesel. PENONTON Kalau hidungnya copot kan berabe, mana ada peran utama copot hidungnya. Pegang saja. PERAN UTAMA Aduh tolongggg ! PENONTON ( yang tadi mencegah memukul justru langsung memukul Peran uTama lagi ) Sialan, diam lhu ! ( memberangus mulutnya ) Ambil tali ! PENONTON ( meloncat mengambil tali dan langsung mengikat ) Awas ! WARTAWAN MENGABADIKAN. PENONTON Lho, lho ini tidak penting jangan diambil. ( kepada kawannya ) Tutup ! PENONTON ( mencoba menutup ) Tolong ! ( tangannya digigit ) PENONTON ( menolong kawannya ) Lari ! KEDUA PENONTON LARI PONTANG-PANTING. PERAN UTAMA Tolongggggg ! DENGAN SUARA DAHSYAT BENDA DARI ATAS JATUH, TAPI TEPAT DI ATAS KEPALA PERAN UTAMA BERHENTI, SEPERTI TAK MAMPU MENGENCET PERAN UTAMA. PERAN UTAMA TEGAK BAGAIKAN MONUMEN. KUAT + PERKASA MESKI PUN PINSAN. PARA WARTAWAN YANG SEMULA TIARAP, BANGUN DAN MULAI MENGHINDAR. PEMAIN-PEMAIN YANG LAIN MUNCUL. MEREKA BERKUMPUL DI SAMPING PERAN UTAMA. SALAH SEORANG KEMBALI MEMBUKA SUARA. NENEK Setiap zaman, setiap generasi, setiap keruntuhan memiliki Peran-peran Utamanya yang menjadi tonggak sejarah. Meskipun kegagahan ini berlangsung dalam ketakutan, meskipun keperkasaan ini dilahirkan oleh urat-urat kejang karena ketakutan. Betapa pun tidak beres segala sesuatu yang ada di hadapan kita ini, tetapi hai cucu-cucuku semua, umat manusia, lihat lihat di situ, ancaman itu telah berhasil ditahan. Jadi… PENONTON Tunggu dulu Nek ! PENONTON Kok tidak ada yang menjpret. Ke mana mereka ? PENONTON Coba lihat ke mana saja wartawannya. PARA PEMAIN MENCARI WARTAWAN. PEMAIN Sedang ngopi-ngopi semuanya ini. PEMAIN Ada yang sudah pulang itu. PEMAIN Ini ada satu yang ganggur, tapi kelihatannya baru belajar. PENONTON Mungkin pidatonya yang kurang mengesankan. PENONTON ( menyorongkan kertas ) Coba ganti teksnya dengan ini Nek ! NENEK ( membaca kertas ) Kekasihku, mengapa wajahmu berbau PENONTON Oit salah. ( mengganti dengan kertas lain ) Ini dia. NENEK ( tapi tak membacanya ) Berapa banyak lagi orang akan mati untuk menebus hutang-hutang ini. Siapa lagi yang akan mati untuk membebaskan kita dari bencana ini PENONTON ( menendang ) Jangan diulangi yang tadi. Ganti ! NENEK ( mengganti dialognya ) Tak ada gajah, kucing pun berguna. Siapa pun dia, meskipun asalnya hanya tukang kebon, tetapi kalau perbuatannya mulia seperti ini, dia adalah pahlawan kita. Inilah kesimpulan kita. Tidak mungkin ada kehidupan tanpa Peran Utama. Tetapi Peran Utama selalu lahir di akhir peristiwa lama dan mati di awal peristiwa baru. Inilah Peran Utama kita yang baru ! PARA PEMAIN LANGSUNG BERSIMPUH DI DEKAT PERAN UTAMA. NENEK ( beringas ) Bukan ini, goblok. Itu ! ( menunjuk Penonton ). PEMAIN Itu ? Bukan ini ? NENEK Ya itu dia ! PEMAIN Tapi PENONTON Lho kok nunjuk ke mari. Itu, itu ! NENEK Peran Utama yang sejati, tidak pernah mengaku dia Peran Utama. Itu dia, anak-anaku, itu beliau! PEMAIN Jadi itu dia ? NENEK Ya. Itu yang asli. Ini ( memegang Peran Utama ) kelihatannya saja Peran Utama tetapi sebetulnya cacing seperti kita. (merobek pakaiannya seperti mengelupas gedebok pisang ) Ya kan ?! Nah itu dia anak-anak, itu, tak salah lagi, baru ketemu sekarang! SEMUA PEMAIN MENDATANGI PENONTON DENGAN PENUH RASA HORMAT. PENONTON MINGGIR. PARA WARTAWAN SIAP MENGABADIKAN. PEMAIN (sambil mengulurkan seikat bunga yang indah ) Dari lubuk hati kami yang terdalam terimalah ucapan terimakasih kami yang tulus. Pahlawan sejati selalu berjuang diam-diam. Tidak membutuhkan nama, tanda jasa dan ( menoleh kepada wartawan yang mulai menjepret ) publikasi. Pahlawan yang asli berkorban diam-diam tidak mengharapkan jasa, uang dan kedudukan. Semuanya ikhlas. ( menyanyi ) NENEK Mungkin ada juga yang suka uang dan kedudukan, tapi itu sudah sepantasnya, karena hasilnya konkrit. SUARA BERDERAK KERAS. BENDA ITU MULAI TURUN LAGI DAN AGAK MENINDIH PERAN UTAMA. SEMUANYA AGAK MINGGIR. NENEK Tapi sekarang bukan zamannya lagi malu-malu kucing. Peran Utama sebaiknya terang-terangan supaya ada kepastian ke mana kami harus berpaling, bagaimana kami harus minta tolong supaya cepat dan praktis. Betul nggak ?! PEMAIN Betul. Apa salahnya menunjukkan diri, itu bukan kesombongan tapi keterus-terangan. PEMAIN Dan jangan cemas kalau mendapat harta dan nama karena kami rela, daripada harta itu hangus atau jatuh ke tangan penjahat dan raksasa. PEMAIN Silakan-silakan memimpin kami PEMAIN Kami bersumpah, kami rela. Bahkan terharu. NENEK Tapi kalau kadang-kadang kami bertanya, jangan salah sangka. Itu bukan berarti membantah atau meragukan. Itu hanya pertanda kami tetap hidup sebagai manusia yang sempurna dan penuh kekurangan. PEMAIN Kami bertanya karena kami percaya. PEMAIN Untuk mengasah keyakinan sendiri. PEMAIN Bahkan kalau sedikit membantah atau meragukan, itu menunjukkan kami setia. Karena musuh tidak akan bertanya tetapi memberi keplokan supaya kita semua terjerumus lalu mampus. NENEK Jangan ragu-ragu lagi, buka kedok kalian. Lihat sendiri semua orang sudah rindu sekali melihat wajah kalian yang sejati. PEMAIN Ya. Buka saja kedok, tidak apa. NENEK Buka kedoknya ! PENONTON Kedok apa ? PENONTON He kalian jangan seenak perut saja. Apa-apaan ini? NENEK Sudah jangan malu-malu. PENONTON Malu apaan, kami tidak pakai kedok kok. PENONTON ( cepat buka baju yang tadi dipakai ) Buka ! Barangkali yang sudah bikin bingung, baju ini. Ini hanya baju kok. PENONTON Tapi baju ini kan untuk memancing kalian tadi. Ini kan taktik saja. NENEK Peran Utama memang pintar taktiknya. PEMAIN Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih atas segala bantuan. PENONTON Bantuan apa ? PENONTON Percuma. Mereka keliru, lebih baik pergi sekarang. PEMAIN Jangan pergi. Kami mohon. Mengapa harus pergi ? PENONTON Cepat, ini bahaya ! PENONTON Gila ! Kalian ini main ya ? PENONTON Ayo ! ( menarik kawannya ) PENONTON PERGI. PEMAIN Demi Tuhan pergilah ! Jangan kembali untuk selama-lamanya. NENEK Kalau tidak dibegitukan tidak akan pergi-pergi sampai besok. PEMAIN ( kepada Penonton ) Mampus ! NENEK Awasi terus supaya jangan kembali. Kita tidak memerlukan penonton sekarang, kita memerlukan pemain-pemain untuk mengangkat barang ini. Kita tidak memerlukan orang sakti, kita tidak memerlukan Bima kita memerlukan kamuuuu ! PEMAIN ( bersorak bersama ) Yaakkkkkkkkkk ! SUARA BERDERAK DAN BENDA ITU BERGERAK LAGI MENGHIMPIT. NENEK Bertahan !!!! SEMUA KEMBALI KE BAWAH BARANG ITU, TAPI BARANG ITU SUDAH JATUH DAN MENGHIMPIT MEREKA. SEMUANYA BERLUTUT SAMBIL MENAHAN. BENDA DARI SAMPING JUGA MENDESAK TERUS DENGAN SUARA YANG BISING. NENEK Bantuan, mana bantuan. Datangkan bantuan, anak-anak ini sudah berjuang dengan gagah perkasa! BENDA ITU BERHENTI MENDESAK TAPI MENGHIMPIT SEMUA ORANG. NENEK Bagaimana keadan kalian para anak-anak ? PEMAIN Payah. NENEK Coba bantu dulu Peran Utama dari posisinya. ADA YANG MEMBANTU. NENEK Hidup ini adalah pertapaan. Siapa yang sabar dan ulet akan bertahan. Jangan khawatir sebentar lagi akan datang bantuan. NENEK NAIK KE ATAS BENDA ITU. PERAN UTAMA DI BAWAH BEBAN ITU MENGA DUH. PERAN UTAMA Aduhhh ! NENEK Lho ini masih terikat dia, lepaskan. Copot bajunya biar jadi orang biasa saja. Masak Peran Utma aduh-aduh. PEMAIN ( yang kena injak ) Aduh ! NENEK Sudah diam, diam ! Yang bukan Peran Utama tidak pantas mengaduh. Mati saja diam-diam. Nikmati nasib jangan mengeluh terus. PEMAIN Tolong. NENEK ( berteriak ) Diammmmmm ! Kamu kira cuma kamu yang sakit ? Bertahun-tahun aku dipaksa mendengar orang kesakitan. Aku muak. Jangan cengeng lagi. Telan saja, telan saja bulat-bulat ! ( menginjak-injak beban dan kalau perlu memukul ) Jangan bikin malu terus. Bikin senang orang tua sedikit. Bikin aku bangga, bikin aku sombomg sedikit karena kamu semua tidak merintih tapi menantang nasibmu ! NENEK SIBUK MENGINJAK-INJAK DAN PARA WARTAWAN MENGABADIKAN. KETIKA ORANG TUA ITU SADAR IA DIPOTRET, IA MARAH. NENEK Ini lagi tukang ngintip, apa tidak ada pekerjaan lain. Pergi ! WARTAWAN TAK MAU PERGI. NENEK Bantuan, bantuan ! PENONTON BERBISIK-BISIK. PENONTON Cepat bantuan, nanti suaranya habis. NENEK Bantuan, tolongggg ! PENONTON Nenek geblek, makin tua makin genit. ( berlari dan menyiramnya dengan air ) NENEK Ban. . ( tertegun karena disiram air, lalu mengusap usap mukanya ) Apa ini ? PENONTON Jangan over acting ! PENONTON Siram lagi ! PENONTON Dari tadi kamu cuma merusakkan cerita. Mau dipecat ya ! WARTAWAN MENDEKATI NENEK YANG MENGUSAP MUKANYA. ADA YANG MELEMPARKAN HANDUK KECIL. NENEK MENGUSAP MUKANYA. PENONTON Siram terus ! PENONTON MAU MENYIRAM LAGI, TAPI SALAH SEORANG WARTAWAN MENCEGAH. MEREKA MENDEKATI NENEK. KETIKA HANDUK DIBUKA TERNYATA IA BUKAN ORANG TUA TAPI ANAK MUDA. PENONTON Astaganaga, Tuti ! Kenapa kamu di sini ? SEMUA WARTAWAN MENJEPRET. NENEK ITU TERNYATA ANAK MUDA. MUNGKIN SEBELUMNYA MEMAKAI RIAS TEBAL ATAU MEMAKAI TOPENG . SETELAH KE NA GUYUR KETAHUAN SIAPA DIA. PENONON TERKEJUT. PENONTON Lho kamu lagi. Kan sudah tak bilangin jangan ikut ikut main drama lagi. Bikin malu orang tua saja ! Ayo pulang sana. Sudah bikin PR belum ?! BANTUAN DATANG. INI ORANG-ORANG YANG DULU MENJADI PEMAIN. MEREKA MENGUSIR WARTAWAN. LANGSUNG MEMASUKKAN SEGALA SESUATU KE DALAM GEROBAK. DI MULUT MEREKA SEMUA JUGA MENGEBUL-NGEBUL SEBATANG ROKOK. ADA JUGA YANG MENGISAP PIPA. NENEK Jangan diambil semua. Jangan rampas semuanya. Kamu rampok ! Kamu buas ! BANTUAN TIDAK PEDULI MEREKA TERUS MEMBERSIHKAN. BANTUAN Yang tidak berkepentingan silakan minggir, supaya cepat selesai. BANTUAN Kalau masih mau motret, motret dulu dah, sampai puas, tapi habis itu silakan pergi. BANTUAN Bapak ( kepada penonton ) bukannya di situ tempat nya ? WARTAWAN MENGHAMPIRI NENEK LAGI. BANTUAN Silakan-silakan. Apa mau yang itu juga ? ( Menunjuk gerobak ) Coba kasih lihat. BANTUAN Kasih lihat. SALAH SATU NAIK DAN MEMPERLIHAT ORANG YANG ADA DI DALAM GEROBAK. NENEK ( sadar mendapat perhatian ) Lihat. Baru saja kita bangkit, baru kita mencoba lagi disikat begitu saja. Tidak ditanya, tidak dicari apa sebabnya, baru bergerak, tidak ampun lagi langsung di grebek. Ini barbar. ( wartawan mengabadikan ) Barbarrrrr ! PENONTON Maaf. Bocah ini masih kecil tidak tahu apa yang dikatakannya. Dia hanya menghapal apa yang ada di buku. Jangan terlalu dimasukkan. PENONTON Sudah nenek bangkotan begitu, kok bocah ? PENONTON Lho ini mau ngajak berantem bagaimana ? PENONTON Itu kan bukan PENONTON Memang bukan, tapi bukan itu masalahnya. PENONTON Lalu apa ? PENONTON Masalahnya mereka ngintip ! ( menunjuk ke wartawan ) Mereka ngintip ! Itu harus di ( wartawan lang menjepret, Penonton tak meneruskan kata-kata setelah mengetahui dicecer, ia menarik kawannya ke luar dan setelah berada di luar baru meneruskan kata-katanya ) Itu harus dicegah, tolol ! NENEK Aku mencoba memberikan kesaksian tetapi setiap kali mulai segalanya dipreteli. Lama kelamaan kesaksian-kesaksianku membusuk dan tak ada yang percaya apa yang aku katakan. Ini muslihat busuk ! Tolong ! Tolong cepat, sebelum mereka menulis sejarah yang lain untuk menggantikan sejarah kita. Wartawan, kemariiii semua, dengarrr ! WARTAWAN MAU MENDESAK LAGI TAPI BANTUAN SUDAH TAK SABAR. MEREKA KEMUDIAN MENGUSIR WARTAWAN. ADA YANG MENDORONG DAN ADA YANG MEMUKULNYA. WARTAWAN TUNGGANG-LANGGANG. ADA YANG JATUH DAN KENA PUKUL LANGSUNG JADI OBYEK KAWANNYA UNTUK DIABADIKAN. BANTUAN Minggir, minggir ! BANTUAN (kepada Nenek ) Ayo masuk ! ( menunjuk ke gerobak sambil disaksikan oleh yang lain ) Masuk. BANTUAN Atau kami akan memaksa kamu masuk ! BANTUAN Dari tadi persoalan kita hanya ini saja, bosan ! NENEK Apa ? BANTUAN Masuk ! NENEK Kalau aku masuk siapa yang akan mengganti di sini? BANTUAN Mengganti apa ? NENEK Memberi kesaksian . BANTUAN Untuk apa ? NENEK Untuk menggigit orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini. BANTUAN Menggigit ? BANTUAN Nenek kok mau menggigit ? BANTUAN Mungkin maksudnya, apa ? Menggigit ? NENEK Peristiwa ini harus diberikan tafsiran supaya jelas pelajaran apa yang harus ditarik oleh orang yang mengalaminya. BANTUAN Siapa ? NENEK Siapa saja. BANTUAN Kenapa ? NENEK Gelo ! Dasar buruh kasar, tahu kalian cuma pegang sapu dan narik gerobak. PENONTON Kalau dia tahu yang lain, mana mau jadi gombal beginian. Sudah angkut saja dia ! ( menunjuk Nenek ) BANTUAN Eeee tidak usah ikut kasih perintah. Ini urusan kami. BANTUAN Kami ini pada hakekatnya hanya bantuan. Membantu. Karena diminta kami datang. Karena ada yang minta tolong kami bertindak. Tapi jangan memerintah begitu. Kalau memang tidak diperlukan, kami bisa pulang sekarang. Justru lebih enak. Ayo pulang. Ini penipuan juga seperti yang lain-lain ! PENONTON Lho jangan mutung. PENONTON Gi pergi situ cepat. NENEK Kalau dia pergi nanti siapa yang memasukkan saya ke situ ? ( menunjuk gerobak ) BANTUAN Masuk sendiri ! Kenapa sih masih goblok terus ! PARA PEMAIN YANG ADA DI DALAM GEROBAK BANGUN. PEMAIN Jangan mau busuk di sini ! PARA BANTUAN BERINGAS. BANTUAN Awas dia bangkit lagi ! PEMAIN Kenapa kami ditempatkan dalam gerobak terus ? Tempat kita di situ di panggung berjuang. Ayo bangun semua, pemalas ! PEMAIN Bangun, bangun, perjuangan belum selesai. PEMAIN Siap ! PARA PEMAIN MAU BANGUN LAGI. BANTUAN Gelo, tahan, tahan ! BANTUAN Semua ikutan !!! SEMUA BANTUAN MENGEROYOK DAN MEMUKULI PEMAIN YANG BERUSAHA KELUAR DARI DALAM GEROBAK. PENONTON CEPAT MUNCUL KEMBALI MEMBAWA TOPENG BARU. NENEK Tolong, tolong, jangan ambil semua, jangan bunuh mereka semua. Tinggalkan satu, jangan dihabisi semua, jangan, tolong, tolong ! PENONTON MEMUKUL KEPALA NENEK. YANG LAIN MEMASANG TOPENG DAN MEMBERIKAN SELEMBAR KERTAS SUPAYA DIBACA. TERDENGAR SUARA DAHSYAT DAN BENDA-BENDA ANEH MULAI BERJATUHAN DARI ATAS. DINDING DARI SAMPING MAKIN MENJEPIT. PENONTON Cepat baca ! PENONTON Tanpa Peran Utama segalanya jadi kacau. Kita memerlukan pahlawan untuk dikeploki. Baca, baca ! PENONTON Semua yang ada di sini beli karcis, kamu harus menghibur mereka jangan menipu. NENEK Tolonggg. PENONTON (menggebuk ) Jangan bandel ! PARA BANTUAN TAK BERHASIL MENGGASAK PARA PEMAIN, PARA PEMAIN BERLOMPATAN KEMBALI KELUAR GEROBAK. MEREKA MASUK KE BAWAH BEBAN DAN MENGANGKAT BEBAN ITU. PEMAIN Untuk terakhir kali angkatttttttt ! BEBAN TERANGKAT BERIKUT PENONTON DAN NENEK. PEMAIN BERSORAK. PENONTON Lari ! ( meloncat turun ) PENONTON ( meloncat turun dan mendatangi Bantuan ) Goblok ! Kamu tiak becus kerja, kamu tidak perlu diberi kesempatan lagi. Ayo minggir, minggir. ( tapi mereka tak minggir malah mendesak maju ) PENONTON Astaganaga ! Lari Cak ! PENONTON Lho, lho ( tapi gemetar ) PENONTON YANG SATU MENARIK PENONTON YANG LAIN. NENEK Tolongggggggggggg ! PEMAIN Tahan, tahan itu ! DINDING SAMPING MAU BERGERAK LAGI. PARA BANTUAN KEBINGUNGAN. PEMAIN Tahan itu goblok ! BALA BANTUAN MENCOBA MENAHAN DESAKAN DINDING KANAN DAN KIRI. BENDA-BENDA MAKIN BANYAK BERJATUHAN DARI UDARA. BALOK-BALOK PLAS TIK HAMPA BERWARNA-WARNI DENGAN UKURAN-UKURAN BESAR BERJATUHAN. NENEK Peran Utama lahir di akhir cerita lama, mati di awal cerita baru. Tetapi namanya bangkit mengganti tubuhnya, bercokol dengan abadi di hati setiap orang. Dan kita tersiksa karena tak pernah dapat membebaskan diri kita dari dia untuk menulis cerita yang baru. ( dan seterusnya yang serius sekali, teatral dan dramatis, tetapi tidak ada artinyasama sekali ). Kita. . . . TERDENGAR SUARA KERAS. BEBAN ITU JATUH. PARA PEMAIN TERHIMPIT, TAM PAK KEALANYA SAJA SERTA TANGANNYA MENYEMBUL KE DEPAN. BALA BANTU AN BERUSAHA MENOLONG TAPI TAK BERHASIL. MEREKA MASUK KE DALAM BEBAN DAN MENCOBA MENGANGKATNYA, TAPI TAK BERHASIL. SEKARANG SEMUA PEMAIN DAN BALA BANTUAN TERHIMPIT BEBAN. HANYA NENEK ADA DI ATAS BEBAN. PARA WARTAWAN TERUS MUNCUL LAGI MENJEPRET-JEPRET. PENONTON SIBUK UNTUK MENJELASKAN DAN MEMBERIKAN USUL-USUL. PENONTON ( sekarang kepada wartawan ) Goblok. Jangan potret ini, tolol ! Itu-itu yang harus dicecer ! ( menunjuk pada pada Bala Bantuan ) Mereka yang harus kilihat. PENONTON Bukan itu, waduh salah lagi. Ini, ini saja buat apa itu. Ini ambil ini ! ( menunjuk pada Nenek ). DEMIKIAN SETERUSNYA SEMENTARA PANGGUNG MAKIN PENUH OLEH KANTUNG PLASTIK ITU NYARIS TAK KELIHATAN LAGI APA YANG TERJADI. PARA WARTAWAN TERUS JEPRAT-JEPRET. CAHAYA LAMPU WARNA-WARNI MEMBUAT KANTUNG PLASTIK ITU SEPERTI BALOK-BALOK BERWARNA YANG ANEH. NENEK ( mengucapkan sesuatu yang tak ada artinya, tetapi suaranya menggugah ) Kami, tetapi mengapa yang sebenarnya akan terjadi walaupun memang tidak akan besar, tidak akan betul tetapi tajam ! ( dan seterus nya ) PENONTON MENARIK KEDUA LAYAR DAN BERUSAHA UNTUK MENUTUP. GAGAL. KEMUDIAN IA BERUSAHA MEMBAWA KAIN DAN MENYELIMUTI APA YANG TER JADI. WARTAWAN KELUAR MENCARI POSISI. KEDUA PENONTON MENCOBA MERENTANGKAN KAIN PUTIH. PARA WARTAWAN KEMUDIAN MENCOBA MENGABADIKAN. KEDUA PENONTON MARAH DAN KEMUDIAN MELEMPARI PARA WARTAWAN. PENONTON Pergi ! Pergi kamu tukang intip ! PENONTON Kamu bikin semua rusak. PENONTON Yang rusak kita, yang untung kamu, kamu yang gendut, kami yang celaka terus ! PENONTON Jangan jepret ke mari. Ki situ. Ke situ. Kami bukan Peran Utama. KEDUA PENONTON DIJEPRET BERTUBI-TUBI. PENONTON Jangan ! Gila, usir mereka ! PENONTON Tidak bisa, sudah terlanjur ! PENONTON Ini melanggar hak azasi ! PENONTON Sudah, lebih baik manut. PENONTON Kamu ngintip ! PENONTON Habis memang mata pencahariannya ngintip kok ! PARA WARTAWAN MENCOBA MENGATUR POSISI KEDUANYA. PENONTON Lho, lho apa-apaan ini ? PENONTON Mereka cari komposisi yang bagus. PENONTON Ini memancing di air keruh ! ( tapi tak menolak ketika diatur ) Mencari kesempatan dalam kesempitan. Ini saru, porno, masak ( diam sebentar karena para Wartawan rame-rame menjepret, setelah itu kembali berkoar ) masak kita diintip seperti ini, ini perbuatan sewenang ( diam kembali karena dijepret, kemudian melanjutkan kembali sesudah itu ) sewenang-wenang, ini tidak adil, pemalsuan, ini menyalahi ( diam lagi, lalu meneruskan ) coba pinjam topinya. SALAH SATU WARTAWAN MENANGGALKAN TOPINYA DAN MENYERAHKAN, PENONTON MEMAKAI TOPI ITU. WARTAWAN YANG LAIN MEMBERI TOPI YANG LAIN PADA PENONTON YANG SATUNYA. SALAH SATU WARTAWAN MENGAMBIL BUNGA DAN MENYERAHKANNYA - KEDUA PENONTON BERSIKAP MANIS DAN GAGAH, PAKAI TOPI DAN MEMEGANG BUNGA - LALU SALAH SEORANG MEMASANG TOPENG DI KEDUA WAJAH PENONTON. TOPENG PUTIH RATA, TAK BERMATA, TAK BERHIDUNG ATAU BERMULUT. TOPENG PERAN UTAMA. NENEK Kamu rengutkan tidak kamu kembalikan yang sudah tak mungkin diperbaiki. Ada pada siapa, siapa kamu, mengapa kamu di situ, di sini ada yang tak beres tetapi kamu selalu tak ada, tak ada meskipun ada. Berikan kami tolong besar yang banyak. . . ( dan seterusnya, lanang tapi tak jelas artinya ) Peran Utama, peran utama sudah hilang kembalikan Peran utama, berikan kami cerita, berikan kami arah. . . . PARA WARTAWAN MENGGANTI SASARAN, MEREKA MASUK KE DALAM DAN BERGERAK DI ANTARA BALOK-BALOK PLASTIK ITU. MEREKA MENJEPRET TERUS SEMUANYA. PIJAR-PIJAR KAMERA MEREKA SERU SEKALI MENYABET BALOK-BA BALOK ITU. KEDUA PENONTON MERENGUTKAN TOPENG ITU DAN TERKEJUT. NENEK Kembalikan, kembalikan, jangan hilangkan semua, sisa kan kami sedikit, kami sudah habis, mana dia, mana dia . . . . . ( dan seterusnya makin sedih dan tetap tak jelas ) PENONTON Lho ini ( melihat topeng ) ini topeng Peran Utama. PENONTON Memang. PENONTON Tapi kita bukan Pemain, heee kami bukan Peran Utama! PENONTON Mungkin juga ya, ya ? PENONTON Apa ? Gila ! Tak mungkin ! PENONTON Kenapa ? Apa ? Ya kan ?! Terasa nggak ? Jelas nggak ? Ya kan ! NENEK Gila. Gila. Siapa itu yang berdiri di situ sekarang. Apa kamu Peran Utama kita ? Jangan takut, jangan pergi, terus, teruskan berdiri di situ, jangan takut mati, mati bukan akhir segalanya. Terus, terus ! PENONTON Bohong ! Ini fitnah. Kami bukan Peran Utama. PENONTON Kami penonton ! NENEK Peran Utama, Peran Utama sudah datang kembali, kita akan diselamatkan. Kembali, kembali ke mari tolong kami cepat, cepat. . . ( menangis ) PENONTON kami bukan Peran Utama ! PENONTON Bukan kami ! Ini PENONTON ( kepada penoton lain ) Mungkin mereka itu Peran Utamanya selama ini. Kita sudah salah taksir. Mereka ( menunjuk Wartawan ) ternyata mereka Peran Utamanya bukan kita, ternyata. Mereka biang keroknya mereka, gila, astaganaga mereka Peran Utamanya. PENONTON Betul ! Mereka Peran Utamanya ! Mereka Peran Utamanya, bukan kami ! Ini bukan milik kami (menunjukkan topeng lalu membantingnya, juga merebut topeng temannya sekalian membantingnya ) SALAH SATU WARTAWAN MUNCUL DAN HENDAK MEMOTRET PENONTON. PENONTON Kurang ajar kamu ! ( menangkap dan memukul ) PENONTON Hajar saja ! TUSTEL WARTAWAN ITU MEREKA REMUKKAN. WARTAWAN MENCOBA MEREBUT TAPI DIHAJAR. SALAH SEORANG PENONTON MEMEGANG WARTAWAN DAN YANG LAIN KEMUDIAN MEMUKULNYA DENGAN TUSTEL ITU. WARTAWAN LAIN MENJEPRET. WARTAWAN YANG KENA GEBUK ITU JATUH DAN TAK BISA BANGUN LAGI. PENONTON ( memasang topeng pada wartawan itu ) Oke, sekarang potret-potret banyak-banyak ! PENONTON Sekarang jelas siapa Peran Utamanya. PARA WARTAWAN TERTEGUN MENYAKSIKAN KAWANNYA TERBARING REMUK. TIBA-TIBA SAJA SALAH SEORANG PENONTON MENANCAPKAN PISAU LANGSUNG MENGHUNJAM KE DADA WARTAWAN ITU. PENONTON Silakan. Selamat malam. Terimakasih. PENONTON Selamat bekerja, sampai ketemu lain waktu kapan saja. KEDUA PENONTON SALAMAN SATU SAMA LAIN. KEMUDIAN BERPELUKAN DAN BERPISAH. PARA WARTAWAN MENCOBA MENGABADIKAN. PENONTON Bukan ini, itu ( menunjuk ke arah wartawan yang terkapar itu ) Itu ! Itu lakonnya, bukan kami ! WARTAWAN TERCENGANG. PENONTON YANG LAIN BERBALIK LAGI MENDEKATI KORBANNYA DAN KEMUDIAN MERENGUTKAN PISAUNYA DARI TUBUH KORBAN DAN KEMUDIAN PERGI. PARA WARTAWAN MERUBUNG WARTAWAN YANG TEGELETAK DAN MENGABADIKANNYA DARI DEKAT DENGAN BEREBUTAN TETAPI CUKUP TERTIB. SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA NENEK. NENEK Tolongggg, tolongggggggg. . . . . . . . PENONTON ( kepada penonton ) Lakon ini gagal. Lebih baik kita pulang saja sekarang. Akan begini terus sampai nanti. PENONTON Kita kembalikan saja karcis ke loket, ini penipuan. PENONTON Masak sudah ditolong begitu rupa, dengan jiwa raga bahkan sudah kita gerpol toh macat dasar pribumi juga. PENONTON Sudah diancam-ancam tetap saja goblok. PENONTON Sudah diadu domba tapi melempem terus ! PENONTON Apa ? PENONTON ( suaranya tak kedengaran ) TERDENGAR SUARA MUSIK SEPERTI DI BAGIAN AWAL KEMBALI. PENONTON MENDORONGKAN TEMANNYA SUPAYA LARI. DIA SENDIRI KEMUDIAN LARI. PE NONTON YANG SATU LAGI TERJEREMBAH, BANGKIT DAN KEMUDIAN RAGU-RAGU PERGI KE ARAH LAIN. NENEK Kembaliiii, kembaliiiii, kembaliiiiiii ! Musik tambah keras. para wartawan mengangkat kawannya. balok-balok plastik berjatuhan lagi, para wartawan menyelamatkan kawannya itu. Menggugat terus dengan lantang, tetapi kata-katanya tak dapat diartikan Kembalikan, kembalikan Peran Utama untuk mengisi cerita ini. Alangkah sepinya, hidup jadi mencekik dan macat tanpa ada orang yang memikul beban. Berikan kami tonggak sejarah, berikan kami kata-kata yang mampu menghidupkan jiwanya yang sudah memberi kami tenaga memikul segala beban ini. Kembaliiiii, jangan tinggalkan kami di sini, sepi, sepi, sepi dan sakit. Aduhhh, aduhhhh, tolongggg, kembaliii, kembaliii sekarang juga. Kemba liiiiiiiiiiii ! Balok-balok kertas atau plastik berjatuhan menimpa penonton, wartawan muncul dan memotret para penonton. musik bertambah keras, bertambah keras mengusir penonton. nenek terus berbicara tapi tak jelas apa yang dikatakannya. . . . . . . . . . . . . . . . . KEDUA PENONTON MUNCUL LAGI. PENONTON Pertunjukan sudah selesai ! PENONTON Belum ! PENONTON Sudah ! PENONTON Jangan pulang dulu, ini belum selesai. Pemain utamanya sudah ketemu. PENONTON Bohong ! Belum ! Pertunjukan baru mulai, lagi hot-hotnya ini ! PENONTON Lihat, lihat itu dia datang ! TERDENGAR SUARA HENTAKAN KAKI BERDENTAM-DENTAM. NENEK Kembaliiiii. PENONTON Dia datang, dia sudah datang ! PENONTON Awas minggir-minggir ! NENEK Kembaliiiiiiii ! Suara hentakan kaki berdentam makin keras, makin keras. wartawan Menjepret-jepret ke segala arah dengan bingung. suara berdentam Makin keras. dan tiba-tiba berhenti. sunyi dalam sebelas kali ketuKan. gelap perlahan-lahan. sebuah lampu menyala di tangan nenek. Siapa itu ? Siapa itu ? Siapa itu ? Perlahan-lahan dari atas turun peran utama memakai topeng putih Rata, tak bermata, tak bertelinga, tak berhidung, tak bermulut. topengPemain utama. Siapa itu ? Siapa itu ? Peran utama melayang bergoyang-goyang. terdengar suara tambur disusul oleh musik makin keras-makin keras. Siapa itu ? Siapa itu ? Siapa itu ? DAN SETERUSNYA. DeKalb, 22 Juli 1988 CERMIN karya NANO RIANTIARNO PANGGUNG MULA-MULA GELAP. GELAP SEKALI. TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN KETAKUTAN SEORANG LAKI-LAKI. PANGGUNG MASIH TETAP GELAP. SUARA : Jangan! Jangan tinggalkan saya! Tolong! Tolong! Tolong! Nyalakan lampu, saya takut gelap! Saya takut sendirian! Tolong! Jangan tinggalkan saya! Cahaya, saya butuh cahaya! Saya butuh terang! Tolong…….cahaya…….cahaya. DAN LAMPU WARNA PINK MENYOROT (FADE-IN) MELINGKARI AREA DIMANA DIA BERTERIAK-TERIAK DILANTAI, SAMPING SEBUAH KURSI BESI. DALAM PENJARA SEORANG LAKI-LAKI KIRA-KIRA BERUMUR 35 TAHUN KAGET KETIKA SADAR BAHWA DIA SEKARANG BERADA DALAM TERANG. DIA KECAPAIAN DAN TERENGAH-ENGAH.MENGHIMPASKAN PANTATNYA DI LANTAI. PADA SAAT YANG HAMPIR BERSAMAAN, SETELAH UJUD SELURUH LAKI-LAKI ITU TERLIHAT SAMAR-SAMAR LAMPU MENYALA MENYOROTI AREA DI DEPAN DIA. SEORANG LAKI-LAKI LAIN YANG SELURUHNYA SAMA DENGAN DIA JUGA DUDUK DI LANTAI SAMPING SEBUAH KURSI BESI YANG SAMA. LAMPU BERWARNA PINK JUGA. DUA LELAKI YANG SAMA DUDUK DI LANTAI SAMPING KURSI BESI YANG SAMA TERSEKELILING GELAP. GELAP SAKALI. LAKI-LAKI : He……….. (LAKI-LAKI DI DEPANNYA MENYAPANYA JUGA PERSIS TAPI TANPA SUARA) Hee……….. Ya! Masih ada. Kukira sudah pergi bersama yang lain-lain. He, aku senang kau masih ada. Di depan situ menatapku. Temanku Cuma kamu sekarang. Di sini pengap. Keringat tak henti-hentinya menyembul dari pori-pori kulit. Aku khawatir kalau persediaan air dalam tubuhku habis, pasti bukan keringat lagi yang keluar tapi darah. Dan kalau darah sudah habis…….. sebuah pintu terbuka lebar-lebar dan aku harus mendorong diriku sendiri untuk bilang ayo masuki ruangan besar di sebaliknya. Ruangan besar dari sebuah gedung yang besar. Ada apa di dalamnya? Perabotan-perabotannya bagus? Jenis kursi-kursinya dibikin dari kayu apa? Jati tua atau mahoni? Karpetnya? Dari India atau Persia? LAKI-LAKI : Apa ada hiasan-hiasan dindingnya? Dari apa? Kuningan apa perunggu? Lampu gantungnya dari kristal? Kamar mandinya bersih, artinya tidak terdapat lipas di sudut-sudutnya. Dapurnya bagaimana? Selalu tersedia makanan hangat dalam lemari? Aku pedagang barang antik, harus tahu secara detail perabotan-perabotan tiap ruangan yang kumasuki. Bagaimana? Apa aku akan ditemani atau sendirian? (BERBISIK) Apa Su ada disitu……apa dia menungguku disitu? (DIAM MENUNGGU JAWABAN). Ya aku tahu kau tidak tahu. Tak seorangpun yang tahu sebelumnya. Masuki gedung itu dulu, baru kau akan bisa bercerita ada apa di dalamnya. Tapi siapa saja yang masuk ruangan besar itu, tak akan pernah kembali lagi. Panas, cuma keluhan, jangan khawatir seorang kawan bisa menyejukkan suasana. Ada seorang di sekitar kita lebih baik daripada sama sekali tidak ada. Pada dasarnya semua orang takut sendirian. Aku juga. Kau juga. Benarkan. Kita ngobrol-ngobrol, untuk mengisi waktu. Obrolan yang intim bisa menambah rasa kekawanan. Tidak usah dijawab. Aku yakin pasti kau mau. Ya, kita akan ngobrol-ngobrol. Aku dapat pertama, kamu yang kedua. Akan kubeberkan semuanya tanpa malu-malu. Tapi musti janji, begitu aku selesai kau segera menyambungnya. Dengan begitu tak akan terasa lagi waktu lewat. Pagi-pagi sekali kita akan berpelukan mengucapkan salam perpisahan, barangkali sambil tertawa-tawa atau barangkali kita akan saling menangisi. Entahlah! Jangan menjawab, aku tahu kau sama seperti aku, termasuk orang-orang yang selalu berusaha untuk menepati janji. Dengan adanya kau di situ, meskipun kau tidak menyapa apa-apa bisa kupastikan kita akan selalu bersama-sama, setia sampai mati. (BERPIKIR HENDAK MEMULAINYA DARIMANA). He…….he…….he he he! Heeeeeeeeeeeeee……………….. (DIA MEMATUT-MATUT DIRI. BERTINGKAH SEBAGAI SEORANG LAKI-LAKI JANTAN. DIA MELANGKAH DENGAN TEGAP. KE MUKA KE BELAKANG). Sampai mati! (BERTINGKAH SEBAGAI TENTARA. BERTINGKAH SEBAGAI PENARI. BERTINGKAH SEBAGAI ORATOR. BERTINGKAH SEBAGAI BADUT. LAKI-LAKI DI DEPANNYA MENIRUKAN GERAK-GERAK YANG DIA LAKUKAN DENGAN PERSIS. LAKI-LAKI TERTAWA KEGELIAN). Tiruan yang sungguh-sungguh sempurna…….sempurna…….sempurna. (LAKI-LAKI ITU MENANGIS. DARI PERLAHAN SAMPAI MENGGERUNG-GERUNG. DIA MERATAP) Sampai mati……. Su! Su! Sunni! Kenapa jadi begini? Kenapa kau pergi? Kenapa aku ada di sini? Kenapa mesti ada hal-hal yang mendorong kita melakukan hal-hal? Kenapa kamu tidak mau menurut? Kenapa waktu kamu masih ada, rasanya semua terang dan jelas. Tanpa kabut. Tiap kupandangi diriku di kaca, maka kulihat ujud seorang laki-laki yang utuh. Lalu sekarang, kau entah ada di mana? Jarak dan tembok memisahkan kita. Semua yang terlihat jadi samara-samar. Bukan maksudku melakukan itu. Terjadi begitu saja, didorong oleh kekuatan yang ajaib! Seperti alir sungai yang dibendung, makin tinggi bendungannya makin banyak air yang tertampung dan tekanan untuk molos mencari aliran lain makin besar. Lalu suatu saat air tak terbendung lagi sedang tekanan makin besar, makin besar. Dan tiba-tiba bendungan jebol! Kau tanamkan bibit di sini. Tumbuh sedikit demi sedikit hingga berbunga, waktu kelopak bunga itu merekah, dia bersuara seperti terompet. Suaranya memekakkan telinga. Dan Sunniii…gemanya! Gemanya melengking! Tak tahan aku untuk tidak berbuat apa-apa. Dan bisik-bisik itu. Bisik-bisik yang memerintahkan aku supaya melakukan niatku, musnahkan! Musnahkan Hancurkan! Hancurkan biar jadi abu sekalian. Dari abu kembali jadi abu, kata bisik-bisik itu dalam telinga. Kekuatan bumi menarik kakiku dalam-dalam, menyeret dan membakarku dalam inti magma yang paling panas! Aku merungkuk, makin merungkuk, Rasa panas yang terkutuk membakar, memadat dalam dada. Menyiksaku tanpa ampun, hingga hari itu tiba, kau tahu seluruh tubuhku gemetar. Panas dan dingin menjadi satu seperti nerapa. Dan kau tahu, kau tahu, kekuatan aneh itu yang memaksaku untuk jadi babi gila. Menyeruduk ke mana saja nalurinya memerintahkan untuk meyeruduk. Aku menyeruduk. Apa saja yang kulihat, kulihat sebagai musuh. Harus dihancurkan dalam sekejab! Tapi yang kuseruduk rupanya tembok-tembok besi…..Lihat……. dua taringku patah, tak lagi bisa dijadikan senjata. Sebagai perhiasanpun cukup buruk kan? Kalau aku ini tentara, maka aku tentara yang tidak baik. Tidak punya disiplin, kurang taktis, tidak mampu mengontrol emosi serta tidak perduli pada batas-batas dan ukuran. (KECEPATAN). Su, perempuan biasa. Tidak cantik tetapi punya daya tarik yang luar biasa, kegairahan hidupnya seperti kuda tak terkendali! Salahku memang, mengawini perempuan bekas pelacur. Padahal tadinya sudah kurelakan, dia bekerja, aku juga bekerja. Tapi Su selalu bilang padaku : ah, kamu tidak pernah bisa memberiku apa-apa selain anak. Ya, itu kenyataan. Dan karena itu pula dia berhak menutup mataku, mulutku dan menahan gerak semua anggota tubuhku. Tapi memang semua itu termasuk dalam perjanjian. Dan kami sudah saling menjanjikannya, dulu waktu dia kukawini. Kenyataan ini mampu kutahan sampai beberapa lamanya, 3 anak. Cuma itu katanya yang bisa kuberikan padanya, ya! Tapi lihat muka anak-anak itu satu persatu kalau mereka masih hidup. Lihat dengan teliti. Seperti siapa mereka? Adakah persamaannya denganku? Sama sekali tidak. Yang sulung entah seperti siapa? Yang kedua entah seperti siapa dan yang ketiga kulitnya hitam pekat dengan mata yang bulat dan rambut keriting kecil-kecil. Anakkukah itu? Anak Su! Aku pernah punya pikiran mungkinkah ada dokter-dokter jahil yang senang menukar-nukar bayi di RS bersalin, atau perawat-perawatnya. Tapi hal itu tidak mungkinkan? Mereka pasti menghormati sekali sumpah jabatan. Tapi aku bisa memastikan anak yang ketiga bukan anakku! LAKI-LAKI (MERATAP LAKI_LAKI DI DEPANNYA DENGAN GELISAH) Tahukah kamu mengapa aku masih tetap bisa menahan diri selama ini? Masih tetap mendampinginya meski jantung perih bukan main? Karena aku mencintai Su! Karena aku sudah bersumpah untuk tetap setia apapun yang sudah dia lakukan. (BERTERIAK) banci! Laki-laki lemah! Tidak punya tangan besi! Pendirian yang rapuh! Ya aku tahu matamu menuduhku begitu. Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah. Ini memang termasuk dalam perjanjian. Kataku selalu pada Su : lakukan tapi tanpa perasaan cinta. O, kelemahan. Apa yang kau ciptakan selama ini sebagai akibat? Mesiu apa yang kau padatkan dalam tabung bersumbu?ketidaktentraman? kekacau-balauan pikiran? Kecurigaan? Keganasan? Kegilaan? Pembalasan dendam tanpa ampun? Semua sudah kulakukan. Jadilah laki-laki maka kau harus membunuh. Jadilah laki-laki maka kau berhak merusak apa saja. Jadilah laki-laki maka dirimu akan kau rubah menjadi empat dinding penjara setebal satu kaki tanpa jendela. Jadilah laki-laki maka sebetulnya kau meriam siap ditembakkan! Dan malam itu sudah kunobatkan diriku sendiri jadi laki-laki. Laki-laki dengan naluri hewani yang dibiarkan lepas ikatannya. Dan kesetiaan, di mana dia harus ditempatkan? Adakah perkataan itu masih punya arti untuk semua orang? Su pernah menjanjikan padaku. Aku juga pernah sampai anakku yang ketiga dilahirkan. Anakku? Anak Su! Sekarang apa yang terjadi? Apa yang sudah dilakukan Su? Apa yang sudah dilakukan? Mana tuah dari keselarasan seperti yang selama ini selalu kau bicarakan? Miliki kesetiaan, lalu orang akan jadi seperti dikebiri, cuma sanggup melihat hal-hal yang baik saja. Satu saat jika kebetulan terlihat keburukan-keburukan yang sebetulnya sudah menjadi mimpi buruknya selama berjam-jam dia tidur, maka dia akan bilang dengan mata merah : ah, itu cuma bayang-bayang bukan kekuatan, padahal terbalik! Waktu kesabaranku habis, aku menyatakan pada Su supaya menghentikan segala kegiatannya. Maksudku baik, demi anak-anak dan masa depan keluarga. Nama baik, kataku padanya. Asuhlah anak-anakmu di rumah, kalau bosan sulamkan baju-baju hangat. Atau kalau mau bekerja juga. Bekerjalah, tapi yang pantas! Tapi kau tahu yang terjadi kemudian. Su lebih gila lagi, dia seperti kuda lepas kendali. Apa yang terjadi, kataku dalam hati. Kalau dulu aku masih tidak peduli, sekarang keadaannya berbeda. Umurku mulai menginjak masa tua. Aku butuh ketenangan. Aku butuh perempuan yang kucintai dan mencintaiku. Aku butuh perhatian dan diperhatikan. Dan semuanya sudah terjadi akibat dari kau, O, kelemahan, Besok aku akan dihukum mati. Pertama kali dalam penjara. Sudah kubunuh 6 orang dan melukai 3 orang. Betulkah itu? Sebegitu besarkah tenagaku waktu itu? O , aku tidak tahu. (MENUTUP MATANYA DUDUK KECAPAIANNYA) LAKI-LAKI : Heeeeee…………… kau masih ada. Temanku syukurlah. Jangan pergi, tetaplah disini bersamaku, tapi tunggu aku sering melihat kamu tapi lupa di mana? Siapa namamu? Namamu? Ya, namamu? Betul, aku sering melihat kamu. Barangkali di pasar atau di bioskop, atau di sebuah toko kelontong. Entahlah, tapi aku yakin kita sering ketemu, siapa namamu Tuan? Jangan balik bertanya. Aku Tanya siapa namamu? Apa yang sedang engkau kerjakan? Menirukan apa saja yang aku lakukan? Untuk apa? Apa itu perlu? Ah aku ingat sesuatu. Suatu malam seseorang berjubah berkerudung abu-abu berdiri di depanku dan berkata : kamu jadi makhluk kamu sekarang hidup. Kamu kujadikan dari berbagai zat. Tubuhmu terdiri dari unsur-unsur air, udara, tanah, cahaya, dan api. Aku bertanggung jawab penuh pada pertumbuhanmu. Aku yang menciptakan kehidupan yang terlepas dari susunan kehidupan kami, para penguasa langit. Susunan kehidupan yang otonom. Itu terjadi berabad-abad yang lalu. Waktu itu aku sendirian juga berabad-abad lamanya. Sampai aku betul-betul tidak tahan. Siapa yang tahan dijerat sepi? Sendirian tanpa kawan yang biasa diajak berunding sesuatu? Lalu aku meminta pada penciptaku, tuan berkerudung abu-abu yang tidak bisa kulihat wajahnya itu : beri kiranya aku seorang kawan yang akan mendampingiku dalam susah dan senang. Syukur, permintaanku rupanya masuk akal. Aku diberinya satu orang makhluk yang keadaanya berbeda denganku, secara keseluruhan dia lembut. Tapi kami cocok, kalau kami saling peluk untuk mengusir kedinginan malam berbagai getaran aneh menjalar di seluruh tubuh. Dia juga begitu, katanya. Seribu tahun kemudian, baru aku tahu bahwa dia bernama perempuan dan sanggup mengeluarkan makhluk kecil yang serupa dengan kami berdua. Pembiakan, kata orang-orang, anak-anak yang kecil, mungil, lucu-lucu, siapa tidak tertarik pada anak-anak, maka dia itu kanibal. Mulutnya masih merah, lembut dan manis. Mulut mereka baunya wangi seperti kain sutra, aku suka, waktu ibunya masih terbaring istirahat diranjang kuangkat bayinya dan kutimang-timang dalam pelukan. Buyung….buyung, bujukku. Karena dia menangis. Ibunya berteriak-teriak, aku tidak peduli, ah ibunya khawatir aku akan mematahkan tulang punggung bayinya yang masih lembek. Tidak peduli kataku. Hendak kuhibur diriku dengan menyanyikan sebuah lagu. Dan berbaur dengan jeritan-jeritan ibunya aku bernyanyi. (MENYANYI) Kuharap angin gunung Berhembus perlahan Mengusap lembut kulitmu Kudirikan benteng beton Kalau bunyi bersiutan Datang dari padang-padang LAKI-LAKI : Buyung……buyung……kenapa kamu begini lucu. Matamu besar bulat dan penuh harapan memandang padaku. Masa depanmu terang? Rambut jagung……halus. Nafasmu sejuk…….waaaaa…… Tidak apa-apa, jangan menangis dulu. Nanti kugantikan popokmu dengan yang bersih biar kau tetap merasa hangat dan tidak masuk angin. Seorang anak mengencingi bapaknya bukankah itu hal yang biasa? Hupa……kalau kau tidak kencing nanti orang mengira kau cuma boneka plastik. Sudah menghitung satu, orang biasanya hitung-menghitung dua juga, lalu tiga. Istriku membiakkan tiga anak! (PADA LAKI-LAKI DI DEPANNYA) Kamu lihat, semuanya sebetulnya bisa menjadi cerita yang manis, dan selamanya akan manis, bermula manis dan berakhir manis kalau saja tidak ada paksaan-paksaan, penyudutan-penyudutan, keinginan-keinginan mustahil, keserakahan-keserakahan, semua hal-hal buruk. Kalau aku ini seorang penari, aku suka menari, sebutkan macam-macam tarian yang mampu kutarikan, akan kutarikan dengan mulut tersenyum tanda suka hati. Mula-mula memang terjadinya seperti itu. Musik, lalu anggota tubuh kugerakkan menurut irama musik yang sudah ditentukan. Gerakan-gerakannya aku yakin pasti indah. Tapi celaka musik bagus berangsur lenyap berganti dengan bunyi-bunyian aneh nadanya tanpa aturan. Aku berhenti tapi tidak bisa. Aku berusaha menghentikan gerakan-gerakan tariku, tapi tidak bisa. Ada kekuatan aneh yang memaksaku untuk terus menari meski tidak kusukai. Dorongan aneh itu bikin aku terus mengerakkan tubuhku mengikuti musik kacau yang bunyinya makin bising. Aku berteriak, suara tidak keluar, aku berteriak dalam hati, tolong aku mau berhenti – stopkan ! Stopkan! Tolong !!!!!! aku harus terus dan terus hingga hal itu membuatku gila. Sudah pasti gerakan-gerakan tariku tanpa isi karena sama sekali tidak kugerakkan berdasarkan keinginan hati dan jiwa. Aku teriak-teriak, dalam hati. Berhenti, aku belum mau mampus. Aku kepayahan! Tolong! Tolong! Tolong Stopkan! Tapi siapa yang sanggup menolong? Kulihat orang-orang sekelilingku juga melakukan hal yang sama. Menarikan tarian-tarian yang belum tentu ingin mereka lakukan. Dunia penuh dengan manusia yang menarikan gerakan-gerakan yang aneh. Dan wajah mereka kelihatan menderita. Barangkali wajahku juga kelihatan seperti wajah orang-orang yang kulihat. Aku menari, menari seperti begini. Begini. Begini terus begini lalu begini kemudian begini dilanjutkan dengan begini. Dan itu kuulangi lagi, kuulangi lagi dengan variasi yang terlalu miskin. Kalau ada kehendak untuk berhenti makin cepat gerakan-gerakan terjadi, akibatnya tulang-tulangku berbunyi menderak-derak, seperti mau patah. Keringat mengucur deras. Dan itulah hidup, kata orang-orang. LAKI-LAKI : Oh, aku betul-betul kurang begitu paham. (MEMANDANG TAJAM PADA PENONTON LALU KALIMATNYA JADI TEGAS) Siapa diantara Tuan-tuan yang pernah menduga bahwa tuan akan dilahirkan pada suatu saat lalu tuan-tuan bersedia dalam keadaan seperti sekarang ini sedang tuan-tuan jalani? Siapa diantara tuan-tuan yang pernah tahu apa tuan-tuan akan dilahirkan sebagai bayi laki-laki atau bayi perempuan? Tidak satu orang pun dan kalau ada yang menyatakan bahwa hal itu sudah pernah diduganya jauh sebelumnya itu artinya dia menduga pada waktu dia masih TIDAK TAHU dimana dan entah jadi TIDAK TAHU maka dia itu dukun palsu. Tinggalkan saja atau kalau perlu rajam dia dengan batu-batu panas. PAUSE Baiklah, tapi hidup sudah berjalan. Hidup. Benar yang barusan kuucapkan? H-i-d-u-p. kita hidup, kamu hidup. Kamu, kamu, aku itu artinya aku bukan batu, bukan patung, bukan kayu, bukan lukisan. Ada darah yang mengalir disela-sela tubuhku disalurkan oleh otot-otot. Ada debaran jantung, ada gerak. Ada pertumbuhan! Kalau aku disakiti, aku akan merasa sakit. Kalau perutku tidak diisi makanan, aku akan lapar. Beberapa hari tidak tidur aku akan jadi mengantuk. Lihat, aku normal. Sama seperti makhluk-makhluk lain sejenisku. Makhluk yang diciptakan oleh tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya itu. Tusukkan sebilah pisau dilenganku, aku akan kesakitan lalu cabut kembali, darah akan mengalir dan warnanya tidak hijau atau ungu tapi merah. Sama seperti warna darah kebanyakan orang. Lalu mengapa aku harus dipaksa untuk tidak melakukan apa-apa? Karena aku harus berputar dengan wajar, mengikuti keselarasan alam karena hal itu sudah ditentukan sejak berabad-abad yang lain. (MARAH PADA LAKI-LAKI DIDEPANNYA) Jangan coba-coba masa bodoh. Kamu berusaha mencegahku. Kamu yang menyuruhku untuk tenteram ditempatku dan jangan kena pancingan setan-setan. Kamu ya, kamu! Tapi, aku tidak peduli. Nyatanya sudah kujalankan apa yang kupikirkan harus kujalankan dan aku puas. Aku puas. Kau dengar? Aku puas. (MENANGIS) Tak kuduga akibatnya begini. Semuanya meninggalkan aku satu-satu. Teman-temanku, lingkunganku mengucilkanku. Anak-anak kecil lari kalau kedekati. Jangan dekat-dekat dengan pembunuh nanti kau dibunuhnya pula, kata ibu-ibu mereka. Binatang-binatangku juga tidak mau kalau kujamah. Mereka menghindar kalau kudekati. LAKI-LAKI (TERTAWA LEMAH) yang tinggal Cuma kamu. Kamu sendiri. Heeeo…….dengar aku kan? Aku senang kau masih mengikutiku. Sungguh betul-betul aku hargai. Sekarang ceritakan kesulitan-kesulitan, ceritakan tentang negerimu misalnya. Tentang anjing. Suka anjing? Kau punya anjing? Atau ikan-ikan dalam akuarium? Atau ceritakan tentang kutu-kutu bervitamin. Burung-burung. (KESAL) atau tentang peternakan ayam? Atau buaya? (LAKI-LAKI DIDEPANNYA DIAM. MEREKA SALING MENATAP) dari sebelah mana harus kupaksa supaya kau membuka mulut? Naaaaaaaaaahhh…….tapi kenapa tanpa suara? Bisu? He……..berapa umurmu? 35? 35? Ya, kukira sekitar itu, 35 ya? LAKI-LAKI : Aku ingat sekarang siapa kamu. Sehari sebelum kejadian itu, sesudah pertengkaran dengan Su. Kubujuk Su, tinggalkan Su, hentikan semuanya. Su malah marah. Kita mesti hidup katanya. Apa tidak bisa hidup yang wajar, sederhana? kataku padanya. Su lebih marah lagi, matanya membelalak, kamu Cuma bisa melarang jangan begini jangan begitu tapi apa kamu pernah berpikir bagaimana caranya mengatasi kesulitan-kesulitan? Kujelaskan lagi! Aku ingin janji kita dulu, kalau kau melakukan dengan orang-orang yang berbeda tanpa rasa apa-apa masih bisa kupikir-pikir. Tapi Su demi Tuhan jangan biasakan Cuma dengan satu orang. Su makin marah. Dia membayar dengan baik, katanya lalu pergi dengan membanting pintu. Tidak, kataku dalam hati. Mulutnya memang mengatakan itu, tapi kilatan matanya menceritakan pernyataan lain. Rasa panas dan dingin tiba-tiba menyatu dalam tubuhku. Aku juga berdiri seperti sekarang ini, menghadap ke satu arah dan melihat ….. kamu. Lalu pada malam harinya, malam kejadian yang luar biasa sepanjang sejarah hidupku……. Aku juga diam-diam seperti begini, memandang ke satu arah ke satu titik. Dibatasi oleh garis samar kita saling tatap. Niat yang sudah lama terpendam berkobar lagi tanpa mau mencegah. Lagi-lagi mencegah. Kau beritahu lagi tentang keselarasan susunan alam kita yang sudah diatur oleh Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya itu. Tapi kamu tidak pernah mempelajari aliran air. Makin dibendung makin berusaha untuk menjebol. Aku menolak! Menentangmu! Melakukan terbalik dengan apa kau ingin kulakukan! Kucari sebilah pisau, dengan gampang kudapat. Ada di peti terselip antara barang-barang antik dari kuningan dan perunggu serta benda-benda tajam lainnya. Kupilih pisau pendek bikinan arab yang bengkok, kuasah hingga tajam. Lalu melangkah menuju gelap tanpa menghiraukan cegahanmu. Langkahmu yang berat terseok mengikuti langkahku, memegangi kakiku. Tapi aku tidak peduli. Jauh dibelakang sana kudengar juga teriakan seseorang mencegah, entah siapa, kutulikan telingaku, kubutakan mata. Aku tidak menengok, kedepan! Ke depan saja melangkahkan kaki. Hancurkan siapa saja. LAKI-LAKI : Yang berusaha menghalangi. Niatku sudah Kendal dan galaknya makin menderu-deru seperti mesin perahu tempel yang siap mendorong ke tujuan mana saja aku ingin. Rasa sakit akibat sayatan silet dikulit dari orang yang kita cintai, satu atau dua mampu kita tahankan. Tiga atau empat mungkin juga masih. Lima atau enam bisa dipikir-pikir untuk dilupa dan dimaafkan atau tidak. Tapi kalau sudah terlampau banyak tidak lagi bisa dihitung? Apa aku bukan manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging dan punya rasa sakit karena kekecewaan? Kukutuk diriku sendiri. Kusebut nama Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya maksudku mau minta tolong. Cegah keinginan edan yang sudah menggalak siap kumuntahkan. Tidak ada jawaban Tuan itu, muncul juga tidak. Dan itu malah mengacaukan, tidak membantu menyelesaikan soal! Dalam gelap aku diam. Diamku tak ubahnya seperti diamnya permukaan air dengan arus keras di bawahnya siap menenggelamkan siapa saja. Aku menunggu. Dalam gelap rasa-rasanya aku jadi mampu meneliti dengan lebih jelas. Dan dua makhluk lain jenis itu….iblis mereka. Apa yang telah mereka lakukan lakukan di depan mataku? Tidak tanggung-tanggung mereka lakukan untuk bisa saling memuaskan. (RUSUH) kukawini seorang pelacur. Kutunggui waktu dia melacurkan diri. Selalu kutentramkan hatiku karena yakin, yang dia jual cuma tubuhnya tapi cintanya tetap untukku. Cuma untukku. Tapi yang sekarang terjadi lain. Selama bertahun-tahun aku mampu menelan kejadian-kejadian dengan sabar seperti kesabaran seorang martir. Tapi yang sekarang terjadi lain, apa aku mungkin terus diam. Lalu kau tahu apa yang terjadi kemudian . aku ingat kau ada di dekatku waktu itu. Tubuh enteng terasa melayang. Dua orang di depanku jadi sekecil semut. Tak lagi aku takut pada siapa pun. Su dan laki-laki itu! Berapa orang malam itu jadi korban robekan belatiku di perut mereka? 4? 5? 6? 20? 23? Ketika tugas kuselesaikan tanpa menyesal aku menuju rumah, menemui ketiga anak-anakku. Anak-anak Su. Padahal mereka tidak punya doa apa-apa. Tapi bisakah pikiran yang gelap mempertimbangkan hal itu? Dengan bedil dua loop yang pelurunya mampu menghancurkan kepala seekor badak aku menghabisi semuanya. Entah berapa banyak yang sudah menanam benih di tanah subur milik Su. Benih itu jadi tiga bakal pohon. Malam itu kubongkar semuanya hingga akar-akarnya. Musnah cuma dalam tiga kali semburan api. Si perusak yang datang tiba-tiba dan menghilang secepatnya! Aku benci Su! Aku benci laki-laki itu. Aku benci anak-anak Su. Aku benci semuanya. Aku benci diriku sendiri. Rupaku pasti buruk sekali di cermin. Dari kejauhan dengan puas kupandangi rumahku yang mulai runtuh dijilat-jilat lidah api. (DUDUK KECAPAIAN) LAKI-LAKI : Besok aku akan mati. Jangan runtuh pahlawan. Ya, besok aku akan berjalan dengan tegak dan menolak untuk ditutup dengan kain hitam. Akan kutentang mata para penembak itu satu-satu dan sekali lagi menikmati sengatan cahaya matahari sebelum aku mati. Aku akan teriak pada para penembak itu, menganjurkan supaya mereka jangan gentar. Ayo bung cepat lakukan tugasmu. Yang akan kalian tembak adalah seorang pemberani, seorang laki-laki dan pahlawan bagi dirinya sendiri. Dan tembakan berbunyi serentak, sepuluh timah menyengat tubuhku aku akan rubuh sambil tersenyum, ah akhirnya ku masuki juga ruangan besar dengan pintu terbuka lebar-lebar. Aku akan segera tahu apa saja isinya. (PAUSE..BICARA PADA LAKI-LAKI DI DEPANNYA) aku lelah sekarang giliranmu bercerita. (MENUNGGU) kenapa diam saja? Kenapa curang? Tidak menepati janji? Sudah kubukakan semua, kau harus ganti membukakan rahasia-rahasia kita, cuma kita berdua yang tahu. Rahasia-rahasiamu kubawa mati dan rahasia-rahasiaku tentunya juga kau bawa mati. Kenapa tetap diam? Kenapa tidak mau bicara? Kenapa menatapku seperti itu? (MARAH) kenapa? Kamu curang! Sama seperti Su. Kamu jahanam, sama seperti Su, yang tidak pernah mau melihat orang dan cuma mau melihat dirinya sendiri saja. Kamu serakah, sama seperti Su, yang ingin tahu isi perut orang lain tapi tidak mau memperlihatkan perut sendiri. Aku tidak butuh kawan seperti itu. Biar kamu pergi meninggalkan aku seperti yang lain-lain. Kamu bangsat, sama seperti Su yang tidak pernah mau memikirkan perasaan orang lain, tidak mau bermanis-manis baik di muka maupun di belakangku. Tatapan menghina. Kamu anjing seperti Su yang makan makanan apa saja yang dijumpainya di jalan-jalan atau di tong-tong sampah. Kamu binatang, sama seperti Su yang mengumbar keinginan apapun tanpa peduli batas-batas. Kamu pelacur, sama seperti Su yang selalu menerima tapi tidak mau memberi. Kamu……kamu….. aku benci kamu. Benci dari ujung rambut sampai ujung kaki. (BERTERIAK DAN HISTERIS) pisauku…….pisauku………mana belati itu. Ini? Belati akan mengakhiri perasaanmu juga (MENGGERAM) belati…….belati……..belati……belati……..belati…. (MENUSUK MEMBABI BUTA. KEDENGARAN SUARA KACA PECAH BERKALI-KALI. LAKI-LAKI MAKIN HISTERIS) jangan coba halangi aku Tuan berkerudung abu-abu yang tidak pernah bisa kulihat wajahnya………….jangan coba halang-halangi aku! Belati………belati………belati…… (MULA-MULA LAMPU DI AREA LAKI-LAKI DI DEPAN LAKI-LAKI ITU MATI SEKETIKA. LALU SEMUA LAMPU MATI DAN PANGGUNG JADI GELAP KEMBALI SEPERTI SEMULA. LAKI-LAKI MASIH HISTERIS. LALU DIAM. SADAR BAHWA SEKELILING SUDAH GELAP. DAN IA BERTERIAK BUKAN LANTARAN KEJARAN TAPI LANTARAN KETAKUTAN BERADA DALAM GELAP SENDIRIAN) Jangan pergi……..jangan! jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendirian! Jangan! Jangan aku masih butuh…….masih butuh seseorang disekitarku. Aku butuh….jangan! cahaya! Cahaya! Cahaya! Lampu…cahaya…….aku butuh cahaya…….aku butuh cahaya. Cuma cahaya yang kubutuhkan satu-satunya sekarang. Aku butuh cahaya! Cahaya! Cahaya……cahaya…cahaya……..cahaya. SUARANYA MAKIN LEMAH DAN MAKIN LEMAH HINGGA HILANG. TAPI PANGGUNG TETAP GELAP. TAK SEBERKAS CAHAYAPUN YANG MAMPIR. S E L E S A I JAKARTA, 8 MEI 1977 N RIANTIARNO http://leebirkin.blogspot.com/Lakon ALJABAR Naskah Karya Zak Sorga SEBUAH TEMPAT. LUKISAN-LUKISAN DAN KANVAS-KANVAS BERGANTUNGAN DAN BERSERAKAN DIMANA-MANA. DUA ORANG MANUSIA SEDANG MENGHADAP KANVAS MASING-MASING, MEREKA SAMA-SAMA MELUKIS. ORANG II MELUKIS DENGAN AMAT BERAT, TUBUHNYA, TANGANNYA, JARI-JEMARINYA TAK BERGERAK SEDIKITPUN, SEOLAH DIA MEMANGGUL DUNIA, TAK BERGESER. ORANG I MELUKIS DENGAN KEGELISAHAN YANG AMAT SANGAT KEMUDIAN LUKISAN ITU IA ROBEK-ROBEK. KEMUDIAN IA MELUKIS LAGI, DIROBEK-ROBEK LAGI, MELUKIS LAGI, DIROBEK LAGI, DIINJAK-INJAK, DIBANTING, DIUMPAT, DILUDAHI, TERUS DAN TERUSMELUKIS, MEROBEK, MEMBANTING, MENGINJAK, MENGUMPAT, MELUDAHI, SAMPAI PUNCAK, SAMPAI PUNCAK, DAN KEMUDIAN ORANG I Sekarang semuanya sudah klimaks. ORANG II Kita belum lagi mulai. ORANG I Sekarang semuanya sudah lampau. ORANG II Kita belum lagi mulai. ORANG I Sekarang semuanya sudah malam. ORANG II Kita belum lagi menemukan pagi. ORANG I Pagi tak akan pernah datang. ORANG II Matahari harus terbit. ORANG I Oh... aku hanya ingin tahu apa kegelisahan hanya milik kita berdua. ORANG II Sudah pasti tidak ada dunia lain kecuali dalam batin kita. ORANG I Melingkar-lingkar tanpa arah dan batas, sampai kapan? ORANG II Sepertinya tidak ada lagi yang bernafas di sini. ORANG I Seharusnya kita sudah berhenti dari dulu. ORANG II Kita tidak mungkin bisa berhenti. ORANG I Aku sudah macet. ORANG II Aku ingin sekali. ORANG I Tidak ada, harus ada. ORANG II Apa ini yang membuat sakit tengkorak kepalaku, dia bersarang di otak belakang. Membuat segalanya jadi lamban. ORANG I Ada dunia, ada tangan berkuku, tangan itu mencengkeram dunia sampai berdarah-darah. Diguncang-guncang, kita berdua terpelanting sampai di sini. ORANG II Kita masih di dunia. ORANG I Kita sudah ketinggalan, hari-hari telah melesat dan simpang-siur entah kemana. ORANG II Mana kamisku, mana jumatku, mana malam mingguku, mana pelacurku, mana agamaku, mana kelaminku? Semua berhamburan dalam omong kosong tentang hidup dan mati. ORANG I Mengais-ngais, mengunyah-ngunyah, melorong-lorong, membelit-belit, mana fikiranku? Campur aduk di sini, membatu. ORANG II Ayo kita melukis lagi. Kita lukis kegelisahan kita. Kita lukis risau kita. Kita lukis galau kita. Kita lukis kacau. Kecambah dimana-mana, jamur dimana-mana. Ayo kita lukis kehidupan, kita lukis kematian. Itu tugas kita sebagai manusia. ORANG I Mana mungkin? ORANG II Tahun ini harus jadi milik kita, mari kita rebut. ORANG I Kita tidak pernah punya tahun. ORANG II Makanya harus kita rebut. ORANG I Tidak! Selamat malam untukmu. ORANG II Semua ini harus menjadi pemikiran kita. ORANG I Justru itu. Dengan mengucapkan selamat malam berarti aku telah berpikir. ORANG II Telah? ORANG I Terus berpikir. Aku berpikir bagaimana caranya melupakan semuanya dan diam. ORANG II Kau tak mungkin bisa lupa. ORANG I Kenapa tidak? Aku toh bukan Tuhan. ORANG II Bagaimanapun juga kau tidak akan pernah bisa melupakan tugasmu. ORANG I Tugas? Apa maksudmu? ORANG II Tugas pelukis adalah melukis. ORANG I Aku bukan pelukis, aku terpaksa. ORANG II Tapi itukan yang membuatmu hidup. ORANG I Ya, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak ada pilihan lain. Begitu aku lahir aku sudah dihadapkan kanvas-kanvas dan cat. ORANG II Mampuslah kita. ORANG I Membujurlah kita. Bosan! Jenuh! Beku! Mandul! Impoten! Lumpuh! Tidur yuk! ORANG II Ayo! (mereka berangkat mau tidur) Bagaimana kalau sebagai penghantar tidur, kita melukis lagi. ORANG I Aku lebih suka kalau kau mendongeng saja. ORANG II Iya, kita akan mendongeng lewat lukisan kita. ORANG I Ayo kalau begitu. Kita ciptakan dunia. Mereka serentak melukis. Orang I melukis sambil berteriak terus tak berhenti, tak berhenti. Orang II melukis dengan kegelisahan tanpa suara. ORANG I (sambil melukis) Asap panas terkatung-katung di angkasa raya, bumi belum berbentuk dan gelap gulita menutup samudera raya. Lalu terang itu jadi, lalu siang itu terjadi, lalu malam itu jadi lalu pagi itu jadi lalu sore itu jadi, lalu embun lalu hari pertama lewat, lalu angin, lalu suara, lalu planet-planet, lalu batu-batu, lalu pasir, lalu kerikil, lalu duri, lalu karang, lalu hari yang kesekian kalinya itu lewat, lalu pedih, lalu perih, lalu resah, lalu kalah, lalu musnah, lalu punah, lalu bah. Bah! Ilalang, rumput-rumput, lalu burung-burung, lalu kupu-kupu, lalu kupu-kupu malam, germo, hidung, uap, senyap, penyakit, lalu kembali lagi pada mati, hari-hari mati, lalu terus, terus, kering, hijau, kuning, kering, ranggas, bakar, lalu panas, lalu dingin, lalu tumbuhan, lalu air, lalu uap, lalu awan, lalu kabut, lalu sepi, sungai, anak sungai, gunung, belut, laut, ikan, pohon, rumput, cacing, buaya, manusia, kepala, putus, darah, anjing. Kepala manusia, anjing kelaparan, kengerian, pengkhianatan, lalu pembunuhan pertama itu terjadi, tangis pertema itu berkumandang, benci pertama itu berkembang, kerisauan pertama itu berbiak, cemburu-cemburu, bunuh-bunuh, makan-makan-makan, lalu dunia beterbangan, lalu sepi itu menggelayuti, rindu, perih, batu, hujan, awan, tumbuh, lenguh, rengek, ringkik, lecut, kuda, anjing, belut, harimau, kucing, cacing, tengkorak, nyamuk, darah, nanah, busuk, dendam, sepi yang menahun, rindu batu, sungai lapar, laut lapar, mega lapar, udara lapar, batu lapar, siang lapar, sore lapar, malam lapar, pagi lapar, dunia lapar, semut lapar, harimau lapar, buaya lapar, matahari lapar, bulan lapar, bintang lapar, pulau-pulau lapar, danau-danau lapar, bulan lapar, terbit-tenggelam, matahari di sini, bulan di sini, bintang di sini. Jangan beranjak, jadi sudah. SAMA-SAMA MENARUH KANVAS ORANG II Hampir (sama-sama mengamati lukisan) apa yang kau kerjakan? ORANG I Penciptaan dunia, kau? ORANG II Menggambar peta perjalanan. Sekarang aku sampai pada batas dunia, di mana matahari tenggelam dalam laut-laut yang berlumpur hitam. (TUKAR-MERUKAR LUKISAN) ORANG I Kau gambar diriku di sini? ORANG II Lihat saja, apa kau ada di situ. ORANG I Di sini semua gambar asap. ORANG II Di sini semua gambar anjing. ORANG I Gambar darah berceceran. ORANG II Apa kau tidak mendengar jeritan di situ? ORANG I Lolongan yang sangat panjang. Anjing kelaparan. Anjing itu menjilat-jilat kepala manusia, kepala itu dimakannya, diremukkan, dikunyah-kunyah. Oh? Mata itu meloncat keluar. Mata itu terbang berputar-putar menatap dunia, melayang-layang, mata itu berkedip-kedip minta tolong. ORANG II Seharusnya di sini ada perahu, inikan air? Bahkan laut, bahkan membuak, perahu Nuh pasti tenggelam di sini, juga kanaan, juga dzulkarnain yang diberkati itu, juga Picasso, Van Gogh, Descartes, Budha, Plato, Aristoteles, Caligula, Firaun, Muhammad, Isa .....semua terkubur di sini. Kenapa mata itu tidak kau hancurkan saja. ORANG I Itu adalah keinginannya sendiri. ORANG II Keinginan siapa? ORANG I Keinginan mata itu. ORANG II Dia masih bisa meneteskan air mata, dia menangis. ORANG I Kenapa hanya mata itu yang jadi perhatianmu? Di situ masih ada matahari, bulan, laut, bintang, air, angin, ... ORANG II Mata itu adalah mataku. ORANG I Itu adalah mata semua manusia. ORANG II Kepalaku dimakan anjing. ORANG I Kepala semua manusia. ORANG II Kamu jabarkan duniaku, aku jabarkan duniamu. ORANG I Aku jabarkan kemanusiaanmu, kamu jabarkan kemanusiaanku. ORANG II Kamu jabarkan mataku, aku jabarkan matamu. ORANG I Kamu jabarkan matahariku, bulanku, bintangku, palangiku, aku jabarkan lukamu (MEREKA MEMELUK LUKISAN YANG MASIH BASAH) ORANG II Dari mana datangnya bayangan menakutkan seperti ini. ORANG I Dari sejarah yang hilang. ORANG II Aku semakin takut. ORANG I Kita sudah tercerabut dari dunia ini. ORANG II Kita sudah tidak di sini. ORANG I Kita sudah di sana. ORANG II Kita sudah tidak dimana-mana. ORANG I Ada garis yang putus di sini. Mereka merobek-robek lukisannya. ORANG I Kita buta. ORANG II Kita tuli. ORANG I Kita gagu. ORANG II Kita batu. ORANG I Kita bisu. ORANG II Kita kaku. ORANG I Kita lumpuh. ORANG II Kita mayat. ORANG I Kita mumi. ORANG II Habis! ORANG I Tak berjejak. (DIAM SEJENAK, LOYO) ORANG II Kita tidak pernah bisa mengungkapkan isi hati kita. ORANG I Betapa sulitnya merumuskan pikiran. ORANG II Ayo, kita coba lagi. ORANG I Tidak ada gunanya. ORANG II Sebelum semuanya terkubur kita harus cepat bergerak. ORANG I Kita sudah terkubur sejak kelahiran kita. ORANG II Kita harus terus melukis. ORANG I Kita harus berhenti. ORANG II Kita akan pamerkan kulisan-lukisan kita ke kota-kota seperti dulu, kita akan melancong lagi. Kita akan kunjungi pulau-pulau, negara-negara, kita akan keliling dunia. Kita akan puas, kita akan tercatat. ORANG I Aku sekarang mulai berada antara tahu dan tidak tahu, aku telah dikhianati oleh diriku sendiri. Aku sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, aku telah mandul, aku tidak punya kekuatan. ORANG II Kau harus mencoba terus, kau masih muda. ORANG I Aku sudah tidak mampu lagi. ORANG II Kau mampu, kau lihat karya-karya ini, semua menakjubkan. ORANG I Bohong. Ke mana larinya coretan-coretanku yang dulu, ke mana larinya tokoh-tokohku. Kita bukan pelukis, mari kita robek lukisan-lukisan kita. (mengambil lukisan dan merobek-robek) ORANG II Jangan. Kita akan pamerkan lukisan kita ke seluruh dunia. (ORANG I TERUS MEROBEK LUKISAN) ORANG I Dunia tidak pernah melihat kita, ayo kita ciptakan dunia kita sendiri. Kita harus ciptakan dunia kita sendiri. ORANG II Kita harus terus melukis sebanyak-banyaknya. ORANG I Kita harus diam. Kita sudah tidak punya objek lagi. ORANG II Masih banyak yang belum kita baca. ORANG I Kita tidak punya objek lagi. ORANG II Masih banyak yang belum kita lihat. ORANG I Mana objekku. ORANG II Masih banyak yang belum kita kunyah. ORANG I Mana objekku. ORANG II Kita harus terus berjuang. ORANG I Kau tidak pernah bisa memahami keinginanku. ORANG II Kau yang tidak bisa. ORANG I Semuanya sudah punah. Tidak ada lagi yang harus diperjuangkan. ORANG II Jiwa kitalah yang harus kita perjuangkan. Kita tidak akan pernah bisa bangkit kalau terus saja berpusar pada fikiran-fikiran kita sendiri. ORANG I Maumu? ORANG II Coba lihatlah di pasar-pasar, begitu banyak kehidupan. Kita lahir dan kita bisa jadi apa saja di situ. Kita bisa memilih peran kita sendiri. Kenapa tidak kita coba. Kita bisa jadi pencopet, juragan, penipu, pejabat, germo, terserah apa yang kita maui. ORANG I Aku tidak memilih apa-apa. Aku akan ciptakan duniaku sendiri. ORANG II Dunia apalagi? Cepatlah bergerak sebelum kita tergilas oleh jaman. ORANG I Aku tidak peduli. ORANG II Kau tentu akan terus melukis, itukan dunia yang kau maksud. Ayo, pergilah ke pasar-pasar dan lukislah wajah orang-orang itu. Itu akan lebih berguna buat diri kita. ORANG I Aku tidak punya tempat. ORANG II Kau jangan menyiksa diri, dengan penjara-penjara pikiran itu akan lebih cepat membawamu ke arah maut. Marilah kita hidup sebagai orang kebanyakan, sebelum aku mati tentukan sikapmu, melukislah, melukislah. ORANG I Kota-kota, hutan-hutan, angin-angin, gunung-gunung, air-air, laut-laut, pasir-pasir, matahari-matahari, bulan-bulan, bintang-bintang, manusia-manusia, semuanya sudah tidak ada lagi. Kita sudah ketinggalan jauh, semuanya sudah berhenti. ORANG II Dunia masih berputar. ORANG I Kehidupan telah mati. ORANG II Matahari masih terbit. ORANG I Matahari telah terbakar oleh panasnya sendiri, dia jadi arang, dia jadi abu, dia berhamburan, dia menghilang, dia musnah! ORANG II Lantas apa maumu? ORANG I (diam) ORANG II Lantas apa maumu? ORANG I Ngeseks. Berilah aku seks. ORANG II Aku tidak mau. ORANG I Lakukan kalau kau ingin semua ini berlanjut. ORANG II Aku tidak bisa. ORANG I Kau harus bisa karena di sini tidak ada makhluk lain. ORANG II Aku tidak mampu. Aku sudah tua. ORANG I Cobalah. (mencoba, gagal, mencoba lagi) Teruslah berusaha, kalau tidak kau akan aku tinggalkan. ORANG II Aku tidak bisa. ORANG I Tak ada gunanya. DIAM SEMUA, ORANG II MENANGIS ORANG II Kau keterlaluan, kau telah mengungkit masa laluku. Ayo berdirilah di situ. ORANG I Untuk apa? ORANG II Berdirilah di sudut situ. ORANG I Untuk apa? ORANG II (mengancam) Lakukan saja, kau jadi modelku. ORANG I (menurut) ORANG II Sekarang lepaskan bajumu. ORANG I Tidak mau. ORANG II Ayo lepaskan bajumu. Juga celanamu. ORANG I (menuruti) ORANG II Dengan cara ini dulu aku pernah bisa. ORANG I Apa maksudmu? ORANG II Aku akan peragakan awal terjadinya manusia. Telanjanglah, telanjanglah (dia menyergap orang I, seolah memperkosanya. Mencoba, terus mencoba, orang I hanya diam, sampai akhirnya) Aku tidak bisa! Dengan cara inilah pelacur itu kulukis, aku diperkosa oleh pancaran seksualnya. Ya, seperti itulah dia duduk, aku menggelepar dan tak tahu apa yang terjadi. Paginya kulihat kamarku telah kosong, lukisan-lukisanku hilang bersama pelacur itu. ORANG I Sesalilah keberadaanmu, akan kulukis tentang penyaliban manusia. ORANG II Dengarlah ceritaku. ORANG I Tak ada gunanya. ORANG II Kau adalah rentetan dari kejadian itu. ORANG I Maksudmu? ORANG II Enam tahun kemudian, setelah aku lupa, pelacur itu kembali dengan bayi di pangkuannya, dia bilang bayi itu adalah anakku, aku marah, tapi kemarahan itu tiba-tiba hilang karena gairah seksku naik dan pelacur itu kuperkosa sampai mati. Sampai mati. ORANG I Aku tidak peduli siapa bayi itu. ORANG II Bayi itu adalah kamu. ORANG I Aku tidak peduli dari siapa aku dilahirkan, karena semua kejadian toh akan membawa akhir yang sama. ORANG II Maafkan, maafkan aku. ORANG I Diamlah. ORANG II Semua orang sibuk mempersiapkan nasibnya, sementara kau? Dari kecil kau hanya kubawa mondar-mandir dari pasar ke pasar untuk menjajakan lukisan. ORANG I Kita ini pasien-pasien tanpa dokter. Ajarilah aku bagaimana caranya bunuh diri, itu akan lebih baik. ORANG II Kau harus membunuhku. ORANG I Kaulah yang wajib membunuhku. ORANG II Tolong bunuhlah aku. ORANG I Tolong bunuhlah aku. ORANG II Aku tidak punya keberanian. ORANG I Aku juga tidak punya keberanian. ORANG II Pada akhirnya kita akan terus terkatung-katung. (DIAM SEMUANYA. UNTUK BEBERAPA LAMANYA TIDAK ADA KEJADIAN APA-APA) ORANG I Mari kita robek-robek dunia. ORANG II Aku mendengar tulang-tulangku berderit-derit seperti daun pintu. Inikah awal dari yang paling awal itu? ORANG I Kita mati dan berubah jadi kepompong. ORANG II Marilah kita lukis wajah-wajah dunia. Semua harus diabadikan, semua harus dicatat. ORANG I Kita tidak akan pernah samapai. Kehidupan tidak akan cukup dengan waktu hanya seribu tahun bahkan satu juta tahun pun tidak. Manusia, yang katanya dilahirkan untuk membaca, bagaimana mungkin membaca kehidupan hanya dengan waktu enam puluh tahun. ORANG II Jangan kau kembalikan lagi aku pada momok itu. ORANG I Kita akan segera terlewat. ORANG II Ooo..., monolog risaumu. Berilah aku tidur. ORANG I Semua makhluk telah menentukan sikapnya masing-masing. ORANG II Tinggal kita yang ada di sini. ORANG I Menghitung rumus-rumus. ORANG II Mengalikan rumus-rumus. ORANG I Membongkar langit-langit, menikam langit. Meledaklah. Meraung! ORANG II Berhamburan dunia di sana, di sini, di situ, di jalan raya-jalan raya, supermarket-supermarket, terminal-terminal, night club-night club, pasar malam-pasar malam, sirkus. Semua ini tidak mempunyai hubungan dengan fungsi-fungsinya. ORANG I Kita tidak pernah terlibat sedikitpun, juga dengan hidup kita. ORANG II Kita hanya menonton. ORANG I Kita hanya dipermainkan ORANG II Kita tak pernah jadi subjek. ORANG I Seharusnya kita sama-sama punya hak. ORANG II Selamatkan aku dari sini. ORANG I Lepaskan dulu aku dari kemutlakan ini. ORANG II Lepaskan aku dari kaidah-kaidah ini. ORANG I Menginjak-injakku, mencekikku. ORANG II Aku tidak sanggup. ORANG I Ayo kita isi dunia dengan kata-kata, keluarkan ususmu, keluarkan tulang-tulangmu, keluarkan dagingmu, kuliti-kuliti, jantungmu keluarkan, keluarkan dan ikat dengan petasan, kemudian ledakkan seperti tatkala kita bermain dimasa kanak-kanak yang hilang. ORANG II (ketakutan) Diamlah! Kau lihat kanvas-kanvas itu bergerak, mereka minta nyawa, mereka minta hidup, mereka minta nafas, kita dikurung oleh kanvas-kanvas, kita terjebak disini. Tolonglah aku, aku lapar, aku haus, aku muak ... (tak ada jawaban) kenapa kau biarkan aku tenggelam dalam diamku yang gaduh ini. ORANG I Monster-monster itu dari mana datangnya, kita akan dilumat oleh zaman. ORANG II Kanvas-kanvas itu jadi monster, mereka memanggil kita. Kita harus lari, mereka minta dilukis, ayo kita lari .... ORANG I Kesimpangsiuran ini. Rancu. Segalanya rancu! Aku tidak bisa menjelaskan kata-kataku, pikiranku melintas-lintas, kita ini akan dibawa ke arah mana? ORANG II Kita tidak boleh salah pilih. ORANG I Mana kakiku, mana tanganku, mana kupingku, mana mataku, mana jantungku, mana kananku, mana kiriku, mana atasku, mana bawahku, mana-mana .... ORANG II Mana dunia, mana warna, cat-catku, catku mana? Mana merah, mana kuningku, mana hijauku, mana hitamku, mana putihku, mana dunia? ORANG I Mana akherat? ORANG II Kita harus hadir. ORANG I Tenggelam. ORANG II Agama? Agamamu apa? ORANG I Islam agamaku, Yesus nabiku. Mau apa kau? ORANG II Tuhanmu? Siapa Tuhanmu? ORANG I Allah Tuhanku. Maria tetanggaku. Mau apa kau? ORANG II Semua kemarilah akan kutuding-tuding matamu. ORANG I Jangan salahkan aku, jangan kau maki aku. ORANG II Kita akan dihukum. ORANG I Aku tidak mau. ORANG II Kita akan dirajam. ORANG I Aku tidak mau. ORANG II Kau mabuk ke-aku-an. ORANG I Kau mabuk diri sendiri. ORANG II Kau mabuk pertanyaan. ORANG I Kau mabuk jawaban. ORANG II Kau mabuk risau. ORANG I Kau mabuk bimbang. ORANG II Kau mabuk Karlmark. ORANG I Kau mabuk Israel. ORANG II Kau mabuk agama, kau mabuk Tuhan. ORANG I Kau mabuk kentut. ORANG II Akankah kita terus bertanya-tanya seperti ini. Bertahun-tahun kita hanya melewatkan waktu dengan mondar-mandir. ORANG I Buntu! Macet total! Aku pergi ke utara yang kutemui hanya benda-benda mati, aku pergi ke timur yang kutemui hanya udara, aku pergi ke selatan yang kutemui hanya angin, aku pergi ke barat yang kutemui hanya diri sendiri, dimana-mana hanya diriku sendiri. Dimana arah mata angin? ORANG II Tidak ada lagi kiblat. ORANG I Ayolah kita keluar dari sini. ORANG II (hanya diam) ORANG I Di sini pengap. ORANG II (diam) ORANG I Kenapa kau jadi dingin kepadaku? Dingin bagai batu-batu kubur. ORANG II Spermatozoa, indung telur, ovum .... ORANG I Apa yang ada dalam otakmu? ORANG II Ke sanalah larinya. ORANG I Ke mana? ORANG II Ke dalam kata-katamu. ORANG I Malam semakin larut. ORANG II Suara laut tak kedengaran dari sini. ORANG I Iya jauh. DIAM. HANYA DENGKUR NAFASNYA YANG MENGISI WAKTU. BEBERAPA SAAT LAMANYA ORANG II Mari kita mencari hiburan, kita pergi ke taman-taman. ORANG I Tidak mau. ORANG II Mari kita ke museum. ORANG I Tidak, sudah tutup. ORANG II Kita pergi ke perpustakaan. ORANG I Tidak. ORANG II Kita pergi berenang. ORANG I Tidak. ORANG II Lantas kita? ORANG I Di sini saja. ORANG II Biasanya kau suka melihat perahu, ayo kita pergi ke laut. Seperti saat kau masih kecil, kita akan menggambar pemandangan di pasir. Kita akan mencari kerang, kemudian memancing sambil naik perahu. (diam saja) Ayo kita ke sana, kita akan melihat pelangi yang melengkung bagai naga meminum air laut. ORANG I Aku pernah mendengar, suatu saat nanti bulan akan bertabrakan dengan bumi lantas matahari membakarnya sampai hangus. ORANG II Lupakan saja itu ayo kita pergi ke laut. ORANG I Aku ingin tahu akhir dari semua ini. (mereka melukis) Sementara kita minum, sementara maut mengintai di tenggorokan kita. Sementara kita bernafas, sementara jerat melingkar di leher kita. Sementara kita bicara, sementara bisu membeku di mulut kita. (semakin cepat dia melukis) Sementara kita memandang sementara buta di kelopak kita, sementara kita tidur sementara maut mengintai di tikar kita, sementara kita sedang, sementara debu, sementara batu, sementara kabut, sementara lahar, sementara belerang. Kalau mau mampus, mampuslah! Kalau mau bangkit, bangkitlah! Kalau mau meledak, meledaklah! Kalau mau terbakar, terbakarlah! Kalau mau hangus, hanguslah! Hancur, hancurlah! Berkeping, kepinglah! Porak, porandalah! Berdarah, darahlah! Bernanah, nanahlah! Membusuk, membusuklah! Satu tambah satu sama dengan empat kalau aku mau. Satu tambah empat sama dengan nol kalau aku mau. Seribu dikurangi sama dengan dua belas kalau aku mau. Itu semua sah! Itu semua benar! Mau apa kau? Anjing, anjinglah! Babi, babilah! Geledeklah, halilintarlah! Kita lukis wajah kita. Hiruk-pikukku, simpang-siur, berantakan, porak-poranda, kita lukis kehancuran kita. Galau kita, rindu kita, pedih kita, sepi-mati kita. Kaku batu, kucing anjing, cacing kelingking, nungging. Tua, mata, mandek, mandul, mampet, dungu, tersesat, hutan belantara di mana-mana, belantara angan, belantara tahta, belantara tanda tanya. Akan kuberi hidup dia! Akan kuberi kata-kata dia! Akan kuberi nyawa dia! Jadilah! Maka jadilah! ORANG II Apa yang kau lukis? ORANG I Potret diri. Kau? ORANG II Sama. ORANG I Coba lihat. MEREKA TUKAR-MENUKAR LUKISAN. SAMA-SAMA KAGET, KERENA YANG MEREKA HASILKAN HANYALAH KANVAS-KANVAS KOSONG ORANG II Ayo kita mulai lagi MEREKAPUN MELUKIS LAGI ORANG I (kelihatan sangat muak pada dirinya sendiri) Aku tidak ada kemampuan. ORANG II Apa kita perlu ke laut? ORANG I Mari kita coba lagi. (MEREKA MELUKIS, KEMUDIAN MEREKA ROBEK-ROBEK, MEREKA MELUKIS LAGI, MEREKA ROBEK-ROBEK LAGI, MEREKA MELUKIS LAGI) ORANG II (Setelah mati-matian berusaha. Bersama orang I) Jadi sudah! ORANG I Apa? ORANG II Potret diri, kau? ORANG I Sama. (MEREKA TUKAR-MENUKAR LUKISAN) ORANG I Ini gambar anjing. ORANG II Ini gambar tikus. ORANG I Apa? Itu Potret diriku. ORANG II Tapi ini gambar tikus. ORANG I Bangsat. Kita telah ditipu. Kau lihat ini gambar anjing. ORANG II Hah? (MEREKA ROBEK-ROBEK LUKISAN ITU) ORANG I Mari kita temukan diri kita. (MEREKA MELUKIS LAGI) ORANG I Kenapa jadi asap? ORANG II Kenapa jadi debu? (DIROBEK-ROBEK LAGI DAN MELUKIS LAGI) ORANG II Kenapa jadi cacing? ORANG I Kenapa jadi bangsat? (DIROBEK-ROBEK LAGI DAN MELUKIS LAGI) ORANG I Bangsat! Anjing! (MEROBEK-ROBEK LUKISAN) ORANG II Setan alas! (MEROBEK-ROBEK LUKISAN. MEREKA MELUKIS LAGI DENGAN KERINGAT YANG BERCUCURAN) ORANG I (setelah berjuang) Jadi sudah! Akhirnya aku bisa. ORANG II Mana? (Saling Memperlihatkan Lukisan, Sama-Sama Kaget) Itu diriku. ORANG I Itu diriku dan ini juga diriku. Kau salah menafsirkan dirimu sendiri. ORANG II Kau yang salah lihat. Sudah jelas ini diriku dan itu juga diriku. ORANG I Ini wajahku dan itu juga wajahku. ORANG II Tidak! Ini wajahku dan itu juga wajahku. ORANG I Siapa yang benar di antara kita? ORANG II Kau siapa? Dan aku siapa? ORANG I Kau buta! Yang kau lukis itu diriku. ORANG II Kau yang jereng, sudah jelas kau salah lukis dan salah lihat. ORANG I Aku melukis wajahku sendiri. ORANG II Aku juga (mereka mengamati lukisan dengan lebih teliti. Mereka kecewa) ORANG II Kita tidak bisa menerjemahkan diri kita sendiri. ORANG I Kenapa ini terjadi. ORANG II Kenapa ini terjadi? Jawablah. ORANG I Jawablah. ORANG II Kenapa ini terjadi? Ayo jawablah. ORANG I Itu pertanyaanku, kau yang harus menjawab. ORANG II Kau yang harus menjawab. ORANG I Itu pertanyaanku. ORANG II Juga pertanyaanku. ORANG I Kau mementingkan diri sendiri. ORANG II Kau yang mementingkan diri sendiri. ORANG I Mari kita hancurkan saja. Kita bunuh. ORANG II Siapa? ORANG I Diri kita. ORANG II Mari. (MEREKA SALING MENCEKIK, SALING MEMUKUL. TAPI AKHIRNYA, MEREKA HANYA MEROBEK-ROBEK LUKISAN) ORANG II (tertawa) Kita sudah hancur. ORANG I Kita sudah mati. SAMA-SAMA TERTAWA ORANG II Enak ya, sudah mati. ORANG I Cuma begini rasanya. ORANG II Coba (kemudian mencubit orang I) sakit? ORANG I Kita telah menjadi pembunuh yang sia-sia. ORANG II Sebuah pertanyaan pada dunia. ORANG I Otakku sudah beku. ORANG II Biarkanlah otakmu untuk terus berfikir. ORANG I Takut. ORANG II Akhirnya cepat sampai pada kesimpulan. ORANG I Dan kembali pada keraguan. Ini seperti penyaliban Yesus untuk kedua kalinya. ORANG II Hidup ini penuh dengan rangsangan-rangsangan. ORANG I Kita tidak harus mewujudkan semuanya. ORANG II Ayo kita mencoba lagi. ORANG I Ini adalah saat penentuan. Kita harus mendakwa diri kita. ORANG II Kita hakimi. ORANG I Ayo kita mulai. DENGAN PENUH GAIRAH MEREKA MENGAMBIL KANVASNYA MASING-MASING DAN MELUKIS. GAGAL. DIBANTING. DIROBEK-ROBEK. GANTI KANVAS. GAGAL. DIROBEK. GANTI KANVAS. DIROBEK. GAGAL. DIROBEK. MELUKIS LAGI DIROBEK LAGI. GANTI LAGI. TERUS DAN TERUS SAMPAI KANVASNYA HABIS, KEMUDIAN MEREKA MELUKIS DI TEMBOK-TEMBOK, BAJU-BAJU YANG BERGANTUNGAN, LANGIT-LANGIT, MEJA, LANTAI, KURSI, SEPATU, SANDAL, DEBU, SEMUA BENDA YANG ADA DI SITU DIBUATNYA UNTUK MELUKIS, DIJADIKAN KANVAS SAMPAI HABIS SEMUANYA. MEREKA MELUKIS MEMBABI-BUTA, MEREKA HISTERIS, MEREKA MONDAR-MANDIR, MEREKA BERLARI MENCARI KANVAS, MENCARI OBJEK ORANG I (bersama orang II) Mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana objekku, mana kanvasku, mana kanvasku, objekku, kanvasku mana, objekku mana, kanvasku mana, objekku mana, mana ... mana kanvasku ... mana, mana ... (mereka terus berputar-putar, berlari-lari) Mana tali gantungan, aku akan melukis tali gantungan, mana pisau aku akan melukis di pisau-pisau, mana salib, mana gantungan, mana kanvas, mana kanvas ... gantungan, salib, kanvas, objek... (Mereka terus berputar-putar, gelisah, berlari, terus. Terus sampai histeris dan sampai akhirnya mereka bertabrakan. Berpelukan, saling raba dan sama-sama berkata:) Kau adalah kanvasku, kau adalah kanvasku .... Cat, mana cat ... mana pahat ... mana gergaji, palu .... (mereka menjadikan tubuh yang lain adalah kanvasnya, mereka saling melukis, saling mengguyurkan cat, saling pahat-memahat tubuh yang lainnya sambil terus berteriak:) Kau kanvasku, kau objekku, kau kanvasku, kau objekku, kau patungku, kau karyaku ... kau objekku, kau objekku, kau objekku .... (terus dan tak ada habisnya) LAMPU PADAM KIBLAT TANAH NEGERI Naskah Drama Panggung Penulis Gondhol Sumargiyono Penyelaras Sugita Hadi Supadma M. Ahmad Jalidu Perhatian ! Untuk menggunakan naskah ini harap menghubungi M. Ahmad Jalidu 08175486266 masjali@yahoo.com KIBLAT TANAH NEGERI Introduksi Suasana : tegang panas Setting : Rumah Ki Gedhe Lemah kuning (lampu merah) Musik : Sampak campur vocal + palaran Waktu : malam hari Pelaku : Ki gedhe lemah kuning Palaran surat dari Unggul Pawenang (dibarengi tarian) Sabdha Jati, aja ngaku Hyang Sukma Mara sowano mring reki Najan leresa ing batin Nanging luwih kaluputan Wong wadheh ambuka wadi Telenge bae pinulung Pulungi tanpa ling-aling Kurang waskitha ing cipta Lunturing kanthi nugraha Tan saben uwong nampani. Ki Gedhe Lemah Kuning (murka) Jangankan hanya delapan! Beribu-ribu sesepuh, aku takkan sudi menghadap ke Unggul Pawenang. Aku bukan budak. Aku tidak sudi diperintah. Sejak mentari menampakkan sinarnya aku sudah hidup di antara langit dan bumi ini. Aku dan para sesepuh itu sama, hanya seonggok daging yang berupa bangkai yang tidak lama lagi akan busuk. Menjadi tanah. Tapi hari ini kalian kumalungkung para sesepuh. Beraninya mengundang aku yang sebenarnya sudah manunggal dengan Ywang Sukma. Ki Gedhe Lemah Kuning! (kepada utusan) Pulanglah! Utusan Saya akan pulang dan Ki Gedhe turut bersama saya. Gajah Sora, Lembu Tanaya, dan Kebo Kenanga Keparat! Lancang! Setan alas! (Keitiganya menghajar dan mengusir utusan) musik pembuka beranjak kembali LAMPU BERUBAH ADEGAN 1 Suasana : Pasewakan Setting : Unggul Pawenang Musik : Ladrang Waktu : Pagi hari Nila Ambara Sinuwun, Unggul Pawenang saat ini diselimuti kabut gelap, sinar rembulan takut menampakkan cahaya terang. Unggul Pawenang tertutup awan hitam, sinuwun. Panembahan Purwa Apa? Unggul Pawenang diselimuti kabut gelap? Nila Ambara Benar sinuwun. Kabut itu semakin pekat seiring tersebarnya ajaran Ki Gedhe Lemah Kuning. Apalagi, hamba mendengar kabar bahwa Ki Gedhe Lemah Kuning ada dibelakang sepak terjang Kebo Kenanga. Banyak pemuda-pemuda yang membangkang pemerintahan Unggul Pawenang karena tergiur mengikuti ajaran Ki Gedhe Lemah Kuning. Glathik Pamikat Ananda Sultan, memang benar adanya. Suramnya bumi Unggul Pawenang ini disebabkan oleh Adhi Gedhe Lemah Kuning yang mampu memikat rakyat lantaran ajarannya. Sekarang dia sudah jarang bersama kami, manembah Sang Akarya Jagat di Lawang Kaswargan. Sungguh, ini di luar kebiasaan. Panembahan Purwa Oh, Ki Ageng, Aku serasa terkunci di peti besi, terkepung seeribu gunung. Pandanganku terhalang oleh tumpukan harta dan kemewahan, hingga masalah sebesar ini tidak kuketahui. Gagak Rimang KI Gedhe Lemah Kuning sudah medhar wewadining jagat kepada kawula Unggul Pawenang. Kawula yang masih tabu akan hal itu, sebab, alam pikiran dan angan-angan mereka masih dipenuhi rimbunnya semak belukar yang lebat. Mereka tidak sepenuhnya memahami kawruh yang kawedhar. Apakah nantinya justru tidak menjerumuskan dan merusak tatanan? Nila Ambara Sinuwun, bagi saya, tanpa memandang ajarannya, Ki Gedhe Lemah Kuning jelas-jelas sudah mengacaukan ketertiban negara. Saya tidak boleh tinggal diam, Sinuwun. Panembahan Purwa Lalu bagaimana menurut hemat Ki Ageng? Bonang Panuntun Ya… Adhi Gedhe Lemah Kuning memang sudah melangkah terlalu jauh. Kami berdelapan sudah berulang mengirimkan undangan, tetapi setiap utusan selalu kembali dengan jawaban yang tidak memuaskan, Adhi Gedhe Lemah Kuning tidak pernah bersedia sowan ke Unggul Pawenang. (Panembahan Purwa terdian beberapa saat) Nila Ambara Maaf, Sinuwun. Keadaan ini semakin pelik sinuwun. Sudah menjadi tanggung jawab saya atas ketentraman rakyat Unggul Pawenang. Jika sinuwun berkenan, saya akan segera menyusul ke padhepokan Gedhe Lemah Kuning. Akan saya jemput beliau, secara halus ataupun dengan paksa. Jalak Manitis Nila Ambara! Jangan sampai yang keruh semakin keruh. Kita sedang mencari jalan untuk menemukan kejernihan, Nila Ambara. Sinuwun, rasanya itu juga menjadi tanggung jawab kami untuk mengingatkan Gedhe Lemah Kuning. Untuk sementara beri kami waktu untuk berikhtiar lagi. Nila Ambara Jangan bertaruh dengan waktu Ki Ageng! Panembahan Purwa Nila Ambara! (membentak) Nila Ambara Maaf, sinuwun. (Wilutama masuk) Wilutama Hamba menghadap, Sinuwun. Panembahan Purwa Aku terima. Ada apa Wilutama? Wilutama Sinuwun, utusan Ki Ageng Glathik Pamikat sudah kembali dan memohon ijin untuk menghadap Sampeyan Dalem. Panembahan Purwa Baiklah. Segera persilakan dia masuk! Wilutama Sendika dhawuh, Sinuwun. (Masuk Kidang Tlangkas bersama Wilutama) Wilutama Sinuwun, beliau Kidang Tlangkas, yang baru saja kembali dari padhepokan Ki Gedhe Lemah Kuning. Panembahan Purwa Bagaimana Kidang Tlangkas? Apakah Gedhe Lemah Kuning bersedia sowan ke Unggul Pawenang? Kidang Tlangkas Maaf, Sinuwun, Ki Ageng Glathik Pamikat, Saya tidak berhasil. Ki Gedhe Lemah Kuning menolak datang ke Unggul Pawenang. Dia bahkan menyatakan diri telah manunggal dengan Ywang Sukma. Menyatu dengan dengan Gusti Kang Akarya Jagat. (Semua terkejut). Glathik Pamikat Celaka! Ini semakin mengkhawatirkan. Akan semakin banyak orang yang mengaku Tuhan seperti halnya Ki Gedhe Lemah Kuning. Bonang Panuntun Jika sudah begini, harus ada orang yang dapat meluruskan dan mengajak Ki Gedhe Lemah Kuning datang ke Unggul Pawenang untuk membahas masalah ini. Podang Binorehan Kita harus berbuat sesuatu Ki Ageng. Jika perlu, Kita yang datang langsung ke sana. Nila Ambara Hari ini juga hamba bersedia menjemputnya, Sinuwun. Jalak Manitis Sebentar Nila Ambara. LAMPU BERUBAH ADEGAN 2 Suasana : Sidang Para sesepuh Setting : suatu tempat antah berantah Musik : mencekam Waktu : siang Gagak Rimang Bahayanya adalah jika para pengikut itu tidak mampu memahami dengan benar. Ini menjadi seperti ajaran yang sesat. Glathik Pamikat Aku setuju dengan pendapatmu, adhi Gagak Rimang. Akan sangat mengkhawatirkan apabila wewadining jagat, kawruh jatining urip lan kawruh sangkan paraning dumadi kawedhar untuk sembarang orang. Padahal, tiap orang belum pasti mampu menerima ajaran itu. Jalak Manitis Maaf, Ki Ageng, apalah gunanya mempersulit diri untuk mendapatkan ilmu. Tidak dapat dinafikan, ajaran itu sudah semestinya diketahui dan dipahami oleh mereka yang manembah kepada Gusti Kang Akarya Jagat. Bonang Panuntun Benar, Jalak Manitis. Memang benar. Namun untuk dapat menerima kawruh itu, bukanlah tanpa syarat. Sungguh, itu merupakan anugerah bagi mereka yang sudah mendapat hidayah. Tidak dapat diajarkan begitu saja seperti halnya ilmu wadag. Jika si penerima tidak kuat, justru akan kehilangan kiblat. Podang Binorehan Benar. Sebab ilmu yang diajarkan Ki Gedhe Lemah Kuning dapat menjadikan orang salah paham. Dia medhar kawruh, bahwa sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini ada karena kawruh budi, bukan dari Riptaning Gusti kang Murbeng Dumadi. Itu bisa ditafsirkan secara mentah, Sehingga akhirnya para pengikut itu tidak lagi manembah kepada sang Khaliq. Lupa kewajibannya. Apa keadaan seperti itu masih bisa membuat kita diam menunggu? Gagak Rimang Mereka akan menghilangkan syariat. Sungguh kerusakan yang parah. Podang Binorehan Di kemudian hari, murid-muridnya pasti akan lebih berani melanggar syariat. Yang haq dikatakan batil, dan yang batil dikatakan Haq. Halal dibilang haram dan sebaliknya. Peradaban akan hancur. Jalak Manitis Tetapi selama ini kita hanya mendengar. Kita belum benar-benar menyaksikan apakah ajaran itu benar-benar menyebabkan kerusakan negara? Podhang Binorehan Jalak Manitis! Apa kamu tidak mendengar Nila Ambara sudah matur bahwa Gedhe Lemah Kuning juga ada di balik sepak terjang Kebo Kenanga. Itu bukti pengaruh buruk ajaran Gedhe Lemah Kuning. Glathik Pamikat Ki Gedhe Lemah Kuning juga mengajarkan, bahwa manusia yang lahir ke dunia ini sebenarnya hidup dalam kematian. Bumi yang dipijak ini dianggapnya alam kubur. Ini benar-benar akan merusak syariat! Gagak Rimang Bagi mereka yang dangkal pemahamannya, lalu ambil enaknya saja, menyimpang dari ketetapan syariat. Mereka tidak butuh manembah marang Gusti, sebab anggapan mereka, kini telah ada di alam kubur. Bonang Panuntun Ya, benar. Mereka yang masih awam justru akan begitu mudah melanggar syariat, tidak mau lagi manembah Gusti di Lawang Kaswargan. Meniru perilaku Ki Gedhe Lemah Kuning. Padahal jika diibaratkan jalma itu buta, bisu, tuli, sebenarnya tingkah laku itu datang dari Hyang Manon. Bukankah di dalam Jitabsara sudah ditegaskan, bahwa diciptakannya manusia di dunia ini hanyalah untuk ngabekti marang Gusti. Bila seperti ini, lalu bagaimana jadinya? Jalak Manitis Lalu untuk apa pohon besar yang rimbun dan lebat jika buahnya tidak dapat dipetik dan dinikmati orang? Itu tidak bermanfaat. Juga apa gunanya pohon yang rindang, jika tidak mampu memberikan keteduhan bagi orang yang singgah di bawahnya? Podhang Binorehan Adhi Jalak Manitis! Belum saatnya kawula di Unggul Pwenang menerima kawruh tersebut. Walaupun benar adanya, tapi sesungguhnya salah bila kawruh itu kawedhar. Sebab akan berakibat fatal bagi mereka yang benar-benar belum siap menerimanya. Lalu, akan menggiring mereka keluar dari tuntunan Jamus Kalimasada. Apakah satu cawan kecil dapat menampung air sebelanga? Bila saat ini baru ada cawan, isi saja cawan itu hingga penuh. Tidak lebih. Jalak Manitis Apakah kita ini tidak berbeda dengan manusia lain Ki Ageng? Kita sama-sama manusia. Jika kita mampu, mestinya semua orang juga mampu. Gedhe Lemah Kuning memang telah sampai pada tahap makrifat, setelah melalui syariat, hakikat, dan tarekat. Podang Binorehan Tetapi murid-murid dan pengikutnya tidak bisa langsung menerima makrifat. Jalak Manitis Saya kira Gedhe Lemah Kuning juga tahu bagaimana mengajarkan ilmu pada muridnya. Jika Gusti yang dia sembah sama dengan Gusti yang kita sembah. Mestinya juga sama-sama bertujuan kemaslahatan bersama. Sama-sama guru, boleh saja berbeda cara mengajar. Podang Binorehan Adhi Jalak Manitis! Kamu membela Gedhe Lemah Kuning! Jalak Manitis Saya hanya berusaha Khusnudzon Ki Ageng. Saya takut kekhawatiran kita berkembang menjadi kedengkian. Ki Ageng sendiri yang mengajarkan untuk berbaik sangka. Kenapa Ki Ageng berbalik. Podang Binorehan Jalak Manitis! Sebenarnya apa kehendakmu? Semua serentak Ki Ageng! Sabar!... sabar… Jalak Manitis Saya hanya tidak ingin, menyelesaikan kerusakan dengan kerusakan. Bonang Panuntun Dan kita hampir saja ikut-ikutan rusak Jalak Manitis. Sabar… Gagak Rimang Lebih baik, kita menyusul ke sana dan berusaha membujuknya. Jika Nila Ambara sudah berangkat, saya khawatir keadaanya menjadi semrawut. Nila Ambara itu senopati, jangan sampai dia menggunakan cara-cara keprajuritan. Podang Binorehan Jika itu memang jalan satu-satunya kenapa tidak. Yang saya khawatirkan adalah Nila Ambara belum tentu mampu menghadapai kekuatan Gedhe Lemah Kuning. Jalak Manitis Maaf, Ki Ageng. Jika seperti itu yang ada di pikiran Ki Ageng, saya tidak setuju. Lebih baik saya berangkat sendiri… Semua Jalak Manitis! LAMPU BERUBAH ADEGAN 3 Suasana : Ki Gedhe Lemah Kuning medhar kawruh Setting : Padhepokan Gedhe Lemah Kuning Musik : Waktu : Sore Hari Pelaku : Gedhe Lemah Kuning, Gajah Sora, Kebo Kenanga, Lembu Tanaya dan murid-murid. Gedhe Lemah Kuning Camkanlah murid-muridku. Sesungguhnya bumi yang kita pijak ini adalah alam kubur. Di alam kubur, manusia masih juga gemar menumpuk harta dan segala yang tidak akan dibawanya kelak di alam kelanggengan, alam setelah kematian. Akibatnya, mereka menafikan keberadaan hidup yang sejati. Gajah Sora Maaf, guru. Dahulu pernah kau katakan. Manusia diturunkan ke alam padhang ini hanyalah layaknya bangkai, belum berujud manusia sejati. Gedhe Lemah Kuning Di alam padhang ini, manusia hanya menunggu saatnya maut menjemput. Manusia dilahirkan, hidup dan tumbuh, dan akhirnya hanya akan mati. Lembu Tanaya Guru. Jika ada manusia yang menginginkan hidup langgeng, bagaimanakah caranya? Gedhe Lemah Kuning Bila ada manusia yang punya keinginan untuk mendapatkan hidup abadi, dia harus memiliki ilmu kamukswan. Tapi apalah gunanya? Punya umur panjang, tapi tidak bisa sumarah, berserah diri kepada gusti. Tidak bisa hidup dengan ikhlas. Apalagi, wadhagnya akan kasat mata. Kebo Kenanga Lalu bagaimana seharusnya manusia hidup itu, Guru? Gedhe Lemah Kuning Manusia hidup harus berani mati. Bukan keterpaksaan mati seperti halnya manusia kebanyakan. Manusia harus mencari jalan kematian menurut kehendaknya sendiri. Bukan kematian yang disebabkan oleh sesuatu apapun, kecuali kehendaknya sendiri. Kebo Kenanga Mati oleh kehendaknya sendiri? Wah.. aku belum mengerti, Guru. Gedhe Lemah Kuning Kebo Kenanga, Manusia yang disebut mati atas kehendaknya sendiri adalah manusia yang dapat mengembalikan hutang-hutang selama hidupnya. Ialah dari apa saja yang telah dipinjamkan Gusti kepadanya, di antaranya badan wadhag dan nyawanya. Lembu Tanaya Jika begitu, manusia harus membayar hutang-hutang tersebut? Apa maksudnya, Guru? Gedhe Lemah Kuning Lembu Tanaya, badan wadhag atau raga harus kembali ke tanah, atas kehendak sendiri. Yang berasal dari air harus kembali menjadi air, dari udara menjadi udara, dari api menjadi api, dan roh kembali ke alam kamukswan. Yang tinggal hanya pribadinya sendiri. Gajah Sora Pribadinya sendiri? Apa artinya? Gedhe Lemah Kuning Wujud Pribadi itu sesungguhnya wujud kehidupan sejati. Wujud yang manunggal dengan Gusti. Pribadi manusia itu sesungguhnya manunggal klawan Ywang Sukma. Kebo Kenanga Bagaimana caranya mencari hidup sejati yang kaumaksudkan itu, Guru? Gedhe Lemah Kuning Dengan cara beribadah, manembah marang Gusti Kang Akarya Jagat. Gajah Sora Beribadah itu bagaimana Guru? Apakah harus di Lawang Kaswargan seperti orang kebanyakan? Gedhe Lemah Kuning Ibadah berangkat dari getaran kalbu. Hasrat dari wujud pribadinya. Dan ibadah itu tidak harus dilakukan di Lawang Kaswargan. Mencangkul sawah itu ibadah. Bercocok tanam itu bagian dari ibadah. Manembah marang Gusti. Bila dengan bersujud di Lawang Kaswargan sudah merasa dirinya manembah marang Gusti, namun perilakunya tidak mematuhi tatanan, melanggar hukum yang ada, merugikan sesama, itu sama dengan orang merugi. (Nila Ambara Masuk. Para Prajurit menunggu di luar) Nila Ambara Kakang Gedhe Lemah Kuning… Gedhe Lemah Kuning Oh… Adhi Nila Ambara, silakan masuk. Ada perlu apakah gerangan hingga Adhi datang ke padhepokanku ini? Nila Ambara Maaf, kakang Gedhe Lemah Kuning, Aku diutus oleh para sesepuh dan sinuwun Panembahan Purwa… Gedhe Lemah Kuning Pastinya kau diperintah untuk membawaku sowan menghadap ke Unggul Pawenang. Benar Bukan? Nila Ambara Benar, Kakang. Mengapa Kakang menyebarkan ajaran yang belum saatnya diterima kawula di Unggul Pawenang? Kebo Kenanga Kakang Nila Ambara! Ki Gedhe Lemah Kuning tidak pernah mencari murid. Bukan sumur lumaku tinimba. Justru para kawula sangat ingin mendapatkan ilmu darinya. Kami ibarat semut yang mencari gula. Lembu Tanaya Mengapa pula para sesepuh dan Panembahan Purwa melarang orang menuruti hasrat hatinya sendiri. Hasrat hati adalah milik pribadi yang merdeka. Gajah Sora Langit dan bumi bukanlah milik sinuwun Panembahan Purwa. Semua isi langit bumi dan seluruh ilmu adalah milik Gusti untuk semua titahnya. Tidak ada yang berhak mengusainya sendiri. Nila Ambara Tapi Kakang Gedhe Lemah Kuning telah merusak ketentraman negara dengan kawruh yang diajarkannya. Atas dasar apa kakang Gedhe Lemah Kuning berani medhar wewadining jagat-sejatining urip. Kebo kenanga Kakang, cobalah kaupikirkan dan kaurasakan sungguh-sungguh! Di dadamu sebenarnya sudah tertanam kawruh seperti yang telah diajarkan oleh Guru. Cobalah sekali lagi! Jika Kakang bersedia membaca suratan yang tertulis di dasar hati, sudah tentu kau akan tanggap sasmitaning gaib. Dan kau pasti akan mengerti apa yang disebut kehidupan sejati. Gesang kang Sejati! Nila Ambara Gesang sejati itu hidup sebagai titah dan khalifah yang tunduk pada Gusti. Gesang sejati itu keseimbangan kaswargan dan kadonyan. Manembah Gusti dengan tertib tuma’ninah. Bukan menjadi Gusti bagi dirinya sendiri. Gajah Sora Tetapi… Nila Ambara Sekali lagi aku tegaskan! Gedhe Lemah Kuning telah melanggar tatanan syariat! Oleh sebab itu, mau tidak mau harus ikut aku menjelaskan hal ini ke Unggul Pawenang. Gedhe Lemah Kuning Aku tidak akan datang ke Unggul Pawenang! Tidak ada yang dapat dan boleh memerintahku. Aku bukan budak siapapun. Aku adalah utusan diri pribadiku. Hanya perintah pribadi sejati ini yang akan kuturuti. Pulanglah Nila Ambara. Nila Ambara Apa perlu kuulangi? Nila Ambara datang untuk menjemput Gedhe Lemah Kuning sowan ke Unggul Pawenang… Lembu Tanaya Dasar! Tamu tak tahu diri! (menghantam Nila Ambara…) (Peperangan prajurit Nila Ambara dan murid padhepokan Gedhe Lemah Kuning tak terhindarkan…) ADEGAN 4 Para sesepuh datang menghentikan peperangan Jalak Manitis Hentikan! Nila Ambara, tarik prajuritmu! Ini urusan para sesepuh dengan Adhiku Gedhe Lemah Kuning. Gedhe Lemah Kuning Salam hormatku para sesepuh. Ketahuilah, bukan kami yang menginginkan ini. Podang Binorehan Adhi Gedhe, Surya telah mulai merangkak ke barat. Sebentar lagi hari akan gelap. Jangan kau lanjutkan keinginanmu. Gedhe Lemah Kuning. Keinginan yang mana? Aku sekedar menuruti kehausan mereka pada ilmu kehidupan. Dan bukankah ilmu kehidupan laksana air bagi seluruh kehidupan. Bonang Panuntun Aku paham keinginanmu, Dhi. Tapi ilmu itu belum semestinya diajarkan pada kawula Unggul Pawenang untuk saat ini. Gedhe Lemah Kuning Ki Ageng, untuk apa mempersulit ilmu? Bukankah Ki Ageng sendiri juga merasa keberadaan kita adalah sebagai pancuran yang mengucurkan kawruh dari sendang kasejaten? Podang Binorehan Tapi bukan dengan mengajar sembarang kawruh! Jangan main gebyah uyah! Mereka belum mampu! Langkahmu itu bisa-bisa melenyapkan syariat! Tanpa syariat, hakikat itu sesat Dhi! Gedhe Lemah Kuning Bukankah ajaranmu isinya syariat! Lalu kenapa khawatir kehilangan syariat! Kita sama-sama punya murid. Kenapa tidak biarkan saja para kawula memilih dengan merdeka ajaranku atau ajaran Ki Ageng. Kenapa tidak berani?! Podang Binorehan Lemah Kuning! Jalak Manitis Adhi Gedhe Lemah Kuning… Marilah Dhi, kedatangan kami adalah untuk berdamai dan mengajakmu turut bersama kami. Saling anyamlah sebab kita menjadi payung keselamatan jalan kawula, Dhi. Gedhe Lemah Kuning Kakang Jalak Manitis, aku paham maksudmu, tapi jalan kita memang sudah berbeda. Jalak Manitis Kamu menyebut Gusti yang sama dengan yang aku sebut. Mestinya sama Dhi… Kita tidak sebodoh ini, membiarkan anyaman tecabik, hingga koyak dan tak mampu lagi menjadi payung peneduh… kita bicara dan menyatukan hati serta langkah. Ajaran kita tak mengajarkan kerusakan… Gedhe Lemah Kuning Kita berbeda Kakang. Ajaranku juga tidak ingin merusak. Tapi … Jalak Manitis Bukalah hatimu, Dhi… pandanglah aku… kita tidak berbeda. Masih ada samudra waktu untuk berbenah dengan qonaah dan hati yang ramah. Gedhe Lemah Kuning Terima kasih Kakang… Aku hormat padamu. Tapi biarlah aku tetap seperti ini. Tak ada gunanya berubah. Aku sudah sampai pada apa yang kuinginkan. Aku hidup manembah pada Gustiku, dan telah manunggal dalam diriku. Aku kini hanyalah mati di dalam hidup. Tak bisa lagi diusik. Jalak Manitis Dhi, kamu hidup di alam hidup Dhi. (dengan nada haru yang dalam) Podang Binorehan Oo… Jadi kamu sudah bisa hidup di dalam mati, mati dalam hidup? Gedhe Lemah Kuning Bisa. Podang Binorehan Seperti apa? Yang mati tak akan berbuat apa-apa. Tak ada takut, eman dan tak pula berkehendak lagi. Apa kamu juga bisa? Gedhe Lemah Kuning Bisa! Dan kali inipun akan kutinggalkan semua. Mustahil aku takut. Sehelai rambut terbelah sejuta, tiada gentar menghadapi maut. Meski jiwa raga bercampur tanah dengan bumi menyatu. Aku takkan menghindar. Takdir tiada kenal mundur yang menguasai segala kejadian. Orang mati tiada merasa sakit, yang merasa sakit itu hidup yang ada di dalam raga. Bila tugas jiwa telah tunai, maka alam Aning Anung tempat kembalinya. Alam yang tentram dan bahagia. Aman damai sejahtera. Selamanya tiada ketakutan terhadap bahaya. Kehendak pribadiku… Mengembalikan segala yang dari Gustiku… Kutinggalkan alam raga Pribadiku, kembali pada Ywang Mukswaku… MUKSWA The End of SELESAI… Musik dan tarian penutup. Penonton bersorak tanpa beranjak, berharap keindahan tak pernah usai… Lakon CALI GULA karya Albert Camus DRAMATIC PERSONAE CALIGULA UMUR ANTARA 27-30 TAHUN CAESONIA GUNDIK CALIGULA, UMUR 35 TAHUN HELICON SAHABAT CALIGULA SCIPION UMUR 17-20 TAHUN CHEREA PENYAIR UMUR 30-35 TAHUN BANGSAWAN TUA UMUR 70-75 TAHUN BANGSAWAN I UMUR 45 TAHUN BANGSAWAN II UMUR 50 TAHUN BANGSAWAN III UMUR 50-55 TAHUN MEREIA UMUR 55-60 TAHUN MUCIUS UMUR 33-35 TAHUN LEPIDUS UMUR 55-60 TAHUN PENGAWAL-PENGAWAL ANTARA 30-40 TAHUN ORANG-ORANG UMURNYA BERAGAM PENYAIR-PENYAIR UMURNYA BERAGAM Publikasi naskah ini dimaksudkan sebagai upaya penyediaan naskah drama dan sebagai bahan referensi pembelajaran bagi individu atau kelompok-kelompok teater yang membutuhkannya. Disarankan bagi siapa saja yang memiliki cukup akses, agar membeli buku terkait. Itupun dalam upaya membantu pengarang dan keluarganya. Kekayaan hak intelektual naskah ini tetap ada pada pengarangnya. Dan dimohon bagi pengunduh naskah ini untuk tidak menghapus catatan ini, sebagai bukti pertanggung jawaban saya sebagai pihak yang mengetik ulang. Terima kasih. Lee Birkin BABAK I ADEGAN 1 BALAIRUNG ISTANA KERAJAAN (RUMAH CALIGULA) SEJUMLAH BANGSAWAN, PENGAWAL DAN LAIN-LAIN SEDANG BERKUMPUL DI BALAIRUNG, MEREKA TAMPAK GELISAH BANGSAWAN I Belum juga ada berita BANGSAWAN II Kemarin tidk, begitupun hari ini BANGSAWAN III Tiga hari tanpa ada berita BANGSAWAN TUA Pesuruh pergi, pesuruh datang, jawab yang dibawa selalu geleng kepala “Tidak ada” BANGSAWAN II Jangan kelewat cemas, nanti juga ia kembali seperti dulu lagi BANGSAWAN TUA Sebelum ia pergi, aku lihat ada sinar ganjil di matanya BANGSAWAN I Aku pun melihatnya. Bahakan aku bertanya padanya. Apa ada yang kurang? BANGSAWAN III Apa jawabnya? BANGSAWAN I “Tidak ada”. Hanya itu HENING SESAAT, HELICON MASUK SAMBIL MENGUNYAH SESUATU BANGSAWAN III Gelisah kita dibikinnya BANGSAWAN II Mengapa? memang begitu adapt orang muda BANGSAWAN TUA Tuan benar. Orang muda selalu lemah hati BANGSAWAN I Apa betul begitu? BANGSAWAN TUA Tentu. Satu gadis hilang, selusin gantinya HELICON O! Jadi Tuan kira dibelakang ini ada soal perempuan? BANGSAWAN II Apalagi kalau bukan itu!? Tapi untunglah kesediahn tidak berlangsung lama. Apakah ada diantara kita yang sanggup berdukacita karena kehilangan seseorang lebih dari setahun? BANGSAWAN I Tak seorang pun yang dapat BANGSAWAN TUA Hidup akan pahit sekali kalau kita sanggup menjalankan itu BANGSAWAN I Memang. aku misalnya, aku kehilangan istriku tahun yang lalu. Aku menangis sejadi-jadinya, sudah itu aku mencoba melupakannya. Kadang-kadang aku masih bisa merasakan, tapi untunglah keadaan ini tak sering BANGSAWAN TUA Ya. Alam adalah dukun yang baik ADEGAN 2 BANGSAWAN I bagaimana, ada kabar? CHEREA Belum HELICON Ayolah tuan-tuan. Tak ada gunanya bercemas hati BANGSAWAN I Memang HELICON Walau susah, keadaan tak akan berubah…. Sekarang sudah waktunya makan BANGSAWAN TUA Betul. kita jangan menyangka yang bukan-bukan CHEREA Hatiku tak begitu senang. tapi segalanya kelihatan lancer. Sebagai seorang pemimpin dia boleh disebut penjelmaan dari kesempurnaan BANGSAWAN II Ya, pemimpin yang sesuai dengan keinginan kita, hati-hati walaupun tak berpengalaman BANGSAWAN I Apa yang kaurisaukan? Tak ada alas an untuk meratap seperti itu. Ia cinta pada Drusila, atau katakanlah bahwa cintanya kepada Drusil melebihi cinta kakak pada adik. Menjijikan memang. Kelewatan sekali untuk menjadikan seluruh warga ributm hanya karena gadis itu mati CHEREA Mungkin. Tapi seperti yang kukatakan, hati saya tak begitu senang. Keadaan ini menggelisahkan saya BANGSAWAN TUA Memang tak akan ada asap jika tidak ada api BANGSAWAN I Tapi bagaimanapun juga, demi kepentingan Negara, ia tak boleh menjadikan….menjadikan perbuatan yang akan disesalinya ini menjadi bencana nasional. Mungkin hal itu memang telah terjadi, tetapi makin tidak dibicarakan, makin baik HELICON Bagaimana tuan tahu begitu pasti, Drusila yang menjadi sebab? BANGSAWAN II Siapa lagi kalau bukan dia!? HELICON Mungkin juga bukan siapa-siapa. Begitu banyak alas an yang dapat dikedepankan. Tapi emmang justru alas an yang begitu yang dimunculkan! SCIPION MASUK. CHEREA BERJALAN MENEMUINYA ADEGAN 3 CHEREA Ada kabar? SCIPION Belum. Kecuali kabar-kabar dari beberapa warga yang telah merasa melihat dia kemarin malam di tempat hiburan dan ada juga yang melihat dia sedang lari dalam hujan badai CHEREA Dengan hari ini sudah tiga hari SCIPION Ya. Aku ada di situ, mengikuti dia seperti bisaa. Ia hampiri jenazah Drusila, dipukulnya dengan dua jari, sudah itu ia seolah-olah tenggelam dalam pikirannya. Kemudian ia berbalik lalu berjalan keluar dengan tenang…. Sejak itu kita mencari dia…. Dengan sia-sia CHEREA Dia terlalu asyik dengan kesusasteraan BANGSAWAN I Ah, maklumlah dalam umur begitu mu…(Dipotong) CHEREA Umur memang, tapi tidak dalam kedudukannya. Seorang pemimpin yang berjiwa seni adalah sesuatu yang salah. Tapi bisaanya pemimpin-pemimpin seperti itu cukup punya perasaan untuk mengingat bahwa dia adalah abdi rakyat BANGSAWAN II Dan menyebabakan keadaan jadi lancar BANGSAWAN TUA Satu manusia, satu pekerjaan…. Demikian seharusnya SCIPION Apa yang harus kita lakukan, Cherea? CHEREA Tidak ada BANGSAWAN II Kita hanya bisa menunggu. Jika ia tidak kembali, maka gantinya harus kita carikan. Diantara kita….Tidak kurang calon BANGSAWAN I Memang. Tapi yang kurang adalah calon yang tepat CHEREA Misalkan ia kembali dengan hati yang berang? BANGSAWAN I Ah, Ia masih muda, nanti kita tunjukan pikiran yang sehat padanya CHEREA Dan kalau ia tidak mau terima, bagaimana? BANGSAWAN I Dalam keadaan seperti ini sahabat, jangan lupa, bahwa aku pernah menulis buku tentang revolusi. Isinya dapat kau temui segala petunjuk CHEREA Nanti kulihat, tapi aku lebih suka membaca bukuku sendiri SCIPION Saya permisi CHEREA Dia marah BANGSAWAN TUA Scipion masih muda sekali, anak muda selalu seperasaan HELICON Ah, Scipion tak masuk hitungan SEORANG PENGAWAL MASUK PENGAWAL Tuan Caligula kelihatan di taman samping SEMUA KELUAR ADEGAN 4 PANGGUNG SUNYI BEBERAPA SAAT. CALIGULA MASUK DARI SEBELAH KIRI. RAMBUTNYA BASAH, SELURUH BADANNYA BERKERINGAT, PAKAIANNYA BERANTAKAN ACAK-ACAKAN, MATANYA NANAR. KEMUDIAN IA MENDEKATI CERMIN YANG TERGANTUNG DI TAMAN ATAS BOLA LAMPU TAMAN. IA MELIHAT BAYANGAN WAJAHNYA LALU MENGAMATINYA, MERABA-RABA WAJAHNYA. IA DUDUK DENGAN LESU, HELICON MASUK DARI KIRI, WAKTU MELIHAT CALIGULA IA BERHENTI DIUJUNG PANGGUNG DAN MEMPERHATIKANNYA. CALIGULA MEMBALIK DAN MELIHAT HELICON. HENING SEKEJAP ADEGAN 5 HELICON (Dari ujung panggung) Selamat pagi, Tuan CALIGULA (Datar) Selamat Pagi, Helicon (Hening lagi sebentar) HELICON Kau lelah kelihatannya CALIGULA Aku banyak berjalan HELICON Ya, kau telah pergi selama tiga hari CALIGULA Memang susah diperoleh HELICON Apa yang susah diperoleh? CALIGULA Apa yang kucari HELICON Apa itu? CALIGULA (Datar) Bulan HELICON Apa?? CALIGULA Ya, aku ingin kan bulan HELICON Oh (Diam sebentar, Helicon mendekati Caligula) Dan mengapa kau inginkan bulan? CALIGULA Ah, ya. Itu satu barang yang aku belum punya HELICON O, begitu. Dan kini – sudah kau bereskan sehingga memuaskanmu? CALIGULA Belum. Aku tidak dapat memperolehnya HELICON Sayang sekali CALIGULA Ya. karena itu aku sangat lelah. (Diam) Helicon? HELICON Ya… CALIGULA Tak sangsi lagi. Tentu menurut pikiran kau, aku sudah gila HELICON kau sendiri tahu kau tidak pernah berpikir begitu CALIGULA Ah, betul juga… Sekarang, begini! Aku tidak gila. malahaan rasanya belum pernah aku setenang sekarang ini. Apa yang terjadi padaku adalah hal yang bisaa saja. Tiba-tiba aku didatangi keinginan yan mustahil. Cuma itu. (Diam) Menurut hematku, keadaan seperti sekarang jauh sekali daripada menyenangkan HELICON Banyak yang sependapat dengan kau CALIGULA Memang. Tapi dulu aku tidak sadari ini. Kini aku tahu dunia kita ini dengan apa yang orang sebutkan susunannya, tidak bisa kita biarkan. Itu makanya aku inginkan bulan, atau kebahagian, atau hidup abadi….. Pendeknya sesuatu yang tak masuk akal kedengarannya. tapi yang tak dapat digolongkan kepada dunia ini HELICON Dalam teroi jelas sekali kedengarannya. Cuma dalam prakteknya hal seperti itu tak bisa dilaksanakan CALIGULA Kau lupa karena tidak seorang pun yang berani mengikuti pikirannya sampai ke ujungnya, makanya tak ada yang tercapai sampai saat ini. Satu-satunya yang harus dilakukan, terus berpikir lurus dan logis. Dengan mengorbankan segalanya (Mengamati wajah Helicon) Aku pun tahu apa yang kau pikirkan. Alangkah ributnya hanya karena seorang perempuan telah meninggal. Tapi bukan itu. Memang aku ingat beberapa hari lalu seorang perempuan telah meninggal. Seorang perempuan yang kucintai. Tapia pa cinta itu? Soal tetek bengek dan aku bersumpah pada kau, bukanlah kematian yang menjadi masalah di sini. Ia tidak lebih dari suatu perlambang kebenaran, yang membuat bulan menjadi penting bagiku. Suatu kebenaran yang bersahaja, jelas bahkan hampir-hampir edan. Tapi suatu kebenaran yang susah untuk didekati dan pahit untuk dialami. HELICON Tapi bolehkahaku tahu , kebenaran apakah yang telah kau temui itu? CALIGULA (Memalingkan muka, tinggi, dingin dan datar) Manusia mati dan mereka tidak berbahagia! HELICON Bagaimanapun juga, kebenaran-kebenaran itu adalah kebenaran yang dapat diterima dengan ikhlas. Coba lihat orang-orang di sana, kebenaran kau tidak mengurangkan kenikmatan yang mereka alamikala menyantap makanan mereka CALIGULA (Marah tiba-tiba) Segala itu membuktikan bahwa akudikelilingi oleh dusta dan penipuan diri sendiri. Aku sudah bosan! Aku mau manusia hidup dalam cahaya kebenaran. Dan aku punya kekuasaan untuk melakukannya, karena aku tahu apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka belum peroleh. Mereka tidak mengerti dan mereka memerlukan seorang guru, seseorang yang betul-betul arif tentang apa yang mereka bicarakan HELICON Jangan marah tuanku, jika aku menasehati kau sedikit…. Sekarang kau harus istirahat CALIGULA (Seperti bisaa lagi) Tidak mungkin Helicon. aku tidak mungkin istirahat lagi HELICON Tetapi, mengapa? CALIGULA Jika aku tidur, siapa yang akan membawakan bulan untukku? HELICON (Diam bingung) Benar juga CALIGULA (Berdiri dengan susah payah) Begini Helicon, Aku dengar suara orang berjalan dan suara orang bicara. Jangan katakan apa-apa. Lupakan kau telah bertemu denganku HELICON Aku maklum CALIGULA (Berjalan) Tolonglah aku mulai saat ini HELICON Tidak ada alas an untuk tidak menolongmu, Tuan. Tapi pengetahuanku sangat sedikit dan perhatianku sangat terbatas. Dengan cara apa aku dapat menolongmu, Tuan? CALIGULA Dengan cara…. yang mustahil HELICON Aku akan berusaha ADEGAN 6 CALIGULA KELUAR. SCIPION DAN CAESONIA BERGEGAS MASUK SCIPION Tidak ada orang! Apa tidak kau lihat dia, Helicon? HELICON Tidak CAESONIA Helicon, apa dia tidak mengatakan apa-apa sebelum pergi (Menyelidik) HELICON Aku bukan tempat ia mencurahkan rahasianya. Aku hanya menontonnya. Begitu lebih baik CAESONIA Jangan begitu, Helicon HELICON Caesonia sayang, seperti kita tahu semua, Caligula adalah seorang idealis.Ia mengikuti pikirannya sendiri dan tidak seorang pun dapat meramal sampai kemana ia akan dibawa pikirannya…. Tapi, permisi dulu HELICON KELUAR ADEGAN 7 CAESONIA DUDUK DENGAN HATI GUNDAH GULANA CAESONIA Seorang pengawal melihat ia lewat, seluruh warga kota melihat Caligula dimana-mana. Dan Caligula, tentu tak melihat apa-apa selain pikirannya sendiri SCIPION Pikiran apa itu? CAESONIA Bagaimana aku tahu, Scipion? SCIPION Drusila barangkali? CAESONIA Mungkin. Satu hal pasti sudah, ia mencintainya. Memang pahit sekali rasanya menerima kematian seseorang yang kemarin masih berada dalam pelukan kita SCIPION (Dengan malu-malu) Dan kau? CAESONIA Ah, aku hanya gundiknya yang sudah tua SCIPION Caesonia, dia harus kita tolong CAESONIA Jadi kau juga sayang padanya? SCIPION Ya. Ia sangat baik padaku. Ia hidupkan semangatku. Aku tak akan pernah lupa hal-hal yang ia akatakan padaku. Dia bilang Hidup tidak mudah dan masih ada penghiburnya, agama, seni dan cinta yang kita timbulkan dalam diri orang lain. dan bahwa satu-satunya kesalahan yang mungkin diperbuat dalam kehidupan ini, ialah menyebabkan orang sampai jadi menderita. Ia ingin menjadi seorang manusia yang wajar CAESONIA (Berdiri) Ia masih remaja (Berjalan ke cermin/ bola lampu yang memperhatikan dirinya sendiri) Satu-satunya Tuhan yang kuyakini, ialah tubuhku sendiri, dan kini akan kuminta pada Tuhanku ini supaya ia mengembalikan Caligula kepadaku ADEGAN 8 CALIGULA MASUK, WAKTU MELIHAT CAESONIA DAN SCIPION IA BIMBANG DAN MUNDUR BEBERAPA LANGKAH. PADA SAAT ITU DARI BERBAGAI ARAH MUNCUL BANGSAWAN-BANGSAWAN DAN PARA PENGAWAL. MEREKA BERHENTI KAGET KARENA MELIHAT CALIGULA. CAESONIA BERBALIK, IA DAN SCIPION BERGEGAS KE ARAH CALIGULA YANG MENOLAK MEREKA DENGAN ISYARAT TANGANNYA PENGAWAL (Suara yang sangsi) Kami…. Kami telah mencari tuan di mana-mana CALIGULA (Pendek dan agak keras) O, begitu PENGAWAL Kami…. Artinya…. CALIGULA (Kasar) Mau apa kau? PENGAWAL Kami merasa gelisah, Tuan CALIGULA (Mendekat ke pengawal) Urusan apa yang menyebabkan kau gelisah? PENGAWAL Ya….e…..(Ia beroleh ilham) Sebagaimana tuan tahu, ada beberapa hal yang harus dibereskan yang berhubungan dengan perbendaharaan dan administrasi CALIGULA (Meleldak tertawa enak) Hah….betul. Perbendaharaan dan administrasi! Betul juga, itu soal yang paling penting PENGAWAL Ya, Tuan CALIGULA (Masih ketawa, pada Caesonia) Apakah kau tak sependapat dengan itu, sayang? Perbendaharaan dan administrasi adalah soal yang maha penting CAESONIA Tidak Caligula, tepatnya adalah tempat kedua CALIGULA Itu hanya menandakan bahwa kau bodoh. Kami sangat memperhatikan soal itu, sangat penting. Susunan pajak kita, susila umum, politik luar negeri, perlengkapan angkatan bersenjata, hokum tanah dan lain-lain. Percayalah, semua itu penting. Sekarang pikiran itu akan kupergunakan untuk kepentingan itu. Sebagai permulaan, pengawal, coba dengarkan PENGAWAL Siap Tuan YANG LAIN MAJU BEBERAPA LANGKAH KE DEPAN CALIGULA Tuan-tuan setia kepada saya, bukan? (Semua mengangguk, ada juga yang terpaksa) Baiklah! Ada sesuatu yang akan kusampaikan. Kita akan mengadakan perubahan lengkap dalam susunan ekonomi kita. Dalam dua tindakan, cepat dan tegas. Akan kuterangkan pengawal….Jika tuan-tuan ini sudah pergi ADEGAN 9 PARA BANGSAWAN KIKU DAN SEGERA PERGI. CALIGULA DUDUK DEKAT CAESONIA SAMBIL MEMELUK DAN MENCIUMNYA CALIGULA Sekarang perhatikan baik-baik. Tindakan pertama: Setiap pengusaha besar atau kecil, setiap pembantu-pembantuku yang punya modal besar atau kecil, semuanya sama. Tidak boleh mewariskan harta dan modalnya itu kepada anak-anaknya. Mereka harus menulis surat wasiat atau perjanjian yang baru dan menyerahkan harta mereka kepada Negara dan pemerintah, jika mereka sudah tidak ada lagi atau mati PENGAWAL Tapi, tuan…. CALIGULA Aku belum selesai bicara dank au belum kuberi izin untuk bicara! Jika keadaan mendesak, kita akan usahakan supaya orang-orang itu cepat mati. Sebuah daftar akan saya buat, di mana peraturan untuk mereka akan ditentukan CAESONIA (Melepaskan diri) Tapi, mengapa kau…..? CALIGULA (Cuek merasa tak terganggu) Jelas sekali, bahwa peraturan kematian mereka tidak begitu penting. Atau lebih baik, hukuman mati ini semuanya sama penting – artinya tidak satupun yang penting. Semua mereka ini sama saja, yang satu sama salah dengan yang lain (Pada pengawal dengan kasar) Kau harus laksanakan tugas ini dengan tidak membuang waktu, dan periksa supaya ini dilaksanakan. Surat-surat itu harus sudah ditandatangani oleh mereka dan dalam satu bulan oleh setiap orang di propinsi-propinsi. laksanakan segera dan siapkan orang-orangmu PENGAWAL Tuan, aku sangsi. Apa tuan menyadari…. CALIGULA (Membentak) Dengarkan baik, baik dungu! Jika perbendaharaan dan administrasi adalah maha penting, maka jiwa manusia tidak penting sama sekali. Orang yang berpikir seperti kau harus menerima kebenaran perintah ini, dan karena harta dan uang satu-satunya yang penting, karena itu kau tak akan menghargai jiwa kau sendiri atau jiwa orang lain. Aku sudah memutuskan untuk berpikir logis dan aku punya kekuasaan untuk memaksakan kemauanku. Sekarang akan kau lihat artinya apa pikiran logis untukmu. Segala tentangan dan penentang akan kutindas. Jika perlu aku akan mulai dengan kau sendiri PENGAWAL Tuan, aku bersumpah, kesetiaanku berani diuji CALIGULA Aku juga. Percayalah. Kau tidak boleh menghindar dari rencanaku ini. Sekarang kau boleh pergi PENGAWAL KELUAR ADEGAN 10 CAESONIA Aku tak percaya kau bicara begitu. Ini Cuma olok-olok, bukan? CALIGULA Tidak, Caesonia. Kita anggap saja sebuah pelajaran SCIPION Tapi, tuan. Ini tidak mungkin CALIGULA Karena itulah…. SCIPION Aku tidak mengerti CALIGULA Kuulangi lagi – Karena itulah – Sekarang aku menjelajah apa yang dianggap orang tidak mungkin. Atau lebih baik kukatakan begini. Akus edang berusaha memungkinkan yang tidak mungkin SCIPION Tapi ini permainan yang tidak ada batasnya. Ini suatu hiburan orang gila CALIGULA Tidak, Scipion. Ini hiburan seorang pemimpin yang berkuasa (Rebahan di sofa dengan nyaman) Akhrnya aku mengetahui apa gunanya kekuasaan. Ia dapat membuat yang mustahil terjadi. Mulai hari ini, selama masih ada nyawa di badan, kebebasan dan kekuasaanku tidak ada lagi batasnya CAESONIA (Dengan sedih) Aku sangsi apakah penemuan ini akan dapat membuat kita bahagia? CALIGULA Aku pun begitu. Tapi kukira kita harus menjalaninya ADEGAN 11 CHEREA MASUK CHEREA Aku baru mendengar kau telah kembali. Mudah-mudahan kau sehat CALIGULA Kesehataku mengucapak terima kasih padamu (Hening. Kemudian dengan tiba-tiba) Pergilah Cherea, aku tidak ingin bertemu dengan kau CHEREA Kau mengherankan aku, Caligula CALIGULA TIdak ada yang perlu kau herankan, Cherea. Aku tidak suka sastrawan dan dusta CHEREA Dusta tidak pernah tidak salah, karena itu kami lakukan dengan tidak sadar. Aku tidak merasa bersalah CALIGULA Dusta memang tidak pernah tidak salah. Dan dusta kau memberi sifat penting pada orang lain, dan itu yang tidak dapat kuampuni CHEREA Dan kini – karena dunia ini satu-satunya dunia yang kita punya, apakah ia tidak akan dibela? CALIGULA Pembelaan kau terlambat., hukuman telah dijatuhkan. Dunia ini tidak lagi penting. Sekali manusia menyadari itu, maka ia peroleh kemerdekaannya (Ia berdiri) Itu makanya aku benci padamu, kau dan golonganmu. Karena kalian tidak merdeka. Pada dirikulah kau melihat satu-satunya manusia yang merdeka di seluruh negeri ini. Kau seharusnya gembira karena akhirnya diantaramu, hidup seorang pemimpin yang dapat menunjukan jalan ke kemerdekaan. Pergilah Cherea, kau juga Scipion. Pergilah – karena apalah artinya persahabatan. Pergilah kalian dan siarkan berita ke seluruh negeri, bahwa akhirnya kemeredekaan telah diberikan kepada mereka. Dan dengan kemerdekaan ini, akan mulai suatu masa percobaan besar MEREKA PERGI DAN CALIGULA BERPALING MENYEMBUNYIKAN WAJAHNYA ADEGAN 12 CAESONIA Kau menangis? CALIGULA Ya, Caesonia CAESONIA Apa sebetulnya yang berubah dalam hidupmu? Memang kau mencintai Drusila, tapi kau juga mencintai yang lain – aku sendiri misalnya – ini bukan sebab untuk membuat kau menjelajahi pikiran dan perasaan, dengan membawa kengerian pada jiwamu CALIGULA Omomg kosong apa ini!? Mengapa Drusila dibawa-bawa? Kau kira cinta itu satu-satunya hal yang menyebabkan seorang laki-laki mengucurkan air mata? CAESONIA Maaf, Caligula. Aku hanya berusaha memahami kau CALIGULA Laki-laki menangis, akrena semua di dunia ini salah! (Caesonia menghampiri Caligula) Tidak, Caesonia. Tetaplah di tempatmu CAESONIA Segala kehendakmu akan kulakukan (Duduk) Dalam umurku sekarang, hidup sangat menyedihkan. Tapi mengapa dengan sengaja kita mempersedihnya lagi? CALIGULA Tidak. Tidak ada gunanya. Kau tidak mengerti. Tapi peduli apa? Barangkali aku akan menemui jalanku. Aku merasa sesuatu bergerak dalam diriku, seolah-olah hal yang belum lagi sempat diimpikan medsak keluar – dan aku tak dapat mencegahnya (Ia mendekati Caesonia) Caesonia, aku tahu orang merasa takut, tapi aku tak tahu apa artinya kata takut itu. Seperti orang lain, aku juga berpendapat bahwa takut adalah suatu penyakit pikiran – lain tidak. Tidak, tubuhkulah yang sedang sakit. Sakit dimana-mana, di dada, kaki, tangan bahkan kulitku kasar dan kepalaku pusing. Rasanya aku ingin muntah. tapi yang paling pahit dari segalanya ialah rasa ganjil yang ada di lidahku. Bukan darah, maut atau demam, tapi campuran dari ketiganya. Aku Cuma memerlukan menggerakkan lidahku, lalu dunia jadi gelap dan semua manusia kelihatannya mengerikan. alangkah berat, alangkah pedihnya upacara untuk menjadi manusia ini CAESONIA Sayang, yang kau butuhkan, ialah tidur yang panjang dan pulas. Istirahatkanlah dirimu, dan hentikan berpikir. Aku akan menjaga selama kau tidur. Dan jika kau bangun, kau akan lihat bagaimana dunia telah kembali lagi pada keindahannya. Lalu kau harus mempergunakan kekuasaanmu untuk hal-hal yang baik – untuk lebih mencintai lagi apa yang dapat kau cinta. karena yang mungkin pun patut pula diberi kesempatan CALIGULA Ah, kalau untuk itu, aku tak perlu tidur – untuk membiarkan diriku bebruat sesukanya – dan itu adalah mungkin dan tak mungkin CAESONIA seseorang yang terlalu lelah selalu berpikir begitu. Suatu masa akan tiba, dimana pegangan seseorang akan menjadi kukuh kembali CALIGULA Tapi kita harus tahu dimana ia harus ditempatkan. Dan apa gunanya bagiku sebuah pegangan yang kukuh. Apakah gunanya kekuasaan besar yang ada padaku, jika aku tak dapat memaksa matahari turun dari timur, jika aku tak dapat mengurangi jumlah derita atau mengakhiri kematian? Tidak, Caesonia. Tidur atau tidak, bagiku sama saja. Jika aku tak punya kekuasaan untuk mencampuri perjalanan dunia ini CAESONIA Tapi itu artinya sama mau menyamai Tuhan. Itu suatu pekerjaan yang gila CALIGULA Jadi, kaupun mengira, bahwa aku gila. Dan kini – siapakah Tuhan yang ingin kusamai itu? – Aku mau merebut sebuah kenyataan dimana yang mustahil menjadi nyata. Yang tak mungkin menjadi mungkin CAESONIA Kau tidak dapat melarang matahari untuk tidak terbit. kau tidak dapat menghalangi wajah tua menjadi muda atau sebaliknya dan kau tidak dapat mencegah supaya hati manusia menjadi dingin CALIGULA (Dengan semangat bertambah) Aku mau menenggelamkan matahari ke dalam laut. Aku mau menyemarakkan kejahatan dengan kebaikan, aku mau memeras tawa dari kesakitan CAESONIA (Meyakinkan) Ada yang jahat, ada yang baik. Ada yang tinggi, ada yang rendah. Ada kelaliman ada keadilan. Percayalah bahwa semua ini tak akan berubah CALIGULA Dan aku telahj memutuskan untuk merubahnya. Aku akan memberikan sesuatu yang besar kepada zaman ini. Sama rata. Dan kalau semuanya telah disamaratakan, yang mustahil telah turun ke bumi dan bulan telah ada dalam tanganku – barangkali aku akan berubah bersama dunia. Manusia tidak akan lagi mengenal mati, dan berbahagialah selalu CAESONIA (Suara iba, tangis sedikit) Dan cinta? Apa kau akan mengingkari cinta? CALIGULA (Amarah yang meledak) Cinta? (Memegang bahu Caesonia dan mengguncangnya) Aku sudah tahu apa yang disebut cinta – omong kosong! Pengawal tadi benar, bahwa yang maha penting Cuma perbendaharaan. Puncak dari segalanya. Dan kini aku mau hidup, hidup yang sebenarnya. Dan hidup, sayang adalah lawan dari cinta. Aku tahu apa yang kukatakan. Aku undang kau untuk menghadiri sebuah pertunjukan yang paling indah, suatu kejadian besar. Untuk itu aku memerlukan orang banyak – penonton, korban-korban, penjahat beratus bahkan beribu orang – (Ia berlari ke gong, lalu mulai memukul, makin lama makin keras dan cepat) Biar datang semua terdakwa, aku mau lihat penjahat-penjahat. mereka semua penjahat. (Masih memukul gong) Bawa masuk manusia yang terkutuk. Aku ingin penonton, hakim, saksi, terdakwa, semua dijatuhi hukuman mati tanpa diadili. Ya, Caesonia aku akan perlihatkan pada mereka sesuatu yang sampai kini mereka belum pernah lihat, satu-satunya manusia yang merdeka di negeri ini (Waktu mendengar bunyi gong, warga diluar mulai berisik oleh berbagai bunyi, bunyi senjata beradu, peluit, suara langkah kaki, teriakan. Langkah makin cepat dan dekat. semua masuk tapi semua keluar lagi) Dan kau Caesonia, akan memathui perintahku. Kau tetap disampingku sampai saat terakhir. Alangkah hebatnya, kau lihatlah nanti. Bersumpahlah Caesonia, engkau akan tetap disampingku CAESONIA (Dengan liar diantara dua pukulan gong) Aku tidak perlu bersumpah. kau tahu aku mencintai kau CALIGULA Kau akan lakukan segala apa yang kukatakan!? CAESONIA Segalanya. Segalanya Caligula, tapi hentikan itu CALIGULA Kau akan ganas!? CAESONIA (Menangis) Ganas CALIGULA (Masih memukul gong) Berhati batu dan gelisah!? CAESONIA Gelisah! CALIGULA Dan kau juga menderita CAESONIA Ya, ya, Caligula. Aku jadi gila barangkali BEBERAPA BANGSAWAN MASUK, DIIKUTI OLEH PARA PENGAWAL. SEMUANYA KAGET DAN CEMAS. CALIGULA MEMUKUL GONG UNTUK PENGHABISAN, LALU MENGANGKAT PEMUKULNYA, MEMUTAR-MUTARKAN, LALU MEMANGGIL DENGAN SUARA SERAK DAN LIAR CALIGULA Mari! Semuanya. Dekat, dekat lagi. (Liar) Pemimpin besar memerintahkan pada kalian suapay lebih dekat (Mereka mendekat bercampur takut) Cepat! Dan kau, Caesonia mari ke dekatku (Dipegang, dirangkul lalu dibimbingnya ke depan cermin dan dengan ayunan liar mereka bergoyang gemetar, lalu tertawa) Semua habis. Kau lihat sayang…. Akhir dari segala kenangan. Tidak satu pun, tidak siapapu yang tinggal. Oh, tidak, tidak benar itu, masih ada. (Ketawa) Lihat Caesonia. Kemari, kemari semuanya. Lihat….(ia berdiri di depan cermin) CAESONIA (Memandang dengan kecut kea rah cermin) Caligula! CALIGULA MEMATUNG DEPAN CERMIN, MEMAINKAN MIMIK, MENGAMATI TUBUHNYA, KETAWA DAN MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA CALIGULA Ya…..Caligula!!! LAMPU PADAM/BLACK OUT BABAK II ADEGAN I KAUM BANGSAWAN DAN BEBERAPA ORANG BERKUMPUL DALAM SEBUAH RUANGAN DI RUMAH CHEREA BANGSAWAN I Ia hinakan kehormatan kita BANGSAWAN TUA Ia memangilku “Cintaku sayang” depan orang banyak. Jangan lupa. Cukup menjadikan aku buah tertawaan orang. Hukuman mati rasanya masih terlalu baik buat dia BANGSAWAN I Ia memaksa kita berlari disampingnya jika ia berjalan menyusuri kota-kota BANGSAWAN TUA Perlakuan seperti itu tidak bisa dimaafkan BANGSAWAN II Katanya itu latihan yang baik buat kita BANGSAWAN III Tuan benar. itu melecehkan kita dan sulit untuk dimaafkan BANGSAWAN I Ia telah menyita hartamu Patricius. Ia telah membunuh ayahmu, Scipion. ia telah merebut dan merusak istrimu, Octavius. dan menyuruhnya kerja di rumah pelacurannya. Ia telah membunuh anakmu, Lepidus. Sekarang aku mau bertanya. Tuan-tuan, apakah tuan-tuan masih sanggup menahankan ini? Aku, bagaimana pun juga telah mengambil keputusan. Aku tahu resikonya, tapi aku juga tahu, hidup yang penuh ketakutan ini tidak bisa ditahankan lagi. lebih sakit dari mati. Ya, seperti kukatakan, putusanku tetap sudah SCIPION Waktu ia membunuh ayahku, ia pun telah menetapkan keputusanku BANGSAWAN I nah, apa tuan-tuan masih sangsi!? OCTAVIUS Tidak. kami bersama tuan. Ia telah merusak istri-istri kami dan mempekerjakan kami sebagai badut sirkus dan menghasut kami supaya berkelahi dengan rakyat jelata BANGSAWAN TUA Ia pengecut! BANGSAWAN II Ia kejam dan sewenang-wenang BANGSAWAN III Seorang pemain sandiwara BANGSAWAN TUA Ia seorang yang mati pucuk ADEGAN 2 SEBAUH KEKACAUAN YANG LIAR, SENJATA DIHUNUS, SEBUAH MEJA DIBALIKKAN. SEMUANYA BERLARI KE PINTU. WAKTU ITU MASUK CHEREA, TENANG, LALU MENGHENTIKAN KERIBUTAN MEREKA CHEREA Mau kemana tuan-tuan? SESEORANG Ke istana CHEREA Aku mengerti. Tapi apakah tuan-tuan akan diberi izin masuk? SESEORANG LAGI Kami tidak perlu minta izin CHEREA Tuan Lepidus, tolong tutupkan pintu itu (Pintu ditutup, lalu Cherea berjalan kea rah meja yang terbalik itu dan duduk di sudut, yang lain menghadap kepadanya) Soal ini tidak semudah yang tuan-tuan kira. jangan terburu nafsu, nanti celaka akibatnya SESEORANG Kalau kau tidak mau ikut serta, suka hati kaulah! Tapi kau tak usah banyak omong CHEREA Rasanya aku ikut saudara-saudara, jangan salah terima, tapi tidak karena alas an yang sama SEBUAH SUARA Cukup sudah omong kosongmu! CHEREA Baik. Sekarang mari kita bicarakan kenyataan sebenarnya. izinkan terlebih dulu aku jelaskan tentang diriku. Biarpun aku ikut dengan saudara-saudara. Aku sependapat, saudara-saudara telah memilih jalan yang salah. Saudara-saudara belum lagi membuat ukuran yang baik dan jitu dari musuh-musuh saudara. Ini jelas! KArena saudara-saudara hanya berdasar pada alas an yang tetek bengek saja. Padahal dalam diri Caligula tidak ada tetek bengek. jangan begitu saudara-saudara mempersiapkan untuk jatuh. Kalian harus lebih mempersiapkan diri, jika kalian memandangnya sebagaimana dia yang sebenarnya SESEORANG LAIN Kami memandang dia sebagai penindas yang gila CHEREA Tidak. Kita cukup kenal pada pemimpin-pemimpin yang gila. tapi yang ini belum cukup gila. Yang aku jijikan dalam dirinya adalah ia tahu apa yang dia mau BANGSAWAN I Kamipun tahu, ia mau membunuh kita semua CHEREA Tuan lupa, kematian kita baginya bukan soal yang pokok. Ia memakai kekuasaannya untuk kepentingan untuk suatu nafsu yang lebih tinggi dan lebih tajam. nafsu ini mengancam segala yang kita anggap suci. Ia adalah pemimpin yang punya kekuasaan yang tidak terbatas. Ini baru terjadi pada seseoranng yang tidak membatasi pemakaian kekuasaan dan menganggap manusia dan dunia yang kita kenal, tidak berharga sama sekali. Ini yang mengerikan aku terhadap Caligula dan ini yang harus kita lawan. Kehilangan jiwa bukanlah suatu yang besar. Jika sampai waktunya, aku pun cukup tabah untuk mengorbankan jiwaku. tapi kalau soal tujuan hidup ia tidak bisa menyatakan bahwa hidup tidak ada artinya sama sekali. Seorang manusia tidak bisa hidup tanpa suatu tujuan BANGSAWAN I Pembalasan dendam adalah suatu tujuan CHEREA Ya dan aku akan ikut. tapi jangan lupa bahwa hal ini kulakukan bukan atas dasar tanggungan saudara-saudara, atau bukan pula untuk menolong saudara-saudara untuk membalaskan kemarahan yang tak berarti. Tidak, Jika aku menyatukan diri dengan kalian, maka ini adalah karena aku mau melawan sebuah cita-cita besar – sebuah cita-cita yang jika ia menang akan memusnahkan segalanya. Ia merubah filsafatnya jadi mayat manusia, sedangkan filsafat ini – celakanya – mulai dari awal sampai akhirnya cukup logis, cukup masuk akal. Kita akan memukul jika pikiran kita tidak dapat lagi menjelaskan SEBUAH SUARA Kita harus bertindak CHEREA Kita harus bertindak, aku setuju. Tapi serangan dari depan tidak ada artinya jika kita menghadapi seorang pemimpin gila yang sedang berada di puncak kebesarannya. Kita boleh mengangkat senjata melawan seorang penindas, tapi muslihat diperlukan untuk menghancurkan niat jahat. Kita hanya dapat mengusulkan supaya mengikuti liku-liku pikirannya, dan menunggu kesempatan sampai logikanya karam dalam suatu kegilaan yang betul. Yang mendorong aku bukan ambisi, tapi ketakutan, ketakutanku yang wajar terhadap pandangan yang mengerikan dimana kehidupan tidak lebih artinya daripada sebutir debu BANGSAWAN I Aku paham apa yang kau maksud. Bagaimana pun juga yang penting ialah bahwa kau juga merasa seluruh masyarakat terancam. Alasan kita yang terpenting bersifat moril. Kehidupan kekeluargaan kini hancur, rasa hormat terhadap pekerjaan yang jujur tidak ada lagi, suatu gelombang kebobrokan moril memukul keras di dalam masyarakat. Siapa diantara kita yang dapat bersikap tidak peduli terhadap panggilan-panggilan kesalehan dan kejujuran nenek moyang kita yang sedang terancam bahaya!? BANGSAWAN TUA Apakah kalian mau membiarkan diri dipanggil “Cintaku sayang”? SESEORANG Dan istri kita direbut dan dirusak? SUARA LAIN Dan harta kita? SEMUA Tidak!? BANGSAWAN I Cherea, nasehatmu baik sekali, dan usahamu menenangkan kami sangat terpuji. Memang belum matang untuk bertindak. Sudikah kau bersama kami menentukan kapan saat sebaiknya untuk memberikan pukulan dengan akurat? CHEREA Ya, aku bersedia. Sementara ini biarkan Caligula mengikuti angan-angannya. Malah sebaiknya mari kita usulkan dia untuk melakukan rencana-rencananya yang paling gila. Mari kita masukan suatu system ke dalam kegilaannya. Nanti suatu hari akan tiba, dimana ia tinggal sendiri bersama angannya TERDENGAR SUARA HIRUK PIKUK, BUNYI TEROMPET KEDENGARAN DI LUAR. LALU DIAM, TAPI SUARA KECIL MEMBISIKAN NAMA CALIGULA ADEGAN 3 CALIGULA DAN CAESONIA MASUK DIIRINGKAN OLEH HELICON DAN BEBERAPA ORANG PENGAWAL. SEMUA DIAM. CALIGULA BERHENTI DAN MEMANDANGI PEMBERONTAK-PEMBERONTAK ITU. DENGAN TIDAK BERKATA SEPATAH KATA PUN, IA PERGI DARI KELOMPOK BANGSAWAN DAN YANG LAIN SATU PERSATU DIPERHATIKAN, DIBETULKAN SIKAP BADANNYA, DIPERHATIKAN LALU PERGI TANPA SEKECAP KATAPUN ADEGAN 4 CAESONIA (Dengan ironis sambil menunjukan kekacauan yang terdapat dalam ruang itu) Apa tuan-tuan habis bertengkar? CHEREA Ya, kami habis bertengkar CAESONIA O ya!? Boleh aku tahu apa yang kalian pertengkarkan? CHEREA Tidak apa-apa CAESONIA Jadi, kalau begitu tidak betul? CHEREA Apa yang tidak betul? CAESONIA Kalian tidak bertengkar CHEREA Kalau begitu katamu, apa boleh buat… kami tidak bertengkar CAESONIA (Tersenyum) Barangkali lebih baik kau bereskan tempat ini, Caligula tidak suka pada tempat yang kotor HELICON (Pada Bangsawan tua) Jangan sampai mati, atau paling tidak sengsara, karena tuan memaksa dia melakukan sesuatu diluar wataknya BANGSAWAN TUA Maaf. Apa yang telah kami lakukan? HELICON Tidak apa-apa. Justru tidak apa-apa. Mengagumkan sekali perasaan sia-sia dalam hal ini. Bisa menjadikan kita sakit syaraf. Coba, misalkan tuan jadi Caligula? (Diam sebentar) Aku mengerti, rupanya kalian sedang asyik membuat komplotan BANGSAWAN TUA Ini kelewatan. Aku berharap Caligula tidak akan mengira….. HELICON Ia tidak mengira. Ia tahu, tapi kukira pada dasarnya, hal ini menyenangkan hatinya juga. Tapi mari kita bereskan tempat ini SEMUANYA MEMBERESKAN. CALIGULA MASUK. IA MEMPERHATIKAN YANG SIBUK MEMBERESKAN ADEGAN 5 CALIGULA (Pada bangsawan tua) Selamat, cintaku sayang (Pada yang lain) Saudara-saudara, aku sedang menuju pelaksanaan hukuman mati. Tapi alangkah baiknya aku mampir ke tempatmu Cherea, untuk bersantap sedikit. Aku sudah memerintahkan supaya dibawa makanan kemari untuk kita semua. Tapi panggilah istri-istri kalian dulu (Diam sesaat) Rafius harusnya bersyukur aku merasa lapar (Diam penuh rahasia) Aku mau mengatakan sesuatu pada kalian. Rafiuslah, Ksatria yang mau dihukum mati hari ini (Diam lagi) Ada apa ini? Tidak seorang pun diantara kalian yang bertanya mengapa ia kusuruh dibunuh? (Tak seorang pun yang bicara. Sementara itu pelayan-pelayan menghidangkan makanan) Bagus, bagus! Rupa-rupanya saudara-saudara sudah mulai mengerti dan agak cerdas sekali (Ia menyantap buah anggur) Bahwa seseorang untuk beroleh hukuman mati, tidak perlu melakukan perbuatan salah. Aku bangga atas diri kalian (Tiga perempuan masuk) Bagus, mari kita duduk, hari ini tidak ada protokoler, acara santai (Semua duduk) Sahabat kita Rafius untung besar tapi aku tidak tahu apa ia senang dengan pengunduran ini? Kematiannya ditangguhkan beberapa jam. Itu sama nilainya dengan emas! (Ia mulai makan, yang lain juga ikut makan. Caligula memperlihatkan cara makan yang buruk sekali. Batuk, melemparkan biji ke piring orang lain, meludah, minum dengan berkumur, mencungkil sisa makanan di gigi dll. Dia rileks aja tak ada tanda merasa salah apalagi minta maaf. Tiba-tiba ia berhenti makan. Memandang kea rah Lepidus dan bicara dengan kasar) Kau marah kelihatannya, Lepidus. Apa karena anakmu kubunuh? LEPIDUS (Gugup) Tidak, tuan. Bahkan sebaliknya. CALIGULA (Meniru Lepidus) “Bahkan sebaliknya”. Aku selalu senang melihat wajah yang menyembunyikan rahasia hati. Wajahmu suram, bagaimana hatimu? Bahkan sebaliknya, bukan begitu Lepidus? LEPIDUS (Sedikit marah tapi grogi) Bahkan sebaliknya, tuan CALIGULA (Makin senang dengan keadaan seperti itu) Percayalah, Lepidus. Tidak ada orang yang lebih kusenangi selain engkau. Kini mari kita bergembira bersama. Coba ceritakan sebuah cerita lucu…. LEPIDUS (Tak dapat menahan lebih lama) Tu, tuan…. CALIGULA Baik, baik! Kalau begitu, aku saja yang cerita. Tapi kau Lepidus, kau akan tertawa, bukan? (Dengan pandangan jahat) Biarpun untuk keselamatan anakmu yang kedua (Sinis) Pendekanya, sebagaimana kau katakan kau tidak berada dalam gundah. Bahkan….Bahkan…. Ayolah lepidus….Bahkan….. LEPIDUS(Dengan susah) Bahkan sebaliknya, tuan CALIGULA (Ketawa) Bagus-bagus….(Minum) Sekarang dengarkan. Pada suatu ketika hiduplah seorang pemimpin muda yang tidak dicintai oleh siapapun juga. ia cinta pada Lepidus. untuk memusnahkan cinta ini dari hatinya, amak dibunuhlah anak Lepidus yang bungsu (Lebih bersemangat) Tidak usah disebutkan, bahwa hal ini tidak betul sama sekali. Tapi bagaimana pun juga cerita ini masih cukup lucu bukan? Tapi kau tidak tertawa, tak seorang pun tertawa, kalian dengar! (Marah) Aku perintahkan semuanya untuk tertawa! Kau Lepidus, pimpin paduan suara ini! Ayolah, semua berdiri dan ketawa (Memukul meja) Apa kalian dengar apa yang kukatakan! Aku mau kalian semua tertawa! (semua hadirin yang hadir berdiri. Dalam adegan ini, semua pemain berlaku seperti boneka dalam pertunjukan wayang, kecuali Caligula dan Caesonia. Caligula senang dan tertawa di tempatnya, kayak orang gila) Oh, Caesonia, lihatlah! Permainan selesai sudah. Kehormatan, kecerdasan dan martabat seluruh negeri, hilang ditiup angina. Angin ketakutan telah meniupnya sampai habis. katkutan Caesonia. – moga-moga kau setuju – adalah suatu keharusan yang mulia, murni bersahaja dan berdiri sendiri (Ketawa dan minum) Ya, ya. Mari kita bicarakan apa saja. Apa pikiranmu, Cherea? Kenapa kau ajdi pendiam? CHEREA Aku sedia untuk bicara, dengan izinmu CALIGULA Bagus. Kalau begitu jangan hanya bicara, tapi aku ingin mendengar kawan kita Mucius bicara lebih dulu MUCIUS (Dengan enggan) Dengan segala senang hati, tuan CALIGULA Ceritakan sedikit pada kami perihal istrimu. Sebelum itu, suruh dia duduk di sini, di sebelah kananku (IStri Mucius duduk di sebelah Caligula) Nah, Mucius. Kami menunggu MUCIUS (Hampir tak tahu apa yang mesti dikatakan) Istriku. Aku cinta padanya (Yang lain ketawa) CALIGULA Tentu, sahabatku, tentu. Alangkah tololnya kau. Apa tidak ada lagi kata-kata yang lebih cemerlang dari itu. (Caligula bersandar di bahu istri mucius sambil menggelitik wajah dan abdannya dengan hidung, tangan menggerayang ke tubuhnya) Sambil lalu, waktu tadi aku masuk, rupanya kalian sedang merencanakan sebuah komplotan, mau mengkudetaku ya? Suatu pemberontakan yang manis BANGSAWAN TUA Oh, tuan CALIGULA Tidak apa, dik sayang. Usia yang lanjut harus dihormati. Aku tak akan gusar. Tidak seorang pun diantara kalian yang punya kesanggupan untuk menajdi pahlawan…. Ah, aku ingat ada beberapa hal yang masih harus kubereskan. tapi sebelum itu aku mau melepaskan hasrat lelakiku dulu. CALIGULA MENGAJAK ISTRI MUCIUS MASUK KE KAMAR SEBELAH. MUCIUS BERDIRI, TAPI TAK BISA BERBUAT APA-APA ADEGAN 6 CAESONIA (Dengan manis) Mucius, tolong tuangkan anggur itu untukku (Mucius kaku tapi tetap melakukan dengan kaku dan terpaku lagi) Cherea, coba ceritakan mengapa tadi kalian bertengkar CHEREA (Dingin) Dengan segala senang hati, Caesonia. Perceksokan kami timbul dari perdebatan apakah puisi mesti haus darah atau tidak SELAMA ADEGAN INI ADA SUARA-SUARA DI BALIK KAMAR SEBELAH YANG MENANDAKAN ORANG BERCUMBU, SUARA RINTIHAN, SUARA DERIT RANJANG, LENGUHAN , DESAH NAPAS DAN LAIN-LAIN CAESONIA Masalah itu menarik sekali, agak terlalu sulit untuk otakku, tentu. Tapi masih juga aku tercengang melihat ekcintaan tuan-tuan terhadap seni. Tapi kenapa sampai menimbulkan pertengakaran ke arah perkelahian!? CHEREA Itu aku dapat mengerti. Aku ingat ucapan Caligula baru-baru ini. Matanya, setiap kekhususan selalu berguncang keganasan CAESONIA (Sambil makan) Ada benarnya juga. Bagaimana tuan-tuan? BANGSAWAN TUA Tentu. Caligula memiliki pandangan tajam terhadap segi-segi rahasia dri hati manusia BANGSAWAN I Alangkah fasihnya ia waktu membicarakan semangat BANGSAWAN II Ia harus menuliskan pikiran-pikirannya, tentu banyak sekali gunanya CHEREA Dan apa yang lebih penting lagi dari itu. ia dapat mengisi waktunya CAESONIA (Sambil makan) Tuan-tuan akan gembira mendengar bahwa Caligula sepikiran dengan tuan-tuan. Ia sedang mengerjakan sebuah buku kini ADEGAN 7 CALIGULA MASUK DIRINGKAN ISTRI PUCIUS CALIGULA Musicus. Ini kukembalikan istrimu dengan ucapan terima kasih. Maafkan aku masih ada pekerjaan CALIGULA KELUAR DENGAN CEPAT DAN SALAH TINGKAH CAESONIA (Pada Mucius) Buku itu pasti sama tingkatnya dengan kita-kitab lama kita. Mucius, kau dengar apa yang kukatakan? MUCIUS (Pandangannya masih terpaku pada arah Caligula keluar) Ya, perihal apa buku itu Caesonia? CAESONIA (Cuek) Oh, itu aku tak tahu CHEREA Apakah ia membicarakan kekuasaan berdarah dari puisi? CAESONIA Ya, begitulah kukira BANGSAWAN TUA (Riang) Seperti yang dikatakan Cherea tadi, pekerjaan itu akan mengisi waktunya CAESONIA Ya, sayang. Tapi ada sesuatu yang barangkali tak kau suka dari buku itu. Judulnya CHEREA Apa judulnya? CAESONIA “Baja dingin” CALIGULA MASUK DENGAN CEPAT CALIGULA Maaf, ada kepentingan Negara yang mendesak. (Kpeada Pengawal) Pengawal, semua lumbung-lumbung buat umum harus kau tutup. Perintah itu sudah kutandatangani, boleh kau ambil di ruang kerjaku PENGAWAL Tapi…. CALIGULA Besok, kelaparan akan mulai PENGAWAL Rakyat nanti akan berontak CALIGULA (Tegas dan jelas) Kuulangi. Besok kelaparan nasional dimulai. Kita semua tahu apa arti kelaparan adalah suatu bencana. Aku akan mengakhiri bencana ini kapan aku mau. Jika kita mau bebas, maka itu Cuma bisa atas kerugian orang lain. Gila kedengarannya, tapi memang sudah begitu. (Sekilas memandang Mucius) Cobalah prinsip ini pada kecemburuanmu, nanti kau akan mengerti lebih banyak. Dengan begitu kau akan tahu betapa buruknya cemburu itu! Suatu penyakit dari kekenesan dan angan-angan. Coba bayangkan istri kita sendiri…(Mucius greget, begitu mau buka mulut, Caligula mendahului) Nah, saudara-saudara, kita teruskan percantapan kita. Tahukah kalian bahwa aku dibantu Helicon telah bekerja keras. Kami telah menyelesaikan catatan kecil mengenai hukuman mati. Tentang ini tentu banyak yang ingin kalian tanyakan. HELICON Coba, kami ingin tahu pendapat tuan-tuan CALIGULA Kau harus tahu basa-basi Helicon. Antarkan mereka ke dalam rahasia-rahasia kecil kita. Ayolah, berikan mereka sebuah contoh. Bagian ketiga, bab perkara HELICON Hukuman membunuh menentramkan dan membebaskan. Sifatnya universal. Memperkuat dan tepat dalam penggunaannya seperti dalam tujuannya. Seorang manusia mati karena bersalah. Seseorang bersalah karena ia rakyat Caligula. Dengan begitu, maka semua orang bersalah dan harus mati. Cuma soal waktu dan kesabaran. CALIGULA Bagaimana? Kesabaran itu juga bagus dimasukkan. Ketahuilah, yang paling saya senangi pada kalian semua ialah ke sa ba ran. Nah, sekarang sudah saatnya tuan-tuan untuk meninggalkan tempat ini. Cherea tidak memerlukan kalian lagi. Caesonia, aku mau kau tinggal di sini, juga kau Lepidus dan sahabat kita Mereia. Saya mau bicara dengan kalian tentang rumah pelacuran nasional. jalannya tak begitu baik, saya merasa khawatir tentang ini YANG LAIN KELUAR. CALIGULA MENGIKUTI PUCIUS DENGAN MATANYA CHEREA Apa sebabnya ya? Apa pimpinannya tidak cukup pandai? CALIGULA Bukan. Ini soal pendapatan yang anjlok MEREIA Kalau begitu naikkan tariff masuk CALIGULA Kau terlalu tua, aku tidak perlu pendapatmu MEREIA Kalau begitu, kenapa aku disuruh tinggal? CALIGULA Aku perlu gagasan dingin dan tak terburu-buru CHEREA Kalau boleh aku mengutarakan pendapatku dengan nafsu, maka aku menyatakan bahwa salah benar jika ahrga atau tariff masuk dinaikkan CALIGULA Jelas sekali, yang diperlukan adalah perputaran yang lebih besar. Aku telah menceritakan rencanaku ini padaCaesonia dan ia nanti akan menceritakan kembali pada kau. Rupanya aku terlalu banyak minum anggur. Aku mengantuk IA MEREBAHKAN DIRI DAN MENUTUP MATANYA CAESONIA Mudah sekali. Caligula telah menciptakan sebuah bintang jasa yang baru CHEREA Aku belum melihat hubungannya dalam soal ini CAESONIA Belum? Hubungannya ada. bintang ini akan dinamai, bintang pahlawan sipil dan akan dihadiahkan kepada mereka yang paling sering mengunjungi rumah pelacuran Caligula CHEREA Akal dan ide yang luarbisaa, sangat brilian…. CAESONIA Memang. Ah, aku lupa mengatakan, bahwa bintang itu akan diberikan setiap bulan setelah pemeriksaan kartu masuk. Setiap orang dari golongan masyarakat manapun yang belum memperoleh bintang itu dalam dua belas bulan, akan dibuang atau di bunuh CHEREA Mengapa harus begitu? CAESONIA Karena Caligula mengatakan demikian, mereka diberikan hak untuk memilih; Dibuang atau mati CHEREA Sungguh dahsyat. Dua sasaran sekaligus. Mengurangi jumlah kepadatan penduduk dan menstabilkan ekonomi nasional, dengan begitu, moneter mudah-mudahan teratasi CALIGULA MEMBUKA MATANYA SEDIKIT DAN MEMPERHATIKAN MEREIA YANG SUDAH TUA, BERDIRI DI SUDUT. MEREKA MENGELUARKAN SEBUAH BOTOL KECIL DAN MEMINUMNYA SEDIKIT CALGULA (Masih berbaring) Apa yang kau minum Mereia? MEREIA (Kaget) Oh, obat asma, tuan CALIGULA (Bangun, mendekati Mereia, lalu membaui mulutnya) Bukan. ini penawar racun MEREIA Ah, tuan main-main. Betul ini obat asma, akhir-akhir ini asma saya suka kumat CALIGULA Jadi kau takut diracun? MEREIA Asmaku…. CALIGULA Dusta! Mengapa kau sembunyi-sembunyi. kau mengintip aku, kau takut aku meracuni minuman dan makanan tadi. Kau curiga padaku MEREIA Itu tidak betul. Aku berani bersumpah! CALIGULA Sumpah tai kucing! Jika kau minum tangkal racun, artyinya kau memberikan apadku untuk betul-betul meracun kau! MEREIA Bukan….maskudku…. CALIGULA Karena kau curiga padaku, berartib kau siap menggagalkan maksudku (Caesonia dan Cherea mundur ke belakang, sementara Lepidus memperhatikan dengan ketakitan)Itu berarti dua kesalahan dan kesulitan yang tak dapat dielakkan. Seikranya aku inginkan kematianmu, dalam hal ini kau berusaha menghalangi kemauanku (Diam sejenak) Bagaimana Mereia? apa pendapatmu tentang logikaku? MEREIA Kedengarannya….cukup….cukup masuk akal. Ta…. Tapi…tidak ada hubungannya dengan soal asmaku ini CALIGULA Ini kejahatan. Kau menganggapku pander. Dengan menuduhku hendak melakukan sesuatu dan kemudian berusaha menggagalkannya, berarti kau telah melawan. kau seorang pemberontak dan ini artinya keberanian. Aku suka pada orang yang ebrani seperti kau, karena itu aku akan menghukum kau Kau akan mati dengan terhormat. Kematian seorang pemberani (Mengeluarkan sebuah botol kecil. Suaranya ramah) Minum racun ini (Mereia menggelengkan kepala, menangis, memohon, Caligula tak sabar) Jangan menghilangkan waktu! Ayo, minum! (MEreia melepaskan diri, tapi Caligula mencengkram lehernya, mereka bergumul, botol kecil diletakkan di bibir Mereia tapi Mereia berhasil merebut botol itu. Segera Caligula memukul wajah Mereia berkali-kali dan mencekiknya sampai mati. Caligula berdiri tegak, menarik napas dan menggosok-gosokan tangannya. Lalu memberikan botol Mereia pada Caesonia) Isinya penawar racun CAESONIA (Tenang) Bukan. Ini obat asma CALIGULA Tidak apa. akhirnya toh sama saja CALIGULA KELUAR TERBURU-BURU SAMBIL TERUS MENGGESEKKAN TANGANNYA LEPIDUS (Gemetar) Apa yang harus kita lakukan? CAESONIA (Dingin) Singkirkan dulu mayat ini, tidak sedap melihatnya LEPIDUS DAN CHEREA MENGGOTONG MAYAT KE SAMPING LEPIDUS (Pada Cherea) Kita ahrus ebrtindak cepat CHEREA Kita memerlukan banyak orang…. SCIPION MASUK, TAPI BEGITU MELIHAT CAESONIA, IA HENDAK PERGI LAGI CAESONIA Masuklah Scipion SCIPION Perlu apa kau? CAESONIA Kemarilah (Tenang dan mengelus dagu Scipion) Masih ingat ketika ayahmu dibunuh? SCIPION Ya CAESONIA Kau menaruh dendam padanya? SCIPION Ya CAESONIA Kau mau membunuh dia? SCIPION Ya! CAESONIA Buat apa kau berterus terang padaku? SCIPION Karena aku tak takut pada siapapun juga. Membunuh atau di bunuh sama saja. Begitu pula kau tak akan mengkhianatiku CAESONIA Benar. Tapi aku mau bicara hal yang terbaik yang ada pada dirimu SCIPION Yang terbaik dalam diriku adalah balas dendam CAESONIA Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan SCIPION Cepat katakan CAESONIA Sabar dulu, coba gambarkan lukisan kematian ayahmu. Bayangkan darah yang melelh di sudut bibirnya dan dengarkan kembali lolongan dan rintihan saat melepaskan nyawanya SCIPION Ya…ya… CAESONIA Sekarang, coba pikirkan Caligula (Raut wajah Scipion tiba-tiba berubah) Sekarang coba maklumi dia (Caesonia keluar, Scipion diam dan Helicon masuk) HELICON Caligula segera datang kemari. Kau pergilah, penyair SCIPION (Sadar) Helicon, tolonglah aku HELICON Berbahaya, merpatiku. Dan puisi tak berarti bagiku SCIPION Kau dapat membantuku, dan pengetahuan kau banyak HELICON Aku tahu kau mau membunuh Caligula…. Dan ia tidak akan peduli CALIGULA MASUK, HELICON KELUAR CALIGULA Oh, kau? Sudah lama kau tak kelihatan. Apa kerjamu selama ini? Masih menulis? Apa karanganmu yang terakhir? SCIPION (Kikuk, bimbang tak jelas) Aku menulis sajak CALIGULA Tentang apa? SCIPION Eh, tentang alam. Barangkali CALIGULA Tema yang bagus. Apa yang telah dilakukan alam bagi kau? SCIPION (Mengumpulkan kekuatan, dengan nada ironis) Ia telah menghibur aku karena aku tidak menjadi pemimpin negara CALIGULA Betul? Jadi menrut hemat kau alam dapat menghiburku karena aku jadi pemimpin bangsa ini, begitu? SCIPION Mengapa tidak? Alam telah meneymbuhkan luka yang lebih besar dari itu CALIGULA Luka kata kau? Dari nada yang tersimpul, kau marah. Apa karena ayahmu kubunuh? Luka….tepat sekali. Ya, ya…. Tidak ada yang lebih baik untuk mengembangkan kecerdasa daripada kebencian dan dendam SCIPION (Kaku) Aku menjawab tanyamu tentang alam CALIGULA DIAM, MENATAP SCIPION LALU MENDEKATINYA DANG DENGAN KASAR MENARIK WAJAHNYA OLEH KEDUA TANGANNYA CALIGULA Bacakan sajakmu untukku SCIPION Tidak. jangan suruh aku CALIGULA Mengapa tidak!? SCIPION Aku lupa CALIGULA Apa tidak bisa kau ingat? SCIPION Tidak CALIGULA Ceritakan saja isinya SCIPION Aku menulis tentang keselarasan CALIGULA (Memotong) Antara bumi dan telapak kita SCIPION (Sebenarnya bingung) Ya, hampir serupa itu, dan juga tentang raut wajah ibu pertiwi dan getar yang dibawa angina sejuk…. CALIGULA (Melepaskan Scipion) Dan burung bercengkrama diudara… SCIPION Ya, ya….Dan saat yang indah waktu langit disirami dengan warna emas, dihiasi bintang… CALIGULA Wangi yangs edap dari dedaunan dan air yang menguap…. SCIPION (Dalam semacam ekstase) Ya, dand erik Jangrik, kokok ayam, kicau burung….kenyamanan udara berbukit-bukit CALIGULA Dan jalanan tenggelam dalam bayangan berliku antara kebu-kebun the, sawah…. SCIPION Ya. Ya, serupa itu betul! Bagaimana kau tahu!? CALIGULA (Sambil menarik Scipion ke dadanya) Entahlah, barangkali kita mencintai kebenaran yang sama! SCIPION (Gemetar karena terharu, menekankan kepalanya ke dada Caligula) Ah, peduli apa. yang aku tahu betul ialah bahwa segala yang kurasa atau kupikirkan, akhirnya menjadi cinta CALIGULA (Sambil mengelus kepala Scipion) Itu adalah hak istimewa dari hati yang mulia. Ah, ingin aku menyertai kejernihanmu. Tapi kesukaanku pada hidup masih besar. Tidak mungkin dipuaskan alam. Kau tidak akan mengerti itu. Dunia kau adalah dunia yang lain. Arah kau sering berbuat kebaikan, sedangkan arahku semata untuk kejahatan SCIPION Aku mengerti CALIGULA Tidak. Ada sesuatu dalam diriku, sebuah danau keheningan, sebuah lubuk air tidak mengalir, tetumbuhan yang busuk (Melepaskan pelukan dan sedikit berubah) Sajakmu itu memang bagus kedengarannya. Tapi kau suka mendengarkan pendapatku yang sebenarnya…. SCIPION (Sikapnya masih seperti tadi) Ya…. CALIGULA Sajak itu kurang darah SCIPION (Terlompat tiba-tiba seolah-olah digigit ular lalu memandang dengan nanar kea rah Caligula dan ia berteriak) Betapa buasnya kau! Mahluk buas yang menjijikan! Kau menipu aku lagi. Kau mempermainkan aku lagi, dan kini kau puas. CALIGULA (Santai dan cuek) Ada juga benarnya apa yang kau katakan itu. Aku memang tadi bermain SCIPION (Masih marah) Alangkah kotor dan hitamnya hatimu. Kau menderita dari kejahatan dan kebencianmu itu CALIGULA Sudahlah SCIPION Aku kasihan melihat kau CALIGULA (Marah) Cukup kataku! SCIPION Alangkah getir kesunyian kau ini CALIGULA (Marah dan memgang bahu Scipion dan mengguncangnya) Kesunyian! Kesunyian. Apa kau tahu tentang itu? Cuma kesunyian penyair dan segala orang yang lemah. Kau mengoceh tentang kesunyian, tapi kau tidak tahu manusia tidak pernah sendiri. Kita selalu diikuti oleh beban yang sama dari masa lalu dan masa datang, mereka yang kita bunuh selalu bersama kita. Tapi mereka bukanlah halangan yang besar. Sesal, rindu, getir, kenikamtan, lonte dans egala rombengan. Selalu, selalu mengikuti kita (Melepaskan Scipion lalu mundur) Sendiri! Ah, sekiranya dalam kesunyian in, dalam belantara yang dirasuki hantu, sekiranya dalam hal ini aku dapat mengenal, biarpun untuk sesaat, keheningan yang sebenarnya, kesunyian sebenarnya. kesenyapan pohon yang mendenyutkan! (Duduk seperti kelelahan) Sunyi!? Tidak, Scipion! Ia penuh dengan gemeretak gigi, menegrikan karena suara dan bunyi yang memekik-mekik Jika aku bersama perempuan-perempuan yang kumiliki dan gelap melingkupi, aku berpikir, kini tubuhku telah beroleh kepuasan sehingga aku merasa diriku punyaku sendiri, terombang-ambing dalam hidup dan mati. Kesunyianku penuh dengan bau kenikmatan yang datang dari perempuan yang tergelimpang di sampingku CALIGULA DIAM, KELIHATAN GUNDAH DAN SUSAH. SCIPION BERGERAK DI BELAKANGNYA MENDEKATI CALIGULA. DENGAN PERLAHAN DIULURKAN TANGANNYA KE ARAH CALIGULA, LALU DILETAKKAN DI ATAS BAHU CALIGULA. DENGAN TIDAK MEMBALIK KEBELAKANG, CALIGULA MELETAKKAN TANGANNYA DI ATAS TANGAN SCIPION SCIPION Setiap manusia punya penghibur dalam hidupnya. Sebagai penopang dalam melajnutkan hidupnya. Ia selalu kembali pada itu jika cobaan sudah terlalu besar CALIGULA Betul Scipion SCIPION Apakah kau tak punya seeprti itu dalam hidupmu? Apa tidak ada tempat untuk lari? Tak adakah perasaan yang membuat air mata mengalir? Tak ada pembujuk? CALIGULA Ada juga SCIPION Apa? CALIGULA( Dengan tenang) Rasa anggapan rendah BLACK OUT BABAK III ADEGAN 1 SEBUAH HALAMAN ISTANA ATAU RUMAH CALIGULA. SUASANA PESTA, ADA PANGGUNG KECIL, KURSI KEHORMATAN, KURSI-KURSI UNDANGAN DAN KURSI LAINNYA, JUGA MEJA UNTUK MENYIMPAN BARANG SUMBANGAN WARGA DAN UANG. SEBUAH ALAT MUSIK DAN PEMAINNYA. HARI ITU HARI SUMBANGAN UNTUK NEGARA DAN PEMERINTAH DARI MASYARAKATNYA. HELICON MENJADI MC CAESONIA ATAU YANG LAIN (WANITA) MENJADI PENYANYI. CALIGULA DUDUK DENGAN PARA SAHABATNYA, JUGA PARA BANGSAWAN, UNDANGAN HELICON Yang terhormat pimpinan nasional, tuanku Caligula. yang terhormat pejabat dan petinggi Negara. Yang terhormat para pengusaha, Wakil daerah dan undangan serta masyarakat Caligula yang kami cintai. hari ini merupakan hari berbahagia bagi kita semua, karena hari ini adalah hari perayaan “Sumbangan Nasional” untuk Negara dan pemerintah. Setiap individu dari masyarakat Caligula , wajib hukumnya menyumbang Negara sesuai kemampuannya. Satu hal lagi yang tidak kalah penting, yaitu. Setiap laki-laki dewasa diwajibkan untuk mengunjungi rumah pelacuran nasional yang tersebar di berbagai kota dan pelosok negeri in. Hari ini merupakan hari pertama untuk kewajiban hal tadi di atas, makanya sekaligus dirayakan untuk peresmiannya oleh tuanku Caligula. Beliau telah mengarang sebuah doa untuk dirinya sendiri dan negeri ini. Doa ini akan dinyanyikan oleh seorang penyanyi kondang negeri ini; Caesonia…. CAESONIA Dewi duka dan kenikmatan Terlahir di laut, getir dan terang karena busa Dewi yang mengkaruniakan tawa dan sesal Dendam dan gairah Tujukkan kami ketidak pedulian yang menyalakan cinta kembali Ajarkan kami kebenaran tentang dunia ini Kebenaran yang sebetulnya tidak ada Berilah kami kekuatan untuk hidup Menurut kebenaran dari segala kebenaran ini Kayakanlah kami dengan pemberianmu Dan siram wajah kami dengan cahaya kebengisanmu yang tak berpihak Dan kebencianmu yang sewemang-wenang Bukalah di atas mata kami Tanganmu yang penuh bungan dan pembunuhan Terimalah kembali anak-anakmu Yang mengembara ke dalam tempat suci cintamu Yang tak kenal hati dan terima kasih Berikan pada kami nafsu yang tak bertujuan Kekesalan yang tak punya sebab Dan kegairahanmu yang tak punya tujuan Wahai dewi, begitu kosong, begitu bersemangat begitu baik, begitu bersifat duniawi Mabukkan kami dengan anggur kesama hargaanmu Kenyangkanlah kami untuk selama-lamanya Dalam payau hitammu CALIGULA Bgaus! Bagus! Nyanyian yang indah, doa yang indah, mudah-mudahan dikabulkan dan pasti terkabul Ayo, mana derma kalian… (Semua hadirin satu persatu memberikan dermanya di meja yang telah disediakan. Ada uang juga perhiasan. lalu mereka berbaris ke sebelah kanan) Sebentar-sebentar! Kalau mau keluar, lebih baik ke sebelah kiri. Aku telah menempatkan prajurit sebelah kanan, dengan perintah supaya memanggal kepala kalian (Semuanya keluar ke sebelah kiri dengan cepat dan agak kacau) ADEGAN 2 SCIPION (Pada Caligula) Kau telah berbuat murtad, tuan Caligula CALIGULA Murtad. Apa itu? SCIPION Kau telah menghina langit setelah mendarahi bumi HELICON Anak muda memang suka kata-kata besar! CAESONIA (Pada Scipion) Kau lebih baik, hati-hati, anak muda. Saat ini, di negeri ini orang bisa mati karena mengucapkan perkataan seperti kau itu SCIPION Mungkin. Tapi aku telah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Caligula CAESONIA kau dengar itu Caligula? Ini yang masih kurang dalam pemerintahanmu. Seorang moralis muda yang berani CALIGULA Apa betul kau yakin pada Tuhan, Scipion? SCIPION Seseorang mungkin tidak merasa perlu untuk mengotorinya, atau pun meniadakan hak seseorang untuk yakin, biar pun seseorang itu adalah orang yang ingkar…. CALIGULA Itu rendah hati namanya. Aku puas dengan keadaan kau ini. AKu sedikit iri hati pada kau.Rendah hati adalah satu-satunya rasa yang tidak pernah kumiliki SCIPION Kau bukan irihati padaku, tapi pada Tuhan! CALIGULA Kalau kau tak keberatan, itu akan tetap jadi rahasia kami – teka-teki besar pemerintahan ini. Kau tahu, orang hanya dapat menyalahkan aku akrena satu hal saja, aku telah melangkah lebih maju dari orang lain dan di atas jalan kemerdekaan. Bagi seseorang yang mencintai kekuasaan, persaingan Tuhan memang agak sedikit mengganggu. Tapi aku telah membuktikan pada dewa-dewa yang tak ada, bahwa setiap manusia tidak usah mendapat latihan dulu, jika ia pergunakan pikiran untuk berstrategi memainkan peranan dewa-dewa yang edan itu sampai sempurna SCIPION Itulah yang dinamakan murtad CALIGULA Bukan, Scipion. Itu adalah pikiran yang terang namanya. AKu telah menyadari berkali-kali, hanya ada satu jalan untuk menyamai dewa-dewa itu, yakni orang harus berlaku bengis seperti mereka SCIPION Orang harus bertidak Dzalim, begitu? CALIGULA Coba katakan, apa yang dimaksud dengan orang dzalim itu? SCIPION Suatu jiwa yang buta! CALIGULA Belum tentu. Seorang dzalim adalah seorang yang mengorbankan rakyat dan Negara untuk kepentingan cita-citanya sendiri. Sedangkan aku tidak punya cita-cita. Dan bagiku tak ada yang ingin kucapai dengan pertolongan kekuasaan dan kebesaran. Kalaupun kekuasaanku kupergunakan, maka itu hanya untuk mengimbangi SCIPION Mengimbangi apa? CALIGULA Kebodohan dan kebencian para dewa SCIPION Benci tidak dapat mengimbangi benci. Kekuasaan bukan peyelesaian. Hanya ada satu cara untuk mengimbangi keseteruan bumi ini CALIGULA Apa? SCIPION Kemiskinan CALIGULA Aku akan mencoba itu SCIPION Sementara itu mayat bergelimpangan di keliling kau CALIGULA Ah, itu Cuma berapa!? Aku mencoba memainkan peranan nasib. AKu pakai wajah jahat dan ajaib semi seorang dewa dalam dinas. Itulah yang dipuja oleh semua lelaki yang tadi hadir bersama kau disini SCIPION Kemurtadan yang sejati CALIGULA Bukan, Scipion. itu yang dinamakan seni drama. Kesalahan manusia ialah menganggap drama itu bukan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh. Jika hal ini dipahami, setiap manusia akan dapat menjadi peran utama dalam sandiwara dewa-dewa ini dan kemudian menjadi dewa. Caranya, ia harus mengebalkan hatinya SCIPION Mungkin benar. Tapi jika ini benar, maka kau telah melakukan segala usaha untuk menentang sepasukan dewa-dewa manusia yang gelisah seperti kau. Menenggelamkan dalam darah, kedewaanmu yang berumur sesaat itu CAESONIA Scipion! CALIGULA Caesonia, biarkan dia! Ya, Scipion. Barangkali kau tak tahu telah menerka suatu kebenaran. AKu telah melakukan segala usaha ke arah itu. Susah bagiu untuk menggambarkan kejadian yang kau bicarakan itu. Tapi aku sering memimpikannya. Dan segala wajah yang muncul dari gelap dengan amarah, takut dan benci. AKu gembira karena telah melihatnya. buruk dan busuk bagi hati manusia. Sekarang pergilah, sudah lebih dari cukup kau disini SEMUA PERGI KECUALI HELICON ADEGAN 3 CALIGULA Helicon! (Sambil terus mencat kukunya) HELICON Ya? CALIGULA Bagaimana pekerjaan kau? HELICON Pekerjaan apa? CALIGULA Tentang itu…. Bulan HELICON Ah, betul juga, Bulan! Soal waktu dan kesabaran, aku ingin sedikit bicara dengan kau CALIGULA Asal singkat saja HELICON Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Penting! CALIGULA (Seolah tak mendengarkan) Ingat, ia pernah kudapat! HELICON Apa? Siapa? CALIGULA Bulan HELICON Oh, tentu, tentu. Begini, Apa kau tahu orang-orang berkomplot untuk menjatuhkanmu!? CALIGULA Lebihnya lagi, aku memiliki dia seluruhnya. Tapi Cuma dua-tiga kali HELICON Sudah lama aku hendak menyampaikan ini padamu CALIGULA Ini terjadi musim panas lalu, begitu sering ia kuelus-elus di tiang-tiang marmer di kebun, sehingga akhirnya ia mengerti HELICON Jangan main-main, ini serius! Ini kewajibanku untuk menyampaikannya padamu. Kau akan menyesal jika kau tutup telingamu CALIGULA Gincu ini tidak baik. Kembali masalah bulan, waktu itu adalah bulan September, suatu malam yang jernih. Ia kelihatan tersipu-sipu. Aku sudah beradu. Mula-mula ia merah darah, rendah di tepi langit. Kemudian ia mulai naik, makin lama makin cepat, lebih terang, makin tinggi, makin pucat, hingga akhirnya ia tak ubahnya sebuah kolam susu di tengah hutan. Meriah ditaburi bintang. Perlahan dengan agak malu ia menghampiri leeway udara malam yang panas, lembut, ringan tak bertara dan telanjang. Ia langkahi ambang pintu kamarku, meluncur ke tempat tidurku, lalu dituangkan dirinya ke dalamku dan akhirnya direndamnya aku dengan kehangatan dan senyumannya…..Ah, gincu ini betul-betul tidak beres. Jadi kau tahu Helicon, dengan tidak menyombong aku dapat mengatakan, bahwa aku pernah memilikinya. HELICON (Kesal) Maukah kau mendengarkan dan menyadari bahaya apa yang sedang mengancam!? CALIGULA (BErhenti mewarnai kaki dan memandang Helicon) Aku Cuma inginkan bulan, Helicon. Sudah lama aku menyadari ancaman itu. Belum lagi kuhabiskan segala yang dapat membuat aku hidup terus. Itu makanya aku inginkan bulan. Dan kau tak usah kembali ke sini sebelum bulan kau peroleh untukku HELICON Baiklah. tapi aku akan melakukan kewajibanku dan mengatakan padamu apa yang kuketahui. Sebuah komplotan sedang disusun untuk menentang kau. Pimpinannya Cherea. Aku menemukan dokumen ini, kau harus tahu isinya dan ini kuletakkan di sini (Ia meletakkan dokumen itu lalu pergi) CALIGULA Kau mau kemana, Helicon? HELICON (Sambil pergi) Mencari bulan untuk kau ADEGAN 4 SUARA LANGKAH KAKI YANG TERBURU-BURU DISELINGI BATUK, CALIGULA MENUNGGU DAN TERNYATA BANGSAWAN TUA BANGSAWAN TUA (Bimbang) Maafkan saya…. CALIGULA Bagaimana, Sayang. Kau rindu padaku ya? BANGSAWAN TUA Maaf, maksudku….Aku sebetulnya sangat setia padamu. Satu-satunya kenginanku ialah mengakhiri hidup ini dengan segala ketenangan CALIGULA Omong apa kau ini? BANGSAWAN TUA Begini….Soal ini sangat penting CALIGULA Tidak. Tidak penting BANGSAWAN TUA Apa maksudmu, tuan Caligula? CALIGULA Kita bicara perkara apa, manisku? BANGSAWAN TUA (Gelisah, memandang sekeliling) Maksudku, orang bikin komplotan menentang kau CALIGULA Nah, kan. Seperti kukatakan tadi, itu tidak penting sama sekali BANGSAWAN TUA Mereka mau bunuh kau, mengkudeta kau… CALIGULA (Mendekat dan memegang bahunya) Kau tahu, kenapa aku tidak percaya pada kau? BANGSAWAN TUA Demi para dewa… CALIGULA (Memotong) Jangan bersumpah. Dengarkan baik-baik. Misalkan saja apa yang kau beritakan itu betul. Berarti kau telah mengkhianati kawan-kawanmu sendiri, begitu kan!? BANGSAWAN TUA Maksudku, karena kasihku padamu CALIGULA Itu tak masuk akal bagiku. Aku benci pada sikap pengecut seperti kau ini, sehingga aku tidak pernah dapat menahan diri untuk menjatuhkan hukuman mati pada pengkhianat-pengkhianat macam kau. Tapi aku kenal kau, kawan baik. Dan aku tak ingin kau mati karena berkhianat BANGSAWAN TUA Ya, tentu CALIGULA Aku tak mempercayai kau dan aku bukan manusia pengecut, yak an? BANGSAWAN TUA Tidak, oh…tentu bukan CALIGULA Juga bukan pengkhianat? BANGSAWAN TUA Itu kau sendiri tahu… CALIGULA Jadi, kalau begitu tidak ada komplotan sama sekali. Yang kau ceritakan itu hanya olok-olok, kan? BANGSAWAN TUA Ya, ya. Hanya olok-olok (Dengan lemah) CALIGULA Kalau begitu,tidak ada orang yang bunuh aku kan? BANGSAWAN TUA Tidak ada. Tidak ada sama sekali CALIGULA Kalau begitu, pergilah sayang. Seorang lelaki yang punya kehormatan sekarang ini adalah seekor hewan yang begitu jarang kelihatan, sehingga aku tak tahan melihatnya lama-lama. Aku ingin sendiri menikmati pengalaman yang luar bisaa ini. ADEGAN 5 CALIGULA MEMANDANG NANAR DENGAN TAK BERGERAK BEBERAPA SAAT LAMANYA KE ARAH WARKAH/DOKUMEN/SURAT ITU. KEMUDIAN DIAMBILNYA, LALU IA BACA, KEMUDIAN IA MENARIK NAFAS PANJANG, SESUDAH ITU PANGGIL PENGAWAL CALIGULA Bawa Cherea kemari. (Pengawal pergi) Sebentar (pengawal berhenti) Perlakukan ia dengan sopan (Caligula mondar-mandir, mendekati cermin) Jadi kau telah memutuskan kau untuk berpikir logis, dungu! Logis untuk selama-lamanya. Soalnya kini, kemana kau akan sampai dengan ini? (Ironis) Jika bulan dapat dibawa kemari, Maka segalanya akan lain. Begitu kan? Lalu yang mustahil akan jadi mungkin. Dalam sekejap mata semuanya akan berubah. Mengapa tidakk, Caligula!? Siapa tahu ( Ia memandang sekeliling) Makin lama makin sedikit orang di sekitarku. Aku ehran, kenapa bisa begitu? (Bicara lagi pada cermin) Kebanyakan yang mati, ini yang membuat kosong. Tidak, biarpun aku peroleh bulan, aku tak akan dapat lagi mengulangi langkahku. Bahkan biarpun mereka yang mati bergetar kembali di bawah belaian matahari, si pembunuh tak akan masuk karena itu (Marah) Logika, Caligula. Ikutkan dia terus. Kekuasaan tanpa batas. Keinginan tiada batas. tidak, tidak ada jalan kembali. Aku harus terus, terus sampai sempurnaaaa ADEGAN 6 CALIGULA DUDUK DIKURSINYA, SAMBIL MENYELIMUTI DIRINYA DENGAN BANTAL, CHEREA MASUK CHEREA Kau memanggilku, Caligula? CALIGULA Ya, Cherea (Keduanya diam sesaat) CHEREA Ada yang mau kau katakan? CALIGULA Tidak, Cherea (Diam lagi) CHEREA (Agak sedikit jengkel) Tapi, betulkan kau memerlukan kehadiranku di sini? CALIGULA Ya, Cherea (Diam lagi sesaat) Maaf Cherea. Sikapku agak kasar. Aku lagi mengikuti pikiranku. Duduklah, kita ngobrol. Aku ingin betul bertukar pikiran dengan seorang cendekia (Cherea duduk untuk pertama kalinya sejak sandiwara ini dimulai) Cherea, Apa kau percaya dua orang yang sama sifat dan keangkuhannya, akan dapat berbicara dari hati ke hati? Biarpun hanya untuk sekali? Dapatkah mereka membuka diri seluruhnya, mengenyampingkan prasangka mereka, kepentingan diri sendiri dan segala dusta yang jadi modal hidupnya? CHEREA Ya, Caligula, aku kira mungkin saja. Tapi kau tak akan sanggup melakukan itu. CALIGULA Kau benar, Cherea. Aku Cuma ingin tahu apa kau sependapat denganku. Kalau begitu mari kita pakai topeng kita kembali dan kita siapkan segala dusta kita. Dan kita akan bciara seperti dua orang panglima berkelahi, dilindungi oleh perisai di segenap tubuhnya. Cherea, mengapa kau tidak suka padaku? CHEREA Karena tidak ada yang dapat disukai darimu. Perasaan seperti itu tidak dapat dipesan. Aku sangat paham tentang kau. Seseorang tidak mungkin menyukai suatu sifat dari orang itu sendiri yang selama ini selalu ia coba sembunyikan CALIGULA Tapi mengapa kau benci padaku? CHEREA Kau salah sangka, aku tidak benci pada kau. aku menganggap kau jahat dan bengis, Cuma sayang pada diri sendiri dan sombong. Tapi aku tak mungkin membenci kau. Aku tak yakin kau berbahagia. Dan aku tak dapat menghina kau, karena kau tahu kau bukan pengecut CALIGULA Kalau begitu, mengapa kau mau membunuhku? CHEREA Telah kukatakan tadi. Kau merusak. Aku ingin ketentraman, orang tidak bisa hidup dalam dunia pikiran edan yang bisa saja menjadi kenyataan. Ia selalu mungkin memasuki kehidupan mereka, seperti sebuah belati penusuk jantung. Aku dan yang lainnya tidak suka hidup dalam dunia seperti itu. AKu ingin tahu kepastian hidup dan aku ingin keamanan. CALIGULA Keamanan dan logika itu tidak sejalan CHEREA Itu benar, Memang tidak sesuai dengan logika, tapi dapat diterima akal CALIGULA Lalu? CHEREA Tidak ada lagi. Aku tidak bisa masuk pada logikamu. Pendapat kita tentang kewajiban sebagai manusia, berbeda sekali. Tapi aku tahu sebagian besar rakyatnya sependapat denganku. Perasaan mereka yang dalam telah kau perkosa. Sudah pada tempatnya dan sudah waktunya jika kau…enyah CALIGULA Cukup jelas dan cukup masuk akal. Kuakui, untuk sebagian besar manusia, hal itu adalah wajar. Tapi kau, kau orang pintar. Karena beroleh kepintaran ini, orang harus membuat pilihan satu diantara dua: Kau harus membayar harga kepintaran itu atau melepaskannya kembali. Kalau aku akan kubayar. Tapi kenapa kau tak suka membayar dan tak suka melepaskannya? CHEREA Karena yang kuinginkan adalah hidup dan kebahagiaan. Menurut hematku tidak mungkin jika orang memaksakan keedanan itu sampai keputusannya yang logis. Seperti kau lihat aku adalah manusia bisaa. Memang ada saatnya aku bebas dari mereka, ku inginkan kematian orang-orang yang kucintai, atau aku menginginkan perempuan yang sebetulnya tak boleh kujamah. Sekiranya logika mutalk sifatnya, maka pada saat itu, tentu aku akan membunuh. Tapi aku menganggap pikrian-pikiran itu sesat dan dan sesat itu bodoh! Jika setiap orang menurutkannya, maka dunia ini tidak pantas didiami dan kebahagiaan pun tak akan pernah ada. Ini kukatakan sekali lagi yang kuanggap penting CALIGULA Jadi, kau yakin pada azas-azas lebih agung? CHEREA Ya CALIGULA Jadi semua orang berada di kedudukannya yang sama? CHEREA Ya. karena itu aku tak benci pada kau. Aku mengerti. bahkan sampai batas tertentu, aku sependapat dengan kau. Tapi kau mendatangkan celakan dan malapetaka. karena itu kau harus pergi CALIGULA Itu benar. Tapi mengapa kau korbankan nyawamu dengan menceritakan ini padaku!? CHEREA Karena orang lain akan menggantikan aku, dan karena aku tak suka berdusta KEDUANYA DIAM SESAAT CALIGULA Cherea! CHEREA Ya…. CALIGULA Percayakah kau, bahwa dua orang yang sama sifat dan kebanggaannya, biarpun hanya sekali dalam hidup mereka, dapat bicara dari hati ke hati? CHEREA Itulah yang baru aku lakukan CALIGULA Betul, Cherea. Apa kua kira aku tak sanggup melakukannya? CHEREA Kutunggu hukumanku? CALIGULA (Heran) Hukuman? Ah, aku mengerti. (Ia keluarkan dokumen itu dari saku mantelnya) Kau tahu ini Cherea? CHEREA Aku tahu itu berada di tangan kau CALIGULA Kau tahu ini ada di tangaku!? Jadi terus terangmu itu hanya sekedar sandiwara belaka. Ternyata kedua sahabat ini tidak membukakan hatinya masing-masing. Ya, ya. tapi itu tidak penting. Sekarang, kita hentikan kejujuran kita dan mulai hidup atas dasar yang lama kembali. Tapi terlebih dulu, ada sesuatu yang kuminta pada kau, berusahalah bersabar lebih lama dengan segala tingkah lakumu dan ketidak bijaksanaanku. Cherea, dokumen ini adalah satu-satunya bukti yang ada CHEREA Lebih baik aku pergi. Aku sudah bosan dengan lelucon seperti ini. Aku kenal kau dan aku sudah muak (Mau pergi) CALIGULA Tunggu, Cherea! Dokumen ini satu-satunya bukti, jelas!? CHEREA Bukti? Setahuku kau tak memerlukan itu untuk membunuh seseorang CALIGULA Betul. Tapi ini untu pertama kalinya aku membantah keinginan diriku sendiri. Tidak ada orang yang akan keberatan. Sekali-kali enak juga membantah diri sendiri. Rasa-rasanya aku perlu istirahat, Cherea CHEREA Aku tidak mengerti. Lagipula aku tidak suka dengan teka-teki seperti ini CALIGULA Aku tahu Cherea, kau manusia bisaa. Kau tak ingin hal-hal luar bisaa (Ketawa) Kau ingin hidup dan berbahagia. Cuma itu!? CHEREA Sudahlah! Cukup sekian saja (Mau pergi) CALIGULA Tunggu Cherea, belum. belum cukup, sabarlah sedikit. Kau lihat ini, dokumen bukti ini? Aku telah menemukan keputusan bahwa aku tak dapat menjatuhkan vonis tanpa bukti ini. Ini adalah istirahatku. Nah, kau lihat apa jadinya dengan sebuah tanda bukti dalam tangan seorang pemimpin berkuasa? (Mengeluarkan gretan dan membakar dokumen itu) Kau lihat, pemberontak! Dokumen ini kubakar! Bahkan para dewa tidak bisa mengembalikan kesucian dengan tidak menghukum terlebih dulu. Tapi pemimpinmu hanya memerlukan spercik api untuk membersihkan kau dan memberikan harapan baru. Teruskan Cherea, pelajaran yang barusan kita alami, kepada siapapun, dimana pun kau berada. Pimpimnanmu istirahat untuk sementara. Ini caranya hidup dan berbahagia CHEREA MEMANDANG, TERMENUNG, HERAN. IA MEMPERLIHATKAN GERAKAN YANG SAMAR. CHEREA MAU BICARA TAPI TAK JADI, LALU PERGI TANPA PERMISI. CALIGULA MENGIKUTI DENGAN PANDANGANNYA. BLACK OUT BABAK IV ADEGAN 1 PANGGUNG SETENGAH GELAP MASUK CHEREA DAN SCIPION. CHEREA MENYEBRANGI PANGGUNG (OUT STAGE) TAPI KEMUDIAN MUNCUL LAGI SCIPION Apa yang kau inginkan? CHEREA Waktu mendesak. Kita harus tegas mengenai yang akan kita lakukan SCIPION Siapa yang mengatakan aku tak tegas? CHEREA Kemarin kau tidak datang dalam pertemuan kita SCIPION Ya, memang CHEREA Scipion, aku lebih tua darimu. Bukan kebisaaanku untuk minta pertolongan orang lain. Tapi kali iniaku perlu kau. Rencana pembunuhan ini harus disokong oleh orang-orang terhormat. Mereka hanya dendam dan ketakutan yang parah, hanya kita berdua yang punya alas an-alasan bersih. Jika kau membelakangi kami kau akan tutup mulut. Aku percaya, tapi bukan itu soalnya. Yang kuinginkan adalah kau harus ikut kami. SCIPION Aku mengerti, tapi itu tak bisa kulakukan CHEREA Jadi kau dipihak mana? SCIPION Aku tak bisa menentang dia (Diam sesaat) Biarpun ia kubunuh, hatiku masih tetap akan bersama dia CHEREA Ia telah membunuh ayahmu SCIPION Ya, pada waktu itulah semua ini mulai dan waktu itu pun segalanya berakhir. CHEREA Ia mengingkari apa yang kau yakini. Ia injak-injak segala apa yang kau anggap suci SCIPION Aku tahu Cherea. Tapi sesuatu dalam diriku tetap rapat padanya. Api yang sama, menyala di hati kami berdua CHEREA Ada masa-masanya kita harus memilih. Aku sendiri telah membekukan segala yang ada dalam hatiku, yang mungkin membuat aku rapat pada dia SCIPION Tapi aku tidak bisa memilih. Aku punya kesedihan sendiri. Bersama dia, aku juga ikut menderita. Aku menyaksikan kesakitannya. Aku maklumi, itu kesakitanku CHEREA Dengan begitu, kau ada di pihaknya? SCIPION Tidak, Cherea! Jangan menganggap seperti itu. Aku tidak mungkin lagi memilih pihak siapapun juga CHEREA Aku lebih membencinya Karena ia telah menjadikanmu seperti sekarang ini SCIPION Ya. Ia mengajariku untuk menerima segala dalam hidup ini CHEREA Bukan, Scipion. Ia telah mengajarkan kau berputus asa. Meracuni jiwa yang masih muda tentang keputus asaan, adalah kejahatan yang lebih busuk dari kejahatan yang kini ia lakukan. Scipion, itu saja sudah cukup bagiku untuk membunuhnya (Cherea mau pergi. Tapi muncul Helicon dan mereka hampir bertabrakan) ADEGAN 2 HELICON Cherea, aku mencari-cari kau kemana-mana. Caligula mau mengadakan raoat, hanya terbatas bagi kawan-kawannya saja. Ia mengharapkan juga kedatanganmu (Pada Scipion) Hei nak, kau tak diundang. Pergilah SCIPION (Memandang Cherea) Cherea CHEREA Ya, Scipion SCIPION Cobalah maklumi CHEREA (Ramah) Tidak, Scipion SCIPION DAN HELICON KELUAR ADEGAN 3 SUARA RIBUT DI BELAKANG, DUA ORANG PENGAWAL MASUK SAMBIL MEMBAWA SENJATA. MENGGIRING BANGSAWAN TUA DAN BANGSAWAN I. KEDUANYA TAMPAK KETAKUTAN BANGSAWAN I (Pada salah seorang pengawal dengan suara agak gemetar) Per….Perlu apa dia memanggil kami pada waktu yang selarut ini…? PENGAWAL Jangan banyak Tanya. Duduk di sana (Menunjuk ke sebuah kursi di sebelah kanan) BANGSAWAN I Kalau ia Cuma mau bunuh kami seperti yang lain-lain, buat apa persiapan seperti ini? PENGAWAL Duduk, keledai! BANGSAWAN TUA Lebih baik kau turuti perintahnya. Dia hanya diperintah PENGAWAL Kau betul, sayangku…. (Ia pergi) BANGSAWAN I Seperti yang kukatakan, kita harus bertindak lebih pagi. Kini yang kita dapat Cuma siksaan lagi PENGAWAL ITU KEMBALI LAGI DENGAN CHEREA LALU PERGI LAGI CHEREA (Duduk tenang) Apa yang terjadi? BANGSAWAN TUA Komplotan kita ketahuan CHEREA O? Lalu? BANGSAWAN TUA Kini kita akan disiksa CHEREA Aku ingat, Caligula menghadiahkan uang sebanyak satu juta kepada pencuri, karena ia tidak mau mengakui pencurian yang talh dilakukan, walaupun ia di siksa setengah mampus BANGSAWAN I Boleh juga hiburan begitu CHEREA Kejadian itu membuktikan bahwa ia hormat pada ketabahan (pada Bangsawan tua) Dengan hormat, hentikan gemertuk gigi itu! Aku benci mendengarnya BANGSAWAN TUA Maaf (Sambil menarik nafas) BANGSAWAN I Jangan main-main. Kita sedang dalam bahaya CHEREA Kalian tahu kata-kata yang paling disukai Caligula? BANGSAWAN TUA Ya. Ia katakan pada pengawalnya “Bunuh dia perlahan, supaya ia tahu bagaimana rasanya mati” CHEREA Bukan, bukan itu. Ada lagi yang lebih bagus. Setelah suatu pembunuhan, ia menguap lalu berkata dengan sungguh-sungguh “Yang paling kukagumi ialah kekebalan perasaanku” Ucapan itu menunjukan suatau kelemahan rencananya BANGSAWAN TUA Berhentilah kau berfilsafat, itu pekerjaan yang paling kubenci PENGAWAL MASUK LALU MELETAKKAN SEBUAH PISAU DI ATAS SEBUAH MEJA CHEREA (Tak melihat kejadian itu) Filsafat? Memang susah memberikan nama filsafat padanya. Tapi bagaimana pun juga pengaruh orang ini memaksa seseorang untuk berpikir keras. Bahkan seluruh dunia berpikir keras. Ketidak pastian, Itulah sebabnya kenapa ia begitu dibenci BANGSAWAN TUA Lihat!! (Menunjuk pisau dengan gemetar) CHEREA (Melihat pisau) barangkali kau benar BANGSAWAN I Kita tidak boleh menunggu, kita harus bertindak segera CHEREA Ya, sesal itu selalu kemudian datangnya BANGSAWAN TUA Ini gila namanya! Aku tidak mau mati dengan disiksa caranya ADEGAN 5 BANGSAWAN TUA PANIK LALU MENCOBA UNTUK LARI, DUA ORANG PENGAWAL MENCEGAH, LALU MENAMPAR MUKANYA DAN MEMAKSA DIA DUDUK KEMBALI. BANGSAWAN I GELISAH, CHEREA MENGUCAPKAN BEBERAPA PATAH KATA YANG TIDAK TEDENGAR BERMAKSUD MENENANGKAN MEREKA. MUSIK ENTAH JENIS APA TERDENGAR MISTERIUS. MEREKA TAMBAH GROGI DAN PANIK, SALING BERPANDANGAN. CALIGULA DI BELAKANG LAYAR BERBENTUK BAYANGAN/SILUET, MENARI-NARI DENGAN PAKAIAN AGAK ANEH, MEMAKAI ROK DAN MAHKOTA BUNGA. BAYANGAN CALIGULA YANG SEDANG MENARI LAMA-LAMA HILANG DAN SEORANG PENGAWAL BERSERU DENGAN SUARA BERAT “TUAN-TUAN PERTUNJUKAN SUDAH SELESAI” DENGAN DIAM-DIAM CAESONIA MASUK DARI BELAKANG PUNGGUNG YANG HADIR. CAESONIA MULAI BICARA DAN YANG LAIN KAGET CAESONIA Caligula memerintahkan padaku untuk mengatakan kepada tuan-tuan, bahwa jika ia selama ini mengumpulkan tuan-tuan untuk kepentingan Negara, hari ini tuan-tuan ia undang untuk menyertainya dalam suatu keharuan seni (Diam sesaat) Selanjutnya ia menambahkan, bahwa siapa saja yang diundang tapi tidak hadir, akan dipenggal kepalanya (Mereka sling menoleh) Maafkan jika aku mendesak, tapi aku harus menanyakan apakah tuan-tuan suka pada tarian yang baru saja tuan-tuan lihat? BANGSAWAN I (Ragu) Su…suka sekali, Caesonia! BANGSAWAN TUA Indah. Indah bukan main CAESONIA Kau Cherea? CHEREA (Dingin) Seni yang bermutu CAESONIA Baik. Kusampaikan pada Caligula (Ia keluar) CHEREA Kita harus bertindak sekarang. Kalian tinggal dulu di sini. Sebelum fajar, sudah harus ada 200 orang di sini CHEREA KELUAR BANGSAWAN TUA Jangan! Biar aku yang keluar (Cherea sudah menghilang) Udara di sini bau mayat BANGSAWAN I Dan dusta (Sedih) Aku mengatakan tarian itu bagus BANGSAWAN TUA Dilihat dari satu sudut memang asli BEBERAPA BANGSAWAN LAIN MASUK SERTA UNDANGAN LAINNYA BANGSAWAN II Ada apa tuan Caligula memanggil kami kemari? BANGSAWAN TUA Untuk melihat tarian barangkali BANGSAWAN II Tari apa? BANGSAWAN TUA Maksudku kebaruan seni BANGSAWAN III Kudengar, Caligula sakit keras? BANGSAWAN I Memang. Ia sakit sekali BANGSAWAN III Sakit apa? (Gembira) Demi Tuhan, apa ia akan mati? BANGSAWAN I Kukira tidak. Penyakitnya berbahaya Cuma untuk orang lain BANGSAWAN TUA Ya. Itu tepat sekali BANGSAWAN II Aku mengerti. Apa tidak ada penyakit lain, tidak parah. Tapi keuntungan kita? BANGSAWAN I Tidak. Penyakit yang ia derita tak ada tandingannya. Maaf, aku mau lihat Cherea. Sebentar (Ia keluar) CAESONIA MASUK CAESONIA Caligula sakit muntaber, barusan ia muntah darah (Ada reaksi dari hadiri) BANGSAWAN II Ya, Tuhan. aku berjanji akan mendermakan sepuluh milyar pada Negara sebagai tanda syukur jika ia sembuh BANGSAWAN III (Berlebihan) Wahai maut, ambilah nyawaku sebagai ganti nyawa pimpinan kita, tuan Caligula…. WAKTU ITU, CALIGULA SUDAH ADA DI PENTAS, TAPI TAK ADA YANG TAHU, MASUK DIAM-DIAMN DAN MENDENGARKAN PERCAKAPAN ITU CALIGULA (Tepuk tangan, yang lain kaget mendekati bangsawan II) Dermamu kuterima, Lucius. terima kasih banyak. Bendahara Negara besok akan ke rumahmu (Mendekati bangsawan III lalu memeluknya) Aku sangat terharu, begitu besar dan agungnya cintamu padaku, Cassius!!! BANGSAWAN III (Penuh emosi) Wahai Caligula yang agung, tak ada di dunia ini yang tak akan kukorbankan untuk kepentinganmu… CALIGULA(Memeluk lagi) Ini terlalu tinggi, terlalu mulia. Aku tidak patut menerima cinta yang begitu besar. Betul, aku tidak pantas, pemberian itu terlalu tinggi (Ia memanggil dua pengawal) Bawa dia! (Pada bangsawan III dengan manis) Pergilah sahabat dan jangan lupa, Caligula telah jatuh hati padamu BANGSAWAN III (Sangsi dan gelisah) Mau dibawa kemana aku? CALIGULA Ah….Ke tiang gantungan tentu. Tawaranmu yang mulia itu kuterima dan kini aku sambut. Bahkan rasa mual dan anyir darah di lidahku pun sudah hilang. kau yang telah menyembuhkan aku, mujarab sekali. Kau harus bangga, karena telah mengorbankan nyawamu untuk seorang sahabat. Apalagi sahabat itu, seorang Caligula, pemimpinmu, begitu kan!? Kau lihat, aku sudah segar kembali dan siap untuk pesta selanjutnya BANGSAWAN III (Berteriak dan meronta) Tidak, tidak! Aku belum mau mati! CALIGULA Segera jalan di pesisir pantai akan dipenuhi mimosa, perempuan-perempuan cantik akan memakai gaun yang paling tipis dan langit terang-cerah., sahabat. itulah seyum kehidupan ( Caligula mendekati bangsawan III yang dipegang kedua pengawal itu dan mengelus kepalanya) Kehidupan ini sahabat, sesuatu yang harus dicintai. kau tak akan mempermainkannya, kalau cintamu padanya cukup besar (Caligula mengibaskan tangannya sebagai pertanda menyuruh pergi, bangsawan III dibawa pergi) Yang kalah harus membayar, tak ada kata lain (Mendekat kearah Caesonia) Sampai saat ini pemerintahanku terlalu berbahagia. Tak ada bencana, kerusuhan, pertentangan. Kalaupun ada itu kecil dan mudah di atasi. Karena itu aku mencoba menghilangkan kejahatan nasib. Maksudku…(Diam sesaat) Akulah yang menggantikan bencana itu? (Merubah suara) Sekian saja. O, kulihat Cherea datang. Kini gilranmu Caesonia ADEGAN 6 CHEREA DAN BANGSAWAN I MASUK, CAESONIA BERGEGAS KE ARAH CHEREA CAESONIA Caligula telah mati (Caesonia pura-pura sedih, Cherea memandang ke sekliling. Yang hadir diam, ada yang tunduk karena takut) BANGSAWAN I Kau…. Kau tahu betul kemalangan ini? Mustahil! Barusan saja ia masih menari CAESONIA Justru karena itu, rupanya terlalu berat untuk dia (Cherea menghampiri seorang demi seorang, tapi tak ada yang berani bicara) Tak adakah yang mau kau katakan Cherea? CHEREA (Lambat) Kemalangan besar, Caesonia CALIGULA MASUK DENGAN KASAR, LANGSUNG KE ARAH CHEREA CALIGULA Bagus, bagus sekali Cherea! (Ia berputar dan memandang yang lain dengan kesal) Sial! Yang diharapkan tak terjadi! (Pada Caesonia) Jangan lupa apa yang kukatakan (Caligula keluar) BANGSAWAN TUA Apa ia sakit Caesonia? CAESONIA Tidak, cintaku. Tapi tidurnya tidak lebih dari dua jam. Selebihnya mengembara dengan pikirannya. Sakit? Tidak, tidak sakit. Kecuali jika kau punya nama dan obat untuk bisul hitam yang bersarang di dalam jiwanya CHEREA (Terharu oleh kata-kata Caesonia) Betul, Caesonia. Kita semua tahu, Cali….(Dipotong cepat oleh Caesonia) CAESONIA Ya. Kau tahu. Tapi seperti mereka yang kekurangan jiwa. Kau tak mau menyokong mereka yang punya jiwa terlalu banyak. Orang yang begitu sangat mengganggu, yak an? Karena itu ia disebutkan penyakit. Tapi mereka yang merasa cerdik dibenarkan dan merasa puas (Berubah) Cherea, apa cinta ada artinya bagi kau? CHEREA Sekarang kita terlalu tua untuk menelaah itu kembali, Caesonia. Lagipula Caligula belum tentu memberi kita cukup waktu CAESONIA Betul (Duduk tenang) Oh, aku hampir lupa, Caligula menyuruhku untuk menyampaikan sesuatu pada tuan-tuan. Hari ini sudah ditetapkan sebagai hari seni BANGSAWAN TUA Menurut penanggalan? CAESONIA Bukan! Menurut Caligula! Ia telah memanggil beberapa orang penyair. ia meminta mereka membawakan sajak berdasarkan tema yang ia berikan. Nanti akan ada hadiah, juga ada hukuman (Caligula masuk, terlihat murung) CALIGULA Semua siap? CAESONIA Siap (Pada pengawal) Suruh semuanya masuk MASUK BEBERAPA PENYAIR, DENGAN BERBAGAI GAYA PENAMPILAN, TERUTAMA PAKAIAN MEREKA. MEREKA BERKUMPUL DI SEBUAH BANGKU PANJANG CALIGULA Scipion, kau bergabunglah dengan mereka (Scipion berjalan nyebrang dan bergabung dengan para penyair) Mulailah kalian menulis, ingat hanya satu menit! (Para penyair mulai menulis) BANGSAWAN TUA Siapa yang jadi juri? CALIGULA Aku sendiri. Apa itu belum cukup? BANGSAWAN TUA Oh, tentu, tentu lebih dari cukup CHEREA Mengapa kau sendiri tak ikut? CALIGULA Tidak perlu. Sajak seperti ini sudah menjadi makananku sehari-hari. Aku membacanya setiap hari, menurut caraku sendiri. (Caesonia memandang Caligula dengan gelisah, Caligula juga memandangnya) Apa ada sesuatu dalam diriku yang tak menyenangkan hatimu? CAESONIA Tidak, maaf…. CALIGULA Dengan segala hormat, janganlah merendahkan diri. Kau sudah cukup menyusahkan, jangan pula berendah diri (Caesonia menunduka kepala, Caligula berpaling kea rah Cherea) Kulanjutkan, sajak itu adalah satu-satunya yang pernah kubuat, tapi ia tidak membuktikan bahwa di negeri ini, akulah seniman terbaik dan sejati. Aku mengawinkan pikiran dengan perbuatan CHEREA Persoalannya, kita punya kekuasaan atau tidak CALIGULA Tepat. Seniman-seniman yang lain mencipta untuk menimbangi ketiadaan kekuasaan mereka. Aku tidak perlu menciptakan suatu hasil seni, tapi aku menghidupinya. Apa semuanya sudah selesai? SESEORANG Ya, sudah…. CALIGULA Bagus. Sekarang dengar baik-baik. Seorang-seorang tampil dihadapanku, akan kumlai dengan bunyi tepukan dan kuhentikan juga dengan tepukan, begitu seterusnya. Penampil yang tidak diputus tepukan itulah yang jadi pemenang (Pada Cherea, berbisik) Kau lihat, organisasi perlu buat segalanya, juga untuk seni (Caligula bertepuk) PENYAIR I Maut, di belakang pantaimu gelap…. (Bunyi tepukan, ia mundur, diganti yang lainnya) PENYAIR II Dalam gaunmu, ketiga adik kakak….(Bunyi tepukan) PENYAIR III Kupanggil kau maut….(Bunyi tepukan) PENYAIR IV(Membuat gerakan menarik nafas. Bunyi tepukan) PENYAIR V Kala aku masih kanak-kanak…. CALIGULA Stop! Apapula hubungan masa kecil seseorang dungu dengan acara ini!? hubungannya apa? PENYAIR V Aku baru saja mau mulai, tuan (bunyi tepukan) PENYAIR IV (Berteriak) Gelisah. Ia jalani….meng…(Tepukan) PENYAIR III (Misterius) Ucapan rahasia dan menyebar…(Tepukan) SCIPION MAJU TAK MEMBAWA APA-APA CALIGULA Mana catatan sajakmu? SCIPION Tidak perlu. Aku hafal CALIGULA Cobalah! SCIPION (Lebih dekat pada Caligula, tapi tak melihat Caligula) Penyair palsu adalah siksaan berat bagiku. Sebelumnya aku berniat menjadikan kalian serikatku. Pernah kubayangkan sekumpulan penyair yang berani melindungi aku di pertahanan terakhir. Satu impian lagi hilang. Kalian terpaksa kuanggap musuh. Nah, kini penyair pun memusuhiku. Perhatikan! Waktu kalian keluar dengan cara berbaris, kalian harus menjilati tulisan sajak kalian, mengerti! Maju…jalan! (Caligula bertepuk sesuai irama jalan penyair, mereka jalan tentara sambil menjilati kertas sajaknya) CHEREA (Pada Bangsawan I, berbisik) Masanya telah datang (Scipion mendengar, dia berhenti lalu pergi menghampiri Caligula) CALIGULA Apa kau tak bisa membiarkan aku sendiri seperti yang telah dilakukan ayahmu!? SCIPION Tak ada gunanya. Aku tahu, kini kau telah menentukan pilihanmu CALIGULA Tinggalkan aku SCIPION Ya. Aku akan pergi. Aku akan meninggalkanmu, karena kini aku telah mengerti kau. Tak ada jalan lain lagi buat kita – Kau dan aku yang begitu menyerupai dalam banyak hal. Aku akan pergi jauh mencari makna dari segala hal ini. Selamat tinggal Caligula. Jika semua telah berakhir, jangan lupa, aku sayang pada kau (Scipion pergi, Caligula menarik napas panjang dan melangkan kea rah Caesonia.) (Sambil pergi) Kau telah memilih, Caligula CAESONIA Apa katanya? CALIGULA Kau tak akan mengerti CAESONIA Apa yang kau pikirkan? CALIGULA Dia…. dan kau CAESONIA Mengapa dia? CALIGULA (MEmandang Caesonia) Scipion telah pergi. Habis sudah dengan persahabatan. Tapi kau….Aku bertanya…Mengapa kau masih ada di sini? CAESONIA ….Karena aku suka padamu…. CALIGULA Tidak. Barangkali aku bisa mengerti kalau kau kubunuh CAESONIA Ya, itu baik sekali. lakukanlah…. Mengapa, mengapa kau tidak bisa tenang barang sesaat dan hidup bebas, tanpa tertekan!? CALIGULA Telah bertahun-tahun aku lakukan hidup bebas itu CAESONIA Maksudku bukan kebebasan yang seperti kau artikan. maksudku, apakah tidak bisa kau hidup dan bercinta dalam kemurahan dan kemurnian hati? CALIGULA Kemurinain hati yang kaubicarakan, Setiap orang memperolehnya dengan caranya masing-masing. Kemurnian hatiku adalah untuk menyertakan hal-hal yang azazi sampai ke akar-akarnya benar. Walaupun begitu, aku tak merasa terhalang untuk membunuh kau. (Tertawa) Semua ini akan membulatkan hatiku, dan kehidupanku suatu puncak yang sempurna. (Berjalan, lalu ditariknya cermin kea rah dirinya, ia berjalan berputar dengan liar, ia bicara terus sambil berjalan) Aneh! Jika aku tak membunuh, aku merasa sendiri. Yang hidup rupanya tidak sanggup meramaikan hidupku dan menghilangkan keisenganku. Rasanya aku merasa kosong benar, jika kau dan yang lain hadir di sini. Mataku hanya melihat udara yang hampa. Tidak. Aku Cuma senang jika dikawani oleh orang-orang yang kubunuh (Ia menghadap penonton, ia lupa bahwa Caesonia ada di situ) Rasanya mereka yang telah mati yang betul-betul nyata. Mereka segolongan denganku. Kulihat mereka menungguku, menatapku. Percakapanku panjang sekali dengan mereka yang berseru kepadaku, supaya diampuni. Lidah mereka kemudian kupotong. CAESONIA Kemarilah! Berbaringlah di badanku, letakkan tangnmu di pangkuanku (Caligula melakukan permintaan Caesonia) Begitu lebih baik. Sekarang, tenangkanlah jiwamu, istirahatkanlah pikiranmu. Senyap betul di sini…. CALIGULA Senyap? Kau terlalu melebih-lebihkan, sayang. Dengarlah! (Terdengar suara senjata beradu, lolongan anjing, jeritan kesakitan, langkah kaki. Suara-suara itu dari pikiran Caligula yang memang terdengar dari kejauhan) Kau dengar bunyi halus yang beribu banyaknya di sekeliling kita? Dendam sedang menyebar benih CAESONIA Tidak ada yang berani… CALIGULA Ada. Ke- bo-do-han! CAESONIA Kebodohan tidak membunuh. Ia memperlambat manusia berpikir CALIGULA Itu bisa berbahaya sekali, Caesonia. Seorang dungu tidak dapat dihalangi jika ia merasa martabatnya diinjak. Bukan mereka yang ayahnya atau anaknya yang telah kubunuh yang akan membunuhku. Bagaimana pun mereka cukup mengerti. Mereka di pihakku dan mengecap rasa yang sama di mulut mereka. Tapi yang lain, telah kujadikan buah tertawaan. Aku tak bisa bertahan terhadap kegetiran mereka yang diinjak CAESONIA (Antusias) Kami akan membela kau. yang mencintai dan menghormatimu masih banyak CALIGULA Ya. Tapi makin hari makin sedikit. Tak heran. Aku yang jadi sebab. Bukan saja kebodohan yang menentang aku, tapi juga keberanian dan keyakinan manusia yang berbahaya untuk beroleh kebahagiaan CAESONIA Tidak! MEreka tidak akan membunuhmu, jika mereka coba juga, api akan turun dari langit dan akan menghanguskan mereka sebelum mereka dapat membunuhmu CALIGULA Langit!? Langit tidak ada! Tapi mengapa kau tiba-tiba jadi shaleh? Kalau aku tidak salah, ini tidak termasuk dalam perjanjian kita…. CAESONIA Belum lagi cukup buat kau! Melihat kau membunuh orang, sedang aku tidak tahu bahwa kau pun akan dibunuh!? Belum cukupkah aku merasa dirimu keras dan bengis? Meluap karena kegetiran, jika aku sedang meninabobokan kau!? Mencium bau pembunuhan jika kau meniduriku? Hari demi ahri kulihat kemanusiaan yang ada pada dirimu, mati sedikit demi sedikit (Diam sesaat) Ham….Aku tahu, sekarang aku tahu, Aku sudah tua dan kecantikanku mulai pudar. Tapi taka pa, aku suka yang alami. aku tak memikirkan apakah kau masih cinta atau tidak padaku. Aku Cuma ingin kau sehat. kau masih muda belia, hidup yang kau hadapi masih panjang. Coba katakan, apa yang ebrharga dari seluruh kehidupan ini? CALIGULA (Tak menghiraukan, tapi mendekati Caesonia) Kau sudah lama bersamaku CAESONIA Betul, kau tak akan melepaskan aku, bukan? CALIGULA Aku tidak tahu, aku Cuma tahu, jika kau sekarang masih bersamaku, maka itu adalah karena malam-malam kemikmatan yang tak mengandung kegembiraan. hanya kau yang tahu bagaiamana sebenarnya aku (Ia pangku Caesonia) Umurku kini 30 tahun, masih muda. Tapi hari ini jika nyata bahwa umurku hanya sampai segitu, kau akan tetap tinggal sebagai saksi terakhir. Aku tak bisa mencegah diriku untuk merasakan semacam rasa sayang terhadap seorang perempuan yang tak lama lagi akan jadi tua CAESONIA Katakan kau masih menginginkan aku, Maish mau bercinta denganku CALIGULA Aku tidak tahu. yang aku tahu Cuma perasaan sayang, ini adalah kejujuranku yang diberikan kehidupan ini. (Caesonia melepaskan diri dari pangkuan Caligula. Caligula mengikuti dia. Caesonia menekankan badannya ke dada Caligula. Dan Caligula melingkarkan tangannya ke tubuh Caesonia) Apakah tidak lebih baik jika saksi terakhir juga menghilang? CAESONIA Itu tidak penting. Ucapan kau membuat aku bahagia. Tapi mengapa aku tak dapat lagi membagikan kebahagiaanku dengan kau? CALIGULA Siapa yang mengatakan aku tidak bahagia? CAESONIA Bahagia sifatnya baik, ia tidak merusak CALIGULA Kalau begitu, bahagia ada dua macam. Dan aku telah memilih bahagia yang membunuh. Karena dengan membunuh aku jadi bahagia. Ada masanya aku mengira telah mencapai puncak darinkeperihan. Tapi tidak, orang bisa pergi lebih jauh lagi. Dibalik batas keperihan itu terbentang bahagia yang indah tapi tak hidup. Pandanglah aku Caesonia…(Caesonia berbalik, memandang Caligula) Rasanya aku mau tertawa, Jika melihat bagaimana seluruh negeri ini menghindarkan untuk mengucapkan nama Drusila. Semuanya sudah salah duga. Cinta tidak cukup bagiku. Waktu itu telah kusadari, sekarang pun kusadari lagi jika aku memandang wajahmu. Mencintai seseorang berarti kita bersedia menjadi tua di samping seseorang itu. Cinta seperti ada di luar susunanku. Lebih baik Drusila mati daripada melihat ia menajdi tua. Kebanyakan orang mengira bahwa seseorang menderita karena oleh kematian perempuan yang kita cintai. Penderitaannya lebih banyak mempunyai arti dan kesedihan pun tak panjang umurnya. Kesedihan adalah suatu kemirisan. Kau lihat, tak ada yang dapat kujadikan alas an dari suatu cinta yang murni, juga kegetiran, penyesalan yang jujur. Tapi hari ini aku lebih merdeka dari tahun-tahun yang lalu. Merdeka dari kenangan dan harapan. (Tertawa pahit) Alangkah besar arti pengetahuan ini. Dalam sejarah hanya ada dua yang betul-betul mencapai kemerdekaan ini. Kebahagiaan yang edan ini! Kau telah melihat sebuah drama yang jarang sekali terjadi. Sudah waktunya layer diturunkan buat kau CALIGULA BERDIRI DI BELAKANG CAESONIA, SAMBIL MENDEKAP TUBUHNYA DAN TANGAN YANG SATUNYA MENCEKIK LEHER CAESONIA CAESONIA (Dengan takut) Tidak! Tidak mungkin! Bagaimana kau dapat menyebut kemerdekaan yang bengis itu. Kebahagiaan..??? CALIGULA Itu adalah kebahagiaan,Caesonia. Aku tahu betul apa yang kuucapkan. Karena kemerdekaan ini, aku jadi manusia yang puas. Hanya berkat itu aku dapat merebut pencerahan dewata dari kesunyian (Tambah bersemangat, sedangkan tangannya makin keras mencengkram Caesonia, Caesonia membiarkan dan tangannya terkulai. Caligula terus bicara ke telinga Caesonia) Aku hidup, aku membunuh dengan penuh nafsu kekuasaan seorang perusak. Kekuasaan jika dibandingkan dengan kuasa yang pencipta, maka yang terakhir ini tidak lebih dari permainan anak-anak. Dan ini, inilah kebahagian. Tidak ada lagi yang lain – pembebasan yang tak dapat dibiarkan ini, penghinaan yang menghancurkan, darah, dendam di sekelilingku. Perjalanan hebat dari seorang laki-laki yang selama hidupnya mengelus-elus dan mengasyiki kegembiraan, tak dapat dikatakan dari seorang pembunuh yang tak dihukum. Logika yang gelisah menghancurkan hidup manusia (Ketawa) Yang menghancurkan hidupmu juga Caesonia. Sehingga akhirnya sempurna kesunyian yang dikehendaki hatiku CAESONIA (Menggelepar dengan lemah) Caligula… CALIGULA (Makin bernafsu) Jangan, jangan jadi lenah! Aku harus menyelsaikan ini. Waktu mendesak, Caesonia sayang. (Caesonia terengah-engah, lalu mati. Caligula menggendong dan menjatuhkannya di meja. ia memandang dengan liar, suaranya jadi berat dan serak) Kau juga berdosa! Tapi pembunuhan bukan penyelesaian! ADEGAN 7 CALIGULA BERPUTAR DAN MEMANDANG NANAR KE ARAH CERMIN CALIGULA Caligula! kau juga. Kau juga berdos. Kini siapa yang bisa mengutuki aku di dunia ini? Tidak ada hakikat dan semua manusia berdosa (Ia dekatkanb bayangan dirinya ke cermin) Kau lihat, kawan yang malang, Helicon telah meninggalkan kau. Aku tak akan memperoleh bulan. Tidak kapanpun juga! Pahit sekali mengetahui dan mejalani penyelesaian ini (Bunyi senjata beradu, derap kaki dan teriakan) Dengar! Bunyi senjata! Yang tak berdosa mengangkat senjata dan yang berdosa akan menang. Mengapa aku tak di sana bersama mereka? Apa aku takut? Ini yang paling celaka, setelah menghina orang kemudian mengetahui diri sama pengecutnya dengan mereka. Taka pa, ketakutan pun punya akhir. segera akan kuperoleh kekosongan yang mengatasi segala pengertian. Di mana hati dan jiwa dapat berisitarahat. (Ia mundur beberapa langkah, kemudian kembali ke cermin. Kini ia lebih tenang dan jiwanya mantap) Sebetulnya sangat mudah. Jika kudapat bulan, jika cinta cukup, semuanya tidak akan seperti sekarang. Tapi dimana dapat kulepaskan dahaga ini? Hati manusia yang mana, dewa yang mana, yang akan memberikan padaku kedalaman sebuah danau? (Berlutut dan menangis) Tidak ada di dunia ini atau dunia sana yang sesuai dengan aku. Dan kini aku tahu kau pun tahu (Sambil menangis, tangannya meraih cermin, dilihatnya wajahnya) Yang kuperlukan hanya yang tak mungkin, yang mustahil. Aku telah mencarinyta di setiap sudut dunia, dalam liku-liku rahasia hatiku (Suaranya menajdi teriakan) Lihat! Kuulurkan tanganku; tapi selalu kau yang kujumpai. Cuma kau yang menghadapi aku. Aku benci padaku! Aku telah memilih jalan yang salah. Jalan yang tak mengantarkan aku ke mana-mana. Kemerdekaan, bukan kemerdekaan yang seharusnya. Gelap, gelap semuanya. Helicon tidak datang, kita akan selalu berdosa. Udara malam ini berat sekali seperti diisi dengan jumlah segala kesedihan manusia LANGKAH-LANGKAH KAKI MAKIN LAMA MAKIN DEKAT. CALIGULA TEGAK. IA AMBIL SEBUAH KURSI DAN KEMBALI KE CERMIN, SAMBIL BERNAFAS BERAT. IA MERENUNG DI DEPAN CERMIN. TIBA-TIBA IA BERDIRI DAN MENGANGKAT KURSI ITU LALU DIHANTAMKAN KE ARAH CERMIN, SAMBIL BERTERIAK Masuk. Masuki sejarah Caligula! (Kaca pecah. Bertepatan dengan datangnya para pemberontak masuk berhamburan dengan senjata. Caligula berbalik menghadapi mereka dengan ketawa gila. Scipion dan Cherea yang berada paling depan, menusuk Caligula. Caligula masih tegak sambil memegang luka tusukan dan diiringi tawa gila. Tiga-empat orang menusuk berbarengan, Caligula mundur terjajar, masih tetap tertawa dengan napas yang tersengal. Satu hujaman lagi dari Scipion, sebelum ambruk, Caligula memekik) “AKU MASIH HIDUP!” BLACK OUT SELESAI Naskah Lakon DHEMIT Karya Heru Kesawa Murti (Gandrik) Diadaptasi oleh : Agus Suharjoko, S.Sn. PARA PEMAIN : PARA DHEMIT RAJEG WESI SULI WILWO GENDRUWO JIN POHON PREH EGRANG KUNTILANAK SAWAN SESEPUH DESA PEMBANTU SESEPUH DESA BAGIAN I POHON YANG TERSEBAR DILERENG BUKIT ITU DITEBANGI, MEMBUAT PARA DHEMIT PENGHUNI POHON ITU TERCERAI BERA, KACAU TAK KARUAN. TEMPAT TINGGAL MEREKA ITU TELAH DIGUSUR. DI DAERAH LERENG TERSEBUT AKAN SEGERA DIBANGUN KOMPLEKS PERUMAHAN. PARA DHEMIT AKHIRNYA LARI TUNGGANG LANGGANG, SEMENTARA TRAKTOR DN GERGJI MESIN TAK HENTINYA MENDERU, MERAUNG-RAUNG MEROBOHKAN POHON-POHON ITU DENGAN TAK PEDULI SAMA SEKALI. PARA DHEMIT MENGERANG, KECEWA, MARAH DAN TERANCAM. PARA DHEMIT (diucapkan koor) Paraketa malaekat, kalayan nambang sedaya rupa peksi. Nucuki lara utama impen ala umpamane sedaya yekti cinucuk sirna rampas, papas, wus titi...... TERDENGAR LAGI SUARA KACAU BALAU. KALI INI DIIKUTI OLEH KARYAWAN PROYEK PEMBUKAAN DAN PEMBANGUNAN KAWASAN ITU. SUARA ERANGAN YANG MENYAYAT HATI. PARA KARYAWAN ITU TIBA-TIBA TERSERANG SECARA MENDADAK. RAJEKWESI, KONTRAKTOR YANG MEMIMPIN PEMBUKAAN KAWASANITU TENGAH MENGHADAPI SULI, STAF AHLI YANG DIKONTRAK DAN DIPERCAYAINYA. RAJEKWESI TAMPAK TENGAH KACAU PIKIRANNYA. RAJEG WESI Suli! Edan, edan kamu. Kamu ini bukan juru tulis, tapi konsultan saya! Jadi tidak hanya cukup bermodalkan rajin saja. Kamu harus menerorkan otakmu yang cemerlang. Sebab selama ini, kamu itu tidak pernah memuaskan saya. SULI Oooooo.......... jadi selama ini pak Rajeg belum pernah merasa puas ta. Ngomong pak Rajeg! RAJEG WESI Ya, kadang-kadang puas, tapi ya sering tidak. Sebab selama ini kamu belum pernah ikut memecahkan masalah proyek kita ini. Misalnya soal penduduk desa yang berbondong-bondong ke sini minta pekerjaan, kamu ikut menyelesaikan apa. Tidak! Terus soal pekerjaan pekerja yang mendadak sakit, soal pohon preh yang sulit ditebang, kamu ikut menyelesaikan apa? Juga tidak! SULI Pak Rajeg jangan hanya menyalahkan saya. Pak Rajeg tahu, tanah di sini ini labil. Mudah longsor. Saya sudah mengusulkan agar dibuat sistem terasering. Dan soal pohan preh itu memang sulit ditebang, meskipun sudah menggunakan traktor. RAJEG WESI Itu artinya kamu percaya dengan pemikiran penduduk desa! SULI Bukan begitu pak Rajeg. Kita sebagai orang baru di sini, sebaiknya kita menghargai pemikiran penduduk ini! RAJEG WESI Sama saja! Artinya kamu bahwa pohon preh itu ada penunggunya. Ada demitnya. Katanya insinyur, lha kok percaya demit. Katanya jujur, lha kok nggapit? SULI Baiklah, Pak Rajeg. Bapak boleh tidak percaya pada saya. Saya tidak akan sakit hati. Tapi saya masih punya cara lain yang bisa digunakan untuk proyek kita ini. RAJEG WESI Suli! Soal teori saya percaya betul bahwa kamu bisa. Tapi yang penting prakteknya. Buktikan, cocok tidak dengan proyek kita! SULI (sambil menyerahkan berkas rencana kerja) To the point sebaiknya pohon preh itu tidak usah ditebang. Dan sebagai gantinya, kita bikin jembatan masuk ke kompleks ini. To membuat jembatan itu sudah ada dalam DIP. Daftar Isian Proyek. RAJEG WESI Kalau cuma usulan begitu saja, saya bisa! Lha wong saya ini pemborongnya. Saya ikut mempengaruhi pembuatan DIP itu kok. SULI Kalau begitu, tidak ada masalah kan? RAJEG WESI Lho kok tidak ada masalah bagaimana. Kalau jembatan itu jadi dibuat, saya tidak bisa nguntet. Lumayan lho nguntet jembatan itu. SULI Tapi ingat pak Rajeg, proyek ini proyek besar, dan pak Rajg adalah pemborong yang bonafid. Saya sendiri sebagai konsultan menginginkan agar proyek ini betul-betul berhasil. RAJEG WESI Tapi ingat, kamu konsultan saya. Artinya manut saya pemborong ingin untung, konsultan bikin yang untung. SULI Tapi pak Rajeg harus ingat akibatnya nanti. RAJEG WESI Akibatnya nanti. Yang penting untung, sekerang. Sudah, tidak usah banyak omong, yang penting ini ! surat dari kabupaten! RAJEG WESI MENYERAHKAN SURAT ITU KEPADA SULI. SULI(setelah membaca surat itu) Pak Rajeg, ini kebetulan sekali. Inilah kesempatan yang saya tunggu-tunggu. Kalau Pak Bupati datang, kita beberkan saja kesulitan yang kita hadapi. RAJEG WESI (langsung marah dan gusar) goblok! Itu namanya cari penyakit! Sama pak Bupati dan konco-konconya itu, ngomong saja yang baik-baik. Kejelekan itu perkara interen dan masalah ini sebetulnya bukan tugasmu adalah memecahkan semua persoalan yang kita hadapi. Termasuk para pekerja yang sakit mendadak itu. Selesaikan dengan cara yang paling tepat dan murah. Aku puny usul, bagaimana kalau para pekerja yang sakit mendadak itu, kita make up saja wajahnya. Biar kelihatan wajahnya. Biar kelihatan waras. Lantas mereka kita suruh kerja keras saat kunjungan itu berlangsung. Sesudah itu mati ndak apa-apa. SULI Saya tidak setuju! Itu pembunuhan! RAJEG WESI Tapi untung Suli. Sudah! Sejak tadi kamu cuma omong terus. Padahal persiapan kunjungan itu sama sekali belum ada. Sekarang tugasmu, bikinkan saya teks pidato penyambutan itu. SULI Tidak bisa pak Rajeg. Itu bukan bidang tugas saya. Sebaiknya pak rajeg mencari tenaga khusus untuk membikin teks pidato. Bukan saya pak Rajeg. Bukan saya. Tiba-tiba Suli lenyap. Dhemit sawan yang menculik wanita itu, lalu segera cepat-cepat menghilang. Rajeg Wesi kebingungan kehilangan konsultannya itu. RAJEG WESI Sepertinya kamu ini tidak tahu saja. Ini mananya pembatasan tenaga kerja. Jadi kamu.....kamu.....ka....mu. lho, Suli. Lho ini pasti sulapan! RAJEG WESI SEGERA TERBURU-BURU PERGI DARI TEMPAT ITU DENGAN KEBINGUNGAN DAN KETAKUTAN. BAGIAN KEDUA POHON PREH MENJULANG KE ANGKASA. PADA SUATU KETIKA, DI SEBUAH ALAM LAIN, DI ALAM PARA DEMIT. DATANG BERBONDONG-BONDONG, DEMIT, WILWO, EGRANG, GENDERUWO DAN KUNTILANAK, KE TEMPAT TINGGAL JIN POHON PREH MEREKA HENDAK MELAPOR TENTANG DIGURNYA MEREKA ITU DAN JAGAD DEMIT YANG TENGAH DIRUSAK OLEH MANUSIA. SAMPAI MEREKA DI TEMPAT TINGGAL POHON PREH, MEREKA LANGSUNG SALING MENGUNGKAPKAN KEMARAHAN, KEGELISAHAN DAN KECEMASAN MEREKA. WILWO (memandang mereka dengan gusar dan mangkel) katanya kalian ini dhemit priyayi, lha kok urakan? Mau ketemu pimpinan dhemit itu harus yang sopan. Ada buku tamu, ya diisi. Ada satpam, ya lapor dulu. GENDERUWO ( menanggapinya juga dengan mangkel) apa kamu bilang? He, kenapa omonganmu jadi seperti itu? Kita ini baru mengalami musibah. Teman-teman kita banyak yang menderita. Ini keadaan darurat, kamu kok masih sempat-sempatnya bicara birokratis seperti itu. Apa kamu ini memang sudah kangslupan manusia? WILWO Lho, edan ki! Bicaramu tiba-tiba kok kekiri-kirian? GENDERUWO Apa kamu bilang? Kekiri-kirian? Ketahuilah, kekiri-kirian, kekanan-kananan itu adalah istilah manusia dari dunia kasar. Kita kaum dhemit tidak mengenal istilah macam itu. Sebab dhemit adalah universal! EGRANG ( sambil memainkan tangan genderuwo) kita ini baru desak, lu tau. Lu gak usah banyak bacot. Ayo, langsung aja kita dobrak rumah jin pohon preh! GENDERUWO, EGRANG, WILWO ( serentak bersama-sama mengerahkan sekuatnya) aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa uuuuuuuuuuuuu............! aaaaaaaaaaaa aauuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh...........! MEREKA MENDOBRAK TEMPAT TINGGAL JIN POHON PREH ITU DENGAN SEKUAT-KUATNYA. LALU TIBA-TIBA, JIN POHON PREH, PEMILIKNYA, MUNCUL, MENGHADAP MEREKA. JIN POHON PREH ( menghadapi para dhemit dengan seksama) siapa yang mengganggu kenyamanan istirahat saya? Siapa yang usik kebahagiaan saya? GENDERUWO ( dengan penuh hormat) saya, lurahe. Genderuwo. WILWO Saya, Wlwo. EGRANG Saya, Egrang. KUNTILANAK Kuntilanak, saya. JIN POHON PREH Wo, wallaaahhhh.....ternyata konco sendiri, tiwas di angker-angkerke. Ada persoalan apalah kok berteriak-teriak. GENDERUWO ( dengan mantap dan merajuk-rajuk ) aduh ketiwasan lurahe. Para manusia telah memporak-porandakan tempat tinggal kami, para dhemit! WILWO Bener, lurahe! Ekologi para dhemit telah dinyanyah-nyunyah oleh bangsa manusia. EGRANG Tempat tinggal para dhemit sudah ludes semuanya. GENDERUWO Kita digusur, lurahe! WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Betul, lurahe. Kita digusur! Kita sudah digusur! Digusur lurahe! Digusur! Digusur! Digusur! Digusur! JIN POHON PREH Digusur? Digusur? Lha ya pindah ta? Bukankah jagat kita ini luasnya bukan kepalang? Aplagi kalian ini Cuma dhemit. Tugas kalian ini memang harus senantiasa menyediakan diri untuk digusur-gusur melulu. Lha wong manusia saja bisa dengan gampang dibegitukan kok. Sudahlah, terimalah kodrat itu dengan tulus ikhlas, sehingga kelak kalian bisa dikatakan ” dhemit yang berbudi luhur”. GENDERUWO Tapi, harga diri kita, lurahe! Kita tidak boleh hanya berdiam diri saja melihat kenyataan ini. Kita mesti mengadakan perlawanan terhadap mereka! Harus! WILWO Benar, lurahe! Jika kita Cuma pasif, lalu generasi muda dhemit mau ditaruh mana lurahe? EGRANG Lantas kita ini harus tinggal di mana dong! JIN POHON PREH ( memandang mereka dengan ketawa kegelian) kalian ini lho, dhemit kok heroik banget. Sudahlah, sebaiknya persoalannya yang tampaknya gawat ini kita bicarakan saja dengan hati yang lapang. Kita bicarakan dengan face to face, heart to heart....... oke? GENDERUWO, EGRANG, WILWO, KUNTILANAK ( serentak menyahut bersama-sama) okey…………..okey……..okey……..!!! JIN POHON PREH Nah, mestinya kan begitu. Kompak. Persis penataran. Sekarang bicaralah yang gamblang. Apa mau kalian? WILWO ( langsung berdiri, bicara dengan mantap dan yakin) jadi begitu, lurahe... berdasarkan yang kami lihat sendiri dengan mata telanjang, bahkan dengan berbagai sudut pandang dan segala cara pendekatan beserta pisau analisis kami..... KUNTILANAK ( langsung menyambung Wilwo, mantap dan yakin) tindakan manusia dari dunia kasar itu sudah tidak lagi mengindahkan pertimbangan-pertimbangan etis dalam kerangka pemikiran dan pranata sosial para dhemit, menurut............... EGRANG ( langung menyambut dengan gayanya sendiri ) saya mencoba mempertajam benang merah saudara wilwo ini bahwasanya status quo tatanan para dhemit punya aspek kultural historis, secara eksplisit, persuasif, kohern. JIN POHON PREH ( langsung menghentikan dengan gusar ) ssttttttttttoooooopp....! kamu ini ngomong apa? Omongan kalian kok malah berbusa-busa tidak karuan. Ingat, kamu Cuma dhemit staf lho. Kodratmu ini bodoh. Kalau bicara itu yang sederhana, syukur bisa mencerminkan ketololan kalian. Ayo, sekarang ngomong yang simpel. WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Begini lurahe, kami mau numpang. JIN POHON PREH Nah, begitu saja kan bisa. GENDERUWO ( langsung segera memotong) he...he...he... tidak sesederhana itu lurahe, kita harus melihat kenyataan bahwa dhemit sekarang. Sedang mengalami distorsi sosial yang gawat, sehingga kita harus menyikapi realitas ini dengan analisa yang jitu. Lurahe jangan simplifikatif dong...... JIN POHON PREH Lho,lho,lho, Genderuwo, kamu kok ikut-ikutan bicara berbusa-busa. Kamu ini bagaimana ta? Apa kamu ketularan manusia dari jagad kasar? GENDERUWO Lurahe jangan ambivalen dong! JIN POHON PREH Edan! Sekarang para demit sudah tidak dhemitis lagi! Awas, kalau kalian masih bicara kacau juntrungannya, nanti saya kirim ke kelompok-kelompok diskusi mahasiswa. Biar kapok! Biar mampus kalian! WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Jangan lurahe, jangan! Jelasnya itu bagaimana ta? JIN POHON PREH Jelasnya, kalian itu tergolong generasi muda dhemit yang melempem. Bisanya Cuma ngomong aja, tapi ciut nyalinnya menghadapi kenyataan. Minger.....otak kalian ( sambil memutar kepala Wilwo, egrang, dan Kuntilanak) apa itu? Baru menghadapi persoalan seperti itu saja sudah mengeluh, sambat, sentimentil. Apa itu! Dhemit kok tidak revolusioner! WILWO Tapi kami butuh jalan keluar. Jangan Cuma di ejek. EGRANG Iya lurahe, jangan Cuma diejek . beri kami jalan keluar, berilah kami petuah, berilah kami petunjuk, lurahe. JIN POHON PREH Apa? Kalian minta petuah? Minta petunjuk? Kok seperti yang sering muncul di televisi itu lho. Tapi, baiklah, karena saya ini memang dhemit generasi tua yang baik, maka, sini, saya beri petuah. Saya kasih petunjuk. Pakai resep yang sudah klise. Wedeni manusia dari jagad kasar itu. GENDERUWO ( segera langsung menyahut) sudah lurahe ! tapi manusia-manusia itu sekarang sudah tidak mempan lagi. Malah sekarang ini manusia telah mampu membuat dhemit-dhemit imitasi untuk dijadikan objek komoditif mereka. JIN POHON PREH Genderuwo! Kita harus mempercayai, bahwa konco-konco kita di jagad halus ini tetap patuh. Tetap menunjukkan kesetiaannya untuk senantiasa membentengi kehidupan kita. GENDERUWO Tapi berkali-kali saya turun langsung ke jagad manusia, nyatanya mereka tidak takut lagi menghadapi perwujudan kita! JIN POHON PREH Pesimistis seperti ksmu itu, artinya meremehkan bakti yang diberikan sahabat-sahabat kita. Bukankah mereka dengan tulus ikhlas, meneteskan keringat untuk menjaga kelestarian kita. Berjuang habis-habisan tanpa pamrih? Kamu tahu bagaimana nyai Blorong masih mampu membikin manusia kalang kabut karena takut. GENDERUWO Lurahe jangan keliru pandang dalam persoalan ini. Nyi Blorong itu sekarang tidak lagi membuat manusia takut, tapi justru menjadikan manusia-manusia itu malah kepincut. JIN POHON PREH Tapi kemarin sore, saya baru saja menerima laporan bahwa thuyul masih tetep menunjukkan kualitas keclemerannya dengan baik. GENDERUWO (tertawa dengan terbahak-bahak, geli) Thuyul? Kenapa lurahe justru simpati pada dia? Bukankah thuyul itu telah mencemarkan jagad kita yang sakral, karena sifatnya yang suka mencuri dan clemer itu. JIN POHON PREH Tapi, Banaspati masih juga membakari hotel-hotel dan pusat-pusat pertokoan. Kuntilanak dan konco-konconya semakin menguasai panti-panti pijat tradisional. GENDERUWO Lurahe tertipu. Semua sebetulnya bukan rekayasa kita, tapi hasil perbuatan manusia yang menyalahgunakan eksistensi kita. JIN POHON PREH Welha, masih juga maido ta kamu? (ia memperlihatkan kaca ajaibnya kepada para dhemit). Ini, lihatlah, bagaimana sesungguhnya kerabat kita berjuang habis-habisan membentengi kita, melawan manusia, membikin mereka berkelejotan kesakitan. GENDERUWO, WILWO, EGRANG, KUNTILANAK (sambil bersama-sama melihat dalam kaca ajaib itu, serentak berkomentar) Tubuh-tubuh manusia, tak berkutik, sakit mendadak. Ha,ha,ha! ( menyerahkan kembali kaca ajaib itu kepada jin Pohon Preh). JIN POHON PREH Nah, bagaimana? Apakah kalian masih ragu-ragu pada pancaran dedikasi mereka itu? Bukankah, dengan demikian, sesungguhnya tidak ada lagi yang perlu dirisaukan? GENDERUWO, WILWO, EGRANG, KUNTILANAK (koor, serentak bersama sama) Nggih! JIN POHON PREH Bukankah jagad kita ini sesungguhnya aman? GENDERUWO, WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Nggih! JIN POHON PREH Stabilitas keamanannya terkendali. GENDRUWO, WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Nggih! JIN POHON PREH Tenteram. Tidak ada gangguannya yang berarti. Makanya kalau kalian Cuma kepingin numpang cari gratisan, mangga saja. Silakan. Dengan senang hati kalian kuizinkan tinggal di tempat Jin Pohon Preh ini! GENDRUWO, WILWO, EGRANG, KUNTILANAK Terima kasih! TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA GEMURUH BULDOZER, MERAUNG-RAUNG GADUH, BISING DAN MENAKUTKAN. SEKIAN LAMA, SUARA ITU SEMAKIN MENDEKAT, NGERI. PARA DHEMIT ITUPUN KALANG KABUT SEMUA. KUNTILANAK LANGSUNG MASUK KE TEMPAT TINGGAL JIN POHON PREH, MENYELAMATKAN DIRI. GENDERUWO, WILWO, EGRANG ( bersahut sahutan, riuh dan cemas) mereka datang! Mereka datang! Manusia-manusia itu datang lagi, mau menghancurkan tempat ini. Mau melumatkan tempat ini. JIN POHON PREH Bertahan! Bertahan! Ayo kita lawan! Para Dhemit lalu bergerombol. Mereka membidik, mengawasi dan mencermati tingkah para manusia yang tengah mengamuk di kejahuan itu. JIN POHON PREH Waduh, mengerikan. Mengerikan sekali. Lho, binatang apakah itu merangkak-rangkak seperti mau memakan kita? EGRANG Itu namanya buldozer, lurahe. JIN POHON PREH Lho, siapa orang itu ? Siapa? Bertopi kuning mengacung- ngacungkan tinjunya? WILWO Itu pimpinan proyek, lurahe. JIN POHON PREH Gendruwo! Ada seseorang lari terbirit-birit, ketakutan, menyelinap ke dalam hutan. Siapakah dia itu? GENDRUWO Ooooo........ itu seorang kawulo cilik yang sedang dikejar-kejar wong gedhe untuk dimintai cap jempol. Gemuruh buldozer semakin riuh, meraung-raung menjadi-jadi. Para dhemit semakain kalang kabut dan cemas. Tapi mereka tetap berusaha melawan keberingasan manusia-manusia itu. JIN POHON PREH Ambil senjata! Ambil senjata! Kita harus tetap bertahan kita harus tetap bertahan. Kita harus tetap melawan. Jangan mundur! Kita halau manusia-manusia itu! Para dhemit mengambil senjata mereka yang seadanya itu. Mereka segera langsung bergerak serempak mempertahankan hidupnya. Mereka melawan, berlompatan. GENDRUWO, WILWO, EGRANG Ini sudah kebangetan. Melanggar tempat hidup. Melanggar perjanjian. Tidak urus...................! PARA DHEMIT KEMBALI BERSEMANGAT MELAWAN KEBERINGASAN MANUSIA-MANUSIA ITU. BERLOMPATAN LAGI. MENGHALAU, MENGGEBRAK, BERTAHAN. TAPI AKHIRNYA TOH KALAH JUGA. PARA DHEMIT BERCERAI-BERAI, BERGELETAAN, BERSERAKKAN. TERKAPAR TAK BERDAYA. MEREKA MENGADUH. JIN POHON PREH Wuaduuuuh.......sakiiiiiiiiiiiiiit........sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!!!!!! GENDRUWO Waduuuuuuuuuh............kakiku.........kaku.......kaku. WILWO, EGRANG Sakit, sakiiiiiiiiiiiit. Perut mual-mual. GENDRUWO Lurahe! Di mana kamu, lurahe? JIN POHON PREH Di sini! GENDRUWO Dimana? JIN POHON PREH Di depan! Gendruwo mendekati jin pohon preh dengan merangkak-rangkak. JIN POHON PREH Gendruwo, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya, seumpama kamu, wilwo dan Egrang tidak dengan segera memberikan isyarat kewaspadaan. Ternyata manusia- manusia memang rakus hendak memaksa kita. GENDRUWO Sungguh kejam betul, manusia-manusia itu, lurahe. JIN POHON PREH Betul. Rupanya kita memang kalah kuat. GENDRUWO Mereka rakus memakan apa saja. JIN POHON PREH Itu memang ciri mereka, gendruwo. GENDRUWO Oh, hijaunya dedaunan dan hangatnya sinar bulan purnama malam jum’at Kliwon, telah mereka ganti dengan deru buldozer dan mesin-mesin. Lihatlah lurahe, mereka memakan apa saja, gunung, hutan, pulau, sungai, tanah, telaga...... dan juga memakan hati nurani mereka sendiri. JIN POHON PREH Sudahlah gendruwo, jangan bicara soal hati nurani. Itu bukan perkara kita. Kita, para lelembut ini dikodratkan tanpa hati nurani. Hati nurani itu urusannya manusia. GENDRUWO Justru karena itu urusan manusia, saya menjadi khawatir. Jika alam mereka kuasai lau mereka rusak, sehingga akan terjadi bencana, pasti kita lagi yang disalahkan. Kita semakin terpojok, dinyanyah oleh manusia. JIN POHON PREH Sudahlah gendruwo, jangan cemas. Kita harus membangun kehidupan yang rapuh ini. Apapun dan bagaimanapun adanya. Yang pasti aku sangat bersyukur karena kalian memberikan keihlasan menjaga jin pohon preh. Gendruwo, terus terang saya tersentuh oleh pengabdianmu itu. Sepantasnya jika aku sebagai pimpinan di sini, memberikan penghargaan kepadamu. Besok pagi, jika kita menggelar upacara, ingin sekali kuselamatkan di dadamu, sekedar bintang penghargaan: bintang jasa maha dhemit. GENDRUWO Jangan terlalu berlebihan lurahe. Saya tidak mau berstatus sebagai pahlawan. JIN POHON PREH Lho, kenapa? GENDRUWO Sebab, bisa jadi sekarang saya menjadi,” Pahlawan ”. Tapi berapa abad kemudian ternyata bukan. JIN POHON PREH Tidak, genderuwo! Jauh kepahlawanan itu diselamatkan oleh jin pohon preh, kamu akan tetap jadi pahlawan sepanjang zaman. GENDRUWO ( meledakkan kegembiraan) ooooo...... Dewata. JIN POHON PREH Husssh! Dhemit tidak punya dewata! EGRANG Sudahlah, lurahe. Kita jangan sampai terlena. Kita harus bangkit menbuat perhitungan dengan manusia itu. Waktu kita sangat mepet lurahe. JIN POHON PREH Ya,ya. Sebaiknya kita memang harus tetap hati-hati. Jangan sampai terkecoh lagi oleh muslihat manusia. Harus kita temukan strategi baru supaya eksistensi para dhemit tetap terjaga. Manusia harus dibikin kapok. Ya, saya punya gagasan, pasti manusia bakal keder menghadapinya. Coba dengarkan : kita culik wanita dari jagad kasar itu! Bagaimana? Setuju? Staf yang baik dan benar harus bilang setuju, ketimbang nanti dimutasi. Wilwo dan Egrang, bagaimana pendapatmu? Ini prioritas proyek lho. WILWO Bagaimana? Ini kesempatan baik lho grang! Siapa tahu kita juga bisa mendapatkan tanda jasa seperti genderuwo. EGRANG Enggak ah, saya sedang repot kok. JIN POHON PREH Apa kamu bilang? EGRANG O, enggak kok. Saya sanggup kok, saya tidak repot kok. Tidak repot. JIN POHON PREH Repot ah! TIBA-TIBA TERDENGAR KEMBALI GEMURUH SUARA BULDOZER MERAUNG-RAUNG RIUH SEPERTI HENDAK MEMANGSA PARA DHEMIT. KINI TERDENGAR SEMAKIN MENAKUTKAN DAN MENGHAWATIRKAN. PARA DHEMIT BERSIAP-SIAP MEMPERTAHANKAN DIRI. GENDERUWO ( dengan ketakutan dan cemas) mereka datang lagi lurahe. JIN POHON PREH Ya kita bertahan! Ayo bertahan! Para dhemit berjaga-jaga, menghadapi segala kemungkinan yang bakal timbul. Yakni keberingasan manusia. Mereka siaga menghadapi manusia. Tapi yang muncul justru sawan, salah satu dhemit, teman mereka sendiri. Ia datang menggendong sesuatu di punggungnya. JIN POHON PREH ( memandang kedatangan sawan) lho, ini rak si sawan ta? Lho, ini, kamu kok sudah menggondol wanita dari jagad kasar? Bajigur ki! Gue baru ngomong, elu sudah nyolong! Siapa yang memerintah kamu wan? Siapa-siapa? SAWAN MENGGUNAKAN BAHASA ISYARAT, KARENA TAKUT, MENUNJUK KEPADA GENDERUWO. JIN POHON PREH LANGSUNG NAIK PITAM, MARAH KEPADA GENDERUWO. JIN POHON PREH Edan, genderuwo! Jadi kamu yang memberikan perintah itu? Lancang! Itu artinya kamu meremehkan kewibawaan jin pohon preh, pimpinan para dhemit! Tidak sopan! Tidak pakai tata krama! Saraf! ( genderuwo melotot kepada sawan, menahan marah dan tampak seperti hendak menerkam). Genderuwo, bergerak koordinasi semacam itu bisa mencerminkan kesatuan kita ini yang rapuh. Atau barangkali kamu menyimpan maksud tersembunyi untuk menjegal kewibawaanku? Mau mencemarkan kehormatan piminan? Mempermalukan atasanmu? Subversif kamu! Oleh karena itu, genderuwo, atas segenap kelancanganmu itu, rencana menganugerahkan bintang jasa maha dhemit, dengan ini saya cabut! GENDERUWO LANGSUNG MENJATUHKAN TONGKATNYA, DIIKUTI WILWO DAN EGRANG. GENDERUWO TAMPAK PUTUS ASA, LUNGLAI, KECEWA. JIN POHON PREH Para dhemit, kebijaksanaan-kebijaksanaan lancang seperti yang dilakukan genderuwo, merupakan usaha penjegalan. Menohok teman seiring, musuh dalam selimut. Laporan isyarat kewaspadaan tadi, dengan itu bisa diartikan sebagai muslihat. Sekarang saya sudah paham dengan trik-trik kalian. Tabiat inilah yang akhirnya memunculkan krisis kepercayaan. Saya tidak akan lagi dengan gampang mempercayai laporan kalian. Harus ada perhitungan............ TIBA-TIBA TERDENGAR LAGI SUARA GEMURUH, MERAUNG-RAUNG, MENGANCAM PARA DHEMIT, MEREKA PUN KALANG-KABUT, CEMAS, SIAP BERLARIAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI. WILWO, EGRANG, SAWAN (serentak bersahut-sahutan dengan was-was) lurahe, mereka datang lagi! Manusia-manusia itu menyerbu kita kembali lurahe. Hati-hati! Mereka mau memangsa kita lagi! JIN POHON PREH Apa? Sekarang kamu bilang ada ancaman lagi? Omong kosong! Ini pasti muslihat lagi! Kita ini sebetulnya tidak punya musuh. Musuh-musuh itu hanya ada di dalam pikiran kalian sendiri. Sana, kalau kalian mau terbirit-birit pergi ketakutan! Sana! Pergi! Akan saya hadapi sendiri kalau memang itu ancaman ( ia memberanikan menghadapi sendiri ancaman itu, bagaikan pahlawan. Tapi akhirnya keder juga, karena suara gemuruh itu memang betul-betul hendak melumatnya. Dengan menguntit di belakang Gendruwo yang pergi dari tempat dengan kecewa, ia merengek-rengek minta perlindungan.) Wo, ternyata sungguhan. Aduh, manusia itu benar-benar datang bergerombol hendak memangsa kita. Aduh, aduh, banyak sekali. Banyak sekali. Gendruwo, tolong ya. Tolong, mereka betul-betul datang. Tolong, gendruwo. Tolong. BAGIAN KETIGA DI TEMPAT TINGGAL SESEPUH DESA, DI DESA DI HUTAN YANG TENGAH DIBUKA UNTUK PROYEK PEMBANGUNAN PERUMAHAN ITU. SESEPUH DESA TENGAH MEMBICARAKAN PERSOALAN HUTAN YANG TENGAH DIBUKA UNTUK PROYEK ITU KEPADA PEMBANTU SESEPUH DESA. MEREKA TENGGELAM DALAM PEMBICARAAN YANG TAMPAKNYA PENTING DAN SANGAT MENDESAK ITU. SESEPUH DESA Juragan proyek itu memang sudah kebangetan. Edan betul. Sudah saya peringatkan, mbok kalau nebang pohon di hutan itu jangan seenaknya, lha kok sekarang malah nekat. Nebang seenaknya sendiri. Akibatnya sekarang bagaimana. Tukang-tukangnya ngegletak semua. Sakit mendadak. PEMBANTU SESEPUH DESA Tapi itu bukan kesalahan kita. SESEPUH DESA Betul, bukan kesalahan kita. Tapi kan saya sudah memperingatkan. Mbok ya diselamati dulu sebelum nebang. E, lha kok sekarang malah menuduh saya bikin kerusakan, bikin gara-gara. Apa tidak edan itu namanya? Di tengah-tengah pembicaraan kedua orang yang bersungguh-sungguh itu, tiba-tiba Rajeg Wesi datang, langsung mendekati kedua orang itu. RAJEGWESI Maaf, saya terpaksa masuk ke sarang teroris! PEMBANTU SESEPUH DESA Kamu salah yang ke kalinya. SESEPUH DESA Sejak sampeyan datang kemari! RAJEGWESI Terus terang saja, proyek saya baru terkena angin ribut. Termasuk daerah ini. Kesempatan ini kamu gunakan untuk menculik Suli, konsultan saya. PEMBANTU SESEPUH DESA Kamu salah yang ke kalinya! SESEPUH DESA Pak Rajeg, sejelek-jeleknya warga desa saya ini, sejelek-jeleknya saya ini, kami masih punya martabat untuk tidak main culik-culikan. Ketahuilah, Suli, konsultan sampeyan itu, hlang digondhol dhemit! RAJEGWESI Digondhol dhemit? Sekarang ini apa-apa kok mesti dhemit! Dhemitnya ya kalian berdua itu! PEMBANTU SESEPUH DESA Kamu salah yang ke kalinya. SESEPUH DESA Pak Rajeg, saya bisa membuktikan kalau Suli digondhol demit. Dan saya bisa mengembalikannya hari ini juga. Tapi saya punya satu syarat! RAJEGWESI Apa? SESEPUH DESA Mulut sampeyan! RAJEG WESI Bayar berapa? SESEPUH DESA Jangan bayar saya! RAJEG WESI Lantas sama siapa? SESEPUH DESA Warga desa! RAJEG WESI Nah, ini motivasinya ! kamu culik Suli, supaya aku membutuhkan kamu. Lantas kamu saya kerjakan di proyek saya. Benar apa benar? PEMBANTU SESEPUH DESA Kamu salah yang ke kalinya. SESEPUH DESA Pak Rajeg, sekarang itu yang butuh siapa? Sampeyan, saya, atau sebaiknya sampeyan minggat saja dari sini! RAJEG WESI Tidak. Ini tadi hanya bentakan formalitas. Jadi tidak ad maksud apa-apa. Yang jelas semua syarat sampeyan, saya penuhi, asal Suli dikembalikan pada hari ini. PEMBANTU SESEPUH DESA Kalau begitu, mari ikut saya! BAGIAN KEEMPAT DI TEMPAT TINGGAL JIN POHON PREH DI TENGAH-TENGAH SUASANA YANG MENEGANGKAN ITU, GENDRUWO MASUK KE TEMPAT ITU DIIKUTI EGRANG, WILWO, DAN SAWAN. GENDRUWO TAMPAK SEDANG GUSAR, TEGANG DAN MARAH. DIUNGKAPKANNYA KEMARAHANNYA ITU KEPADA PARA DHEMIT YANG MENGIKUTINYA, DENGAN MENYANYIKAN TEMBANG. Nyanyian amarah Gendruwo Kecengklok rasaning ati Si gendruwo, dituduh mendahului pemimpine Perih rasaning ati Perih rasaning ati Apa tumon, apa tumon GENDRUWO Kebangeten! EGRANG, WILWO, SAWAN (serempak bersama-sama, mantap) apanya yang kebangeten? GENDRUWO Kalian duduk dan dengarkan. Kemarin aku membaca kitab ” CAHAWO ”. ”CAHAWO” itu adalah catatan harian Gendruwo. Yaitu buku harian pribadiku sendiri. Di dalam kita itu disebutkan sebuah negeri yang bernama Utaranusia. Utara artinya Lor. Nusiah, artinya manusia. Dus tidak salah lagi,itu adalah negeri kita dahulu yang terletak di sebelah utara kediaman manusia. Disebutkan, di negara Utaranusiah itu, tak ada panas yang terlalu, tak ada dingin yan terlalu, tak ada manis yang terlalu, tak ada pahit yang terlalu, semua tenang.......tenang. tenang...... tenang. Ora ana panas, ora ana adhem, tidak ada gelap tidak ada terang. Adhem ayem, kadiyo siniram banyu wayu sewindu lawase. Negeri kita dulu aman dan tentram. Tak ada perampokan, tak ada kekerasan, apa lagi penggusuran. Al-kisah tiba-tiba datanglah bala tentara manusia dengan membawa peralatan yang meraung-raung bagai srigala, memporak-porandakan tempat tinggal para dhemit. Kerajaan kita dirusak. Harkat kedhemitan kita diinjak-injak. Waktu itu kebetulan aku menjabat sebagai PPD. Apa itu? PPD adalah panglima pasukan dhemit. Jiwaku menjadi terpanggil untuk berjuang menghadapi agresor yang rakus itu. Aku bangkitkan semangat para dhemit yang lesu, yang parah karena patah semangat. Sehingga demi sedikit semangat para dhemitpun bangkit. Dan dengan lantang aku beni berkata kepada manusia : ” iyah, sakarepmu. Kekejera kaya manuk branjangan, kopat kapita kaya ula tapak angin, kena nenggalane gendruwo, ajur dari sewalang walang ”, saudara-saudara sekalian. ( para dhemit bertepuk tangan ) tapi itu dulu. Sekarang semuanya sudah terbalik. Perjuangan dan pengorbanan yang saya lakukan waktu itu, kini telah dilupakan oleh Jin Pohon Preh. Aku sebagai milik ide, tidak lagi direken oleh, Jin Pohon Preh! Bahkan sekarang dengan gampang ia mencampakkan diri saya semena-mena. Pemimpin macam apa itu. Ahistoris dia! Karena itu saudara-saudara, selagi kalian belum dicampakkan, aku menyarankan agar kalian jangan mau digunakan begundlnya oleh...... Jin Pohon Preh! Setujukah kalian? EGRANG, WILWO, SAWAN ( serempak bersama-sama dengan mantap ) setujuuuuu! GENDRUWO Kalian juga jangan mau dijadikan kambing hitam atau korban kesalahan oleh Jin Pohon Preh! Setujukah kalian? EGRANG, WILWO, SAWAN Setujuuuuuuuu...........! GENDRUWO Bagus! Kalian harus berani menunjukkan persatuan dan kesatuan para dhemit. Siapa berani berkata bahwa kita telah kehilangan tenaga? Siapa berani berkata bahwa kita minder dan takut menghadapi manusia? Tidak! Aku berani berkata, kita masih mampu berbuat! Kita tidak pernah merasa minder dan takut. Kita tidak pernah menggantungkan nasib kepada siapapun. Karena dhemit itu, universal. Oleh karena itu, sekarang aku ingin mengemukakan suatu gagasan, yaitu dongkel kedudukan Jin Pohon Preh. Setujukah kalian? EGRANG, WILWO, SAWAN Setu....nggak, nggak. PADA SAAT YANG BERSAMAAN MUNCUL JIN POHON PREH. AGAKNYA IA MENDENGAR SEMUA OMONGAN DAN AMARAH GENDRUWO. GENDRUWO (sungkan dan malu pada Jin Pohon Preh) nggak kok.....nggak kok, nggak,nggak, nggak. JIN POHON PREH Setuju! Jin Pohon Preh itu memeng digusur, karena memang sudah uzur. Sudah saatnya turun ya gendruwo ya? Gagasan cemerlang lho itu. Saya dukung sepenuhnya. Malah kalau perlu saya carikan investornya supaya usahamu yang luhur itu, sukses selalu. Bukannya begitu genderuwo? GENDRUWO (ketakutan, pekewuh) lho, sekarang kok Cuma klecam-klecem, padahal tadi serem. Jangan seperti banci, gendruwo. Kamu ini panglima dhemit. Bukan begitu para dhemit? EGRANG, WILWO, SAWAN ( serempak menggeleng ) JIN POHON PREH Waduh sekarang kalian ikut-ikutan bego’. Padahal kalian juga bersemangat sekali! GENDRUWO, EGRANG, WILWO, SAWAN (sambil berdiri dengan serempak) tidak! JIN POHON PREH Begitulah, jawaban yang munafik itu, selalu kompak seperti paduan suara. Para dhemit, sekarang kapok tidak bahwa rencana sinting seperti itu berarti menurunkan kewibawaan Jin Pohon Preh? GENDRUWO, EGRANG, WILWO, SAWAN Kapok, kapok....... kapok, kapok...... kapok, kapok. TIBA-TIBA TERDENGAR KEMBALI SUARA GEMURUH, MERAUNG-RAUNG MENGANCAM. PARA DHEMIT KALANG KABUT, BERSIAP-SIAP MEMPERTAHANKAN DIRI KEMBALI, SEMUA SALING BERTAUT MEMPERSATUKAN DIRI. JIN POHON PREH Bagus itu, artinya kita harus kembali dalam ikatan persatuan. Kita kokohkan lagi semangat kita dan kta usir jika musuh datang. Kita singkirkan rasa saling curiga, kita pertahankan kekuatan kita ini! (JIN POHON PREH MEMIMPIN PARA DHEMIT BERKONSENTRASI DENGAN MENYANYIKAN TEMBANG) Apuranen sun angetang Lelembut ing nusa jawi Kang rumeksa ing nagara Pra ratune dhedhemit Agung sawabe ugi Yen eling sayadanipun Kedah kinaryo tulak ginawe Tunggu wong sakit Lemah aeng, lemah sangar dadi tawaaaaa.............. PARA DHEMIT MENGGEBRAK MENGERAHKAN SELURUH KEMAMPUAN UNTUK MENGKONSENTRASIKAN DIRI, MEMPERTAHANKAN DIRI DARI ANCAMAN YANG DATANG ITU. YANG DATANG KETEMPAT TERNYATA, SESEPUH DESA, PEMBANTU SESEPUH DESA DISERTAI RAJEGWESI. KETIGA ORANG ITU MENDEKATI POHON PREH. PARA DHEMIT MENGAWASI KEDATANGAN MEREKA DENGAN SEKSAMA. SESPUH DESA DIAM-DIAM MENGHATURKAN SESAJI. DAN GENDRUWO PUN LALU MENYELIDIKI KEDATANGAN MEREKA ITU. GENDRUWO ( menjelaskan kepada Jin Pohon Preh ) sesepuh desa lurahe. JIN POHON PREH Sesepuh desa? Lha, itu artinya kita bakal makan. SESEPUH DESA (khusus kepada Jin Pohon Preh) Jin..........pohooooonnn Preeeeehhhhh! Kini kami...... datang......... membawa sesaji secukupnya-aaaaaaaaaahhhhh.........! JIN POHON PREH Egrang, tolong dicek! EGRANG (setelah mencek sesaji Sesepuh desa itu) wuaduh! Kita dihina lurahe! Masak kita dikasi endhas kuthuk! GENDRUWO (marah besar mendekati sesepuh desa, hendak memukulnya) o, edyan! Kurang ajar! JIN POHON PREH (menahan gendruwo) eit, gendruwo! Jangan nekat! kamu mesti sabar. Kepada manusia itu, kita harus penuh toleransi. Tidak perlu harus dimaki, dipukul. Sebab manusia datang kemari selalu membawa upeti. Dan yang namanya upeti akan bertambah dengan sendirinya. Sabar ya. SESEPUH DESA (menambah sesajinya) jika memang dirasa kurang, Jin Pohon preh. Maka dengan ini saya tambah dengan kembang boreh. JIN POHON PREH Nah, iya ta. Tambah dengan sendirinya. Karena memang begitukah sifatnya upeti itu. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi.......rumah Spanyolan! SESEPUH DESA Saya tambah lagi dengn kemenyan. JIN POHON PREH Menyan? Wah, lumayan, bisa untuk mut-mutan. SESEPUH DESA Jin Pohon Preh, kedatangan kami ke sini sebetulnya ingin menanyakan, apakah di sini terselip seorang wanita dari dunia kasar? JIN POHON PREH Terselip? Aneh lho. Wanita kok terselip! Biasanya wanita itu kan di, akhirannya ”i” ta? SESEPUH DESA Adapun nama wanita itu adalah, aduh, siapa ya? Siapa pak Rajeg? RAJEGWESI Suli SESEPUH DESA Ya, Suli, Jin Pohon Preh. GENDRUWO Suli? Aduh, jangan-jangan wanita yang dimaksud sesepuh desa ini, wanita yang kemarin diculik Sawan itu, lurahe. EGRANG Eh, aneh ya? Kok mereka, manusia-manusia itu, bisa menerti bahasa kita ya? GENDRUWO Itu karena mereka sering menseminarkan kehidupan para dhemit. SAWAN Ya, ndak ta. Mereka itu kan sering baca koran mingguan yang isinya dhemit thok. WILWO Ya, tidak ta. Ini akibat komputerisasi di segala bidang. GENDRUWO Soal wanita itu, saya usul lurahe. Tanyakan kepada dia, apakah wanita yang dibawa Sawan kemarin itu tergolong manusia seutuhnya atau tidak. Ini penting untuk menjaga agar jagad ini tetap steril, lurahe. JIN POHON PREH Jika demikian kemauan para bawahan, saya sebagai pimpinan yang baik, patuh melaksanakannya. Selamat tinggal. GENDRUWO, EGRANG, WILWO, SAWAN Selamat jalan, bapak. JIN POHON PREH ( mendekati sesepuh desa) saudara sesepuh desa, sebelum akhirnya memutuskan keputusan penting, saya perlu ngecek soal wanita itu. Apakah wanita yang kamu maksud itu, tergolong manusia seutuhnya atau tidak, atau manusia yang sudah utuh, atau utuhnya sudah hilang? SESEPUH DESA Ya, kadang-kadang utuh, kadang-kadang tidak. Ini sangat perlu sekali saya ketahui secara persis. Supaya jagad kami tetap steril, tidak tercemar. SESEPUH DESA Jika memang ada, perkenankan saya untuk meminta kembali wanita itu. JIN POHON PREH Apa? Dikembalikan? Enak saja. Ketahuilah sesepuh desa, meskipun kami ini Cuma dhemit, kami juga menganut asas musyawarah dan mufakat. Artinya, segala keputusan tidak bisa tiba-tiba dilahirkan. Harus dirembuk dengan staf lainnya. Bersediakah sampeyan menunggu? SESEPUH DESA (mengangguk dengan mantap) silahkan. Jin pohon Preh segera kembali menuju ke tempat para dhemit. Ia mendekati georombolan dhemit itu dengan bangga dan mantap. GENDRUWO,WILWO, EGRANG,SAWAN Selamat datang bapak, selamat datang bapak. JIN POHON PREH Nah, begini para dhemit, dalam pembicaraan tadi terbesit keinginan manusia, untuk meminta kembali wanita yang ternyata diculik Sawan. Nah, saya meminta pertimbangan kalian. GENDRUWO Saya punya pendapat, agar segera kita membuat perjanjian baru lagi, dan harus ditaati oleh kedua belah pihak. JIN POHON PREH Baiklah, jika memang begitu. Sekarang saya akan kesana lagi. Selamat tinggal adik-adik, bapak akan berjuang. Jin pohon Preh menemui Sesepuh desa. JIN POHON PREH Se-se-puh de-sa........ EGRANG Lurahe! Kurang meyakinkan. Bikin serem, dibikin angker biar menakutkan! JIN POHON PREH Seeeee – seeee – puh deee – saaa….. SESEPUH DESA, YANG SEMULA TENGAH BEREMBUK DENGAN RAJEGWESI DAN PEMBANTU SESEPUH DESA, TIBA-TIBA MENDENGARKANNYA DAN SEGERA MENDEKATI JIN POHON PREH. JIN POHON PREH Bapak sesepuh desa yang saya hormati, setelah kami melangsungkan diskusi singkat dengan para staf, akhirnya telah diperoleh intisari dari pada keputusannya yaitu bahwa kami pada dasarnya tidak berkeberatan seumpama wanita Sandra itu pulang ke jagad kasar. Namun begitu, hasil diskusi tadi menyarankan supaya kita harus saling menghormati kedaulatan dan kehidupan masing-masing. Jangan saling memangsa, jangan saling mengganggu ketentraman. Kita harus saling menghormati. Demikian hasil keputusan itu. Terima kasih. SESEPUH DESA Hasil dari diskusi singkat kami, maka kamipun telah mendapatkan suara bulat, bahwa kami akan memugar tempat ini sesuai dengan citra perdhemitan. JIN POHON PREH Apa? Kamu akan memugar tempat ini? Jangan! Itu artinya kamu Cuma akan mengkultuskan dhemit. Itu tidak baik! Kultus mengkultus itu sudah menjadi bagiannya manusia. Dhemit tidak mengenal kultus. Ya, ya, ya, ya? GENDRUWO,EGRANG, WILWO, SAWAN Yayayayayaaaaaa...... ha- iya. SESEPUH DESA Tapi saya kenal kok, ya mbak ya? PEMBANTU SESEPUH DESA Ha – iya. SESEPUH DESA Jika usulan saya tidak berkenan, maka saya akan memperbaharui janji, yaitu kami tidak akan lagi mengganggu kehidupan para dhemit. Kami betul-betul berjanji. JIN POHON PREH Baiklah kalau begitu. Tapi, kalian sendiri yang membikin janji lho. Kita harus saling menghormati. Sawan! Segera kembalikan wanita dari jagad kasar itu. Sawan segera pergi menjemput Suli. Sesaat kemudian Sawan muncul kembali dengan membawa Suli, yang diam saja, belum sadar sepenuhnya, Rajegwesi pun belum bisa melihat kehadiran Suli. Tapi Sesepuh Desa bisa meihat kehadiran Suli. SESEPUH DESA (kepada Rajegwesi) pak Rajeg, apa sampeyan merasa ada sesuatu yang lain? RAJEGWESI (sambil mencelingukan mencari-cari) tidak ada itu. SESEPUH DESA Goblok ( menunjukkan kepada suli di dekatnya) lha, wanita ini siapa? Rajegwesi mendekati Suli dan menariknya setelah wanita itu sadar kembali, bahwa ia telah ada di dunianya sendiri. SULI Lho, kok saya ada di sini? RAJEGWESI Ya, tadi kamu di sana, terus saya tarik kesini. SULI Saya takut, pak Rajeg? RAJEGWESI Sekarang tak perlu takut, semua sudah saya beresi. SESEPUH DESA (dengan mendekati Rajegwesi) pak Rajeg, saya sudah memenuhi permintaan sampeyan. RAJEGWESI Terus maumu apa? SESEPUH DESA Penuhi permintaan saya! RAJEGWESI Untuk apa? SESEPUH DESA Untuk warga desa! RAJEGWESI Tidak bisa! SESEPUH MELEDAKKAN KEMARAHANNYA DENGAN MENCENGKRAM RAJEGWESI SEPERTI HENDAK MENERKAM. MEREKA MEMANG TENGAH BERTENGKAR SERU. PEMBANTU SESEPUH DESA MELERAINYA. SESEPUH DESA Baik. Kalau sampeyan ada apa-apa sampeyan tanggung sendiri! Sesepuh desa diikuti pembantunya pergi dari tempat itu. SULI Pak Rajeg, ada Urusan apa dengan sesepuh Desa? RAJEGWESI Kamu tak perlu ikut campur. Dia tadi mengajak saya di bawah pohon preh itu. Lantas komat kamit biar kelihatan angker. Biar saya takut. Pinter kok sekarang ini cari pekerjaan semacam itu. JIN POHON PREH (kepada Gendruwo) masak kita dibilang pinter. Aneh kan. Kita ini di kodratkan sebagai sosok yang bodoh. Saya semakin tidak bisa memahami manusia. Suatu saat menseminarkan manusia. Tapi genderuwo, saya takut manusia itu tidak bisa menepati janjinya. SULI Dhemit atau bukan, itu tidak penting. Sekarang masalahnya, bagaimana kita bisa menyelesaikan persoalan itu. GENDRUWO Lurahe, tempat tinggal kita ini hanya tersisa sepotong-sepotong. Kita selalu didesak-desak. Jadi mana mungkin kita punya waktu menseminarkan manusia? RAJEGWESI Suli, aku lebih percaya pada otak dan tanganku. Dengan tangan dan otakku ini, alam bisa saya kembangkan. JIN POHON PREH Tidak Genderuwo, kita masih bisa menaruh harapan kepada sesepuh desa. Dialah salah seorang manusia di jagad kasar yang tidak bertangan dan berotak gombal. RAJEGWESI Suli, yang jelas, saya tidak ingin proyek saya ini menjadi gombal, hanya lantaran pohon preh itu. GENDRUWO Tapi lurahe, tidak semua manusia itu bisa diajak kerjasama seperti sesepuh desa itu. Apalagi.......( sambil menunjuk kepada Rajegwesi) lihat itu, lurahe. Manusia yang memakai topi kuning itu. Dia sangat berbahaya. Para dhemit cemas dan takut melihat Rajegwesi. SULI Pak Rajeg, sekarang tak usah berbelit-belit. Jelaskan apa maunya pak Rajeg sebenarnya. RAJEGWESI Sudah jelas. Robohkan pohon preh itu! SULI Pak Rajeg, kita sudah tak mampu merobohkan pohon preh itu dengan cara apapun! RAJEGWESI Kamu ketinggalan zaman. Pakai dinamit! MENDENGARKAN KATA DINAMIT, PARA DHEMIT SEMAKIN GUSAR DAN TAKUT. MEREKA BERSIKAP WASPADA. MEREKA MULAI BERAKSI. KALANG KABUT. SEMENTARA RAJEGWESI SIBUK MENGATUR DINAMITNYA UNTUK DI SEKITAR POHON PREH, SIAP DILEDAKKAN. SULI Ingat pak rajeg. Akibatnya bisa gawat sekali. Tanah bisa longsor semuanya. RAJEGWESI (sambil memasang dinamit) hentikan konsultasimu Suli! Minggir sana! SULI Baik, kalau begitu akan saya panggil seluruh penduduk desa, akan saya panggil sesepuh desa. RAJEGWESI (sambil memasang dinamit) panggil sana! Panggil semua penduduk desa! PARA DHEMIT SEMAKIN GUSAR DAN CEMAS MELIHAT RAKITAN DINAMITNYA ADA DIMANA-MANA,DI SEKELILINGNYA. KINI MEREKA BENAR-BENAR KALANG KABUT, TERCERAI BERAI.. RAJEGWESI Suliiiiiiiiiiiii.................. lihat ini, Suliiiiiiiiiiii...................! RAJEGWESI MENEKAN TOMBOL LALU MELEDAKKAN DINAMIT ITU MENGHANCKAN KAWASAN ITU, POHON PREH HANCUR, TUMBANG. PARA DHEMIT LENYAP. RAJEGWESI TERSUNGKUR SENDIRI. TANAH DI SITU KINI LONGSOR. TERDENGAR SUARA MERAUNG-RAUNG, SUARA MENYAYAT HATI. SUARA MENGERANG KESAKITAN. DAN KETIKA SEMUA REDA. KETIKA SEMUA SEPI, MUNCUL PEMBANTU SESEPUH DESA, IA LARI TERBIRIT-BIRIT, MELIHAT SEKELILINGNYA. SAAT MELIHAT RAJEGWESI TERKAPAR TAK BERDAYA DI TENGAH-TENGAH TANAH SEKELILINGNYA YANG LONGSOR ITU, IA BERHENTI. MEMANDANGNYA TAJAM. Selesai. DUNIA SEOLAH-OLAH Karya: Yoyo C.Durachman DUNIA SEOLAH-OLAH Karya : Yoyo C.Durachman Para Pelaku : DALANG LAKI-LAKI I LAKI-LAKI II PEREMPUAN I PEREMPUAN II DUA ORANG LAKI-LAKI BERADA DI PENJARA, MEREKA BERAKTIVITAS YANG MENGGAMBARKAN KETERTEKANAN DALAM KETIDAKBEBASAN, SETELAH CAPEK MEREKA TERTIDUR. DALANG ini adalah kisah dari negeri yang bisa terjadi apa saja. Warna hitam bisa dibuat menjadi warna putih, siang sekonyong-konyong bisa menjadi malam, orang miskin dalam sekejap bisa menjadi MILLIONER, pesakitan tak berdosa bisa jadi terpidana, pedagang bisa jadi politikus, seniman bermetafora menjadi birokrat dan penguasa, pejabat pintar bisa menjadi dungu … ahhh …mungkin tidak gukup semua saya sampaikan dalam pementasan malam ini. Anda tidak akan menontonnya lebih dari dua jam. Karena lebih nyaman nonton telenovelasampai mabuk oleh iklan-iklan yang menghanyutkan. Apalagi kalau sambil menyeruput kopi panas dan mengunyah pisang goreng. Ngomong-ngomong, apakah anda nonton televisi suka ditemani oleh isteri atau anak?! Saran saya, lebih baik jangan, karena mereka nanti akan merengek kepada anda minta ke Salon untuk merubah penampilanya agar segantik Esmeralda. Tapi baiklah, untuk mempersingkat waktu, marilah kita saksikan sepak terjang kedua orang ini. Apa yang mereka lakukan dan omongkan. Mudah-mudahan anda semua tertarik. “ LAKI-LAKI I BANGKIT MEMPERHATIKAN LAKI-LAKI II, LALU MENGEKIKNYA TETAPI TIDAK JADI. DENGAN SUARA YANG BERAT LAKI-LAKI II BERKATA KEPADA PENONTON LAKI-LAKI I Entah berapa ribu kali hasrat saya ingin membunuhnya tidak kesampaian. Ketika saya pelintir kepelanya, wajahnya selalu mengekspresikan ingin dibelaskasihani. Apakah ini adil?! Saya pikir tidak. Karena entahsudah berapa tahunia selalu memperdayai saya, menyiksa saya, merekayasa saya, memperlakukan saya sebagai badutnya yang membuat dirinya tertawa sepuas-puasnya. Saya bosan, menderita dan merasa terhina. Apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah saya sudah pasrah menerima semua ini seperti apa adanya. Keadilan yang selama ini saya gugat, hapus begitu saja ketika pemahaman akan nasib kehidupan memasuki pikiran saya. SUARA LAKI-LAKI II BERGUMAM, NGELINDUR. LAKI-LAKI I MENGHENTIKAN PEMBICARAANNYA SETELAH YAKIN LAKI-LAKI II KEMBALI TIDUR. LALU LAKI-LAKI I MENERUSKAN PEMBICARAANNYA Sssssttttt, itu dia. Jangan ada yang bergerak, berbisik, dan bicara. Dia paling tidak suka dengan orang yang banyak bicara, ngebadut, biarpun ia sendiri jago berbicara. LAKI-LAKI II BANGUN, MASIH SAMBIL MENGANTUK IA BERBICARA LAKI-LAKI II Jangan percaya dengan apa yang diomongkannya tadi. Itu hanya issu, hasutan, isapan jempol. Dia seorang provokator. Anda sendiri tahu, orang yang menyebarkan issu itu orang yang tidak bermoral. “ LAKI-LAKI I Begitulah ia kalau sudah terdesak oleh keadaan, pikiran dan sikapnya akan berubah seketika. Tadinya saya harap kerangkeng besi ini akan memberikan pelajaran yang berharga padanya. Tidak tahunya malah semakin kebal. “ LAKI-LAKI II ( TERTAWA SINIS ) Kekebalan sangat dibutuhkan dalam menghadapi situasi seperti ini. Ngomong-ngomong Tuan ingin menu macam apa untuk sarapan pagi ini? Steak Tikus? Sambal goreng cecunguk dengan saus rasa kelek atau …” LAKI-LAKI I Cukup seperti biasa saja. Gulai khayalan_mu ditambah sedikit rasa pedas umpatanmu. “ LAKI-LAKI II Baiklah Tuan, saya akan segera mempersiapkan segalanya. “ LAKI-LAKI II MEMPERSIAPKAN SEGALA KEPERLUAN UNTUK SARAPAN PAGI. MEREKA MASAK DENGAN NIKMAT DAN RAKUSNYA. SEMUA MENU MAKANAN YANG TERHIDANG DISANTAPNYA DENGAN LAHAP LAKI-LAKI II Sangat nikmat menyantap daging para buruh dan minum keringat para petani. “ LAKI-LAKI I Itulah yang membuat kita berada dipuncak kejayaan, kekayaan, kekuasaan dan sekaligus terjepi ditempat seperti ini. Sudah berapa lama kita berada disini? Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus, dua ratus …. LAKI-LAKI II Angka-angka tidak cukup untuk menunjukan berapa lama kita sudah berada ditempat ini. Hanya tubuh kita, daya ingat kita, segala perubahan tang berada diluar sana yang bisa memberitahu sudah berapa lama kita berada disini. Apakah Presiden kita sudah ganti? LAKI-LAKI I Sudah LAKI-LAKI II Wwwuuuaahhh ….. kalau begitu kita sudah lama berada disini DALANG Menghitung waktu memang membosankan. Menjalani hidup memang membosankan. Aku yang selama ini menjadi penutur cerita dan apa perlu mengubah, merekayasa segala peristiwa kehidupan, juga merasa bosan LAKI-LAKI I Apakah Bapak bisa merubah cerita jalan hidupku? Aku harap bisa. Karena sandiwara ini hanya cerita karangan belaka. LAKI-LAKI II Jangan Pak dalang, cerita yang berubah-ubah akan membuat dia mempunyai kesempatan untuk menghapus tanggung jawabnya. Biarlah cerita beralur seperti ini. Saya sangat menikmati lakonnya. Tapi ngomong-ngomong ada honornya tidak?! “ DALANG Huussss!! Disini sangat pantang membicarakan honor. Ini proyek IDEALISME, proyek kebudayaan. Harus dijalani dengan tulus, karena pekerjaan ini menjadikan manusia lebih manusiawi. LAKI-LAKI II Tapi saya malah diperlakukan tidak manusiawi, Pak dalang. Pak dalang sendiri kalau dapat peye malah ngajak orang lain. Pak dalang, saya dipenjara, diputus dengan dunia luar, tidak boleh tidur dengan isteri saya dan … DALANG Akhh kamu. Ini kan Cuma sandiwara. Kamu dipenjara tidaj\k akan kebih dari satu setengah jam. Sesudah itu kamu bebas ngelonin Isteri kamu lagi. “ LAKI-LAKI I Jadi sandiwara cerita ini tidak bisa dirubah Pak dalang?! DALANG Tidak bisa dan tidak ada tawar-menawar. LAKI-LAKI I Baiklah kalau begitu. Ayo teruskan makan enak kita. “ DAN MEREKA KEMBALI MAKAN DENGAN RAKUSNYA. TIDAK KUAT LAGI MENAHAN BEBAN MAKANAN YANG SUDAH MASUK KEPERUTNYA, LALU KEDUANYA TERSUNGKUR TAK BERKUTIK. MUNCUL PEREMPUAN I, MENARI DAN MELANTUNKAN TEMBANG… PEREMPUAN I Sangsarana eling ka piranti Tina taya rumasa direngga Ku tekad sasama dewek Nu masih alam nafsu Sugih nukti hayang kapuji Jiga nu sampurna Naluturkeun batur Batur jasad kaula Lain gusti tapi dipati ati Ku anu kateteran LAKI-LAKI I DAN LAKI-LAKI II MENDENGARKAN TAKZIM, KEMUDIAN MENANGIS PILU SALING BERSAHUTAN, LALU TERTIDUR. DALANG Tidur, tidurlah dengan pulas, karena kalau sudah puas menyantap keserakahan, tidak ada yang harus dikerjakan selain tidur. Tidurlah dengan nyenyak, masabodoh dengan penderitaan, masabodoh dengan ketidak adilan, masabodoh dengan kedurhakaan, masabodoh dengan kebebalan, masabodoh dengan …. ( LAKI-LAKI I DAN II BANGUN MASIH DENGAN KEADAAN TERLENTANG, MEREKA BERCAKAP-CAKAP ) LAKI-LAKI I Makanan tadi membuat kita tidak berdaya. LAKI-LAKI II Yang kita makan tadi; daging para buruh, ati kaum papa, jeroan anak yatim dankaldu tulang-belulang masyarakat pinggiran. Memang enak, tapi membuat kita terperosok kedalam lubang ketidak beradaban. Apa boleh buat, kini kau harus lakukan kalau mau menguasai kehidupan LAKI-LAKI I Apakah aku mau menguasai kehidupan?! LAKI-LAKI II Sebenarnya tidak, tapi harus. DALANG Ya, harus. Masyarakat ingin dikuasai olehmu. LAKI-LAKI I Kata siapa?! DALANG Saya telah mensurveynya. Percayalah, masyarakat seratus persen mendukungmu, mereka berada dibelakangmu, bahkan mereka berani mati untukmu. LAKI-LAKI II Ya, benar. Masyarakat berada dibelakangmu. Kau akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa kita sebagai tokoh yang membela kepentingan masyarakat banyak LAKI-LAKI I Tapi itu slogan-slogan dulu. Kini aku terjepit kedalam dunia tidak bermakna; katanya aku KKN, melanggar HAM, aku resresif, aku berlaku tidak demokratis, katanya aku sayang anak dengan mengorbankan rakyat banyak, aku berlagak bagai seorang raja, tukang membabatkayu hutan, katanya aku harus diseret kepengadilan……tapi katanya ada yang membelaku diluar sana….apa ia?! …… LAKI-LAKI II Ya, jangan takut. Diluar sana masih banyak yang membelamu. Mereka sekarang sedang menghimpun kekuatan untuk melancarkan serangan balik. Jadi santai-santai saja, istirahat dengan tenang, makanlah yang enak-enak, tidur dan mimpilah yang indah…. LAKI-LAKI I Tapi aku bosan disini terus, aku bosan dengan makanan-makanan yang enak, aku bosan bermimpi terus … Akhh … penyakitku ini sering merongrong, Aku jengkel dengan penyakit Embeyenku, aku muak dengan penyakit Diabetesku, Hipertenisku, jantungku, ginjalku, kencing batuku, dan ………. Akhhh …… aku frustasi dengan penyakit AID-ku. “ LAKI- LAKI II Jangan gusar, sebentar lagi dokter spesialis dari Rumah Sakit “HARAPAN HIDUP” akan segera datang. Yang penting kau selalu senantiasa harus menyalakan api semangatmu hingga berkobar-kobar melewati batas-batas kemanusiaan. LAKI-LAKI I Tapi semangatku sudah sirna, tubuh dan otakku sudah tak berdaya lagi. Makanan-makanan itu yang meracuniku. ( PEREMPUAN I MASUK ) Ibu ….. kau tahu itu?! Terima kasih kau sudah datang, Ibu. Aku sudah lama menunggu siraman kasihmu, menikmati belaian menyejukan darimu. “ PEREMPUAN I Aku akan selalu datang menemuimu, selama kau masih mendengarkan omongan LAKI-LAKI Itu dan DALANGmu itu. “ ( MENUJU KEARAH LAKI-LAKI II DAN DALANG ) LAKI-LAKI I Mereka sudah menjadi bagian dari kisah hidupku, Bu. Baik atau buruk, Salah atau benar, tanpa mereka aku tidak akan bisa menjadi seperti ini. PEREMPUAN I Apa maksudmu; “ AKU TIDAK AKAN BISA MENJADI SEPERTI INI?! “ . Kau telah begitu sangat berkuasa, kaya raya dan kemudian terpuruk ditempat ini?! Itu maksudmu?! LAKI-LAKI I Benar Ibu. LAKI-LAKI II Jangan kau tanggapi ocehan perempuan ini. PEREMPUAN I Diam kau parasit!!!!! LAKI-LAKI II Kau yang harus diam. Kau harus menghargaiku. Bagaimana juga aku telah memberi jasa kepadanya. Aku telah membuatnya menjadi orang terhormat, berkuasa, berpengaruh, kaya raya ………… PEREMPUAN I Tetapi sekaligus terpuruk dengan penuh nista, dihujat dan dianggap sampah. LAKI-LAKI II Itu resiko dari sebuah permainan. Ada kalah, ada menang terus tetapi sekali kalah langsung hancur. PEREMPUAN I Kau harus ikut bertanggung jawab. LAKI-LAKI II Dengan berada ditempat ini aku sudah ikut bertanggung jawab LAKI-LAKI II Tidak ada gunanya berdebat tentang kekalahan. Sekarang aku harus bagaimana Ibu? PEREMPUAN I Kau harus mententramkan dirimu sendiri anakku, kau harus membuat dirimu bahagia, polos, tanpa beban, tanpa dosa seperti pada waktu masa kanak-kanak. LAKI-LAKI I Aku harus kembali kemasa kanak-kanak?! PEREMPUAN I Ya, kembali kemasa kanak-kanak. ( DENGAN SANGAT GEMBIRA LAKI-LAKI I BERJINGKRAK, TERTAWA, LALU MENYAYIKAN LAGU 1 DITAMBAH 1, MAIN KUDA-KUDAAN, MAIN SEPEDAH-SEPEDAHAN DAN PERMAINAN ANAK-ANAK LAINNYA DIBANTU OLEH LAKI-LAKI II. SUDAH LELAH BERMAIN, LAKI-LAKI I LALU TIDUR DIPANGKUAN ( BERSENANDUNG MENINA BOBOKAN ) PEREMPUAN I. SEMENTARA LAKI-LAKI II MENERUSKAN PERMAINANNYA SENDIRI. DALANG Tidur, tidurlah dengan pulas anak laki-laki yang malang. Kalau kau sudah puas bermain-main, tidurlah dengan pulas dan jelanglah mimpimu yang indah. Masabodoh dengan ketidakadilan, masabodoh dengan kesewenang-wenangan, masabodoh dengan kedurhakaan, masabodoh dengan penindasan …. Tidur …tidurlah …. Aku akan membawamu keluar cerita yang lain. LAKI-LAKI II ( MENDEKAT KE DALANG ) Pak DALANG, bikin dong cerita tentang saya, amplopnya beres …… DALANG Oke … oke … ayo siap! ( LAKI-LAKI II BERSIP-SIAP UNTUK ACTING ) Inilah kisah orang yang bisa menjadi apa saja; bisa menjadi politikus, bisa menjadi preman, bisa menjadi penguasa, bisa menjadi birokrat, bisa menjadi bandit, bisa menjadi Mubaligh, bisa menjadi monyet, srigala, kucing, jaksa, pesakitan, konglongmerat, nasabah … dan ………….. LAKI-LAKI II (MEMOTONG ) Pak dalang, saya kok bisanya banyak banget?! DALANG Itu tandanya kau orang hebat. LAKI-LAKI II Ahh, yang benar …. Hebat apanya?! Aku hanya menjadi begundal dia! ( MENUNJUK KE LAKI-LAKI I YANG SEDANG TIDUR ) DALANG Di situlah kamu hebatnya. Bersuara tanpa terdengar, hadir tanpa terlihat, bergerak tanpa melabrak ….. LAKI-LAKI II ( TERTAWA ) Itulah tokoh dibalik layar. Kata orang pintar. DALANG Apa kamu puas padahal tidak ada yang menyanjungmu?! LAKI-LAKI II Dipuas-puaskan saja namanya juga usaha. Pak dalang, bagaimana kalau narasinya ditambah dengan, “BERJASA TANPA DICATAT SEJARAH”. DALANG Memangnya kamu guru?! Pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi boleh juga. LAKI-LAKI II Oke, kalau begitu aku tidak usah dikisahkan, sebab aku bukan orang yang berdiri paling depan. ( MENUJU KEARAH LAKI-LAKI I ), Lanjutkan saja kisah dia. Biar semua orang tahu siapa dia sebenarnya. “ DALANG Oke … oke ( KEPEDA LAKI-LAKI I ) Bangun … bangunlah laki-laki malang, mentari siang menunggu episode kehidupanmu yang lain dengan tak sabar. Bangun … bangunlah laki-laki malang. (LAKI-LAKI I BANGUN DENGAN PERLAHAN DAN TERKEJUT MELIHAT SEORANG PEREMPUAN BERDIRI DIHADAPANYA ) PEREMPUAN II Kaget ya melihat aku?! LAKI-LAKI I Nyi Mas …Nyi Mas Pelepasbirahiwati jungjunganku. Aku dengar kau sudah pergi ke negeri seberang. Aku dengar kau sudah kawin lagi dengan seorang pemuda disana. PEREMPUAN II Ya, benar. Tapi aku tetap selalu merindukanmu. Aku kangen dengan suaramu yang merdu itu. LAKI-LAKI I Ah, aku bernyanyi hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Bukan untuk menyaingi Broery Pasolima PEREMPUAN II Aku tidak peduli apa motivasimu bernyanyi. Aku tetap terkenang dengan alunan suaramu yang merdu, dengan candamu, dengan kepolosanmu. LAKI-LAKI I Tapi kau tidak rindu dengan uangku, kan? 40 Milyar untuk bekal hidup di negeri seberang sana lebih dari cukup bukan? PEREMPUAN II Ah, tapi itu komisiku yang resmi, bukan tanda kasih sayang darimu. Ngomong-ngomong, apa kabarmu sekarang? Bagaimana rasanya hidup dikrangkeng seperti ini?! LAKI-LAKI I Itulah persoalannya. Aku merasa terjebak oleh diriku sendiri. Pikiran-pikiranku telah menghukumku, tindakan-tindakanku telah menghukumku, ambisi-ambisiku telah menghukumku, omongan-omonganku telah menghukumku …….. PEREMPUAN II Jangan menyesali diri sendiri. Penyesalan akan menjeratmu ke penderitaanmu yang paling dalam. LAKI-LAKI I Bagaimana aku tidak akan menyesal kalau bertumpuk-tumpuk perbuatanku kini menindihku. PEREMPUAN II Seharusnya para pembantumu ikut menanggung beban. LAKI-LAKI I Wwuaahhh ….. boro-boro. Mereka malah rame-rame cuci tangan, menyelamatkan diri, bahkan kini ikut-ikutan menghujatku …. Sialan … bedebah! PEREMPUAN II Tenang …. Tenang …. Paling tidak kamu masih punya aku. Ayo mendekatlah biar aku mententramkanmu. LAKI-LAKI I Aku rindu kepadamu ….. aku rindu kepadamu …. Aku rindu kepedamu ….. Nyi Mas … PEREMPUAN II Aku juga rindu kepadamu …… (LAKI-LAKI I DAN PEREMPUAN II BERPELUKAN, SALING ………) LAKI-LAKI II Pak dalang, awas jangan disensor ya. DALANG Badan sensor sekarang tidak diperlukan. Biarlah penonton yang memberi penilaian. (KEMUDIAN LAKI-LAKI I DAN PEREMPUAN II PUN TERUS ASYIK MASUK, MASUK SAMPAI SETUNTAS-TUNTASNYA ) Inilah Kamasutra, seni yang membiuskan, seni yang bisa memporak-porandakan peradaban, seni yang bisa membawa keluar dari penderitaan sejenak … “ LAKI-LAKI II Aaassssooooyyy …… (LAKI-LAKI I SEPERTI TERSADAR DARI PINGSANNYA, MENATAP KEPADA PEREMPUAN I ) LAKI-LAKI I Nyi Mas …… kita seperti pengantin baru saja ya? PEREMPUAN II Itulah khasiat jamu sari rapet “NONA MONTOK” … (MEREKA TERTAWA TERBAHAK-BAHAK PENUH SUKA CITA. NAMUN TIBA-TIBA LAKI-LAKI I BERHANTI TERTAWA ) LAKI-LAKI I Kau!!!!!!! PEREMPUAN II Ya, aku. Memangnya kenapa?! LAKI-LAKI I Bedebah ……. Aku lupa …. Aku sebenarnya benci kepadamu. Kau ikut andi menjadikan aku seperti ini sekarang. PEREMPUAN II ( TERTAWA ) Aku kira kau sudah melupakan dosa-dosaku. Salahmu, kau tidak bisa menghidar dariku. Pekerjaanku memang untuk membawamu ke juran kehancuran. LAKI-LAKI I Tetapi kenapa tadi aku melihatmu seperti Ibu?! PEREMPUAN II Ya, tadi aku sedang berperan sebagi Ibu. Kini peranku sudah berganti …… menjadi penghancurmu …… LAKI-LAKI I Begitu mudahnya berganti peran. PEREMPUAN II ( TERTAWA ) Itulah zaman sekarang. (SEKETIKA PEREMPUAN II MENJADI BERINGAS. MEMBUAT GERAKAN YANG MENGANCAM LAKI-LAKI I ) LAKI-LAKI I Kenapa aku yang kau pilih?! PEREMPUAN II Karena kau mempunyai syarat untuk dipilih; Kau serakah, tamak, biadab, tak berbudi, bebal, provokator … LAKI-LAKI I Bukan aku yang mau mempunyai sifat-sifat seperti itu …… PEREMPUAN II Tidak bisa ditolak. Ini takdirmu. Hukumlah dirimu sendiri. Kau telah berdosa kepada kemanusiaan. LAKI-LAKI II Jangan menyerah. Lawan dia. Bukan kamu yang bersalah ……….. ayo lawan …… aku berada dibelakangmu … (SAMBIL BERKATA, LAKI-LAKI II MALAH MUNDUR MENCARI PERLINDUNGAN DI BELAKANG DALANG ) LAKI-LAKI I Aku tidak bisa melawan. Tubuhku lumpuh. Otakku tidak berjalan. Aku menyerah ……. LAKI-LAKI II Ayo …. Ayo jangan menyerah, aku ada dibelakangmu, dipihakmu …. Dan masih beribu-ribu bahkan berjuta-juta orang diluar sana berpihak padamu. “ PEREMPUAN II ( TERTAWA MISTERIUS ) Aku punya rahasia untuk melumpuhkan dia. Aku tahu dia paranormal langganannya. Ayo hukumlah dirimu sendiri. Kau pasti sudah muak berada ditempat ini. Aku tahu kau sudah merindukan dunia yang lain. Dimana rasa berdosamu akan sirna. LAKI-LAKI II Ayo lawan dia. LAKI-LAKI I Aku tidak punya kekuatan untuk melawannya. PEREMPUAN II ( KEPEDA LAKI-LAKI II ) Bantu dia untuk menghukum dirinya sendiri. LAKI-LAKI II (KETAKUTAN ) Baik …….. baik …. LAKI-LAKI I Aku menyerah! (IA MELIHAT KE SEKELILING. DAN DIBANTU OLEH LAKI-LAKI II, IA MENUJU TALI GANTUNGAN. LALU PEREMPUAN II TERTAWA DAN MENINGGALKAN PANGGUNG. SEMENTARA LAKI-LAKI I GANTUNG DIRI NAMUN TALINYA PUTUS ) LAKI-LAKI I Penderitaan kita masih diperpanjang. (DAN MEREKA PUN TERTIDUR ) DALANG Kehidupan belum berakhir, kebebasan nelun bisa terlaksanakan, dosa-dosa belum bisa diampunkan, perjalanan masih panjang. Nikmatilah kesepian, nikmatilah kebosanan, nikmatilah keputusasaan ….. karena kalian pantas mendapatkan …… (LAKI-LAKI I DAN II TERJAGA DARI TIDURNYA. MEREKA BEREBUT TEMPAT TIDUR. TEMPAT TIDUR ITU DIBAGI DUA. MEREKA PUN TERUS MELANJUTKAN TIDURNYA DAN BERMIMIPI IANG SEBENAR-BENARNYA MIMPI ) DALANG Bangun, bangunlah laki-laki malang. Mimpimu telah berakhir, perjalananmu masih panjang, mentari siang masih mau menonton kisahmu yang lebih kelam. (LAKI-LAKI I DAN II SERENTAK BANGUN. MEREKA MENDAPATKAN TUBUHNYA SEMAKIN RINGKIH ) LAKI-LAKI I Dengan apa lagi kita mengisi kehidupan yang masih tersisa ini?! LAKI-LAKI II Tentu saja dengan keseolah-olahan yang masih kita miliki. LAKI-LAKI I Dengan tubuh kita yang sudah seperti ini, dengan ingatan kita yang sudah pikun, apakah kita mampu membuat seolah-olah?! LAKI-LAKI II Mampu. Buatlah seolah-olah kita masih hidup LAKI-LAKI I Tapi kita memang masih hidup LAKI-LAKI II Tidak. Kita sudah mati. Pikiran kita sudah beku, hati nurani kita sudah sirna, semangat kita sudah musnah. LAKI-LAKI I Jadi apa tandanya kalau kita masih hidup?! LAKI-LAKI II Kita masih bernafas, masih bisa kentut, tertawa, menangis, menjerit, mendengus, bergerak …. LAKI-LAKI I Kalau begitu mari kita bernafas, kentut, tertawa, menangis, menjerit, mendengus, bergerak ……. (DAN MEREKA PUN MEMPERAGAKAN APA YANG DIKATAKAN OLEH LAKI-LAKI I. MEREKA TERUS MEMPERAGAKAN SAMPAI CAPEK ). Capek?! “ LAKI-LAKI II Buat seolah-olah tidak capek LAKI-LAKI I Haus?! LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah tidak haus LAKI-LAKI I Masih jauhkan perjalanan kita?! LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah sudah dekat. LAKI-LAKI I Kenapa kita harus menderita seperti ini?! LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah kita tidak sedang menderita. LAKI-LAKI I Kenapa kita dihukum?! LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah kita tidak sedang dihukum LAKI-LAKI I Padahal kita Cuma maling ayam dan jemuran milik tetangga. LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah kita penjahat politik, pembobol Bank atau Subversif LAKI-LAKI I Woe’ ……. Hebat! Apakah kita aman disini? “ LAKI-LAKI II Aman. Disini kita dilindungi hukum. “ LAKI-LAKI I Siapa bilang?! Kita Cuma dilindungi jeruji-jeruji besi! LAKI-LAKI II Jeruji-jeruji besi, itulah hukum. “ LAKI-LAKI I Apakah mereka tidak akan menghakimi kita? LAKI-LAKI II Tidak. Sudah ada yang mencegah mereka diluar sana. LAKI-LAKI I Siapa bilang?! Aku melihat mereka! Melihat mereka datang kemari, ooohh …….. begitu banyaknya mereka! LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah mereka tidak datang kemari LAKI-LAKI I Tidak bisa. Mereka semakin banyak. Mereka meneriakan yel-yel, mereka membawa panji-panji kebesaran mereka ……… Oohhh …. Mereka menghujatku…… mereka semakin banyak ……. Mereka sudah dekat ……. Mereka mengepung kita …….. mereka akan menangkap kita ……. Akan mengintrogasi kita ….. akan mengadili kita ……… menghukum kita ……. Oohhh ……… LAKI-LAKI II Buatlah seolah-olah mereka tidak akan melakukan apa-apa terhadap kita. LAKI-LAKI I Tidak bisa, oohhh ….mereka semakin mendekat …… mendekat ….. tolong ……. Jangan ………!!!! MEREKA BERDUA SEOLAH-OLAH MENAHAN JERUJI PENJARA DARI DOBRAKAN MANUSIA YANG BERDATANGAN SEMAKIN BANYAK. JERUJI SEMAKIN MENYEMPIT. ATAP PENJARA MENINDIH MEREKA. RUANGAN ITU SEMAKIN KECIL …… KECIL ….. MEMBUAT MEREKA SEMAKIN TERHIMPIT DAN MENGHILANG, MUSNAH. LALU PEREMPUAN I MUNCUL, MENARI DAN MELANTUNKAN TEMBANG “FADE OUT”. SETELAH SELURUH RUANGAN GEDUNGPERTUNJUKAN TERANG, DALANG MUNCUL. DALANG Tugasku sebagai dalang telah selesai. kini tidak diperlukan lagi seorang dalang, karena tidak ada lagi yang bisa dikisahkan. Kita tidak bisa membuat seolah-olah lagi. TAMAT Lakon Remaja HM1L (baca; HAMIL) Karya : Puthut Buchori PERTUNJUKAN DIMULAI DENGAN LAGU DAN GERAK RAMPAK YANG MENGGAMBARKAN TENTANG SEMANGAT KAUM MUDA DALAM MENGHADAPI DUNIA. SYAIR 1 MANUSIA MUDA Orang-orang Muda Tersisihkan keangkuhan generasi Dikalahkan kesombongan basi Korban orde pembodohan Kami tak lagi bisa bungkam Tak lagi kami hanya diam Mesti terkotak sistem aturan Namun kami tetap punya otak Bergerak derak harus teriak Energi kami masih perkasa Menerjang menerpa meski menendang Karena kami tak pernah lelah Dengan gaya kami Inilah diri kami Aneka ragam keinginan terpendam Rupa-rupa warna hasrat Suka-suka segala dicoba Hura-hura sisi dunia ceria Muda-muda gaya Hidup untuk dinikmati Jadikanlah segalanya ceria Uh…. Mempesona BAGIAN 1 SEKELOMPOK ANAK MUDA KAUM PINGGIRAN YANG BERGAYA ‘PUNK ’ BERLARIAN MENGEJAR SESEORANG YANG MEREKA ANGGAP SEBAGAI MANGSA. DISUSUL KEMUDIAN SEKELOMPOK ANAK MUDA YANG BERPAKAIAN MODIS (MODE MASA KINI) YANG JUGA SEDANG MENGEJAR SESEORANG YANG JUGA MEREKA ANGGAP SEBAGAI MANGSA. BAGIAN 2 SEORANG PEREMPUAN BELIA DUDUK DIAM SEDANG DIADILI KEDUA ORANG TUANYA. DIA HANYA MENANGIS TAK BERDAYA, SEMENTARA AYAHNYA MARAH KARENA KELAKUAN ANAK SEMATA WAYANGNYA TIDAK SESUAI HARAPAN. AYAH Apa, hamil ? SISI Ya, maafkan Sisi ayah ? BAGAI PETIR MENYAMBAR DISIANG BOLONG, AYAH MARAH SEJADI-JADINYA. AYAH Oh my God !!, dosa apalagi yang diperbuat anak ini, kutukan apalagi yang menimpa keluarga ini. SISI Maaf…. AYAH Diam!! Ayah kurang memberi apa padamu, uang jajan, pendidikan, kebutuhanmu sehari-hari. Kurang apa coba, segala permintaanmu aku kabulkan semua. SISI Ayah… AYAH Jangan bicara dulu! Apa kamu tidak kasihan pada ayahmu ini, pontang-panting bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian, memberi makan kalian…. SISI Ayah… AYAH Diam kataku! IBU Ayah, berilah waktu untuk dia berpendapat. AYAH Kamu juga bu, orang tua yang tak bisa mendidik anak. Kamu lebih banyak di rumah, lebih banyak bersama anak semata wayang ini, kok ya bisa-bisanya sampai kecolongan “meteng ” ! IBU Ha, elho ! kok jadi ayah juga menyalahkan aku ? AYAH Kamu ibunya, tugasmulah mendidik anak ! IBU Siapa bilang ? Ayah juga punya kewajiban mendidik dia. AYAH Aku sibuk bekerja ! IBU Aku juga sibuk… AYAH Sibuk apa ? Arisan, piknik, sibuk ubyang-ubyung dengan kelompok arisanmu itu ? IBU Alaah , ayah hanya bisa menyalahkan, menghindar dari tanggung jawab moral… DI TENGAH PERTENGKARAN ITU, SISI BERTERIAK HISTERIS, SUASANA JADI SEPI, BAPAK DAN IBU KELUAR DARI PANGGUNG. HANYA ADA SISI SENDIRI. MELAMUN, MENERAWANG JAUH, KOSONG. SYAIR 2 ELEGI SISI Langkahku memang salah, hatiku tak terarah Karna tergoda dosa aku dicampakkan Terusir dari dunia yang kucinta Tersisih dari orang tercinta Tak tahu harus kemana menapak Agar tetap diterima dan dicinta Aku butuh arah, tanpa dihantui aib, dosa dan sesal Ini bukan salahku semata Ini salah keadaan, ini salah suasana Ini salah jaman yang menuntutku berbuat Mengajariku untuk ringan melakukan BAGIAN 3 ANAK-ANAK BERGAYA ‘PUNK’ DENGAN ANEKA MACAM KENDARAAN: SKATEBOARD, SEPATU RODA, SEPEDA, DAN LAIN SEBAGAINYA. BERTERIAK TANPA ATURAN, MENDEKATI SISI YANG MASIH SENDIRI. SISI Kalian ini siapa? Kok berdandan aneh ? P M Atas nama pimpinan kami kaum Punk, perkenalkan aku Punk Melankolis akan menjadi malaikatmu. SISI Malaikat ? P M Ya, malaikat yang dalam bahasa inggrisnya, sebentar.. (membuka kamus) nah ini.. angel (dibaca tetap angel-jawa-) SEMUA Hu.. enjel.. P M Ya, ucapannya seperti temen-temenku itu tadi, maklum bahasa Inggris anyaran .. SISI Kok malaikat ? P M Ya jelas malaikat, karena kami akan menolongmu, (kepada kelompok Punk) ya ? SEMUA Tul ! P M Karena aku tahu, kamu sedang kesusahan (kepada kelompok Punk) ya ? SEMUA Tul ! P M Karena aku tahu, kamu sedang kesepian (kepada kelompok Punk) ya ? SEMUA Tul ! P M Karena aku tahu, kamu sedang sendiri (kepada kelompok Punk) ya ? SEMUA Tul ! P M Sebab aku tahu, kamu sedang butuh teman (kepada kelompok Punk) ya ? SEMUA Tul ! P M Good… good …good… begitulah kami, kompak. SISI Tetapi, aku… JI-PUNK Sudahlah, dik Friend, jangan ragukan soliditas dan soladaritas pertemanan kami, jangan remehkan kualitas dan kuantitas serta orisinalitas perkawanan kami. SISI Siapa lagi ini ? P M Oh, ini Ji-Punk, atau Punk Genter , beliau ini sekertaris kaum Punk. SISI Walah-walah, ada sekertarisnya ? JI-PUNK Meskipun kami ini kelompok inkonstitusional-marjinal , tetapi kami sangat aktual, sehingga menganut organisasi yang prinsipial.. SISI O… JI-PUNK Oh ya dik friend , tadi ada instruksi dari kepala suku kami ‘ Bos Punk- reas’. Beliaunya ingin menemui dik friend langsung. SISI Yang mana sih, pimpinan kalian ? Kok keliatannya seru sekali ? KEMUDIAN SISI MENEMUI PIMPINAN PUNK YANG TERNYATA DILUAR DUGAAN, BERPOSTUR TUBUH KECIL DAN BISU. SISI (Tertawa geli) Jadi ini, bos kalian ? Hallo bos.. BOS (Berbicara tidak jelas) Operty iuythu nhuuijku bfgtrye okiuy SISI (Semakin geli) Bos kalian...? BOS(Berbicara tidak jelas, marah) Operty iuythu nhuuijku bfgtye okiuy !! SISI (Tertawa semakin geli) Yang bener ? BOS (Berbicara tidak jelas, semakin marah) Operty iuythu nhuuijku bfgtrye, okiuy… PUNK-SIT Eh, jangan main-main dengan bos, kalau marahnya memuncak ati-ati . SISI MASIH TERTAWA, BOS PUNK-REAS SEMAKIN MARAH DAN KEMUDIAN DENGAN GUNA-GUNA MENYIHIR SISI HINGGA SISI JUGA IKUT BISU. BOS (Bahasa tidak jelas) Operty iuythu nhuuijku bfgtrye, okiuperty ihu nhuuijku bfgtrye, okiuyl. SISI (Bahasa tidak jelas) Operty iuythu nhuuijku bfgtrye,okiuy SEMUA Nah bener kan… SISI(Protes) Iperty iuythu nhuuijku bfgtrye, okiuy ? BOS (Menjawab dengan santai) operty iuythu nhuuijku bfgtrye. SISI (Mencoba berpendapat) operty iuybfgtyre, okiuy operty iuythu nhuuijku bfgtrye, okiuy. BOS (Masih dengan santai) ouijku bfgtrye, okiuy. SISI(Minta maaf) toiyujhny iuyhu nhuuijku bfgoikoitr. BOS (Dengan penuh kebanggaan dan kemenangan, mengabulkan permintaan Sisi) eperty iuythu nhuuijku bfgtrye, okilokiol. SISI (Bicara normal) ... ah akhirnya… terima kasih. Maaf . DARI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA MUSIK DISCO DAN SUARA ORANG-ORANG TERTAWA PENUH KEGIRANGAN. PINKPUNK Eh rombongan modis datang. SEMUA MELIHAT BOS, LALU BOS BERBISIK KEPADA JI-PUNK. JI-PUNK Kata Bos, kita harus sembunyi !! SEMUA ANAK PUNK BERSEMBUNYI. ROMBONGAN MODIS DATANG MENDEKATI SISI. MODELIA Hey funkies, what happen ? MODELINI Are you cry, sweet heart ? MODENA Are you sad ? MODENI Are you lonely honey ? MOMOD What do you love me ? KAUMODE Hu.. ngaco ! MODELIA Bete ya ? biar akika temenin. SISI Kalian ini siapa ? MODELIA Aku ini penolongmu. SISI Penolong ? Kok bisa ? Penolong bagaimana? MODELIA Ya penolong, yang siap menampung segala curhat mu, keluh kesahmu, sakit hatimu, sedih-sedanmu, dan… KAUMODE Kaum mode, penyulap kesedihan menjadi kebahagiaan. Kesusahan berubah keceriaan, jangan bete lah yaw ! MODELIA Ya, kami akan membantumu untuk menciptakan kesenangan. KAUMODE Waow ! MODELIA Bermain ke awan yang penuh warna-warna. KAUMODE Waow ! MODELIA Ke atas pelangi yang sudah dapat kami ciptakan sendiri setiap hari.. KAUMODE Waow ! MODELIA Ke negeri para bidadari.. KAUMODE Waow ! Waow ! Waow ! ehm wow keren… SISI Tetapi biarlah aku pikirkakan dulu, saat ini aku belum bisa berpikir jernih. MODELIA Itulah… untuk menjernihkan pikiranmu, tak perlu pikir panjang.. ayo… TIBA-TIBA ANAK-ANAK PUNK MUNCUL DI HADAPAN MEREKA PARA PUNK Jangan !! PUNK JAMBU Ya, jangan ganggu teman kami, kami akan mati-matian membelanya. PKBN Sekali saja kau memaksanya, awas ! MOMOD Nantang ya ? Berani ya ? Memangnya siapa kamu ? PUNK JAMBU Aku Punk Jambu. PKBN Aku Punk Kosong Barbunyi Nyaring. MOMOD Baik, aku layani. Mudil, maju ! (tokoh Mudil maju menantang) PUNK JAMBU Untuk membela mati-matian, aku tak keberatan. Punk Melankolis, maju ! P M Lho, kok aku ? (Setelah berpikir sejenak akhirnya maju menantang Mudil) baik, oke sajalah… DENGAN PENUH KEGAGAHAN PUNK MELANKOLIS MENGHADAPI MUDIL, TETAPI BELUM SAMPAI DI DEPAN MUDIL, DIA SUDAH MUNDUR. PARA PUNK Kenapa ? P M Kasihan ... BOS (Berbicara tidak jelas) Miujfyr bfgrytgeerefed lhohkihklo. P M Baiklah kalau itu kehendak bos. DENGAN PENUH KEGAGAHAN KEMBALI KE ARAH MUDIL, TAPI BELUM SAMPAI DI DEPAN MUDIL PUNK MELANKOLIS MUNDUR LAGI. PARA PUNK Kenapa lagi ? P M Nggak tega.. sungguh.. yang lain sajalah.. TIBA-TIBA SALAH SEORANG DIANTARA MEREKA BERTERIAK “SERANG!!” DAN TERJADILAH PERKELAHIAN MASSAL. HINGGA AKHIRNYA TERDENGAR SUARA SIRINE MOBIL POLISI, KAUMODIS DAN PUNK MEMBUBARKAN DIRI. KEMBALI SISI SEORANG DIRI. SISI Sendiri lagi…. Mungkin sudah garis hidupku… TIDAK TAHAN DENGAN RASA SAKIT DAN SEDIHNYA, SISI TERJATUH. LALU MUNCUL ORANG-ORANG LORONG. BAGIAN 4 SYAIR 3 ORANG-ORANG LORONG Orang-orang lorong Berjiwa penolong Baju bolong tak berarti hati kami kosong Orang-orang lorong Bukanlah tikus pengerat Penyayat para rakyat Orang-orang lorong Orang-orang lorong ORANG 1 Ada yang sakit. ORANG 2 Siapa ? ORANG 1 Entahlah, seorang perempuan muda yang penuh beban derita. ORANG 2 Astaga, kasihan.. entah dosa apa yang mengutuknya.. ORANG 3 Mari, kita rawat dia. ORANG 4 Ya, dia sama manusianya dengan kita, kita wajib membantu kelelahan hidupnya. ORANG 5 Ya benar, hidup ini memang sudah sarat dengan persoalan. Tetapi kenapa perempuan muda ini yang harus menempuhnya? ORANG 6 Mari, kita berusaha menyembuhkannya. LANTAS ORANG-ORANG LORONG BERUSAHA MENYEMBUHKAN DENGAN DOA-DOA RITUAL MEREKA. SETELAH DIBERI BEBERAPA RAMUAN JAMU SISI MULAI SADARKAN DIRI. SISI Orang-orang aneh lagi, apa kalian juga akan meninggalkan aku, menjauhiku seperti yang lain… ORANG 2 Kenapa kau katakan itu ? SISI Aku sedang menjalani pelik dan rumitnya hidup, tetapi orang-orang malah menjauhiku, bahkan orang-orang tercintaku mencampakkan aku. Aku yang sedang terkena musibah, malah semakin hari semakin dapat masalah. Aku memang sedang susah, karena lupa Gusti Allah aku hamil di luar nikah. (Berbicara sendiri) dikeluarkan dari sekolah, tidak diterima di rumah... aku lelah. Dijauhi teman-teman, orang-orang terkasihpun lambat laun meninggalkan... aku bosan.... ORANG-ORANG O… ORANG 6 Jangan kau anggap musibah itu adalah musibah. Tetapi anggaplah sebagai anugerah, serta petiklah hikmah daripadanya. SISI Tapi aku telah melulu berdosa, bahkan dengan orang tua. Akupun telah durhaka, membuat dia murka. Masihkah aku terampuni ? ORANG 6 Gusti Allah itu samudera kasih. Jangan kau remehkan Beliau. Jika kau sungguh-sungguh bertaubat, Beliau pasti menerima. SISI Masih mau menerima.. ORANG 6 Ya, pasti ! seperti kami di sinipun akan menerima ketulusan hatimu dengan lapang dada. Mari kami antarkan kau ke tempat ibadah. SISI Terima kasih. SISI DAN ORANG-ORANG LORONG MENUJU KE SUATU TEMPAT. MENINGGALKAN PANGGUNG BAGIAN 5 DI MARKAS ANAK-ANAK PUNK BOS (Marah besar dengan bahasa yang tidak jelas) Operty iuythu nhuuijku bfgtrye, okiuperty ihu nhuuijku bfgtrye. Operty iuythu nuye, okiuperty ihu nhuuijku bfgtrye. P M (Merasa bersalah dan hampir menangis) Itu bukan salah saya bos, bukannya saya tak berani, masak saya ditandingkan dengan anak kecil, yang benar saja.. BOS Operty iu bfgtyre, okiuperty ihu nhuuijku brye. P M Ya baiklah, kalau saya tetap disalahkan.. PUNK JAMBU Kamu memang salah, tugas begitu saja tidak mampu. JI-PUNK Gara-gara kamu, schedulle kita berantakan. Kita rugi immaterial, kita jadi gagal. Sial !! PKBN Ho’oh, sial ! PINKPUNK Idih.. kamu pigimana sih.. kacau... kacau, kepalaku jadi pusing… JI-PUNK Menurut catatanku, gara-gara kegagalanmu kita rugi sebanyak 32 kali. KARENA DIMARAHI OLEH SEMUA ANGGOTA PUNK, PUNK MELANKOLIS MENANGIS. PUNK JAMBU Dasar Punk Melankolis ! Gitu aja nangis, minta perhatian. PUNK-SIT Punk kok tidak tahan banting. PKBN Punk itu harus eye-waterproof . PUNK-SIT Apa itu ? PKBN Artinya, anti air mata, seorang punker tidak boleh nangis. Apa itu, setiap dimarahi nangis, mewek, kolokan banget kamu. BOS (Menasehati) operty iuythu nhu bfgtrye, okiuperty ihu nhuuijku. PINKPUNK Ini baru rombongan kita yang marah. Coba kalau rombongan Punk se Asia tenggara marah semua padamu, habis deh air matamu ! PUNK MELANKOLIS MASIH MENANGIS MERASA BERSALAH. DI TENGAH TANGISNYA HANDPHONE-NYA BERBUNYI. P M (Masih menangis) Ya, halo. Ada apa ? sedang sedih nih. Kalau tak ada kabar baik telponnya nanti saja. (tiba-tiba wajahnya jadi cerah, ada berita bagus, tangisnya langsung berhenti) Apa ? Gadis muda yang aku cari-cari itu sudah ketemu ? Ya.. baik, aku akan segera kesana... BOS Operty iuyhu nhuuijku bfgtrye ? P M Berita bagus bos, wanita muda yang mau kita santlap itu sudah ketemu.. BOS(Memberi perintah) Oiuythu nhuuijke, rty ihu n !!! ANAK-ANAK PUNK LANGSUNG BERHAMBUR KELUAR MARKAS, KELUAR PANGGUNG BAGIAN 6 DI MARKAS MODIS, SEMUA BERPIKIR KERAS UNTUK MENDAPATKAN SISI. MODELIA Hu… gara-gara rombongan jabrik semua jadi kacau... kacau beliau semua rencana kita. MODELINI Gara-gara jabrik bagaimana ? Ini karena kita yang telat datang. MODENA Modelini ! Kita telat datang, karena kamu mandi kelamaan. MODELINI Eh, kok aku disalahin ? Ini karena adik kamu Modelia yang bersoleknya salah melulu ! MODELIA kok jadi disalahkan ? MODELINI Iya memang gara-gara kamu ! coba tanya Modeni. MODENI Ho’oh. MOMOD Sudah.. jangan pada ribut sendiri ! Ayo, kita rebut bareng-bareng. KEMUDIAN SEMUA KAUMODE MENYALAHKAN SATU SAMA LAIN. MODELO Hei, cukup saling menyalahkan ! ingat kata pepatah, bersalah kita teguh bercerai kita runtuh. KAUMODE Hu…. MOMOD Daripada saling menyalahkan, lebih baik kita konsentrasi bersama. KAUMODE MEMBUAT KOMPOSISI GERAK UNTUK MELAKUKAN KONSENTRASI MASSAL. DAN SETELAH KONSENTRASI. MOMOD Ketemu ? KAUMODE Di sana (masing-masing menunjuk ke arah yang berbeda) ha ? MOMOD Kita ulangi. KEMBALI KAUMODE MEMBUAT KOMPOSISI GERAK DAN SETELAH ITU. MOMOD Ketemu ? KAUMODE Di sana (semua masih menunjuk ke arah yang berbeda) ha? MOMOD Baiklah, sekali lagi. KAUMODE KEMBALI MEMBUAT KOMPOSISI GERAK UNTUK KONSENTRASI. DAN SETELAH KONSENTRASI. MOMOD Bagaimana sekarang ? KAUMODE Di sana (sekarang semua menunjuk ke arah yang sama) yes! KAUMODE BERLARI MENUJU KE ARAH YANG DITUNJUK. BAGIAN 7 DI SUATU TEMPAT TERAKHIR BAGI SISI. SETELAH ORANG-ORANG LORONG MELAKUKAN RITUAL PERSEMBAHAN KEPADA GUSTI. SISI (Dengan penuh senyum kebanggaan) Yah.. karena beban hidup yang teramat sangat, aku jadi sekarat. Namun kini aku sudah merasa nikmat, kapanpun aku siap menghadap. Karena aku sudah merasa diterima, aku telah merasa dicinta, cinta abadi semesta. SEJENAK KEMUDIAN SISI ROBOH DARI SAKIT DAN SEKARATNYA. IA TELAH DITELAN USIA MUDA. ORANG 6 Sang Maha Nasib, penguasa jagad, terimalah manusia muda penuh derita ini di pangkuanMu, di surgaMu, dia pasti akan sembuh dan bahagia. ANAK-ANAK PUNK DAN KAUMODE SECARA BERSAMAAN HADIR DI TEMPAT RUH SISI MENINGGALKAN ALAM SEMESTA. MEREKA HANYA DAPAT MELONGO MELIHAT KEPERGIAN SISI. ORANG 6 Ya, kini dia telah lega. Dicinta oleh yang Maha Tulus dan Maha Ikhlas mencintainya... Tuhan Sang Pencipta Cinta... ANAK-ANAK PUNK DAN KAUMODE HANYA TERDIAM, KAKU. BAGIAN 8 SEMENTARA DI RUMAH AYAH DAN IBU SISI. IBU Yah.. Ayah.. AYAH Apa ? IBU Sisi, yah… AYAH Apa bikin ulah ? IBU Ya, untuk terakhir kalinya… (tidak kuat menahan haru dan tangisnya) ia telah pergi, ia meninggalkan dunia ini karena sakit parah lahir batinnya, ia mati karena sakit hati karena hidup diantara orang tua yang sakit, ia sekarat diantara masyarakat yang sakit, Sisi semata wayang kita telah pergi, kasihan Sisi, kasihan bayi yang tengah dikandungnya. AYAH Ha ? LAGU KEMATIAN MENUTUP CERITA INI. SEMOGA MENJADI PEMIKIRAN BAGI YANG KEHILANGAN ARAH. SEMOGA MENJADI PEMICU MENCARI OBAT BAGI MASYARAKAT YANG SAKIT. SELESAI. Yogyakarta, 17 Juni 2008 Nama Panggung: Puthut Buchori Nama Asli: Buchori Ali Marsono No KTP : 13.5002.060971.0001 Alamat : Gowongan Kidul Jt III/412 Yogyakarta 55232 Email : masa_teater@yahoo.com http://puthutbuchori.googlepages.com Naskah Lakon Remaja KARTINI BERDARAH Karya AMANATIA JUNDA .S DRAMATIC PERSONAE Kartika Seorang gadis berusia 17 tahun. Berambut panjang dikepang dua, berkacamata besar, seorang kutu buku, pendiam dan kurang pergaulan. Kartini Sahabat khayalan Kartika. Seorang wanita berusia sekitar 20 tahun-an, rambut bersanggul, memakai kebaya, wajah keibuan, seperti sosok pengganti ibu sekaligus sahabat bagi Kartika Friska Seorang gadis kaya. Berusia 17 tahun. Berambut ikal, cantik, ramping, tinggi. Ketua geng Perfume. Mempunyai sifat sombong, dan sewenang wenang. Lena Seorang gadis berusia 16 tahun, anggota geng Perfume. Jangkung, berambut pendek. Agak tomboy. Sering main tangan. Windi Seorang gadis berusia 17 tahun, anggota geng Perfume. Seorang playgirl, centil, kurang pandai dalam pelajaran. Resnaga Sahabat Kartika sejak kecil. Seorang pemuda berusia 17 tahun. Tinggi sedang, berpenampilan sederhana. Ramah, setia, dan baik hati. Malvin Seorang idola sekolah, berusia 18 tahun, tampan, angkuh, berpenampilan keren. Kekasih Friska. Bu Sartika Ibu Kartika. Berusia sekitar 45 tahun, seorang wanita karier, janda, penuntut pada anak semata wayangnya, dan over protektif. SETTING Panggung dibagi menjadi 2 bagian, kanan dan kiri. Bagian kanan merupakan kamar Kartika. Didominasi warna putih. Terdapat sebuah ranjang kayu kecil bersprei putih motif bunga bunga, sebuah meja belajar kayu dengan lampu duduk dan tumpukan buku biografi RA. Kartini, dan kursi putar putih. Keduanya menghadap ke penonton. Latar belakang adalah dinding kamar berwarna putih dengan gambar gambar RA Kartini ukuran A3. Di awal cerita akan ditambahkan sebuah cermin ukiran dari Jepara. Terbuat dari bingkai kayu berukir dengan cermin yang dapat membuka dan menutup, untuk tempat keluar masuk Kartini dari belakang panggung. Bagian kiri, 2 kali lipat luasnya daripada kamar Kartika. Sebuah ruang kelas dengan bangku bangku kayu, papan tulis dan meja guru. Latar belakang dinding kelas bercat biru muda dengan jendela jendela besar dan gambar gambar pahlawan. Terdapat pintu di salah satu sisi dinding samping yang menghubungkan ke belakang panggung. ADEGAN 1 Narator (Mengutip salah satu penggalan surat Kartini yang tidak dipublikasikan. Diiringi suara dentingan gitar, pelan) Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin kuat makin teguh. KAMAR KARTIKA KARTIKA (MEMAKAI PIYAMA, SEDANG MEMBACA BUKU “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” YANG DISUSUN OLEH ARMIJN PANE, DI MEJA BELAJAR. AIRMUKA SERIUS, LAMPU DUDUK MENYALA.) TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA PINTU DIKETUK DAN SUARA PANGGILAN UNTUK KARTIKA. BU SARTIKA Kartika? Kartika?! Buka pintunya! Hari masihlah sore, gemarkah kau untuk tidur? Bukalah! Lekas! KARTIKA Menghela napas panjang, kemudian menutup bukunya dan bangkit untuk membuka pintu. BU SARTIKA Astaga! Sesore ini kau sudah siap berpiyama? Bisakah kau tidak bermalas malasan saja? (Menatap Kartika tak percaya, tangannya membawa tas tangan kecil. Dibelakangnya 2 orang pesuruh menggotong sebuah benda setinggi 2 meter berbungkus kertas cokelat.) KARTIKA Ma, Kartika sedang baca buku, bukan sedang tidur. (Bela Kartika pelan, sambil mengangkat buku Habis Gelap Terbitlah Terang) BU SARTIKA Oh terserahlah, kau pasti membaca buku cerita. Itu sama saja dengan tidur. Sia-sia belaka. Pak, bawa masuk kesini (masuk ke dalam dan menunjuk dinding) Letakkan disini saja, ya bagus, kalian bisa keluar. Terimakasih. Setelah 2 pesuruh tersebut keluar KARTIKA Apa ini Ma? (Menghampiri benda tinggi bungkusan cokelat tersebut, penasaran) Bu Sartika (Duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu hak tingginya) Mama bawakan oleh oleh untukmu. Bukalah, kau pasti suka. Itu dari Jepara. Asli! (Tersenyum sambil menunjuk bungkusan tersebut pada Kartika.) KARTIKA lukisan RA Kartini, Ma?! (segera menyobek bungkusan tersebut dengan bersemangat). SARTIKA Bukan, itu lebih bermanfaat buatmu. Kartika (Tertegun mendapati sebuah bingkai kayu jati. Selebar setengah meter dan setinggi 2 meter. Sekeliling tepinya penuh dengan ukir ukiran berbentuk sulur sulur. Kaki cermin juga berukir berbentuk bonggol akar yang kokoh. Warna bingkai cokelat tua berpelitur mengkilat.) SARTIKA Kenapa? Kau tak suka cermin itu? KARTIKA Buat apa Ma? Tika rasa cermin ini terlalu besar untuk kamar ini. (berkata lirih sambil melirik bingkai kayu tersebut tanpa minat) Oh ya! (serunya mendadak) Kartika sedang baca buku RA Kartini, Ma… bagus sekali ceritanya. Mama mau baca? (menyodorkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan wajah berseri) BU SARTIKA Tika! Berhentilah baca buku buku konyol seperti ini! Sekarang bukan saatnya kau mengenang jasa Kartini. Tapi manfaatkanlah jasanya sebaik mungkin. Mana prestasi yang dapat kau berikan buat Mama? Kerjakan tugasmu dan belajarlah yang tekun. Harusnya kau bersyukur emansipasi menjadikanmu pelajar sampai sekarang dan mama seorang manager perusahaan besar.” (berucap lantang) KARTIKA Mama sama sekali tak berminat baca ini? (masih menyodorkan buku tersebut) SARTIKA Ya.. ya..ya.. Mama akan baca jika mama sudah pulang dari dinas ke Bandung 2 minggu ini. Oke? KARTIKA Tapi Mama kan baru saja pulang dari Semarang? (meletakkan buku itu kembali ke meja belajar) BU SARTIKA Mama mendadak ditugaskan atasan untuk mengurusi proyek yang baru. Sudahlah, mama capek. Mama hendak istirahat (bangkit, sambil menguap) Oh ya, cermin itu gunakan baik baik. Kau harus banyak merias diri, berlatih berbicara di depan umum dan menjadi seorang gadis teladan yang menyenangkan. KARTIKA Maksud Mama? BU SARTIKA Bulan depan ada pesta peresmian kantor baru Mama. Kau harus ikut, mama ingin mengenalkanmu dengan anak kolega mama. Malam Sayang.. (mengecup kening Kartika lalu beranjak keluar) ADEGAN 2 PAGI HARI. SEBUAH KELAS DENGAN BANGKU BANGKU YANG MASIH KOSONG DAN BEBERAPA BUNGKUS BEKAS JAJAN BERSERAKAN. SEORANG PEMUDA TAMPAN SEDANG DUDUK DI MEJA GURU SMBIL MENDENGARKAN SEBUAH LAGU DARI IPOD. SEORANG PEMUDA SEDERHANA MEMBAWA SAPU MENGHAMPIRINYA. RESNAGA Malvin, hari ini piketmu. (menyodorkan sapu) MALVIN (Acuh, Kepalanya bergoyang goyang menikmati lagu) RESNAGA Malvin, hari ini piketmu! (berteriak lebih nyaring) MALVIN (Masih tetap acuh. Bahkan lebih keras menggoyang goyangkan kepalanya) KARTIKA Biar aku saja, mana sapunya? (tiba-tiba muncul dari balik pintu) RESNAGA Mengapa kau begitu baik hati? Malvin tak pernah piket, kau tahu? (protes, agak keras menunjuk Malvin. Sedangkan Malvin melepas earphone) KARTIKA Karena aku.. aku… (gugup, terbata-bata saat melihat Malvin menatapnya tajam) FRISKA Karena dia memang seorang pembantu! Ha.. ha.. ha.. (tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan suara yang nyaring. Dibelakang, Lena dan Windi mengikutiku sambil terkikik) WINDI Oh, sungguh malang.. udah kuper, culun, kacamata pantat botol, pembokat lagi! Hi..hi..hi.. LENA Nih, sekalian ngepel lantai! (melempar kain lap yang ada di salah satu bangku) RESANAGA Kalian jangan seenaknya pada Kartika. (merebut sapu dari tangan Kartika) Malvin, piketlah! Apa kau tak malu kewajibanmu diambil alih Kartika? MALVIN Bah! Aku laki-laki. Menjijikkan sekali aku harus menyapu. Itu memang tugas perempuan! (Melempar sapu ke lantai) Ayo kita pergi! (menggandeng Friska, keluar diikuti Lena dan Windi yang menyibir ke arah Resnaga dan Kartika) RESNAGA (Mendesah panjang, menatap Kartika dengan iba) Aku tak habis pikir. Mengapa kau selalu mengerjakan tugas tugas Malvin dengan ringan tangan? KARTIKA (terdiam beberapa saat) Res, apa kau tak pernah mendengar cinta itu butuh pengorbanan? (berujar pelan kemudian beranjak pergi) RESANAGA (Mengambil sapu, dan menyapu perlahan) Aku telah lama berkorban untukmu Kartika… Hanya saja kau tak pernah tahu. (bergumam lirih) ADEGAN 3 SORE HARI, KAMAR KARTIKA… KARTIKA MASUK KE DALAM KAMAR, MASIH MENGENAKAN SERAGAM SEKOLAH. MENGHAMPIRI MEJA UNTUK MELETAKKAN TAS DAN BUKUNYA. KEMUDIAN BERJALAN MENGHAMPIRI CERMIN JEPARA. KARTIKA Indah nian kau cermin.. wahai benda antik dari Jepara. (mengelus ukir ukiran di tepian cermin, perlahan) Kau ingatkanku pada Ibu Kartini.. andaikan kau adalah penghubung masa ini ke masa lalu, akan kutemui Ibu Kartini.. akan kuceritakan semua jasanya telah mengubah zaman dan nasib perempuan. Namun aku masih terkukung disini.. layaknya Ibu kita dipingit dan tak kuasa menanggung senyap… (bernada sedih, meratap) Oh, betapa sunyinya hidupku. Tak pernah dicinta dan Malvin tak pernah menoleh padaku, haruskah aku mengubah diriku menjadi gadis gadis seperti geng Parfume? Andaikan, Ibu Kartini kemari… mungkin aku akan menjadi gadis paling beruntung di dunia. Tiba-tiba lampu kamar padam, cahaya merah berkerlap kerlip, terdengar suara desauan angin. KARTIKA (tersentak kaget) Oh, ada apakah ini? (ketakutan, berlari naik ke atas ranjang) Sesosok wanita muncul dari bingkai cermin Jepara, melangkah keluar. Menghampiri ranjang. Lampu kembali menyala terang dan suasana kembali normal. KARTINI Nduk, tenanglah… iki ibumu. (tersenyum lembut) KARTIKA Siapa kau?! (semakin duduk menyudut di ranjang, memeluk kedua lututnya. Wajahnya luar biasa ketakutan) KARTINI Aku Kartini. Aku yang selama ini kau tuturkan di lembaran lembaran kertas buku harianmu. Aku yang selama ini kau rayakan setiap tanggal 21 April, sama dengan hari lahirmu juga kan, Nduk? KARTIKA (Mulai tenang, mengendurkan pelukan lututnya.) Kau Kartini? Raden Ajeng Kartini? Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu aku? KARTINI (Tersenyum lebih ramah) Ya, aku Raden Ajeng Kartini. Namun, apalah arti sebuah status ningrat jika Raden Ajeng harus hidup di penjara sangkar emas? Dikelilingi 4 tembok serasa kebebasan adalah kebahagiaan terbesar. KARTIKA Bagaimana Ibu bisa datang kemari? Sudikah ibu bersahabat dengan gadis memalukan seperti saya ini? KARTINI Oh, Nduk… tiada boleh kau berkata seperti itu. Ingin benar hatiku berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri, gadis yang aku sukai dengan hati jantungku. Anak gadis yang melalui jalan hidupnya dengan langkah tangkas, yang berdaya upaya bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk bangsa… Ibu datang dari jauh untuk mendengarkan segala kegundahan hatimu. Anggaplah aku sahabat penamu yang akhirnya berkunjung menengok seperti tatkala aku bersua dengan Nyonya Abendanon. KARTIKA (Menghambur, memeluk Kartini, terisak isak) Ibu…! Kartika rindu sekali pada Ibu. Setiap malam Kartika diam diam membaca buku tentang Ibu. Berhati hati kalau Mama sampai menangkap basah Kartika, dan membuang segala yang Kartika koleksi tentang Ibu. KARTINI Sshh… (membelai rambut Kartika) Yakini, ibu juga merindukan sosok gadis berhati suci sepertimu. Tidurlah, besok kau sekolah bukan? Betapa beruntungnya dirimu yang hidup di dunia pencinta kebebasan. Bukankah begitu, Nduk? KARTIKA (Mengangguk lemah) Ibu benar. Emansipasi menghapus diskriminasi untuk golongan kita. Dan ibu pasti senang melihat jasa ibu terlampau besar untuk Indonesia. KARTINI Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh itu sukar, banyak duri dan onaknya dan lubang lubangnya. Jalan itu berbatu batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu.. belum dirintis! Dan biarpun aku tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya kini telah terbuka lebar. ADEGAN 4 SEBUAH KELAS, TERDENGAR SUARA GADUH DARI 3 ORANG SISWI. FRISKA, LENA, DAN WINDI. FRISKA (Duduk di meja, airmuka cerah) Oh, kemarin malam adalah pesta terkeren sepanjang hidupku. Seperti mandi keringat aku ikut dugem di dancefloor. 4 kali aku bolak balik ganti pasangan. Sungguh menyenangkan! WNDI Iya, tentu saja kau bolak balik ganti pasangan.. bukankah kita bertiga sungguh seksi tadi malam? FRISKA Ya jelaslah. Apalagi kau kemarin mabuk berat Windi. Hei, tidak ingatkah kau? Kemarin kau membuka setengah bajumu dan bergoyang sungguh panas! WINDI Oh ya?!(Memekik girang) bagaimana reaksi cowok cowok itu? LENA Wow! Mata mereka seketika hijau! Dan langsung teler melihatmu! FRISKA Air liur mereka sampai menetes di gelas cocktail. Friska, Lena, Windi tertawa bersama, nyaring. Kartika muncul dari balik pintu, tangannya mendekap tumpukan buku. LENA Hai, kau! Kesini…. Cepat! (menunjuk Kartika, tawa mereka menghilang. Wajah wajah centil berubah menjadi beringas) Kartika berjalan menunduk, ketakutan. FRISKA Jalan lelet amat! Rupanya hendak bersaing dengan kura-kura! Darimana saja kau, Kuper?! (Membentak) KARTIKA (Tergagap) Da.. da.. ri.. P..per pustakaan LENA Hei! Ngomong yang tegas! (menepuk pipi Kartika) WINDI Iya nih, berminat ya jadi gadis sok bisu? Udah kuper, siapa yang mau repot repot melirikmu? Apalagi.. hi..hi..hi.. lihat deh, apa bawaannya? FRISKA (meloncat turun dari meja, berdiri dan segera merebut buku buku yang didekap Kartika) Ya ampun! Hari gini… nggak salah baca, kau? Kartini? Memang masih zaman? Hm… (membaca satu persatu judul buku buku) ada RA Kartini, Kartini Sebuah Biografi, dan.. astaga! Judul jadul banget nih, Habis Gelap Terbitlah Terang. Eh, pernah dengar nggak kalian? (menoleh ke Windi dan Lena yang menggelengkan kepala bersamaan sambil mencibir) WINDI Yang aku tahu sih adanya Habis gelap total terbitlah tagihan PLN, belum bayar listrik kaleee… FRISKA DAN LENA (tertawa terbahak, bersamaan) Ha.. ha.. ha KARTIKA (Berusaha merebut buku yang dipegang Friska) Kembalikan! Kembalikan.. buku itu! FRISKA Oh, Dear… Len, tahan dia! (memerintah keras. Segera Lena mengunci kedua lengan Kartika ke belakang punggungnya) Coba kita baca sekilas buku macam apa ini, Sobat. (Berdehem, dengan mimik sok serius, membuka salah satu halaman buku RA Kartini karangan Tashadi) Denger ya, salah satu kutipan surat Ibu kita tercinta “Selama ini hanya satu saja jalan terbuka bagi gadis Bumiputera akan menempuh hidup, ialah kawin.” Friska, Lena, dan Windi Tertawa tergelak. LENA Hari gini.. kawin? Emang Siti Nurbaya? WINDI Wah, wah, wah pantas saja kau jadi anak kuper.. bacaanmu masih seputar zaman tempoe doeloe… parah! FRISKA Oke, sebagai teman yang baik bagaimana kalo kami membantumu sembuh dari ke-kuper-an? (tanpa menunggu jawaban dari Kartika yang sibuk melepaskan diri dari cengkeraman Lena, kini Friska merobek buku tersebut) Kraak… Kraak.. Kraak.. Segera lembaran buku Kartini berserakan di lantai kelas. Kemudian dengan bernafsu Friska dan Windi menginjak injaknya. KARTIKA Kumohon hentikan…! Jangan disobek! Kumohon… (Kartika berontak kemudian Lena mengendorkan cengkeramannya. Seketika Kartika menyerang Friska untuk menghentikannya) FRISKA Nih, kita nggak butuh baca ginian! (melempar buku buku Kartini ke lantai dan segera menginjaknya juga) Kartika menunduk dan melindungi buku buku tersebut. Berkali kali Friska dan kedua teman temannya menendang Kartika. LENA Rasakan! (menendang keras) Dasar penyembah buku! Malvin muncul dari balik pintu, menggeleng gelengkan kepala melihat Geng Parfume sedang menyiksa Kartika. MALVIN Sudah hentikan Friska, Lena, Windi! (seru Malvin agak keras) FRISKA Tapi Babe, anak ini rese’ sekali tadi, Huh! Masa’ aku sama anak anak tidak dicontekin pas ulangan Fisika? (menghentikan acara menyiksa lalu menghampiri Malvin dan mengeluh manja) MALVIN Salah kalian sendiri tidak belajar. Sekarang berhentilah main mainnya, katanya kita mau jalan-jalan? FRISKA (mengangguk dan tersenyum manis) Ayo, kita tinggalkan dia! SETELAH KEEMPAT MURID TADI PERGI KELUAR DARI KELAS, RESNAGA MUNCUL DAN KEHERANAN MELIHAT KARTIKA SEDANG MEMUNGUTI SOBEKAN KERTAS DAN BERUSAHA MENYUSUNNYA. RESNAGA Kartika? Kok belum pulang? KARTIKA (Menoleh ke asal suara, memaksakan senyum) Oh, kau.. Res. Iya, aku habis dari perpus. RESANAGA Kau sedang apa? Hei, apa yang terjadi? (Menghampiri Kartika dan membantu memunguti buku buku yang berserakan) KARTIKA Aku sedang melindungi harta bangsa. Sisa sisa pengabdian ibu kita. RESNAGA Ibu kita? Siapa? KARTIKA (terbelalak, menatap Resnaga tak percaya) Tak tahukah kau? Raden Ajeng Kartini! Beliau Ibu kita semua bukan? Beliau sungguh baik hati. Beliau sangat keibuaan, belaiannya sangat lembut… ah, aku masih bisa merasakannya. (menyentuh rambutnya) Hm, kira-kira sekarang Ibu sedang apa ya? RESNAGA Kartika, kau baik baik saja kan? (menyentuh kening Kartika dengan lembut) KARTIKA Apa maksudmu?! (menepis tangan Resnaga dengan kasar) RESNAGA Aku mengkhawatirkanmu. Lagipula... bukankah Kartini sudah tiada? Bagaimana bisa kau merasa belaiannya? KARTIKA Beliau masih hidup kok! Beliau sengaja datang dari jauh untuk menemaniku. Ah, sudahlah. Pasti kau tak kan percaya. Lebih baik aku pulang saja. Sampai jumpa. (Berdiri, memasukkan buku buku ke dalam tas dan kemudian beranjak pergi) ADEGAN 5 SORE HARI, KAMAR KARTIKA BU SARTIKA (Berdiri mondar mandir sambil sesekali menengok jam tangan yang melingkar di lengan kirinya) Oh, hari sudah sore. Kartika tak kunjung pulang, kemana saja anak itu? Tak tahukah dia kalau hari ini Keluarga Gana akan berkunjung kemari? (tiba-tiba perhatiannya tertarik pada sebuah buku agenda bersampul merah di atas meja belajar) Diary? Kartika menulis Diary? Hm… boleh juga. Aku penasaran dengan isinya. (Duduk, dan mulai membaca buku agenda tersebut) Tiba-tiba Kartika muncul dari balik pintu. KARTIKA Mama? (melirik buku agenda yang langsung dikembalikan mamanya di atas meja) Mama baca diary-ku?! (agak keras) BU SARTIKA Iya. Apa tidak boleh? Kau adalah anak Mama. Urusan pribadimu otomatis urusan Mama juga. KARTIKA Tapi Ma… BU SARTIKA Tapi apa? Mama tahu kamu sekarang sedang menyukai teman kelasmu. Siapa Malvin itu? KARTIKA (Terdiam, menunduk) BU SARTIKA Dengarkan Mama Kartika. Kau harus jatuh cinta pada lelaki yang tepat! Jangan sampai kau mendapat lelaki brengsek seperti papamu. Turuti saja pilihan Mama. Kau pasti suka. Sekarang lekaslah mandi dan berdandan yang cantik. Keluarga Gana akan datang dan makan malam bersama kita. KARTIKA (Mendongak) Siapa mereka Ma? BU SARTIKA Tentu saja calon keluarga barumu! (Keluar dari kamar Kartika) KARTIKA (Terduduk lemas di ranjangnya. Memeluk buku RA Kartini. Mulai terisak sedih) Tiba-tiba Kartini keluar dari bingkai cermin Jepara. Kemudian berjalan menghampiri Kartika, duduk di sampingnya dan membelai rambut Kartika dengan lembut. KARTINI Anakku, ceritakanlah semuanya pada Ibu, agar lapang dadamu. KARTIKA Hiks… Ibu… saya hendak dijodohkan hiks.. oleh Mama saya. Saya nggak mau. Saya mencintai pemuda lain. (terisak semakin keras) KARTINI Cinta, apakah yang kau ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kau akan mungkin sayang akan seorang laki laki dan seorang laki laki kasih akan kau, kalau kau tiada berkenalan bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Aku berkehendak bebas, supaya aku boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali kali dipaksa kawin! KARTIKA Ibu, mengapa hidup saya sangatlah sengsara? Saya tak pernah bahagia tak terkira terkeculai bertemu dengan ibu. Hanya ibu yang mengerti hati saya. Maafkan saya Bu, tidak bisa melindungi buku buku tentang ibu. Teman teman kelas saya menyobeknya tadi siang dan mereka selalu menyiksa saya. KARTINI Aduh, Tuhan, ya Tuhan! Sedih hati melihat kejahatan sebanyak ini di sekeliling diri, sedang diri tiada berdaya akan menjauhkannya! Sabar ya Nduk… ADEGAN 6 DI KELAS, SUATU SIANG… MALVIN DAN FRISKA TAMPAK BERMESRA-MESRAAN DI KELAS YANG KOSONG. MEREKA SALING MENGGODA, DAN TERTAWA. KEMUDIAN FRISKA BERGELAYUT MANJA PADA MALVIN. MEREKA BERDUA BERPEGANGAN TANGAN. DARI ARAH PINTU, KARTINI BERJALAN CEPAT SAMBIL MENUNDUK. IA TERPERANGAH MELIHAT PEMANDANGAN TAK PANTAS DI KELAS. SEKETIKA BUKU BUKU YANG DIDEKAPNYA JATUH BERDEBAM KE LANTAI. MALVIN Oh kau Tik, aku kira guru. (refleks melepas genggaman tangannya dengan Friska) FRISKA Hei, kuper! Ngapain kesini? Ganggu orang pacaran saja! (membentak dengan keras) KARTIKA Ma.. maaf.. aku.. nggak tahu kalau kalian.. FRISKA Nggak tahu apa? Bilang saja iri! (Berkacak pinggang kemudian bangkit berjalan menghampiri Kartika) Windi dan Lena masuk ke dalam kelas. LENA Apa ini? (Memungut buku agenda yang terjatuh bersama buku buku yang lain) Kartika menoleh, terkejut. LENA Lihat! Ck.. ck.. ck.. tak kusangka! (Menunjukkan sebuah halaman dari agenda tersebut ke teman temannya. Sebuah tulisan dengan huruf besar besar berbunyi AKU CINTA MALVIN) FRISKA (Mendelik marah) Kau cinta Malvin? Kau menyukai cowokku? Bisa-bisanya kau… Plak! (menampar Kartika dengan keras) MALVIN MENGHAMPIRI MEREKA BERDUA. KEMUDIAN MENGAMBIL ALIH AGENDA YANG DIPEGANG LENA DAN TERTAWA TERBAHAK BAHAK. MALVIN Wah wah wah, aku tak menyangka tipe cowokmu seperti aku Tika. Kiranya seperti Resnaga yang culun. Lena, Windi dan Friska (Ikut tertawa keras) MALVIN Kartika.. Kartika.. bercerminlah dulu sebelum kau menyukai seseorang! Kau itu SANGAT TIDAK PANTAS buatku yang kaya, tampan dan idola semua cewek! Maaf Kartika… lebih baik kau berhenti menulis namaku di diarymu, buang buang kertas saja. (Menghmapiri Lena dan meraih agenda tersebut. Dibolak baliknya dengan antusias) WINDI Iya, kau itu seperti pungguk merindukan bulan! LENA Bukan, tapi seperti langit dan bumi! FRISKA Eh, salah lagi. Lebih mirip Kutu dan pangeran! Malvin dan geng Parfume (tertawa sangat keras) MALVIN Dasar gadis lugu. Ayo kita pergi! (Merangkul Friska yang tertesenyum sinis pada Kartika yang sedari tadi menunduk) Lena dan Windi pun beranjak keluar mengikuti mereka. ADEGAN 7 KAMAR KARTIKA KARTINI (Berjalan mondar mandir, bergumam sendiri) Oh, anakku yang malang… aku tahu semua perbuatan keji yang dilakukan mereka! Seperti Belanda menjajah anak pribumi. Namun, pantaskah saudara menjajah saudara sendiri? Tiada satu pun jua yang boleh menyakiti Kartika. KARTIKA (Muncul dari balik pintu) Aku pulang… KARTINI Masuklah Nduk. Ssh.. jangan berkata apa pun. Ibu tahu perasaanmu. KARTIKA Bagaimana Ibu bisa tahu? KARTINI Apa kau lupa dengan tujuan ibu kemari? Setiap hari aku melihat lihat dunia masa sekarang yang sangat pesat peradabannya. Namun, aku iba hati ini tatkala aku menjumpai berbagai macam perempuan seperti mereka. Karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku. KARTINI Maksud ibu? Perempuan yang seperti apa? KARTINI (Menghela napas panjang sambil duduk di kursi) Apalah artinya perjuangan ibu selama ini? Emansifatie yang mendarah daging telah disalahgunakan. KRATIKA (Duduk di tepi ranjang) Maksud Ibu? Kartika semakin tak mengerti. Jasa Ibu sungguhlah besar. KARTINI Namun mereka tak tahu bagaimana mengamalkannya! Ibu tak kan berjuang jika akhirnya mengetahui betapa mengerikan sikap perempuan masa ini. Mereka berjalan dengan busana ala kadarnya, seperti memang lebih mengasyikkan tuk telanjanng. Emansipasi juga telah mengubah mereka untuk terus mengejar pekerjaan dan menyiakan suami dan anak anak mereka. Pantaskah perempuan seperti itu? Mereka tiada boleh melupakan sama sekali adat dan norma. Oh, namun betapa memalukan mereka berjalan, bernapas, bertingkah layaknya peerempuan binal tak punya urat kemaluan! (suaranya sangat lantas dan penuh emosi) KARTIKA Oh, ibu. Sungguh besar derita dan bebanmu. Namun, masih banyak perempuan di bumi Indonesia yang mempunyai akhlak mulia seperti Ibu. KARTINI Ya, kau benar Anakku. Alangkah susahnya dan sedihnya akan patah rasanya hidupku. Jika semua yang kutuangkan dalam ratusan lembar surat dinodai oleh tinta yang lebih pekat. Namun aku tahu, diliteran tinta kami masih memiliki asa. Dan kau pikul cita citaku selanjutnya, kau emban dan kau simpan dalam sanubari terdalam. Engkau jiwa yang suci Nduk.. jangan sampai ternoda. KARTIKA Ah, aku hanyalah gadis lemah, rapuh dan tak berdaya. Sia sia saja aku, jika orang yang kukasihi pun mengolokku. KARTINI Hapus airmatamu, sudah saatnya kau hapus noda yang mengotori halaman halaman kisah hidupmu. ADEGAN 8 SORE HARI, RUANG KELAS YANG KOSONG… WINDI (Berdiri membelakangi pintu masuk. Menelepon seseorang dengan suara yang sangat manja dan centil) Iya.. Sayang… aku habis ini tunggu kau di depan gerbang sekolah ya? Jangan ngaret lho! Awas! Nanti kita booking tempat yang biasanya saja. Iya, ngerti nggak sih maksudku? Aku lagi bokek nih, Om.. TIBA-TIBA SOSOK HITAM MASUK KE DALAM KELAS. SOSOK TERSEBUT MEMAKAI JUBAH HITAM PANJANG DAN TUDUNG YANG MELINDUNGI WAJAHNYA. TANGAN KANANNYA MEMEGANG SEBUAH PISAU TAJAM. WINDI Oke deh Sayang… sampai ketemu nanti (menutup pembicaraan, berbalik dan seketika berteriak tertahan) Windi jatuh tersungkur di lantai kelas dengan darah membanjir dari perutnya. ADEGAN 9 KAMAR KARTIKA BU SARTIKA (Geleng geleng kepala sambil mengecek thermometer) Astaga Kartika! Badanmu panas sekali! Kau harus banyak beristirahat. Jangan baca buku buku cerita lagi. Pasti kau kecapekan. KARTIKA (Membisu di balik selimut tebal) BU SRATIKA Kau harus makan yang banyak. Nanti Mama pesankan bubur ayam kalau lewat depan rumah. KARTIKA (Masih membisu. Tangannya mendekap erat diary dan gambar RA Kartini) BU SARTIKA Oke, terserah kau saja. Ibu capek melihatmu akhir akhir ini seperti kehilangan gairah hidup. Tapi Ibu tak bisa menungguimu lebih lama. Ada meeting di kantor hari ini. Jadi, kalau ada apa apa kau hubungi Mama lewat telepon saja. KARTIKA (Masih membisu. Tatapan matanya kosong ke depan) BU SARTIKA Sampai jumpa nanti malam Sayang… (mengecup dahi Kartika kemudian keluar) ADEGAN 10 PAGI HARI, SEBUAH KELAS YANG KOSONG.. MASIH SOSOK YANG SAMA, MEMAKAI JUBAH HITAM DAN TUDUNG. DUDUK DI SALAH SATU BANGKU SAMBIL MENUNDUK. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN LENA DAN FRISKA MASUK KE DALAM KELAS. LANGKAH MEREKA TERHENTI KETIKA MENJUMPAI SOSOK BERKERUDUNG HITAM DUDUK TAK BERGERAK. FRISKA Siapa kau?! (Berteriak nyaring, air mukanya mendadak berubah ketakutan) Sosok itu masih tidak bergerak. LENA Fris.. apa jangan-jangan… Dia yang ngebunuh Windi? (Dengan nada takut bercampur ragu) FRISKA Aku nggak tahu. Hei, jawab! Kau tuli ya? Kau siapa? Jangan bercanda! Ini nggak lucu! MASIH TAK ADA REAKSI. LENA Oke, sebentar Fris.. jangan jangan dia orang gila yang ketiduran di kelas. Aku akan buka kerudungnya (Hendak berjalan menghampiri sosok tak bergerak tersebut) FRISKA (Menahan lengan Lena) Jangan Len! Aku takut! Lebih baik kita lapor guru atau kepala sekolah. LENA Ya ampun Friska.. gini aja takut. Kau lupa aku sudah pegang sabuk hitam? FRISKA Tapi… (ragu-ragu, airmukanya masih sangat cemas) LENA Sudah, diamlah disini.. (Lena berjalan dengan penuh waspada, semakin mendekat ke sosok tersebut) LENA SUDAH BERDIRI DI DEPAN BANGKU DIMANA SOSOK ITU DUDUK TAK BERGERAK. TANGANNYA TERJULUR HENDAK MEMBUKA TUDUNG KEPALA SOSOK TERSEBUK. NAMUN, SECEPAT KILAT SOSOK ITU BERGERAK, BANGKIT DAN LANGSUNG MENUSUKKAN PISAU YANG SEDARI TADI DIPEGANGNYA DI BALIK JUBAH, KE PERUT LENA. Friska AAAAAAAA…! (Memekik nyaring dan segera berlari keluar kelas) ADEGAN 11 KAMAR KARTIKA KARTIKA MASIH SAKIT. IA SETENGAH BERBARING DI RANJANG. MENULIS SESUATU DI AGENDANYA. PINTU MEMBUKA, KARTINI MASUK KE DALAM KAMAR DAN TERSENYUM MELIHAT KARTIKA. KARTIKA (Menoleh, kemudian membalas tersenyum, lemah) Ibu darimana saja? KARTINI Tidak begitu penting. Hanya menghapus noda. (Berjalan menghampiri Kartika dan memegang keningnya dengan lembut) KARTIKA Itu apa? (Menunjuk bungkusan tas plastik hitam yang dibawa Kartini) KRATINI Oh, ini… tidak penting kok. Bagaimana keadaanmu Nduk? Mau ibu buatkan wedang jahe? Atau bubur? (sambil memasukkan bungkusan itu ke kolong ranjang. KARTIKA Nggak perlu Bu. Saya sudah agak mendingan. Mungkin besok saya sudah diijinkan Mama masuk sekolah. Mmm.. Ibu terlihat letih. Ibu mau tidur di samping saya? KARTINI (Mengangguk kalem) Ya, ibu sangat lelah. Bolehkah ibu tidur dekat dinding? Rasanya pasti dingin. KARTIKA Tentu saja, dengan senang hati (bernada cerai, langsung bangkit menggati posisi tidurnya). KARTINI NAIK KE RANJANG DAN LANGSUNG TERTIDUR LELAP. SEDANG KARTIKA MASIH SIBUK MENULIS DIARY SAMBIL SESEKALI MEMANDANG KARTINI. TIBA-TIBA PENANYA TERJATUH KE LANTAI. KARTIKA BERGEGAS TURUN DARI RANJANG, HENDAK MEMUNGUT PENANYA. NAMUN, PERHATIAN SEJENAK TERALIH SAAAT MELIHAT BUNGKUSAN HITAM MILIK KARTINI. DENGAN HATI HATI DITARIKNYA KELUAR BUNGKUSAN TERSEBUT DARI KOLONG RANJANG. KARTIKA Hm.. apa yah ini? Ibu Kartini kemana saja sih seharian ini? Tumben juga bawa oleh oleh… (Membuka tas plastik tersebut. Ia menemukan jubah hitam dan sebilah pisau berlumuran darah. Kartika memegang benda benda tersebut dengan airmuka ketakutan. Ia bolak balik memandang Kartini yang masih tertidur membelakanginya ke benda benda tersebut) Untuk apa jubah dan pisau? Lantas ini darah siapa? ADEGAN 12 KELAS TAMPAK MALVIN SEDANG MENEMANI FRISKA YANG SEDANG BERCERITA DENGAN EKSPRESI SEDIH. RESNAGA DUDUK DI SUDUT SEDANG MENULIS SESUATU. FRISKA Windi dan Lena adalah sahabat sahabat terbaikku Vin. Aku nggak rela kalau kehilangan mereka. Apa salah mereka? Apa maksud pembunuh itu? MALVIN Tenanglah Fris.. masih ada aku kok. Setidaknya kau belum kehilangan Lena. Dia masih di rumah sakit. Aku juga nggak tahu salah mereka apa. FRISKA Aku takut kalau… kalau… kalau habis ini giliranku yang dibunuh. MALVIN Sst… jangan berkata begitu, sekarang kau aman kok. Sekolah sudah dijaga ketat oleh polisi. KARTIKA MASUK KE DALAM KELAS. KARTIKA Pagi… (menyapa dengan pelan, datang dan keheranan melihat wajah wajah duka di kelas) MALVIN DAN FRISKA BANGKIT DARI DUDUK TANPA BERKATA APA PUN PADA KARTIKA MEREKA KELUAR. RESNAGA Tika, kau sakit apa? (Segera menghampiri Kartika, cemas) KARTIKA Cuma demam biasa kok. Ada apaan sih? Kenapa anak anak mendadak aneh. Wajah mereka seperti penuh ketakutan dan kesedihan. (Meletakkan ranselnya dan duduk) Resnaga Sekolah ini diteror. Ada 2 kasus pembunuhan selama 2 hari ini. KARTIKA Pembunuhan?! Bagaimana bisa? (terbelalak kaget) RESNAGA Tika, Windi telah meninggal dengan sangat tragis. Dia ditusuk di kelas. Kemarin Lena dan Friska juga hendak dibunuh. Tapi, hanya Lena saja yang berhasil ditusuk. Keadaannya sekarang kritis di rumah sakit. Diperkirakan pembunuh keduanya sama. KARTIKA Lantas siapa pembunuhnya? RESNAGA Entahlah. Polisi masih menyelidiki teror ini. Polisi hanya dapat keterangan dari Friska bahwa pembunuh itu memakai jubah daan tudung hitam. Wajahnya tak tampak. Dia membawa sebilah pisau. KARTIKA Jubah hitam? Pisau, katamu? (Terdiam sejenak) Tidak… ini tidak mungkin.. (Menggelengkan kepala dengan tak percaya) RESANAGA Ada apa Kartika? Kau mengenal pembunuhnya? Kau tahu? Siapa? KARTIKA Res… pembunuhnya.. pembunuhnya adalah Ibu Kartini. Aku harus menemuinya sekarang! (berdiri dan berlari dengan tergesa keluar kelas) RESNAGA Tik, tunggu! TIK! (Berteriak sambil mengacungkan Map Folder yang tertinggal di meja) Ada apa dengan anak itu? Akhir akhir ini dia tampak aneh. (Bergumam sendiri sambil membuka folder tersebut. Di dalamnya ada agenda milik Kartik) Hm, Diary Kartika. Kira-kira dia marah nggak yah kalau aku baca isinya? (Membuka diary tersebut. Kemudian ia menemukan sebuah kertas lecek yang terselip di salah satu halaman. Dahinya mengerut serius tatkala membacanya) Target Pembunuhan? (membaca judul di kertas tersebut) ADEGAN 13 SIANG HARI, KAMAR KARTIKA KARTIKA Ibu, jujurlah padaku! KARTINI Maksud Nduk Kartika? Ibu tak paham. (duduk di tepi ranjang. Airmukanya sangat kalem) KARTIKA Apa… apa ibu yang membunuh teman temanku? KARTINI Temanmu? Teman siapa? Sejauh ini hanya ibulah temanmu Nduk.. KARTIKA Teman sekelas Tika Bu, Windi dan Lena! KARTINI (Tertawa dingin, melipat tangannya. Suara berubah dingin) Apa mereka bisa disebut teman? Setiap bertemu mereka menganiayamu, menyiksamu… tak tahukah kau ibu sangat menyayangimu, Nduk? KARTIKA Jadi.. benar? Ibu adalah sosok berjubah hitam itu?! (berkata lirih tak percaya) KARTINI Ya, aku memang yang merencanakan semuanya. Target pembunuhan selanjutnya Friska. KARTIKA Tidak... tidak mungkin! (menggelengkan kepala kuat kuat) KARTINI Aku pembunuh! Kita pembunuh kaum perusak emansipasi! KARTIKA NGGAK! Kartini yang aku kenal bukan seorang pembunuh! Kau bukan Ibu Kartini! Kartini tak kan mungkin membunuh. KARTINI Apa yang kau bicarakan? Aku Kartini! Aku melindungi dirimu dari apa pun yang kau benci! KARTIKA Kau jahat! Pergi dari sini! Kembalilah ke duniamu! (Mendorong Kartini ke bingkai cermin) KARTINI (Tidak berusaha melawan) Terserah, kau akan menyesal Nduk… karena telah mengusirku. Api yang membersihkan api. Api itu juga yang menghancurkan kayu menjadi abu! Camkan itu! (menghilang dari balik cermin) ADEGAN 14 RUANG KELAS… FRISKA SEDANG DUDUK TERDIAM, WAJAHNYA PUCAT DAN SAYU. KETIKA KARTIKA MUNCUL IA SEGERA MENEGAKKAN BADANNYA. KARTIKA DATANG DENGAN WAJAH TAMPAK EKSPRESI. IA MENUTUP PINTU KELAS DAN MENGUNCINYA. FRISKA Ada urusan apa kau kesini? Enyahlah Kuper, aku sedang tak berselera mengolok olokmu! KARTIKA Aku ingin memberimu hadiah yang paling indah… (Tersenyum dingin menghampiri Friska) FRISKA Hadiah? (Tiba-tiba melihat pisau yang digenggam erat Kartika. Ia terbelalak) Kau mau membunuhku?! KARTIKA Kalau iya, lantas kenapa? Kemarin kau lari, sekarang kau tak kan bisa lari lagi Friska cantik… (Berjalan semakin mendekat) FRISKA (Berdiri merapat ke tembok) Jadi, kaulah sosok jubah hitam kemarin? Kau yang membunuh Windi kan?!Aku salah apa padamu?! KARTIKA Kau tanya salah apa? Kau sangat bersalah! Ha…ha..ha.. Kau telah melukai Kartika, melukai Kartini, dan melukai Pertiwi! FRISKA Aku nggak pernah lukain siapa pun.. pergi! Jangan sakiti aku! TOLONG! TOLONG AKU! TERDENGAR PINTU DIGEDOR KERAS RESNAGA Kartika! Kartika! Buka pintunya! BU SARTIKA Tika! Ibu mohon buka pintunya! KARTIKA (Terkejut, menoleh ke pintu yang masih tertutup) Pergi kalian dari sini! Aku Kartini! Aku akan membunuh wanita wanita terkutuk! Terdengar suara keras. Pintu terdobrak. Resnaga, Bu Sartika dan Malvin masuk dengan airmuka tegang. RESNAGA Kartika lepaskan pisau itu! Kau bukan Kartini! Kau Tika, sahabatku sejak kecil! BU SARTIKA Kartika… maafkan Mama. Mama tak pernah tahu kau punya kepribadian ganda. Lepaskan jiwa jahatmu Nak MALVIN please Kartika… kumohon lepaskan Friska. Maafkan dia… maafkan aku juga. KARTIKA Persetan kalian semua!!! (Menarik tubuh Friska lalu mencengkeram leher gadis tersebut. Ujung pisau menempel di kulit mulus Friska) Jangan berani mendekat! RESNAGA Kartika, sadarlah! Bangunlah Tik! Kau adalah Kartika sahabat terbaikku. Kau adalah gadis baik. Kau bukan pembunuh. Dan Kartini hanya kepribadian yang tak kau sadari saja Tika. Tenangkan hatimu Tika… KARTIKA (Oleng, memegang tangannya. Mendadak ia merasa pusing. Cengkeramannya pada Friska mengendor, seketika Friska berhasil membebaskan diri dan berlari menghambur ke Malvin) Aku... aku… pembunuh. Aku membunuh orang orang di dekatku. Pergi dari sini! Pergi! Lekas! Aku tak mau jiwaku yang satunya membunuh kalian! Pergi! (mengacungkan pisaunya ke atas) RESNAGA Tidak! Aku tak mau pergi! Karena aku sangat mencintaimu… Hening sejenak KARTIKA (Terisak sambil tersenyum getir) Maaf Res.. aku nggak bisa. Ak… aku.. sudah terlanjur membunuh, aku nggak mau ngebunuh Friska, Mama, Malvin dan kau… Kalau kalian tak mau menjauhiku akulah yang harus pergi. (Menusukkan pisau tersebut ke jantungnya) BU SARTIKA TIDAK!!!! (melolong histeris, pingsan) TUBUH KARTIKA TERSUNGKUR JATUH DI LANTAI. MENUSUK DADANYA SENDIRI DENGAN PISAU YANG DIGENGGAMNYA. ANTARA KEHIDUPAN DAN KEMATIAN IA MASIH BISA TERSENYUM MENAHAN SAKIT. RESNAGA SEGERA BERLARI MENGHAMPIRINYA. KARTIKA Terimakasih… Ak… aku sayang kali… an semua, khususnya eng…kau Resnaga.. Selamat tinggal. (memejamkan mata perlahan) NARATOR (Mengutip salah satu surat Kartini yang tidak dipublikasikan namun diubah sebagiaan, suara narator diiringi dentingan gitar, berduka) Sampai aku menarik napas yang penghabisan, akan tetap aku berterimakasih pada kalian dan mengucap syukur akan kasih kalian kepadaku. Seorang buta yang diperbuat melihat, sekali kali tiada menyesal, matanya dibukakan orang karena bukan barang yang indah indah saja yang menjadi terlihat olehku dan kalian. SELESAI Sidoarjo, 27 Juli 2006 Tuk yang mengabdi tanpa menyadari Alm. RA Kartini PS dalam naskah drama ini terdapat beberapa kutipan asli maupun yang diubah untuk dialog dan narasi. Sumber sumber kutipan tersebut Buku Habis Gelap terbitlah Terang (Armijn Pnae) Buku Kartini Sebuah Biografi (Siti Soemandari Soeroto) Buku Ra Kartini (Tashadi) (Naskah Lakon Remaja Satu Babak) KEBO NYUSU GUDEL Karya Dheny Jatmiko Pelaku Kakek Seorang kakek umur 80 tahun yang selalu terbayang-bayang peristiwa masa lalunya. Bapak Seorang lelaki pekerja kantoran. Ibu Ibu rumah tangga. Anak Anak berumur 10 tahun. TERDENGAR MUSIK TEMBANG MEGATRUH. LAMPU WARNA BIRU MENYALA PELAN, DILANJUTKAN LAMPU ORANYE YANG FOKUS KE KURSI GOYANG (KAKEK). TAMPAK SEBUAH RUANG KELUARGA, SEORANG KAKEK BERSANTAI DI KURSI GOYANG. KAKEK MEMAKAI SEPATU TENTARA, MEMAKAI SARUNG, PECI, SAMBIL NEMBANG MEGATRUH. Megatruh niki wancine sukma sampun kasebut saking dzat akarti bumi sampun wanci dipun suwun tan janji sakniki ugi baline sadaya lakon TEMBANG MEGATRUH SELESAI. KAKEK DIAM, MERENUNG. TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA RIUH, SEPERTI SUARA DEMONTRASI. (LAMPU RUANG PELAN-PELAN MENYALA) KAKEK PANIK, MENGAMBIL SAPU DAN MEMBAWANYA SEOLAH MEMBAWA SENAPAN. Kakek Bangun! Bangun! Kita harus segera bersiap. Bangun kalian semua. Muncul seorang Bapak, Ibu dan anaknya berjalan malas karena bangun tidur. Bapak Ada apa lagi, kek? Malam-malam begini bikin ribut? Ibu Ada apa to, kek? Kakek Ada apa. Ada apa. Apa kalian sudah tuli. Apa kalian tidak mendengar ada demo. Situasinya sekarang semakin sulit. Jadi kita harus waspada. (Berlagak seperti komandan) Kalian berjaga di pos sebelah sana. Biar aku awasi yang sebelah sini (mengambil kursi kecil dan berdiri di atasnya). Cepaaat! Anak Siap, komandan! Bapak, Ibu & Anak bergegas menuju kiri panggung. Bapak Kalau tiap malam begini, bagaimana aku bisa nyaman kerja besok? Ibu Sudahlah mas, sabar, mungkin kakek sedang mimpi aneh lagi malam ini. Paling ini hanya sebentar, dan kita bisa kembali tidur. Lakukan saja. Kalau kita tidak menurut, nanti bisa tambah lama. Kakek Jangan banyak ngomong. Sekarang sedang darurat militer, jaga dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Anak Di sini terlihat aman, kek, eh, ndan! Kakek Meski aman tetap waspada. Cari gembongnya. Anak Siaap. Kakek Kasihan anak-anak muda itu. Katanya mereka orang-orang yang intelek. Tapi lihat, bicaranya seperti tukang becak. (pada penonton) Dengar kalian semua! Tidak ada gunanya kalian teriak-teriak sampai tenggorokan kering. Lebih baik baca buku yang banyak saja biar bisa mikir lebih jernih, biar tidak dimanfaatkan orang. Masak orang intelek ngomongnya seperti robot. Cuma bisa ngomong kami butuh makan, turunkan ini, turunkan itu... Kalau cuma ngomong seperti itu, anak umur dua tahun saja bisa. Bapak Tapi, kakek memang harus segera turun, dan segera tidur lagi. Kita mesti istirahat. Hari sudah larut, kek. Ibu Jangan banyak komentar, nanti tidak cepat selesai, kita yang repot sendiri. Kakek (turun dari kursi, duduk dengan malas) Kalian ternyata sama saja dengan orang-orang itu. Semua ini bukan karena salahku. Aku hanya menjelaskan tugas. Semua tugas sudah aku jalankan dengan baik, mulai dari Operasi Sikat, Operasi Burung Sriti, Operasi Galian Malam. Semua sudah kujalankan dengan baik. Terus mengapa mereka masih saja menginginkan aku turun? Mengerti apa mereka dengan situasi ini. Orang-orang seperti mereka dan kamu inilah yang sebenarnya mengacau. Ibu Kakek sudah lelah, lebih baik kakek istirahat. Biarlah di sini kami yang berjaga. (Kakek hanya diam) Percayalah, situasinya di sini bisa kami atasi. Kakek Kalian sudah mengkhianati aku. Apakah kalian tidak tahu, kalau tugas ini sudah selesai, aku memang berencana pensiun. Ini adalah operasi terakhirku. Operasi Sapu Jalan ini adalah pengabdian terakhirku pada negeri ini. Aku juga sudah lelah, aku ingin istirahat dengan tenang. Ibu (kembali seperti menjadi anak buah kakeknya) Kami tidak berkhianat. Kami tahu apa yang anda butuhkan. Bapak Terus bujuklah kakek. Orang kalau tambah tua, tambah pikun, tambah menyusahkan, tambah tidak ada gunanya. Ibu Hus, ngomong apa kamu ini. Meskipun begitu, dia juga tetap bapakmu. Orang yang membuatmu ada di dunia ini. Bapak Iya, aku sudah tahu. Tapi aku sangat lelah hari ini. Bujuklah ia agar segera tidur. Anak Lapor, komandan. Situasi sudah terkendali. Kerusuhan sudah bisa diamankan. Kakek (kembali bersemangat) Kamu memang perwiraku yang paling bisa diandalkan. Aku pasti akan merekomendasikan kenaikan pangkat buatmu. Tapi, sayang, aku masih punya anak buah yang kerjanya lamban. Inilah yang memperburuk citra tentara. Anak (pada bapak dan ibunya) Sersan, Kapten, ada masalah apa ini? Bapak (menjewer anaknya) Sekarang sudah malam, jangan main-main terus. Kakek Apa katamu?! Main-main?! Ini bukan masalah sepele. Orang-orang memang harus diberi pelajaran. Bisa nglunjak kalau dibiarkan saja. … Bapak Sudahlah kek, Ini sudah malam. Saya butuh istirahat, besok saya harus kerja. Dimas besok juga harus sekolah… Kakek Sekolah?! Sekolah tidak jaminan membuat orang bisa berpikir cerdas. Jangankan berpikir cerdas, berpikir saja belum tentu bisa. Apa kau tidak mendengar apa yang diteriakkan orang-orang sok berpendidikan yang berdemo itu. Semuanya hanya omongan yang tidak ada pemikirannya. Terlalu dangkal otak mereka. Lihat orang-orang yang dicat tubuhnya, dijemur sesiangan, dan berteriak ndak karuan itu. Masak mereka bilang itu seni? Seni macam apa itu, murahan. Ibu Kalau bukan seni, terus itu disebut apa, kek? Bapak (pada istrinya) Kamu ini bagaimana kok malah dilayani. Kapan selesaianya. Aku ini sudah capek. Ibu Ssttt. Biar ibu yang mengatasi. Kalau dilawan, nanti justru semakin lama. Lebih baik dilayani biar makin cepat selesai. Aku juga sudah capek, mas. Bapak Ya semoga berhasil. Tadi sudah disuruh menjadi tentara, pasti nanti teringat nenek, dan kakek jadi dalang. Kakek Hah, benar. Dalang. Wayang. Bapak Lho, iya, benar kan. Yang ada dalam ingatannya hanya itu-itu saja tentara dan wayang. Kakek Seni yang paling agung adalah wayang. Mereka itu tidak mengerti apa itu seni. Seni kok tidak mengandung budi pekerti. Beda kan dengan wayang yang penuh budi pekerti. Kemari kau Dimas. Kalau kau nanti sudah besar kau harus menjadi orang yang mengerti budi pekerti. Anak Bermain tentara-tentaraannya sudah selesai to, kek? Kakek Ahh, tentara itu apa. Sebenarnya aku menyesal juga menjadi tentara. Apalagi setelah melihat anak buahku. Mereka itu hanya bisa membanggakan seragamnya, hanya bisa sok jagoan. Mereka sering lupa bahwa mereka itu abdi masyarakat. Yang namanya abdi itu mesti melindungi bukannya sok. Mengamankan demontrasi mahasiswa saja tidak pecus. Masih saja ada yang mati. Akhirnya juga yang kena batu. Berbeda dengan dalang. Dalang selalu menyuguhkan nasehat-nasehat yang filosofis, petuah-petuah yang dibutuhkan masyarakat. (bergaya dalang) Ooo, langit gumbleger, bumi katon kebak geber… ooo (Anak mengiringi musiknya dengan suara wung-wung-wung plak-plak-plak) Bapak Kakek, sudah malam, tidak baik kalau teriak-teriak, tidak enak sama tetangga. Kakek Inilah contoh orang yang tidak bisa menghargai seni dan budaya. Kalau ketahuan ibumu, pasti kamu akan diomeli sampai pagi. Bapak (menggrundel) Dasar orang pikun. Kakek Lebih baik tidak usah dihiraukan orang macam itu. Ayo kita berkesenian, kita lakonkan Anoman Obong. Dimas, musiknya siap? Anak Siap, pak dalang. Kakek Musiiik. Anak (membuat musik dari suaranya) Plak-plak-plak wung-wung-wung plak-plak-plak wung-wung-wung… Kakek Oooo, cumlorot antaraning mega geni molak-malik katiup angin, satria Anoman malumpat-lumpat ing Alengka nylametake dewi Shinta, ooo… (tablo) (pada ibu) Ayo gendingnya masuk! Ibu Minta gending apa pak dalang. Kakek Kinanti Ibu Anoman mlumpat sampun prapteng witing nagasari mulat managandap katinngal wanodya ju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga keksi Kakek Luar biasa. Itulah seni. Bapak Hah, aku sudah sangat capek. (pada istrinya) Kamu urus sendiri kakek. Kalau aku tidak tidur, besok aku telat lagi, dan bisa-bisa aku dipecat. Trus kita mau makan apa? Aku sudah muak dengan kondisi ini. (meninggalkan panggung) Kakek Hei, anak kurang ajar. Mau ke mana kau. Diberi nasehat jangan pergi. Tidak sopan. Anak tidak ngerti tata krama. Bapak Terserah kata kakek. Kakek (tiba-tiba sedih) Mengapa aku punya anak yang durhaka. Kalau saja ibunya tahu, pasti dia dirundung kesedihan. Maafkan aku Martha, istriku, aku tidak bisa menjaga dengan baik anak kita. Tapi kenapa kau mesti pergi begitu cepat. Anak Lho, kakek mengapa bersedih? (kakek hanya diam bersedih) Ibu terdiam sejenak. Lalu berpura-pura menjadi nenek, istri kakek. Ibu (bergaya menjadi seorang nenek) Mas Jarwo, suamiku, ada apa? Kakek Anak kita, Martha. Lihatlah anak kita, kenapa dia tidak patuh padaku. Ibu Ya, namanya juga anak kecil. (memeluk dan mengelus rambut anaknya) Jangan terlalu banyak dipikir. Mas harus segera istirahat. Besok harus segera masuk dinas. Katanya besok ada upacara. Kakek Masalah anak itu masalah yang serius. Kalau aku salah mendidik, mau jadi apa dia nantinya. Ibu Iya, mas tidak salah kok mendidik Mardi. Jangan sedih terus, aku tidak suka kalau mas sedih terus. Kakek Aku merasa aku telah gagal. Ibu Mas tidak gagal. Mana keoptimisan mas. Aku cinta mas itu karena mas itu optimis, tidak pesimis begini. (kakek masih diam) Kalau sedih begini, mas paling suka kalau aku nembang. Bagaimana kalau aku nyanyikan satu tembang lagi, mas. Dengar ya mas. Kakek Terserah kamu. Ibu Caping Gunung Dhek jaman berjuang njur kelingan anak lanang mbiyen tak openi ning saiki ana ngendi Jarene wis menang keturutan sing digadhang mbiyen ninggal janji ning saiki apa lali Ning gunung tak cadhongi sega jagung yen mendhung tak silihi caping gunung sokur bisa nyawang gunung ndesa dadi reja dene ora ilang nggone padha lara lapa Anak menuju kursi panjang dan tertidur, ketika mendengar ibunya menembang. Kakek Suaramu bagaikan pinus diterpa angin, Martha. Begitu lembut, halus, dan menenangkan. Itulah kenapa aku selalu mencintaimu. Kaulah satu-satunya perempuan yang bisa menentramkan hatiku ini. Ibu Aduh, mas Jarwo ini berlebihan, jadi malu aku. Kakek Ini tidak berlebihan, Martha. Ini kenyataan. Aku selalu terpaku, diam tidak bisa apa-apa, kerena telampau terpikat suara dan kecantikanmu. Ibu Jika mas sedang bersedih, bukankah sudah selayaknya jika aku menghibur. Apa sekarang mas sudah merasa nyaman? Kakek Seperti perasaan Danareja seandainya lamarannya diterima Sukesi tanpa membedah Sastra Gendra. Begitulah yang aku rasakan. Ibu Mas bukanlah Danareja dan aku bukan Dewi Sukesi. Kita adalah suami istri yang tak terpisahkan. Bagai akar dan tanah. Kakek Hmmm, iya, iya. Hmmm... (seperti berpikir) Ibu Benar kan, mas? Kakek Iya, iya. Ibu Lalu apa yang masih dipikirkan. Kakek Aku sendiri tidak tahu aku ini sedang memikirkan apa? Ibu Lho gimana to? Kakek Aku ini sedang berpikir, apa sebenarnya yang aku pikirkan. Apa kamu tahu? Ibu Ya, ndak tahu, lha wong yang mikir mas kok tanyanya ke aku. Kakek Ya, barangkali saja. Selama ini yang bisa mengerti aku kan cuma kamu. Ibu Entahlah. Kakek (Kekanak-kanakan) Ahh, kalau kamu saja tidak tahu apa yang aku pikirkan, pada siapa lagi mesti aku bertanya? Ibu (Diam, berpikir. Meraih Kakek) Mungkin mas memikirkan anak kita, apakah kalau sudah besar di bisa sesuai dengan harapan kita. Kakek (Melihat Anak yang tertidur di kursi) Mungkin. Tapi tidak. Anak itu adalah keturunan dari lelaki sempurna dan perempuan teristimewa. Pasti dengan sendirinya bisa menjadi orang yang hebat. Tidak. Aku pasti tidak sedang memikirkan anak itu. Keluarga kita baik-baik saja, teramat baik, tidak ada masalah yang perlu memeras otak. Kalaupun ada masalah keluarga hanyalah masalah yang teramat kecil. Dan pikiranku tidak sekecil itu. Aku pasti memikirkan hal yang lebih besar, lebih penting, lebih... ahhh, tapi apa yang sedang aku pikirkan. Ibu Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik istirahat. Besok mas harus menghadiri upacara penghargaan. Nah, kalau kurang istirahat, terus wajah mas masih kusut, apa mas tidak akan malu. Kakek Benar juga. Ibu (Terlihat senang) Nah, lebih baik istarahat kan? Kakek Tapi kepala ini terus saja kebingungan sendiri. Ibu Mungkin tidur dulu, besok pasti sudah ingat. Kakek Kalau masih tidak ingat? Ibu Terserah mas saja. Tapi pikikirkan sekali lagi, acara besok itu penting! Kakek (Kekanak-kanakan) Aduh, Martha, jangan marah sayang. Ibu Aku tidak marah, mas. Aku cuma memberi saran. Tapi kalau mas tidak mau ya sudah. Nah, kalau masih loyo seperti ini, apakah Presiden akan merasa bangga memiliki rakyat sebaik mas. Kakek Iya, benar. Ibu Nah, sekarang coba mas berdiri dengan tegap dan penuh wibawa. (Kakek mencoba berdiri tegap, tetapi kesulitan) Hah, benar kan, sulit. Itu tandanya mas sudah capek dan butuh istirahat. Kakek Kamu memang benar-benar perempuan impian lelaki. Kamu sangat mengerti. Betapa beruntungnya aku mendapatkanmu. Martha, jangan pernah kau meninggalkanku. Aku bisa menjadi makhluk paling hina jika kau tinggalkan. Ibu Tidak, mas. Aku tidak akan pernah meninggalkan mas. Tapi lihat, Mardi, kasihan dia tertidur di kursi, biar antar ke kamar dulu ya mas. Kakek Kau memang istri yang penuh kasih sayang. Silahkan istriku tercinta. Tapi jangan terlalu lama aku kau tinggalkan. Segeralah kembali, Martha. Ibu Tidak lama. Aku hanya mengantar Mardi ke kamar. Tapi, mas harus janji setelah ini langsung istirahat. Kakek Tentu, sayang. Aku janji. Ibu dan anaknya yang sudah ngantuk keluar dari panggung dengan tersenyum. Kakek termenung sendiri sambil sesekali tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara demo. Semakin lama suara itu semakin keras. Kakek kebingungan, ketakutan. Kakek Pasukan! Kumpul! Ada kekacauan! Ibu dan anak kembali masuk panggung. Ibu Ada apa lagi? Kakek Cepat rapikan barisan. Mana sersan Untung? Anak Dia masih tidur, komandan. Kakek Cepat bangunkan dia. Ibu Sersan Untung masih keluar kota, Komandan. Kakek Tidak mungkin, tidak ada tugas bagi sersan Untung untuk keluar kota. Pasti dia masih tidur. Kalian baris di sini dengan rapi, awasi situasi. Aku akan bangunkan sersan Untung. Situasinya sudah genting, tidak ada waktu untuk istirahat. Kakek keluar panggung. Beberapa saat, masuk lagi dengan Bapak yang terlihat mengantuk. Bapak Ada apa lagi ini. Sudahlah, kek, aku capek, aku butuh istirahat, aku besok harus kerja. Kakek Sekarang kerjanya! Tidak usah menunggu besok. Lihat di sana, kekacauan terjadi di mana-mana. Dan kamu enak-enakan tidur. Perwira macam apa kamu ini, hah! Anak Komandan, situasinya makin kacau. Bapak Dimas, diam. Kakek Bicara yang sopan. Apa pantas kamu bicara seperti itu dengan atasanmu. Sebagai hukuman kau harus push-up satu seri, dan jangan diulangi lagi. Mayor, terus awasi keadaannya. Anak Siap komandan. Kakek (pada bapak) Ayo, cepat laksanakan. Apa kamu ini tidak pernah diajari sopan santun. (pada Ibu) Kamu juga, kenapa kamu berani membela orang yang salah? Ibu Tidak, komandan. Saya tidak berani. Kakek Kalian harus sadar, harus sadar, di sini aku yang menjadi pimpinan kalian. Kalian harus nurut! Ibu Siap. Kakek (Pada Ibu) Kamu ke sana, coba beri mereka pengertian sebisa mungkin. Usahakan jangan samapi ada bentrokan fisik. Ibu maju ke depan pangung, seolah-olah membawa Megaphone. Ibu Saudara-saudara, usahakan tetap damai. Kita bicarakan baik-baik. Semua aspirasi saudara-saudara pasti kami tampung. Tetap tenang. Kondisi negeri kita sudah kacau, jangan sampai saudara-saudara menambah kekacauan. Kami di sini sedang mengusahakan yang terbaik untuk negeri ini. Kakek Bagus. Teruskan. Ibu Kita semua tidak mau ada lagi kekacauan. Jadi saya harap, ada perwakilan dari saudara-saudara yang masuk dan menyampaikan aspirasi dengan damai. Percayalah saudara. Percayalah, kita semua tidak ingin kondisi ini makin runyam. Anak Komandan, gawat komandan! Mereka menyerang. Kakek Tetap bertahan. Anak Sulit, komandan. Mereka semakin mendesak. Bapak (Menghampiri anak, dan berbicara lirih) Sudah! Diam. Kakek Segera berpencar. Cari tempat berlindung. Seraaaaangg! Dor, dor, dor, dor, ahhhhhhhhh, aku tertembak. Kakek terjatuh. Anak berlari menghampiri kakek. Anak Komandan, apakah komandan baik-baik saja. Kakek Teruskan perjuangan. Jangan hiraukan aku. Ambil alih pimpinan. Anak Komandan, komandan, komandan jangan mati. Bapak Ahh, akhirnya selesai. Malam yang melelahkan. Ibu Mas, jangan pergi dulu. Angkat kakek ke kamar. Kasihan di sini dingin. Anak (menggoyang-goyang tubuh kakek) Komandan jangan mati. Komandan, ayo bangun. Bapak (Menghampiri Anak) Dimas, jangan ganggu kakek. Biarkan kakek istirahat. Kamu juga harus segera tidur. Dimas berjalan pelan keluar panggung. Ibu Kasihan kakek. Di usianya yang tua, masih saja diganggu ingatan-ingatannya. Bapak Ya begitulah orang kalau sudah tua. Pikun. Ibu Kalau saja nenek masih ada. Bapak Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Semua cara tidak dapat menyembuhkannya, mulai psikiater, dokter, bahkan dukun. Mungkin memang lebih baik segera kita kirim ke panti jompo. Mungkin mereka bisa mengurus lebih baik. Ibu Jangan, mas. Biar akau saja yang mengurus kakek. Panti jompo bukanlah solusi. Bapak Tapi jika tiap malam diteror begini, aku juga bisa gila. Ibu Yang sabar. Bagaimanapun juga Kakek adalah tanggung jawab kita. Lebih baik kita istirahat. Kita bicarakan masalah ini besok saja, aku juga sudah caek. Mas angkat kakek. BAPAK MENGHAMPIRI KAKEK. MEMANDANGINYA DENGAN RASA IBA. PELAN-PELAN IA ANGKAT, DIBARINGKAN KE KURSI GOYANG. KEMBALI TERDENGAR TEMBANG MEGATRUH. LAMPU RUANG PELAN-PELAN PADAM, TINGGAL LAMPU BIRU YANG MENYOROT KURSI GOYANG. PERLAHAN LAMPU BIRU PADAM. LAMPU RUANG KEMBALI MENYALA. KAKEK KETAKUTAN DAN MENJERIT-JERIT. BAPAK DAN IBU DATANG DENGAN WAJAH YANG LESU DAN HANYA MEMANDANG. LAMPU PELAN-PELAN PADAM. *** SELESAI SELAMAT MENIKMATI SEMOGA BERBAHAGIA Biodata Penulis Nama Dheny Jatmiko TTL Tulungagung, 11 Februari 1982 NIM 120110330 Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia Alamat Jl. Jaya Baya 5 Bandung, Tulungagung. HP 081 931 545 883 Lainnya Menulis puisi, sedikit cerpen dan esai. Pernah terpublikasikan di Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Surya, Jurnal Aksara, Majalah Budaya Sagang, Majalah Aksara (kini Imajio), Bangka Post, Riau Post, Wapada, Surat kabar Priangan, Radio Suara Jerman Deutsche Welle, Australia-Indonesia Art Aliance (AIAA), Suara Anum Online (Malaysia). Juara Harapan II Lomba Cipta Puisi Nasional kategori Sagang di Riau 2003. Juara III Penulisan Puisi dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional tahun 2006 di Makasar. 
| Start: | Feb 3, '11 2:00p | | End: | Feb 6, '11 5:00p |
Seperti pada tahun ajaran sebelumnya, untuk tahun ajaran 2011/2012 ini juga mahasiswa FKIP Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Palembang kembali akan melaksanakan kegiatan pementasan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pementasan Drama (PPD) tahun 2011. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis hingga Minggu, 3-6 Februari 2011, bertempat di Gedung Graha Budaya Taman Budaya Sriwijaya Palembang. Kegiatan yang diusung dari, oleh dan untuk mahasiswa ini akan diikuti oleh tujuh kelas dengan tujuh pementasan drama/teater selama empat hari berturut-turut.
 BONEKA SETENGAH WARAS Karya: Connie C. Sema
Panggung bersetting transparan dengan level kelenggangan dalam komunikasi ruang kosong, secara simbolis menampilkan komunikasi yang tak berjarak: bebas, rileks, dan terbuka. Secara tekstual ia merupakan mediator kesadaran realitas, dimana dekornya bisa saja dibentuk atau langsung terkondisi oleh pendukung peran atau awak pentas atau lewat manipulasi atau rekayasa imajiner penonton. Komunitas panggung dipertegas dengan cahaya yang jatuh tepat dibagian tengah sebagai gagasan awal pertunjukan. Di mana dalam kelengan tertangkap bebrapa kelompok masyarakat yang bergerak (Resonansi Etnik) mereka muncul dari gelap dan bertabrakan di level utama, kemudian berintegrasi kedalam sebuah bangunan sentrtalistik yang menyatu dalam bingkai besar. Sementara bunyi latar terbang ke setiap ruang bersama gerak bangunan sentralistik tersebut. Suasana yang sempat tak ubahnya “perjalanan wisata” mitos-mitos dan perhelatan ritual, mereka memperagakan gaya bangsa orde sebelumnya, penuh dengan intrik gerak dan komposisi monolistik yagn terpusat selanjutnya pecah dan panggung menjadi sub-sub komunitas berbarengan dengan itu pelan-pelan menyembul suatau sosok boneka kecil dari dalam bingkai. Boneka itu senyum mengorganisir manis dan menari-nari ia bersama koor manusia (seperti pemirsa TV) menyanyi dan menari riang menirukan pemain opera Spirit Of Jali-jali dalam syair pendek berbunyi : “Mbalelo…mbalelo…mbalelo“ berulang-ulang sampai musik Fade Of, lantas koor menyebut dengan syair “gendeng koe…gendeng koe…” (terkesan menuding kapada boneka I).
ADEGAN I
Boneka I dan koor statis sedangkan bingkai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti resonansi etnik dari belakang panggung. Koor bergerak lamban seperti berjalan di atas angin, ada sangkur atau selendang panjang melambai diantara mereka.
001. Boneka I : (Ada dalam bingkai yang bergerak) waranggana…waranggana…suara sumbang musim sumbing, ada wangsit orang jawa. Mbalelo.. tolonglah mereka, beri sangkur untuk nyangkul, beri pil kalem biar tak onar, lalu tidurkan mereka semua di Monpera. Lantas bopong kedalam sebuah mobil jenasa. Mereka bertamasya dari mimpi ke mimpi, sementara bunyi gamelan pangeran menemani semalam suntuk dari balik semak-semak yang berkeringat. Akh…waranggana, otot leher mereka nyaris putus di meja pengadilan kata”. Panggil kampret, panggil dedemit, perintahkan para begundal dan kaum bajingan menulis graffiti di tembok pengasingan. Boneka berhenti sebentar.Ia meneguk air dari gelas yang kosong.
Aku mendengar suara bayi dari Bukit Siguntang, Halaman segar Kitab Sriwijaya. Inilah perjalanan sejarah yang putus. Manusia meninggalkan pertapaan nenek moyangnya, menaiki kereta “Trans-nasional” bermuatan puing-puing kepercayaan yang berceceran. Ideologi yang tinggal remah-remah… Apes! Tidak! waranggana, tidak! Persolannya cuma retorika. Mereka blingsatan menghadapi musim pancaroba. Mereka muncul dari cerobong pabrik. Ada yang setuju dan tidak setuju, mendukung dan tidak mendukung. Tergantung hoki pasar bebas yang membuncitkan perut mereka.
Boneka berhenti sebentar, meneguk air dari cangkir yang kosong. Resonansi etnik berubah menjadi musik rimba. Koor dan boneka membuka ruang baru. Bingkai bergoyang-goyang mengikuti harmoni irama. Sang boneka bereaksi melihat koor membuat gerakan liar.
Astaga! Sepertinya di selatan aku mendengar ada musik keso mengiring syair Abdul Muluk. Mereka itu bukan terompet musim sumbing! 002. Koor : (Kepada boneka dan bingkai) Mbalelo…mbalelo! Ini teater musim sumbing! 003. boneka I : Gendeng, kowe! Gendeng, kowe! 004. Koor : Mbalelo…mbalelo! Ini gerak nusantara, panggung negeri Indonesia. Heep ta! Heep ta! Mainkan dongeng kebangsaan! 005. Boneka I : Edan! Ini bukan dongeng sembarang jaman. Tuhan besama waktu. 006. Koor : Heep ta! Heep ta!
Sementara, ada dua sosok gelap duduk bertolak belakang, sembari membuat gerak balas-membalas. Dan akhirnya benar-benar seiring dan seragam. Mereka merangung tegap pada ruang kosong.
007. Bingkai : Ini bukan dongeng sepanjang jaman ketika Tuhan mendengar diam-diam bersama waktu, ketika orang-orang membuka kesadaran. Hiduplah kalian ketika tidur! Mereka semua mencarai cahaya jatuh demi mengharap sebuah peruntungan yang entah kemana berkelana. Oh, segala yang Esa, aku bukan Adam, aku bukan Hawa. Aku kekasih Mu… 008. Sosok I : Aku mencari ruang kosong (kepada bingkai) aku mau bercinta, bantulah aku. Beri aku cinta! 009. Sosok II : Aku mencari bentuk, kemana bentukku yang hilang entah kemana?. Beri kami bulan, cahaya, dan dongeng yang terputus, agar bentukku akan nampak lebih jelas!. 010. Sosok 1&2: Dongengkan kami ruang yang kosong. Dongengkan rumah hijau dan anak ajaib. (kedua sosok bernyanyi tentang mimpi dan kelahiran, bingkai meambai-lambai). 011. Sosok I : (Berhenti bernyanyi) Hei! Berhenti! Berhenti! Aku mendengar suara gaduh mengaum. Tapi datangnya dari arah mana? (memasang telinga) ah, dari Selatan, ah, tidak. Ia datang dari Barat! Ya dari belakang sana (ia kembali memasamg telinga karena suara telah berubah arah. Konsentrasinya terganggu lantaran sosok II terus bernya menjelajah panggung) Hei! Kampret! Berhenti kataku! 012. Sosok II : (Menoleh tapi tak peduli) 013. Sosok I : Brengsek! Berhenti! 014. Sosok II : Usil banget sih… 015. Sosok I : Nyanyian kamu percuma. 016. Sosok II : Kenapa? 017. Sosok I : Aku mendengar suara. 018. Sosok II : Apa? 019. Sosok I : S-U-A-R-A! Suara. 020. Sosok II : Oooohhh… lantas? 021. Sosok I : Pertanda dongeng-dongeng kita akan dikabulkan. 022. Sosok II : Syukur 023. Sosok I : Syukur? 024. Sosok II : Ya. 025. sosok I : Cuma syukur. 026. Sosok II : Iiiiiiiyyyyyyyaaaaa. 027. Sosok I : Harus lebih dari itu. Rumah hijau dan anak ajaib, tidak segampang itu. Tidak cukup denga syukur. 028. Sosok II : Lalu apa? 029. Sosok I : Ditambah, syukur alhamduliilah. 030. Sosok II : Syukur Alhamdulillah.
Sosok I kembali memasang terlinga Dan sosok II juga ikut memasang telinga.
031. Sosok II : Suara…suara…suara. 032. Sosok I : Sssssttt! Jangan gaduh! 033. Sosok II : (Setengah berbisik) Suara…suara…suara.
Koor di level sentral pecah Menyatu ke dalam bingkai. Kedua sosok mengendap-endap dan meleburkan dirinya menjadi satu, Keduanya seperti menonton pertunjukan film dalalm tv,bingkai sesak oleh koor. Kemudian sesosok boneka besar lahir dari panggung sentral.
Adegan II
034. Bingkai : Dunia Cassaire. Mahluk-mahluk simbolik. 035. Koor : Akhir modernisme. 036. Bingkai : Sangkala yang terlambat. 037. Koor : (Kepada boneka yang bangkit) Tidak…tidak, lihatlah! Rupanya sebuah karya monumental, penuh dengan fragmen-fragmen megah, tubuhnya besar, alot, dan gagah, total, sempurna!! 038. Bingkai : Busyettt! Jangan berlebihan. 039. Koor : Ini realitas, tubuhnya besar dan gagah. 040. Bingkai : Diam! Diam! Kalian dengar ada suara? 041. Sosok 1&2 : Suara…suara..suara. 042. Bingkai : Jangan berisik! Memangnya tahu apa kalian! 043. Sosok I : Tahu apa kalian. 044. Sosok II : Tahu apa kalian. 045. Koor : (Kepada masing-masing) Tahu apa kalian… 046. Sosok 1&2 : Suara…suara…suara. 047. Bingkai : Stop! Jangan terlalu banyak ngomong. 048. Koor : (Menepukkan tangan di jidat) Stop! Dilarang ngomong. 049. Boneka II : Ahaa..haa…ha..ha. 050. Semua : Ha…ha…ha…. 051. Bingkai : Dunia kesadaran, mahluk-mahluk simbolik bangkit. Boneka tambun gagah! Dongengkan anak ajaib dalam lubang kemaluannya, bayar rupiah lewat bank nusantara, kontan! Tanpa pajak, tanpa bunga. 052. Boneka II : Terlalu muluk, seperti penjual obat kuat. 053. Bingkai : Ini proyek milyaran rupiah, menyangkut nasib orang banyak. 054. Boneka II : Butuh vitamin banyak. 055. Bingkai : Untuk apa? 056. Boneka II : Tenaga ekstra. 057. Bingkai : Lupakan, sekarang bilang! Berapa kesanggupanmu. 058. Boneka II : Aku Cuma punya mimpi. 059. Bingkai : Iya, berapa sanggup bayar? 060. Boneka II : Mimpi?!... 061. Bingkai : Goblok! Di sini tak ada yang budek. Kau cukup bilang berapa rupiah, titik! 062. Boneka II : Aku tak punya rupiah untuk membayar mimpi. 064. Bingkai : Ambil kredit di bank. 065. Boneka II : Sulit. Debitur bank lagi melonjak. 066. Bingkai : Lantas jaminan apa yang bisa kau berikan? 067. Boneka II : Mimpi. Ongkos ganti mimpi. 068. Bingkai : Kau tak punya rupiah untuk membayarnya. 069. Boneka II : (Kesal) Ala, di negeriku rupiahmu tak ada yang mau beli. Jangan sombongkan negeri sendiri. 070. Bingkai : Jangan belagak kamu! Sudah numpang menghina pula. 071. Boneka II : Siapa bilang aku menumpang? Aku dipanggil. Dan perlu kau tahu, dewasa ini mana ada investor moral sepertiku sudih tinggal di negeri dan masyarakat yang ribut seperti ini. Tapi karena dunia saja yang ngotot menghadirkanku di tempat ini. Ah…jengkel aku. 072. Bingkai : Sebutkan siapa yang kirim surat kaleng kesana! 073. Boneka II : Jangan pura-pura pilon. 074. Bingkai : Jangan bersiasat. 075. Boneka II : Aku punya nota pengiriman. 076. Bingkai : Jangan berbelit. 077. Boneka II : Tidak berbelit. Ini menyangkut uang. Bayar Cash, jangan bayar dengan rupiah, tapi dollar Amerika. 078. Bingkai : (Diam). 079. Boneka II : Hei.... kenapa diam!?. Katanya ini proyek milyaran rupiah. Menyangkut nasib orang banyak. Aku tak tahu kalau kemudian yayasan yang tak punya modal itu menjadi perusahaan raksasa di negeri sumpek ini. 080. Bingkai : Jangan melantur. Sebutkan siapa yang kirim kaleng!!.. 081. Boneka II : Jangan emosi, ini bukan sidang komisi pengusut investasi. Semua modal tidak liar dan sesuai dengan anggaran. Dana moneter di bank nasional berlangsung tertib serta lancar. 082. Koor : Jaman telah berubah. Bisnis berjalan lancar. 083. Bingkai : Jangan terlalu sempit. 084. Koor : Jangan bermata sempit. 085. Boneka II : Benar, ini kan cuma soal rejeki. Dan bagaimana mendapatkannya. 086. Bingkai : Berusaha dan berjuang. 087. Boneka II : Pakai apa? 088. Koor : Sangkurrrrrr!! 089. Boneka II : O, seperti kodok-kodok botak berdasi itu. 090. Koor : Benar seperti Dharma Putra yang agung. 091. Bingkai : Jangan ngelantur. Jaman telah berubah (kepada boneka). Sekarang cepat katakan siapa yang kirim kabar kepadamu! 092. Boneka II : Mimpi. Ya. Sang mimpi. 093. Bingkai : Baik. Itu hakmu. Aku tak akan gugat, tapi ingat sekarang ini kau ada di sebuah panggung. Sebuah masyarakat besar. Kau akan dikeroyok habis, kau akan dipukuli. Digebuk seperti maling! 094. Boneka II : Aku akan lawan. Aku punya senjata. 095. Bingkai : Ettt. Sabotase itu dilarang. Tembak mati. 096. Boneka II : Tidak adil, masak mimpi saja dilarang, mimpi saja ditembak mati. Pokoknya tidak adil. Aku protes keras. Kulaporkan ke Tuhan. 097. Bingkai : Tuhan mu sakit bludrek. Dia terjangkit penyakit uring-uringan. Tak ada Tuhan di atas panggung ini. Laporanmu percuma. Tak bakalan diperhatikan. 098. Boneka II : Aku bikin Tuhan sendiri. 099. Bingkai : Dengan apa? 100. Boneka II : Dengan mimpi. Akan kuperintahkan sang mimpi untuk menghimpun umat. Bila perlu pasang iklan di surat kabar. 101. Bingkai : Mimpi yang sesat. 102. Boneka II : Tapi dunia terpusat dunia terpusat. 103. Bingkai : Kualat! Kualat! Kau akan dikutuk. 104. Boneka II : Terserah, yang penting kebutuhan dan kekuasaan dapat terwujud. Aku punya tenaga untuk menguasai umatku. 105. Bingkai : Tinggal pencet tombol dan mereka akan ada dalam perintahmu? 106. Boneka II : Tidak Cuma itu, aku memiliki dongeng-dongeng. Masa di panggung ini akan ramai dengan koor manusia serba rupa (pause). Bagaimana? (kepada koor). 107. Koor : Akur! Akur! Prosesi seribu rupa. Dewan perwakilan atas nama takdir dan mitos-mitos. Kami siap mengabdi. 108. Boneka II : Nah, kau dengar sendiri (kepada bingkai) solusi tiada tekanan. Wajar, tak mengada-ada. Mereka bosan dengan ketertiban. Mereka minta mimpi. 109. Bingkai : Tak akan kuberi. 110. Koor : Kami paksa! Ini misi di atas misi. Yang menolak dan tidak solid, harus disingkirkan. 111. Bingkai : Pergerakan konyol! Hukumannya tembak mati! 112. Boneka II : Jangan bikin takut. Tokoh-tokoh keadilan yang tersohor itu telah mati semua, riwayatnya ditulis di daun lontar. Sisahnya dijebloskan ke ruang gelap, sedang yang bandel diungsikan ke pos kamling. Sekarang bilang mau tidak memberi kami mimpi? 113. Bingkai : Mimpi kalian berbahaya. 114. Boneka II : Kentut pun berbahaya. 115. Bingkai : Tapi jaman telah berubah. 116. Boneka II : Justeru itu! 117. Bingkai : Aku khawatir kalian tak mampu membacanya. 118. Boneka II : Aku tahu sejarah, aku bisa memahami tulisannya. 119. Bingkai : Aku ragu keberanianmu. 120. Boneka II : Berani atau tidak cuma soal kata. 121. Bingkai : Ini panggung teater, ada undang-undang, ada aturan. Yang bangkang mendapat sanksi, ‘dirumah tugaskan’ atau dikurung di sangkar perkutut. 122. Koor : Wela…wela…wela! Bahasanya kayak pejabat, ngomong dikit, singkat, rejeki berlipat. 123. Boneka II : Sudalah! Sekarang mau tidak beri kami mimpi? 124. Bingkai : Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!!!. 125. Boneka II : Kalau tidak, kenapa kau panggil aku kesini? Kenapa kirim surat kaleng segala?. Ayo jawab! Jawab!!! 126. Bingkai : Aaa…akku ditugasi oleh sang waktu. Aku diminta memainkan sejarah. Sungguh. Tugasku cuma itu. Ini perintah dan aku harus turuti. 127. Boneka II : Perintah memang tak harus dilawan, tapi sekali-kali kan tidak apa-apa. Seperti yang sudah lumrah terjadi saat ini. 128. Bingkai : Intrupksi? 129. Boneka II : Sama saja. 130. Bingkai : Anjuran? 131. Boneka II : Sama saja. 132. Bingkai : Himbauan. 133. Boneka II : Sama saja. 134. Bingkai : Ka…ka…kalau petuah atau nasihat, sama saja? 135. Boneka II : Ya, sama saja. 136. Koor : Ini suara musim sumbing! Lagu rakyat dari pinggiran. Perutnya kecil mimpinya besar. Kaki perkasa, sepatu naga hijau, sepatu si gonda mengijak atap rumahnya 137. Sosok I : (Kepada bingkai) Aku mencari rumah. Beri aku udara, bulan, cahaya, dongeng-dongeng sebelum tidur. 138. Sosok II : (Kepada boneka) Dongengkan kami sebuah rumah kecil dan sepetak kebun. 139. Sosok I : (Kepada sosok II) Dongengkan aku anak ajaib. 140. Sosok 1&2:(Kepada boneka) Janjikan kami tentang dongeng itu. 141. Boneka II : (Tersenyum) Emh…. Iya. 141. Koor : Emh…. Kami berjanji. 142. Boneka II : Kalian cukup kirimkan proposalnya. Semua ajuan akan dipelajari. Jangan khawatir. Yang penting sabar menunggu, karena banyak urusan lain yang lebih penting. 143. Koor : Sabar, sabar! Bermimpi-mimpi dululah Biar tak bikin rebut. 144. Boneka II : (Kepada bingkai) Nah! Dengar kegelisan mereka? Sekarang segera beri aku mimpi! Agar aku bisa mengabulkan segala keinginan mereka, karena aku adalah seorang calon pemimpin agung yang dikirim sang mimpi untuk memnina bobokan mereka. Kau.... kau sudah tak berguna lagi, kau hanya tinggal onggokan tulang berbalut kulit keriput yang sudah tak ada gunanya. 145. Bingkai : Baik. Tapi jangan libatkan aku dalam mimpimu.
Boneka tertawa tanda girangnya. Musik mengalunkan tanda kemenangan. Koor mengikuti boneka menjelajah panggung seiring irama musik. Segala gerak boneka dituruti dan dipatuhi, sesekali boneka menunjuk tanda memberi perintah. Bingkai statis, melihat saja apa yang dilakukan mereka. Adegan III
Lampu menampakkan cahaya kusam. Koor dan boneka mengubah struktur kata menjadi gerak simbolik. Mereka mewakili lembaga manusia, malaikat bahkan TUHAN. Boneka besar menjadi pusat kekuasaan yang mengkoordinir segala kebutuhan dan keinginan serta kepentingan politis. Mereka menelusuri perjalanan sejarah bangsanya. Menemui tampang-tampang peradaban negerinya. Penuh dengan virus, bakteri-bakteri dan kotoran-kotoran perang. Mereka menemukan bangunan dinasti penguasa negerinya. Bangunan itu berdiri kokoh hingga kini. ....... Musik resonansi etnik mengalun dalam dua nada pentantong, membangun suasana perantauan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang ……. Bingkai statis menjadi frame panggung suara global. Ia menjadi tokoh kesaksian sebagai ‘sang waktu’ yang mencatat regularitas peristiwa di panggung. Koor membentuk komposisi garis vertical dari level sentral. (terlihat satu titik di muka panggung) Kemudian menciptakan gerak mekanik sebuah industri. Mereka terlihat seperti mata rantai yang terputus. Lantas masuk ke sebuah lorong peradaban selaras resonansi etnik (melatar). Boneka berdiri kokoh di level atas, menari-nari komedial dimuka bingkai ……. Bingkai kalem-kalem saja ……. ……. Boneka I muncul dibelakang bingkai tersenyum penuh arti. Ia melihat boneka besar tertawa-tawa, kemudian ia menghilang di belakang panggung setelah sebelumnya menjadi wujud dari boneka besar ……. ……. Koor berwujud komunitas yang terpencar, satu sama lain berdiri masing-masing dan memiliki otoritas personal, namun terkesan berintegrasi ……. ……. Boneka II berubah menjadi raksasa besar. Para mahluk (manusia) telah berubah menjadi mahlik polarisasi, mengetik subjek menjadi objek yang terkuasai. Mereka membentuk koor ‘seribu rupa’ …….
146. Boneka II : Inilah dunia baru. Post manusia-manusia mimpi (pada bingkai). Aku inginkan umat. Beri aku umat selengkap mereka dalam duniaku. Dalam kekuasaanku. 147. Bingkai : Jangan libatkan aku, segalanya telah kau dapat. Tinggal pencet tombol dan mereka ada dalam perintahmu. 148. Koor : Akur…akur! Prosesi manusia seribu rupah dan perwakilan Tuhan atas nama takdir dan mitos-mitos. Tinggal pencet tombol, kami siap mengabdi. 149. Boneka II : Solusi tanpa tekanan. Panggil saya raksasa! 150. Koor : Raksasaaaaa! 151. Boneka II : Panggil saya jenderal! 152. Koor : Jenderaaaaaaaaall! 153. Boneka II : Panggil saya Tuhan! 154. Koor : (Ragu) Tu…Tu…Tu… Haaaaaaann! 155. Boneka II : Solusi tanpa tekanan! 156. Sosok II : Suara…suara…suara…. 157. Sosok I : Seperti letusan sangkur. 158. Sosok II : Bukan. Itu kentut jenderal. 159. Sosok I : Kok kacau sekali? 160. Sosok II : Mengkin terserang mules. 161. Sosok I : Situasi tak stabil. 162. Sosok II : Lupakan dulu! Berusan tadi aku mendengar suara. 163. Sosok I : Pertanda dongeng kita akan terwujud. 164. Sosok II : Rumah kecil dan sepetak kebun. 165. Sosok I : Tolong dongengkan lagi impian itu. 166. Bingkai : Jangan khawatir, yang penting sabar menunggu.
Sosok II membaringkan tubuhnya di pundak sosok I. mereka tidur dan bermimpi lagi. Musik sayup.
Adegan IV Musik bergelombang menggeliat, berkejar-kejaran dengan cahaya spotlight yang melintas dari sudut ke sudut panggung. Kemudian berhenti secara mendadak. Para pelakon (kecuali boneka) sebelumnya sudah statis, dengan membentuk patung kepada sang boneka. Cahaya lampu cuma di panggung sentral, tempat boneka II bercokol. Musik hening dan sugestif. ……. Boneka dengan penuh perasaan menghayati suasana itu. Ia merasakan ada sesuatu yang asing, sesuatu yang belum pernah ia dapatkan. Sementara tubuhnya terlihat kian membesar. Ia mulai bergerak lamban. Koor dan bingkai tetap mematung ……. 167. Boneka II : (Pada cahaya dan bunyi) Segalanya telah kumuliki. Lihatlah! Aku tak ubahnya tokoh faust yang dungu dan tak lebih bijak dari seorang pecundang. Mengapa aku diturunkan di tempat ini? Tempat tak ber-Tuhan. Aku sesak. Mimpi ini menyiksaku. Tak ada Tuhan di sini. Tuhan telah terlambangkan oleh kebutuhan. Lidahku keluh, karena ‘kata’ telah berubah kekuasaan… oh, sang waktu, mengapa kau minta mereka memainkan sejarah. Mengapa kau biarkan mereka menyebutku Tuhan? Mengapa kau suruh mereka, kau suruh mereka mengabdi? (pause) Hai! Cahaya, bunyi dan waktu! Aku butuh kebebasan. Lepaskan aku dari bingkaimu! Aku butuh kematian. Beri aku KEMATIAN!
Boneka I muncul dalam bingkai, ia menjadi cermin boneka II. Boneka II menabrak bingkai dan masuk ke ruangan kosong.
Adegan V
Suasana hening. Cahaya membias tua, panggung lengang. Koor melayang lepas dari orbit dan mencari orbit baru. Gerak koor, gerak yang terombang-ambing tanpa oksigen, mereka menuju bingkai dan lenyap di dalam bingkai. Dia terombang-ambing di sebuah ruang tanpa rasa. Resonansi etnik menghening, menggambarkan sebuah duan jauh.
168. Bingkai : Ini bukan dongeng sepanjang jaman ketika Tuhan muncul diam-diam bersama sang waktu, ketika orang-orang membuka kesadaran. Ketika kesadaran diasingkan, hiduplah ketika tidur! Mereka mencari rumah di dalam masjid, di kandang yesus bercengkrama. O, segala yang Esa! Mereka mencari cahaya Barat dan Timur. Aku bukan Adam bukan Hawa. Aku kekasih-Mu…! 169. Boneka II : O, Kematian…! Wahai cahaya, bunyi dan waktu! Aku butuh KEMATIAN!
Boneka I muncul dalam bingkai. Ia menap boneka II. Ia meneguk air di cangkir yang kosong.
170. Boneka I : O, panggung berbeban berat. Boneka tambun, ia bukan Godot, bukan Godlob! Tuhan, mereka semua seperti binatang dungu yang mati enggan hidup tak mau! Beri mereka ‘ruang kosong’. Tanpa keingainan, tanpa nafsu. O…. waranggana. Tidurkan mereka di ruang itu.
Boneka I kembali meneguk air di cangkir yang kosong. Boneka II tertelungkup tanpa zat.
171. Boneka I : Waranggana…waranggana! Inilah perjalanan sejarah yang putus. Manusia meninggalkan pertapaan moyangnya. Mereka menaiki kereta Trans-Nasional, bermuatan puing-puing kepercayaan yang berceceran. Senjakala Kiwari dan abad yang sesat.
Kembali menenggak air. Dari belakang panggung terdengar musik rimba yang begitu gaduh. Seperti bunyi kereta.
172. Boneka I : Astaga! Kereta segera menjemput. Terompetnya memecah telinga. O, Senjakala Kiwari yang sesat. Mahluk-mahluk simbolik, boneka yang lamban. Kereta Trans-Nasional. Kereta-kereta setengah waras. Bawalah mereka kea bad yang gila. 173. Boneka II : Kematian…. Beri aku KEMATAIN!
Boneka II tertatih-tatih, lunglai dan roboh! Boneka I lenyap dari bingkai. Musik kian menggelora. Dari bingkai muncul koor yang membentuk kereta. Dalam ketidaksadarannya boneka II dibopong keliling dunia oleh kereta bernama ‘SETENGAH WARAS’. Boneka dan kereta melaju kencang memasuki dunia baru yang makin ribut dan SESAK! BINGKAI ROBOH.
H a b i s ! Palembang, 9 April 2008 Sutradara,
Dedi Damhudi Nb: Manusia, mahluk serakah yang tak pernah jenuh akan kekuasaan, yang selalu merasa haus meski laut merah dikeringkan untuk diminumkan ke mulutnya. Tak pernah cukup segala kecukupan yang ada di atas bumi.
”Sesuatu yang Besar Mempunyai Tanggung Jawab yang Besar”. ”Walau Sungai Deras Mengalir, tapi Ikan Kan Tetap ke Hilir”.
Boneka Setengah Waras
Manusia pun tak menyadari apakah ia waras atau sebaliknya? Tak pernah mampu mengenal diri. Apakah kau mengenal diri mu? Aku tak tahu siapa aku???. Jika kau tahu siapa aku, maukah kau beri tahu aku???
Proses lebih penting dari hasil…. Tak kan ada hasil tanpa proses…. Proses yang panjang…. Menguras segala yang ada dalam benak dan darah.... tetap jaga sesuatu yang paling berharga.... proses dan yang ada di dalamnya. ”Proses yang lunak akan melahirkan buah yang keras, proses yang keras akan melahirkan buah yang lunak”.
Mr. D_13 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Godlob Karya : Danarto
Musik desau angin lirih dan menyayat seperti kaleng-kaleng yang ditendang di atas lantai ubin, merupakan paduan suara lagu-lagu maut yang dahsyat menceritakan kematian yang tak henti-hentinya. Jalinan nada kacau balau seolah-olah setan telah ketakutan oleh ancaman setan-setan lain atai sebuah persidangan tempat perdebatan-perdebatan tak menentu dengan hasil yang gilang-gemilang yaitu kemampuan membiarkan rakyat kelaparan dan berkaparan di tong-tong sampah. Panggung dihiasi latar hitam dan matahari condong, bulat-bulat membara dan membakar padang gundul yang luas. Laksana gumpalan-gumpalan batuan yang dilemparkan gagak-gagak hitam berterbangan dari angkasa. Mereka meloncat dari sana kemari, beterbangan kesana kemari, dari bangkai atau mayat yang satu ke gumpalan daging yang lain. Panggung menjadi sebuah padang gundul yang luas, yang di atasnya terdampar tubuh-tubuh prajurit yang baik, yang sudah mengorbankan nyawa satu-satunya milik merekan yang tidak bisa dibeli. Pada setiap mayat bertengger puluhan gagak yang berpesta pora di atasnya, hingga padang gunsul itu telah berubah menjadi gundukan semak hitam yang bergerak-gerak seolah kumpulan kuman di dalam luka yang membusuk dan mengerikan. Senjata-senjata berserakan, beberapa senjata dengan sangkur terhunus menancap disisi mayat dengan topi baja yang terpasang pula. Mungkin seorang teman sempat berbuat begini sebelum ia di tolong oleh teman lainnya untuk memberi tanda. Ada diantara gagak itu bermain dengan granat dan beberapa lainnya menyeret-nyeret tali pinggang yang penuh dengan peluru. Bau busuk, anyir, menegang-negang di tengah bentangan padang gundul itu, hingga udara siang ingar-bingar oleh daging-daging yang menguap dan malam hari terasa pengap, seolah-olah mayat-mayat itu ada dalam kaleng dan memberitahukan kepada semua bahwa perang itu busuk. Saat angina bertiup matahari makin condong bagai gumpalan emas raksasa yang bagus, membara menggantung di awing-awang dan pelan-pelan akan menghilang di balik bukit. Dari ujung padang gundul itu bergerak-gerak sebuah gerobak tanpa atap yang ditarik-dorong oleh seorang tua, tetapi masih kelihatan kuat dan bertenaga, ia menarik seorang anak mudah yang terbaring dengan luka yang parah di atas jerami dalam gerobak. Gerobak itu bergerak lambat bahkan terlalau lambat karena keadaan jalan yang tidak rata, banyak lubang bekas ledakan bom atau peluru meriam hingga kadang kala si penumpang terbanting jatuh dari gerobak lalu dibantu naik kembali naik ke gerobak oleh orang tua itu yang ternyata adalah ayah dari si anak muda. Untuk kesekian kalinya si anak muda terjatuh dari gerobak dan mengaduh kesakitan. Si orang tua menghentikan gerobak lantas berusaha membantunya kembali naik ke gerobak.
001. Orang Tua : Bangsat… bangsat… bangsat…! Kamu sinting! (membentak sembari memukuli gagak-gagak yang tiba-tiba menyerang kesana kemari) tidak puas-puas juga kalian. Kau kira! Kau kira! (menghalau gagak yang hendak hinggap di kepala anak muda itu) kau kira kami ini bangkai-bangkai? (melompat mengejar, lalu berdiri terpaku. Pandangannya berkeliling. Raut mukanya menyeringai menatap gerombolan gagak-gagak yang menggerumuni para bangkai yang berserakan. Tiba-tiba ia berlari dan tertawa menuju arah gerobak). Anakku… (sembari memapah si anak muda dan menaikkannya ke gerobak) kau lihat. Kau lihat. Baru sekarang aku takjub akan pemandangan ini. Kau lihat! 002. Anak Muda : Ayah, cukuplah (sambil merebahkan tubuhnya di atas jerami dalam gerobak). Bukankah aku kemarin-kemarin juga terbaring seperti mereka, sebelum ayah mendapatkan aku? 003. Orang Tua : Yah seperti mereka, sebelum aku mendapatkan kau! Dan berhari-hari tangan-tanganmu yang lemah itu menggapai-gapai mengusir burung yang menyerangmu. Dan hidungmu yang mewarisi hidung ibumu itu sudah cukup kebal untuk mencium bau bangkai kawan-kawanmu atau musuh-musuhmu (sembari duduk menjauhi gerobak). Dan udara menghantarkan kuman-kuman untuk mengunyah luka-lukamu yang parah itu. 004. Anak Muda : (sedikit seperti keluhan) Ayah, cukuplah! (sambil membenarkan balutan luka-lukanya yang kotor dan membusuk) 005. Orang Tua : (seperti tidak terpengaruh ucapan si anak muda) Kau masih ingat sajak ‘sang politikus’? (berdiri, tangan terentang dan memandang sekitar) “oh, bunga penyebar bangkai… di sana, di sana pahlawanku tumbuh mewangi” (berhenti berdeklamasi, termanggu sedang tangan masih terentang. Tiba-tiba tertawa dengan nada lirih) sajak itu cukup baik, cukup bermutu bukan? Anakku, kau tahu bedanya sajak yang dibuat oleh seorang politikus dan seorang penyair? 006. Anak Muda : Sudalah ayah. Itu sudah tugas seorang prajurit (berusaha membentulkan letak kakinya yang terluka) 007. Orang Tua : (memandang sekeliling) Kalau ada seorang yang menderita luka datang kepada seorang politikus, maka dipukulnyalah luka itu hingga orang yang terluka itu akan berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang. Sedangkan jika ia dating kepada seorang penyair, maka luka itu akan dielus-elusnya hingga ia merasa seolah-olah luka-lukanya telah tiada. Sehingga tidak seorang pun dari kedua macam orang itu berusaha mengobati dan menyembuhkan luka itu. Bagaimana menurut pendapatmu anakku? 008. Anak Muda : (mengerang kesakitan) Ayah, cukuplah.
Hari semakin gelap. Lalu ganti berganti: bau busuk – sore redup, bau busuk – derap gerobak, bau busuk – kaok gagak-gagak. Mereka terpaksa harus menginap di padang mayat tersebut.
009. Orang Tua : Malam telah datang, anakku. Sedang gagak-gagak itu masih belum juga kenyang. Kalau malam gelap seperti ini, aku sangsi apa besok matahari sanggup menembusnya. Semuanya menyangsikan saya. Siang berganti siang, malam berganti malam, tidak ada sesuatu yang baru dalam hidup kita. Rutin. Rutin. (membantu si anak muda turun dari gerobak. Menyandarkannya terbaring di roda gerobak). 010. Anak Muda : Ayah, cukuplah. Bagiku semuanya memastikan. Tidak ada yang menyangsikan walau keadaanya hanya rutin, rutin belaka. Semuanya kita sudah diatur. Tanpa kuminta dan diluar pengetahuanku, lahirlah aku dari rahim ibu yang bersuamikan ayah (berhenti sejenak karena nafasnya tersengal). Aku anak bungsu. Kenapa aku tidak minta dilahirkan sebagai anak sulung? Aku kagum pada tentara. Aku ingin memasukinya. Aku dilarang. Perang pecah dan menyeret aku ke sana. Sekarang aku terluka parah, mungkin bias terus hidup mungkin juga sebentar lagi aku mati. Tapi kini aku bias berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia yang percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongku untuk mengorbankan segala-galanya, harta, keluarga bahkan nyawa sekalipun. 011. Orang Tua : Yah, manusia yang muliah dimata Tuhan. 012. Anak Muda : Ayahm, tahukah kenapa aku tak memilih lapangan yang lain? 013. Orang Tua : Aku tak pernah menanyakan itu padamu, bukan? 014. Anak Muda : Seandainya pilihanku itu suatu bencana bagiku, sang nasiblah yang mengantarkan aku ke sana. Jadi seharusnya aku sebagai manusia merasa senang juga. 015. Orang Tua : Apa-apa yang ada di dunia ini mempunyai pasangan-pasangan. Kalau sesuatu meleset dari pasangannya, manusialah yang mengerjakannya. (agak sinis dan nelangsa) santu senti saja melesetnya seratus senti yang lainnya juga akan ikut meleset. Sebagaimana perang ini terjadi umpamanya, bukankah begitu anakku. 016. Anak Muda : Jangan terlalu sinis begitu ayah… bukankah… bukankah … agh… (menggeliat dan mengerang). 017. Orang Tua : (memotong) Bukankah ada setetes yang tidak beres di kalangan atas yang mengakibatkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan jiwa manusia hancur. Dan yang setetes itu harus diselidiki betul-betul. 018. Anak Muda : (mengerang kesakitan) Ayah, cukuplah…. 019. Orang Tua : Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng atau malah tentang kebenaran bibir cewek. 020. Anak Muda : Mungkin begitu ayah, seratus satu kemungkinan. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi bubur tidak guna disesali. Yang terang, aku sudah bekerja sebaik-baiknya…. Oh…. Nasibku…. 021. Orang Tua : Nasibkulah anakku, nasibkulah yang menyebabkan aku bicara sehingga tidak cukup begitu saja. Aku telah menyerahkan empat nyawa anak-anakku kepada sang Politikus dan tidak ada sesuatu pun yang ku terima. Sekarang ia merenggut nyawa anakku yang terakhir dan nyawa yang paling kusayangi. Kau! Kau! Sesuatu yang bagaimana lagi dan bentuk kebenaran macam apakah yang menghalalkan semua itu? Anakku! Anakku! Tak bias kutanggung lagi semua ini, anakku…. 022. Anak Muda : Ayah, sudah…. Cukuplah. Cukuplah kataku…. 023. Orang Tua : Belum cukup! Aku harus memutuskan sesuatu yang hebat, biar aku tidak dirugikan habis-habisan! Lihatlah anaku! Lihatlah! Gelap gulita dan pekat. Saking gelapnya hamper-hampir aku tak bias melihat tubuhku sendiri, apa lagi tubuhmu. Tak ada setitik cahaya pun di sini. Florence nightingle telah digondol gagak-gagak. Lembah kebenaran sudah diganti padang kurus kesangsian. Kau lihat di sana, katedral telah rata dengan tanah dan sekarang ditumbuhi semak belukar. Kau lihat di sana, di sana masjid telah digerayangi cacing-cacing dan ulat-ulat yang menjijikan dan di sana, kau lihat di sana perawan-perawan telah disekap di kamar-kamar hotel oleh para perajabat. Kau lihat di sana, kursi-kursi pemerintahan sudah digadaikan. Apakah yang bias diharapkan lagi, anakku? 024. Anak Muda : Ayah, cukuplah…. Seharusnya keluarga kita berbangga. Perang yang susul menyusul menerpa dan kita mampu menyumbangkan tenaga kita. 025. Orang Tua : Berbangga? Berbangga katamu, aku sudah kenyang dengan semua itu, seperti yang telah kukatakan bahwa aku harus memutuskan sesuatu yang hebat, biar aku tak dirugikan habis-habisan. Untuk itu anakku, aku memintah sumabanganmu! 026. Anak Muda : Sumbangan, sumbangan apa ayah? (sambil meringis menahan sakit). 027. Orang Tua : Lukamu cukup parah, bukan? 028. Anak Muda : Aku tak tahu…. 029. Orang Tua : Tiap hari banyak orang berbondong-bondong di batas kota, dari pagi hingga petang atau dari petang hingga menjelang pagi lagi. 030. Anak Muda : Maksud Ayah? 031. Orang Tua : Mereka datang untuk menjemput kalau-kalau suaminya, saudaranya, anaknya, atau bahkan kawan-kawannya pulang dari pertempuran ini. 032. Anak Muda : Lantas…? (masih belum mengerti, berbalik dan mengerang karena usahanya untuk duduk). 033. Orang Tua : Kau bayangkan…. Betapa setianya mereka, oh…. Seandainya mereka tahu apa yang sesungguhnya terjadi di padang gundul ini. 034. Anak Muda : Bukankah harapanlah yang membuat kita bertahan untuk tetap hidup, ayah. 035. Orang Tua : Dan ibumu, ibumu akan menyambutmu, juga kawan-kawanmu serta para tetangga. Engkau akan dikagumi, kau akan dipuja untuk waktu sesaat, tapi setelah itu kau akan dilipakan selama-lamanya, anakku! 036. Anak Muda : Ayah apakah ayah tidak bias melihat hikmah yang terkandung dalam semua kejadian ini? 037. Orang Tua : Tidak! Aku tidak melihat apa-apa sebab memang di sana tidak ada apa-apa.(berkeliling gerobak seperti mencari sesuatu). Dingin sekali di sini, anakku. 038. Anak Muda : Juga lembab dan anyir bau darah ayah. 039. Orang Tua : Supaya aku tidak terlalu rugi, supaya nasibku sedikit lebih baik untuk itu anakku aku minta sumbanganmu sekali lagi! 040. Anak Muda : Dari tadi sumbangan-sumbangan, apa maksud ayah sebenarnya? 041. Anak Muda : Anakku aku ingin kau menjadi Pahlawan…. 042. Orang Tua : (terkejuta dan kembali mengerang) Maksud ayah…? 043. Anak Muda : Begitu bukan sajak sang politikus : “oh bunga penyebar bangkai. Di sana, di sana pahlawanku tumbuh mewangi. Betapa lezatnya sajak itu. Anakku apa kau tidak melihat kenikmatan pembunuhan dalam sajak itu? 044. Anak Muda : Jangan melantur ayah!
Orang tua itu bangkit dan seandainya ada cahaya yang menerangi akan terlihat betapa tegangnya urat-urat wajahnya yang menyeringai merah. Lalu ia berkata dengan keras dan penuh kesedihan.
045. Orang Tua : Anakku dengan sangat berbangga, maafkan ayahmu…. KAU HARUS KUBUNUH!. 046. Anak Muda : Ayah! Dengan cara demikiankah ayah hendak menjadikan aku pahlawan? Ayah menghalalkan? Aku dan ayah adalah dua manusia…. 047. Orang Tua : Manusia yang paling menyedihkan, anakku (lirih dan bergetar). 048. Anak Muda : Ayah dimata Tuhan kita berdiri sendiri-sendiri. Aku memiliki sang nasib pengasuhku sendiri, dan ayah diatur oleh yang lain. 049. Orang Tua : Anakku kali ini pengasuhmulah yang menyerahkan kau padaku! 050. Anak Muda : Tidak! Tidak! Tidak mungkin, pengasuhku bekerja konstuktif! 051. Orang Tua : Tidak selalu anakku. Sesekali ia juga boleh nyeleweng! 052. Anak Muda : Tidak ayah…. Jangan lakukan ayah! 053. Orang Tua : Maaf anakku.... Ini yang paling benar dan harus kulakukan. 054. Anak Muda : Ayah…. (dengan penuh keterkejutan ia menjerit ketakutan dan tidak percaya atas apa yang dilakukan sang ayah) 055. Orang Tua : Anakku…. (bergerak mendekati dan menusuk dada anaknya dengan sebilah piasau belati yang didapatnya dari padang gundul itu). Maafkan ayah anakku…. (tertegun menangis lirih sembari memandangi jasad si anak)
Lampu panggung meredup, musik kematian menenar aroma maut mengiringi kegiatan si orang tua mengangkat mayat anaknya ke atas kereta/gerobak. Menunggu pagi sejenak. Ketika pagi dating dengan sinar pertamanya meyinari padang gundul yang gelap ia bergerak pelan, mendorong gerobak dengan tertatih.
056. Ny. Pembesar : (dengan nada sedih) Anak semuda dia dengan keyakinannya, terlalu sayang untuk pergi. 057. Pembesar 1 : Bukan sebuah kekhilafan jika prajurit muda setangguh almarhum diangkat menjadi seorang pahlawan negeri ini bukan? 058. Pembesar 2 : Oh, tentu saja tidak. 059. Jend. Besar : (penuh rasa bangga) Seorang prajurit tetaplah seorang prajurit, ia tabah dan teguh menjalankan perintah walau bagaimana bentuk dan beratnya. 060. Pembesar 1 : Ngomong-ngomong…. Bukankah perang itu telah berjalan dengan lancer dan memuaskan dengan hasil yang gilang gemilang? 061. Ny. Pembesar : Seperti laporan yang saya baca, demikian adanya. Saya selalu memantau perkembangan tentang perang. 062. Jend. Besar : Bapak-bapak dan ibu pasti akan terbangkit gairahnya jika sedang berada di suatu medan pertempuran. Detak jantung yang cepat dan adrenalin meningkat dengan cepat, jalan darah yang tanpa kita rasakan mengalir panas diseluruh tubuh…. Dan…. Ah, betapa nikmatnya. (masih dengan rasa bangga dan seakan ingin meledakkan dadanya) 063. Pembesar 1 : Bias orgasme… ? 064. Jend. Besar : Tentu. Eh…. Bukan yang itu, maksud saya…. 065. Ny. Pembesar : Ya,ya… bukan yang itu sebenarnya… 066. Jend. Besar : Yah…. Prajurit-prajurit kita dilatih dan diciptakan sebagai jantan yang jika terbunuh satu orang, maka dipihak lain kita membalas dengan kematia dua orang musuhdan seterusnya dan seterusnya. 067. Pembesar 1 : Wah mereka juga pasti diajarkan berhitung dna punya bakat berdagang. 068. Pembesar 2 : (hand ponenya berbunyi) Maaf…. (melakukan pembicaraan lewat telepon) Ya what happen? Oh, itu? (berhenti sejenak untuk menanyakan sesuatu pada pembesar 1) maaf, pak… pengiriman jatah prajurit ke medan tempur…. 069. Jend. Besar : (memotong pembicaraan karena dilirik oleh pembesar 1) Sudah pak, semuanya seperti biasa. 070. Pembesar 2 : (pada Hpnya) Seperti biasa. Apa? Yang lebih bertekhnologi tinggi? (pada jenderal) mereka akan mengirim stok yang terbaru langsung ke lapangan. 071. Ny. Pembesar : Coba Tanya apa bias impor tentara dari luar negeri? 072. Pembesar 1 : Wah, makin seru topik pembicaraan kita. 073. Pembesar 2 : (masih lewat Hp) Begini, coba kirim stok tentara anda yang terbaru dan terbaik…. Bagaimana…? Iya…. Ya…. Terbaik, bukan terbalik. Iya, yang termurah…. How much? 1000 dollar? Baik, tiga ribu saja. Ya, langsung ke lapangan…. Thank’s (sembari menutup HPnya). 074. Jend. Besar : Apa…. Cuma tiga ribu personil! 075. Pembesar 2 : Ya…. Apa boleh buat. Ketimbang prajurit yang sudah bayak tewas dan cidera, ini sudah lumayan sebagai subsidi guna mempertahankan jumlah korban di lapangan. 076. Ny. Pembesar : iya, taka pa-apalah. Toh kematian dalam perang sudah kodrat prajurit, bukan. 077. Jend. Besar : wanita memang lebih menyukai organisasi. Ia senantiasa menghambat ke arah persoalan yang hakikat. 078. Ny. Pembesar : (melirik ke arah jenderal) laki-laki memang doyang sekali mempersoalkan hakikat, seolah-olah tidak sempat melirik paha yang tersingkap. 079. Pembesar 1 : (batuk-batuk kecil untuk meredahkan silang pendapat) ehm…. Jadi kita sekarang sudah dibacking oleh kekuatan super power, begitu? 080. Jend. Besar : ya, begitulah pak. Demi sebuah kemenangan yang sudah di depan mata. 081. Pembesar 1 : baik…. Kalau begitu sekarang saatnya untuk mencarikan… eh maksud saya mencairkan dana untuk pembelian tentara dan perlengkapan perang. (seolah memintah kepada nyonya pembesar). 082. Ny. Pembesar : gampang, semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencana yang sudah dirancang. Bukan begitu pak jenderal? 083. Jend. Besar : egh…. Ya seperti yang telah kita setting pada awal cerita… jadi…
Percakapan para pembesar terputus ketika tiba-tiba masa berbondong-bondong dan gempar memasuki arena perbincangan mengikuti seorang perempuan yang membopong mayat. Suasana menjadi kacau dan hiruk-pikuk.
084. Seseorang 1 : wah mayat siapa itu? 085. Seseorang 2 : aduh, seorang perempuan yang berani. 086. Seseorang 1 : siapakah wanita aneh itu? 087. Seseorang 2 : wah dia membawa mayat pahlawan kemarin. 088. Seseorang 1 : hah…. Mayat yang kemarin digali lagi! 089. Seseorang 2 : ya, Tuhan. Digali oleh tangan ibunya sendiri. 090. Seseorang 1 : jadi yang membopong itu ibunya? 091. Seseorang 2 : aduhai, suatu pemandangan yang menabjubkan. Ibu pertiwi membopong pahlawannya. 092. Seseorang 1 : bukan begitu! 093. Seseorang 2 : kenapa bukan? 094. Seseorang 1 : ya, ini bukan pemandangan yang menabjubkan, tapi pemandangan yang mengerikan. 095. Seseorang 2 : mau diapakan ya mayat itu? 096. Seseorang 1 : entahlah pasti ada sesuatu yang salah.
Perempuan itu meletakan mayat di depan para pembesar. Para pembesar kenudian mendekat kea rah mayat tersebuat perlahan. Perempuan itu memandang liar ke arah sekitar, ia seolah sedang mencari seseorang diantara orang-orang yang ada disekelilingnya. Lalu kemudian keluarlah si orang tua berhadapan dengan si perempuan juga dengan mayat yang terkapar di lantai. 097. Perempuan : Ini dia orangnya (sambil menunjuk kea rah orang tua), ia adalah suamiku. Tapi sejak kugali mayat anakku ini, ia telah kuceraikan. Tadi siang ia telah bercerita panjang lebar tentang garis depan. Akhirnya ia pulang membawa tipuan-tipuan kepada kita semua. Mayat ini sama sekali bukan pahlawan…. (terdengar seruan-seruan kaget dari para pembesar). Seandainya mayat ini sanggup bangun, ia akan berkata kepada kita bahwa dia tidak ingin menjadi Pahlawan. Aku tahu tabiat anak-anakku, aku yang melahirkannya, aku yang membesarkanya (lirih). Dialah…! Orang lelaki ini yang telah membikinnya menjadi pahlawan! Dia membunuhnya! Dia telah menipu kita semua! 098. Orang Tua : Ahk… enak saja kau bicara, sebaliknya aku yang kena tipu oleh mereka! (menunjuk kea rah para pembesr). Kita semuanya kena tipu mentah-mentah. Lihatlah aku! Hartaku dan keluargaku ludes! Tapi tidak suatu apapun yang kudapatkan. 099. Koor Pembesar : Penghianat! (berteriak, tapi tidak serentak). 100. Orang Tua : Menurut hokum yang bagaimanakah seseorang berhak menyebut orang lain penghianat atau pahlawan! (semua orang semakin riuh). Kemarin kubawa mayat anakku, anak yang penghabisan dari empat orang anakku yang lain, yang sudah hancur lebih dulu. Perang demi perang telah memeluk anak-anakku dengan mesranya. Dalam sekejap mata mayat ini diangkat jadi pahlawan. Aku sudah mengira. Sementara kalian dengan berkaleng-kaleng air mata, entah air mata manusia atau air mata buaya mengantarkannya ke kuburan sedang aku…. Aku dengan tertawa terpingkal-pingkal. 101. Koor Pembesar : Dengan berpujak pada nilai-nilai objektif, akan tidak ada tipuan-tipuan. 102. Orang Tua : Adakah nilai-nilai objektif itu? Semuanya adalah subjektif! (sambil membuang ludahnya keras-keras). 103. Koor Pembesar : (serempak) Apa yang kau harapkan sekarang? 104. Seseorang 1&2 : (makin riuh dengan opini masing-masing) Wah kacau ini. Iya, apa maumu? Macam-macam saja, dasar tidak punya perasaan. 105. Orang Tua : Apa yang bias aku harapkan dari kalian (memandang ke arah seseorang 1 & 2) kalian hanya orang-orang kecil, sesekali kalian boleh pergi ke garis depan. Hingga kita bias juga berbicara tentang perang yang kami alami. Lihat para politikus itu (menunjuk kea rah politikus). Mereka berbicara tentang Negara, ekonomi, tentang sajak, tentang perempuan bahkan tentang kebun binatang. Semuanya sudah diborongnya oleh mereka. Lantas kita ini disuruh bicara tentang apa lagi?! 106. Seseorang 1&2 : Iya, ya. Kita disuruh bicara tentang apa? Apa tentang perut ya? Atau bicara tentang bagaimana cara cari makan yang baik…. Atau tentang… 107. Perempuan : Oh, perutku terasa mual mendengar kau bicara, hingga mau muntah saja (melihat ke arah orang tua). (tiba-tiba si perempuan merebut pistol dari pinggang sang jenderal). Sekarang akan kumuntahkan peluru pistol ini…. Tar…. Tar… (terdengar suara tembakan, sejenak keadaan menjadi sunyi senyap tanpa suara). 108. Orang Tua : Aghkkk… (terjejar ke belakang dan roboh sambil memegang dadanya yang diterjang peluruh. Perlahan si perempuan mendekati orang tua dan berjongkok di hadapannya. Air mata si perempuan meleleh perlahan. Orang tua menggeliat menolah ke arah si perempuan). Perang demi perang berlalu, iseng demi iseng berpadu. (bergerak berudaha meraih mayat anaknya. Si orang tua terjatuh dan …. Game over).
Sejenak suasana hening. Semua terpaku melihat kejadian yang baru saja terjadi, semua tidak bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri.
109. Perempuan : (sambil tersimpu, wajah si perempuan termanggu memandang ke atas). Oh, nasibku…. Nasibku… sedang kepada setan pun tak kuharapkan nasib yang sedemikian.
Lampu padam pelan-pelan. Musik pengiring mengisi jerit histeris si perempuan. Pementasan usai
Diedit Ulang di Ruang Kosong Tanpa Nafas 1 Oktober 2008
Dedi Damhudi (Mr. D_13) ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERJAMUAN Karya Muhammad Azhari Adaptasi dari naskah “Meja Makan Kita” karya Moh. Syafari Firdaus
Sebuah meja yang siap menyajikan perjamuan makan malam. Ada tiga kursi masing milik artaud, stanilavsky, dan brecht. Tersimpan pula benda-benda yang menjadi penand karakter masing-masing peran. Semua kejadian bermula dari meja makan dan kembali kesna, begitu berulang-ulang dengan alur yang seakan-akan melingkar.
Theme Song : Candlelight Dinner
Burger, eating burger It’s the bakery without calorie In your plate
Water, drinking water It’s the coffee, nothing Brandy In your glass
Candlelight dinner with me Candlelight dinner with me
Stanilavsky dan Brecht masuk membopong Artaud, meyeretnya, lalu menempatkan Artaud yang tetap statis itu disalah satu kursi dekat meja makan. Seketika perlengkapan makan seperti ketel, gelas, sendok, garpu, pisau, mangkuk, dan lainya yang bergelantungan dari langit-langit panggung, menghias meja makan itu. Mereka mulai menatanya. Stanilavsky menunjukan cara makan yang begitu hati-hati, selalu ingin dilihat sopan. Brecht tidak terlalu hirau dengan itu, tapi sibuk dengan peralatan tukangnya, sesekali ia mengasah pisau. Sementara Artaud tetap statis di hadapan meja makan, mungkin ia sedang mati.
Stanilavsky : Biarlah Artaud menikmati matinya (Menyalakan korek api). Makan malam satu porsi! (Aktris masuk, geraknya atraktif melebihi bartender, membawa sajian sambil menari). Aktris : Senang melihat selera makan tuan-tuan. Tak perlu dibedakan, antara rakus dengan lapar. Saya siap melayani. Brecht : Silahkan dicicipi hidangan pembukanya. Stanilavsky : Dengan besar hati. (Menuang air) Mari bersulang! Brecht : (Mengangkat gelas) Demi pentas malam ini! Stanilavsky : Heh, menunya apa nona? (Sambil menelan liur saat menapat tubuh aktris). Aktris : (Seakan tidak peduli) Sepertinya burger! Stanilavsky : Burger…, apa tak ada yang lebih istimewa? Aktris : Oh, jangan salah… burger ini adalah burger paling istimewa. Bagaimana tidak, ini adalah burger goreng daun seledri dan rebusan jamur kuping. Brecht : (Mengambil burger yang disodorkan Aktris untuk dirinya dan juga Artaud). Selamat makan (Mengajak pada Artaud yang masih saja statis) semoga bahagia dan memuaskan. Ahk… sepertinya pisaunya kurang tajam sehingga membuat irisannya tidak estetis (Menghentak kemudian menjauh dari meja makan). (Aktris merapikan meja makan yang nyaris berantakan oleh hentakan yang dilakukan brecht). Stanilavsky : (Terkejut lalu mendekati brecht untuk mengajaknya kembali ke meja makan). Jangan seperti anak kecil. (Mengalihkan perhatian) Kamu pasti sedang bahagia kan, brecht? Brecht : (Mengangkat gelas) Demi kematian Artaud! Aktris : (Ikut mengangkat baki) Untuk saya adakan, Tuan… tips-nya? Stanilavsky : Tentu ada Nona, tapi nanti sekalian di kamar ganti (sambil melirik aktris yang langsung keluar panggung). Oh, ya, bagaiman latihanmu brecht? Brecht : (Ngawur dan seakan tidak memperhatikan stanilavsky) Sayang, property geregajiku tidak terbawa. Seharusnya kau tanya juga Artaud! (membentak ke arah stanilavsky). Stanilavsky : Alah, paling tentang buku-buku teater. Sementara latihanku hanya berproperti debu dan daki. Brecht : (Tertawa) Biar saja sesekali debu dan daki itu menyukau aktingmu!
“terdengar suara ponsel, akteris dengan kostum tipis hingga terlihat lekuk tubuhnya masuk dengan monolog singkat. Stanilavsky dan brecht kembali meneguk liur melihat penampilan si aktris”
Aktris : Halo…. Jangan main-main. Sebentar lagi pentas dimulai, dari kelompok teater….(Kelompok teater mana saja). Tidak boleh ganggu pemain dan kru, apalagi sutradaranya. (Seolah memberitahukan kepada Brecht) Cari Artaud! Brecht : Gilirianmu…, satanilavsky! Stanilavsky : (Mengalihkan topik pembicaraan) Ala bilang saja Artaud sudah mati! Tidak bisa diganggu. Catat saja kalau ada pesan. Aktris : (Meyerahkan ponselnya kepada stanilavsky) Nih, saya mau ganti kostum. Brecht : (mendekat kepada stanilavsky untuk melihat ponsel yang diberikan oleh sang Aktris) Lho, SMS kan dibaca? Pakai akting segala, lagaknya menerima telepon. Stanilavsky : Biasalah mau pamer bodi sama kita…, ssstt, (Menunjukan pesan pada Artaud) Nih, dari penonton, mereka berharap kau dapat seperti sediakala. Lain kali kalau mau mati, ajak-ajak mereka. Jangan egois seprti ini. Brecht : (Mengangkat gelas) Demi Artaud sang seniman aneh. Stanilavsky : (Tidak ikut mengangkat gelas, ia hanya mengangkat tangannya yang kosong) Juga untuk penonton yang lebih aneh lagi. (Tangannya tersenggol gelas yang ada di atas meja) Wah, tumpah. Brecht : (kepada penonton, Stanilavsky dan Brecht menjauh dari meja makan, mereka berdua asyik bercerita sendiri. Sementara Artaud meliuk-liukkan tubuhnya ke atas meja sembari menyantap habis semua makanan yang ada). Pasti ada yang terpukul dan mencela kita, hingga gelas bisa tumpah. Firasatku berkata demikian. (Tertawa) Sudah, lebih baik kita mengasah pisau untuk burger, jangan sampai irisan itu tidak estetis lagi. Mana pisaumu, juga punya Artaud, ku ampelas sekalian. (Artaud yang sedang meliuk-liuk di atas meja mendadak berhenti dan kembali ke posisi semula. Sesaat kemudian sang Aktris masuk dengan pakaian yang lebih tipis dan menggelorakan jiwa pemandangnya). Aktris : Wouww…. Ludes, habis semua. Masakanku pasti lezat bukan? Brecht : Hah?!... (melongo) Stanilavsky : Makan burgernya saja belum. (sembari memfokuskan mata pada belahan baju Aktris) Aktris : Oooh… seharusnya tuan Artaud tidak terlalu lama mati. Sayang dia tidak bisa mencicipi aku… auuw salah… maksudnya mencicipi masakanku. Stanilavsky : Seharusnya kau berpakaian sedikit lebih tebal, kalau seperti ini malah mengurangi nafsu makanku…. Tapi nafsu yang lain tidak. (Berpandangan dengan Brecht). Brecht : sekarang giliran siapa? (Blingsatan) Stanilavsky : Seharusnya Artaud, tapi berhubung… eghhtt (ikut blingsatan). Brecht : (Nyengir) Eeh, aku kebablasan duluan… (Sambl mengapit lututnya yang mulai gemetar). Stanilavsky : Payah, loyo. Padahal di ruangan ini bertabur bedak Paris dan farfum Tokyo, kamu masih saja ngompol! Brecht : Tunggu saja, lain kali aku akan siapakan saringan angin agar tidak kebablasan lagi. Paling-paling bocor halus… he… he…! Aktris : (Memotong) Tuan berdua tahu, makanan apa yang akan aku hidangkan untuk makanan penutup?? Stanilavsky : Puding. Brecht : Sepertinya koktail. Stanilavsky : Tapi yang lebih kontektual ialah pudding. (ke atas panggung).
“Sementara Stanilavsky dan Brecht asyik berdebat, Artaud dan Aktris juga sedang asyik memeragakan eksotis yang terlihat ‘panas’ di atas meja makan yang menjadi tempat perjamuan. Mereka berdua melakukan gerakan saling membalas dan mengimbangi antara satu dengan yang lain, sehingga meja makan disulap bagaikan sebuah ranjang pengantin baru”
Brecht : Bukan! Dilihat dari nona cantik itu membereskan piring, jelas ia akan menyajikan koktail untuk kita. Stanilavsky : Dari aromanya pasti pudding! Brecht : Penciuman macam apa itu! Stanilavsky : Justru hidungku mengisyaratkan pudding. Brecht : Apa yang bisa diharapkan dari hidung seseorang yang selalu bergaul dengan debu dan daki? Stanilavsky : Kau jangan menghinaku. Kau ingat, Artaud saja kagum dengan peranku sebagai tukang panggung.
“Gerakan eksotis yang dilakukan oleh Aktris dan Artaud pun selesai dengan perlahan, meraka kelihatan sangat puas dengan yang baru saja dilakukan. Artaud kembali lagi ke posisi semula, sementara Aktris mulai merapikan pakaian dan make-up nya seolah tidak terjadi apa-apa”
Aktris : (Seolah merapikan pakaian) Seandainya tuan Artaud tidak terlalu lama mati, mungkin aku betah tinggal di sini… (Aktris keluar) Brecht : Seandainya Artaud bisa bersuara, dia pasti akan memilih koktail. Stanilavsky : Jangan ganggu Artaud. Dia kan sedang mati, kita harus menghargai orang lain yang sedang menuju proses kesempurnaannya. Brecht : Justru itu jangan sia-siakan kematiannya. Penghargaan dari kita untuk Artaud Cuma koktail. Stanilavsky : Kau selalu berlindung di bawah ketiak Artaud…. Pudingnya jangan lupa nona. (Berteriak ke arah belakang panggung) Brecht : Ahh, iri tanda tak mampu…. Sajikan saja koktailnya, nona! Stanilavsky : Cepat, mana pudingnya! Brecht : Awas, kau tahu Artaud juga suka koktail, nona! Stanilavsky : (Pada Brecht) kau sebenarnya tahu atau tidak, apa itu puding? Puding adalah campuran yang paling sempurna antara susu nona tadi dengan… Brecht : Kau anggap koktail itu apa! Stanilavsky : Memangnya apa itu koktail? Brecht : Kau telah menghina kesukaan Artaud. Stanilavsky : (Tertawa) Justru sebaliknya. (Ke arah tumpukan buku) Nah, dalam kitabnya Theatre and Its Double, Artaud menulis bahwa pada malam-malam dengan cuaca seperti ini kita harus memilih makanan penutup yaitu P.U.D.I.N.G… puding. Nah lihat! (Memperlihatkan pada Brecht sebelum menutup buku itu dengan segera). Brecht : Masa iya, apa benar? Kau baca halaman berapa? Stanilavsky : Kau cari saja sendiri. Pokoknya ada tulisan puding. Brecht : (Berulang kali membolak-balik halaman buku tapi tidak ketemu juga) Ah, pokoknya koktail. Sekali koktail tetap koktail, koktail atau mati. Koktail terus pantang piding, merdeka!. Stanilavsky : Pudding! Brecht : Koktail! Stanilavsky : Puding! Brecht : Koktail!
“Setelah perdebatan sengit menghentak, lampu padam. Hanya ada nyala lilin dan terdengar suara para aktor seperti pada awal pertunjukan”
Stanilavsky : Tak ada manfaatnya kita bermusuhan. Mari ke meja makan!. Brecht : Minumlah…. Demi kematian Artaud! Stanilavsky : Untuk Artaud. Aktris : senang melihat selera makan tuan-tuan. Tak perlu dibedakan, antara rakus dengan lapar. Maaf pesanan tuan-tuan tidak ada. Stanilvsky : Waduh…. Kalau begini bagaimana mau pentas? Brecht : (Tersadar) Astaga, property geregajiku bener-benar tak terbawa. Seharusnya kau Tanya juga Artaud!. Stanilavsky : Ala, paling soal buku-buku teater. Malah latihanku yang tetap berproperti debu dan daki yang menjadi sorotan para kritikus. Brecht : (Tertawa) Biar saja debu dan daki itu sekali-kali mencintai para kritikus!.
Selesai!
Diproduksi Teater Puncak Palembang dalam Pertunjukan Seni Kreatif “Parade Tiga Topeng” Pada tanggal 6 dan 7 September 2007 Bertempat di Graha Budaya Jakabaring Palembang
Diedit oleh : Dedi Damhudi “Di ruang kosong dengan penuh harap mengalas perut”
Pertunjukan teater oleh teater Puncak Palembang (Sebuah teater independent) yang mengusung judul “Perjamuan” karya Muhammad Azhari yang diadaptasi dari naskah “Meja Makan Kita” karya Moh. Syafari Firdaus ini merupakan wujud apresiasi teater Puncak dalam perhelatan “Parade Teater Pesta Seni 2007” yang diusung oleh Dewan Kesenian Palembang (DKP) pada 5, 6, dan 7 September 2007 di Aula RRI Palembang. Di sini teater Puncak mencoba meneriakan kebebasan dan keikhlasan dalam berseni khususnya teater di dunia kesenian Palembang. Teater bukan hanya sebuah seni pertunjukan, tapi juga merupaka sebagai wadah dalam membentuk karakteristik individualisme dan kelompok yang begitu hebat. Teater yang didasarkan pada kerja kolektif dan kekeluargaan dalam pembentukan karakter, tidaklah pantas jika dijadikan ajang dalam mencari sebuah proyek kesenian yang sering terjadi dan diusung oleh beberapa senima usil. Alangkah naifnya jika kita para penggemar teater atau juga bisa disebut sebagai insan teater memanfaatkan ajang proyek kesenian sebagai ajang kesenian itu sendiri, semisal : sebuah organisasi teater yang selama ini kita ketahui fakum kini mulai muncul membawa misi kesenian untuk mengejar hadia yang berupa hitungan rupiah sebagai imbalan. Atau sebagai contoh lain bermunculan seniman dadakan saat ada sebuah acara yang dapat menghasilkan materi yang cukup mengenyangkan perut tapi pada saat dunia seni itu sendiri memanggilnya ia menghilang entah kemana. Atau lagi, sebuah organisasi teater yang memiliki roh kembali saat adalah sebuah moment dengan hadia yang menggiurkan. Apakah tindakan seperti ini pantas dilakoni sebuah komunitas yang menamakan diri teater atau organisasi seni, apakah ini yang disebut kebanyakan orang sebagai cara menghidupkan kembali kesenia? Saya rasa bukan seperti itu, memang kita tidak bias bersikap – meninjam istilah Rendra – kita menghidupi kesenian dan kesenia menghidupi kita. Namun apa salahnya jika kita mulai berfikir bahwa materi (dana) hanya sebatas kebutuhan yang perlu diadakan untuk melalkukan sebuah pertunjukan dan bukanlah sebagai penghasilan dari sebuah pertunjukan. Akankah pemikiran seprti ini terus bisa mewabah dan merasuki pikiran kita semua selaku para penikmat seni…. Amin. (Mr. D_13) ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
MENUNGGU GODOT Karya Samuel Beckett Terjemahan B. Very Handayani Editor naskah Yudi Ahmadd Tajuddin Editor Amien Wangsitalaja Penerbit buku TARAWANG
Pemain: Estragon (Gogo) Vladimir (Didi) Pozzo Lucky
Sinopsis Sementara menunggu godot..” bercerita tentang perjalanan hidup dua orang sahabat, Didi (Vladimir) dan Gogo (Estragon). Selama mereka menantikan kedatangan seseorang bernama Godot, mereka berjanjin bertemu Godot, di pinggir jalan; jalan dekat sebuah pohon. Penantian itu menjadi penantian panjang. Dan sementara menunggu godot, mereka melewatkan waktu dengan memperdebatkan hal-hal di sekitar mereka; sepatu, topi, pohon, peristiwa penyaliban ataupun kisah penyelamatan. Tetapi bukan godot kemudian yang datang, melainkan Pozzo dan Lucky, sang tuan dan budaknya. Kemudian datang pula seorang utusan godot yang mengatakan bahwa godot tidak bisa datang sekarang melainkan besok. Waktu terus berjalan, sementara mereka masih menunggu godot. Semua peristiwa terulang kembali. Nyaris seperti sebelumnya, sepatu, pohon, kedatangan lucky dan pozzo, serta utusan godot dengan berita yang sama. Semua itu dikemas Beckett tidak dengan bahasa yang suram, tidak jatuh dalam situasi yang tragis melainkan dalam bahasa yang lucu, unik, kadang komikal khas beckett yang pengungkapan monotomi hidup tidak terjebak pada irama yang membosankan.
ADEGAN I Sebuah jalan desa. Sebatang pohon. Petang hari
Estragon duduk di sebuah gundukan, sedang mencoba melepaskan sepatu bootnya. Dia menarik dengan kedua tangannya, lalu ternengah-engah. Dia menyerah, Nampak sangat lelah, istirahat dan mencobanya lagi seperti sebelumnya. Masuk Vladimir.
Estragon : (menyerah lagi) Sia-sia! Vladimir : (Maju dengan langkah pendek, berjalan kaki, kedua kakinya melangkah lebar) Aku mulai setuju dengan pendapat itu. sepanjang hidup aku mencoba menjauhkannya dariku dengan berkata; Vladimir cobalah berpikir, kau bahkan belum mencoba semuanya. Dan aku terus berjuang. (Dia termenung, memikirkan perjuangannya. Lalu berpaling pada Estragon) jadi kau di sini lagi. Estragon : memang Vladimir : Aku senang melihatmu lagi. Aku kira kau telah pergi untuk selamanya. Estragon : Aku juga. Vladimir : Bersama lagi, akhirnya! Kita harus merayakannya. Tapi bagaimana caranya? (dia berpikir) bangunlah dan aku akan memelukmu. Estragon : (dengan marah) Jangan sekarang. Jangan sekarang Vladimir : (terluka, dengan dingin) Bolehkah hamba tahu di manakah tuan puteri menghabiskan malamnya? Estragon : Di selokan. Vladimir : (Dengan kagum) Selokan? Di mana? Estragon b : (tanpa isyarat) Di sana. Vladimir : Dan mereka tidak memukulmu? Estragon : Memukulku? Tentu saja mereka memukulku Vladimir : Gerombolan yang sama? Estragon : Sama? Aku tidak tahu Vladimir : Jika aku memikirkan hal itu…. selama ini… apa jadinya kamu tanpa aku…. (dengan tegas) pada saat itu, kau tidak lain hanya seoonggok tulang. Aku yakin akan hal itu. Estragon : Lantas? Vladimir : (dengan muram) Itu keterlaluan untuk seorang manusia (Pause. Dengan ceria) tapi sebaliknya, apa untungnya saat ini putus asa, itu yang aku katakan. Kita seharusnya memikirkan hal itu jutaan tahun yang lalu. Pada abad ke 19. Estragon : Ah, hentikan ocehanmu dan bantu aku menyingkirkan barang rongsokan ini. Vladimir : Pada awalnya, saling bergandengan di puncak menara Eiffel. Kita sangat cantik pada saat-saat itu. tapi sekarang sudah terlambat. Mereka bahkan tak akan pernah membiarkan kita naik lagi. (Estragon membuka sepatunya) apa yang akan kau lakukan? Estragon : Mencopot sepatu boot ku. Apa kau tidak pernah melakukannya? Vladimir : Sepatu harus dilepas setiap hari. Aku telah mengatakan hal itu padamu. Kenapa kau tidak mencoba mendengarku? Estragon : (dengan lemah) Bantu aku! Vladimir : Sakitkah? Estragon : Sakit! Dia ingin tahu apakah ini menyakitkan? Vladimir : (dengan marah) Tak ada orang yang menderita selain kau, aku tidak termasuk. Aku ingin dengar apa yang akan kau katakan jika tahu apa yang aku alami. Estragon : Sakitkah? Vladimir : Sakit! Dia ingin tahu apakah itu menyakitkan! Estragon : (menuding) Kau mungkin mengancingkannya. Sama saja. Vladimir : (membungkuk) Benar (dia mengancingkan tutup luarnya) jangan pernah remehkan hal-hal kecil kehidupan. Estragon : Apa yang kau harapkan, kau selalu menunggu sampai saat terakhir Vladimir : (Termenung) Saat terakhir…. (dia merenung) Harapan yang tertunda memang menyakitkan. Siapakah yang mengatakannya? Estragon : Kau tidak menolongku? Vladimir : Kadang-kadang aku merasa semuanya menjadi sama saja. Lalu aku merasa semuanya menggelikan. (dia melepaskan topinya, menatap tajam ke dalamnya menggoncang-goncangkannya, lalu memakainya lagi) Bagaimana aku mengatakannya? Lega dan pada saat yang bersamaan…. (dia mencari kata yang tepat)…ngeri. (dengan penekanan) Nge-ri (dia melepaskan topinya lagi, menatap tajam ke dalamnya) Lucu (dia mengetuk-ngetuk bagian atasnya seolah-olahmengusir bagian yang asing. Melihat bagian dalamnya lagi, memakainya kembali) sia-sia saja. (Estragon dengan kekuatan penuh berhasil menarik sepatu bootnya. Dia melihat bagian dalamnya, menggoncang-goncangnya, melihat ke tanah untuk memastikan apakah ada sesuatu yang keluar dari sepatunya, tidak menemukan apa-apa, merogoh dalamnya lagi. Menatap Vladimir dengan pandangan yang kabur) Bagaimana? Estragon : Tak ada. Vladimir : Perlihatka Estragon : Tak ada yang perlu diperlihatkan Vladimir : Coba pakailah lagi Estragon : (memeriksa kakinya) Aku akan mengangin-anginkannya sebentar Vladimir : Ada banyak orang sepertimu. Menyalahkan sepatunya, padahal kakinya yang salah. (Dia melepas topinya lagi melihat ke dalamnya, merabanya, mengetuk bagian atasnya, meniupnya dan memakainya lagi) hal ini mulai mengkhawatirkan (Hening, Vladimir berpikir keras, Estragon menarik-narik jari-jari kakinya) Salah satu pencuri itu diselamatkan. (pause) bagian yang masuk akal. (pause) Gogo. Estragon : Apa? Vladimir : Seandainya kita bertobat Estragon : Bertobat apa? Vladimir : Oh…(dia berpikir) kita tidak perlu membahas detilnya Estragon : Tentang kelahiran kita? (Vladimir tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, namun dengan segera ia menjadi sesak napas, tangannya menekan bagian bawah tubuhnya, wajahnya menyeringai kesakitan.) Vladimir : Seseorang bahkan tidak akan berani lagi tertawa Estragon : Penderitaan yang mengerikan Vladimir : Cuma senyum (dia tersenyum lebar dengan tiba-tiba, terus tersenyum, dan berhenti mendadak) Ini bukan hal yang sama. Sia-sia, (pause) Gogo. Estragon : (Dengan marah) Ada apa!? Vladimir : Kau pernah membaca kitab suci? Estragon : Kitab suci… (dia berpikir). Mungkin pernah. Vladimir : Kau ingat cerita dalam perjanjian baru? Estragon : Aku ingat peta tanah suci. Penuh warna. Sangat indah. Laut mati berwarna biru pucat. Gambarnya membuatku merasa haus. Itulah tempat kemana kita akan pergi, aku dulu selalu berkata begitu, di sanalah tempat kita akan berbulan madu. Kita akan berenang. Kita akan bahagia. Vladimir : Kamu seharusnya sudah jadi penyair. Estragon : Dulu (isyarat tubuhnya mengarah pada pakaiannya yang compang-camping) bukankah sudah jelas. (hening). Vladimir : Sampai di mana aku…. Bagaimana kakimu? Estragon : Bengkak Vladimir : Dua pencuri itu. kau ingat ceritanya? Estragon : Tidak. Vladimir : Kamu ingin aku menceritakannya lagi untukmu? Estragon : Tidak. Vladimir : Akan melewatkan waktu. (pause) dua pencuri disalibkan pada saat yang bersamaan dengan sang penyelamat kita. Seorang- Estragon : Apa kita? Vladimir : Sang penyelamat kita. Dua pencuri. Yang seorang seharusnya telah terselamatkan, sedang yang lain….(dia mencari lawan kata terselamatkan)…terkutuk. Estragon : Terselamatkan dari apa? Vladimir : Neraka. Estragon : Aku pergi (dia tidak bergerak) Vladimir : Dan kemudian…. (pause)….bagaimana aku harap cerita ini tidak membuatmu bosan. Estragon : Aku tidak mendengarkan. Vladimir : Bagaimana mungkin dari keempat penulis hanya satu yang berbicara tentang pencuri yang terselamatkan. Padahal keempat penulis itu berada di sana atau disekitar sana dan hanya seorang yang berbicara tentang pencuri yang terselamatkan (pause) Ayolah, Gogo, coba tanggapi ceritaku ini sekali saja, bisa? Estragon : (Dengan antusiasme yang dilebih-lebihkan) Aku merasa hal-hal ini sangat menarik. Vladimir : Satu diantara empat. Dari ketiga penulis itu, dua di antaranya bahkan tidak menyebutkan pencuri sama sekali dan yang ketiga mengatakan bahwa kedua pencuri itu menyiksa-Nya. Estragon : Siapa? Vladimir : Apa? Estragon : Semua cerita ini tentang apa? Menyisa siapa? Vladimir : Sang penyelamat Estragon : Kenapa? Vladimir : Karena dia tidak akan menyelamatkan mereka? Estragon : Dari neraka? Vladimir : Bodoh! Dari kematian. Estragon : Aku kira kau mengatakan neraka Vladimir : Dari kematian. Dari kematian. Estragon : Lalu kenapa? Vladimir : Tetapi seorang penulis mengatakan bahwa salah satu dari pencuri itu terselamatkan. Estragon : Ya, mereka tidak sependapat. Dan cukup itu saja. Vladimir : Tetapi mereka berempat ada di sana. Dan hanya seorang saja yang bicara tentang pencuri yang terselamatkan. Mengapa lebih percaya padanya daripada yang lainnya? Estragon : Siapa yang percaya padanya? Vladimir : Semua orang. Itu satu-satunya versi yang mereka tahu. Estragon : Orang-orang hanyalah badut-badut yang tidak peduli (dia bangkit dengan terluka, berjalan timpang ke sudut kiri, terhenti, menatap kejauhan dengan tangan membayang-bayangi matanya, berputar, menuju sudut kanan, menatap kejauhan. Vladimir memperhatikannya, lalu pergi dan mengambil sepatu boot, melihat bagian dalamnya menjatuhkannya dengan tergesa-gesa) Vladimir : Pah! (dia meludah, estragon bergerak ke tengah, berhenti dengan tubuh membelakangi auditorium) Estragon : Tempat yang mengagumkan (dia berpaling, maju ke depan, berhenti, menghadap ke auditorium) membangkitkan harapan (dia berpaling pada Vladimir) mari pergi. Vladimir : Kita tidak bisa Estragon : Kenapa tidak? Vladimir : Kita sedang menunggu Godot. Estragon : (dengan putus asa) Benar! (pause). Kau yakin di sini? Vladimir : Apa? Estragon : Tempat kita menunggu? Vladimir : Dia berkata dekat pohon. (mereka melihat ke pohon). Kau lihat yang lainnya? Estragon : Apa itu? Vladimir : Aku tak tahu. Sebatang kayu. Estragon : Ke mana daun-daunnya? Vladimir : Pasti sudah mati. Estragon : Tak ada lagi ranting-rantingnya. Vladimir : Atau mungkin bukan musimnya. Estragon : Nampak seperti semak-semak Vladimir : Belukar Estragon : Semak-semak Vladimir : Sebuah- apa maksudmu? Bahwa kita telah datang ke tempat yang salah? Estragon : Seharusnya dia di sini. Vladimir : Dia tidak mengatakan dengan pasti bahwa dia akan datang Estragon : Dan jika dia tidak datang? Vladimir : Kita akan kembali besok Estragon : Juga esok harinya Vladimir : Mungkin Estragon : Dan seterusnya Vladimir : Intinya adalah- Estragon : Sampai dia datang Vladimir : Kau tak berperasaan Estragon : Kita datang ke sini kemarin Vladimir : Ah tidak, lihat kau salah? Estragon : Apa yang kita kerjakan kemarin? Vladimir : Apa yang kita kerjakan kemarin? Estragon : Ya Vladimir : Ya ampun…. (dengan marah). Tak ada yang pasti jika kau ada di dekatku. Estragon : Menurutku kita di sini kemarin Vladimir : (memandangi sekitarnya) Kau mengenali tempat ini? Estragon : Aku tidak mengatakan begitu. Vladimir : Ya, lalu apa? Estragon : Ah, tidak akan ada bedanya Vladimir : Semuanya sama…. Pohon itu…. (berputar menghadap auditorium)… rawa-rawa itu. Estragon : Kau yakin seharusnya mala mini? Vladimir : Apa? Estragon : Saat kita harus menunggu Vladimir : Dia mengatakan hari sabtu. (pause) aku kira Estragon : Kau kira Vladimir : Aku seharusnya mencatat hal ini (dia meraba-raba kantongnya, meledak dengan omong kosong yang bermacam-macam). Estragon : (dengan penuh tipu muslihat) Tetapi hari Sabtu apa? Dan apakah sekarang hari Sabtu? Kayaknya mirip Minggu? (pause) atau senin? (pause) atau Jum’at? Vladimir : (memandang dengan liar, seolah-olah kalender tergambar di dalam pandangannya) Tidak mungkin. Estragon : Atau kamis? Vladimir : Apa yang akan kita lakukan? Estragon : Jika dia datang kemarin dan kita tidak di sini kau akan yakin kalau dia tidak akan datang lagi hari ini?
Vladimir : Tapi kau bilang kita ada di sini kemarin. Estragon : Mungkin saja aku salah (pause) mari kita berhenti bicara sebentar) maukah kau? Vladimir : (dengan lemah) Baiklah. (Estragon duduk di gundukan. Vladimir berjalan ke sana-kemari dengan resah, berhenti dari waktu-ke waktu untuk kemudian menatap kejauhan. Estragon tertidur. Vladimir berhenti di depan Estragon) Gogo!... gogo! Gogo! (Estragon terbangun dengan kekagetan) Estragon : (pulih dari kengerian situasinya) Aku tertidur! (dengan putus asa) mengapa kau tidak pernah membiarkanku tertidur sebentar saja. Vladimir : Aku kesepian Estragon : Aku bermimpi Vladimir : Jangan ceritakan padaku! Estragon : Aku mimpi kalau…. Vladimir : Jangan ceritakan padaku! Estragon : (tubuhnya menghadap alam semesta) Sudah cukupkah yang satu ini untukmu? (hening) kau jahat Didi. Apa jadinya jika aku tidak bisa menceritakan mimpi burukku kepadamu? Vladimir : Biarkan tetap rahasia. Kau tahu aku tidak dapat menanggungnya. Estragon : (dengan dingin) Ada saat-saat di mana aku bertanya-tanya tidak akan lebih baikkah jika kita berpisah. Vladimir : Kau tidak akan pergi jauh. Estragon : Saat itu akan menjadi saat yang paling buruk, benar-benar sangat buruk (pause) betulkan Didi, bahwa saat itu akan menajdi sangat buruk? (pause) jika kau berpikir tentang keindahan cara itu? (pause) dan keramahan-keramahan para pengembara? (pause. membujuk) Betulkan Didi? Vladimir : Kalem saja. Estragon : (dengan bergairah) Kalem…. Kalem…. Orang Inggris mengatakan…. Calm (pause). Kau tahu cerita tentang seorang Inggris di rumah pelacuran? Vladimir : Ya. Estragon : Ceritakan padaku Vladimir : Ah, hentikan itu! Estragon : Seorang Inggris dengan sedikit lebih mabuk dari biasanya pergi ke rumah pelacuran. Mucikari bertanya padanya apakah ia ingin yang berambut pirang, hitam, atau yang berambut merah. Teruskan. Vladimir : Hentikan! (Vladimir keluar dengan tergesa-gesa. Estragon berdiri dan mengikutinya sampai batas panggung. Tubuh Estragon bereaksi layaknya seorang penonton yang member semangat pada seorang petinju. Vladimir masuk. Tubuh mereka bersentuhan sewaktu berpapasan, Vladimir melewati panggung dengan kepala tertunduk. Estragon berjalan ke arahnya). Estragon : (dengan lembut) Kau ingin bicara padaku? (hening. Estragon melangkah sedikit lagi) ada sesuatu yang ingin kau katakan? (Hening. Sedikit langkah yang lain) Didi…. Vladimir : (tanpa berpaling) Tak ada yang ingin aku katakan padamu. Estragon : (langkah maju) Kau marah? (hening. Maju) maafkan aku (hening. Maju. Estragon meletakan tanganya di bahu Vladimir) ayolah Didi (hening) ulurkan tanganmu! (Vladimir setengah berpaling) Peluk aku! (Vladimir mengeras) jangan keras kepala! (Vladimir melunak, mereka berpelukan. Estragon melompat mundur) Tubuhmu bau Bawang! Vladimir : Baik untuk ginjal! (hening. Estragon memandang pohon dengan penuh perhatian) Apa yang kita lakukan sekarang? Estragon : Menunggu Vladimir : Ya. Tapi sementara menunggu. Estragon : Bagaimana kalau kita gantung diri? Vladimir : Dengan menutup mata Estragon : (sangat terperanjat) Dengan menutup mata!
Vladimir Dengan semua yang mengikutinya. Di tempat jatuhnya tumbuhlah tanaman beracun. Itulah sebabnya mereka menjerit ketika kau mencabutnya. Tidakkah kau tahu itu?
Estragon Ayo kita gantung diri segera!
Vladimir Dari sebuah cabang? (mereka berjalan menuju pohon itu) aku tidak akan mempercayainya.
Estragon Kita dapat terus mencobanya.
Vladimir Silahkan
Estragon Setelah kau
Vladimir Tidak, tidak. Kau dulu.
Estragon Kenapa aku?
Vladimir Kau lebih ringan dari aku.
Estragon Masa!
Vladimir Aku tidak mengerti
Estragon Pakai otakmu, bisa tidak? (Vladimir berpikir)
Vladimir (akhirnya) Aku tetap bingung.
Estragon Beginilah seharusnya (dia berpikir) Cabang itu….cabang itu…. (dengan marah) gunakan pikiranmu, bisa tidak?
Vladimir Kau satu-satunya harapanku.
Estragon (dengan usaha) Gogo ringan – cabang tak patah – Gogo mati. Didi berat – cabang patah – didi sendirian. Sebaliknya….
Vladimir Aku tidak pernah berpikir tentang itu.
Estragon Jika pohon itu dapat menggantungmu, maka ia dapat menggantung yang lain.
Vladimir Tetapi apakah aku memang lebih berat dari kamu?
Estragon Kau yang bilang, aku tak tahu. Bisa saja hal itu benar, atau hampir
Vladimir Lalu, apa yang kita lakukan?
Estragon Jangan berpikir untuk melakukan sesuatu. Akan lebih aman.
Vladimir Kita tunggu dan lihat apa yang dia katakan.
Estragon Siapa?
Vladimir Godot Estragon Ide yang bagus
Vladimir Kita tunggu saja sampai kita tahu persis bagaimana caranya.
Estragon Di samping itu, mungkin lebih baik sedia paying sebelum hujan.
Vladimir Aku ingin sekali mendengar apa yang akan dia tawarkan. Kemudian kita akan terima atau tidak.
Estragon Sebenarnya, apa yang kita minta darinya?
Vladimir Kau tidak berada di sana kemarin?
Estragon Aku tidak bisa mendengarkannya.
Vladimir Oh…. Tak ada yang pasti.
Estragon Semacam doa
Vladimir tepat
Estragon Permintaan yang kabur
Vladimir Benar
Estragon Dan apa jawabannya Vladimir Dia akan mempertimbangkannya
Estragon Bahwa dia tidak dapat menjanjikan apa pun
Vladimir Bahwa dia harus memikirkannya kembali
Estragon Dalam kesunyian rumahnya
Vladimir Meminta nasehat keluarganya
Estragon Teman-temannya
Vladimir Wakil-wakilnya
Estragon Koresponden-korespondennya
Vladimir Buku-bukunya
Estragon Rekening banknya
Vladimir Sebelum mengambil keputusan.
Estragon Itu wajar
Vladimir Iya, kan
Estragon Aku kira iya
Vladimir Aku kira juga begitu (hening)
Estragon (khawatir) Dan kita?
Vladimir Maaf?
Estragon Aku bilang, dan kita?
Vladimir Aku tak mengerti
Estragon Di mana peran kita?
Vladimir Peran?
Estragon Santai sajalah
Vladimir Peran kita? Itu yang kita mohon
Estragon Seburuk itu?
Vladimir Pujianmu menuntut hak istimewanya.
Estragon Kita tidak punya hak lagi? (Tawa Vladimir, kaku seperti sebelumnya, lebih sebagai sebuah senyum)
Vladimir Kau membuatku tertawa, jika saja tidak dilarang.
Estragon Apakah kita telah kehilangan hak kita?
Vladimir (dengan jelas) Kita sudah membuangnya. (Hening. Mereka tetap diam, tangan berayun, kepala tenggelam, melendut pada lutut)
Estragon (dengan lemah) Kita tidak terikat? (pause) kita tidak-
Vladimir Dengar (mereka mendengarkan, tubuh tegang dan aneh)
Estragon Aku tidak mendengar apa pun
Vladimir Ssttt! (mereka mendengarkan. Estragon kehilangan keseimbangannya, hampir jatuh. Dia mencengkram lengan Vladimir, yang juga terhuyung-huyung. Mereka mendengarkan saling merapat) Aku juga tidak (menampakkan kelegaan. Mereka rileks dan berpisah)
Estragon Kau membuatku takut
Vladimir Aku kira itu tadi dia
Estragon Siapa?
Vladimir Godot
Estragon Pah! Angin di buluh-buluh air
Vladimir Aku berani bersumpah kalau aku mendengar teriakan-teriakan
Estragon Dan mengapa dia berteriak?
Vladimir Memanggil kudanya (hening)
Estragon (dengan keras) Aku lapar
Vladimir Kau mau wortel?
Estragon Hanya itukah yang ada?
Vladimir Aku mungkin punya beberapa buah lobak
Estragon Beri aku wortelnya (Vladimir membongkar isi kantongnya, mengeluarkan sebuah lobak dan memberikannya pada Estragon yang kemudian menggigitnya. Dengan marah) ini lobak!
Vladimir Ampuni hamba tuan putri! Hamba berani bersumpah itu tadi wortel (dia kembali mengobrak-abrik kantongnya, tetapi tidak menemukan apapun selain lobak). Semua yang ada hanya lobak (Dia merogoh). Kau pasti telah memakan yang terakhir (Dia membongkar) tunggu, ini. (dia mengeluarkan wortel dan memberikannya pada Estragon ) silahkan, sahabatku yang baik (Estragon melap wortel itu dengan lengan bajunya dan mulai memakannya) berikan padaku lobaknya (Estragon memberikan kembali lobak yang kemudian dimasukan Vladimir ke kantongnya) Itu yang terakhir, jadi nikmatlah.
Estragon (mengunyah) Aku tadi bertanya padamu
Vladimir Ah!
Estragon Sudah kau jawab?
Vladimir Bagaimana wortelnya?
Estragon Ini wortel
Vladimir Itu bagus, itu bagus. (pause) apa yang tadi ingin kau ketahui?
Estragon Aku sudah lupa (mengunyah) itulah hal yang menggangguku (Dia memperhatikan wortel itu, mengayunnya di antara jari telunjuk dan ibu jarinya) aku tidak akan pernah melupakan wortel ini. (dia menyedot bagian terakhir dengan sikap meditasi) ah ya, sekarang aku ingat.
Vladimir Ya, bagaimana?
Estragon (mulutnya penuh, dengan hampa) Kita tidak terikat?
Vladimir Aku tidak mendengar sepatah kata pun yang kau ucapkan
Estragon (mengunyah, menelan) Aku bertanya padamu apakah kita terikat?
Vladimir Terikat?
Estragon Ter-i-kat
Vladimir Terikat bagaimana maksudmu?
Estragon Erat
Vladimir Tetapi kepada siapa? Oleh siapa?
Estragon Pada majikanmu
Vladimir Pada Godot? Terikat pada Godot? Sebuah ide yang bagus! Tak diragukan lagi. (pause) untuk sementara waktu.
Estragon Namanya Godot?
Vladimir Aku kira begitu
Estragon Nama yang bagus. (Dia mengangkat sisa wortel dengan selembar daun, memutarnya di depan matanya) lucu, semakin banyak kau makan semakin buruk kelihatannya.
Vladimir Bagiku, sebaliknya.
Estragon Dengan kata lain?
Vladimir Aku menjadi terbiasa dengan lumpur ke mana pun aku pergi.
Estragon (setelah berpikir panjang) Itukah sebaliknya?
Vladimir Ini masalah watak
Estragon Soal karakter
Vladimir Tak ada yang bisa kau lakukan
Estragon Tak ada gunanya melawan.
Vladimir Seseorang adalah orang tua itu apa adanya.
Estragon Tidak ada gunanya berbelit-belit.
Vladimir Intinya tidak berubah
Estragon Sia-sia (dia menawarkan sisa wortel kepada Vladimir) kau mau menghabiskannya? (Lengking tangisan, sangat dekat. Estragon menjatuhkan wortelnya. Mereka tetap diam, lalu secara tiba-tiba bersama-sama lari menuju sayap panggung. Estragon berhenti di tengah jalan, lari kembali mengambil wortel, menjejalkannya dalam sakunya, lari menuju Vladimir yang menunggunya, berhenti lagi. Lari kembali, mengambil sepatu bootnya, lalu lari dan bergabung dengan Vladimir. Saling merapat, bahu membungkuk, mengecilkan badan menghindari bahaya, mereka menunggu masuk Pozzo dan Lucky; Pozzo mengendalikan Lucky dengan seutas tali yang dikalungkan di lehernya sehingga Lucky yang pertama-tama muncul diikuti tali yang cukup panjang sehingga mencapai tengah panggung sebelum Pozzo muncul. Lucky membawa sebuah tas berat, kursi lipat, keranjang piknik, dan sebuah mantel besar. Pozzo mencambuk)
Pozzo (Keluar) Jalan! (suara lecutan. Pozzo muncul, mereka melewati panggung, lucky lewat di depan Vladimir dan Estragon dan keluar. Pozzo berhenti sejenak di depan Estragon dan Vladimir. Talinya mengencang. Pozzo menyentakkannya dengan keras) mundur! (suara ribut Lucky yang jatuh bersama seluruh barangnya. Vladimir dan Estragonnberpaling padanya, setengah berharap setengah takut ingin membantunya. Vladimir melangkah menuju Lucky, Estragon menahannya dengan menarik lengan bajunya)
Vladimir Lepaskan aku!
Estragon Diam di tempatmu!
Pozzo Hati-hati! dia jahat! (Vladimir dan Estragon berpaling kearah Pozzo) terhadap orang-orang asing.
Estragon (dengan suara pelan) Itukah dia?
Vladimir Siapa?
Estragon (mencoba mengingat nama) Ehhh….
Vladimir Godot?
Estragon Ya.
Pozzo Kupersembahkan diriku; Pozzo
Vladimir (pada Estragon) Bukan sama sekali!
Estragon Dia bilang Godot
Vladimir Bukan sama sekali!
Estragon (dengan takut-takut pada Pozzo) Kau bukan godot?
Pozzo (dengan suara menakutkan) Aku Pozzo! (hening) Pozzo!(hening) tidak berartikah nama itu buat kalian? (hening) aku bilang tidak berartikah nama itu buat kalian? (Vladimir dan Estragon bertatapan penuh pertanyaan)
Estragon (Berpura-pura mencari) Bozzo…. Bozo…
Vladimir (sama) Pozzo…. Pozzo….
Pozzo Pppozzoo!
Estragon Ah! Pozzo…. Coba lihat…. Pozzo
Vladimir Pozzo atau Bozzo?
Estragon Pozzo…. Tidak… aku takut aku…. Tidak… nampaknya aku tidak…. (Pozzo maju dengan mangancam) Vladimir (mencoba menenangkan) Aku pernah kenal sebuah keluarga yang bernama Gozzo. Ibunya juga mempunyai cambuk yang keras dan nyaring
Estragon (dengan tergesa-gesa) Kami bukan dari sini nyonya
Pozzo (berhenti) Kalian adalah manusia biasa, tak lebih (dia memakai kacamatanya) Sejauh yang bisa kulihat (dia melepas kacamatanya) dengan spesies yang sama sepertiku (tiba-tiba tawanya meledak) dengan spesies yang sama dengan Pozzo. Buatan citra Tuhan!
Vladimir Kau lihat sendiri, kan-
Pozzo (dengan nada memerintah) Siapa itu Godot?
Estragon Godot?
Pozzo Kau kira aku Godot
Estragon Oh tidak nyonya, tidak sedikit pun
Pozzo Siapa dia?
Vladimir Oh, dia itu…. dia semacam kenalan
Estragon Oh, bukan apa-apa nyonya, kami hampir tidak mengenalnya
Vladimir Betul, kami tidak mengenalnya dengan baik…. Tetapi semua sama saja….
Estragon Secara pribadi, saya bahkan tidak akan mengenalnya jika saya melihatnya
Pozzo Kau kira aku dia
Estragon (melompat mundur di hadapan Pozzo) Itu karena…. Gelap….letih….tegang….menunggu….aku….mengaku….aku percaya….untuk sesaat….
Pozzo Menunggu? Jadi kau menunggunya?
Vladimir Oh….begini….
Pozzo Di sini? Di tanahku?
Vladimir Kami tidak bermaksud jahat, nyonya.
Estragon Maksud kami baik
Pozzo Setiap orang bisa lewat dengan bebas
Estragon Begitulah kami melihatnya
Pozzo Ini sebuah penghinaan. Tapi di sinilah kalian
Estragon Bagaimana lagi
Pozzo (dengan isyarat tubuh baik hati) Tidak usah kita bicarakan lagi hal ini (dia menyentakan tali) bangun, babi! (pause) setiap kali dia jatuh dia tertidur (menyentakkan tali) bangun, celeng! (suara ribut Lucky bangkit dan mengambil barang-barangnya. Pozzo menyentakkan talinya) mundur! (masuk lucky yang berjalan mundur) Stop! (Lucky berhenti) Berputar! (Lucky berputar. Pada Vladimir dan Estragon dengan ramah) Saudara, saudara saya bahagia bisa bertemu dengan Anda. (sebelum ekspresi meragukan mereka) ya, ya tulus saya bahagia (dia menyentakkan talinya) Mendekat (Lucky maju) Stop! (Lucky stop) Ya, jalan Nampak jauh jika seseorang melakukan perjalanan sendirian selama…. (dia melihat jamnya)…. Ya….(dia menghitung)….ya 6 jam, betul, 6 jam penuh, dan tidak ada satu jiwa pun yang terlihat. (pada Lucky) mantel! (Lucky meletakan tas, maju, menyerahkan mantel, kembali ke tempatnya, mengangkat tas) pegang ini! (Pozzo memegang cambuk. Lucky maju, kedua tangannya penuh dengan barang, mengambil cambuk dengan mulutnya, lalu kembali ke tempatnya. Pozzo mulai memakai mantelnya. Berhenti) Mantel! Lucky meletakkan tas, keranjang dan kursi, maju, membantu pozzo memakai mantelnya, kembali ke tempatnya dan mengangkat barangnya) Sejuknya udara malam ini (Pozzo selesai mengencangkan kancing mantelnya, emmbungkuk, memeriksa dirinya, meluruskan badan) Cambuk! (Lucky maju, membungkuk, Pozzo merenggut cambuk itu dari mulutnya, lucky kembali ke tempatnya) ya, saudara-saudara, saya tidak bisa berlama-lama dengan orang-orang yang bukan dari kalanganku (dia memakai kacamatanya dan menatap keduanya) Bahkan yang sederajat pun bukan orang yang sempurna (dia melepas kacamatanya) Kursi! (Lucky meletakkan tas dan keranjang, maju, membuka kursi, menggerakannya, kembali ke tempatnya, mengambil tas dan keranjang. Pozzo duduk , menempatkan pegangan cambuknya di dada Lucky dan menekannya) Mundur! (Lucky mundur selangkah) Lebih jauh! (Lucky mengambil langkah mundur lagi) Stop! (Lucky berhenti. Pada Vladimir dan Estragon) itulah sebabnya, tentu saja dengan seijin Anda, saya ingin dulu bercakap-cakap dengan Anda sebentar sebelum saya melanjutkan perjalanan lebih jauh. Keranjang! (Lucky maju, memberikan keranjang. Kembali ke tempatnya) udara segar merangsang selera makan yang hilang (dia membuka keranjang, mengeluarkan sepotong daging ayam dan sebotol anggur) Keranjang! (Lucky maju, mengambil kembali keranjangnya, kembali ke tempatnya) lebih jauh!( Lucky mengambil satu langkah lagi) Dia bau. Hari-hari bahagia! (dia minum dari botol, meletakkannya dan mulai makan. Hening. Vladimir dan Estragon pada awalnya dengan takut-takut tetapi kemudian dengan lebih berani mulai mengelilingi lucky dan memeriksanya dari atas sampai bawah. Pozzo makan ayam dengan rakusnya, melemparkan tulangnya setelah menghisapnya. Lucky berlutut dengan pelan, sampai tas dan keranjangnya menyentuh tanah, lalu meluruskan badan dengan tiba-tiba dan mulai melendut lagi. Irama tidur seseorang yang berdiri di atas kakinya)
Estragon Sakit apa dia?
Vladimir Dia kelihatan lelah
Estragon Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?
Vladimir Mana aku tahu? (mereka mendekatinya) hati-hati!
Estragon Katakan sesuatu padanya!
Vladimir Lihat
Estragon Apa?
Vladimir (menunjuk) Lehernya!
Estragon (memandang lehernya) Aku tak melihat apa-apa
Vladimir Sini (estragon menghampiri Vladimir dan berdiri di sampingnya)
Estragon Oh, itu
Vladimir Luka yang masih basah
Estragon Talinya
Vladimir Gesekannya
Estragon Tak terhindarkan
Vladimir Simpulnya
Estragon Nasibnya (Mereka terus memeriksanya, berbicara panjang lebar)
Vladimir (dengan segan) Wajahnya tidak terlalu buruk
Estragon (mengangkat bahunya, wajahnya menyeringai) Begitukah menurutmu?
Vladimir Nampak feminin
Estragon Lihat liurnya
Vladimir Tak terhindarkan
Estragon Lihat busanya
Vladimir Mungkin dia setengah gila
Estragon Idiot
Vladimir (melihat lebih dekat) Nampak seperti gondok
Estragon (sama) Belum tentu
Vladimir Dia terengah-engah
Estragon Tak terhindarkan Vladimir Dan matanya?
Estragon Kenapa dengan matanya?
Vladimir Melotot keluar
Estragon Nampaknya dia sekarat
Vladimir Belum tentu (pause) Coba kau tanyai dia
Estragon Aka nada gunanyakah?
Vladimir Apa resikonya buat kita?
Estragon (dengan takut-takut) Nyonya….
Vladimir Lebih keras
Estragon(dengan takut-takut) Nyonya….
Pozzo Biarkan dia tenang! (mereka berpaling ke Pozzo yang baru saja menyelesaikan makannya, melap mulutnya dengan punggung tangannya) tidakkah kalian lihat kalau dia mau istirahat!? Keranjang! (dia menyalakan korek api dan mulai merokok. Estragon melihat tulang-tulang ayam di tanah dan menatapnya dengan rakus. Karena Lucky tidak bergerak Pozzo membuang korek api itu dengan marah dan menyentakkan talinya) Keranjang! (Lucky terkejut, hampir jatuh, kembali pada kesadarannya, maju, mengambil botol di keranjang, kembali ke tempatnya. Estragon memandang tulang belulang itu. pozzo menyalakan korek api yang lain dan mulai merokok) apa yang kau harapkan (dia menarik pipanya, meregangkan kakinya) ah! Ini lebih baik.
Estragon (dengan takut-takut) Maaf…nyonya.
Pozzo Ada apa sahabatku?
Estragon Eh…. Anda sudah selesai…. Eh…. Anda tidak membutuhkan…. Eh…tulang-tulang?
Vladimir (terkejut) Kau sudah tidak sabar ya?
Pozzo Tidak apa-apa. Dia memintanya dengan baik. Apakah aku membutuhkan tulang-tulang itu? (dia membolak-balikan tulang-tulang itu dengan cambuknya) Secara pribadi aku tidak membutuhkannya lagi (Estragon maju selangkah kea rah tulang-tulang itu) Tapi… (estragon berhenti mendadak)…. Tapi teorinya tulang-tulang itu milik yang membawanya. Mintalah ijin padanya. (estragon berpaling ke Lucky, bimbang) teruskan, maju saja, jangan takut, tanyalah padanya, dia akan menjawabnya (Estragon menghampiri Lucky, berhenti di depannya)
Estragon Nyonya…. Permisi nyonya (Lucky tidak bereaksi, pozzo melecutkan cambuknya. Lucky mendongakkan kepalanya)
Pozzo Kau sedang diajak bicara, babi! Jawab! (pada estragon) cobalah lagi.
Estragon Maaf Nyonya, tulang-tulang, anda tidak membutuhkannya lagikah? (Lucky menatap lama pada estragon)
Pozzo (dengan keriangan) Nyonya! (Lucky menundukan kepalanya) Jawab! Kau menginginkan atau tidak? (Lucky diam. Pada Estragon) tulang-tulang itu milikmu. (estragon cepat-cepat mengambilnya dan mulai menggigit-gigitnya) aku tidak suka ini. Aku tidak pernah melihat dia menolak sepotong tulang sebelumnya (Dia memandang Lucky dengan khawatir) Akan lebih mudah jika dia merasa jijik padaku! (dia menghisap dan menghembuskan asap cerutunya)
Vladimir (meledak) Ini memalukan! (hening. Terkejut. Estragon berhenti menggigiti tulangnya, menatap Pozzo dan Vladimir bergantian. Pozzo merasa tenang. Vladimir merasa malu)
Pozzo (pada Vladimir) Apakah kau bermaksud mengatakan sesuatu yang khusus?
Vladimir (tegas berbicara dengan tak henti) Memperlakukan seseorang…(tubuhnya menghadap Lucky)…dengan cara seperti itu…aku pikir….tidak…. seorang manusia….tidak…ini memalukan.
Estragon (tidak mau kalah) Sebuah penghinaan! (dia melanjutkan mengigiti tulangnya)
Pozzo Kau kasar (pada Vladimir) berapa usia Anda, jika ini bukan pertanyaan kasar. (hening) enam puluh? Tujuh puluh? (pada Estragon) menurut Anda, berapa usianya?
Estragon Sebelas! Pozzo Aku lancing (dia mengetuk-ngetukan pipanya pada cambuk, bangkit) aku harus melanjutkan perjalananku. Terima kasih atas keramahanmu. (dia berpikir) kecuali jika aku merokok lagi sebelum pergi. Bagaimana menurutmu? (mereka diam saja) Oh… aku hanya seorang perokok ringan, sangat ringan. Bukan kebiasaanku merokok dua kali sekaligus, itu akan membuat (tangannya pada jantung, menarik napas panjang) jantungku dag-dig-dug. (hening) nikotinnya, mereka bilang tidak baik untuk kesehatan (menarik napas) Anda tahu itu! (hening) tapi mungkin Anda tidak merokok? Ya? Tidak? Bukan hal penting (hening) tapi bagaimana aku bisa duduk di sini sekarang, dengan wajar, padahal sekarang aku telah bangkit? Tanpa Nampak – bagaimana aku harus mengatakannya – tanpa Nampak terhuyung-huyung (pada Vladimir) Maaf!? (hening) Anda bicara sesuatu? (hening) tidak penting. Coba lihat…. (dia memasukan tulangnya ke dalam saku)
Vladimir Ayo pergi
Estragon Sekarang?
Pozzo Sebentar (dia menyentakkan tali kekangnya) Kursi! (dia menuding dengan cambuknya. Lucky memindahkan kursinya) Lagi! Di sana! (dia duduk, Lucky kembali ke tempatnya) selesaikan! (dia menghisap pipanya)
Vladimir (dengan berapi-api) Ayo pergi!
Pozzo Aku harap aku tidak sedang mengusirmu. Tunggulah beberapa saat lagi. Kalian tidak akan menyesalinya.
Estragon (mencium kemurahan hati) Kami tidak tergesa-gesa
Pozzo (menyalakan pipanya) yang kedua tidak terlalu manis (dia mengeluarkan pipa dari mulutnya. Berpikir)…. Maksudku, seperti pertama kali (dia menghisap dan menghembuskan asap cerutunya kembali di mulutnya) tapi rasa manisnya sama.
Vladimir Aku pergi
Pozzo Dia sudah tidak tahan lagi dengan kehadiranku. Aku mungkin tidak manusiawi, tapi persetan. (pada Vladimir) berpikirlah dua kali sebelum kalian melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Andai Anda pergi sekarang padahal sekarang masih terang. Tak bisa disangkal ini masih terang. (mereka semua menatap langit) apa yang terjadi dalam situasi itu (dia mengeluarkan pipa dari mulutnya, mencobanya) aku hembuskan (dia menyalakan kembali pipanya) dalam situasi ini (menghembuskan asap)- dalam situasi ini (menghisap dan menghembuskan asap) apa yang terjadi dalam situasi itu tentang janji kalian dengan….Godot…. godot…. Godot…. Siapapun, kau tahu yang aku maksudkan, seseorang yang memegang masa depan kalian di tangannya….(pause)…. Paling tidak masa depanmu dalam waktu dekat ini.
Vladimir Siapa yang mengatakannya padamu?
Pozzo Dia bicara lagi padaku! Jika saja ini berlangsung lebih lama lagi tak lama lagi kita akan menjadi teman baik.
Estragon Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?
Pozzo Saya juga akan senang bertemu dengannya. Semakin banyak insan yang saya jumpai, semakin saya bahagia. Dari ciptaan yang paling hina seseorang beranjak semakin bijaksana, semakin kaya, semakin sadar akan berkat orang lain. Bahkan Anda…. (dia menatap keduanya bergantian dengan soknya untuk membuat jelas bahwa mereka berdua berarti)…. Bahkan Anda, siapa tahu akan menambah pengetahuanku.
Estragon Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?
Pozzo Tapi itu tidak mengejutkanku
Vladimir Kamu sedang ditanyai
Pozzo Pertanyaan? Apa? Siapa? (hening) sesaat yang lalu kau memanggilku dengan gemetar dan ketakutan. Sekarang Anda berani bertanya padaku. Akhir yang buruk.
Vladimir Aku pikir ia mendengarkan
Estragon (mulai mengelilingi Lucky) Apa?
Vladimir Kau bisa bertanya sekarang padanya. Dia sudah siap.
Estragon Bertanya apa?
Vladimir Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?
Estragon Aku membayangkan…. Vladimir Tanya lagi, bisa?
Pozzo (yang selama ini mengikuti pembicaraan dengan penuh perhatian) kamu ingin tahu kenapa ia tidak meletakkan tasnya sebagaimana kau menyebutnya?
Vladimir Benar
Pozzo (pada Estragon) Kau yakin kau sependapat?
Estragon (sambil mengelilingi Lucky) Ia mendengus seperti sang laut
Pozzo Jawabannya begini (pada Estragon) tapi tenanglah, aku mohon, kau membuatku gugup!
Vladimir Sini
Estragon Ada apa?
Vladimir Dia hampir bicara (Estragon pergi ke samping Vladimir. Diam, berdampingan, mereka menunggu)
Pozzo Bagus. Apakah semua sudah siap? Apakah semua orang menatapku? (dia memandang Lucky, menyentakkan tali, Lucky mengangkat kepalanya) maukah kau menatapku, Babi! (Lucky menatapnya) Bagus! (dia memasukan pipanya ke sakunya, mengeluarkan sedikit penyegar dan menyemprotkannya ke tenggorokannya. Mengembalikan penyegar itu ke dalam sakunya) aku siap. Apakah kalian mendengarkan? Apaka setiap orang siap? (dia menatap semuanya secara bergantian, menyentakkan tali) Celeng! (Lucky mendongakkan kepala) aku tak suka berbicara dalam kekosongan. Bagus. Coba kupikir (dia berpikir).
Estragon Aku pergi
Pozzo Apa yang sebenarnya kalian ingin ketahui?
Vladimir Kenapa dia?
Pozzo (dengan marah) Jangan memotong pembicaraanku! (pause, lebih tenang) jika kita bicara bersamaan, kita tidak akan sampai ke mana-mana. (pause) apa yang aku katakan tadi? (pause. Lebih keras) apa yang aku katakan tadi? (wajah Vladimir seperti menampakan orang yang membawa beban berat. Pozzo menatapnya, penuh teka-teki)
Estragon (dengan paksa) Tas. (dia menuding Lucky) kenapa? Selalu dibawa? (dia melendut terengah-engah) tidak pernah diturunkan (dia membuka kedua tangannya, meregang ke atas dengan lega) kenapa?
Pozzo Ah! Kenapa tidak kau katakan begitu tadi? Kenapa dia menyusahkan diri sendiri? Coba kita pecahkan masalah ini. Apakah dia tidak punya hak untuk melakukan itu? tentu saja dia punya. Hal itu ada padanya, tapi dia tidak menginginkannya? (pause) alasannya ini.
Vladimir (pada Estragon) Perhatikan
Pozzo Dia ingin membuatku terkesan, sehingga aku akan tetap merawatnya.
Estragon Apa?
Pozzo Mungkin aku kurang tepat mengatakannya. Dia ingin membujukku sehingga aku tidak akan lagi berpikir untuk melepaskannya. Tidak, itu juga tidak terlalu tepat.
Vladimir Kau ingin mengenyahkannya?
Pozzo Dia ingin memperolokku, tapi dia tidak mau
Vladimir Kau ingin mengenyahkannya?
Pozzo Dia membayangkan jika aku melihat betapa hebatnya dia membawa barang-barang itu, aku akan tergoda untuk merawatnya dalam kemampuan itu.
Estragon Dan menurutmu, sudah cukupkah itu?
Pozzo Pada kenyataannya dia membawa barang-barang seperti seekor babi. Itu bukan pekerjaannya.
Vladimir Kau ingin mengenyahkannya?
Pozzo Dia membayangkan jika aku melihatnya bekerja tak kenal lelah aku akan menyesali keputusanku. Sebuah rencana yang menyedihkan. Seolah-olah aku ini seperti para budak! (mereka bertiga menghadap Lucky) atlas! Putra Jupiter! (hening) ya, itu yang aku kira. Ada yang lain? (penyemprot)
Vladimir Kau ingin mengenyahkannya?
Pozzo Coba saja seandainya ia ada di tempatku dan aku di tempatnya. Untung saja itu tidak terjadi. Setiap orang punya haknya masing-masing.
Vladimir Berani bertaruh?
Pozzo Maaf?
Vladimir Kau ingin mengenyahkannya?
Pozzo Memang. Tapi ketimbang aku mengusirnya seperti yang mungkin pernah aku lakukan, maksudku ketimbang aku menendang bokongnya begitu saja. Maka dengan kebaikan hatiku aku justru membawanya ke pasar, dengan harapan aku akan dapat menjualnya dengan harga yang bagus. Sebenarnya kau tidak dapat membuang mahluk semacam ini. Yang terbaik adalah dengan membunuhnya. (Lucky menangis)
Estragon Dia menangis
Pozzo Anjing tua saja lebih punya harga diri (dia menawarkan saputangannya pada Estragon) jika kau kasihan padanya, tenangkan dia (estragon bimbang) ayolah! (Estragon mengambil saputangan itu) hapuslah air matanya, dia akan merasa sedikit lega (Estragon bimbang)
Vladimir Sini, berikan padaku, aku akan melakukannya (estragon menolak menyerahkan saputangan itu. dengan gesture ke kanak-kanakan)
Pozzo Bergegaslah, sebelum dia berhenti (Estragon mendekati Lucky dan akan menghapus airmatanya. Lucky menendang keras di bagian tulang keringnya. Estragon menjatuhkan saputangannya, melompat mundur, sempoyongan (menegrang kesakitan) saputangan! (Lucky meletakkan tas dan keranjangnya, memungut saputangan dan menyerahkannya pada Pozzo, kembali ke tempatnya, mengambil tas dan keranjangnya)
Estragon Ah celeng! (dia menarik celana panjangnya ke atas) dia melumpuhkanku!
Pozzo Sudah kubilang dia tidak menyukai orang asing.
Vladimir (pada Estragon) Coba lihat (Estragon menunjukan kakinya. Pada Pozzo dengan marah) dia berdarah!
Pozzo Pertanda bagus
Estragon (pada kaki satunya) Aku tidak akan pernah berjalan lagi!
Vladimir (dengan lembut) Aku akan menggendongmu (pause) jika perlu
Pozzo Dia sudah berhenti menangis (pada Estragon) kau sudah menggantikannya sebagaimana mestinya (dengan berlirik) air mata dunia tetap jumlahnya. Setiap ada orang yang mulai menangis, di tempat lain orang berhenti menangis. Demikian juga dengan tawa. (dia tertawa) kalau begitu janganlah kita membicarakan penderitaan generasi kita, tidak lebih buruk dari pendahulunya. (pause) marilah juga kita tidak memujinya juga (pause, dengan bijaksana) memang benar, bahwa jumlah penduduk telah meningkat.
Vladimir Coba berjalanlah (Estragon berjalan dengan langkah pincang di hadapan Lucky dan meludahinya, lalu pergi dan duduk di atas gundukan)
Pozzo Tebak, siapa yang mengajariku semua hal indah ini? (pause, menunjuk Lucky) lucky ku!
Vladimir (memandang langit) Apakah malam tak akan datang?
Pozzo Tapi baginya, semua pikiran dan perasaanku hanya akan menjadi hal yang biasa. Kekhawatiran professional! Kecantikan keanggunan, kebenaran air pertama, aku tahu semua tidak aku punya. Aku mendapatkan darinya!
Vladimir (terkejut dari pemeriksaan) Darinya?
Pozzo Hal itu sudah hampir 60 tahun yang lalu… (dia melirik arlojinya) ya, hampir 60 tahun (menggambarkan dirinya dengan bangga) kau tidak akan mengira hal itu tampak padaku, bukan? Dibandingkan dengannya, aku Nampak seperti gadis bukan? (pause) Topi! (Lucky meletakkan tas dan keranjangnya, dan melepas topinya, rambutnya yang putih dan panjang tergerai menutupi wajahnya, dia meletakkan topinya di ketiak dan mengambil keranjang) sekarang lihat. (Pozzo melepas topinya. Kepalanya botak polos (dia memakai lagi topinya) Kau lihat tadi?
Vladimir Dan kau sekarang mengabaikannya? Seperti seorang tua dan pelayan yang tak setia.
Estragon Babi! (Pozzo semakin gelisah)
Vladimir Setelah menghisap habis segala kebaikan yang ada padanya, kau ingin mebuangnya seperti sebuah…. Seperti sebuah kulit pisang. Sungguh….
Pozzo (merintih, mencengkram kepalanya) aku tak bisa menanggungnya… lebih lama lagi…. Cara dia melakukannya…. Kau tidak akan pernah tahu…. Mengerikan…. Dia harus pergi…. (dia mengayunkan tangannya)…. Aku bisa gila…. (dia jatuh, kepalanya ada di antara kedua tangannya) …. Aku tidak dapat menanggungnya…. Lebih lama lagi….(hening, mereka semua menatap Pozzo)
Vladimir Dia tak dapat menanggungnya
Estragon Lebih lama lagi
Vladimir Dia bisa gila
Estragon Ini mengerikan
Vladimir (pada Lucky) Beraninya kau! Menjijikan! Seorang majikan yang baik! Menyalibkannya seperti itu! setelah bertahun-tahun lamanya! Keterlaluan!
Pozzo (tersendat-sendat) Dia dulu sangat baik…. Sangat membantu…. Dan menghibur…. Malaikatku yang baik…. Dan sekarang…. Dia sedang membunuhku.
Estragon Apakah dia ingin menggantikannya?
Vladimir Apa?
Estragon Apakah dia menginginkan seseorang menggantikan tempatnya?
Vladimir Menurutku tidak begitu
Estragon Apa?
Vladimir Aku tidak tahu
Estragon Tanyalah padanya
Pozzo (lebih tenang) Sahabat-sahabatku, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Maafkan aku. Lupakan semua yang kukatakan tadi (lebih pada dirinya sendiri) aku tidak ingat dengan pasti apa saja yang aku katakan tadi, tapi kalian boleh yakin kalau tidak ada kebenaran di dalamnya (menggambarkan kebanggan pada dirinya sendiri. Membusungkan dada) apakah aku seperti seseorang yang tercipta untuk menderita? Dengan jujur? (Dia mengobrak-abrik sakunya) apa yang telah aku lakukan dengan pipaku?
Vladimir Malam yang menakjubkan yang kita miliki
Estragon Tak terlupakan
Vladimir Dan ini belum berakhir
Estragon Jelas-jelas tidak
Vladimir Ini baru permulaan
Estragon Ini menggelikan
Vladimir Lebih buruk dari pantomime
Estragon Sirkus
Vladimir Ruang musik
Estragon Sirkus
Pozzo Apa yang telah aku lakukan dengan pipa itu?
Estragon Dia menganggumkan. Dia telah kehilangan kecantikannya (tertawa terbahak-bahak)
Vladimir Aku akan kembali (dia berjalan tergesa-gesa menuju sayap panggung)
Estragon Ujung koridor, sebelah kiri
Vladimir Jaga tempatku (Vladimir keluar)
Pozzo Aku kehilangan pipaku
Estragon (tertawa dengan suka ria) Mampus kau!!
Pozzo (melihat ke atas) Lihat, kau bahkan tidak punya kesempatan (dia kehilangan Vladimir) oh! Dia pergi! Tanpa mengucapkan selamat tinggal! Teganya dia! Dia seharusnya menunggu!
Estragon Dia sudah kebelet
Pozzo Oh. (pause) baik kalau begitu….
Estragon Kemari
Pozzo Untuk apa?
Estragon Kau akan tahu
Pozzo Kau ingin aku berdiri?
Estragon Cepat! (Pozzo berdiri dan pergi ke samping estragon. Estragon menuding) lihat!
Pozzo (memakai kacamatanya) Oh!
Estragon Berakhir sudah (Vladimir masuk, muram. Dia mneyenggol lucky, menendang bangku, mondar-mandir dengan cemas)
Pozzo Dia tidak bahagia
Estragon (pada Vladimir) Nasibnya jelek, kasihan. (Vladimir berhenti, meregangkan kursi, mondar-mandir, lebih tenang)
Pozzo Dia sudah mereda (melihat ke sekitarnya) sungguh semuanya telah mereda. Ketenangan turun di bumi (mengangkat tangannya) dengarkan! Semuanya tertidur!
Vladimir Apakah malam tidak akan datang? (mereka bertiga menatap langit)
Pozzo Kau tidak akan pergi sebelum datang malam, bukan?
Estragon Ya
Pozzo Hal ini sangat wajar, sangat wajar. Aku sendiri akan ebrada dalam situasimu jika aku punya janji dengan dengan Godin…Godet…Godot…. Siapapun. Kau tahu maksudku, aku akan menunggu sampai larut malam sebelum aku menyerah (dia memandang kursi) saya ingin sekali duduk, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya.
Estragon Dapatka saya membantu Anda?
Pozzo Jika Anda memintanya, mungkin saja
Estragon Apa?
Pozzo Jika Anda minta saya untuk duduk
Estragon Apakah itu akan membantu?
Pozzo Aku kira begitu.
Estragon Baiklah. Silahkan duduk tuan putrid, hamba mohon padamu.
Pozzo Tidak, tidak. Bukan itu! (pause, dengan berbisik) minta lagi.
Estragon Ayo duduk, aku memaksamu, kau bisa masuk angin.
Pozzo Kau pikir begitu?
Estragon Ya, tentu saja hal itu benar
Pozzo Ya, kau benar (dia duduk) Lakukan lagi (pause) terima kasih temanku (dia menatap jamnya) tapi menurut jadwalku, nampaknya aku harus melanjutkan perjalananku, aku tak ingin terlambat.
Valdimir Waktu telah berhenti.
Pozzo (mendekatkan arloji ke telinganya) Jangan percaya itu nyonya, jangan percaya (dia memasukan arlojinya ke dalam saku) apa pun boleh, tapi jangan itu.
Estragon (pada Pozzo) Untuknya, hari ini segalanya menjadi hitam.
Pozzo Kecuali cakrawala! (Dia tertawa, senang dengan kecerdikannya) tapi aku lihat kalian tidak berasal dari tempat ini, kalian tidak tahu apa yang senja kami ciptakan. Anda mau aku ceritakan? (hening, Estragon memain-mainkan bootnya lagi, Vladimir dengan topinya) aku tidak dapat menolak kalian (penyemprot) sedikit perhatian, jika kalian suka. (Vladimir dan Estragon melanjutkan permainannya, Lucky setengah tertidur. Pozzo melecutkan cambuknya dengan lemah) Ada apa dengan cambuk ini? (dia berdiri dan melecutkannya dengan lebih keras. Akhirnya berhasil. Lucky melompat. Topi Vladimir, boot Estragon jatuh ke tanah. Pozzo menjatuhkan tombak) cambuk ini membuatku lelah (dia menatap Lucky dan Vladimir) apa yang aku katakan tadi?
Vladimir Ayo pergi
Estragon Tapi aku mohon, kamu jangan berdiri seperti itu. kamu bisa mati.
Pozzo Benar. (dia duduk. Pada Estragon) siapa namamu?
Estragon Hawa
Pozzo (yang tidak mendengarkan) Ah ya! Malam (dia mendongakan kepalanya) tapi cobalah sedikit lebih perhatian, demi rasa kasihan, kalau tidak kita tidak akan bisa sampai kemanapun (dia menatap langit) Lihat (semua menatap langir kecuali Lucky yang tertidur lagi. Pozzo melecutkan cambuknya) maukah kau menatap langit, Babi! (Lucky menatap langit) bagus, cukup (mereka menunduk lagi) apa yang begitu luar biasa tentang langit? Hanya langit. Ia pucat dan kemilau seperti langit pada jam-jam seperti ini. (pause) di garis khatulistiwa ini (pause) jika cuaca cerah (berlirik) sejam yang lalu (dia melihat arlojinya, berprosa, berlirik) gulita (berlirik) setelah hujan lebat sejak pukul (dia bimbang, berprosa) pukul 10 pagi (berlirik) terus menerus menuangkan cahaya merah dan putih, langit mulai kehilangan cahayanya, dan menjadi pucat (isyarat dua tangannya meluncur dekat panggung) pucat, semakin pucat, semakin pucat lagi, sampai (pause, dramatic, dua tanganya membuka dengan lebarnya) ppss! Selesai! Rampung. Tapi (tangannya naik ke atas, tanda peringatan) tapi di balik selubung kelembutan dan kedamaian ini malam tengah bersiap dan (dengan bergetar) akan meledak pada kita (menjentikkan jarinya) dor! Seperti itu! (inspirasinya hilang) tepat seperti yang kita harapkan (hening. Dengan sedih) begitulah yang terjadi di bumi lonte ini.
Estragon Sepanjang yang kita tahu
Vladimir Kita dapat menunggu
Estragon Kita tahu apa yang kita harapkan
Vladimir Tak perlu khawatir lagi
Estragon Hanya menunggu
Vladimir Kita sudah terbiasa (dia mengambil topinya, melihat ke dalam, mengguncang dan memakainya)
Pozzo Aku tadi bagaimana? (Vladimir danEstragon menatapnya dengan kosong) baik? Jujur? ? miskin? Cukupan? Benar-benar buruk?
Vladimir (yang pertama sadar) Oh, sangat baik, sangat baik.
Pozzo Dan kau manis?
Estragon Oh, bagus sekali, amat sangat sangat bagus.
Pozzo (dengan bersemangat) terberkatilah kalian sahabat-sahabatku! (pause) aku butuh dorongan seperti itu! (pause) aku melemah menuju akhir, kalian tidak perhatikan?
Vladimir Oh, hanya sekuku hitam
Estragon Aku kira itu tadi disengaja
Pozzo Kau lihat ingatanku mulai lemah (hening)
Estragon Sementara itu tak ada sesuatu pun yang terjadi
Pozzo Menurutmu, hal ini menjemukan?
Estragon Ya, semacam itulah
Pozzo (pada Vladimir) Dan kau manis?
Vladimir Aku sedikit lebih terhibur (hening, Pozzo bertempur dalam hatinya)
Pozzo Sahabat-sahabatku, kalian telah berlaku sopan padaku
Estragon Tidak sama sekali
Vladimir Pikiran yang bagus
Pozzo Ya, ya, kalian benar sehingga aku bertanya pada diriku sendiri apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan sahabat-sahabatku yang menghabiskan waktu yang menjemukan.
Estragon Seribu rupiah pun, kami mau
Vladimir Kita bukan pengemis
Pozzo Adakah yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan hati mereka? Itu yang aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku sudah member tulang pada mereka, aku telah bercakap-cakap dengan mereka tentang ini dan itu, aku sudah menjelaskan tentang senja pada mereka dengan jujur. Tetapi apakah semua itu cukup, itu yang menyiksaku. Apakah itu semua cukup?
Estragon Lima ratus rupiah
Vladimir (dengan marah) Diam!
Estragon Aku tak dapat menerima jumlah yang lebih sedikit!
Pozzo Apakah itu cukup? Pasti. Tapi aku seorang liberal. Sudah menjadi tabiatku. Malam ini. Buatku semakin memburuk. (dia mneyentakkan tali. Lucky menatapnya) karena aku menderita. Tak diragukan lagi (dia mengambil cambuk) mana yang kalian suka? Apakah kita memintanya untuk menari, menyanyi, pidato atau berpikir, atau….
Estragon Siapa?
Pozzo Siapa? Memangnya kalian berdua bisa berpikir?
Vladimir Dia berpikir?
Pozzo Tentu saja. Sangat keras . dia dulu berpikir dengan sangat baiknya, aku tahan mendengarnya sampai berjam-jam. Sekarang…. (dia gemetar) semakin memburuk buatku. Bagaimana, kalian mau dia berpikir sesuatu untuk kita?
Estragon Aku lebih suka dia menari, akan lebih menyenangkan
Pozzo Tidak terlalu
Estragon Betulkan, Didi, akan lebih menyenangkan?
Vladimir Aku ingin sekali mendengar dia berpikir
Estragon Mungkin dia bisa menari dulu lalu suruh dia berpikir, tentu saja jika ini tidak merepotkan
Vladimir(pada Pozzo) Bisakah itu dilakukannya?
Pozzo Tentu saja. Tidak ada yang mudah. Tapi ini permintaan yang wajar (dia tertawa singkat)
Vladimir Jadi suruh dia menari (hening)
Pozzo Kau dengar, Babi!?
Estragon Dia tak pernah menolak?
Pozzo Pernah dulu sekali (hening) menarilah, kemalangan! (Lucky meletakkan topi dan keranjangnya, maju ke depan dan berpaling pada Pozzo, lucky menari. Dia berhenti)
Estragon Hanya itu?
Pozzo Ulangi! (Lucky melakukan gerakan yang sama, berhenti)
Estragon Pooh! Kalau hanya itu, aku bisa melakukannya sendiri (dia meniru Lucky, hampir jatuh) Ya… dengan sedikit latihan.
Pozzo Dulu dia menari ballet, cha-cha, swing, bahkan aerobic. Dia melompat-lompat kegirangan. Sekarang itu yang terbaik yang bisa dia lakukan. Kau tahu dia menyebutnya apa?
Estragon Penderitaan kambing hitam
Vladimir Kursi keras
Pozzo Jaring. Dia kira dia terjerat jaring.
Vladimir (menggeliat seperti seorang estetikus) Ada sesuatu tentang itu….(Lucky menuju ke barang-barangnya kembali)
Pozzo Wooaa… (Lucky menggelinjang)
Estragon Ceritakan pada kami saat dia menolak
Pozzo Dengan senang hati, dengan senang hati (dia meraba-raba sakunya) tunggu (dia marah) apa yang aku lakukan dengan penyemprotku? (dia meraba-raba) bukankah itu….(dia mendongak. Keterkejutan pada wajahnya. Dengan lemah) aku tak dapat menemukan tabung penyemprotku!
Estragon (dengan lemah) Paru-paru kiriku sangat lemah! (dia batuk dengan lemah. Dengan nada berdenging) tapi paru-paru kananku berbunyi seperti bell.
Pozzo (Suara normal) Tidak masalah! Apa yang tadi aku katakan (dia berpikir) Tunggu (berpikir) bukankah itu… (dia mengangkat tangannya) bantu aku!
Estragon Tunggu!
Vladimir Tunggu!
Pozzo Tunggu! (mereka bertiga melepaskan topinya secara bersamaan, meletakkan tangannya di dahi, berkonsentrasi)
Estragon (dengan kemenangan) Ah!
Vladimir Dia sudah dapat!
Pozzo (tidak sabar) Bagaimana?
Estragon Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?
Vladimir Gombal!
Pozzo Kau yakin!?
Vladimir Bangsat! Bukankah sudah kau katakan pada kami?
Pozzo Aku sudah mengatakannya pada kalian?
Estragon Dia sudah mengatakannya pada kita?
Vladimir Bagaimanapun dia sudah meletakkannya
Estragon (menatap Lucky) Ah… benar juga. Lalu kenapa?
Valdimir Karena dia sudah meletakkan tasnya, tidak mungkin lagi kita bertanya mengapa ia tidak meletakkan tasnya.
Pozzo Beralasan
Estragon Dan kenapa ia meletakkannya?
Pozzo Coba jawablah!
Vladimir Karena dia akan menari
Estragon Benar!
Pozzo Benar! (hening, mereka memakai topi mereka)
Estragon Tak ada yang terjadi, tak ada orang datang. Ini menyedihkan.
Vladimir (pada Pozzo) Perintahkan padanya untuk berpikir
Pozzo Berikan padanya topinya
Valdimir Topinya?
Pozzo Dia tidak dapat berpikir tanpa topinya
Valdimir (pada Estragon) Berikan topinya padanya
Estragon Aku! Setelah apa yang dia lakukan padaku! Tidak akan!
Vladimir Aku akan memberikannya (dia tidak bergerak)
Estragon (pada Pozzo) Suruh dia pergi dan mengambilnya
Pozzo Lebih baik berikan topi ini padanya
Vladimir Aku akan memberikan padanya (dia mengambil topi dan mengulurkan topi itu pada Lucky yang tidak bergerak)
Pozzo Kau harus memakaikan topi itu di kepalanya
Estragon (pada Pozzo) suruh dia untuk mengambilnya
Pozzo Lebih baik memakaikan topi itu di kepalanya
Vladimir Aku akan memakainya (dia berputar di belakang Lucky, mendekatinya dengan hati-hati, meletakkan topi di kepalanya lalu melompat mundur dengan cepat. Lucky tidak bergerak. Hening)
Estragon Apa yang dia tunggu?
Pozzo Mundur! (Estragon dan Vladimir menjauh dari Lucky. Pozzo menyentakkan tali. Lucky menatap pozzo) Berpikir, babi!(pause, Lucky mulai menari) Berhenti! (Lucky berhenti) Maju! (Lucky maju) Berhenti! (Lucky berhenti) Berpikir! (hening)
Lucky Di lain pihak, dengan penuh hormat pada:
Pozzo Berhenti! (lucky berhenti) mundur! (Lucky melangkah mundur) Berhenti! (Lucky berhenti) berbalik! (Lucky berputar menghadap auditorium) Berpikir!
Selama pidato Lucky yang panjang lebar, yang lainnya berlaku sebagai berikut: (1) Vladimir dan Estragon memerhatikanLucky, Pozzo masygul dan mual (2) Vladimir dan Estragon mulai protes, penderitaan Pozzo meningkat (3) Vladimir dan Estragon penuh perhatian lagi. Pozzo semakin lama semakin cemas dan merintih (4)Vladimir dan Estragon protes dengan keras. Pozzo melompat, menarik tali. Teriakan tangis. Lucky memasang tali. Sempoyongan, meneriakkan teksnya. Mereka bertiga menjatuhkan dirinya ke Lucky yang berjuang meneriakkan teksnya.
Lucky Diserahkannya sebuah eksistensi yang telah diamanatkan tuhan pribadi dalam pekerjaan social Puncher dan Wattman qua-qua-qua dengan jenggot putih qua-qua-qua di luar waktu tanpa perpanjangan yang dari apathia yang kudus, atambhia yang kudus apashia yang kudus menyayangi kita dengan penuh cinta dengan beberapa pengecualianberdasarkan alas an-alasan yag tidak diketahui tetapi waktu akan mengatakannya dan menderita seperti Miranda yang hebat bersama mereka yang berdasarkan alas an yang tidak diketahui tetapi waktu yang akan mengatakan terlempar dalam siksaan terlempar ke dalam sumber api yang menyala jika hal itu berlanjut dan siapa yang dapat meragukannya akan menyalakan cakrawala seperti itu meledakkan neraka sampai surge sehingga tetap biru dan tenang sebegitu tenangnya dan sebuah ketenangan yang meskipun sebentar-sebentar masih lebih baik daripada tidak sama sekali tetapi tidak terlalu cepat dan mempertimbangkannya apa yang lebih seperti sebuah karya para buruh yang meninggalkan anugerah Akademi antropopometry Essy di Possy testew dan Cunard yang tidak selesai hal ini dibangun di atas segala hal yang diragukan yag lain daripada hal-hal melekat pada para buruh bahwa sebagai sebuah karya dari para buruh Testew dan Cunard yang tidak terselesaikan hal ini dibangun seperti yang selanjutnya tetapi tidak terlalu cepat untuk alas an yang tak diketahui seperti sebuah karya dari pekerjaan social Puncher dan Wattman ini dibangun di atas segala kekhawatiran yang dalam pandangan buruh buruh Fartov dan Belcher meninggalkan sesuatu belum selesai untuk alas an yang tidak diketahui dari Testew dan Cunard meninggalkan hal yang belum selesai ini dibangun oleh apa yang beberapa orang disangkal bahwa manusia Testew dan Cunard di Possy dan manusia di Essy bahwa manusia pendeknya bahwa manusia singkatnya memprihatinkan langkah-lagkah saluran pencernaan dan pembuangan air besar yang terlihat membuang dan merindukan kotoran dan merindukan secara bersamaan dan serentak apa yang lebih berdasarkan alasan yang tidak diketahui dalam rangka langkah-langkah kebudayaan fisik latihan-latihan olahraga seperti tenis sepakbola lari berspeda renang terbang berkuda terbang laying meluncur di air tenis segala olahraga yang mati melayang dari segala jenis musim gugur dan musim panas musim dingin tenis musim dingin dari segala jenis hoki dari segala jenis penisilin dan supertetra dalam sebuah kata aku melanjutkan dan secara bersamaan dan serentak untuk alasan yang tidak diketahui untuk menyusut dan menjadikan kecil dalam rangka tenis aku melanjutkan terbang meluncur terbang laying golf di atas Sembilan dan delapan belas lubang tenis daris egala jenis dalam sebuah kata untuk alasan-alasan yang tidak diketahui di Feckham Peckham Fulham Chaplara secara bersamaan dan serentak apa yang lebih untuk alas an-alasan yang tidak diketahui tetapi waktu akan mengatakan untuk menyusut dan menjadikan kecil aku melanjutkan Fulham Clapham dalam sebuah kata yang mati berkurang perkapitanya sejak kematian uskup Berkelley menjadi sebuah lagu dari satu inci empat ons perkapita yang kira—kira kurang lebih ke keuntungan decimal yang paling dekat mengukur gambaran-gambaran bundar yang sebenarnya telanjang di jari-jari kaki yang berstoking di Conemmara dalam sebuah kata yang berdasarkan alas an yang tidak diketahui walaupun masalah dan kenyataan-kenyataan ada di sana dan mempertimbangkan apa yang lebih banyak lebih dari kesedihan dalam cahaya para buruh Steinweg dan Peterman yang tersesat itu muncul apa yang lebih banyak lebih dari kesedihan dalam cahaya para buruh Steinweg dan Peterman yang tersesat dalam cahaya dalam cahaya dalam cahaya di daratan-daratan di gunung-gunung oleh laut-laut oleh sungai-sungai mengalir air mengalir api udara tetap sama dan kemudian bumi yakni udara dan kemudian bumi dalam dingin yang luar biasa gelap dan yang luar biasa udara dan bumi patuh pada batu-batu dalam dingin yang hebat alas-alas di tahun enam ratus Tuan mereka dan sesuatu di udara di bumi laut bumi patuh pada batu-batu yang luar biasa tebalnya dingin yang hebat di laut di daratan dan di udara aku melanjutkanuntuk alas an yang tidak diketahui dalam rangka tenis kenyatan-kenyataan ada di sana tetapi waktu akan mengatakan aku melanjutkan alas-alas di secara singkat yang baik di patuh pada batu-batu yang dapat meragukannya aku melanjutkan tetapi terlalu cepat aku melanjutkan tengkorak untuk menyusut dan membuang dan secara bersamaan dan serentak apa yang lebih berdasarkan alasan-alasan yang tidak diketahui dalam rangka tenis di di jenggot api api air mata batu-batu begitu birunya begitu tenangnya alas-alas di di tengkorak di Connemara dalam rangka tenis para buruh mengabaikan tukang kubur yang tidak selesai ditinggalkan masih patuh pada batu-batu dalam satu kata aku melanjutkan alas mengabaikan tengkorak-tengkorak yang tidak selesai di Connemara dalam rangka tenis tengkorak alas batu-batu Cunard (akhirya berteriak) tenis… batu-batu…begitu tenangnya….cunard…. belum selesai….
Pozzo Topinya! (Vladimir meraih topi Lucky. Lucky diam. Dia jatuh. Hening. Terengah-engah)
Estragon Pembalasan dendam! (Vladimir memeriksa topi, melihat bagian dalamnya)
Pozzo Berikan padaku! (Dia merenggut topi itu dari Vladimir, melemparkannya ke tanah lalu menginjak-injaknya) Tamat sudah pikirannya!
Vladimir Tapi apakah dia akan dapat berjalan?
Pozzo Berjalan atau merangkak! (dia menendang Lucky) bangun Babi!
Estragon Mungkin dia mati
Vladimir Kau akan membunuhnya
Pozzo Bangun sampah! (dia menyentakkan tali) bantu aku!
Vladimir Bagaimana?
Pozzo Bangunkan dia! (Vladimir dan Estragon mencoba mendirikan Lucky, membantunya sebentar, lalu melepaskannya. Dia jatuh)
Estragon Dia melakukannya dengan sengaja!
Pozzo Kau harus menahannya (pause) Ayo, ayolah angkat dia!
Estragon Persetan dengannya!
Vladimir Ayolah, sekali lagi
Estragon Apa yang dia mau dari kita? (mereka mengangkat Lucky, menahannya)
Pozzo Jangan lepaskan! (Vladimir dan Estragon terhuyung-huyung) Jangan bergerak! (Pozzo mengambil tas dan keranjang dan membawanya pada Lucky) pegang dia erat-erat! (dia menaruh tas di tangan Lucky. Lucky menjatuhkannya dengan segera) Jangan lepaskan dia! (dia meletakkan tas itu kembali di tangan Lucky. Secara bertahap Lucky mulai sadar dan merasakan tas di tangannya lalu memegang erat pegangannya) pegang ia erat-erat! (seperti sebelumnya dengan keranjang) Sekarang! Kalian dapat melepaskannya (Vladimir dan Estragon menjauh dari Lucky, yang sempoyongan dan berjalan terhuyung-huyung, melendut, tetapi berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya, tas dan keranjang di tangannya. Pozzo mundur, melecutkan cambuk) maju! (Lucky sempoyongan maju) Mundur! (Lucky sempoyongan mundur) Berputar (Lucky berbalik) Selesaikan! Dia dapat berjalan (menghadap Vladimir dan Estragon) terima kasih sahabat-sahabatku dan biarkan aku… (meraba-raba sakunya)…aku mendoakan kalian…(meraba)…mendoakan kalian….(meraba)….apa yang aku lakukan dengan jamku? (Meraba) jam berburu asli dengan detik yang teratur! (tersendat-sendat) hadiah dari kakekku! (dia mencari di lantai. Vladimir dan Estragon melakukan hal yang sama. Pozzo membolak-balik topi Lucky yang terletak di lantai dengan kakinya) Ya, sekarang bukankah itu hanya-
Vladimir Mungkin ada di sakumu
Pozzo Tunggu! (dia membungkuk, berusaha memasang kupingnya di perut, mendengarkan. Hening) aku tidak mendengar apapun.(dia memberi isyarat kepada mereka untuk mendekat, Vladimir dan Estragon mendekatinya. Membungkukkan badan ke perut Pozzo) seharusnya seseorang mendengar suara tik..tik…
Vladimir Ssstt! (semua mendengarkan, membungkukkan badan)
Estragon Aku mendengar sesuatu
Pozzo Di mana?
Vladimir Jantungnya
Pozzo (kecewa) Kutukan!
Vladimir Ssstt!
Estragon Mungkin sudah berhenti (mereka menegakkan badan)
Pozzo Siapa diantara kalian yang bau busuk?
Estragon Dia bau karena napasnya dan aku bau karena kakiku.
Pozzo Aku harus pergi
Estragon Dan jammu?
Pozzo Aku mungkin meninggalkannya di puriku (hening)
Estragon Kalau begitu dadagg…
Pozzo Daggg….
Vladimir Dagg…
Estragon Daggg… (hening. Tidak seorang pun bergerak)
Vladimir Dag…
Pozzo Dag…
Estragon Dag…(hening)
Pozzo Dan terima kasih
Vladimir Kembali
Pozzo Jangan, jangan.
Estragon Ya, ya.
Pozzo Tidak, tidak
Vladimir Ya, ya
Estragon Tidak, tidak (hening)
Pozzo Nampaknya aku tidak luput….(bimbang lama) pergi….
Estragon Sebagaimana hidup (Pozzo berpaling, menjauh dari Lucky menuju sayap, mengulurkan tali sambil pergi)
Vladimir Kau menuju arah yang salah
Pozzo Aku butuh ancang-ancang (setelah sampai pada ujung tali, keluar panggung, dia berhenti, berputar dan menangis) mundur! (Vladimir dan Estragon mundur, menatap Pozzo. Suara lecutan cambuk) jalan! Jalan!
Estragon Jalan!
Vladimir Jalan! (Lucky bergerak ke luar)
Pozzo Lebih cepat (dia muncul, melewati panggung di dahului Lucky. Vladimir dan estragon melambaikan topinya. Lucky keluar) jalan! Jalan! (sebelum lenyap, dia berhenti dan berpaling. Tali mengencang. Suara ribut Lucky yang jatuh) kursi! (Vladimir mengambil kursi dan memberikannya pada Pozzo yang kemudian melemparkannya ke Lucky) dag….
Vladimir dan Estragon (melambai) dag…dagg….
Pozzo Bangun babi! (suara ribut Lucky yang bangkit) jalan! (pozzo keluar) Lebih cepat! Jalan! Dag! Babi! Yip! Dag! (hening panjang)
Vladimir Cukup mengisi waktu
Estragon Bagaimana pun, waktu tetap berlalu
Vladimir Ya, tetapi tidak dengan cepat (pause)
Estragon Apa yang kita lakukan sekarang?
Vladimir Aku tak tahu
Estragon Ayo pergi
Vladimir Tidak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita sedang menunggu Godot
Estragon (dengan putus asa) Ah! (pause)
Vladimir Mereka telah berubah
Estragon Siapa?
Vladimir Mereka berdua
Estragon Ah….ya, bagaimana kalau kita melakukan percakapan pendek?
Vladimir Berubahkah mereka?
Estragon Apa?
Vladimir berubah
Estragon Sangat mungkin. Mereka semua berubah. Hanya kita yang tidak
Vladimir Mungkin. Pasti! Tidakkah kau lihat mereka?
Estragon Aku kira ya. Tapi aku tidak kenal mereka
Vladimir Ya, kau kenal mereka Estragon Tidak. Aku tidak kenal mereka
Vladimir Kukatakan padamu, kita mengenal mereka. Kau melupakan segalanya (pause. Pada dirinya sendiri) kecuali jika mereka tidak sama….
Estragon Kalau begitu, kenapa mereka tidak mengenali kita?
Vladimir Itu tidak berarti apa-apa. Aku juga pura-pura tidak mengenali mereka dan kemudian tidak seorang pun akan mengenali kita.
Estragon Ah… lupakan saja. Apa yang kita butuhkan- ow! (Vladimir tidak bereaksi) ow!
Vladimir (pada dirinya) Kecuali jika mereka tidak sama….
Estragon Didi! Kaki yang satunya! (dia terhuyung-huyung menuju gundukan)
Vladimir Kecuali jika mereka tidak sama….
Anak (keluar) Nyonya! (Estragon terhenti. Mereka berdua menghadap suara yang datang)
Estragon Ada apa lagi
Vladimir Mendaktlah nak. (masuk seorang bocah, dengan takut-takut. Dia berhenti)
Anak Nyonya Albi…? Vladimir Ya
Estragon Apa yang kau inginkan?
Vladimir Mendaktlah (bocah itu tidak bergerak)
Estragon (dengan paksa) Jika diminta untuk mendekat maka mendekatlah, bisa tidak? (bocah itu maju dengan takut-takut, berhenti)
Vladimir Ada apa?
Anak Godot….
Vladimir Ah tentu saja….(pause) mendekatlah.
Estragon (dengan keras) Maukah kau mendekat? (bocah itu maju dengan takut-takut) kenapa kau begitu lambat?
Vladimir Kau membawa pesan dari Godot?
Anak Ya Nyonya
Vladimir Katakan, apa itu?
Estragon Kenapa kau begitu lamban? (bocah itu menatap mereka bergantian, tidak tahu kepada siapa dia harus menjawab)
Vladimir (pada Estragon) Biarkan dia
Estragon (dengan keras) Biarkan aku! (maju ke bocah itu) kau tahu jam berapa sekarang?
Anak (melompat mundur) Bukan salahku nyonya
Estragon Lalu salah siapa? Salahku?
Anak Aku takut nyonya
Estragon Takut apa? Pada kami? (pause) jawab!
Vladimir Aku tahu, dia takut pada yang lain
Estragon Sudah berapa lama kamu di sini?
Anak Cukup lama nyonya
Vladimir Kamu takut pada cambuk itu?
Anak Ya nyonya.
Vladimir Pada suara keras?
Anak Ya nyonya
Vladimir Dua wanita besar?
Anak Ya nyonya
Vladimir Kau kenal dengan mereka?
Anak Tidak, nyonya
Vladimir Apakah kau orang asli sini? (hening) kau berasal dari tempat ini?
Anak Ya, nyonya
Estragon Semuanya merupakan kebohongan belaka(mengguncang-guncang bocah itu) katakan yang sejujurnya
Anak (gemetar) Tapi ini yang sejujurnya
Vladimir Maukah kau membiarkannya! Ada apa denganmu? (Estragon melepaskan anak itu, menjauh, menutup wajahnya dengan tangannya. Vladimir dan bocah itu menatapnya. Estragon menjatuhkan tanganya. Wajahnya meneyringai tertawa) ada apa denganmu?
Estragon Aku tidak bahagia
Vladimir Jangan begitu. sejak kapan?
Estragon Aku sudah lupa
Vladimir Begitu luar biasanya tipuan-tipuan yang dimainkan ingatan! (Estragon mencoba bicara, menghindar, berjalan pincang ke tempatnya, duduk dan emlepas sepatu bootnya. Pada si bocah) ya, bagaimana?
Anak Godot….
Vladimir Sebelumnya aku pernah melihatmu bukan?
Anak Aku tidak tahu nyonya
Vladimir Kau tidak kenal aku?
Anak Tidak nyonya
Vladimir Bukan kau yang datang kemarin?
Anak Bukan nyonya
Vladimir Ini yang pertama bagimu?
Anak Ya nyonya (hening)
Vladimir Kata-kata, kata-kata (pause) bicaralah
Anak (tergesa-gesa) Godot menyuruhku untuk mengatakan pada Anda bahwa dia tidak akan datang mala mini tetapi besok dia pasti datang (hening)
Vladimir Itu saja?
Anak Iya nyonya (hening)
Vladimir Kau bekerja pada Godot?
Anak Ya nyonya
Vladimir Apa yang kau kerjakan?
Anak Aku menggembala kambing-kambing nyonya
Vladimir Dia bersikap baik padamu?
Anak Ya nyonya
Vladimir Dia tidak memukulmu?
Anak Tidak nyonya, tidak padaku
Vladimir Lalu pada siapa?
Anak Dia memukul saudaraku
Vladimir Ah, kau punya saudara?
Anak Iya nyonya
Vladimir Apa yang dikerjakannya?
Anak Menggembala domba-dombanya, nyonya
Vladimir Dan mengapa dia tidak memukulmu?
Anak Aku tidak tahu nyonya
Vladimir Dia pasti suka padamu
Anak Aku tidak tahu nyonya
Vladimir Apakah dia memebri cukup makan? (bocah itu bimbang) apakah dia memberimu makan dengan baik?
Anak Cukup baik nyonya
Vladimir Kau tidak bahagia? (bocah itu bimbang) kau dengar aku?
Anak Ya nyonya
Vladimir Ya, bagaimana?
Anak Aku tidak tahu nyonya
Vladimir Kau tidak tahu apa kau bahagia atau tidak?
Anak Tidak nyonya
Vladimir Kau sama buruknya dengan aku (hening) dimana kau tidur?
Anak Di atap rumah
Vladimir Dengan saudaramu?
Anak Ya, nyonya
Vladimir Di tumpukan rumput kering?
Anak Ya nyonya (hening)
Vladimir Baiklah. Kau boleh pergi
Anak Apa yang harus aku katakan pada Godot, nyonya?
Vladimir Katakan padanya…(dia bimbang) katakan kalau kau sudah ebrtemu dengan kami (pause) kau sudah ebrtemu kami bukan?
Anak Ya nyonya. (dia mundur, bimbang, berputar dan berlari keluar. Cahaya tiba-tiba meredup. Dalam sesaat malam datang. Bulan muncul di bagian belakang, pegunungan di langit, tetap berdiri mamancarkan cahaya pucat di layar)
Vladimir Akhirnya! (Estragon bangun dan berjalan menghampiri Vladimir, sebuah boot di masing-masing tanganya. Dia meletakkan bootnya di ujung panggung, menatap bulan) apa yang sedang kau lakukan?
Estragon Kekhawatiran yang pucatt
Vladimir He?
Estragon Mendaki surge dan menatap orang-orang seperti kita
Vladimir Sepatu bootmu. Apa yang kau lakukan dengan sepatu bootmu?
Estragon (berpaling melihat sepatu bootnya) Aku meletakkan mereka di sana (pause) yang lain akan datang. Seperti…seperti….seperti aku, tetapi dengan kaki yang kecil, dan emreka akan membuatnya bahagia
Vladimir Tetapi kau tidak dapat pergi dengan telanjang kaki!
Estragon Kristus melakukannya
Vladimir Kristus! Apa hubungannya kristus dengan hal ini? Kau tidak akan membandingkan dirimu dengan kristus!
Estragon Sepanjang hidupku, aku selalu membandingkan diriku dengan kristus
Vladimir Tetapi tempat tinggal dia hangat dan kering!
Estragon Ya, dan mereka menyalibkannya dengan cepat (hening)
Vladimir Kita tidak ada urusan lagi di sini
Estragon Juga di tempat lain
Vladimir Ahh, Gogo, jangan begitu. besok segalanya akan lebih baik
Estragon Bagaimana kau bisa yakin dengan hal itu?
Vladimir Tidakkah kau dengar yang dikatakan bocah tadi?
Estragon Tidak.
Vladimir Dia bilang Godot pasti datang besok (pause) bagaimana menurutmu?
Estragon Kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu
Vladimir Kau gila? Kita harus pergi (dia merangkul Estragon) Ayo(dia menyeret Estragon. Estragon berteriak, meronta. Mereka berhenti)
Estragon (melihat pada pohon) Sayangnya kita tidak membawa seutas tali
Vladimir Ayolah, cuaca sangat dingin (dia menyeret Estragon seperti sebelumnya)
Estragon Ingatkan aku untuk membawa tali besok
Vladimir Ya. Ayo. (dia menariknya lagi speerti sebelumnya)
Estragon Sudah berapa lama kita bersama sampai sekarang ini?
Vladimir Aku tidak tahu. 50 tahun mungkin
Estragon Kau ingat saat aku menceburkan diri ke Rhone?
Vladimir Ya, kita sedang panen anggur saat itu
Estragon Kau memancingku keluar
Vladimir Semuanya sudah mati dan terkubur
Estragon Pakaianku kering oleh matahari
Vladimir Tidak ada gunanya kembali ke sana. Ayo.(dia menariknya, seperti sebelumnya)
Estragon Tunggu
Vladimir Aku kedinginan
Estragon Tunggu! (dia menjauh dari Vladimir) aku ingin tahu apakah tidak akan lebih baik jika kita berpisah, berjalan sendiri-sendiri (dia melewati panggung dan duduk di atas gundukan) kita tidak ditakdirkan untuk bersama
Vladimir (tanpa kemarahan) Belum tentu
Estragon Memang, tak ada yang pasti (Vladimir melewati panggung dengan pelan dan duduk di samping Estragon)
Vladimir Kita tetap dapat berpisah, jika kau pikir itu lebih baik
Estragon Sudah tidak begitu berarti lagi saat ini (hening)
Vladimir Benar. Sudah tidak berarti lagi saat ini (hening)
Estragon Bagaimana, bisakah kita pergi?
Vladimir Ya. Ayo pergi (mereka tidak bergerak)
- Layar Tutup –
ADEGAN II
Hari berikutnya. Waktu yang sama. Tempat yang sama
Sepatu boot Estragon berada di tengah menghadap depan, tumit bersentuhan, ujung-ujungnya ke luar. Topi Lucky di tempat yang sama. Ada sekitar 4 atau 5 helai daun di pohon. Vladimir masuk dengan gelisah. Dia berhenti dan menatap lama pohon itu, lalu tiba-tiba bergerak ke sekitar panggung dengan cemas. Dia berhenti di depan boot, mengambilnya satu dan memeriksanya, mengendusnya, menunjukkan rasa jijik, mengembalikannya dengan hati-hati. mondar-mandir. Berhenti di sebelah ujung kanan dan emmandang kejauhan, membayang-bayangi matanya dengan tangannya. Mondar-mandir, berhneti di ujung kiri panggung, seperti sebelumnya. Mondar-mandir, berhenti dengan tiba-tiba dan mulai menyanyi dengan kerasnya.
Vladimir Seekor anjing masuk ke – (karena mulai dengan nada yang terlalu tinggi dia berhenti, membersihkan kerongkongannya, melanjutkan nyanyiannya) Seekor anjing masuk ke dapur Dan mencuri sepotong roti Lalu tukang masak datang dengan sebuah irus Dan memukul anjing itu sampai mampus
Lalu anjing-anjing berdatangan Dan menggali kubur untuk anjing itu (dia berhenti, merenung dan meneruskan nyanyiannya) Lalu anjing-anjing berdatangan Dan menggali kubur untuk anjing itu Dan menuliskan namanya pada nisan Sebagai penanda untuk ziarah
Seekor anjing masuk ke dapur Dan mencuri sepotong roti Lalu tukang masak datang dengan sebuah irus Dan memukul anjing itu sampai mampus
Lalu anjing-anjing berdatangan Dan menggali kubur untuk anjing itu (dia berhenti, merenung dan meneruskan nyanyiannya) Lalu anjing-anjing berdatangan Dan menggali kubur untuk anjing itu (dia berhenti, merenung . dengan lembut)
Dia diam sesaat dan tidak bergerak, lalu mulai bergerak di sekitar panggung dengan cemas. Dia berhenti di depan pohon, mondar-mandir, di depan boot, mondar-mandir, berhenti di ujung kanan, memandang kejauhan, ke ujung kiri, memandang kejauhan. Masuk Estragon dari sayap kanan, bertelanjang kaki, kepala tertunduk. Dengan pelan melewati panggung Vladimir berpaling dan melihatnya
Vladimir Kau lagi! (Estragon berhenti tetapi tidak mengangkat kepalanya. Vladimir berjalan ke arahnya) kemarilah agar aku dapat memelukmu)
Estragon Jangan sentuh aku! (Vladimir menahan pelukannya, terluka)
Vladimir Kau ingin aku pergi? (pause) Gogo! (pause. Valdimir menatapnya penuh perhatian) apakah mereka memukulmu? (pause) Gogo! (Estragon tetap diam. Kepala tertunduk) di mana kau menghabiskan malammu?
Estragon Jangan sentuh aku! Jangan bertanya padaku! Jangan bicara padaku! Tetaplah bersamaku!
Vladimir Apakah aku pernah meninggalkanmu?
Estragon Kau membiarkanku pergi
Vladimir Pandang aku (Estragon tidak mengangkat kepalanya. Dengan keras) maukah kau memandangku? (Estragon mengangkat kepalanya. Mereka saling bertatapan lama, lalu tiba-tiba berangkulan, menepuk-nepukan tangannya pada punggung masing-masing. selesai. Estragon tidak lagi bersandar, hampir jatuh)
Estragon Hari yang indah!
Vladimir Siapa yang memukulmu? Katakan padaku!
Estragon Hari yang lain telah selesai
Vladimir Belum
Estragon Bagiku, semua telah berlalu dan selesai, apapun yang terjadi (hening) Aku dengar kau menyanyi
Vladimir Ya benar, aku ingat
Estragon Itu menakutkanku. Aku berkata pada diriku sendiri. Dia sendirian, dia piker aku telah pergi untuk selama-lamanya dan dia menyanyi
Vladimir Orang tak bisa mengendalikan suasana hatinya sendiri. Setiap hari aku selalu merasa sehat (pause) aku tidak pernah terjaga pada malam hari, tidak sekalipun!
Estragon (dengan sedih) Kau lihat, kau tampak lebih tenang jika aku tidak bersamamu
Vladimir Aku merindukanmu… dan pada saat bersamaan aku bahagia. Tidakkah itu ganjil?
Estragon (terkejut) Bahagia?
Vladimir Mungkin itu bukan kata yang tepat
Estragon Dan sekarang?
Vladimir Sekarang?....(penuh kegembiraan) kau di sini lagi….(acuh tak acuh) Kita sudah di sini lagi… (dengan sedih) Aku di sini lagi
Estragon Kau lihat, kau merasa semakin buruk jika bersamaku. Aku juga merasa lebih baik kalau sendiri
Vladimir (merasa terganggu) Lalu kenapa kau selalu merangkak datang kembali?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Tidak, tapi aku tahu Googo. Ini karena kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka memukulmu
Estragon Kau bahkan tidak dapat menghentikan mereka
Vladimir Kenapa tidak?
Estragon Mereka ada sepuluh orang
Vladimir Bukan, maskudku sebelum mereka memukulmu. Aku akan menghentikan apapun yang sedang kau lakukan saat itu
Estragon Aku tidak melakukan apapun
Vladimir Lalu kenapa mereka memukulmu?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Tidak Gogo. Yang sesungguhnya adalah hal-hal yang etrjadi padamu tapi tidak terjadi padaku. Kau pasti merasakannya
Estragon Kukatakan padamu, aku tidak melakukan apa-apa
Vladimir Mungkin tidak. Tapi caramu melakukannya yang jadi soal, caramu melakukan, jika kau ingin terus hidup
Estragon Aku tidak melakukan apapun
Vladimir Jauh di lubuk hatimu, pasti kau juga bahagia, jika saja kau tahu
Estragon Bahagia karena apa?
Vladimir Kembali bersamaku lagi
Estragon Begitukah menurutmu?
Vladimir Katakanlah begitu, meski itu tidak benar
Estragon Apa yang harus aku katakan?
Vladimir Katakan, aku bahagia
Estragon Aku bahagia
Vladimir Aku juga
Estragon Aku juga
Vladimir Kita bahagia
Estragon Kita bahagia (hening) Apa yang kita lakukan sekarang, sekarang kita bahagia?
Vladimir Menunggu Godot (Estragon menggerutu. Hening)
Estragon Benar (hening)
Vladimir Segala sesuatunya telah berubah sejak kemarin
Estragon Dan jika dia tidak datang?
Vladimir (setelah kebingungan sesaat) Kita lihat bagaimana nanti (pause) aku tadi mengatakan segala sesuatunya telah berubah di sini sejak kemarin
Estragon Segalanya menguap
Vladimir Lihat pohon itu
Estragon Detik demi detik semuanya berubah
Vladimir Pohon itu, lihat pohon itu (Estragon melihat pohon itu)
Estragon Apakah kemarin tidak di sana?
Vladimir Ya, tentu saja di sana. Kau tidak ingat? Kita hampir gantung diri di sana. Tetapi kau tidak melakukannya. Kau tidak ingat?
Estragon Kau bermimpi
Vladimir Apakah mungkin kau telah melupakan semuanya?
Estragon Itulah aku. Melupakan semuanya dengan cepat atau ingat selama-lamanya
Vladimir Dan tentang Pozzo dan Lucky, kau juga telah melupakan mereka?
Estragon Pozzo dan Lucky?
Vladimir Dia telah melupakan segalanya!
Estragon Aku ingat orang gila yang menendang tulang keringku. Lalu dia bertingkah konyol
Vladimir Itu Lucky
Estragon Aku ingat itu. tapi kapan?
Vladimir Dan majikannya, kau tidak ingat dia?
Estragon Dia memebriku sebuah tulang
Vladimir Itu Pozzo
Estragon Dan kau katakan semua peristiwa itu terjadi kemarin?
Vladimir Ya, tentu saja kemarin
Estragon Dan juga di tempat kita sekarang ini berada?
Vladimir Di mana lagi menurutmu? Kau tidal mengenali tempat ini?
Estragon (geram dengan tiba-tiba) Kenal!? Apa yang perlu dikenali? Seluruh hidupku yang buruk ini aku sudah merangkak dalam lumpur! Dan kau katakan padaku tentang pemandangan! (menatapnya dengan liar) lihatlah kotoran murahan ini! Aku bahkan tidak pernah kelaur darinya!
Vladimir Tenang, tenangkan dirimu!
Estragon Kau dan pemandanganmu itu! ceritakan padaku tentang cacing itu!
Vladimir Semua sama saja, kau tidak dapat mengatakan padaku kalau tempat ini (gesture) memiliki kemiripan dengan…(dia bimbang)…dengan desa macon, misalnya. Tidak bisa kau sangkal kalau ada perbedaan besar
Estragon Desa Macon! Siapa yang bicara padamu tentang desa Macon?
Vladimir Tapi kau sendiri ada di sana, di desa Macon
Estragon Tidak. Aku tidak pernah ada di desa Macon. Kukatakan padamu kalau aku sudah memuntahkan muntahan hidupku di sini! Di sini! Di desa Cackon!
Vladimir Tapi aku berani bersumpah, kalau kita ada di sana! Memtik anggur untuk seseorang yang bernama…(dia menjentikan jarinya)…aku tak dapat nama orang itu, di sebuah tempat yang di sebut….(menjentikan jarinya)…aku juga tidak dapat mengingat nama tempat itu, kau tidak ingat?
Estragon (sedikit labih tenang) Mungkin saja. Aku tidak dapat memeperhatikan semuanya
Vladimir Tapi di desa itu semuanya berwarna merah!
Estragon (jengkel) Kukatakan padamu, aku tidak memerhatikan apapun! (hening. Vladimir menarik napas panjang dalam)
Vladimir Kau orang yang sukar diajak bersama, Gogo
Estragon Akan lebih baik jika kita berpisah
Vladimir Kau selalu berkata itu dan k au selalu merangkak datang kembali
Estragon Hal yang terbaik adalah dengan membunuhku seperti yang lain
Vladimir Yang lain apa? (pause) yang lain apa?
Estragon Seperti jutaan orang yang lain
Vladimir (angkuh) Setiap orang memiliki imannya masing-masing (dia menarik napas panjang) Sampai dia mati (pikiran yang datang kemudian) dan terlupakan
Estragon Sementara waktu ini mari kita mencoba bercakap-cakap dengan tenang, karena nampaknya kita sudah tidak mampu lagi diam
Vladimir Kau benar, kita tidak pernah lelah
Estragon Dengan demikian kita tidak perlu berpikir
Vladimir Kita punya pembenaran
Estragon Dengan demikian kita tidak perlu mendengar
Vladimir Kita punya alasan-alasannya
Estragon Suara-suara mati
Vladimir Riuh seperti kepak sayap
Estragon Seperti daun-daun
Vladimir Seperti pasir
Estragon Seperti daun-daun (hening)
Vladimir Mereka semua bicara bersamaan
Estragon Masing-masing pada dirinya sendiri (hening)
Vladimir Sebaiknya mereka berbisik
Estragon Mereka ngedumel
Vladimir Mereka bergumam
Estragon Mereka ngedumel
Vladimir Apa yang mereka katakan?
Estragon Mereka berbicara tentang kehidupan mereka
Vladimir Bahwa hidup tidak cukup untuk mereka
Estragon Mereka harus mengatakannya
Vladimir Bahwa mati tidak cukup untuk mereka
Estragon Tidak cukup (hening)
Vladimir Mereka rebut seperti bulu-bulu
Estragon Seperti daun-daun
Vladimir Seperti debu
Estragon Seperti daun-daun (hening panjang)
Vladimir Katakan sesuatu!
Estragon Aku sedang berusaha (hening panjang)
Vladimir (dalam penderitaan) Katakan apa saja
Estragon Apa yang kita lakukan sekarang?
Vladimir Menunggu Godot
Estragon Benar! (hening)
Vladimir Ini menyedihkan
Estragon Nyanyikan sebuah lagu
Vladimir Tidak! Tidak! (dia berpikir) Mungkin kita dapat memulainya dari pertama lagi
Estragon Seharusnya ini mudah
Vladimir Permulaan yang sulit
Estragon Mulailah dari apa saja
Vladimir Ya, tetapi kau harus mengambil keputusan
Estragon Benar (hening)
Vladimir Tolong aku!
Estragon Aku sedang berusaha (hening)
Vladimir Jika kau mencari kau akan dengar
Estragon Benar
Vladimir Itu mencegahmu dari penemuan
Estragon Benar
Vladimir Itu mencegahmu untuk berpikir
Estragon Bagaimana pun kita berpikir
Vladimir Tidak. Tidak, tidak mungkin
Estragon Itulah intinya, mari kita saling berdebat
Vladimir Tidak mungkin
Estragon Kau kira begitu?
Vladimir Kita tidak dalam kegentingan lagi
Estragon Lalu paa yang kita keluhkan?
Vladimir Berpikir bukanlah hal buruk
Estragon Mungkin bukan. Tapi paling tidak itulah
Vladimir Itu apa?
Estragon Itulah intinya, bagaimana kalau kita saling mengajukan pertanyaan
Vladimir Apa maksudmu, paling tidak itulah?
Estragon Ya, mengurangi penderitaan
Vladimir Tepat
Estragon Bagaimana jika kita berterima kasih untuk belas kasihan kita?
Vladimir Yang menakutkan adalah kalau kita memiliki pikiran
Estragon Tapi apakah itu tidak pernah terjadi pada kita?
Vladimir Darimana datangnya mayat-mayat ini?
Estragon Dari tulang-tulang ini
Vladimir Tak usah kau katakan, aku sudah tahu
Estragon Betul
Vladimir Seharusnya kita juga berpikir sedikit
Estragon Mulai dari awal
Vladimir Kamar mayat! Kamar mayat!
Estragon Kau tidak harus melihat
Vladimir Kau tidak tahan untuk melihatnya
Estragon Benar
Vladimir Cobalah sebaik mungkin
Estragon Apa?
Vladimir Cobalah sebaik mungkin
Estragon Kita seharusnya kembali ke alam sepenuhnya
Vladimir Kita pernah mencobanya
Estragon Benar
Vladimir Oh, ini bukanlah hal yang terburuk, tentu saja
Estragon Apa?
Vladimir Memiliki pikiran
Estragon Jelas
Vladimir Tapi kita bisa melakukannya tanpa itu
Estragon Apa yang kau inginkan?
Vladimir Apa?
Estragon Apa yang kau inginkan?
Vladimir Ah, aku tahu…aku tahu….
Estragon Itu tidak terlalu buruk
Vladimir Ya, tapi sekarang kita harus menemukan hal yang lain
Estragon Coba kupikir (dia melepas topinya, berpikir)
Vladimir Coba kupikir (dia melepas topinya, berpikir. Hening panjang) Ah! (mereka memakai topi mereka, relaks)
Estragon Bagaimana?
Vladimir Apa yang kukatakan tadi, kita dapat melanjutkannya dari sana
Estragon Yang kamu katakan? Kapan?
Vladimir Semuanya dari awal
Estragon Awal apa?
Vladimir Sore tadi…aku berkata… aku berkata….
Estragon Aku bukan sejarawan
Vladimir Tunggu…. Kita berpelukan….kita bahagia….bahagia… apa yang kita lakukan setelah kita bahagia…. Terus menunggu….menunggu…coba kupikir….hampir dapat….terus menunggu….sekarang kita bahagia….coba kupikir….ah! pohon!
Estragon Pohon?
Vladimir Kau tidak ingat?
Estragon Aku lelah
Vladimir Coba lihatlah (mereka memandang pohon itu)
Estragon Aku tidak melihat apapun
Vladimir Tetapi malam kemarin semuanya tampak gelap dan kosong. Dan sekarang tertutupi daun-daun
Estragon Daun-daun?
Vladimir Dalam satu malam
Estragon Pasti sudah musim semi
Vladimir Tapi dalam satu malam!
Estragon Kukatakan padamu kalau kita tidak di sini kemarin. Ini hanya salah satu mimpi burukmu
Vladimir Lalu menurutmu dimana kita tadi malam?
Estragon Bagaimana aku tahu? Di ruang yang lain mungkin. Kekosongannya yang hilang
Vladimir (yakin pada dirinya sendiri) Bagus. Kita tidak di sini kemarin malam. Lalu apa yang kita lakukan malam kemarin?
Estragon Melakukan?
Vladimir Coba mengingatnya
Estragon Melakukan…. Aku kira kita ngobrol
Vladimir (mengendalikan dirinya sendiri) Ngbrol apa?
Estragon Oh…ngobrol ini dan itu. tidak ada yang khusus. (dengan yakin) Ya, sekarang aku ingat, kemarin malam kita hanya ngobrol tentang hal yang tidak khusus. Dan hal itu pun terus berlangsung sampai sekarang ini. Selama setengah abad
Vladimir Kau tidak ingat peristiwa atau kejadian apapun?
Estragon (lelah) Jangan menyiksaku, Didi
Vladimir Matahari. Bulan. Kau tidak ingat?
Estragon Mereka pasti berada di tempatnya, seperti biasa
Vladimir Kau tidak mencatat apapun yang di luar kebiasaan
Estragon Aduh!
Vladimir Dan Pozzo? Dan Lucky?
Estragon Pozzo?
Vladimir Tulang-tulang
Estragon Seperti tulang-tulang ikan
Vladimir Pozzo yang memberikannya padamu
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Dan tendangan itu
Estragon Benar. Seseorang telah menendangku
Vladimir Lucky yang melakukannya
Estragon Dan semua kejadian itu terjadi kemarin malam?
Vladimir Coba perlihatkan kakimu
Estragon Yang mana?
Vladimir Keduanya. Tarik ke atas celanamu (Estragon menunjukkan kakinya pada Vladimir. Sempoyongan. Vladimir memegang kaki itu. mereka sempoyongan) tarik ke atas celanamu
Estragon Aku tak bisa (Vladimir menarik ke atas celana Estragon, melihat ke satu kaki, melepaskannya. Estragon hampir tejatuh)
Vladimir Yang satunya (Estragon menunjukan kaki yang sama) yang satunya Babi! (Estragon menunjukan kaki yang satu. Dengan penuh kemenangan) itu dia lukanya! Mulai mengering!
Estragon Lalu kenapa dengan kaki ini?
Vladimir (melepaskan kaki Estragon) Di mana sepatu-sepatu bootmu?
Estragon Aku mungkin telah membuangnya?
Vladimir Kapan?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Kenapa?
Estragonb (jengkel) Aku tidak tahu kenapa aku tidak tahu!
Vladimir Bukan, maksudku kenapa kau membuangnya?
Estragon (jengkel) Karena mereka membuat kakiku sakit!
Vladimir (dengan penuh kemenangan, menunjukan pada sepatu-sepatu boot itu) Itu dia di sana (Estragon melihat bootnya) tetap di tempat kau meninggalkannya kemarin! (estragon berjalan menuju bootnya, memeriksanya dengan teliti)
Estragon Ini bukan milikku
Vladimir(tercengang) Bukan milikmu!?
Estragon Punyaku hitam. Ini coklat
Vladimir Kau yakin milikmu berwarna hitam?
Estragon Ya, mungkin agak sedikit kelabu
Vladimir Dan yang ini coklat? Coba perlihatkan
Estragon (mengambil sebuah sepatu) Ya, nampaknya agak ke hijau-hijauan
Vladimir Perlihatkan (Estragon menyerhakan padanya sepatu boot itu. Vladimir memeriksanya, melemparkannya dengan marah) semua ini….
Estragon Kau lihat, semua kebrengsekan itu….
Vladimir Ah! Aku tahu itu apa. Ya, aku tahu apa yang terjadi
Estragon Semua kebrengsekan itu merupakan….
Vladimir Hal dasar. Seseorang datang dan mengambil milikmu dan meninggalkan miliknya untukmu
Estragon Kenapa?
Vladimir Miliknya terlalu sesak, jadi dia mengambil punyamu
Estragon Tapi punyaku juga terlalu sesak
Vladimir Buatmu. Tidak untuknya
Estragon (setelah mencoba cari jawaban, namun sia-sia) Aku lelah! (pause) Ayo pergi
Vladimir Tidak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita sedang menunggu Godot
Estragon Benar (pause, putus asa) Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa yang kita akan lakukan?
Vladimir Tidak ada yang bisa kita lakukan
Estragon Tapi aku tidak bisa begini terus!
Vladimir Kau mau lobak?
Estragon Hanya itukah yang tersisa?
Vladimir Ada beberapa buah lobak dan tomat
Estragon Tidak ada wortel?
Vladimir Tidak ada. Lagipula kau telah menghabiskan terlalu banyak wortel
Estragon Kalau begitu berikan padaku tomatnya (Vladimir membongkar sakunya, tidak menemukan apa-apa selain lobak, akhirnya mengeluarkan tomat dan menyerahkannya pada Estragon yang kemudian memeriksanya, mengendusnya) ini hijau!
Vladimir Tetapi ini tomat
Estragon Aku hanya suka yang merah, kau tahu itu
Vladimir Jadi kau tidak mau ini?
Estragon Aku hanya suka yang merah!
Vladimir Kalau begitu kembalikan (Estragon mengembalikannya)
Estragon Aku akan pergi mencari wortel (dia tidak bergerak)
Vladimir Hal ini menjadi benar-benar percuma
Estragon Percuma (hening)
Vladimir Bagaimana kalau kita mencobanya?
Estragon Aku telah mencoba segalanya
Vladimir Bukan, maksudku sepatu boot itu
Estragon Akan ada untungnyakah?
Vladimir Akan melewatkan waktu (estragon bimbang) aku yakinkan padamu kalau itu akan menjadi sebuah pekerjaan
Estragon Sebuah relaksasi
Vladimir Sebuah rekreasi
Estragon Sebuah relaksasi
Vladimir cobalah
Estragon Kau akan membantuku?
Vladimir Tentu saja
Estragon Kita bisa mengaturnya dengan baik, iyakan Didi?
Vladimir Ya, ya. Ayolah kita coba yang sebelah kiri dulu
Estragon Kita selalu menemukan sesuatu, untuk meyakinkan kita bahwa kita ada, iya kan Didi?
Vladimir (dengan tidak sabar) ya, ya, kita memang tukang sulap. Tetapi sebaiknya kita tekuni apa-apa yang telah kita selesaikan, sebelum kita lupa (dia mengambil sebuah sepatu) Coba, kakimu (Estragon mengangkat kaki) yang satunya, celeng (Estragon mengangkat kaki satunya) Lebih tinggi! (mereka berdua sempoyongan berputar-putar di sekitar panggung. Vladimir akhirnya berhasil memakai sepatu boot itu) coba jalan (Estragon berjalan) bagaimana?
Estragon Pas
Vladimir (mengambil tali dari sakunya) Coba ikat dengan tali
Estragon (dengan suara keras) Jangan, jangan tali!
Vladimir Kau akan menyesal. Kita coba yang satunya (seperti sebelumnya) bagaimana?
Estragon (dengan segan-segan) Ini juga pas
Vladimir Tidak sakitkah?
Estragon Belum
Vladimir Kalau begitu, kau bisa menyimpannya
Estragon Sepatu ini terlalu longgar
Vladimir Mungkin suatu hari kau akan punya kaos kaki
Estragon Betul
Vladimir Kalau begitu kau akan menyimpannya?
Estragon Cukuplah tentang sepatu boot ini
Vladimir Ya, tapi….
Estragon (dengan keras) Cukup! (hening) Aku kira sebaiknya aku duduk (dia mencari sebuah tempat untuk duduk, lalu duduk di gundukan)
Vladimir Di sanalah kau duduk kemarin malam
Estragon Jika saja aku bisa tidur
Vladimir Kau tidur semalam
Estragon Aku akan coba (dia melanjutkan posisi membungkuknya, kepalanya di antara kedua lututnya)
Vladimir Tunggu (dia menghampiri Estragon dan duduk di sampingnya dan mulai menyanyi dengan suara keras) Nina bobo….nina bobo…
Estragon (menatapnya dengan marah) Jangan terlalu keras!
Vladimir (dengan lembut) Nina bobo…Nina bobo…. (Estragon tidur. Vladimir bangkit dengan perlahan, melepas jaketnya dan meletakkan di bahu Estragon, lalu mulai berjalan kesana-kemari mengayun-ayunkan lengannya untuk menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Estragon terbangun dengan tiba-tiba, wajahnya manpak liar. Vladimir berlari menuju Estragon, merangkulnya) tenang…tenang…didi di sini…jangan takut
Estragon Ah!
Vladimir Tenang…tenang….semuanya sudah berakhir
Estragon Aku tadi jatuh….
Vladimir Sudah berakhir, jangan memikirkannya lagi
Estragon Aku berada di puncak sebuah ….
Vladimir Jangan katakan! Mari, kita jalan-jalan (dia merangkul Estragon dan mengajaknya berjalan-jalan sampai Estragon menolak untuk berjalan lebih jauh lagi)
Estragon Sudah cukup, aku sudah lelah
Vladimir Kau lebih suka untuk terperangkap di sana tanpa melakukan apa pun
Estragon Ya
Vladimir Senangkan dirimu (dia melepaskan Estragon, mengambil jaketnya dan memakainya)
Estragon Ayo pergi
Vladimir Tak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita sedang menunggu Godot
Estragon Benar (Vladimir mondar-mandir) tidak bisakah kau diam di tempat?
Vladimir Aku kedinginan
Estragon Kita datang terlalu pagi
Vladimir Selalu pada saat malam datang
Estragon Tetapi malam tidak datang
Vladimir Akan datang dengan tiba-tiba. Seperti kemarin
Estragon Dan akan menjadi malam
Vladimir Dan kita bisa pergi
Estragon Dan akan datang hari yang lain (pause. Putus asa) apa yang akan kita lakukan, apa yang akan kita lakukan?
Vladimir (berhenti. Dengan keras) Bisakah kau berhenti merengek! Aku sudah muak mendengar ratapan-ratapanmu
Estragon Aku pergi!
Vladimir (melihat topi Lucky) Ah ya!
Estragon Selamat tinggal
Vladimir Topi Lucky (dia berjalan menuju topi) aku sudah berada di sini selama satu jam dan aku tidak melihatnya sama sekali (senang sekali) Baik!
Estragon Kau tidak akan pernah melihatku lagi
Vladimir Aku tahu kalau ini memang tempatnya. Sekarang masalah-masalah kita telah berakhir (dia mengambil topi, memeriksanya, memperbaiki bentuknya) ini pasti topi yang sangat bagus (dia memakai topi itu dan melepaskan miliknya yang kemudian diserahkan pada Estragon) ini
Estragon Apa?
Vladimir Pegang! (Estragon mengambil topi Vladimir. Vladimir menyesuaikan topi Lucky di kepalanya. Estragon memakai topi Vladimir dan melepas miliknya yang kemudian diserahkan ke Vladimir. Vladimir mengambil topi Estragon. Estragon menyesuaikan topi Vladimir di kepalanya. Vladimir memakai topi Estragon dan melepas topi Lucky yang kemudian diserahkan kepada Estragon. Estragon mengambil topi Lucky. Vladimir menyesuaikan topi Estragon di kepalanya. Estragon memakai topi Lucky dan melepas topi Vladimir yang diserahkan pada Vladimir. Vladimir mengambil topinya. Estragon menyesuaikan topi Lucky di kepalanya. Vladimir memakai topinya dan melepas topi Estragon dan diserahkan pada Estragon. Estragon mengambil topinya. Vladimir menyesuaikan topinya di kepalanya. Estragon memakai topinya dan melepas topi Lucky yang diserahkan pada Vladimir. Vladimir mengambil topi Lucky. Estragon menyesuaikan topi di kepalanya. Vladimir memakai topi Lucky dan melepas topi miliknya dan diserahkan pada Estragon. Estragon mengambil topi Vladimir. Vladimir menyesuaikan topi Lucky di kepalanya. Estragon menyerahkan kembali topi Vladimir pada Vladimir yang mengambilnya dan menyerahkannya kembali pada Estragon yang mengambilnya dan kemudian mengembalikannya kembali pada Vladimir yang mengambilnya dan kemudian menjatuhkannya) bagaimana topi ini bisa pas?
Estragon Mana aku tahu?
Vladimir Bukan. Bagaimana rupaku dengan topi ini (dia memutar-mutarkan kepalanya ke atas dank e bawah, bergaya seperti sebuah manekin)
Estragon Buruk sekali
Vladimir Ya. Tetapi apakah tidak lebih baik dari biasanya?
Estragon Tidak kurang-tidak lebih
Vladimir Kalau begitu aku bisa menyimpannya. Punyaku membuatku jengkel (pause) bagaimana aku mengatakannya? (pause) membuatku gatal (dia melepas topi Lucky, menatap tajam ke dalamnya. Mengguncang-guncangnya, mengetuk-ngetuk bagian atasnya, memakainya lagi)
Estragon Aku pergi (hening)
Vladimir Kau tidak ingin bermain?
Estragon Bermain apa?
Vladimir Kita dapat berperan sebagai Pozzo dan Lucky
Estragon Tidak pernah dengar tentang mereka
Vladimir Aku akan menjadi Lucky, kau Pozzo (dia menirukan Lucky yang melendut karena beratnya barang-barang bawaannya. Estragon menatapnya dengan heran) teruskan
Estragon Apa yang harus aku lakukan?
Vladimir Kutuk aku!
Estragon (setelah berpikir) Nakal!
Vladimir Lebih kasar!
Estragon Tahi! Bandit! (Vladimir berayun kesana-kemari, diulangnya dua kali)
Vladimir Suruh aku untuk berpikir
Estragon Apa?
Vladimir Katakan, berpikir Babi!
Estragon Berpikir, Babi!
Vladimir Aku tidak bisa!
Estragon Sudah cukup
Vladimir Suruh aku untuk menari
Estragon Aku pergi
Vladimir Menari celeng! (dia menggeliat-geliat. Estragon keluar lewat sayap kiri dengan tergesa-gesa) aku tidak bisa! (dia tengadah, kehilangan Estragon) Gogo! (dia bergerak dengan liarnya di sekitarpanggung. Masuk Estargon dari sayap kiri, terengah-engah. Dia bergegas menghampiri Vladimir, jatuh di lengannya) Di sini lagi kau akhirnya!
Estragon Terkutuklah aku!
Vladimir Di mana kau tadi? Aku kira kau sudah pergi untuk selamanya
Estragon Mereka datang!
Vladimir Siapa?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Berapa orang?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir (Dengan kemenangan) Itu pasti Godot! Akhirnya! Gogo! Itu Godot! Kita terselamatkan! (dia menarik Estragon menuju sayap. Estragon menolak, membebaskan dirinya, keluar lewat kanan) Gogo! Kembali! (Vladimir lari keujung kiri menatap horizon. Masuk Estragon dari sayap kanan, dia bergegas menghampiri Vladimir, jatuh di lengannya) Ah, kau datang lagi!
Estragon Aku berada di neraka
Vladimir Kau darimana?
Estragon Mereka juga datang dari sana
Vladimir Kita dikepung! (Estragon mencoba kembali dengan tergesa-gesa) Bodoh! Tidak ada jalan keluarnya (Dia merangkul Estragon dan menariknya ke depan. Tubuh menghadap ke depan) lihat! Tidak ada seorangpun! Cepat pergi! (dia menarik Estragon menghadap auditorium. Estragon melompat mundur ketakutan) kau tidak mau? (dia memeriksa auditorium) ya, aku bisa mengerti itu. tunggu sampai aku lihat. (dia berpikir) Satu-satunya harapanmu ialah menghilang
Estragon Di mana?
Vladimir Di balik pohon (Estragon bimbang) cepat! Di balik pohon itu (estragon berjalan dan berjongkok di belakang pohon, menyadari kalau tubuhnya tidak tersembunyi, keluar dari pohon) yang jelas pohon itu tidak akan banyak gunanya buat kita
Estragon (lebih tenang) Aku menghilangkan kepalaku. Maafkan aku. Hal itu tidak akan terjadi lagi. Katakan apa yang ahrus aku lakukan?
Vladimir Tidak ada yang bisa dilakukan
Estragon Kau berdirilah ke sana dan berdirilah (dia menarik Vladimir ke ujung kanan dan menempatkan punggung mengaghadap panggung) di sini, jangan bergerak dan perhatikan (Vladimir memandang horizon, membayang-bayangi matanya dengan tangannya. Estragon lari dan mengambil posisi yang sama, di ujung kiri. Mereka memutar kepalanya dan saling menatap) bahu membahu seperti masa lalu yang manis (mereka terus saling bertatapan untuk beberapa saat, lalu melihat jamnya. Hening panjang) Kau melihat ada sesuatu yang datang?
Vladimir (memutar kepalanya) Apa?
Estragon (lebih keras) Ada yang datang?
Vladimir Tidak
Estragon Begitu juga aku (Mereka melihat jam masing-masing. hening)
Vladimir Kau tadi Cuma melihat bayangan
Estragon (memutar kepalanya) Apa?
Vladimir (lebih keras) Kau tadi melihat bayangan!!
Estragon Tidak perlu berteriak! (mereka pun melihat jam. Hening)
Vladimir & Estragon (berpaling bersamaan) Apakah kau….
Vladimir Oh maaf!
Estragon Silahkan
Vladimir Tidak, tidak, kamu dulu
Estragon Tidak, tidak. Kamu dulu
Vladimir Aku menyela omonganmu
Estragon Sebaliknya (mereka saling menatap dengan marah)
Vladimir Simpanse beradat!
Estragon Babi beraturan!
Vladimir Aku bilang, selesaikan kalimatmu!
Estragon Selesaikan milikmu sendiri! (hening. Mereka saling mendekat. Berhenti)
Vladimir Tolol!
Estragon Ah, ide bagus, mari kita saling mengolok (mereka berputar, memisahkan diri, berputar lagi dan saling berhadapan)
Vladimir Bebal!
Estragon Kanibal!
Vladimir Abortus!
Estragon Morfinis!
Vladimir Tikus penjahit!
Estragon Pendeta!
Vladimir Kutu air!
Estragon (terakhir) Krrrrrritikussss!
Vladimir Oh! (dia mereda, kalah dan menjauh)
Estragon Sekarang mari kita berbaikan
Vladimir Gogo!
Estragon Didi!
Vladimir Tanganmu!
Estragon Terimalah!
Vladimir Dekap lenganku!
Estragon Lenganmu?
Vladimir Dadaku!
Estragon Kita berpelukan! (mereka berpelukan. Berpisah. Hening)
Vladimir Dalam gembira, waktu berjalan cepat (hening)
Estragon Apa yang kita lakukan sekarang?
Vladimir Sementara menunggu
Estragon Sementara menunggu (hening)
Vladimir Kita dapat melatih
Estragon Gerakan-gerakan kita
Vladimir Lompatan-lompatan kita
Estragon Relaksasi kita
Vladimir Peregangan kita
Estragon Relaksasi kita
Vladimir Untuk pemanasan
Estragon Untuk pendinginan
Vladimir Ayo kita lakukan (Vladimir melompat dari satu kaki ke kaki yang lain. Estragon menirunya)
Estragon (berhenti) Sudah cukup, aku lelah
Vladimir (berhenti) Kita tidak dalam kondisi sehat. Bagaimana kalau kita mengambil napas dalam-dalam?
Estragon Aku lelah bernapas
Vladimir Kau benar (pause) bagaimanaa kalau kita lari ke pohon itu, untuk penyeimbang
Estragon Pohon itu? (Vladimir berlari menuju pohon, lalu berjalan terhuyung-huyung dengan satu kaki)
Vladimir (berhenti) giliranmu (Estragon lari ke pohon terhuyung-huyung)
Estragon Menurutmu Tuhan melihatku?
Vladimir Kau harus tutup matamu (Estragon menutu matanya, semakin terhuyung-huyung)
Estragon(berhenti, mengcungkan kepalan tangannya, dengan suara yang sangat keras) Tuhan, kasihanilah aku!
Vladimir (kesal) Dan aku?
Estragon Aku! Aku! Mengasihani aku! (masuk Pozzo dan Lucky. Lucky penuh beban seperti sebelumnya. Tali kekang seperti sebelumnya, tetapi lebih pendek sehingga Pozzo dapat mengikutinya dengan lebih mudah. Lucky memakai topi yang berbeda. Di depan Vladimir dan Estragon dia berhenti sebentar. Pozzo melanjutkan jalannya dan menabraknya)
Vladimir Gogo!
Pozzo (mencengkram Lucky yang sempoyongan) Apa ini? Siapa ini? (Lucky jatuh, barang-barangnya ikut jatuh dan membuat pozzo pun terjatuh. Mereka tergeletak tak berdaya di antara barang-barang yang berserakan)
Estragon Itukah Godot?
Vladimir Akhirnya! (dia berjalan menghampiri tumpukan) bala bantuan, akhirnya
Pozzo Tolong!
Estragon Itukah dia?
Vladimir Kita sudah mulai lemah. Tapi sekarang aku yakin malam telah tiba
Pozzo Tolong!
Estragon Kau dengar dia?
Vladimir Kita tidak lagi sendirian, menunggu malam, menunggu Godot, menunggu untuk….menunggu. setiap malam kita telah berjuang, tanpa bantuan. Sekarang telah berakhir. Hari esok telah tiba
Pozzo Tolong!
Vladimir Waktu telah mengalir lagi. Matahari akan terbenam, bulan akan bersinar dan kita akan pergi… dari sini.
Pozzo Kasihanilah!
Vladimir Pozzo yang malang
Estragon Aku tahu pasti itu dia!
Vladimir Siapa?
Estragon Godot
Vladimir Tapi dia bukan Godot
Estragon Bukan Godot?
Vladimir Bukan Godot
Estragon Lalu siapa dia?
Vladimir Dia Pozzo
Pozzo Di sini! Di sini! Bantu aku berdiri!
Vladimir Dia tidak bisa berdiri
Estragon Ayo pergi
Vladimir Tidak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita sedang menunggu Godot
Estragon Benar!
Vladimir Mungkin dia punya tulang lain untukmu
Estragon Tulang?
Vladimir Ayam. Kau tidak ingat?
Estragon Diakah itu?
Vladimir Ya
Estragon Tanyakan padanya
Vladimir Mungkin kita harus menolongnya dulu
Estragon Melakukan apa?
Vladimir Membuatnya berdiri
Estragon Dia tak bisa berdiri
Vladimir Dia ingin berdiri
Estragon Kalau begitu biarkan dia berdiri
Vladimir Dia tak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Aku tidak tahu (Pozzo menggeliat kesakitan, mengerang, memukul-mukul lantai dengan kepalan tangannya)
Estragon Kita minta tulang dulu padanya. Lalu jika dia menolak, kita tinggalkan dia
Vladimir Maksudmu, sekarang dia yang kita kasihani?
Estragon Ya
Vladimir Jadi kita bisa berbuat baik karena sayarat-syarat tertentu?
Estragon Benar
Vladimir Pikiran yang cerdas. Tapi ada satu hal yang aku takutkan
Pozzo Tolong!
Estragon Apa?
Vladimir Kalau Lucky tiba-tiba lepas, kita akan diamuknya
Estragon Lucky?
Vladimir Dia salah seorang yang menyerangmu kemarin
Estragon Sudah kukatakan jumlah mereka ada sepuluh orang
Vladimir Bukan. Sebelum itu, dia orang yang menendangmu
Estragon Apakah dia di sana?
Vladimir Itu dia. Sebesar kehidupan (tubuhnya menghadap Lucky) untuk sesaat dia Nampak tenang, tapi pada menit berikutnya, dia bisa saja kemudian tiba-tiba mengamuk
Pozzo Tolong!
Estragon Bagaimana jika seandainya kita berdua memberinya pukulan yang bagus?
Vladimir Maksudmu kita melakukannya pada saat mereka tidur?
Estragon Ya
Vladimir Nampaknya ide bagus. Tapi bisakah kita melakukannya? Apakah dia benar-benar tertidur? (pause) Tidak, sebaiknya mengambil keuntungan ketika Pozzo berteriak minta tolong-
Pozzo Tolong!
Vladimir Dengan menolongnya
Estragon Kita menolongnya?
Vladimir Sebagai balas jasa
Estragon Dan seandainya dia-
Vladimir Jangan membuang-buang waktu dengan beromong kosong! (pause. Dengan suara keras) mari kita lakukan sesuatu, mumpung kita masih punya kesempatan! Tidak setiap waktu kita dibutuhkan! Tidak selalu kita secara pribadi benar-benar dibutuhkan. Orang lain mungkin akan menemukan kasus yang sama baiknya, jika tidak lebih baik. Tangisan minta tolong masih terngiang di telinga kita yang ditujukan pada setiap umat manusia! Tapi di tempat ini, pada saat ini, umat manusia itu adalah kita, suka atau tidak. Marilah kita melakukan yang terbaik, sebelum, semuanya menjadi sangat terlambat! Sekali ini, marilah kita mempersembahkan secara bermartabat segala jenis keculasan pada kekejaman yang merangkul nasib kita. Bagaimana menurutmu? (Estragon diam saja) benar, kalau kita mempertimbangkan baik dan buruk dengan tangan terlipat, maka derajat kita sebagai manusia akan berkurang, macan saja akan menolong sesamanya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, kalau tidak dia akan kabur ke kedalaman hutan. Tapi itu bukanlah pertanyaannya, apa yang sedang kita lakukan di sini, itulah pertanyaannya. Dan diberkatilah kita dalam hal ini, karena kita mendapatkan pengalaman untuk tahu jawabannya. Ya, dalam kebingungan yang tak terperi ini, ada satu hal yang jelas. Kita sedang menunggu Godot untuk datang
Estragon Benar!
Pozzo Tolong!
Vladimir Atau menunggu malam yang datang (pause) Kita sudah berjanji, dan kita harus tepati. Kita bukan orang-orang suci, tetapi kita tetap harus menepati janji kita. Berapa banyak orang yang dapat melakukan hal seperti itu?
Estragon Jutaan
Vladimir Menurutmu begitu?
Estragon Aku tak tahu
Vladimir Kau mungkin benar
Pozzo Tolong!
Vladimir Dalam situasi semacam ini, yang kuketahui adalah waktu begitu panjang dan mendesak kita untuk menipu mereka dengan cara yang – bagaimana aku harus mengatakannya – yang mungkin awalnya kelihatan masuk akal, sampai semua itu menjadi kebiasaan. Kau bisa saja mengatakan itu untuk mencegah agar kita tidak kehilangan akal. Tidak diragukan lag. Tetapi tidakkah itu berlangsung lama berkeliaran dalam malam tanpa akhir dari sebuah kedalaman jurang tanpa dasar? Itulah yang kadang-kadang aku pertanyakan. Kau menerima penalaranku?
Estragon (bingung sesaat) Kita semua terlahir gila. Sebagian masih mengingatnya demikian
Pozzo Tolong! Aku akan membayarmu!
Estragon Berapa?
Estragon Tidak cukup
Vladimir Aku tidak mau sejauh itu
Estragon Menurutmu sudah cukup?
Vladimir Bukan. Maksudku aku tidak mau begitu jauh menegaskan bahwa aku lemah ketika aku dilahirkan. Tetapi bukan itu pertanyaanya.
Pozzo Dua ratus!
Vladimir Kita menunggu, kita bosan (dia mengangkat tangannya ke atas) tidak, jangan protes, kita bosan setengah mati, tak bisa disangkal. Bagus, satu penghiburan tergelar dan apa yang kita lakukan? Kita membiarkannya percuma. Mari kita bekerja! (dia bergerak maju menuju tumpukan barang. Langkahnya terhenti) dalam sekejab segalanya akan sirna dan sekali lagi kita akan sendiri, di tengah-tengah kehampaan! (dia merenung)
Pozzo Dua ratus!
Vladimir Kami datang! (dia berusaha membangunkan pozzo untuk berdiri, gagal, mencoba lagi, tersandung, jatuh, berusaha beridir, gagal)
Estragon Ada apa dengan kalian semua?
Vladimir Tolong!
Estragon Aku pergi
Vladimir Jangan tinggalkan aku! Mereka akan membunuhku!
Pozzo Di mana aku?
Vladimir Gogo!
Pozzo Tolong!
Vladimir Tolong!
Estragon Aku pergi
Vladimir Bantu aku berdiri dulu, lalu kita pergi
Estragon Kau janji?
Vladimir Aku bersumpah!
Estragon Dan kita tak pernah kembali lagi?
Vladimir Tidak akan pernah!
Estragon Kita akan ke Pynerees
Vladimir Ke mana pun kau suka
Estragon Aku selalu ingin mengembara ke Pynerees
Vladimir Kau akan mengembara di sana
Estragon (melompat mundur) Siapa kentut?
Vladimir Pozzo
Pozzo Di sini! Di sini! Kasihanilah!
Estragon Ini memuakkan!
Vladimir Cepat! Ulurkan tanganmu
Estragon Aku pergi (pause. Lebih keras) aku pergi
Vladimir Ya, aku kira pada akhirnya aku akan berdiri sendiri (dia berusaha gagal) Cepat atau lambat
Estragon Ada apa denganmu
Vladimir Pergilah ke neraka
Estragon Apa kau akan tetap disana?
Vladimir Ya, untuk sementara waktu
Estragon Ayo bangunlah, kau akan kedinginan
Vladimir Jangan khawatirkan aku
Estragon Ayolah, Didi. Jangan keras kepala (dia mengulurkan tangannya di mana Vladimir berusaha menjangkaunya) ayo, berdirilah!
Vladimir Tarik! (Estragon menarik, tersandung, jatuh. Hening panjang)
Pozzo Tolong!
Vladimir Kami datang
Pozzo Siapa kalian?
Vladimir Kami manusia (hening)
Estragon Demi langit dan bumi!
Vladimir Dapatkah kau berdiri?
Estragon Aku tidak tahu
Vladimir Cobalah
Estragon Tidak, tidak. Jangan sekarang (hening)
Pozzo Apa yang terjadi?
Vladimir (dengan keras) Bisakah kau diam! Virus Kolera! Tak ada hal lain yang dipikirkannya kecuali dirinya sendiri!
Estragon Bagaimana jika aku tidur sejenak?
Vladimir Kau dengar dia? Dia ingin tahu apa yang terjadi!
Estragon Jangan hiruakan dia. Tidurlah (hening)
Pozzo Kasihani aku!
Estragon (dengan kekagetan) Apa ini?
Vladimir Apa kau tertidur?
Estragon Ya, mungkin.
Vladimir Pastilah si pelacur Pozzo lagi
Estragon Buat dia diam. Tending dia di bokongnya
Vladimir (menampar Pozzo) Bisakah kau diam, kepiting rebus! (Pozzo melepaskan tangisnya dan merangkak pergi. Dia berhenti dan berjalan terseok-seok dalam kebutaannya, berteriak minta tolong. Valdimir yang bersangga pada sikunya memandang kepergiannya) Dia pergi! (pozzo pingsan) dia jatuh!
Estragon Apa yang kita lakukan sekarang?
Vladimir Mungkin aku bisa merangkak ke tempatnya
Estragon Jangan tinggalkan aku!
Vladimir Atau mungkin aku dapat memanggilinya
Estragon Ya, panggilah dia
Vladimir Pozzo! (hening) Pozzo! (hening) Tidak ada jawaban
Estragon Bersama-sama
Vladimir & Estragon Pozzo! Pozzo!
Vladimir Dia bergerak
Estragon Kau yakin namanya Pozzo?
Vladimir (khawatir) Nyonya Pozzo! Kembali! Kami tidak akan menyakitimu! (hening)
Estragon Kita coba panggil dia dengan nama yang lain
Vladimir Aku khawatir dia sekarat
Estragon Pasti akan menyenangkan
Vladimir Apa yang akan menyenangkan?
Estragon Memanggilnya dengan nama yang lain, satu demi satu. Untuk menghabiskan waktu. Dan cepat atau lambat kita akan dapat menemukan nama yang tepat
Vladimir Kuberitahu, namanya Pozzo
Estragon Kita akan segera tahu (dia berpikir) Abi! Abi!
Vladimir Mungkin yang lain adalah Cain! Cain! Cain!
Pozzo Tolong!
Estragon Dia seluruh umat manusia! (hening) lihatlah awan kecil itu
Vladimir (membuka matanya) Mana?
Estragon Itu di sana. Di cakrawala.
Vladimir Lalu kenapa? (pause) apanya yang menarik? (hening)
Estragon Sudahlah kita cari hal lain saja. Kau keberatan?
Vladimir Aku baru saja mengusulkannya
Estragon Tetapi untuk apa?
Vladimir Benar! (hening)
Estragon Seandainya kita berdiri untuk mulai melakukan sesuatu
Vladimir Tidak ada salahnya kita coba (mereka berdiri)
Estragon Permainan bocah
Vladimir Ini tentang kehendak berkuasa
Estragon Dan sekarang?
Pozzo Tolong!
Estragon Ayo pergi
Vladimir Tidak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita sedang menunggu Godot
Estragon Benar! (putus asa) Apa yang kita lakukan, apa yang akan kita lakukan!?
Pozzo Tolong!
Vladimir Bagaimana jika kita menolongnya?
Estragon Apa yang dia inginkan?
Vladimir Dia ingin berdiri
Estragon Lalu kenapa dia tidak melakukannya?
Vladimir Dia ingin kita membantunya
Estragon Lalu kenapa kita tidak melakukannya? Apa yang kita tunggu? (mereka membantu Pozzo berdiri, melepaskannya. Dia jatuh)
Vladimir Kita harus menahannya (mereka membangunkannya lagi, Pozzo bergantung di antaranya, lengannya melingkar di leher mereka) merasa lebih baik?
Pozzo Siapa kalian?
Vladimir Kau tidak kenal kami?
Pozzo Aku buta? (hening)
Estragon Mungkin dia bisa melihat masa depan
Vladimir Sejak kapan? Pozzo Aku dulu memiliki penglihatan yang baik – tetapi apakah kalian teman?
Estragon (tertawa terbahak-bahak) Dia ingin tahu apakah kita berteman!
Vladimir Bukan. Maksudnya apakah kita temannya
Estragon Bagaimana menurutmu?
Vladimir Kita sudah buktikan dengan menolongnya
Estragon Tepat. Apakah mungkin kita akan menolongnya jika kita bukan temannya?
Vladimir Mungkin saja
Estragon Benar
Vladimir Sudahlah. Tak usah lagi kita berdebat tentang hal itu
Pozzo Kalian bukan pengembara?
Estragon Pengembara? Apakah kami Nampak seperti pengembara?
Vladimir Bangsat! Apakah kau tidak lihat, dia itu buta!
Estragon Bangsat! Begitu juga diia (pause) begitu yang dia katakan
Pozzo Jangan tinggalkan aku
Vladimir Jangan khawatirkan tentang hal itu
Estragon Untuk sementara waktu
Pozzo Jam berapa sekarang? Vladimir (memandang langit) Jam tujuh….delapan….
Estragon Tergantung musim apa sekarang
Pozzo Apakah sudah malam? (hening. Vladimir dan Estragon mengamati matahari terbenam)
Estragon Mulai terbit
Vladimir Tidak mungkin
Estragon Mungkin sekarang dini hari
Vladimir Jangan bodoh. Lihat di sana barat
Estragon Darimana kau tahu?
Pozzo (penuh penderitaan) Apakah sekarang malam
Vladimir Bagaimana pun matahari belum bergerak
Estragon Kukatakan padamu kalau dia sedang terbit
Pozzo Kenapa kalian tidak menajwab pertanyaanku?
Estragon Kami tidak ingin member jawaban konyol
Vladimir (meyakinkan) Sekarang malam nyonya, sudah malam. Dia sudah dekat, temanku ini meragukannya dan harus aku akui kalau dia mengejutkanku sesaat. Tetapi tidak apa-apa, aku sudah terbiasa selama ini dan aku dapat meyakinkanmu kalau saat ini malam sudah sampai pada akhir repertoarnya (pause) Bagaimana perasaanmu sekarang?
Estragon Berapa lama lagi kita harus menahan badannya? (Mereka setengah melepaskannya, menangkapnya lagi saat dia jatuh) kita toh bukan tongkat penyangga
Vladimir Kau tadi mengatakan kalau dulu kau memiliki penglihatan yang sangat bagus, jika aku tidak salah dengar
Pozzo Sangat bagus! Sangat bagus! Penglihatan yang sangat bagus!
Estragon (dengan marah) Berlebihan!
Vladimir Biarkan dia. Tidakkan kau lihat kalau dia sedang mengenang masa-masa indahnya? (pause) memoria Praeteritorium bonorum – pasti hal itu tidak menyenangkan
Estragon Kita tidak akan tahu
Vladimir Dan hal ini terjadi padamu dengan tiba-tiba?
Pozzo Cukup indah!
Vladimir Aku bertanya padamu apakah hal ini terjadi dengan tiba-tiba
Pozzo Aku bangun pada suatu hari yang indah, sebuta keberuntungan (pause) kadang-kadang aku bertanya apakah bukannya aku masih tidur?
Vladimir Kapan itu?
Pozzo Aku tidak tahu
Vladimir Tetapi tidak lebih dari kemarin -
Pozzo Jangan tanyai aku! Orang buta tidak pernah punya catatan tentang waktu. Hal-hal mengenai waktu juga tersembunyi dari mereka
Vladimir Tidak sejelek itu! aku berani bersumpah bahwa sebaliknya
Estragon Aku pergi
Pozzo Di mana kita? Vladimir Aku tidak bisa mengatakannya padamu
Pozzo Jika tidak salah, bukankah ini tempat yang dikenal sebagai geladak?
Vladimir Tidak pernah dengar
Pozzo Bagaimana keadaannya?
Vladimir (melihat sekitarnya) Tak bisa digambarkan. Seperti kekosongan. Tidak ada apa-apanya. Hanya sebuah pohon
Pozzo Kalau begitu ini bukan geladak
Estragon (melendut) Ini hiburan
Pozzo Dimana pembantuku?
Vladimir Dia ada di sekitar sini
Estragon Lalu mengapa dia tidak menjawab panggilanku?
Vladimir Aku tidak tahu. Dia nampaknya tertidur. Mungkin dia mati
Pozzo Apa yang sebenarnya terjadi?
Estragon Setepatnya!
Vladimir Kalian berdua tergelincir (pause) dan jatuh
Pozzo Coba lihat apakah dia terluka
Vladimir Kami tidak dapat meninggalkanmu
Pozzo Kalian tidak perlu pergi berdua
Vladimir(pada Estragon) Kau yang pergi
Estragon Setelah apa yang dia lakukan padaku? Tidak mau!
Pozzo Ya, ya. Biar temanmu saja yang pergi, dia sangat bau (hening) Apa yang ditunggunya?
Vladimir Apa yang kau tunggu?
Estragon Aku sedang menunggu Godot (hening)
Vladimir Setepatnya apa yang harus dia lakukan?
Pozzo Begini, untuk memulainya dia harus menarik talinya sekeras dan sepanjang yang dia mau asalkan dia tidak mencekiknya. Dia biasanya akan bereaksi. Jika tidak, dia harus mendekatkan sepatu bootnya pada jarak tertentu di wajahnya agar dapat tercium olehnya
Vladimir (pada Estragon) Kau dengar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini bahkan suatu kesempatan untuk membalas dendam
Estragon Dan jika dia membela diri?
Pozzo Tidak, tidak, dia tidak pernah membela diri
Vladimir Aku akan segera terbang menyelamatkanmu
Estragon Kau harus terus mengawasiku (dia pergi menghampiri Lucky)
Vladimir Pastikan bahwa dia masih hidup sebelum kau memulainya. Usahamu tidak akan ada nilainya jika dia mati
Estragon(membungkuk di depan Lucky) Dia bernapas
Vladimir Kalau begitu biarkan dia menikmatinya (dengan kemarahan yang tiba-tiba, estragon mulai menendang Lucky, menyiksanya seperti yang pernah dilakukan Lucky padanya. Tetapi kemudian kakinya kesakitan dan dia mulai menjauh, terhuyung-huyung dan merintih. Lucky berputar-putar)
Estragon Oh liar! (dia duduk di atas gundukan dan mulai melepaskan sepatu bootnya. Tetapi sesaat kemudian dia berhenti dan mulai mengatur tubuhnya untuk tidur, kedua lengannya diletakkan di atas lututnya dan kepalanya di atas lengannya)
Pozzo Ada apa lagi sekarang?
Vladimir Temanku melukai dirinya sendiri
Pozzo Dan Lucky?
Vladimir Oh, jadi itu dia?
Pozzo Apa?
Vladimir Dia Lucky?
Pozzo Aku tak mengerti
Vladimir Dan kau Pozzo?
Pozzo Tentu saja aku Pozzo
Vladimir Pozzo yang sama dengan yang kemarin?
Pozzo Kemarin?
Vladimir Kita bertemu kemarin (hening) kau tidak ingat?
Pozzo Aku tidak ingat kalau pernah berjumpa dengan seseorang kemarin. Tapi besok aku tidak akan ingat kalau pernah bertemu dengan seseorang hari ini. Jadi jangan paksa aku untuk menjelaskannya padamu
Vladimir Tapi -
Pozzo Cukup. Bangun Babi!
Vladimir Kemarin kau membawanya ke pasar untuk dijual. Kau katakan itu pada kami. Dia menari. Dia berpikir. Kau masih dapat melihat jelas
Pozzo Semaumulah! Biarkan aku pergi! (Vladimir menjauh) Bangun! (Lucky bangun, mengumpulkan barang-barang bawaannya)
Vladimir Kau akan kemana setelah ini?
Pozzo Jalan. (Lucky yang sarat dengan beban menurun badannya, kemudia mengambil tempat di depan Pozzo) cambuk! (Lucky menurunkan semua barangnya, mencari cambuk, menemukannya, meletakkannya di tangan Pozzo, mengangkat semua barangnya lagi) Tali! (Lucky menurunkan barang-barangnya, mengambil ujung tali dan memebrikannya di tangan Pozzo, mengangkat kembali semua barangnya)
Vladimir Apa yang ada di dalam tali?
Pozzo Pasir (dia menyentakkan tali) Jalan!
Vladimir Jangan pergi dulu!
Pozzo Aku pergi
Vladimir Apa yang akan kau lakukan bila kau jatuh dan tidak ada yang menolongmu?
Pozzo Kami menunggu sampai kami dapat berdiri. Lalu kami pergi. Jalan!
Vladimir Sebelum kau pergi suruhlah dia untuk menyanyi
Pozzo Siapa?
Vladimir Lucky
Pozzo Menyanyi?
Vladimir Ya. Atau berpikir. Atau berdeklamasi
Pozzo Tetapi dia dungu
Vladimir Dungu!
Pozzo Dungu. Bahkan dia tidak bisa merintih
Vladimir Dungu. Sejak kapan?
Pozzo (tiba-tiba marah) Bisakah kau tidak menyiksaku dengan waktumu yang terkutuk! Ini mengerikan! Kapan! Kapan! Suatu hari, tidakkah hal itu cukup bagimu, suatu hari seperti hari yang lain, suaatu hari dia menjadi dungu, suatu hari aku menjadi buta, suatu hari kita akan menjadi tuli, suatu hari kita lahir, suatu ahri kita mungkin mati, pada hari yang sama, pada detik yang sama, tidak cukupkah hal itu buatmu? (lebih tenang) Mereka lahir di atas kesedihan, cahaya bersinar dengan segera, lalu sekali lagi malam datang (dia menyentakkan talinya) jalan! (Pozzo dan Lucky keluar. Vladimir mengikuti mereka sampai ujung panggung, memandangi kepergian mereka. Suara rebut orang jatuh, tergambar dengan mimic Vladimir, kalau mereka jatuh lagi. Hening. Vladimir menghampiri Estragon, menatapnya sesaat, lalu mengguncang-guncang tubuhnya)
Estragon (dengan gesture liar, kata yang membingungkan. Akhirnya) kenapa kau tidak pernah membiarkaku tidur?
Vladimir Aku kesepian
Estragon Aku tadi mimpi aku berbahagia
Vladimir Lumayan untuk mengisi waktu
Estragon Aku tadi mimpi kalau -
Vladimir (dengan keras) Jangan ceritakan padaku! (sunyi) aku ragu apakah dia benar-benar buta
Estragon Buta? Siapa? Vladimir Pozzo?
Estragon Buta?
Vladimir Dai katakan pada kita kalau dia buta
Estragon Menurutmu sendiri, bagaimana?
Vladimir Sepertinya dia melihat kita
Estragon Kau bermimpi (pause) Ayo kita pergi. Kita tidak bisa! Benar (pause) kau yakin kalau itu bukan dia?
Vladimir Siapa?
Estragon Godot
Vladimir Tetapi siapa?
Estragon Pozzo
Vladimir Bukan sama sekali! (berkurang keyakinannya) bukan sama sekali (masih berkurang keyakinannya) Bukan sama sekali!
Estragon Menurutku sebaiknya aku berdiri (dia berdiri dengan kesakitan) ow! Didi!
Vladimir Aku tidak tahu harus berpikir apalagi
Estragon Kakiku! (dia duduk, mencoba melepas sepatu bootnya) bantu aku!
Vladimir Tertidurkah aku, saat yang lain menderita? Tidurkah aku sekarang? Besok ketika aku bangun, atau mengira aku bangun, apakah yang sebaiknya aku katakan hari ini? Bahwa bersama Estragon temanku, di tempat ini, sampai malam tiba, aku menunggu Godot? Bahwa Pozzo lewat, dengan bawaannya, dan bercakap-cakap dengan kami? Mungkin saja. Tapi dari itu semua, kebenaran apa yang mungkin terkandung di dalamnya? (Estragon, setelah sia-sia mencoba berjuang melepas sepatunya, mulai tertidur lagi. Vladimir menatapnya) dia tidak akan tahu apa-apa. Dia akan menceritakan padaku tentang pukulan-ukulan yang dia terima dan aku akan memberinya sebuah wortel (pause) ,mengangkangi kubur dan kelahiran yang sulit. Di kedalaman lubang secara berkepanjangan, penggali kubur meletakkan peralatannya. Kita punya banyak waktu untuk menjadi tua. Udara penuh dengan tangisan-tangisan kita (dia mendengarkan) tetapi kebiasaan dalah pembunuh besar (dia melihat Estragon kembali) padaku jugalah orang lain memandang, padaku juga orang lain berkata. Dia sedang tidur. Dia tidak tahu apa-apa, biarkan dia melanjutkan tidur (pause) aku tak dapat melanjutkan (pause) apa yang telah aku katakan? (dia berjalan mondar-mandir dengan cemas, akhirnya berhenti di ujung kiri panggung, merenung. Masuk seorang bocah dari kanan panggung. Dia berhenti. Hening)
Anak Nyonya… (Vladimir berpaling) Nyonya Albee…
Vladimir Ah, kau datang lagi (pause) kau tidak mengenaliku?
Anak Tidak, nyonya
Vladimir Bukan kau yang datang kemarin?
Anak Bukan, nyonya
Vladimir Ini yang pertama buatmu?
Anak Ya, nyonya
Vladimir Kau membawa pesan dari Godot?
Anak Ya, Nyonya
Vladimir Dia tidak akan datang malam ini
Anak Tidak, nyonya
Vladimir Tapi dia akan datang besok
Anak Ya, nyonya
Vladimir Tanpa halangan
Anak Ya, nyonya (hening)
Vladimir Apakah kau bertemu dengan seseorang?
Anak Tidak, nyonya
Vladimir Dua orang….(dia bimbang)…wanita?
Anak Aku tidak melihat siapapun nyonya
Vladimir Apa pekerjaan Godot? (hening) kau mendengarkan?
Anak Ya, nyonya
Vladimir Ya, bagaimana?
Anak Dia tidak mengerjakan apapun, Nyonya (hening)
Vladimir Bagaimana kabar saudaramu?
Anak Dia sakit, nyonya
Vladimir Mungkin dia yang datang kemarin?
Anak Aku tidak tahu nyonya (hening)
Vladimir (dengan lembut) Dia punya jenggot, bukan. Si Godot?
Anak Ya, nyonya
Vladimir Pirang atau…(dia bimbang)… atau hitam?
Anak Aku kira putih, nyonya (hening)
Vladimir Kristus kasihanilah kami! (hening)
Anak Apa yang harus aku katakan pada Godot, nyonya?
Vladimir Katakan padanya…(dia bimbang)…katakan padanya kalau kau bertemu denganku dan kalau…(dia bimbang)…. Kalau kau bertemu denganku. (pause. Vladimir maju, anak itu melompat mundur. Vladimir berhenti, anak itu juga berhenti. Dengan suara keras tiba-tiba) kau yakin bertemu denganku, kau tidak akan datang dan mengatakan padaku besok kalau kau tidak pernah bertemu denganku! (hening. Vladimir tiba-tiba melakukan lompatan jauh ke depan, anak itu menghindar dan lari keluar. Hening. Matahari terbenam, bulan bersinar. Seperti dalam adegan I, Vladimir berdiri diam dan kepalanya tertunduk. Estragon bangun, melepas sepatu bootnya, berdiri dengan masing-masing tangannya membawa sepatu bootnya dan berjalan lalu meletakkan sepatunya di tengah menghadap ke depan, lalu menghampiri Vladimir)
Estragon Apa yang terjadi denganmu?
Vladimir Tidak ada
Estragon Aku pergi
Vladimir Aku juga
Estragon Apakah tidurku lama?
Vladimir Aku tidak tahu (hening)
Estragon Kemana kita pergi
Vladimir Tidak jauh
Estragon Oh, ya. Ayo kita pergi jauh dari sini
Vladimir Tidak bisa
Estragon Kenapa tidak?
Vladimir Kita harus kembali lagi besok
Estragon Untuk apa?
Vladimir Untuk menunggu Godot
Estragon Ah! (hening) dia tidak datang?
Vladimir Tidak
Estragon Dan sekarang sudah terlambat
Vladimir Ya, sekarang sudah malam
Estragon Dan jika kita meninggalkannya? (pause) bagaimana jika kita meninggalkannya?
Vladimir Dia akan menghukum kita (hening. Dia melihat ke pohon) segalanya mati kecuali pohon itu
Estragon (melihat ke pohon) Apa itu?
Vladimir Itu pohon
Estragon Ya, tapi pohon jenis apa?
Vladimir Aku tidak tahu. Pohon kayu (Estragon menarik Vladimir menuju pohon. Mereka berdiri diam di depannya. Hening)
Estragon Kenapa kita tidak gantung diri?
Vladimir Dengan apa?
Estragon Kau bahkan tak punya seutas tali?
Vladimir Tidak
Estragon Kalau begitu kita tidak bisa melakukannya (hening)
Vladimir Ayo pergi
Estragon Tunggu. Ada sabukku
Vladimir Tapi terlalu pendek
Estragon Kau dapat bergantung pada kakiku
Vladimir Lalu siapa yang bergantung di kakiku?
Estragon Benar
Vladimir Semuanya sama saja (Estragon mengendorkan tali yang menggantung di celananya yang kedodoran untuknya, jatuh disekitar mata kakinya. Mereka melihat tali yang jatuh) kita mungkin dapat berhasil dengan menggunakan jepitan. Tapi apakah tali ini cukup kuat?
Estragon Kita akan segera tahu. Ini (mereka masing-masing memegang ujung tali dan menariknya. Tali itu putus. Mereka hampir jatuh)
Vladimir Tidak lebih dari sebuah kutukan (hening)
Estragon Katamu kita harus kembali besok?
Vladimir Ya
Estragon Kalau begitu kita bisa membawa seutas tali
Vladimir Ya. (hening)
Estragon Didi
Vladimir Ya
Estragon Aku tidak bisa terus begini
Vladimir Itu pikirmu
Estragon Bagaimana jika kita berpisah? Mungkin akan lebih baik buat kita
Vladimir Kita akan gantung diri besok. (pause) kecuali jika Godot datang
Estragon Dan jika dia datang?
Vladimir Kita akan terselamatkan (Vladimir melepas topinya – yang sebenarnya milik Lucky – menatap tajam ke dalamnnya, meraba-raba bagian dalamnya, menguncang-guncangkannya, mengetuk-ngetukkan bagian atasnya, memakainya kembali)
Estragon Bagaimana, bisakah kita pergi sekarang?
Vladimir Tarik celanamu
Estragon Apa?
Vladimir Tarik celanamu
Estragon Kau ingin melepas celanaku?
Vladimir Tarik celanamu
Estragon (sadar kalau celananya melorot ke bawah) Benar (dia menarik celananya ke atas)
Vladimir Bagaimana? Bisakah kita pergi sekarang?
Estragon Ya, ayo kita pergi (mereka tidak bergerak)
LAYAR
THE END ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FESTIVAL TOPENG (Juara Harapan I Sayembara menulis Naskah Drama DKJ 2003) Karya Budi Ros
Dramatic Personae
Mbah Joyo 70 Tahun Blentung; anak Joyo 35 Tahun Mitro 35 tahun Genggong; Ketua Panitia 65 tahun Laras; Nyonya Genggong 55 Tahun Jarkoni; Lurah Desa 40 tahun Sami’un 45 tahun Kamun 30 tahun Bawor 30 tahun Gubil 30 tahun Tuji 30 tahun Kirno 40 tahun Peang 25 tahun Panjul 25 tahun Orang ke 1 Orang ke 2 Orang ke 3 Orang ke 4 Orang ke 5; Kakek Bawor 70 tahun Mijem; istri Kirno 39 tahun Sukasih; istri Peang 20 tahun Warti 17 tahun
MC 3 ksatria utama; peserta Festival Topeng Parjan; peserta Festival Topeng Pono; peserta Festival Topeng Yasmudi Parmin Kamto Wahyu Panitia yang menggiring arak-arakan Petugas Ngaisah; istri Yasmudi
PEMBUKA
Jalanan Desa. Pagi. Iring-iringan peserta festival topeng bergerak menuju tanah lapang, tempat festival tahunan khas desa itu biasa digelar. Meriah betul suasananya. Terdengar bunyi tetabuhan penuh gereget. Di pinggir jalan itu, tampak orang-orang sedang bergerombol menonton dan menambah meriah suasana. Mereka saling berbisik, mengomentari, menyoraki dan mengolok. Juga mengumpat dan memaki. Semua ucapan itu serba spontan dan jujur hingga tak seorang pun sakit hati. Kasmun, Bawor, Gubil dan Tuji, pemuda desa yang paling vocal sedang mengomentari para calon peserta festival topeng yang menurut mereka “aneh-aneh” dan lucu-lucu.
KASMUN Wah, ini baru festival. Hebat….hebat. pesertanya banyak betul
BAWOR Ya. Belum pernah sebanyak ini
TUJI Kalau tidak percuma dong. Sumbangan kita tahun ini juga paling besar
BAWOR Betul. Paling besar
KASMUN Buset!!! Topeng apa itu, Parjan!? Serem amat, kayak memedi sawah
PARJAN Diam kamu. Tahu apa kamu selain cangkul dan combronya Jamilah? Ini seni, monyong!
Orang-orang tertawa
GUBIL Apanya yang seni? Berani bertaruh, nggak bakalan menang, Parjan. Jauh…jauh….
PARJAN Menang kalah urusan belakangan, yang penting partisipasi. Daripada kalian, sawah melulu yang diurusin. Sekali-kali ikut festival dong kayak saya. Ini hiburan sehat, rekreasi sekaligus melestarikan tradisi leluhur
KASMUN Leluhur siapa? Leluhur kita sudah lama mati, Parjan. Tradisi juga sudah lama sekarat, tinggal nunggu koit. Kalau Sri Lestari masih ada. Di Jakarta dia jadi babu
Orang-orang tertawa
PANITIA Saudara-saudara, mohon tenang!
GUBIL Wah, lihat itu! Ada lagi yang aneh. Siapa itu? Rada bagus kelihatannya
KASMUN Yang mana?
GUBIL Itu! yang warna ijo
TUJI O, ya itu, bagus itu
KASMUN (Mengamati) Itu!? Apanya yang bagus, kayak genderuwo begitu! Heh topeng ijo, siapa kamu!?
ORANG-ORANG Kastubi… Kastubi….
PONO (Menggoda) Mana bisa kalian tahu siapa saya. Kalau bisa nebak, jago!
TUJI Dari suaranya sih bukan Kastubi, saya hapal betul suara dia
GUBIL Buka saja topengnya, buka!
TUJI Jangan! Panitianya melihat kita. Bisa marah dia
KASMUN (Tidak sabar, menyibak iring-iringan lalu membuka topeng ijo) O, kamu Pono! Lagaknya ikut-ikutan Festival Topeng. Bikin tanggul sawah saja belum lurus, banyak polah
PONO Biar saja, yang penting topengnya bagus
KASMUN Apanya yang bagus? Topeng kayak genderuwo begitu dibilang bagus
BAWOR Genderuwi masih lebih bagus. Itu mirip buto ijo kecebur sawah, nggak jelas mana jidat mana tengkuk
Orang-orang tertawa
PANITIA Mohon tenang saudara-saudara. Tenang! Tertib! Setelah orang-orang tenang
PANITIA Harap jangan mengganggu para peserta. Ini bukan acara guyonan. Ini serius. Sacral. Tanpa ferstival ini, desa kita bisa gawat. Para leluhur bisa marah dan desa kita terancam bahaya. Jadi, mohon tenang dan tertib. Dan lagi, belum waktunya saudara-saudara memberikan penilaian. Festival ini belum dimulai. Nanti ada gilirannya. Sabar.
Iring-iringan terus bergerak menuju tanah lapang di sudut desa. Celetukan terus berlangsung. Walau tidak seriuh sebelumnya. Tetabuhan yang mengiringi juga tetap bersemangat
BAWOR Wah, siapa lagi itu? Satu orang bawa banyak topeng. Edan…edan…
TUJI Pasti dia penggemar Dasamuka
GUBIL Ya betul Dasamuka. Si muka sepuluh, alias si boros muka. Eit, tunggu dulu. Itu Mbah Joyo bukan?
BAWOR Mana?
GUBIL Itu! Yang dibelakang muka sepuluh
BAWOR Ah, ya betul. Itu Mbah Joyo. Kenapa?
GUBIL Ya, kenapa? Kenapa dia tak pakai topeng?
KASMUN Apa? Mbah Joyo tidak pake topeng? Mana? (setelah melihat) Ah, ya betul. Mbah Joyo tidak pakai topeng. Kenapa bisa begitu? (Kepada orang-orang) Lihat! Lihat saudara-saudara! Mbah Joyo tidak pakai topeng (Mendekati Mbah Joyo) Mbah, Mbah Joyo, kenapa Mbah tidak pakai topeng? Mana topeng-topeng termashyur itu, Mbah? Mbah Joyo…. Mbah….
Mbah Joyo diam saja. Wajahnya dingin.
KASMUN Lihat saudara-saudara, lihat. Mbah Joyo tanpa topeng
Semua orang heran memandang Mbah Joyo. Mereka tidak mengerti mengapa orang tua itu tidak memakai topeng, seperti yang lain. Sementara itu, iring-iringan terus berjalan dan hilang di tikungan jalan
LAMPU BERUBAH ADEGAN SATU
Ladang milik Blentung. Di pinggir desa. Pagi. Blentung sedang bekerja di ladang. Mitro tetangga dekatnya bergegas lewat
BLENTUNG Lho!?
MITRO Lho!? Tidak salah lihat ini?
BLENTUNG Apanya yang salah?
MITRO Kok situ di ladang?
BLENTUNG Kok situ juga di pinggir ladang? Kalau saya kan petani, apa salahnya petani di lading?
MITRO Saya juga tengkulak hasil lading, apa salah saya di pinggir lading. Memang itu kerja saya, mengawasi orang-orang panen sayuran dan palawija. Lalu membelinya dan kemudian menjualnya ke kota. Lha, tidak salah kan?
BLENTUNG Jadi….
MITRO Jadi?
BLENTUNG (Tertawa) Ya, memang tidak salah. Cuma kalau para tetangga melihat keberadaan situ di pinggir lading sekarang ini, bisa…..
MITRO …. Bisa menyulitkan kita
BLENTUNG Betul. Menyulitkan kita. Eh, kok kita. Menyulitkan kamu. Jangan bawa-bawa saya dong….
MITRO (Tertawa) Sebenarnya ada apa kita ini Blentung?
BLENTUNG Lho, kok kita lagi. Situ dong yang ada apa. Saya tidak ada apa-apa
MITRO Ada, Blentung. Ada. Kita ada apa-apa. Maksud saya bukan antara kita. Tapi, kita dengan orang kebanyakan, dengan masyarakat desa ini. Kita lain. Coba, semua orang sekarang ada di sana, mengikuti festival topeng. Atau setidaknya datang menonton. Tapi kita? Apa pun alasannya, kita ini melarikan diri dari mereka, dari festival itu. Padahal, situ kan anak Mbah Joyo, rajanya festival sejak puluhan tahun lalu
BLENTUNG Dan situ…. Situ adalah keluarga donatur festival topeng terbesar turun temurun, sejak puluhan tahun lalu juga
MITRO Ya, itulah mengapa saya bilang ‘kita’. Situ dan saya. Ayolah Blentung, duduk dan ceritakan. Kita kan kawan sejak masa kanak-kanak. Apa salahnya saling membuka hati?
BLENTUNG (terpaksa duduk) Ini kenapa jadi terbalik ya? Lading ini lading saya. Jadi, sayalah tuan lading. Tapi situ yang menyilakan saya duduk. Yang bilang ada masalah juga situ, tapi saya yang disuruh cerita. Bagaimana bisa? Aneh. Situ dulu dong, kan tadi situ yang pertama bilang ada masalah
MITRO Sama-sama Blentung, sama-sama. Kita saling cerita, saling membuka diri
BLENTUNG Saling membuka hati? Wah, indah sekali kedengarannya (Tertawa) apa mungkin itu? Sejak kapan kita punya kebiasaan saling membuka hati? Tapi baik, kalau emmang bisa. Baik, silakan situ duluan.
MITRO Lho?
Keduanya tertawa
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA
Tanah lapang, tempat festival topeng berlangsung, pagi. Festival segera dimulai, rupanya ketua panitia sedang memberikan pengarahan kepada seluruh peserta. Semua tampak bersemangat, meriah namun tertib
KETUA PANITA Nah, saudara sekalian, seluruh warga desa Mosokambang yang saya cintai. Demikianlah tadi pengarahan saya selaku ketua panitia. Saya tidak akan berpanjang lebar sebab segala sesuatunya sesungguhnya sudah jelas. Tugas kami yang paling utama adalah membuka dan menutup festival ini. Kami hanya berpesan agar acara ini berlangsung seee… meriah mungkin, seee…. Khidmat mungkin, namun tetap aman dan tertib. Hidup kita tidak akan bahagia, apalah artinya sawah lading kita yang subur, panen melimpah dan ternak kita yang gemuk-gemuk jika perasaan kita tidak aman dan bahagia? Dan, untuk itulah diperlukan upaya-upaya. Dibentuknya tim juri, hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, adalah bentuk upaya itu. Tim juri bukanlah kelompok tandingan bagi penilaian masyarakat terhadap festival ini, tetapi dimaksudkan sebagai partner kerja saudara-saudara. Agar dalam memberikan penilaian nanti, saudara-saudara bisa lebih terarah, bijaksana, fair dan memuaskan semua pihak Kami tahu, kemenangan bukanlah tujuan utama festival ini. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menghormati tradisi leluhur dan ingin melestarikannya. Tetapi bagaimana pun, penilaian yang objektif dari masyarakat adalah factor penting. Tanpa objektifitas, para peserta akan marah. Ketentraman dan kebahagiaan hidup masyarakat kita pun bisa terganggu. Betul tidak saudara-saudara?
ORANG-ORANG Betulll….
KETUA PANITIA Lho, mana tepuk tangannya?
Semua bertepuk tangan, tapi tampak ogah-ogahan. Ketua panitia tampak kurang senang. Jarkoni, lurah desa itu memberi aba-aba supaya orang-orang bertepuk tangan lebih keras. Orang-orang menurut. Ketua panitia tampak lega
KETUA PANITIA (Tersenyum) Terima kasih…. Terima kasih. Jadi sekali lagi saudara-saudara, tepuk tangan itu – maaf, maksud saya – objektifitas itu penting
PETUGAS Juga ketertiban dan keamanan, pak
KETUA PANITIA Ya, betul! Ketertiban dan keamanan!
LAMPU BERUBAH
ADEGAN TIGA
Di bukit yang tidak jauh dari tempat festival berlangsung. Pagi. Beberapa orang tengah mengawasi jalannya festival, mereka adalah watga desa itu juga. Tapi tidak tertarik untuk ikut atau pun hadir. Mereka Cuma berkomentar dari jauh. Kirno, Peang dan Panjul ada diantara mereka.
ORANG-ORANG (bersama-sama) Mmm…ck….ck….luar biasa, luar biasa. Hebat, hebat…. Top…. Top…. Oke…. Oke…. Yahud…. Yahud….
PANJUL Jadi, bagaimana? Kita ini gembira, kagum atau sedih?
KIRNO (Berpikir agak lama) Tidak tahu
PEANG Tidak tahu saja pakai mikir (Sok tahu) kalau perasaan saya sih macam-macam, kang.
KIRNO Macam-macam boleh saja, tapi apa?
PANJUL Ya, apa? Jelasnya apa?
PEANG Bisa saja kamu. Kamu sendiri tidak tahu, ngomong….
PANJUL Tapi saya kan sudah bilang terus terang, tidak tahu.
PEANG Masa perasaan sendiri tidak tahu? Orang mati apa?
PANJUL Iya, ya? Kita ini kenapa jadi begini ya? Omong-omong perasaan sampean sendiri bagaimana kang?
PEANG Iya. Bagaimana kang?
ORANG-ORANG Iya. Bagaimana kang?
KIRNO Sebetulnya saya sendiri tidak tahu.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN EMPAT
Tanah lapang, tempat festival topeng berlangsung. Pagi. Festival rupanya sudah dimulai, beberapa peserta sudah selesai tampil. Ada yang mendapatkan sambutan hangat, ada juga yang tidak. Kali ini Samiun si muka tujuh sedang tampil, ia lincah, energik dan kocak. Topeng-topengnya juga bagus. Tapi apakah dia disukai dan dianggap mewakili penonton? Belum tentu, buktinya di akhir penampilannya, tidak banyak bendera kecil diacungkan oleh penonton.
SAMIUN (Setelah selesai tampil) Terima kasih, terima kasih. Saya gembira pada tahun ini bisa kembali tampil dihadapan saudara-saudara. Ini adalah sebuah rahmat. Dulu saya hanya mampu membawakan satu atau dua topeng. Tapi, tahun berganti, usia saya juga bertambah. Saya merasa, kebijakan saya dalam memandang dan menghadapi hidup beserta persoalannya pun harus bertambah. Itulah kenapa hari ini saya memakai sepuluh topeng sekaligus. Ini bukan pilihan main-main, saudara-saudara. Hidup di zaman ini, kita memang harus punya banyak wajah. Kalau berteduh di bawah pohon jengkol, kita jangan makan apel, jangan kita bawa jambu mete, repot soalnya. Jika kita mau makan semangka, jangan di bawah pohon durian soalnya kalau kejatuhan bisa bonyok. Maka, bersikaplah baik kalau ketemu orang baik. Kalau bertemu preman, Pakailah jurus preman. Kalau tidak kita bisa tidak aman. Jadi, sekali lagi ini bukan pilihan main-main.
Para penonton bertepuk tangan meriah, tapi tidak begitu banyak bendera yang dikibarkan
SAMIUN Terima kasih…. Terima kasih….
Samiun turun panggung, seorang MC naik ke panggung
MC (dengan wajah serius dan menahan air mata) Hadirin sekalian, itulah tadi penampilan saudara kita Samiun. Saya kira tidak perlu dikomentari lagi. Penampilan beliau dengan sepuluh topengnya tadi sudah menjelaskan banyak hal. peserta selanjutnya, silakan
Repuk tangan kembali bergemuruh, MC turun panggung dan muncul tiga peserta yang merupakan satu tim, mereka pun segera beraksi. Mereka menapilkan topeng tiga ksatria utama, yaitu topeng pembela keadilan dan kebenaran. Dari segi artistic, topeng mereka tidak cukup bagus. Ekspresinya kelewat dingin dan kaku. Tapi, penampilan mereka kompak. Masing-masing memakai kostum yang berbeda, namun ada satu cirri yang sama, yakni ketiganya membawa senjata. Mereka sangat gagah, sigap dan terampil. Salah satu dari mereka menjadi juru bicara dan memperkenalkan diri lewat nyanyian.
JUBIR (Menyanyi) Saudaraku sekalian Warga desa Mosokambang Yang saya hormati dan saya cintai Kami ingin bicara, dari hati kehati
ORANG-ORANG (Menyanyi) Bicaralah, asal jangan susah-susah
JUBIR (Menyanyi) Apakah kalian ingin hidup bahagia? Makmur, aman dan sentosa? Kalau jawabannya Iya, inilah rahasianya; Bergabunglah bersama kami Pembela rakyat sejati
TRIO Kami adalah tiga ksatria utama Pembela kebenaran dan keadilan Tak peduli panas terik Atau, musim paceklik Kami selalu bersama kalian Libas, libas, semua akan kami libas Terjang-terjang semua akan kami terjang Jika ada yang berani menggoyang Ketertiban dan keamanan Desa kita, Mosokambang
Selesai menyanyi, ketiganya melakukan gerakan-gerakan bela diri yang atraktif. Tepuk tangan riuh, berkomentar, tampaknya mereka kurang suka penampilan tiga sekawan ini.
JUBIR Maaf saudara-saudara, kami tidak bisa tampil lebih lama lagi. Kami sudah terlalu lelah. Maklum, sebelumnya kami kebanyakan latihan. Saudara tahu, ini merupakan penampilan pertama kami dalam festival yang bergengsi ini. Jadi, belum berpengalaman. Sebetulnya ada satu puisi yang ingin kami bacakan,tapi napas kami sudah ngos-ngosan. Maaf.
Tiga sekawan perlahan undur diri. Tapi, sebelum mereka benar-benar turun panggung.mereka berhenti, lalu, bersama-sama mereka mengcungkan senjata ke satu titik di langit dan Dor! Sebuah benda besar jatuh berantakan. Orang-orang tidak mnyambutnya dengan tepuk tangan. Tapi, mereka melontarkan berbagai komentar yang tidak enak didengar.dan, tidak satu pun bendera yang diacungkan
PANITIA Heh, bendera! Angkat bendera!
Orang-orang masih sibuk dengan komentar masing-masing, dan mengabaikan perintah panitia. Mendadak Mbah Joyo muncul di panggung untuk tampil. Wajahnya tetap dingin, orang-orang riuh menyambut.
ORANG-ORANG Mbah Joyo, Mbah Joyo…. Hidup Mbah Joyo! Mbah Joyo, Mbah Joyo…. Hidup Mbah Joyo! Hidup Mbah Joyo! Hidup Mbah Joyo!
Perlahan Mbah Joyo menuju tengah panging. Ia mengangkat tangannya dengan anggun menyambut reaksi penonton, sekaligus memberi isyarat supaya penonton tenang. Tepat di tengah panggung dia berhenti, menyibak jubahnya, dan dari dalamnya mengeluarkan 3 topeng. Itulah rupanya topeng-topeng beliau yang dulu sangat terkenal. Mbah Joyo memperlihatkan topeng-topeng itu pada para penonton, kemudian membungkusnya kembali, bukan dengan kain hitam melainkan dengan kain putih.
MBAH JOYO (Suaranya serak dan berat) Saya sudah capek, capek! Kepada kalian, para generasi muda, topeng-topeng ini saya titipkan. Capek, saya sudah capek. Silakan, terserah topeng-topeng ini mau diapakan. Dikubur, mungkin lebih baik. (Lama diam, menatap para penonton) topeng saya sekarang adalah wajah saya sendiri. Maaf. Terima kasih.
Gemuruh tepuk tangan menyambut, juga suitan dan komentar-komentar. Dan, semua orang mengangkat bendera. Dalam keriuhan itu, mendadak para petugas keamanan dan panitia naik ke panggung.dengan sigap, mereka mengerumuni Mbah Joyo dan terlibat dalam pembicaraan serius, lantas membimbing Mbah Joyo keluar panggung. Penonton semakin rebut. Beberapa orang naik panggung, histeris dan memukul-mukul apa saja sehingga berbagai bunyi berbaur jadi satu. Mereka belum tahu persis apa yang terjadi. Tapi mungkin dapat merasakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi di depan hidung mereka.
KETUA PANITIA Harap tenang, saudara-saudara…. Harap tenang! Semuanya harap tertib. Perhatian, mohon perhatian! Saudara-saudara, minta perhatian…..
Ketua panitia terus saja berbicara. tapi tak ada yang sudi mendengar. Dan, keributan terus berlangsung.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN LIMA
Tanah lapang tempat festival diselenggarakan. Pagi. Beberapa saat setelah festival bubaran,Kirno, Peang, Panjul dan kawan-kawan turun dari bukit menuju tempat itu
PEANG Apa kata saya tadi? Macam-macam kan? Tuh, betul terbukti.macam-macam pula kejadiannya.masa festival jadi rebut nggak keruan.untung kita tak ada disini tadi….
PANJUL Eh, jangan sok tahu. Kami kan tadi Cuma bilang perasaan saya macam-macam. Bukan festival ini akan jadi macam-macam (Pada Kirno) iya nggak, Kang?
Kirno diam saja, ia tampak sedang berpikir serius
PEANG Paling tidak itu membuktikan kalau firasat saya benar, daripada kamu tidak merasakan apa-apa.kedul , tumpul.
PANJUL Kalau kamu punya ifrasat buruk, kenapa dari tadi diam saja?kamu kan bisa usul sama ketua panitia supaya festival ini ditunda.menunggu hari baik, misalnya. Atau, kalau perlu supaya festival tahun ini diliburkan saja.
PEANG Apa?usul? libur? Ooo…kamu betul-betul bodoh, Panjul. Kamu piker perkara apa ini? Siapa saya, siapa kita, berani-beraninya kasih usul. Festival topeng itu perkara sacral. Mbah Joyo saja, rajanya festival dari tahun ke tahun tidak berani usul begitu, apalagi kita. Mbah Joyo, bisa saja bilang sudah capek dan ingin undur dari festival. Tapi, selama ini dia Cuma omong di depan kita. Di depan panitia, hem….kamu lihat tadi apa akibatnya? Tapi, sebetulnya saya memang ingin kasih usul.
KIRNO Sudah?
PEANG Apanya, Kang?
KIRNO Debatnya. Usulnya, sudah?
PEANG Kami tidak berdebat,Kang. Kami hanya bicara soal perasaan. Bukan hal tabu kan?
KIRNO Mana saya tahu.yang bikin aturan tabu dan tidak tabu bukan kita.tapi sebaliknya hati-hati bicara. Salah-salah, kamu bisa ketiban salah.
PEANG Ya, Kang. Ya,saya paham.
PANJUL Paham….paham.paham apa? Kalau memang paham,sekarang saya Tanya siapa pemenang festival tadi?
KIRNO Itu pertanyaan penting, tapi tidak perlu dipertanyakan. Atau sebaliknya, pertanyaan itu perlu ada, tapi tidak penting dipertanyakan.
PEANG Kenapa begitu, Kang?
PANJUL Lha, katanya paham!?
KIRNO Karena siapa pun pemenang festival, buat kita sama saja. Kita Cuma penonton. Lagipula sekarang ada hal yang lebih penting dipikirkan.Mbah Joyo.kita harus cari tahu dimana beliau sekarang ini, menyangkut keselamatan jiwa manusia. Lebih penting daripada meributkan siapa pemenang festival topeng.
Mitro dan Blentung muncul. Mereka datang untuk mencari tahu apa yang baru terjadi.
MITRO Betul kang Kirno, Mbah Joyo…. Dimana dia sekarang?
KIRNO Lho, Mitro, Blentung? Kalian juga tidak tahu dimana Mbah Joyo. Apa kalian tidak ada di sini tadi?
BLENTUNG Tidak, saya datang justru untuk mencari tahu.saya baru dengar di sini ada keributan,dan kabarnya ayah saya dibawa pergi panitia.
MITRO Kalau begitu, kita cari dia sekarang. Siapa yang ikut? Ayo!
KIRNO Yang lain lebih baik pulang saja, atau kembali ke lading masing-masing. Biar saya saja yang ikut
PEANG Tidak,kang. Ini bukan hanya persoalan sampean, atau mas Mitro dan mas Blentung. Ini persoalan kita semua. Saya harus ikut.yam,nggak, Panjul?
PANJUL Sepakat. Akur….
MITRO Baik. Ayo!
Semua pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN ENAM
Jalanan desa. Tidak jauh dari lokasi festivsal topeng. Pagi. Beberapa saat setelah festival bubar.orang-orang pulang dari menonton festival,mereka bingung kenapa festival bubar sebelum waktunya.juga, mereka tidak tahu apa pangkal soal dari keributan itu. Mungkin mereka terlalu lugu untuk mengetahui apa yang terjadi.
SULASIH Ah,nikin capek saja. Baru datang,sudah bubar
MIJEM Iya,biasanya seharian penuh.ini tumben,pakai rebut-ribut lagi
WARTI Pada telat sih sampean….
MIJEM Iya,gara-gara anak di suruh mandi malah rewel.jadi lama,terus telat deh
SULASIH Itu kenapa tadi?kok Mbah Joyo dibawa pergi?
MIJEM Iya,kenapa itu? Dulu zaman saya kecil,kalau ada festival topeng,semuanya pasti gembira. Wajah mereka sumringah. Sekarang kok jadi gak keruan
WARTI Saya juga gak tahu,Yuk. Denger-denger sih karena kebanyakan yang ngatur. Jadi…..
MIJEM Begitu ya? Ah, dulu sih tidak banyak yang ngatur-ngatur. Semuanya grengseng aja. Jalan saja. Beres…. Ya kan?
Kasmun lewat bergegas mendahului mereka. Mijem memanggil
MIJEM Kasmun,tunggu.Kasmun! (Kasmun berhenti) itu kenapa tadi cepat bubaran? Kenapa rebut-ribut? Ada apa itu?
KASMUN Anu, Yuk. Belum tahu saya.pokoknya sampean pada pulang aja dan nggak usah banyak Tanya. Saya sendiri belum tahu.anui.. Kalau ada yang Tanya, bilang saja nggak tahu (Pergi)
MIJEM Nggak tahu…. Nggak tahu. Biasanya kamu serba tahu.terus,Mbah Joyo? Eh,Kasmun, Kasmun…. Uh dasar!
LAMPU BERUBAH
ADEGAN TUJUH
Di suatu tempat. Malam. Kasmun, Bawor, Tuji dan Gubil sedang diberi ‘pengarahan’ oleh seseorang.di kejauhan, 3 orang centeng berjaga-jaga. Tempat itu kelihatan gelap, hanya sedikit cahaya obor yang menerangi.
SESEORANG Apa kalian semua sudah paham apa tugas kalian?
KASMUN(Ragu) Injih, Pak. Paham….
SESEORANG Lho, kok Cuma Kasmun yang jawab? Yang lain?
SEMUA (Ragu juga) Paham, Pak.
SESEORANG Bagus! Laksanakan tugas kalian dengan baik, maka hidup kalian akan terjamin dan tentram. Kasmun, berapa luas ladangmu?
KASMUN Kurang lebih setengah hektar, Pak.
SESEORANG Jangan khawatir, tidak lama lagi bisa jadi empat hektar. Bawor, berapa kerbau kamu?
BAWOR Tiga, pak.
GUBIL (menyodok Bawor, lalu berbisik) Lima juga
BAWOR (berbisik pada Gubil) Iya, yang dua kan masih gudel
SESEORANG Terus pengen jadi berapa?
BAWOR Ah, Bapak. Masa itu ditanya. Berapa saja juga mau.
SESEORANG Bisa, bisa…. Semua bisa diatur. Jangan khawatir. Dan kamu, Tuji. Gubil…. Pengen punya apa kau? TV colour sudah punya?
BERDUA Belum pak.
SESEORANG Itu lebih gampang lagi. Pokoknya, laksanakan tugas kalian dan semuanya akan beres. Paham semua?
SEMUA Paham….
SESEORANG Bagus, sekarang kita bubaran. Ingat ya, pembicaraaan ini hanya antara kita saja.
GUBIL Maaf pak. Boleh Tanya?
SESEORANG Boleh, boleh. Asal jangan yang aneh-aneh.apa?
GUBIL Jadi, siapa pemenang festival tadi pak? Dan di mana Mbah Joyo sekarang?
SESEORANG Pertanyaanmu bagus sekali, Gubil. Tapi, saya tidak akan menjawab. Tahu kenapa? Karena kalian masih terlalu hijau untuk memahami jawabannya. Tapi suatu ketika, saat usia kalian sama seperti usia saya, atau saat dimana kalian dalam kondisi sama seperti saya,kalian akan tahu sendiri jawabannya. Percayalah. Paham?
SEMUA Pahammmm…… (Sebetulnya tidak)
GUBIL Apa, soal Mbah Joyo….
SESEORANG Ssst…. Cukup!(Pergi. Diikuti tiga centeng)
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DELAPAN
Jalanan desa. Beberapa saat kemudian. Malam. Kasmun, Bawor, Gubil dan Tuji saling menyalahkan.
TUJI Kamu pakai tanya segala soal Mbah Joyo. Untung dia tidak marah. Kalau marah, bisa berabe kita.
GUBIL Apa salahnya nanya, namanya juga pengen tahu.
TUJI Tapi, lain kali hati-hati dong. Kayak nggak tahu keadaan saja.
GUBIL Terlalu hati-hati juga nggak bagus. Rezeki yang jatuh ke kita jadi hati-hati juga. Contoh, Kasmun. Begitu ditanya “Kalian paham apa tugas kalian?” dia langsung jawab”injih Pak. Paham….” Dan kamu dengar sendiri hasilnya, 4 hektar. Bawor boleh juga main sulapannya. Masa kerbau lima dibilang tiga.
BAWOR Saya gemeteran, monyong!
GUBIL Oh, pantes. Gemeteran saja bisa sulapan. Bagaimana yang enggak gemeteran dapat 4 hektar.
KASMUN Setan kamu, Gubil! Diam, kenapa? nggak tahu orang lagi sumpek. Kamu pikir aku senang dengan semua ini? Kita ini sama-sama sedang jadi korban, tahu? Kalau bisa saya ingin lari dari semua ini,tapi apa daya kita?
GUBIL Apa daya saya juga,Cuma TV colour?
KASMUN Heh, serius ini. Lagian siapa yang percaya janji-janji itu? Semua kan serba belum jelas. Saya menyesal kenapa ada di sana waktu festival berlangsung. Itu gara-gara kamu ngotot ngajak saya ke sana.kalau tidak, kita tidak repot begini. Sial. Kamu bikin sial.
BAWOR Tenang, Kasmun. Tenang. Ini musibah. Kita sedang kena musibah. Kita harus tetap kompak supaya kuat. Kamu diam, Gubil.kasih waktu Kasmun berpikir.
TUJI (pada Gubil) Baru minum cap tikus sudah loncer. Bikin hati orang jadi panas
KASMUN (Setelah diam sebentar) Baik, baik. Sudah kepalang basah. Aku tahu sekarang.
BAWOR Tahu bagaimana?
KASMUN Kita boleh tidak suka sama Samiun. Tapi pada saat seperti sekarang ini, kita harus belajar dari dia.
BAWOR Maksudmu kita ke rumah Samiun?
KASMUN Buat apa kita ke sana? Itu tadi Samiun, tolol!
TUJI & BAWOR Samiun?
BAWOR Bisa lain begitu?
KASMUN Itulah kelebihan dia
GUBIL Terus apa maksudnya belajar dari dia?
KASMUN Besok malam undangsemua warga
GUBIL Terus?
KASMUN Gampang itu. Pokoknya besok kita kerjakan semuanya. Ayo, kita rembukan di tempat lain. Sudah malam. (Kasmun pergi, yang lain bengong)
GUBIL Samiun?
LAMPU BERUBAH
ADEGAN SEMBILAN
Ladang kosong di sudut desa. Malam. Atas undangan Kasmun dan kawan-kawan, warga desa berkumpul di tempat itu. Malam ini giliran Kasmun akan memberi pengarahan kepada warga desa setelah sebelumnya ia mendapat pengarahan dari orang yang lebih pintar. Mereka datang mengendap-endap, muncul satu persatu, masing-masing takut terlihat oleh orang yang lain.
ORANG KE 1 (Dari balik pohon) Mana? Kok, mereka belum pada nongol!? Katanya, habis isya…. (Pada yang lain di belakang) belum ada….
ORANG KE 2 Apa kita nggak salah dengar? Jangan-jangan bukan di sini tempatnya
ORANG KE 3 Benar di sini. Tanah Marto Pacul lor desa, ya ini…..
ORANG KE 2 Tanah Marto Pacul di lor desa kan banyak!?
ORANG KE 3 Tapi, tanah dia di lor desa yang kosong Cuma ini, yang lain sudah ditanami janggung Bangkok.
ORANG KE 1 Semua serba Bangkok. Marto Paculnya datang nggak?
ORANG KE 3 Mana tahu, belum kelihatan. Siapa sih yang kasih tahu sampean supaya kumpul di sini?
ORANG KE 1 Kasmun. Siapa lagi?
ORANG KE 3 Kalau saya si Gubil. Yang diundang siapa saja?
ORANG KE 2 Kurang tahu. Sebaiknya hati-hati. Jangan kelihatan orang lain dulu. Saya curiga, jangan-jangan ini ada apa-apanya, atau malah jebakan. Nggak biasanya ada undangan di kebun. Aneh. Semua jadi aneh. Malam-malam disuruh blasukan begini. Asam kecut.
Dari sudut lain muncul orang ke 4 dan orang ke 5. juga mengendap-endap, kepalanya berkerudung sarung
ORANG KE 2 Ssst…. Ada yang ngumpet! (Orang ke 1, 2 dan 3 bersembunyi)
ORANG KE 4 (Nongol dari semak-semak) Betul di sini tempatnya kek?
ORANG KE 5 Kalau betul juga mana saya tahu, wong mata sudah lamur begini. Mana encok lagi kambuh. Si Bawor bikin orang tua susah saja. Mau ada apa sebetulnya ini?
ORANG KE 4 Kakek mestinya Tanya sama cucunya dong. Sama saya, mana mau dia cerita.
ORANG KE 5 Wong saya Tanya bolak-balik, jawabannya itu-itu melulu. Nanti kakek juga tahu. Pokoknya kakek datang saja, penting! Begitu. (Batuk-batuk)
ORANG KE 2 (dipersembunyian) Rasanya kenal suara batuknya. Sanwiradji itu, kakek si Bawor.
ORANG KE 3 Berarti bukan Cuma kita saja yang diundang.
Kasmun mendadak muncul dari sudut gelap lain di sisi lain. Gubil, Bawor dan Tuji di belakangnya.
KASMUN Ya, betul. Tidak Cuma kalian yang datang. Keluarlah kalian semua dari situ. Berkumpul di sini dan kita bicara. Jangan khawatir, tempat ini aman. Saya sudah amati sejak tadi. (Pada Gubil, Bawor dan Tuji) coba yang sembunyi di belakang sana, panggil semua.
Setelah semua berkumpul
Saudara-saudara, saya akan langsung saja. Saudara tahu, saya adalah warga desa ini. Asli. Dan sama seperti saudara semua, saya juga warga desa yang baik. Jadi, saya juga memahami apa yang tengah menjadi pikiran dan keprihatinan saudara belakangan ini. Apa yang tengah saudara pikirkan adalah juga yang sedang jadi keprihatinan saya. Sama. Jadi saudara sedih, saya juga sedih (Menahan tangis) saudara, apakah saudara tahu siapa pemenang festival topeng yang baru saja berlangsung?
ORANG-ORANG Tidakkk…..
KASMUN Samaaa…. Apakah saudara-saudara tahu di mana Mbah Joyo sekarang berada?
ORANG-ORANG Tidakkk…..
KASMUN Juga sama, samaaaa….. kita memang digariskan untuk sama-sama tidak tahu. Tetapi saudara sebgai insan yang berakal budi setidaknya kita harus mengetahui satu hal. yaitu, bagaimana caranya keluar dari masalah rumit yang tengah menghimpit kita. Nah, saudara, inilah caranya.
Pertama, kita harus berhenti memikirkan soal siapa pemenang festival topeng dan di mana Mbah Joyo berada. Kedua, kita harus kembali kepada titah kehidupan kita sebagai petani, yaitu bekerja dan bekerja. Saya tahu ini bukan perkara mudah. Kehilangan Mbah Joyo bukan sekedar kehilangan warga terhormat kita, junjungan dan tokoh panutan kita. Namun demikian, saudara juga harus paham bahwa di depan kita ada banyak tugas dan kewajiban yang menunggu untuk diselesaikan. Kita tak boleh kehilangan semangat kita, cita-cita kita dan hari depan kita. Bagaimana, apakah saudara-saudara paham?
ORANG-ORANG (Sebetulnya tidak) Pahamm…..
ORANG KE 1 Tapi di mana Mbah Joyo, eeee… maksud saya apa Mbah Joyo sehat-sehat saja?
ORANG KE 2 Ya. Dan kapan dia pulang?
ORANG KE 3 Hari apa? Tanggal berapa?
ORANG KE 4 Ya, apa kami boleh nengok?
ORANG KE 5 Ya, dan bagaimana kalau keluarganya menanyakan?
KASMUN Bagus, pertanyaan saudara-saudara bagus sekali. Tapi, saya tidak akan menjawab, masih terlalu hijau untuk memahami jawabannya. Tapi suatu saat nanti, di mana saudara-saudara dalam kondisi sama seperti saya, saudara akan tahu sendiri jawabannya. Percayalah. Paham?
ORANG KE 5 Maaf, jangan salah paham dulu. Ini saya mau Tanya karena saya belum paham. Kasmun, saya ini sudah 70 tahun. Apa masih dianggap hijau juga? Jadi, yang tidak hijau umur berapa?
KASMUN Maaf kakek, mungkin kakek salah terima yang saya maksud dengan hijau itu bukan umurnya. Tapi, pemahamannya terhadap jawaban masalah ini. Itu, kek. Paham, saudara-saudara?
ORANG-ORANG Pahammm….
Orang Ke 5 ingin melanjutkan pertanyaan karena memang belum paham. Tapi, Kasmun kembali melanjutkan pidatonya
KASMUN Nah, saudara-saudara, malam sudah larut. Sebaiknya pertemuan kita akhiri. Tapi sebelum pulang, saudara Bawor, Tuji, Gubil akan membagikan sedikit bingkisan untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Keluarga dan anak-anak adalah masa depan kita. Maka sekali lagi selamat bekerja. Demi keluarga, anak-anak dan masa depan kita. Supaya cepat dan tertib, silakan saudara antre. Terima kasih dan selamat malam
Orang-orang antre menerima bingkisan. Kemudian semua pergi.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN SEPULUH
Sebuah gubug di sawah pinggir desa. Siang. Beberapa petni sedang beristirahat, sambil menunggu makan siang. Tampak di sana orang ke 1, 2, 3 dan 4. ada juga Yasmudi yang tidak hadir pada malam pengarahan dari Kasmun. Ngaisah, itri orang ke 3 sedang menyiapkan makanan.
ORANG KE 3 Heran saya, tidak musim hujan, tidak musim kemarau. Sekarang, panasnya sama saja. Dulu rasanya tidak begini.
ORANG KE 1 Dulu, dulu. Sekarang-sekarang. Jelas tidak sama dong.
ORANG KE 3 Ya. Soal apa dulu. Soal musim panas berbeda. Namanya musim hujan, banyak air turun dari langit, masa panas juga? Yasmudi, istirahat dulu. Nanti kulitmu gosong.
YASMUDI Sebentar lagi. Tanggung.
ORANG KE 1 Kita di sini masih lebih beruntung. Coba piker orang-orang yang tinggal di kutub dengan hawa yang Cuma dingin melulu, apa enaknya?
ORANG KE 3 Ya, tapi kalau gerah melulu kayak kita di sini juga repot.
ORANG KE 1 Ah, bisa saja. Yang bikin gerah itu bukan udara di luar, tapi di situ, di sini, di hati kita. Bilang saja terus terang, pakai mutar-mutar…..
ORANG KE 3 Hehehe…. Omong mutar saja sering dianggap tidak sopan, apalagi langsung. Eh, omong-omong dapat apa saja semalam?
ORANG KE 1 Ah, ya sama kali…..
ORANG KE 3 Ya, siapa tahu berbeda. Saya Cuma heran, orang seperti Kasmun bisa berubah. Jadi aneh. Dulu, dia orang paling peduli sama kesulitan orang lain. Ingat, waktu sawah kita diserang tikus? Dia kan orang yang paling sibuk mengumpulkan orang untuk ramai-ramai berburu biantang sialan itu? Juga waktu sawah kita diserang wereng, siapa coba yang bolak-balik ke kota beli obat anti wereng? Kan dia? Tapi sekarang, Mbah Joyo – orang tua kita – hilang kok malah disuruh dilupakan. Suruh jangan dipikirkan. Edan! Apa pantes itu!?
ORANG KE 1 Itulah musim. Dulu, dulu. Sekarang, sekarang. Beda. Zaman berubah. Sikap orang juga bisa berubah.
ORANG KE 3 Berubah boleh saja, tapi soal apa dulu. Kalau soal keselamatan jiwa manusia, masa harus berubah. Apa kamu juga setuju dengan Kasmun, dan melupakan Mbah Joyo?
ORANG KE 2 Saya mau Tanya. Menurut kalian, apa betul Kasmun dan kawan-kawan tidak tahu di mana Mbah Joyo?
ORANG KE 4 Itu juga pertanyaan saya
ORANG KE 1 Saya tidak tahu.
ORANG KE 2 Terus darimana Kasmun bisa membagi-bagikan bingkisan orang satu desa? Kerja untuk kepentingan siapa dia?.
ORANG KE 4 Saya tidak tahu.
ORANG KE 1 Itu juga pertanyaan saya
ORANG KE 3 Kalau begitu, tidak ada gunanya saya bicara sama kalian. Kalian sendiri Cuma punya pertanyaan. Percuma, lebih baik kerja. Ngaisah, bawa pulang saja nasinya. Saya tidak jadi makan.
Orang ke 3 kembali bekerja, yang lain memandang heran
LAMPU BERUBAH
ADEGAN SEBELAS
Rumah Blentung, beberapa hari kemudian. Malam. Mitro, Blentung, Kirno, Peang dan Panjul tengah berkumpul. Mereka tampak letih dan kurang bersemangat.
MITRO Kita tidak bisa hanya menunggu di sini. Kita harus mencari tahu.
KIRNO Mencari tahu, betul. Tapi kemana? Semua orang desa di desa ini sudah kita Tanya, tapi jawabannya selalu sama; tidak tahu! Tanya saja mereka (menunjuk Peang dan Panjul) seperti saya, mereka juga sudah berkeliling desa, bertanya dari pintu ke pintu dan dari mulut ke mulut. Toh, itu belum juga berhasil mengendus kemana raibnya Mbah Joyo. Konyolnya lagi, orang-orang desa ini mulai bersikap aneh. Mereka tutup pintu kalau saya lewat di depan rumah mereka. Anak-anak saya bilang, orang-orang takut kalau saya mampir dan Tanya-tanya soal Mbah Joyo. Gila nggak tuh?
MITRO Kalau begitu kita tanyakan lagi sama ketua panitia. Dia kan orang yang seharusnya paling bertanggung jawab.
KIRNO Seharusnya iya. Tapi, nyatanya kan tidak. Sebelum kemari tadi saya sudah sempat mampir, tapi istrinya bilang kalau ketua panitia lagi sakit. Darah tingginya kumat. Lantas saya permisi minta izin menemuinya di kamar. Tapi, istrinya malah melarang. Percuma, katanya. Bapak lagi tidak bisa diajak ngomong. Pendengarannya juga terganggu. Apalagi penglihatannya. Sejak rebut-ribut di festival topeng lalu, lamurnya kambuh. Stress berat, katanya.
MITRO Pak lurah bagaimana, apa sudah pulang dari kota?
KIRNO Katanya, sore tadi sudah. Tapi mendadak dia berangkat lagi, dipanggil Bupati. Penting katanya. Mungkin nginap, lusa baru pulang.
MITRO Blentung, apa akalmu? Dari kemarin kamu diam saja. Omong Blentung, omong…..
BLENTUNG (Menarik napas panjang) Maaf, sudah merepotkan kalian. Gara-gara ayah saya semua jadi kacau begini. Saya tahu kalian bingung, marah, sedih dan kecewa. Ini memang masalah berat. Tapi saya harap kita tetap bisa tenang, kepala dingin dan berpikir jernih.
MITRO Baik, baik. Setuju. Tapi, apa langkah kita? Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa diam-diam terus di sini.
BLENTUNG Peang, Panjul. Saya mau Tanya. Waktu kalian keliling desa dari rumah ke rumah untuk mencari tahu perihal ayah saya, apa klian juga menanyakan siapa persisnya petugas yang membawa ayah saya?
PEANG Saya tanyakan, Mas. Tapi, tak satu pun memberikan jawaban yang jelas. Saya Tanya sama Bawor, Bawor suruh saya Tanya sama Gubil. Saya Tanya sama Gubil, Gubil bilang sebaiknya saya Tanya sama Tuji. Saya Tanya sama Tuji dia bilang sebaiknya Tanya sama Kasmun. Tapi, waktu akhirnya saya bertemu Kasmun, dia hanya kasih jawaban singkat; tidak tahu. Pusing kan saya!? Akhirnya, saya ambil kesimpulan kalau semua orang memang tidak tahu atau tidak mau kasih tahu. Itu.
MITRO Kamu yakin melihat Kasmun di sana waktu festival?
PEANG Yakin.
PANJUL Ya, yakin sekali. Saya hapal betul warna kaosnya. Dia itu kemana-mana selalu pakai kaos hitam. mereka, Kasmun, Bawor, Tuji dan Gubil juga orang yang paling senang tontonan. Di mana ada keramaian, di situ mereka pasti ada.
MITRO Kalau begitu mereka kita panggil saja ke sini. Kita Tanya supaya jelas.
PEANG Bisa, bisa. Sekarang?
MITRO Ya, sekarang. Kapan lagi?
PEANG Panjul, ayo temani aku
Mereka berdua pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA BELAS
Rumah mas Genggong (Ketua panitia). Sore. Mas Genggong sedang minum jamu diladeni istrinya, Mbak Yuk Laras. Jarkoni, lurah desa itu datang membesuk bersama Samiun.
LARAS (Menyodorkan jamu dalam gelas) Ayo, pak. Ayo…. Habiskan jamunya supaya sembuh. Tadi pagi sudah tidak habis. Kalau sekarang tidak habis lagi, kapan sembuhnya? Coba pikiran ditenangkan dulu. Jangan mikir yang berat-berat. Serahkan saja semua urusan pada orang lain. Bapak boleh saja perhatian pada urusan desa ini, pada semua warga, tapi bapak kan sekarang bukan lurah lagi. Buat apa ada lurah Jarkoni, kalau semua urusan tetek bengek desa masih bapak juga yang urus. Kalau sudah sakit begini, siapa coba yang repot? Ayo, tiga sendok lagi.
GENGGONG Aduhhh…. Tidak tahan aku. Pahit sekali. Sudahlah, sudahhh… pahit….
LARAS Kalau tidak mau minum jamu, jangan sakit, pak. Kalau tidak mau sakit, jangan banyak pikiran, jangan banyak urusan. Orang kok dari dulu tak mau berubah. Sadar, pak. Sadar. Usia bertambah, kesehatan berkurang. Sadarrrr!
GENGGONG Sudah, bu. Sudah. Kalau kamu banyak ngomel, kapan saya sembuh? Yang bikin saya skit itu omelan kamu, bukan usia atau banyaknya urusan. Tapi, dari dulu sampai sekarang kau tidak sadar juga. Kapan kamu mau sadar?
LARAS Eee… malah saya yang disalahkan. Bagus kalau saya masih mau ngomel. Kalau saya diam, repot kamu nanti pak. Siapa coba yang mau mengurus kamu?
GENGGONG Tapi kamu juga harus paham, urusan saya ini bukan sembarang urusan. Soal festival topeng, misalnya. Mana bisa saya menghindar? Orang lain tidak mendapat kepercayaan mengurus saja, ingin dapat kesempatan. Apalagi saya, yang diminta oleh warga? Ini suatu kehormatan. Jangan main-main. Tolong pahami.
LARAS Kehormatan boleh saja, tapi jaga kesehatan. Tahu diri juga penting. Pahami itu juga.
GENGGONG Bicara itu gampang. Tapi, coba kamu jadi saya.
LARAS Coba juga kamu jadi saya, apa tidak ngomel?
Terdengar ketukan di pintu
Ya, siapa? Masuk saja!
Lurah Jarkoni bergegas masuk. Samiun mengikutinya dari belakang.
JARKONI (langsung mencium tangan Mas Genggong, sambil jongkok Samiun mengikutinya dengan enggan) Aduh, kang mas, mabk yu, mohon maaf baru kali ini bisa menengok. Bagaimana? Apa kang mas sudah sehat? Aduh…. Aduh…..
GENGGONG Lho, Jarkoni? Samiun?
JARKONI Iya, Kang mas.
SAMIUN Saya, Kang mas.
LARAS Silakan duduk, dik Samiun, dik Jarkoni.
JARKONI Terima kasih, mbak yu. Ini obat untuk kang mas?. Sini mbak yu, nbiar saya bantu kang mas minum. Tidak tega saya melihat kang mas seperti ini (mau mengambil gelas jamu dari Laras)
GENGGONG Sudah, Jarkoni, sudah cukup. Duduk saja, Miun, duduk. Kamu piker siapa Mbak Yuk mu, sampai kamu harus repot. Sudah dari tadi saya minum jamu itu. Duduk, duduk….
JARKONI & SAMIUN Terima kasih….
GENGGONG Bagaimana? Ada berita apa? Ah, saya hampir khawatir kalau ada apa-apa dengan kalian.
LARAS Saking khawatirnya sampai sakit, dik Jarkoni.
JARKONI Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mbak yu, kang mas. Sayalah yang semestinya mengkhawatirkan kang mas dan Mbak Yuk. Saya sampai tidak bisa tidur berhari-hari.
GENGGONG Syukur kalau semuanya baik-baik saja. Terus, bagaimana dengan orang-orang? Apa kata warga desa mengenai Joyo?
JARKONI Tidak ada masalah. Semuanya beres. Ya, mulanya mereka memang rebut menanyakan keberadaaan Mbah Joyo. Tapi, kang Samiun – atas instruksi saya – menyelesaikan semuanya.
GENGGONG Bagus, bagus. Apa jawaban yang kamu berikan pada warga, Samiun?
SAMIUN Saya memakai jawaban standar berantai, kang mas.
GENGGONG Standar berantai? Apa itu Miun?
SAMIUN Ya, artinya saya memberikan jawaban standar pada warga desa yang menanyakan soal Mbah Joyo. Jawaban itu tidak saya sampaikan sendiri pada mereka, tapi lewat orang yang masuk dalam jerat rantai saya.
GENGGONG (Kagum) O, begitu!
SAMIUN Betul, kang mas. Dan, cara itu ternyata sangat jitu rittu
GENGGONG Rittu? Wah, istilah apa lagi itu?
SAMIUN Rittu artinya irit waktu, kang mas. Sebab saya tidak perlu lagi menyampaikan jawaban itu satu persatu pada para penanya, tapi cukup pada satu-dua orang yang masuk dalam jerat rantai saya.
GENGGONG Ah, bagus kalau begitu, bagus. Wah, hebat kamu Miun, tidak sia-sia saya mendidik kamu. Sejak awal aku sudah menduga, kamu memang berbakat. Bagus, bagus. Tapi, omong-omong, siapa yang masuk dalam jerat rantai kamu?
SAMIUN Siapa lagi kalau bukan pemuda yang paling vocal di desa ini. Kasmun dan antek-anteknya.
GENGGONG Astaga, Samiun. Benar-benar hebat kamu. Sya dari dulu setengah mati mengincar dia. Tapi, kamu dapat? Ah, hebat, hebat! Ah, lihat ini, Miun, Jarkoni (Mendadak berdiri) saya langsung sembuh mendnegr laporanmu. Mana jamu tadi bu, biar kuminum semua (Jalan mondar-mandir)
LARAS Hati-hati pak, jangan dibawa jalan dulu. Tenang dulu….
JARKONI Syukurlah, kalau kang mas sembuh. Itu memang harapan kami. Kalau kang mas sakit, wah rasany saya tidak ada daya. Bukan begitu, kang Samiun?
SAMIUN Betul. Kang mas memang harus cepat sembuh. Tanpa kang mas, kami ibarat sado tanpa kusir. Tidak tahu kemana harus melangkah.
JARKONI Kalau kang mas sembuh, kami bisa segera konsultasi. Ada banyak hal yang mesti kita bicarakan
GENGGONG Konsultasi? Kalau soal itu, kapan saja bisa. Kapan? Mau sekarang? Bisa, bisa. Kamu lihatkan saya sudah sembuh. Ayo, soal apa?
JARKONI Anu, kang mas. Soal Blentung dan orang-orang dekatnya. Kepada mereka, saya belum kasih jawaban soal Mbah Joyo. Sejauh ini saya terus berusaha menghindar untuk ketemu mereka. Beberapa kali Kirno, utusan khusus Blentung datang. Saya selalu menghindar karena belum tahu mesti kasih jawaban apa.
SAMIUN Peang dan Panjul, orang Blentung lainnya juga sedang mencari Kasmiun dan kawan-kawannya. Konon, blentung bermaksud mengorek katerangan dari mereka soal Mbah Joyo. Blentung tahu, Kasmun dan kawan-kawan berada dilokasi waktu festival berlangsung. Untung saya cepat tanggap, jadi Kasmun saya suruh menghindar. Kalau tidak, repot kita. Tapi, cepat atau lambat, Blentung dan orang-orangnya pasti akan datang pada kita, Kang mas. Artinya, kita harus menyiapkan satu jawaban. Dan jawaban untuk mereka jelas bukan jawaban standar, tapi harus jawaban khusus yang cespleng. Kita tahu Blentung tidak bisa disamakan dengan warga kebanyakan. Dia orang yang cukup pintar.
GENGGONG Aduh, aduh…. Betul, betul. Tapi, aduhh…. Kamu bilang tadi semua sudah beres. Ternyata belum. Bagaimana kalian ini? Coba kalian berpikir dong. Apa jawaban yang tepat bagi Blentung. Jangan Tanya melulu. Mikir, mikir! Pusing jadinya saya. Aduh…aduh…. Kumat lagi darah tinggi saya. Buu…. (Kontan lemas dan duduk lagi)
LARAS (Memijit-mijit tengkuk Genggong) Sudah, pak. Sudah…. Makanya tenang dulu….
GENGGONG Bagaimana bisa tenang kalau begini? Aduh, kacau aku, pusing…. Mana obat gosok, mana balsam?
Genggong berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Jarkoni dan Samiun menyusul
LARAS Begitulah keadaan suami saya. Sakit, sembuh, sakit, sembuh, sakit lagi. Tapi, dia tidak juga kapok. Dia selalu saja ingin terlibat banyak urusan. Dia memang pria karier, dan akibatnya saya kapiran.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN TIGA BELAS
Rumah lurah Jarkoni. Malam. Jarkoni sedang berunding dengan Samiun. Kasmun dan kawan-kawan. menunggu di luar.
SAMIUN Bagaimana, kita panggil Kasmun?
JARKONI Tunggu dulu, saya khawatir keputusan kita menyinggung perasaan mas Genggong.
SAMIUN Bagaimana kamu ini? Beliau kan sudah menyerahkan pada kita. Kita diminta berpikir, bagaimana jawaban yang tepat kalau Blentung menanyakan soal Mbah Joyo. Ini kesempatan, dan kita sudah punya jawaban itu. Apa lagi?
JARKONI Ya, tapi alangkah baiknya kita rundingkan lagi dengan mas Genggong
SAMIUN Untuk apa?
JARKONI Paling tidak supaya kita tidak disalahkan kalau ada apa-apa
SAMIUN Itu resiko. Orang kalau mau maju harus bearni sambil resiko. Apa kamu rela terus menerus tergantung dan jadi bayang-bayang mas Genggong? Ah, maaf seharusnya saya tidak bicara seperti itu. Tapi kamu tahu, aku paling tidak suka kamu tergantung sama siapa pun. Maaf kalau sebagai lurah, kamu tersinggung. Anggap saja ini nasihat kakak ipar pada adik ipar. Maaf.
JARKONI Tidak. Tidak perlu minta maaf, kang. Sampean betul. Cepat atau lambat kita memang harus mandiri. Jujur saja saya memang sudah capek jadi bayang-bayang mas Genggong. Silakan panggil Kasmun. Saya permisi dulu, mau istirahat.
Kasmun, Bawor, Gubil dan Tuji masuk
SAMIUN Baik, kalau tidak ada sampaikan laporan mingguan resmi kalian. Cepat karena dikejar waktu. Tugas baru sudah menunggu. Ini bukan tugas penting, tapi juga harus segera dilaksanakan.
GUBIL Baik, pak. Selamat malam semuanya. Laporan mingguan resmi kali ini masih berkisar soal ‘iklim’ dan ‘cuaca’ dalam masyarakat desa kita makin membaik. Laporan ini disusun oleh tim, dan akan dibacakan oleh saudara Kasmun. Namun, perlu diketahui yang mengetik laporan ini adalah saudara Bawor dan Tujil secara bergantian selama kurang lebih 5 jam 25 menit. Tugas saya men –tipp ex – bagian salah ketik. (menyodorkan pada Kasmun) silakan, saudara Kasmun.
KASMUN (menerima buku laporan) Terima kasih. Selamat malam bapak, selamat malam semuanya. (membaca) berdasarkan pengamatan yang kami lakukan di lapangan, kami menyimpulkan bahwa segalanya berjalan sesuai yang dikehendaki, yaitu aman, tertib dan bahagia. Mulanya warga memang bertanya-tanya mengenai keberadaan Mbah Joyo. Tetapi setelah diberi jawaban yang lugas dan logis, akhirnya mereka bisa menerima dan tidak bertanya-tanya lagi. Kemudian, seperti yang kita kehendaki, mereka kembali ke titahnya sebagai petani. Bekerja dan bekerja lagi. Kalau pun diantara mereka ada pertanyaan-pertanyaan, tampaknya itu Cuma dalam hati. Sebab di antara mereka sendiri yang ada ya… juga Cuma pertanyaan . mereka tidak pernah punya jawaban. Sekian laporan kami. Selamat malam, terima kasih.
SAMIUN Bagus, bagus. Laporan yang sangat bagus. Tapi, kenapa laporan dengan pengantarnya hampir sama panjangnya, ya? Dan kamu Gubil, nama juru ketik dan berapa lama laporan diketik, lain kali tidak usah dilaporkan. Bukan berarti tidak penting, semua penting. Tapi ada yang perlu disebut atau dikedepankan. Dan ada yang tidak. Juru tip ex pun penting, tapi dalam laporan resmi seperti ini tidak perlu disebutkan. Saya toh sudah hapal siapa-siapa kalian! Tanpa disebut, saya sudah tahu siapa yang pintar mengetik, siapa yang pintar menyusun laporan dan sebagainya. Saya juga tahu Gubil tadi bukan membacakan pengantar, tapi Cuma menghapal. Saya tahu kamu tidak bisa membaca. Jadi, jangan sekali-kali bohong, apalagi mengkhianati saya. Saya paham siapa kalian. Kepala kalian kea rah mana, waktu mbrojol dari rahim emak kalian pun saya tahu. Ingat itu!
GUBIL (ketakutan) Maaf, pak. Am pun….
TUJI & BAWOR Maaf, pak….
KASMUN Maafkan Gubil, pak. Maafkan kami semua.
SAMIUN Tidak apa-apa, saya maafkan kalian. Tenanglah. Sekarang ada tugas baru untuk kalian. Kalian siap?
GUBIL (Dengan sigap) Siap, pak!
KASMUN DAN YANG LAIN Siap, pak!
SAMIUN Bagus. Begini. Blentung dan kawan dekatnya makin sering menanyakan kebaradaan Mbah Joyo. Itu sudah saya duga sebelumnya. Artinya, cepat atau lambat kita harus memberikan jawaban. Kita tidak mungkin terus menerus mengindar. Tapi, jawaban apa yang tepat buat mereka? Jelas jawaban yang cespleng, yang membuat mereka langsung bungkam, dan tidak bertanya lagi selamanya. Kalau perlu kita kasih mereka jawaban, sebelum mereka bertanya. Dan itu tugas kalian. Paham!?
SEMUA Pahammm….
SAMIUN Bagus, kalau begitu laksanakan segera
KASMUN Siap, pak. Tapi maaf, apa jawabannya pak?
SAMIUN Lho, saya belum bilang tadi?
SEMUA Belum….
SAMIUN Begini. Sini, sini. Supaya jelas. Kabarkan pada Blentung dan semua orangnya, Mbah Joyo hilang karena dijemput roh suci pelindung festival topeng. Roh yang juga mbahurekso kawasan desa kita ini. Mbah Joyo telah dianggap melanggar tata cara festival karena ia tidak mau lagi memakai topeng saat mengikuti festival topeng. Kesalahan fatal itu sudah membuat roh suci marah. Mbah Joyo dianggap mengkhianati sesuatu yang selama ini dianggap sacral.
KASMUN Bagaimana kalau mereka tidak percaya?
SAMIUN Bikin mereka percaya. Itu tugas kalian!
KASMUN Bagaimana kalau mereka Tanya darimana saya dapat kabar itu?
SAMIUN Itu juga kalian yang harus cari akal. Tugas kalian juga, jangan Tanya! (Gubil tampak mau Tanya) mau Tanya apa Gubil?
GUBIL Tidak, pak.
SAMIUN Bagus. Sekarang berangkatlah, laksanakan tugas kalian. Ingat, ini hanya antara kita saja dan Blentung tentu saja. Warga desa yang lain jangan ada yang tahu soal ini, paham!?
SEMUA Pahammm…..
SAMIUN Selamat bertugas.
Kasmun dan kawan-kawan tidak bergerak.
JARKONI Lho, tunggu apa lag? Ayo berangkat!
Kasmun dan kawan-kawan berangkat. Masih dalam keadaan bingung tentu saja. Samiun tampak puas.
LAMPU PADAM
ADEGAN EMPAT BELAS
Sebuah tempat. Malam. Di bawah cahaya rembulan, lurah Jarkoni dan Mbak Yuk Laras berkencan, rupanya Jarkoni sudah lama menunggu Mbak Yuk Laras muncul.
JARKONI Aduh, Mbak Yuk, saya piker tidak datang. Saya khawatir Mbak Yuk tidak menagkap sinyal saya saya tempo hari. Oh, kangen sekali Mbak Yuk.
LARAS Ah, yang betul…..
JARKONI Betul mabk yuk. Mana pernah saya bohong.
LARAS Kamu kan lelaki juga, dik Jarkoni. Mana ada lelaki jujur?
JARKONI Kepada istri saya, bisa jadi. Tapi pada Mbak Yuk, tidak pernah saya berlaku seperti itu. Aduh, Mbak Yuk, saya kangen bukan main. Uhhh… gemes saya, gemes….
LARAS Terus terang dik Jarkoni, saya sering ragu pada ucapanmu.
JARKONI Kenapa? Apa selama ini saya dianggap main-main? Aduh, jangan begitu, Mbak Yuk. Saya jadi tambah gemes ini.
LARAS Bagaimana saya tidak ragu? Di desa ini perawan mana yang tidak ingin jadi istri keduamu?
JARKONI Itukan dugaan Mbak Yuk. Tapi kalau toh betul begitu, itu urusan mereka. Bagi saya Mbak Yuk adalah segalanya. Tanpa mabk yuk, hidup saya terasa hambar. Sungguh Mbak Yuk. Aduh gemes, gemes. Kangenn…. Oh….
LARAS Sama mas Genggong. Dik Jarkoni juga bilang seperti itu kemarin “Kalau kang mas sakit, saya rasanya tidak berdaya” padahal kamu bohong kan?
JARKONI Itu lain Mbak Yuk, lain. Mbak Yuk kan tahu, kang mas adalah orang yang selalu merasa diriya penting. Kalau saya tidak bicara begitu, beliau jadi kurang senang. Dan, bisa-bisa beliau tidak dukung saya lagi. Itu sanjungan politis. Tapi, hubungan saya dengan Mbak Yuk lain. Ah, sudahlah Mbak Yuk. Untuk apa bicara seperti ini. Dan lagi, saya sudah kangen betul, Mbak Yuk. Oh, sudah berapa hari kita tidak bertemu berdua seperti ini? Kangen sekali rasanya…..
LARAS Tapi, apa yang bisa saya berikan padamu, dik Jarkoni? Aku sudah terlalu tua dan lapuk. Aku Cuma kembang kering tanpa madu. Kalau tanah, aku tanah gersang yang lama tidak dicangkul sebab mungkin tidak mampu lagi menumbuhkan tanaman apa pun. Petaninya pun sudah lama ngaso karena kehilangan minat dan semangat. Urusan syahwat sudah lama aku tinggalkan. Maafkan aku, dik Jarkoni….
JARKONI Lho, Mbak Yuk bicara apa ini? Kapan saya pernah bicara soal syahwat dengan Mbak Yuk? Saya memang mencintai mabk yuk, tapi bukan untuk urusan yang satu itu. Saya lain Mbak Yuk, lain. Bagi saya, bertemu Mbak Yuk adalah keindahan yang jauh lebih mengensankan daripada urusan syahwat. Saya mohon, Mbak Yuk, jangan salah mengartikan cinta saya.
LARAS (Malu) Oh, maafkan kebodohan ku kalau begitu.
JARKONI Lupakan, tidak perlu minta maaf. Lihat, Mbak Yuk, bulan di atas sana. Inilah saat yang lama saya tunggu-tunggu; menyenandungkan tembang berdua Mbak Yuk di bawah cahaya rembulan. Ayo, mabk yuk, ayo. Kita senandungkan tembang apa saja. Aku pasti puas dan bahagia. Walau barangkali hanya sekali seumur hidup melakukan ini bersama Mbak Yuk.
LARAS Alangkah romantisnya kamu, dik Jarkoni. Tidak kusangka. Jadi gemes juga. Kangen juga.
JARKONI Semaikn dekat Mbak Yuk, rasanya saya juga makin kangen. Kalau saya bisa setiap hari berdua Mbak Yuk seperti ini, alangkah indahnya hidup.
LARAS Kalau begitu, kamu akan serig-sering saya temani.
JARKONI Betul?
LARAS Betul.
JARKONI Oh, terima kasih Mbak Yuk. Saya merasa tersanjung. Tapi, bagaimana dengan kang mas? Bagaimana kalau beliau tahu?
LARAS Kalau kita kompak, dia tidak akan tahu.
JARKONI Maksudnya?
LARAS Kasih dia kesibukan sebanyak mungkin. Dan sering-sering kamu datang konsultasi supaya dia pusing. Di rumah, saya akan banyak mengomel supaya dia gampang stress. Jadi, kita banyak kesempatan. Gampang kan?
JARKONI Apa kita tega?
LARAS Jangan munfik ah, saya tahu betul apa yang ada di hatimu. Kamu senangkan, kalau mas genggong sering sakit, tersingkir dan kamu jadi satu-satunya orang penting di desa ini.
JARKONI Ah, Mbak Yuk jangan berpraduga seburuk itu.
LARAS Sudahlah, tidak perlu mangkir. Saya cukup tua untuk tahu semua itu.
JARKONI Baik, baik. Tapi kalau emmang benar apa yang Mbak Yuk duga, apa itu berpengaruh pada hubungan kita?
LARAS Tergantuing keadaan.
JARKONI Maksudnya?
LARAS Tidak perlu Tanya. Sekarang masih mau bersenandung berdua dengan saya atau tidak? Kalau tidak, saya mau pulang.
JARKONI Tentu.
LARAS Tapi, saya mengajukan persyaratan.
JARKONI Syarat? Boleh. Apa syaratnya?
LARAS Kita bersenandung berdua, tapi lagunya berbeda. Itu saja.
JARKONI Begitu? Bagaimana bisa?
LARAS Jangan Tanya. Kalau tidak mau, saya pulang.
JARKONI Baik, baik. Silakan Mbak Yuk mulai.
Laras pun mulai bersenandung. Suaranya merdu, tapi sungguh menyayat hati. Jarkoni juga bersenandung. Suaranya merdu juga. Tapi, getar suaranya sendu pula. Mereka bersenandung berdua, lagunya berbeda. Tapi, sesungguhnya menyuarakan hati yang sama. Rasa sakit atas hidup masing-masing.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN LIMA BELAS
Rumah Blentung. Malam. Kasmun bersandiwara di depan Blentung, Mitro, Peang dan Panjul. Tapi, Mitro mencium gelagat sehingga ia mendamprat Kasmun.
MITRO (Mendorong Kasmun) Kurang ajar kamu Kasmun. Kamu piker kamu bicara sama siapa, ha? Apa kamu piker saya bodoh? Sialan! Biar mampus, aku hajar kamu.
BLENTUNG (Melerai) Sabar, Mitro, sabar. Jangan keburu nafsu.
MITRO Tidak bisa, Belntung. Aku duah tidak sabar lagi. ini sudah keterlaluan.
KASMUN Am pun, mas Mitro, saya tidak bohong. Sungguh. Saya mendapat wangsit dari roh suci untuk….
MITRO Cukup, Kasmun. Cukup. Saya tidak percaya ocehanmu. Maan ada roh suci pelindung festival topeng. Saya tidak pernah dengar itu.
KASMUN (Menangis) Betul, Mas Mitro, mas Blentung, mana mungkin saya membohongi sampean. Saya tahu keluarga sampean sedang berduka. Mana tega saya bohong.
BLENTUNG Baik, coba jelaskan lebih rinci. Bagaimana mulanya kamu mendapat wangsit dari roh suci? Wangsit itu hanya datang pada orang-orang suci. Apalagi wangsit dari roh suci. Apa kamu orang suci?
KASMUN Begini. Sejak peristiwa ribut-ribut di festival topeng dan Mbah Joyo hilang, saya bertapa di bukit Wono Lawas. Saya memohon kepada roh suci, supaya desa kita tetap selamat dari segala marabahaya. Juga, memohon supaya Mbah Joyo segera kembali dalam keadaan selamat. Setelah 7 hari 7 malam, roh suci itu muncul dan menyuruh saya pulang. Roh itu bilang saya bertapa sampai 10 tahun pun Mbah Joyo tidak akan dipulangkan, kecuali Mbah Joyo berubah sikap. Yaitu, kembali memakai topeng pada festival. Lantas saya bilang bahwa Mbah Joyo sebetulnya sudah capek, ingin istirahat dan tidak mau ikut festival lagi. Tapi, roh suci malah marah sama saya. Katanya, “Capek boleh saja, tapi aturan harus tetap ditegakkan. Tanpa kecuali!”
MITRO Tunggu. Darimana mulanya kamu tahu roh suci itu ada?
KASMUN Mas Mitro, Mas Blentung, sampean tahu, kami orang susah. Tirakat, prihatin dan bertapa sudah menjadi keseharian kami. Dari itu saya tahu dan percaya roh itu ada.
MITRO Bahwa roh itu ada, saya percaya. Tapi, roh yang lain… Rohmat, Rohali, bukan roh suci pelindung festival topeng. Yang terakhir itu, saya baru dengar. Dan, itu yang membuat saya tidak percaya. Maaf Blentung, saya tidak bisa mendengar bualan ini lebih jauh. Ini rumahmu, jadi usir dia atau saya pergi.
BELNTUNG Sabar, biar dia selesaikan dulu.
MITRO Tidak bisa saya. Maaf (Keluar)
KIRNO Maaf, Blentung. (Keluar, disusul Peang dan Panjul)
BLENTUNG Teruskan, Kasmun.
KASMUN Terima kasih. Begini lebih baik. (lebih tenang) setelah itu saya memutuskan untuk berhenti bertapa dan pamit pulang. Tapi, sebelum saya melangkah pergi, roh suci sempat berpesan. Katanya, kalau mas Blentung mau mengajukan permohonan maaf dan sanggup menjamin Mbah Joyo kembali seperti semula, maksudnya berkenan memakai topeng lagi setiap festival, Mbah Joyo dijamin cepat dipulangkan.
BLENTUNG Kasmun, kenapa saya yang harus minta maaf? Kenapa bukan sayah saya? Ii aneh, Kasmun.
KASMUN Ya…. Saya juga kurang tahu. Tapi, nanti masn Blentung bisa tanyaka pada roh suci.
BLENTUNG Begitu ya?
KASMUN Ya, begitu.
BLENTUNG Tapi, bagaimana caranya saya bisa berhubungan dengan roh suci? Bagaimana dia juga tahu namaku?
KASMUN Namanya juga roh, apalagi beliau pelindung desa kita. Sudah sepantasnya beliau tahu nama warganya. Soal bagaimana cara berhubungan dengan beliau, saya akan Bantu, mas. Jangan khawatir.
BLENTUNG Baik, nanti saya pikirkan.
KASMUN Ya, baik. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam.
BLENTUNG Selamat malam.
Kasmun pergi, tapi balik lagi.
KASMUN Maaf, hampir lupa. Roh suci juga berpesan supaya Mas Blentung merahasiakan berita ini kepada warga desa. Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, katanya. Itu saja, selamat malam.
BLENTUNG Selamat malam.
Kasmun pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN ENAM BELAS
Jalanan desa. Tidak jauh dari rumah Blentung. Malam. Kasmun mencari ketiga temannya.
KASMUN Bawor, Gubil, Tuji. Di mana kalian? Bawor….
Bawor, Tuji dan Gubil mundul dari balik semak
KASMUN Setan semua. Kenapa kalian tidak menyusul?
BAWOR Maaf, Kasmun, kami tidak jadi masuk karena takut melihat mas Mitro marah-marah.
KASMUN Takut boleh saja, tapi jangan begitu caranya. Kamu kan tahu saya tidak bisa bersandiwara. Makanya, perlu teman. Sial!.
GUBIL Tapi sukses kan?
KASMUN Sukses kepalamu benjol. Hampir babak belur saya dihajar mas Mitro. Untung dicegah mas Blentung. Ah, baik betul dia. Saya jadi semakin tidak tega.
TUJI Tenang, Kasmun, yang penting tugas sudah beres.
KASMUN Tidak tahulah. Ayo pulang, capek betul rasanya.
Mereka pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN TUJUH BELAS
Jalana desa menuju sawah lading. Pagi. Sabil berangkat ke sawah-ladang masing-masing, warga desa bicara tentang kabar burung yang mereka dengar.
PARMIN Ah, yang bener. Jangan guyon, Wahyu.
WAHYU Bener, Tanya saja kalau tidak percaya. Semua orang sudah tahu.
PARMIN Kamu tahu dari siapa?
WAHYU Dibilang semua orang sudah tahu, ya dari orang-orang.
PARMIN Ya, tapi darimana asal kabar itu?
WAHYU Saya sendiri tidak tahu. Yang jelas, kabarnya Mbah Joyo akan segera pulang. Itu saja. Tuh, lihat si Kamto. Tanya saja sama dia. Kamto, sini dulu.
Kamto nongol dari sisi lain, mendekat.
PARMIN (Tidak sabar) Bener Kamto, Mbah Joyo segera pulang?
KAMTO Saya denger begitu, tapi sebaiknya jangan percaya dulu.
PARMIN Kenapa begitu?
KAMTO Karena kabarnya simpang siur. Dari sana lain, dari situ lain. Ada yang bilang begini, ada yang beilang begitu, ada yang bilang begini-begitu.
PARMIN Ya, tapi bagaimana jelasnya? Jangan mutar-mutar begitu.
Dari arah lain muncul Sanwiradji
KAMTO Tunggu, tunggu. Kita Tanya kakek Sanwiradji dulu, coba.
PARMIN Kek, senang tidak denger kabar Mbah Joyo?
SANWIRADJI Seneng? Ya jelas seneng kalau Mbah Joyo pulang. Ini berita gembira. Kita harus syukuran nanti.
PARMIN Lho, jangan seneng dulu, jangan syukuran dulu. Kabar itu benar atau tidak?
SANWIRADJI Eh, siapa bilang saya tidak gembira? Jelas saya gembira dong.
PARMIN Lho, saya tahu kakek gembira. Saya juga gembira kalau berita itu benar. Tapi, berita itu darimana asalnya? Berita itu bener atau tidak?
SANWIRADJI Apa?
PARMIN Jelaskan, Kamto. Jelaskan.
KAMTO (Teriak) Kakek dengar berita dari siapa?
SANWIRADJI Lho, kok dari siapa, ya dari roh suci pelindung festival topeng. Konon, asal kita mau menebusnya dengan mengadakan selametan seribu tumpeng, Mbah Joyo bakal dipulangkan.
PARMIN Tunggu…. Tunggu…. Aduh, ini kok tidak keruan ceritanya? (Kesal) sudahlah, teruskan ceritanya kek….
SANWIRADJI Ya, sudah kalau begitu. Kita tinggal selamatan. Parmin, jangan bilang saya tidak senang ya….
Parmin diam saja.
WAHYU Kalau yang saya dengar begini, Parmin. Mbah Joyo hilang diambil oleh roh suci pelindung festival topeng. Perkaranya, Mbah Joyo bilang sudah capek ikut festival. Konon, raja apa saja tidak boleh istirahat. Tidak boleh mundur. Jadi, kita semua warga desa harus minta maaf sama roh suci pelindung festival. Baru Mbah Joyo boleh pulang.
PARMIN Kita? Kita bikin salah apa? Kalau yang salah Mbah Joyo kok kita yang harus minta maaf? Bagaimana? Ah, sudahlah, sudah. Tiga orang, tiga cerita. Pusing aku.
Yasmudi, Pono dan Parjan datang.
YASMUDI Wah, ada pertemuan penting ini?
WAHYU Langsung saja Yasmudi, punya kabar apa soal Mbah Joyo?
YASMUDI Mbah Joyo? Wah, itu mestinya Tanya sama Pono dan Parjan. Mereka kan yang ikut festival!?
PARJAN Bagaimana Pono?
PONO Tidak, tidak dengar apa-apa. Saya ikut festival kan Cuma iseng.
YASMUDI Parjan?
PARMIN Sudah, sudah cukup. Bagus begitu, Pono. Tidak dengar apa-apa. Kalau dengar malah pusing seperti saya. Lain kali kalau dengar berita itu cari tahu darimana sumbernya, lalu Tanya pada sumber itu supaya jelas. Jangan simpang siur begini.
PARJAN Menurut Peang, sumber berita ini dari Kasmun.
PARMIN Kasmun? Betul? Sontoloyo? Memang dia itu. Dulu dia yang minta kita jangan memikirkan Mbah Joyo. Sekarang enak saja bilang Mbah Joyo akan pulang. Bagaimana kita tidak jadi memikirkan Mbah Joyo lagi? Bgaimana kita tidak resah? Bener-bener sontoloyo anak itu. Dimana dia sekarang? Biar aku cabut lidahnya, tahu rasa.
WAHYU Cabut boleh saja. Tapi jangan marah-marah sama kita, Parmin. Kita sama-sama tidak tahu.
PARMIN Apa yang kalian tahu? Semua serba tidak tahu. Percuma omong sama kalian (Pergi)
WAHYU Lho, dikasih kabar baik malah marah-marah.
PARMIN (Muncul lagi) Siapa bilang saya marah? Saya gembira mendnegar berita itu, karena paling tidak kita punya harapan. Buat orang ekcil macam kita, harapan itu penting walau pun belum tentu jadi kenyataan. (Pergi lagi)
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DELAPAN BELAS
Rumah Jarkoni. Malam. Samiun sedang marah-marah pada Kasmun dan kawan-kawan yang dianggap salah dalam menjalankan tugas. Cara marah Samiun membuat Kasmun dan kawan-kawan kelim pungan. Padahal Samiun hanya memandang saja, tanpa bicara satu patah kata pun.
KASMUN (Setelah lama kebingungan, lalu menangis) Am pun, pak. Am pun, am pun. Saya tidak tahan diapndangi seperti itu. Mohon diberi tahu apa kesalahan kami. Atau, kalau perlu lebih baik hukumlah kami. Tapi, mohon pak, jangan pandangi saya seperti itu. Am pun, am pun…..
SAMIUN Celaka kamu, Kasmun. Celaka kalian semua. Kalau orang melakukan kesalahan tapi menyadari dirinya berbuat salah, itu masih lumayan. Tapi, kalau orang bikin salah dan tidak menyadari dirinya berbuat salah, itu celaka Kasmun. Dan itulah kalian.
KASMUN Maaf, pak. Saya betul-betul tidak tahu apa kesalahan saya. Mohon bapak sudi memberi tahu supaya kami bisa memperbaiki.
SAMIUN Begini. Kalau saya umpamakan Pak jarkoni dan saya sebagai sopir…. Andong misalnya, siapa keneknya?
KASMUN Kami, pak.
SAMIUN Lantas siapa penumpangnya?
KASMUN Warga desa ini, pak.
SAMIUN Nah, sekarang kalau pak jarkoni dan saya sebagai sopir saja tidak berani menjanjikan apa pun pada para penumpang, bagaimana bisa kamu sebagai kenek berani menjanjikan Mbah Joyo akan pulang?
KASMUN O, jadi itu kesalahan saya? Am pun, pak, am pun…..
SAMIUN Bukan itu saja, masih banyak.
KASMUN Iya, pak. Baik pak, tapi saya tidak pernah menjanjikan apa-apa pada warga desa. Saya bilang kemungkinan Mbah Joyo akan pulang hanya pada mas Blentung. Dan saya wanti-wanti pada mas Blentung supaya jangan mengatakan pada orang lain.
SAMIUN Itu juga celaka, Kasmun. Jadi, kamu celaka tiga kali. Apa kamu piker Blentung tidak cerita pada orang lain? Siapa bisa jamin, coba?
KASMUN Saya, saya jamin, pak.
SAMIUN Nah. Sekarang kamu celaka empat kali. Coba sekarang kamu pasang kuping, dengar baik-baik apa kata orang-orang. Waktu mereka mau berangkat ke lading atau sawah, coba dengar. Mereka semua jadi berharap, Mbah Joyo akan segera pulang. Semua orang jadi runyam, jadi resah. Dan itu semua gara-gara omongan kalian, kesalahan kalian. Padahal tadinya semua tenang, sudah adem ayem.
KASMUN Bagaimana bapak tahu semua itu?
SAMIUN Itu tidak perlu kamu tanyakan, Kasmun. Pertanyaan bodoh itu. Sekarang aku yang mau Tanya. Kenapa kamu sebut-sebut Mbah Joyo akan pulang? Jawab Kasmun.
KASMUN Baik, pak. Sejak saya, maksud saya, sejak Mbah Joyo hilang, saya mendengar mas Blentung begitu menderita. Jadi, saya bermaksud menghibur dia dengan mengatakan Mbah Joyo bisa pulang dengan syarat tertentu. Dan saya piker memang begitu. Mas Blentung orang baik, Pak. Saya tidak tega membohongi dia. Saya…. Saya tidak tega.
SAMIUN Tidak tega? Omongan macam apa itu, kasmun? Oh, kamu benar-benar celaka 7 kali. Kamu piker, aduh… tolol, tolol. Kamu piker semua yang kita lakukan untuk apa, hah? Kok pakai tidak tega segala? Kamu tahu, berbohong pada satu atau dua orang untuk tujuan yang tidak jelas, bolehlah tidak tega. Tapi, kalau kita berbohong pada semua warga desa untuk tujuan yang baik ya… kita harus tega. Lho iya. Kenapa tidak? Apa yang kita lakukan kan demi kebaikan warga desa. Coba piker, apa menurutmu baik kalau kita bicara apa adanya tapi warga jadi resah? Tokoh macam apa coba, yang tega membuat warganya resah? Tolo, tolol….
KASMUN Am pun, pak. Saya mengaku bersalah. Kalau memang harus dihukum. Hukumlah saya. Saya rela.
SAMIUN Memang harus rela. Orang bersalah masatidak rela dihukum. Tapi, biar pak lurah yang mengurus ini (memanggil lurah Jarkoni yang ada di luar) pak lurah, silakan masuk. Ini bagian sampean. Capek juga marah-marah.
Jarkoni masuk, Samiun pergi.
KASMUN (Pasrah) Silakan pak lurah, hukulah saya.
JARKONI Kalian tahu, saya orangnya tidak tegaan. Jadi, hukuman untuk kalian kapan-kapan saja. Sebaiknya kalian pulang, istirahat. Jangan lupa, temui pak Samiun kalau hatinya sudah lega. Lalu minta maaf. Siapa tahu dia berubah sikap dan tidak marah lagi pada kalian. Dengan begitu tidak perlu ada hukuman buat kalian.
KASMUN Baik, pak lurah. Terima kasih. Kami merasa…..
JARKONI Sudah, sudah…. Sebaiknya kalian pulang. Istirahat. Banyak tugas menanti.
KASMUN Selamat malam, pak.
JARKONI Selamat malam
Kasmun dan kawan-kawan pergi. Samiun masuk.
SAMIUN Luar biasa. Lurah yang bijaksana. Hebat, hebat….
JARKONI Kalau mereka sakit hati dan tidak lagi berpihak pada kita, kita juga yang repot Kang. Maskud saya baik.
SAMIUN Kelewat baik juga tidak baik. Itu kelemahan, namanya. Ingat jarkoni, kamu pemimpin. Pemimpin tidak boleh lemah. Ingat itu.
Samiun pergi. Jarkoni menimbang-nimbang ucapan Samiun. Lalu pergi.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN SEMBILAN BELAS
Rumah KAsmun. Pagi. Kasmun mulai putus asa, kawan-kawannya datang untuk menghibur. Tuji memijit punggung Kasmun, yang lain memijit kakinya.
KASMUN (menangis) Tidak tahan aku, Tuji, Bawor. Tobat, aku tobat.
TUJI Tenang Kasmun….. sabar. Pak Jarkoni kan sudah bilang, kalau Samiun sudah tidak marah. Kita bisa menghadao. Dan, masalah selesai.
KASMUN Ini bukan persoalan dimarahi Samiun. Kalau soal itu saya tidak masalah. Tapi saya sudah membohongi mas Blentung, membohongi semua warga desa. Saya, bahkn sudah membohongi diri sendiri. Sudah jadi pengkhianat, saya. Apa gunanya seorang pangkhianat? Apa gunanya saya hidup? Malu, aku Gubil, malu Bawor…..
BAWOR Yang malu bukan Cuma kamu, kita semua malu. Tapi apa daya, kita Cuma korban! Tapi, omong-omong, kenapa kamu mesti bohong sama mas Blentung, Kasmun?
GUBIL Malah Tanya!. Kan kamu sendiri yang waktu itu usul. “Turuti saja apa maunya Samiun. Tunggu saat yang tepat baru kita lawan dia” begitu katamu.
BAWOR Bukan itu. Maskudku, kenapa Kasmun mengatakan pada mas Blentung bahwa Mbah Joyo akan pulang dengan syarat tertentu?
TUJI Kan sudah dibilang, Kasmun tidak tega melihat mas Blentung. Makanya, dia sedikit kasih harapan.
BAWOR O, ya, ya. Betul juga sih. Samiun saja yang gendeng. Semua ini emmang gara-gara dia. Terus menurutmu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk melawan si gendeng itu?
GUBIL Malah Tanya lagi. Sudah. Jangan banyak omong. Lebih baik kita pulang supaya Kasmun bisa istirahat.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH
rumah mas Genggong. Mbak Yuk Laras. Malam. Lurah Jarkoni datang mengendap-endap, lalu mengetuk pintu perlahan. Lurah itu tidak ingin ada orang melihat dirinya bertamu tengah malam seperti itu. Hujan turun rintik-rintik dan baju pak lurah tampak basah.
JARKONI (mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban) Mabk Yuk, Mbak Yuk…. Ini saya, tolong buka pintu.
LARAS Oh, maaf. Sudah lama? Saya tidak dengar. Maklum, kuping tua.
JARKONI Tidak apa Mbak Yuk, sayalah yang minta maaf karena bertamu malam-malam begini.
LARAS Ada yang penting?
JARKONI Tentu Mbak Yuk. Kang mas?
LARAS Ia sudah tidur dari tadi. Mana pernah tidur lewat jam 9. tidak apa saya bangunkan nanti.
JARKONI Oh, tidak perlu. Malah kebetulan, saya ada perlu sama Mbak Yuk.
LARAS Begitu?
Setelah beberapa saat memandangi Laras, mendadak Jarkoni berlutut dan memeluk kaki wanita itu, lantas mengungkapkan rasa kangennya.
JARKONI Aduh, Mbak Yuk. Kangen sekali rasanya. Ahhh….
LARAS Lho, katanya ada perlu, kok malah begini?
JARKONI Kangen adalah keperluan saya, Mbak Yuk.
LARAS (Juga berlutut) Oh, dik Jarkoni…. Kalau boleh jujur, saya juga sangat kangen. Oalah…. Jagat Dewa Batara. Kenapa ada rasa yang disebut kangen? Kenapa rasa itu ada di hati dan tertuju pada dirimu, dik jarkoni? Kenapa bukan pada suamiku seorang? Ngenes… ngenes…. (menangis)
JARKONI (Khawatir) Mbak Yuk, tenang Mbak Yuk. Jangan keras-keras, nanti kang mas bangun.
LARAS Biar saja dia dengar. Kan tidak ada salahnya dia tahu apa yang sedang terjadi pada istrinya. Kalau perlu, biar semua tetangga dengar. Ini sebuah keajaiban. Apa salahnya, iya kan?
JARKONI Iya, iya. Boleh saja Mbak Yuk merasa begitu, tapi sebaiknya jangan sampai orang lain tahu tentang kita. Tidak baik Mbak Yuk. Bahaya. Tenang Mbak Yuk, tenang.
LARAS Tenang, tenang. Bagaimana bisa tenang? Seumur hidup baru pernah merasakan seperti ini kok disuruh tenang. Coba kamu jadi saya, apa bisa tenang? Enak saja.
JARKONI Maaf, Mbak Yuk. Saya bukannya tidak memahami perasaan Mbak Yuk, saya hanya khawatir.
LARAS Baik, baik. Sekarang cepat bilang, apa keperluanmu yang lain? Mum pung aman, tidak ada yang dengar.
JARKONI Anu, Mbak Yuk, saya mau Tanya mengenai kang mas. Bagaimana keadaanya? Apa sudah sehat?
LARAS Ya, begitulah.
JARKONI Syukur. Kalau begitu sekarang waktu yang tepat bagi saya untuk konsultasi.
LARAS Ya, biar dia stress lagi. Darah tingginya kambuh lagi.
JARKONI Tapi ini mendesak, penting Mbak Yuk. Dan lagi kalau….
LARAS Ya, ya. Kalau kang mas sakit. Kita makin gampang ketemu. Kamu betul, dik jarkoni. Pintar. Ihh…. Jadi gemes….gemes….
JARKONI Jadi, saya boleh konsultasi sekarang?
LARAS Sekarang? Ini jam berapa? Edan kamu.
JARKONI Ini mendesak, Mbak Yuk. Saya mohon Mbak Yuk mengerti.
LARAS Baik kalau begitu, tapi saya ada permintaan.
JARKONI Boleh. Apa permintaan Mbak Yuk?
LARAS Kamu yakin bisa memenuhi permintaanku?
JARKONI Adalah sebuah kebahagiaan, bisa memnuhi permintaan orang yang saya cintai.
LARAS Ssst…. Aku tak butuh kata-kata. Yang aku butuh tindakan.
JARKONI Katakana yang Mbak Yuk minta.
LARAS (Berbisik)
JARKONI (kaget) Ah, yang benar? Tapi dimana?
LARAS Di dapur. Ayo…. (menuju dapur, menggandeng tangan Jarkoni)
LAMPU BERUBAH
Sayup-sayup terdengar senandung merdu dari dapur. Itulah rupanya yang diminta Laras pada lurah jarkoni. Bersenandung berdua di dapur. Beberapa saat kemudian fajar pun datang. Mas Genggong muncul, ia baru bangun tidur rupanya.
GENGGONG Bu, bu…. Mana tehnya? Bu…. (Tidak ada jawaban) Bu!
LARAS (di dapur) Ya, ya. Sebentar… (Muncul, membawa teh) saya kira belum bangun. Baru mau dibangunkan.
GENGGONG Kenapa tidak? Coba kamu bangunkan, aku tidak perlu mimpi aneh-aneh.
LARAS Mimpi aneh-aneh gimana?
GENGGONG Ya, pokoknya aneh. Belum pernah saya bermimpi seperti tadi. Saya khawatir ini isyarat buruk untuk desa kita. Saya mesti cerita sama Jarkoni secepatnya.
LARAS Isyarat buruk bagaimana?
GENGGONG Nanti saja saya ceritakan kalau ada Jarkoni
LARAS Itu dia dik jarkoni, baru datang. Dia lagi ke kamar kecil.
GENGGONG Ada? Mana? Tumben pagi-pagi?
LARAS Ada yang penting katanya.
JARKONI (muncul) Selamat pagi, kang mas.
GENGGONG Ah, kebetulan jarkoni. Saya baru mau suruh orang panggil kamu. Ada yang penting untuk kamu dengar, Jarkoni. Anu, saya baru mimpi aneh. Belum pernah saya mimpi seaneh ini. Mudah-mudahan bukan isyarat buruk untuk desa kita.
JARKONI Aneh bagaimana, kang mas?
GENGGONG Dalam mimpi, desa kita kebanjiran. Coba apa masuk akal desa di pengungan kena banjir? Banjir dari mana coba? Anehnya lagi, seluruh penduduk desa tidak ada yang saling menolong. Semua orang Cuma sibuk menyelamatkan diri sendiri. Semua. Bahkan kamu bu, kamu pun tidak mau menolong saya, padahal saya berteriak sekuat tenaga minta tolong. Lebih-lebih kamu, jarkoni. Kamu malah tertawa keras dan sama sekali tidak mengulurkan tangan waktu air mulai menenggelamkan saya. Dan tidak lama kemudian, kamu sendiri tenggelam. Negeri…. Ngeri….
JARKONI Aduh. Jadi….jadi…. (mendadak menemukan akal) kalau begitu sama kang mas. Saya juga mimpi seperti itu, persis.
GENGGONG (Kaget) Begitu? Kapan kamu mimpi?
JARKONI Tadi, menjelang subuh. Itu sebabnya saya langsung kemari. Buru-buru ingin cerita pada kang mas.
GENGGONG Ah, jadi isyarat buruk apa ini?
LARAS Jangan beranggapan buruk dulu, Pak. Mimpi kan bisa saja Cuma kembang orang tidur.
GENGGONG Ini lain, Bu. Firasat saya mengatakan ini hal yang buruk. Menurutmu bagaimana Jarkoni?
JARKONI Soal mimpi. Kang Mas pasti lebih tahu. Yang jelas, belakangan ini kalangan warga desa memang sedang tersiar banjir berita yang tidak enak didengar. Konon mereka percaya bahwa betul Mbah Joyo akan segera pulang. Jadi, mereka sedang merencanakan upacara penyambutan untuk kedatangan Mbah Joyo.
GENGGONG Begitu? Buset! Darimana mereka percaya kalau Mbah Joyo akan pulang? Apa mereka tahu di mana Mbah Joyo berada!? Ada-ada saja. Gila. Jangan-jangan ada diantara kita yang bocor mulut.
JARKONI Sepanjang saya tahu, tidak kang mas.
GENGGONG Tapi sebaiknya hati-hati. Bukan soal harapannya saja yang saya khawatirkan. Tapi, juga akibatnya. Orang kalau punya harapan – apalagi harapan yang muluk-muluk – kemudian harapan itu tidak terkabul, bisa patah hati. Lalu orang itu bisa aneh-aneh dan resah terus menerus. Bisa repot. Siapa yang repot? Ya, kita-kita juga, para tetua desa.
JARKONI Betul kang mas. Dan memang begitulah kelihatannya.
GENGGONG Terus, apa upayamu?
JARKONI Saya belum tahu, kang mas. Itu sebabnya saya datang.
GENGGONG Aduh…. Jangan dibiasakan menyebut kata-kata itu. Belum tahu, belum tahu. Harus tahu dong. Cegah, cegah, segala tetek bengek rencana upacara penyambutan itu.
JARKONI Kelihatannya sudah terlambat, kang mas. Mereka sudah mulai bergerak.
GENGGONG Bagaimana bisa begitu?
JARKONI Saya tidak tahu.
GENGGONG Stop kata tidak tahu. Stop!
JARKONI Maaf, kang mas. Begitulah kenyataanya. Kita memang bakal repot. Teruatama, kang mas sebagai ketua panitia festival topeng. Mereka bilang, kalau sampai Mbah Joyo tidak pulang, mereka akan menuntut kang mas.
GENGGONG Apa? Menuntut saya? Berani betul mereka bilang begitu!?
JARKONI Begitulah yang saya dengar. Dan katanya lagi, kalau sampai ketua panitia tidak….
GENGGONG Cukup, cukup. Stop! Aku tidak mau dengar lagi apa kata warga. Aduh, mana air putih? Bu, tolong air putih…..
Mas Genggong memegang dadanya, rupanya jantungnya kambuh lagi. Ia tampak berusaha tenang, tapi tidak kuasa. Ia ambruk. Pingsan.
LARAS (Dingin) Sukses kamu, dik jarkoni, sukses kamu. Tapi, seharusnya tidak perlu sekeras itu. Tidak kusangka, dibalik sikap lembutmu tersimpan kekejaman yang luar biasa.
JARKONI Saya capek, Mbak Yuk. Terlalu lama saya menjadi bayang-bayang kang mas. Maafkan saya, capek saya. (menangis)
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH SATU
Mulut desa. Pagi. Hampir semua warga desa Mosokambangan berkumpul. Mereka bermaksud menyambut kedatangan Mbah Joyo. Bawaan mereka mecam-macam. Ada spanduk selamat datang, umbul-umbul, beraneka ucapan selamat dan banyak lagi. Termasuk, tetabuhan yang membuat suasana meriah. Malah ada juga yang membawa tumpeng dan makanan lainnya. Layaknya orang yang mau selametan.
KIRNO (Memimpin yel) Hidup Mbah Joyo!
WARGA Hidup Mbah Joyo….
KIRNO Hidup Mbah Joyo!
WARGA Hidup Mbah Joyo…..
KIRNO Mbah Joyo pulang, semua senang!
WARGA Mbah Joyo pulang, semua senang….
KIRNO Mbah Joyo hilang, warga meradang!
WARGA Mbah Joyo hilang, warga meradang….
KIRNO Hidup Mbah Joyo! Selamat datang, Mbah Joyo!
WARGA Hidup Mbah Joyo…. Selamat datang Mbah Joyo….
Samiun datang diiringi tiga centeng
SAMIUN (Marah) Stop! Saudara-saudara, stop! Ini apa maksudnya? Apa-apan ini? Berhenti!
Kirno tetap maju, tetapi Peang dan Panjul mencegahnya
PEANG Kami tidak ada yang memimpin
PANJUL Ini inisiatif sendiri-sendiri.
KIRNO Ya, sendiri-sendiri. Untuk apa pemimpin! Kami sudah tidak percaya pemimpin! Semua pemimpin Cuma sibuk mengurus diri sendiri. Buktinya, Mbah Joyo hilang, semua pemimpin di desa ini juga menghilang.
SAMIUN Hati-hati bicara, Kirno. Kalau kedengaran lurah Jarkoni, Mas Genggong, seluruh staff kelurahan, habis kalian!
PEANG Perasaan takut kami sudah habis. Tidak takut.
PANJUL Kami sudah bosan takut.
SAMIUN Jangan bilang kami, Peang, Panjul. Siapa kami? Jangan bawa-bawa orang lain. Katanya, inisiatif sendiri-sendiri!?
WARGA Betul! Kami memang tidak takut. Kami sudah bosa takut!
SAMIUN (Pada para centeng) Hei, tangkap mereka!
KIRNO (Maju) Apa salah kami? Kami datang ke sini untuk menyambut Mbah Joyo, tetua desa ini, orang yang selama ini kami hormati. Apa hakmu melarang? Kami tidak berbuat salah. Kamu yang salah kalau menganggap kami salah.
SAMIUN Baik. Tapi apa kalian tahu di mana Mbah Joyo? Apa kalian pikir Mbah Joyo sedang piknik? Sedang naik haji? Kok pakai disambut segala. Mbah Joyo hilang atau pulang itu bukan urusan kita. Tapi, wewenang roh suci pelindung festival topeng. Roh suci yang mbahurekso desa kita.
KIRNO Bohong.tidak ada itu roh suci pelindung festival topeng. Kami tidak percaya omonganmu
WARGA Betulll….. Samiun pembohong!
SAMIUN Setan kamu, Kirno. Setan semua! Roh suci akan marah dan kalian semua akan celaka. Kalian akan terima akibatnya nanti. Bisa kualat!
Kasmun, bawor, Tuji dan Gubil muncul
KASMUN Cukup, pak Samiun. Sandiwara sudah selesai. Semua warga sudah tahu akal bulus sampean.
SAMIUN (Sangat kaget) Kasmun? Apa maksudmu? Berani betul kau bicara seperti itu!
Jarkoni muncul
JARKONI Kasmun betul, kang Samiun. Sandiwara sudah selesai. Mbah Joyo orang baik, dan kita tahu semua warga desa mengharapkan beliau pulang. Tidak ada alasan lagi menahan beliau lebih lama.
SAMIUN (Menarik Jarkoni ke sudut) Tapi, dia melanggar aturan
JARKONI Betul. Tapi, bukan berarti boleh memperlakukan Mbah Joyo sewenang-wenang. Itu juga melanggar aturan.
SAMIUN Kamu mau mengkhianati Mas Genggong? Mengkhianati saya?
JARKONI Saya melakukan apa yang menjadi tuntutan warga desa. Saya lurah.
SAMIUN Kamu tidak jadi lurah tanpa dukungan saya dan mas Genggong.
JARKONI Dulu ya. Tapi, sekarang berbeda. Semua tahu nanti Mbah Joyo pulang karena upaya saya. Dan, warga pasti akan terus mendukung saya.
SAMIUN Warga sudah tahu, kamu terlibat penahanan Mbah Joyo!
JARKONI Itu tidak masalah. Warga juga tahu saya yang membebaskan Mbah Joyo. Jadi, impas.
SAMIUN Tapi, warga juga tahu kamu sudah melindungi orang yang melanggar aturan. Lurah macam apa itu? Warga tidak akan suka.
JARKONI Semua warga berpihak kepada Mbah Joyo. Jadi, aturan itu akan saya ubah. Aturan kan dibikin berdasarkan kebutuhan. Namanya boleh saja tetap festival topeng, tapi kalau warga ingin tidak selalu pakai topeng pada setiap festival, ya boleh saja. Jangan dipaksakan. Wajah kita kan topeng juga. Susah amat.
SAMIUN Setan kamu, Jarkoni!. Pengkhianat! Sialan!
JARKONI Sekali lagi, saya melakukan apa yang menjadi tuntutan warga. Saya lurah, peimpin. Dan, sampean selalu bilang kalau pemimpin tidak boleh lemah, harus tega dan harus berani mengambil inisiatif. Ingat itu.
Samiun lepas kendali. Ia menyerbu Jarkoni. Tapi, warga segera meringkus Samiun. Sebagian warga yang kalap nyaris menhajar Samiun. Untung Mbah Joyo – didampingi Blentung dan Mitro - segera datang dan mencegah.
MBAH JOYO Tunggu, saudara-saudara! Stop! Jangan diteruskan, tidak boleh begitu. Lepaskan. Lepaskan dia!
Samiun belum dilepaskan.
KASMUN Dia yang menyuruh orang menculik Mbah Joyo. Dia layak mendapat hukuman.
WARGA Lho? Mbah, apa kabar? Sehat, mbah?
Semua warga mau mendekat kepada Mbah Joyo, tapi urung karena orang tua itu melanjutkan bicara menjawab Kasmun.
MBAH JOYO Kabar baik, sehat-sehat…. Kasmun, darimana kau tahu Samiun yang menyuruh orang untuk menculik saya?
KASMUN Dia yang menyuruh saya bohong pada semua warga desa. Yang melarang warga menyambut kedatangan Mbah Joyo, juga dia.
MBAH JOYO Itu baru dugaan. Wong saya yang diculik saja, tidak tahu siapa yang menculik!
BAWOR Ciri-ciri penculiknya bagaimana, Mbah? Sebutkan! Biar saya gantung!
GUBIL Sebutkan, mbah. Biar saya habisi sekarang juga!
MBAH JOYO Ciri-cirinya? Ya, tidak tahu. Orang saya dikerudungi sarung. Ee, itu Samiun dilepaskan dulu. Ayo!
Samiun dilepaskan
TUJI Apa Mbah Joyo diperlakukan dengan baik, selama ditahan?
BAWOR Apa Mbah Joyo tidak dilukai?
KIRNO Mbah, sebaiknya Samiun jangan dilepaskan. Kita malah harus tangkap semua orang yang kita curigai.
WARGA Betulll….. kita harus tangkap. Kita harus tuntut mereka.
MBAH JOYO Tunggu saudara-saudara, jangan keburu nafsu. Sabar. Dalam keadaan begini, kita harus tenang. Harus berpikir jernih. Kalau tidak, keadaaan akan lebih kacau. Desa kita sejak dulu ayem tenterem, tidak pernah ribut-ribut. Soal saya tidak mau pakai topeng saja kok diributkan. Apa salahnya orang tidak mau pakai topeng? Toh, masih banyak lagi orang yang mau pakai topeng? Wajah kita pada dasarnya juga topeng-topeng, jadi apa bedanya kita pakai topeng atau tidak? Hidup jangan dibikin susah. Soal tangkap emnangkap, culik menculik, juga jangan dibiasakan. Itu tidak bagus. Perbedaan pendapat itu biasa. Jangan kata dengan tetangga, dengan teman atau saudara, dengan anak dan istri saja bisa beda pendapat. Bahkan, hati dan pikiran kita saja sering beda kemauan. Jadi, apa salahnya perbedaan? Hidup jangan dibikin susah. Orang yang berniat jahat, pada akhirnya akan ketahuan. Dan, alam akan menghukumnya. Jadi jangan repot-repot. Tidak perlu balas dendam. Nanti jadi geger terus-terusan. Itu tidak bagus. Lihat saya, saya sehat walafiat. Lahir batin. Tidak terluka sedikit pun. Percayalah. Nah, saya lihat kalian ada yang bawa tumpeng. Ayo kita makan. Sudah lama saya tidak makan enak. Ayo, tunggu apa lagi? Ayo Jarkoni, Miun, Kasmun, Mitro, Blentung, Kirno. Ayo semua makan, nanti kita bicara lagi.
Suasana mendadak berubah. Ketegangan mencair ketika warga spontan mendekati Mbah Joyo. Ada yang menyalami, mencium tangannya, malah ada yang memeluk sambil menangis penuh harus dan bahagia. Tumpeng digelar, semua siap makan. Mendadak terdengar tangis seorang wanita. Di kejauhan. Semua orang kaget. Ketika suara tangis itu makin dekat, tahulah mereka suara siapa itu.
LARAS (Muncul) Toooolooooong….. tolooooooong….. suami saya, suami saya…. Tooolonnnng…. (Laras pingsan)
JARKONI Mbak Yuk, ada apa? Kangmas kenapa?
Semua mendekat dan menolong Mbakyuk Laras. Menyadari sesuatu yang mungkin terjadi dengan mas Genggong, semua warga segera menuju ke rumahnya.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH DUA
Jalanan desa. Siang. Arak-arakan jenazah Mas Genggong menuju makam. Semua warga desa mengantar. Kasmun, Bawor, Gubil dan Tuji mengusung keranda. Laras berjalan tepat di belakang keranda, ditemani beberapa wanita dan lurah Jarkoni. Mbah Joyo, Blentung dan Mitro di belakangnya. Kirno, Peang, dan Panjul di deretan berikutnya. Warga desa yang lain mengiringi di belakang. Suasana duka sangat terasa.
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH TIGA
Pemakaman, siang. Jenazah mas Genggong sudah dikubur. Mbah Joyo memberi sambutan.
MBAH JOYO Sauadara sekalian, hari ini kita kehilangan salah seorang warga terbaik kita, tokoh yang kita hormati dan kita cintai. Kepergian saudara Genggong, seolah menjadi puncak dukacita atas apa yang terjadi di desa kita akhir-akhir ini. Sungguh sangat disesalkan.
Semasa hidupnya, saudara Genggong banyak berjasa untuk desa kita. Beliau lama menjabat lurah, bekerja keras membangun desa kita. Bahkan setelah memasuki masa pension, beliau tetap penuh perhatian dan tetap cawe-cawe demi keajuan desa kita.
Sebagai manusia biasa, saudara Genggong tentu tidak luput dari eksalahan. Marilah kita memaafkan semua kesalahan dan kekhilafan almarhum. Agar almarhum berangkat dengan tenang dan mendapat tempat yang layak di sisiNya. Semoga kita yang ditinggalkannya, juga tabah dan senantiasa sehat.
WARGA Aminnn…….
MBAH JOYO Hari sudah sore, mari kita pulang. Saudara-saudara pasti capek. Saya juga capek. Kita baru saja melewati hari-hari yang buruk. Kita harus beristirahat dan menenangkan pikiran. Musim kemarau dan paceklik kelihatannya masih panjang. kita harus melakukan banyak upaya agar anak istri kita tidak kelaparan.
Semua pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH EMPAT
Sebuah tempat. Beberapa waktu kemudian. Malam. Kasmun, Bawor, Gubil dan Tuji sedang kongkow. Malam sudah larut dn sepi, mereka ngobrol ngalor-ngidul.
GUBIL Ah, sepi sekali rasanya. Sejak peristiwa geger itu, orang jadi jarang ngumpul. Kira-kira tahun depan masih pada mau ikut festival topeng tidak ya?
Tidak ada yang menyahut. Tuji sibuk membakar singkong, Kasmun dan Bawor leyeh-leyeh
GUBIL Heh, diajak ngomong kok pada diam saja.
TUJI Festival Topeng bikin gegeran saja kok ditunggu-tunggu
GUBIL Siapa yang nunggu!? Saya Cuma Tanya. TUJI Lebih baik kita berpikir besok mesti bikin apa, supaya kita tetap bisa makan dan masa depan lebih jelas. Festival topeng ditanyakan…huh….
GUBIL Tanpa festival topeng, desa kita jadi sepi. Dan, gara-gara festival itu kemudian ada gegeran, kita hampir kaya mendadak. Kita hampir dapat sawah, kerbau, TV. Jangan lupa itu. Kita saja malu-malu, jadi nggak jadi dapat.
BAWOR Jangan ngomong Gubil. Kalau mau sekarang juga kita masih dapat semua itu. Melamar sana jadi jongos atau centengnya Samiun.
GUBIL Mas Gubil jadi centeng, jongos? Gengsi dong…. Mendingan deket-deket Jarkoni, siapa tahu disuruh menggarap swahanya. Syukur-syukur diangkat jadi staf kelurahan. Lumayan dapat gaji bulanan, dapat baju seragam kantor, teurs dilirik perawan desa. Ya, nggak, Kasmun?
KASMUN Sederhana betul impianmu. Dasar anak kam pung.
GUBIL Sialan. Memang apa impian kamu? Pergi ke kota, jadi kuli bangunan? Itu lebih kampong lagi.
KASMUN Saya mau masuk partai
TUJI Apa? Tidak salah dengar, Kasmun?
KASMUN Masih ingat waktu kita mengumpulkan warga desa di tanah kosong Marto Pacul, di lor desa?
SEMUA Ingat.
KASMUN Nah, itu modal saya masuk partai. Pidato saya jauh lebih baik dan didengar orang daripada pidato lurah Jarkoni. Jadi, saya bukan boneka. Dan kamu tidak salah dengar, Tuji.
TUJI Cukup…. Masuk partai Cuma pakai modal pidato?
KASMUN Yang lain-lain bisa dipelajar sambil jalan. Orang lain malah banyak yang tidak pakai modal.
BAWOR Apa untungnya masuk partai?
KASMUN Lewat partai, kita bisa punya kekuasaan. Dengan kekuasaan di tangan, kita bisa nikin keputusan. Artinya, kita bisa menangkap orang macam Samiun, Jarkoni, Genggong….
TUJI (Memotong) Sssttt… jangan bawa-bawa orang yang sudah meninggal. Main tangkap, Mbah Joyo bilang juga tidak baik….
KASMUN Mbah Joyo memang baik. Tapi kelewat baik juga, tidak baik.
BAWOR Maskudnya?
KASMUN (Bergaya politisi di mimbar) Saudara-saudara sekalian, hokum harus ditegakkan! Mari kita membangun demokrasi. Kita ciptkan pemerintahan yang bersih. Kita ciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Kita harus membangun ekonomi yang sehat. Kita berantas KKN. Kita bisa, kalau kita mau.
Tapi maaf saudara-saudara, malam sudah larut. Waktu saya terbatas. Pertemuan saya akhiri sampai di sini. Besok banyak tugas lain menanti. Sampai bertemu pada rapat mendatang. Selamat malam. (Pergi)
TUJI Buset….
GUBIL Bisa begitu?
BAWOR Edan….
Semua pergi
LAMPU BERUBAH
ADEGAN DUA PULUH LIMA
Jalan desa. Dua tahun kemudian. Pagi. Festival topeng kembali digelar. Rupanya pesertanya makin banyak. Kasmun, Bawor, gubil dan Tuji juga ada diantara mereka. Ya, bukan lagi sebagai penonton, tapi peserta. Gubil, Bawor dan Tuji memakai banyak topeng. Kasmun, memakai lebih banyak topeng lagi, seluruh tubuhnya nyaris tertutup topeng-topeng. Diantara bunyi tetabuhan yang penuh geeget, para penonton berolok-olok, terutaman pada Kasmun.
ORANG KE 1 Wah, meriah betul. Ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.
ORANG KE 2 Ya, pesertanya juga paling banyak
ORANG KE 3 Kalau tidak, percuma dong. Tahun ini sumbangan kita juga paling banyak
ORANG KE 4 Kasmun, hebat kau. Topengnya banyak betul. Coba dari dulu ikut festival, kamu pasti menang.
ORANG KE 5 Ya, topeng kamu bagus-bagus, Kasmun. Tapi, kelihatannya galak-galak.
ORANG KE 1 Ya, galak sekali.
KASMUN Biar galak, asal menang.
Arak-arakan terus berjalan menuju tanah lapang tempat festival topeng biasa digelar. Blentung dan Mitro memisahkan diri dari arak-arakan. Setelah semua pergi.
MITRO Zaman apa ini Blentung? Semua orang ingin jadi pemain.
BLENTUNG Zaman berubah, semua berubah. Panggung festival topeng memang penuh magnet. Di sana orang mendapat sorotan, tepuk tangan dan pujian….
MITRO …. Sekaligus makian.
BLENTUNG Dan, kita tetap di sini sebagai penonton
MITRO Setelah ayahmu pensiun, rasanya kamu pantas ikut.
BLENTUNG Begitu? Ah, aku baru mau bilang.
MITRO Betul?
BLENTUNG Betul. Sebagai keluarga donator turun-temurun, rasanya kamu juga pantas ikut.
MITRO Begitu? Ah, baru aku mau bilang.
BLENTUNG Betul?
MITRO Betul
Mereka berdua lantas tersenyum dan berjabat tangan
LAMPU PADAM
SELESAI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ARWAH-ARWAH KARYA W.B. YEATS TERJEMAHAN SUYATNA ANIRUN
RERUNTUHAN RUMAH, SEBATANG POHON TAK BERDAUN
PEMUDA Setengah pintu, pintu tengah Kesana kemari siang dan malam Memikul beban, ke bukit dan ke lembah Mendengar kau bicara saja.
ORANG TUA Perhatikan rumah itu. Kuingat kisah dan leluconnya. Kuingat apa yang dikatakan si pelayan kepada si penjaga mabuk pada pertengahan Oktober, tapi aku tak bisa. Dimana kisah dan lelucon sebuah rumah kalau ambang pintunya dipakai memperbaiki kandang babi?
PEMUDA Kau pernah kenal jalan ini?
ORANG TUA Bulan bersinar di atas jalan, bayangkan awan jatuh di atas atap rumah. Itulah lambang. Lihatlah pohon itu! Seperti apa rupanya?
PEMUDA Orang tua lupa ingatan!
ORANG TUA Aku melihatnya tahun yang lalu botak seperti sekarang. Maka kupilih kerja yang paling baik. Aku melihatnya lima puluh tahun yang lalu sebelum petir membelahnya. Daun-daun hijau, daun-daun tua, daun-daun segemuk mentega, hidup gemuk dan berlemak. Berdiri di situ dan lihatlah! Karena ada orang di rumah itu.
PEMUDA Tak seorangpun di sini.
ORANG TUA Ada orang di situ!
PEMUDA Lantai sudah hilang, jendela hilang dan dimana seharusnya ada atap, hanya langit yang membentang. Dan di sini pun pecahan kulit telur jatuh dari sarang burung gagak.
ORANG TUA Tapi ada beberapa yang tidak peduli pada apa yang hilang atau pada apa yang ada. Arwah-arwah dari alam barzah yang kembali ke rumah dan tempat yang mereka kenal.
PEMUDA Kau sedang melantur lagi!
ORANG TUA Untuk merasakan lagi dosa-dosa mereka. Tidak sekali tapi berulang-ulang. Akhirnya mereka tahu akibat dari dosa-dosa itu. Atas orang lain ataupun atas dirinya sendiri. Atas orang lain, orang lain bisa menolong. Tapi kalau atas dirinya sendiri tak ada pertolongan kecuali atas diri sendiri dan pada belas kasihan Tuhan.
PEMUDA Cukup sudah! Bicaralah pada burung-burung kalau kau harus bicara juga!
ORANG TUA Berhenti! Duduk di situ! Itulah rumah dimana aku dilahirkan.
PEMUDA Rumah tua yang terbakar itu?
ORANG TUA Ibuku atau nenekmu memiliki tanah di daerah ini. Kandang-kandang anjing dan kuda. Ia punya kuda di ladang ternak dan disana bertemu dengan ayahku, budak di kandang kuda. Saling pandang, lalu mereka kawin. Tapi kemudian ibuku tak mau mengenalnya lagi.
PEMUDA Apa yang benar dan apa yang salah? Kakekku mendapatkan gadisnya beserta uangnya.
ORANG TUA Ayahku memboroskan semua milik ibuku. Ibuku tak pernah tahu yang terjelek karena ia meninggal waktu melahirkan aku. Tapi sekarang ia tahu semuanya karena ia telah mati. Orang-orang besar hidup dan mati di rumah ini. Patih-patih, Demang-demang dan Hakim-hakim, Ponggawa-ponggawa dan perwira yang dulu bertempur di semenanjung dan muara. Mereka yang telah pergi dengan tugas pemerintah pulang untuk mati atau datang dari seberang tiap awal musim kemarau untuk meninjau bunga-bunga di bulam Mei dalam taman. Mereka mencintai pohon-pohon yang ditebang ayahku untuk membayar kekalahan di meja judi atau dengan kuda, minuman atau perempuan. Mereka mencintai semua lorong yang ada di rumah ini. Membinasakan rumah dimana orang-orang besar menjadi dewasa, kawin dan meninggal. Kunyatakan disini, telah berlangsung suatu kejahatan yang laknat!
PEMUDA Wah, tapi kau beruntung. Pakaian mewah, mungkin kuda gagah untuk ditunggangi.
ORANG TUA Supaya aku tidak lebih unggul darinya, ayahku tidak pernah mengirim aku ke sekolah. Tapi masih ada orang yang cinta karena aku juga anak ibuku. Istri penjaga mengajar aku membaca, Pak Padri mengajar aku bahasa. Banyak buku-buku berharga dengan jilidan mewah abad lalu. Buku-buku modern dan kuno. Beribu-ribu buku.
PEMUDA Dan aku kau beri pendidikan apa?
ORANG TUA Kuberi kau pendidikan yang patut bagi anak haram yang gampang. Ketika aku berumur enam belas tahun, ayahku membakar rumah-rumah itu dalam mabuknya.
PEMUDA Itu usiaku enam belas tahun.
ORANG TUA Dan seluruhnya terbakar habis. Buku-buku, perpustakaan dan segalanya.
PEMUDA Apa benar juga yang kudengar sepanjang jalan bahwa kau membunuh ayahmu di rumah yang terbakar itu.
ORANG TUA Tak ada seorangpun disini kecuali kita?
PEMUDA Tak seorangpun ayah.
ORANG TUA Kutikam dia dengan pisau. Pisau yang sehari-hari biasa kita pakai. Setelah itu kutinggalkan dia di tengah api yang sedang berkobar. Mereka menemukan mayatnya. Seseorang menemukan bekas pisau tapi tak berani memastikan karena mayat itu hangus bagai arang. Beberapa teman pemabuknya bersumpah untuk menghadapkan aku ke pengadilan, mendalihkan ancaman yang pernah dilontarkan. Penjaga memberikan pakaian tua, aku melarikan diri, bekerja dimana-mana, hingga aku menjadi penjual dari jalan ke jalan. Bukan pekerjaan baik, tapi cukup baik. Karena aku anak ayahku. Karena apa yang dia lakukan bisa aku lakukan. Dengar! Dengarlah! Derap kuda! Dengar!
PEMUDA Aku tidak mendengar apa-apa.
ORANG TUA Jalan terus! Jalan terus! Malam ini adalah peringatan malam perkawinan ibuku atau malam aku dikandung, ayahku naik kuda dari tempat minum. Sebotol arak di tanganya. DI JENDELA MUNCUL WANITA MUDA
ORANG TUA Lihat di jendela! Ibuku berdiri di situ, mendengar. Pelayan-pelayan sudah tidur. Ibuku sendirian. Ayahku pulang jauh ditengah malam karena ia berjudi dan mabuk-mabukan di kedai minum.
PEMUDA Tak ada apa-apa kecuali lubang kosong pada tembok. Kau dusta. Tidak, kau gila! Kau makin gila tiap hari!
ORANG TUA Suara itu makin keras karena ia melewati jalan berkerikil yang kini ditutupi rumput. Suara derap berhenti. Ia pergi ke belakang rumah, mengandangkan kudanya. Ibuku turun membuka pintu, malam ini ia tak lebih sopan dari suaminya yang terhuyung karena mabuk. Ibuku tergila-gila padanya. Mareka naik tangga. Ibuku membawanya ke tempat tidur. Itulah kamar perkawinan mereka dan itulah ranjang perkawinan mereka. Jendela sudah setengah gelap kembali. Jangan biarkan dia menjamahku! Tidak benar bahwa suami mabuk tak bisa membuahi dan kalau ia mulai berhasil, kau harus mengambil benih pembunuhnya. Tuli! Tuli! Keduanya tuli! Bahkan jika kulempar kayu atau batu mereka tak mendengar. Itulah bukti pikiranku sudah sakit. Tapi ada satu soal, ibuku harus mengalami sekali lagi semua bahkan segalanya. Didorong oleh rasa sesal. Tapi bisakah ia berkelamin lagi dan tak menemukan kepuasan didalamnya. Bila ketidakpuasan harus bersama-sama, mana yang lebih kuat! Aku tanpa didikan. Pergilah! Panggil pertulian! Ia dan aku akan menguraikan segalanya sementara kedua orang itu berbaring di ranjang, membuahi dan mengandung aku.
PEMUDA MENGADUK-ADUK KANTONG LALU MEMBAWANYA
ORANG TUA Kembali! Kembali! Kau kira kau bisa melarikan diri dengan bungkusan uangku di tanganmu? Dikiranya sementara aku bicara tak melihat kau mengaduk-aduk buntalan itu?
PEMUDA Kau tak pernah memberiku bagian.
ORANG TUA Jika kuberikan, anak muda seperti kau akan menghabiskannya pada minuman.
PEMUDA Kalau aku menghendakinya? Aku berhak menggunakan uangku semaunya.
ORANG TUA Berikan bungkusan itu dan tutup mulutmu!
PEMUDA Tidak mau!
ORANG TUA Akan kuhancurkan jari-jarimu.
MEREKA MEMPEREBUTKAN KANTUNG. DALAM PERKELAHIAN KANTUNG ITU LEPAS DAN UANGNYA BERHAMBURAN. ORANG TUA ITU TERHUYUNG TAPI TIDAK JATUH. MEREKA BERDIRI SAMBIL MEMANDANG JENDELA. TAMPAK TERANG. TAMPAK SEORANG LELAKI SEDANG MENGISI GELASNYA DENMGAN WHISKEY.
PEMUDA Bagaimana kalau kau kubunuh? Kau membunuh kakekku karena kau muda dan ia tua. Sekarang aku yang muda dan kau yang tua.
ORANG TUA (MELIHAT KE JENDELA) Kini lebih jelas. Enambelas tahun itu.
PEMUDA Apa yang kau ocehkan?
ORANG TUA Lebih muda. Padahal perempuan itu harus tahu bahwa lelaki itu bukan macamnya.
PEMUDA Apa yang kau katakana? Hentikan! Hentikan!
ORANG TUA ITU MENUNJUK KE JENDELA
PEMUDA Tuhanku! Jendela itu terang dan seseorang berdiri di situ.
ORANG TUA Jendela itu terang lagi. Ayahku datang untuk mendapatkan segelas whiskey. Ia bersandar di sana seperti binatang yang kepenatan.
PEMUDA Orang mati dibunuh yang hidup kembali.
ORANG TUA Dan ranjang pengantin jauh pada Adam’. Dimana kubaca kata-kata itu. Padahal tidak ada sesuatupun yang tersandar di jendela itu selain bayangan yang ada di kepala ibuku yang mati kesepian dalam sesalnya.
PEMUDA Tubuh yang menjelma sebelum dilahirkan. Mengerikan! Mengerikan! (MENUTUP WAJAHNYA)
ORANG TUA Makluk itu takkan tahu apa-apa, karena bukan apa-apa, jika kubunuh orang di bawah jendela itu, ia bahkan takkan sempat memutar kepalanya.
ORANG TUA MENIKAM ANAK MUDA ITU
ORANG TUA Ayahku dan anakku oleh pisau yang sama. Ini mengakhiri.
ORANG TUA MENIKAM BERULANG-ULANG, JENDELA JADI GELAP
PEMUDA Ibuku sayang, jendela itu gelap kembali. Tapi kau ada dalam cahaya sebab telah kuselesaikan segala akibatnya. Kubunuh anak itu karena ia telah tumbuh. Ia akan mematahkan nasib seorang perempuan, membuahinya dan melanjutkan keonaran. SELESAI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Agus2noor@yahoo.co.id
Selontar Pengantar
Lakon Sidang Susila (karya Ayu Utami dan Agus Noor) dipentaskan pertama kali oleh Teater Gandrik, pada tanggal 21-23 Februari 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Inilah lakon yang menggambarkan satu upaya monopoli kebenaran moral. Sebuah zaman, ketika Undang-undang Susila ditegakkan, yang bayang-bayangnya seperti sudah bisa terasakan ketika naskah ini ditulis. Sebuah zaman yang menyeramkan tetapi juga penuh kekonyolan. Bagi Anda, yang sudah menyaksikan pementasan lakon itu, file naskah lakon ini bisa menjadi bacaan sekaligus mencoba membayang-bayangkan bagaimana proses kerja penafsiran estetik telah berlangsung dari jagat teks ke jagat panggung, sebagaimana yang kemudian tampak dalam pementasan Teater Gandrik itu.
Bagi yang belum sempet menyaksikan (semoga saja bisa menontonnya apabila lakon ini dipentasulangkan oleh Teater Gandrik) file ini bisa menjadi bacaan sembari mengimajinasikan bagaimana panggung berlangsung. Membaca naskah lakon, memang seperti menyusun adegan dalam panggung yang tergelar dalam kepala. Ini, siapa tahu, bisa jadi obat kagol, lantaran tak sempat menyaksikan pertunjukannya.
Tetapi, siapa tahu, kelompok teater lain berminat mementaskan. Tentu saja, naskah ini terbuka bagi kelompok teater mana pun. Artinya, naskah ini boleh dipentaskan di mana pun kapan pun oleh siapa pun, sepanjang memberitahukan pada penulis, tentu sekadar untuk sopan santun. Satu hal lagi, Anda boleh mengutip sebagian atau seluruh bagian naskah ini, sepanjang itu tidak digunakan untuk kepentingan bisnis.
Nah, sekarang, Anda silakan baca file naskah Sidang Susila ini..
BUKAN PERINGATAN PEMERINTAH:
Apabila naskah ini dipentaskan, harap menyertakan tanda “17 tahun keatas” pada poster dan semua elemen publikasi lainnya, termasuk tiket dan buku acara, untuk menyatakan kalau tontonan ini lebih baik ditonton oleh para penonton yang memang “sudah dewasa”. Ini juga dimaksudkan, bahwa tanpa undang-undang yang mengatur moralitas, sebagai masyarakat kita pun sesungguhnya (sudah) bisa mengatur diri sendiri.
SIDANG SUSILA
Naskah: Ayu Utami & Agus Noor
OPENING
Suasana murung dan menekan.
Muncul serombongan Polisi Moral, yang berjalan menderap, tegas. Seakan mengawasi keadaan dengan sikap waspada dan curiga.Tampak segerombolan orang yang mengendap-endap menghindari Polisi Moral itu. Orang-orang itu ketakutan, langsung sembunyi begitu melihat Polisi Moral melintas. Sementara Polisi Moral itu terus berderap melintas, bagai menyebar ke seluruh penjuru kota. Mengawasi keadaan. Memasang bermacam tanda gambar yang penuh larangan.
Ketika para Polisi Moral itu akhirnya melintas pergi, segerombongan orang yang tadi mengendap-endap itu tampak gembira. Tampak mereka kemudian bersiap untuk menggelar tayuban.
SATU
Tayuban sedang berlangsung di sebuah tempat di pingiran kota…
Para penari tayub asik ngibing. Orang-orang yang gembira pun ikut menari dan berteriak-teriak menyenggaki goyang para penari. Mira, seorang penari tayub bergerak sensual, mengundang gairah para lelaki yang ikut berjoget. Suasana meriah dan bergairah.
Muncul Susila, membawa pikulan berisi dagangannya: mainan anak-anak. Bermacam mainan anak-anak. Ada mobil-mobilan, wayang, balon yang dibentuk dilekuk-lekuk aneka bentuk, kitiran, dll. Begitu melihat sesila muncul, Mira langsung menyambut dengan genit.
MIRA: Waduh Mas Susila… Ayo sini, Mas… ayo toh…
Beberapa penari tayub yang lain pun segera mengerubungi Susila, seolah Susila sudah akrab dengan mereka, sudah terbiasa datang ke tempat itu.
PENARI TAYUB 1: Kemana saja sih.. Kok lama nggak kelihatan…
PENARI TAYUB 2: Apa nggak ngerti kalo dikangenin…
PENARI TAYUB 1: Makin montok saja…
PENARI TAYUB 2: Montok apanya?
PENARI TAYUB 1: (Sambil mentowel susu Susila) Ya susunya toh ya…
MIRA: Ealahhh, sudah, sudah! Apa ndak liat kalo dia pinginnya sama saya!
Mira langsung menarik Susila untuk ikutan ngibing. Maka Susila pun segera menari. Tubuhnya yang tambun terlihat erotis tetapi juga lucu ketika menari. Gerakan tarinya komikal dan mengundang tawa. Sampai kemudian Susila terlihat kelelahan, lalu istirahat sembari kipas-kipas. Tubuh tambunnya yang berkeringat membuat ia sumuk, lalu mulai membuka kancing bajunya. Tampak susu Susila yang kimplah-kimplah. Mira mengelus-elus susu Susila, hingga Susila merem-meleki ganjen, sambil terus memandangi penari tayub itu. Seperti mengkhayalkan hal-hal yang erotis.
Muncul seorang lelaki, sikapnya hati-hati, mendekati Mira. Laki-laki ini segera menarik Mira, menjauhi Susila. Tampak Mira dan laki-laki itu berbisik-bisik, bercakap-cakap rahasia. Tampak lelaki itu memberikan segulungan ketas pada Mira. Mira memperhatikan kertas itu.
Susila tampak tertarik, dan mendekati Mira. Tetapi begitu melihat Susila mendekat, Mira segera cepat-cepat menggulung dan menyembunyikan kertas itu. Sementara lelaki yang tadi memberikan segulungan kertas pada Mira langsung menyelinap pergi…
SUSILA: Ada apa?
MIRA: Ndak apa-apa… Ayo sudah nari saja lagi…
Maka Mira pun langsung mengajak Susila menari. Suasana makin ramai dan gayeng. Mira langsung cekikikan genit ketika Susila menggelitik perutnya. Tayuban terus berlangsung. Tarian makin hot.
Mendadak terjadi kepanikan. Muncul beberapa Polisi Moral – yang langsung mengobrak-abrik tayuban itu. Para penari dan pengunjung yang lain langsung kabur. Susila yang bertubuh tambun terlihat kaget, bingung dan hanya melongo memandangi itu semua. Ia ingin ikut lari juga, tapi tubuhnya yang tambun tak bisa membuatnya bergerak cepat.
Beberapa Polisi Moral langsung mengepung Susila. Senapan-senapan dengan lampu infra merah mengarah ke tubuh Susila. Susila hanya mengangkat tangan kebingungan. Titik-titik merah terlihat memenuhi tubuh Susila. Susila hanya bisa pasrah ketika para Polisi Moral itu meringkusnya dengan jaring yang dilemparkan. Susila terlihat kebingungan, nggak ngerti dengan apa yang terjadi itu.
SUSILA: Lho, ada apa ini… Ada apa… Waduh…
Seperti mendapat tangkapan paus besar, para Polisi Moral itu langsung menyeret dan menggelandan Susila. Beberapa petugas itu langsung membawa dagangan Susila
SUSLA: Waduh… daganganku… Daganganku…
Para petugas yang meringkus Susila itu segera menggelendangnya. Memukulinya. Susila hanya bisa berteriak-teriak mengaduh kesakitan. Mereka exit.
Perlahan lampu meredup. Hanya terdengar teriakan dan lolongan Susila. Mengingatkan pada inkuisisi yang penuh kekerasan. Sayup-sayup suara Susila makin lemah dan menghilang.
DUA
Ketika lampu menyala di satu tempat, terlihat Ibu Jaksa penuh gaya memberi keterangan pers di hadapan wartawan yang mengerubutinya.
JAKSA: Tepat pukul kosong kosong lebih kosong kosong, Undang-undang Susila telah ditetapkan secara sah dan meyakinkan. Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka secara resmi dan konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral. Untuk itu secepatnya kita juga akan menyusun Garis-garis Besar Haluan Moral Negara… Bertepatan dengan itulah, kami mencanangkan Gerakan Nasional Moral Bangsa untuk mencapai moralitas yang adil dan beradab. Kami sudah menggelar razia moral. Dan Alhmandulillah, kami telah berhasil menangkep dari pada seorang penjahat moral, yang secara terang-terangan melakukan tindakan pornografi dan pornoaksi…
Para wartawan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan…
JAKSA: Tenang… tenang…Semua akan saya jawab… Tapi tolong dicatat yang baik. Jangan sampai salah kutip… Nanti saya mesti repot membuat bantahan.
WARTAWAN: Siapa yang ditangkap itu, Bu?
JAKSA: Detailnya nanti saya informasikan setelah penyidikan. Tapi yang jelas, orang ini adalah penjahat moral pertama yang berhasil kita amankan.
WARTAWAN: Kapan disidangkan?
JAKSA: Segera. Secepatnya. Ini prioritas kasus yang akan kami ungkap secara tuntas. Agar masyarakat tahu, kalau kita tidak main-main dalam menegakken Undang-undang Susila ini.
WARTAWAN: (Memotong dengan cepat) Bukankah Undang-undang ini bentuk lain dari represi moral?
JAKSA: (Langsung bernada membentak marah) Bagimana pun Sodara-sodara, pornografi dan pornoaksi harus kita babat! Karna begitulah, Sodara-sodara… Sebagaimana firman Allah. Moral masyarakat harus dijaga, Sodara-sodara. Kalau penjahat moral ini tidak segera dihukum, pasti masyarakat akan resah. Dia akan mengganggu ketertiban. Membuat hidup kita sengsara. Haleluya!
Perlahan di tempat lain, cahaya menerangi Susila yang sudah berada dalam sel. Dalam sel itu tampak tempat tidur kecil. Dan di sampingnya ada closet. Susila sedang duduk terkantuk-kantuk di closet itu. Sedang berak. Posisi duduknya mengingatkan kita pada pose patung The Thinker Augusto Rodin.
JAKSA: Berdasarkan laporan yang saya terima, orang ini boleh dibilang penjahat moral paling menjijikkan… Jorok.. Bau busuk…
Di dalam sel, Susila kentut begitu keras. Terdengar seperti suara orang terserang mencret, dan Susila sampai menutup hidung tak tahan dengan bau tainya sendiri…
JAKSA: Dia penjahat moral paling berbahaya. Karena itulah, kami menempatkannya di sel khusus, dengan penjagaan ekstra ketat.
Lampu di bagian Bu Jaksa meredup. Bu Jaksa dan para wartawan exit. Di panggung tinggal terlihat Susila yang masih duduk terkantuk-kantuk sedang berak di closet. Bersamaan lenyapnya Bu Jaksa itu, terdengar suara mencret yang menggelontor panjang. Dan Susila terlihat begitu lega…
TIGA
Susila bangkit dari closet. Ia menuju papan tempat tidur, duduk di situ dan memandangi selnya. Ia terlihat kebingungan dan tak mengerti kenapa ia berada di sel itu. Ia berusaha tiduran, tapi kerepotan karena tempat tidur itu begitu kecil dan sempit untuk tubuhnya yang tambun. Lalu ia bangkit, mengambil gelas seng yang tergeletak di pojok. Melihat isi gelas itu, lalu meminumnya, menenggak… Tapi rupanya gelas itu sudah kosong. Di tumpahkan ke telapak tangannya berkali-kali, tak ada setetes air pun menetes dari gelas itu. Ia terlihat berfikir sejenak, lalu tersenyum seperti memperoleh ide cemerlang… Susila pun segera meludah berkali-kali ke dalam gelas itu, lalu menenggaknya…
SUSILA: Lumayan…
Susila terlihat lega, terbebas dari rasa haus di kerongkongannya. Lalu Susila terlihat bingung lagi. Mengelus perutnya, merasa lapar. Segera ia memukul-mukulkan gelas seng itu ke jeruji besi, sambil berteriak-teriak memanggil.
SUSILA: Mas… Mas… Mas Pulisi… Mas… Mas Pulisi…
Susila terus memukul-mukulkan gelas seng itu ke jeruji besi, terdengar berisik. Sampai tiba-tiba muncul dua orang petugas, seperti pasukan anti teroris yang siap menyergap, mengacungkan senjata ke arah Susila. Melihat itu Susila langsung mundur ke belakang, kaget, sampai gelas yang dipeganginya jatuh…
SUSILA: Ampun … Saya cuma mau minta minum kok… Haus… (melihat sikap petugas yang serius siap menembak itu, ia jadi ketakutan juga) Ee… Ka…kalau tidak ya tidak apa-apa… Biar saya minum ludah saya sendiri lagi…
Susila beringsut hendak mengambil gelasnya. Ketika melihat Susila bergerak, dua petugas itu langsung mundur, seperti ketakutan dan berjaga-jaga kalau Susila bisa sewaktu-waktu menyerang mereka.
Susila mengambil gelasnya, meludah berkali-kali ke dalam gelas itu. Kemudian menenggaknya… Sampai ia gelegekan.
SUSILA: Uenak tenan… (Menyorongkan gelas itu ke arah petugas) Mau nyoba…
Petugas itu beringsut mundur ketakutan. Tapi tetap dengan senjata siap tembak. Muncul Petugas Kepala, mengamati Susila. Lalu memberi perintah pada seorang petugas.
PETUGAS KEPALA: Beri dia ransum!
Salah satu petugas dengan cekatan mengambil piring berisi sekerat makanan dan siap menyorongkan ke dalam sel Susila, tapi Petugas Kepala itu langsung membentak,
PETUGAS KEPALA: Tolol! Pakai tongkat pengaman!
Petugas itu langsung mengambil tongkat dengan pengait di ujungnya. Lalu petugas itu menyorongkan piring yang sudah dikaitkan di ujung tongkat itu ke dalam sel. Susila memandanginya dengan heran, bingung, tak mengerti. Tapi begitu petugas itu menjauh, Susila langsung saja menyamber makanan di piring itu, dan menyantapnya dengan cepat…
Para petugas memandanginya dengan waspada.
PETUGAS KEPALA: Semua siap?
KEDUA PETUGAS: Siap, Pak.
PETUGAS KEPALA: Saya ingatkan sekali lagi, agar kalian hati-hati. Selama interograsi, jangan sampai kalian bersentuhan langsung dengan pesakitan. Mana tabung antiseptiknya?
PETUGAS 2: (menunjukkan tabung semprot) Siap, ini Pak…
PETUGAS KEPALA: Itu buat berjaga-jaga. Langsung semprotkan antiseptik itu ke tubuh kalian, bila kalian terpaksa bersenggolan atau bersentuhan langsung dengan pesakitan itu. Biar virus pornonya langsung mati, dan kalian tidak tertular…
KEDUA PETUGAS: Siap, Pak…
PETUGAS KEPALA: Keluarkan dia…
Petugas 2 segera membuka sel. Senjata tetap waspada di tangannya. Petugas itu menyuruh Susila keluar. Sesila terlihat malas, dan agak mengantuk, garuk-garuk kebingungan melihat sikap para petugas itu yang memandang dan memperlakukannya begitu jijik. Setiap Susila berusaha mendekati petugas itu, langsung petugas itu menjaga jarak, takut bersentuhan dengan Susila.
Susila disuruh menuju Petugas 1 yang sudah siap di meja. Susila mengulurkan tangan bermaksuk salaman dengan Petugas 1 itu, tapi Petugas 1 langsung menarik tangannya menjauh, tak mau bersalaman…
PETUGAS KEPALA: Duduk!
Susila segera duduk di hadapan Petugas 1. Dan interograsi pun berlangsung. Petugas 1 (seakan-akan) mengetik semua jawaban Susila. Sementara petugas 2 siap di belakang Susila dengan senjata yang siap ditembakkan.
PETUGAS KEPALA: Cepat duduk!!
SUSILA: (Latah) Eh, iya duduk duduk…
Susila duduk di hadapan petugas 1
PETUGAS 1: Nama?
SUSILA: Susila, Pak…
Petugas 1 mengetik, begitu sepanjang interograsi.
PETUGAS KEPALA: Yang jelas! Siapa?!
SUSILA: (Latah) Ee, ya.. ya Susila, Pak… S. U. S. I. L. A. Itu yang tertulis di KTP. Su-si-la. Tapi lebih sering dipanggil Susilo. Maklumlah, pak, orang Jawa… huruf a diucapkan o…
PETUGAS 1: Yang bener Susila pakai a, atau Susilo pakai o?
SUSILA: Ya, Susila juga ndak papa, Pak… Soalnya kalau Susilo, nanti dikira nyindir…
PETUGAS 1: Lengkapnya?!
SUSILA: Susila Parna, Pak…
PETUGAS 1: Kok seperti orang Sunda? Tadi katanya Jawa?!
SUSILA: Kalau a-nya diucapkan o, kan jadi kedengaran mesum… Su-si-la jadi Su-si-lo… Par-na mestinya kan ya jadi Por-no toh, Pak… Eh, sebentar…Porno apa Parno ya? Parno.. Porno.. Porno.. Parno… Welah, kok malah bingung sendiri saya…
PETUGAS 1: Jangan berbelit-belit! Jawab yang jelas. Tidak usah mungkir. Awas, saya ceples pake penggaris batokmu! Nama lengkap?!
SUSILA: Susilo Porno, eh Susila Parna, Pak… Bener, Pak… Susila, Pak…
PETUGAS 1: Pekerjaan?!
SUSILA: Pedagang, Pak… Pedagang kaki lima…
PETUGAS 1: Pasti kamu jualan VCD porno!
SUSILA: Tidak, Pak..
PETUGAS KEPALA: Jangan mungkir!
SUSILA: (Latah) Eh mungkar mungkir..…. Mbok jangan bikin kaget toh, Pak… Saya jadi porno eh parno…
PETUGAS KEPALA: Jadi bener kamu jualan VCD porno…
SUSILA: Kok porno? Parno, Pak… Bener, Pak…saya jadi parno kalau kaget…
PETUGAS KEPALA: Jadi kamu jualan kalender porno juga.
SUSILA: Kok porno terus sih…
PETUGAS KEPALA: Jawab yang jelas?! Barang-barang porno apa lagi yang kamu jual?! Kartu remi porno? Tabloid porno? Majalah porno?…. (tiba-tiba berbisik) Ada majalah Playboy tidak?… Bisa pesen satu? (kepada Petugas 1 yang terus mengetik) Yang tadi nggak usah diketik!
SUSILA: Saya nggak jualan gituan, Pak… Saya cuma jualan mainan…
PETUGAS KEPALA: Jadi kamu jualan mainan sex? Apa saja itu? Kondom bergerigi? Viagra? Dildo? Vibrator? Boneka Barbie rasa strawberry? Vagina elektrik?… (hendak berbisik…)
SUSILA: (Langsung menebak) Pasti mau pesen, toh?… Saya nggak jualan gituan, Pak… yang saya jual itu cuma mainan anak-anak…
PETUGAS 1: Kamu itu jualan anak-anak, begitu? Berapa usia anak-anak yang kamu jual itu?!
SUSILA: Welah, bagaimana sih Bapak ini… Bukan jualan anak-anak, Pak… Jualan mainan anak-anak… Jadi yang saya jual itu mainan… Bukan anak-anak… Saya jualan mainan anak-anak, karena saya seneng sama anak-anak…
PETUGAS 1: Ya, ya… jangan kecepetan omonganya… Saya bingung ngetiknya… Jadi kamu itu menyukai anak-anak… berarti kamu itu fedofil… Iya, tidak? Jawab yang yang jelas…
SUSILA : (Jengkel, dan mulai tidak bisa mengendalikan emosi)) Yang nggak jelas itu siapa? Saya sudah menjawab jelas, malah situ yang pertanyaannya tidak jelas… Kan sudah saya jelaskan, saya ini penjual mainan. Masak begitu saja tidak jelas-jelas… (menarik tangan atau tubuh Petugas 1, agar mendekat) Pen-ju-al ma-in-an… Apa masih kurang jelas?
Petugas 1 langsung gugup ketakutan, berusaha melepaskan diri, dan langsung berteriak-teriak.
PETUGAS 1: Antiseptik! Cepat! Cepat antiseptik…
Petugas Kepala segera menyemprotkan antiseptik ke tubuh Petugas 1, sementara petugas dua langsung mengokang senapan. Mengancam Susila. Suasana menjadi begitu panik.
PETUGAS KEPALA: Cepat giring ke sel! Cepat!
Dibawah ancaman senjata, Susila di dorong masuk sel. Susila terlihat bingung dengan semua kepanikan itu. Sel segera dikunci. Petugas 1 masih terlihat gemetaran, ketakutan. Petugas kepala terus menyemproti tubuh Petugas 1 dengan antiseptik – yang bentuknya bisa saja seperti semprotan Baygon cair, atau Hairspray atau tabung penyemprot hama sebagaimana dipakai para petani itu.
EMPAT
Muncul Hakim, Jaksa dan Pembela, ketiganya menyaksikan petugas kepala yang sedang menyemprotkan semprotan antiseptik ke tubuh Petugas 1. Sementara Susila sudah terkunci kembali dalam sel. Pada adegan ini, blocking Pembela selalu berada di belakang, seakan tak ingin ketahuan. Pembela itu terlihat menjaga jarak, bahkan sering menjauhi Hakim dan Jaksa – seperti ada yang disembunyikan. Terutama, Pembela selalu menjaga jarak dengan sel dimana Susila terkurung.
Petugas Kepala terkejut dengan kemunculan tiga pejabat itu, yang terkesan mendadak.
HAKIM: Maaf kami datang mendadak… (Menyerahkan koran kepada petugas kepala, yang segera membacanya) Kita berkejaran dengan waktu. Kasus ini menjadi head line semua media. Pers terus-terusan mem-blow up penangkapan ini. Semua mendesak agar persidangan dilaksanakan secepatnya.
PETUGAS KEPALA: Kami sedang memprosesnya… Saya jamin semua akan lancar dan tepat waktu. Cuma tadi ada insiden kecil. Pesakitan itu menyerang anak buah saya.
Hakim dan Jaksa kaget dan beringsut menjauhi Petugas 1…
PETUGAS KEPALA: Tenang… Saya sudah menyemprotkan antiseptik.
JAKSA: Bisa kami melihat pesakitan? Kami hanya ingin memastikan pesakitan siap menjalani sidang…
PETUGAS KEPALA: Silakan…
Jaksa dan Hakim segera menuju ke sel. Keduanya segera menyorotkan lampu senter yang dibawanya ke arah Susila yang meringkuk tak berdaya dan kebingungan dalam sel. Mereka menyenter Susila, seperti tengah meneliti binatang buruan yang berhasil mereka tangkap. Susila menutupi matanya, silau oleh sorot lampu senter itu. Hanya pembela yang mengamati dari jarak agak jauh.
HAKIM: (Sambil terus menyorotkan senter ke Susila) Waduh, waduh… memang porno banget orang ini… Lihat itu susunya…. (menelan ludah) momplok-momplok montok banget…
JAKSA: (Batuk-batuk kecil) Eghm… Eghm… Ingat Bapak Hakim… dilarang terangsang di muka umum… Itu melanggar undang-undang.
HAKIM: Siapa yang terangsang… (Menelan ludah, ekspresinya penuh birahi)… Saya hanya mengatakan kalau susu pesakitan ini memang gede banget… Susu paling gede yang pernah saya lihat… Bukankah begitu saudara Pembela? Coba lihat…
PEMBELA: (Kaget, menghindari melihat Susila secara langsung) Eh, iya… iya… saya kira itu memang susu paling gede sedunia…
JAKSA: Itu susu paling berbahaya se dunia! Karena itulah kita menangkapnya. Susu itulah yang menjadi sumber penyakit moral!
HAKIM: Rileks sedikitlah, Bu Jaksa… Kita kan tidak sedang di ruang sidang…
JAKSA: Maaf, standar moral saya jelas. Di dalam atau di luar sidang kita mesti menjaga moralitas kita. Ingat, Bapak Hakim, saat ini kita sudah memasuki Orde Moral. Orde Susila. Orde yang mengatur semua moral dan susila kita.
HAKIM: Tidak perlu menyeramahi saya soal itu, Bu Jaksa… Apakah Bu Jaksa meragukan standar moralitas saya?!
Jaksa dan Hakim saling tatap, kemudian Jaksa mendengus membuang muka. Hakim segera menghampiri Pembela yang terlihat menjauh dan gugup.
HAKIM: Kenapa gugup, Saudara Pembela?
PEMBELA: Bapak hakim tahu… ini kasus pertama yang saya tangani. Jadi saya masih nervous… Apalagi menurut saya ini perkara yang terbilang luar biasa…
HAKIM: Apa kamu tidak ingin melihat pesakitan?
PEMBELA: Tentu, Bapak Hakim… Saya ingin berbicara dengan klien saya. Tapi, biar nanti saja… Ee, mungkin saya perlu minta waktu khusus. Ee, maksud saya, saya perlu bicara berdua saja dengan klien saya.
HAKIM: (Kepada Petugas Kepala) Bagaimana? Apa kamu bisa jamin soal kemananannya?
PETUGAS KEPALA: Saya bisa tempatkan seorang petugas untuk berjaga-jaga…
PEMBELA: Terimakasih… Tapi saya hanya ingin berdua dengan klien saya. Ini untuk kepentingan pembelaan… Percayalah, saya cukup bisa menjaga diri.
PETUGAS KEPALA: (Setelah menimbang-nimbang) Baiklah… Tapi ingat, jangat terlalu dekat dengan pesakitan…
Lalu Hakim, Jaksa, Petugas Kepala dan para petugas, semuanya exit. Tinggal Pembela dan Susila yang masih merungkuk di selnya.
LIMA
Pelan Pembela mendekati sel Susila, menyorotkan senter ke arah Susila. Lalu Pembela memanggil Susila dengan pelan dan hati-hati,
PEMBELA: Sstt… Bangun… Bangun… Ayo bangun… Ada yang harus kita omongkan…
Susila menggeliat…
SUSILA: Saya kok sepertinya kenal kamu, ya?
PEMBELA: Saya yang akan membela kamu… Cepat ke sini…
SUSILA: (Mengingat-ingat) Kok kamu seperti…
PEMBELA: Ssttt… Sudah jangan banyak omong…
Susila mendekati jeruji selnya. Dan ketika mereka sudah berdekatan, lalu lampu senter itu menyorot juga ke wajah Pembela, Susila segera tahu…
SUSILA: Lho, kamu kan Utami, to? Kamu anaknya Ngadimin… Masih ingat tidak, saya Pakdemu.. Pakde Sus…
PEMBELA: Iya, Pakde… Saya Utami…
SUSILA: Piye kabarmu, nduk… Ayu bener Utami kowe saiki… Wah wah Utami, Utami…tambah semok kamu… Wis lulus sekolahmu? Saya denger sekarang kamu jadi pengarang cabul…
PEMBELA: Ssssttt!!! Sudah, nggak usah banyak tanya-tanya…
SUSILA: Walah-walah kok ya wis gede banget toh susumu… Wong dulu waktu kamu saya gendong-gendong, masih kecil kayak pentil kok…
PEMBELA: Ssttt!!! Pakde ini ndak berubah! Mesum terus. Pantesan Pakde ditangkap kayak gini!
SUSILA: Masak begitu…
PEMBELA: (Langsung memotong, tegas) Sudah! Pakde dengarin saja apa yang saya katakan… Nanti di persidangan, saya yang jadi pembela Pakde… Tapi nanti Pakde harus pura-pura tidak kenal saya… Jangan sampai orang-orang tahu, kalau kita masih ada hubungan darah.
SUSILA: Kamu malu ya seduluran sama Pakde…
PEMBELA: Sudah, toh. Pakde manut saja. Nurut apa yang saya katakan. Ini strategi, Pakde. Biar kita bisa menang sidang. Kalau nanti ketahuan kita masih famili, saya sendiri yang repot. Nanti saya malah diserang, dihabisi…
SUSILA: Dihabisi bagaimana?
PEMBELA: Sssttt.. Sudah toh. Saya tidak suka dibantah. Sudah, jangan ngeyel!
SUSILA: Lho tapi kan kita memang ada hubungan darah… Kalau tidak, ya sudah lama kamu saya tumpaki…
Terdengar seperti ada langkah-langkah kaki Petugas yang mendekat, membuat gugup Pembela…
PEMBELA: Kalau ketahuan saya famili Pakde, saya akan dicap tidak bersih lingkungan! Nanti saya tidak bisa membela Pakde.
Suara langkah itu seperti makin mendekat…
PEMBELA: (Celingukan mendengar suara-suara itu) Pakde ngerti kan maksud saya? Ini juga buat kebaikan Pakde sendiri…
Suara langkah kaki itu makin mendekat, membuat Pembela itu ketakutan dan buru-buru menyelinap pergi…
PEMBELA: (Berhenti sejenak dan kembali berkata pada Susila) Ingat…, nanti Pakde harus pura-pura tidak kenal saya.
Panggung perlahan menggelap. Musik transisi, seperti derap langkah kaki itu lama-kelamaan terdengar seperti menderap menggemuruh, seakan ruangan itu sudah terkepung ribuang langkah kaki yang menyebar dan menderap ke segenap penjuru…
ENAM
Muncul derap serombongan demonstran, membawa bermacam poster yang menghujat Susila. “Gantung Susila”, “Hukum Susila Seberat-beratnya”, “Pornografi Antek Komunis”, “Ganyang Pornografi Pornoaksi”, dan lain-lain. Rombongan demonstran itu berteriak mengacungkan tangan dan poster-poster yang dibawanya, dan bernyanyi:
Langit hitam penuh kemesuman
Kita bergerak harus meringkusnya
Kebebasan jadi ancaman
Pikiran kotor harus dibersihkan
Yang berbeda harus disingkirkan
Moral Negara harus ditegakkan
Kita bergerak untuk ketertiban
Pornografi telah mengancam
Pikiran kotor harus dibersihkan
Yang berbeda harus disingkirkan
Penjarakan Susila… Penjarakan Pikiran
Penjarakan Susila… Penjarakan kemesuman
Penjarakan Susila… Penjarakan Susila…
Penjarakan Susila… Penjarakan Susila…
Begitu seterusnya diulang-ulang “penjarakan Susila… penjarakan Susila…”, hingga rombongan itu menderap keluar, exit, dan suara nyanyian itu terdengar makin menjauh.
TUJUH
Muncul seorang petugas, memberikan pengumunan menjelang sidang. Petugas itu membawa kentongan, kemudian memukulnya beberapa kali..
PETUGAS: Mohon perhatian. Sidang Susila dengan nomor kasus 001 antara Negara melawan Susila Parna, segera digelar di Pengadilan Tinggi Negeri Tata Susila. Harap semua tenang. Segala macam alat elektronik dan telepon selular harap dimatikan, karena akan menggangu sistem navigasi persidangan…
Petugas memukul kentongan lalu Hakim muncul diikuti Jaksa dan Pembela. Begitu Hakim, Jaksa dan Pembela on stage, petugas itu exit.
Hakim membuka siding,
HAKIM: Pesakitan harap segera dibawa ke ruang sidang!
Suasana mencekam. Susila muncul dikawal seorang petugas dengan senapan siap ditembakkan. Kemunculan Susila mengingatkan pada penjahat psikopat yang sadis, dimana kaki dan tangan Susila dirantai, sementara kepala dan wajahnya ditutup dengan ikatan dari kulit warna hitam. Mulut Susila ditutup dengan semacam keranjang, seperti penutup mulut anjing galak. Sementara sebuah kayu dipasangkan menyilang ke sebalik dua tangan Susila. Dalam todongan senjata Petugas, Susila segera didudukkan ke kursi terdakwa.
Melihat Susila diperlakukan seperti itu, Pembela langsung memprotes keras.
PEMBELA: Maaf, Bapak Hakim! Apa ini tidak terlalu berlebihan?! Klien saya bukan psikopat. Dia bukan sejenis Sumanto soloensis, yang suka memakan daging manusia. Klien saya sama sekali tidak membahayakan.
JAKSA: Jangan lupa, dia seorang penjahat susila paling tidak senonoh di negeri ini. Sodara pasti tahu, penjahat susila sudah pasti jauh lebih berbahaya dari penjahat jenis biasa. Lebih berbahaya dari pencopet. Lebih berbahaya dari garong. Bahkan lebih berbahaya dari psikopat yang paling berbahaya.
PEMBELA: Itu terlalu dilebih-lebihkan, Bapak Hakim. Klien saya tidak pernah melakukan tindakan apa pun yang membahayakan. Klien saya tidak pernah melakukan kekerasan fisik… Satu hal lagi, Bapak Hakim, saya keberatan dengan penggunaan istilah pesakitan bagi terdakwa. Bagaimana pun dia tetaplah berstatus terdakwa, bukan pesakitan.
JAKSA: Harap diingat Sodara Pembela. Ini bukanlah sidang pidana atau perdata biasa. Ini adalah sidang tindak susila. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-undang Susila, para pelanggar susila dengan sendirinya adalah orang yang sakit. Orang-orang sakit jiwa. Orang yang berpikiran gila. Orang yang otaknya ngeres. Orang yang pikirannya dipenuhi gagasan pornografi dan pornoaksi. Itulah sebabnya para pelanggar susila adalah orang-orang yang hidup dalam gelimang dosa, Sodara-sodara… Mereka sungguh-sungguh orang yang berbahaya, Sodara-sodara… Ukuran bahaya tidak semata ditentukan dengan tindakan fisik. Tapi juga pikiran! Dan kejahatan yang disebarkan pikiran, sudah barang tentu jauh lebih membahayakan, Sodara-sodara…
PEMBELA: Itulah yang saya anggap berlebihan! Bagaimana pun klien saya sebagai terdakwa belum tentu bersalah, sampai pengadilan membuktikannya bersalah. Karena itu saat ini sangatlah tidak tepat mengatakan dia sebagai pesakitan. Dan satu hal lagi, kita ini hendak menyidangkan perbuatan atau pikiran?!
JAKSA: Sidang tindak susila bukan hanya berkait tindakan-tindakan yang asusila, tapi juga pikiran-pikiran yang asusila. Ingat, Bapak Hakim, yang kita sidangkan ini bukan hanya perbuatan pesakitan. Tapi juga pikiran pesakitan. Pikiran yang dipenuhi gagasan-gagasan mesum dan cabul. Gagasan-gagasan yang menyebarkan penyakit asusila. Dan kita tahu, Sodara-sodara, penyakit asu-sila, lebih cepat menular dibanding penyakit asu-gila!
PEMBELA: Rupanya Saudara jaksa menderita paranoid…
JAKSA: Saya hanya ingin menegaskan: yang kita lawan adalah kejahatan pikiran… Kita melawan sebuah ide, Bapak Hakim. Ide yang yang dibungkus kebebasan berekspresi dan keberagaman. Tapi semua itu tak lebih omong kosong, Bapak Hakim. Bagi saya, ide kebebasan berekspresi bukanlah ide yang genial, tapi ide yang bersifat genital. Yakni ide-ide yang hanya dipenuhi gagasan seputar alat vital. Inilah ide yang lebih berbahaya dari pada ide komunisme…
JAKSA: (Bereaksi keras) Saya tetap keberatan! Itu sama sekali tidak relevan!
Hakim langsung memotong.
HAKIM: Mohon Saudara Pembela menjaga sikap. Ini ruang pengadilan, bukan pasar hewan. Ya, meski pun saat ini sulit membedakan antara pengadilan dan pasar hewan, saya harap Saudara Pembela bisa menjaga kesopanan…Lagi pula, saya kan belum membuka sidang…
PEMBELA: (Seolah tak memperdulikan peringatan Hakim) Saya tetap keberatan dengan semua penyataan Saudara Jaksa yang terlalu berlebihan…
JAKSA: Semua perkataan saya berdasarkan bukti dan fakta!
PEMBELA:Fakta yang mana? Bukti yang mana?
Melihat Jaksa dan pembela makin keras bertengkar, Hakim kembali mengetok palu sidang, memotong!
HAKIM: Sudara Pembela dan Jaksa!!! Bicaralah yang pelan. Saya jantungan! Sini… (memberi kode agar Jaksa dan Pembela mendekat.) Harap kalian bisa bekerja sama menjaga jalannya persidangan. Saling pengertian begitu… Seperti kalau biasanya kalian lagi tawar-menawar uang suap. Ingat, saya belum lagi membuka sidang, lha kok kalian sudah sibuk berdebat kayak anggota dewan kurang kerjaan…
Kemudian Hakim dengan penuh wibawa mengetokkan palu sidang. Sidang telah dibuka! Jaksa dan Pembela yang sama-sama siap bertempur berada di posisi masing-masing.
HAKIM: Mohon petugas melepas kepala Pesakitan… Maksud saya, melepas tutup kepala Pesakitan…
Seorang petugas segera mendekati Susila. Petugas itu berdiri sebentar di depan Susila, kemudian segera memakai sarung tangan karet sebagaimana yang dipakai dokter ketika hendak melakukan operasi, kemudian begitu hati-hati membuka ikatan kepala dan mulut Susila. Begitu tutup mulut itu terbuka, Susila terlihat sangat lega. Petugas segera menyingkir, kembali berjaga.
Susila memandangi Pembela, seperti ingin menyapa. Tapi Pembela segera melengos, pura-pura tidak mengenal Susila. Pembela terlihat gelisah, apalagi ketika Susila seperti hendak memangil nama Pembela…Untunglah Hakim segera memulai sidang…
HAKIM: Saudara Pesakitan… Harap perhatikan kemari! Apakah benar, nama Saudara adalah Susila Parna?
SUSILA: Dalem, Pak Hakim…
HAKIM: Apakah Saudara Pesakitan dalam keadaan sehat?
SUSILA: Dalem, Pak Hakim… Syukur alhamdulillah, saya sehat jasmani dan rohani. Ya, cuman agak sedikit mengalami gangguan ejakulasi dini… Burung saya, Pak Hakim… (Bersin) Hachi…
Hakim dan semua yang hadir di ruang sidang itu langsung menutup hidung mereka.
SUSILA: Burung saya… (Kembali bersin) Hachi… sedikit flu…
HAKIM: (Membentak, mengetuk palu keras) Saudara Pesakitan jangan berbelit-belit…
SUSILA: (Kaget, dan latah) Eh silit.. eh sembelit… Iya, Pak Hakim… Silit saya sakit…. maksud saya berbelit-belit… Eh, silit kok berbelit-belit…
HAKIM: (Membentak lebih keras) Mohon Saudara Pesakitan menjaga ucapan! Dilarang ngomong jorok di persidangan!
SUSILA: (Makin kaget, makin latah) Eh jorok jorok keprok… Dalem, Pak Hakim… (bersin) Burung kok jorok… (bersin) Burung saya, eh, saya cuma pingin ngen…
HAKIM: (Memotong) Cuk… (dan langsung bersin, seakan ketularan Susila) Haicih……
SUSILA: Bukan ngencuk, Bapak Hakim tapi ngen…
HAKIM: (Kembali memotong) Cuk… Haicih… Cuk…kup, masud saya. Cukup!
SUSILA: (Latah) Eh iya cukup, cukup…Cukup ngencuknya, Bapak Hakim… Tapi saya tidak mau ngen…ngen…cuk, kok Bapak Hakim…Saya cuma mau ngen…ngen…tut…
Lalu terdengar kentut yang panjang. Semua menutup hidung. Susila terlihat sangat lega.Hakim sibuk membersihkan hidungnya yang mendadak bersin-bersin… Dan selama Jaksa dan Pembela berbicara beikut ini, Hakim terus sibuk membersihkan hidungnya dengan sapu tangan atau tissue.
JAKSA: Lihat sendiri, Bapak Hakim… Kita benar-benar menghadapi Pesakitan yang tidak saja berbahaya, tapi juga tidak punya etika. Dia telah dengan sengaja mengganggu jalannya sidang…
PEMBELA: Klien saya hanya sedikit sakit perut, Bapak Hakim!
SUSILA: Saya tidak sakit perut kok… Cuma… (bersin) hacih… flu…
PEMBELA: Sama saja! Tidak penting sakit perut atau sakit flu, intinya adalah sakit. Klien saya sedang sakit! Maka sidang ini tidak bisa dilanjutkan!
SUSILA: Ee, tidak apa-apa kok, Nduk…
PEMBELA: (Langsung membentak cepat) Diam! (Lalu kepada Hakim) Klien saya mengatakan ia terkena flu… Dalam hal ini burungnya yang terkena flu…
Hakim menyodorkan tissue yang baru di pakainya kepada Jaksa, Jaksa menerima kemudian membuang tissue itu, sementara Pembela terus berbicara…
PEMBELA: Artinya, ia dan burungnya terkena serangan dari dua arah sekaligus. Seorang lelaki dan burungnya yang terkena flu, hampir sama artinya dengan seorang ibu dan bayi yang disusuinya terkena flu.
Hakim kembali menyodorkan tissue yang dipakainya kepada Jaksa, tapi kali ini Jaksa tidak membuangnya, namun tissue itu malah dipakainya buat membersihkan hidunynya sendiri, kemudian tissue itu dikembalikan laki kepada Hakim yang segera memakainya lagi buat membersihkan hidungnya yang gatal, sementara Pembela terus berbicara,
PEMBELA: Artinya, ia dan burungnya tidak dalam keadaan sehat untuk mengikuti persidangan! Maksud saya mungkin burungnya yang telah membuatnya terkena flu. Kita tahu flu cepat menular, dan sudah pasti klien saya sedang terkena flu karena itu tidak mungkin meneruskan persidangan ini.
JAKSA: (Bertepuk tangan, bergaya memuji) Sungguh argumentasi hukum yang benar-benar luar biasa…bodoh!
Kemudian mulai di sini, dialog ini dibawakan dengan gaya dinyanyikan, mungkin bergaya parikan seperti dalam ludrukan, mungkin dengan campuran irama blues atau ndangdutan…
JAKSA: Saya harap, Sodara Pembela tidak mengaburkan persoalan. Terlalu sering alasan sakit digunakan untuk menghindari persidangan. Bagaimana pun sidang harus dilanjutkan, demi keadilan…
PEMBELA: (Dinyanyikan) Tidak bisa! Justru demi keadilan sidang harus dihentikan…
JAKSA: (Dinyanyikan) Keadilan tak bisa dihentikan. Keadilan harus tetap ditegakkan. Karena itu tuntutan harus tetap dibacakan…
Musik terus mengalun. Hakim mengetuk palu, sambil sibuk dengan hidungnya yang gatal.
HAKIM: Baiklah. Sidang tetap diteruskan. Lanjut, Mang…!
Musik terus mengalun.
JAKSA: (Dinyanyikan) Terimakasih, Bapak Hakim… (Sambil bergaya membacakan dakwaaan, terus dinyanyikan) Sodara Pesakitan telah terbukti melanggar Undang-undang Susila. Ia melakukan perbuatan pornoaksi. Mempertontonkan susunya di muka umum…
SUSILA: (Menyanyi, menimpali, sambil memegangi meremas-remas susunya) Oo, susuku yang malang…
JAKSA: (Dinyanyikan) Sebagaimana dalam Pasal 4 Undang-undang Susila. Dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual…atau yang dianggap sensual. Seperti alat kelamin, payudara, pusar, paha, pinggul, pantat…
SUSILA: (Menimpali, dengan nyanyian) Pundak lutut kaki lutut kaki, daun telinga mata hidung dan pipi…
JAKSA: (Dinyanyian) Karna itu pesakitan mesti dihukum seberat-beratnya. Karena dia telah mengganggu keamanan dan stabilitas moral bangsa…
PEMBELA: (Memotong, berteriak tinggi, bicara biasa) Keberatan, Bapak Hakim!
Musik dan nyanyian berhenti. Kembali dialog biasa. Sementara Pembela dan Jaksa berdebat, Susila terlihat mulai kepanasan, sumuk, dan mulai membuka kancing bajunya dan kipas-kipas dengan tangannya.
PEMBELA: Dalam penjelasan Pasal 4 tersebut dinyatakan bahwa bagian tubuh tertentu yang sensual adalah antara lain payudara perempuan. Terdakwa adalah seorang laki-laki. Bukan perempuan. Karena itu tuntutan Jaksa absurd dan tak berdasar.
JAKSA: Hukum tidak berjenis kelamin, Sodara Pembela! Prinsip hukum itu seperti slogan Keluarga Berencana: laki-laki atau perempuan sama saja! Karena itulah semua orang harus diperlakukan sama di hadapan hukum… kecuali, tentu saja, Ketua Mahkamah Agung…
HAKIM: Harap Saudara Jaksa tidak keluar dari fakta-fakta persidangan…
PEMBELA: Persoalannya, Bapak Hakim… Saudara Jaksa memang tidak punya fakta-fakta yang mendukung semua dakwaannya.
JAKSA: Faktanya Pesakitan memang bersikap cabul dan amoral, karena mempertontonkan bagian tubuhnya yang sensual… Lihat saja sendiri kelakuannya… Saya yakin dia seorang eksibisionis…
Hakim terlihat bergairah memandangi Susila yang kepanasan dan mulai membuka kancing-kancing bajunya… Hakim, menelan ludah memandangi payudara Susila.
SUSILA: (Yang makin kelihatan kesumukan) Lha wong sumuk, je…
JAKSA: Jangan menjawab kalau tidak ditanya! (Kemudian kepada Hakim) Bahkan Pesakitan ini telah melanggar Undang-undang Susila secara berlapis-lapis, karena memperjualbelikan barang-barang yang mengandung unsur pornografi….
PEMBELA: Sekali lagi saudara Jaksa menuduh tanpa bukti dan fakta!
JAKSA: (Berteriak kepada petugas) Ambil barang bukti itu!
Seorang Petugas segera membawa masuk barang dagangan Susila. Melihat itu Susila langsung bangkit, dan dengan riang menghambur ke arah dagangannya, seperti menyambut kekasih yang dirindukannya.
SUSILA: Daganganku… Oh, mainanku… Sayangku…
Semua langsung beringsut mundur menghindari Susila. Sementara Susila terus memeluk dan menciumi mainan-dagangan itu… Hakim segera mengatasi keadaan, memukulkan palu sidangnya.
HAKIM: Saudara Pesakitan harap kembali duduk!
SUSILA: Mainanku… Oh mainanku….
HAKIM: (Lebih keras) Duduk!!
SUSILA: (Kaget, latah) Eh kontol duduk… Welah kok kontol bisa duduk…
HAKIM: Du…duk!!!
SUSILA: Dalem, Pak Hakim…
Susila pun kembali duduk…
JAKSA: Sodara Pesakitan, benarkah barang-barang ini milik saudara?!
SUSILA: Dalem, Bu Jaksa… Iya… itu dagangan saya…
JAKSA: Jadi jelas, Pesakitan ini telah mengakui berdagang barang-barang porno ini!
SUSILA: Lho, itu mainan kok, Bu Jaksa… Mainan anak-anak…
JAKSA: Mainan anak-anak hanyalah kamuflase untuk menutupi unsur-unsur pornografi dalam barang-barang ini.
SUSILA: Apanya yang porno? Masak mainan gitu dibilang porno…. (Berdiri dan mendekati dagangannya) Coba, mana yang porno? Mana? Apa mata Bu Jaksa picek, gini dibilang porno? (Mengambil dua balon) Apa yang kayak ini porno, Bu Jaksa?
JAKSA: Itu barang cabul, Sodara Pesakitan! Coba Sodara taruh di dada Saudara…
Dengan bingung dan tak ngerti, Susila menempelkan dua balon itu ke dadanya – hingga mirip payudara…
JAKSA: Lihat saja sendiri fungsi pornografis barang itu, yang membuat orang akan berfikiran mesum karena mengingatkan pada payudara…
PEMBELA: Payudara tidaklah cabul. Sesuatu yang sensual dan indah tidak berarti cabul. Anak-anak yang masih polos bisa melihat keindahan payudara tanpa membuatnya jadi dosa. Kitalah, orang dewasa, yang membuat payudara menjadi cabul, baik dengan mengeksploitasinya habis-habisan, maupun dengan menutupinya habis-habisan…
SUSILA: (Menambahi) Plus selalu menghisapnya habis-habisan…Wong saya juga doyan kok…
JAKSA: Itu melanggar Undang-undang Susila!
SUSILA: Masa jualan balon melanggar susila? (Sambil masih menempelkan kedua balon itu di dadanya) Kalau balon kayak gini dianggap mirip payudara, lha ya payudaranya siapa? Payudaranya Dolly Parton saja nggak segede ini kok… Kalau gede kayak gini bukan payudara Bu Jaksa, tapi tumor… Aneh-aneh saja lho Bu Jaksa ini… Lalu gimana kalau balon ini saya letakkan di tempat lain? Apa ya masih porno? Misalnya begini…
Susila meletakkan dua balon itu di selangkangannya.
SUSILA: Gimana kalau begini… Apa begini ini kayak biji salaknya raksasa… Eh, maksud saya biji salak raksasa?! Lha kalau bijinya segede ini, lalu segede apa batangnya?… Batang pohonnya maksud saya… Apa ya begini porno? Kan tergantung pikiran orang yang melihat…
Susila mengambil mainan lainnya, balon yang panjang.
SUSILA: Apa ini juga porno?
Susila memperlihatkan pada yang hadir, tetapi selalu setiapkali Susila mendekat, mereka beringsut menjauhi Susila…
SUSILA: Mainan ini membuat anak-anak bisa berfantasi… Berkhayal… Tapi kan tergantung fantasinya. Tidak mesti yang saru-saru…. (Meletakkan balon panjang itu di atas kepalanya) dengan begini anak-anak berkhayal seperti rusa bertanduk… (Meletakkan balon itu di keningnya) Berkhayal jadi unicorn atau punya cula seperti badak… (Meletakkan balon itu di hidungnya) punya hidung mirip Pinokio… (Meletakkan balon itu di perutnya) Punya wudel bodong… (Meletakkan balon itu di selangkangannya) dan begini… punya ekor memanjang di bagian depan…
Susila bisa mengembangkan mengambil mainan-mainan yang lain, kemudian mengolahnya. Setiap kali Susila mendekat, selalu yang didekati beringsut mundur…
SUSILA: (Sampai akhirnya bertanya pada Pembela) Mainan kayak gini kan ya nggak porno toh, nduk? Bener kan nduk omongan saya?
PEMBELA: Maaf, Anda tak udah usah sok akrab pada saya!
SUSILA: Lho piye toh kowe, nduk…
PEMBELA: Saya membela Saudara hanya sebatas hubungan profesi! Dan itu bukan berarti saya setuju dengan moral saudara… (Langsung menghidar dengan berkata pada Hakim) Bapak Hakim, kita tak bisa mengatakan sesuatu porno hanya berdasarkan asumsi, seperti dikatakan Saudara Jaksa tadi.
JAKSA: Bagaimana mungkin Sodara Pembela mengatakan semua bukti ini hanya asumsi? Beruntung sekali kita berhasil menyita bukti-bukti ini! Bagaimana kalau barang-barang itu beredar luas? Anak-anak kita akan dijejali mainan-mainan porno! Mainan ini adalah cara untuk meracuni pikiran anak-anak kita, Sodara-sodara! Bagaimana nasib masa depan anak-anak kita, Sodara-sodara…bila sejak dini mereka telah dijejali dengan segala macam bentuk mainan pornografi, Sodara-sodara… Puji Tuhan! Ini tidak bisa kita biarkan, Sodara-sodara!
Bersamaan nada bicara Jaksa yang mulai meninggi, terdengar derap musik yang menggambarkan serombongan demonstran yang mendekat dan mulai menderap…
JAKSA: (memandang ke arah luar ruang sidang) Lihatlah sodara-sodara kita yang berbaris berbondong-bondong menghadiri sidang ini!
Musik makin meninggi, sementara sayup nyanyian mulai terdengar…
JAKSA: Anda lihat sendiri, Sodara Pembela… Semua rakyat berbaris dibelakang kita, agar kita bertindak tegas menghukum pesakitan ini… Mereka ingin penjahat moral ini dihukum seberat-beratnya… Hukum adalah suara rakyat… Suara rakyat adalah suara Tuhan…
Lalu terdengar teriakan dan yel-yel para demonstran yang makin mendekat…
JAKSA: Dengarlah suara mereka… Suara Tuhan yang akan mengazab para pendosa yang tak bermoral!
Kemudian teriakan-teriakan itu makin menjadi jelas, dan muncul serombongan demontran yang membawa poster yang ternyata berisi tunttutan agar Susila dibebaskan. Jaksa langsung bingung melihat situasi yang tak diduganya. Ia meyangka yang datang adalah demonstran yang mendukung Undang-Undang Susila. Ternyata mereka adalah gerombolan yang penentang Undang-undang Susila yang menuntut pembebasan Susila Parna. Para demosntran itu bernyanyi:
Jangan diam jangan mau dibungkam
Kita bergerak untuk perjuangan
Keragaman jangan dimatikan
Proyek moral haruslah dilawan
Yang menindas suara kebenaran…
Bebaskan Susila… Bebaskan Pikiran
Bebaskah Susila… Bebaskan kehidupan
Bebaskan Susila… Bebaskan Susila…
Bebaskan Susila… Bebaskan Susila…
Begitu seterusnya diulang-ulang “bebaskan Susila… bebaskan Susila…”. Kepanikan juga melanda Hakim. Pembela tampak bingung. Jaksa gemetar menahan amarah. Semua menatap barisan demosntran yang menderap keluar, exit.
Saat itulah muncul Petugas Kepala, panik dan gugup,
PETUGAS KEPALA: Maaf, Bapak Hakim… Ini benar-benar diluar perhitungan kita… Mereka menuntut pembebasan Pesakitan kita…
Teriakan dan nyanyian demonstran it uterus terdengar. Petugas Kepala dengan cepat segera mengamankan Hakim dan Jaksa. Beberapa Petugas langsung menggiring Susila di bawah ancaman senapan. Musik makin meninggi. Panggung menggelap. Terdengar teriakan-teriakan itu: “Bebaskan Susila!… Hidup Susila!….”
DELAPAN
Setelah musik mereda dan teriakan-teriakan mengendap, pada satu sisi panggung cahaya mulai menerang: terlihat Susila yang terkurung di balik selnya, sementara dua petugas tampak asik bermain catur.
SUSILA: (Pelan memangil petugas-petugas itu) Mas… Mas…
Dua petugas itu abai, terus asyik main catur…
PETUGAS 2: (Memainkan bidak) Ster!
SUSILA: Mas… (memukul-mukul jeruji)… Mas…
PETUGAS 1: Bisa diam tidak!
SUSILA: Saya mau minta tolong…
PETUGAS 2: Sudah, nggak usah didengerin… Ayo jalan…
Petugas 1 terlihat sibuk berfikir keras memandangi papar caturnya.
SUSILA: Mas… Mbok saya minta tulung…
PETUGAS 2: Minta tolong apa?
SUSILA: Belikan mainan… Saya kangen sama mainan saya…
PETUGAS 2: (Kepada petugas satunya) Aneh banget kan permintaannya… Ini permintaan paling aneh selama saya jadi penjaga penjara. Biasanya tahanan itu minta dicarikan narkoba… Kamu kok malah minta mainan!
SUSILA: Ayo toh mas, beliin saya mainan…
PETUGAS 1: Sudah, sudah.! Aku jadi nggak bisa konsen!
SUSILA: Please deh, Mas… Cariin saya mainan.
PETUGAS 2: (Kepada petugas satunya, yang terlihat berfikir memandangi papan catur) Ayo cepet jalan… Apa nyerah? Kamu itu tidak mungkin menang…
Petugas 2 bergaya dan bersikap meremehkan, mengambil uang taruhan yang tergeletak di samping papan catur, kemudian Petugas 2 mengipas-gipaskan uang itu ke muka Petugas 1 yang masih terus serius mengamati papan catur, bingung memikirkan langkahnya. Susila dari dalam selnya ikut memerhatikan papan catur itu.
SUSILA: Begitu saja kok pusing…
PETUGAS: Sudah jangan cerewet!
SUSILA: Kudamu maju saja depan benteng.
Petugas 1 menatap Susila marah, tapi kemudian melihat lagi papan caturnya, dan melihat bahwa omongan Susila itu benar. Dia senang dan segera melangkahkan kudanya seperti yang dibilangin Susila.
Petugas 2 kaget, tapi segera memakan kuda itu.
SUSILA: Nah sekarang bentengmu langsung maju… Dua langkah pasti langsung mat!
Petugas 1 kelihatan di atas angin. Petugas 2 kelihatan jengkel. Setelah dua kali langkah, Petugas 2 benar-benar terkejut.
PETUGAS 1: Skak!
PETUGAS 2: (Menatap Susila marah) Oo… bajigur!
PETUGAS 1: (Bernyanyi-nyanyi gembira karena menang) Sekak mati… Sekak mati…
Petugas 1 langsung meraih lembaran uang taruhan yang tadi dipegangi Petugas 2. Petugas 2 begitu marah pada Susila dan hendak memukul. Susila beringsut mundur menjauhi jeruji…
PETUGAS 1: Ayo, main lagi tidak?
Petugas 2 dengang jengkel segera pergi, exit. Petugas 1 memandang kepergian Petugas 2, meyakinkan kalau rekannya itu memang benar-benar sudah pergi, lalu dengan hati-hati mendekati Susila…
PETUGAS 1: Kamu pinter main catur ya…
SUSILA: Keciiil…..
Petugas 1 melongok-longok keadaan.
PETUGAS 1: Ajarin saya, ya…
Lalu Petugas 1 mendekatkan kursi panjang ke dekat sel.
SUSILA: Nanti kamu ketularan…
PETUGAS 1: Jangan gitu ah… Saya tahu sampeyan tidak berbahaya kok… Gimana, mau ya ngajari saya?
Lalu keduanya mulai menata bidak-bidak catur itu, dengan Susila tetap berada dalam sel. Hanya tangan Susila yang keluar dari sela jeruji ketika memainkan bidak-bidak catur… Selama percakapan berikut, keduanya terus bermain catur.
PETUGAS 1: Sebenarnya saya juga pernah beli mainan sama sampeyan lho… Waktu itu anak saya nangis terus… minta dibeliin mainan… Padahal uang saya kurang… Untung sampeyan mau ngutangi dulu…Ingat tidak?
SUSILA: Saya itu terlalu banyak diutangi orang, Mas… Sampe saya susah ngingat siapa saja yang utang sama saya… Apalagi tampang kayak sampeyan ini memang khas dan spesifik seperti tampang dunia ketiga yang suka ngutang…
PETUGAS 1: Ya sudah, ini saya bayar.
Petugas 1 mengeluarkan uang yang tadi didapatnya karena menang main catur, dan menyodorkannya pada Susila.
SUSILA: Ndak usah…. Ndak usah…
Petugas 1 kembali hendak mengantongkan uang itu.
SUSILA: Eeh…, nanti kamu beliin saya mainan saja ya…
Kemudian keduanya kembali main catur.
Di sisi panggung yang lain, muncul Hakim dan Petugas Kepala, keduanya berjalan beriringan. Adegan antara Hakim dan Petugas Kepala ini, paralel dengan adegan Susila dan Petugas 1 yang sedang main catur.
HAKIM: Kita tak bisa membiarkan kekacauan ini berkembang!
PETUGAS KEPALA: Saya akan segera membereskan semuanya, Bapak Hakim. Jangan khawatir…
HAKIM: (Mengeluarkan poster bergambar wajah Susila yang memakai baret mirip Che Gouvara) Lihat poster ini! Dia rupanya telah jadi idola kaum pembangkang. Saya melihat poster ini ditempel memenuhi dinding kota!
PETUGAS KEPALA: Intelejen kita sudah mengetahui siapa dibelakang ini semua. Ada dua kekuatan ekstrem yang harus kita curigari, Bapak Hakim. Pertama kelompok yang menyebut dirinya GAM… Gerakan Anti Moral…Dan yang kedua adalah gerakan sparatis OPM… Organisasi Penggemar Maksiat… Mereka telah menjadikan Susila sebagai ikon perlawananan mereka. Merekalah yang menggalang perlawanan menentang diberlakukannya Undang-undang Susila.
Susila bicara kepada Petugas 1 sambil terus main catur.
PETUGAS 1: Kenapa sih sampeyan tidak menyerah saja.
SUSILA: Mau menang begini kok menyerah…
PETUGAS 1: Bukan menyerah main catur… Tapi menyerah mengakui kesalahan sampeyan…
Hakim kepada Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan…
HAKIM: Kamu harus membuatnya menyerah. Lakukan segala cara, yang penting dia mau mengaku salah!
Sambil terus main catur, Susila kepada petugas itu,
SUSILA: Kalau saya salah, nggak usah dipaksa juga saya akan ngaku salah. Lha, tapi ini saya nggak merasa salah apa-apa kok…
Hakim dan Petugas kepala, sambil berjalan beriringan,
PETUGAS KEPALA: Saya telah mengatur seorang petugas untuk membujuknya.
Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,
PETUGAS 1: Kalau sampeyan mengaku salah, kan sampeyan bisa diampuni.
SUSILA: Diampuni gimana? Lha sidangnya saja belum rampung, kok diampuni… Orang itu harus disidang dulu, dibuktikan kesalahannya. Baru diampuni…
Hakim dan Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan,
PETUGAS KEPALA: Apakah kita benar-benar akan mengampuni pesakitan ini?
HAKIM: Tentu saja tidak. Kita hanya bujuk dia dengan menjajikan ampunan, biar mau mengaku salah. Kalau dia sudah mengaku salah, berarti dia secara sah telah bersalah. Itu kesempatan kita menggoroknya…
Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,
PETUGAS 1: Posisi kamu ini sekarang lagi susah. Kamu bersalah atau tidak bersalah, bukan ditentukan apakah kamu memang benar-benar bersalah atau benar-benar tidak bersalah… (Memainkan caturnya) Skak! Kamu salah atau tidak salah, tetap akan diputuskan salah…
Hakim dan Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan…
PETUGAS KEPALA: Yang penting saya memperoleh dukungan penuh kalau mesti mengambil tindakan-tindakan darurat.
HAKIM: Proyek moralitas dibenarkan sepanjang itu menguntungkan… Apapun yang kamu lakukan untuk kepentingan proyek Syariat Moral ini, kamu pasti memperoleh dukungan.
Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,
PETUGAS 1: Atau jangan-jangan kamu merasa untung di penjara begini? Kamu senang karena sekarang banyak yang memuja kamu… Kamu diam-diam menikmati kan?
SUSILA: Gundulmu! Ditahan begini kok menikmati…
PETUGAS 1: Justru karena ditahan begini, kamu jadi dianggap pahlawan oleh banyak orang. Kamu dijadikan poster. Namamu diteriakkan para demosntran… Lalu kamu merasa ngetop? Kamu rupanya telah mengindap sindrom orang yang merasa dirinya pahlawan. Kamu memperoleh kepuasan ketika orang di sekelilingmu begitu memujamu…
SUSILA: Prek!
PETUGAS 1: Apa kamu nggak sadar, orang-orang itu sebenarnya tidak memujamu, tapi memanfaatkanmu… Kamu hanya dijadikan tumbal perlawanan…
Hakim kepada Petugas Kepala,
HAKIM: (Menyerahkan selembar cek) Ini cek untuk kebutuhan dana taktis…Ini bukan berarti saya memanfaatkan aparat macam kamu lho, ya…
PETUGAS KEPALA: Tak usah sungkan-sungkan… Saya tak merasa diperalat kok… Karena aparat seperti saya ini memang sudah terbiasa ikhlas diperalat…Kalau lama tak diperalat, ayan saya malah kumat… Saya kira ini juga akan menstimulus militansi anak buah saya…Bapak Hakim tahu, belakangan ini anak buah saya lebih suka menangkapi para pelanggar susila, ketimbang menangkapi pelanggar lalu lintas…Karena inkam-nya jauh lebih menguntungkan.
Sementara Susila yang terlihat marah ngambek, kepada Petugas 1,
SUSILA: Kamu kira saya merasa untung dengan ditahan begini?!
PETUGAS 1: Maaf… Saya ngomong seperti tadi karena saya tidak ingin kamu celaka…Saya tahu sampeyan tidak melanggar… Sampeyan hanya korban. Sengaja dikorbankan… Nama sampeyan dijelek-jelekkan…. Dianggap bahaya laten… Kalau ada yang tahu saya ngobrol sama sampeyan begini, pasti saya langsung dipecat. Keluarga saya pasti dihabisi…. Dianggap tidak bersih susila.
SUSILA: Lalu kenapa kamu menuduh saya justru menikmati semua itu?!
PETUGAS 1: Saya khawatir saja kok… Khawatir karena saya denger malam ini sampenyan mau dieksekusi…
Susila jadi terlihat gelisah, raut wajahnya seperti dipenuhi bayangan kematian…
Hakim kepada Petugas Kepala,
HAKIM: Saya hanya khawatir kalau petugas itu justru tergoda…
PETUGAS KEPALA: Saya berani menjamin loyalitas para anak buah saya, Bapak Hakim…
Petugas 1 berbicara kepada Susila,
PETUGAS 1: Makanya, cepat pergi… Pergi… Kamu lihat, pintu sel sengaja tak saya kunci… Kamu bisa pergi sebelum tengah malam nanti…
Sementara itu Hakim dan Petugas Kepala berhenti, dan langsung memandang ke arah Petugas 1 yang sedang membujuk Susila… Petugas 1 tak menyadari kemunculan Hakim dan Petugas kepala…
PETUGAS 1: Pergilah… pergilah… Saya nggak ingin melihat kamu dihukum mati.
Hakim dan Petugas Kepala yang sudah berdiri di belakang Petugas 1 itu langsung menghardik,
HAKIM: (Menghardik) Kamu yang pantas dihukum mati!!
Petugas 1 begitu kaget, ia berbalik dan melihat Petugas Kepala dan Hakim yang sudah berdiri menatapnya. Langsung Petugas 1 mengemasi bidak-bidak catur, memdekap papan catur itu dengan gemetar…
HAKIM: (Kepada Petugas Kepala) Sekarang saya tahu loyalitas anak buah kamu! Saya kira kamu cukup cerdas untuk membuktikan loyalitasmu!
Hakim menatap tajam Petugas Kepala, kemudian langsung bergegas pergi, exit. Tinggal Petugas Kepala menatap penuh amarah pada Petugas 1, membuat petugas satu menggil ketakutan, lalu berlahan-lahan duduk bersimpuh sembari mendekap papan catur,
PETUGAS 1: Ampun…..
Lalu perlahan Petugas 1 itu merangkak, mendekati Petugas Kepala yang terus berdiri mematung penuh kemarahan.
PETUGAS 1: (Sambil terus merangkak) Ampun….. Maafkan saya, Pak….. Ampun… Ampun…
Susila memandangi semua itu dari dalam selnya. Ia juga terlihat ketakutan, bingung. Sampai kemudian Petugas 1 itu bersimpuh di bawah kaki Petugas Kepala, memegangi kakinya, terus memohon ampun. Suara tangis dan ampunan Petugas itu kemudian seperti tercekat dikerongkongannya, ketika dengan tenang Petugas Kepala mengeluarkan pistolnya. Petugas kepala itu mengarahkan pistolnya tepat di kepala Petugas 1. Susila ngeri menyaksikan itu, dan menutup wajahnya. Lalu terdengar letusan senjata. Gelap seketika.
Musik transisi…
SEMBILAN
Pembela berjalan tergegas terburu-buru, melintas panggung. Tapi mendadak muncul Jaksa, seperti menghadang. Melihat itu Pembela langsung berbalik, berusaha menghindar, dan segera kembali bergegas. Tapi mendadak muncul Hakim, menghadang jalan di depannya,
HAKIM: Kenapa terburu-buru…
PEMBELA: Maaf, saya mesti bertemu wartawan… (bergaya sibuk dengan berkas-berkas yang dibawanya)… Saya mesti meluruskan beberapa pemberitaan yang cukup mengganggu…
Lalu Pembela segera berbalik, mencoba menghidari hadangan Hakim,
JAKSA: (Dengan santun menghadang Pembela) Sudah lama kita tak makan siang bersama…
PEMBELA: (Dengan santun dan halus) Mungkin lain waktu.
JAKSA: Bukankah dulu kamu selalu mengatakan ngobrol makan siang selalu lebih menyenangkan dari pada di ruang siding.
PEMBELA: Tapi ini bukan saat yang menyenangkan untuk itu…
Pembela menghindari Jaksa, berbalik bergerak menjauh, tetapi kembali di hadang Hakim,
HAKIM: (Bernada membentak mengancam) Menyenangkan atau tidak. Kamu punya waktu atau tidak… Yang jelas kita mesti bicara! Saya tak terbiasa basa-basi!
PEMBELA: Ciri hakim yang baik memang tak suka basa-basi… terutama kalau minta sogokan…
HAKIM: (Bernada marah, kepada Jaksa) Lihatlah caranya bicara! Gayanya persis pejuang yang minta perhatian.
JAKSA: (Menenangkan suasana) Biarlah saya yang bicara… (Kepada Pembela, penuh pengertian) Saya bangga dengan kegigihanmu membela pesakitan itu. Tapi marilah kita pikirkan hal yang lebih besar. Situasi makin membahayakan keamanan Negara. Pesakitan itu makin tak terkedali. Kau pasti sudah dengar: pesakitan itu sudah membunuh seorang petugas!
PEMBELA: Bukan seperti itu yang saya dengar… Karena itulah saya berkewajiban meluruskan berita soal itu!
HAKIM: (Menyodorkan map) Laporan kronologi peristiwanya ada di sini! Semua tertulis detail terperinci… Pesakitan itu menyerang petugas itu dengan membabi buta, membunuhnya… kemudian memperkosa mayatnya…
PEMBELA: (Sambil mengamati membaca kertas-kertas dalam map itu) Saya rasa, laporan ini hanya merupakan fantasi orang yang menuliskannya.
HAKIM: Satu petugas terbunuh! Itu bukan fanasi, anak muda! Bayangkan kalau pesakitan itu bisa meloloskan diri. Dan dia memang selalu berusaha melarikan diri dari selnya. Bayangkan orang seperti itu berkeliaran di jalan-jalan. Ia pasti akan menyergap anak-anak kecil yang masih manis. Mencekik mereka, kemudian memperkosanya. Seorang maniak seks seperti dia tak akan puas hanya memperkosa satu dua kali… Bayangkan: berapa anak-anak yatim dan janda-janda – yanag seharusnya dipelihara oleh negara – akan diperkosa oleh pesakitan itu!
JAKSA: Saya hanya minta kerjasamamu seperti biasanya. Saya tahu, kasus ini peluang bagi kariermu sebagai pembela. Inilah kesempatanmu masuh dalam deretan sejarah orang-orang yang dengan gigih memperjuangkan keadilan. Tapi buat apa? Buat apa keadilan kalau itu hanya akan menghasilkan ketakutan dan kengerian bagi yang lain…
HAKIM: (Bernada penuh ancaman) Dan bukan tidak mungkin kengerian itu akan menimpamu sendiri, anak muda!
PEMBELA: Itu nasehat ataukah ancaman?!
Jaksa dengan halus mencoba melerai dan menuntun Pembela menjauhi Hakim. Sementara pada saat bersamaan Jaksa itu juga memberi isyarat kempada Hakim akan bisa menahan diri (seakan-akan mengatakan, biarlah ia yang bicara dengan Pembela). Dari sinilah akan makin terasa betapa ada hubungan khusus antara Jaksa dan Pembela.
JAKSA: Kamu jangan salah faham. Kami sama sekali tak mengancammu. Lagi pula, siapakah sesungguhnya yang mengancam? Dan siapa yang paling merasa terancam? Sumber ancaman jelas, ditebarkan oleh pesakitan itu. Ia tidak sendirian. Ingatlah orang-orang yang kini telah memujanya, yang menganggapnya pahlawan perlawanan. Mesiah yang akan membebaskan! Yang kita hadapi adalah keyakinan! Pemujaan! Sekte! Aliran sesat yang memuja kebebasan! Karena itulah, yang kita hadapi bukan cuma seorang pesakitan. Kita sedang berhadap-hadapan dengan sebuah gagasan yang memuja kebebasan. Gagasan yang mengatasnamakan keberagaman! Bayangkan bila gagasan ini meracuni seluruh rakyat kita?! Seluruh persendian moal yang telah kita bangun akan runtuh! Karna itu yang sedang kia perjuangkan bukan semata Undang-undang. Kita memperjuangkan keyakian. Prinsip moral. Bahwa bangsa ini harus memiliki sistem moral yang kuat…
PEMBELA: Sistem moral yang kuat, ataukah sebuah upaya untuk memonopoli kebenaran!
JAKSA: Sssstt… Jangan membantah dulu. Kamu masih muda… (Membelai Pembela dengan mesra)… Masa depanmu masih ranum. Dan kami bisa memilihkan masa depan yang akan menyenangkan buat kariermu. Saya bangga kamu jadi pembela moral yang gigih… Tapi ingatlah, kita ini hanya sekadar menjalankan peran… Sistem ini hanya berjalan kalau kita bisa menjalankan peran kita masing-masing dengan baik dan penuh saling pengertian…
Pembela tampak gelisah dengan sikap mesra Jaksa kepadanya.
PEMBELA: Karna itulah saya mencoba menjalankan peran konstitusional saya dengan sebaik-baiknya…
JAKSA: Jalanilah dengan baik…, tapi jangan naif… Apa kamu kira kamu bisa serta-merta jadi pembala dalam kasus ini, bila kami tak menginginkannya? Kami yang memilihmu jadi pembela… Aku sendriri yang merekomendasikan agar kamu diberi kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam peran ini… (Bersikap sangat mesra) Karna aku tahu kamu… kemampuanmu… impianmu… Tapi jangan kecewakan aku…
PEMBELA: Saya harus membelanya…
HAKIM: (Tegas penuh sindiran) Memang sudah menjadi kewajiban, seorang keponakan membela pamannya!
Pembela langsung gugup dan kaget.
HAKIM: Apa kamu pikir kami tak tahu kekerabatanmu dengan pesakitan ini. Saya punya informasi lengkap tenang kamu. (Melihat-lihat catatan dalam map, dan membacanya) Nama: Utami… Lulus fakultas Hukum lima tahun lalu… Suma cum laude … Jadi aktivis pers mahasiswa… Hobi menulis sastra… Pernah menerbitkan novel yang dituduh penuh adegan porno…
PEMBELA: Saya menulis sastra, bukan novel porno!
HAKIM: Terserah… saya tak perduli apakah sastra atau porno! Yang jelas itu sasstra jenis SMS… Sastra Mazhab selangkangan! Saya bisa menangkap kamu karna menulis novel itu!… (Kembali membaca data di map) … Pernah kost di Utan Kayu… Berkencan… dan punya hubungan sejenis dengan…
JAKSA: (Gugup cepat memotong) Bukankah soal yang itu kita sudah sepakat akan mengabaikannya!
HAKIM: Oh ya, ya… (Mencoret kertas di map)…
JAKSA: Terimakasih…
HAKIM: Tapi fakta bahwa ia punya hubungan darah dengan pesakitan itu, saya kira tidak bisa kita abaikan… (kepada Pembela) Itu artinya, kamu tidak bersih lingkungan… Lebih-lebih, dalam arsip ini, kamu disebut-sebut bersama Ulil ikut dalam Jaringan Moralis Liberal…
Pembela terpojok dan tak berdaya, ia menatap Jaksa, seakan-akan minta perlindungan…
JAKSA: Kamu masih punya kesempatan…
Jaksa bersikap mesra pada Pembela, dan Pembela seperti tak berdaya menolak pelukan mesra itu.
JAKSA: Saya yakin kamu cukup bijak menentunkan… Kamu punya kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih cerah… Bayangkan… Kamu tak hanya jadi pembela, tapi punya posisi yang strategis… Mungkin kamu bisa dipromosikan menjabat ketua Komite Indipenden Pemantau Moral.
PEMBELA: Terimakasih…
JAKSA: Atau bahkan kamu bisa menjadi ketua MA…
PEMBELA: (Gembira) Mahkamah Agung?
JAKSA: Bukan… Mahkamah A-moral.
Jaksa makin menatap penuh kasih sayang…
JAKSA: Sekarang pergilah…
Pembela pergi… Jaksa memandanginya kepergian Pembela dengan tatapan penuh mesra… Sampai terkejut ketika Hakim bersuara
HAKIM: Kamu menatapnya seperti menatap kenangan…
JAKSA: Setiap kita punya kenangan, Bapak Hakim… Kenangan yang ingin kita simpan … Kenangan yang jadi rahasia… Bukankah setiap orang juga punya rahasia, Bapak Hakim?!
Hakim tersenyum penuh pengertian. Jaksa mengulurkan tangan, semacam isyarat penuh godaan. Lalu Hakim mendekati Jaksa, meraih tangannya, mencium telapak tangan Jaksa dengan lembut. Kemudian Hakim membimbing Jaksa dengan mesra.
Keduanya berjalan ke satu sudut, dimana kemudian keduanya menjadi bayangan. Mereka berpelekan. Bergairah dan bercumbu liar. Hakim tampak mengikat kedua tangan Jaksa terentang. Kemudian dengan penh gairah mencambuki tubuh Jaksa dengan penuh berahi.
Sayu-sayup terdengar suara orang menembang, penuh kepedihan…
SEPULUH
Tembang itu terus mengalun…
Susila, dalam selnya, tergeragap mendengar suara tembang itu. Ia sperti terkenang akan tembang itu. Tembang itu bagai mengingatkannya pada hari-harinya yang tenang. Dalam keremangan, terlihat sesesok perempuan yang sedang menembang itu.
SUSILA: Siapa itu?
Sesosok perempuan itu beringsut mendekat dalam kegelapan…
SUSILA: Siapa?
MIRA: Aku… Mira…
SUSILA: Mira? Mira siapa? Mirasantika? Mira Diarsi? Mira Lesmana? Atau Miranda Goeltom?
Tembang berhenti. Sunyi sejenak.
SUSILA: Siapa?
Tak ada jawaban. Sunyi membuat Susila gelisah. Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu dibanting, keras.
SUSILA: (Kaget, latah) Eh, kontol copot…copot..copot… (memandang mencari-cari sesuatu di lantai) Mana…mana… (Lalu melihat dalam sarungnya, kemudian tersenyum) Eh, masih…
MIRA: Kamu masih di situ?
SUSILA: Eh iya, masih…(sambil terus memandangi ke dalam sarungnya)… masih utuh…
Lalu perlahan-lahan muncul Mira, bagai keluar dari dalam lobang persembunyian… Susila terkejut dan segera mengenalinya,
SUSILA: Kamu… Kamu penari tayub itu, kan? Kamu kok bisa kemari? Apa penjaga-penjaga itu…
MIRA: Nggak usah khawatir… Aku sudah memuaskan penjaga-penjaga itu dengan goyangan… Kawan-kawan menyuruhku menemuimu… Karna kami harus yakin bahwa kamu tetap setia pada perjuangan kita.
Susila tampak kebingungan,
SUSILA: Perjuangan?
MIRA: Beberapa kawan mulai curiga kamu akan menyerah… Mereka takut kamu akan membocorkan rahasia kita!
SUSILA: Rahasia apa? Wahh, saya nggak mudeng…
MIRA: Berhentilah main-main, Susila! Atau kamu tak mempercayaiku?! Sengar, Susila.. aku kemari karena ingin menyelamatkanmu! Saat melihatmu tayuban dulu, aku sudah merasa, kamu memang pejuang sejati…
SUSILA: Kamu itu ngomong apa?
MIRA: Aku yang harusnya bertanya, kamu sudah ngomong apa saja pada petugas-petugas itu? Apa kamu cerita kalau rombongan tayub kami sesungguhnya para gerilyawan moral yang sedang menyusup ke kota? Jawab, Susila!
SUSILA: Eh, jawab jawab… Jawab apa?
MIRA: Berapa nama yang sudah kamu sebut?
SUSILA: Nama apa? Saya nggak ngerti…
MIRA: Jadi benar?
SUSILA: Apanya yang benar?!
MIRA: Kamu sudah membocorkan rahasia perjuangan kita….
SUSILA: Perjuangan apa? Kita siapa? Aku nggak mudeng…
MIRA: Kamu kok aneh begitu? Kamu memang sudah berubah… Kamu pasti lelah. Tapi aku yakin kamu mampu bertahan. Meski banyak kawan-kawan seperjuangan meragukan keteguhanmu. Makanya mereka mengirimku ke mari… Mereka ingin aku membunuhmu… Karena mereka tahu aku diam-diam menyintai kamu… Sejak pertama melihatmu di tayuban dulu, aku memang sudah jatuh cinta sama kamu… Ah, cinta pada pandangan pertama… Sejak kamu ditahan, aku selalu mencemaskanmu, Sus… Dan kawan-kawan seperjuangan bisa merasa perasaan cintaku padamu bisa menjadi awal petaka…Mereka lalu menuntut keteguhanku: memilihmu atau memilih perjuangan… Tapi saya tak mau membunuhmu, Susila…
Tolong saya… Sekarang kamu lari… (menyerahkan kunci) Ini kuncinya… Larilah… kamu bisa menghilang ke mana saja…
Susila menatap kunci yang disodorkan Mira, tapi tak menerimanya, malah ketakutan,
SUSILA: Tidak… Tidak… kalau kabur pasti saya diburu…
MIRA: Ini demi keselamatanmu, Susila… Atau kamu memang sudah betah di penjara ini?… Begitu? Aku mendengar desas-desus kalau kamu memang diperlakukan baik di sini. Kami justru merasa nyaman dalam penjara. Penjara membuatmu merasa makmur!
SUSILA: Oo uedan tenan! Di penjara kok makmur!
MIRA: Kalau kamu nggak senang, larilah… Semakin lama kamu dipenjara, kawan-kawan malah semangkin cemas. Kamu akan tergoda. Lalu kamu membocorkan rahasia kita. Saya ingin kamu selamat. Tapi aku juga ingin semua kawan-kawan seperjuangan kita selamat….
SUSILA: Mbuh, mbuh… Saya nggak mudeng. Nggak mudeng!
MIRA: Ingat, Sus… Orang-orang di luar begitu berharap padamu. Kamulah satu-satunya harapan kita. Diam-diam banyak rakyat yang memujamu. Kalau kamu sampai menyerah, habislah seluruh perjuangan kita… Sampai saat ini aku terus bergerilya menyamar jadi penari tayub.. Kamu pikir, apa yang membuat saya tahan melakukan semua itu? Kamu, Sus… Kamu… Kamu-lah yang membuat aku yakin bahwa apa yang kini aku jalani dan yakini tidak akan sia-sia…
Susila terbengong-bengon, bingung dan hanya terdiam di dalam sel. Mira berusaha mengulurkan tangannya menyentuh Susila, mengelus-elus Susila dengan ujung jari-jarinya,
MIRA: Ayo, Sus… Kamu harus keluar dari sini…
Susila tiba-tiba langsung beringsut menjauh, dan nampak malu,
SUSILA: Lha ini… baru disentuh kamu saja sudah keluar…
MIRA: Ayolah, Sus… Larilah… Aku tak ingin kamu mati konyol…
SUSILA: Kamu yakin kalau saya lari saya tak akan mati? Di penjara ini saya bisa mati… Kabur pun saya pasti mati… Saya nggak ngerti… Jaman apakah ini… Jaman harta? Jaman susila? ….Dulu zaman Suharto, zaman nyari harta. Sekarang kan zaman Susila. Zaman menegakkan susila. Su-sila…, dasar yang baik. Setelah dapat harta, lantas nyari susila…. Tapi saya? Sudah nggak dapat harta, eh malah kesandung susila… Apalagi yang bisa saya percaya?
MIRA: Percayalah sama saya… Kamu hanya lelah…
Terdengar suara kemerontang, seperti ada yang dating. Mira segera bangkit, melihat keadaan. Lalu buru-buru menyodorkan lagi kunci ke arah Susila.
MIRA: Ini kuncinya… Kunci hidup matimu!!!
Susila hanya memandang, bergeming. Suara seperti pinu sel di dorong kembali terdengar. Mira buru-buru melempar kunci tu ke dalam sel Susila, hingga jatuh tak jauh dari kaki Susila yang terus bergeming.
Kemudian Mira segera menyelinap pergi…
Susila tanpak bingung. Ia memandangi kunci itu. Ia bergerak hendak memungutnya. Tetapi kemudian tak jadi. Ia terlihat begitu bingung. Ragu memandangi kunci itu…Sampai kemudian ia tiba-tiba begegas mengambil kunci itu. Tangannya gemetar membuka selnya.
Susila kabur…
Terdengar sirene meraung-raung!
SEBELAS
Operasi Moral besar-besaran digelar untuk memburu Susila. Sepasukan Polisi Moral terlehat menyebar. Mereka bergerak, seperti sepasukan tentara elit memakai seragam hitam-hitam dengan jaket rompi anti peluru. Di punggung mereka terlihat tulisan DESTASEMEN MORAL. Sebagian memakai topeng penutup, topi baja dengan lampu sorot di bagian depannya. Senjata mereka terarah siap menembak, dengan sinar infra merah terus berkelebatan dalam gelap.
Musik Mission Imposible mengiringi gerakan para Polisi Moral yang terus menyebar hingga ke penonton. Mereka menggeledah setiap penonton. Mengarahkan lampu sorot, membidikkan senapan berinfra merah itu tepat ke dada atau kening penonton…
Di ataa panggung, dalam ketinggian komando, terlihat Petugas Kepala berdiri menjulang memberi perintah dengan megaphone…
PETUGAS KEPALA: Perhatian! Perhatian!…. Ini darurat Moral! Atas nama Undang-undang Susila saya perintahkan semua menyerah… Tembak ditempat semua yang mencurigakan!
Sementara para pasukan menyebar mendatangi para penonton, menggeledah para penonton…
PETUGAS KEPALA: Ini jam malam moral. Jangan sampai kelamin Anda berkeliaran malam-malam…
Dari satu arah seorang Pasukan berteriak, sambil mengarahkan senapannya ke sebuah sudut..
PETUGAS: Pak! Ada kelamin sembunyi di selokan…
PETUGAS KEPALA: Tembak!
Petugas itu segera memberondongkan senapan. Serentetan tembakan menggelegar…
PETUGAS KEPALA: (Dengan megaphonenya) Sekali lagi, bagi saudara-saudara yang tidak bisa menjaga kelaminnya, harap segera menyerahkan kelaminnya ke pos-pos kemanan terdekat!
Para petugas it uterus memeriksa para penonton, menggeledah. Para petugas tersebut bisa improve melaporkan apa yang ditemukan (seorang petugas misalnya berteriak ke arah Petugas Kepala kalau ia menemukan kondom nyangku di atas pohon, menemukan dua pil Viagra, dst…)
PETUGAS: Terus geledah setiap rumah! Cari buronan itu! Cari sampai ketemu. Bahkan bila ia kembali sembunyi di rahim ibunya!
Para pasukan bergerak sigap dan cepat. Sirene pencarian terus meraung-raung menggetarkan udara.
DUA BELAS
Sirene masih sayup terdengar menjauh dan derap pasukan yang melakukan operasi masih terdengar menyebar ketika dari satu pojok muncul Mira. Petugas kepala tampak hendak bergerak, ketika terdengar suara Mira yang dengan hati-hati memanggil…
MIRA: Kelabang satu!
Petugas kepala menoleh, mencari suara itu. Ia tampak kaget.
MIRA: (Kembali berteriak, hati-hati, memanggil) Kelabang satu!
PETUGAS KEPALA: (Sambil melihat-lihat keadaan) Sebutkan kodemu?!
MIRA: Agen 36-B…
Mendengar itu, Petugas Kepala makin tampak makin kaget, gelisah, tapi mencoba menguasai keadaan…
Mira tampak keluar dari pojok persembunyiannya, tapi Petugas Kepala langsung membentaknya…
PETUGAS KEPALA: Tetap di situ!! (Kembali melihat sekeliling) Kamu yakin tak ada yang mengikutimu? (Sambil terus menyembunyikan diri dalam keremangan) terlalu beresiko kamu menemui saya langsung…
Tampak benar kalau Petugas Kepala selalu mencoba menjaga jarak, dengan berdiri di keremangan, hingga sosoknya tampak samar ketika berbicara…
MIRA: Maaf…
PETUGAS KEPALA:Kamu telah melanggar perintah!
MIRA: Saya hanya mau minta kepastian…
PETUGAS KEPALA: Apa yang pasti dalam situasi seperti ini! Semua sudah diluar kendali! Dan saya pun hanya pelaksana!
MIRA: Tapi kita telah sepakat: Susila tidak akan dibunuh… Karna itulah saya mau membujuknya supaya kabur…
PETUGAS KEPALA: Sekarang ini bukan saatnya kamu melibatkan perasaan! Kamu telah gagal, karena kamu melibatkan perasaan kamu. Kalau saja saat itu Susila langsung kamu bunuh, tak perlu ada operasi besar-besaran ini…
MIRA: Saya pikir, membiarkan Susila kabur dan bersembunyi lebih menguntungkan…
PETUGAS KEPALA: Pikirkan saja nasib kamu! Tak perlu memikirkan Susila. Apakah dia akan dibunuh atau tidak, itu hanya soal kepentingan. Mana yang lebih menguntungkan…
MIRA: Saya mohon…
PETUGAS KEPALA: Terlambat!
Terdengar serentetan tembakan di kejahuan. Mira dan Petugas Kepala saling menatap tajam…
MIRA: Apa itu Susila?
PETUGAS KEPALA: Entahlah… Kamu bisa cari informasi sendiri! Sekarang kamu mesti kembali!…
Seperti ada yang datang, dan Petugas Kepala melihat keadaan…
PETUGAS KEPALA: Cepat! (memperhatikan satu arah, merasa kalau ada seseorang yang datang mendekat) Kamu yakin tak ada yang mengikutimu?
Mira diam, memperhatikan sekeliling juga. Ia juga mendengar ada yang berjalan mendekat…
PETUGAS KEPALA: Cepat! Sekarang kamu pergi! Saya ingin daftar nama-nama itu secepatnya!
Petugas Kepala tampak makin ingin buru-uru pergi, melihat ke satu arah, melihat ada yang datang, dan Petugas kepala pun segera berkelebat menghilang, sementara Mira kembali sembunyi…
Muncul Pembela, tampak berjalan bergegas. Mira memperhatikan Pembela yang melintas itu, lalu memanggilnya.
MIRA: Utami!
Pembela kaget, berhenti dan menoleh. menatap penuh selidih kekapa Mira.
MIRA: Saya Mira… Kawan Susila…
PEMBELA: Oo.. Mira? Atau Agen 36 B? Kawan Susila? Atau yang mengkhianati Susila?
MIRA: Beri kesempatan saya untuk menjelaskan…
PEMBELA: Kamu mau memberikan penjelasan atau mau memberikan informasi yang menyesatkan? Dalam situasi seperti ini, siapa yang bisa kita percaya?
MIRA: Susila percaya sama saya. Dia mau mendengar omongan saya….
PEMBELA: Dan karena mendengar omonganmu lah maka sekarang nasibnya menjadi tidak jelas. Dia buron, dan sewaktu-waktu bisa mati ditembak! Atau jangan-jangan sekarang ia sudah mati tertembak! Kalau saja ia masih di dalam penjara, setidaknya saya masih bisa menjamin keselamatannya…
MIRA: Saya tahu persis: penjara akan menjadi tempat kematiannya. Karena itulah saya menyuruhnya pergi… Tolonglah… Jangan biarkan saya terus disiksa perasaan bersalah begini. Saya bisa bantu kamu. Sayu bisa hubungkan kamu dengan orang-orang gerakan… (Mengeluarkan seberkas kertas dari balik pakaiannya) Semua informasi ini mungkin berguna sebagai bukti di sidang nanti…
PEMBELA: (Dengan halus menolak) Apa untungnya buat saya? Kamu melakukan ini bukan karena ingin membantu saya, kan?! Kamu hanya ingin Susila selamat. Kamu mencintai Susila, dan karna itu kamu mau melakukan apa saja asal Susila selamat.
MIRA: Saya melakukan ini karena saya yakin kamu pun ingin Susila selamat… Bagaimana pun dia Pakdemu… Kamu mesti menolong Pakdemu…
PEMBELA: Bagaimana saya mesti menolong dia? Menolong diri sendiri saja saya tak mampu… (Menatap sinis pada Mira) Maaf, saya mesti buru-buru menghadiri sidang!
Dengan cepat Pembela segera meninggalkan Mira. Mira pun berdiri gamang. Terisak. Ia gelisah dengan seluruh perasaan bersalah. Ia mengeluarkan berkas kertas yang tadi hendak diberikan pada Pembela. Menatap dan mengamati berkas kertas itu dengan gemetar. Tiba-tiba Mira menyobek-nyobek berkas kertas itu, seperti ingin melampiarkan seluruh kegundahannya…
Pada saat itulah, terdengar teriakan orang-orang: ”Itu dia! pengkhianat! Tangkap! Tangkap!” Mira kaget, tetapi ia dengan cekatan langsung menyelematkan diri. Teriakan-teriakan itu terus terdengar mengejar: ”Tangkap! Kejar! tangkap!! kejaarr!!”….
TIGA BELAS
Hakim, Jaksa dan pembela muncul terburu-buru. Hakim langsung menuju meja sidang dan langsung mengetokkan palu berkali-kali.
HAKIM: (suara sudah langsung meninggi) Sidang mulai!
PEMBALA: (Ragu dan tak seyakin dulu) Ee.. Maaf, Bapak hakim.., klien saya belum ditemukan…
HAKIM: (mengabaikan, dan langsung memotong omongan Pembela dengan mengetukkan palu keras-keras dan makin tegas) Kalau begitu sidang dilangsungkan secara in absentia! Apa pun yang bisa mewakili kehadiran terdakwa harap segera dibawa ke ruang sidang…
Hakim kembali mengetukkan palu memerintahkan.
Terdengar teriakan seorang petugas: “Terdakwa segera memasuki ruangan!”… Suasana kemudian hening, khidmad. Musik mengiringi suasana bagai permulaan prosesi upacara yang sakral dan kudus. Semua berdiri menunggu…
Kemudian muncul para petugas yang mengusung sebuah closet yang ditandu dengan langkah-langkah upacara. Seperti parade kehormatan. Khidmad dan agung. Kemudian dengan penuh kehati-hatian, kloset yang ditandu itu kemudian diletakkan di tengah-tengah ruang sidang. Para petugas yang menandu pergi dengan sikap parade militer…
HAKIM: Harap petugas memastikan keotentikan status terdakwa!
Seorang petugas medis, segera mendekati closet itu. Ia segera menyeprotkan cairan pendeteksi sidik jari ke kloset itu, kemudian mengeliuarkan selembar tissue dan dengan hati-hati mengelap ke bekas semprotan itu. Lalu ia memeriksa closet itu dengan semacam alat pendeteksi dan dengan cermat dan seksama kertas itu diterawangkan ke cahaya…
PETUGAS MEDIS: Kami tak berhasil mengidentifikasi sidik jari terdakwa… Tapi kami berhasil menemukan sidik tai terdakwa… Dan berdasarkan sidik tai yang kami miliki, kloset ini memang pernah diduduki terdakwa!
HAKIM: Berdasarkan Undang-undang Susila, maka sidang bisa dianggap sah dan memenuhi kuorum… Saudara Jaksa dan Saudara Pembela, silakan mulai…
Hakim mengetukkan palu. Jaksa dan Pembela serentak mendekati kloset itu, dan langsung menghunjamkan bermacam pertanyaan, kata-kata, cercaan, sambil menuding dan menunjuk-nunjuk kloset itu…
JAKSA: Apa yang dilakukan pesakitan ini sudah tidak bisa kita maafkam.
PEMBELA: Hukum seberat-beratnya…
JAKSA: Ia terbukti secara meyakinkan berusaha menggulingkan moral negara.
PEMBELA: (Bertanya kepada kloset itu) Bukankah begitu, saudara terdakwa?
HAKIM: Pesakitan, saudara Pembela!
PEMBELA: Ya, pesakitan! Pesakitan ini adalah contoh buruk dari peradilan kita!
HAKIM: Contoh buruk dari moral, saudra Pembela!
PEMBELA: Ya, inilah contoh moral yang buruk!
JAKSA: Lihatlah Bapak Hakim… (menuding ke kloset) Inilah bentuk komunisnme gaya baru!
PEMBELA: Harus kita waspadai!
JAKSA: Harus kita ganyang! Inilah sumber penyakit kelamin. Sumber demoralitas Negara!
PEMBELA: Itu terlalu berlebih-lebihan…
HAKIM: Tak ada yang berlebih-lebihan, saudara Pembela…
PEMBELA: Ya, maaf, Bapak Hakim… tidak berlebihan bila pesakitan dihukum seberat-beratnya…
JAKSA: Pesakitan ini jelas sangat pantas dihukum rajam!
PEMBELA: Potong kelaminnya!
JAKSA: Hidup kelamin!
HAKIM: Saudara Jaksa!
JAKSA: Maaf, Bapak Hakim… Maksud saya, hidup kelamin yang bermoral!!
HAKIM: Sudah menjadi kewajiban kita mendidik agar setiap kelamin memiliki moral, Saudara Jaksa…
PEMBELA: Tapi kelamin pesakitan ini tidak bermoral!
HAKIM: Saya suka dengan nada bicamu yang heroik, Pembela! Good…
JAKSA: Teteknya juga tidak bermoral!
PEMBELA: Otaknya tak bermoral!
JAKSA: Buah pelirnya tak bermoral!
PEMBELA: Telinganya tidak bermoral!
JAKSA: Dengkulnya tidak bermoral!
PEMBELA: Kutilnya tidak bermoral!
Begitu seterusnya, Jaksa dan Pembela seperti saling berlomba melontarkan kata-kata ke arah kloset itu, menuding-nuding, meludahi, bahkan mengentuti kloset itu. Keduanya terus mendakwa dengan bermacam-macam kata cercaan dan bermacam-macam tuduhan…
Kemudian semua yang hadir ikut-ikutan menghujat: “Jarinya tidak bermoral! Alisnya tidak bermoral! Tumitnya tidak bermoral! Kukulnya tidak bermoral!… dst…” Hingga suasanya menjadi hiruk pikuk oleh hujatan yang makin meninggi.
Sementara lampu perlahan lahan mengarah dan fukus pada kloset itu. Bersamaan itu, suara Jaksa dan Pembela yang terus melontarkan kata-kata perlahan juga merendah dan sayup-sayup…
Sekitar panggung menggelap, dan hanya ada cahaya yang menyorot ke arah kloset. Suara Jaksa dan Pembela makin sayup-sayup.
Dan bersamaan dengan itu kemudian terdengar suara yang keluar dari pengeras suara, suara Hakim yang tengah mengumumkan,
SUARA HAKIM DI PENGERAS SUARA: Sidang Susila dengan ini memutuskan bahwa pesakitan akan menerima hukuman seberat-beratnya. Dan untuk menghindari hal-hal yang bisa berkembang dikemudian hari, maka Sidang Susila ini juga menetapkan, bahwa segala macam kata-kata, ucapan, tulisan, gambar, rekaman dan semua bentuk kelamin yang ada di muka bumi ini harus segera dihapuskan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya….
S E L E S A I Setelah membaca beberapa bagian dari naskah yang tersaji di atas “siding susila” saya dapat membayangkan bahwa naskah yang dipentaskan oleh teater gandrik ini merupakan tampilan yang sangat menarik. Konflik yang terjalin di dalam lakon ini beitu hangat terdengar oleh telinga, dan alur yang disuguhkan pun menarik. Walau alur disajikan secarara sederhana namun membuat adrenalin serta gelak tawa yang mampu memuaskan nafsu estetik yang kita punya. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
JULIUS CAESAR Karya William Shakespears
Seri PJ 428 01 79 Judul Asli : Julius Caesar Naskah terjemahan ini merupakan usaha penerjemahan sastra dunia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1976. Diterbitkan atas kerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta oleh Pustaka Jaya Jl. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Anggota IKAPI Cetakan pertama: 1979 Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
@ALL RIGHT RESERVED Dramatic Personae
1) JULIUS CAESAR Kaisar
2) OCTAVIUS CAESAR 3) MARKUS ANTONIUS Triumvirat setelah Caesar mangkat 4) M. AEMIL LAPIDIUS
5) CICERO 6) PUBLIUS Senator 7) POPILIUS LENA
8) MARCUS BRUTUS 9) CASSIUS 10) CASCA 11) TREBONIUS Komplotan menentang Caesar 12) LIGARIUS 13) DECIUS BRUTUS 14) METELLUS CIMBER
15) CINNA Seorang Penyair tribun dari Chidos, guru retorika 16) PLAVIUS DAN MARULLUS 17) ARTEMIDORUS 18) AHLI NUJUM 19) PENYAIR LAIN
20) LUCIUS 21) TITINIUS 22) MESSALA Sahabat-sahabat Brutus dan Cassius 23) CATO MUDA 24) VOLUMNIUS
25) VARRO 26) CLITUS 27) CLAUDIUS Pelayan-pelayan Brutus 28) STRATO 29) LUCIUS 30) DARDANIUS
31) PINDARUS Pelayan Cassius 32) CALPURNIA Istri Caesar 33) PORTIA Istri Brutus
Para Senator, Rakyat, Pengawal, Pengiring dll. Tempat Kejadian; Roma, daerah dekat Sardis. Daerah dekat philippi
BABAK I
ADEGAN I
Roma, sebuah jalan. Masuk Flavius, Marullus dan beberapa rakyat biasa
Flavius Hai! Pulang, pemalas, pulang. Apa hari ini libur? Apa kau sebagai pekerja tak tahu, kau tak boleh berjalan di hari kerja tanpa lambang-lambang pekerjaannmu? Katakan apa kerjamu?
Rakyat I Tukang kayu, tuan.
Marullus Mana pakaian dan mistarmu? Kenapa kau berbaju bagus? Dan kau, apa kerjaanmu?
Rakyat II Kalau yang tuan maksud pekerjaan baik, maka saya memang pekerja begitu dan disebut orang tukang tambal sepatu
Marullus Yang kau kerjakan apa? Jawab langsung!
Rakyat II Yang saya kerjakan, adalah sesuatu yang saya lakukan dengan hati sanubari tenang, yaitu menambal sesuatu yang cacat.
Marullus Perkerjaan apa bergajul? Hai bergajul, kerja apa?
Rakyat II Tuan, saya minta, tuan jangan marah pada saya. Begitulah tuan, kalau tuan bepergian, tuan bisa saya tambal.
Marullus Apa maksudmu, menambal aku? Orang banyak mulut!
Rakyat II Menambal telapak tuan
Flavius Kau tukang tambal sepatu kan?
Rakyat II Betul tuan. Alat pencari nafkah saya, jarum. Saya tidak ada urusan dengan soal-soal pekerja, juga tidak dengan perempuan, hanya dengan jarum. Memang saya ini dokter untuk sepatu-sepatu tua. Kalau sepatu dalam keadaan bahaya, saya pulihkan kembali. Setiap orang tampan yang menginjak kulit sapi, berjalan atas pekerjaan saya.
Flavius Tapi kenapa hari ini kau tidak dibengkelmu? Kenapa kau ajak orang-orang ini berjalan?
Rakyat II Supaya sepatu mereka aus, hingga saya lebih banyak dapat pekerjaan. Hari ini kami berlibur untuk menyambut Caesar dan bergembira atas kemenangannya.
Marullus Buat apa bergembira? Kemenangan apa yang dibawanya pulang? Tangkapan mana yang mengiringkan dia ke Roma, untuk menghiasi kereta perangnya sebagai tawanan? Dungu, batu, kalian lebih bebal dari semua yang tak berguna! Oh, orang berhati batu, orang Roma yang kejam, apa kalian tidak kenal Pompei? Berkali-kali kalian memanjat dinding, baluwarti menara dan jendela, bahkan cerobong asap sambil menggendong anak, lalu duduk-duduk di sana seharian dengan kesabaran penuh harapan untuk melihat Pompei lalu di jalanan kota Roma. Dan begitu kalian melihat keretanya muncul, bukankah kalian bersorak sejadi-jadinya hingga sungai Tibet menggetar di bawah tepinya. Mendengar gema sorak sorai kalian, terbentur di tepi-tepinya yang cembung? Dan kini kalian mengenakan baju yang terbagus? Dan kalian kini menetapkan untuk berlibur? Dan kini kalian mau menyerakkan bunga di tempuhan orang yang pulang setelah menumpahkan darah Pompei? Pergi! pulang ke rumah! Lalu berlutut dan berdoa pada dewa supaya menjauhkan pes yang pasti datang, karena dunia tak tahu membalas guna.
Flavius Pergi, pergilah anak sekampung halaman, dan atas kesalahan ini, kumpulkan semua orang malang selata kalian. Ajak mereka ke tepi sungai Tibet dan tumpahkan air mata kalian ke dalam arusnya hingga pasang yang paling surut sempat mencium tepi yang termulia dari segala-galanya. (Semua rakyat pergi) Lihat bagaimana isi hati mereka tergugah. Mereka menghilang dengan lidah kelu karena berdoa. Pergilah kau ke Kapitol lewat sana, aku akan lewat sini. Telanjangi patung-patung jika kau lihat ada yang dibungkus dan dihiasi.
Marullus Apa boleh itu kita lakukan? Kau tahu hari ini pesta Lupercal.
Flavius Jangan peduli, jangan ada patung-patung yang dihiasi dengan tanda kebesaran Caesar. Aku akan mengusir rakyat jelata dari semua jalan. Kau juga, lakukan begitu, kalau kau temui mereka banyak berkumpul. Bulu-bulu subur yang dicabut dari sayap Caesar akan memaksa dia untuk terbang biasa, hingga ia tak membumbung mengatasi pandangan manusia dan membuat kita manusia tunduk dalam ketakutan. (pergi)
ADEGAN II
Lapangan umum. Bunyi terompet. Masuk Caesar dan Antonius, siap untuk berlari Calipurnia, Portia, Decius, Cicero, Brutus, Cassius dan Casca, diikuti oleh orang banyak, diantaranya ahli nujum.
Caesar Calpurnia!
Casca Tenang, Hai! Caesar mau bicara! Caesar (musik berhenti) Calpurnia!
Calpurnia Hamba tuanku.
Caesar Tegaklah nanti di jalan. Antonius, jika ia mulai berlari, Antonius!
Antonius Caesar, tuanku!
Caesar Jangan lupa untuk menyentuh Calpurnia, sewaktu kau berlari kencang, Antonius, karena orang-orang tua kita berkata, perempuan mandul yang disentuh di saat-saat kejar-kejaran suci ini, akan kehilangan kemandulannya.
Antonius Aku akan ingat; kalau Caesar berkata “lakukan ini!” maka itu akan dikerjakan.
Caesar Mulailah, jangan ada upacara yang dilupakan
terompet berbunyi Ahli Nujum Caesar!
Caesar Ya! Siapa yang memanggil?
Casca Suruh diam semua-tenang kembali!
Caesar Siapa diantara orang banyak memanggil aku? Aku mendnegar lidah yang lebih melengking dari semua musik, teriakan “Caesar”, bicaralah. Caesar siap mendengarkan.
Ahli Nujum Hati-hatilah dihari pertengahan Maret!
Caesar Siapa itu?
Brutus Seorang ahli nujum memeringatkan Anda untuk berhati-hati dipertengahan bulan Maret
Caesar Suruh dia kemari, aku ingin melihat mukanya.
Cassius Kawan, cobalah pisahkan diri dari banyak orang. Pandanglah Caesar.
Caesar Apa katamu tadi? Coba katakan lagi.
Ahli nujum Hati-hati di pertengahan Maret
Caesar Dia seorang pemimpin. Biarkan dia-jalan.
panggilan; terompet. Semua pergi kecuali Brutus dan Cassius
Cassius Apa kau mau menentang perlombaan ini?
Brutus Tidak
Cassius Sebaiknya kau tonton
Brutus Aku tak begitu gemar pada permainan. Aku tidak memiliki semangat lincah seperti yang dipunyai Antonius. Aku tak akan menghalangi keinginanmu, Cassius. Aku akan pergi.
Cassius Brutus, aku mengamati kau akhir-akhir ini. Dalam matamu tidak kutemukan keramahan dan tanda-tanda kasih sayang yang biasa kulihat. Tingkah lakumu terlalu keras dan aneh, terhadap kawan-kawan yang mencintaimu.
Brutus Cassius, jangan salah paham. Jika aku mencadari mataku, maka itu karena aku ingin membalikan kemurungan wajahku pada diri sendiri. akhir-akhir ini aku dipukau oleh perasaan saling bertentangan, pikiran-pikiran yang hanya baik untuk diriku sendiri dan karena itu mungkin telah menodai tingkah lakuku. Tapi janganlah kawanku sampai sedih karena itu – diantaranya kau sendiri Cassius. Dan janganlah salah memahami kealfaanku, yang tampil karena Brutus lagi perang dengan diri sendiri, hingga lalai memeragakan rasa sayangnya pada orang lain.
Cassius Kalau begitu, Brutus, aku sudah salah menangkap perasaanmu, hingga dadaku mengaburkan besar, yang pantas untuk direnungkan. Brutus, apa kau dapat melihat wajahmu sendiri?
Brutus Tidak, Cassius. Karena mata tak dapat melihat diri sendiri kecuali karena pantulan, berkat adanya hal-hal lain.
Cassius Betul. Sayang sekali Brutus, kau tak punya cermin yang dapat memantulkan kebaikanmu yang terpendam ke dalam matamu, hingga kau dapat melihat bayang-bayangmu sendiri. aku sudah dengar bagaimana hormatnya orang di Roma bicara kecuali Caesar abadi, tentang Brutus, dan sambil mengerang di bawah tekanan jaman ini, berharap supaya Brutus budiman –memergunakan matanya.
Brutus Ke dalam bahaya apa aku mau kau bawa, Cassius? Hingga kau ingin supaya aku mencari dalam diriku sesuatu yang sama sekali tidak ada.
Cassius Karena itu, Brutus budiman, bersiap-siaplah untuk mendengarkan. Dan karena kau tahu, kau tak bisa melihat diri sendiri sebaik-baiknya kecuali dalam pantulan, aku sebagai cerminmu, dengan segala kerendahan hati akan mengungkapkan padamu bagian dirimu yang sampai kini belum kau ketahui. Jangan curiga padaku, Brutus yang baik. Sekiranya aku pelawak biasa, atau senang membaur-baurkan cintaku pada setiap pengaju permohonan baru dengan sumpah biasa; kalau kau pernah dengar, aku suka bermulut manis dan merangkul mereka yang kuburuk-burukan; atau jika kau pernah tahu bahwa aku suka membesar-besarkan diri disetiap pesta makan di hadapan orang banyak; kalau begitu halnya, boleh aku dianggap berbahaya.
bunyi terompet dan sorak
Brutus Kenapa orang bersorak? Aku khawatir, jangan-jangan rakyat memilih Caesar jadi raja
Cassius Kau khawatir? Kalau begitu aku yakin kau tidak setuju.
Brutus Memang tidak, Cassius. Biar aku sayang padanya. Tapi kenapa aku kau tahan di sini begitu lama? Apa yang kau mau sampaikan padaku? Kalau sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan umum, pasanglah kehormatan di mata yang satu, dan maut pada yang satunya lagi. Keduanya tidak akan kuhiraukan; semoga para dewa melindungi aku, karena aku lebih cinta kehormatan daripada takut mati.
Cassius Aku tahu kau punya sifat mulia itu, Brutus. Dan aku tahu apa yang kau senangi. Nah, pokok pembicaraanku adalah kehormatan. Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang lain atau pun kau tentang hidup ini, tapi bagi diri sendiri, aku lebih suka tidak ada, dari pada hidup dalam ketakutan pada manusia biasa, tak beda dari diriku sendiri. aku dilahirkan merdeka seperti Caesar; kau juga. Kita berdua hidup baik, dan kita berdua sama kuatnya menghadapi musim dingin seperti dia. Karena pada suatu waktu, di suatu hari mendung dan penuh angin, waktu Tiber rusuh bergeseran dengan pinggirnya, Caesar berkata padaku “Cassius, apa kau kini berani melompat ke dalam banjir amarah ini bersama aku lalu berenang ke sana?” demi dewa-dewa. Biar pun aku memakai perlengkapan penuh aku melompat ke dalam, lalu minta supaya dia ikut. Hal itu ia lakukan. Arus mengejar, kami hadapi dengan urat-urat yang gairah, kami kuakkan dan kami hadang dengan hati penuh persaingan murni. Tapi sebelum kami sampai ke titik yang dituju, Caesar berteriak, “tolong aku, Cassius. Aku tenggelam!” lalu aku, seperti nenek moyang kita yang besar, Annas dulu mengangkat Anchises tua di atas bahunya dari api kebakaran Troya, begitu juga dari gelombang Tiber. Telah kuselamatkanCaesar dan orang itu kini sudah jadi dewa, sedangkan Cassius hanya manusia celaka yang harus mengangguk padanya. Di Spanyol pernah sekali ia demam, dan waktu serangan mendatangi tubuhnya. Kulihat bagaimana dia menggigil. Betul, dewa itu menggigil. Bibirnya yang pengecut kehilangan rona, dan mata yang tatapannya mengecutkan dunia, kehilangan cahaya. Aku mendengar ia mengerang. Ya, dan lidahnya yang menyuruh orang Roma mengingatkan dia dan mencatat pidato-pidatonya dalam buku mereka, saat itu merintih “beri aku minum, Titinus” bagai seorang gadis sakit. Ya, dewata! Aku betul-betul heran bagaimana orang yang begitu rapuh semangatnya bisa menjadi pemimpin dunia semesta dan memegang seluruh kekuasaan di tangannya sendiri.
teriakan, bunyi terompet
Brutus Sorak-sorai lagi! Aku yakin sorak-sorai itu karena kehormatan-kehormatan baru yang ditumpukkan atas Caesar.
Cassius Betul, kawan. Dia mengangkangi dunia sempit ini bagai sebuah Colosus dan kita orang-orang kecil berjalan di bawah kaki raksasanya dan mengintip ke sana ke mari mencari kuburan orang hina untuk diri sendiri. manusia kadang-kadang menguasai nasibnya. Yang salah, Brutus budiman, bukan nasib, tapi diri kita sendiri. makanya tetap orang lata Brutus dan Caesar. Caesar punya apa? Kenapa namanya harus kedengaran lebih lantang dari namamu? Tuliskan sama-sama, namamu nama yang baik. Ucapkan, untuk mulut ia juga baik. Timbang, beratnya cukup. Gunakan sebagai mantera. Brutus juga bisa menampilkan arwah secepat Caesar. Sekarang, demi segala dewa sekaligus, apa yang telah dimakan Caesar ini hingga dia jadi begitu besar? Zaman, malulah kau! Roma, kau sudah kehilangan rum pun darah termulia. Sejak banjir, tidak ada zaman termasyhur, yang tidak dibesarkan oleh lebih dari satu orang. Yang bicara tentang Roma, siapa yang bisa mengatakan, bahwa dinding yang luas hanya memuat satu orang? Roma sekarang masih Roma yang dulu, dan masih luas, tapi dalamnya hanya ada satu orang. Oh, kau dan aku pernah mendengar orang tua kita berkata, pernah dulu seorang bernama Brutus yang menghalangi Iblis abadi bersemayam di Roma dan bertahta sebagai raja.
Brutus Bahwa kau cinta padaku, aku tidak cemburu. Yang kau inginkan supaya kulakukan, memang sudah tujuanku. Bagaimana pendapatku tentang ini dan zaman ini akan kuceritakan nanti. Untuk sementara, aku tidak akan bisa digoncangkan lebih jauh, demikian kupohonkan padamu dengan rasa cinta. Semua yang kau katakan akan kupertimbangkan. Apa yang akan kau katakan, akan kudengarkan dengan sabar, dan aku akan mencari kesempatan yang tepat, untuk mendengar dan menjawab hal seperti itu, sampai saat itu, kawan baik, terimalah ini; Brutus lebih suka jadi orang kampong daripada menodai namanya sebagai putera Roma, dalam keadaan sulit yang mungkin dihadapkan masa ini pada kita.
Cassius Aku gembira, kata-kataku yang begitu lunak dapat menyalakan api yang cukup besar pada Brutus.
Brutus Perlombaan sudah selesai dan Caesar akan segera kembali.
Cassius Kalau mereka lewat, coba tarik lengan Casca, supaya ia menceritakan padamu dengan cara yang menjengkelkan, kejadian penting apa yang telah terjadi hari ini.
masuk Caesar bersama pengiringnya Brutus Aku akan lakukan. Tapi lihat, Cassius. Di kening Caesar terbayang sinar kemarahan. Sedangkan yang lain kelihatan bagai pengiring yang dimarahi. Pipi Calpurnia pucat, dan Cicero matanya merah kecil dan menyala seperti dia kita lihat di Kapitol. Karena ditentang dalam perdebatan oleh beberapa senator
Cassius Casca akan mengatakan apa yang terjadi
Caesar Antonius
Antonius Caesar?
Caesar Aku ingin dikitari orang-orang gemuk, berkepala licin dan yang biasa tidur malam. Wajah Cassius kurus dan lapar. Ia berpikir terlalu banyak, orang seperti itu berbahaya.
Antonius Jangan takut padanya Caesar. Ia tidak berbahaya. Ia orang Roma berbangsa dan bersikap baik.
Caesar Sekiranya ia lebih gemuk! Tapi aku tak takut padanya. Misalkan namaku terbuka untuk ketakutan, tidak ada orang setahuku, yang segera kuelakkan selain Cassius. Ia lebih banyak membaca, ia pengamat yang baik dan ia memandang dan menembus tingkah laku manusia. Ia tak suka permainan seperti kau, Antonius. Ia tak gemar musik, ia jarang tersenyum dan jika tersenyum ia seakan-akan mengejek dirinya sendiri. dan menyesali hatinya karena mau digoda untuk tersenyum pada apa saja. orang seperti itu tidak akan pernah senang dan jika melihat ada orang yang lebih besar dari dirinya. Dan karena itu ia berbahaya. Aku lebih suka mengatakan apa yang harus kutakuti, karena aku akan selamanya Caesar. Dekat ke kananku, karena telinga yang ini tuli, dan katakan terus terang apa pendapatmu tentang dia!?
bunyi terompet, Caesar dan pengiringnya pergi, kecuali Casca
Casca Kau sentakkan bajuku, kau ingin bicara?
Brutus Ya, Casca. Ceritakan apa yang terjadi hari ini, sehingga Caesar kelihatan murung.
Casca Kau sendiri bersama dia kan?
Brutus Kalau aku ada, aku tak akan bertanya pada Casca apa yang terjadi.
Casca Orang menawarkan mahkota padanya; setelah ditawarkan, mahkota itu ia tolak dengan punggung tangannya, seperti ini. Lalu rakyat bersorak. Brutus Sorak kedua untuk apa?
Casca Untuk itu juga.
Cassius Mereka bersorak tiga kali. Sorak terakhir untuk apa?
Casca Untuk itu juga
Brutus Apa tiga kali mahkota ditawarkan padanya?
Casca Ya, demi dewa-dewa, memang begitu, dan tiga kali pula ia tolak. Setiap kali lebih ramah dari sebelumnya. Dan setiap kali ia menolak tetangga-tetanggaku yang jujur bersorak.
Cassius Siapa yang menawarkan mahkota?
Casca Antonius
Brutus Ceritakan bagaimana caranya, Casca yang baik.
Casca Biar digantung aku rasanya tak bisa. Ini Cuma keadaan – bukan aku yang mengatakannya. Aku melihat Mark Antonius menawarkan mahkota padanya, sebetulnya bukan mahkota, hanya mahkota kecil; dan seperti telah kukatakan, setiap kali ditolaknya. Tapi sungguh pun begitu, menurut perasaanku, ia sebetulnya ingin menerima. Lalu ditawarkannya sekali lagi, dan lagi-lagi menolak. Tapi menurut hematku, ia segan melepaskan jari daripadanya. Lalu ditawarkan lagi untuk ketiga kalinya, dan untuk ketiga kalinya ia menolak. Dan setiap kali ia menolak rakyat jelata bersorak dan melemparkan topi mereka yang sempit dan menghembuskan nafas begitu busuk karena Caesar menolak mahkota, hingga hampir-hampir saja Caesar lemas; karena itu, ia pingsan lalu rebah karenanya. Sedangkan aku, aku tidak berani ketawa, takut membuka mulut hingga hawa busuk masuk
Cassius Pelan-pelan! Jadi Caesar pingsan?
Casca Ia rebah di tengah pasar lalu mulutnya berbusa dan tak bisa bicara
Brutus Kelihatannya ia mengidap sakit ayan
Cassius Bukan, Caesar tidak mengidap itu. tapi kau dan aku dan Casca yang jujur yang menderita sakit ayan
Casca Aku tak tahu apa yang kau maksud, yang aku tahu Caesar jatuh. Kalau orang banyak itu tidak bertepuk tangan dan bersuit sesuai dengan kepuasan dan kemengkalan mereka padanya, seperti yang biasa dilakukan orang di gedung sandiwara, jangan sebut aku orang benar
Brutus Apa katanya waktu ia siuman kembali?
Casca Sebelum ia pingsan, waktu ia lihat bagaimana girangnya orang banyak karena mahkota itu ia tolak, ia menguakkan baju pendeknya lalu menawarkan lehernya untuk disembelih. Sekiranya aku punya alat, dan permintaannya itu tidak kupenuhi, aku bersedia masuk neraka bersama semua bajingan. Lalu ia rebah. Waktu ia siuman kembali, ia berkata, kalau ada perbuatannya atau kata-katanya yang salah, ia mohon supaya mereka menganggapnya sebagai kelemahan. Tiga-empat orang perempuan di tempat aku berdiri berteriak. “Dia orang baik!” lalu mengampuni dia dengan seluruh hati.; tapi itu tak usah dipedulikan. Biar pun Caesar menikam ibu mereka, mereka tidak akan memberinya kurang dari itu.
Brutus Lalu sesudah itu ia pergi dengan murung?
Casca Ya.
Cassius Apa kata Cicero?
Casca Ya, dia bicara bahasa Yunani
Cassius Apa yang dia mau katakan?
Casca Kalau kukatakan, aku tidak akan berani melihat mukamu lagi. Pokoknya orang-orang yang mengerti tersenyum saling pandang dan menggelengkan kepala – tapi untukku, semuanya itu tak bisa dimengerti. Ada berita lain lagi. Marullus dan Flavius, telah dibisukan, karena merenggutkan selubung-selubung patung besar. Selamat tinggal. Masih banyak lagi hal yang edan, jika aku bisa ingat
Cassius Mau kau makan malam bersamaku, Casca?
Casca Tidak, aku sudah punya janji
Cassius Mau kau makan besok bersamaku?
Casca Ya, kalau aku masih hidup, kalau permintaanmu tidak berubah dan makananmu lezat untuk dimakan
Cassius Baik. Kau kutunggu
Casca Baik. Selamat tinggal kalian berdua (pergi)
Brutus Orang ini bicara terus terang. Waktu sekolah dulu lekas marah
Cassius Sekarang ia juga begitu dalam melakukan perbuatan berani dan agung apa saja, biar pun ia kelihatan lamban. Kekasarannya adalah bumbu kebijakannya. Hingga selera kita tumbuh untuk mencernakan kata-katanya dengan nafsu yang lebih baik
Brutus Memang betul. Untuk sementara kau kutinggalkan. Besok, kalau kau ingin bicara denganku, aku akan datang ke rumahmu; atau kalau kau mau, kau boleh datang ke rumahku dan aku akan menunggumu
Cassius Baik. Sementara itu, pikirkanlah dunia (brutus pergi) Brutus, kau seorang yang berbudi. Tapi aku melihat semangat agung itu dapat direnggutkan dari kedudukan sewajarnya. Bagus sekali kalau hati yang agung senang berada di antara sesamanya, api siapa yang begitu kukuh hingga tak bisa digoyahkan? Caesar tak suka padaku, tapi ia sayang pada Brutus. Sekiranya aku Brutus dan ia Cassius, ia tak akan berusaha memengaruhiku. Malam nanti, dalam bentuk tulisan yang berbeda-beda, seakan-akan berasal dari bermacam orang, akan kulemparkan lewat jendelanya, surat-surat yang menjelaskan penghargaan Roma pada namanya. Di mana secara samar akan disinggung keinginan-keinginan Caesar. Sesudah itu biarlah Caesar mengukuhkan singgasananya, Karena ia akan kami runtuhkan. Kalau tidak, maka hari-hari celaka yang akan tiba (pergi)
ADEGAN III
Sebuah jalan. Guruh dan kilat. Masuk dari arah yang bertentangan Casca dengan pedang terhunus dan Cicero
Cicero Selamat malam, Casca. Apa kau habis mengantarkan Caesar pulang? Kenapa kau terengah-engah? Kenapa kau memandang begitu?
Casca Apa kau tak rusuh, melihat semua tertib dunia bergoncang bagai barang yang goyah? Oh, Cicero, aku telah melihat prahara dimana angin memaki membelah kayu tua dan aku sudah melihat samudera yang bernafsu menggembung, menggeram dan berbusa, terlambung tinggi bersama awan yang mengancam. Tapi baru malam ini, baru kali ini, aku mengalami topan yang menyebarkan api. Apa di langit sedang ada perang saudara, apa hubungan dunia dengan dewa begitu buruk hingga mereka bertekad untuk mengirimkan kehancuran?
Cicero Apa pernah ada yang lebih bagus dari ini?
Casca Seorang budak biasa – kau kenal rupanya – mengangkat tangan kirinya, yang segera terbakar dan menyala sebagaimana dua puluh obor dipersatukan, tapi tangan yang kebal terhadap api, tetap tidak apa-apa. Lagipula – semenjak itu belum pernah aku menghunus pedang – di sebelah Kapitol kutemui singa, yang menatapku kemudian lewat begitu saja tanpa menggangguku. Lalu aku bertemu sekumpulan wanita buruk berates banyaknya yang telah berubah karena ketakutan dan bersumpah telah melihat laki-laki menyala berjalan pulang-balik di jalan. Dan kemarin burung hantu bertengger, dan dikala siang, di tengah pasar, sambil berseru dan memekik. Jika semua yang aneh ini bersatu; jangan sampai ada yang berkata; “Ini ada sebabnya, semuanya adalah wajar” karena aku yakin, semua itu adalah tanda-tanda bahaya bagi negeri yang mereka jadikan sasaran.
Cicero Memang, zaman ini zaman aneh. Tapi manusia biasa melihat hal-hal menurut angan-angannya, terlepas dari arti yang sebenarnya. Apa Caesar besok akan datang ke Kapitol?
Casca Ya. Karena dia sudah menyuruh Antonius berkirim pesan padamu, bahwa besok ia akan ke sana.
Cicero Kalau begitu selamat malam, Casca. Langit galau seperti ini bukan tempat yang baik dijalani
Casca Selamat malam, Cicero
Cicero pergi. masuk Cassius
Cassius Siapa di situ?
Casca Orang Roma
Cassius Kalau mendengar suaranya, agaknya Casca!
Casca Pendengaranmu baik Cassius, malam apa ini?
Cassius Malam nikmat sekali bagi orang jujur
Casca Siapa yang mengira langit begitu mengancam Cassius Orang yang tahu dunia ini penuh kesalahan. Kalau aku, aku melancong sepanjang jalan. Mempertaruhkan diri pada malam penuh cahaya, dan dengan baju terbuka, Casca, seperti kau lihat sendiri membukakan pada sambaran halilintar. Dan kalau kilat biru bebiku-biku seakan-akan membuka dada langit, aku bahkan menawarkan diri dalam kilat itu sendiri.
Casca Tapi kenapa langit mesti kau tantang begitu rupa? Sudah sewajanya manusia ketakutan dan menggigil jika dewa-dewa yang maha kuasa dengan pelbagai tanda mengirimkan utusan untuk menakutkan kita
Cassius Kau membosankan, Casca. Dan cetusan hidup yang mestinya ada dalam diri seorang Roma, kau tak memilikinya atau kau tak memergunakannya. Kau tampaknya pucat dan nanar, takut dan heran melihat ketidaksabaran langit yang aneh. Tapi, kalau kau memikirkan sebab sebenarnya tanpa semua api ini, kenapa semua hantu yang menyelinap, kenapa burung dan hewan dari segala macam bentuk dan jenis, kenapa orang tua jadi bodoh, anak-anak meramal, kenapa semua ini menyimpang dari susunan sewajarnya, sifatnya dan kemungkinan yang tampak, menjadi hal yang tak wajar, maka kau akan tahu bahwa langit telah mengisi mereka dengan semangat ini supaya bisa jadi peringatan dan untuk menakut-nakuti bagi keadaan sebuah Negara yang garang. Kin, Casca, aku dapat menyebutkan nama seorang lelaki yang tak ubahnya seperti malam jahanam ini mengguntur, menyambarkan kilat, membongkar kubur dan mengaum bagai singa yang ada di Kapitol, seorang lelaki yang tidak lebih perkasa dari kau atau aku dalam tindakannya, tapi tumbuh jadi aneh dan menakutkan, sebagai ledakan-ledakan yang kau saksikan sendiri.
Casca Yang kau maksudkan itu Caesar kan, Cassius?
Cassius Siapa pun orangnya, kini orang Roma memiliki kekuatan dan tubuh bagai nenek moyangnya. Tapi sedihnya, sementara itu, semangat moyang kita sudah mati dan kita dikuasai oleh semangat ibu kita, hingga dalam menahan tekanan dan derita perbudakan, kita ternyata perempuan.
Casca Kata orang, besok para senator bermaksud mengangkat Caesar jadi raja, dan dia akan mengenakan mahkotanya di darat dan di laut, di mana saja. kecuali di Italia.
Cassius Aku tahu kemana belati ini akan kubawa. Cassius akan membebaskan Cassius dari belenggu. Karena itu, para dewa, kuatkanlah mereka yang lemah. Hancurkanlah para zalim. Tak ada dinding batu, atau dinding dari perunggu, tak ada penjara sumpek atau rantai besi kuat, yang dapat menahan kekuatan semangat; hidup yang sudah jemu dengan terali dunia tak pernah kurang kemauan untuk membebaskan diri. Jika aku tahu ini, tahu semua dunia, bagian dari kezaliman yang kini kutahankan, bisa kukirapkan dengan mudah
Bunyi guntur
Casca Begitu juga aku. Demikian juga setiap orang terbelenggu menyimpan dalam tangannya sendiri kekuatan untuk meniadakan ikatannya Cassius Kenapa Caesar bisa jadi orang zalim? Orang malang! Aku tahu ia tidak akan jadi serigala jika orang Roma tidak dilihatnya seperti domba, ia tidak akan jadi singa, kalau orang Roma tak jadi rusa. Orang yang ingin menyalakan api besar, sebaiknya mulai dari jerami kecil. Roma tidak lebih untung dari ranting, sampah dan sisa, jika ia menyediakan diri untuk jadi bahan baku untuk menerangi hal begitu keji, seperti Caesar! Tapi, kesenduan, ke mana aku kau bawa? Barangkali aku sudah bicara depan orang-orang yang memang suka terbelenggu, lalu aku akan tahu pembelaan apa yang harus kupersiapkan. Tapi, aku bersenjata dan bahaya bagiku tidak menjadi halangan
Casca Kau bicara pada Casca, dan buat orang seperti dia, hal itu bukan olok-olok. Peganglah tanganku, aku jadi peserta dalam mengenyahkan kesedihan ini, dan kakiku ini akan kulangkahkan sejauh-jauhnya.
Cassius Kalau begitu ada persesuaian. Kau boleh tahu, Casca. Aku sudah bisa meyakinkan beberapa orang Roma yang paling budiman dan cendekia untuk menyertai aku dalam suatu rencana yang punya akibat berbahaya, tapi mulia. Dan aku tahu, kini mereka menunggu aku di depan pintu Pompei; karena dalam malam menakutkan seperti ini, tidak ada yang bergerak atau berjalan di jalan, sedangkan wajah langit sesuai dengan tugas yang akan kita hadapi, yang penuh darah, garang dan mengerikan.
Masuk Cinna
Casca Tunggu, itu ada orang datang terburu-buru
Cassius Itu Cinna, kukenali dia dari lengannya – dia seorang kawan. Cinna, kenapa kau tergopoh-gopoh?
Cinna Mencari kau. Siapa itu? Matellus Cimber?
Cassius Bukan. Casca, seorang serikat dalam usaha kita. Apa aku tidak ditunggu, Cinna?
Cinna Aku senang dapat ikut. Malam ini mengerikan sekali. Ada dua-tiga orang diantara kita melihat hal-hal yang aneh!
Cassius Apa aku tidak ditunggu? Katakan.
Cinna Ya. Kau ditunggu. Oh, Cassius, sekiranya kau bisa mengajak Brutus budiman supaya memihak kita.
Cassius Senangkan hatimu. Cinna yang baik, ambil kertas ini. Letakkan di atas kursi praetor, hingga Brutus menemuinya dan ini lemparkan ke jendelanya; ini tempelkan dengan lilin pada patung Brutus almarhum. Jika semua selesai, datanglah buru-buru ke pintu Pompei, di sana kau akan menemui kami. Apa Declius Brutus dan Metellus Tiebonnius ada di sana?
Cinna Semuanya hadir, kecuali Metellus Cimber, yang pergi mencari kau di rumah. Aku akan pergi mengurus kertas-kertas ini sesuai dengan kehendakmu
Cassius Kalau sudah, pergilah ke pintu Pompei
Cinna pergi
Mari, Casca. Sebelum hari terbuka kau dan aku akan menemui Brutus di rumahnya. Kini tiga perempat dirinya sudah berada di pihak kita, dan dalam pertemuan berikut seluruh dirinya akan jadi kita punya
Casca Oh, tempatnya tinggi sekali di hati rakyat, dan semua yang kelihatannya salah bila kita yang melakukannya, bagai perobahan alkimia, berganti jadi baik dan berharga berkat persetujuannya.
Cassius Dirinya dan nilainya dan kebutuhan kita yang besar akan dia hargai sepatutnya. Mari kita pergi, karena kini sudah lewat tengah malam, dan sebelum siang datang ia akan kita bangunkan dan padanya kita minta kepastian.
Pergi
BABAK II
ADEGAN I
Roma. Kebun Brutus. Masuk Brutus.
Brutus Lucius, hey! Aku tak bisa dengan membaca perjalanan bintang, mengetahui, berapa lama lagi hari akan siang. Lucius, kataku. Sekiranya dapat disalahkan karena tidurku begitu pulas. Kapan, Lucius. Kapan. Bangun, kataku. Lucius!
Lucius Tuanku memanggil?
Brutus Ambil lilin di kamarku, nyalakan dan bawa kemari
Lucius Baiklah, tuanku.
Pergi
Brutus Ia harus mati! Kalau aku sendiri aku tak punya kebencian pribadi padanya kecuali demi kepentingan umum. Ia akan ditabalkan. Bagaimana hal ini akan merobah sikapnya. Itu soalnya. Justru hari terang yang memancing ular keluar dan membuat kita harus berjalan hati-hati. Merajakan dia? – itu – lalu kita memberikan sengat padanya yang atas kehendaknya bisa membahayakan. Menyalahgunakan kebesaran terjadi kalau penyesalan, dipisahkan dari kekuasaan, dan mengenal Caesar, secara terus terang belum pernah kulihat perasaannya, lebih terombang-ambing dari pikirannya. Tapi sudah dibuktikan pengalaman bahwa kerendahan hati adalah tangga bagi ambisi muda. Kemana si pemanjat tinggi mengarahkan pandangannya. Tapi begitu ia sampai ke puncak tertinggi, maka tangga itu akan ia punggungi, melihat ke awan dan meremehkan anak tangga yang hina, yang telah menaikkannya. Caesar mungkin juga begitu. Kalau begitu, halangilah dan karena pertengkaran ini tidak bisa diselesaikan dalam keadaan seperti ini, coba kita tinjau dengan cara begini; dia seperti adanya kini, jika diperbesar, akan jadi ini dan mencapai ujung ini. Karena itu anggap dia telur seekor ular yang akan menetas kalau ia tumbuh jadi jahat, hingga harus dibunuh dalam bengkaraknya.
Masuk kembali Lucius
Lucius Lilin habis terbakar di kamar Anda. Waktu aku mencari-cari di jendela untuk mendapatkan batu api kutemui kertas ini ditempelkan di sana.
Brutus Pergilah. Kembali tidur. Hari belum siang. Bukankan besok, pertengahan bulan Maret, buyung?
Lucius Aku tidak tahu, tuan.
Brutus Pergi, lihat penanggalan dan beri tahu aku.
Lucius Baik tuanku
pergi
Brutus Bintang berekor yang berpacu di Nilakandi begitu banyak memberikan penerangan, hingga aku dapat membaca dalam cahayanya (membuka surat lalu membaca); “Brutus, Anda tidur. Bangun dan lihatlah sendiri, apa Roma dan seterusnya. Bicaralah, pukul, robah. Brutus, Anda tidur, bangun” sindiran seperti ini sering menjatuhkan di tempat ia ku pungut. “Apa Roma (dan seterusnya)” ini harus kubaca – apa Roma harus berada di bawah kekuasaan satu orang? Apa, Roma? Moyangku telah menghalaukan Tarquin dari jalan-jalan Roma waktu ia diangkat jadi raja “bicaralah dan pukullah?” o, Roma, aku berjanji, jika perubahan ini harus terjadi. Maka kau akan menerima petisi dari tangan Brutus!
Masuk kembali Lucius
Lucius Tuan, bulan Maret sudah habis lima belas hari
Bunyi ketukan dalam
Brutus Baik, pergi ke gapura. Ada orang mengetuk! (Lucius pergi) semenjak Cassius pertama kali menghasut aku terhadap Caesar, aku tak bisa tidur. Antara keputusan melakukan sesuatu yang mengerikan dan langkah pertama, yang ada diantaranya adalah semacam khayalan atau mimpi-mimpi buruk. Maka bermusyawarahlan pikiran dan badan hingga keadaan seorang lelaki, tak ubahnya sebuah kerajaan kecil yang lagi menghadapi perang saudara
Masuk kembali Lucius
Lucius Tuan, yang datang adalah ipar Tuan, Cassius. Ia ingin bertemu dengan Tuan
Brutus Dia sendiri?
Lucius Tidak, Tuan. Ada temannya.
Brutus Kau kenal mereka?
Lucius Tidak, tuan. Mereka membenamkan topi sedalam-dalamnya. Dan separuh wajah mereka tersembunyi dalam mantel, hingga aku tak mungkin mengenali mereka lewat tanda-tanda yang kukenal.
Brutus Suruh mereka masuk (Lucius pergi) mereka dari golongan itu. Oh, perkomplotan, apa kau malu memerlihatkan wajahmu yang berbahaya di malam hari? Di saat semua kejahatan bebas merdeka? Kalau demikian, di kala siang, dimana bisa kau temui gua yang cukup gelap untuk menutupi wajahnya yang mengerikan? Jangan cari, komplotan – sembunyikan di balik senyuman dan kelembutan. Kecuali jika kau berjalan dengan segala kewajaran, bahkan Erebus sendiri tidak cukup buram untuk menghindarkan kau dari penglihatan orang.
Masuk para perencana komplotan; Cassius, Casca, Decius, Cinna, Metellus Cimber dan Trebonius
Cassius Barangkali kami mengganggu istirahatmu. Selamat pagi, Brutus. Apa kami mengganggu?
Brutus Sepanjang malam, sampai saat ini aku tak tidur. Apa kau kenal semua yang datang bersamamu ini?
Cassius Ya, semuanya. Tanpa kecuali. Dan semuanya menghormati kau dan semuanya berharap supaya pandangan terhadap dirimu sama dengan apa yang dimiliki setiap orang Roma tentang kau. Ini Trebonius
Brutus Selamat datang
Cassius Ini Decius Brutus
Brutus Baginya juga selamat datang
Cassius Ini Casca, ini Cinna dan ini Metellus Cimber
Brutus Selamat datang untuk mereka semua. Pikiran waspada apa yang menyelipkan diri diantara matamu dan malam?
Cassius Boleh aku bicara? (mereka berbisik)
Decius Di sini timur. Apa di sini pagi tak menyingsing?
Casca Tidak
Cinna Oh, maaf tuan. Pasti garis-garis kelabu yang ada di sana yang mendandani awan adalah utusan siang
Casca Akuilah bahwa kalian berdua sudah tertipu. Begitu pedangku kuacungkan, maka matahari terbit dan jalan lebar makin meluass di sebelah selatan sesuai dengan kesegaran musim tahun ini. Dua bulan lagi lebih tinggi ke arah utara ia sajikan apinya dan timur sejati berada di Kapitol, di sini.
Brutus Ulurkan tangan kalian, satu demi satu
Cassius Mari kita bersumpah untuk tekad kita
Brutus Jangan, jangan bersumpah. Jika bukan karena wajah manusia, penderitaan sukma kita, siksaan jaman – jika alasan-alasan ini semua lemah, hentikanlah dengan cepat dan masing-masing kita kembali ke ranjangnya. Jadi biarkanlah kezaliman yang angkuh mencari korban sehingga setiap orang rebah sesuai dengan gilirannya. Tapi kalau semua ini cukup mengundang bara, dan aku yakin cukup untuk membakar para pengecut dan menempa semangat wanita yang lumer, membaja jadi keberanian kalau begitu sanak setanah air, dorongan apa lagi yang kita perlukan, kecuali perjuangan agar melawan? Apa ada ikatan lain bagi orang Roma berahasia dan mengambil keputusan dan tidak akan melanggarnya? Dan sumpah mana lagi kecuali kejujuran yang dikawinkan dengan kejujuran, bahwa ini harus dijalankan atau kita bersama hancur dengannya? Suruhlah paderi dan pengecut dan orang tamak bersumpah. Bangkai tua dan sukma menderita yang mau menerima tindasan; suruh mereka bersumpah demi perjuangan yang buruk, karena mereka diragukan; tapi jangan nodai kesucian perkasa usaha kita dan kegarangan semangat kita yang tak bisa ditekan, dengan menganggap bahwa perjuangan kita atau pun perbuatan kita memerlukan sumpah; jika setiap tetes darah yang dikandung orang Roma, dengan agung sekali telah berdosa karena melahirkan anak jadah. Jika ia langgar bagian terkecil sekali pun dari setiap janji yang pernah ia ucapkan.
Cassius Bagaimana dengan Cicero? Bagaimana kalau dia kita jajaki? Kukira ia akan berpihak pada kita
Casca Dia jangan kita tinggalkan
Cinna Jangan. Jangan sekali-kali.
Metellus Oh, baiknya kita ajak, karena rambutnya yang seperti perak dapat memberikan penilaian yang baik terhadap kita dan mengumpulkan suara orang untuk menyetujui perbuatan kita. Orang akan berkata hikmahnya membimbing tangan kita. Kemudaan dan keliaran kita tidak akan kelihatan, tapi terkubur semuanya dalam keagungannya
Brutus Oh, jangan sebut dia. Jangan ungkapkan rencana kita padanya, karena dia tak bersedia mengikuti biar pun yang sudah dimulai oleh orang lain
Cassius Kalau begitu tinggalkan dia
Casca Betul dia tidak cocok
Decius Apa tak ada orang lain yang akan kita sentuh, kecuali Caesar?
Cassius Decius, pikiranmu itu baik sekali. Kukira tidak pantas jika Marcus Antonius, yang begitu dicintai Caesar, dibiarkan hidup setelah Caesar. Kita akan menemui dalam dirinya seorang lawan yang licin, dan kau tahu cara-cara yang jika ia berhasil menyempurnakannya, bisa merentang begitu jauh, hingga merugikan kita semua. Untuk menghalangi ini. Biarlah Antonius dan Caesar rebah bersama-sama
Brutus Perjalanan kita jadinya akan banjir darah, Cassius. Jika kita harus memotong kepala lalu mencincang bagian badan, bagai kemarahan pada kematian dan dendam. Karena Antonius tak lebih dari anggota tubuh Caesar, marilah kita jadi pemberi korban, bukan tukang bangkai, Cassius. Kita semua berontak menentang semangat Caesar, dan dalam semangat manusia tak ada darah. Oh, sekiranya kita bisa mendekati semangat Caesar tanpa harus memotong-motong badannnya! Tapi apa boleh buat, Caesar terpaksa mengalirkan darah untuk itu! jadi, kawan-kawan budiman, mari kita bunuh tubuhnya, tapi tanpa kemarahan. Mari kita takik dia bagai makanan yang pantas untuk dewa-dewa, jangan kita kapak dia sebagai tulang-tulang untuk anjing. Biarlah hati kita, seperti yang banyak dilakukan majikan-majikan yang pandai, menghasut pelayan-pelayannya untuk melakukan kekejaman, dan setelah itu berbuat seolah-olah menyesalinya. Hal ini dapat membuat maksud kita jadi keharusan dan tidak terlalu menonjol, hingga jika dilihat mata biasa dalam bentuk ini, kita bisa mereka sebut yang menyucikan dan bukan pembunuh. Mengenal Marcus Antonius, jangan pikirkan dia, karena ia tidak dapat berbuat lebih banyak dari lengan Caesar jika kepala Caesar sudah tiada
Cassius Sungguh pun begitu, aku mengkhawatirkan dia, karena cintanya yang dalam pada Caesar
Brutus Cassius yang baik, jangan pikirkan dia. Jika ia cinta pada Caesar, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah merenungkan Caesar dan kemudian mati untuknya. Dan ini mungkin sekali, karena ia gemar olahraga, berkeliaran dengan kawan-kawan.
Trebonius Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkannya. Dia tidak usah mati, karena ia kelak akan hidup dan ketawa tentang ini
Jam berbunyi
Brutus Tenang. Hitung jam berapa
Cassius Jam berbunyi tiga kali
Trebonius Sudah waktunya untuk berangkat
Cassius Tapi masih disangsikan apa Caesar hari ini akan datang atau tidak, karena akhir-akhir ini ia penuh takhayul, beda dari pendapatnya selama ini tentang angan-angan, mimpi dan upacara. Mungkin sekali tanda-tanda malapetaka ini, kengerian, malam yang luar biasa dan bujukan peramal-peramalnya akan menjauhkan dia dari Kapitol hari ini.
Decius Jangan khawatir. Kalau ia berpendapat begitu, aku bisa meyakinkannya. Karena ia senang mendengar bagaimana Unicorn bisa terkecoh oleh pohon, beruang, oleh cermin, gajah, lubang, singa, jaring dan manusia oleh tukang-tukang sanjung. Ia membenarkan dan sekaligus merasa disanjung. Biarlah kuusahakan karena aku bisa membelokkan keinginannya dan ia akan kubawa ke Kapitol.
Cassius Tidak. Kita semua akan ke sana untuk menjemput dia
Brutus Pukul delapan. Itu waktu paling lambat?
Cinna Itu paling lambat. Jangan sampai gagal
Metellus Cassius. Ligarius sakit hati pada Caesar, sebab Caesar memarahinya karena ia memuji Pompei. Kenapa tidak seorang pun dari kalian ingat padanya.
Brutus Kalau begitu Metellus yang baik, temuilah dia. Ia sayang padaku dan untuk itu cukup alasannya. Suruh ia kemari, agar kuberi pengertian
Cassius Pagi sudah datang menemui kita. Kami kini meninggikan kau, Brutus. Kawan-kawan, menyebarlah. Tapi jangan lupa apa yang sudah kalian ucapkan dan buktikan bahwa kalian adalah orang Roma sejati.
Brutus Tuan-tuan, kalian harus kelihatan segar dan gembira. Jangan wajah kita sampai membukakan rahasia kita. Tapi kembangkanlah ia bagai biasa dilakukan para actor Roma dengan gagah. Semangat dan keteguhan lahiriah. Baiklah, pagi baik untuk Anda sekalian
Semua pergi, kecuali Brutus
Buyung! Lucius! Tidur! Tak apa. Nikmatilah embun suntuk yang sarat madu. Kau tak memiliki angan-angan atau pun rekaan-rekaan yang merusuhkan otak manusia dan karena itu kau tidur pulas
Masuk Portia
Portia Brutus, junjunganku!
Brutus Portia, ada apa? Kenapa kau bangun pagi-pagi? Buat kesehatanmu tak baik, jika badanmu yang lemah kau hadapkan pada pagi dingin garang
Portia Untuk kau juga tidak. Kau diam-diam sudah menyelinap dari ranjangku, Brutus. Dan kemarin malam, selagi makan, kau tiba-tiba bangkit lalu berjalan ke luar., merenung dan mengerang sambil berpangku tangan. Dan waktu kutanyakan ada apa, kau menatap aku dengan mata kesal. Aku memaksa terus, lalu aku kau suruh pergi dengan isyarat tangan. Aku pergi karena takut memperbesar ketidaksabaranmu yang kelihatan makin kesal, dan berharap keadaanmu itu hanya sekedar kejengkelan sesaat yang mungkin kadang-kadang saja menguasai seseorang. Karenanya, kau sampai tak bisa makan, tak bisa bicara, tak bisa tidur. Hingga sekiranya ia punya pengaruh pada keadaanmu, seperti ia mempengaruhi perasaanmu, maka aku tak akan kenal kau lagi, Brutus, junjunganku, beritahu aku apa penyebab kesedihanmu
Brutus Aku tak begitu sehat, hanya itu.
Portia Brutus orang pintar, dan sekiranya ia tak sehat, ia akan memeluk cara yang dapat membebaskan diri daripadanya
Brutus Memang demikian halnya, Portia yang baik. tidurlah
Portia Kalau Brutus sakit, apa baik baginya untuk berjalan dengan baju terbuka dan menghirup kelembaban pagi? Kalau Brutus sakit, apa ia akan menyelinap dari ranjangnya yang hangat dan menghadang wabah jahat malam hari, menantang penyebab sakit encok dan udara yang belum dibersihkan untuk menambah penyakitnya? Tidak, Brutus-ku; kau lagi mengidap suatu yang menyakitkan dalam pikiran, sesuatu yang menurut hak dan kepantasanku harus tahu. Dengan berlutut, kuminta padamu, demi kecantikan yang penuh kau puji dulu, demi segala sumpah asmaramu dan perjanjian besar yang menyatukan kita berdua, ungkapkanlah padaku, dirimu sendiri, bagianmu yang lain, kenapa kau begitu murung, dan orang-orang apa yang datang menemui kau malam ini; karena ke mari telah datang enam atau tujuh orang yang menyembunyikan wajah mereka terhadap kegelapan.
Brutus Jangan berlutut, Portia
Portia Aku tak akan berlutut, kalau kau lembut, Brutus. Dalam batas ikatan perkawinan katakan Brutus apa memang sudah semestinya aku tidak tahu rahasia yang kau pendam? Apa aku milikmu seorang yang terbatas, artinya hanya untuk menemani kau diwaktu makan, menghiburmu di atas ranjang. Dan kadang-kadang untuk bercakap-cakap denganmu? Apa aku hanya berdiam di perbatasan kesenanganmu? Kalau tidak lebih dari itu, maka Portia adalah piaraan Brutus, bukan istrinya.
Brutus Kau adalah istriku yang sejati dan terhormat, yang kusayangi bagai darah yang bertamu di hatiku yang sedih.
Portia Kalau betul begitu, maka sepatutnya aku tahu rahasia itu. Aku seorang perempuan, tapi seorang perempuan yang telah diambil oleh yang mulia Brutus jadi istrinya. Aku adalah seorang perempuan, tapi yang cukup ternama, puteri Cato. Apa menurutmu aku tak lebih kuat dari jenisku sendiri setelah berayahkan dan bersuamikan orang-orang itu? paparkan pendapatmu, aku tidak akan ungkapkan. Aku telah membuktikan keteguhan hatiku, dengan melukai pahaku atas khendak sendiri. Kalau itu dapat kupikul dengan kesabaran, apa rahasia suamiku tidak?
Brutus Ya Dewa-dewa, buatlah aku jadi lelaki yang pantas untuk istri budiman ini
Pintu diketuk
Dengar, dengar! Ada yang mengetuk, Portia. Pergilah masuk dulu, secara sedikit demi sedikit dadamu akan diisi dengan rahasia hatiku. Semua keresahanku yang tertera di keningku yang duka, akan kuungkapkan padamu. Tinggalkan aku cepat.
Portia pergi
Lucius, siapa yang mengetuk pintu?
Masuk Lucius bersama Ligarus
Lucius Ini ada orang sakit ingin bertemu dengan Anda
Brutus Caius Ligarius yang tadi disebut-sebut Metellus. Pergilah, buyung. Caius Ligarius! Apa kabar?
Ligarius Terimalah ucapan selamat pagi dari lidah yang lemah
Brutus O, kenapa justru saat ini benar kau pilih untuk membebat diri. Caius perkasa! Sekiranya kau tidak sakit!
Ligarius Aku tidak sakit, kalau Brutus menghadapi tugas yang berharga ditinjau dari segi kehormatan
Brutus Tugas seperti itu memang ada, Ligarius. Sekiranya telingamu sehat untuk mendengarkannya
Ligarius Demi segala dewa yang disembah orang Roma. Aku bersama ini membatalkan penyakitku! Ruh Roma! Putra perkasa, yang lahir dari langkah perkasa! Bagai seorang penyeru ruh orang mati. Kau telah menghidupkan sukmaku yang mati. Kini perintahkan aku berlari, aku akan berhadapan dengan semua yang tak masuk akal dan akan mengalahkannya. Apa yang akan dikerjakan?
Brutus Ssedikit pekerjaan yang dapat membuat orang sakit jadi sembuh
Ligarius Tapi apa kita tidak harus membuat sakit beberapa orang sehat?
Brutus Itu juga. Apa soalnya, Caius. Nanti akan kujelaskan sementara kita pergi menemui orang yang akan jadi sasaran itu
Ligarius Melangkahlah dan dengan hati yang baru menyala kembali aku akan mengikuti kau, untuk mengerjakan apa yang tidak kuketahui sendiri, tapi memadailah kalau Brutus yang jadi pemimpinku
Brutus Kalau begitu, ikut aku
pergi
ADEGAN II
Rumah Caesar. Guntur dan kilat. Masuk Caesar mengenakan baju tidur
Caesar Baik langit mau pun bumi tak ada yang tenang malam ini. Tiga kali Calpurnia berteriak dalam tidurnya, “Tolong! Caesar dibunuh orang!” siapa di dalam?
Masuk seorang pelayan
Pelayan Tuanku?
Caesar Suruh para pendeta membuat sesajen, dan beritahu aku pendapat mereka tentang keberhasilan
Pelayan Baik tuanku
Pergi. masuk Calpurnia
Calpurnia Mau kemana kau Caesar? Apa kau mau pergi? hari ini kau tak boleh meninggalkan rumahmu
Caesar Caesar akan pergi. Hal yang mengancam, aku tidak akan menatap punggungku. Jika mereka melihat wajah Caesar mereka akan sirna
Calpurnia Caesar, aku tidak pernah percaya pada takhayul, tapi kini aku takut. Diantaranya, disamping segala yang pernah kita dengar dan lihat, berita pandangan yang paling mengerikan yang dilihat oleh pengawal. Seekor singa telah beranak di jalan. Kuburan menganga dan memuntahkan isinya. Hulubalang-hulubalang yang garang dan perkasa berperang di atas awan. Barisan dan susunan pasukan seperti dalam peperangan. Hingga darah bertetesan di atas Kapitol. Hiruk pikuk pertempuran mengguruh di udara, kuda-kuda meringkik dan orang-orang mengerang sekarat. Sedangkan hantu-hantu memekik dan berteriak di jalan. Oh, Caesar! Semuanya tidak biasa dan aku takut padanya
Caesar Apa bisa dielakkan kalau dewa-dewa kuasa telah menetapkannya? Tapi Caesar akan pergi. Karena tanda-tanda ini berlaku bagi dunia umumnya, seperti juga bagi Caesar
Calpurnia Jika pengemis mati, tak pernah kelihatan bintang berekor. Langit sendiri meniupkan kematian para pangeran
Caesar Orang pengecut mati berkali-kali sebelum saatnya, seorang pemebrani hanya merasakan maut satu kali. Dari semua keanehan yang pernah kudenagr, yang paling aneh kurasakan ialah kalau orang ketakutan melihat maut, akhir yang tak bisa dielakkan, datang pada saatnya.
Masuk pelayan
Apa kata tukang-tukang tenung?
Pelayan Mereka tidak ingin tuanku keluar hari ini. Waktu mengeluarkan isi perut hewan korban, mereka tak menemukan jantung di dalamnya
Caesar Dewa-dewa melakukan ini untuk menakut-nakuti orang pengecut. Caesar sama saja dengan hewan tak berjantung, jika hari ini ia tak keluar rumah karena takut. Tidak. Caesar tidak akan tinggal. Bahaya tahu betul bahwa Caesar lebih berbahaya dari dia. Kami adalah dua ekor singa yang dilahirkan pada hari yang sama, dan aku adalah yang tertua dan paling menakutkan. Caesar akan pergi
Calpurnia Tuanku, hikmah tuan lenyap oleh kepercayaan pada diri yang keterlaluan. Jangan keluar hari ini. Sebutlah ketakutanku yang membuat Tuan tinggal di rumah, dan bukan karena ketakutanmu. Biar kita kirim Marcus Antonius ke gedung senat, supaya ia memberitakan kau hari ini tidak sehat. Kabulkanlah permintaanku yang kuajukan sambil berlutut di depanmu.
Caesar Marcus Antonius akan menyampaikan bahwa aku tak sehat, dan demi kesenanganmu aku akan tinggal di rumah
Masuk Decius
Ah, ini Decius Brutus. Ia bisa menyampaikan pada mereka
Decius Caesar, salam! Selamat pagi, Caesar budiman. Aku datang menjemput Anda untuk pergi ke senat
Caesar Kau datang pada saat yang baik, untuk menyampaikan salamku pada para senator, dan mengatakan bahwa aku tidak akan datang hari ini. Tidak bisa sebetulnya adalah dusta dan tidak berani lebih dusta lagi – aku tidak mau datang hari ini. Sampaikan begitu pada mereka, Decius
Calpurnia Katakan ia sakit
Caesar Apa Caesar harus menyampaikan dusta? Apa dalam menaklukan aku sudah menjangkaukan lengan begitu jauh, hingga aku harus takut menceritakan sebenarnya pada orang-orang berjanggut putih? Decius, katakan pada mereka Caesar tidak mau datang
Decius Caesar yang perkasa. Bekali aku dengan sebabnya hingga aku tidak ditertawakan kalau aku berkata begitu
Caesar Sebabnya ialah kehendakku – aku tidak mau datang, itu cukup untuk memuaskan senat. Tapi untuk kepuasan pribadimu, karena aku sayang padamu, aku akan katakan. Istriku Calpurnia menghendaki supaya aku tinggal di rumah. Tadi malam ia bermimpi melihat patungku, merupakan air mancur dengan berates pancuran memancurkan darah murni. Sedangkan sanak saudaraku orang Roma yang gembira datang sambil tersenyum dan membasuh tangan mereka di dalamnya. Hal ini ia tafsirkan sebagai peringatan dan tanda ada bahaya mengancam, dan karenanya sambil berlutut ia memohon padaku supaya aku sudi tinggal di rumah
Decius Mimpi itu ditafsirkan salah sekali. Itu adalah undangan yang baik dan menguntungkan. Patung Anda memancurkan darah melalui banyak pipa, tempat begitu banyak orang mandi sambil tersenyum. Itu menunjukan bahwa dari dirimu Roma besar akan menghisap darah yang menghidupkan dan bahwa orang-orang besar akan berebut tanda kenangan, sisa-sisa dan lambang-lambang. Ini dipertegas dalam mimpi Calpurnia
Caesar Dengan cara begitu kau sudah memberikan tafsir yang benar
Decius Memang. Kalau Anda sudah mendengarkan apa yang dapat kukatakan. Ini aku sudah tahu – senat sudah memutuskan untuk menyerahkan mahkota pada Caesar perkasa hari ini. Jika Anda mengirimkan pesan Anda tidak akan datang, mereka mungkin akan merubah pendiriannya. Lagipula mungkin ada yang akan mengejek, karena ada yang akan berkata “Bubarkan senat sampai kesempatan lain. Kalau istri Caesar telah memperoleh mimpi lebih baik” Kalau Caesar sendiri menyembunyikan diri, apa tidak mungkin mereka akan bekata “Oh, apa Caesar takut?” maafkan aku Caesar, karena cintaku yang besar pada kebajikan Anda memaksaku menceritakan ini. Dan mendorong aku berpikir sesuai dengan rasa sayangku
Caesar Lihatlah bagaimana tak beralasannya ketakutanmu, Calpurnia! Aku malu karena telah menurutinya. Berikan jubahku, karena aku mau pergi. (Masuk Publius, Brutus, Ligarius, Metellus, Casca, Trebonius dan Cinna), lihat Publius datang menjemputku
Publius Selamat pagi Caesar
Caesar Selamat datang Publius. Brutus, kau juga bangun begini pagi? Selamat pagi Casca, Caius Ligarius. Caesar bukanlah musuh yang buruk seburuk demam panas yang telah membuat kau kurus. Pukul…
Brutus Caesar, sudah pukul delapan
Caesar Terima kasih banyak atas usaha dan kebaikan kalian. (Masuk Antonius) Lihat! Antonius, yang menikmati malam panjang juga sudah bangun. Selamat pagi Antonius
Antonius Begitu juga untuk Caesar
Caesar Suruh mereka bersiap di dalam. Aku menyesal karena harus membuat orang menunggu. Ayolah Cinna, Metellus, Trebonius! Aku perlu bicara sejam dengan kau. Janga lupa menemui aku hari ini. Jangan jauh-jauh, supaya aku ingat padamu
Trebonius Baik, Caesar (ke samping), aku akan begitu dekat, hingga kawan-kawan akrabmu akan bersyukur sekiranya aku lebih jauh
Caesar Kawan-kawan, mari sertai aku menyicip anggur yang baik. Sudah itu nanti kita berjalan bersama-sama bagai kawan baik
Brutus (Ke samping) Kemiripan tidak berarti sama, oh, Caesar. Hati Brutus sedih, kalau itu ia pikirkan
pergi
ADEGAN III
Sebuah jalan dekat capitol. Masuk Artemidorus, membaca surat
Artemidorus “Caesar, hati-hatilah terhadap Brutus, awasi Cassius, jangan dekat pada Casca, perhatikan Cinna, jangan percayai Trebonius; amatilah Cimber, Decius Brutus tak sayang padamu; kau telah menyakiti Caius Ligarius. Dalam diri mereka hanya ada satu I’tikad menentang Caesar. Kalau kau bukan orang yang kebal terhadap kematian, hati-hatilah. Kepastian memberi jalan untuk komplotan. Semoga dewa melindungi kau! Kekasihmu, Artemidorus” Aku akan menunggu di sini sampai Caesar lewat dan sebagai pemohon surat ini akan kuserahkan padanya. Hatiku meratap karena kemuliaan tidak bisa hidup di luar jangkauan rasa dengki. Kalau surat ini kau baca, kau akan hidup; jika tidak, nasib telah membantu para pembelot
Pergi
ADEGAN IV
Sebagian lain dari jalan yang sama, depan rumah Brutus. Masuk Portia dan Lucius
Portia Buyung, pergilah berlari ke gedung senat. Jangan bantah aku, pergilah segera. Kenapa kau belum pergi juga!?
Lucius Untuk mengetahui pesan yang harus kubawa
Portia Kau harus pergi dulu ke sana, sudah itu kemari lagi. Sebelum aku bisa mengatakan apa yang harus kau kerjakan di sana. Oh, pendirian berdirilah teguh disampingku! Tegakkan gunung tinggi antara hatiku dan ludahku! Aku memiliki otak lelaki, tapi kekuatan perempuan. alangkah sulitnya bagi perempuan untuk menimbang! Kau masih di sini juga?
Lucius Nyonya, apa yang harus kukerjakan? Lari ke Kapitol, hanya itu? sudah itu kembali kemari, hanya itu?
Portia Ya, beri tahu, apakah tuanmu baik-baik saja. karena ia pergi dalam keadaan sakit. Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan Caesar, pemohon-pemohon apa yang mendekati dia. Dengarkan, nak. Suara apa itu?
Lucius Aku tidak mendengar apa-apa
Portia Aku minta, dengarkan baik-baik. Aku mendengar keriuhan tak jelas, bagai suara orang bertengkar, dibawa angin kemari dari Kapitol.
Lucius Tenanglah, Nyonya. Aku tidak mendengar apa-apa
Masuk tukang tenung
Portia Kemari kawan, darimana Anda
Tukang Tenung Dari rumah sendiri, Nyonya budiman
Portia Pukul berapa kini?
Tukang Tenung Kira-kira pukul Sembilan, Nyonya.
Portia Apa Caesar sudah berangkat ke Kapitol?
Tukang Tenung Belum, Nyonya. Aku mau mengambil tempat untuk mlihat dia lewat ke Kaptiol
Portia Ada yang mau Anda sampaikan pada Caesar, bukan?
Tukang Tenung Memang, Nyonya. Sekiranya Caesar sudi bermurah hati untuk bersikap baik pada Caesar dengan mendengarkan aku, aku akan mohonkan padanya supaya mau bersahabat dengan dirinya
Portia Kenapa? Apa kau tahu ada orang yang mau menyakiti Caesar?
Tukang Tenung Yang kuketahui tak ada, tapi yang kukhawatirkan ada. Selamat pagi. Jalan di sini sempit sekali. Dan orang banyak yang mengikuti langkah Caesar. Para senator. Praetor. Pemohon-pemohon biasa akan mendesak seseorang yang lemah sampai mati. Aku akan mencari tempat yang lebih lapang dan menegur Caesar di sana kalau ia lewat.
Portia Aku harus masuk. Oh, alangkah lemahnya hati perempuan! oh, Brutus. Semoga dewata melindungi usahamu! Jelas, anak itu mendengar aku. Brutus punya permintaan yang tidak mau dikabulkan Caesar. Oh, aku mau pingsan. Pergilah, Lucius, sampaikan salamku pada junjunganku. Katakan aku gembira, sudah itu kembali lagi kemari, dan sampaikan padaku apa yang ia katakan padamu.
Lucius keluar, melihat pelbagai jalan
BABAK III
ADEGAN I
Roma. Depan Kapitol, senat duduk di atas. Orang banyak diantara mereka Artemidorus dan tukang tenung. Bunyi terompet. Masuk Caesar, Brutus Cassius, Casca, Decius, Metellus, Trebonius, Cinna, Antonius, Lepidus, Popilius, Publius dan yang lainnya
Caesar Pertengahan Maret sudah datang
Tukang Tenung Ya, Caesar, dan belum lagi pergi
Artemidorus Salam, Caesar. Bacalah surat ini
Decius Trebonius minta supaya Anda membaca banyak di kala senggang itulah permohonan yang hina
Artemidorus Oh, Caesar. Bacalah punyaku dulu, karena punyaku lebih menyentuh kepentingan Caesar. Bacalah, Caesar yang besar
Caesar Yang paling dekat kepentingan kami, akan kami layani paling akhir
Artemidorus Jangan undurkan, Caesar. Baca sekarang juga
Caesar Apa orang ini gila?
Publius Tuan, silakan minggir
Cassius Apa kau memaksakan petisimu di jalan? Datang ke Kapitol.
Caesar pergi ke gedung Senat, diikuti oleh yang lain
Popilius Semoga usahamu hari ini berhasil
Cassius Usaha apa, Popilius?
Popilius Selamat (Mendekati Caesar)
Brutus Apa kata Popilius Lena?
Cassius Ia berharap usaha kita hari ini berhasil. Aku khawatir rencana kita sudah ketahuan
Brutus Lihat bagaimana ia mendekati Caesar. Perhatikan dia
Cassius Casca, cepat, kita mungkin akan dihalangi. Brutus, apa yang harus dilakukan? Jika sampai ketahuan, Cassius atau Caesar tidak boleh dibiarkan kembali, kalau tidak aku harus bunuh diri
Brutus Cassius, teguhkan pendirian. Yang dimaksud Popilius Lena adalah rencana kita. Karena lihatlah. Ia tersenyum dan Caesar tak berubah.
Cassius Trebonius tahu saatnya, lihatlah, Brutus. Ia menarik Markus Antonius ke samping
(Antonius dan Trebonius keluar)
Decius Mana Metellus Cimber? Suruh dia memajukan petisinya sekarang juga pada Caesar
Brutus Ia lagi diajak bicara. Dekati dan bantu dia
Cinna Casca, kau yang harus pertama-tama mengangkat tangan
Caesar Apa kita semua sudah siap? Apa yang tidak baik, yang Caesar dan senatnya harus rubah?
Metellus Caesar yang mulia, yang perkasa dan kuasa. Metellus Cimber menjatuhkan depan singgasanamu hati yang dina (berlutut)
Caesar Jangan lakukan itu Cimber. Segala sembah sujud dan sikpa merendah diri dapat membakar darah orang biasa, lalu merobah apa yang sudah ditetapkan dan diumumkan menjadi hukum dunia kanak-kanak. Jangan begitu bodoh, untuk mengira Caesar akan membiarkan darah pemberontak yang dapat dilumerkan dari benuk aslinya dengan cara-cara yang dapat melunturkan seorang bodoh – maksudku, kata-kata manis, sembah sujud merendah hati dan sanjungan yang lata. Dengan keputusan, saudara Anda sudah dibuang. Karena Anda membungkuk dan menyembah dan menyanjung untuknya, maka Anda akan kuhindari bagai kutukan. Ketahuilah, Caesar tidak khilaf dan ia tak akan puas tanpa alasan.
Metellus Apa tak ada suara yang lebih berharga dari suaraku, yang oleh Caesar kedengaran manis sekali hingga pembuangan saudaraku bisa dibatalkan?
Brutus Kucium tangan Anda Caesar, tapi bukan dengan maksud menyanjung, memohonkan supaya Publius Cimber segera dibebaskan dari pembuangan
Caesar Apa, Brutus?
Cassius Ampun, Caesar. Ampun – Cassius merendahkan diri sampai ke cerpu kaki Anda, untuk memohonkan pembebasan buat Publius Cimber
Caesar Hatiku mungkin tergerak, sekiranya aku adalah kau. Sekiranya aku bisa berdoa untuk menggerakkan hati, maka pastilah hatiku berdoa; tapi aku kukuh bagai bintang utara, yang keteguhan dan kemantapan sifatnya, tak ada tandingannya di seluruh cakrawala. Langit dilukis dengan bunga api yang tak terkira. Semuanya api, dan seluruhnya gemerlapan. Tapi diantara semuanya ada satu yang bertahan di tempatnya. Begitu juga di dunia ini. Ia kaya dengan manusia dan manusia terbuat dari darah dan daging dan cerdik sekali; tapi dari semuanya hanya seorang yang kukenal yang berpegang pada jabatannya tanpa bisa digoyahkan. Atau digoyahkan oleh gerakan. Dia adalah aku, karena itu kuizinkan aku membuktikan, juga dalam hal ini, bahwa aku tetap berpendirian bahwa Cimber harus dibuang dan berketetapan untuk membiarkan dia dibuang.
Cinna Oh, Caesar
Caesar Pergilah! Apa kau mau mengangkat Olimpus?
Decius Caesar agung –
Caesar Bukankah Brutus sudah berlutut dengan sia-sia?
Casca Bicaralah tangan, untukku! (anggota komplotan menikam Caesar didahului oleh Casca, kemudian diikuti oleh markus Brutus)
Caesar Kau juga, Brutus? Jika begitu rebahlah Caesar!
Mati
Cinna Kebebasan! Kemerdekaan! Kezaliman sudah mati! Pergilah, umumkan, teriakkan di jalan-jalan!
Cassius Sebagian naik mimbar umum dan teriakan “kebebasan, kemerdekaan dan persaudaraan!”
Brutus Rakyat dan senator jangan takut. Jangan lari, tetap di tempat. Hutang gila kekuasaan sudah dibayar
Casca Naik ke atas mimbar, Brutus
Decius Cassius juga
Brutus Mana Publius?
Cinna Di sini masih terbingung-bingung karena pemberontakan ini
Metellus Berdiri teguh, tegak bersatu, kalau tidak kawan-kawan Caesar mungkin akan mencoba –
Brutus Jangan bicara tentang tegak. Publius. Salam. Tidak ada maksud untuk menganiaya kau pribadi, juga tidak orang-orang Roma lainnya. Sampaikan pada mereka Publius.
Cassius Tinggalkan kami, Publius. Kalau tidak rakyat yang marah pada kami mungkin akan merusak umurmu
Brutus Silakan, jangan biarkan ornag lain membayar hutang atas perbuatan ini. Kecuali kami yang melakukannya
Masuk kembali Trebonius
Cassius Mana Antonius?
Trebonius Lari kebingungan ke rumahnya. Suami, istri dan anak-anaknya nanar. Berteriak lalu berlarian seakan-akan hari kiamat.
Brutus Nasib, kami akan tahu keputusanmu. Bahwa kami harus mati. Kami tahu hanya saatnya dan hari yang habis yang meresahkan pikiran.
Casca Ia yang menyingkat umurnya dengan dua puluh tahun, menyingkat sekian tahun masa menakuti maut
Brutus Kalau itu diakui, maka kematian adalah sesuatu keuntungan. Jadi kitalah, sahabat-sahabat Caesar yang telah memersingkat masa ia menakuti maut. Membungkuklah, orang Roma. Dan mari kita basuh lengan kita dalam darah Caesar sampai ke siku, lalu leburi pedang kita. Sudah itu kita berjalan ke tengah pasar dan sambil melambai-lambaikan pedang merah kita di atas kepala, mari kita berteriak “Kedamaian, kebebasan dan kemerdekaan!”
Cassius Membungkuklah, lalu redamkan. Berapa kali lagi nanti adegan kita yang luhur akan diulangi orang dalam Negara yang belum lahir dan ketentuan yang belum diketahui!
Brutus Kelak masih berkali-kali darah Caesar akan mengalir dalam pertunjukan, Caesar yang kini terkapar di kaki patung Pompei tak lebih berharga dari debu!
Cassius Setaip kali terjadi, maka setiap kali pula kemampuan kita ini disebut lelaki yang telah menghadiahkan kemerdekaan pada negerinya
Decius Bagaimana, kita jalan?
Cassius Ya. Semua kita ke sana. Brutus akan memimpin dan langkahnya akan kita ikuti dengan hati yang paling berani dan terbaik untuk seluruh Roma
Masuk seorang pelayan
Brutus Diam! Siapa itu yang datang? Seorang kawan Antonius
Pelayan lalu, Brutus, tuanku menyuruh aku berlutut, lalu Marcus Antonius menyuruh aku untuk merendahkan diri dan dengan bertiarap menyuruh aku berkata: Brutus yang mulia, cendekia, berani dan jujur. Caesar semasa hidupnya berkuasa, perkasa, agung dan kasih sayang. Katakan aku kasih pada Brutus dan hormat padanya. Katakan aku takut pada Caesar, menghormatinnya dan mencintainya. Jika Brutus mau menjamin bahwa Antonius dapat menemuinya dengan aman dan dibebaskan dari kesangsian tentang apa sebabnya Caesar harus terkapar mati, maka Marcus Antonius tidak akan lebih mencintai Caesar yang mati, dibanding Brutus yang hidup dan akan mengikuti nasib perjuangan Brutus budiman menjalani liku-liku masa depan yang tidak pasti, dengan kesetiaan sejati. Begitu tuanku Antonius berkata.
Brutus Tuanmu, seorang Roma yang pandai dan berani – penilaianku padanya tak pernah kurang dari itu. Sampaikan padanya, agar datang ke tempat ini. Ia akan diberi kepuasan dan demi kehormatanku boleh kembali lagi tanpa disakiti biar pun seujung jari.
Pelayan Dia akan segera kujemput (pergi)
Cassius Harapanku juga begitu, tapi pikiranku masih mengkhawatirkan dia dan kau gelisah karena usulmu
Masuk Antonius
Brutus Ini datang Antonius, selamat datang Antonius
Antonius Oh, Caesar perkasa, rendah sekali kau terbaring? Apa semua penaklukanmu, kejayaanmu, kemenanganmu, jarahanmu susut jadi unggukan begini kecil? Selamatlah kau. Aku tak tahu, Tuan-tuan, apa yang kalian rencanakan, darah siapa lagi yang akan diminta, pada siapa giliran akan tiba. Kalau aku sendiri, tidak ada saat yang lebih tepat dari saat kematian Caesar, dan tiada alat yang lebih berharga dari pedang kalian, yang kini jadi lebih kaya oleh darah yang paling mulia di seluruh dunia. Kumohonkan, kalau kalian tak suka padaku, supaya kini, selama tangan kalian masih merah menguap dan berasap, melaksanakannya. Biar pun aku hidup seribu tahun lagi, aku tak akan menemui saat ingin mati, tidak ada tempat yang begitu memuaskan, tidak ada jalan ke kedamaian, seperti di sini di samping Caesar. Dan dengan tangan-tangan kalian, pilihan jaman ini.
Brutus Oh, Antonius. Jangan pohonkan kematian pada kami. Biar pun kami kelihatan haus darah dan kejam, karena tangan kami dan tindakan yang telah kami lakukan. Yang kaulihat hanya tangan kami dan tindakan berdarah yang telah mereka jalankan. Kau tak melihat hati kami yang penuh belas kasihan dan belas kasihan atas penganiayaan pada Roma – karena api memadamkan api, kasihan, kasihan – memaksa kami berbuat begini pada Caesar. Terhadapmu, pedang kami tumpul, Markus Antonius. Lengan kami yang sanggup merusak dan hati kami yang penuh rasa persaudaraan, menyambut kau dengan segala macam rasa kasih, pikiran dan niat baik.
Cassius Suaramu akan sama kuatnya seperti suara orang lain, untuk menyelesaikan kedudukan-kedudukan baru.
Brutus Cuma, bersabarlah. Sampai kami menenangkan orang banyak, yang kini hampir lupa diri karena ketakutan. Sesudah itu padamu akan kami sampaikan kenapa aku yang begitu sayang pada Caesar kala ia kubunuh, telah berbuat begitu.
Antonius Aku tidak meragukan hikmahmu. Masing-masing kalian ulurkan tangan kalian yang berdarah padaku. Pertama Marcus Brutus, aku akan bersalaman dengan kau. Berikutnya Caius Cassius, tanganmu kusalami. Kini, Decius Brutus tanganmu, kini tanganmu, Metellus. Tanganmu Cinna dan Cascaku yang gagah, tanganmu – dan yang terakhir, biar pun bukan yang paling kurang dicintai, Trebonius yang baik. Tuan-tuan semua – ya apa yang bisa kukatakan? Aku kini berdiri di atas tanah licin sekali, hingga satu dua langkah yang salah bisa membuat kalian mengira bahwa aku seorang pengecut atau manis mulut. Bahwa aku cinta padamu, oh, Caesar adalah benar. Jika ruhmu dapat melihat kami, apakah bagimu tidak lebih menyedihkan dari kematianmu sendiri, melihat Antoniusmu berdamai, bersalaman dengan jari-jari berdarah musuhmu, yang mulia! Dihadapan jenazahmu? Sekiranya mataku sama banyaknya dengan lukamu, sanggup menangis secepat kau mengalirkan darahmu, maka itu akan lebih patut bagiku, daripada bersatu dengan musuhmu dalam hubungan persahabatan. Maafkan aku, Julius! Di sini kau dikepung, hati perkasa. Di sini kau rebah, di sini pemburu-pemburumu berdiri, kotor karena pembantaian terhadapmu. Dan merah karena darahmu. Oh dunia, kaulah rimba hati ini dan inilah, oh dunia, hatimu, bagai seekor kijang yang ditikam sekian banyak pangeran, begitu kau terbaring di sini!
Cassius Marcus Antonius!
Antonius Maaf, Caius Cassius. Musuh-musuh Caesar akan berkata begitu; salam dari seorang sahabat, ini hanya basa-basi yang dingin
Cassius Aku tidak menyesali kau karena menyanjung Caesar begitu rupa, tapi apa hubungan yang kau bayangkan dengan kami? Apa kau akan dicatat sebagai kawan ataukah kami harus jalan, tanpa kau?
Antonius Untuk itu aku telah menyalami tangan kalian, tapi aku hanyut dari pokok persoalan kala menekur melihat Caesar. Bagimu semua, aku adalah kawan dan padamu semua aku sayang dengan harapan bahwa padaku akan diberikan alasan mengapa dan dalam soal apa Caesar merupakan bahaya?
Brutus Jika tidak, maka peristiwa ini adalah peristiwa biadab. Alasan-alasan kami penuh dengan pertimbangan yang baik hingga kau Antonius, anak didik Caesar, akan merasa puas
Antonius Hanya itu yang kuinginkan. Selanjutnya aku mohon diizinkan supaya boleh membawa mayatnya ke tengah pasar, dan sebagai seorang sahabat, bicara di atas mimbar untuk penghiburannya
Brutus Silakan, Marcus Antonius
Cassius Brutus, sebentar (menarik Brutus ke samping) kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Jangan biarkan Antonius bicara waktu penguburan. Apa kau tahu berapa jauh rakyat bisa diyakinkan berkat kata-kata yang ia ucapkan?
Brutus Maaf, aku sendiri lebih dulu akan naik mimbar dan mengungkapkan alasan kematian Caesar. Apa yang akan diucapkan Antonius, akan kuhadapi dengan mengatakan bahwa ia bicara dengan izin dan perjanjian dan bahwa kita setuju jika untuk Caesar diadakan upacara yang benar dan sah. Ini akan lebih menguntungkan dari merugikan kita.
Cassius Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, pokoknya aku tidak suka.
Brutus Marcus Antonius, bawalah mayat Caesar. Dalam pidato penguburan, kau tidak boleh menyalahkan kami, tapi silakan bicara sebaik-baiknya untuk memuji Caesar, dan katakan bahwa itu kau ucapkan atas persetujuan kami. Kalau tidak, kau tidak boleh sama sekali campur tangan dalam penguburan ini. Dan kau akan bicara di mimbar dimana aku juga bicara – setelah pidatoku selesai
Antonius Baiklah. Lebih dari itu tidak kuminta
Brutus Kalau begitu, siapkan mayat ini dan ikuti kami (Semua pergi, kecuali Antonius)
Antonius Maafkan aku, bungkah tanah berdarah. Karena aku begitu merendah diri dan ramah pada pembantai-pembantai itu! kau adalah puing lelaki termulia yang pernah hidup dalam gelombang Zaman. Terkutuklah tangan yang menumpahkan darah berharga ini! Aku meramalkan di atas luka-lukamu yang baik, mulut bisu membuka bibir merah mereka, seakan memohonkan suara dan ucapan lidahku, kutukan akan menimpa manusia. Kegalauan di kampung halaman dan perang saudara akan membakar seluruh Italia. Darah dan kehancuran begitu biasa, dan pandangan mengerikan begitu dikenal, hingga Ibu-ibu hanya akan tersenyum melihat anak-anaknya dicincang oleh tangan peperangan, dimana semua rasa kasihan masih dicekik oleh kekejaman dianggap kegaliban. Dan arwah Caesar yang menjelajah mencari penjelasan, didampingi Ate, dewi kejahatan, yang membawa panas dari neraka, akan meneriakkan di seluruh wilayah ini dengan suara seorang raja “Bunuh!” dan aku akan melepaskan anjing peperangan, hingga perbuatan keji ini akan terbau jauh di atas bumi. Bau manusia yang membusuk, lagi mengerang minta dikubur
Masuk seorang pelayan
Kau mengabdi pada Octavius Caesar bukan?
Pelayan Betul, Marcus Antonius
Antonius Caesar telah menulis surat padanya supaya datang ke rumah
Pelayan Surat itu sudah ia terima dan kini sedang dalam perjalanan dan minta aku supaya menyampaikan pada Tuan secara lisan – (melihat mayat Caesar) – o, Caesar
Antonius Hatimu terharu, hendak menangis. Rupanya, perasaan mudah menular, karena mataku, setelah melihat intaian kesedihan yang ada di matamuu, mulai membasah. Apa Tuanmu akan datang?
Pelayan Malam ini ia berada tujuh mil dari Roma
Antonius Kembalilah cepat padanya dan sampaikan apa yang terjadi. Roma kini adalah Roma berkabung. Roma berbahaya, belum Roma yang aman untuk Octavius. Pergilah dan sampaikan padanya. Tapi tunggu sebentar. Jangan pergi dulu sebelum mayat ini bisa dipindahkan ke tengah pasar. Di sana akan kuuji, dengan pidatoku, bagaimana pendapa orang banyak tentang perbuatan kejam tukan-tukang bantai itu dan sesuai dengan hasilnya. Jelaskan pula pada Octavius muda bagaimana keadaannya. Tolong aku.
Pergi membawa mayat Caesar
ADEGAN II
Mimbar. Masuk Brutus dan Cassius diantara rakyat
Rakyat Kami minta penjelasan. Kami minta kepuasan
Brutus Kalau begitu ikuti aku dan dengarkan aku, kawan-kawan. Cassius, pergilah ke jalan satunya lagi, dan bagi orang banyak ini. Mereka yang ingin mendengarkan aku, tinggal di sini. Yang ingin mengikuti Cassius, pergilah bersama dia. Penjelasan akan diberikan mengenai kematian Caesar
Rakyat I Aku mau mendengar Brutus bicara
Rakyat II Aku mau mendengar Cassius dan membandingkan alasan mereka. Kita ingin mendengar mereka memberi penjelasan secara terpisah-pisah
Cassius pergi diikuti sejumlah rakyat. Brutus naik ke atas mimbar
Rakyat Brutus budiman sudah naik. Diam!
Brutus Sabarlah sampai aku bicara. Orang-orang Roma, saudara-saudara setanah air dan kawan-kawan tercinta! Dengarkanlah persoalanku dan tenanglah supaya kalian dapat mendengarkan. Percayalah padaku demi kehormatanku, dan hormatilah kehormatanku yang oleh kalian percayai. Nilailah aku dengan pikiranmu, bangunlah inderamu, hingga kalian dapat lebih dapat mengadili dengan baik. Jika ditengah-tengah para hadirin ini, ada sahabat Caesar, padanya aku ingin mengatakan rasa cintaku padaku Caesar tidak kurang daripada rasa cintanya. Dan kalau sahabat itu membalas, kenapa Brutus sampai menentang Caesar, inilah jawabku – bukan karena tak cinta pada Caesar tapi karena cinta pada Roma. Apa kalian lebih suka Caesar hidup, sedang semua kalian mati sebagai budak, atau Caesar mati hingga semua dapat hidup merdeka? Karena Caesar sayang padaku aku menangis untuknya, karena dia beruntung, aku bergembira, karena dia berani, ia kuhormati. Tapi karena dia gila kekuasaan, dia kubunuh. Ada air mata untuk cintanya, kegembiraan untuk nasib baiknya, kehormatan untuk keberaniannya dan kematian untuk kegilaannya pada kekuasaan. Siapa yang hadir di sini yang begitu hina hingga ingin jadi orang terbelenggu? Jika ada, bicaralah, karena aku sudah menghina orang itu. siapa yang hadir di sini yang begitu busuk tidak mencintai tanah airnya? Aku berhenti untuk menunggu jawaban
Rakyat Tidak ada, brutus. Tidak ada.
Brutus Kalau begitu, tidak ada orang yang sudah kuhina. Apa yang kulakukan terhadap Caesar, kalau begitu, tak lebih dari apa yang akan kalian lakukan, terhadap Brutus. Soal kematiannya tercatat di Kapitol, kejayaannya tidak diremehkan, dalam hal ini ia harus dimuliakan, sedangkan kesalahannya tidak dilebih-lebihkan, untuk ini, ia harus mati. (Masuk Antonius dan lain-lain bersama mayat Caesar) Ini datang mayatnya, diratapi oleh Marcus Antonius, yang biar pun tidak memekik dalam kematiannya, toh akan menerima keuntungan dari kematianya, tempay di daerah persemakmuran – siapa yang tidak akan dapat? Dengan ini aku minta diri – dan, jika aku telah membunuh kekasihku yang terbaik demi kebaikan Roma, belati yang sama akan kusediakan untuk diriku sendiri, jika tanah airku memerlukan kematianku Semua Hidup Brutus! Hidup, hidup, hidup!
Rakyat I Antarkan dia ke rumahnya dengan segala kebesarannya
Rakyat II Tegakkan patung untuknya bersama nenek moyangnya
Rakyat III Jadikan dia Caesar
Rakyat IV Sifat-sifat Caesar terbaik, akan beroleh mahkota dalam diri Brutus
Rakyat I Ia akan kita antarkan pulang dengan sorak-sorai dan pujian
Brutus Saudara-saudara setanah air….
Rakyat II Tenang! Diam! Brutus mau bicara
Rakyat I Hey, diam!
Brutus Saudara-saudara setanah air yang budiman, biarlah aku pergi sendiri dan tinggallah di sini bersama Antonius, demi aku. Hormatilah jenazah Caesar dan hormatilah pidato yang akan mengungkapkan kebesara Caesar, diucapkan oleh Marcus Antonius atas persetujuan kami!. Kuminta, jangan ada yang pergi dari sini, kecuali diri sendiri sampai Antonius selesai bicara (Pergi)
Rakyat I Jangan pergi, hai, mari kita dengan Marcus Antonius!
Rakyat III Biarkan dia naik mimbar, kita akan dengarkan dia. Antonius budiman, silakan naik
Antonius Berkat Brutus aku dapat melihat kalian (naik ke atas mimbar)
Rakyat IV Apa katanya tentang Brutus?
Rakyat III Katanya, berkat Brutus, ia berada di hadapan kita
Rakyat IV Ia lebih baik jangan memburuk-burukan. Brutus di sini.
Rakyat I Caesar seorang zalim
Rakyat III Pasti sudah. Syukurlah Roma sudah dibebaskan dari dia
Rakyat II Tenang! Dengarkan apa yang mau dikatakan Antonius
Antonius Orang-orang Roma yang budiman –
Semua Tenang! Dengarkan dia!
Antonius Kawan-kawan, orang Roma, sanak sekampung halaman, berikan pandanganmu padaku. Aku kemari untuk menguburkan Caesar, bukan untuk menyanjungnya. Kejahatan yang diperbuat manusia terus hidup setelah kematiannya. Kebaikannya, dikubur bersama tulang-belulangnya. Demikian jugalah halnya dengan Caesar. Brutus yang budiman telah berkata; Caesar orang gila kekuasaan. Kalau itu benar, maka itu adalah kesalahan yang menyedihkan, dan dengan menyedihkan Caesar telah menebusnya. Di sini, dengan izin Brutus dan lain-lain karena Brutus adalah seorang budiman, demikian juga yang lain, semuanya budiman – aku bicara untuk penguburan Caesar. Ia sahabat , setia dan adil padaku. Tapi Brutus berkata ia orang gila kekuasaan dan Brutus seorang budiman. Ia telah berhasil membawa banyak tawanan ke Roma, yang menghasilkan upeti untuk perbendaharaan umum. Apa dalam hal ini Caesar kelihatan gila kekuasaan. Waktu si miskin meratap, Caesar menangis – orang gila kekuasaan seharusnya dibuat dari bahan yang lebih keras. Sungguhnya pun begitu, Brutus berkata Caesar gila kekuasaan, dan Brutus orang budiman. Kalian semua melihat aku bagaimana aku di Lupercal sampai tiga kali menawarkan mahkota padanya dan tiga kali pula ia tolak. Apa ini gila kekuasaan? Tapi Brutus berkata ia gila kekuasaan. Dan betul, Brutus adalah orang budiman. Aku bicara bukan untuk menyalahkan Brutus, tapi aku bicara menjelaskan apa yang kuketahui. Kalian semua pernah menyayanginya, bukan tanpa alasan. Alasan apa yang kini akan menghalangi kalian untuk berkabung baginya? Oh, keadilan kau telah melarikan diri pada binatang buas, dan manusia sudah kehilangan akalnya! Sabarlah terhadap aku, hatiku ada di sana bersama Caesar dan aku terpaksa menunggu sebentar, sampai ia kembali.
Rakyat I Aku kira apa yang dikatakannya itu ada betulnya
Rakyat II Kalau dipikirkan baik-baik. Caesar orang teraniaya
Rakyat III Apa betul begitu tuan-tuan? Jangan-jangan orang yang akan menggantikan mungkin akan lebih buruk daripada dia
Rakyat IV Kau dengar kata-katanya? Ia menolak menerima mahkota, jadi jelas ia bukan orang yang gila kekuasaan
Rakyat I Kalau betul begitu. Akan ada orang yang harus menebus ini dengan mahal sekali
Rakyat II Kasihan dia! Matanya merah bagai api karena menangis
Rakyat III Di Roma ini tak ada lelaki, yang lebih mulia dari Antonius
Rakyat IV Perhatikan, ia mulai bicara lagi
Antonius Baru kemarin, ucapan Caesar bisa mempengaruhi dunia, kini di sana ia terbaring dan tak seorang pun yang cukup melarat untuk menghormati dia. Oh, tuan-tuan, jika aku sanggup untuk menggugah hati dan otak tuan-tuan untuk berontak dan menggeram, maka aku sudah merugikan Brutus dan merugikan Cassius, yang seperti kalian tahu adalah orang-orang budiman. Aku tidak akan menyalahkan mereka; aku lebih suka menyalahkan yang mati, menyalahkan diriku sendiri dan kalian, daripada menyalahkan orang-orang yang begitu berbudi. Tapi di sini, ada sehelai kertas dengan cap Caesar – kutemui dalam lemarinya – surat wasiatnya. Sekiranya rakyat banyak mendengar wasiatnya – maaf, aku tidak bermaksud untuk membacakannya – mereka akan mencium luka Caesar yang mati dan merendam setangan mereka dalam darahnya yang suci. Ya, bahkan akan memohon sejumput rambut dari dia sebagai kenangan, yang nanti jika mereka mati, akan menyebutnya dalam surat wasiat mereka dan mewariskannya sebagai warisan yang mahal pada turunannya
Rakyat IV Kami mau denagr surat wasiat itu. bacalah, Marcus Antonius
Semua Surat wasiat, surat wasiat! Kami mau mendengar wasiat Caesar
Antonius Sabarlah, kawan-kawan baik. Aku tidak boleh membacanya. Tidak pantas kalian ketahui bagaimana sayangnya Caesar pada kalian. Kalian bukan batu, bukan kayu, kalian adalah manusia; dan sebagai manusia kalau kalian mendengar wasiat Caesar, kalian akan terbakar, akan jadi geram. Lebih baik kalian tak tahu bahwa kalian adalah ahli warisnya, karena sekiranya kalian tahu. Oh, apa yang akan terjadi!
Rakyat IV Baca surat wasiat itu. Kami mau dengar, Antonius. Kau harus membacakan surat wasiat Caesar.
Antonius Apa kalia mau bersabar? Kalian mau tinggal di sini sebentar? Aku sudah terlanjur mengabarkannya pada kalian. Aku takut sudah menyalahkan orang-orang budiman. yang telah menikan Caesar dengan belatinya. Aku takut.
Rakyat IV Mereka pengkhianat – orang budiman!
Semua Surat wasiat- surat peninggalan
Rakyat III Mereka bajingan, pembunuh. Wasiat, baca surat wasiat
Antonius Jadi kalian memaksa aku membacanya? Kalau begitu, buatlah lingkaran di sekeliling Caesar, dan izinkan aku memerlihatkan pada kalian orang yang telah menulis surat wasiat itu. apa aku boleh turun? Apa aku kalian izinkan?
Semua Turun
Rakyat II Turun
Antonius turun dari mimbar
Rakyat III Silakan
Rakyat IV Lingakaran. Buat lingkaran
Rakyat I Jangan dekat pada jenazah. Jauh-jauh dari jenazah
Rakyat II Beri tempat untuk Antonius yang mulia
Antonius Jangan desak aku. Jauh sedikit
Semua Mundur, beri tempat. Mundur
Antonius Kalau kalian punya air mata, bersiaplah untuk mengucurkannya kini. Kalian semua kenal mantel ini. Aku ingat pertama kali Caesar mengenakannya. Pada hari ia mengalahkan orang Nervi. Lihat, di tempat ini belati Cassius tembus. Lihat alangkah besarnya sobekan yang disebabkan oleh Casca yang busuk hati. lewat ini Brutus tercinta menusukan tikamannya, lihatlah bagaimana darah Caesar ikut tercabut, kala ia mencabut kembali tutup bajanya, seolah-olah bekejaran keluar pintu, untuk mengetahui apa Brutus mengetuk dengan cara ramah atau tidak. Karena Brutus seperti kalian tahu, adalah kesayangan Caesar. Timbanglah, oh, para dewa, bagaimana kasihnya Caesar pada dia! Ini adalah tikaman yang paling pahit, karena waktu Caesar yang mulia melihat dia menikam, rasa tak membalas guna, yang lebih kuat dari tangan seorang pengkhianat, menguasai dia. Lalu pecahlah hatinya yang perkasa, dan sambil menutup wajahnya dengan mantel, di kaki patung Pompei yang telah dibanjiri darah, rebahlah Caesar. Alangkah menggegerkannya keruntuhan itu, sanak sekampung halaman! Lalu aku, kau dan kalian semua rubuh. Sementara pengkhianatan berdarah berkembang di atas kita. Ah kalian menangis dan aku dapat melihat pukulan rasa kasihan yang kalian rasakan. Itu adalah tetesan yang mulia. Sukma-sukma yang baik, kalian tersedu sedan hanya karena melihat pakaian Caesar yang kita pakai? Lihatlah kemari – kini dia sendiri, sebagai kalian lihat, ditaburi dengan khianat.
Rakyat I Oh, peristiwa menyedihkan
Rakyat II Oh, Caesar yang mulia
Rakyat III Oh, hari yang celaka
Rakyat IV Oh, pengkhianat, bajingan
Rakyat I Oh, pandangan mengerikan
Rakyat II Kami akan membalas dendam
Semua Dendam! Tuntut! Cari! Bakar! Api! Bunuh! Tikam! Jangan biarkan satu pun pengkhianat yang hidup!
Antonius Tunggu, sanak sekampung halaman
Rakyat I Diam. Dengarkan Antonius yang mulia
Rakyat II Kami akan mendengarkan dia, kami akan mengikuti dia, kami akan mati bersamanya
Antonius Kawan-kawan baik, kawan-kawan manis, jangan biarkan dirimu kugoncang, hingga merupakan banjir pemberontakan tiba-tiba. Mereka melakukan perbuatan ini adalah orang-orang budiman. Apa perbuatan atau ucapan, atau kepandaian bersilat lidah, untuk memanaskan darah orang. Aku hanya bicara terus terang. Aku hanya menceritakan hal yang kalian sendiri juga tahu, lalu memperlihatkan luka-luka Caesar, mulut-mulut bisu yang memilukan dan menyuruh mereka bicara untukku. Tapi sekiranya aku Brutus dan Brutus Antonius, maka akan ada seorang Antonius yang bisa menguggah perasaan kalian dan memasukanlidahnya, di setiap luka Caesar, hingga batu-batu Roma pun akan bangkit dan berontak karenanya
Semua Kami akan berontak
Rakyat I Kami akan bakar rumah Brutus
Rakyat III Mari. Cari rumah pembelot-pembelot itu
Antonius Dengarkan aku, dengarkan aku sanak keluarga
Semua Tenang, dengarkan Antonius yang mulia
Antonius Kawan-kawan, kalian mau melakukan sesuatu yang kalian sendiri tidak tahu. Kenapa Caesar pantas menerima kasih sayangnya? Kalian tidak tahu. Aku harus menceritakan – kalian sudah lupa surat wasiat yang tadi kusebut.
Semua Betul, surat wasiat! Mari kita dengarkan surat wasiat itu dulu
Antonius Ini surat itu, sudah dibubuhi cap Caesar. Kepada setiap warga Roma, kepada setiap orang masing-masing ia beri tujuh puluh drachma
Rakyat II Caesar yang mulia! Kita akan membalaskan kematiannya
Rakyat III Oh, Caesar agung
Antonius Dengarkan aku dengan sabar. Selanjutnya ia wariskan pada kalian semua miliknya. Kebun-kebunnya dan ladang-ladangnya yang baru ditanami, di pinggir sungai Tiber. Ia wariskan pada kalian untuk kalian wariskan pada pewaris kalian selanjutnya untuk selama-lamanya – kesenangan kesenangan biasa, untuk tempat berjalan-jalan dan untuk menyenangkan hati kalian. Inilah Caesar! Kapan lagi ada orang seperti dia?
Rakyat I Kapan pun tidak, kapan pun. Mari. Mari. Jasadnya kan kita bakar di tempat keramat, dan dengan api itu kita hanguskan rumah para pengkhianat. Angkat jasadnya!
Rakyat II Ambil api
Rakyat III Sentakkan bangku-bangku
Rakyat IV Sentakkan barang-barang, tingap apa saja
Rakyat pergi membawa jenazah Caesar
Antonius Sekarang biarlah ia bekerja. Kekejian, kau sudah melangkah, tujulah arah yang ingin kau tuju (Masuk pelayan) Bagaimana?
Pelayan Tuan, Octavius sudah datang ke Roma
Antonius Dimana dia sekarang?
Pelayan Dia dan Lepidus kini di rumah Caesar
Antonius Aku akan melangkah ke sana untuk menemuinya. Aku datang seperti dipesan. Nasib lagi baik, dan dengan semangat begini akan mengabulkan keinginan kita, biar apa pun juga.
Pelayan Aku mendengar ia berkata, bahwa Brutus dan Cassius berpacu bagai orang gila melalui gerbang Roma
Antonius Mungkin mereka sudah tahu bagaimana rakyat berhasil kugugah. Bawa aku ke Octavius
Pergi
ADEGAN III
Sebuah jalan. Masuk penyair Cinna
Cinna Malam tadi aku bermimpi berpesat dengan Caesar. Dan pikiranku berat karena kemalangan yang merusuhkan. Aku tak ingin keluar rumah, tapi sesuatu mendorong aku berbuat begitu
Masuk rakyat
Rakyat I Namamu siapa?
Rakyat II Kau mau kemana?
Rakyat III Rumahmu di mana?
Rakyat IV Kau sudah menikah atau masih bujangan?
Rakyat II Jawab setiap pertanyaan dengan segera
Rakyat I Ya dan dengan singkat
Rakyat IV Dan benar
Rakyat III Sebaiknya kau jujur saja
Cinna Siapa namaku? Ke mana aku pergi? dimana aku tinggal? Apa aku beristri atau bujangan? Untuk menjawab setiap pertanyaa dengan singkat dan langsung, benar dan bijaksana. Dengan bijaksanamu aku masih bujangan
Rakyat II Itu sama saja kau mengatakan, semua orang beristri adalah orang bodoh. Aku khawatir, kau harus kutampar karena itu. terus, langsung
Cinna Secara langsung, aku mau ke penguburan Caesar
Rakyat I Sebagai kawan atau lawan?
Cinna Kawan
Rakyat II Soal itu sudah terjawab langsung
Rakyat IV Sekarang rumahmu, singkat saja
Cinna Secara singkat, rumahku di depan Kapitol
Rakyat III Namamu, dengan jujur
Cinna Dengan jujur, namaku Cinna
Rakyat I Robek dia. Dia pengkhianat
Cinna Aku Cinna penyair. Aku cina penyair
Rakyat IV Robek dia karena sajak-sajaknya buruk, robek dia karena sajak-sajaknya buruk
Cinna Aku bukan Cinna si pengkhianat
Rakyat IV Tidak peduli, pokoknya namanya Cinna. Renggutkan namanya dari hatinya, lalu biarkan pergi
Rakyat III Robek dia, robek dia! Ayo, bakar! Ho, bakar! Ke rumah Brutus, ke rumah cassius! Bakar semua! Sebagian ke rumah Decius, sebagian ke rumah Casca, sebagian ke rumah Ligarius
Pergi semua
BABAK IV
ADEGAN I
Sebuah rumah di Roma. Antonius, Octavius dan Lepidus sedang duduk di meja
Antonius Mereka semua harus mati, nama mereka sudah tercatat
Octavius Saudaramu juga harus mati. Kau ikhlas, Lepidus?
Lepidus Ikhlas
Octavius Catat Antonius
Lepidus Dengan syarat. Publius, putera saudara perempuanmu Antonius, tidak dibiarkan hidup Antonius Dia tidak akan dibiarkan hidup. Lihat, dengan ini dia saya jatuhi hukuman. Lepidus, pergilah ke rumah Caesar. Ambil di sana surat wasiat, boleh kita tentukan bagaimana untuk mengelakkan pembayaran. Sebagian dari warisan itu
Lepidus Apa kau nanti kutemui di sini?
Ocatvius Di sini atau di kapitol
Lepidus pergi
Antonius Orang itu tak begitu berguna, hanya baik untuk di suruh-suruh. Apa tepat, jika dunia ini dibagi tiga, kalau ia ikut memperoleh bagiannya?
Octavius Kau yang mengajak dia dan mengikutsertakan suaranya, yang sebetulnya harus dimasukan ke daftar mereka yang harus mati dan yang namanya nanti harus diumumkan
Antonius Octavius, aku lebih lama hidup dari kau. Biar pun pada orang ini kutumpahkan kehormatan, untuk mengelakkan segala macam fitnahan, ia akan memikulnya sebagai keledai memikul emas, mengerang dan berkeringat karena bebannya, digiring dan dihalau ke arah yang kita sukai. Jika harta kita sudah ia antarkan ke tempat yang kita tuju, bebannya akan kita lepaskan dan ia akan diturunkan, bagai keledai kosong, boleh menggeleng-gelengkan kepala dan makan rumput di padang lepas
Octavius Perbuatlah apa yang kau kehendaki. Tapi dia adalah seorang prajurit yang berani dan berpengalaman.
Antonius Kudaku juga begitu, Octavius. Dan untuk itu dia kuangkat jadi penyimpan dedak. Ia mahluk yang kuajar berkelahi, berbalik, berhenti, berpacu, semua gerakan dibimbing oleh kemauanku. Dalam batas-batas tertentu Lepidus juga begitu. ia harus diajar, dilatih, diperintah, seorang yang berjiwa tandus, yang hidup dari barang-barang tak berharga, sisa-sisa makanan dan segala tiruan, yang buat orang lain tak terpakai lagi dan sudah basi. Baginya merupakan sesuatu yang baru. Ia tidak lebih dari barang. Dan kini, Octavius, perhatikan soal-soal penting. Brutus dan Cassius sedang menghimpun kekuatan. Kita juga harus begitu. Karena itu, mari kita padu persatuan kita, kita cari kawan terbaik, kita perluas cara-cara kita dan setelah itu mari kita berunding, bagaimana hal-hal tersembunyi dapat diungkapkan dan ancaman terbuka dapat dijawab dengan pasti
Octavius Mari kita bertindak, karena kita kini dikurung dan dikpeung oleh banyak lawan. Sebagian yang tersembunyi. Jangan-jangan menyimpan sejuta khianat dalam hatinya
pergi ADEGAN II
Perkemahan dekat Sardis, depan kemah Brutus. Bunyi genderang. Masuk Brutus, Lucilius, Lucius dan prajurit-prajurit; Titinius dan Pindarus menyambut mereka
Brutus Berhenti!
Lucilius Beri kata sandi, berhenti
Brutus Bagaimana Lucilius! Apa Cassius dekat dari sinii!?
Lucilius Dia ada dan Pindarus datang untuk menyampaikan salam tuannya
Brutus Salamnya kuterima. Tuanmu, Pindarus, karena merobah pendiriannya atau karena pembantu-pembantunya yang jahat telah menyebabkan aku punya alasan baik untuk mengharapkan apa yang sekiranya telah terjadi, tidak terjadi sama sekali; tapi kalau dia ada, aku akan puas.
Pindarus Aku yakin, tuanku yang budiman akan datang, sebagaimana adanya dia, terhormat dan punya kehormatan
Brutus Ia tak diragukan. Katakan, Lucius. Bagaimana kau ia terima. Berikan kelegaan padaku
Lucilius Dengan segala sopan santun dan dengan rasa hormat, tapi tidak dengan sifat yang bersahabat, juga tidak dengan sambutan yang bebas dan ramah, seperti dulu biasanya
Brutus Kau telah melukiskan bagaimana persahabatan yang hangat jadi dingin. Catat, Lucius, jika cinta mulai sakit dan membusuk, ia memperlihatkan kesopanan yang berlebihan. Dalam kesetiaan terbuka dan bersahaja tidak ada permainan akal bulus. Tapi orang-orang hampa, bagai kuda yang gelisah tanpa dikehendaki, memberikan kesan keberanian dan harapan dari semangat mereka, tapi begitu mereka harus menghadapi sanggurdi berdarah, mereka tiba-tiba jadi layu dan bagai kuda betina dan pengecut tenggelam dalam ujian. Apa tentaranya akan datang?
Lucilius Mereka merencanakan sudah ada di Sardis malam ini. Kelompok terbesar, umumnya pasukan berkuda, datang bersama Cassius
Di belakang suara orang berbaris
Brutus Dengar! Dia sudah sampai. Pergilah sambut dia dengan baik
Masuk Cassius dan pasukannya
Cassius Berhenti!
Brutus Berhenti! Sebutkan!
Prajurit I Berhenti!
Prajurit II Berhenti!
Prajurit III Berhenti!
Cassius Brutus, kau sudah menyakiti hatiku
Brutus Demi para dewa, bagaimana aku mungkin menyakiti hati seorang saudara?
Cassius Brutus, sikapmu yang dingin menyembunyikan perbuatan jahat dan kala kau melakukannya –
Brutus Cassius, sabarlah. Ucapkan kesalahanku pelan-pelan. Aku kenal sekali padamu. Depan mata kedua tentara yang hadir di sini yang harusnya melihat rasa keakraban antara kita, jangan kita bertengkar. Suruh mereka pergi, lalu dalam tendaku, Cassius, boleh kau limpahkan kekesalan hatimu dan aku akan menyimak
Cassius Pindarus, perintahkan panglima-panglima kita untuk memimpin pasukan mereka sedikit lebih jauh dari tempat ini
Brutus Lucius kau juga. Pergilah dan jangan biarkan orang datanng ke dalam tenda kami, sebelum kami selesai berunding. Suruh Lucius dan Titinius mengawal pintu kami
Pergi
ADEGAN III
Tenda Brutus. Masuk Brutus dan Cassius
Cassius Kesalahanmu padaku nyata sekali dalam hal ini. Kau sudah menghukum dan mencatat Licuis Pella karena menerima uang sogok dari orang Sardi, sedangkan suratku yang kutulis untuk memohon untuknya, karena aku kenal orang itu, tak kau hiraukan sama sekali
Brutus Kau salah menulis surat dalam hal seperti ini
Cassius Dalam keadaan seperti sekarang ini tidak pada tempatnya, setiap pelanggaran kecil dicaci seperti begitu rupa
Brutus Begini, Cassius. Kau sendiri juga dibenci karena kau memiliki telapak tangan yang gatal, dan suka memperjualbelikan kekuasaanmu pada orang-orang tak sepatutnya
Cassius Aku bertelapak tangan gatal! Kau sadar sekali, kau Brutus, waktu bicara begitu, kalau tidak, demi dewa-dewa, kata-katamu itu adalah kata-kata penghabisan
Brutus Nama Caesar telah mengesahkan korupsi ini. Hingga keadaan terpaksa menyembunyikan kepalanya
Cassius Siksaan!
Brutus Kenanglah bulan Maret, pertengahan Maret, bukankah Julius Agung mengucurkan darah untuk keadilan? Bajingan mana yang telah menyentuh tubuhnya dan yang tidak menikam jika bukan untuk keadilan!? Apa sekarang salah seorang diantara kita, yang telah merubuhkan orang terbesar di dunia karena memihak pada perampok-perampok, apa kini kita harus mengotori jari-jari kita dengan sogokan keji. Dan menjual ruang perkasa dari kehormatan. Kita yang lapang untuk sampah yang bisa di pungut begitu saja? aku lebih suka jadi anjing dan menyalak bulan daripada jadi orang Roma seperti itu
Cassius Brutus, jangan gonggong aku, aku tidak tahan. Kau sampai lupa diri, dalam usaha mengendalikan aku. Aku seorang prajurit, aku lebih tua dalam pengalaman, lebih cakap dari kau untuk menentukan persyaratan
Brutus Tidak, Cassius. Itu tidak benar
Cassius Benar
Brutus Kataku, tidak!
Cassius Jangan dorong aku lagi, aku bisa lupa diri. Tolong lindungi keselamatanmu, jangan rongrong aku lebih jauh
Brutus Pergilah, orang dangkal
Cassius Apa ini mungkin?
Brutus Dengarkan, aku mau bicara. Apa aku harus mengalah dan memberi tempat pada kemarahanmu yang membabi buta? Apa aku harus ketakutan kalau ada orang gila menatapku?
Cassius Ya, Dewa. Dewa, apa aku harus menerima semua ini?
Brutus Ya, semua ini. Bukan lebih lagi. Makanlah sampai hatimu pecah. Pergilah, pertontonkan pada budak-budak bagaimana marahnya kau, dan buatlah pengikut-pengikutmu gemetar. Tapi aku, apa aku harus merangkak di bawah kemarahanmu yang menjengkelkan? Demi dewa-dewa, kau dipersilakan mencernakan bisa kemarahanmu. Biar pun aku yang menimbulkannya; karena mulai hari ini, kau akan kupergunakan sebagai senda gurau, ya, untuk bahan tertawaan. Jika kau lagi kesal
Cassius Apa sudah begitu jauh?
Brutus Katamu, kau prajurit yang lebih baik. Buktikanlah, isilah mulut besarmu supaya aku senang. Kalau aku, aku senang sekali berkenalan dengan lelaki perkasa
Cassius Kau menyakiti aku berkali-kali. Kau menyakiti aku, Brutus. Aku berkata prajurit lebih tua, bukan lebih baik. Apa aku berkata lebih baik?
Brutus Biar pun kau berkata begitu, aku tidak peduli!
Cassius Waktu Caesar dulu masih hidup, ia tidak berani bicara begitu padaku
Brutus Sabar, sabar! Dan kau tidak akan berani menantang dia untuk bicara begitu
Cassius Tidak berani!
Brutus Tidak
Cassius Tidak berani menantang dia
Brutus Kau tidak berani, demi keselamatan jiwamu
Cassius Jangan bebani rasa sayangku, terlalu berat melakukan sesuatu yang sepantasnya kusesali
Brutus Yang patut kau sesali telah kau lakukan. Ancaman-ancamanmu ini. Cassius tidak menakutkan karena aku cukup dipersenjatai oleh kejujuran hingga ia tidak lebih dari sekedar angin lalu yang sama sekali tidak kusegani. Aku berpesan padamu supaya mengirimi aku emas, tapi kau menolaknya. Karena aku tidak bisa mengumpulkan uang dengan cara keji – demi dewata, aku lebih suka menempa hatiku sendiri dan meneteskan darahku untuk memperoleh uang, daripada memeras sampah keji itu dari tangan-tangan petani dengan cara yang busuk. Aku meminta uang emas padamu untuk membayar pasukanku, tapi kau tak mau memberikan. Apa perbuatan itu pantas untuk Cassius? Apa begitu aku harus menghadapi Cassius? Kalau sampai Marcus Brutus sampai begitu tega, hingga ia sampai hati tidak memberikan tanda celaka itu pada kawan-kawannya, maka siaplah. Oh, para dewa, dengan segala kilatmu hancurkan dia sampai tercerai berai
Cassius Aku tidak menolak
Brutus Kau menolak
Cassius Tidak. Orang yang membawa jawabanku itu orang bodoh. Brutus telah membelah hatiku, sedang sahabat harus sabar terhadap kekurangan kawannya. Tapi Brutus memperbesar kekuranganku dari sebenarnya
Brutus Tidak pernah, sebelum kau sendiri mencobakannya pada diriku
Cassius Kau tak sayang padaku
Brutus Aku tidak sayang pada cacatmu
Cassius Mata sahabat tak mungkin melihat cacat-cacat itu
Brutus Seorang tukang sanjung pasti tak menampak biar pun terpampang depan matanya setinggi Olimpus
Cassius Datanglah Antonius dan Octavius muda, balaskan dendam kalian hanya pada Cassius, karena Cassius sudah bosan dengan dunia ini – dibenci oleh orang yang dicintainya, dihina oleh sanak saudaranya, dimarahi sebagai seorang darwis, dipelajari lalu dihapal luar kepala, untuk kemudian dihunjamkan pada gigiku. Oh, rasanya sanggup aku menangisi semua semangat dari mataku! Ini belati dan ini dadaku; dalamnya ada hati yang lebih kaya dari tambang Pluto, lebih berharga dari emas. Kalau itu yang kau kehendaki dari seorang Roma. Ambillah. Karena aku yang menolak memberikan emas, kini akan memberikan hatiku. Tikamlah, seperti yang telah kau perbuat terhadap Caesar; karena biar pun kau benci sekali padanya, cintamu padanya lebih besar dari yang kauberikan pada Cassius
Brutus Simpanlah belatimu. Marahlah kapan pun kau mau, ia boleh berbuat semuanya; lakukanlah apa yang kau mau, itu hanya akan dianggap mainan. Oh, cassius. Kau dibebani domba yang membawa kemarahan bagai batu api membawa api. Yang kalau dicetuskan, memperlihatkan nyala sesaat dan sesudah itu dingin kembali
Cassius Apa Cassius hidup hanya untuk jadi hiburan dan tertawaan bagi Brutus, sedangkan kesedihan dan kemarahan mengganggu dia?
Brutus Walau aku berkata begitu, aku juga lagi marah
Cassius Betul apa yang kau akui? Ulurkan tanganmu
Brutus Beserta hatiku
Cassius Oh, Brutus!
Brutus Kenapa?
Cassius Kenapa aku selamat kalau membuat kau begitu kesal? Oh, kehilangan yang tak tergantikan! Apa sakitnya!?
Brutus Ketidaksabaran atas ketidak hadiranku. Dan kesedihan karena Octavius muda bersama Marcus Antonius berhasil membuat diri mereka begitu kuat – kabar ini datang bersamaan dengan kematiannya – hingga dia begitu susah, dan tanpa dihadiri oleh dayang-dayangnya, ia menelan api
Cassius Lalu mati?
Brutus Begitulah!
Cassius Oh, dewa-dewa abadi!
Masuk Lucius membawa anggur
Brutus Jangan sebut-sebut lagi dia. Beri aku secambung anggur. Dalam hal ini kukuburkan semua kemengkalan, Cassius (Minum)
Cassius Hatiku haus akan ucapan itu. isilah, Lucius, sampai anggur melimpah dari tempatnya. Untuk kasih sayang Brutus aku tak akan pernah kenyang minum (minum)
Brutus Silakan masuk, Titinius! (Lucius keluar, masuk kembali Titinius dan Messala) Selamat datang, Messala yang baik. Kami duduk sekitar minuman ini sambil mempertimbangkan kabutuhan kami
Cassius Portia, dia sudah pergi?
Brutus Cukuplah, kuminta padamu. Messala, aku telah menerima surat bahwa Octavius muda dan Marcus Antonius akan menyerang kita dengan kekuatan yang besar dan mempertaruhkan bala mereka ke Philipi
Messala Aku juga menerima surat yang isinya sama
Brutus Dengan tambahan apa?
Messala Bahwa dengan bantuan undang-undang pembuangan Octavius, Antonius dan Lepidus telah menjatuhkan hukuman mati pada seratus senator
Brutus Dalam hal ini isi surat kita tidak sama. Dalam suratku dijelaskan ada tujuh puluh senator yang mati berkat undang-undang mereka. Cicero salah seorang daripadanya
Cassius Cicero salah seorang!
Messala Cicero sudah mati. Sesuai dengan undang-undang itu. Apa Tuan hamba ada menerima surat dari istri tuan?
Brutus Tidak, Messala
Messala Dalam surat yang Anda terima, tidak ada sesuatu yang mengenai dia
Brutus Tidak, Messala
Messala Menurut pendapatku, itu aneh sekali
Brutus Kenapa kau tanyakan? Apa kau membaca tentang dia dalam surat itu?
Messala Tidak, tuanku
Brutus Kau orang Roma, ceritakan yang sebenarnya
Messala Kalau begitu terimalah ceritaku sebagai orang Roma. Ia mati pasti sudah, dengan cara yang aneh
Brutus Selamat jalan, Portia. Kita semua harus mati, Messala. Dengan memusatkan pikiran pada kenyataan ia harus mati suatu hari. Aku kuat menerimanya kini
Messala Manusia besar harus kuat mengalami kehilangan besar
Cassius Pikiranku juga tahu hal ini. Hanya diriku tak kuat menahannya
Brutus Baiklah, kita sekarang kembali pada tugas kita orang hidup. Bagaimana kalau kita menuju ke Philipi sekarang?
Cassius Aku tak yakin itu baik
Brutus Sebabnya?
Cassius Begini, lebih baik kita biarkan musuh mencari kita. Dengan demikian ia menghabiskan perbekalannya, melelahkan prajuritnya hingga merugikan diri sendiri, sedangkan kita tenang penuh istirahat, bertahan dengan segar
Brutus Alasan yang baik harus meluangkan tempat untuk yang lebih baik. Rakyat antara Philipi dan daerah ini hanya memperlihatkan keramahan karena terpaksa. Sebab mereka segan memberikan bantuan. Musuh yang maju melalui mereka, akan dapat menambah jumlahnya dengan mereka shingga bisa menyerang dengan kekuatan baru, lebih banyak dan lebih bersemangat. Keuntungan mereka ini bisa kita tiadakan, jika mereka kita hadapi di Philipi dan rakyat kita punggungi
Cassius Dengarkan baik-baik, sanak
Brutus Maaf. Di samping itu kau harus catat bahwa kita telah memanfaatkan kawan-kawan kita sejauh mungkin. Pasukan kita sedang kuat-kuatnya dan persiapan kita sudah matang. Musuh tumbuh setiap hari dan kita yang berada di puncak sudah siap untuk menurun. Dalam persoalan manusia ada air pasang yang jika dimanfaatkan akan memberikan keuntungan; jika tidak, maka semua pengembaraan hidup akan berakhir dalam kedangkalan dan kesengsaraan. Kalau terbuka seperti itulah kita kini mengambang, dan kita harus pergunakan arus selama ia berguna, jika tidak perjuangan akan sia-sia.
Cassius Kalau begitu keinginanmu, baiklah. Kita akan maju dan menghadapi mereka di Philipi
Brutus Kelarutan malam telah menyusup ke dalam pembicaraan kita. Dan alam harus mematuhi keharusan, yang dengan kesal harus kita penuhi dengan istirahat sedikit. Tidak ada lagi kan yang harus dibicarakan?
Cassius Tidak ada lagi. Selamat tidur, besok pagi-pagi kita akan bangun lalu berangkat
Brutus Lucius! (Masuk kembali Lucius) baju tidurku (Lucius keluar) selamat jalan, Messala yang baik. Selamat tidur Titinius, Cassius budiman selamat malam, selamat tidur
Cassius Oh, sanak sayang! Ini adalah awal malam yang buruk sekali, belum pernah hati kita begitu terpisah! Jangan biarkan begitu, Brutus
Brutus Semuanya baik
Cassius Selamat tidur, tuanku
Brutus Selamat tidur, sanak budiman
Titinius dan Messala Selamat tidur, tuanku Brutus
Brutus Salam semua (Semua keluar kecuali Brutus, Lucius masuk kembali membawa baju tidur) Berikan baju itu padaku. Mana alat musikmu?
Lucius Ada di dalam tenda
Brutus Kau bicara dibebani kantuk. Kasihan, aku tidak menyalahkan kau. Kau lelah karena selalu harus berjaga. Panggil Claudius dan beberapa pengiringku yang lain. Mereka hendak kusuruh tidur di atas kasur tendaku
Lucius Varro dan Claudius!
Masuk Varro dan Claudius
Varro Tuanku memanggil?
Brutus Kalian kuminta tidur di tendaku. Mungkin nanti aku akan membangunkan kalian untuk berhubungan dengan sudaraku Cassius
Varro Baiklah, kami akan berjaga
Brutus Bukan begitu maksudku. Tidurlah. Mungkin aku juga punya pikiran lain. Lihat, Lucius. Ini buku yang kucari-cari, rupanya kumasukan ke dalam kantung baju tidurku
Varro dan Claudius berbaring
Lucius Aku yakin tuanku tidak pernah memberikannya padaku
Brutus Sabarlah terhadap aku, nak. Aku pelupa sekali. Apa kau tak bisa menyalangkan pelupuk yang berat ini sebentar dan memainkan alat musikmu?
Lucius Baik, tuanku. Semoga tuanku senang
Brutus Senang, nak. Aku terlalu menyusahkanmu, tapi kau penurut
Lucius Itu sudah kewajibanku
Brutus Mestinya aku tak memperpanjang kewajibanmu sampai melampaui batas kemampuanmu. Aku tahu orang muda memerlukan waktu sehat
Lucius Saya sudah tidur, tuanku
Brutus Baik sekali, dan kini kau akan tidur lagi. Aku tidak akan menahan lama kau. Jika aku hidup, aku akan baik padamu. (Musik dan nyanyian) Itu lagu mengantuk. Oh, kepulasan yang melupakan diri. Apa kau telah meletakkan penggada besimu atas pelayanku, hingga ia memainkan musikmu? Anak baik, selamat tidur. Kalau kau nanti terangguk, alatmu akan rusak, karena itu biar kuambil. Dan kini, nak, selamat malam. Coba kulihat, siapa tahu halaman yang sedang kubaca, ada kuberi tanda! Ah, ini dia
Duduk, masuk arwah Caesar
Nyala kandil ini buram sekali. Ha! Siapa yang datang? Kukira kelemahan mataku yang membentuk arwah yang mengerikan ini. Ia mendakti aku. Apa kau ada? Apa kau dewa, malaikat atau iblis. Yang membuat darahku beku dan rambutku berdiri? Bicaralah siapa kau
Arwah Ruh jahatmu, Brutus
Brutus Kenapa kau datang?
Arwah Untuk menyampaikan bahwa kau akan menemani aku di Philipi
Brutus Kapan kau akan kutemui lagi?
Arwah Nanti di Philipi
Brutus Baiklah, kalau begitu nanti kita bertemu di Philipi
Arwah pergi
Karena aku berani, kau menghilang. Ruh jahat, ingin aku bicara lebih lama dengan kau. Nak, Lucius! Varro! Claudius! Bangun Claudius!
Lucius Tali kecapi saya sumbang tuanku
Brutus Dia mengira masih main musik. Lucius, bangun!
Lucius Tuanku?
Brutus Apa kau mimpi, Lucius? Maka kau sempat berteriak
Lucius Tuan, saya tidak sadar berteriak
Brutus Ya, kau berteriak. Apa kau melihat sesuatu?
Lucius Tidak, tuanku
Brutus Tidurlah kembali, Lucius. Claudius!
Varro Tuanku
Claudius Tuanku!?
Brutus Kenapa kalian berteriak dalam tidur kalian?
Varro dan Claudius Kami berteriak, tuanku?
Brutus Ya. Kalian melihat sesuatu?
Claudius Tidak, tuanku
Brutus Pergi. sampaikan salamku kepada saudaraku Cassius. Katakan padanya supaya segera ia memimpin pasukannya, kami nanti akan menyusul
Varro dan Claudius Dengan segera, tuanku
Pergi
BABAK V
ADEGAN I
Padang di Philipi. Masuk Octavius, Antonius dan pasukannya
Octavius Harapan kita jadi kenyataan. Kau berkata musuh tidak akan turun dan akan bertahan di bukit-bukit daerah atas. Nyatanya tidak, tentara mereka sudah siap tempur, mereka bermaksud menghadapi kita di Philippi, di sini. Dan memberikan jawaban sebelum kita memanggil
Antonius Aku tahu rahasia hati mereka, dan aku tahu kenapa mereka berbuat seperti itu. mereka sedang hendak pergi ke tempat lain, tapi kini mereka turun dengan memperagakan keberanian yang kerdil dan mengira bahwa dengan memperlihatkan muka begitu rupa, kita akan percaya bahwa semangat mereka besar. Padahal tidak demikian halnya.
Masuk seorang pesuruh
Pesuruh Persiapkan diri, panglima. Musuh datang memamerkan keperwiraannya. Bendera tantangan telah dinaikkan dan kini kita harus bertindak dengan segera
Antonius Octavius, pimpinlah pertempuran perlahan-lahan, di tanah datar sebelah kiri
Octavius Sebelah kanan aku. Kau sebelah kiri
Antonius Kenapa kau bantah aku di saat mendesak begini?
Octavius Aku tidak membantahmu, tapi itulah yang akan kulakukan
Mars genderang. Masuk Brutus, Cassius dan pasukannya; Lucius, Titinius, Messala dan lain-lain
Brutus Mereka berhenti dan mau berunding
Cassius Berhenti, Titinius. Kita harus maju untuk berundin
Octavius Marcus Antonius, apa tanda penyerbuan sudah boleh diberikan?
Antonius Jangan, Caesar. Kita akan menjawab tantangan mereka. Cepatlah, para panglima itu ingin bicara
Octavius Jangan maju sebelum ada isyarat
Brutus Bicara sebelum berbunuh-bunuhan. Begitu bukan saudara setanah air?
Octavius Bukan karena kami lebih senang pada kata-kata, seperti kau
Brutus Kata-kata yang lebih bagus dari pukulan yang buruk, Octavius
Antonius Dengan pukulanmu yang buruk, Brutus, kau menyertakan kata-kata yang baik. Saksikanlah lobang dalam jantung Caesar. Yang kauberikan sambil berteriak “Panjanglah umur Caesar! Hidup Caesar!”
Cassius Antonnius, kekuatan pukulanmu belum lagi dikenal, tapi kalau kata-katamu memang berhasil, penyamun lebah hybla, hingga mereka kehilangan madu
Antonius Tapi tidak tanpa sengat
Brutus Oh ya, tanpa suara, karena kau telah mencuri rengung mereka, Antonius. Perbuatan yang cerdik sekali, sebelum kau menyengat
Antonius Bajingan, kalian tidak berbuat begitu kala belati durjana kalian mencincang pinggang Caesar. Kalian memperagakan gigi bagai monyet dan mengipas-ngipaskan ekor bagai anjing, membungkuk bagai budak, mencium telapak tangan Caesar, sementara Caesar terkutuk sebagai sebuah kutukan, menikan Caesar dari belakang pada lehernya. Oh, manusia manis mulut
Cassius Manusia manis mulut. Brutus, salahmu sendiri. tidak, mulut itu tidak akan menghinamu hari ini, jika Cassius diikuti kemauannya
Antonius Ayolah, kembali pada persoalan. Jika bersilat lidah sudah membuat kita mandi keringat, maka hasilnya akan jadi tetesan yang lebih merah. Lihat, aku menghunus pedang menantang para pengkhianat, kapan kiramu pedang ini akan disarungkan lagi? Kapan pun tidak, kecuali jika luka Caesar yang tiga puluh tiga telah terbalaskan, atau jika ada Caesar lain yang menambahkan pembantaian pada pedang pengkhianat itu
Brutus Caesar, kau tidak akan mati di tangan pengkhianat, jika bukan kau sendiri yang melakukan mereka
Octavius Semoga begitu. aku tidak dilahirkan untuk mati karena pedang Brutus
Brutus Oh, biar pun kau yang paling mulia dari kalanganmu, anak muda. Tidak ada kematian lebih mulia dari itu yang bisa kau hendaki
Cassius Anak sekolah bodoh, tak pantas buat kemuliaan begitu rupa. Sama dengan tukang peleyap malam dan buaya pelesiran
Antonius Cassius tua masih seperti dulu!
Octavius Mari Antonius, kita pergi! Pengkhianat, kami telah melontarkan hinaan ke wajah kalian. Kalau kalian berani hari ini, turunlah ke medan; jika tidak, tunggulah sampai kalian berselera (Octavius, Antonius dan pasukannya pergi).
Cassius Kini, bertiuplah angin, mengembunglah ombak dan berlayarlah kapal! Topan sudah bertiup dan semuanya porak-poranda
Brutus Ho, Lucilius! Dengarkan, aku mau bicara dengan kau
Lucilius (berhenti) Tuanku! (Brutus dan Lucilius bicara terpisah).
Cassius Messala!
Messala (berhenti) Apa panglima?
Cassius Messala, hari ini adalah hari lahirku, karena Cassius lahir hari ini. Ulurkan tanganmu, Messala. Kuminta kau jadi saksi, bahwa bertentangan dengan keinginanku, seperti dulu Pompei, aku dipaksa untuk mempertaruhkan seluruh kemerdekaan kita dalam satu pertempuran. Kau tahu aku pengikut Apicurus, dan sangat membenarkan keyakinannya. Kini aku berubah pikiran dan untuk sebagian percaya pada hal-hal yang sudah diramalkan. Waktu kembali ke Sardis, maka ke atas panji-panji kami, telah turut dua rajawali. Lalu bertengger di sana, makan dan minum dari tangan prajurit-prajurit kita dan ikut kembali bersama kami sampai Philippi. Pagi tadi mereka terbang dan hilang. Sebagai gantinya datanglah gagak, burung nazar dan elang, melayang-layang di atas kepala kami dan memandang ke bawah pada kami, seakan-akan kami mangsa yang sekarat. Bayang-bayang mereka tak ubahnya langit-langit, dibawahnya tentara kita siap untuk menghembuskan napas penghabisan.
Messala Jangan percaya hal itu
Cassius Aku hanya percaya sebagian, karena semangat segar dan aku bertekad menghadapi semua ancaman tanpa keraguan
Brutus Baiklah kalau begitu, Lucilius
Cassius Nah, Brutus budiman, dewa-dewa hari ini ramah sekali hingga kita mungkin sebagai kekasih dalam damai, melanjutkan hari-hari kita sampai masa tua! Tapi karena nasib manusia tak pernah pasti, mari kita pertimbangkan malapetaka yang mungkin terjadi. Jika kita kalah dalam pertempuran ini, maka ini adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk bicara. Apa rencanamu selanjutnya?
Brutus Sesuai dengan falsafah hidupku, yang membuat aku mengutuk Cato karena telah memberikan kematian pada diri sendiri – aku tidak tahu kenapa, tapi bagiku adalah pengecut dan dena namanya, untuk menghalangi perjalanan usia, karena takut akan bencana – aku dapat mempersenjatai diriku dengan keyakinan menunggu keputusan takdir yang lebih tinggi dan menguasai kita yang berada di bawah ini.
Cassius Jadi, kalau kita kalah bertempur, kau bersedia digiring dengan penuh kejayaan di jalan-jalan Roma?
Brutus Tidak, Cassius. Tidak. Jangan kau kira, orang-orang Roma budiman; bahwa Brutus akan bersedia di bawa ke Roma sebagai tawanan. Untuk itu jiwanya terlalu besar. Tapi hari ini harus menyelesaikan hasil pekerjaan yang telah dimulai oleh pertengahan Maret, dan apa sesudah itu kita masih akan bertemu aku tidak tahu. Karena itu terimalah perpisahan ini untuk selama-lamanya. Untuk selama-lamanya, untuk selama-lamanya. Selamat jalan, Cassius! Kalau kita bertemu lagi, ya, kita akan tersenyum; jika tidak, kita sudah berpisah dengan baik.
Cassius Selamat jalan, selamat jalan untuk selama-lamanya, Brutus! Kalau kita bertemu lagi, ya, kita akan tersenyum. Jika tidak, perpisahan yang tulus telah kita lakukan
Brutus Majulah. Oh, sekiranya ada manusia yang tahu menjunjung hari ini sebelum ia terjadi. Tapi, cukuplah, hari ini akan berakhir. Dan kita ketahui. Mari, he! Maju!
Pergi
ADEGAN II
Medan pertempuran. Genderang. Masuk. Brutus dan Messala
Brutus Pacu-paculah Messala. Sampaikan pesan ini pada pasukan yang di seberang sana (Genderang) suruh mereka maju, karena aku melihat ketiadaan kegarangan di pihak Octvius. Dan suatu serangan tiba-tiba bisa merobohkan mereka. Pacu, paculah, Messala. Suruh mereka semua menyerbu
Pergi
ADEGAN III
Bagian lain medan pertempuran. Genderang. Masuk Cassius dan Titinius
Cassius Oh, lihatlah Titinius, lihat bajingan-bajingan itu lari! Kini aku sendiri akan jadi lawan di pihakku. Pembawa panji-panjiku berbalik kembali. Pengecut itu kubunuh, dan panji-panji kuambil dari tangannya
Titinius Oh, Cassius, Brutus terlalu pagi memberi tanda. Yang melihat kesempatan lebih baik terhadap Octavius, meraihnya dengan penuh harapan. Prajurit-prajuritnya telah memperoleh mangsa, sedangkan kita dikepung oleh Antonius –
Pindarus Lari lebih jauh tuanku, larilah. Marcus Antonius sudah ada diperkemahan Anda. Karena itu larilah, Cassius yang mulia, larilah.
Cassius Bukit ini cukup jauh. Lihat, lihat, Titinius, apakah api yang kulihat itu datang dari perkemahanku
Titinius Betul, tuanku.
Cassius Titinius, jika kau sayang padaku, naiklah ke atas kudaku dan pacu dia sampai kau mendekati pasukan yang di sana, lalu kembali lagi, supaya aku tahu pasti apakah pasukan itu kawan atau lawan
Titinius Aku akan kembali lagi kemari, biar pun hanya untuk membawa kerisauan
Pergi
Cassius Pergilah, Pindarus. Daki bukit itu lebih tinggi – mataku tak terang. Amatilah Titinius, dan sampaikan padaku apa yang kaulihat di medan pertempuran, (Pindarus mendaki bukit). Hari ini aku yang pertama bernapas. Waktu sudah tiba, di tempat aku mulai, di sana aku akan berakhir, hidupku telah mengikuti pedomannya. Bagaimana?
Pindarus (Di atas) Oh, tuanku!
Cassius Bagaimana?
Pindarus (Di atas) Titinius dikepung oleh pasukan berkuda yang mengejarnya, tapi ia berpacu lari. Kini mereka sudah hampir mendekatinya. Kini, Titinius, ada yang turun, dia juga turun. Ia ditangkap (berteriak) dengar, mereka bersorak kegirangan
Cassius Turunlah kau, tak usah melihat lagi. Oh, alangkah pengecutnya, hidup lama, untuk melihat kawanku ditawan di depan mataku (Pindarus turun) ke mari tuan. Di Parthia kau pernah kutawan. Kala itu kau meminta sumpahmu, setelah menyelematkan nyawamu. Bahwa apa pun yang akan kuperintahkan padamu akan kauusahakan. Ayolah, penuhi janjimu. Sekarang bertindaklah bagai orang merdeka dan dengan pedang yang telah memembus perut Caesar itu, tikamlah dada ini. Jangan jawab. Kini, peganglah hulunya dan jika wajah itu tertutup, seperti kini, tuntunlah pedangmu. (Pindarus menikam dia) Caesar, dadamu telah terbalas, biar pun dengan pedang yang telah membunuhmu
Pindarus Jadi kini aku merdeka, biar pun itu tidak akan terjadi. Sekiranya aku menjalankan apa yang kuhendaki. Oh, Cassius! Pindarus akan lari jauh dari negeri ini, sehingga tak ada orang Roma yang akan melihatnya.
Pergi. masuk Messala dan Titinius
Messala Ini sekedar pertukaran, Titinius, karena Octvius sudah dikalahkan oleh kekuatan Brutus budiman, sedangkan pasukan Cassius dikalahkan oleh Antonius
Titinius Berita ini akan menyenangkan hati Cassius
Messala Di mana kau tinggalkan dia?
Titinius Di bukit ini, putus asa, bersama abdinya, Pindarus
Messala Apa bukan dia yang terbaring di tanah itu?
Titinius Ia terbaring tidak mirip orang hidup. Oh, hatiku
Messala Apa bukan dia?
Titinius Bukan, ini hanya bekas dia, Messala. Kalau Cassius dia sudah tidak ada lagi. Oh, matahari tenggelam, seperti kau turun ke dalam malam dalam cahaya merahmu, demikian hari Cassius berakhir dalam darah merahnya. Begitu matahari Roma sudah tenggelam! Hari kita sdah berakhir, awan, embun dan bahaya datang. Perbuatan kita sudah selesai! Kesangsian akan kebersihanmu telah terlaksana
Messala Kesangsian akan hasil yang baik telah melakukan ini. Oh, kekeliruan yang menyakitkan, anak angan-angan. Kenapa kau perlihatkan pada pikiran manusia yang lemah. Kejadian bukan sebagaimana adanya? Oh, kekeliruan, yang telah ditaburkan, kau tak pernah berhasil dilahirkan dengan baik, tapi selalu membunuh ibu yang mengandungmu!
Titinius Pindarus! Dimana kau pindarus?
Messala Dari dia, Titinius. Sementara itu aku akan menemui Brutus budiman, untuk menusukan berita ini ke telinganya. Aku berkata “menusukan” karena baja runcing dan belati berbisa akan lebih disenangi telinga Brutus dari berita kejadian ini
Titinius Pergilah Messala. Dan sementara itu aku akan mencari Pindarus, (Messala pergi). Kenapa aku kau suruh pergi, Cassius!? Bukankah aku sudah menemui kawan-kawanmu? Bukankah di keningmu sudah mereka pasangkan karangan kemerdekaan untuk diserahkan padamu? Apa kau tak mendengar sorak mereka? Sayang, kau telah menggambarkan segalanya! Tapi tunggulah, ambilah karangan ini dari kepalaku. Brutus menyuruh aku menyerahkan padamu, dan aku akan melakukan perintahnya. Brutus datanglah dan lihat bagaimana aku menghormati Caius Cassius. Dengan izinmu, dewa-dewa. Ini adalah peranan orang Roma. Mari, pedang Cassius, jumpai jantung Titinius, (Membunuh diri).
(Genderang Masuk Messala, bersama Brutus dan Cato muda diiringi oleh yang lain)
Brutus Dimana, dimana Messala, terbaring tubuhnya?
Messala Lihat, di sana, lagi diratapi Titinius
Brutus Wajah Titinius menengadah
Cato Ia terbunuh
Brutus Oh, Julius Caesar, kau masih berkuasa. Ruhmu menerawang ke mana-mana dan membalikan pedang kami ke dalam tubuh kami sendiri
Genderang
Cato Titinius perwira! Lihatlah, ia telah memahkotai mayat Cassius
Brutus Apa ada orang Roma yang bernyawa seperti itu? orang Roma penghabisan. Selamat jalan. Untuk Roma mustahillah melahirkan lagi orang seperti kalian. Kawan-kawan, pada kedua almarhum ini hutang air mataku lebih banyak dari yang bisa kaubayarkan. Aku akan mencari kesempatan, Cassius, akan kucari. Karena itu kirimkan jenazah ke Thasos. Penguburannya tidak akan berlangsung diperkemahan kita, karena itu akan menyusahkan. Lucilius, mari dan Cato muda. Mari. Mari kita turun ke medan. Laebo dan Flavius, mari kita lanjutkan pertempuran. Sekarang pukul tiga. Dan sebelum hari malam, orang Roma, kita akan mengadu nasib dalam pertempuran kedua
Pergi
ADEGAN IV
Bagian lain dari medan pertempuran. Genderang. Masuk Prajurit-prajurit dari kedua pihak yang sedang bertempur; lalu Brutus, Cato muda, Lucilius dan lain-lain
Brutus Saudara setanah air, oh, tegakkan kepala
Cato Blasteran mana yang tak sedia? Siapa ikut aku? Aku akan menyorakkan namaku di seluruh medan. Aku anak Marcus Cato. Ho! – musuh kezaliman, dan sahabat negeriku. Aku anak Marcus Cato, ho!
Brutus Dan aku Marcus Brutus, Marcus Brutus, aku – Brutus, sahabat negeriku. Kenali aku sebagai Brutus!
Pergi
Lucilius Oh, Cato muda yang mulia, kau tewas? Kini kau mati perwira bagai Titinius, dan akan kuhormati sebagai anak Cato
Prajurit I Menyerah atau mati
Lucilius Hanya kalau aku mati aku menyerah (menawarkan uang) cukup untukmu untuk membunuh segera. Bunuh Brutus, agar terhormat kematiannya
Prajurit I Tidak boleh. Ia tawanan bangsawan
Prajurit II Cari tempat. Sampaikan pada Antonius, Brutus sudah ditangkap
Parjurit I Aku akan menyampaikan berita itu. Itu panglima datang. (Masuk Antonius) Brutus ditawan. Brutus sudah ditawan, tuanku
Antonius Mana dia?
Lucilius Selamat, Antonius, nyawa Brutus selamat. Aku berani memastikan, tidak ada musuh yang akan dapat menawan Brutus budiman hidup-hidup. Dewa akan melindungi dia dari aib sebesar itu! jika kau sampai menemui dia, hidup atau mati, dia akan kautemukan sebagai Brutus sebagai dia sendiri
Antonius Ini bukan Brutus, kawan-kawan, tapi biar pun begitu ia tawanan yang tak kurang harganya. Selamatkan orang ini, perlakukan dia dengan baik. Aku lebih suka orang seperti dia jadi kawanku, daripada lawanku. Pergilah, lihat apa Brutus masih hidup atau sudah mati. Dan beritahu kami di tenda Octavius, apa yang sudah terjadi
Pergi
ADEGAN V
Bagian lain dari medan pertempuran. Masuk Brutus, Dardanius, Clitus, Strato dan Volumnius
Brutus Mari kawan-kawan malang yang masih tersisa, istirahat di batu ini
Clitus Statilius memperlihatkan obor, tapi tuanku, ia tak kembali. Mungkin ditawan atau dibunuh
Brutus Duduklah, Clitus. Membunuh, itulah semboyannya, perbuatan yang kini sangat digemari. Dengarkan, Clitus. (Berbisik sambil memperlihatkan belati).
Clitus Apa, aku, tuanku jangan. Jangan tuanku. Biar diberi apa pun juga
Brutus Diam, jangan katakan apa-apa (sambil memberikan belati kepada Clitus untuk membunuh dirinya).
Clitus Aku lebih suka membunuh diriku sendiri
Brutus Dengarkan, Dardanius (Berbisik).
Dardanius Apa aku harus melakukan itu?
Clitus Oh, Dardanius!
Dardanius Oh, Clitus!
Clitus Permintaan buruk apa yang telah dijatuhkan Brutus padamu?
Dardanius Untuk membunuh dia, Clitus. Lihatlah, ia bersemedi
Clitus Kini tubuh yang mulia itu begitu sarat dengan duka, hingga melimpah ke matanya
Brutus Mari kemari, Volumnius yang baik, dengarkan sebentar
Volumnius Apa tuanku?
Brutus Begini, Volumnius. Arwah Caesar sampai dua kali menemui aku di waktu malam – sekali di Sardis dan malam tadi di sini, di medan Philippi. Aku tahu saatku sudah datang
Volumnius Tidak, tuanku
Brutus Aku tahu pasti, Volumnius. Kau bisa melihat dunia, Volumnius. Bagaimana jalannya, musuh kita telah memukul kita sampai hancur (genderang) Lebih baik melompat ke dalam diri sendiri, daripada ragu-ragu menunggu sampai mereka mendorong kita. Volumnius yang baik. Kau tahu kita berdua sekolah bersama-sama, demi kasih sayang kita yang lama, kuminta supaya kamu mau memegang hulu pedangku supaya aku dapat menumbukkan diri padanya
Volumnius Itu bukan suatu kewajiban buat seorang teman, tuanku
Clitus Lari, lari, tuanku. Tak ada gunanya bingung di sini
Brutus Selamat tinggal, kau dan aku, Volumnius, Strato, selama ini kau tidur – selamat tinggal, Strato. Saudara setanah air, hatiku bersyukur karena selama hidupku, setiap lelaki yang kutemui, setia padaku. Pada hari kekalahan ini, kemenanganku lebih besar daripada yang bisa diperoleh Octavius dan Antonius dari penaklukan yang kecil ini. Jadi, selamat tinggal semua, karena lidah Brutus kini akan mengakhiri riwayat hidupnya. Malam bertengger di pelupuk mataku, tulang-tulangku akan istirahat, selama ini ia telah bekerja untuk mencapai saat ini
genderang, teriakan “lari,lari,lari”
Clitus Lari, tuanku. Lari!
Brutus Ke sana! Aku akan mengikuti, (Volumnius, Clitus dan Dardanius pergi). Strato dampingilah tuanmu. Kau adalah orang yang patut dihargai. Hidupmu mengandung kehormatan. Pegang pedangku dan palingkan mukamu biar aku menubruknya. Mau kau, Strato? Strato Berikan tangan Tuan padaku. Selamat tinggal, tuanku
Brutus Selamat tinggal, Brutus (Berlari menubruk pedangnya). Caesar, diamlah kau kini. Waktu aku membunuh kau, perbuatan itu kulakukan dengan tekad yang tidak sepenuh sekarang (Mati).
Genderang perang. Mundur, masuk Octavius, Antonius, Messala, Lucilius dan prajurit
Octavius Orang apa itu?
Messala Orang tuanku, Strato. Mana majikanmu?
Strato Bebas dari belenggu yang kini mangikat kau, Messala. Para penakluk hanya bisa menyalakan api untuknya, karena Brutus telah mengatasi diri sendiri, dan tidak seorang pun yang beroleh kehormatan dengan kemajuannya
Lucilius Begitulah Brutus akan ditemui. Terima kasih, Brutus. Karena kau telah membuktikan bahwa Lucilius benar
Octavius Semua yang mengabdi Brutus akan kuterima sebagai pengikutku. Kawan-kawan, mau kau memberikan waktumu untukku
Strato Ya. Kalau Messala mau menyerahkan aku padamu
Octavius Lakukanlah Messala
Messala Bagaimana cara meninggal tuanku, Strato?
Strato Pedang kupegang, lalu ia menubrukkan tubuhnya pada pedang
Messala Octavius, ambillah orang yang telah memberikan pelayanan terakhir pada tuanku, sebagai pengikutmu
Antonius Dia adalah yang termulia di antara semua orang Roma. Semua pengkhianat itu, kecuali dia, melakukan perbuatan karena iri hati pada Caesar. Hanya dia, dengan alasan yang jujur dan penuh kebaikan terhadap orang banyak, yang menyertai mereka. Hidupnya mulia dan unsur yang terdapat dalam dirinya begitu seimbang hingga alam dengan tegak dapat berkata kepada seluruh dunia “Inilah laki-laki”
Octavius Baiklah. Ia kita perlakukan sesuai dengan kebaikannya dan kuburkan dia dengan segala kehormatan dan upacara. Malam ini jasadnya akan terbaring di tendaku, seperti seorang prajurit yang sangat dihormati. Perintahkan seluruh medan untuk beristirahat, dan mari kita pergi menyertai kejayaan hari yang bahagia ini
LAYAR TUTUP Mr.D_13 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 LAKON AYAHKU PULANG Karya Usmar Ismail
DRAMATIC PERSONAE
1. RADEN SALEH Ayah.
2. T I N A Ibu / Isteri Raden Saleh.
3. GUNARTO Anak laki-laki tertua Raden Saleh dan Tina.
4. MAIMUN Adik laki-laki Gunarto / anak kedua Raden Saleh dan Tina.
5. MINTARSIH Adik perempuan Gunarto dan Maimun / anak bungsu Raden Saleh dan Tina.
PANGGUNG MENGGAMBARKAN SEBUAH RUANGAN DALAM DARI SEBUAH RUMAH YANG SANGAT SEDERHANA DENGAN SEBUAH JENDELA AGAK TUA. DIKIRI KANAN RUANGAN TERDAPAT PINTU. DISEBELAH KIRI RUANGAN TERDAPAT SATU SET KURSI DAN MEJA YANG AGAK TUA, DISEBELAH KANAN TERDAPAT SEBUAH MEJA MAKAN KECIL DENGAN EMPAT BUAH KURSINYA, TAMPAK CANGKIR TEH, KUE-KUE DAN PERALATAN LAINNYA DIATAS MEJA. SUARA ADZAN DI LATAR BELAKANG MENUNJUKKAN SAAT BERBUKA PUASA.
SEBELUM LAYAR DIANGKAT SEBAIKNYA TERLEBIH DAHULU SUDAH TERDENGAR SUARA BEDUK BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TAKBIR BEBERAPA KALI SEBAGAI TANDA KALAU ESOK ADALAH HARI RAYA IDUL FITRI. SUARA BEDUG DAN TAKBIR SEBAIKNYA TERUS TERDENGAR DARI MULAI LAYAR DIANGKAT/SANDIWARA DIMULAI SAMPAI AKHIR PERTUNJUKKAN INI. KETIKA SANDIWARA DIMULAI/LAYAR PANGGUNG DIANGKAT, TAMPAK IBU SEDANG DUDUK DIKURSI DEKAT JENDELA. EKSPRESINYA KELIHATAN SEDIH DAN HARU MENDENGAR SUARA BEDUK DAN TAKBIRAN YANG BERSAHUT-SAHUTAN ITU. KEMUDIAN MASUK KEPANGGUNG GUNARTO.
GUNARTO (Memandang Ibu Lalu Bicara Dengan Suara Sesal) Ibu masih berfikir lagi...
I B U (Bicara Tanpa Melihat Gunarto) Malam Hari Raya Narto. Dengarlah suara bedug itu bersahut-sahutan.
(Gunarto Lalu Bergerak Mendekati Pintu)
Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi dengan tidak meninggalkan sepatah katapun.
GUNARTO (Agak Kesal) Ayah......
I B U Keesokan harinya Hari Raya, selesai shollat ku ampuni dosanya...
GUNARTO Kenapa masih Ibu ingat lagi masa yang lampau itu? Mengingat orang yang sudah tidak ingat lagi kepada kita?
I B U (Memandang Gunarto) Aku merasa bahwa ia masih ingat kepada kita.
GUNARTO (Bergerak Ke Meja Makan) Mintarsih kemana, Bu?
I B U Mintarsih keluar tadi mengantarkan jahitan, Narto.
GUNARTO (Heran) Mintarsih masih juga mengambil upah jahitan, Bu? Bukankah seharusnya ia tidak usah lagi membanting tulang sekarang?
I B U Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti, kepandaiannya itu tidak sia-sia nanti.
GUNARTO (Bergerak Mendekati Ibu,Lalu Bicara Dengan Lembut) Sebenarnya Ibu mau mengatakan kalau penghasilanku tidak cukup untuk membiayai makan kita sekeluarga kan, Bu? (Diam Sejenak. Pause) Bagaimana dengan lamaran itu, Bu?
I B U Mintarsih nampaknya belum mau bersuami, Narto..Tapi dari fihak orang tua anak lelaki itu terus mendesak Ibu saja..
GUNARTO Apa salahnya, Bu? Mereka uangnya banyak!
I B U Ah... uang, Narto??
GUNARTO (Sadar Karena Tadi Berbicara Salah) Maaf Bu... bukan maksud aku mau menjual adik sendiri..
(Lalu Bicara Dengan Dirinya Sendiri)
Ah... aku jadi mata duitan.... yah mungkin karena hidup yang penuh penderitaan ini...
I B U (Menerawang) Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak, mewah diwaktu kami kawin dulu. Tetapi kemudian... seperti pokok yang ditiup angin kencang...buahnya gugur..karena......
(Suasana Sejenak Hening, Penuh Tekanan Bathin, Suara Ibu Lemah Tertekan)
Uang Narto! Tidak Narto, tidak...aku tidak mau terkena dua kali, aku tidak mau adikmu bersuamikan seorang Hartawan, tidak...cukuplah aku saja sendiri. biarlah ia hidup sederhana Mintarsih mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti, mesti...
GUNARTO (Coba Menghibur Ibu) Tapi kalau bisa kedua-duanya sekaligus,Bu? Ada harta ada budi.
I B U Dimanalah dicari,Narto? Adik kau Mintarsih hanyalah seorang gadis biasa. Apalagi sekarang ini keadaan kita susah? Kita tidak punya uang dirumah? Sebentar hari lagi uang simpananku yang terakhirpun akan habis pula.
GUNARTO (Diam Berfikir, Kemudian Kesal) Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan ini,Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!
(Hening Sejenak Pause. Lalu Bicara Kepada Dirinya Sendiri)
Kalau saja aku punya uang sejuta saja....
I B U Buat perkawinan Mintarsih, lima ratus ribu rupiah saja sudah cukup,Narto.
(Ibu Coba Tersenyum)
Sesudah Mintarsih nanti, datanglah giliranmu Narto...
GUNARTO (Kaget) Aku kawin,Bu?? Belum bisa aku memikirkan kesenangan untuk diriku sendiri sekarang ini, Bu. Sebelum saudara-saudaraku senang dan Ibu ikut mengecap kebahagiaan atas jerih payahku nanti Bu.
SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH KERAS SEDIKIT.
I B U Aku sudah merasa bahagia kalau kau bahagia, Narto. Karena nasibku bersuami tidak baik benar.
(Kembali Fikirannya Menerawang)
Dan kata orang bahagia itu akan turun kepada anaknya.
(Pause Lalu Terdengar Suara Bedug Takbir Lebih Keras Lagi. Ibu Mulai Bicara Lagi)
Malam hari raya sewaktu ia pergi itu, tak tahu aku apa yang mesti aku kerjakan? Tetapi ....
(KEMBALI SEDIH DAN HARU)
GUNARTO (Tampak Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) Maimun lambat benar pulang hari ini, Bu?
I B U Barangkali banyak yang harus dikerjakannya? Karena katanya mungkin bulan depan dia naik gaji.
GUNARTO Betul bu itu? Maimun memang pintar, otaknya encer. Tapi karena kita tak punya uang kita tak bisa membiayai sekolahnya lebih lanjut lagi. Tapi kalau ia mau bekerja keras, tentu ia akan menjadi orang yang berharga di masyarakat!
I B U (Agak Mengoda) Narto...siapa gadis yang sering ku lihat bersepeda bersamamu?
GUNARTO (Kaget. Gugup) Ah...dia itu cuma teman sekerja, Bu.
I B U Tapi Ibu rasa pantas sekali dia buat kau, Narto. Meskipun Ibu rasa dia bukanlah orang yang rendah seperti kita derajatnya. Tapi kalau kau suka ....
GUNARTO (Memotong Bicara Ibu) Ah... buat apa memikirkan kawin sekarang, Bu? Mungkin kalau sepuluh tahun lagi nanti kalau sudah beres.
I B U Tapi kalau Mintarsih nanti sudah kawin, kau mesti juga Narto? Kau kan lebih tua.
(Diam Sebentar Lalu Terkenang)
Waktu Ayahmu pergi pada malam hari raya itu... ku peluk kalian anak-anakku semuanya.. hilang akalku....
GUNARTO Sudahlah Bu. Buat apa mengulang kaji lama?
MASUK MAIMUN. DIA TAMPAK KELIHATAN SENANG.
MAIMUN (Setelah Meletakkan Tas Kerjanya Lalu Bicara) Lama menunggu, Bu? Bang?
GUNARTO Ah tidak...
I B U Agak lambat hari ini, Mun? Dimana kau berbuka puasa tadi?
MAIMUN Kerja lembur, Bu. Tadi aku berbuka puasa bersama teman dikantor. Tapi biarlah, buat perkawinan Mintarsih nanti. Eh, mana dia Bu?
I B U Mengantarkan jahitan..
MAIMUN (Menghampiri Gunarto Lalu Duduk Disebelahnya) Bang, ada kabar aneh, nih! Tadi pagi aku berjumpa dengan seorang tua yang serupa benar dengan Ayah?
GUNARTO (Tampak Tak Terlalu Mendengarkan) Oh, begitu?
MAIMUN Waktu Pak Tirto berbelanja disentral, tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang tua kira-kira berumur enam puluh tahun. Ia kaget juga?! Karena orang tua itu seperti yang pernah dikenalnya? Katanya orang tua itu serupa benar dengan Raden Saleh. Tapi kemudian orang itu menyingkirkan diri lalu menghilang dikerumunan orang banyak!
GUNARTO Ah, tidak mungkin dia ada disini....
I B U (Setelah Diam Sebentar) Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau keluar negeri. Sudah dua puluh tahun semenjak dia pergi pada malam hari raya seperti ini.
MAIMUN Ada orang mengatakan dia ada Singapur, Bu?
I B U Tapi itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu kata orang dia mempunyai toko yang sangat besar disana. Dan kata orang juga yang pernah melihat, hidupnya sangat mewah.
GUNARTO (Kesal) Ya! Tapi anaknya makan lumpur!
I B U (Seperti Tidak Mendengar Gunarto) Tapi kemudian tak ada lagi sama sekali kabar apapun tentang Ayahmu. Apalagi sesudah perang sekarang ini, dimana kita dapat bertanya?
MAIMUN Bagaimana rupa Ayah yang sebenarnya, Bu?
I B U Waktu ia masih muda, ia tak suka belajar. Tidak seperti kau. Ia lebih suka berfoya-foya. Ayahmu pada masa itu sangat disegani orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari. Dan itulah....
GUNARTO (Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) Selama hari raya ini berapa hari kau libur, Mun?
MAIMUN Dua hari, Bang.
I B U Oh ya! Hampir lupa masih ada makanan yang belum Ibu taruh dimeja.
(IBU LALU MASUK KEDALAM)
GUNARTO (Setelah Diam Sebentar) Pak Tirto bertemu dengan orang tua itu kapan, Mun?
MAIMUN Kemarin sore, Bang. Kira-kira jam setengah tujuh.
GUNARTO Bagaimana pakaiannya?
MAIMUN Tak begitu bagus lagi katanya. Pakaiannya sudah compang-camping dan kopiahnya sudah hampir putih.
GUNARTO (Acuh Saja) Oh begitu?
MAIMUN Kau masih ingat rupa Ayah, Bang?
GUNARTO (Cepat) Tidak ingat lagi aku.
MAIMUN Semestinya abang ingat, karena umur abang waktu itu sudah delapan tahun. Sedangkan aku saja masih ingat, walaupun samar-samar.
MAIMUN (Agak Kesal) Tidak ingat lagi aku. Sudah lama aku paksa diriku untuk melupakannya.
MAIMUN (Terus Bicara) Pak Tirto banyak cari tanya tentang Ayah.
IBU KELUAR KEMBALI MEMBAWA MAKANAN LALU BERGABUNG LAGI DENGAN MEREKA.
I B U Ya, kata orang Ayahmu seorang yang baik hati. (MENERAWANG) Jika ia berada disini sekarang dirumah ini, besok hari raya, tentu ia bisa bersenang-senang dengan anak-anaknya...
GUNARTO (Mengalihkan Pembicaraan) Eh, Mintarsih seharusnya sudah pulang sekarang.. jam berapa sekarang ini?
MAIMUN Bang Narto. Ada kabar aneh lagi nih! Tadi pagi aku berkenalan dengan orang India. Dia mengajarkan aku bahasa Urdu, dan aku memberikan pelajaran bahasa Indonesia kepada dia!
GUNARTO Baguslah itu. Kau memang harus mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Supaya nanti kau dapat banggakan kalau kau bisa jadi orang yang sangat berguna bagi masyarakat! Jangan seperti aku ini, hanya lulusan sekolah rendah. Aku tidak pernah merasakan atau bisa lebih tinggi lagi, karena aku tidak punya Ayah. Tidak ada orang yang mau membantu aku. Tapi kau Maimun, yang sekolah cukup tinggi, bekerjalah sekuat tenagamu! Aku percaya kau pasti bisa memenuhi tuntutan zaman sekarang ini!
MASUK MINTARSIH SEORANG ANAK GADIS YANG TAMPAK RIANG. IA MEMBAWA SESUATU YANG TAMPAKNYA UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA BESOK.
MINTARSIH Ah.... sudah berbuka puasa semuanya?
I B U Tadi kami menunggu kau, tapi lama benar?
(Mintarsih Bergerak Mendekati Jendela Lalu Melongokkan Kepalanya Melihat Keluar)
Makanlah. Apa yang kau lihat diluar?
MINTARSIH Waktu saya lewat disitu tadi...
(Menoleh Melihat Gunarto Yang Tampak Acuh Saja)
Bang Narto... dengarlah dulu..
GUNARTO (Tenang) Ya, aku dengar.
MINTARSIH Ada orang tua diujung jalan ini. Dari jembatan sana melihat-lihat kearah rumah kita. Nampaknya seperti seorang pengemis.
(Semua DiaM)
Yah... kenapa semua jadi diam?
GUNARTO TERTUNDUK MEMBISU
MAIMUN (Dengan Cepat) Orang tua?? bagaimana rupanya?
MINTARSIH Hari agak gelap. Jadi tidak begitu jelas kelihatannya... tapi orangnya....
TINGGI ATAU PENDEK TERGANTUNG PEMERAN. SUARA BEDUG AGAK KERAS TERDENGAR.
MAIMUN (Bangkit Dari Duduknya Lalu Melihat Ke Jendela) Coba ku lihat!
KEMUDIAN MAIMUN KELUAR TAK LAMA MASUK KEMBALI, LALU MELONGOKKAN KEPALANYA KE JENDELA LAGI
GUNARTO (Menoleh Sedikit Kepada Maimun) Siapa Mun?
MAIMUN Tak ada orang kelihatannya?!
DUDUK KEMBALI
I B U (tampak sedih) Malam hari raya seperti ini ia berlalu dulu itu...
(Terkenang)
Mungkin ....
GUNARTO (agak kesal) Ah Bu, lupakan sajalah apa yang sudah berlalu itu.
SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN TERDENGAR AGAK JELAS KETIKA SUASANA HENING, SAMBIL MENUNGGU DIALOG.
I B U Waktu kami masih sama-sama muda, kami sangat berkasih-kasihan. Sejelek-jelek Ayahmu, banyak juga kenangan-kenangan di masa itu yang tak dapat Ibu lupakan. Nak, mungkin ia kembali juga?
SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN MAKIN SAYUP-SAYUP LALU TERDENGAR SUARA ORANG MEMBERI SALAM DARI PINTU LUAR.
R. SALEH Assalamualaikum, assalamualaikum... apa disini rumahnya Nyonya Saleh?
I B U Astagfirullah! Seperti suara Ayahmu, nak? Ayahmu pulang, nak!
IBU BERGERAK MENDEKATI PINTU RUMAH LALU MEMBUKA PINTU LEBIH LEBAR. DAN NAMPAK RADEN SALEH BERDIRI DIHADAPANNYA. SUASANA JADI HENING TIBA-TIBA. HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP NAMUN JELAS TERDENGAR.
R. SALEH (setelah lama berpandangan) Tina? Engkau Tina??
I B U (agak gugup) Saleh? Engkau Saleh?? Engkau banyak berubah, Saleh.
R. SALEH (tersenyum malu) Ya. Ya aku berubah, Tina. Dua puluh tahun perceraian merubah wajahku.
(KEMUDIAN MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU)
Dan ini tentunya anak-anak kita semua?
I B U Ya, memang ini adalah anak-anakmu semua. Sudah lebih besar dari Ayahnya. Mari duduk, dan pandangilah mereka...
R. SALEH (ragu) Apa? Aku boleh duduk, Tina?
MINTARSIH MENARIK KURSI UNTUK MEMPERSILAHKAN RADEN SALEH DUDUK.
I B U Tentu saja boleh. Mari....
(Menuntun raden saleh sampai ke kursi)
Ayahmu pulang, Nak.
MAIMUN (gembira lalu berlutut dihadapan raden saleh) Ayah, aku Maimun.
R. SALEH Maimun? Engkau sudah besar sekarang, Nak. Waktu aku pergi dulu, engkau masih kecil sekali. Kakimu masih lemah, belum dapat berdiri.
(Diam sebentar lalu melihat mintarsih)
Dan Nona ini, siapa?
MINTARSIH Saya Mintarsih, Ayah.
(LALU MENCIUM TANGAN AYAHNYA)
R. SALEH Ya, ya... Mintarsih. Aku dengardari jauh bahwa aku mendapat seorang anak lagi. Seorang putri.
(Memandang wajah mintarsih)
Engkau cantik, Mintarsih. Seperti Ibumu dimasa muda.
(Ibu tersipu malu)
Aku senang sekali. Tak tahu apa yang harus ku lakukan?
I B U Aku sendiri tidak tahu dimana aku harus memulai berbicara? Anak-anak semuanya sudah besar seperti ini. Aku kira inilah bahagia yang paling besar.
R. SALEH (tersenyum pahit) Ya, rupanya anak-anak dapat juga besar walaupun tidak dengan Ayahnya.
I B U Mereka semua sudah jadi orang pandai sekarang. Gunarto bekerja diperusahaan tenun. Dan Maimun tak pernah tinggal kelas selama bersekolah. Tiap kali keluar sebagai yang pertama dalam ujian. Sekarang mereka sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Dan Mintarsih dia ini membantu aku menjahit.
MINTARSIH (malu) Ah, Ibu.
R. SALEH (sambil batuk-batuk) Sepuluh tahun aku menjadi seorang saudagar besar disingapur. Aku menjadi kepala perusahaan dengan pegawai berpuluh-puluh orang. Tapi malang bagiku, toko itu habis terbakar. Lalu seolah-olah seperti masih belum puas menyeret aku kelembah kehancuran, saham-saham yang ku beli merosot semua nilainya sehabis perang ini. Sesudah itu semua segala yang kukerjakan tak ada lagi yang sempurna. Sementara aku sudah mulai tua. lalu tempat tinggalku, keluargaku, anak isteriku tergambar kembali didepan mata dan jiwaku. Kalian seperti mengharapkan kasihku.
(Batuk-batuk. Lalu memandang gunarto)
Maukah engkau memberikan air segelas buat ku Gunarto? Hanya engkau yang tidak....
I B U (gelisah serba salah) Narto, Ayahmu yang berbicara itu. Mestinya engkau gembira, nak. Sudah semestinya Ayah berjumpa kembali dengan anak-anaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.
R. SALEH Kalau Narto tak mau, engkaulah Maimun. Maukah kau memberikan Ayah air segelas?
MAIMUN Baik, Ayah.
MAIMUN BERGERAK HENDAK MENGAMBILKAN AIR MINUM, TAPI NIATNYA TERHENTI OLEH TEGURAN KERAS GUNARTO.
GUNARTO Maimun! Kapan kau mempunyai seorang Ayah!
I B U Gunarto!
(SEDIH, GELISAH DAN MULAI MENANGIS)
GUNARTO (bicara perlahan tapi pahit) Kami tidak mempunyai Ayah, Bu. Kapan kami mempunyai seorang Ayah?
I B U (agak keras tapi tertahan) Gunarto! Apa katamu itu!
GUNARTO Kami tidak mempunyai seorang Ayah kataku. Kalau kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya kami membanting tulang selama ini? Jadi budak orang! Waktu aku berumur delapan tahun, aku dan Ibu hampir saja terjun kedalam laut, untung Ibu cepat sadar. Dan jika kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya aku menjadi anak suruhan waktu aku berumur sepuluh tahun? Kami tidak mempunyai seorang Ayah. Kami besar dalam keadaan sengsara. Rasa gembira didalam hati sedikitpun tidak ada. Dan kau Maimun,. Lupakah engkau waktu menangis disekolah rendah dulu? Karena kau tidak bisa membeli kelereng seperti kawan-kawanmu yang lain. Dan kau pergi kesekolah dengan pakaian yang sudah robek dan tambalan sana-sini? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang Ayah! Kalau kita punya seorang Ayah, lalu kenapa hidup kita melarat selama ini!
IBU DAN MINTARSIH MULAI MENANGIS DAN MAIMUN MERASA SEDIH.
MAIMUN Tapi bang, Narto. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?
GUNARTO (sikapnya dingin, namun keras) Ibu seorang perempuan. Waktu aku kecil dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain! Yah.. orang yang meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!!
I B U Gunarto!
(MINTARSIH DAN IBU MENANGIS)
MAIMUN Bang!
MINTARSIH Bang!
(KALAU MUNGKIN DIALOG MEREKA BERTIGA TADI DIUCAPKAN BERBARENGAN)
MAIMUN (dengan suara agak sedih) Tapi, Bang. Lihat Ayah sudah seperti ini sekarang. Ia sudah tua bang Narto.
GUNARTO Maimun, sering benar kau ucapkan kalimat “Ayah” kepada orang yang tidak berarti ini? Cuma karena ada seorang tua yang masuk kerumah ini dan ia mengatakan kalau ia Ayah kita, lalu kau sebut pula ia Ayah kita? Padahal dia tidak kita kenal. Sama sekali tidak Maimun. Coba kau perhatikan apakah kau benar-benar bisa merasakan kalau kau sedang berhadapan dengan Ayah mu?
MAIMUN Bang Narto, kita adalah darah dagingnya. Bagaimanapun buruknya kelakuan dia kita tetap anaknya yang harus merawatnya.
GUNARTO Jadi maksudmu ini adalah kewajiban kita? Sesudah ia melepaskan hawa nafsunya dimana-mana, lalu sekarang ia kembali lagi kesini karena sudah tua dan kita harus memeliharanya? Huh, enak betul!
I B U (bingung, serba-salah) Gunarto, sampai hati benar kau berkata begitu terhadap Ayahmu. Ayah kandungmu.
GUNARTO (cepat) Ayah kandung? Memang Gunarto yang dulu pernah punya Ayah, tapi dia sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu. Dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk oleh Gunarto sendiri! aku tidak pernah berhutang budi kepada siapapun diatas dunia ini. Aku merdeka, semerdeka merdekanya, Bu!
SUARA BEDUG DAN TAKBIR BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TANGIS IBU DAN MINTARSIH.
R. SALEH (diantara batuknya) Aku memang berdosa dulu itu. Aku mengaku. Dan itulah sebabnya aku kembali pada hari ini. Pada hari tuaku untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku. Tapi ternyata sekarang.... yah, benar katamu Narto. Aku seorang tua dan aku tidak bermaksud untuk mendorong-dorongkan diri agar diterima dimana tempat yang aku tidak dikehendaki.
(Berfikir,sementara maimun tertunduk diam dan mintarsih menangis dipelukan ibunya)
Baiklah aku akan pergi. Tapi tahukah kau Narto, bagaimana sedih rasa hatiku. Aku yang pernah dihormati, orang kaya yang memiliki uang berjuta-juta banyaknya, sekarang diusir sebagai pengemis oleh seorang anak kandungnya sendiri.... tapi biarlah sedalam apapun aku terjerumus kedalam kesengsaraan, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.
(BERDIRI HENDAK PERGI, TETAP BATUK-BATUK)
MAIMUN (menahan) Tunggu dulu, Ayah! Jika Bang Narto tidak mau menerima Ayah, akulah yang menerima Ayah. Aku tidak perduli apa yang terjadi!
GUNARTO Maimun! Apa pernah kau menerima pertolongan dari orang tua seperti ini? Aku pernah menerima tamparan dan tendangan juga pukulan dari dia dulu! Tapi sebiji djarahpun, tak pernah aku menerima apa-apa dari dia!
MAIMUN Jangan begitu keras, Bang Narto.
GUNARTO (marah, dengan cepat) Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya adalah aku!
MINTARSIH Engkau menyakiti hati Ibu, Bang.
(SAMBIL TERSEDU-SEDU)
GUNARTO Kau ikut pula membela-bela dia! Sedangkan untuk kau, aku juga yang bertindak menjadi Ayahmu selama ini! Baiklah, peliharalah orang itu jika memang kalian cinta kepadanya! Mungkin kau tidak merasakan dulu pahit getirnya hidup karena kita tidak punya seorang Ayah. Tapi sudahlah, demi kebahagiaan saudara-saudaraku, jangan sampai menderita seperti aku ini.
IBU DAN MINTARSIH TERUS MENANGIS. SEMENTARA MAIMUN DIAM KAKU. SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERUS BERSAHUT-SAHUTAN. LALU TERDENGAR SUARA GEMURUH PETIR DAN HUJANPUN TURUN.
R. SALEH Aku mengerti... bagiku tidak ada jalan untuk kembali. Jika aku kembali aku hanya mengganggu kedamaian dan kebahagiaan anakku saja. Biarlah aku pergi. Inilah jalan yang terbaik. Tidak ada jalan untuk kembali.
RADEN SALEH BERGERAK PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK, SEMENTARA MAIMUN MENGIKUTI DARI BELAKANG.
MAIMUN Ayah, apa Ayah punya uang? Ayah sudah makan?
MINTARSIH (dengan air mata tangisan) Kemana Ayah akan pergi sekarang?
R. SALEH Tepi jalan atau dalam sungai. Aku cuma seorang pengemis sekarang. Seharusnya memang aku malu untuk masuk kedalam rumah ini yang kutinggalkan dulu. Aku sudah tua lemah dan sadar, langkahku terayun kembali. Yah, sudah tiga hari aku berdiri didepan sana, tapi aku malu tak sanggup sebenarnya untuk masuk kesini. Aku sudah tua, dan ....
RADEN SALEH MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU LALU KELUAR DENGAN PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK. BERJALAN LEMAH DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP MASIH TERDENGAR, SEMENTARA HUJAN MULAI TURUN DENGAN DERAS.
I B U (sambil menangis) Malam hari raya dia pergi dan datang untuk pergi kembali. Seperti gelombang yang dimainkan oleh angin topan. Demikianlah nasib Ibu, Nak.
MINTARSIH (sambil menangis menghampiri gunarto, lalu bergerak kedekat jendela) Bang.... bagaimanakah Abang? Tidak dapatkah Abang memaafkan Ayah? Besok hari raya, sudah semestinya kita saling memaafkan. Abang tidak kasihan? Kemana dia akan pergi setua itu?
HUJAN SEMAKIN DERAS.
MAIMUN (kesal) Tidak ada rasa belas kasihan. Tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang tidak berAyah lagi.
MINTARSIH Dalam hujan lebat seperti ini, Abang suruh dia pergi. Dia Ayah kita Bang. Ayah kita sendiri!
GUNARTO (memandang adiknya) Janganlah kalian lihat aku sebagai terdakwa. Mengapa kalian menyalahkan aku saja? Aku sudah hilangkan semua rasa itu! Sekarang kalian harus pilih, dia atau aku!!
MAIMUN (tiba-tiba bangkit marahnya) Tidak! Aku akan panggil kembali Ayahku pulang! Aku tidak perduli apa yang Abang mau lakukan? Kalau perlu bunuh saja aku kalau Abang mau! Aku akan panggil Ayahku! Ayahku pulang! Ayahku mesti pulang!
MAIMUN LARI KELUAR RUMAH. SEMENTARA HUJAN MAKIN LEBAT DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SAYUP-SAYUP TERDENGAR.
GUNARTO Maimun kembali!
GUNARTO CEPAT HENDAK MENYUSUL MAIMUN TAPI TIDAK JADI LALU PERLAHAN-LAHAN DUDUK KEMBALI. IBU DAN MINTARSIH MENANGIS. SUASANA HENING SEJENAK HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SERTA GEMURUH HUJAN. TAK BERAPA LAMA TAMPAK MAIMUN MASUK KEMBALI. NAMUN IA HANYA MEMBAWA PAKAIAN DAN KOPIAH AYAHNYA SAJA. MAIMUN KELIHATAN MENANGIS.
MINTARSIH Mana Ayah, Bang?
I B U Mana Ayahmu?
MAIMUN Tidak aku lihat. Hanya kopiah dan bajunya saja yang kudapati....
GUNARTO Maimun, dimana kau dapatkan baju dan kopiah itu?
MAIMUN Dibawah lampu dekat jembatan...
GUNARTO Lalu Ayah? Bagaimana dengan Ayah? Dimana Ayah?
MAIMUN Aku tidak tahu....
GUNARTO (kaget. Sadar) Jadi, jadi Ayah meloncat kedalam sungai!!
I B U (menjerit) Gunarto....!!!
GUNARTO (berbicara sendiri sambil memeggang pakaian dan kopiah ayahnya. Tampak menyesal) Dia tak tahan menerima penghinaan dariku. Dia yang biasa dihormati orang, dan dia yang angkuh, yah, angkuh seperti diriku juga.... Ayahku. Aku telah membunuh Ayahku. Ayahku sendiri. Ayahku pulang, Ayahku pulang......
GUNARTO BERTERIAK MEMANGGIL-MANGGIL AYAHNYA LALU LARI KELUAR RUMAH DAN TERUS BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA. IBU MINTARSIH DAN MAIMUN BERBARENGAN BERTERIAK MEMANGGIL GUNARTO “GUNARTO....!!” SUARA BEDUG BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI TAKBIR. SEMENTARA HUJAN MASIH SAJA TURUN DENGAN DERASNYA. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN MATI LALU LAYAR TURUN.
S E L E S A I -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ARWAH-ARWAH KARYA W.B. YEATS TERJEMAHAN SUYATNA ANIRUN
RERUNTUHAN RUMAH, SEBATANG POHON TAK BERDAUN
PEMUDA Setengah pintu, pintu tengah Kesana kemari siang dan malam Memikul beban, ke bukit dan ke lembah Mendengar kau bicara saja.
ORANG TUA Perhatikan rumah itu. Kuingat kisah dan leluconnya. Kuingat apa yang dikatakan si pelayan kepada si penjaga mabuk pada pertengahan Oktober, tapi aku tak bisa. Dimana kisah dan lelucon sebuah rumah kalau ambang pintunya dipakai memperbaiki kandang babi?
PEMUDA Kau pernah kenal jalan ini?
ORANG TUA Bulan bersinar di atas jalan, bayangkan awan jatuh di atas atap rumah. Itulah lambang. Lihatlah pohon itu! Seperti apa rupanya?
PEMUDA Orang tua lupa ingatan!
ORANG TUA Aku melihatnya tahun yang lalu botak seperti sekarang. Maka kupilih kerja yang paling baik. Aku melihatnya lima puluh tahun yang lalu sebelum petir membelahnya. Daun-daun hijau, daun-daun tua, daun-daun segemuk mentega, hidup gemuk dan berlemak. Berdiri di situ dan lihatlah! Karena ada orang di rumah itu.
PEMUDA Tak seorangpun di sini.
ORANG TUA Ada orang di situ!
PEMUDA Lantai sudah hilang, jendela hilang dan dimana seharusnya ada atap, hanya langit yang membentang. Dan di sini pun pecahan kulit telur jatuh dari sarang burung gagak.
ORANG TUA Tapi ada beberapa yang tidak peduli pada apa yang hilang atau pada apa yang ada. Arwah-arwah dari alam barzah yang kembali ke rumah dan tempat yang mereka kenal.
PEMUDA Kau sedang melantur lagi!
ORANG TUA Untuk merasakan lagi dosa-dosa mereka. Tidak sekali tapi berulang-ulang. Akhirnya mereka tahu akibat dari dosa-dosa itu. Atas orang lain ataupun atas dirinya sendiri. Atas orang lain, orang lain bisa menolong. Tapi kalau atas dirinya sendiri tak ada pertolongan kecuali atas diri sendiri dan pada belas kasihan Tuhan.
PEMUDA Cukup sudah! Bicaralah pada burung-burung kalau kau harus bicara juga!
ORANG TUA Berhenti! Duduk di situ! Itulah rumah dimana aku dilahirkan.
PEMUDA Rumah tua yang terbakar itu?
ORANG TUA Ibuku atau nenekmu memiliki tanah di daerah ini. Kandang-kandang anjing dan kuda. Ia punya kuda di ladang ternak dan disana bertemu dengan ayahku, budak di kandang kuda. Saling pandang, lalu mereka kawin. Tapi kemudian ibuku tak mau mengenalnya lagi.
PEMUDA Apa yang benar dan apa yang salah? Kakekku mendapatkan gadisnya beserta uangnya.
ORANG TUA Ayahku memboroskan semua milik ibuku. Ibuku tak pernah tahu yang terjelek karena ia meninggal waktu melahirkan aku. Tapi sekarang ia tahu semuanya karena ia telah mati. Orang-orang besar hidup dan mati di rumah ini. Patih-patih, Demang-demang dan Hakim-hakim, Ponggawa-ponggawa dan perwira yang dulu bertempur di semenanjung dan muara. Mereka yang telah pergi dengan tugas pemerintah pulang untuk mati atau datang dari seberang tiap awal musim kemarau untuk meninjau bunga-bunga di bulam Mei dalam taman. Mereka mencintai pohon-pohon yang ditebang ayahku untuk membayar kekalahan di meja judi atau dengan kuda, minuman atau perempuan. Mereka mencintai semua lorong yang ada di rumah ini. Membinasakan rumah dimana orang-orang besar menjadi dewasa, kawin dan meninggal. Kunyatakan disini, telah berlangsung suatu kejahatan yang laknat!
PEMUDA Wah, tapi kau beruntung. Pakaian mewah, mungkin kuda gagah untuk ditunggangi.
ORANG TUA Supaya aku tidak lebih unggul darinya, ayahku tidak pernah mengirim aku ke sekolah. Tapi masih ada orang yang cinta karena aku juga anak ibuku. Istri penjaga mengajar aku membaca, Pak Padri mengajar aku bahasa. Banyak buku-buku berharga dengan jilidan mewah abad lalu. Buku-buku modern dan kuno. Beribu-ribu buku.
PEMUDA Dan aku kau beri pendidikan apa?
ORANG TUA Kuberi kau pendidikan yang patut bagi anak haram yang gampang. Ketika aku berumur enam belas tahun, ayahku membakar rumah-rumah itu dalam mabuknya.
PEMUDA Itu usiaku enam belas tahun.
ORANG TUA Dan seluruhnya terbakar habis. Buku-buku, perpustakaan dan segalanya.
PEMUDA Apa benar juga yang kudengar sepanjang jalan bahwa kau membunuh ayahmu di rumah yang terbakar itu.
ORANG TUA Tak ada seorangpun disini kecuali kita?
PEMUDA Tak seorangpun ayah.
ORANG TUA Kutikam dia dengan pisau. Pisau yang sehari-hari biasa kita pakai. Setelah itu kutinggalkan dia di tengah api yang sedang berkobar. Mereka menemukan mayatnya. Seseorang menemukan bekas pisau tapi tak berani memastikan karena mayat itu hangus bagai arang. Beberapa teman pemabuknya bersumpah untuk menghadapkan aku ke pengadilan, mendalihkan ancaman yang pernah dilontarkan. Penjaga memberikan pakaian tua, aku melarikan diri, bekerja dimana-mana, hingga aku menjadi penjual dari jalan ke jalan. Bukan pekerjaan baik, tapi cukup baik. Karena aku anak ayahku. Karena apa yang dia lakukan bisa aku lakukan. Dengar! Dengarlah! Derap kuda! Dengar!
PEMUDA Aku tidak mendengar apa-apa.
ORANG TUA Jalan terus! Jalan terus! Malam ini adalah peringatan malam perkawinan ibuku atau malam aku dikandung, ayahku naik kuda dari tempat minum. Sebotol arak di tanganya. DI JENDELA MUNCUL WANITA MUDA
ORANG TUA Lihat di jendela! Ibuku berdiri di situ, mendengar. Pelayan-pelayan sudah tidur. Ibuku sendirian. Ayahku pulang jauh ditengah malam karena ia berjudi dan mabuk-mabukan di kedai minum.
PEMUDA Tak ada apa-apa kecuali lubang kosong pada tembok. Kau dusta. Tidak, kau gila! Kau makin gila tiap hari!
ORANG TUA Suara itu makin keras karena ia melewati jalan berkerikil yang kini ditutupi rumput. Suara derap berhenti. Ia pergi ke belakang rumah, mengandangkan kudanya. Ibuku turun membuka pintu, malam ini ia tak lebih sopan dari suaminya yang terhuyung karena mabuk. Ibuku tergila-gila padanya. Mareka naik tangga. Ibuku membawanya ke tempat tidur. Itulah kamar perkawinan mereka dan itulah ranjang perkawinan mereka. Jendela sudah setengah gelap kembali. Jangan biarkan dia menjamahku! Tidak benar bahwa suami mabuk tak bisa membuahi dan kalau ia mulai berhasil, kau harus mengambil benih pembunuhnya. Tuli! Tuli! Keduanya tuli! Bahkan jika kulempar kayu atau batu mereka tak mendengar. Itulah bukti pikiranku sudah sakit. Tapi ada satu soal, ibuku harus mengalami sekali lagi semua bahkan segalanya. Didorong oleh rasa sesal. Tapi bisakah ia berkelamin lagi dan tak menemukan kepuasan didalamnya. Bila ketidakpuasan harus bersama-sama, mana yang lebih kuat! Aku tanpa didikan. Pergilah! Panggil pertulian! Ia dan aku akan menguraikan segalanya sementara kedua orang itu berbaring di ranjang, membuahi dan mengandung aku.
PEMUDA MENGADUK-ADUK KANTONG LALU MEMBAWANYA
ORANG TUA Kembali! Kembali! Kau kira kau bisa melarikan diri dengan bungkusan uangku di tanganmu? Dikiranya sementara aku bicara tak melihat kau mengaduk-aduk buntalan itu?
PEMUDA Kau tak pernah memberiku bagian.
ORANG TUA Jika kuberikan, anak muda seperti kau akan menghabiskannya pada minuman.
PEMUDA Kalau aku menghendakinya? Aku berhak menggunakan uangku semaunya.
ORANG TUA Berikan bungkusan itu dan tutup mulutmu!
PEMUDA Tidak mau!
ORANG TUA Akan kuhancurkan jari-jarimu.
MEREKA MEMPEREBUTKAN KANTUNG. DALAM PERKELAHIAN KANTUNG ITU LEPAS DAN UANGNYA BERHAMBURAN. ORANG TUA ITU TERHUYUNG TAPI TIDAK JATUH. MEREKA BERDIRI SAMBIL MEMANDANG JENDELA. TAMPAK TERANG. TAMPAK SEORANG LELAKI SEDANG MENGISI GELASNYA DENMGAN WHISKEY.
PEMUDA Bagaimana kalau kau kubunuh? Kau membunuh kakekku karena kau muda dan ia tua. Sekarang aku yang muda dan kau yang tua.
ORANG TUA (MELIHAT KE JENDELA) Kini lebih jelas. Enambelas tahun itu.
PEMUDA Apa yang kau ocehkan?
ORANG TUA Lebih muda. Padahal perempuan itu harus tahu bahwa lelaki itu bukan macamnya.
PEMUDA Apa yang kau katakana? Hentikan! Hentikan!
ORANG TUA ITU MENUNJUK KE JENDELA
PEMUDA Tuhanku! Jendela itu terang dan seseorang berdiri di situ.
ORANG TUA Jendela itu terang lagi. Ayahku datang untuk mendapatkan segelas whiskey. Ia bersandar di sana seperti binatang yang kepenatan.
PEMUDA Orang mati dibunuh yang hidup kembali.
ORANG TUA Dan ranjang pengantin jauh pada Adam’. Dimana kubaca kata-kata itu. Padahal tidak ada sesuatupun yang tersandar di jendela itu selain bayangan yang ada di kepala ibuku yang mati kesepian dalam sesalnya.
PEMUDA Tubuh yang menjelma sebelum dilahirkan. Mengerikan! Mengerikan! (MENUTUP WAJAHNYA)
ORANG TUA Makluk itu takkan tahu apa-apa, karena bukan apa-apa, jika kubunuh orang di bawah jendela itu, ia bahkan takkan sempat memutar kepalanya.
ORANG TUA MENIKAM ANAK MUDA ITU
ORANG TUA Ayahku dan anakku oleh pisau yang sama. Ini mengakhiri.
ORANG TUA MENIKAM BERULANG-ULANG, JENDELA JADI GELAP
PEMUDA Ibuku sayang, jendela itu gelap kembali. Tapi kau ada dalam cahaya sebab telah kuselesaikan segala akibatnya. Kubunuh anak itu karena ia telah tumbuh. Ia akan mematahkan nasib seorang perempuan, membuahinya dan melanjutkan keonaran. SELESAI -------------------------------------------------------------------------------------------------------------- LAKON 3 BABAK (4 ADEGAN) BADAK BADAK Disadur dari “RHICONEROS” Karya: Eugene Ionesco - Penyadur: Jim Lim DRAMATIC PERSONAE
- ARIFIN - SLAMET - PELAYAN KEDAI - PEMILIK TOKO PANGAN - ISTRINYA - TUAN TUA PENSIUNAN - SARJANA MUDA - NYONYA - TUKANG BAKMI - DEWI - MAS ENTUNG - DARMAWAN SH - SURAHMAN - NYONYA TIGOR - PEMADAM KEBAKARAN - KAKEK - ISTRINYA BABAK I
ADEGAN I
SEBUAH PRAPATAN DI KOTA J. DI PENTAS BELAKANG SEBUAH BANGUNAN MODEL KOLONIAL YANG MENGALAMI PEROMBAKAN. RUMAH INI TERBAGI DUA. SEBELAH KIRI DENGAN KACA ETALASE DIMANA TERTULIS DENGAN HURUF BESAR “TOKO PANGAN”, MENJUAL BERMACAM BAHAN MAKANAN DAN MINUMAN. DI TINGKAT ATAS ADA JENDELA, DAN DI BELAKANGNYA UNTUK TEMPAT TINGGAL PEMILIK TOKO. SEBELAH KANAN BESERTA HALAMAN DEPANNYA YANG CUKUP LUAS DIHUNI OLEH PENJUAL BAKMI BASO DENGAN MEJA-MEJANYA, BANGKU-BANGKU DAN KAIN PELINDUNG PANAS. DI SEBELAH KIRI NAMPAK JALAN YANG MENJAUH DALAM PERSPEKTIF. DI LUAR BATAS PEKARANGAN TOKO ADA SEBUAH POHON KERING BERDEBU. LANGIT BIRU, MATAHARI TERIK. HARI SUDAH JAM 12 SIANG PADA SUATU HARI MINGGU.
SESAAT SEBELUM LAYAR DIBUKA TERDENGAR LONCENG JAUH MENUNJUKKAN JAM 12. KETIKA LAYAR DIBUKA, SEORANG NYONYA RUMAH TANGGA MEMBAWA TAS BELANJA DAN SEEKOR KUCING DI TANGAN YANG LAIN, LEWAT DARI KANAN KE KIRI TANPA SEPATAH KATAPUN, SEKETIKA ITU JUGA ISTERI PEMILIK TOKOMUNCUL DI PINTU.
ISTERI Memuakkan setiap kali kulihat nyonya itu
(Kepada Suaminya Di Dalam)
Karena kesombongan dia tidak mau lagi datang belanja pada kita
(ISTERI MASUK. PANGGUNG KOSONG BEBERAPA DETIK, ARIFIN MUNCUL DARI 3 KANAN BERTEPATAN DENGAN SLAMET YANG MUNCUL DARI KIRI. ARIFIN BERPAKAIAN RAPIH, MEMAKAI DASI DAN TOPI, SEPATUNYA COKLAT MUDA DAN DISEMIR MENGKILAP. SLAMET SEPERTI YANG TIDAK MANDI, RAMBUT KUSUT, PAKAIAN KUMAL. KESELURUHANNYA MENUNJUKKAN KETIDAKMAMPUANNYA MENGURUS DIRI. IA NAMPAK LESU, KURANG TIDUR, SEKALI-KALI IA MENGUAP)
ARIFIN (Maju) Waduh, akhirnya kau berhasil juga untuk datang, Slamet!
SLAMET (Maju) Selamat pagi, Arifin!
ARIFIN Lambat seperti biasa, tentu
(Melihat Arloji Tangannya)
Kita janji jam 11.30. sekarang sudah jam 12 lebih.
SLAMET Maafkan. Apa kau sudah lama menunggu?
ARIFIN Tidak, seperti kau lihat sendiri. Aku juga baru saja datang.
MEREKA DUDUK DI SALAH SATU MEJA KEDAI BASO
SLAMET Kalau begitu aku merasa lega, berhubung kau sendiripun baru……….
ARIFIN Soalnya lain lagi. Aku tidak suka menunggu, waktuku terlalu berharga. Dan mengetahui kau selalu terlambat, maka sengaja aku datang lat-- aku perkirakan saat kau mungkin datang.
SLAMET Kau benar, memang begitu, tetapi………..
ARIFIN Jangan pura-pura bahwa kau selalu datang tepat!
SLAMET Tentu tidak. Apakah aku mengatakan begitu?
ARIFIN Sudah, jangan membantah!
SLAMET Kita minum apa?
ARIFIN Pada jam begini yang kau ingat minum melulu.
SLAMET Hari panas dan kering.
ARIFIN Makin banyak minum makin haus. Begitulah menurut ilmu pengetahuan…
SLAMET Hari tidak akan sekering ini, dan kita tidak akan kehausan andai saja ilmu pengetahuan bisa menyediakan awan-awan buatan.
ARIFIN (Mengamati Slamet Dengan Cermat) Percuma, aku tahu kau bukan haus akan air, Slamet.
SLAMET Aku tahu apa yang kau maksud.
ARIFIN Kau tahu betul? Apa yang kumaksud? Aku bicara tentang tenggorokanmu itu yang gersang, sebuah wilayah yang tak kan pernah tercukupi!
SLAMET Mengapa tenggorokanku mesti kau bandingkan dengan sebidang tanah….
ARIFIN (Memotong) Kau sudah payah kawan.
SLAMET Payah? Sungguh?
ARIFIN Aku tidak buta, setiap orang bisa melihat kau hampir ambruk karena capek. Kau sudah mulai kurang tidur lagi. Tiada hentinya kau menguap. Kau kehabisan tenaga….
SLAMET Rambutku memang lupa disisir. 5
ARIFIN Kau bau minuman keras.
SLAMET Memang betul aku minum, tapi sedikit sekali.
ARIFIN Sudah berapa lama hari minggu kujumpai kau dalam keadaan ini, belum tentang hari-hari lainnya.
SLAMET Kurasa di hari-hari lain tidak terlalu sering, mengingat aku mesti ke kantor.
ARIFIN mengapa kau tidak pakai dasi? Aku heran kalau itu hilang dalam pesta gila-gilaan.
SLAMET (Mmegang Lehernya) Betul juga. Aneh, kulupa di mana?
ARIFIN (Mengeluarkan Dasi Dari Sakunya) Nih, pakai dulu.
SLAMET Terima kasih. Kau selalu baik
DIPAKAINYA DASI
ARIFIN (Sementara Slamet Membereskan Rambut Dengan Jari Tangannya) Nih, aku bawa sisir.
DIKELUARKANNYA SISIR DARI SAKU BELAKANG
SLAMET (Menerima Sisir Itu) Terima kasih
IA MENYISIR ACUH TAK ACUH
ARIFIN kau juga tidak cukur jenggotmu. Coba, pandanglah dirimu.
DIKELUARKANNYA CERMIN KECIL DARI SAKU, DIBERIKANNYA PADA SLAMET YANG LALU BERKACA. SEKALIGUS DIPERIKSA JUGA LIDAHNYA
SLAMET Lidahku seperti berselaput.
ARIFIN (Mengambil Kembali Cermin Dan Memasukkannya Ke Dalam Saku) Tidak heran!
(Mengambil Sisir Yang Disodorkan Slamet Dan Memasukkan Kedalam Saku)
Kau sebentar lagi reyot, kawan!
SLAMET (Kuatir) Mungkinkah?
ARIFIN (Kepada Slamet Yang Mau Mengembalikan Dasi) Tahan dasi itu. Aku masih punya banyak di rumah>
SLAMET (Kagum) Kau selalu kelihatan begitu rapih.
ARIFIN (Masih Terus Meneliti Slamet) Pakaianmu sama sekali kumal, memalukan! Bajumu dekil, sepatumu…..
(Slamet Mencoba Menyembunyikan Sepatunya Di Bawah Meja)
Sepatumu tidak pernah disemir. Payah betul kau ini! Dan pundakmu itu, coba….
SLAMET Ada apa dengan pundakku?
ARIFIN Membalik! Ayo, membalik! Kau telah bersandar pada dinding mana.
(Slamet Dengan Patuh Menyodorkan Tangannya Ke Arifin)
Tidak, jangan pikir aku membawa sikat, saku bajukubisa menonjol
(Slamet Dengan Patuh Menepuk-Nepuk Pundaknya Untuk Membersihkan Kapur Tembok, Arifin Memalingkan Wajahnya Jauh-Jauh)
Astaga ! Di mana kau memperoleh semua itu?
SLAMET Aku tidak ingat lagi.
ARIFIN Betul-betul memalukan! Aku malu berkawan dengan kau! 7
SLAMET Kau begitu kera terhadapku.
ARIFIN Tetapi dengan alasan.
SLAMET Dengarlah Arifin. Di kota ini hampir tidak ada hiburan, aku sering jemu. Aku sebetulnya merasa kurang cocok dengan pekerjaanku. Setiap hari ngantor, delapan jam sehari, dan setahun hanya dua minggu cuti. Pada setiap sabtu aku sudah begitu lelah. Sebab itulah – kau kan ngerti – sebagai hiburan…
ARIFIN Bung setiap manusia mesti kerja. Aku juga ngantor 8 jam sehari seperti setiap orang. Dan cutiku setahun hanya dua minggu, tapi apakah aku juga seperti kau? Daya kemauanmu, bung!
SLAMET Tidak setiap orang punya daya kemauan seperti kau. Aku tidak dapat membiasakan diriku. Aku ini tidak bisa seirama dengan kehidupan.
ARIFIN Setiap orang harus bisa membiasakan diri. Kecuali kalau menganggap dirimu makhluk yang luar biaa.
SLAMET Bukan begitu…
ARIFIN (Memotong) aku pikir kau dan aku sama saja. Dengan segala kerendahan hati, aku mungkin lebih dari kau. Orang yang memenuhi kewajibannya, dialah orang yang luar biasa.
SLAMET Kewajiban apa?
ARIFIN Kewajiban dia – kewajiban dia sebagai pegawai, misalnya….
SLAMET O itu, kewajiban sebagai pegawai…
ARIFIN Kau berbinal di mana semalam? Sekiranya kau masih ingat…. Kami merayakan ulang tahun Wgito, Wagito kawan kita….
SLAMET Wagito kawan kita? Siapa yang mengundang kau ke ulang tahun kawan kita Wagito?
SAAT INILAH TERDENGAR SUATU BUNYI DI KEJAUHAN, MENDEKAT DENGAN CEPAT. SEPERTI BINATANG YANG TERENGAH-ENGAH LARI DAN SEMACAM BUNYI TEROMPET HEWAN
SLAMET Aku Tak Dapat Menolak. Pula itu kurang sopan….
ARIFIN Apakah aku datang?
SLAMET Soalnya mungkin karena kau tidak diundang
(Pelayan Laki-Laki Muncul Dari Dalam Kedai)
Mau pesan apa?
(KINI TERDENGAR BUNYI KERAS SEKALI
ARIFIN (Berteriak Kepada Slamet Mengatasi Bunyi Keras Yang Belum Diperhatikannya) Memang aku tidak diundang, aku tidakmendapat kehormatan itu. Apa boleh buat, sebab walaupun aku diundang, aku pasti tidak akan datang, oleh karena…
(Bunyi Di Puncak Kekerasannya)
Ada apa?
(Bunyi Binatang Yang Berat Dan Besar Lari Cepat, Terdengar Dekat Sekali, Bunyi Terengah-Engah)
Apa itu?
PELAYAN Apa itu?
SLAMET MASIH LESU DAN AGAKNYA TIDAK MENENGAR APA-APA. IA DENGAN SABAR MENJAWAB ARIFIN TENTANG PERSOLAN UNDANGAN ITU. BIBIRNYA BERGERAK,TAPI APA YANG DIUCAPKAN TIDAK TERDENGAR. ARIFIN BERDIRI MELOMPAT YANG MENYEBABKAN KURSINYA TERLEMPAR JATUH. IA MENUNJUK KE ARAH KIRI SEMENTARA SLAMET SEPERTI ORANG LINGLUNG TETAP DUDUK
ARIFIN Hei, ada badak!
BUNYI MENJAUH DAN KATA-KATA MULAI TERDENGAR KEMBALI, BAGIAN II HARUS DIMAINKAN DENGAN IRAMA CEPAT, MASING-MASING MENGULANGI DENGAN CEPAT DALAM URUTAN LANGSUNG: Hei, ada badak!”
PELAYAN Hei , ada badak!
ISTERI (Kepalanya Muncul Di Pintu Toko) Hei, ada badak!
(Kepada Suaminya Yang Masih Ada Di Dalam)
Cepat, mari lihat sana, ada badak!
MEREKA SEMUA MEMANDANG KE ARAH TIMUR MENGIKUTI BINATANG YANG TADI LEWAT
ARIFIN Ia lari dalam arah melurus, menyeremprt etalase-etalase toko.
PEMILIK (Dari Dalam) Di mana?
PELAYAN (Menggaruk-Garuk Kepala) Model…
ISTERI (Kepada Suami Yang Masih Di Dalam)
Lihatlah !
(PEMILIK MUNCUL DI PINTU)
PEMILIK Hei, ada badak! 10
SARMUD (Muncul Tergesa-Gesa Dari Kiri) Seekor badak kabur dengan kencangnya di pinggiran sebrang jalan!
SEMUA PENGUCAPAN SEJAK ARIFIN PERTAMA-TAMA MENGATAKAN:”Hei ada badak!” RATA-RATA MENJADI SEREMPAK. TERDENGAR SUARA WANITA BERTERIAK: aaaaa! NYONYA MUNCUL KE TENGAH PANGGUNG DENGAN TAS BELANJAANNYA. BEGITU SAMPAI DIJATUHKANNYA TAN BELANJAANNYA. ISINYA TERCECER KE SEMUA ARAH, TETAPI KUCING TETAP DI GENGGAMNYA
NYONYA Aaaaa ! Ooooo!
SEORANG TUAN TUA PENSIUANAN SOPAN SANTUN MUNCUL DARI KIRI. IA TERGESA MASUK KE TOKO, MENABRAK PEMILIK TOKO DAN ISTRINYA, SARJANA MUDA MENEMPATKAN DEKAT DINDING SEBELAH KIRI PINTU TOKO. ARIFIN DENGAN PELAYAN, KEDUANYA BERDIRI DAN SLAMET YANG MASIH DUDUK TAK HIRAU MERUPAKAN KELOMPOK LAIN. DARI KIRI BANYAK TERIAKAN aaaaa ! DAN oooooo! JUGA SUARA ORANG SIMPANG SIUR DAN DEBU YANG MENGEPUL DISEBABKAN OLEH BINATANG TERSEBUT. DEBU ITU MENYEBAR KESELURUH PENTAS.
TUKANG BAKMI (Muncul Dari Sudut Tempat Masaknya) Ada apa?
TUAN (Menghilang Di Belakang Pemilik Toko Dan Istrinya) Maafkan saya.
TUAN TUA BERPAKAIAN RAPIH, MEMAKAI TOPI KUNO MEMBAWA TONGKAT DENGAN PEGANGAN DARI GADING, SARJANA MUDA YANG BERDIRI MELEKAT PADA DINDING, BERKACAMATA DENGAN PINGGIRANYANG LEBAR
ISTERI (Terdorong Dan Mendorong Suaminya. Kepada Tuan Tua) Hati-hati sedikit dengan tongkat itu!
(KINI KEPALA TUAN NAMPAK DI BELAKANG PEMILIK TOKO DAN ISTERINYA)
PELAYAN (Kepada Majikannya) Ada badak!
TUKANG BAKMI (Sambil Meletakkan Hal-Hal Yang Dikerjakan) Kau mimpi di siang hari bolong
(IA MELIHAT BADAK YANG DIMAKSUD)
Astaga…!
NYONYA Aaaa !
(Semua seruan oooo ! Dan aaaa ! Yang terdengar di belakang pentas menjadi iringan aaaa ! Sang nyonya. Meskipun tas belanjaannya Telah jatuh. Kucing dipegangnya erat-erat dalam lindungan lengannya)
Terlalu, kucingku yang tidak bersalah menjadi takut!
TUKANG BAKMI (Masih Tercengang Memandang Ke Arah Kiri Mengikuti Binatang. Sementara Bunyi Derapnya, Terompetnya Semakin Menjauh. Slamet Agak Mengntuk, Membuang Muka Sedikit Untuk Menghindari Debu Tapi Ia Tidak Berkata Apa-Apa. Ia Hanya Nyengir)
Bayangkan…!
ARIFIN (Juga Agakmembuang Muka Menghindari Debu, Tapi Sadar Sepenuhnya)
Bayangkan !
IA BERSIN
NYONYA (di tengah pentas tetapi memandang ke arah kiri. Belanjaan bertebaran di sekelilingnya) Bayangkan !
BERSIN, TUAN TUA, ISTERI PEMILIK TOKO DAN PEMILIK TOKO DI ATAS TANGGA DEPAN PINTU MEMBUKA KEMBALI DAUN PINTU YANG TADI TELAH DITUTUP OLEH TUAN TUA
KETIGANYA Baayangkan….!
ARIFIN Bayangkan
(Kepada Slamet)
Kau lihat tadi? SUARA BADAK DAN TEROMPETNYA TERDENGAR JAUH, SEMUA ORANG MASIH MEMANDANG KE ARAH TADI KECUALI SLAMET YANG TETAP DUDUK TAK HIRAU
SEMUA Bayangkan !
KECUALI SLAMET
SLAMET (Kepada Arifin) Kelihatannya tadi itu seperti seekor badak. Semua jadi berdebu
IA MENGELUARKAN SAPU TANGAN UNTUK MENUTUP HIDUNGNYA
NYONYA Bayangkan, aku sungguh ketakutan!
PEMILIK (Kepada Nyonya) Tas nyonya… belanjaannya…
TUAN TUA MULAI MEMUNGUT SATU PERSATU BARANG BELANJAAN YANG TERCECER. IA MANGGUT SEDIKIT PADA NYONYA, MENGANGKAT TOPINYA DENGAN HORMAT
TUKANG BAKMI Dasar jaman….
PELAYAN : Heran !
TUAN (Kepada Nyonya) Perkenankan saya Bantu nyonya memungut barang-barang yang jatuh.
NYONYA Terima kasih. Tuan sangat baik hati. Silahkan topi tuan dipakai lagi. Ooo, saya tadi takut sekali.
SARMUD Rasa takut adalah sesuatu yang tak masuk akal. Akallah yang mesti menguasai kita.
PELAYAN Sudah tidak kelihatan lagi.
TUAN (Kepada Nyonya Dan Menuju Sarmud) Ini kenalan saya . ia sudah sarjana muda.
ARIFIN (Kepada Slamet) Bagaimana menurut pendapatmu?
PELAYAN Binatang begitu jauh-jauh datang dari mana?
NYONYA (Kepada Sarmud) Sudah Sarjana Muda!
ISTERI (Kepada Suaminya) Syukur….! Salah sendiri membeli belanjaan dari toko lain!
ARIFIN (Kepda Tukang Mi Baso Dan Pelayan) Pokoknya, bukan kejadian sehari-hari.
NYONYA (Kepada Sarmud Dan Tuan Yang Sedang Memungut Belanjaan) Saya minta tolong untukmemegangnya sebentar.
PELAYAN (Kepada Arifin) Saya baru melihat pertama kali!
SARMUD (Menerima Kucing) Apa tidak akan mencakar?
TUKANG BAKMI (Kepada Arifin) Lewat secepat kilat!
NYONYA Tikuspun tidak pernah diganggunya.
KEPADA YANG LAIN
Sebotol kecap saya mana?
PEMILIK Di sini juga jual kecap!
ARIFIN (Kepada Slamet) Nah, bagaimana menurut kau?
PEMILIK Mereka paling istimewa!
TUKANG BAKMI (Kepada Pelayan) Jangandiam saja! Layani dulu tamu-tamu itu!
(IA MENUNJUK PAD ARIFIN DAN SLAMET DAN KEMBALI KE SUDUT TEMPAT MASAKNYA)
SLAMET Bagaimana tentang apa?
ISTERI (Kepada Suaminya) Ambil sebotol kecap untuknya.
ARIFIN Badak itu tentunya, pikirmu apa?
PEMILIK Kami menjual kecap nomor satu, botolnya tanggung kuat! (IA MASUK KE DALAM TOKO)
SARMUD (Mengusap-Usap Kucing Yang Dipegangnya) Pusi, Pusi, Pusi.
PELAYAN (Kepada Slamet Dan Arifin) Mau pesan apa?
SLAMET Minum saja – bir!
PELAYAN Bir saja?
MENUJU KE DALAM
NYONYA (Telah Mengumpulkan Barangbelanjaannya Bersama Tuan) Terima kasih atas bantuan tuan.
PELAYAN (Di Dalam) Katanya bir saja.
TUAN Tak apa, saya suka menolong
ISTERI PEMILIK TOKO MASUK
SARMUD (Kepada Tuan Dan Nyonya Yang Sedang Membereskan Belanjaan) Aturlah kembali dengan beres.
ARIFIN (Kepada Slamet) Nah, bagaimana menurut pendapatmu?
SLAMET Bagaimana….? Biasa… mengakibatkan banyak debu…
PEMILIK (Muncul Dengan Sebotol Kecap) Juga ada acar di peles, kalau nyonya perlu.
SARMUD (Tetap Mengusap Kucing) Pusi, Pusi, Pusi.
PEMILIK Harganya lima ratus rupiah.
NYONYA (Membayar, Lalu Kepada Tuan) O, Tuan sangat baik hati. Begitulah seharusnya lelaki kepada wanita. Anak muda jaman sekarang mana ingat.
PEMILIK (Menerima Uang) Mstinya nyonya berlangganan kepada saya. Nyonya tak usah jauh-jauh menyeberang jalan, dan nyonya mengurangi kemungkinan mendapat kecelakaan lalu lintas
MASUK
ARIFIN (Telah Duduk) Harus aku akui bahwa peristiwa tadi sesuatu yang luar biasa.
TUAN (Manggut, Membuka Topinya) Saya merasa senang telah bertemu dangan nyonya.
NYONYA (Kepada Sarmud) Terima kasih atas bantuan tuan memegang kucing saya.
(SARMUD MENGEMBALIKAN KUCING KEPADA NYONYA. PELAYAN DTANG DENGAN DUA GELAS BIR)
PELAYAN Dua bir!
ARIFIN (Kepada Slamet) Manusia memang susah dirubah.
TUAN Apa saya barangkali perlu mengantar nyonya pulang?
SLAMET (Kepada Arifin) Aku pesan air Belanda. Ia barangkali salah dengar
(ARIFIN MENARIK BAHUNYA TANDA TAK SENANG)
NYONYA Suamiku sedang menunggu, lain kali saja.
TUAN Sampai bertemu lagi, nyonya.
NYONYA Mari
(IA BERSENYUM MANIS DAN BERLALU KE KIRI)
TUAN (Kepada Sarmud) Dari mana nyonya itu?
ARIFIN (Kepada Slamet) Badak! Tak masuk akal
(TUAN BERJALAN PERLAHAN KE KANAN SAMBIL BERCAKAP-CAKAP DENGAN SARMUD)
TUAN Orang yang menarik.
SARMUD Aku akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan silogisme. 17
TUAN Oh ya, silogisme.
ARIFIN (Kepada Slamet) Tak masuk akal! Mustahi!
(SLAMET MENUAP)
SARMUD Suatu silogisme terdiri dari sebuah rumusan utama, rumusan kedua dan sebuah kesimpulan.
TUAN Kesimpulan apa?
(TUAN DAN SARMUD KELUAR)
ARIFIN Tak masuk akal.
SLAMET Aku mengerti bahwa akalmu belum memahami. Jadi, tadi itu seekor badak. Apa boleh buat kalau memang badak? Kini sudah berapa kilometer jauhnya dari sini. Sudah jauh…
ARIFIN Tapi aku yakin bahwa olehmupun terasa keanehannya. Seekor badak berkeliaran di tengah-tengah kota, dan kau tidak sedikitpun mengejapkan mata. Tak boleh jadi!
(Slamet Menguap)
Kalau menguap tutup mulutmu dengan tangan!
SLAMET Ya.. uuaa, ya uu aa…Tak boleh jadi. Memang berbahaya. Baru kusadari itu. Tapi kaujangan kuatir, kita di sini tidk akan diganggu binatang itu.
ARIFIN Kita mesti mengajukan proter kepada kotapraja. Untuk apa ada Walikota dan sebagainya?
SLAMET (Menguap, Cepat Menutup Mulutnya Dengan Tangan) Maaf, maaf. Siapa tahu badak itu terlepas dari kebun binatang.
ARIFIN Kau mengigau di siang bolong.
SLAMET Aku bangun seratus persen.
ARIFIN Bangun atau tidur sama saja.
SLAMET Kurasa ada beanya.
ARIFIN Maksudku lain.
SLAMET Kau kata tadi bahwa bangun dan tidur itu sama?
ARIFIN Kau tidak mengerti aku. Tak ada bedanya, mimpi sambil tidur dan mimpi sambil bangun.
SLAMET Aku mimpi, sebab hidup adalah impian.
ARIFIN Kau ngigau ketika kau katakana bahwa badak itu lari dari kebun binatang.
SLAMET Aku kata, mungkin.
ARIFIN Kebun binatang kita sudah kosong sejak semua binatang-binatangnya dibunuh ketika ada wabah sampar. Sudah lama sekali.
SLAMET (Tak Acuh) Kalau begitu barangkali terlepas dari sebuah sirkus.
ARIFIN Apa, sirkus?
SLAMET Entahlah… rombongan sirkus dari luar negri.
ARIFIN Kau tahu betul bahwa pemerintah daerah telah melarang segala macam pertunjukan kesenian. Sejak kecil kita tidak pernah lagi menyaksikan sirkus.
SLAMET (Mencoba Menghentikan Kuapnya Tanpa Hasil) Nah, kalau begitu mungkin binatang tersebut selama ini hidup tersembunyi di daerah rawa sekitar ini.
ARIFIN Rawa sekitar ini! Rawa sekitar sini… Kasihan kau, hidup dalam kegelapan mabuk arak.
SLAMET (Jujur Dan Sederhana) Kau benar, terasa seolah-olah naik dari perutku.
ARIFIN Otakmusudah diselubungi kabut! Mana ada rawa di sekitar sini? Daerah kita terkenal banyak gunung kapurnya, dan oleh karena itu kering!
SLAMET (Jemu) Kalau begitu aku tidak tahu. Mungkin ia telah bersembunyi di balik batu. Atau mungkin ia telah bersarang di dahan-dahan kering.
ARIFIN Jangan berfikir bahwa kau lucu, sama sekali tidak! Kau malah membosankan, dengan jawaban-jawabanmu yang bodoh dan bertentangan itu, kau tidak mampu berbicara serius.
SLAMET Hari ini, Cuma hari ini, sebab… sebab…
MENUNJUK KEPALANYA SENDIRI
ARIFIN Sama saja hari ini seperti hari-hari lain!
SLAMET Kurasa tidak!
ARIFIN Kau sudah kehabisan bahan untuk melucu.
SLAMET Aku sama sekali tidak….
ARIFIN (Memotong) Kau fakir aku senang kau permainkan?
SLAMET (Dengan Tangan Ke Hatinya) Arifin, sahabatku, betapa aku akan tega berbuat demikian…
ARIFIN (Memotong) Ya , Slamet sahabatku, ternyata kau tega berbuat demikian….
SLAMET Sungguh, aku tidak mau dan tidak akan berbuat begitu terhadap kau.
ARIFIN Buktinya, baru saja kau lakukan.
SLAMET Kau betul-betul percaya bahwa….
ARIFIN (Memotong) Aku percaya pada kenyataan.
SLAMET Aku jamin…
ARIFIN (Memotong) Bahwa kau mempermainkan aku.
SLAMET Ada kalanya kau ini kepala batu.
ARIFIN Sekarang tambah kau menganggap aku kerbau. Sadarkah kau bahwa kau sangat menghina aku?
SLAMET Jika saja kau mengerti jalan fikiranku.
ARIFIN Kau tidak punya fikiran
SLAMET Orang tidak punya fikiran tidak dapat mengutarakan hal-hal seperti kau tuduhkan tadi.
ARIFIN Ada hal-hal yang bisa timbul dalam pikiran orang-orang tanpa otak.
SLAMET Tidak mungkin?
ARIFIN Siapa bilang tidak mungkin?
SLAMET Aku bilang tidak mungkin.
ARIFIN Jelaskan dulu padaku mengapa tidak mungkin. Rupanya kau maha mampu menjelaskan segala sesuatu.
SLAMET Aku tidak pernah menganggap diriku maha mampu.
ARIFIN Tapi mengapa kau berlagak demikian? Dan aku ulangi pertanyaanku, mengapa kaumenghina aku?
SLAMET Aku tidak menghina kau. Kaumeleset. Kau tahu bahwa aku menaruh hormat padamu.
ARIFIN Lalu kenapa kau menentang aku, menganggap tidak berbahaya tanpa fakta bahwa seekor badak mengamuk di pusat kota –terutama lagi ini hari minggu ketika banyak anak-anak sedang jalan-jalan, juga orang dewasa…
SLAMET Orang-orang ada yang sedang di gereja, ada yang itirahat di rumah. Jadi tidak semuanya terancam bahaya.
ARIFIN (Memotong) Aku belum selesai bicara – ditambah sekarang orang-orang sedang belanja ke paar.
SLAMET Aku tidak pernah mengatakan bahwa badak yang berkeliaran di kota tidak berbahaya. Soalnya secara pribadi bahaya tersebut tak pernah terpikirkan olehku. Belum terlintas dalam pikiranku.
ARIFIN Kapan kau pernah memikirkan sesuatu?
SLAMET Aku memang setuju dengan kau. Tidak baik kalau seekor badak bisa berkeliaran seenaknya.
ARIFIN Harus dilarang!
SLAMET Akur, harus dilarang! Terlalu gila-gilaan memang! Meskipun begitu tidak ada alasannya bagi kau dan aku untuk bertengkar. Mengapa kau mesti menyerang aku hanya berhubung seekor binatang keparat yang berkulit tebal kebetulan lewat di sini. Binatang goblog berkaki empat yang tak perlu dihebohkan. Dan dengan sendirinya binatang yang bua, dan jelasnya sekarang sudah tak nampak, berarti sudah tidak ada. Apa gunanya mempersoalkan binatang yang tidak ada. Lebih baik kita bicara tentang hal-hal lain Arifin, aku mohon padamu…
(Ia Menguap)
masih banyak bahan yangbisa dijadikan pembicaraan
(Ia Mengangkat Gelasnya)
Mari minum dulu…
SARMUD DAN TUAN TUA MUNCUL KEMBALI DARI KIRI. MEREKA DUDUK DI SALAH SATU MEJA SAMBIL TERUS BERCAKAP-CAKAP. DISEBELAH BELAKANG KANAN SLAMET DAN ARIFIN
ARIFIN Jangan sentuh gelas itu! Kau kularang minum
ARIFIN SENDIRI DALAM SATU TEGUK MENGHABISKAN MINUMANNYA, LALU MELETAKKAN KEMABLI GELASNYA DI MEJA, SLAMET TETAP MEMEGANG GELASNYA, TIDAK MELETAKKANNYA, TAPI JUGA TIDAK BERANI MEMINUMNYA
SLAMET (Agak Malu-Malu) Sayang kalau membayar tanpa diminum
SIAP MINUM
ARIFIN Letakkan kembali gelasmu!
SLAMET Baiklah.
IA MELETAKKAN KEMBALI GELANYA. SAAT ITU DEWI LEWAT. IA SEORANG SEKRETARIS MUDA. IA MELEWATI PENTAS DARI KANAN KE KIRI, KETIKA MELIHATNYA, SLAMET TIBA-TIBA BERDIRI DAN DENGAN CANGGUNGNYA MENYENTUH MEJA. GELAS TERGULING DAN MEMBASAHI CELANA ARIFIN
Ooo… itu Dewi!
ARIFIN Matamu ke mana? Lihat apa yang kau lakukan!
SLAMET Itu Dewi.. Maafkan aku
(Ia Sembunyi Dari Dewi)
Aku tak mau ia melihat akau dalam keadaan seperti ini.
ARIFIN Tingkah lakumu tak dapat diampuni, tak dapat diampuni!
(Memandang Ke Arah Dewi Yangbaru Saja Menghilang Dari Panggung)
Mengapa kau mesti takut pada gadis itu?
SLAMET Aduh , jangan bikin rusuh, jangan bikin rusuh!
ARIFIN Ia tidak menakutkan untuk dilihat!
SLAMET (Kembali Dekat Ke Arifin, Setelah Dewi Cukup Jauh) Aku sekali lagi mesti meminta maaf padamu karena…..
ARIFIN Lihat sendiri akibatnya kalau terlalu banyak minum, kau tidak kuasai lagi tingkah lakumu. Tanganmu sudah tidak bertenaga lai, betul-betul pemabuk yang reyot. Kau menggali sendiri kuburmu kawan, kau menghancurkan dirimu.
SLAMET Sebetulnya aku tidak suka minuman keras. Tapi kalau sekali-kali aku tidak minum, aku tidak pua. Aku seakan-akan jadi takut, maka akuminum supaya tidak merasa takut.
ARIFIN Takut apa?
SLAMET Entahlah. Peraaan sengsara yang tak dapat kugambarkan padamu. Aku merasa tidak betah dalam kehidupan, di antara manuia sesama, dan begitulah, aku minum. Minuman menenangkan aku dan menentramkan aku, sehingga akupun dapat melupakan…
ARIFIN Kau mau lari dari dirimu sendiri?
SLAMET Aku begitu lelah, sudah bertahun-tahun aku lelah. Sungguh berat memikul tubuhku ini.
ARIFIN Itulah gangguan syaraf berkat alcohol, penyakit murung seorang pemabuk…
SLAMET (Melanjutkan) Aku selalu sadar akan tubuhku yang terasa seolah-olah dari timah. Seperti aku mendukung-dukung orang lain di atas punggungku, aku seolah-olah tidak bisa menyesuaikan diri dengan tubuhku ini. Aku bahkan tidak tahu apakah aku betul-betul aku. Baru setelah aku minum sedikit, timah itu terlepas dan aku kenali diriku. Aku menjadi aku kembali.
ARIFIN Ocehan melulu! PAndanglah aku Slamet. Berat badanku jauh lebih dari kau. Tapi aku merasa ringan, ringan seperti bulu burung.
IA MENGIBASKAN LENGANNYA SEPERTI BURUNG TERBANG. PADA SAAT ITU TUAN SARMUD YANG ASYIK DALAM PERCAKAPAN MAJU LAGI KE DEPAN, LEWAT DEKAT ARIFIN. TANGAN ARIFIN TANPA SENGAJA MEMUKUL TUAN YANG MENYEBABKAN DIA TERHUYUNG KE DALAM PELUKAN SARMUD
SARMUD Sebuah contoh dari silogisme
(Ia Terhuyung)
Ooohh!
TUAN (Kepada Arifin) Awas !
(Kepada Sarmud)
Maafkan…
ARIFIN (Kepada Tuan) Maafkan
SARMUD (Kepada Tuan) Tak apa-apa.
TUAN (Kepada Arifin) Tak apa-apa.
TUAN DANSARMUD DUDUK KEMBALI LEBIH DEKAT SEDIKIT DI BELAKANG KANAN ARIFIN DAN SLAMET
SLAMET Kau orang kuat.
ARIFIN Ya, aku kuat. Aku kuat dengan berbagai alasan. Pertama-tama aku kuat karena badanku sehat. Kedua, aku kuat karena mentalku kuat. Aku juga kuat karena aku tidak digerogoti oleh minuman keras. Aku bukan bermaksud menyinggung peraaanmu, slamet, temanku… Tak perlu rasanya aku mengabarkan padamu bahwa minuman keraslah yang membebani kau begitu berat
SARMUD (Kepada Tuan) Kuberi contoh dari silogisme. Kucing berkaki empat. Tompel dan cicak keduanya berkaki empat. Jadi tompel dan cicak kucing.
TUAN Anjingku berkaki empat.
SARMUD Jadi kucing juga.
SLAMET (Kepada Arifin) Aku sudah hampir tidak sanggup lagi untuk meneruskan hidup. Mungkin aku tiak ingin hidup lagi.
TUAN (Setelah Merenung) Kalau begitu secara logika anjingku itu kucing?
SARMUD Secara logika, ya. Tapi sebaliknyapun benar.
SLAMET Kesepian sangat menekan aku. Begitu pula kehadiran banyak orang menekan aku.
ARIFIN Ucapan-ucapanmu saling bertentangan. Apa yang menekan kau? Kesepian atau kehadiran banyak orang? Kau menganggap dirimu seorang pemikir, tapi buktinya kau bicara tidak logis.
TUAN (KEPADA SARMUD) Logika rupanya sesuatu yang indah.
SARMUD Selama tidak disalah gunakan.
SLAMET Kehidupan melulu urusan-urusan yang abnormal.
ARIFIN Sebaliknya. Tak ada yang lebih wajar daripada kehidupan. Dan buktinya manusia melanjutkan kehidupan.
SLAMET Jumalh orang mati lebih banyak dari yang hidup. Jumlah tersebut terus meningkat. Yang hidup makin lama makin berkurang.
ARIFIN Yang sudah mati termasuk tidak ada, dan itu tidak bisa kau sangkal. Ha ha ha ! Apakah kau juga merasa tertekan oleh yang mati? Betapa mungkin kau tertekan oleh sesuatu yang tidak ada?
SLAMET Kadang-kadang aku ini bertanya apakah aku ini ada?
ARIFIN Slamet, temanku yang baik, Kau tidak ada karena kau tidak mau berpikir. Pakailah pikiranmu dank au pasti ada.
SARMUD Sebuah silogisme lagi. Semua kucing mesti mati. Seorang filsuf mati. Jadi filsuf adalah kucing.
TUAN Dan memang kakinya empat. Aku punya kucing yang namanya filsup.
SARMUD Nah, terbukti….
ARIFIN Pada daarnya kau hanya menggertak. Pembohong besar. Katamu kehidupan sudah tidak menarik bagimu. Padahal ada seorang oleh siapa kau merasa tertarik.
SLAMET Siapa?
ARIFIN Teman wanita sekantor yang tadi baru saja lewat. Aku tahu kau senang padanya.
TUAN Jadi seorang filsuf itu seekor kucing?
SARMUD Logika telah membentangkan faktanya kepada kita.
ARIFIN Kau tidak mau dia melihat kau dalam keadaan seperti sekarang
SLAMET MENGGERAKKAN TANGANNYA
Itu membuktikan bahwa kau bukan tidak peduli terhadap segala sesuatu. Tapi bagaimana kau bisa mengharapkan Dewi akan jatuh cinta pada seorang pemabuk?
SARMUD Mari kita kembali kepada kucing-kucing kita.
TUAN Kupasang telingaku.
SLAMET Soalnya, aku menduga matanya sudah mengincar-incar orang lain.
ARIFIN Masa, siapa?
SLAMET Darmawan, rekanku sekantor. Ia sudah punya gelar SH, dan masa depannya terjamin dalam perusahaan kami – dan dalam hati Dewi. Aku tidak mungkin berharap akan menyainginya.
SARMUD Kucing bernama tompel berkaki empat.
TUAN Tahu dari mana?
SARMUD Itu atelah ditentukan oleh perumpamaan kita.
SLAMET Majikan sangat mengharapkan dia. Sedangkan aku tidak mempunyai jaminan di hari depan. Tak punya kepandaian apa-apa, kesempatan tertutup sama sekali bagiku.
TUAN Begitulah, dalam perumpamaan tadi.
ARIFIN Jadi kau mengalah begitu saja.
SLAMET Habis mau apa?
SARMUD Cicarpun berkaki empat. Jadi berapa kaki yang dimiliki cicar serta tompel?
TUAN Masing-masing atau bersama?
ARIFIN Penghidupan adalah pergulatan. Kau pengecut kalau tak berani berkelahi!
SARMUD Masing-masing atau bersama-sama tergantuing bagaimana melihatnya.
SLAMET Aku dapat berbuat apa? Aku tak punya apa-apa untuk pembelaan diri dalam pergulatan.
ARIFIN Kau harus tempa senjata-senjatamu kawan.
TUAN (Setelah Berfikir Berat) Delapan…. Delapan kaki.
SARMUD Ternyata logika melibat ilmu hitung.
TUAN Yang sudah jelas segi-seginya banyak!
SLAMET Dimana dapat kuperoleh senjata-senjataku ?
SARMUD Logika tidak mengenal batas-batas.
ARIFIN Dalam dirimu sendiri. Dengan kemauan sendiri.
SLAMET Senjata-senjata apa?
SARMUD Akan kuuraikan.
ARIFIN Senjata kesabaran dan kebudayaan, senjata-senjata batin
(Slamet Menguap).
Pupuklah dirimu menjadi seorang cendikia yangtajam dan gemilang. Penuhilah syarat-syarat yang tertinggi.
SARMUD Kalau kuambil dua kaki dari kucing-kucing ini, berapakah yang tinggal pada masing-masing?
TUAN Itu tidak mudah.
SARMUD Justru mudah sekali
TUAN Untuk kau mudah, tapi tidak mudah untukku.
SLAMET (Kepada Arifin) Untuk kau mudah, tapi tidak mudah untukku.
SARMUD Ayo pikirkan dulu, ini pengji otak. Pusatkan segala pikiran!
ARIFIN Ayo tunjukkan dulu, ini penguji kemauan. Pusatkan segala tekad!
TUAN Serasa aku tidak tahu.
SLAMET Sungguh-sungguh rasanya aku tidak yahu.
SARMUD Mesti kujelaskan semuanya?
ARIFIN Mestikah kujelaskan semuanya?
SARMUD Ambil secarik kertas dan hitunglah. Kalau enam kaki diambil dari dua kucing itu
TUAN Sebentar…
(IA MENGHITUNG PADA SECARIK KERTAS YANG DIKELUARKAN DARI AKUNYA)
ARIFIN Camkanlah petunjuk-petunjukku. Berpakaianlah yang rapih, cukurlah janggutmu setiap hari,pakailah selalu baju yangbersih.
SLAMET Harga cuci pakaian mahal sekali.
ARIFIN Batailah minuman keras. Kalau kau hadir di depan umum, sepatumu semir yang mengkilat. Cari tukang jahit yang baik untuk potongan bajumu. Seing-seringlah berdasi seperti aku. Belilah topi.
(SETIAP DISEBUTKAN BENDA-BENDA ITU, IA MENUNJUK DENGAN KEPUASAN PADA YANG DIPAKAINYA SENDIRI)
TUAN Dapat dijawab dengan beberapa kemungkinan.
SARMUD Coba.
SLAMET Sesudah itu apa? Coba…
SARMUD Aku mau dengar.
SLAMET Aku mau dengar.
ARIFIN Segala sesuatunya padamu memang serba tidak berani, tapi itu bukan berarti kau tidak punya bakat.
SLAMET Bakat? Aku?
ARIFIN Gunakanlah. Tempatkanlah dirimu di tengah-tengah perhatian umum. Ikutilah selalu perkembangan kebudayaan dan kesusasteraan jaman kita.
TUAN Kemungkinan yang satu: satu kucing kakinya empat, sehingga yang lain berkaki dua.
SLAMET Aku hampir tak punya waktu bebas.
SARMUD Bakat ada pada tuan. Tinggal perlu latihan.
ARIFIN Ambil keuntungan yang dapat diambil dari waktu bebas yang seadanya. Jangan biarkan dirimu terombang ambing tanpa tujuan.
TUAN Sayang akudulu tak pernah mendapat kesempatan. Aku hanya bekas ambtenar.
SARMUD Setiap waktu bisa digunakan untuk belajar.
ARIFIN Waktu bisa kita ciptakan.
SLAMET Sudah terlanjur.
TUAN Agaknya aku sudah terlalu tua.
ARIFIN Menganggap terlambat adalah salah.
SARMUD Menganggap terlambat adalah salah.
ARIFIN Kau bekerja 8 jam setiap hari, seperti aku dan setiap orang. Tapi kau bebas pada hari minggu, di waktu malam dan selama 2 kali hari cuti tahunan. Itu lebih dari cukup, asal pakai sistim tertentu.
SARMUD Lalu bagaimana tentang jawaban-jawaban yang lainnya? Coba sistimatis sedikit, sistimatis!
ARIFIN Begini, daripada kau minum dan meraa sakit-sakit. Tidakkah lebih baik kau merasa segar dan bersemangat, juga di waktu kerja? Dan kau bisa manfaatkan waktumu yang bebas secara konstruktif.
SLAMET Umpamanya?
ARIFIN Kunjungilah museum, pameran. Bacalah majalah-majalah bermutu, hadirilah ceramah-ceramah. Pasti kejengkelan-kejengkelan akan lenyap, budimu akan ditingkatkan. Dalam empat minggu kau bisa jadi budaywan.
SLAMET Memang.
TUAN Kucing yang satu bisa berkaki lima…
ARIFIN Nah kau mudah mulai berfikir sendiri! 33
TUAN Dengan kucing yang lain berkaki tunggal. Tapi apakah maih bisa dinamakan kucing?
SARMUD Kenapa tidak?
ARIFIN Daripada kau hambur-hamburkan uang jajan pada bir, bukankah lebih bermanfaat kalau kau belikan karcis untuk pertunjukan drama yang baik? Apakah kau sudah tahu tentang mereka yang merintis seni teater? Pernahkah kau menyaksikan drama-drama karya Ionesco?
SLAMET Sayang sekali tidak, aku hanya dengar dari omongan orang.
TUAN Dengan mengambil dua dari delapan kaki yang dimiliki oleh dua kucing…
ARIFIN Saat ini salah satu karyanya sedang dipanggungkan. Jangan lalui kesempatan baik.
TUAN Kucing yang satu bia berkaki enam.
SLAMET Mudah-mudahan suatu perkenalan yang berkesn dengan aliran- aliran kesenian jaman kita.
TUAN Maka kucing yang lain sama sekali tidak berkaki.
SLAMET Kuakui kau yang benar. Aku akan berusaha sekeras-kerasnya agar mendapat perhatian umum, seperti kau anjurkan tadi.
SARMUD Dengan demikian ada satu kucing yang mempunyai kedudukan istimewa.
SLAMET Pastilah aku berjanji.
ARIFIN Yang penting, kau berjanjilah pada dirimu sendiri.
TUAN Dan satu kucing lagi yang malang nasibnya sebab tidak dikaruniai kaki barang satupun.
SLAMET Dengan hikmat aku berjanji pada diriku, dan aku tidak boleh melanggar kata-kata sendiri.
SARMUD Begitu tidaklah adil, maka juga tidak logis.
SLAMET Aku takkan minum-minum lagi, melainkan aku kembangkan budiku. Aku sudah meraa lebih baik. Kepalaku sudah terasa bening.
ARIFIN Nah, itu!
TUAN Tidak logis?
SLAMET Sore ini aku ke pameran. Dan aku akan membeli dua karcis untuk pertunjukan drama malam ini. Kau bersedia ikut dengan aku?
SARMUD Sebab logika berarti keadilan.
ARIFIN Kau harus bertahan. Junjunglah tekadmu dengan baik.
TUAN Aku mengerti. Keadilan……
SLAMET Aku berjanji padamu, aku berjanji pada diri sendiri. Kau ikut dengan aku ke pameran sore ini?
ARIFIN Sore ini aku mau itirahat. Sudah kutetapkan dalam acara hari ini.
TUAN Keadilan adalah sebuah aspek pula dari logika.
SLAMET Tapi kau bersedia ikut nonton drama dengan aku malam ini?
ARIFIN Malam ini aku berhalangan.
SARMUD Caramu berfikir sudah tambah bening.
ARIFIN Dengan sepenuh hati aku berharap kau menjunjung tekadmu yang baik. Sayang malam ini aku ada janji dengan beberapa teman untuk minum-minum sedikit.
SLAMET Minum-minum?
TUAN Jelasnya, kucing tanpa kaki barang satupun…
ARIFIN Aku sudah berjanji. Aku tiodak pernah melanggar janji.
TUAN Tidak akan mampu lari cepat untuk menangkap tikus.
SLAMET Ha, sekarang kau membari contoh jelek padaku! Kau mau pergi minum-minum.
SARMUD Kau sudah memperlihatkan kemajuan dalam logika.
MULAI TERDENGAR LAGI SUARA BINATANG LARI, TEROMPETNYA, DERAP KAKI, BUNYI ITU DATANG BERLAWANAN DENGAN ARAH YANG TADI, DARI BELAKANG PENTA KE ARAH DEPAN DI SEBELAH KIRI
ARIFIN (Marah) Pokoknya aku bukan pecandu minuman keras. Tidak sama dengan kau, Pada kau… kau… pendek kata, sama sekali tidak sama!
SLAMET Mengapa tidak sama?
ARIFIN (Berteriak Mengatasi Bunyi Binatang Dari Belakang) Aku bulan pemabuk, bukan!
SARMUD (Keras) Walaupun tidak berkaki, kucing tetap menangkap tikus. Itulah tabiatnya.
SLAMET (Berseru Sekeras-Keranya) Aku tidak mengatakan bahwa kau pemabuk. Tapi dalam hal ini, jika aku bisa pemabuk, mengapa kau tidak akan hadapi bahaya yang sama?
TUAN (Keras) Apakah tabiat kucing?
ARIFIN Karena dalam segala sesuatu ada keseimbangan. Aku orang yang seimbang, tidak seperti kau!
SARMUD (Memasang Tangannya Ke Telinga) Apa kata kau?
BUNYI YANG MENDERU MEMBENAMKAN UCAPAN KEEMPAT PERAN
SLAMET (Memasang Tangannya Ke Telinga) Apa tentang aku, apa? Kau mengatakan apa?
ARIFIN (Berteriak) Aku mengatakan….
TUAN (Berteriak) Aku mengatakan….
ARIFIN (Tiba-Tiba Menyadari Bunyi Yang Samngat Dekat Itu) Ada apa?
SARMUD Terjadi apa?
ARIFIN (Berdiri, Kursinya Terlempar) Hei, ada badak!
TUAN (Sama) Hei, ada badak!
SLAMET (Tetap Duduk , Tapi Sekarang Memperhatikan) Badak! Arah sebaliknya.
PELAYAN (Membawa Baki Dengan Gelas-Gelas) Apa itu? Hei ada badak!
BAKI JATUH DAN GELAS-GELAS PECAH
TUKANG BAKMI (Keluar) Apa yang terjadi?
PELAYAN Badak!
SARMUD Badak! Kabur dengan kencangnya di pinggir sebrang jalan.
PEMILIK (Keluar) Hei, ada badak!
ARIFIN Hei, ada badak!
ISTERI (Menampakkan Kepala Dari Jendela Atas Toko) Hei, ada badak!
TUKANG BAKMI Bukan alasan untu memecahkan gelas-gelas.
ARIFIN Ia lari melurus dalam arahnya, menyerempet etalase-etalase toko.
DEWI (Muncul Dari Kiri) Oooo, ada badak!
SLAMET Ooo Dewi…
HURU-HARA, ORANG-ORANG SIMPANG SIUR, DIIRINGI Oooo DAN Aaaaa SEPERTI TADI
PELAYAN Bayangkan…!
ARIFIN & SLAMET Bayangkan…!
TERDENGAR MEONG KUCING YANG MENYAYAT, LALU TERIAKAN WANITA YANG MENYAYAT
SEMUA Aduh!
PADA SAAT ITU BUNYI SUDAH MENJAUH LAGI. NYONYA MUNCUL TANPA TAS BELANJA, TAPI MEMEGANG BANGKAI KUCING YANG BERLUMURAN DARAH
NYONYA (Meratap) Kucingku tergilas badak, kucingku tergilas badak…
PELAYAN Kucingnya tergilas badak.
PEMILIK TOKO, ISTERINYA DI JENDELA, TUAN TUA, DEWI DAN SARJANA MUDA MENGELILINGI NYONYA, LALU BERKATA
SEMUA Alangkah menyedihkan, kasihan, sungguh kasihan…
TUAN Kasihan, sungguh kasihan…
DEWI & PELAYAN Kasihan, sungguh kasihan….
ISTERI, TUAN DAN SARMUD Kasihan, sungguh kasihan…
TUKANG BAKMI (Kepada Pelayan, Menunjuk Gelas Pecah Dan Kursi Yang Terguling) Jangan berdiri dan diam saja. Bereskan dan bersihkan!
ARIFIN DAN SLAMET MENDEKATI NYONYA YANG MERATAP SAMBIL MEMEGANG KUCINGNYA
PELAYAN (Mulai Membereskan Kursi Dan Gelas-Gelas Yang Pecah Sambil Menoleh Pada Nyonya) Aduh, kasihan…
TUKANG BAKMI (Menunjuk Pecahan Gelas Yang Tak Terlihat Oleh Pelayan) Sebelah sana, sebelah sana…!
TUAN (Kepada Pemilik Toko) Nah, bagaimana pendapat saudara?
SLAMET (Kepada Nyonya) Jangan menangis begitu. Aku tak tahan mendengarnya.
DEWI (Kepada Slamet) Apa kak Slamet juga menyaksikan? Melihat yang terjadi tadi?
SLAMET Selamat pagi dik Dewi, maafkan, aku belum cukur jenggot…
TUKANG BAKMI (Mengawasi Pembersihan, Lalu Menoleh Pada Nyonya) Kasihan, benar-benar kasihan….
PELAYAN (Terus Membersihkan Pecahan Gelas, Membelakangi Nyonya) Kasihan, benar-benar kasihan…
SEMUA PERNYATAAN INI DIUCAPKAN DALAM URUTAN CEPAT DAN HAMPIR BERSAMAAN
ISTERI (Di Jendela) Ini sudah keterlaluan!
ARIFIN Ini sudah keterlaluan!
NYONYA (meratap, membuai kucingnya) Pusiku mungil, kucingku mungil…
TUAN Apa daya , nyonya. Kucingpun kelak mesti mati.
SARMUD Jangan diterima terlalu berat, nyonya. Semua kucing bisa mati. Itu nasib yang mesti kita terima.
NYONYA Kucingku, kucingku mungil…
TUKANG BAKMI (kepada pelayan yang telah mengumpulkan Beling ke dalam lapnya) Buang saja dalam tempat sampah
(Ia membereskan kursi)
Kau berutang enam ratus rupiah.
PELAYAN (MASUK) Uang saja yang dipikirkan!
ISTERI (dari jendela, kepada nyonya) Nyonya tak usah terlalu sedih!
TUAN Nyonya tak usah terlalu sedih.
TUKANG BAKMI Kerugian kupotong dari gajimu.
SLAMET BERUSAHA MENYEMBUNYIKAN DIRI DARI DEWI. YANG LAIN BERGERAK KE TENGAH PANGGUNG DAN BERKELOMPOK DI SITU
SEMUA Bayangkan!
ISTERI Setidak-tidaknya pengalaman seperti ini sangat memukul kita!
NYONYA Kucingku mungil, kucingku mungil!
DEWI Setidaknya pengalaman seperti ini memang sangat memukul kita.
TUAN (membimbing nyonya kesebuah meja diikuti Oleh yang lain) Duduk dulu di sini, nyonya.
ARIFIN (kepada tuan) Nah, bagaimana menurut pendapat tuan?
PEMILIK (kepada sarmud) Nah, bagaimana menurut pendapat saudara?
ISTERI (dari jendela, kepada dewi) Nah, bagaimana menurut pendapat nona?
TUKANG BAKMI (kepada pelayan yang telah kembali ke Panggung) Ambilkan air segela untuk nyonya ini!
TUAN Duduklah dulu, nyonya!
ARIFIN Kasihan Nyonya ini.
ISTERI Kasihan kucing itu.
SLAMET (Kepada Pelayan) Lebih baik memberi nyonya ini segelas arak.
TUKANG BAKMI Arak! Saudara ini yang membayar!
MENUNJUK SLAMET
PELAYAN (Masuk) Baik, segelas arak!
NYONYA (Tersedu) Saya tak uka arak, tak suka arak!
PEMILIK Tadi binatang itu sudah satu kali lewat tokoku.
ARIFIN (Kepada Pemilik Toko) Ini bukan binatang yang sama.
PEMILIK Mungkin saja sama.
DEWI Apa sudah lewat dua kali?
TUKANG BAKMI Kupikir juga binatang yang sama.
ARIFIN Tidak, bukan badak yang sama. Yang pertama-tama lewat tadi bercula dua di atas sungutnya, ialah badak jenis asia; yang baru lewat bercula tunggal, ialah badak jenis Afrika.
PELAYAN MUNCUL DENGAN SEGELA ARAK DAN MEMBAANYA KE NYONYA
TUAN Ini arak sedikit untuk menguatkan nyonya.
NYONYA (Menangis) Tidak… aaa
SLAMET (Mendongkol, Kepada Arifin) Omong kosong… Dari mana kau tahu tentang cula-cula itu? Begitu cepat binatang itu lewat sehingga kita tak dapat melihatnya dengan jelas.
DEWI (Kepada Nyonya) Percayalah, arak ini baik untuk nyonya.
TUAN (Kepada Slamet) Betul sekali. lewat dengan kencangnya.
TUKANG BAKMI Cicip dulu sedikit, enak…
SLAMET Dari mana waktumu untuk menghitung culanya.
ISTERI (Kepada Pelayan) Pakakan saja untuk minum.
SLAMET Ditambah awan debu yang meliputi binatang itu…
DEWI Minumlah…
TUAN Seteguk saja, nyonya. Beranikanlah
PELAYAN MENYORONGKAN GELAS KE MULUT NYONYA YANG MULA-MULA MENOLAK, TETAPI KEMUDIAN MEMINUMNYA SAMPAI HABIS
PELAYAN Nah, beres!
ISTERI & DEWI Nah, begitu.
ARIFIN Aku tidak perlu meraba-raba jalanku dalam kabut. Aku mampu menghitung cepat. Otakku terang benderang!
TUAN Sekarang merasa lebih baik?
SLAMET Tetapi kepalanya merunduk ke bawah.
TUKANG BAKMI Enak rasanya, betul tidak.?
ARIFIN Justru itu, jadi lebih nampak.
NYONYA Kucingku mungil.
SLAMET Omong kosong melulu!
ISTERI Saya punya kucing lain. Kalu nyonya mau, boleh ambil.
ARIFIN Apa katamu? Kau menuduh aku berbicara omong kosong?
NYONYA Tak bisa ada gantinya
IA MENANGIS MEMBUAI KUCINGNYA
SLAMET Ya, omong kosong! Bohong tanpa tedeng aling-aling!
TUKANG BAKMI Kita harus sabar menerima.
ARIFIN Seumur hidupku tak pernah berbicara kosong!
TUAN (Kepada Nyonya) Cobalah kita melihatnya dari falafah kehidupan.
SLAMET Kau hanya pembual yang pura-pura. Sok segala rupa!
TUKANG BAKMI (Kepada Slamet Dan Arifin) Saudara-saudara, sudahlah.
SLAMET Sok! Padahal ia tidak tahu betul faktanya, bahwa sebenarnya badak asia yang bercula tunggal di atas sungutnya, dan jenis Afrika yang dua culanya
PERAN-PERAN LAIN MENINGGALKAN NYONYA DAN MENGERUMUNI ARIFIN DAN SLAMET YANG SEDANG BERTENGKAR HABI-HABISAN
ARIFIN Kau yang salah. Justru sebaliknya!
NYONYA (Tersendiri) Ia begitu lucu…
SLAMET Berani bertaruh?
PELAYAN Mereka mau taruhan!
DEWI Jangan meluap, kak Slamet!
ARIFIN Aku tidak sudi bertaruh dengan kau. Paling-paling kau sendiri yang bercula dua di atas kepalamu. Dasar mongol aia lu!
PELAYAN Ramai….
ISTERI (Pada Suami) Mereka berkelahi betulan!
PEMILIK Tidak, mereka Cuma bertaruh.
TUKANG BAKMI (Kepada Arifin Dan Slamet) Mohon jangan bikin rebut di sini!
TUAN Nanti dulu! Badak mana yangbercula tunggal?
(Kepada Pemilik Toko)
Bung sebagai pedagang barangkali tahu.
SLAMET (Kepada Arifin) Di atas kepala namanya tanduk. Dan aku tidak bercula atau bertanduk.
PEMILIK (Kepada Tuan) Mana aku tahu, aku bukan pedagang badak.
ARIFIN Kau bercula di atas kepala.!
SLAMET Lagi pula kau sendiri orang Asia. Dan bagaimanapun juga orang Mongol adalah manusia seperti setiap manusia yang lain.
PELAYAN Ya , kita semua berbangsa Asia.
TUAN (Kepada Tukang Bakmi) Bagus!
TUKANG BAKMI (Kepada Pelayan) Jangan turut campur urusan orang!
DEWI (Kepada Tukang Bakmi) Apa salahnya? Kita adalah sesama manusia
(SELAMA ITU, NYONYA TERUS SAJA MERATAP)
NYONYA Ia begitu baik, tak beda dari kita.
ARIFIN (Lupa Diri) Kulit mereka kuning, tahu!
(Sarmud Berada Di Antara Kelompok Yang Berselisih Dan Nyonya, Mengikuti Perselisihan Dengan Cermat Tanpa Mencampuri)
Selamat siang tuan-tuan
(Kepada Slamet)
Kau jelas tidak termasuk.
NYONYA Ia begitu setia kepada kita…
TERSEDU
DEWI Dengar dulu sebentar kak Slamet , bung Arifin….
TUAN Beberapa di antara teman-temanku dapat dikata berkulit kuning. 45
TUKANG BAKMI Aku berkulit kuning.
PELAYAN (Kepada Isteri) Aku pernah punya pacar berkulit kuning.
NYONYA Saya mendapatkannya ketika ia masih kecil…
ARIFIN (Masih Meluap) Kulit mereka kuning, kataku. Kuning kunyit!
SLAMET Yang nyata kau sendiri merah cabe!
ISTERI Ramai….
TUKANG BAKMI Kok jadi betulan!
NYONYA Ia tidak jorok, kalau makan piringnya bersih.
ARIFIN Kalau kau sudah mempermalukan aku begitu, aku tidak mau melihat mukamu lagi. Aku membuang waktu dengan percuma meladeni orang sinting seperti kau.
NYONYA Kalau dipanggil ia selalu datang.
(ARIFIN PERGI KE KANAN DENGAN CEPAT DAN MARAH, TAPI MEMBALIK SESAAT SEBELUM MENGHILANG)
TUAN (Kepada Pemilik) Orang Asia ada yang berkulit putih, ada yang hitam, kebiru-biruan dan coklat seperti kita.
ARIFIN Dasar pemabuk!
(SEMUA ORANG MELIHAT KEPADA SLAMET DENGAN KAWATIR)
SLAMET Kau pikir aku terima itu, ha?
SEMUA (Melihat Dengan Kawatir Ke Arah Arifin Menghilang) Aih, aih…!
NYONYA Kadang-kadang ia seperti bisa bicara – Ia bisa bicara.
DEWI Sebetulnya kak Slamet tak usah membuat dia marah.
SLAMET Apa salahku?
TUKANG BAKMI Carikan peti untuk korban bintang itu.
TUAN (Kepada Slamet) Menurut pendapatku, kau yang benar. Badak Asia bercula dua dan jenis Afrika bercula satu.
PEMILIK Saudara ini justru mengatakan sebaliknya.
DEWI Kalian dua-duanya bersalah!
TUAN Meski begitu kau masih benar.
PELAYAN Nyonya, mari ikut ke dalam. Kita carikan kotak kosong.
NYONYA (Cemas Tersedu-Sedu) Jangan, tidak boleh…!
PEMILIK Kalau aku boleh mengemukakan pendapat, menurut aku tuan Arifin tadi yang benar.
DEWI (Membalik Pada Nyonya) Nyonya, jangan begitu! (DEWI DAN PELAYAN MENUNTUN NYONYA MENUJU PINTU)
TUAN (Kepada Dewi) Barangkali saya perlu ikut?
PEMILIK Badak Asia bercula satu dan badak Afrika bercula dua. Tapi sebaliknyapun benar.
DEWI (Kepada Tuan) Tidak, biarlah kami saja
DEWI, PELAYAN DAN NYONYA YANG TAK TERHIBURKAN MASUK RUMAH
ISTERI (Kepada Suaminya) Ah, kau mengang selalu lain dari pada yang lain.
SLAMET (Kesamping) Dewi benar. Aku tak usah membantah dengan Arifin.
TUKANG BAKMI (Kepada Isteri Pemilik Toko) Suamimu benar. Badak Asia bercula dua dan yang satu lagi, dari jenis Afrika, bercula dua, dan sebaliknya.
SLAMET (Kesamping) Ia tidak tahan dibantah. Perbedaan paham yang kecilpun sudah membuat dia marah.
TUAN (Kepada Tukang Bakmi) Kau keliru, kawan.
TUKANG BAKMI Maaf, aku rasa, akulah yang benar.
SLAMET Adat pemarah itulah kelemahannya.
ISTERI (Kepada Tuan, Tukang Bakmi Dan Suaminya) Siapa tahu dua-duanya sama saja.
SLAMET Dalam dasar jiwanya aku tahu ia berhati emas. Ia sering berbuat baik untukku.
TUKANG BAKMI (Kepada Isteri) Kalau yang satu bercula dua, maka yang satu lagi Cuma bercula satu.
SLAMET Menyesal aku tadi kurang prihatin. Siapa suruh dia berkepala batu begitu? Tak ada maksudku mendesak dia.
(Kepada Yang Lain)
Ia memang paling senang melontarkan keterangan-keterangan yang dikarangnya. Selalu ingin menggemparkan orang dengan kepintarannya. Ia tak pernah mau mengaku dirinya salah.
TUAN Apa kau punya bukti-buktinya?
SLAMET Bukti dari apa?
TUAN Dari keterangan seperti yang tadi kau berikan, yang telah menyebabkan selisih tidak nyaman itu dengan temanmu.
PEMILIK Ya, buktinya ada?
TUAN Dari mana kau tahu bahwa dari dua jenis badak, satu bercula satu dan yang lainnya bercula dua? Manakah yang satunya, manakah yang lainnya?
ISTERI Sama saja seperti kita. Ia tidak tahu!
SLAMET Terlebih dahulu, kita belum tahu apakah ada dua badak. Aku sendiri percaya bahwa hanya ada satu.
TUKANG BAKMI Sekiranya tadi ada dua, apakah yang culanya tunggal datang dari Asia?
TUAN Tidak. Dari Afrika saja tadi yang bercula dua. Menurut pikiranku begitu.
TUKANG BAKMI Yang mana bercula dua?
PEMILIK Bukan yang jenis Afrika.
ISTERI Susah mencapai persetujuan.
TUAN Tapi persoalan ini mesti kita pecahkan bersama
SARMUD (Maju) Maafkan aku menggangu, saudara-saydara. Bukankah itu persoalan yang kita hadapi? Perkenankanlah aku memperkenalkan diri.
TUAN (Memperkenalkan Sarmud Pada Slamet) Kenalan saya, Sarjana Muda.
SLAMET Senang bertemu dengan tuan.
SARMUD Jabatanku Sarjana Muda, ini kartu saya
IA MENGELUARKAN KARTU
SLAMET Saya merasa terhormat.
PEMILIK Suatu kehormatan besar untuk kami di sini.
TUKANG BAKMI Pastilah tuan bisa menjelaskan kepada kami. Jika sekiranya badak Afrika bercula tunggal….
TUAN Atau dwi cula…
ISTERI Dan sekiranya badak Asia itu dwi cula….
PEMILIK Atau eka cula…
SARMUD Tepat. Bukan itulah persoalannya. Baik saya terangkan dulu.
PEMILIK Tapi kami ingin menyelesaikan persoalan itu.
SARMUD Bolehkah saya bicara dulu, saudara-saudara….?
TUAN Perkenankan dulu ia berbicara.
ISTERI (Kepada Slamet) Terutama akan ditujukan kepadamu. Tapi juga kepada semua hadirin di sini.
PEMILIK Juga kami.
SARMUD Begini, kau telah menyimpang dari pokok persoalan yang menimbulkan pembantahan. Pertama, kau sedang memperbincangkan, betulkah atau tidak badak yang belum lama lewat di sini itu sama dengan yang lewat terdahulu, ataukah badak yang berlainan. Itulah perkara yang akan diselesaikan.
SLAMET Ya, tetapi secara bagaimana?
SARMUD Mudah saja. Boleh jadi pada dua kesempatan tadi kau melihat badak tunggal bercula tunggal…
PEMILIK (Mengulangi Kalimat Seolah Lebih Memahami) Pada dua kesempatan badak tunggal….
TUKLANG BAKMI (Sama) Bercula tunggal…
SARMUD Atau boleh jadi kau saksikan pada dua kesempatan badak tunggal bercula dua.
TUAN (Mengulang) Badak tunggal bercula dua pada dua kesempatan…
SARMUD Tepat. Atau bisa juga begini, kau saksikan satu badak bercula satu, lalu badak lain yang bercula satu….
ISTERI (Geli) Hi hi hi…..
SARMUD Atau bisa juga, semula badak bercula dua, disusul oleh badak kedua bercula dua.
TUKANG BAKMI Betul juga.
SARMUD Nah jadi, sekiranya…
PEMILIK Jadi sekiranya…
TUAN Ya, jadi sekiranya…
SARMUD Jika pada kesempatan yang pertama kau saksikan badak bercula dua…
TUKANG BAKMI Bercula dua….
SARMUD Pada kesempatan ke dua, badak bercula satu….
PEMILIK Bercula satu….
SARMUD Itupun belum menentukan.
TUAN Belum dapat menentukan.
TUKANG BAKMI Mengapa tidak?
ISTERI Ah, aku sama sekali tidak mengerti.
PEMILIK (Pada Isterinya) Masuk, masuk!
ISTERI MENARIK BAHUNYA LALU MENGHILANG DARI JENDELA
SARMUD Sebab besar kemungkinan sejak permunculannya yang pertama sang badak telah patah salah atu culanya, sehingga perlawatan yang pertama dan yang kedua itu dilakukan oleh satu binatang yang sama.
SLAMET Bisa jadi, tapi….
TUAN Jangan memotong!
SARMUD Bisa juga dua ekor badak kedua-duanya bercula dua, masing-masing patah satu cula kemudian.
TUAN Masuk akal.
TUKANG BAKMI Ya, masuk akal.
PEMILIK Ya, siapa tahu.
SLAMET Memang, pokoknya….
TUAN Jangan memotong!
SARMUD Andaikata kau dapat membuktikan bahwa pada kesempatan pertama kau melihat badak bercula satu, terserah Asia atau Afrika….
TUAN Asia atau Afrika, terserah….
SARMUD Lalu pada kesempatan kedua, badak bercula dua….
PEMILIK Satu dengan dua…
SARMUD Terserah Afrika atau Asia…
TUAN Asia atau Afrika, terserah….
SARMUD Barulah kita bisa menentukan bahwa kita berhadapan dengan dua ekor badak berlainan, karena sangat tidak mungkin bahwa akan tumbuh cula kedua dalam jangka waktu beberapa menit, lalu sudah cukup besar sampai bisa terlihat di atas hidung badak.
TUAN Sangat tidak mungkin.
SARMUD (Kagum Atas Kepuasannya Sendiri) Jadi menurut dugaan kita ialah seekor badak Asia atau Afrika…
TUAN Jenis Asia atau Afrika…
SARMUD Dan seekor badak Afrika atau Asia….
TUKANG BAKMI Afrika atau Asia….
PEMILIK Eeehh…. Yaaahhh
SARMUD Soalnya logika yang baik tidak bisa membenarkan kemungkinan bahwa seekor hewan yang itu juga dilahirkan di dua tempat pada waktu yang sama
TUAN Berturut-turut tidak bisa.
SARMUD (Kepada Tuan) Yang hendak kita buktikan…
SLAMET Semua cukup jelas, tapi pertanyaannya belum terjawab.
SARMUD (Dengan Senyum Memaklumi) Terang, saudara, tapi sekarang masalahnya dikemukakan sebagaimana mestinya.
TUAN Sangat logis, logis sekali.
SARMUD (Manggut) Selamat siang saudara-saudara
IA PERGI KE KIRI DISUSUL TUAN
TUAN Selamat siang saudara-saudara.
IA MENGANGKAT TOPINYA, LALU MENYUSUL KE LUAR
PEMILIK Logis biar logis…
NYONYA MUNCUL KEMBALI DENGAN SIKAP BERKABUNG DAN MEMBAWA KOTAK BEKA. IA DIIKUTI DEWI DAN PELAYAN SEPERTI MENUJU PEMAKAMAN. ARAKAN KHIDMAT INI MENUJU KE KANAN
PEMILIK Logis biar logis, tapi apakah kita mesti tinggal diam apabila kucing-kucing kita digilas di hadapan mata kita oleh badak-badak
IA MENUNJUK DENGAN GERAK TANGAN TEATERAL KE ARAH ARAKAN HIKMAT YANG MENGHILANG KE KANAN
TUKANG BAKMI Setuju! Kita tidak boleh membiarkan kucing-kucing kita digilas badak atau apapun!
PEMILIK Kita tidak sudi membiarkannya!
ISTERI (Kepalanya Muncul Di Pintu) Ayo masuk! Nanti langganan-langganan pada datang.
PEMILIK (Menuju Tokonya) Tidak, kita pasti tidak membiarkan saja!
SLAMET Mengapa aku mesti bertengkar dengan Arifin?
(Kepada Tukang Bakmi)
Aku minta arak seperti untuk nyonya itu tadi. Tidak, wiski saja!
TUKANG BAKMI & PEMILIK TOKO Ada!
MEREKA MASUK, MASING-MASING MENGAMBIL PESANAN ITU
SLAMET (Tersendiri) Mengapa aku mesti bertengkar dengan Arifin. Mengapa aku mesti naik darah
(Tukang Bakmi Membawa Segelas Arak, Sedang Pemilik Toko Membawa Sebotol Wiski Yang Belum Dibuka)
Aku terlalu gugup untuk mengunjungi pameran. Aku memupuk rahaniku lain kali saja.
DALAM SATU TEGUKAN DIMINUMNYA ARAK DAN DIGENGGAMNYA BOTOL WISKI
B A B A K I I
ADEGAN 1
KANTOR SEBUAH PERCETAKAN SWASTA. DI TENGAH-TENGAH PENTAS BELAKANG PINTU BERGANDA, DAN AGAK TINGGI DENGAN PAPAN PLASTIK DAPAT KITA BACA “DIREKTUR” DI BAGIAN KIRI BELAKANG TAK JAUH DARI PINTU TADI SEBUAH MEJA KECIL DENGAN MESIN TIK TEMPAT DEWI BEKERJA. DI ATAS MEJA ITU TERDAPAT ABSENSI PEGAWAI. DI KIRI DEPAN ADA PINTU KELUAR MELAUI SEBUAH TANGGA YANG BAGIAN ATASNYA KALAU BISA MASIH TERLIHAT SEDIKIT. KANTOR INI TERLETAK DI TINGKAT ATAS. DI BAGIAN DEPAN SEBUAH MEJA DENGAN DUA KURSI TEMPAT SURAHMAN DAN SLAMET BEKERJA. SLAMET DI KIRI, KANAN SURAHMAN. DI SEBELAH KANAN ADA MEJA BIRO DENGAN KURSI TEMPAT TIGOR. DI KANAN BELAKANG DEKAT JENDELA ADA BIRO YANG LEBIH BAGUS DENGAN KURSI LAPIS BANTAL TEMPAT DARMAWAN SH.
PADA BAGIAN KIRI ADA PAPAN UNTUK BUKU BESAR DAN KECIL, BERDEBU. SEBAGIAN HASIL PERCETAKAN SENDIRI SEBAGIAN BUKU PERPUSTAKAAN, BUKU ITU DIBAGI MENURUT GOLONGAN, YANG NAMANYA TERTULIS DI BAWAHNYA, “POLITIK, DAN SILAT/KOMIK/KOBOI”. DI ATAS PINTU DIREKTUR JAM MENUNJUKKAN JAM 9.30 PAGI.
KETIKA LAYAR DIBUKA PARA PEMAIN DIAM MEMBEKU BEBERAPA SAAT SEBELUM KALIMAT PERTAMA DIUCAPKAN SEPERTI “TABLO” USIA DIREKTUR ANTARA 40-50 TAHUN, PAKAIANNYA RAPIHM RESMI. TYPE VETERAN YANG BERUNTUNG NASIBNYA. NAMANYA MAS ENTUNG. DARMAWAN SH BARU SAJA MENCAPAI USIA 30 TAHUN. IAPUN BERPAKAIAN RESMI, BERDASI, TYPE PEMUDA BERGELAR YANG TERJAMIN HARI DEPANNYA.
SURAHMAN, SEORANG BEKAS AKTIVIS PARTAI POLITIK, USIANYA KIRA-KIRA 40 TAHUN, SEPERTI KELAPARAN TAPI SEHAT, BERKACA MATA. DI TELINGANYA DISELIPKAN PENSIL. DEWI, SEORANG SEKRETARIS MUDA MUNCUL KEMUDIAN NY. TIGOR, 40 TAHUN LEBIH, SELALU TERENGAH-ENGAH DAN MERINTIH KETIKA LAYAR DIBUKA, PARA PEMAIN BERDIRI SEPERTI PATUNG SEKITAR MEJA TIGOR. DIREKTUR MENUNJUK DENGAN JARINYA PADA SEBUAH ARTIKEL DALAM SURAT KABAR. DARMAWAN MENGACUNGKAN TANGANNYA KE ARAH SURAHMAN SEOLAH MENGATAKAN: “Sudah kukatakan!”. SURAHMAN DNGAN TANGANNYA DALAM SAKU CELANA SENYUM MENYINDIR SEPERTI TIDAK PERCAYA, SEAKAN MENGATAKAN: “ Kau tidak bisa menipu aku!” DEWI YANG MEMEGANG BEBERAPA LEMBAR KERTAS KETIKAN, DARI AIR MUKANNYA MENDUKUNG DARMAWAN. SETELAH BEBERAPA DETIK SERANGAN DIMULAI OLEH SURAHMAN.
SURAHMAN Semua agitasi belaka.
DEWI Tapi aku sendiri menyakikan badak itu!
DARMAWAN Terpapar di surat kabar, hitam atas putih, yang tak mungkin kau sangkal lagi!
SURAHMAN (Nada Mengejek) Huh!
DARMAWAN Cukup jelas untuk dimengerti
SURAHMAN Ini hasil tipuan wartawan-wartawan gadungan. Kami tidak membutuhkan mereka untuk menyuapi apa yang harus kam percaya. Yang dipercaya mesti dilihat dengan mata kepala sendiri. Aku sendiri cukup berpengalaman dalam bidang ini. Harus tahu metodiknya yang jitu dan ilmiah.
DARMAWAN Berita ini tidak ada sangkut pautnya dengan metodik.
DEWI (Kepada Surahman) Berita itu cukup jelas, pak Surajman.
SURAHMAN Kau anggap itu jelas? Sekarang aku Tanya kau, apakah yang dimaksud dengan “Hewan jenis kulit tebal”? Apakah hubungannya antara berita kecelakaan lalu lintas dengan hewan jenis kulit tebal? Tidak ada penjelasan. Dan apakah yang dimaksud oleh sang wartawan dengan “kucing”?
DARMAWAN Kalau kau tidak tahu kucing, kau memang bodoh.
SURAHMAN Kucing jantan atau betina? Apa keturunannya? Dan apa warnanya? Aku sangat anti rasialisme.
ENTUNG Apa hubungannya dengan rasialisme, saudara Surahman? Kau menyimpang dari persoalan.
SURAHMAN Maafkan saya, pak Entung. Tuanpun tidak bisa mengabaikan masalah rasialisme yang merupakan salah satu rintangan terbesar di jaman modern ini.
DARMAWAN Kita tahu, kita semua mengerti. Tapi tidak ada hubungan apa-apa dengan…
SURAHMAN Saudara darmawan, saudara keliru kalau menganggapnya enteng. Jalan sejarah telah membuktikan bahwa rasialisme….
DARMAWAN Tak ada sangkut pautnya dengan berita ini.
SURAHMAN Saudara mengelak terus.
ENTUNG Kita tidak sedang memperbincangkan diskriminasi rasial.
SURAHMAN Setiap kesempatan untuk mengutuknya harus digunakan.
DEWI Tapi kami sudah menyatakan bahwa tak seorangpun di sini membenarkan rasialisme. Bapak menyesatkan pokok pembicaraan. Singkatnya, seekor kucing tergilas oleh hewan berkulit tebal, dalam hal ini badak.
SURAHMAN Siapa tahu Cuma seekor cecunguk tergilas mati oleh tikus.
ENTUNG (Kepada Darmawan) Coba kita mulai dengan jelas dari permulaannya. Apa kau saksikan dengan mata kepala sendiri badak berjalan hilir mudik di jalan-jalan kota kita?
DEWI Lari, buklan jalan biasa.
DARMAWAN Tidak, aku tidak melihat sendiri. Tapi aku menerima laporan dari orang-orang yang dapat dipercaya.
SURAHMAN (Memotong) Jelas mereka hanya mereka-rekanya. Kau mendukung wartawan-wartawan gadungan itu. Orang macam mereka tidak perduli isapan jempol bagaimana yang masuk Koran, asal memenuhi kehendak majikan mereka. Kau dengan SH mu jangan pikir bisa mengelabuhi aku. Seperti kau sendiri sudah kena bujuk. Maaf, aku ketawa ha ha .
DEWI Tapi aku lihat sendiri badak itu, sumpah.
SURAHMAN Jangan ikut-ikutan, aku anggap kau gadis yang waras.!
DEWI Pak Surahman, mataku bisa melihat tajam! Aku tidak menyaksikannya seorang diri. Banyak orang lain, bersama-sama!
SURAMAN Huh agaknya mereka menyaksikan entah apa. Luntang lantung tak tahu tujuan, penganggur-penganggur yang segan bekerja.
DARMAWAN Terjadi kemarin, hari minggu bung.
SURAHMAN Aku kerja terus pada hari Minggu. Aku tak punya waktu untuk khotbah-khotbah setiap jumat atau minggu yang hanya mengurangi daya kerjamu, dan mengecilkan piring nasi yang kita peroleh dengan keringat
ENTUNG (Tersinggung) Oh!
SURAHMAN Maaf, bukan maksudku menghina bapak direktur kita. Meskipun aku tidak menyukai agama, kita bisa saling menghormati.
(Kepada Dewi)
Kembali pada pembicaraan kita, dapatkah kau gambarkan seperti apa badak itu.?
DEWI Binatang itu… ya, sangat besar dan jelek
SURAHMAN Dan kau amat terpuji dengan ketelitianmu, nona manis. Seekor badak adalah…
ENTUNG Tak usah berceramah tentang badak di kantor ini, kita bukan sekolah.
SURAHMAN Sayang sekali.
PADA UCAPAN YANG TEAKHIR, SLAMET SAMPAI DI MUKA PINTU. DI BAGIAN LUAR PINTU DAPAT KITA BACA “PENCETAK DAN PENERBIT, P.T.BAMBU”
ENTUNG Sudah jam sembilan lewat… Dewi, tutuplah dulu absensi. Yang terlambat mesti mempertanggung jawabkan.
DEWI MENGAMBIL BUKU ABSENSI YANG TERBUKA DI ATAS MEJANYA, SAAT YANG SAMA SLAMET MUNCUL RUANGAN
SLAMET (Masuk, Sementara Yang Lain Terus Berdebat) Selamat pagi, Dewi, Terlambatkah aku.
SURAHMAN (Kepada Darmawan Dan Entung) Aku kecam setiap kelalaian yang kulihat.
DEWI Lekas, kalk Slamet.
SURAHMAN Dikota maupun di desa….!
DEWI Buru-buru! Paraf dulu abensinya!
SLAMET Terma kasih, bapak sudah datang?
DEWI Ssssttt ! Ya , itu dia. 61
SLAMET Sudah datang?
CEPAT MEMBUBUHKAN PARAF KE BUKU ABSENSI
SURAHMAN Kalau perlu juga dalam perusahaan pencetak dan penerbit, aku tak segan-segan mengecam.
ENTUNG Pak Surahman, sekarang kau…
SLAMET Belum lewat sepuluh menit.
ENTUNG Sudah melewati batas-batasmu.
DARMAWAN Setuju , pak direktur.
ENTUNG (Kepada Surahman) Apa kau menuduh mas Darmawan, rekanku dan juga rekanmu, lulusan fakultas hokum, yang tercatat sebagai pegawai golongan tertinggi, bahwa ia seorang yang lalai?
SURAHMAN Itu boleh diuji sendiri. Dan apendidikan yang diperoleh pada universitas belumtentu membuat seorang lebih ulung dari lulusan SMA.
ENTUNG (Kepada Dewi) Mana daftar absensi?
DEWI Ini pak
MENYERAHKAN
SURAHMAN (Kepada Darmawan) Universitas hanya menumpuk kutu-kutu buku, tak ada usaha untuk mengamalkan ilmunya kepada rakyat kecil.
DARMAWAN Kau mau tahu apa?
SLAMET Selamat pagi, pak Entung
(Iamendekati Meja Tigor Untuk Mengambil Pekerjaan Yang Harus Diselesaikan Melewati Punggung Ketiga Orang Tadi Yang Masih Mengelompok, Lalu Kembali Ke Tempat Kerjanya Sendiri. Membuka Laci Mengambil Alat Alat Tulis. Ia Menggulung Lengan Bajunyasampai Ke Siku)
Selamat pagi, pak Entung, maafkan saya terlambat sedikit. Selamat pagu mas Darmawan, Pak Surahman!
ENTUNG Nah barangkali saja saudara Slamet melihat badak yang menghebohkan itu?
SURAHMAN Universitas hanya menghasilkan kaum intelek mandul yang tidak pernah menyelami kenyataan hidup.
DARMAWAN Fitnah!
SLAMET (Melanjutkan Pekerjaannya, Dengan Nada Biasa Menjawab) O ya, saya lihat.
SURAHMAN (Menoleh) Huh!
DEWI Sudah kukatakan bahwa aku belum berotak miring.
SURAHMAN (Menyindir) Ah Slamet berkata begitu hanya demi kesopanan. Dalam hatinya ia orang sopan santun walaupun dari luar kelihatan tidak.
DARMAWAN Mengapa seorang yang melihat badak mesti sopan?
SURAHMAN Keuntungan besar – Apalagi untuk mengangkat sebuah pernyataan yang dikarang oleh neng Dewi, terang…!
ENTUNG Jangan memutar balikkan fakta, pak Surahman. Saudara Slamet tidak tahu apa-apa tentang percakapan kita. Ia baru saja datang.
SLAMET (Kepada Dewi) Kau menyaksikan bukan? Kami berdua telah menyaksikannya.
SURAHMAN Huh! Mungkin saudara Slamaet hanya membayangkan dirinya melihat badak
( Ia Memberi Isyarat Di Balik Punggung Slamet Untuk Mengingatkan Bahwa Slamet Suka Minum)
Daya kayalnya terkenal. Segala apapun bisa terjadi dalam kayalnya.
SLAMET Aku tidak seorang diri ketika menyaksikan badak itu! Belum lagi dapat dipastikan kemungkinan bahwa ada dua ekor badak.
SURAHMAN Ia sampai tidak tahu berapa jumlahnya!
SLAMET Aku bersama temanku Arifin. Dan banyak lagi yang hadir pada waktu itu.
SURAHMAN Aku yakin sekali bahwa kau tidak tahu apa yang sedang dipersoalkan.
DEWI Badak eka cula!
SURAHMAN Huh, Mereka berdua satu komplotan untuk mempermainkan kita.
DARMAWAN (Kepada Dewi) Aku mendengar kabar bahwa culanya bahkan dua!
SURAHMAN Bagus! Cepat-cepatlah sesuaikan antara kalian sebelum kecuranganmu digulung.
ENTUNG Cukup sampai disini, tuan-tuan… Pekerjaan menunggu.
SURAHMAN Saudara Slamet melihat satu ekor badak atau dua ekor badak?
SLAMET Itu tidak bisa langsung kujawab!
SURAHMAN Tak tahu? Neng Dewi telah menyaksikan seekor badak eka cula. Badakmu bagaimana, saudara Slamet? Kalau memang ada, culanya satu atau dua?
SLAMET Justru itulah masalah yang sedang kita hadapi.
SURAHMAN Dan yang amat mencurigakan.
DEWI Ya, Tuhan….
SURAHMAN Barangkali terlalu kasar? Pokoknya aku tidak percaya sepatah katapun tentang itu. Agar kalian tahu bahwa badak hanya ada di Ujung Kulon.
DEWI Mungkin jumlah mereka telah berkembang biak secara berlipat- lipat.
SURAHMAN Mustahil! Periksa baik-baik buku ilmu hewanmu. Sukur kalau ada gambarnya pula. Badak-badak berbunga dari kabar bohong!
SLAMET Menggunakan istilah berbunga untuk badak, terlalu dicari-cari!
DARMAWAN Memang dicari-cari.
SURAHMAN Badakmu suatu dongeng.
DEWI Dongeng?
ENTUNG Tuan-tuan, aku rasa waktunya udah lebih dari tepat untuk mulai bekerja.
SURAHMAN (Kepada Dewi) Dongeng – seperti piring terbang.
DARMAWAN Meskipun begitu, seekor kucing tergilas mati. Itu tak bisa kau sangkal.
SLAMET Aku saksinya.
DARMAWAN (Kepada Surahman) Di hadapan saksi-saksi.
SURAHMAN Saksi macam apa?
ENTUNG Tuan-tuan…
SURAHMAN (Kepada Darmawan) Contoh yang nyata bahwa masyarakat sedang dinina bobokkan oleh golongan tertentu untuk menutup kepincangan. Sama dengan agama – candu masyarakat!
DEWI Aku percaya bahwa piring terbang betul-betul ada.
SURAHMAN Huh!
ENTUNG (Tegas) Cukup! Sudah telalu banyak kabar angin! Badak atau bukan, piring terbang atau bukan, pekerjaan jalan terus! Kalian dibayar bukan untuk membuang waktu membicarakan binatang- binatang, kayal atau betulan!
SURAHMAN Kayal !
DARMAWAN Betulan !
DEWI Bisa disentuh dengan tangan!
ENTUNG Untuk terakhir kali aku peringatkan, kita sedang dalam kerja. Dengan resmi aku hentikan perbantahan percuma ini.
SURAHMAN Baiklah, pak Entung. Tuanlah kepala di sini. Kehendak tuan menjadi kewajiban kami.
ENTUNG Dipersilahkan kerja, tuan-tuan. Aku tidak senang kalau gaji kalian harus dipotong. Slamet dan surahman, sudah diperiksa cetakan percobaan dari risalah Undang-Undang Pelarangan Import minuman keras itu?
SLAMET Belum selesai, pak. Kami sedang mengerjakannya.
ENTUNG Segera selesaikan, bagian percetakan sudah menunggu. Dan Dewi, bawalah urat-surat yang harus ditanda tangani itu ke kamarku. Cepat ditik dan selesaikan.
DEWI Baik , pak.
DEWI DUDUK DI MEJANYA DAN MULAI MENGETIK. SLAMET DAN SURAHMAN DUDUK DI TEMPAT MASING-MASING. SURAHMAN AGAKNYA SANGAT MENDONGKOL. SLAMET TAK ACUH DAN LESU. DIBEBERKANNYA CETAKAN PERCOBAAN DI MEJA LALU NASKAH ALINYA DISERAHKAN KEPADA SURAHMAN. SURAHMAN DUDUK MENGGERUTU SETELAH ENTUNG MASUK KAMARNYA, MEMBANTING PINTU KERAS-KERAS
ENTUNG Aku akan panggil kalian sebentar lagi
PERGI
SLAMET (Membaca Dan Memperbaiki, Surahman Mengikuti Dalam Naskah Aslinya Dengan Pensil) Peraturan-peraturan yang berlaku untuk pelarangan import minuman keras…
(Mengoreksi)
Pelarangan, satu “g” minuman keras tanpa huruf besar… penggolongan yang terkena adalah sebagai berikut…
SURAHMAN Nanti dulu! Kau terlewat satu pasal.
SLAMET Kuulangi dari permulaan. Undang-undang Pelarangan Import Minuman keras.
DARMAWAN Jangan terlalu kera! Aku tidak bisa konsentrasi kalau kalian berlomba pekik.
SURAHMAN (Menyambung Perbantahan Tadi, Sementara Slamet Terus Bekerja Mengeja Tanpa Bersuara) Aku tahu ini penjegalan.
DARMAWAN Apa penjegalan?
SURAHMAN Urusan budakmu itu tentu, kau telah melancarkan propagandamu untuk mengacaukan suaana.
DARMAWAN Apa propaganda?
DEWI (Berhenti Mengetik) Apa harus kuulangi lagi Bahwa aku sendiri telah menyaksikan? Aku lihat dengan mata kepala sendiri, dan banyak orang lain jugamelihatnya.
DARMAWAN Menggelikan ! Propaganda! Propaganda untuk apa?
SURAHMAN Bukankah kau lebih tahu tentang itu? Kau jangan pura-pura alin!
DARMAWAN (Mulai Marah) Pokoknya, saudara Surahman, aku tidak di tunggangi oleh golongan apapun!
SURAHMAN Penghinaan, aku tidak terima
(BERDIRI)
SLAMET (Memohon) Sudahlah pak Surahman…
DEWI Sudahlah kak Darmawan…
SURAHMAN Tapi ia menghina aku
TIBA-TIBA PINTU ENTUNG TERBUKA, SURAHMAN DAN DARMAWAN CEPAT- CEPAT DUDUK KEMBALI. SANG DIREKTUR MEMEGANG DAFTAR ABSENSI DI TANGANNYA. SUNYI SENYAP SETELAH IA MUNCUL
ENTUNG Apa saudara Tigor tidak masuk?
SLAMET (Melihat Sekitar) Tidak kelihatan, pak. Agaknya ia absent.
ENTUNG Aku perlu dia saat ini
(Kepada Dewi)
Apa ia mengabarkan bahwa ia sakit atau berhalangan?
DEWI Ia tidak memesan apa-apa kepada saya.
ENTUNG (Membuka Pintunya Lebar-Lebar, Masuk Ke Dalam Ruangan) Kalau terlalu sering begini, terpaksa dia kupecat. Bukan pertama kali ia mencari alasan, dan sampai sekarang aku diamkan saja. Tapi tidak bisa terus. Siapa yang tahu di mana ia menyimpan kunci lacinya?
PADA SAAT ITU MUNCUL NYONYA TIGOR. SEBELUMNYA IA SUDAH KELIHATAN DI TANGGA. IA MASUK TERGESA-GESA, TEGANG DAN TERENGAH-ENGAH
SLAMET Ooooo ini Ny. Tigor
DEWI Selamat pagi.
NY. TIGOR Selamat pagi, tuan Entung. Selamat pagi semua.
ENTUNG Ha, mana suami nyonya? Ada apa dengan dia? Sulitkah baginya untuk datang seperti biasa?
NY. TIGOR (Terengah-Engah) Maafkan dia, suamiku, maksud saya… Ia pergi mengunjungi keluarganya di luar kota sejak sabtu siang. Lalu ia kena influenza.
ENTUNG Jadi ia kena influenza?
NY. TIGOR (Menyerahkan Secarik Kertas Kepada Entung) Begitu menurut telegram yang dikirimnya. Ia berharap akan bisa kembali hari rabo nanti
(Hampir Terkulai)
Bolehkah saya minta egelas air… mau duduk sebentar…
SLAMET MENYORONGKAN KURSI KE TENGAH DAN NY. TIGOR MENJATUHKAN DIRI DI ATASNYA
ENTUNG (Kepada Dewi) Tolong ambilkan air the segelas.
DEWI Segera.
IA PERGI MENGAMBIL AIR DAN MENYERAHKANNYA SEMENTARA PERCAKAPAN TERUS BERLANGSUNG
DARMAWAN (Kepada Entung) Mungkin ia berpenyakit jantung.
ENTUNG Bahwa Tigor tidak datang memang menyulitkan kami, namun nyonya sendiri tak perlu gelisah.
NY. TIGOR (Berbicara Dengan Agak Sulit) Bukan karena… karena… saya… dikejar sepanjangjalan darirumah sampai ke sini oleh seekor badak.
SLAMET Berapa culanya?
SURAHMAN (Tertawa Disengaja) Jangan bikin aku tertawa.
DARMAWAN (Marah) Biarkan dulu dia bicara!
NY. TIGOR (Berusaha Bercerita Dengan Sebaik-Baiknya, Menunjuk Tangga Di Luar) Binatang itu masih ada di bawah, dekat pintu masuk. Seperti ingin ikut naik tangga.
SAAT ITU TERDENGAR GEMURUH. BAGIAN ATAS TANGGA NAMPAK RUNTUH SEPERTI DITIMPA BENDA BERAT. DARI BAAH TERDENGAR TEROMPET BADAK SEPERTI PENASARAN, SETELAH DEBU AGAK MEREDA KARENA TANGGA YANG HANCUR, YANG TERLIHAT HANYA SEPOTONG KAYU PEGANGAN, TANGGA TERKATUNG DI UDARA
DEWI Masya Allah…
NY. TIGOR (Dudk, Memegang Dadanya) ooo, aaa
SLAMET DISAMPING NY. TIGOR MENEPUK-NEPUK PIPINYA DAN MEMBERINYAMINUM
SLAMET Tenang saja…!
SEMENTARA ITU ENTUNG, DARMAWAN DAN SURAHMAN LARI KE KIRI, SALINGDORONG UNTUK MEMBUKA PINTU. MEREKA DI DEPAN TANGGA YANG HILANG TERTUTUP DEBU DARI KEPALA SAMPAI KAKI. BUNYI TEROMPET TERDENGAR TERUS
DEWI (Kepada Ny. Tigor) Merasa lebih baik, nyonya?
ENTUNG (Di Depan Pintu Yang Terbuka) Itu! Di bawah ! Ada seekor!
SURAHMAN Aku tidak bisa melihat apa-apa. Suatu kiasan belaka.
DARMAWAN Kenyataan, di bawah sana. Seekor, sedang berputar-putar!
ENTUNG Ia tidak bisa naik ke atas. Tangga sudah tak ada lagi!
SURAHMAN aneh… Apa ada makud tertentu?
DARMAWAN (Menoleh Pada Slamet) Mari lihat sini. Lihatlah dulu badakmu.
SLAMET Sebentar
SLAMET LARI KE DEPAN PINTU DISUSUL OLEH DEWI. NY. TIGOR DITINGGAL SENDIRI
ENTUNG (Kepada Slamet) Kau ahli badak. Perhatikan baik-baik.
SLAMET Aku bukan ahli badak.
DEWI Lihat, ia berputar-putar terus. Nampaknya seprti yang kesakitan. Apa maunya?
DARMAWAN Seperti mencari seseorang
(Kepada Surahman)
Kau bisa lihat sekarang?
SURAHMAN (Terpukau) Ya, ya, aku lihat.
DEWI (Kepada Entung) Tahu-tahu mata kita menipu kita. Bapakpun Cuma berkhayal…
SURAHMAN Mata tak pernah menipu. Dapat di pastikan bahwa memang ada sesuatu di bawah sana.
DARMAWAN Masa sesuatu
SURAHMAN (Kepada Lamet) Jelas itu seekor badak. Itu yang telah lebih dahulu kau saksikan, bukan?
(Kepada Dewi)
Dan kau juga?
DEWI Pasti.
SLAMET Yang ini bercula dua, jenis Afrika… atau Asia agaknya. Ah, aku sungguh kurang tahu apakah badak Afrika bercula satu atau dua.
ENTUNG Ia telah meruntuhkan tangga, Syukurlah – Pikir saja, sudah berkali-kali aku mengusulkan kepada Dewan Pengurus supaya tangga kayu yang terlalu tua itu diganti dengan yang baru dari semen.
DARMAWAN Laporannya malah baru satu minggu yang lalu saya kirimkan, pak Entung.
ENTUNG Aku sudah duga akan terjadi sesuatu. Telah kuramalkan, dan akhirnya aku benar.
DEWI (Ironis) Seperti biasa.
SLAMET (Kepada Darmawan Dan Entung) Saya ingin Tanya, apakah dua cula khas untu badak Asia atau Afrika? Dan satu cula khas Afrika atau Asia?
DEWI Kasihan ia terus berbunyi dan berputar-putar. Mau apa dia? Idih, ia melihat pada kita
(Ke Bawah)
Pusi, pusi, pusi….
DARMAWAN Sebaiknya jangan kau usap, sebab ia belum tentu jinak.
ENTUNG Ia terlalu jauh untuk dipegang.
TERDENGAR TEROMPET SERU
DEWI Kasihan!
SLAMET (Mendesak Kepada Suherman) Kau tahu banyak tentang keadaan, bukankah jenis yang bercula dua…
ENTUNG Kau mengoceh tentang apa Slamet? Kau rupanya masih dipengaruhi minuman keras. Benar Surahman tadi.
SURAHMAN Betapa mungkin dalam Negara yang beradab…?
DEWI Bertele-tele! Pastikan saja, kenyataan atau khayal?
SUHERMAN Itu permainan yang kotor!
(Dengan Gaya Ala Politikus Berpidato Memandang Dengan Sengit Dan Menunjuk Pada Darmawan)
Salahmu semua ini!
DARMAWAN Mengapa salahku? Mengapa tidak salhmu?
SURAHMAN (Marah) Salahku? Selalu aku yang dipersalahkan, kalau saja aku diberi kesempatan…
ENTUNG Kita terdampar tanpa tangga!
DEWI (Kepada Surahman Dan Darmawan) Jangan terburu nafsu, saat ini bukan waktu untuk bertengkar.
ENTUNG Semua salah Dewan Pengurus.
DEWI Salah tinggal salah. Bagaimana kita akan turun?
ENTUNG (Genit) Aku dekap kau dalam pelukanku, lalu kita terjun melayang bersama-sama.
DEWI Lancang, tangan badak pegang pipi orang. Dasar tua-tua keladi!
ENTUNG Aku cuma bergurau!
SMENTARA ITU SUARA BADAK TERUS TERDENGAR. NY. TIGOR BANGUN DAN BERGABUNG DENGAN YANG LAIN. BEBERAPA SAAT LAMANYA IA TERTEGUN MEMANDANGI BADAK YANG BERPUTAR-PUTAR DI BAWAH, LALU TIBA-TIBA BERTERIAK NGERI
NY. TIGOR Ya, Tuhan… tak boleh jadi!
SLAMET Ada apa?
NY. TIGOR Itu suami saya! Oooo Tigor. Tigorku sayang… Apa yang terjadi pada dirimu?
DEWI Nyonya yakin betul?
NY. TIGOR Aku mengenalinya, aku mengenalinya!
(BADAK MENJAWAB DENGAN TEROMPETNYA YANG DAHSYAT. TAPI PENUH KASIH SAYANG)
ENTUNG Astaga, ini melampaui batas. Aku pecat dia untuk selama-lamanya!
DARMAWAN Apakah dia sudah di asuransikan?
SURAHMAN (Kesamping) Aku mengerti sekarang…
DEWI Dalam kasus ini mana mungkin diperoleh uang asuransi jiwa!
NY. TIGOR Tuhan… Oooo
PINGSAN DALAM PELUKAN SLAMET
SLAMET Waduh…!
DEWI Bawa dia ke sini
SLAMET DI BANTU DARMAWAN DAN DEWI MENDUDUKKAN NY. TIGOR DI KURSI
DARMAWAN Jangan panic Ny. Tigor…
NY. TIGOR Aaaa… oooo!
DEWI Mungkkin semua ini masih dapat dibereskan.
SURAHMAN Gila-gilaan!
(Mereka Mengerumuni Ny. Tigor, Menepuk-Nepuk Pipinya. Ny. Tigor Membuka Mata, Memekik Aaa! Lalu Pingsan Lagi, Sementara Surahman Terus Mengoceh)
Satu hal jangan kalian ragukan lagi, Aku akan melaporkan hal ini. Aku takkan membiarkan seorang kawan dalam kesusahan. Aku akan melaporkan untuk diketahui secara meluas.
NY. TIGOR (Siuman) Suamiku sayang… Aku tak bisa meninggalkan dia begitu saja. Suamiku sayang…
(Bunyi Terompet)
Ia memanggil aku…
(Penuh Kasih Sayang)
Ia memanggil aku…
DEWI Sudah lebih baik rasanya, Ny. Tigor?
DARMAWAN Sedikit demi sedikit!
SURAHMAN Jangan kuatir, rasa setia kawan teguh berdiri di belakang ibu.
ENTUNG Pekerjaan akan mengalami hambatan lagi. Siapa yng kira-kira bisa menggantikan dia, Dewi?
DEWI Saya ingin tahu dulu bagaimana kita dapat keluar dari sini.
ENTUNG Juga persoalan. Melalui jendela!
MEREKA SEMUA MENDEKATI JENELA KECUALI NYONYA TIGOR YANG DUDUK LOYO DI ATAS KURSINYA, DAN SURAHMAN YANG TINGGAL DI TENGAH PANGGUNG
DEWI Terlalu tinggi!
SLAMET Bagaimana kalau memanggil regu pemadam kebakaran agar mereka membawa tanggganya yang panjang?
ENTUNG Dewi, segera kau tilpun regu pemadam kebakaran!
(Dewi Masuk Kamar Entung Dan Terdengar Suara)
“ Hallo, hallo, Pemadam Kebakaran di situ?”
LALU PERCAKAPAN TILPUN YANG KURANG JELAS)
NY. TIGOR (Tiba-Tiba Berdiri) Aku ak boleh meninggalkannya, tak boleh meninggalkannya sekarang!
ENTUNG Sekiranya nyonya ingin bercerai, setiap orang akan membenarkan nyonya.
DARMAWAN Karena nyonyalah pihak yang dirugkan…
NY. TIGOR Tidak, bukan saat untuk berbuat demikian. Aku tidk akan meninggalkan suamiku dalam keadaan seperti sekarang.
SURAHMAN Nyonya wanita yang perkasa.
DARMAWAN Lalu apa rencana nyonya? NY. TIGOR KELUAR PINTU YANG TAK BERTANGA LAGI
SLAMET Awas!
NY. TIGOR Aku tidak tega, aku tak sampai hati meninggalkan dia sekarang!
DARMAWAN Tahan dia!
NY. TIGOR (Bersiap Meloncat) Aku datang sayang. Aku datang…!
SLAMET Ia mau meloncat!
SURAHMAN Ia memenuhi kewajibannya.
DARMAWAN Jangan biarkan dia berbuat begitu
SEMUA KECUALI DEWI YANG MASIH MENELPON, MENDEKATI NY. TIGOR. DIA MELONCAT DAN SLAMET YANG MENCOBA MENAHANNYAHANYA SEMPAT MEMEGANG ROKNYA YANG TERTINGGAL DI TANGAN SLAMET
SLAMET Aku tidak berhasil menhannya
TERDENGAR TEROMPET BADAK DENGAN PENUH KASIH SAYANG
NY.TIGOR (Di Bawah) Inilah aku Tigor, aku sudah di sini…
DARMAWAN Ia mendarat di punggung suaminya seperti menunggangi pelana.
SURAHMAN Ia pandai mengendarai
NY. TIGOR Mari kita pulang, sayang, mari pulang.
DARMAWAN Mereka pergi berderap.
MEREKA SEMUA MELINTASI PANGGUNG KE DEPAN JENDELA UNTUK MELIHAT
SLAMET Mereka pergi cepat.
DARMAWAN (Kepada Entung) Bapak pandai naik kuda?
ENTUNG Pernah – dulu, sudah lama sekali, di perkebunan
(Menoleh Ke Pintu Tengah, Kepada Darmawan)
Ia belum selesai menilpun?
SLAMET Mereka sudah sangat jauh. Sudah tidak kelihatan.
DEWI (Muncul Kembali) Agak susah mendapatkan pemadam kebakaran.
ENTUNG Apa ada parade kebakaran di kota ini?
SLAMET Aku sependapat dengan pak Surahman tentang sikap nyonya Tigor yang sangat mengharukan. Seorang wanita yang simpatik.
ENTUNG Kita kekurangan satu tenaga. Mesti ada gantinya.
SLAMET Apa menurut bapak ia sama sekali tidak bisa kita manfaatkan lagi?
DEWI Tidak, bukan karena kebakaran. Regu Pemadam Kebakaran telah menerima panggilan karena badak-badak lain.
SLAMET Badak-badak lain.
DEWI Ya, badak-badak lain. Rupanya mereka bermunculan di seluruh kota. Pagi ini katanya sudah ada tujuh, meningkat sampai tujuh belas.
SURAHMAN Sudah aku duga.
DEWI Malah laporan yang masuk sudah berjumlah 32. itu belum resmi, tapi mereka menunggu pengumuman resmi.
SURAHMAN Orang selalu melebih-lebihkan.
ENTUNG Apakah mereka akan menolong kita keluar dari ini?
SLAMET Aku lapar…!
DEWI Ya, mereka akan datang. Sedang di jalan.
ENTUNG Bagaimana tentang pekerjaan kita?
DARMAWAN Agaknya di luar kesalahan kita.
ENTUNG Waktu yang terbuang harus dikejar.
DARMAWAN Nah, saudara Surahman masih menyangkal bukti-bukti tentang perbadakan?
SURAHMAN Organisasi akan menentang pemecatan sdr. Tigor yang tanpa alasan.
ENTUNG Keputusan tidak dari aku. Tunggu saja hasil pemeriksaan Dewan Pengurus.
SURAHMAN Tidak, sdr. Darmawan, aku tidak menyangkal bukti-bukti perbadakan. Tak pernah aku sangkal.
DARMAWAN Kau berdusta.
DEWI Terang-terangan berdusta.
SURAHMAN Aku ulangi bahwa aku tak pernah menyangkalnya. Aku mesti mengetahui dulu diarahkan kemana semua ini sebenarnya. Aku tahu betul militansi jiwaku. Aku tidak mudah puas menerima begitu saja bahwa suatu gejala itu ada. Aku selalu menuntut dari diriku syarat bahwa aku mengerti dan harus mengerti dan harus menjelaskan. Kina aku sungguh sudah bisa menjelaskan, sekiranya….
DARMAWAN Jelaskan kepada kami.
DEWI Ya jelaskan , pak Surahman.
ENTUNG Jelaskan kalau rekan-rekanmu memintanya.
SURAHMAN Akan kujelaskan….
DARMAWAN Ayo, kita menunggu.
DEWI Aku sudah tak sabar.
SURAHMAN Akan kujelaskan… pada waktunya yang tepat.
DARMAWAN Mengapa tidak sekarang?
SURAHMAN (Seperti Mengancam, Kepada Entung) Penjelasan akan kuberikan nanti, di bawah empat mata.
(Kepada Semua)
Aku tahu sebab musababnya, segala seluk beluknya, mengenai peristiwa ini….
DEWI Sebab musabab apa?
SLAMET Seluk beluk mana?
DARMAWAN Kau boleh minta apa saja, jika bisa menjelaskan sebab musabab dan seluk beluk itu.
SURAHMAN (Melanjutkan, Seolah-Olah Mengutuk Mereka) Dan akupun tahu nama-nama mereka yang bertanggung jawab atas ini. Jangan kira kau bisa menipu aku. Akan kutelanjangi tujuan dan maksud semua ini.
SLAMET Mungkinkah ada…
DARMAWAN Kau mengelakkan pertanyaan kami, sdr. Surahman.
ENTUNG Jangan berputar-putar!
SURAHMAN Mengelak? Siapa, aku?
DEWI Tadi kau menuduh kami mengigau.
SURAHMAN Tadi, ya. Tapi igauan tadi ekarang sudah jadi provokasi.
DARMAWAN Apa yang merubahnya?
SURAHMAN Itu sudah rahasia umum, tuan-tuan, orang tahu! Hanya kau yang munafik dan pura-pura tak tahu!
BUNYI SIRINE PEMADAM KEBAKARAN MENDEKAT, TERDENGAR DIREM TIBA-TIBA DI BAWAH JENDELA
DEWI Regu Pemadam Kebakaran!
TERDENGAR RIBUT, KESIBUKAN, ALAT-ALAT DI PERSIAPKAN
PEM. KEBAK Pasang tangganya!
SURAHMAN Kunci semua kejadian ini di tanganku. Aku tak pernah gagal menafsirkan.
ENTUNG Aku minta kalian semua kembali ke sini setelah jam 2 siang
TANGGA TERPASANG DI BAGIAN LUAR JENDELA
SURAHMAN Kantor terpaksa libur, pak entung.
ENTUNG Entah apa kata Dewan Pengurus nanti.
DARMAWAN Situasinya sangat luar biasa.
SURAHMAN Kita tidak bisa dipaksa pergi bekerja melalui jendela. Kita akan tunggu sampai tangga selesai dibangun kembali.
DARMAWAN Apabila salah seorang dari kita patah kakinya, itu menjadi tanggung jawab Dewan Pengurus.
ENTUNG Benar.
NAMPAK TOPI PEMADAM KEBAKARAN MENYEMBUL, DISUSUL PEMAKAINYA
SLAMET (Kepada Dewi, Menunjuk Ke Jendela) Kami belakangan setelah dewi.
PEM. KEBAK Ayo…
PEMADAM KEBAKARAN MEMEGANG TANGAN DEWI, DEWI MELANGKAH KE JENDELA, MEREKA MENGHILANG BERSAMA-SAMA
DARMAWAN Salam Dewi, sampai nanti… salam..!
ENTUNG (Di Jendela) Tipon aku besok pagi, Dewi. Mungkin kau harus mengetik surat-surat di rumahku.
(Kepada Slamet)
Slamet, aku tekankan supaya kau perhatikan betul bahwa kita bukan sedang berlibur, dan pekerjaan kita mulai lagi dalam waktu sesingkat-singkatnya.
(Kepada Yang Lain)
Saudara-saudara dengar apa yang ku katakana?
DARMAWAN Saya mengerti pak Entung
SURAHMAN Kita bisa dieksploatir sampai tinggal tulang.
PEM. KEBAK (Muncul Di Jendela) Siapa menyusul?
ENTUNG (Kepada Yang Bertiga) Ayolah…
DARMAWAN Pak entung dulu…
SLAMET Bapak dulu.
SURAHMAN Tentu, direktur dulu.
ENTUNG (Kepada Slamet) Tolong ambilkan dulu surat-surat Dewi, di meja sana.
SLAMET MENGAMBIL DAN MENYERAHKANNYA KEPADA ENTUNG
PEM. KEBAK Ayo cepat, waktu kami terbatas. Masih banyak panggilan yang mesti dipenuhi.
SURAHMAN Benar tidak kataku?
ENTUNG MELANGKAH JENDELA SAMBIL MENGEPIT SURAT SURAT
ENTUNG (Kepada Pemadam Kebakaran) Hati-hati dokumen ini
(Kepada Yang Lain)
Selamat siang saudara-saudara.
DARMAWAN Selamat siang pak, Entung.
SLAMET Selamat siang pak, Entung.
ENTUNG (Suara Dari Bawah) Hati-hati dengan kertasku. Darmawan, kunci semua lemari an pintu!
DARMAWAN (Berseru) Jangan kuatir, pak Entung!
(Kepada Surahman)
Silahkan duluan, sdr. Surahman.
SURAHMAN Aku sekarang turun ke bawah. Dan aku akan segera mengajukan persoalan ini kepada instansi yang berwajib. Akan kubongkar sampai keakarnya tentang keanehan yang tidak aneh ini
IA KE JENDELA
DARMAWAN Aku kira kau sudah tahu semua penjelaannya.
SURAHMAN (Melangkah Jendela) Sindiranmu tidak mempan! Akan kuperoleh bukti-bukti beserta dokumen-dokumennya.
DARMAWAN Gertak sambal! Kau yang menghina aku!
SURAHMAN (Sambil Menghilang) Aku bukan menghina. Aku Cuma membuktikan.
SUARA PEM. KEBAK Cepat, yang di atas itu!
DARMAWAN Ada rencana apa? Bagaimana kalau ita bikin acara bersama? 84
SLAMET Maaf aku tak bisa. Sore ini kebetulan bebas. Akan kugunakan untuk temanku Arifin. Aku sungguh mau berdamai lagi dengan dia. Amarah membuat kami lupa diri. Sebertulnya akulah yang bersalah.
KEPALA PEMADAM KEBAKARAN MUNCUL LAGI KEMBALI DI JENDELA
PEM. KEBAK Mau ikut atau tidak?
SLAMET (Menunjuk Ke Jendela) Kau dulu.
DARMAWAN Kau sajalah.
SLAMET Aku minta kau dulu.
DARMAWAN Tidak, aku mohon kau dulu.
PEM.KEBAK Cepat!
DARMAWAN Ayolah, kau dulu!
SLAMET Jangan, kau saja dulu.
MEREKA KELUAR BERSAMA SAMA DARI JENDELA. PEMADAM KEBAKARAN MEMBANTU MEREKA TURUN, SEMENTARA LAYAR TURUN
A D E G A N 2
KAMAR ARIFIN, PENTAS TERBAGI DUA, BAGIAN KANAN TIGA PEREMPAT ATAU EMPAT PERLIMA BAGIAN MERUPAKAN KAMAR ARIFIN. DI LATAR 85 BELAKANG TAMPAK TEMPAT TIDUR ARIFIN, DI MANA TAMPAK IA SEDANG TIDUR, TERDAPAT SEBUAH KURSI TEMPAT NANTI SLAMET DUDUK. DI SEBELAH KANAN TERDAPAT PINTU YANG TERBUKA MENUJU KAMAR MANDI. KALAU ARIFIN SEDANG DI KAMAR MANDI PENONTON DAPAT MENDENGAR BUNYI AIR. DI SEBELAH KIRI TERDAPAT PINTU YANG TERBUKA KE TANGGA YANG TERLIHAT UJUNGNYA YAITU PEGANGAN TANGGA DAN ANJUNGAN AKHIR. DI LATAR BELAKANG SAMA TINGGI DENGAN ANJUNGAN ITU TAMPAK APARTEMEN SEORANG TETANGGA DAN LEBIH RENDAH DARI ITU TAMPAK SEBUAH PINTU YANG BERTIRAI DENGAN TULISAN DI ATANYA “KEAMANAN”. KETIKA LAYAR DI BUKA, ARIFIN BERSADA DI TEMPAT TIDURNYA DI BAWAH SELIMUT DENGAN PUNGGUNG MEMBELAKANGI PENONTON. TERDENGAR DENGKURAN. TAK LAMA KEMUDIAN TAMPAK SLAMET MELANGKAH DI IUJUNG TANGGA. IA MENGETUK PINTU. ARIFIN TAK MENJAWAB, IA MENGETUK LAGI.
SLAMET Fin, Arifin! MENGETUK. PINTU DI SEBELAH BELAKANG TERBUKA, MUNCUL SEORANG KAKEK
KAKEK Siapa itu?
SLAMET Saya ingin bertemu Arifin.
KAKEK Oh, kukira kau mencari aku. Namaku juga Arifin.
NENEK Tamu untuk kita?
KAKEK Bukan, untuk tetangga sebelah.
SLAMET (Mengetuk) Arifin!
KAKEK Aku tak melihat dia keluar. Kemarin memang kulihat dia. 86
SLAMET Saya tahu sebabnya. Memang salah saya.
KAKEK Mungkin ia tak mau membuka pintu. Cobalah ketuk lagi.
SLAMET (Mengetuk) Arifin!
KAKEK Sebentar ah. Aduh-aduh…
MENUTUP PINTU DAN MENGHILANG
ARIFIN (Masih Terus Tidur, Dngan Parau Menjawab) Siapa?
SLAMET Aku datang untuk menjengukmu, Fin.
ARIFIN Siapa?
SLAMET Aku, Slamet. Apa aku mengganggumu?
ARIFIN Ah, kau rupanya, masuk.
SLAMET (Berusaha Membuka Pintu) Dikunci!
ARIFIN Sebentar.
(Arifin Bangkit Dan Duduk Dengan Kesal.Ia Mengenakan Piyama. Rambutnya Kusut)
Sebentar
(Ia Memutar Kunci)
Sebentar (IA BERJALAN KEMBALI KE TEMPAT TIDURNYA DAN BERSELIMUT LAGI SEPERTI SEBELUMNYA)
Masuk.
SLAMET (Masuk) Selamat pagi, Arifin!
ARIFIN (Di Tempat Tidurnya) Jam berapa ini? Kau tidak pergi kerja?
SLAMET Kau sendiri masih tidur, kau tidak pergi kerja? Maaf, barangkali aku mengganggumu.
ARIFIN (Tetap Membelakangi) Duduklah.
SLAMET Kau sakit?
(Arifin Menjawab Dengn Gerutuan)
Arifin, aku sungguh bodoh bertengkar dengan kau tentang ceritera itu.
ARIFIN Ceritera apa?
SLAMET Kemarin.
ARIFIN Kemarin apa, kemarin mana?
SLAMET Kau sudah lupa? Tentang badak-badak itu. Tentang badak yang malang itu.
ARIFIN Badak mana?
SLAMET Badak- badak itu. Dua ekor yang pernah kita lihat itu.
ARIFIN Oh, ya, aku ingat. Bagaimana kau bisa beranggapan bahwa badak-badak itu malang?
SLAMET Kukira begitu.
ARIFIN Baiknya kita hentikan saja pembicaraan tentang badak itu.
SLAMET Kau memang sangat baik.
ARIFIN Lalu?
SLAMET Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyesal telah berbantahan, aku memang keras kepala,… marah… pendeknya aku bodoh ketika itu.
ARIFIN Itu tak mengherankan aku.
SLAMET Maafkan saya.
ARIFIN Aku tak enak badan
(BATUK)
SLAMET Mungkin itu sebabnya kau masih di tempat tidur.
(Mengubah Nada Bicara)
Arifin, kita memang punya alasan masing-masing. Sekarang telah terbukti. Di kota telah muncul badak-badak, baik yang bercula satu maupun yang bercula dua.
ARIFIN Jadi itu yang mau kau katakana. Itulah sialnya.
SLAMET Ya, itulah sialnya. Barangkali kau masuk angin. Apa kau merasa demam?
ARIFIN Aku tak tahu. Memang sedikit demam. Aku merasa sakit kepala.
SLAMET Kalau begitu sebaiknya aku pergi saja.
ARIFIN Tinggallah. Kau tidak mengganggu aku.
SLAMET Kau juga serak.
ARIFIN Serak?
SLAMET Sedikit serak. Itu sebabnya aku tadi tak mengenali suaramu.
ARIFIN MEngapa aku harus serak? Suaraku tak berubah, justru suaramu yang berubah.
SLAMET Suaraku?
ARIFIN Mengapa tidak?
SLAMET Mungkin saja. Aku tak menyadarinya.
ARIFIN Tentang apa kau bisa sadar?
(Ia Meletakkan Tangan Di Pelipisnya)
Pelipisku sakit, pasti terbentur sesuatu.
SLAMET Kalau terbentur sesuatu pasti ada benjolannya
(Memperhatikan Arifin)
Hai, ada benjolan. Nyata ada satu benjolan!
ARIFIN Benjolan?
SLAMET Sangat kecil.
ARIFIN Dimana?
SLAMET (Menunjuk) Tepat di atas hidungmu.
ARIFIN Tentu tidak. Dalam keluargaku, tak pernah ada yang mendapat benjolan.
SLAMET Apa kau punya cermin?
ARIFIN Ah, ya
(Meraba Pelipisnya)
Aku akan melihatnya di kamar mandi.
(Ia Berjalan Cepat Ke Kamar Mandi Lalu Berseru Dari Dalam)
Memang betul ada benjolan
(Ia Mungkin Kembali, Benjolannya Tampak Lebih Hijau Di Atas Pelipis)
Mungkin betul aku terbentur.
SLAMET Benjolan itu berwarna hijau.
ARIFIN Kau selalu menyebutkan hal-hal yang tak menyenagkan.
SLAMET Maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu. Apa kau sudah ke dokter?
ARIFIN Aku tak memerlukan dokter.
SLAMET Kita harus memanggil dokter.
ARIFIN Jangan! Aku tak akan memanggilnay. Aku akan merawat diriku sendiri.
SLAMET Siapa tahu penyakit itu berbahaya.
ARIFIN Para dokter selalu mengatakan penyakit yang sebenarnya tak ada.
SLAMET Mungkin benar begitu, tetapi mereka menemukan juga obetnya bukan?
ARIFIN Aku hanya percaya pada dokter hewan.
SLAMET (Memperhatikan Kembali Arifin) Urat-uratmu tampak membengkak, semua menonjol.
ARIFIN Itu tandanya aku kuat.
SLAMET Meski begitu…
IA MEMPERHATIKAN ARIFIN LALU TANPA TANPA SADAR MENJAUHI DENGAN CEPAT
ARIFIN Mengapa kau memandang aku seakan-akan aku binatang aneh?
SLAMET Kulitmu…
ARIFIN Apa yang kau lakukan dengan kulitku?
SLAMET Kulitmu… kulitmu berubah warna. Jadi hijau…
(Ia Memegang Tangan Arifin)
Juga mengeras.
ARIFIN (Menarik Tangannya) Jangan menyentuh akuseperti itu. Kau membuatku kesal.
SLAMET Kita harus memanggil dokter.
IA BERGERAK KE ARAH TILPON
ARIFIN Jangan ganggu benda itu. Kau suka ikut campur
BERGEGAS MENDEKATI SLAMET YANG HENDAK MENILPON
SLAMET Tapi itu semua demi kebaikanmu.
ARIFIN (Bergerak Dan Mengendus-Endus) Aku lebih tahu apa yang baik bagiku.
SLAMET Kau tampaknya sesak nafas!
ARIFIN Aku bernafas seperti biasa! Aku tak uka dengan caramu bernafas, terlalu lemah, seakan-akan sebentar lagi kau akan mampu!
SLAMET Jangan marah Arifin, bagaimanapun aku sahabatmu bukan?
ARIFIN Persahabatan sudah tidak ada!
SLAMET Kau merisaukan.
ARIFIN Kau tak perlu risau.
SLAMET Kau tidak manusiawi belakngan ini.
ARIFIN Aku justru senang bahwa aku tak manusiawi.
(SEMENTARA ITU ARIFIN MULAI BERLARI LARI DALAM RUANGAN SEPERTI BINATANG DALAM KANDANG DARI DINDING SATU KE DINDING LAIN, SLAMET MELIHATNYA PINDAH TEMPAT DARI SAAT KE SAAT, DENGAN TANGKAS MENGHINDAR)
SLAMET Jangan gugup, jangan gugup.
ARIFIN Aku tak betah dalam pakaian ini. Piyama ini menyiksaku
(IA MEMBUKA DAN MENUTUP KEMBALI KANCING PIYAMA)
SLAMET Ah, apa yang terjadi dengan kulitmu?
ARIFIN Lagi-lagi kulitku he? Ini kulitku, aku tak dapat menukarnya dengan kulitmu, bukan?
SLAMET Seperti perisai.
ARIFIN Tentu, aku akan tahan dengan segala cuaca. 92
SLAMET Makin lama kau makin hijau.
ARIFIN Aku tak peduli. Bbbrrr….!
SLAMET Apa katamu?
ARIFIN Aku tak berkata apa-apa. Aku…. Bbbrrr….. menyenangkan!
SLAMET Tahukah kau apa yang terjadi dengan Tigor? Ia jadi seekor badak!
ARIFIN Apa yang terjadi dengan Tigor?
SLAMET Ia jadi badak.
ARIFIN (Membuka Bajunya) Bbbrrrrr……
SLAMET Jangan bercanda begitu….
ARIFIN Biarkan aku bernafas, aku punya hak untuk itu. Aku berada di rumahku.
SLAMET Aku tak menyangkal.
ARIFIN Memang kau tak usah menyangkal aku. Aku merasa panas, gerah.... bbbrrr…. Sebentar… aku akan menyegarkan diri.
SLAMET (Sementara Arifin Sibuk Di Kamar Mandi) Ini akibat demam
TERDENGAR NAFAS MENDENGUS, JUGA GELEGAK AIR
ARIFIN (Dari Dalam) bbbrrrr…..
SLAMET Ia menggigil. Aku akan menelepon ke dokter.
IA BERGERAK KE ARAH TILPON LALU TIBA-TIBA BERHENTI MENDENGARKAN SUARA ARIFIN
ARIFIN Jadi Tigor telah jadi badak. Ah, ia menyamar…
IA MENJENGUKKAN KEPALANYA DI PINTU KAMAR MANDI. TAMPAK IA SANGAT HIJAU, CULANYA MEMBESAR
SLAMET (Berjalan Tanpa Memperhatikan Arifin) Aku berkata sungguh-sungguh.
(Keluar Masuk Ruangan, Ke Kamar Mandi, Ke Luar Lagi)
Seharusnya aku tak mengajakmu bebicara. Makin menambah parah sakitmu saja.
ARIFIN Tidak, percakapan membuatku santai.
SLAMET Boleh kupanggil dokter?
ARIFIN Aku larang dengan tegas.
(Sementara Arifin Semakin Hijau)
Kau jangan melihat sesuatu dari segi buruknya saja. Barangkali ia memang senang menjadi badak.apa kau kira bentuk kita ini lebih disukai?
SLAMET Bagaimanapun juga kita punya moral, tidak seperti binatang.
ARIFIN Moral, moral! Aku sudah kenyang dengan moral!
SLAMET Kalau bukan moral, apa yang akan menggantikannya?
ARIFIN Alam!
SLAMET Apa kau mau mengganti hukum moral dengan hukum rimba?
ARIFIN Di sana aku akan hidup, di sana aku akan hidup! Kita harus kembali kepada keutuhan purba!
SLAMET Aku tak sependapat.
ARIFIN (Mendengus-Dengus) Aku ingin bernafas!
SLAMET Pikirkan baik-baik. Kita memiliki nilai-nilai yang tak ada pada binatang. Paradaban yang berabad-abad telah kita bangun…
ARIFIN Bongkar semua itu. Kita akan membangun peradaban baru.
SLAMET Ku bercanda… kau sedang bersajak.
ARIFIN bbbbrrr…..
SLAMET Aku tidak tahu bahwa kau penyair. Arifin, kau tahu bahwa manusia….
ARIFIN Manusia…. jangan ucapkan lagi kata itu!
SLAMET Aku ingin mengatakan tentang kemanusiaan….
ARIFIN Ketinggalan jaman. Kau berpikiran lapuk dan menggelikan!
(Masuk Kamar Mandi Dan Berkata Dari Dalam)
Kuno! Kau bicara tenatang hal yang tak ada artinya!
SLAMET Tak ada artinya?
ARIFIN (Dari Dalam Dengan Suara Serak) Jelas!
SLAMET Kau linglung! Apakah kau menyukai badak?
ARIFIN Mengapa tidak?
SLAMET Bicaramu tak jelas.
ARIFIN (Di Kamar Mandi) Buka telingamu!
SLAMET Bagaimana?
ARIFIN Buka telingamu, kubilang! Kenapa kau tidak jadi badak saja? Aku menyukai perubahan itu.
SLAMET Hal seperti itu…
(Slamet Berhenti Bicara Karena Arifin Muncul Dengan Rupa Yang Mengejutkan. Benjolannya Sudah Lengkap Jadi Cula)
Rupanya kau sudah kehilangan pikiranmu
(Arifin Lari Ke Tempat Tidurnya Melemparkan Selimut Ke Lantai, Bicara Kacau Balau, Mengeluarkan Suara Yang Tak Pernah Terdengar Sebelumnya)
Jangan amuk-amukan begitu, tenanglah…
ARIFIN Panas, sangat pans. Hancurkan semua. Pakaian, hancurkan, hancurkan!
MENJATUHKAN CELANA PIYAMA
SLAMET Apa yang kau lakukan. Aku tak mengenalmu lagi! Kau biasanya pemalu!
ARIFIN Rawa-rawa! Rawa-rawa!
SLAMET Lihatlah aku. Sepertinya kau tak mengenalku lagi! Kau tak mendengar kata-kataku lagi!
ARIFIN Aku mendengarmu dengan jelas. Aku melihatmu dengan terang
MENYERUDUK SLAMET YANG MENGHINDAR
SLAMET Hati-hati!
ARIFIN (Mendengus-Dengus) Maaf!
LALU DENGAN CEPAT KE KAMAR MANDI
SLAMET (Ke Kiri Lalu Mengikuti Arifin Ke Kamar Mandi Sambil Berkata) Betapapun aku tak dapat membiarkannya seperti itu. Dia kawanku
(Berseru Ke Kamar Mandi)
Aku akan memanggil dokter. Ini mutlak perlu, percayalah!
ARIFIN (Dari Dalam) Tidak!
SLAMET (Dari Dalam Kamar Mandi) Tenanglah Arifin, kau menggelikan! Oh, culamu…. Kau jadi badak!
ARIFIN (MASIH DI DALAM) Aku akan menginjak-injakmu
TERJADI KEGADUHAN DI KAMAR MANDI, BUNYI BENDA JATUH, GELAS PECAH. SLAMET MUNCUL DENGAN PANIK, MENUTUP PINTU KAMAR MANDI DENGAN SUSAH PAYAH MELAWAN DORONGAN DARI DALAM
SLAMET (Mendorong Pintu) Badak-badak!
(Slamet Berhasil Menutup Pintu. Pada Saat Pintu Ditembus Cula Dan Keributan Berlanjut Di Kamar Mandi)
Aku tak percaya lagi padanya
(Ia Lari Keluar Mengetuk Pintu Tetangga)
Ada badak di dalam kamar!
KAKEK (Melongokkan Kepala) Ada apa?
SLAMET Panggil keamanan! Ada badak dalam rumah!
NENEK Siapa itu Arifin? Kenapa ribut-ribut?
KAKEK Aku tak tahu apa yang dikatakannya. Ia melihat seekor badak.
SLAMET Ya, di dalam rumah. Panggil polisi!
KAKEK Ah, kau jangan ganggu dia. Berlaku sopanlah
MENUTUP PINTU DI DEPAN SLAMET
SLAMET (Lari Ke Tangga) Polisi, polisi! Ada badak dalam rumah!
(Slamet Kembali Masuk Kamar Arifin, Sementara Pintu Kamar Mandi Terus Dihantam Dari Dalam)
Ya Tuhan…
(Ia Lari Keluar Sambil Berteriak)
Badak, badak….!
B A B A K I I I
PEMBAGIAN PANGGUNG HAMPIR SAMA DENGAN ADEGAN SEBELUMNYA. MENGGAMBARKAN KAMAR SLAMET YANG MENYERUPAI KAMAR ARIFIN. HANYA ADA PERUBAHAN KECIL DARI BEBERAPA ALAT RUMAH TANGGA YANG MENUNJUKKAN BAHWA INI KAMAR LAIN. DI BAGIAN BELAKANG NAMPAK SEBUAH DIPAN DAN JENDELA YANG TERBUKA. DI SEBELAH KIRI TERDAPAT UJUNG TANGGA DAN PINTU MASUK KE KAMAR SLAMET.
SEBUAH KURSI DAN MEJA DENGAN RADIO KECIL DI ATASNYA. SEBUAH KAMAR DARI SEBUAH FLAT UNTUK PEGAWAI SEDERHANA. SLAMET TERBARING DI ATAS DIPAN, MEMBELAKANGI PENONTON. IA BERPAKAIAN LENGKAP, KEPALANYA DIBALUT PERBAN. AGAKNYA IA SEDANG BERMIMPI BURUK DAN MENGGELEPAR DALAM TIDURNYA.
SLAMET Jangan!
(Hening)
Hati-hati culanya!
(Hening. Deru Sejumlah Badak Terdengar Lewat Di Bawah Jendela)
Jangan!
(Ia Jatuh Ke Lantai Masih Bergulat Dengan Apa Yang Dilihat Dalam Impian Buruknya, Lalu Terbangun. Dengan Hati-Hati Meletakkan Tangan Di Atas Dahinya. Didekatinya Cermin Di Dinding Dan Mengangkat Sedikit Pembalutnya. Ia Bernafas Lega Setelah Dilihatnya Bahwa Tak Ada Benjolan. Ia Ragu-Ragu Menuju Ke Dipan, Berbaring, Tapi Segera Bangun Kembali Dan Berdiri. Ia Mendekati Meja, Dari Bawah Dikeluarkannya Sebotol Minuman Dan Sebuah Gelas. Ia Hendak Menuangkan Minuman, Tetapi Setelah Perjuangan Batinyang Singkat, Dikembalikannya Botol Serta Gelas Itu)
Ayo, ayo, mana daya tekadmu!
(Ia Kembali Ke Dipan, Tapi Kini Terdengar Lagi Badak-Badak Di Bawah Jendela. Ia Mendekati Meja, Sesaat Ragu-Ragu Lalu Dengan Gerak “Peduli Setan!” Dituangnya Minuman Dan Diteguknya Sekaligus. Dikembalikannya Botol, Ia Batuk. Batuk Itu Membuatnya Cemas. Ia Batuk Lagi Dan Mendengarkan Bunyinya Memandang Dirinya Di Cermin, Batuk Lagi. Dibukanya Jendela, Bunyi Terengah-Engah Menjadi Lebih Jelas. Ia Batuk Lagi)
Tidak sama, tidak!
(Ia Tenang Kembali, Ditutupnya Jendela, Dipegang-Pegangnya Balut Kepala, Kembali Ke Dipan Dan Mulai Tertidur) Darmawan Muncul Di Tangga, Didekatinya Pintu Dan Ia Mengetuk. (Slamet Terbangun)
Mau apa?
DARMAWAN Aku datang menengok kau, Slamet.
SLAMET Siapa itu?
DARMAWAN Aku.
SLAMET Aku siapa?
DARMAWAN Aku, Darmawan.
SLAMET Ooo kau, masuklah.
DARMAWAN Aku harap tidak mengganggu
(Mencoba Membuka Pintu)
Pintunya terkunci.
SLAMET Sebentar. Aduh, aduh!
MEMBUKA PINTU, MASUK DARMAWAN
DARMAWAN Apa kabar, Slamet.
SLAMET Apa kabar, Darmawan. Jam berapa?
DARMAWAN Jadi kau tetap berkurung di kandangmu? Merasa lebih baik, kawan?
SLAMET Maafkan suaramu tidak kukenali
(Membuka Jendela Lebar-Lebar)
Ya, ya… rasanya sedikit lebih baik.
DARMAWAN Tak ada perubahan pada suaraku.
SLAMET Maafkan saja, aku tadinya mengira…. Kau benar, suaramu masih seperti biasa. Suaraku tidak berubah, kan?
DARMAWAN Mengapa harus berubah?
SLAMET Tidakkah sedikit, sedikit… parau?
DARMAWAN Setahuku tidak.
SLAMET Terima kasih, aku lega.
DARMAWAN Mengapa, ada apa dengan kau?
SLAMET Kurang tahu—siapa tahu? Suara bisa tiba-tiba berubah—dan celakanya memang berubah!
DARMAWAN Apakah kau diserang selesma?
SLAMET Mudah-mudahan tidak—kuharap tidak. Duduklah Darmawan, ini kursi.
DARMAWAN (Duduk) Kau masih saja merasa kurang sehat? Kepala terus-terusan sakit?
MENUNJUK PADA BALUT SLAMET
SLAMET Ya, sakit kepala terus. Tapi tak ada benjol, aku tidak terbentur… betulkah…?
DIANGKATNYA BALUT SEDIKIT, DIPERLIHATKANNYA PADA DARMAWAN
DARMAWAN Menurut penglihatanku tidak ada.
SLAMET Aku harap tidak pernah ada. Jangan ada.
DARMAWAN Kalau kepalamu tidak terbentur sesuatu, mengapa harus benjol?
SLAMET Kalau betul-betul terhindar dari benturan, dengan sendirinya tidak.
DARMAWAN Jelas, asal saja kita berhati-hati. Tetapi mengapa kau sebenarnya? Begitu gugup dan gelisah. Agaknya karena sakit kepalamu itu. Jangan banyak bergerak, tentu kau akan segera sembuh.
SLAMET Sakit kepala… sudah, jangan sebut-sebut sakit kepala! Aku tak mau mendengarnya!
DARMAWAN Mengapa kau sakit kepala setelah peristiwa yang kau alami itu?
SLAMET Aku belum mengatasinya!
DARMAWAN Tidak heran kau sakit kepala.
SLAMET (Cepat Ke Cermin, Mengangkat Balutnya) Tidak ada… kau tahu bahwa bisa terjadi sesuatu?
DARMAWAN Apa yang terjadi?
SLAMET Aku takut jadi orang lain.
DARMAWAN Tenangkan dirimu. Mari duduklah. Mondar-mandir ke sana kemari hanya membuat kau lebih gelisah.
SLAMET Kau benar. Aku perlu menenangkan diri
(Duduk)
Aku tak dapat melupakannya.
DARMAWAN Maksudmu tentang Arifin? Aku tahu…
SLAMET Ya, tentang Arifin tentunya, juga tentang yang lain-lain.
DARMAWAN Aku mengerti betapa terkejutnya kau.
SLAMET Dan itu tidak mengherankan. Kau akui itu.
DARMAWAN Memang, tapi kau jangan memperbesar persoalan. Tidak ada alasan bagimu untuk…
SLAMET Aku ingin tahu bagaimana seandainya kau adalah aku. Arifin temanku yang terdekat. Bayangkan… dia kusaksikan berubah di depan mataku. Lagipula ia mengamuk!
DARMAWAN Aku turut merasakannya. Kau merasa ditinggalkan. Cobalah, jangan fikirkan dia lagi.
SLAMET Bagaimana tidak kufikirkan? Biasanya ia orang yang ramah, berperikemanusiaan. Siapa kira ia akan begitu? Kami berkenalan ketika kami masih bercelana monyet. Tak kusangka sedikitpun ia akan berubah sedemikian rupa. Aku lebih percaya kepadanya daripada kepada diriku sendiri, tetapi ia tega berbuat begitu kepadaku.
DARMAWAN Aku yakin ia tak bermaksud mengecewakan kau.
SLAMET Justru ia seperti sengaja. Andaikata kau melihat bagaimana dia saat itu—pancaran wajahnya….
DARMAWAN Kebetulan saja kau di sana waktu itu. Tetapi meski dengan siapapun, akan tetap saja terjadi begitu.
SLAMET Setelah bertahun-tahun bersama-sama, sekurang-kurangnya dia bisa mengendalikan diri di depanku.
DARMAWAN Kau pikir segala sesuatu yang terjadi hanya menyangkut pribadimu? Kau bukanlah orang yang paling penting, kau mesti ingat itu.
SLAMET Mungkin kau benar, aku harus belajar menyesuaikan diri. Tetapi kejadian itu amat menggemparkan. Terus terang aku sangat terpukul. Apa penjelasan dari semua ini, apa?
DARMAWAN Sementara ini aku belum dapat menemukan penjelasan yang memuaskan. Aku perhatikan fakta-faktanya. Kemelesetan alam barangkali, kenakalan yang ganjil, lelucon yang kelewatan, suatu permainan—siapa yang tahu?
SLAMET Arifin memang suka membanggakan diri, tetapi aku tidak berambisi apa-apa. Aku puas dengan diriku sebagaimana adanya.
DARMAWAN Mungkin ia membutuhkan udara segar, alam terbuka, dataran luas… mungkin ia mencari ketentraman…
SLAMET Aku paham maksudmu. Meskipun begitu, jika orang menuduh aku sebagai penghalang, atau dianggap memisahkan diri dari masyarakat, aku ingin tetap tinggal sebagaimana aku sekarang.
DARMAWAN Kita tetap sebagaimana kita adanya, jangan kuatir…untuk apa kau terganggu oleh beberapa penderita penyakit badak? Mungkin itu hanya jenis penyakit baru!
SLAMET Justru itu! Aku takut ketularan!
DARMAWAN Sudah, jangan kau pikirkan. Kau menganggap masalah ini begitu penting. Apa yang terjadi pada Arifin tidak jelas gejalanya, persoalannya bukan persoalan umum. Temanmu itu memang terlalu cepat meluap, tabiatnya agak kasar. Kau tak perlu menilai berdasarkan kekecualian.
SLAMET Agaknya hari mulai cerah bagiku. Kau sebenarnya belum bisa menjelaskan padaku, tapi kau telah melengkapi aku dengan penjelasan yang waras. Ya, tentu saja, ia pasti telah menempuh keadaan yang gawat sehingga sampai terjerumus dalam taraf sekarang. Batinnya mengalami ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi dengan Tigor, begitu juga yang lainnya…?
DARMAWAN Aku masih percaya pada teori wabah, seperti influenza misalnya. Bukan pertama kalinya kita diserang wabah.
SLAMET Jenis serupa ini belum pernah tercatat. Apakah berasal dari negara maju atau negara berkembang?
DARMAWAN Bagaimanapun juga yakinlah dirimu bahwa Tigor ataupun yang lainnya melakukan itu bukan untuk merongrongmu. Masak mereka mempertaruhkan segalanya hanya untuk itu.
SLAMET Benar juga, masuk diakal, fikiran yang membantu… atau dari segi lain justru menghancurkan segala harapan?
(Terdengar Badak-Badak Berderap Di Bawah Jendela)
Nah, kau dengar itu?
MELOMPAT KE JENDELA
DARMAWAN Tak usah kau hiraukan mereka
(Slamet Menutup Kembali Jendela)
Mereka toh tidak menyusahkanmu. Sungguh pikiranmu dipenuhi hanya oleh mereka. Itu tak baik untukmu, kau hanya membuat dirimu lebih payah. Kau sudah mengalami kejutan besar, mengapa kau seperti mau minta tambah? Pusat pikiranmu pada hal-hal yang waras!
SLAMET Aku ingin tahu apakah aku betul-betul tidak akan kejangkitan?
DARMAWAN Pokoknya penyakit itu tidak membunuh. Ada penyakit tertentu yang justru menguji manusia, aku yakin jenis ini bisa disembuhkan asal kita mau… merekapun kelak pasti sembuh, lihat saja.
SLAMET Tapi pasti ada kelanjutannya. Suatu perobakan jasmaniah seperti itu mau tidak mau mesti….
DARMAWAN Hanya sementara waktu saja, jangan kuatir.
SLAMET Apa kau betul-betul yakin?
DARMAWAN Aku pikir begitu… ya, aku kira begitu.
SLAMET Tapi kalau seseorang sungguh-sungguh tidak menghendakinya, betul-betul tak mau ketularan—pastilah kita tidak ketularan, tak mungkin ketularan! Kau mau sedikit minum?
DARMAWAN Tidak, terima kasih, aku tidak pernah minum. Silahkan kau minum sendiri kalau kau ingin. Asal saja akit kepalamu tidak bertambah karenanya.
SLAMET Katanya alcohol baik untuk penahan wabah. Membuat seseorang lebih tahan terhadap penularan. Kuman influenza mudah terbasmi olehnya.
DARMAWAN Tapi belum tentu semua kuman bisa terbunuh olehnya. Terhadap penyakit badak ini misalnya, belum diketahui kekuatannya.
SLAMET Arifin tak suka minuman keras, tapi ia Cuma berpura-pura…. Mungkin itulah sebabnya maka… barangkali itu menjelaskan sikapnya
( Disodorkan Segelas Minuman Pada Darmawan)
Kau betul-betul tidak minum?
DARMAWAN Tidak, tidak, apa lagi dengan perut kosong, Terima kasih,
(Slamet Minum Sampai Habis, Ia Batuk)
Nah ternyata tidak kuat minum, sampai batuk-batuk.
SLAMET (Cemas) Ya, membuat aku batuk. Seperti apa batukku itu?
DARMAWAN Seperti setiap orang yang terlalu banyak minum.
SLAMET Tak ada nada yang terdengar aneh bukan? Batuk seperti batuk manusia?
DARMAWAN MAksudmu bagaimana? Batukmu seperti biasa kalau orang batuk. Lantas batuk itu bis bagaimana lagi?
SLAMET Entahlah… barangkali batuk binatang… Papakah badak bisa batuk?
DARMAWAN Ah Slamet, kau mempermainkan dirimu. Kau menciptakan sendiri kesulitan-kesulitanmu, kau bertanya yang aneh-aneh. Aku masih ingat kau mengatakan bahwa perlindungan yang terbaik terhadap ini adalah daya tekad.
SLAMET Memang.
DARMAWAN Nah buktikanlah bahwa kau memiliki tekad itu.
SLAMET Tekad itu ada, percayalah.
DARMAWAN Buktikanlah pada dirimu – misalnya, jangan minum lagi. Pasti kau akan merasa lebih yakin akan dirimu.
SLAMET Kau salah mengerti. Sudah kukatakan bahwa aku minum untuk menjauhkan kemungkinan terburuk. Aku minum dengan penuh kesadaran. Kalau wabah ini sudah berlalu, aku akan berhenti minum. Itu sudah menjadi keputusanku.
DARMAWAN Kau mencari-cari alasan!
SLAMET Kau kira begitu? Bagaimanapun juga atak ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang terjadi sekarang di luar.
DARMAWAN Darimana kita tahu?
SLAMET (Cemas) Maksudmu memang ada hubungannya? Begituka malapetaka itu terjadi menurut kau? Aku bukan pemabuk
(Ia Mendekati Cermin Untuk Memeriksa Diri)
Kau pikir, akan mungkinkah…
(Ia Meraba Raba Wajahnya, Menepuk Nepuk Balut Kepalanya)
Tak ada perubahan, tak ada kerusakan, jadi itu berarti baik, sekurang-kurangnya tak ada pengaruh apa-apa.
DARMAWAN Aku hanya bergurau, aku Cuma main-main. Kau melihat segala sesuatu dari segi yang gelap – hati-hatilah, jangan sampai kau kena penyakit syaraf. Kalau kau sudah mengatasi kejutanmu sepenuhnya dank au sudah merasa sanggup untuk keluar menghirup udara segar, kau akan merasa lebih baik. Coba saja! Semua pikiran buruk itu akan lenyap.
SLAMET Keluar? Suatu saat memang harus. Aku ngeri kalau saat itu tiba. Mau tak mau aku pasti berjumpa dengan beberapa dari mereka.
DARMAWAN Apa salahnya? Mudah saja kau menyingkir untuk memperkenankan mereka lewat. Dan jumlah mereka tidak sebanyak yang kau bayangkan.
SLAMET Dimana-mana aku melihat mereka.
DARMAWAN Mereka tidak menyerang kau. Kalau kau tidak ganggu mereka, merekapun akan menghindari kau. Kau tak usah menganggap rendah mereka. Bahkan mereka memiliki kemurnian tertentu yang wajar, semacam keterusterangan. Aku berjalan kaki untuk mengunjungi kau. Aku sampai di sini dengan aman dan sehat walafiat bukan? Tanpa mengalami kesulitan apa-apa.
SLAMET Hanya melihat mereka saja aku sudah gugup. Katakanlah aku senewen. Aku bukan marah, tidak, tidak ada untungnya kalau aku marah, akibatnya tidak bisa dijamin, itu kujaga. Tapi aku terpengaruh – di sini
(Menunjuk Hatinya)
Perasaanku tercekam dari dalam.
DARMAWAN Reaksi sampai batas tertentu memang bisa dibenarkan. Tapi kau berlebihan. Tak ada bakat humor padamu, itulah yang menyulitkan, sedikitpun tak ada. Kau perlu belajar supaya lebih santai sedikit, dan melihat segala sesuatu dari segi lucunya.
SLAMET Aku merasa terlibat, aku tak bisa bersikap tak peduli.
DARMAWAN Jangan mengadili kalau kau tak ingin diadili. Kalau kau begitu cemas kau tak akan mampu meneruskan hidup.
SLAMET Kalau aja ini terjadi ditempat lain, di negara lain dan kita hanya membacanya di surat kabar, kita bisa memperbincangkannya dengan tenang dan mencapai kesimpulan yang obyektif. Kita bisa menyelenggarakan diskusi dengan para professor, penulis dan sarjana hokum, tokoh-tokoh seniman dan semua orang. Tapi kalau kita sendiri terlibat, kalau tiba-tiba kau dihadapkan pada fakta yang kejam – kejutan begitu dahsyat, kita tidak bisa tinggal diam. Terus terang aku tercengang, aku sangat, sangat tercengang. Aku tak bisa mengatasinya.
DARMAWAN Akupun tercengang mulanya, mulanya. Kini aku mulai biasa.
SLAMET Jaringan syarafmu lebih kompak daripada aku. Kau beruntung.
DARMAWAN Aku tidak mengatakan bahwa ini baik. Jangan kau kira aku memihak pada badak-badak…
BUNTI SEKELOMPOK BADAK LEWAT DI BAWAH JENDELA
SLAMET Itu mereka, lagi-lagi mereka! Aku tidak bisa membiasakan diri dengan mereka. Mereka terlalu menjajah pikiranku sampai aku tak bisa tidur. Mataku membeliak tak bisa pejam. Di siang hari aku ngantuk karena kelelahan yang sangat.
DARMAWAN Minumlah obat tidur.
SLAMET Bukan itu penyelesaiannya. Kalau aku tertidur lebih buruk lagi. Aku mimpi tentang mereka, mimpi buruk!
DARMAWAN Sudah kukatakan jangan melihat segala sesuatu terlalu serius. Rupanya kau senang memyiksa dirimu. Akuilah!
SLAMET Aku bukan seorang Maschosis!
DARMAWAN Jadi, hadapilah faktanya, dan atasilah. Memang sudah begini keadaannya. Kau tak bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya.
SLAMET Itu fatalisme.
DARMAWAN Ah tidak, akal waras. Kalau ada kejadian seperti ini, yakinlah bahwa ada sebabnya. Itu yang harus kita selidiki.
SLAMET Aku tak mau menerima keadaan ini.
DARMAWAN Apa yang bisa kau perbuat? Kau punya rencana?
SLAMET Saat ini aku belum tahu. Aku harus memikirkan dulu masak-masak aku akan menulis surat ke Koran-koran, aku minta bertemu walikota atau wakilnya kalau pak walikota terlalu sibuk.
DARMAWAN Aku sangsi apakah secara moril kau berhak turut campur. Bagaimanapun juga kukira tidak perlu begitu gawat. Kuanggap bodoh kalau kau mesti merusuhkan diri untuk orang yang telah memutuskan diri untuk berganti kulit.
SLAMET Iblis harus kita serang dari akar-akarnya!
DARMAWAN Iblis! Itu Cuma perkataan! Siapa yang tahu apa kejahatan dan apa kebaikan? Kepastian tergantung pada penentuan pribadi. Kau bimbang tentang keselamatan kulitmu sendiri, itulah hakikatnya. Tapi kau tak akan menjadi badak, dijamin tidak – kau tak punya potongan untuk menjadi badak.
SLAMET Jika saja setiap orang berpikir seperti kau… Maafkan aku, aku terlalu tegang. Tapi aku akan memperbaiki diri. Mungkin kau punya pekerjaan…
DARMAWAN Jangan kuatir, beres. Pokoknya kantor belum bisa buka lagi.
SLAMET Tangga itu belum diperbaiki? Sungguh lalai.
DARMAWAN Mereka sedang memperbaikinya. Tapi pekerjaan itu lamban. Sulit mencari tukang-tukangnya.
SLAMET Katanya banyak penganggur. Aku kira kita mendapat tangga semen.
DARMAWAN Tidak, kayu lagi.
SLAMET Terlalu. Tentu pak Entung akan kecewa. Apa katanya tentang ini?
DARMAWAN Kita tak punya direktur lagi. Pak Entung telah mengundurkan diri.
SLAMET Betapa mungkin!
DARMAWAN Sungguh mati.
SLAMET Apakah karena persoalan tangga?
DARMAWAN Rasanya tidak.
SLAMET Lalu mengapa? Ada apa dengan dia?
DARMAWAN Ia mau pulang ke kampungnya.
SLAMET Pulang kampung? Ia masih kuat menjabat direktur sampai bertahun-tahun lagi.
DARMAWAN Ia tak bersedia lagi. Katanya ia perlu istirahat. Mungkin sebaiknya aku cerita padamu – lucu juga – sebetulnya… jelasnya ia telah menjadi badak
BUNYI BADAK DI KEJAUHAN
SLAMET Badak! Pak Entung badak? Aku tak percaya! Sama seklali tak lucu! Mengapa baru kau ceritakan sekarang?
DARMAWAN Aku tak mau menceritakan karena tahu kau akan terganggu.
SLAMET Celaka dua belas, Pak Entung. Padahal kedudukannya begitu baik. Mustahil ia berbuat dengan sengaja. Aku tak yakin bahwa ia melakukannya dengan suka rela.
DARMAWAN Siapa yang dapat mengatakan? Sukar untuk mengetahui alasan sebenarnya.
SLAMET Mungkin ia membuat kekeliruan. Seharusnya ia minta pertolongan dokter jiwa.
DARMAWAN Itulah cara yang dipilihnya untuk mencapai sublimasi diri.
SLAMET Pasti ada yang maembujuk dia.
DARMAWAN Itu terjadi padasetiap orang.
SLAMET Setiap orang? Ooo jangan! Tidak pada dirimu bukan? Pada diriku juga tidak.
DARMAWAN Kita harapkan saja tidak.
SLAMET Kita tak ingin bukan? Jawablah!
DARMAWAN Ya, ya, tentu!
SLAMET (Lebih Tenang) Aku mengira bahwa pak Entung memiliki kekuatan untuk menentangnya. Dalam pandanganku ia cukup berwatak. Terutama karena aku tidak tahu apakah yang memikatnya -- jaminan material atau moral manakah…
DARMAWAN Lebih masuk akal kalau menganggapnya karena suatu sikap kekecewaan dalam dirinya.
SLAMET Boleh jadi. Memang sangat kabur, atau lebih memberatkan… Memberatkan kukira, sebab kalau betul-betul atas kehendaknya… Aku rasa pak Surahman akan mengecam dia – apa yang dikatakan tentang kelakuan Direktur kita?
DARMAWAN O Surahman lebih dari marah. Ia ngamuk tak terkendalikan. Aku jarang melihat orang begitu marah.
SLAMET Sebtulnya ia orang baik. Ia memiliki pendirian yang waras. Dan selama ini aku salahmngerti tentang sikapnya.
DARMAWAN Ia juga tak mengerti tentang kau.
SLAMET Terbukti bahwa saat ini aku cukup obyektif. Jangan lupa, kaupun menganggap rendah orang itu.
DARMAWAN Aku tidak merendahkan dia. Kuakui aku jarang sefaham dengan dia, aku tidak suka pada caranya mengecam sesuatu, sikapnya selalu curiga. Sampai sekarangpun aku tidak dapat menghargai dia sepenuhnya.
SLAMET Sekarang untuk alasan yang sebaliknya.
DARMAWAN Bukan, bukan itu. Caraku meninjau dan menarik kesimulan tidak semudah yang kau kira. Soalnya karena tidak ada hal-hal yang ilmiah atau obyektif tentang pernyataan yang dikemukakan oleh Surahman. Secara pribadi aku tidak membenarkan perbadakan ini, kaupun tahu sama sekali tidak membenarkan, jangan salah sangka! Tetapi sikap Surahman terlalu ekstrim, seperti biasa.Dan justru karena itu terlalu gampang. Pendiriannya melulu didiktekan oleh kebencian terhadap atasannya. Dari situlah timbul rasa rendah dirinya dan ketidak puasannya. Lagipula semua omongannya berupa kutipan-kutipan indoktrinasi, dan perdebatan macam demikian tidak cocok buatku.
SLAMET Maafkan aku kalau sekali ini aku menyetujui Surahman sepenuhnya. Ia orang yang patut dihargai.
DARMAWAN Aku tidak menyangkal – tapi aku tidak membenarkan.
SLAMET Ia orang yang wajib dihargai, karena orang seperti dia sudah menjadi jarang dewasa ini. Ia realistis, kakinya kukuh memijak bumi. Aku setuju sepenuhnya dengan dia, dan aku tak malu mengatakannya. Aku ingin memberi selamat kepadanya kalau berjumpa dengannya. Aku menyesali perbuatan pak Entung, justru seharusnya dialah yang pantang menyerah.
DARMAWAN Betapa tidak tolerannya kau! Barangkali pak Entung membutuhkan ketentraman setelah bertahun-tahun kerja kantor.
SLAMET (Ironis) Dan kau terlalu toleran, terlalu liberal!
DARMAWAN Slamet, kawan… Seseorang harus berusaha untuk mengerti. Untuk dapat mengerti suatu kejadian serta akibat-akibatnya, kau harus meneliti kembali alasan-alasan yang menyebabkannya melalui proses intelek yang jujur. Kita mesti berbuat demikian karena lebih dari apapun kita mahluk yang mampu berfikir. Aku belumlah berhasil, seperti sudah kukatakan padamu. Dan aku tidak tahu apakah aku akan berhasil. Bagaimanapun juga, kita mesti memulai dengan kebulatan yang sebaik-baiknya – atau setidak-tidaknya dengan sikap tidak memihak, akal kita harus senantiasa terbuka, segala apapun bisa logis. Mengerti berarti membenarkan.
SLAMET Aku ramalkan bahwa kau kelak memihak pada badak-badak.
DARMAWAN Tidak, tidak, sama sekali tidak. Aku tak akan sejauh itu. Aku Cuma mencoba menghadapi faktanya langsung tanpa sentiment. Aku berusaha berskap realistis. Aku dapat menerima bahwa tidak ada kejahatan mutlak dalam sesuatu yang terjadi sewajarnya. Aku bukanlah orang yang memandang segala sesuatu sebagai sumber kejahatan. Serahkanlah penilaian pada yang berwenang.
SLAMET Kau menganggap kejadian ini wajar?
DARMAWAN Adakah yang tidak wajar pada seekor badak?
SLAMET Ya, tapi manusia yang berubah jadi badak tak dapat disangsikan lagi ketidak wajarannya.
DARMAWAN Itu soal pendirian saja.
SLAMET Tak boleh jadi, mutlak tak boleh jadi.
DARMAWAN Kau begitu yakin. Siapa yang dapat mengatakan sampai mana batas wajar dan tidak wajar? Bisakah kau menguraikannya. Belum ada yang menemukan jawaban masalah ini, tidak dri segi kedoteran, tidak dari falsafah. Kau seharusnya sadar.
SLAMET Boleh jadi masalah initak dapat diselesaikan secara falsafah – tapi dalam praktejnya mudah saja. Orang bisa saja membuktikan bahwa apa yang disebut gerak itu tidak ada… tapi kau mulai berjalan…
(Mundar Mandir)
Dan terus berjalan, dan kau katakana pada dirimu seperti kata Galileo “ Dan untuk dapat bergerak”…
DARMAWAN Kau mencampur adukkan yang satu dengan yang lainnya. Jangan memperumit persoalan. Dengan Gelileo justru sebaliknya; hasil pemikiran dan teori yang membuktikan keulungnnya di atas pendapat umum dan dogmatisme.
SLAMET (Pusing Sendiri) Apakah arti semua ini? Pendapat umum, dogmatisme – melulu kata-kata! Boleh jadi di dalam kepalaku sudah terputar balik semuanya. Tapi kau kehilangan otakmu. Kau sudah tak bisa membedakan lagi antara wajar dan tak wajar. Aku tak perduli dengan Galileo, persetan Galileo!
DARMAWAN Kau yang menyebut dan membawanya ke dalam persoalan. Kau yang mengemukakan bahwa prakteklah yang akhirnya menentukan. Mungkin kau benar asal titik tolaknya dari teori. Seluruhsejarah pemikiran manusia dan ilmu pengetahuan membuktikannya.
SLAMET (Makin Marah) Tak satupun dibuktikan dengan terliti, apa itu gila.
DARMAWAN Sama saja. Kita harus menguraikan dengan teliti, apa itu gila.
SLAMET Gila adalah gila, tanpa arti yang lebih dari itu. Setiap orang tahu apa arti gila. Lalu tentang badak-badak itu… Praktek atau teori?
DARMAWAN Keduanya.
SLAMET Keduanya bagaimana?
DARMAWAN Yang satu maupun yang lain, atau yang satu atau yang lain. Bahan perdebatan!
SLAMET Kalau begitu aku tak sudi memikirkannya.!
DARMAWAN Kau sudah tak menguasai diri lagi. Pendiirian kita mungkin tak sepenuhnya sesuai, namun kita masih dapat memperbincangkannya secara damai. Persoalan seperti ini sebaiknya dirundingkan.
SLAMET (Bingung) Kau kira aku tak menguasai diri lagi? Aku bisa menjadi seperti Arifin. Ooo jangan, jangan, aku tak mau seperti dia
(Ia Menenangkan Diri)
Aku tak begitu pandai dalam falsafah. Pendidikanku tidak tinggi, lain dengan kau yang punya gelar dan macam-macam diploma. Kau dengan mudah melancarkan dikusi – aku orang kepalang
(Huru Hara Badak Di Bawah Jendela)
Tapi perasaanku mengatakan bahwa kau salah – kurasakan dengan naluriku – kurasakan dengan firasatku. Ya itulah istilahnya, firasat.
DARMAWAN Apakah yang kau artikan dengan firasat?
SLAMET Firasat dalam arti… ya, arti yang itu! Aku dapat merasakannya, dengan wajar. Aku pikir toleransimu yang keterlaluan itu, kesabaranmu yang murah hati itu – percayalah, sesungguhnya Cuma merupakan kelemahan, kebutuhan jiwa…
DARMAWAN Tuduhanmu timbul dari ketidak tahuan.
SLAMET Kau selalu mampu untuk berputar-putar mengelilingi aku. Tapi jangan kira…, aku akan berusaha menemui Sarjana Muda itu
DARMAWAN Sarjana Muda mana?
SLAMET Sarjana Muda itu, ahli falsafah, ahli ilmu logika. Aku pernah bertemu dengan dia. Sarjana Muda itu yang akan bisa menjelaskan padaku.
DARMAWAN Menjelaskan mngenai apa?
SLAMET Ia menjelaskan bahwa badak-badak Asia itu jenis Afrika, dan yang Afrika jenis Asia.
DARMAWAN Aku kurang mengerti.
SLAMET Bukan, bukan… ia membuktikan yang sebaliknya – bahwa yang Afrika itu jenis Asia dan yang Asia .. aku tahu betul apa yang kumaksud. Bukan itu yang hendak kujelaskan. Tapi kau pasti akan sesuai bergaul dengannya. Ia setaraf dengan kau, orang yang baik hati, pemikir yang pandai, gemilang.
(Huru Hara Badak Memuncak. Percakpan Terbenam Oleh Suara Binatang)
Itu mereka lagi. Kapan mereka akan berhenti
(Ia Lari Ke Jendela) Hentikan, hentikan, setan !
BADAK MENJAUH, SLAMET MENANTANG MEREKA DENGAN TINJUNYA
DARMAWAN (Duduk) Aku akan senang bertemu dengan sarjana logika yang kau maksudkan, kalau ia bisa membuat aku mengerti tentang masalah yang gelap dan genting ini. Aku akan sangat berterima kasih.
SLAMET (Melompat Ke Arah Lain Di Jendela) Ya, akan kuperkenalkan dia kepadamu, ia pasti bersedia berbicara denganmu. Orangnya berwibawa, lihatlah nanti
(Kepada badak di bawah)
Setan!
MENGACUNGKAN TINJU
DARMAWAN Biarkan mereka, bersikaplah sopan. Tak pantas kau bicara demikian pada orang-orang…
SLAMET (tetap di jendela) Itu mereka lewat lagi. Ada kacamata dengan pinggiran tebal tersangkut di cula badak. Astaga, itu kacamata Sarjana Muda. Punya sang Sarjana Muda! Ini melewati batas! Sarjana Muda itu telah menjadi Badak! Ya Tuhan kepada siapa lagi kita bisa minta nasihat.
DARMAWAN (ke jendela) Mana dia?
SLAMET (menunjuk) Itu yang satu itu. Kau lihat?
DARMAWAN Satu-atunya badak yang berkacamata. Kau pasti betul itu Sarjana Logikamu?
SLAMET Sarjana Muda itu…. badak!
DARMAWAN Ia masih mempertahankan benda kenangan dari kediriannya dulu.
SLAMET (mengayunkan tinjunya ke arah badak) Aku tak akan bergabung dengan kau! Jangan harap!
DARMAWAN Kalau ia betul-betul pemikir seperti yang kau gambarkan, mustahil ia akan terseret. Ia pasti akan mempertimbangkan dulu untung ruginya.
SLAMET (berseru) Jangan berharap aku bergabung dengan kalian!
DARMAWAN (duduk kembali) Ya, kita terpaksa memikirkannya
SLAMET AKAN MENUTUP JENDELA, TETAPI DARI ARAH LAIN MUNCUL LAGI BADAK-BADAK MENGELILINGI BANGUNAN ITU. DIBUKANYA LAGI JENDELA DAN BERSERU
SLAMET Tidak, aku tak akan bergabung dengan kalian!
DARMAWAN (sendiri) Mereka berkeliling mengitari gedung ini. Mereka bermain-main! Seperti bayi-bayi raksaa!
(Nampak dewi mengetuk pintu slamet. Ia membawa keranjang)
Ada orang di luar Slamet!
SLAMET (memaki maki) Memalukan ! menyamar begitu, memalukan!
DARMAWAN Ada yang mengetuk pintu, Slamet. Dengar tidak?
SLAMET Kaulah! Bukakan saja.
IAMENGAWASI BADAK-BADAK YANG MENJAUH. DARMAWAN MEMBUKA PINTU
DEWI Selamat pagi kak Darmawan.
DARMAWAN Ooo kau, Dewi.
DEWI Kak Slamet ada? Sudah sembuhkah?
DARMAWAN Aku gembira bisa bertemu dengan kau. Sering mengunjungi Salmet?
DEWI Mana dia?
DARMAWAN Tuh.
DEWI Ia sendiri saja? Kasihan. Dan kesehatannya akhir-akhir ini kurang baik. Ia memerlukan bantuan seseorang.
DARMAWAN Kau benar-benar seorang sahabat, Dewi.
DEWI Aku tak lebih dari seorang sahabat yang ingin setia.
DARMAWAN Hatimu pengasih.
DEWI Aku hanya sahabat yang setia saja.
SLAMET (Membalik) Ooo Dewi… Kau terlalu baik datang ke sini, terlalu baik.
DARMAWAN Lebih dari baik.
SLAMET Kau sudah tahu, Dewi, Sarjana Muda itu kini seekor badak?
DEWI Sudah tahu. Aku melihat dia tadi di jalan ketika aku mau masuk. Ia bisa lari cepat sekali! Kau sudah agak sembuh kak Slamaet?
SLAMET Kepalaku masih sakit, berdenyut-denyut ! kadang-kadang aku takut… Bagaimana menurut kau?
DEWI Aku anjurkan kau banyak berbaring. Istirahatlah dengan tenang untuk beberapa hari.
DARMAWAN Kuharap aku tidak mengganggu kalian.
SLAMET (Kepada Dewi) Maksudku tentang Sarjana Muda itu…
DEWI Menggangu apa?
(Kepada Slamet)
Ooo tentang sarjana muda itu? Aku tak punya komentar apa-apa.
DARMAWAN Mungkin aku menyusahkan.
DEWI (Kepada Slamet) Habis apa yang mesti kupikirkan?
(Kepada Keduanya)
Aku punya kabar untuk kalian. Surahman sudah menjadi badak!
DARMAWAN Begitukah?
SLAMET Aku tak percaya. Ia tidak menyetujuinya. Kau pasti keliru. Ia jutru protes terhadap itu. Darmawan baru saja ceritera tentang dia. Begitu bukan Darmawan?
DARMAWAN Memang.
DEWI Aku tahu ia menentangnya. Meskipun begitu tak dapat dicegah ia merubah diri, 24 jam setelah pak Entung.
DARMAWAN Rupanya ia berubah pikiran. Setiap orang berhak atas itu.
SLAMET Dengan begitu apapun bisa terjadi?
DARMAWAN (Kepada Slamet) Baru saja kau berkata, ia seorang yang patut dihargai.
SLAMET (Kepada Dewi) Aku tak percaya. Mungkin mereka membohongi aku.
DEWI Aku menyaksikan sendiri.
SLAMET Kalau begitu ia mengelabuhi kau. Ia Cuma pura-pura di depanmu.
DEWI Agaknya ia berubah dengan rela.
SLAMET Apa ia mengemukakan alasan?
DEWI Ia mengatakan, kita harus memenuhi tuntutan jaman! Itulah kata- katanya yang terakhir sebagai manusia.
DARMAWAN Aku sudah menduga akan menjumpai kau di sini, Dewi.
SLAMET Memenuhi tuntutan jaman! Mental Bejat!
DARMAWAN (Kepada Dewi) Di mana lagi bisa kujumpai, sebab kantor sudah tutup.
SLAMET (Kepada Irinya Sendiri) Seperti anak kecil! DEWI Kalau kau ingin bertemu dengan aku, kau udah tahu alamatku.
DARMAWAN Kau kan tahu Dewi, itu kurang pantas.
SLAMET Tapi kalau kufikir kembali, perbuatan Surahman tidak mengherankan. Tekadnya itu Cuma lagaknya di luar saja yang tidak menutup kemungkinan bahwa ia orang baik. Orang baik- baik jadi badak baik-baik. Sayang sekali…
DEWI Bolehkah keranjang ini aku simpan di meja?
SLAMET Tapi ia orang baik yang penuh kedengkian.
DARMAWAN (Menuju Dewi, Membantu Menaruh Keranjang Di Meja) Maafkan aku, maafkan kami berdua. Seharusnya dari tadi kami membantu kau.
SLAMET Ia dikuasai oleh kebencian terhadap atasan-atasannya. Dan ia punya perasan rendah diri.
DARMAWAN (Kepada Slamet) Argumentasimu tidak berlaku, sebb kini iameniru majikannya. Ia justru alat dari orang-orang yang menghisapnya. Agaknya persoalan dengan dia merupakan kemenangan jiwa gotong royong atas dorongan-dorongan anarki.
SLAMET BAdaklah yang anarkis karena merekamerupakan minoritas.
DARMAWAN Memang benar… untuksementara ini.
DEWI Yang kau katakana minorotas itu cukup besar jumlahnya, dan terus bertambah besar. Keponakanku sudah jadi badak, juga isterinya. Belum lagi para pemimpin kita.
SLAMET Orang-orang yang kita percaya.
DEWI Dan banyak lagi yang lainnya. Banyak sekali. di kota ini sudah sepertiga penduduk…
SLAMET Kita masih merupakan mayoritas. Kita harus menggunakan kesempatan sebelum kita terdesak.
DARMAWAN Mereka sangat berpengaruh.
DEWI Oh, mari kita makan dulu. Aku bawa makanan.
SLAMET Kau terlalu baik dik Dewi.
DARMAWAN (Kesamping) Terlalu baik, memang.
SLAMET Aku berhutang budi.
DEWI (Kepada Darmawan) Kau makan bersama kami?
DARMAWAN Aku tak mau menyusahkan kalian.
DEWI Apa maksudmu kak Darmawan? Kau tahu bahwa kami ingin kau tinggal di sini.
DARMAWAN Aku tak mau merusak suasana.
SLAMET Tentu kau akan tinggal di sini Darmawan. Kita bisa ngobrol terus.
DARMAWAN Sebetulnya waktuku terbatas. Masih ada urusan lagi.
SLAMET Tadi kau bilang, kau tak punya acara.
DEWI (Mengeluarkan Isi Keranjang) Saat ini susah sekali mendapatkan makanan. Toko-toko sebagian besar tutup, pasar- pasar kosong. Di luar pintu mereka memasang tulisan “ Tutup, berhubung ganti rupa”
SLAMET Mereka perlu digiring ke suatu padang yang trepagar, dan diawasi secara kusus.
DARMAWAN Bicara memang mudah. Kau akan diprotes oleh panitia pelindung hewan.
DEWI Dan jangan lupa bahwa setiap orang mempunyai keluarga dekat atau teman baik. Jadi akan lebih sukar lagi.
SLAMET Jadi semua orang tersangkut.
DARMAWAN Semua senasib sepenanggungan!
SLAMET Tapi betapa mungkin manusia itu badak? Ini diluar akal waras!
(Kepada Dewi)
Kubantu kau membereskan meja.
DEWI Biarlah, aku sudah tahu dimana tempat piring-piring
MENGELUARKAN ALAT MAKAN DARI LEMARI KECIL
DARMAWAN (Kesamping) Ia sudah mengenal baik tempat ini.
DEWI Aku sediakan tiga piring – kau tinggal dengan kami di sini?
SLAMET Tentu saja.
DEWI (Kepada Slamet) Lambat laun kita akan binasa. Tak akan ada orang yang heran melihat sekelompok badak berkejaran di jalan. Orang akan menyingkir memberi tempat, lalu melanjutklan perjalanan seperti tak ada apa-apa.
DARMAWAN Cara menghadapi yang paling bijak.
SLAMET Tapi aku tidak bisa membiasakan diri.
DARMAWAN (Merenung) Apa salahnya kalau kita maemberi kesempatan sebagai percobaan?
DEWI Sekarang, mari kita makan dulu.
SLAMET Aku tak bisa mengerti mengapa seorang ahli hukum seperti kau bisa…
(Huru Hara Badak Yang Berlari Cepat Di Luar, Terdengar Bunyi Terompet Dan Genderang)
Ada apa?
(Mereka Lari Ke Jendela)
Apa itu?
(Terdengar Dinding Ambruk Di Luar, Debu Memenuhi Jendela Menutupi Ketiga Orang Tadi)
Aku tak dapat melihat. Apa yang terjadi?
DARMAWAN Melihat memang tidak bisa, tapi mendengar bisa, kan?
SLAMET Apa gunanya?
DEWI Piring dan makan tertutup debu.
SLAMET Tidak sehat!
DEWI Kita segera makan saja dulu. Tak usah hiraukan mereka!
DEBU MULAI BERKURANG
SLAMET Mereka mendobrak dinding Pemadam Kebakaran!
DARMAWAN Betul juga, mereka telah mendobraknya.
DEWI Mereka keluar dari puing!
SLAMET Regu Pemadam Kebakaran, sekompi badak-badak, dengan drumband di depan mereka!
DEWI Mereka berpawai di jalanan!
SLAMET Ini sudah keterlaluan, lebih dari keterlaluan!
DEWI Banyak lagi badak-badak keluar dari gedung-gedung!
SLAMET Dari rumah-rumah.....
DARMAWAN Bahkan dari jendela juga.
DEWI Mereka bergabung satu sama lain.
DARMAWAN Dari jenis kita sudah sedikit sekali yang tersisa.
SLAMET Berapa jumlah yang bercula satu dan berapa yang bercula dua?
DARMAWAN Mungkin ahli statistic sedang menyusunnya saat ini.
SLAMET Mereka hannya dapat memperkirakan jumlahnya. Begitu cepat perkembangannya, mereka akan kekurangan waktu untuk menghitung!
DEWI Ayo makan dulu. Demi ketenanganmu. Setelah perut terisi tenaga bertambah.
(Kepada Darmawan)
Kau juga.
MEREKA MENJAUH DARI JENDELA, DEWI MEMEGANG LENGAN SLAMET. TIBA-TIBA DARMAWAN TERHENTI
DARMAWAN Aku tidak lapar – atau terus terang, aku tidak suka makanan yang di masak. Aku ingin makan di luar, di atas rumput.
SLAMET Jangan, terlalu sembrono. DARMAWAN Tapi sungguh… aku ingin makan di luar.
SLAMET Sudah kukatakan bahwa…
DARMAWAN (Memotong) Percayalah.
DEWI Kalau kau sungguh-sungguh, kami tak bisa menahan kau di sini.
DARMAWAN Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.
SLAMET Jangan ijinkan dia pergi.
DEWI Aku ingin dia tinggal di sini, tapi dia bebas berbuat sesuka hatinya.
SLAMET Manusia lebih luhur dari pada badak….!
DARMAWAN Aku tak pernah menyangkal, tapi bukan berarti aku setuju dengan kau.
SLAMET Kau mulai goyah Darmawan. Ini hanya sementara, jangan sampai kau menyesal nanti.
DEWI Kalau ini hanya sementara, maka bahayanya tidak besar.
DARMAWAN Aku punya prinsip. Adalah tugasku untuk setia pada majikan dan teman-temanku, dalam suka maupun duka. Selamat tinggal perkawinan. Aku memenuhi tugas.
SLAMET Tidak, kau keliru. Kau tak insaf di mana tugasmu sebenarnya. Tugas mu ialah menentang mereka dengan tegas dan waras.
DARMAWAN Akalku akn kupertahankan warasnya
(Ia Mulai Berputar Putar Mengelilingi Panggung)
Waras seperti sediakala. Tapi aku takkan meninggalkan mereka.
DEWI Ia sangat berbudi.
SLAMET Terlalu berbudi
(Melompat Ke Arah Pintu, Berkata Pada Darmawan)
Kau keliru
(Pada Dewi)
Jangan bolehkan dia pergi. Ia akan membuiat kesalahan.
DEWI Dapatkah aku menahannya?
DARMAWAN LARI KE PINTU DAN KELUAR DENGAN CEPAT, DISUSUL OLEH SLAMET SAMPAI PINTU
SLAMET Kembali , Darmawan, jangan pergi! Terlambat
(Masuk Kembali)
Terlambat .
DEWI Ini di luar kemampuan kita
MENUTUP PINTU, SLAMAET TELAH LARI KE JENDELA
SLAMET Ia telah bergabung dengan mereka, mana dia?
DEWI (Mendekati Jendela) Bersama mereka.
SLAMET Yang mana dia?
DEWI Tak dapat di kenal, tak dapat di bedakan dari yang lain.
SLAMET Mereka mirip satu sama lain, mirip semua. Kau seharusnya menahan dia, sekalipun dengan kekerasan.
DEWI Aku tak berani.
SLAMET Kau mestinya lebih tega kepadanya. Ia menaruh hati padamu bukan?
DEWI Ia tak pernah mengatakan terus terang.
SLAMET Setiap orang tahu. Kini ia berbuat nekad karena cintanya ditolak. Ia ingin berbuat sesuatu agar dikagumi olehmu. Apa kau tak berhasrat untuk mengejarnya?
DEWI Sama sekali tidak.
SLAMET (Melihat Keluar Jendela) Mereka melulu yang kelihatan di jalanan, dari ujung ke ujung. Sejauh mataku dapat melihat tak satupun manusia yang tampak. Mereka memenuhi jalan-jalan, sebagian bercula satu sebagian lagi bercula dua. Hanya itu perbedaan yang ada.
(Huru Hara Maha Dahsyat Dari Badak Yang Bergerak Terdengar, Namun Terasa Seperti Musik. Pada Dinding Belakang Muncul Kepala-Kepala Badak Lalu Menghilang Kembali. Kepala Ini Bertambah Banyak Ampai Bagian Belakang Panggung Penuh)
Kau kan tidak merasa ditinggalkan Dewi, aku kira kau tak akan pernah lagi bisa jatuh cinta.
IA MEMBELAI TANGAN DEWI DAN MEMEGANGNYA
DEWI Tak ada yang mustahil bukan?
SLAMET Aku inginmembuat kau bahagia. Apakah kau bahagia bersamaku?
DEWI Mengapa tidak? Kalau kau bahagia, akupun bahagia. Katamu kau tak takut apa-apa, tapi apakah yang akan terjadi pada kita?
SLAMET (Gugup) Cintaku… bolehkah kau kucium? Tak pernah kuimpikan perasaan semegah ini.
DEWI Kau harus lebih tenang, lebih yakin akan dirimu di saat ini.
SLAMET Aku tenang dan yakin, bolehkah kau kucium?
DEWI Aku lelah sekali. tenang dan istirahatlah. Duduk di kursi.
SLAMET DIBIMBING DEWI, DUDUK DI KURSI
SLAMET Dengan penyelesaian terakhir apakah faedahnya Darmawan bertengkar dengan Surahman.
DEWI Tak usah memikirkan lagi Darmawan. Aku di sini bersamamu. Kita tak berhak mencampuri kehidupan orang lain.
SLAMET Tapi kau turut campur dalam hidupku. Kau bisa tegas terhadapku.
DEWI Tentu saja berbeda, aku tak pernah mencintai Darmawan.
SLAMET Ya, aku mengerti. Sekiranya ia tinggal bersama kita, ia akan merupakan rintangan bagi kita. Ah, kebahagiaan begitu egoistis
DEWI Bukankah kebahagiaan mesti diperebutkan?
SLAMET Aku mengagumi kau Dewi, aku juga memujamu.
DEWI Mungkin akan lain setelah kau mengenal aku lebih baik.
SLAMET Semakin kukenal kau, semakin sempurna kau. Kau begitu cantik, begitu cantik…
(Terdengar Badak Lewat)
Apalagi kalau dibandingkan dengan mereka. Barangkali ucapanku tidak seperti pujian, tapi sungguh, mereka membuat kau jauh lebih cantik.
DEWI Kau tidak minum hari ini bukan?
SLAMET Aku berkelakuan baik.
DEWI Tidak bohong?
SLAMET Sungguh, aku tidak bohong.
DEWI Dapat dipercaya?
SLAMET (Agak Gugup) Kau harus percaya padaku.
DEWI Baiklah, kau boleh minum segelas kecil. Untuk memberi semangat.
(Slamet Berdiri Tiba-Tiba)
Diamlah ditempatmu. Mana botol itu?
SLAMET Di atas meja kecil itu.
DEWI (Menuju Meja) Kau menyimpannya di tempat tersembunyi.
SLAMET Supaya aku tidak tergoda.
DEWI (Menuang Dalam Gelas Kecil) Kau telah mencapai kemajuan.
SLAMET Dengan adanya kau di sini aku bertambah maju.
DEWI (Menyerahkan Gelas) Ini untukmu. Sebagai hadiah.
SLAMET (Menguk Habis) Terima kasih
IA MENGACUNGKAN GELAS KOSONGNYA KEPADA DEWI
DEWI Tidak sayang, sudah cukup untuk pagi ini, aku tak mau kau sakit lagi karenanya
(Menyimpan Gelas Dan Mendekati Slamet)
Bagaimana kepalamu sekarang?
SLAMET Jauh lebih baik.
DEWI Kita buka saja balutnya. Tidak pantas kelihatannya.
SLAMET Oooo jangan, jangan sentuh!
DEWI Percuma, buka saja…
SLAMET Aku takut ada sesuatu di bawahnya.
DEWI (Memaksa Membuka Balut Itu) Kau ini selalu ketakutan, membayangkan hal buruk akan terjadi. Tak ada apa-apa di kepalamu, lihat sendiri. Dahimu licin seperti bayi.
SLAMET (Meraba-Raba Dahinya) Kau benar,kau membebakan aku dari ketakutan. Apa yang bisa kuperbuat tanpa kau?
DEWI Kau tak boleh tinggal sendirian lagi.
SLAMET Aku tak kan takut lagi kalau kau bersamaku.
DEWI Akan kujauhkan mereka semua dari kau.
SLAMET Kita akan bersama-sama membaca buku-buku. Aku akan jadi pintar.
DEWI Dan kalau di luar sedang sepi, kita akan berjalan-jalan jauh.
SLAMET Ya, ke pinggir sungai, taman taman umum.
DEWI Ke kebun binatang….
SLAMET Aku akan menjadi pemberani, aku akan melindungi kau dari segala bahaya.
DEWI Kau tak perlu membela aku, kita tak akan menyakiti siapapun. Dan tak akan seorangpun yang berniat jahat kepada kita.
SLAMET Mungkin suatu saat kita menyakiti orang tanpa sadar, maksudku… kita sering berbuat sesuatu tanpa berfikir jauh. Aku tahu kau kurang senang pada pak Entung – tapi ada baiknya kau tidak terlalu keras dalam kata-katamu ketika Tigor menjadi badak itu. Kau tak usah mencaci dia berlaku lancang.
DEWI Tapi betul, ia bertangan lancang.
SLAMET Aku tahu bahwa betul, sayang. Tapi kau bisa mengatakannya dengan lebih lunak, tanpa menyinggung perasaannya. Mungkin kau sebenarnya mampu menyelamatkan dia.
DEWI Mana aku tahu apa yang kemudian menimpa dia. Kelakuannya memang lancing.
SLAMET Akupun tak dapat memafkan diriku karena tak sabar pada Arifin. Aku tak pernah berhasil membuktikan rasa persahabatanku dengannya, kami tidak pernah saling mengerti.
DEWI Tak usah dipikirkan. Kau sudah berusaha semampumu, apa gunanya kau menyesal sekarang. Lupakan saja, kau harus menghapus kenangan buruk itu.
SLAMET Tapi ingatan itu selalu kembali lagi.
DEWI Kau seorang realis, ku kira kau berjia penyair. Mana daya ciptamu? Kenyataan mempunyai banyak segi, pilihlah segi yang terbaik untukmu.
SLAMET Mudah saja kau berkata begitu.
DEWI Apa aku belum cukup untukmu?
SLAMET Oh ya, lebih dari cukup.
DEWI Kau akan merusak segalanya kalau kau selalu menyiksa dirimu begitu. Setiap orang punya kesalahan, tapi bagi kita belumlah sebanyak orang lain.
SLAMET Betulkah begitu?
DEWI Kita lebih baik dari kebanyakan orang, kita berdua…
SLAMET Benar, kita berdua baik, benar.
DEWI Kita berhak hidup, kita bahkan belum menunaikan tugas untuk bahagia.
SLAMET Kau benar,kaulah seluruh kebahagiaanku, cahaya hidupku. Tak seorangpun bisa memisahkan kita , sungguh, tak seorangpun bukan?
(Ada Tilpun Dari Tingkat Bawah)
Ada yang menilpon di bawah.
DEWI (TAKUT) Jangan jawab.
SLAMET Mengapa jangan?
DEWI Entahlah, aku rasa lebih baik jangan.
SLAMET Mungkin dari pak Entung, Arifin, Surahman atau Darmawan, untuk mengatakan bahwa mereka sudah berubah pikiran. Kau sendiri bilang bahwa ini hanya sementara.
DEWI Aku kira tidak. Mereka tak akan merubah pikiran begitu cepat, mereka belum lagi sempat merenungkannya, mereka membutuhkan masa percobaan.
SLAMET Mungkin ada panggilan darurat lewat tilpun yang menyerukan bantuan kita dengan petunjuk mereka
(Ia Membuka Pintu)
Pastilah panggilan darurat, deringnya terus menerus
(Ia Ke Bawah, Terdengar Suaranya: Hallo Lalu Jawaban Terompet Binatang Dari Tilpon. Slamet Lari Masuk Kembali, Dewi Tertegun)
Kau dengar tadi? Bunyi hewan di tilpon
DEWI (Takut) Apa maksudnya?
SLAMET Mereka mulai mempermainkan kita.
DEWI Sama sekali tak lucu.
SLAMET Seperti telah kuramalkan.
DEWI Kau tak pernah meramalkan.
SLAMET Sudah kuduga akan begini jadinya.
DEWI Kau tak pernah meramalkan. Kau hanya meramalkan hal yang sudah terjadi.
SLAMET Aku cukup pandai meramalkan apa yang akan terjadi.
DEWI Sama sekali tak lucu. Aku tak sudi dipermainkan.
SLAMET Mereka tak kan berani mempermainkan kau. Akulah yang mereka permainkan.
DEWI Termasuk aku juga, karena aku bersama kau. Mereka mau balas dendam. Apa salah kita terhadap mereka?
(Dering Tilpon Lagi)
Putuskan saja kabelnya.
SLAMET Itu dilarang oleh postel.
DEWI Kau selalu takut untuk bertindak. Katanya kau sanggup membela aku mati-matian.
SLAMET (Melompat Ke Radio) Kita pasang radio untuk siaran warta berita dari puat.
DEWI Ya, kita perlu mengetahui perkembangan terakhir
(Slamet Menyetel Radio, Tapi Yang Terdengar Suara Hewan, Ia Segera Mematikannya Lagi)
Mereka sekarang sudah tidak main-main lagi. Terus terang, aku cemas.
SLAMET (Gelisah) Tenangkan dirimu. Tenangkan dirimu!
DEWI Studio penyiaran radio sudaj mereka ambil alih.
SLAMET (Gemetar) Tenag, tenang!
(DEWI LARI KE PINTU LALU KE JENDELA MELIHAT KE LUAR, SLAMAET BERBUAT YANG SEBALIKNYA, AKHIRNYA MEREKA BERTEMU DI TENGAH RUANGAN, BERHADAPAN)
DEWI Bukan lelucon lagi. Mereka sudah berkuasa.
SLAMET Hanya mereka yang ada sekarang, tak ada siapa-siapa selain mereka.
DEWI Tak ada manusia lagi di dunia.
SLAMET Kita sendiri, kita ditinggalkan sebatang kara.
DEWI Seprti yang kau idam-idamkan.!
SLAMET Kaulah yang mengidamkan!
DEWI Kaulah!
SLAMET Kau !
HURU HARA DARI LUAR. KEPALA BADAK MEMENUHI DINDING BELAKANG. BUNYI YANG BISING SEMACAM MUSIK BERIRAMA. SUARA PALING KERAS DATANG DARI ATASCSEPERTI KAKI KAI BERJINGKRAK, RUMAH SEPERTI DILANDA GEMPA BUMI
DEWI Bumi bergetar!
(IA TAK TAHU HARUS LARI KEMANA)
SLAMET Bukan, tetangga-tetangga kita, para bapak dan ibu badak
(Ia Mengancam Lagi Dengan Tinjunya Ke Kiri,Kanan, Atas)
Hentikan ! kalian membuat kami tak dapat bekerja. Dilarang membuat huru hara di sini! Dilarang bearisik.
DEWI Mana mau mereka mendengar suaramu
NAMUN HURU HARA BERKURANG JUGA SAMPAI HANYA MERUPAKAN IRINGAN BERIRAMA DI LATAR BELAKANG
SLAMET (Ketakutan) Jangan takut, sayang, kita bersama-sama. Kau bahagia dengan aku bukan? Aku berada di sini dengan kau, bukan? Akan kuusir segala ketakutanmu lintang pukang.
DEWI Mungkin juga kita bersalah.
SLAMET Jangan pikirkan lagi. Jangan kita mulai dengan penyesalan. Akan berbahaya. Kita mesti menunaikan hidup kita, dan berbahagia. Kita berhak ata kebahagiaan. Mereka tidak keji, dan kita tidak mengganggu mereka. Mereka akan membiarkan kita dalam kedamaian. Tenangkan dirimu dan beristirahatlah. Duduk di kursi
(Ia Membimbing Ke Kursi)
Tenangkan saja
(Dewi Duduk Di Kursi)
Kau mau minum seteguk untuk menguatkan?
DEWI Aku sakit kepala.
SLAMET (Mengambil Balutnya Dan Dibalutkan Ke Kepala Dewi) Tak usah kuatir sayang, ini hanya babak sementara. Mereka akan menggulanginya.
DEWI Mereka tak kan mampu menanggulanginya. Mereka badak selama-lamanya.
SLAMET aku cinta padamu, sayang. Aku edan karena cinta.
DEWI (Membuka Balutnya) Biarlah nasib menetukan jalannya. Kita tak bisa berbuat apa-apa.
SLAMET Mereka sudah jadi gila. Dunia udah sakit. Mereka semua sakit.
DEWI Bukan kita yang bisa menyembuhkan mereka.
SLAMET Bagaimana kita tahan hidup serumah dengan mereka?
DEWI (Menenangkan Diri) Kita harus tetap waras. Kita harus menyesuaikan diri dan belajar hidup di tengah-tengah mereka.
SLAMET Mereka tidak mengerti kita.
DEWI Mereka harus. Tak ada jalan lain.
SLAMET Apa kau mengerti mereka?
DEWI Belum, tapi kita coba memahami mereka, dan mempelajari bahasa mereka.
SLAMET Mereka tak punya bahasa! Dengarkan saja… kau namakan itu bahasa
DEWI Mana kau tahu. Kau bukan ahli bahasa.
SLAMET Kita lanjutkan nanti saja. Kita perlu makan siang dulu. 140
DEWI Aku tidak lapar lagi. Bebanku terlalu banyak. Aku takkan tahan lama.
SLAMET Tapi kaulah yang kuat iman. Kau takkan membiarkan dirimu dikalahkan begitu saja. Justru keberanianmu yang begitu kukagumi.
DEWI Sudah kudengar tadi.
SLAMET Apa kau yakin akan cintaku?
DEWI Ya, tentu.
SLAMET Aku begitu cinta padamu.
DEWI Dari tadi kau berkata itu itu juga.
SLAMET Dengarlah Dewi, ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Kita akan punya anak banyak dan anak-anak kita akan punya anak-anak juga. Memang memakan waktu, tapi kita turun temurunkan kembali bangsa manusia.
DEWI Turun temurunkan lagi bangsa manusia?
SLAMET Itu sudah pernah terjadi.
DEWI Di masa silam, Adam dan Hawa. Keberanian mereka sungguh luar biasa.
SLAMET Maka kitapun harus berani. Takusah dengan syarat luar biasa. Melalui waktu dan kesabaran yang cukup akan terlaksana dengan sendirinya.
DEWI Apa gunanya? Aku tak mau punya anak, menjemukan!
SLAMET Bagaimana bisa kita selamatkan dunia, kalau kau tak mau punya anak?
DEWI Mengapa dunia mesti di selamatkan?
SLAMET Jangan bicara begitu.lakukanlah untukku, Dewi. Mari kita selamatkan dunia.
DEWI Mungkin justru kita yang perlu di selamatkan. Barangkali kitalah yang tidak pada tempatnya di dunia ini.
SLAMET Kau bukan dirimu, Dewi. Agaknya kau kena demam sedikit.
DEWI Tak ada lagi dari jenis kita dimana-mana, bukan?
SLAMET Dewi, kau kularang bicara begitu!
DEWI (Melihat Kepala-Kepala Badak Di Sekitarnya) Itulah manusia yang sebenarnya. Lihat betapa mereka berbahagia. Mereka puas dengan keadaan mereka, mereka tidak seperti gila. Mereka kelihatan wajar sekali.
SLAMET (Mengatupkan Kedua Tangannya,Memohon Kepada Dewi) Kitalah yang benar dalam perbuatan kita, Dewi. Aku jamin kau.
DEWI Aku tak mengira kau sombong.
SLAMET Kau tahu aku benar.
DEWI Kebenaran tidak mutlak. Dunialah yang benar, bukan kau dan aku.
SLAMET Tapi aku benar, Dewi, dan sebagai buktinya, kau mengerti kalau aku bicara padamu.
DEWI Apa yang dibuktikan?
SLAMET Bukti bahwa aku cinta padamu, dengan segala kemampuan seorang laki-laki untuk mencintai seorang wanita.
DEWI Bicaramu tak karuan.
SLAMET Aku tak dapat memahami kau lagi, Dewi. Kau tak mengerti apa yang kau lontarkan. Ingatlah akan cinta kita, cinta kita…
DEWI Aku malu oleh apa yang kanamakan cinta. Perasaan sera mini… kelemahan laki-laki….. Dan sama saja kelemahan wanita. Kalah dalam perbandingan dengan kobaran tenaga raksaa yang terpancar dari makhluk-makhluk di sekitar kita.
SLAMET Tenaga! Kau menginginkan tenaga? Akan kuberi kau tenaga!
DITAMPARNYA DEWI
DEWI Oooo, aku tidak percaya bahwa ini mungkin
(IA DUDUK LESU DI KURSI
SLAMET O, Ampuni aku Dewi, ampunilah aku
( Ia Hendak Memeluk, Tapi Dewi Mengelak)
Ampuni aku, bukan maksudku begitu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, mengapa aku tak menguasai lagi diriku?
DEWI Karena kau sudah kehabisan bahan, karena itu.
SLAMET O, celaka, dalam waktu beberapa menit saja kita telah mengalami kehidupan suami isteri sepanjang 25 tahun.
DEWI Aku merasa kasihan kepadamu. Aku mengerti kau… 143
SLAMET (Sementara Dewi Menangis) Mungkin benar aku sudah kehabisan bahan. Kau anggap mereka lebih kuat dari aku, lebih kuat dari kita. Boleh jadi mereka lebih kuat.
DEWI Mereka lebih kuat.
SLAMET Tapi bagaimanapun juga, aku sumpah padamu bahwa aku tidak mau mengalah, tidak!
DEWI (Berdiri Meletakkan Tangan Di Bahu Slamet) Kekasihku yang malang, akan kubantu kau dalam pertahananmu -- sampai saat terakhir.
SLAMET Apakah kau betul-betul siap untuk itu.
DEWI Aku janji padamu. Percayalah
(Huru Hara Badak Berlagu)
Dengarlah mereka menyanyi.
SLAMET Mereka bukan menyanyi, mereka mengaum
DEWI Mereka menyanyi.
SLAMET Mereka mengaum. Dengarlah baik baik.
DEWI Kau gila, mereka menyanyi.
SLAMET Kalau begitu kau kurang tahu seni musik.
DEWI Kau sama sekali tidak tahu tentang muik, kasihan… Dan perhatikanlah, mereka juga baermain, dan menari-nari.
SLAMET Kau anggap itu menari?
DEWI Itu tarian mereka. Mereka cantik!
SLAMET Mereka memuakkan!
DEWI Jangan mengatakan hal-hal yang uruk tentang mereka. Aku jadi tidak enak.
SLAMET Maaf. Kita tak usah bertengkar karena mereka.
DEWI Mereka seperti dewa-dewi.
SLAMET Kau sudah keterlaluan Dewi. Perhatikanlah mereka dengan teliti.
DEWI Jangan iri hati sayang
(IA MENDEKATI SLAMAET HENDAK MEMELUK, KINI SLAMAET YANG MENGELAK)
SLAMET Jelaslah bahwapendirian kita berlawanan. Lebih baik kita tak memperbincangkan soal ini.
DEWI Marah tanpa alasan.
SLAMET Jangan berlaku bodoh, Dewi.
MEMBELAKANGI DEWI, MENGHADAP CERMIN
DEWI Sudah tak mungkin lagi kita hidup bersama-sama
(Diam Diam Mendekati Pintu)
Ia tidak terlalu menarik, sesungguhnyalah. Apa yang menarik padanya?
KELUAR DAN PERLAHAN TURUN
SLAMET (Masih Menghadap Cermin) Manusia tidak terlalu jelek sebetulnya. Padahal aku bukanlah tokoh yang ganteng. Percayalah, Dewi.
(Membalik)
Dewi, Dewi, Kembali! Jangan berbuat begitu padaku.
(Lari Ke Pintu)
Dewi, Dewi, kembali! Jangan tinggalkan aku sendiri ingatlah janjimu , Dewi…
(Ia Berhenti Memanggil, Dengan Putus Asa Kembali Masuk Ke Kamar)
Tak bisa di sangkal lagi bahwa kita tak cocok satu sam lain. Rumah tangga telah berantakan, tidak bisa berlangsung. Tapi ia tak perlu pergi dengan cara begitu, tanpa penjelasan apa-apa
(Melihat Ke Sekitar)
Suratpun tak ia tinggalkan, seperti tak pernah kenal pendidikan. Sekarang aku sendirin
(Ia Mengunci Pintu Dengan Marah, Menutup Jendela Dengan Hati- Hati)
Mereka tak akan mudah mendapatkan aku, jangan kira kalian akan memperoleh diriku. Aku takkan bergabung dengan kalian. Aku akan tetap aku. Aku manusia. seorang manusia.
(Duduk Di Kursi)
Keadaan ini tak tertanggungkan. Salahku mengapa Dewi sampai pergi. Bagaimana nasibnya sekarang? Makhluk mungil dalam dunia iblis! Tak seorangpun akan membantu aku untuk mencarinya, tak eorangpun,karena tak ada lagi orang.
(Gelombang Baru, Terompet Badak, Debu)
Aku tak tahan mendengar huru hara yang mereka timbulkan, aku musti menutup lubang telingaku dengan kapas
(Menyumpal Telinganya Dengan Kapas, Lalu Menghadap Cermin)
Satu-satunya jalan ialah meyakinkan mereka – meyakinkan apa? Dapatkah mereka berubah kembali ke asal mereka? Itulah yang perlu akuketahui. Mungkinkah badak menjadi manusia kembali? Setidaknya untuk meyakinkan mereka, aku perlu bicara dengan mereka, untuk itu aku harus mempelajari bahasa mereka, atau mereka belajar bahasaku.
(Ke Tengah Ruangan)
Bagaimana kalau benar apa yang dikatakan Dewi bahwa merekalah yang benar
(Kembali Ke Depan Cermin)
Manusia tidak jelek untuk di pandang, sama sekali tidak jelek
(Mengusap Wajahnya)
Lucu benar bayangan dalam cermin itu, seperti apa rupaku, seperti apa?
(Ia Membuka Laci Mengeluarkan Potert, Di Pandangnya Satu Satu)
Potret siapa ini? Pak Entung atu Dewi? Apakah ini Surahman, Darmawan. Arifin atau aku sendiri. Ah, inilah aku, inilah aku
(Digantungnya Potret Itu, Lalu Dipandangnya)
Itulah aku… aku tidak tampan, jelek
(Dicabutnya Lagi Potret Itu Dilemparkannya Ke Lantai Dengan Marah Lalu Menghadap Kembali Ke Cermin)
Aku keliru, Oooo betapa aku menginginkan bentuk itu, aku sama sekali tak punya cula, lebih dari celaka dahi licin yang begitu jelek untuk dilihat. Aku membutuhkan satu atau dua cula supaya kulitku yang sudah kendor kembali kencang. Kalau tumbuh cula satu, aku tak usah malu lagi bergabung dengan mereka. Tapi padaku takkan tumbuh cula
(Ia Memandang Telapak Tangannya)
Tanganku halu – oo mengapa tak bisa kasar?!!
(Dibukanya Kancing Bajunya Dipandangnya Kulit Dadanya I Cermin)
Kulitku begitu loyo, mengapa tidak menjadi tebal, keras dengan warna ungu yang sedap – kulit telanjang yang sopan untuk dilihat.
(Ia Mendengarkan Terompet Badak)
Nyanyian mereka merdu, sedikit binal, tapi menggiurkan. Akupun ingin bisa !
(Mencoba Menirukan)
Ah, bbrrr… tidak, bukan begitu, terlalu lemah, tanpa semangat ! sekali lagi,lebih keras, akhhh, bbrrrr, tidak, bukan begitu! Aku belum seperti mereka, aku baru meraung. Nyata benar bedanya. ,meraung dengan suara terompet mereka. Aku menyesal, aku menyesal sejak semula tidak bergabung dengan mereka selagi ada kesempatan. Sekarang sudah terlambat, sekarang aku tak mungkin lagi jadi badak, tak mungkin lagi! Sudah kadaluwarsa. Aku ingin dengan sepenuh hati, tapi aku tak bisa, oh, aku tak tahan memandang diriku lagi, aku malu melihatnya
(Membelakangi Cermin)
Orang yang mempertahankan kepribadiannya selalu celaka pada akhirnya
(Tiba-Tiba Ia Mengatasi Dirinya)
Apa boleh buat, aku harus berani menghadapi mereka semua, akulah manusia terakhir yang tinggal, dan aku akan tetap begini selamanya. Aku tidak akan mengalah.
SELESAI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Naskah Lakon Satu Babak BARABAH Karya Motinggo Busye
DRAMATIC PERSONAE
BARABAH Istri Banio; seorang wanita berumur 28 tahun, cantik, menarik dan mencintai suaminya.
BANIO Suami Barabah; lelaki tua betubuh bongkok tapi kekar. Berumur sekitar 70an, suaranya lantang dan sukar untuk tertawa
ADIBUL Lelaki besar tinggi, berusia 30 tahun, bekerja sebagai kusir sado.
ZAITUN Wanita montok, berusia 25 tahun, sikapnya ramah dan hangat. Ia adalah anak Banio dari istri ke enam yang telah lama diceraikannya.
ADEGAN I CERITA INI TERJADI DI RUANG TENGAH RUMAH BANIO. NAMPAK SEBUAH MEJA KUNO DAN SEBUAH KURSI TUA YANG TERLETAK DI SAMPINGNYA, DI SUDUT RUANG MELINTANG SEBUAH PETI PANJANG DIMANA BIASANYA BARABAH DUDUK MENENUN, DI SISI TERDAPAT KURSI KURUS. BANIO MASUK DENGAN TANGAN LUKA PENUH TANAH.
BANIO BARABAH! (MELIHAT SEKELILING) O…BARABAH!
(DUDUK DI KURSI DENGAN MENGURUT TANGANNYA SENDIRI YANG LUKA)
BARABAH Tangan bapak luka!?
BANIO Biar!
BARABAH Ohh
BANIO Iya. Tangan bapak luka
BANIO MINUM KOPI DAN BARABAH DUDUK DI PETI
Tapi kopinya enak
BARABAH Benar? Tapi serbuk kopinya yang kemarin juga
BANIO TIDAK PEDULI ITU SERBUK KOPI KEMARIN ATAU LIMA PULUH TAHUN LALU, AKU CUMA MENGATAKAN KOPI YANG KAU BIKIN HARI INI ENAK. SUDAH, JANGAN TANYA LAGI!
BARABAH Jangan Tanya lagi….
Banio memalingkan mukanya. Kemudian melirik ke arah Barabah yang merenda, Banio menarik napas panjang.
BANIO (LEMBUT) Barabah… .
BARABAH Iya pak?
BANIO Tolong pijit-pijit kepalaku
Barabah berdiri di depan Banio
BARABAH Apa mau dikerok lagi punggung itu?
BANIO Ah, malu aku!
BARABAH Kenapa?
BANIO Punggungku sudah bongkok. Nanti engkau tahu punggungku bongkok
BARABAH Ah, tidak.
BANIO (BERDIRI) Siapa bilang tidak!? Lihat nih, lihat!
(BANIO DUDUK. BARABAH MASIH BERDIRI. BANIO MEMIJIT-MIJIT KENINGNYA SENDIRI DAN MELIHAT BARABAH MASIH BERDIRI DARI SELA-SELA JEMARINYA)
Kau masih berdiri di situ, Barabah?
BARABAH Ibah kan mau mijit kening bapak
BANIO (LEMBUT) Barabah… .
BARABAH Ya, pak?
BANIO Aku sudah tua ya?
BARABAH Belum pak
BANIO Bohong! Aku m-m-m-merasa sudah tua. Aku ini sudah tua, ya kan Barabah?
BARABAH Belum pak.
BANIO (TEGAK DENGAN KEKARNYA) Bohong! Coba terus terang katakan kalau aku sudah tua
(diam sesaat setelah melihat Barabah)
Semua bini memanggil lakinya dengan sebutan yang layak
(diam sejenak)
Mereka tidak memanggil ‘bapak’ kepada lakinya atau ‘pak’. Suatu kali aku dating ke rumah orang Palembang, bininya memanggil ‘kak’ pada lakinya. Aku bertamu ke rumah orang jawa, bininya memanggil ‘kang mas’ pada lakinya. Datang pula aku ke rumah orang Padang, Sutan Mangkudung. Bininya memanggil ‘uda’ pada lakinya. Dan kalau ada orang dating ke rumah, kau memanggil apa padaku?
BARABAH Ibah akan tetap memanggil bapak
BANIO Kenapa?
BARABAH Karena Ibah tidak bias merubahnya lagi
BANIO Bukan karena aku sudah tua Bangka?
BARABAH Bukan!
BANIO Bohong!
BARABAH Betul!
BANIO Bohong! Terang-terangan aku sudah tua bongkok!
BARABAH Ibah berani sumpah, pak
BANIO SUMPAH APA? KAU BERANI, NANTI MALAM DATING KEKUBURAN TIDAK PAKAI LAMPU? TENTU KAU TIDAK BERANI. AKU SUDAH TUA YA BARABAH? (BARABAH DIAM SAJA) YA, AKU SUDAH TUA DAN SEBENTAR LAGI AKU AKAN MATI. BARANGKALI LIMA ATAU ENAM TAHUN LAGI. KALAU AKU MATI, APA KAU AKAN MENANGIS BARABAH?
(Barabah terdiam)
Ya, aku sudah tua dan sebentar lagi aku akan mati. Barangkali lima atau enam tahun lagi. Kalau aku mati, apa kau akan menangis Barabah?
BARABAH Ibah akan menangis di kuburan bapak selama seminggu
BANIO Sesudah kau menangis selama seminggu dan air matamu kering, kau akan menangis lagi? Barabah?
BARABAH Ibah akan nangis lagi kalau punya air mata lagi
BANIO BOHONG! SESUDAH MATAMU BENGKAK KARENA MENANGIS SEMINGGU ITU, SEMINGGU KEMUDIAN KAU AKAN DILAMAR ORANG.
(Barabah terdiam)
Ya, ya. Kau akan dilamar seorang lelaki. Laki-laki itu kra-kira lelaki mata keranjang. Ah, bukan, bukan itu saja, dia lelaki pengangguran yang suka ongkang kaki dan tidur jam delapan, lantas bangun dan makan jam sepuluh siang. Besoknya ia tidur jam delapan, bangun dan makan jam dua belas siang. Dan sebelum umur empat puluh, lelaki itu mati. Ia mati di tempat tidur
(Barabah tertawa)
Kenapa kau tertawa?
BARABAH Habisnya bapak lucu!
BANIO (MEMEKIK) Apanya yang lucu? Ini tidak lucu!
(BEBERAPA SAAT HENING. LALU SENYUM MAHAL DARI BIBIR BANIO KELUAR JUGA)
Haha…. Memang lucu juga . karena aku dulu begitu. Ketika aku melarat waktu masih bujang dulu, aku menunggu-nunggu seorang kakek yang punya bini muda. Aku mengharapkan kakek itu lekas mati dan bininya akan jadi janda muda. Tapi sialan! Kakek itu tidak mati-mati dan aku makin melarat.
(Barabah tertawa kencang)
Kenapa kau tertawa?
BARABAH Lucu!
BANIO MEMANG LUCU. (LALU TEKANAN SUARANYA BERUBAH) BARABAH?
BARABAH Ya, pak.
BANIO AKU SUDAH KAKEK-KAKEK KELIHATANNYA YA? AH, JANGAN DIJAWAB. TENTU KAU AKAN BILANG ‘TIDAK, PAK’ ATAU ‘BELUM PAK’. AKU TADI LEWAT DI DEPAN KANTOR JAPENKAB DAN MEMBACA KORAN. JAPENKAB….JAWATAN PENERANGAN KABUPATEN! AH, ORANG-ORANG SEKARANG TERLALU SIBUK DENGAN DUNIA INI, MAU KIAMAT SEHINGGA MEREKA MEMANGGIL WALIKOTA DENGAN SEBUTAN WALKOT. SAYA TADI JUGA MEMBACA KORAN DAN KATANYA DUNIA AKAN KIAMAT. AKU BENCI SAMA TUKANG-TUKANG RAMAL ITU. MEREKA PEMBOHONG SEMUA. TAPI AKU PERCAYA, SEKALI WAKTU DUNIA INI AKAN KIAMAT SEPERTI AKU PERCAYA SUATU WAKTU AKU AKAN MATI. TETAPI AKU TIDAK MAU LEKAS-LEKAS MATI SEBELUM AKU PUNYA ANAK LAKI-LAKI.
(Barabah tersenyum)
Kenapa kau tersenyum? Kau tertawa karena dari sebelas orang perempuan yang kukawini aku tidak pernah dapat anak laki-laki? Aku dulu ahli penabuh gendering. Dram-tam-tam, dram tam tam berjalan keliling kota dalam barisan dengan terompet tro titet trot titet dram tam tam, dram tam tam. He, apa kau masih simpan tambur itu?
BARABAH Masih ada di gudang
BANIO AKU DULU LELAKI MATA KERANJANG. HE, KENAPA KAU TERTAWA? MEMANG DULU AKU DIBENCI GADIS-GADIS. SEBETULNYA GADIS-GADIS ITU BUKAN BENCI, CUMA TAKUT AKU TIDAK MEMILIHNYA. KEBODOHAN GADIS-GADIS PADA UMUMNYA SAMA DENGAN DUNIA PERJUDIAN. MEREKA JUDIKAN DIRINYA. MEREKA MENGIRA-NGIRA DIRINYA KERTAS, KOMENTATOR SEOPAK BOLA. DULU AKU BUKAN JAGO TARUHAN, AKU DULU MALAH BINTANG LAPANGAN, BARABAH. HE KAPAN PERTANDINGAN PSSI LAWAN HONGKONG LAGI? KALAU DAPAT RATUSAN RIBU LAGI SEPERTI SI MUIN, AKU AKAN SUMBANGKAN SAJA KE DEPSOS.
BARABAH Depsos, pak?
BANIO DEPARTEMEN SOSIAL. BODOH. AKU TIDAK MAU REBUT-RIBUT LAGI SOAL PEMBAGIAN TANAH SEPERTI SI MUIN. MEMANG MUIN ITU GOBLOK, SANGKANYA TANAH ITU MAU DIBAWANYA MATI SEHINGGA DIA BERTENGKAR DENGAN UNDANG-UNDANG ALNDIPORM. DASAR MUIN GOBLOK! DALAM HIDUPNYA DIA BERANGAN-ANGAN AKAN MEMILIKI TANAH, KALAU BIAS TANAH SEJAGAT INI. PADAHAL KALAU DIA MATI, ORANG CUMA MEMERLUKAN TANAH PALING BANYAK DUA METER BUAT KUBURANNYA! BETUL JUGA USULMU DULU KETIKA AKU HAMPER BERKELAHI DENGAN POLISI. HE, AKU TADI MAU CERITA APA?
BARABAH Dunia kiamat
BANIO O, IYA. DUNIA KIAMAT! YA, DUNIA AKAN KIAMAT SUATU KETIKA. DAN SAAT ITU, JANGANKAN BIAS MEMILIKI TANAH DUA METER, DUA JENGKAL PUN TAK KEBURU LAGI BUAT KUBURANNYA!
(Banio capek, dia mengibas-ngibaskan kain sarung; ia melihat sekeliling melewati jendela-jendela)
Kau lihat, alangkah suburnya tanah-tanah itu Barabah
BARABAH Di mana kau akan bangun rumah buat si Godam?
BANIO Godam?
BARABAH Kan dulu bapak yang bilang anak laki-laki?
BANIO Apa aku punya anak laki-laki selama ini?
BARABAH Bapak sudah bilang padaku, kalau aku akan punya anak laki-laki
BANIO OH IYA. IYA…IYA…. SI GODAM? SI GODAM YANG MAHIR MAIN TAMBUR? TRAM TAM TAM, TRAM TAM TAM. APA KAU BIAS MENJAMIN BAHWA KAU AKAN BIAS MELAHIRKAN SEORANG ANAK LELAKI YANG NANTI BIAS PUKUL TAMBUR? TUHAN MAHA TAHU!
BARABAH Ya. Dulu bapak cerita bagaimana hebatnya si Godam memukul tambur; tram tam tam, tram tam tam dan diapit bendera-bendera merah putih dan penonton bersorak sorai.
BANIO “HIDUP GODAM! HIDUP GODAM!’ DAN ADA YANG BERKATA “ITU SI GODAM, ANAK LELAKI PAK BANIO DAN BARABAH” KAU TAHU BARABAH, APA ARTINYA GODAM?
BARABAH Palu yang berduri!
BANIO PALU YANG BERDURI TAJAM! YA, YA, DI SANA RUMAH SI GODAM. DAN DIA TIDAK BOLEH BANYAK KAWIN SEPERTI BAPAKNYA (MENUNJUK DIRINYA) DAN SI GODAM TIDAK BOLEH GAGAL DALAM PERKAWINAN. O IYA SIAPA NAMA BINIKU YANG PERTAMA?
BARABAH (TERTAWA) Kalau tak salah, namanya Jamilah!
BANIO Penasaran aku sama dia! Nama istriku yang kedua?
BARABAH Rabiatun!
BANIO OH, IYA RABIATUN. KAU TAHU APA YANG DITANYAKAN PAMANNYA PADAKU? PAMANNYA BERTANYA “APAKAH KAMU PEGAWAI NEGERI?” LALU KUJAWAB “SAYA MARSOSE” DAN PAMANNYA KEMBALI BERTANYA “BERAPA GAJI SEBAGAI MARSOSE?”. INI ADALAH PERTANYAAN YANG PALING KUBENCI! AKU BENCI ADIK RABIATUN, KAKAK RABIATUN, KAKEK RABIATUN, NENEK RABIATUN, KEPONAKAN RABIATUN DAN TENTUNYA PAMAN RABIATUN JUGA. MEREKA DATANG MEMUJI-MUJI AKU KARENA AKU JADI RAJA KARET. TETAPI KETIKA GUBERNEMEN MENANGKAPKU DAN AKU JATUH MELARAT...
BARABAH (MEMOTONG) Mereka semua lari tunggang langgang....!
BANIO He.... apa sudah kuceritakan kisah Rabiatun itu?
BARABAH Sudah sebelas kali
BANIO Kau ingat nama istriku yang ketiga?
BARABAH Bapak dulu bilang bapak lupa nama istri yang ketiga
BANIO Yang keempat juga aku lupa....tapi yang kelima tidak.
BARABAH YANG MAIN GILA SAMA LAKI-LAKI LAIN ITU?
BANIO Iya. Iya. Perempuan memang berbahaya, Barabah!
BARABAH Aku tidak mau!
BANIO KENAPA “AKU TIDAK MAU”?
BARABAH Ibah tidak pernah main gila
BANIO Bukan kau Barabah. Kau baik. Namamu juga bagus; Barabah! Burung pemakan padi. Tapi kau bukan burung pemakan padi, kau burung yang membenih padi
(Barabah senang mendengarnya, ia menutup matanya dan tersenyum)
Kenapa senyum-senyum?
(DIAM )
oh iya, aku lupa nama istriku yang ke sembilan. Kau ingat?
BARABAH Ingat, yaitu yang kawin dengan Belanda ketika bapak di tawan
BANIO DIA BERKHIANAT DUA KALI. PERTAMA PADA LAKINYA, KEDUA PADA TANAH AIR. O, BUKAN, BUKAN DUA KALI, TAPI TIGA KALI! DIA MEMBAWA ANAK-ANAKKU YANG PEREMPUAN KE NEGERI BELANDA. AKU TIDAK TAHU BAGAIMANA MEREKA MENCET MUKA-MUKA ANAK-ANAK PERAWANKU MENJADI PUTIH SUPAYA JADI BELANDA!
(Barabah terdiam)
Ketawa sedikit dong...ini lucu
(Barabah diam merengut)
Kenapa kau tidak tertawa?
BARABAH Ibah cemburu!
BANIO Cemburu? Kau juga ada rasa cemburu seperti kebanyakan perempuan?
BARABAH Ibah cemburu bapak akan kawin lagi. Kaum perempuan cemburu kalau suaminya cerita tentang perempuan lain.
BANIO KAWIN LAGI? APA KAU PIKIR AKU INI AKAN MEREBUT REKOR PERKAWINAN TERBANYAK? SEPERTI ORANG-ORANG MEREBUT PIALA JAGO ANGGAR?
BARABAH Tapi bapak dulu pernah bilang mau kawin lagi
BANIO Kapan? Coba kapan? Aku bisa marah ini...
BARABAH Dua bulan yang lalu
BANIO OOOOO..... ITU CUMA MAIN-MAIN. SUAMI PERLU SEKALI-KALI MENGUJI BININYA TOH. LAGIPULA AKU INI SUDAH TUA, BARABAH. DAN INI ADALAH PERKAWINANKU YANG KEDUA BELAS KALI DAN TERAKHIR. AKU PIKIR ITU SENDIRI SUDAH REKOR DAN AKU PANTAS DAPAT PIALA
(Barabah terdiam. Banio marah)
Kenapa kau terdiam? Kau tentu setuju pada bini-biniku. Baik, baik Barabah, sebab kau perempuan. Tapi jangan minta aku menangis tersedu-sedu seperti orang lain, sebab aku sudah gagal selama ini. (Banio menatap ke luar jendela)
Baru sekarang aku tahu, tanah-tanah itu subur...ketika aku sudah tua, bongkok dan ubanan dan sebenarnya sudah tidak laku lagi. He, aku ini sudah tidak bakal laku lagi, meski ditawar-tawar di pasar loakan. Tapi aku tidak peduli apakah aku tidak akan laku di pasaran atau pegadaian. Biarpun kualitas loakan, yang penting masih punya semangat bunyi tambur. Tram tam tam tram tam tam.....
(Seperti teringat sesuatu)
Hee..bagaimana dengan sambel peteku? Aku mau bongkar rumputan alang itu
(TANGANNYA MENUNJUK KE LUAR JENDELA. KEMUDIAN BANIO MINUM KOPI)
Alang-alang itu berbahaya betul untuk ladang, bahkan tanganku luka karenanya.
(KEMUDIAN BANIO MENGIKATKAN KAIN SARUNG KE PINGGANGNYA DAN KEMUDIAN MEMBERIKAN KEPADA ISTRINYA TEMPAT TEMBAKAU ROKOK. BARABAH MENGGULUNGKAN DAUN ROKOK BUAT SUAMINYA)
Aku kepingin naik kapal terbang suatu kali
BARABAH Naik kapal terbang?
BANIO IYA. CUMA ITU YANG BELUM PERNAH KUNAIKI. AKU SUDAH PERNAH NAIK MOBIL, SEPUR, KUDA, KERBAU DAN BAHKAN NAIK GUNUNG. SEMUA SUDAH PERNAH, KECUALI NAIK KAPAL TERBANG. AKU MELIHAT POTO BUNG KARNO NAIK HELIKOPTER.
BARABAH Bapak bersihkan saja dulu alang-alang itu, biar kapal terbangnya bisa mendarat di stitu
MEMBERIKAN LINTINGAN ROKOK TADI
BANIO (KETIKA ROKOK ITU DIPELINTIRKAN DI BIBIRNYA, BANIO MEMBENTAK) Mana korek apinya!?
BARABAH Itu, di atas meja
BANIO (SENYUM MAHAL) Iya, tapi tolonglah korekkan sedikit
(Barabah menyalakan korek api, tapi banio meniupnya. Terjadi beberapa kali. Setelahnya barulah api korek itu membakar rokoknya)
Dari sebanyak itu biniku, Cuma kaulah...hmmmm....saya menyebutnya....Cuma kaulah yang bisa memasangkan korek api dengan benar. Aku janji aku tidak akan kawin lagi!
BANIO PERGI EWAT PINTU BELAKANG. BARABAH BERMAKSUD MENUJU KE TEMPAT IA BIASANYA MERENDA, TAPI MENDADAK IA MENDENGAR SUARA KETUKAN PINTU DEPAN. BARABAH MENUJU PINTU.
ADEGAN II
BARABAH MEMBUKA PINTU DAN NAMPAKLAH SEORANG PEREMPUAN MUDA YAITU ZAITUN. IA MEMPERSILAHKAN ZAITUN MASUK. IA BERJALAN LEBIH DULU KE DALAM, KETIKA IA MEMBALIKKAN TUBUHNYA, DILIHATNYA ZAITUN MASIH TERPESONA MEMANDANGI ISI RUMAHNYA. BARABAH CURIGA, TAPI IA BERUSAHA MENUTUPINYA
BARABAH Masuklah...
(heran dengan kelakuan Zaitun)
Ada apa?
ZAITUN Saya melihat cicak
BARABAH Cicak atau tikus?
ZAITUN (MELANGKAH MASUK) Cicak. Sepasang cicak yang saling memburu. Ibu saya menafsirkan itu adalah pertanda jodoh
BARABAH Jodoh?
ZAITUN Ya, jodoh. Ibu saya ahli sekali dalam hal bertenung kartu
BARABAH Silakan duduk
ZAITUN (DUDUK) Cicak-cicak itu firasat yang baik. Begitu saya masuk, begitu ada pertanda
BARABAH Saya belum pernah mendengar takhayul seperti itu
ZAITUN O, ibu saya ahli pertakhayulan. Cicak-cicak itu pertanda baik juga dalam takhayul, kecuali kalau kucing berkelahi
BARABAH Dan firasat yang tadi, apakah membaikkan bagi saya atau situ?
ZAITUN Bagi saya
BARABAH (KECEWA TAPI MASIH TERTARIK) Jadi, itu berarti akan terjadi pertemuan jodoh?
ZAITUN Ya. Akan terjadi perkawinan yang bahagia
BARABAH Perkawinan siapa?
ZAITUN Kalau menurut takhayul, yang melihatlah yang akan kawin
BARABAH Siapa?
ZAITUN (GUGUP) Tentulah....tentulah saya. Maaf, saya ingin bertanya dulu. Apa betul ini rumah pak Banio? Sebenarnya saya tadi sudah menanyakan pada orang-orang di seberang jalan, Cuma saya takut salah.
BARABAH IYA BETUL. INI RUMAH PAK BANIO
ZAITUN Bolehkah saya bertemu dengan pak Banio? Saya Zaitun.
(Barabah Terdiam)
Bilanglah ada tamu jauh. Katakan Zaitun datang, tentu beliau nanti akan tahu
BARABAH Beliau sekarang ada di ladang
ZAITUN Sedang apa beliau di sana?
BARABAH (KESAL) Beliau di ladang sedang mencabuti alang-alang...!
ZAITUN Oh.....rajinnya. ternyata meskipun sudah tua, beliau masih kuat
BARABAH Kuat?
ZAITUN IYA, KUAT MENCABUTI ALANG-ALANG. SEBENARNYA KAN ILALANG ITU SUKAR SEKALI DICABUT. MESTI PAKAI TRAKTOR, BARU AKARNYA AKAN TERBONGKAR.
BARABAH TAPI SUAMI SAYA MEMANG KUAT. BELIAU TIDAK PERNAH MEMERLUKAN TRAKTOR UNTUK MENCABUT AKAR-AKAR ILALANG YANG BANYAK ITU. BELIAU PUNYA BANYAK PIARAAAN ILALANG DAN DAUN ILALANG ITU TAJAM-TAJAM BUKAN?
ZAITUN O, tentu saja. Waktu kecil pun saya pernah menangis karena dilukai daun-daun ilalang, lalu saya mengadu pada bapak saya. Tapi malah ia marah-marah....
(ketawa)
O, saya lupa bertanya, piaraan? Apa ilalang itu dulu sengaja ditanam dan dibuat ladang?
BARABAH Sengaja!
ZAITUN masyaAllah
BARABAH DI SITU JANGAN KAGET. SUAMI SAYA, MEMPUNYAI DUA BELAS LADANG ILALANG, ILALANG YANG TIDAK PERNAH DIPELIHARANYA BAIK-BAIK, SEPERTI TERHADAP ISTRI-ISTRINYA. DAN SEKARANG, RUPA-RIPANYA BELIAU AKAN MENCABUT RUMPUN ILALANG YANG KEDUA BELAS
ZAITUN O, syukurlah...
BARABAH Syukur?
ZAITUN Ya, syukur.
(MERASA GELI DAN BERMAKSUD MENYENANGKAN HATI BARABAH)
Nantinya, tentu beliau akan menanam lagi ladang ilalang yang ke tiga belas. O, saya lupa bertanya. Apa beliau sehat saja?
BARABAH KALAU TIDAK SEHAT, MASA BELIAU SANGGUP MEMBIKIN LADANG ILALANG DUA BELAS KALI. DAN SEKARANG, SESUDAH DI TANAM, YANG KEDUA BELAS ITU AKAN DICABUTNYA PULA. SEKARANG MAU CARI BIBIT ILALANG KETIGA BELAS! ILALANG YANG MONTOK!
ZAITUN O, begitu. Lucu juga beliau
BARABAH MEMANG LUCU, SEHINGGA SEMUA KEJADIAN-KEJADIAN YANG BELIAU BIKIN ADALAH LELUCON BAGI SAYA. DAN TERKADANG LELUCON ITU MENYAKITKAN HATI JUGA.
ZAITUN Memang. Tapi tadi di atas kereta api, waktu saya mau kesini, ada lelucon
BARABAH Hmmm....
ZAITUN Ada dua orang muda-mudi, di atas kereta ketika ditanyai karcis, mereka pura-pura tidur ngorok
BARABAH Hmmm, saya juga pernah melihat penipuan begitu. Tapi bukan anak muda. Yang menipu itu adalah gadis, gadis montok
ZAITUN Hah.... sepertinya lucu juga
BARABAH Buat saya sendiri tidak lucu. Mereka itu setidak-tidaknya pernah sekolah, pernah diajar gurunya, kalau naik kereta api mesti beli karcis. Malah mereka menyerobot macam garong saja. Mereka itu harusnya ditangkap. Tidak peduli mereka itu siapa!
ZAITUN Benar juga
BARABAH Memang benar! Kecuali, kecuali....kecuali kalai kepala stasiun telah memberikan karcis gratis. Tapi semestinya di zaman merdeka ini, tidak boleh ada karcis gratis. Itu korupsi halus! Tidak demokratis!
ZAITUN BETUL, SAYA SETUJU. ITU KORUPSI HALUS! MEMANG TIDAK DEMOKRATIS
BARABAH Itu juga semacam garong di siang hari!
ZAITUN Betul. Betul, itu garong di siang hari. Oh iya. Bapak mana ya? Apa bisa beliau dipanggil sebentar? Saya ada perlu sekali
BARABAH Perlu sekali? Soal apa kira-kira yang akan disampaikan?
ZAITUN Sebenarnya saya malu mengatakannya bu...
BARABAH MERASA SENANG MENDENGAR KATA ‘BU’
BARABAH Ah, jangan malu-malu, nanti saya katakan
ZAITUN (RAGU) Ini....ini....Soal perkawinan
BARABAH Perkawinan siapa?
ZAITUN saya
(Barabah terdiam, mencoba menyembunyikan kegelisahannya dan pura-pura mendongakan kepalanya ke arah jendela)
Iya, perkawinan
BARABAH Apa sudah gawat betul?
ZAITUN Dibilang gawat ya, tidak. Tapi ini penting
BARABAH SOAL PERKAWINAN MEMANG PENTING, HARUS DIPIKIRKAN MASAK-MASAK. SAMA SEPERTI PARA PEREMPUAN MENANAK NASI, KALAU KURANG MASAK, AKAN TERASA KERASNYA. KALAU TERLALU MASAK MALAH MUTUNG DAN LAKI-LAKI AKAN MENCELA KITA. KATA MEREKA KITA SEMBRONO. LAKI-LAKI MEMANG CUMA TAHU MAKAN DAN MENGOCEH SAJA PADA PEREMPUAN, BIAR PUN (MENDADAK BERURAI AIR MATA) BIARPUN KITA PEREMPUAN SUDAH SUSAH PAYAH MEMASAKKAN NASI DAN MEMBIKINKAN SAMBEL PETE KESUKAANNYA.
(Zaitun merasa heran, lantas dia mencoba mendekati barabah bermaksud merujuk. Tapi barabah tidak mau)
Aku tidak mau dipegang siapapun lagi
ZAITUN Kenapa? Maaf kalau ada kata-kata menyinggung perasaan ibu
BARABAH Perempuan tidak salah, laki-lakilah yang salah
ZAITUN MEMANG LAKI-LAKI YANG SALAH DAN KITA BENAR. MAAF BU KALAU KATA-KATA SAYA TENTANG ANAK-ANAK YANG TIDAK MEMBELI KARCIS KERETA API TADI MENYINGGUNG PERASAAN IBU
BARABAH Jangan pidato panjang lagi di rumah ini. Kau juga tidak membeli karcis
ZAITUN (MERASA TERSINGGUNG) Ada apa ini? Saya membeli karcis. Bahkan saya membeli dua karcis. Kenapa saya dituduh demikian? Saya masih punya uang dan saya masih....masih....
BARABAH (MEMOTONG) Jangan mulai pidato lagi! Kau telah membawa cicak-cicak ke rumah saya ini. Rumah ini bukan rumah takhayul atau kantor nikah. Rumah ini rumah saya dan suami saya
ZAITUN Saya tahu, saya tahu
BARABAH SEJAK ENGKAU DATANG TAD, SAYA SUDAH SABAR-SABARKAN HATI. SAYA SUDAH MENYINDIR-NYINDIR TAPI RUPANYA SAYA DIBIARKAN PANAS PENASARAN
(MENANGIS TERSEDU-SEDU)
Saya tidak mau melepaskan dia seperti sebelas istrinya yang lain itu
(Zaitun kaget dengan ucapan Barabah itu, ia beranjak ke pintu dan berdiam di situ. Melihatnya Barabah makin kesal dan menantangnya)
Jangan lama-lama berdiri di situ! Saya sudah cukup sabar. Nanti kau melihat cicak di loteng lagi dan kau akan berpidato lagi tentang kawin
ZAITUN Ini tentang perkawinan saya, bukan perkawinan ibu!
PERGI. KETIKA ZAITUN SUDAH PERGI, BARABAH BERKATA LIRIH SAMBIL TERSENDAT-SENDAT MEREDAKAN TANGISNYA SENDIRI
BARABAH Dikiranya aku ini masih boca atau nenek-nenek yang sudah lemah apa?
Barabah duduk di kursi dan tangannya mengambil gelas besar dan minum darinya. Ia tersadar itu gelas kopi suaminya, lalu ditaruhnya kembali
Kopinya tak mau diminum lagi! Bukan laki-laki saja yang mata keranjang, perempuan juga mata keranjang! Untung dia tidak lama-lama di sini. Dan untung pula tanganku tidak memegang pisau penumis cabe. Kalau ada, sudah kupotong-potong dagingnya yang montok itu dan kubumbui cabe! Biar dia tahu, aku ini perempuan yang bukan saja bisa mengiris-ngiris cabe tapi juga...
(menangis lagi)
Tapi juga perempuan yang bisa mengiris perempuan. Biar dia tahu! Biar! Tidak peduli dia mengadu pada polisi, biar!
BARABAH PERGI KE JENDELA. BARABAH TIDAK MENYADARI KALAU DIAKHIR OCEHANNYA, BANIO SUDAH MASUK LEWAT PINTU BELAKANG
BANIO Ada apa semua ini?
BARABAH Ibah tidak peduli apakah bapak akan memarahi saya, tapi dia telah saya usir!
MENGHINDARKAN DIRI
BANIO Siapa? Laki-laki?
BARABAH Perempuan
MENGHINDARKAN DIRI
BANIO O, kukira laki-laki
BARABAH BERUSAHA MENGHINDAR DARI TATAPAN BANIO SAMBIL MENGATAKAN KALAU IA TIDAK MAU MELIHAT SUAMINYA
BARABAH Katakan terus terang kalau bapak mau kawin lagi
BANIO Siapa? Aku?
BARABAH Iya! Siapa lagi!? Biar bapak dapat piala
BANIO Barabah! Jangan sindir aku! Aku sudah tua!
BARABAH Tapi buktinya, telah datang seorang perempuan menanyakan bapak! Dia memaksa saya untuk memanggil bapak ke ladang. Tapi saya menolak! Saya tidak mau membiarkan suami saya diambil seenaknya oleh perempuan lain.
BANIO Siapa perempuan itu!?
KARENA KECAPEKAN BERPUTAR-PUTRA RUANGAN, BARABAH DUDUK DI PETI. BANIO MENYADARI APA YANG TERJADI, KEMUDIAN DIA BERKATA LEMBUT
Siapa perempuan, Barabah?
BARABAH Ibah hampir saja mengirisnya dengan pisau cap garpu yang bapak beli dulu
BANIO O...TAK APA. ASAL JANGAN AKU YANG KAU IRIS
BARABAH MENANGIS LAGI
BARABAH Tapi Ibah tak mau bapak direbutnya. Dia sudah kuusir dan tidak saya eprbolehkan menginjak rumah ini lagi. Ibah berjanji akan mencakar mukanya! Ibah mau menangis lagi sekarang
BANIO Karena apa?
BARABAH Karena Ibah tidak mau jadi janda yang dicerai. Karena Ibah tidak mau kehilangan laki
BANIO Kau belum pernah marah sehebat ini. Seperti orang ngidam saja, sampai kau harus mengusirnya
BARABAH Karena Ibah cemburu, marah, benci melihatnya!
BANIO (TERSENYUM) Ini baru bini namanya. Semua biniku selama ini tidak ada yang berterus terang padaku, kecuali kau Barabah.
(Membelai rambut Barabah)
Karena itu, aku ingin mengakhiri kemarahanmu, kebencianmu, kecemburuanmu dan prasangkamu padaku. Aku ini sudah tua Barabah. Yang kau lihat sekarang ini bukan kerangka hidup, tapi sisa-sisanya. Aku sudah tidak mau sisa hidupku yang sedikit ini kukotori lagi, sebab hidupku yang dulu sudah cukup menjijikan. Kau dengar itu semua, Barabah? Nah, sekarang aku mau tanya lagi padamu. Siapa perempuan yang datang tadi? Coba tenang sedikit. Tuhkan, dekat hidungmu ada air matanya
(Barabah lekas menghapusnya)
Sekarang, sebutkan siapa nama perempuan itu?
BARABAH Dia Cuma seorang perempuan
BANIO Iya, siapa namanya?
BARABAH Tidak ingat lagi. Ibah pening...
BANIO Mari kupijit kepalamu yang pening itu
BANIO BERMAKSUD MEMIJIT KEPALA BARABAH, TAPI SEGERA BARABAH MENCEGAH
BARABAH Ibah tidak pening lagi. Nama perempuan itu Zaitun
BANIO Sebesar siapa dia? Darimana dia datang?
BARABAH Sebesar Ibah, Cuma dia lebih montok
BANIO Montok....kalau laki-laki melihat perempuan montok, terbakar hatinya sebab gairah. Tetapi kalau perempuan melihat perempuan montok, terbakar hatinya sebab iri hati. Apa kau iri Barabah?
BARABAH Iya!
BANIO Kau jujur! Aku senang manusia jujur biarpun dia bodoh. Sekarang katakan apa maksud ia datang kemari.
BARABAH MULA-MULA IA MELIHAT SEPSANG CICAK DI ATAS LOTENG RUMAH KITA ITU, LALU IA MEMPERSOALKAN JODOH. LALU DIA CERITA SOAL TAKHAYUL DAN KEMUDIAN MENCERITAKAN TENUNG KARTU. DIA BIKIN LELUCON YANG TIDAK LUCU TENTANG DUA PELAJAR YANG TIDAK MEMBELI KARCIS KERETA API.
BANIO Jadi kalau begitu dia datang dengan kereta api
(tiba-tiba ingat)
Apa kau bilang? Bertenung dengan kartu? Ah, aku benci dengan perempuan yang bertenung dengan dartu dan memang sudah sepantasnya dia kau usir. Aku benci sama perempuan-perempuan yang suka takhayul dan ramalan-ramalan
BARABAH Neneknya barangkali penjudi
BANIO Tidak peduli biarpun nenek dan buyutnya sekalian. Pokoknya aku benci perempuan yang menghabiskan waktunya sehari-hari dengan menghadapi kartu-kartu dan biasanya mereka meramalkan suami atau pacarnya! Bukan lelaki saja yang mesti bekerja, perempuan juga. Dan main tenung kartu itu adalah kerjaan yang kurang kerjaan
BARABAH Dia datang ke sini mau kawin!
BANIO Mau kawin?
BARABAH Iya, kawin. Dia menanyakan bapak
BANIO MENANYAKAN AKU!? HAH, PEREMPUAN MACAM APA ITU? SETAN BARANGKALI! KAU TIDAK SALAH LIHAT SIAPA YANG DATANG TADI? BARANGKALI CUMA HAYALANMU SAJA. COBA KAU GOSOK-GOSOK MATAMU DULU.
(Diam sejenak)
Zaitun? Beribu-ribu orang yang bernama Zaitun di dunia tuhan ini! Nenek dan buyut ibuku juga bernama Zaitun. Sekarang aku bertanya, ini Zaitun yang bagaimana dari ribuan orang yang bernama Zaitun itu?
BARABAH Ini Zaitun yang montok dan akan kawin. Mungkin dengan bapak!
BANIO Tidak mungkin, tidak mungkin. Aku sudah bersumpah tidak akan kawin-cerai lagi dan engkau adalah perkawinanku kedua belas dan terakhir. Tapi sekarang aku bertanya, kau masih cemburu?
BARABAH Masih.
BANIO Ini mesti diselesaikan hari ini juga kalau begitu. Apa sepeda masih ada dalam gudang?
BARABAH Bapak mau kemana?
BANIO MAU KE STASIUN DAN MENGUMUMKAN DI CORONG STASIUN UNTUK MEMANGGIL PEREMPUAN JAHANAM YANG BIKIN KACAU ITU KESINI UNTUK DIPERIKSA APAKAH DIA SEHAT ATAU SINTING. HE, KENAPA KAU DIAM SAJA? APA KAU PIKIR SI TUA INI TIDAK KUAT LAGI NAIK SEPEDA!? AKU PERNAH JADI JUARA LOMBA SEPEDA KETIKA BAN-BAN SEPEDA MASIH BAN MATI. KAU TUNGGU SEBENTAR DI SINI.
BARABAH MELIHAT SUAMINYA PERGI KE BELAKANG, LALU IA BERKATA SENDIRI
BARABAH MEMANG DIA PEREMPUAN JAHANAM, MAU MENYEROBOT LAKI ORANG. DULU KETIKA AKU KAWIN DENGAN DIA, AKU BUKAN MENYEROBOTNYA. IA TELAH BERCERAI ENAM TAHUN LAMANYA DARI ISTRINYA YANG KE SEBELAS. AKU DIPINANGNYA SEPERTI JEJAKA MEMINANG GADIS.
BANIO MUNCUL
BANIO Kenapa kau ngomong sendiri? Nanti kau dianggap orang gila lagi. Aku berangkat.
BANIO PERGI MEMBAWA SEPEDA ONTELNYA, BARABAH MENGANTARNYA SAMPAI KE PINTU. MENUTUP PINTU ITU DAN BERANJAK KEMBALI KE PETI DAN BERMAKSUD MENYULAM. TAK BERAPA LAMA, TERDENGAR KETUKAN PINTU.
ADEGAN III
BARABAH MENYAMBANGI PINTU, DIBUKA DAN NAMPAK ADIBUL YANG TUBUHNYA KEKAR TAPI AGAK SEDIKIT BONGKOK. IA MELIHAT LOTENG
BARABAH Apa saudara melihat cicak di situ?
ADIBUL Tidak.
BARABAH Apa saudara polisi?
ADIBUL Bukan. Saya kusir
BARABAH Bohong! Pasti saudara polisi
ADIBUL MEMANG SAYA DARI KANTOR POLISI, TAPI SAYA BUKAN POLISI. SAYA KUSIR SADO.
BARABAH YA, YA. SAYA TAHU, SAUDARA ADALAH POLISI RESERSES SEPERTI KATA ORANG, YANG TIDAK MEMAKAI PAKAIAN DINAS. BIAR PUN BEGITU, SAYA TIDAK TAKUT. MANA PEREMPUAN ITU! YA, YA, SAYA TAHU PEREMPUAN ITU TELAH MENGADU KE KANTOR POLISI KALAU SAYA SUDAH MENGUSIRNYA, TAPI SAYA TIDAK TAKUT. SAYA TIDAK TAKUT, KEPADA SIAPA SAJA YANG BERANI MELAWAN HAK SAYA. APALAGI KALAU HAK ITU MENYANGKUT SUAMI SAYA. DIA ADALAH SUAMI SAYA DAN BUKAN SUAMI ORANG.
ADIBUL Ya, itulah maksud saya
BARABAH Apa maksud saudara?
ADIBUL Ingin bertemu dengan suami ibu
BARABAH Ingin bertemu dengan suami saya?
ADIBUL Ya.
BARABAH (TEGAS) Dia tidak ada!
ADIBUL Kalau begitu, bolehkah saya menunggu sampai dia datang?
BARABAH MULAI MEMERHATIKAN ADIBUL DARI UJUNG RAMBUT SAMPAI UJUNG KAKI
BARABAH KITA ORANG TIMUR. TIDAK DEMIKIAN SEBENARNYA MAKSUD SAYA CARA MENERIMA TAMU. KAMI ORANG UDIK SEPERTI DIKATAKAN ORANG-ORANG KOTA. TAPI DALAM SOAL TETEK BENGEK, KAMI TIDAK PERNAH MENGADU PADA POLISI, KECUALI SOAL-SOAL PENCURIAN ATAU PEMBUNUHAN. TAPI SAYA PERCAYA, POLISI-POLISI KAMI TIDAK AKAN MELADENI PEREMPUAN MACAM DIA. DAN SAUDARA PASTI BUKAN POLISI DARI DAERAH KAMI INI.
ADIBUL Memang. Memang benar.
BARABAH Kalau saya akan ditangkap soal pengaduan perempuan itu yang semuanya tentu hanya omong kosong, saya terima. Dengan catatan kalau yang menangkap adalah polisi-polisi kami.
ADIBUL SAYA AKAN MENANGKAP IBU? TIDAK. SUNGGUH MATI, TIDAK. MALAHAN SAYA YANG PERNAH DITANGKAP POLISI SEWAKTU MENABRAK ANAK KECIL DENGAN SADO SAYA. SAYA INI KUSIR, TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN POLISI. JIKALAU ADA, ARTINYA SAYA MELANGGAR PERATURAN LALU LINTAS.
BARABAH BUNG, KITA INI ORANG TIMUR. SAYA BISA MENGHORMATI TAMU-TAMU SAYA. TAPI SUAMI SAYA MEMESANKAN, JANGANLAH MENERIMA TAMU LELAKI KETIKA SUAMI TIDAK ADA DI RUMAH. SAUDARA SEPUPU SAYA YANG LELAKI SAJA TERPAKSA SAYA SURUH BERKELILING DULU SEBELUM SUAMI SAYA DATANG.
ADIBUL TAPI SAYA DATANG DENGAN MAKSUD BAIK. SAYA BUKAN LELAKI SEMBARANGAN
BARABAH Saya juga bukan perempuan sembarangan! Suami saya sekarang tidak ada di rumah. Ia pergi ke stasiun
ADIBUL Mau apa ke stasiun?
BARABAH Mau mencari perempuan jahanam itu. Ya, perempuan itu betul-betul ayam putih kesiangan!
ADIBUL PEREMPUAN JAHANAM? SIAPAKAH NAMANYA?
BARABAH Siapa namanya, tidak penting disebut. Sebab perempuan jahanam macam dia tidak perlu punya nama. Karena mereka mencemarkan nama mereka sendiri dengan kelakuannya yang terkutuk
ADIBUL Oh, begitu.
BARABAH Jangan berlagak bodoh bung. Saya memang boleh kau tuduh perempuan judes. Boleh saja. Saya juga menghormati ada sopan santun, tapi itu pun ada batasnya. Saya dari tadi pusing kepala memikirkan nasib saya.
(lesu)
Saya tidak peduli akan marah sama polisi atau pak kapten. Saya kalau marah, sering lupa diri. Perempuan-perempuan memang begitu kalau cemburunya datang.
ADIBUL Memang begitu
BARABAH PERGI DUDUK KE PETI
BARABAH SAYA PUSING KALAU MEMIKIRKAN LELAKI. SEMUA PEREMPUAN PUSING KALAU MEMIKIRKAN KELAKUAN SUAMINYA. TIAP HARI SAYA MERENDA BAJU UNTUK ANAK SAYA YANG BAKAL LAHIR, BEGITU SETIANYA SAYA, TETAPI LELAKI TIDAK PERNAH SEDIKITPUN BERTERIMA KASIH PADA PEREMPUAN. MALAH MEREKA MENGEJEK MASAKAN ISTRINYA, GULAI YANG KEBANYAKAN SANTANLAH, IKAN ASIN YANG KELIWAT ASINLAH. MANA ADA IKAN ASIN YANG TIDAK ASIN?
ADIBUL Semua ikan asin memang asin!
BARABAH Tapi selalu kalian laki-laki mengatakan ikan asin kelewat asin! Itu kesalahan pabrik ikan asinm, bukan kesalahan bini mereka!
ADIBUL YA, MEMANG KESALAHAN PABRIKNYA. PABRIK-PABRIK ITU MESTI DIRITUIL, BU.
BARABAH orang-orangnya juga mesti dirituil.seperti yang saya baca di koran
ADIBUL (Duduk secara tak sadar) Ibu suka baca koran?
BARABAH Ya. kalau saya pulang belanja di depan kantor penerangan
ADIBUL Belakangan ini saya membaca sering terjadi penyelundupan beras
BARABAH Itu kerjaan lelaki! Perempuan cuma tahu menanak nasi!
ADIBUL Tapi lelaki yang menyelundupkan beras, kebanyakan atas anjuran istrinya
BARABAH Iya, disitulah kesalahan perempuan. Itu saya akui
MENDADAK BANIO MUNCUL DARI PINTU DEPAN SAMBIL BERTERIAK MENGGERUTU
BANIO Sial! Dia tidak ada di stasiun. Mana ban sepeda ku kempes lagi!
SAAT MASUK, BANIO KAGET MELIHAT ADIBUL
BARABAH POLISI INI MENCARI BAPAK
BANIO Mana pakaian dinasmu kalau kau betul-betul polisi!?
BARABAH Dia menyamar
BANIO Menyamar? Oh, ya, iya. Laki-laki mata keranjang memang suka menyamar kalau datang ke rumah bini orang. Busyet benar!
(Pada Barabah)
He, inikah perempuan yang kau bilang itu Barabah?
ADIBUL Saya bukan polisi, saya kusir!
BARABAH Diam kau! Saya tidak bertanya pada kau!
(Pada Barabah)
Inikah perempuan berkumis itu? Hmm, baru kali ini selama hidupku melihat perempuan berkumis dan rambutnya seperti jambul kuda
ADIBUL Memang saya saban hari bergaul dengan kuda, pak. Bagaimana bapak bisa tahu itu?
BANIO DIAM! BUSYET, TERNYATA KAU INI BUKAN HANYA BERGAUL DENGAN KUDA, TAPI PANDAI JUGA BERGAUL DENGAN PEREMPUAN. BARABAH! KAU MULAI MEMBOHONGIKU, SEPERTI JUGA ISTRIKU YANG KELIMA DAN KESEMBILAN! KAU BETUL-BETUL BURUNG BARABAH; DIAM-DIAM MEMAKAN PADI!
BARABAH Aku tidak berbuat apa-apa pak!
BANIO bohong! Siapkan semua pakaian-pakaianmu dan masukan dalam keranjang!
BARABAH Tapi....tapi saya malah mengusir dia!
ADIBUL Ya, pak. Saya diusirnya!
BANIO KAU LELAKI MATA KERANJANG YANG TOLOL! KALAU PEREMPUAN MENGUSIR, ITU TANDA PURA-PURA. KENAPA KAU TIDAK BUJUK TERUS SAMPAI BERHASIL? MEMBUJUK PEREMPUAN HARUS BERANGSUR-ANGSUR, TOLOL. BUKAN SEKALI BUJUK TERUS KAU RAMPAS!
ADIBUL Saya tidak membujuknya. Saya mau ketemu dengan pak Banio! Bapak sudah dikenal sampai ke kota. Saya kenal bapak adalah seorang jagoan!
BANIO TAPI KAU BERLAGAK JAGOAN HARI INI DENGAN KELAKUANMU! KALAU KAU MAU COBA? BOLEH, AKU BIKIN KAU MATI SEKALIAN!
(PADA BARABAH)
HE, DIA LELAKI JAGOAN YA?
BARABAH Ibah tidak tahu. Dia polisi
ADIBUL saya bukan polisi. Saya ini kusir bendi
BANIO Diam kalian berdua! Kalian sudah salah bikin siasat! Harusnya kalian berdua berembuk dulu soal pekerjaan kau
(MENUNJUK ADIBUL)
DAN KALAU PERLU PAKAI NAMA SAMARAN. DAN KAU JUGA BARABAH! KAU MESTINYA TIDAK SALAH MEENYEBUT PADAKU KALAU DIA INI LAKI-LAKI DAN BUKAN PEREMPUAN. POTONG DULU KUMISNYA DAN PANJANGKAN DULU RAMBUTNYA YANG SEPERTI KUDA JANTAN ITU, BARU KAU NAMAKAN DIA PEREMPUAN.
BEDEBAH KALIAN BERDUA! HAYO, KELUAR KAU DARI RUMAHKU!
(PADA ADIBUL)
KAU JANGAN PERGI DULU KALAU KAU BETUL-BETUL LELAKI JANTAN. KAU TUNGGU DI LUAR SAMPAI SAYA DAN BINI SAYA BERES!
ADIBUL Tapi saya kusir dan saya datang ke sini untuk....
BANIO (Memotong) Untuk apa ha? Untuk naik sado?
ADIBUL Untuk mengurus perkawinan
BANIO Tepat! Cocok! Nomor tebkan ini betul-betul tidak meleset!
(ADIBUL KETAWA SENANG)
Kenapa kau tertawa? Kau pikir ini lelucon?
ADIBUL Saya tertawa sebab saya gembira
BANIO Gembira? Gembira karena kau dapat merampas hak milik orang lain?
ADIBUL bukan, bukan itu pak. Gembira sebab bapak bisa menebak!
BANIO Kau pikir aku ini kakek-kakek linglung apa? Biarpun aku sudah tua, aku masih bisa menebak gerak-gerik hati orang!
ADIBUL YA, JUSTRU KARENA ITU! SAYA SENANG BAPAK BISA MENEBAK GERAK-GERIK HATI SAYA
BANIO Bajingan kau!
(MENDEKATI ADIBUL DAN MENGUKUR KEKUATANNYA DENGAN DIRINYA YANG SUDAH TUA)
KAU JAGOAN JUGA RUPANYA YA?
ADIBUL Bukan pak. Tapi koran-koran di kota menulis bahwa saya jagoan
BANIO Jagoan apa?
ADIBUL Ya, cuma berkelahi dengan seekor harimau. Saya jadi malu dengan muka cacat saya ini!
BANIO Jadi kau lah orangnya yang ditulis di koran-koran itu. Bagus! Tapi kau jangan sombong dulu. Yang berdiri dihadapanmu ini
(MENEPUK DADA)
BUKAN SAJA TELAH MENYATE SEEKOR MACAN, TAPI TUJUH EKOR MACAN! KAU BELUM APA-APA SUDAH BERLAGAK SEPERTI JAGOAN. COBA KAU LIHAT PUNGGUNG DAN DADA SAYA INI
(MEMBUKA PAKAIANNYA, NAMPAK BEKAS CAKARAN)
BELUM LAGI YANG DI PUNGGUNG SAYA. TUJUH EKOR MACAN SUDAH KUBUNUH, DAN COBA KAU PERIKSA GUDANG BELAKANG, ADA TUJUH EKOR MACAN DAN SUDAH DITAWAR SEPULUH RIBU PER KEPALA. TAPI AKU BUKAN ORANG SERAKAH MAU JUAL KEBANGGAANKU UNTUK SOMBONG. TAPI KAU BARU SATU EKOR SUDAH BERLAGAK JADI JAGOAN! KAU LAGAK YA, MENTANG-MENTANG MASIH MUDA?
ADIBUL Saya tidak berlagak jadi jagoan pak, koran-koran itu yang menulis
BANIO KORAN-KORAN MEMANG SUKA SENSASI. DULU AKU TIDAK TAHU ARTI PERKATAAN SENSASI. TAPI MELIHAT HUBUNGAN ANTARA KAMU DAN BINI SAYA SEPERTI YANG SAYA LIHAT INI. KALAU SAYA WARTAWAN GOT, TENTU SAYA SUDAH BIKIN SENSASI DI KORAN
ADIBUL HUBUNGAN? HUBUNGAN APA? SAYA MALAH NAMA BINI BAPAK SAJA SAYA TIDAK TAHU.
BANIO bohong!
(KEPADA BARABAH)
BARABAH! BETUL DIA TIDAK KENAL NAMAMU?
BARABAH Betul. Saya juga tidak kenal namanya
BANIO AH! KENAPA KALIAN TIDAK KOMPAK SEPERTI MODEL ZAMAN SEKARANG. SIALAN KALIAN! SIAL BETUL! KALIAN BERDUA BETUL-BETUL GOBLOK!
ADIBUL Saya tidak goblok!
BANIO Siapa bilang kau tidak goblok!?
ADIBUL Saya yang bilang
BANIO Kau ngotot ya!? Mentang-mentang kau masih muda!? Baiklah, baik! Sekarang kau keluar! Tapi….
ADIBUL (Heran) Tapi….tapi apa pak?
BANIO Ah, sudahlah! keluar! Keluar kataku sebelum saya naik pitam!
ADIBUL KAGET LALU KELUAR. BANIO MENYABARKAN HATINYA, DIA PUN DUDUK DI KURSI. DIA MENGURUT-URUT KENINNYA. DIA TERDIAM LAMA MELIHAT BARABAH TAK MENANGIS
BANIO Kau tahu kenapa aku diam, Barabah?
(Barabah tak menjawab)
Aku diam sebab kau tidak menangis. Aku menunggu kau menangis, seperti bini-biniku dulu menangis untuk menyembunyikan kesalahannya. Kau lebih kuat, kau perempuan kuat. Akh, biarpun marah, aku tetap kagum padamu, Barabah. Kau istriku berbeda dari yang lain.
(suaranya melembut)
Sekarang aku ingin bertanya padamu, Barabah. Siapa lelaki bertampang buruk itu?
BARABAH Saya tidak tahu, pak
BANIO Bohong!
(Berdiri, menatap wajah Barabah. Barabah membalas tatapan itu dengan tajam)
Matamu berkata, bahwa kau tidak berbohong
BARABAH Kenapa bapak marah betul kelihatannya?
BANIO Sebab aku cemburu
BARABAH (Kaget) Hah? Bapak cemburu? Kenapa pula bapak cemburu?
BANIO Sebab lelaki muda itu. Sebab kau juga muda. Kami yang tua-tua ini tak bias kembali muda. Sebab itu aku cemburu!
BARABAH Tapi dia dan saya tidak ada apa-apa. Ibah sudah berkata padanya sewaktu dia masuk “Janganlah bertamu ke rumah orang, ketika suaminya tidak di rumah. Itu adat timur” kata saya.
BANIO Betul? Betul kau ingat pesan-pesan saya dulu?
BARABAH Bagaimana Ibah akan memanggil dia. Ibah tidak tahu namanya!
BANIO BERDIRI LAGI DENGAN KEKARNYA. DILIHATNYA BARABAH SEBENTAR UNTUK KEMUDIAN SEAKAN-AKAN MENANGKAP KEJUJURAN DALAM MATA ISTRINYA, IA TEGAP BERJALAN KE PINTU DEPAN.
BANIO He jagoan! Masuklah
(Adibul masuk)
Ah, kau tidak pergi rupanya. Biasanya para pengecut itu pergi lari. Aku tadi Cuma mengujimu
(memerhatikan Adibul yang tegap dengan kagumnya. Adibul malu)
Kau nampak malu….kenapa? Duduk saja di kursi itu! Semua kursi-kursi sudah kutaruh di gudang belakang, sejak orang-orang sekita tidak setuju dengan perbuatanku
ADIBUL Apa itu pak?
BANIO Orang-orang itu benci melihat aku membagi tanah, mematuhi undang-undang landriform pemerintah. Mereka bilang aku cari muka! Coba kaupikir, buat apa cari muka, kalau aku mau aku bias menjadi pegawai pemerintah kalau mau. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Lagipula aku sadar, pada akhirnya aku hanya butuh dua meter persegi saja.
ADIBUL Tapi bapak awet muda. Dua puluh tahun lagi, pasti masih kuat!
BANIO Kuat apa?
ADIBUL Kuat untuk hidup
BANIO Hidupku baru saja mulai. Ini memang hidupku. Aku bangga dengan sisa hidupku ini
ADIBUL Kalau saya dapat mertua seperti bapak, saya akan senang
BANIO Kenapa?
ADIBUL Orang-orang tua di sini, kebanyakan sudah meneyerah pada nasib
BANIO Ya, mereka pergi ke sana kemari dengan petuah-petuah using membawa wasiat-wasiat. Sedangkan mereka sendiri sebenarnya masih bias mencangkul lading buat cucu-cucunya. He, kau pintar bicara. Kau ini siapa sebenarnya? Betul kau polisi?
ADIBUL Saya bukan polisi. Saya kusir sado
BANIO Rupanya kau betul-betul jujur. Saya pernah ketemu kusir sado yang berlagak punya rumah gedong. Saya benci orang-orang yang tidak jujur. Namamu siapa?
ADIBUL Nama saya Adibul. Adibul congek orang-orang mengejek saya. Sebab waktu kecil, kuping saya ini bernanah
BANIO Jangan bercerita yang menjijikan! Aku bias muntah
ADIBUL Tapi ini kenang-kenangan masa kecil saya pak
BANIO Apa itu kenangan. Kau barangkali suka nonton film. Kata-kata itu Cuma diucapkan bintang-bintang film di bioskop-bioskop. Tapi aku punya kenang—kenangan yang buruk. Siapa tadi namamu?
ADIBUL Adibul, pak
BANIO Aku punya kenangan buruk, Adibul. Aku telah sebelas kali kawin cerai
ADIBUL Saya sudah mendengarnya sebelum ini
BANIO mereka yang bercerita padamu itu sebab iri hati saja. Dunia ini sudah sedemikian dipenuhi iri hati, sehingga kita bosan. Tapi saya tidak bosan hidup. Apa pekerjaanmu? Apa kau mencangkul saban hari, maka kau yang segini muda jadi bongkok?
ADIBUL Pekerjaan saya kusir, pak
BANIO Dari tadi aku mengujimu, kau tetap jujur. Kusir? Kusir yang begini?
(Memeragakan perilaku kusir lengkap dengan desahannya)
Pantas kau bongkok. Tapi apa kau mencintai pekerjaanmu?
ADIBUL Cinta sekali
BANIO Selama kau jadi kusir, berapa kali kau ditabrak mobil? Aku tidak bertanya berapa kali kau menabrak orang. Camkan itu!
ADIBUL Belum pernah!
BANIO Hebat kau! Hebat! Nah, dimana kau mandikan kudamu?
ADIBUL Di kali pak
BANIO Di kali? Apa di kali itu banyak orang yang mandi?
ADIBUL Banyak juga pak. Terlebih kalau sore hari
BANIO Siapa yang mandi, laki-laki atau perempuan?
ADIBUL Kalau perempuan, mandinya di pancuran
BANIO (Ketawa) Hahahahaa.....Lantas, bagaimana cara kau mandikan kudamu?
(Adibul gugup merasa diuji. Banio memberi isyarat)
Berdirilah, jangan malu-malu. Coba tunjukan padaku cara kau mandikan kuda
(Adibul ragu-ragu. Dicobanya memeragakan cara memandikan kuda)
Kalau begitu, di tempat ini
(menunjuk dirinya sendiri)
Perempuan-perempuan itu mandi, bukan? Kau, ya matamu melihat ke sini. Jadi kau bukan saja memandikan kudamu, tapi juga matamu kau pakai buat melihat-lihat
ADIBUL (Senyum) Namanya juga orang muda, pak
BARABAH (Menggerutu) Lelaki tak punya sopan santun
BANIO (Menoleh ke arah Barabah) Kau bilang apa, Barabah?
BARABAH Lelaki tidak bersantun
BANIO Biar! Dia jujur. Seperti aku waktu muda juga begitu
BARABAH Aku tidak suka menerima tamu tidak sopan!
(Berjalan ke arah pintu belakang, sampai di pintu Barabah berkata)
Rumah ini bukan warung tempat ngobrol yang bukan-bukan
BANIO (Senyum) Dia sebenarnya tidak galak. Barangkali saja sedang ngidam
ADIBUL Tapi saya diusirnya tadi!
BANIO Itu tandanya dia istri yang baik. Kalau kau kawin, carilah perempuan yang sebaik Barabah. Dia bukan hanya bisa masak di dapur, dia juga pemberani dan suka memberi semangat. Dia juga tidak mau kehilangan suami. Sebab itu aku senang padanya.
Kau pernah ikut latihan militer? Dulu aku pernah ditawan. Penjaralah yang membuatku mencintai dunia ini. Aku dulu jago genderang , aku penabuh genderang yang disegani.
(Memanggil Barabah)
Barabah....Barabah....
(pada Adibul)
Coba kau lihat, muka dia pasti merengut. Laki-laki suka melihat istrinya merengut dibikin-bikin
(Barabah muncul dengan muka merengut)
Betul tidak kata-kataku?
(Adibul mengangguk. Pada Barabah)
Barabah, ambillah genderang itu di gudang
(Barabah masuk kembali ke dapur)
Kau tidak tahu bagaimana seharusnya menabuh genderang. Begini, berdiri tegap dan....tramtamtam....tramtamtam...tot tit tet...tot tit teeeeet, dram tam tam dram tamtam..... apa kau tahu kenapa aku suka bunyi genderang? Genderang itu bersemangat. Banyak orang tua kehilangan semangat
(Barabah muncul membawa tambur, banio mengambilnya dan memasang tambur itu dan berdiri. Banio menabuh tambur dan debu-debu pun beterbangan. Banio terbatuk-batuk)
Tambur ini barangkali umurnya lebih tua dari amu, Adibul. Betul namamu, Adibul?
ADIBUL Boleh saya pinjam?
BANIO Apa? Pinjam? Kau kan bisanya cuma (mencontohkan gaya kusir) Ssh, sshh, sssh.....
ADIBUL Ijinkalah saya pinjam barang sebentar
BANIO RAGU-RAGU MEMBERIKANNYA. ADIBUL MEMUKUL TAMBUR ITU DAN BANIO BERDECAK KAGUM DAN TERCENGANG
BANIO Cobalah sekali lagi, aku tak percaya kupingku
(mengorek telinganya, Adibul kembali menabuh tambur itu)
Hebat, hebat kau! Kau adalah sainganku rupa-rupanya
(Banio tertawa kencang untuk pertama kalinya. Barabah berdiri di pintu, Banio melihat ke Barabah)
Dia hebat bukan?
BARABAH Rumah ini bukan panggung komedi pak
BANIO Kenapa kau sekarang jadi pemarah!? Sialan! Kau pikir rumah ini tempat parlemen bertengkar apa? Di rumah ini tak boleh ada pertengkaran. Biar orang lain yang bertengkar, kita jangan ikut-ikutan. Bukan begitu, Adibul?
ADIBUL Betul
BANIO Hahahaa.... kau betul-betul hebat, Adibul. Waktu muda...eh, benar nama engkau Adibul? Aku suka salah menyebut nama orang sehingga kalau aku marah pada Barabah, ku panggil dia 'Barakah” Hahahaaa... aku tadi cerita apa?
ADIBUL Waktu muda...
BANIO O ya, waktu muda aku suka menyenangkan hati orang tua, seperti yang barusan kau lakukan. Kau seperti aku waktu muda. Ah, taruhlah dulu tambur ini di atas meja. (Mengambil tambur dan menaruhnya di meja) Waktu muda aku hebat seperti kau, jagoan seperti kau. Dan sekarang aku sudah tua, tapi aku tak mau mati lekas-lekas. Aku tidak mau seperti kakek-kakek yang lain, yang nagntuk-ngantuk di depan kuburannya yang digali sepuluh tahun sebelum mereka mati
(Keras dan tegas)
Aku masih kuat melawan semua ini. Aku masih kuat bukan? Tapi kau diam-diam sudah menggantikan kedudukanku!
ADIBUL Saya hendak mengatakan sesuatu pada bapak. Ini penting, pak
BANIO Jangan memotong pembicaraan orang tua, kami tak perlu kalian ajarkan bagaimana caranya hidup! Kami sudah cukup pengalaman
ADIBUL Saya tahu itu
BANIO Jangan berlagak sok tahu. Kalau kau jatuh dari langit, bagaimana rasanya jatuh dari tempat tertinggi di bumi ini?
ADIBUL Saya pernah jatuh dari kapal terbang
BANIO (kaget) Hah? Kau pernah naik kapal terbang?
ADIBUL Pernah, waktu saya masih muda di zaman Jepang
BANIO Kau naik kapal terbang, betul kau pernah naik kapal terbang?
ADIBUL Ya, saya pernah naik kapal terbang
BARABAH Dia bohong!
BANIO Janganlah kau ikut campur
BARABAH Laki-laki semua suka bohong!
ADIBUL Saya betul-betul pernah naik kapal terbang!
ZAITUN TIBA-TIBA MUNCUL DI PINTU. SEMUA TERKEJUT. BARABAH BERANJAK DARI PETI
ZAITUN (Pada Adibul) Kenapa begitu lama?
BARABAH (MARAH) Ini dia perempuan itu! Ini dia si tak tahu malu yang mau menjinakkan suami orang!
ADIBUL MENDEKATI ZAITUN
ADIBUL Betul kau suka menjinakkan suami orang?
ZAITUN (kaget) Tidak
BARABAH Dia bohong! Dia datang kesini mau menguji hatiku dengan sindiran-sindiran.
BANIO Siapa dia?
BARABAH Ini dia perempuan yang tadi mencari bapak. Dia mencari-cari suamiku terang-terangan
BARABAHMENANGIS
ZAITUN Saya datang bukan mencari suamimu. Saya datang mencari bapak saya
BANIO Bapak? Siapa bapakmu? Siapa kau?
ZAITUN Saya Zaitun
BANIO Ada beribu-ribu Zaitun di dunia ini. Kau Zaitun yang mana dan Zaitun siapa?
ZAITUN TERPAKU MEMANDANG BANIO, BANIO MERASA HERAN. BARABAH MEMERHATIKANNYA, MENDADAK DIA MEMEKIK HISTERIS
BARABAH Perempuan itu melihat kau dengan mesra
ZAITUN (Lirih) Kaulah bapakku rupanya
BANIO Aku?
ZAITUN Ya, bapak
BARABAH Jangan percaya, pak. Itu siasat!
ZAITUN Iya, dia bapakku!
ADIBUL Iya, pak. Dia ini anak bapak
BARABAH TERKEJUT
BANIO Anak saya? Saya punya berpuluh-puluh anak perempuan. Dia ini dari istri yang mana?
ZAITUN Dari istri bapak yang ke enam, Ibu Rabiah!
BANIO Rabiah!? He Barabah, kau ingat istriku yang keenam, Rabiah!?
BARABAH Yang tukang tenung ramalan itu!?
BANIO (Tenang) O, iya...ya... Tapi kalian ke sini mau apa?
ZAITUN kami ke sini dengan kereta api
BARABAH MENDEKATI BANIO
BANIO (Pada Adibul) Dan ini siapa?
ZAITUN (Kesal melihat Adibul) Aku sudah menunggumu satu jam di kantor polisi. Apa sudah kau omongkan soal perkawinan kita?
SEMUANY MENGANGA, BANIO TENANG
BANIO Jangan menganga...nanti masuk nyamuk dalam mulut kalian. Aku sudah menyelidiki dengan teliti, bahwa kau (menunjuk Zaitun) adalah anakku akan kawin dengan (menunjuk Adibul). Kenapa dalam perkawinan zaman sekarang mesti membikin pemberitahuan pada orang tua?
ADIBUL Itulah sebabnya saya datang
ZAITUN Ya
BANIO TERSENYUM
BANIO Rupanya selama ini aku kelewat curiga dengan anak-anak muda. Masih ada juga anak muda yang merundingkan soal perkawinan pada orang tuanya. Dan anak muda itu adalah kalian, anak-anakku. Kenapa kalian semua terdiam? Kenapa? Apa kalian kira aku menyindir?
ADIBUL kami sebenarnya mau mengatakan hal ini sejelas-jelasnya
BANIO He, apa kau pikir aku ini sudah pikun? Aku bukan orang goblok yang membuat satu perkara bertele-tele
ADIBUL Ya, kami mau berterima kasih
BANIO Perkawinan tidak perlu diawali dengan yang muluk-muluk dulu. Aku sudah cukup gagal sebagai contoh. Apa yang kalian tunggu lagi? Aku bukan orang tua yang banyak cincong minta ini minta itu pada calon mantu, yang kesemuanya akan kalian ungkit kalau bermasalah denganku
(Zaitun mendekati adibul, lalu berbisik. Banio mendelik)
Apa yang dia bisikkan?
ADIBUL Kami akan ketinggalan kereta api terakhir
BANIO O, cuma itu.
(Setelah semuanya agak lama terhening)
Kenapa semuanya melongo? Apa yang kalian tunggu lagi?
BANIO GELISAH
ZAITUN Ibu melarang kami lama-lama sebenarnya, ibu khawatir
BANIO O, sudah insyaf dia sekarang soal harga diri perempuan? Siapa laki ibumu sekarang Zaitun? Betul kau bernama Zaitun?
ZAITUN Iya. Suami ibu seorang kepala kuli pelabuhan, pak. Namanya pak Dulsidik
BANIO (Memalingkan muka, sedih) Zaitun, jangan bilang pada ibumu kalau aku minta maaf
ZAITUN MENDEKATI BANIO LALU SUNGKEM DI KAKI BANIO. BANIO MAKIN TERHARU DAN SECARA TIDAK SADAR IA MEMBELAI RAMBUT ZAITUN
RAMBUTMU HITAM BAGUS
(Berubah sikap)
Apalagi yang kalian tunggu. Pergi cepat-cepat. Jangan bikin aku sedih berairmata. Buatku air mata sangat mahal harganya. Kalau kau jadi istri, tirulah Barabah! Kau dengar!? Pergilah!
(Tangannya pelan-pelan merogoh sabuk pinggangnya. Dari dalamnya ia keluarkan uang)
Ini uang lima ringgit buat jajan di kereta. Ini pertama kalinya aku memberimu uang selama hidupku
ADIBUL DAN ZAITUN AKAN PERGI. SAMPAI DI PINTU, BANIO MEMANGGIL
ADIBUL Zaitun!
ZAITUN (Membalik terkejut) Ya, Ayah
BANIO (Tercenung agak lama, lalu mengeraskan suaranya) Sudah! Pergi lekas, jangan buat aku menangis di depan kalian. Aku bukan orang tua yang cengeng
(Zaitun dan Adibul pergi. Hening sesaat. Banio menarik napas panjang)
Barabah....
BARABAH Ada apa pak
BANIO Hari sudah sore rupanya. Tolong pijit kepalaku. Aku capek
(Barabah mendekati dan berdiri tegak di depannya. Banio melihat istrinya dari bawah sampai atas)
Apa kau lihat ada air mata di mataku, Barabah?
AIR MATANYA BERLINANG
BARABAH Tidak
BANIO Memang aku tidak pernah menangis!
(Menarik napas)
Hari sudah sore, Barabah. Simpanlah genderang ini dan pemukulnya ke dalam gudang
(Barabah akan mengambil genderang di meja, tapi Banio menangkap tangan Barabah dengan erat)
Tapi nanti dulu! Aku ingin membunyikannya sore ini!
BANIO BERDIRI TEGAP DAN MEMBUNYIKAN GENDERANG ITU DENGAN BAGUSNYA
SELESAI ----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lakon BILA MULA Karya: JOKO SUCIANTO, SPd.
LAMPU PADAM, REMANG-REMANG. MUSIK, BERNYANYI, MENARI, MERAUNG-RAUNG DI TELINGA YANG TERLUKA. SEIRING TARIAN YANG BERINGSUT. SUNGGUH ADANYA TIDAK MENGADA-ADA. SEPERTI GELAP KE REMANG. SEPERTI REMANG KE TERANG. SEPERTI TERANG KEMBALU REMANG. SEPERTI REMANG KE KEGELAPAN YANG .MUTLAK TELAK, TERBELALAK. MUNCUL ROMBONGAN ANAK-ANAK YANG BERMAIN-MAIN DENGAN MAINANNYA MASING-MASING BERPUTAR, BERSUARA, BEREBUT, TERTAWA, MENANGIS, DAN MENANGISI SESUATU LAMPU PADAM
Untuk sejenak kedewasaan kita diuji Seketika mata daging mengembara tak jauh dari pikiran yang terlalu sering terjejali kebiasa-kebiasaan hari. Ada ruang baru yang lahir dan menjadi naluri batin tak terbaca. Hal ini mungkin terjadi pada siapa saja karena dunia dan aktifitasnya sudah mulai membosankan. Lalu tubuh yang baku menjadi sebuah kemodernan yang melarat karena tubuh itu selalu saja dikosongkan.
Harapan adalah bantal untuk mimpi kita malam ini dan selanjutnya, tanpa adanya landasan-landasan moralis yang kukuh selain keduniawian. Kita sudah terlalu sering menjebak nurani pada suatu yang simbolik yang kolosal dan megah menancap di relung-reling kepenatan masing-masing. (kebodohan yang khas pada manusiaI). Secara lahiriyah fisik adalah tubuh baku yang sudah dilembagakan menurut fungsi masing-masing.
RUDD Kita tak boleh berhenti. Bergeraklah, karena diam bisa mematikan. Rahasia pertama itu adalah gerak.
RIFF Alat-alat tidak dapat bekerja sendiri. Orang harus mengoperasikan dengan keringatnya
MEYY Kebosanan yang didiamkan sama dengan waktu luang. Sesuatu yang menipu dan membahayakan
RUDD Kita tak boleh berhenti bergerak. Kecuali sekedar mengambil bekal dan beristirahat. Hidup ini akan terus berdenyut dengan atau tanpa kita
RIFF Para pekerja bukan lagi hamba sahaya Mereka sekarang penduduk bebas Bebas menjual dirinya kepada penawar paling tinggi
MEYY Bagi yang memasuki lingkaran pertama dan menemui jalan buntu Diminta untuk melacak jejak-jejaknya Dalam kondisi ini ada esensi Seseorang yang berdampingan pikiran dan perbuatan
TIBA-TIBA LAMPU PADAM
RUDD Hey! Kenapa tiba-tiba gelap! Apa artimya mata tanpa cahaya Gelap gulita
MEREKA BERPENCAR LAMPU MENYALA DI TEMPAT RUDD
RUDD Jika aku telah berbuat salah dalam kata-kataku Aku mohon jangan tinggalkan aku Kalian tersesat? Hey…! Hey…!
LAMPU MENYALA DI TEMPAT MEYY
MEYY Temanmu tidak tersesat Juga tidak salah jalan Tidak jatuh sakit. Atau kehilangan harapan Jalannya dalam kecepatan Semadi secara mendalam
LAMPU MENYALA DI TEMPAT RIFF
RIFF Kini kapitalisme bekerja dengan pemerasan yang lebih modern dan rumit
MEYY Ini adalah pusaran, yang bergerak dalam orbit Bergerak, berputar, berbalik, berbelok kacau dan menjijikkan
RIFF Kaum borjuis modern telah muncrat dari puing-puing masyarakat feodal Ia melahirkan kelas baru Syarat baru dalam penindasan Bentuk baru dalam perjuangan Ia menghancurkan kehendak religius Kemunafikan kaum agamawan
MEYY Alangkah panjang perjalanan yang singkat Jika para penjelajah membuang-buang waktu Campur tangan rute yang bukan hak mereka Dan tak punya keteguhan hati
RUDD Hiburlah jiwa kalian barang sesaat. Karena jiwa itu bisa sekarat Seperti besi yang bisa sekarat
RIFF Akal terus berkembang sepanjang sejarah, menuju tujuan yang absolute Sejarah dunia adalah perkembangan dari kesadaran pada kemerdakaan
MEYY Tujuan adalah sesuatu yang ditentukan di awal Diwujudkan di akhir Tempat memulai pikiran dan akhir dari sebuah perjalanan
RUDD Semua orang tergesa pergi ke tujuan yang tidak dikenal Dan nampaknya lebih penting dari Tuhan
RIFF MENGANGKAT TANGANNYA TINGGI-TINGGI
RIFF Wahai para pekerja seluruh dunia bersatulah Tangan terdiri dari lima jari yang disatukan
RUDD Hey, lihat! Ia mengepalkan tangannya. Dan lihatlah wajahnya. Lihat!
MEYY Selagi aku di ambang pintu Aku dengar kata-katamu
RUDD Lihatlah! Jangan kau rendahkan hatimu
RIFF ( mengepalkan tangannya ) Mereka akan menjadi Revolusioner bila mereka bersatu dengan kaum proletar Cepat atau lambat, itu akan berubah mati-matian Dan akan tiba pada Revolusi! ( bergerak dan bernyanyi penuh semangat ) Revolusi…revolusi…revolusi sampai mati
RUDD Barangkali dengan bergerak akan melahirkan perubahan ( bergerak mengikuti Riff ) revolusi…revolusi…revolusi sampai mati…
MEYY Jika kau bisa ikutilah orang merdeka Sungguh orang merdeka di dunia ini hanya sedikit
RUDD ( berhenti dan nampak lagu-lagu mendekat ke tempat Meyy ) Apa pendapatmu tentang orang itu ?
MEYY Dilihat dari tingkah dan gaya bicaranya, aku pikir aku tak tahu
RUDD Siapapun kita. Apapun profesi kita, tidak bisa tidak, ini tak boleh ditawar Tidak diijinkan berkata tidak tahu di sini!
MEYY Jangan tanya siapa dia Tanyalah siapa temannya Sebab setiap orang selalu mencontoh yang ia temani
RUDD Baiklah Seperti dia aku juga tak tahu siapa kau Apakh kau ini sahabatnya ?!
MEYY Sahabat adalah penentu Jangan tanya siapa aku Tanyakanlah siapa sahabatku Pasti kau tahu siapa diriku
RUDD Ah, mempunyai seribu teman terasa kurang Memiliki satu musuh terasa sesak Ya maupun Tuhan
RIFF Tuhan ada sebagai roh dunia Yang ada adalh nyata Karena rasional dan sebaliknya
RUDD Tuhan Maha Besar. Mendekatlah padaNya
RIFF Manusia yang membuat sejarah, bukan yang lain. Sejarah tidak berbuat apa-apa Sejarah dibuat oleh manusia, bukan oleh takdir atau tangan Tuhan
RUDD Tuhan Maha Besar Mendekalah padaNya
RIFF ( Berteriak ) Terimakasuh Hegel ! Kau mengajari aku bahwa Tuhan yang baik tidak bermukim di surga. Seperti cerita nenek. Tapi aku sendiri. Di sini. Dapat menjadi Tuhan ( exit )
RUDD Hey… Hidup hanya sekali jangan salah pilih Jadilah pemadam api keburukan ( exit )
MUNCUL ROMBONGAN EIGG DAN TISS
Wajah tirus penuh jelaga Bergerak cepat, berhenti lalu Seperti sedia kala mencoba mengecap keseharian Merangkul kebias-biasaan dunia yang telah sesak akan rutinitas Bergerak, jangan berhenti Untuk sekadar mengambil bekal Dan istirahat
MUNCUL ROMBONGAN ORANG-ORANG MEMAKAI JUBAH PUTIH
Dan kesemuanya itu di mata Tuhan adalah sama. Tuhan Maha Besar Maka mendekatlah padaNya Yakinlah pada hati Bahwa Tuhan adalah ada Sebagai roh dunia Yang adalah nyata Apa artinya mata tanpa cahaya Lampu padam
Selesai
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

 | AKU | Dec 22, '10 11:44 AM for everyone |
|  | DER |
 Catatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temuteman) 8 BOGOR TEATER LAWAS
Salam Budaya.......... ! ! ! Bersama dalam Langkah...!!! Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman) merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Komunitas-komunitas Teater seluruh Nusantara. Kegiatan ini berangkat dari keinginan tentang adanya ruang alternatif terhadap pertunjukan teater yang berbasis di kampus. Kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan spirit silaturahmi dan kebersamaan serta mengusung nilai penting dari “bertemu”, “berteman”, dan “bertemu dengan teman” ini telah berlangsung selama tujuh kali dan terakhir bertempat di Bali. Dengan tema “Bercengkrama lewat budaya dan bercinta dalam karya” kegiatan Temu Teman 8 Bogor dirajut. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 18-23 Oktober 2010. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh komunitas teater mahasiswa seantero nusantara ini, diikuti juga oleh komunitas Teater Lawas untuk pertama kalinya, yang notabene adalah mahasiswa dan alumni dari Universitas PGRI Palembang. Kegiatan yang bernama Temu Teman 8 Bogor ini, berlangsung dengan hangat dalam suasana pertemanan. Teater Lawas sendiri mengutus 7 orang perwakilannya yang diberangkatkan ke Bogor untuk ikut serta dan berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Dengan penuh rasa haru dan hikmat kami diberangkatkan dari Kota Pempek hari Sabtu, 16 Oktober 2010. Awal perjalanan kami berlangsung lancar tanpa hambatan apapun, tapi sejak memasuki kawasan Inderalaya Bus yang kami tumpangi dengan sangat terpaksa harus lewat melalui Lintas Barat yang notabene lebih panjang dibandingkan Lintas Timur, karena sesuai dari Surat Perjalanan trayek Bus Lorena yang harus lewat melalui Jalan Lintas Barat. Sekitar pukul 23.00 WIB bus yang kami tumpangi kesasar, dan menemui portal yang tingginya lebih pendek daripada bus, sehingga memaksa kami untuk mundur dan memutar sekitar 9 Km. Syukurnya hanya hambatan itu saja yang kami temui selama perjalanan berangkat. Kami tiba di Kota Bogor pukul 11.00 Wib, hari Minggu, 17 Oktober 2010 dan turun tepat di depan Masjid Raya Bogor seberang jalan menuju ke Universitas Pakuan Bogor. Tak lama setelah turun dari bus, kami di jemput oleh teman Panitia (Aday) dan memboyong kami menggunakan angkot menuju ke Universitas Djuanda (Unida) Bogor untuk diistarahatkan sementara. Hawa dingin merasuk ke tulang ketika memasuki kawasan Unida, karena kampus ini letaknya tidak jauh dari Puncak Bogor. Tetapi rasa dingin itu seketika hilang, setelah kami menemukan susana kehangatan karena kami disambut oleh teman-teman perwakilan dari seluruh nusantara yang beberapa telah datang lebih dulu sebelum kami. Hari itu kami lalui untuk beristirahat dan bercengkrama berbagi pengalaman bersama teman-teman dari Padang(Teater Oase, Rumah Teduh, Senja), Kediri (Teater Tiang Alit), dan Riau (Teater Latah Tuah). Pada malam harinya, salah satu perwakilan dari kami diutus untuk mengikuti rapat koordinasi di Gedung Kemuning Gading yang merupakan tempat yang akan kami gunakan untuk berapresiasi dan beraksi dalam wujud teater. Dalam rapat koordinasi Panitia penyelenggara menyampaikan permohonan maaf dan memberitahukan bahwa baru bisa menempatkan kami di penginapan keesokan harinya. Pada hari senin tanggal 18 Oktober 2010, sesuai dengan hasil rapat koordinasi, kami dipindahkan dari kampus Unida ke Mes GOR Padjajaran, dan disana mulai dilakukan pendataan peserta serta pembagian konsumsi dari Panitia. Setelah dilakukan pendataan peserta, ternyata tempat penampungan yang disediakan kurang mencukupi untuk menampung seluruh teman-teman dari seluruh nusantara ini, karena peserta kegiatan ini benar-benar membludak. Hingga, kami menemukan kamar no. 17 yang masih belum ditempati teman lainnya, tapi ada sesuatu yang janggal disini. Karena telah ada 2 tas ransel besar yang berada didalam ruangan. Setelah konfirmasi dengan panitia, kami dibolehkan menempati kamar tersebut bersama teman dari Manokwari, Papua. Tetapi beberapa saat kemudian masalah pun datang, ternyata dua tas ransel tadi adalah milik teman dari Surabaya yang mengaku sudah nge-booking kamar tersebut. Setelah sedikit perdebatan kami harus mengalah dan keluar dari kamar untuk dipindahkan ke-penginapan lain yang masih dicarikan teman panitia. Tapi, pada saat kami beres-beres salah satu teman Surabaya mendatangi kami, dan meminta kami untuk tidak keluar dari kamar dan mereka mengalah untuk tidak menempati kamar tersebut. Pada pukul 11.00 Wib, panitia menginstruksikan agar kami mengikuti Karnaval Budaya, dan sekitar pukul 13.00 Wib kegiatan terseebut dilaksanakan. Bersama teman dari Manokwari kami mengikuti Karnaval Budaya. Karnaval dilaksanakan disepanjang jalan dari GOR Padjajaran menuju Ke Gedung Kemuning Gading, dengan berjalan beriringan bersama-sama dan menampilkan kebudayaan masing-masing. Dan sesampainya di Gedung Kemuning Gading, acara Opening Ceremony Temu Teman 8 Bogor dimulai dan selesai sekitar pukul 20.00 Wib. Pada hari selasa tanggal 19 Oktober 2010, tepat pukul 01.00 Wib salah satu perwakilan dari komunitas kami mengikuti rapat koordinasi bersama panitia dan teman-teman dari daerah lainnya. Dan dari rapat tersebut, diputuskan bahwa kami dari komunitas Teater Lawas untuk pindah ke- Penginapan Wisma Firman di Paledang, atas pertimbangan khawatir terhadap keadaan teman-teman wanita kami yang harus tidur berhimpitan bersama teman dari Manokwari dan Padang. Pukul 13.00 Wib, kami mulai mengikuti kegiatan-kegiatan inti dari Temu Teman, yakni menonton dan memperhatikan pertunjukan teater dari teman-teman seluruh nusantara. Dari berbagai pentas yang ditampilkan, pentas yang paling mendapat perhatian ialah pentas dari teman-teman Manokwari yang sempat menjadi teman sekamar kami. Sebelum pentas kami sempatkan diri untuk membantu mereka menyiapkan make up dan memberi ucapan selamat setelah pentas mereka selesai dilaksanakan. Kegiatan ini, berlangsung continue sampai hari Rabu, 20 Oktober 2010. To the point to Kamis, 21 Oktober 2010, akhirnya hari yang paling dinanti pun tiba juga. Kami yang notabene adalah satu-satunya komunitas yang mewakili kota pempek, akan pentas dihari itu. Persiapan pentas pun disiapkan, mulai dari properti panggung, kostum, make up, lighting, dan alat-alat musik yang akan mengiringi pentas. Penyiapan dan perangkaian properti panggung mulai kami kerja dari pukul 13.00 Wib sampai dengan pukul 17.00 Wib, kemudian setelah ba’da maghrib para aktor mulai menggunakan kostum pentas dan menata make up masing-masing. Tepat pukul 22.30 Wib, pentas “Meja Makan Kita” karya Moh. Syafari Firdaus yang dibawakan oleh komunitas Teater Lawas Univ. PGRI Palembang dimulai. Dalam durasi kurang lebih 50 menit pentas yang kami tampilkan selesai, yang ditandai dengan meriahnya tepuk tangan dari penonton yang memenuhi Gedung Kemuning Gading malam itu. Setelah usai pementasan, diskusi karya pun dimulai, banyak pertanyaan, kritik dan saran yang membangun yang kami terima. Baik itu dari segi pementasan yang disajikan, properti yang digunakan, maupun musik yang mengiringi berlangsungnya pentas. Usai pementasan dan diskusi karya kami kembali ke penginapan untuk beristirahat. Jumat, 22 Oktober 2010. Pagi hari kami mulai membereskan properti yang masih tertinggal di Gedung Kemuning Gading. Pada sore harinya, kami jalan-jalan ke Puncak Bogor hingga larut malam. Udara yang sangat dingin sekali, sangat menusuk-nusuk badan hingga jaket pun tak kuasa membendung dinginnya. Usai jalan-jalan ke Puncak kami kembali ke penginapan pukul 23.00 Wib. Sabtu, 23 Oktober 2010. Hari itu, panitia mengajak kami untuk jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Suasana sejuk nan hijau memanjakan mata kami, hingga kami hampir lupa waktu. Pada pukul 16.00 Wib, panitia mengajak kami untuk mengikuti temu wicara terakhir di Universitas Pakuan Bogor, sekaligus acara penutupan Temu Teman 8 Bogor. Dari hasil temu wicara 3, Provinsi Riau yang selanjutnya menerima tongkat estafet dan dipercayakan untuk menjadi tuan rumah Temu Teman 9 pada tahun 2011. Minggu, 24 Oktober 2010. Seusai acara penutupan pada malam minggu, pagi hari minggu kami menyiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman. Pukul 16.00 Wib kami berangkat dari terminal Poris, Tangerang untuk kembali ke Palembang. Alhamdulillah, perjalanan kepulangan kami berlangsung aman dan lancar. Senin, 25 Oktober 2010. Tepat pukul 11.00 Wib kami tiba di Palembang. Kami tidak langsung pulang kerumah masing-masing melainkan kembali ketempat karantina, untuk melakukan evaluasi dari hasil yang dicapai selama kami mengikuti kegiatan Temu Teman 8 Bogor. Demikian repertoar singkat tentang perjalanan kami selama mengikuti kegiatan Temu Teman 8 Bogor, semoga repertoar ini bermanfaat bagi kemajuan Teater Lawas ke depan. Terimakasih......... Salam Budaya........... ! ! !

|  | Pada proses inilah Teater Lawas secara resmi di-lounching kepada masyarakat, bendera kebesaran Teater Lawas diterima oleh Anwar Putra Bayu, salah seorang senima Sumsel. Sementara yang menyerahkan bendera adalah Dedi Damhudi. |
 Festival Topeng, Duplikasi Kehidupan
PALEMBANG. PE (12/06/2010) – Geliat seni terutama seni peran di Palembang kian mencuat, banyak bermunculan komunitas teater baik independen maupun teater kampus/sekolah. Nah hal yang sama tengah dilakoni Teater Laskar Waras (Lawas) yang bekerja sama dengan pihak lembaga kebudayaan Vanesia Dari Timur dan akan menampilakan pertunjukan teater dengan naskar ”Festival Topeng” karya Budi Ros pada 17, 18, dan 19 Juni mendatang di Aula RRI Palembang pukul 14.00—16.00 WIB dan 19.00-20.30 WIB. Menurut sang Sutradara Alpin Murdani, naskah yang berjudul Festival Topeng ini merupakan sebuah naskah yang sangat komplek mewakili sisi kehidupan manusia di tengah masyarakat. Bukan itu saja, naskah ini bahkan menggambarkan duplikasi dari sebuah negara yang diimpementasikan di atas panggung. ”Kita memang sengaja membawakan naskah ini, sebab naskah ini seakan mewakili geliat suara dibalik pemerintahan dan masyarakat kita selama ini. Dari sini tegambar jelas bagaimana para pemain saling menyikut untuk merebut kekuasaan, kemudian dibumbui oleh intrik perselingkuhan yang kental. Tentu ini merupakan gambaran kehidupan yang sangat komplek dan layak ditonton,” jelas Alpin saat dikonfirmasi kemarin (11/6). Masih menurut Alpin, dari proses yang dijalaninya bersama Teater Lawas kali ini juga dapat diambila pembelajaran bagaimana caranya untuk terus menghidupi sebuah komunitas teater secara enterprenuership. Ini semua terbukti dari hadirnya pihak kedua dalam sebuah seni tampilan yang khusus menyediakan panggung secara profesional. Hal ini terbukti dari fasilitas yang disediakan oleh pihak Venesia Dari Timur yang akan membandrol tiket tontonan seharga Rp 17.500 per tiketnya. Memang tiket seharga itu agak terkesan mahal, tapi jangan salah. Dengan membeli tiket tontonan tersebut, para penonton akan disuguhi fasilitas seperti voucer Bakso Bola dan 1 edisi majalah Prestasi. ”Memang tiketnya cukup tinggi, tapi ini setimpal dengan fasilitas yang disediakan oleh panitia. Saya berharap rekan-rekan bisa memberikan tampilan terbaiknya saat hari H nanti,” tutup Alpin. MRD
Munculkan Kegelisahan Kreatifitas
PALEMBANG. PE (16/06/2010) – Salah satu faktor penting untuk mempertahankan nafas kehidupan seni teater adalah regenerasi. Nah untuk terus memunculkan geliat seni pertunjukan dan menjaga kontinuitas regenerasi itulah, Teater Laskar Waras (Lawas) bekerja sama dengan lembaga kebudayaan Venesia Dari Timur (VDT) mengadakan pementasan teater dengan judul Fetival Topeng karya Budi Ros. Bukan hanya sekedar pentas teater biasa yang mengutamakan tampilan artistik semata, dalam pementasan kali ini juga tergambar bagaimana reformasi manajemen mandiri sebuah komunitas. Pasalnya jika hanya mengandalkan pembiayaan dari penjualan tiket tentu tak akan cukup, oleh karenanya pihak Venesia berusaha mencari solusi terbaik salah satunya dengan menggandeng sponsorship. ”Kita sadari betul, kalau kita hanya menumpuhkan pendanaan dari penjulan tiket tentu tak akan cukup. Kemudian paradigma yang mengandalkan kucuran dana dari pihak terkait pun tak bisa serta merta menjadi tolok ukur. Sekarang bagaimana caranya kita harus mulai menerapkan pola manajemen mandiri dari sebuah pertunjukkan,” ujar Imron Supriyadi, Divisi Program VDT. Lebih lanjut Imron mengungkapkan bahwa, kegiatan yang pertama kali digelar oleh pihaknya ini memang sengaja memanage teater-teater kampus/sekolah. Bukan hanya sekedar berpedoman pada materi oriented, tapi juga diharapkan para generasi muda ini nantinya akan mampu mengembangkan seni peran setelah masa akademinya usai. ”Kita harus menghancurkan adanya dinding pemisah antara teater Independen dan Kampus/Sekolah, karena pada dasarnya seniman-seniman mapan yang kini telah berdiri tegak juga berasal dari sini (Teater Kampus red). Untuk itulah kita harus mulai melakukan regenerasi dari sini, harapannya di masa datang teman-teman terus bergeliat secara mapan,” tukas Imron. Menyenggol mengenai isian pentas yang dilakoni oleh teater Lawas, Alpin Murdani selaku sutradara menjelaskan bahwa pada dasarnya naskah yang ditampilkan ini memiliki isian yang sangat kompleks. Terutama cuplikan kehidupan yang ada di tengah masyarakat kita saat ini. Bagaimana penggambaran kemunafikan manusia juga sangat kental disajikan. ”Naskah ini merupakan penggambaran manusia yang hidup dengan penuh kepura-pura. Banyak hal yang dapat dipelajari, bagaimana kerasnya dunia politk, hinanya perselingkuhan bahkan kejamnya penghianatan dari seseorang yang dipercaya,” tutup Alpin. MRD

 Wahana Penyalur Kreatifitas
PALEMBANG. PE (30/04/2010) – Teater, kata ini sudah mulai akrab menyapa telinga kita. Ya, teater merupakan sebuah wadah penampung ungkapan serta kreatifitas yang selalu menggeliat di kepala kita. Tak jarang teater mampu membius penonton dengan tampilan-tampilan menawan yang disuguhkan di atas panggung. Inilah salah satu sarana yang baik untuk mengungkapkan segara aspirasi. Saat pertama berjumpa dengan segerombolan muda mudi yang tengah berdiskusi membentuk lingkaran di tengah lapangan ini memang agak terkejut. Mungkin setiap mata yang memandang akan berkata di dalam hati, ”kok seperti gembel ya”. Tapi itulah kebiasaan yang selalu dilakukan oleh anak-anak ini, mereka tergabung dalam sebuah komunitas teater yang diberi nama Teater Laskar Waras (Lawas). Nah, mendengar nama dari komunitas ini saja kesan aneh kian muncul. Menurut sang ketua Ahmad Taufik, nama ini sebenarnya diambil dari filosofi kewarasan yang terkadang sudah mulai hilang dari hiruk pikuk dunia. Banyak hal-hal yang mulai tak masuk akal, makanya mereka menamakan komunitasnya dengan sebutan Laskar Waras alias Teater Lawas. ”Sederhana aja mas, nama ini sebenarnya kita ambil karena melihat keadaan yang ada disekitar kita sudah mulai nggak waras. Kita lihat aja, ada bapak yang menggauli anak sendiri, banyaklah mas kejadian yang sudah mulai tak masuk diakal,” kata Taufik. Masih menurut taufik, sebenarnya komunitas ini sudah mulai muncul sejak 2007 silam. Terhitung sudah tiga generasi yang ditelurkan oleh komunitas ini, namun dalam perjalannya Teater Lawas mulai berdiri secara resmi sejak 26 Februari 2009 lalu. Berawal dari kegelisahan tentang komunitas yang mampu menaungi mereka untuk mengadakan proses-proses kreatif, maka tercetuslah komunitas yang berdikari secara mandiri ini. Senada dengan Taufik, M Anwar Nurkholis sebagai wakil ketua Teater Lawas pun mengakui bahwa inilah ajang pemacu kreatifitas. Banyak fenomena yang mampu dijadikan sebuah karya di atas panggung. Menurutnya dunia panggung adalah gambaran nyata dari kehidupan yang dialami setiap hari. Disini akan ditemui pergolatan hidup yang terkadang tak kita sadari menjadi sebuah pembelajaran berharga. “Inilah teater mas, disini kita banyak diajari bagaimana caranya ‘hidup’. Bagaimana kita menjadi bagian dari sebuah elemen kehidupan terkecil yang saling mendukung dengan lainnya. Bagaimana kita mencoba meneriakkan apa yang sebnarnya dialami oleh masyarakat,” ujar Anwar. Meski baru seumur jagung, namun komunitas ini sudah cukup banyak menggarap proses-proses kreatif. Proses kreatif yang pertama kali mereka garap adalah pementasan drama dengan judul Godlob karya Danarto pada 1 – 2 Agustus 2007, inilah awal mula kehadiran komunitas teater baru di Universitas yang menaungi mereka. Tak berhenti sampai disitu. Proses kreatif pun kembali bergulir pada bulan 31 januari hingga 2 Februari 2008. Laju proses pun mulai bergulir kembali pada 3 dan 4 Agustus 2008. Dalam pementasan kali ini, Teater Lawas mengusung lakon Boneka Setengah Waras karya Connie C Sema. ”Biasanya kita melakukan proses rutin yakni dua kali pementasan dalam satu tahunnya. Sementara ini kita masih menggunakan gedung Graha Budaya Jakabaring,” tukas Anwar. MRD
COMENT : Mursalina Nasib Teater Kampus Tak bisa dipungkiri keberadaan Teater kampus memang tak begitu diteriam oleh kalangan seniman yang sudah senior. Hal ini disebabkan karena, keberadaan teater kampus yang tak pernah bisa bertahan sepanjang masa. Pergantian yang silih berganti antara senior dan junior disinyalir sebagai penyebab utama. “Padahal, banyak seniman-seniman lokal yang cukup mumpuni lahir dari teater kampus atau komunitas seni lainnya. memang pandangan yang demikian harus segera dikikis,” ujar Lina. MRD
Maya Sadar Diri, Sadar Waktu, Sadar Ruang Bergeliat dengan tataer merupakan salah satu kebahagiaan, menurut Maya hal ini disebabkan karena dengan berteater kita bisa mengikis emosional dan mengontrol diri kita dalam setiap situasi. “Dalam berteater biasanya kita diajarkan untuk sadar diri, sadar ruang dan sadar waktu. Saya kira ini sangat baik untuk pengembangan kreatifitas dan peneyadaran buat kita,” pungkasnya. MRD

|
sangkar cendrawasi terkadang tak seindah bebuluh yang menempel di sayapnya
|